.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.
.
.
.
For You Expecting The Worst Might Be The Only Way to Survive.
.
"Kau baik-baik saja?" Hinata akhirnya tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan keadaan Konan.
Mereka kini tengah berada di ruangan tim mereka, menunggu Kakashi yang belum juga muncul sejak dua jam waktu perjanjian mereka. Hinata duduk di sisi Konan yang tengah memainkan asal tabletnya. Sedangkan Ryuzaki menyamankan diri di sofa yang disediakan di salah satu sisi ruangan, tanpa antusias berlebih mendiskusikan statistik misi dari agensinya dengan Sakura.
Konan melirik Hinata sesaat sebelum fokus netranya kembali terbubuh kepada tablet yang ia letakkan di atas meja kaca. "Menurutmu aku baik-baik saja?" responsnya balik dengan pertanyaan.
Hinata menghela napas, ia merasa perlu mengusap lengan atau punggung wanita itu untuk menyalurkan ketenangan, namun diurungkannya. Ia merasa tak terbiasa dengan hal seperti itu.
"Aku tidak tahu kau menyukainya sebesar ini," komentar Hinata.
"Yeah..." Konan hanya bergumam lesu.
"Maaf, aku—"
"Tidak," potong Konan. "Sudahlah, aku tidak ingin membahas hal itu."
Hinata mengangguk kecil. "Baiklah."
"Uhh, tunggu..."ujar Konan lagi, kali ini skeptis. "Seberapa cantik Izumi ini? Maksudku, aku pernah melihat fotonya tapi... maksudku... kau tahu." Konan menggigit bibir bawahnya.
"Hinata tersenyum kecil. "Tidak secantik kau," jawabnya. "Yahiko memang benar-benar buta dan bodoh, seperti yang kita kenal."
Konan menghela napas, kepalanya mengangguk pelan sebelum atensinya ia berikan kembali kepada Hinata. "Bagaimana bisa kau... bersikap biasa terhadapnya?" tanya Konan.
Kening Hinata berkerut, mempertanyakan maksud dari pertanyaan rekannya itu.
"Maksudku, kau tidak terlihat membenci Yahiko. Kau bahkan terkesan membelanya kemarin," lanjut Konan.
Kini tak hanya Konan, perhatian Ryuzaki juga Sakura pun tertuju pada Hinata, atau lebih tepatnya pada percakapan yang diangkat Konan dan Hinata. Tapi Hinata merasa itu bukan masalah.
"Dia mengkhianati kita, tapi..." gumam Hinata, hendak memberikan jawaban namun berakhir dengan kalimat menggantung.
Tapi jika bukan karena pengkhianatan Yahiko, Hinata tak akan pernah mengetahui apapun tentang Sasuke. Ia tak akan menemukan kemungkinan jika Sasuke benar mencintainya. Itulah jawaban yang tak bisa Hinata ungkapkan. Harapan kecil yang masih digenggamnya mungkin menggelikan, tapi yang Hinata tahu, harapan kecil itulah satu-satunya alasan untuk Hinata agar tetap berlari.
"Tapi?" Konan bertanya, agak mendesak.
"Entahlah, Konan. Aku hanya... aku tidak tahu bagaimana untuk membencinya."
Ryuzaki berdecak sambil menggelengkan kepalanya, memosisikan dirinya sebagai orang ketiga dalam perbincangan itu. "Kenapa kalian para wanita selalu tertunduk kepada tipe-tipe bad boy? Terlebih seorang nihilistik yang mencari kesenangan lewat hubungan sedarah." Ryuzaki berkomentar santai, otot matanya bergerak melirik Hinata saat mengatakan kalimat keduanya.
"Pikiranmu sempit! Kami tidak seperti itu," kilah Sakura cepat.
"Uchiha Sasuke itu benar-benar seksi kalau kau mau tahu!" sambung Konan yang kemudian mendapat lirikan heran dari Sakura juga Hinata.
Ryuzaki melirik heran wanita-wanita yang tiba-tiba bersikap agresif itu. "Well, sepertinya aku tidak ingin tahu." Ia mengangkat tangan, mengalah.
"Maksudku tidak heran jika Hinata terjebak olehnya. Salahkan pekerjaan ini yang membuat kami terjebak di tengah-tengah pria-pria bar-bar yang payah dalam merawat diri," jelas Konan enteng.
"Bar-bar dan payah dalam merawat diri?" tanay Ryuzaki, agak tersinggung karena ia adalah salah satu dari pria-dalam-pekerjaan-ini.
"Tidak semua, maksudku... kebanyakan," koreksi Konan. "Jadi bukan salah kami kalau akhirnya kami mengejar pria yang menurut kami terlihat menarik."
"Harusnya kami yang merasa seperti itu. Kalian dikelilingi para pria, sedangkan kami? Sedikit sekali wanita di lingkup pekerjaan ini." Ryuzaki terus meladeni tanggapan Konan. "Tapi sungguh, kenapa tidak ada lebih banyak agen wanita di dunia ini? Aku tidak berpikiran macam-macam, hanya saja... wanita itu benar-benar seperti permata. Mereka bisa melakukan segala hal lebih baik daripada pria jika diberi kesempatan. Aku kenal satu wanita di agensiku yang sangat keren, sangat menawan. Semua orang menyimpan kekaguman yang besar padanya."
"Kau juga menyukainya?" tanya Konan iseng.
"Uh, tidak... karena sayangnya dia adalah ibuku." Ryuzaki mengedikan ringan bahunya.
Sakura memutar bola matanya, Hinata menghela napas. Keduanya mendadak jenuh dengan percakapan Ryuzaki dan Konan yang menurut mereka absurd.
"Tapi mungkin nanti, aku bisa menemukan wanita sepertinya, atau lebih baik darinya," tambahnya rendah, nadanya tak terbaca.
"Mother complex, huh?" Konan mengerling menggoda rekan barunya itu.
Ryuzaki hanya mengedikan bahu. Dan tepat setelahnya, pintu terbuka, menampilkan sosok Kakashi. Membuat yang masuk dengan langkah terburu. Membuat keduanya mengakhiri percakapan mereka.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu," buka Kakashi.
"Tenang saja, belum tiga jam. Bukan masalah besar," sahut Ryuzaki datar.
Kakashi hanya tersenyum kecil mendengar tanggapan dari Ryuzaki. Saat ia tiba di kursinya, ia tak langsung mendudukkan diri. Ia hanya mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, ditumpukannya kedua telapak tangan di meja kaca yang mereka kelilingi.
"Periksa tablet kalian," perintahnya dengan tenang. "Kita akan mencari tahu lebih banyak tentang Akatsuki dari orang dalam."
"Caranya?" Sakura menyela.
"Tentu dengan melibatkan diri secara langsung dengan pihak-pihak yang menyokong mereka," jawab Kakashi lugas. "Jadi... yang kalian lihat di tablet kalian adalah Suigetsu. Bisa dibilang hanya seorang anggota bayangan di Akatsuki."
"Maksud Kakashi dia tidak berguna?" tanya Ryuzaki.
Mata Kakashi kembali menyipit karena senyum yang ditariknya. "Kita tidak tahu pasti. Para intern kita sudah cukup lama mengamatinya, tidak ada catatan berarti, namun karena itulah kita menjadikannya target. Karena kita tidak tahu seberapa banyak ia mengetahui tentang Akatsuki.
Hinata dalam diam memandangi foto di bagian informasi tentang Suigetsu. Pria itu terlihat tersenyum memamerkan deretan giginya dengan jari tengah dan telunjuk yang membentuk tanda berdamai. Hinata menggeser jemarinya di atas layar tabletnya, membaca lebih lanjut deskripsi yang disediakan. Tidak ada catatan tentang keluarga sedarah. Memiliki seekor ikan peliharaan. Sangat menyukai roti isi tuna di toko bernama Happy Sandwich. Dan belakangan masuk rumah sakit karena dagu berdarah tergores pisau cukur.
Sungguh?
Benar-benar tidak terlihat seperti antek-antek kelompok reformis, tapi lagi, Hinata juga tak menyangka bahwa sebelumnya Sasuke adalah salah satu dari mereka. Jadi ia menanggalkan kesan dangkal yang didapatkannya itu
"Apa yang kau ingin kami lakukan terhadap pecundang ini?" tanya Sakura dengan kening berkerut.
"Culik dia."
"Oh... kita semua pasti masih ingat akhir dari rencana serupa belakangan ini." Ryuzaki bergumam rendah sambil terus menggeser tampilan layar tabletnya.
"Kecil kemungkinan gagal di tugas kali ini," balas Kakashi.
"Ya, sangat kecil..." ucap Ryuzaki menggantung, otot matanya bekerja, sorotnya yang semula tertuju ke arah layar tablet menjadi memicing malas memandang Kakashi. "Kecuali jika seseorang tiba-tiba memainkan plot twist lagi dan memutuskan untuk berbalik pihak."
Konan melirik Ryuzaki dalam diam. Sakura menghela napas dan memutar bola mata malas. Sedang Hinata mengerutkan kening tak suka.
Hinata mengingat apa yang Sasuke katakan tentang menghancurkan rasa saling percaya di dalam agensi. Dan melihat hal ini, artinya jelas Sasuke berhasil memainkan permainannya dengan baik. Tidak ada yang bisa mempercayai siapa pun sekarang. Dan itu bisa menjadi kehancuran mereka sendiri jika terus dibiarkan.
"Di sini tertulis dia menetap di Marseille. Artinya kita akan ke sana?" gumam Sakura, tak begitu menuntut jawaban meski yang diucapnya adalah sebuah pertanyaan. "Kami bertiga?"
"Ya," jawab Kakashi. "Tidak ada detail tentang bagaimana kalian harus menanganinya. Kalian memutuskan caranya sendiri, namun jangan lupakan protokol yang berlaku. Kalian diberi waktu enam hari untuk menyelesaikannya. Agensi menyediakan pesawat pribadi yang akan menjemput kalian tepat tengah malam ini. Konan akan selalu terhubung dengan kalian, jadi kalian bisa mengandalkannya untuk kepentingan pelacakan atau detail apapun," jelas Kakashi padat.
"Kakashi bilang tujuan misi ini adalah mendapatkan informasi dari target." Ryuzaki kembali bersuara, kakinya yang sebelumnya ia naikkan di atas kursi ia luruskan ke bawah. "Bagaimana jika Suigetsu ini tidak mau bekerja sama?"
Kakashi menatap Ryuzaki beberapa detik sebelum menjawab. "Kita singkirkan dia dan cari informan lain. Darah pengecut dan pengkhianat pastinya juga ada di antara mereka."
"Dan kau yakin Uchiha Sasuke tidak akan mengetahui tentang hal ini?" tanya Sakura lebih lanjut.
"Dia tidak bisa melacak setiap anggotanya. Apalagi sudah kukatakan sebelumnya, Suigetsu ini seperti anggota bayangan," balas Kakashi.
Masih dalam diamnya, Hinata memejamkan mata beberapa saat, menahan diri untuk tak menghela napas. Bagaimanapun ia sudah memilih, dan ia memilih untuk menghancurkan Sasuke. Yang sama artinya dengan menghancurkan dirinya sendiri.
Baginya, jika ia mati, Sasuke harus mati. Jika Sasuke mati, ia juga tak yakin akan bertahan.
Namun melawan adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri permainan yang Sasuke mulai. Permainan yang Sasuke buat.
..
...
..
"Hinata pernah ke Marseille sebelumnya?"
Pertanyaan Ryuzaki jelas mengarah kepada Hinata, namun nampaknya Hinata sedang tak berada dalam suasana hati yang cocok untuk membuka sesi tanya jawab dengan siapapun tentang apapun. Jadilah ia tetap melangkahkan kakinya memasuki lobby hotel yang telah disediakan untuk mereka.
Sejujurnya Hinata agak bersyukur dengan kehadiran Ryuzaki yang sedikitnya mampu merenggangkan suasana yang kejang, tapi ia kadang berharap pria itu tak terlalu banyak menyuarakan segala yang dipikirkannya.
"Agensi mereservasikan dua kamar," kata Hinata sebagai pemberitahuan singkat.
"Baiklah, aku rasa sudah jelas pembagiannya," balas Ryuzaki. "Tapi aku juga tidak masalah berbagi kamar dengan wanita kalau Hinata ingin memiliki kamar sendiri." Diliriknya Sakura yang langsung meruncingkan tatapan mata padanya.
"Mana mau aku sekamar denganmu," cibir Sakura meski ia tahu Ryuzaki tak benar-benar serius dengan ungkapannya tadi. Ia mengambil satu kartu kamar hotel yang digenggam Hinata dan memindah tangankannya kepada Ryuzaki. "Kau sendiri."
"Aku bukan lelaki jahat kalau itu yang Sakura cemaskan." Ryuzaki mengedikan bahunya ringan.
Sebelah alis Sakura menukik memandang Ryuzaki. "Aku juga tidak keberatan sekamar dengan lelaki jika kau mau tahu. Masalahnya adalah kau dari agensi lain dan aku tidak mempercayaimu."
"Ouchh... jahat sekali," balas Ryuzaki seolah alasan Sakura menyakitinya.
Hinata menghela napas kemudian mulai menarik kopernya, bersiap menuju kamar. "Oh ayolah, kalian benar-benar akan meributkan hal bodoh lagi?" ujarnya tanpa benar-benar meminta jawaban sembari melangkah masuk ke dalam elevator.
"Aku tidak mengerti kenapa agensi merekrutmu." Sakura masih mencibir Ryuzaki namun mengikuti langkah Hinata masuk ke dalam elevator.
"Karena aku hebat dan—"
"Jangan besar kepala! Kau mau membanggakan peringkat lima mu itu? Aku bisa saja menduduki posisi itu kalau aku mau!" Sakura menekan tombol elevator dengan angka enam dengan tenaga berlebih hingga terlihat seperti dirinya ingin menghancurkan tombol itu.
Hinata melirik Sakura yang masih menekuk wajahnya, menampakkan raut kesalnya, namun baik Hinata atau Ryuzaki cukup bijak untuk memilih diam. Hingga pintu elevator kembali terbuka, seketika itu pula Sakura langsung keluar menarik kopernya, tak mempertimbangkan untuk menunggu dua rekannya.
"Apa masalahnya?" tanya Ryuzaki akhirnya setelah dirasa suaranya takkan menjangkau gendang telinga wanita bersurai merah muda itu.
"Entahlah," jawab Hinata singkat sambil memulai langkah santai mengikuti jejak Sakura.
Ryuzaki menggeleng pelan, kemudian bergumam kecil. "Wanita dan segala hormonnya."
"Banyak hal terjadi, mungkin beberapa dari itu membebaninya," sahut Hinata dalam sirat meminta Ryuzaki memaklumkan luap emosi Sakura. "Kalau begitu... sampai jumpa." Salam Hinata pada Ryuzaki sebelum hendak memasuki salah satu pintu kamar hotel di lorong itu.
Ryuzaki kembali mengangguk, diam membiarkan Hinata meraih kenop pintu kamarnya.
"Jangan lupa langsung istirahat," singkatnya menasehati, membuat Hinata menghentikan gerakannya dan menoleh.
"Huh?" Hinata memandang Ryuzaki tak mengerti.
"Aku tahu Hinata begitu berambisi untuk menangkap Uchiha Sasuke, melilitkan tali di lehernya, menggantungnya seperti babi dan mungkin menanyakan beribu alasan padanya. Tapi Hinata perlu tahu kalau Hinata tidak perlu melakukan semuanya sendirian. Jangan menjadikan misi ini sebagai beban pribadi. Kita tim, bukan?"
"L," panggil Hinata pelan setelah beberapa saat terdiam. "Aku menghargai niatmu. Tapi aku tak yakin akan ada hal yang akan membuatku berhenti."
"Aku tidak meminta Hinata untuk berhenti. Cukup membaginya dengan kami," balas Ryuzaki, ekspresinya masih datar.
Hinata mengambil jeda beberapa detik sebelum menghela napas samar. "Aku duluan," ujarnya kemudian membuka pintu dan masuk ke kamarnya.
Dilihatnya Sakura sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, manik hijaunya tertutup namun Hinata tahu wanita itu belum terlelap. Hinata masih memilih diam, mungkin rekannya itu memang sedang butuh ketenangan.
"Maaf." Hinata mendengar hela napas Sakura. Ia membalikkan tubuhnya, mengabaikan barang bawaannya yang sebelumnya hendak ia rapikan. Dipandangnya ringan Sakura yang kini melipat kedua kelopak matanya. "Suasana hatiku buruk sekali belakangan ini."
"Ya, aku bisa melihatnya," jawab Hinata, dilepasnya jaket yang ia kenakan sebelum ia dudukkan dirinya di sofa.
Sakura memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab. "Sumpah aku tidak bermaksud meragukanmu, Hinata. Hanya saja..."
"Aku mengerti, belakangan ini semuanya memang terasa menggila," ujar Hinata tenang.
Tentu Hinata mengerti apa yang Sakura maksudkan. Misi sebelumnya berhasil meretakkan rasa percaya mereka pada Hinata dan Sakura terlalu menunjukkannya dengan jelas. Hinata tak terlalu mempermasalahkannya, ia mengerti bahwa persepsi yang Sakura ambil bukanlah hal yang tak logis. Bukan salah Sakura jika wanita itu beranggapan Hinata adalah senjata Sasuke selanjutnya. Bagaimanapun, ia sadar ia adalah orang pertama yang secara logika memiliki peluang terbesar untuk menjadi pengkhianat selanjutnya.
..
...
..
Saat Hinata bangun pagi berikutnya, Sakura tak terlihat di sisi manapun kamar itu. Diliriknya jam digital pada nakas di samping tempat tidur sebelum Hinata memutuskan untuk segera membersihkan dirinya. Hinata bukan tipikal perempuan yang hobi berlama-lama di kamar mandi, hingga belum lima belas menit berlalu, sosoknya sudah keluar dengan pakaian baru yang terlihat lebih rapi.
Hinata meraih sepatu sneakers miliknya yang ia letakkan di bawah ranjang tadi malam dan mengambil menjatuhkan bokongnya di sofa, dalam diam memasangkan alas kakinya itu. Saat Hinata hampir selesai menalikan tali sepatu sebelah kanannya, pintu terbuka, Sakura dan Ryuzaki masuk dengan wajah murung.
Kening Hinata berkerut mendapati raut itu memandangnya. Belum ada yang mengatakan apapun, namun jelas, sesuatu telah terjadi.
"Ada apa?" tanya Hinata setelah menegakkan duduknya.
"Uh... Hinata..." Ryuzaki bergumam sambil mengusap pelan tengkuknya sendiri, sungguh ini kali pertama Hinata melihat sisi lain rekan barunya itu.
"Kenapa?" tanya Hinata lagi, sedikit lebih mendesak.
"Ini tentang Tenten," sahut Sakura dengan suara rendah.
Hinata berkedip, menunggu penjelasan lebih lanjut. Namun Sakura malah bergerak mendekat dan duduk di sisi ranjang dengan kepala tertunduk. "Ada apa... dengan Tenten?"
Di kepalanya, Hinata secara otomatis menyusun berbagai dugaan. Apakah sesuatu yang buruk terjadi? Atau mungkin ini soal pengkhianatan lagi? Sasuke dengan jelas mengatakan padanya bahwa tak ada lagi anak buahnya yang bekerja sebagai mata-mata di Anbu. Tapi lagi, Hinata tentunya memilih berhenti menjadi seorang idiot yang dengan mudahnya mempercayai pria itu.
"Dia... tewas." Ryuzaki mengambil alih untuk menjawab setelah beberapa menit Sakura tak bersuara.
Hinata menyadari keterkejutan yang menghampirinya begitu hebat hingga membuat tubuhnya lemas. Dan hal itu membuktikan bahwa hatinya masih tetap sama, tetap lemah. Hinata tak membekukan hatinya, ia masih peduli dengan sekitarnya.
Hinata mematung, mati rasa. Merasa membutuhkan waktu ekstra untuk menelaah informasi itu.
"Berdasarkan informasi dari Konan, jasadnya sudah diantar ke agensi," lanjut Ryuzaki, namun Hinata tak begitu mendengarnya. Ia merasa telinganya terlalu berdengung.
"Lalu bagaimana?" bisik Hinata antara sadar tak sadar.
"Kita memiliki misi, Hinata," gumam Sakura, pelan namun tegas. "Kita harus melakukan apa yang ditugaskan terhadap kita," ujarnya sebelum berdiri dan beranjak keluar dari kamar.
Bola mata Ryuzaki mengikuti gerak Sakura hingga wanita itu hilang di balik pintu, atensinya kemudian kembali kepada Hinata yang masih diam.
"Hinata," panggilnya, ia berlutut di hadapan Hinata yang masih duduk di sofa. "Hinata tahu, Naruto juga terluka," tambahnya menginformasikan. "Tapi seperti inilah pekerjaan kita. Mungkin terdengar kasar, tapi kita memang tidak seharusnya membuat ikatan apapun di dalam lingkup pekerjaan ini. Tidak ada teman, keluarga ataupun kekasih. Bukan karena kita tidak berhati, tapi untuk menghindari sakit hati akibat ditinggalkan." Ryuzaki benar-benar menyuarakannya dengan ekspresi datar, namun Hinata menangkap emosi dan kesungguhan dalam tiap katanya.
Ia memandang pria yang tengah mendongak menatapnya itu, diam beberapa saat sebelum akhirnya membuka bibir untuk mengantarkan beberapa kata balasan. "Sepertinya itu memang kelemahan terbesarku."
..
...
..
Sunyi yang mencekam mengisi udara ruang mobil sewaan mereka. Ryuzaki yang fokus pada sekitarnya, Sakura yang mungkin mencemaskan tentang Naruto dan Hinata yang masih berduka atas kematian Tenten. Memikirkan apakah rekannya itu kiranya memiliki sanak saudara.
Upacara pemakamannya tak diselenggarakan di agensi. Anbu hanya akan mengadakan upacara penghormatan seolah mereka yang tewas adalah pahlawan. Namun hanya sebatas itu, karena setelahnya, seperti Kematian pada umumnya, seseorang yang mati akan terlupakan.
"Itu dia." Ryuzaki bersuara rendah, namun lebih dari cukup untuk menyeret atensi Sakura dan Hinata padanya.
Sesuai rencana, Hinata bergegas keluar dari dalam mobil untuk mengawasi target—Suigetsu—dalam jarak yang sudah diperkirakan. Dilihatnya pria itu berjalan santai keluar dari sebuah gedung apartemen dengan menggendong seekor anak anjing, menyeberangi jalan menuju sebuah restoran cepat saji.
Hinata berhenti, menahan diri untuk ikut menyeberang saat lampu lalu lintas untuk pejalan kaki menyala merah. Manik lavendernya tak juga melewatkan sosok berambut putih itu yang kini tengah menalikan kalung anjing yang dibawanya ke salah satu tiang dekat restoran. Hinata berpikir tugasnya kali ini akan sangat mudah, yang perlu ia lakukan hanyalah mendekati pria itu dan mengancamnya diam-diam untuk mengikuti Hinata.
Hinata baru mengangkat kaki kanannya untuk memulai langkah saat lampu pejalan kaki berganti warna menjadi hijau, namun seketika urung melihat Suigetsu melambaikan tangan ke arah samping kanan restoran, ke arah seseorang yang berjalan mendekati pria itu.
Kelopak mata Hinata mengerjap berkali-kali melihat orang ketiga yang muncul. Meskipun sosok itu menutup kepalanya dengan tudung jaket juga mengenakan kaca mata hitam, Hinata tetap dapat mengenalinya di manapun. Ya, siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.
Dan Hinata merutuki jantungnya yang masih terus merespons dengan liar setiap kali retinanya menangkap bayangan pria itu. Tapi untuk kali ini, debar familier itu dibarengi darahnya yang mendidih karena emosi. Kali ini yang Hinata inginkan hanyalah mengambil pistolnya kemudian menembak Sasuke seketika sebagai bayaran apa yang telah pria itu lakukan pada Tenten.
Selanjutnya yang Hinata lihat adalah Sasuke dan Suigetsu melakukan salam tangan ala kelompok jalanan rendahan. Seperti mereka adalah kawan lama yang baru kembali berjumpa. Kening Hinata berkerut saat dua pria itu malah mengambil rute lain, tak lagi berniat masuk ke restoran. Bahkan si Suigetsu itu kini melupakan anak anjingnya.
Sumpah, apa yang sedang mereka rencanakan?!
Hinata baru akan mempertimbangkan jarak baru untuk menguntit mereka, mengingat salah satu yang diikutinya kini adalah Sasuke. Seorang Master Mind yang tak terduga. Tapi baru sekitar tujuh langkah mereka berjalan menyusuri trotoar, langkah Sasuke terhenti. Pria itu berbalik menghadap ke jalanan, ke arah Hinata.
Netra Hinata dibuat semakin melebar saat mendapati Sasuke menurunkan sedikit kacamata hitamnya, hingga manik kelamnya yang mematri pandangan kepada Hinata terlihat cukup jelas meski mereka berjarak. Seringai menggoda khasnya terbentuk sebelum Sasuke menempelkan jari telunjuk dan tengahnya ke bibir untuk kemudian ia ayunkan, seolah melemparkannya, ke arah Hinata berdiri.
Dengan tangan terkepal, Hinata menunggu keduanya menghilang di tikungan. Ia baru berbalik bdan berjalan terburu ke arah mobil sewaan mereka di parkirkan. Ryuzaki dan Sakura sudah berkumpul di sana terlebih dahulu, kini bersandar di kap mobil.
Sakura yang melihat kemunculan Hinata bergegas mendekati. "Dia juga tahu?!" tanyanya mendesak, Sakura mengetahuinya karena dari sudut yang berbeda, ia juga mengamati pergerakan Suigetsu hingga Sasuke datang.
Hinata tak menggubris rekannya itu, langkahnya terus diayunkan hingga ia memasuki mobil dengan membanting pintu.
Sakura kembali mendekati Ryuzaki. "Menurutmu bagaimana bisa dia tahu?" tanyanya rendah dan pelan.
"Ini tidak mengejutkan, aku sudah menebaknya," kata Ryuzaki datar, seolah hal ini tak mengganggunya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kap mobil. "Kakashi bilang agensi sudah lama mengawasi Suigetsu ini. Jadi bukankah sudah pasti Uchiha Sasuke akan mengetahuinya."
"Menurutmu dia tahu karena kita begitu terpola?" tanya Sakura.
"Uchiha Sasuke terlalu mengetahui detailnya, jadi ini bukan hanya sekedar tebakan dari pola main agensi," balas Ryuzaki, masih sama tenangnya. "Yang perlu kita bongkar saat ini adalah siapa yang menjabarkan detail itu kepada Uchiha Sasuke. Dan orang itu pastinya bukan aku."
Ryuzaki melirik Sakura yang mendadak diam, menyadari tatapan menerawang wanita itu yang terlihat keras namun sendu di saat yang bersamaan.
"Sakura masih mencurigai Hinata?" tanyanya santai.
Sakura balas melirik pria nyentrik bersurai gelap itu, ia menghela napas sebelum menjawab. "Dia temanku," gumamnya.
Ryuzaki tersenyum kecil. "Kalau begitu berpeganglah pada kepercayaan itu," ungkapnya bijak.
"Bagaimana denganmu?" tanya Sakura lagi.
"Aku?"
"Kau pasti memiliki satu atau bahkan beberapa nama."
"Sakura tidak salah tentang hal itu."
Sakura memandang Ryuzaki dengan tatapan menyelidik, beberapa saat ia habiskan untuk berpikir sebelum meluncurkan satu pertanyaan yang hanya berdiri atas satu kata. "Siapa?"
Ryuzaki berkedip sekali. "Membeberkan asumsiku kepada kalian hanya akan semakin membuat kusut keadaan."
"Huh?"
Tak menghiraukan kebingungan Sakura, Ryuzaki menegakkan tubuhnya. "Sebaiknya sekarang kita kembali. Tidak ada yang bisa kita lakukan terhadap Uchiha Sasuke di tengah hari seperti ini, apalagi tanpa perintah apapun," finalnya sebelum masuk ke kursi kemudi.
..
...
..
Setibanya di hotel, Sakura meminta Hinata melaporkan kejadian hari itu kepada Konan secara langsung sedangkan ia dan Ryuzaki keluar untuk mencari informasi lebih dalam tentang Suigetsu dari lingkungan sekitar.
Hinata berjalan gontai ke kamar hotelnya, mengetahui bahwa alasan utama Sakura membiarkannya sendiri adalah memberinya waktu tenang untuk berduka. Dengan kewaspadaan yang minim, Hinata masuk ke kamar hotelnya. Suasana gelap dengan cercah sinar yang berhasil menyelip dari celah gorden gorden menyambutnya. Seakan bergerak otomatis, Hinata menutup pintu sebelum melepas asal sepatunya.
Barulah saat memasuki ruang utama, Hinata menyadari kehadiran sosok lain di kamar itu, berdiri santai di samping ranjang.
"Sasuke," bisiknya tajam, tangannya refleks meraih dan mengeluarkan pistol yang ia selipkan di pinggulnya.
"Ohh..." Sasuke mengangkat kedua tangannya, tapi ekspresinya sama sekali tak memperlihatkan bahwa pria itu terancam. "Tidak perlu seagresif itu, Sayang," ucapnya.
Hinata masih menatap Sasuke dengan sorot liar yang dingin, moncong pistolnya pun masih ia arahkan ke pria itu.
"Jadi..." Sasuke mendudukkan dirinya di tepi ranjang, ia mengambil buku catatan kecil tang disediakan hotel dan membolak-balik halamannya meski mengetahui tak ada coretan apapun di sana. "Kau sudah dengan bagaimana kawanmu mati?" tanyanya tanpa pengalihkan pandangan.
Lengan Hinata melemas, ia menurunkan ancamannya. "Kenapa kau melakukan ini, Sasuke?" tanya Hinata dengan suara rendah, nyaris berupa bisikan. "Setiap kali aku meyakinkan diriku bahwa kau memiliki sisi baik dalam dirimu, ke selalu melakukan hal yang memaksaku untuk kembali menghancurkan persepsi itu. Selalu begitu hingga aku muak dengan semua permainanmu!" nada bicara Hinata meninggi di kalimat terakhir.
Sasuke meletakkan buku catatan yang digenggamnya kembali ke tempat asal. "Kau tahu?" Sasuke mendongak sedikit, menatap Hinata yang masih berdiri tak jauh darinya. "Anak buahku menghabisinya tepat di depan mata Naruto karena mereka berdua sudah terlalu dekat dengan rahasia terbesarku. Kartu As milikku."
"Apa maksudmu?" Hinata menyuarakannya tanpa memikirkan lebih lanjut.
"Hinata... aku tahu kau bahkan beranggapan aku seorang yang sadis. Kau merasakannya sendiri," sahut Sasuke ringan. "Aku senang menyiksamu, jiwa dan raga. Aku menemukan kesenangan dalam hal itu. Kau membuat semuanya jadi lebih menarik."
Sasuke berdiri dan berjalan semakin mendekati Hinata. Mengabaikan ketegangan Hinata yang begitu kentara.
"Kupikir setelah aku lepas dari agensi, semua akan berakhir. Tapi ternyata tidak..." Sasuke tertawa meremehkan. "Kau tetap merangkak memerangkap diri ke dalam jebakanku. Seperti yang kukatakan, kau benar-benar menjadi hobiku."
"Tidak," sangkal Hinata. "Kau hanya menyangkalnya. Kau menginginkanku tapi kau tidak bisa mendapatkanku! Itu kebenarannya!" seru Hinata tertahan.
Sasuke menatap Hinata beberapa saat sebelum menyeringai. "Kau benar-benar terlalu tinggi hati, Sayang." Sasuke tertawa kecil. "Tapi aku akan membiarkanmu berasumsi semaumu."
Hinata mundur selangkah saat ia merasa Sasuke terlalu dekat dari jarak jangkaunya.
"Hmmm... bagaimana kalau kita buat permainan ini agar lebih menyenangkan." Sasuke tampak pura-pura berpikir, jaraknya yang kini tak lebih dari dua langkah dari Hinata membuatnya merasa lebih superior atas wanita itu. "Ingin mendengar satu rahasia itu, Hinata?" bisiknya. "Kau tahu, Naruto dan wanita cepol itu..."
Sasuke mencondongkan tubuhnya, menginvasi sisi kanan kepala Hinata hingga napas hangatnya dapat wanita itu rasakan. Sasuke membisik di telinganya, membuatnya bergidik akan sensasi yang sama.
Namun senasi itu seketika musnah. Mata Hinata melebar, tubuhnya seakan dirangsang kejut yang begitu hebat saat Sasuke menyisipkan satu nama di antara bisikannya. Satu nama yang mendadak membuat Hinata kembali merasakan tumpul di setiap syarafnya.
Hinata diam, masih tak bereaksi. Ia bahkan tak menyadari Sasuke yang mengecup ujung daun telinganya sambil perlahan merenggut pistol dari genggamannya.
.
to be continued...
..
.
Tepuk tangan untuk ku yang akhirnya bisa bangkit dari rasa malasku *clapclap* *abaikan ranjau typo yang bertebaran*
Sebenernya yang aku buat sedikit lebih panjang dari ini, tapi aku ini orang jahat yang suka ngegantung readers. Aku potong TBC nya di situ karena pengen kalian menebak-nebak lagi *ketawasetan* xD
Dan doakan aku bisa update next chap minggu ini juga :*
Thank you and see yaaaa :*
.
Oh ya, buat kalian yang sering mondar-mandir wattpad, silahkan check akun Hinata_Centric2017 ... akan ada event dengan hadiah menggiurkan macem novel, merchandise dan pulsa untuk merayakan ultah Hinata Desember mendatang :*
