Level Up

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.

.

.

.

My Love Is Toxic and You Are Suicidal I Can Hardly Escape.

.

Masih dengan keadaan basah di sekujur tubuhnya, Hinata diseret kasar kembali memasuki mansion. Cukup panjang langkahnya hingga ia mendengar suara pintu yang dibanting. Ia tak tahu apakah dirinya sendirian di ruangan itu atau tidak, namun ia yakin kini ia kembali berada di dalam kamar Sasuke.

Tangan Hinata kembali diborgol ke belakang dan untuk kali ini, bandana yang menutup matanya dibiarkan begitu terikat. Tapi Hinata agaknya tak memedulikan hal itu. Kepalanya masih berkabut, bukan karena acara melarikan dirinya yang gagal, namun lebih karena tindakan Sasuke tadi.

Hinata merasakan kembali Sasuke yang dulu, Sasuke yang selalu bertindak ceroboh hanya untuk melindunginya. Jika Sasuke mengatakan bahwa yang sebelumnya hanyalah kepura-puraan, bagaimana dengan yang tadi?

Hinata merasa dirinya kembali hilang arah. Ia agak tak menyangka jika hal kecil seperti itu dapat menyulut tali asanya lagi untuk mempercayai Sasuke.

Hinata agak berjengit saat bunyi pintu terbuka kemudian tertutup kembali menyapa gendang telinganya.

"Sa-sasuke..." panggilnya ragu.

"Sekujur tubuhku nyeri karenamu dan kau berniat meninggalkanku begitu saja!" desis Sasuke, setengah mengumpat. "Jadi katakan padaku Hinata, untuk alasan apa lagi aku perlu menahan diri untuk tidak menyakitimu sekarang juga?"

Tubuh Hinata seperti tersengat oleh ucapan Sasuke, tangannya mulai bergetar hebat. Entah apa yang membuatnya begitu ketakutan menghadapi Sasuke sekarang. Yang pasti satu hal yang ingin Hinata ketahui, jika ia ingin keluar dari sana, pertama-tama ia harus meyakinkan dirinya sendiri untuk lepas dari jeratan Sasuke, baik jiwa maupun raga.

Hinata hampir mengambil langkah mundur saat ia merasakan ujung jemari Sasuke menyusup ke dalam kemejanya.

"Jawab aku, Hinata." Sasuke membisik rendah.

Hinata terdiam, agaknya baru menyadari arti kata 'menyakiti' yang sebelumnya Sasuke ucapkan. Akal sehatnya menolak untuk menyerahkan diri lagi kepada Sasuke. Tapi di saat yang sama, hatinya ingin kembali merasakan rengkuhan pria itu. Hatinya mendesak keingintahuan tentang apakah Sasuke masih akan menyentuhnya dengan cara yang sama.

Karena sejak kejadian di sungai tadi. Segala kerinduan Hinata tumpah tak terbendung. Ia merindukan Sasuke yang dulu, Sasuke yang palsu. Sasuke yang mencintainya dan akan mengambil risiko apapun demi dirinya.

"Sasuke..." lirih Hinata lagi.

Tak ada sahutan, yang dapat Hinata dengar hanyalah suara samar langkah kaki. Tak ada apapun lagi, benar-benar hening. Dan jika saja Hinata tak dapat menangkap suara langkah kaki yang ringan itu, ia mungkin tak akan dapat menebak di mana Sasuke berdiri atau apakah pria itu masih di sekitarnya.

Tentu saja, untuk seorang agen terlatih seperti mereka, merupakan hal yang krusial untuk memiliki langkah kaki yang seringan bulu.

"Kau menyedihkan."

Tiba-tiba Hinata mendengar suara berat Sasuke datang dari arah belakangnya, mendatangkan gemuruh di dada yang sekaligus menggetarkan setiap inderanya. Hinata mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ia ingin melihat Sasuke. Ia ingin melihat reaksi Sasuke saat menyentuhnya lagi. Dan dengan mata tertutup juga tangan dikunci, bagaimana ia bisa mengetahui apapun?

Hinata merasa lututnya melemas dan gemetar, menyadari bahwa di sudut hatinya ada bagian yang masih begitu menginginkan Sasuke. Entah apapun yang Sasuke lakukan terhadapnya, Hinata tetap menginginkan pria itu. Suka atau tidak, itu adalah reaksi alami yang tak dapat Hinata kontrol melalui akal sehatnya.

Napas Hinata terhenti sesaat ketika merasakan tangan besar Sasuke menyelinap di sepanjang lingkar pinggangnya dan berhenti di kancing celananya. Bibir Hinata terbuka, namun tak mengeluarkan patah kata. Seolah yang ia lakukan hanyalah untuk menyokong paru-parunya yang tak lagi cukup dipasok hanya dengan kerja pernapasan utamanya.

Kemeja Sasuke yang Hinata kenakan masih lekat menempel di tubuh Hinata karena pengaruh resapan air yang dibawanya, helai indigonya pun jatuh diberatkan oleh air yang berlari menuju gravitasi. Tapi Hinata seperti yakin badannya akan sesegera mengering karena hawa panas yang tiba-tiba menyerang sekujur tubuhnya itu.

"Kau tahu salah satu hal yang paling membuatku tertarik padamu?" Sasuke bertanya dengan alunan rendah yang seketika seakan melunakkan rangka tubuh Hinata. "Caramu gemetar saat aku menyentuhmu. Juga seberapa kasarpun perlakuanku saat menyetubuhimu, kau tetap menerimanya." Ujung Hidung mancung Sasuke merayap di tengkuk Hinata. "Apa kau benar-benar menikmati saat menjadi pelacurku, Hinata?"

"Aku..." Hinata akhirnya bersuara, meski tak dapat menyembunyikan getar di dalamnya. "Aku mempercayaimu... seluruh bagian dari dirimu," ujarnya terdengar begitu lirih. "Aku memberikan diriku padamu... sepenuhnya. Berharap kau juga memberikanku hal yang sama."

Dan itu adalah kebenarannya. Hinata mempercayai Sasuke saat itu, dan karena itulah ia membiarkan lelaki itu memegang kendali atas dirinya.

Kembali tak ada aktivitas dari Sasuke yang dapat Hinata tangkap. Napasnya masih berat saat fokusnya ia tindih pada indera pendengarannya. Kemudian tanpa aba-aba Hinata sudah merasakan tubuh Sasuke di depannya, mendesaknya hingga dinding terdekat dan menghimpitnya. Telapak tangan lebar pria itu mendarat, menangkup bokong Hinata dan meremasnya gemas. Hinata hampir menengadahkan kepalanya karena sensasi yang muncul jika saja satu tangan Sasuke yang terbebas tak menahan tengkorak belakangnya. Jika saja pria itu tak melibatkannya dalam sebuah ciuman yang begitu dalam.

Permainan bibir Sasuke kali ini begitu liar, seperti tak sabar untuk menghisap habis udara di dalam paru-paru Hinata. Hinata merasakan detak jantungnya berhenti saat lidah pria itu dengan lincah menjelajahi rongga mulutnya, membuat Hinata melepaskan desah yang begitu tak diinginkannya.

Bibir Sasuke. Bibir yang sama. Sensasi yang sama. Meski Hinata masih meragukan keterlibatan hati yang terikat di dalamnya. Secara otomatis Hinata merasakan netranya memanas meski masih tertutup bandana. Ia mengaku kalah terhadap hatinya sendiri, tak menampik lagi bahwa bagaimanapun ia hanyalah wanita yang secara alami memiliki perasaan yang begitu sensitif.

Lalu apa? Menganggap Hinata bodoh karena membiarkan Sasuke merengkuhnya lagi? Hinata tak peduli. Kenapa harus menyalahkan perasaannya?

Ya, Hianta menyedihkan karena tetap mempercayai Sasuke. Dia bodoh, pecundang besar. Tapi Sasuke tetaplah yang hatinya mau. Tak ada yang menggantikan pria itu. Karena entah posisi kawan atau lawan, hatinya hanya ada dalam genggaman Sasuke seorang.

Tapi hal itu tak mengartikan bahwa Hinata akan memaafkannya.

Sasuke melepaskan ciuman kasarnya dan mencoba melepas kancing juga resleting celana Hinata dengan gerakan terburu. Mempermudah aksesnya untuk menjangkau tubuh Hinata lebih jauh.

"Apa kau setolol ini, Hinata?" Sasuke masih menyuarakannya dengan erangan rendah. Bibirnya ia sentuhkan di pipi Hinata sedang keningnya ia lekatkan di dinding di belakang wanita itu.

"Ahhh!" Hinata memekik kecil saat Sasuke tiba-tiba memuat jari tengah di area intimnya. "Le-lepaskan... penutup mata...nya," ujar Hinata susah payah, berusaha tak begitu kehilangan kendali diri saat jari Sasuke mempermainkannya dengan kecepatan yang tak beraturan.

Sasuke tak menjawab, malah menambahkan satu jarinya bermain di dalam tubuh Hinata. Membuat wanita itu tak memiliki pilihan selain menggigit bibirnya keras-keras untuk membendung erangan.

"Kenapa?" tanya Sasuke tanpa menghentikan kegiatannya. "Kau masih begitu menginginkanku?"

"Hatiku..." Hinata menjawab setelah beberapa detik meragu. "Hatiku selalu menginginkanmu," bisiknya. Hinata menyerah, ia tertunduk, menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke. "Sa-sasuke..." panggilnya lagi.

"Diam!" bentak Sasuke rendah namun tegas berbarengan dengan satu jari lain menyusul masuk merasakan kehangatan Hinata.

Hinata butuh ruang untuk bernapas. Sasuke sudah begitu membuatnya kelimpungan dan ia butuh ruang untuk tetap menjaga akal sehatnya agar tetap waras.

"Tanyakan lagi," ujar Hinata tiba-tiba. "Bercinta denganku dan bujuk aku lagi untuk mengikutimu, Sasuke," tambahnya di sela sengal napas pendeknya.

Sasuke tak bereaksi banyak, hanya agak menurunkan tempo permainan tangannya. Pria itu baru menarik lepas jarinya saat mendengar pintu diketuk. Sasuke menengok sebelum beranjak mendekati pintu kayu itu.

Hinata akhirnya merasa kembali mendapatkan napasnya saat Sasuke melepaskannya. Ia jatuh berlutut seketika Sasuke satu langkah menjauh darinya. Hinata menahan dirinya agar tak terisak di sana saat itu juga.

"Apa?!"

Hinata dapat mendengar Sasuke setelah suara pintu terbuka ditranslasikan sistem syarafnya. Ia tak tahu seberapa lebar Sasuke membuka pintunya, ia harap tak cukup lebar untuk membiarkan orang di balik sana mengetahui betapa kacau dirinya.

"Ayahmu, Sasuke." Sebuah suara asing terdengar. Hinata pikir pasti salah satu penjaga di sini.

"Dia sudah kembali?" tanya Sasuke lagi.

"Ya."

"Kapan dia... sial!" Sasuke mengerang kasar. "Pergilah! Aku akan menemuinya nanti," ujar Sasuke tak sabar.

"Sekarang juga."

"Kubilang pergi!" Sasuke membanting pintu kamarnya kencang-kencang kemudian kembali memfokuskan atensinya kepada Hinata yang terduduk di salah satu sisi kamar. "Kau pikir aku akan percaya?"

"A-apa?" balas Hinata dengan terbata.

Sasuke menghela napas kasar. "Kau kira aku sebegitu tololnya sampai berpikir bahwa aku akan mempercayaimu?!" teriaknya.

Hinata berjengit seketika mendengar bunyi pecahan juga kontak keras benda berbahan besi dengan lantai. Ia masih tak dapat melihat yang Sasuke lakukan, namun ia dapat menebak pria itu baru saja menjatuhkan apapun benda yang ada di dekatnya.

"Kalau kau ingin membodohiku, kau harus melakukannya dengan lebih baik, Hinata."

Hinata sendiri tak terlalu mengerti, dirasakan begitu spontan, ia mungkin mengatakan hal tadi karena terbawa oleh suasana. Jadi apa ia mampu mengkhianati agensi jika ia dapat membuktikan Sasuke benar-benar memiliki hati padanya? Tidak. Hinata tak boleh dan tak akan memikirkan kemungkinan itu. Mengkhianati agensi baginya sama seperti mengingkari prinsip hidupnya. Dan bagi Hinata itu selevel artinya dengan mengkhianati ibunya sendiri. Hinata bertekad untuk tak menjadi manusia serendah itu.

Lebih dari sepuluh menit lamanya Hinata duduk terdiam, masih dengan hati yang teremas juga tubuh yang bergetar. Hingga seseorang dengan kasarnya menariknya untuk berdiri dan merapikan asal pakaiannya yang kacau karena Sasuke.

"Ke-kemana kau akan membawaku?!" tanya Hinata meski tak tahu siapa pelaku yang tiba-tiba menyeretnya untuk berjalan cepat itu.

"Diam!" Dan karena suara itu, barulah Hinata tahu Sasukelah yang menyeretnya.

Hinata menurut dan hanya mengikuti langkah terburu Sasuke, entah ke mana dan untuk tujuan apa mengingat sebelumnya Sasuke menginginkan untuk terus mengurungnya di kamar pria itu. Cukup lama mereka berjalan cepat, Hinata dipaksa berhenti karena si penyeret juga berhenti secara mendadak. Masih tanpa menyadari situasi, yang Hinata dapat pastikan hanyalah mereka masih belum keluar dari mansion itu.

"Oh... astaga..."

Suara berat yang masih begitu asing untuk Hinata terdengar seperti menyapa. "Kelihatannya kau memegang kartu as untuk kita, Sasuke," lanjutnya.

Hinata semakin merasa kebingungan. Apa yang sedang terjadi di sekelilingnya memang?

Hingga bandana yang menutupi netranya dilepas, barulah ia merasa sedikit lega. Hinata mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan pencahayaan yang jatuh ke retinanya. Ia berdiri di tengah salah satu koridor bangunan ini. Kemudian ia jelas melihat seorang pria yang kelihatannya tak lebih tua dari ayahnya, berdiri beberapa langkah di depan dirinya dan Sasuke berdiri.

"Kau benar saat mengatakan kalau dia akan datang mencarimu. Kurasa kau bisa menggunakannya untuk menghancurkan organisasi sialan itu." Pria itu kembali membuka mulut, nada bicaranya tajam dan penuh cerca.

"Itu perkara mudah, Ayah," balas Sasuke datar juga pendek.

Hinata berkedip. Ia melirik ke arah Sasuke kemudian kepada pria yang Sasuke panggil ayah itu. Sungguh? Ayah? Pria itu merupakan ayah Sasuke?

Hinata membeku saat pria itu mengambil langkah mendekatinya juga Sasuke. Raut keras itu terlihat kejam, membuat Hinata rasanya ingin pergi dari sana sekarang juga. Pria itu berhenti di samping Sasuke, satu tangannya menepuk bahu putranya namun fokus netranya meneliti sosok Hinata.

"Dia terlihat menarik," komentar pria itu dengan seringai yang cukup mirip dengan seringai yang biasa Sasuke keluarkan sebelum kemudian berbalik meninggalkan mereka berdua.

Hinata memandang punggung lebar itu menjauh selama beberapa detik kemudian melirik Sasuke. Ekspresi tak tertarik yang awalnya Sasuke kenakan luntur, tergantikan raut dingin saat menatap sosok paruh baya itu pergi.

Tanpa sepatah katapun, Sasuke kembali menyeret Hinata ke arah yang berlawanan dengan arah perginya ayah Sasuke. Mereka memasuki ruang makan dan Hinata mendapati Yahiko sudah berdiri bersandar di sisi pintu lain yang ada di ruangan itu.

"Sasuke... ke mana kau—"

"Untuk kali ini jangan melawan!" titah Sasuke mutlak setelah berbalik dan menghadap Hinata, mengabaikan Yahiko yang ada di sana.

"Apa... maksudmu?"

"Sampai jumpa, Hinata."

"Tapi Sa—"

Suara Hinata terputus saat tiba-tiba bibirnya dibungkam oleh bibir Sasuke. Pria itu menahan rahangnya dan memberikannya ciuman liar. "Halangi jalanku lagi dan aku akan membunuhmu," bisiknya di sela ciuman itu sebelum akhirnya menarik diri dan tanpa kata pergi dari sana, meninggalkan Hinata.

Hinata yang masih setengah sadar dari efek ciuman itu hampir mengjar Sasuke, namun langkahnya terhenti saat Yahiko menahan pergelangan tangannya yang masih terbelenggu borgol.

"Lepaskan aku!" ketus Hinata.

"Kau dengar yang Sasuke katakan tadi? Jangan melawan!" Yahiko mendesis, tanganya bekerja dengan cekatan untuk melepas borgol yang terpasang di tangan Hinata.

Hinata menatap Yahiko heran. Untuk apa Sasuke meninggalkannya bersama pria itu? Dan kenapa pria itu melepaskan belenggu di tangannya? Hinata masih tidak bisa memahami apapun yang terjadi di sini.

Namun tepat setelah tangannya terbebas, dengan cepat Hinata melayangkan tinjunya ke arah Yahiko yang sayangnya memiliki refleks yang bagus hingga dapat mematahkan serangan Hinata tadi.

"Tidak ada waktu untuk saling serang, kita harus segera pergi dari sini," ujarnya rendah namun tegas.

Hinata mendorong bahu Yahiko dan mengibaskan tangannya untuk menghindari tangan Yahiko yang hendak mengamitnya kembali. "Kau pikir aku mau menurutimu?!" balasnya tajam.

"Hinata, aku tidak peduli apa yang kau mau atau tidak. Sasuke memintaku untuk membawamu pergi dari sini," jelas Yahiko pendek.

"Lepaskan aku!" pekik Hinata rendah saat tangan Yahiko kembali mencengkeramnya. Pria itu membalik tubuh Hinata dan berusaha kembali menutup indera pengelihatannya. "Hentikan! Apa yang kau lakukan!" Hinata memberontak.

"Tenang, Hinata!" bentak Yahiko gemas. "Kalau kau belum sadar, saat ini Fugaku mengincar nyawamu... atau lebih detailnya mengincar tubuhmu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membunuhmu."

"Fugaku?" Hinata berhenti memberontak karena rasa penasarannya itu.

"Ayah Sasuke," jawab Yahiko singkat sambil mengikatkan bandana hitam menutupi ametis Hinata.

Hinata bungkam, membiarkan Yahiko melakukan apapun terhadapnya. Ia sibuk dalam benaknya sendiri. Apa yang Yahiko katakan tadi? Ayah Sasuke berniat membunuhnya? Tunggu, lebih tepatnya menginginkan tubuhnya sebelum berniat membunuhnya? Sungguh?

Astaga... Hinata tak habis pikir kalau-kalau keluarga Sasuke seluruhnya memang terdiri dari spesies psikopat mesum.

"Kenapa Sasuke memintamu membawaku pergi? Kenapa bukan yang lain?" tanya Hinata masih dengan nada yang runcing.

"Karena aku satu-satunya orang yang paling dia percaya."

Hinata terkekeh garing. "Tentu saja... hanya pengkhianat yang bisa mempercayai pengkhianat," ujarnya sarkastis.

"Sudahlah, kita tidap punya banyak waktu... jadi diam dan cepatlah jalan!"

"Jalan? Alu tidak bisa melihat apapun, jenius!" balasnya dalam ironi.

Hinata dapat mendengar Yahiko menghela napas panjang. Dan hal selanjutnya yang ia tahu adalah bahwa tubuhnya diangkat dan dipanggul di bahu Yahiko. Hinata mendengus namun pasrah, memangnya dikira apa dirinya? Sekarung kentang?

..

...

..

Hinata agak merinding saat mengetahui mobil yang dikendarai Yahiko mulai memasuki daerah sekitaran Anbu. Ia berhasil keluar dari tempat Sasuke dengan mudahnya kali ini, tapi itu pun karena Sasuke yang membiarkannya pergi. Dan sebagian diri Hinata merasa kalah memikirkan hal itu.

"Cepat turun! Aku harus segera kembali," ujar Yahiko setelah menghentikan mobil sedannya beberapa blok dari markas utama Anbu.

Hinata diam memandang Yahiko untuk sesaat, seperti tengah membaca pria itu. "Kau terlihat begitu takut terhadap ayah Sasuke," komentarnya setelah beberapa detik diam.

"Percayalah, dia benar-benar seorang monster," jawab Yahiko, tak menampik opini awal Hinata tentangnya.

Hinata berdecih sarkastis. "Oh, sekarang aku tahu dari mana Sasuke mendapatkan gen mengerikannya itu."

Yahiko menghela napas. "Dengar, Hinata... aku tidak memandangmu sebagai musuh. Kalau kau pintar, cukup menjauh dari Sasuke juga Akatsuki, dan kau akan aman."

Kelopak mata Hinata menyipit. "Aku tidak butuh nasihatmu," balas Hinata sebelum turun dari mobil dan berjalan menuju area Anbu.

'Halangi jalanku lagi dan aku akan membunuhmu'.

Kalimat yang diucapkan Sasuke itu terus melintas di benaknya kala ia melangkah. Jika memang yang dikatakan Yahiko tentang ayah Sasuke benar, itu artinya Sasuke telah menyelamatkannya lagi.

Tapi Hinata tak bisa mengabulkan perkataan Sasuke itu. Cepat atau lambat, Hinata pasti akan kembali menghadang Sasuke meraih tujuannya. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Selain itu, jika ia menginginkan Akatsuki hancur, jelas ia harus menghancurkan Sasuke terlebih dahulu.

..

...

..

"Dia... melepaskanmu... begitu saja?" Sakura masih memandang tak percaya. Baiklah, siapapun mungkin akan dibuat bingung dengan tindakan tak bernalar Sasuke. "Gila... kenapa dia menangkap kita jika selanjutnya melepaskan kita begitu saja, dalam periode yang singkat pula," komentar Sakura.

Hinata tetap dalam posisinya, memandangi jendela dengan terusan pemandangan kota beserta kesibukan paginya. Ia tak sempat mendapatkan waktu tidur yang manusiawi karena Kakashi menahannya dengan berderet pertanyaan yang jujur saja terlalu malas untuk Hinata dengar, apalagi jawab.

"Sebaiknya kita tunggu yang lain datang," ujar Kakashi, mencoba membendung ketidaksabaran Sakura.

"Kenapa dia menahanmu lebih lama dari kami? Kupikir kau pernah mengatakan bahwa semua yang terjalin antara kau dan Thunder adalah drama belaka." Sakura masih terus meluapkan pikirannya, tak peduli jika itu terdengar memojokkan Hinata.

"Apa yang berusaha kau katakan, Sakura?" Hinata mendelik ke arah rekan timnya itu, kepalannya agak kesal karena asumsi yang ada di benaknya. Bahwa ia sedang dicurigai.

"Apa yang kau lakukan dengannya?" balas Sakura, memutuskan untuk tak lagi bermain kata. "Kita semua tahu kau tidur dengan mereka berdua, dan sekarang keduanya berbalik arah melawan kita. Tidakkah harusnya kau tahu tentang mereka? Dan kau bilang Yahiko yang membawamu kemari. Apa hal yang bisa menjelaskan semua itu?"

Pintu ruangan terbuka, Ryuzaki dan Konan masuk dengan langkah lebar.

"Hinata!" Ryuzaki menyapa sambil terus melipat jarak dengan Hinata kemudian memberikan Hinata pelukan erat yang agak kekanakan. Hinata mengernyit, masih agak tak nyaman dengan kontak spontan Ryuzaki namun sebisa mungkin ia tak mendorong pria itu begitu saja. Ia melepas pelukan itu perlahan hingga dapat melihat sebuah senyum kecil yang terlihat begitu tulus muncul di bibir pria itu.

Di lain sisi, Konan hanya menatapnya sambil menawarkan sebuah senyum yang malah terlihat menyedihkan. Mungkin Hinata tahu penyebabnya. Karena kadang tenggelam dalam cinta yang tak terbalas bisa jadi sayatan paling perih yang bisa dialami hati. Hinata mungkin tengah merasakannya juga, namun ia tak tahu bagaimana cara menghibur Konan. Lupakan soal menghibur Konan, ia bahkan tak bisa menghibur dirinya sendiri.

"Di mana Agen Wind dan Agen Tenten?" Ryuzaki berpaling, bertanya kepada Kakashi.

"Bereka belum kembali," jawab Kakashi singkat sambil memberi gestur untuk anak buahnya mengambil tempat duduk.

Kening Hinata berkerut samar, ia agak mencemaskan keduanya. "Memang misi apa yang mereka jalani?"

"Masih tentang Akatsuki, di luar negeri tapi. Mereka akan kembali dalam minggu ini. Untuk sekarang, kita memiliki hal ya—" Kalimat Kakashi terhenti karena debum pintu yang terbuka. Marsekal muncul dengan raut keras dari baliknya.

"Di mana dia?" Jelas sekali pria paruh baya itu menargetkan pertanyaan itu untuk putrinya.

"Siapa?" Hinata masih menahan nada dan ekspresi lurusnya.

"Uchiha Sasuke," tegas Hiashi. "Kau bersamanya dan jangan membuat tentang kau tak tahu di mana dia."

Rahang Hinata mengatup erat secara otomatis kala amarah mulai menjalar di setiap pembulu darahnya. "Kalian semua berpikir aku akan menjadi seperti Yahiko, bukan?" cercanya.

"Tidak ada yang bisa menyalahkan kami untuk memiliki anggapan itu," respons Sakura. "Di antara semua orang di ruangan ini, kau yang paling berpotensi mengingkari loyalitasmu."

"Yahiko tidak mengingkari loyalitasnya! Nyatanya dia tahu benar di mana kesetiaannya terletak, yaitu kepada Sasuke." Hinata mungkin terdengar membela Yahiko, namun itu adalah kenyataannya. Ia tak peduli jika kalimatnya tadi malah semakin memprovokasi yang lain. "Dan aku tahu di mana letak kesetiaanku. Kalian bisa mempercayaiku atau pergilah ke neraka!"

"Kalau begitu, berikan aku satu alasan untuk mempercayaimu!" tantang Sakura, ia sendiri tak menyangka akan ada fase mencekam seperti ini dalam pertemanannya dengan Hinata. Ia ingin mempercayai Hinata, namun nalurinya sebagai agen yang mengedepankan akal membuatnya menekan Hinata sedemikian kerasnya.

"Karena jika kau tidak mempercayaiku, kita akan berakhir dengan saling mencurigai satu sama lain. Dan itulah yang Sasuke inginkan!" Hinata mulai meninggikan nada bicaranya. "Dia tidak benar-benar ingin membunuh kita. Dia hanya ingin mempermainkan kita. Dia melepaskan kita agar kita bisa kembali ke sini dan percakapan semacam ini dapat terjadi! Kau menudingku, aku menudingmu dan sebelum kita sempat menyadarinya, kita sudah saling mencekik satu sama lain!" jelas Hinata keras. "Kalian ingin menyingkirkan Akatsuki? Artinya kalian harus melakukannya dengan halus, karena melawan Sasuke secara terang-terangan sama sekali bukan tindakan efektif. Setelah semua hal yang Sasuke lemparkan kepada kita seharusnya membuat kita sadar." Intonasi bicara Hinata merendah. "Bahwa kita tidak akan memiliki kesempatan menang melawannya kecuali kita ikut terlibat dalam permainannya."

Untuk sesaat, Hiashi berdiri menatap Hinata seolah putrinya itu seorang yang berbeda. Hinata tahu ayahnya ituingin mengubahnya, menariknya keluar dari dirinya yang dulu. Namun rasanya perubahannya sekarang bukanlah perubahan yang diinginkan ayahnya itu.

"Marsekal, duduklah terlebih dahulu." Kakashi menyela, menengahi tensi antara ayah dan anak tersebut.

"Jadi kau tidak tahu di mana markas mereka?" respons Hiashi berupa sebuah pertanyaan setelah beberapa lama diam.

Hinata memalingkan pandangannya. "Bahkan jika aku tahu, aku tidak akan mengatakannya karena kalian akan bertindak ceroboh untuk mengirim para agen ke sana yang nantinya akan berakhir sia-sia karena Sasuke sudah pasti dapat memprediksinya."

"Kau tidak memiliki hak untuk memutuskan apa yang harus dan tidak harus kita lakukan, buat dirimu sadar akan hal itu," ujar Hiashi dengan aliran nada yang setenang air.

Hinata menghela napas dan memejamkan matanya sesaat. "Suka atau tidak, kau membutuhkanku untuk menghadapi Akatsuki. Karena kau butuh seseorang untuk mengacaukan Sasuke dari dalam," ujar Hinata, meski ia masih belum begitu yakin akan apa yang ia katakan. Belum begitu yakin akan dirinya yang bisa memanipulasi Sasuke.

"Kau baru saja mengajukan dirimu untuk berdiri di garis depan misi ini kalau kau belum sadar." Hiashi memperjelas.

"Ya," jawab Hinata yakin. "Jika kau lupa, aku adalah putri seorang Hyuuga Hatsumi, wanita dengan loyalitas paling tinggi yang pernah kukenal. Seorang wanita yang tidak pernah menarik kesetiaannya bahkan untuk seseorang yang sudah meninggalkannya. Dan satu hal itulah yang membuatku cukup yakin bahwa aku tidak akan berbalik menyerang kalian," finalnya yang sekaligus menjadi alasan yang menelak sang ayah.

.

to be continued...

..

.

That's it... blowing kisses for you guyss
See ya :*:*:*