.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.
.
.
.
Vice Versa, Even Angels Have Their Wicked Schemes.
.
"Ingin mendengar satu rahasia itu, Hinata?" ujar Sasuke rendah, dan meski tak dapat melihatnya, Hinata sudah dapat memastikan bahwa seringai kejam bertengger di wajah pria itu.
Sasuke mencondongkan tubuhnya, menginvasi area sisi kanan kepala Hinata hingga napas hangatnya dapat wanita itu rasakan. Sasuke membisik di telinganya, membuatnya bergidik akan sensasi yang sama.
"Kau tahu, Naruto dan wanita cepol itu... hampir menemukan kebenaran tentang Kakashi."
Mata Hinata melebar, tubuhnya seakan dirangsang kejut yang begitu hebat, seluruh syaraf di sistem Hinata mendadak terasa tumpul saat nama ketua timnya itu diucapkan oleh Sasuke.
Hinata diam, masih tak bereaksi. Ia bahkan tak menyadari Sasuke yang mengecup ujung daun telinganya sambil perlahan merenggut pistol dari genggamannya dan melempar benda itu asal di atas ranjang.
"Kakashi..." Hinata akhirnya dapat menguasai diri untuk bersuara setelah beberapa saat mematung. "Dia... dia juga bagian dari semua rencana kriminalmu?" Rasa tak percaya masih kental dibawa oleh setiap kata yang Hinata ucapkan.
Sasuke mundur selangkah, menjaraki dirinya dengan Hinata sebari tertawa renyah. "Dia adalah otak kriminal itu sendiri, Hinata," akunya seakan informasi itu adalah sebuah lelucon umum. "Yang kau temui malam itu adalah ayah dari Izumi. Bukan ayahku."
Hinata refleks melempar tatapan liar yang menuntut penjelasan kepada Sasuke.
"Kakashi adalah ayah biologisku. Dan yang selama ini kita berlakon di dalam permainan yang dibuatnya." Sasuke kembali mengatakan rahasianya itu dengan mudahnya, seringai masih menghiasi wajahnya. "Kau tahu, Hinata? Jika saja ayahmu tidak cukup cerdas, dia mungkin sudah mati dan Kakashi mungkin sudah menjadi Marsekal sekarang."
Jantung Hinata berdebar dengan kencang saat Sasuke menyeret ayahnya dalam topik ini. Tak perlu analisis lebih dalam, jika yang dikatakan Sasuke memang benar, sudah pasti ayahnya memang jadi incaran.
"Jika itu terjadi, aku yakin kau tahu ke mana selanjutnya permainan ini akan mengalir. Seseorang radikal, dengan kendali satu agensi berisi pembunuh profesional di tangannya. Bukan kabar baik untuk pemerintahan," jelas Sasuke padat.
Dalam diam, Hinata menggertakkan giginya, kepalannya mengencang menginginkan wajah menyebalkan Sasuke sebagai landasannya. Tapi Hinata mencoba menahan amarah yang begitu meletup-letup di dalam dirinya.
"Kau mengatakan semua itu padaku," gumam Hinata mengambang.
"Karena aku tahu itu tidak akan mengubah apapun." Oniks Sasuke masih setia melekat pada ekspresi keras yang Hinata berikan. "Tidak ada yang bisa kau lakukan. Kakashi akan membunuhmu seketika kau mencoba membocorkan rahasia ini. Jadi kusarankan kau untuk mengunci bibirmu rapat-rapat." Tangan Sasuke terangkat, hendak meraih wajah Hinata. "Masih terlalu dini untukmu mati."
"Bajingan! Keparat!" Hinata menepis tangan Sasuke dengan tangan kirinya, kemudian tanpa berpikir lebih lama, ia melayangkan tinju kanannya yang sedari tadi menegang ke sisi wajah Sasuke.
Hinata berhasil mendaratkan pukulan ke pipi Sasuke, meski begitu, Sasuke yang juga memiliki refleks cepat tak butuh waktu lama untuk tersadar dan menyerang balik. Dicengkeramnya bagian depan blus Hinata sebelum ia dorong wanita itu secara kasar hingga punggung Hinata menghantam dinding.
Tak mau menyerahkan diri, Hinata yang sedari tadi menajamkan seluruh inderanya segera membalas. Dengan kedua tangan mencoba memberontak, ia mengangkat kakinya kencang hingga lututnya menumbuk perut Sasuke, beberapa kali hingga ia berhasil membuat Sasuke melepaskannya dan mengambil langkah mundur.
Bukan marah, Sasuke malah mengalunkan tawa terhibur. "Kau ingin berkelahi, Hinata? Kalau begitu kau beruntung karena suasana hatiku sedang baik."
Detik berikutnya yang Hinata sadari adalah kaki Sasuke yang melayang menghantam sisi kanannya di bagian lengan atas. Hinata sempat mencoba menahannya namun momentum yang Sasuke berikan cukup kuat hingga ia terlempar dan jatuh ke aras ranjang.
Dengan cepat, Sasuke merobohkan dirinya, menindih Hinata untuk menahan wanita itu dari agresi lanjutan. Ia menghubungkan oniksnya pada iris mutiara Hinata, namun tak mengatakan apapun. Beberapa detik waktu seperti berhenti untuk keduanya, hingga terdengar Sasuke menghela napas malas. Nampaknya menyadari sesuatu yang salah.
"Kau lengah akan keadaan di sekitarmu," komentar Hinata datar.
Saat Sasuke menindihnya dan hanya terfokus pada wajahnya, tangan kirinya diam-diam berhasil meraih pistol yang sempat Sasuke singkirkan. Kini ia tengah menempelkan moncong senjatanya itu pada perut bagian kanan Sasuke.
"Aku tidak peduli jika kau senang mempermainkanku. Aku tidak peduli kau hanya ingin melihatku menderita. Aku akan membiarkanmu melakukan apapun yang kau inginkan. Tapi satu hal..." Hinata berdesis dengan nada mengancam. "Katakan padaku bahwa perasaanku padamu juga bukan apa-apa selain permainan untukmu!"
Sasuke menatap Hinata tanpa ekspresi. "Tarik pelatuknya," ujarnya tenang, mengabaikan desisan Hinata, sama sekali tak merasa terancam.
"Apa?"
"Tarik pelatuknya, Hinata," ulangnya lagi. "Aku membunuh temanmu. Kemudian mengatakan bahwa jenderal yang kau percaya adalah ayahku. Seluruh hidupmu dipenuhi kebohongan. Kau sedih juga murka di waktu yang bersamaan." Sasuke merinci dengan jelas. "Dan sekarang... kau masih ragu untuk menembakku?" tanya Sasuke, masih dengan tubuh menindih Hinata.
Napas Hinata tercekat, ia menahan diri agar tak bergetar. Penjabaran yang Sasuke ucapkan begitu mengingatkannya bahwa dirinya benar-benar menyedihkan.
"Apa kau sebuta itu, Hinata?" sambung Sasuke rendah. "Atau separah itu kau menghancurkan dirimu sendiri dengan mencintaiku?" Kali ini, nada bicara yang Sasuke gunakan melembut, nada yang otomatis memicu pompaan jantung Hinata menjadi lebih kencang. "Lain waktu... jangan ragu untuk menarik pelatuknya."
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari Hinata, Sasuke mengambil alih pistol yang diarahkan di perutnya secara perlahan dan melemparnya hingga terjatuh ke lantai. Detik selanjutnya, ditangkupnya wajah Hinata dengan satu tangan sebelum bibirnya meraih bibir wanita itu.
Hinata menutup matanya, tubuhnya tak menolak ataupun membalas perlakuan Sasuke. Menolak sentuhan Sasuke hanya akan membuatnya merasa menjadi seorang yang munafik. Namun jika ia membalas ciuman pria itu, sudah jelas ia terkalahkan kali ini. Jadi Hinata agak tak peduli apapun yang akan terjadi padanya saat ini.
Sasuke semakin menindih Hinata, sebelah tangan yang semula ia gunakan untuk tumpuan kini ia gerakkan untuk mengusap pinggul wanita di bawahnya. Bibirnya masih terus mempermainkan bibir Hinata dan lidahnya menguasai rongga mulut wanita itu.
Sasuke menurunkan intensitas ciumannya, membagi atensinya untuk melepas kancing-kancing atas blus yang Hinata kenakan. Tanpa sabar, Sasuke merobek kasar blus Hinata setelah tiga kancing teratas dibukanya. Di momen yang sama, sebagian diri Hinata yang masih memberontak bereaksi secara refleks, digigitnya keras-keras bibir Sasuke yang tengah menginvasinya, menghasilkan erangan rendah dari pria itu.
"Sial!" Sasuke mendesis setelah melepaskan ciumannya, indera pengecapnya seketika disambangi rasa amis darah. Namun ia tak menghabiskan waktu lebih lama untuk memprotes hal kecil yang Hinata perbuat, kembali bibirnya menyerang Hinata. Kali ini bukan ke bibir wanita itu, melainkan bagian tengkuk dan tulang selangkanya. Bagian sensitif tubuh Hinata yang jelas Sasuke hafal.
"Umhh..." Hinata menggigit bibir, menahan erangan yang tak diinginkannya. Tangannya meremas seprai hotel kencang-kencang, menahan diri untuk tak menyentuh pria di atasnya.
Kenangan tentang Sasuke menghantamnya keras-keras. Dadanya sesak karena tanpa sadar, ia menahan perasaan juga air matanya agar tak tumpah. Tapi Hinata beruntung nafsu dan segala perasaan itu belum penuh menguasai kepalanya, karena menyerahkan diri kepada Sasuke kali ini adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.
Benaknya terus merapal betapa Sasuke tak pantas untuknya. Pria itu adalah monster. Pria itu pernah menghancurkannya, membunuh temannya. Dan Hinata tak berniat untuk menjatuhkan dirinya ke dalam perangkap yang sama.
"Tubuhmu begitu merindukanku, Hinata," bisik Sasuke rendah di sela kecupan basahnya pada permukaan kulit Hinata. Tanpa menyudahi aktivitas awalnya, satu tangan Sasuke yang lain bergerak ke perut bagian bawah Hinata, mencari dan mencoba melepas kancing jeans yang dikenakan wanita itu.
Hinata memejamkan mata, giginya masih menancap di bibirnya sendiri untuk melawan desah yang datang saat bibir Sasuke bermain di sekitar payudaranya yang masih terbalut bra. Dan di bawah sana, beberapa kali ia merasakan milik Sasuke yang mengeras di balik celana tanpa sengaja menyentuh pahanya.
Hinata perlahan membuka matanya, kilat dari ametisnya memancarkan tekad. Ia tak akan mundur sekarang. Hinata belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan sebelumnya. Hanyutkan diri di dalam arus yang Sasuke buat, tapi jangan biarkan Sasuke menang dengan tenggelam di dalamnya.
Dibiarkan bibirnya terbuka dan dengan bebasnya melepaskan satu dua erangan rendah yang semakin membakar suasana. Tangannya yang semula terkepal di seprai meraih surai kelam pria di atasnya.
Hinata membiarkan Sasuke mengerang menikmati respons kecilnya untuk beberapa menit. Setelahnya ia menangkup kedua sisi wajah pria itu dengan kedua tangannya, menarik bibir Sasuke menjauh untuk sejenak berhenti menyerang tubuhnya.
Sasuke mengangkat wajahnya untuk menatap Hinata. Masing-masing mengabaikan tiap hela napas berat yang keduanya keluarkan. Iris mereka yang kontras bertabrakan, seolah saling mengirimkan maksud meski tanpa kata terucap.
Hinata mencoba mendudukkan dirinya tanpa melepas kontak mata mereka, perlahan mengubah posisi. Menjadikannya kini berada di atas Sasuke, duduk di perut pria itu. Lagi, ia dapat merasakan ereksi di dalam celana pria itu sedikit menyentuh bokongnya.
Dengan ekspresi yang masih datar, Hinata perlahan melepas blusnya yang sebelumnya sudah Sasuke buka paksa kancing-kancingnya, membuat tubuh atasnya hanya terlindungi bra. Sebuah gerakan kecil yang mengundang seringai tajam di bibir pria itu.
"Kau ingin memegang kendali, Sayang?" tanya Sasuke seduktif.
Hinata tak merespons ucapan itu secara verbal. Yang dilakukannya kemudian adalah mencondongkan sedikit tubuhnya, merah kedua tangan Sasuke dan meletakkannya di atas perut pria itu. Dengan blus yang tadi ditanggalkannya, Hinata mengikat kedua tangan pria itu.
"Wow... apa yang sedang kau pikirkan, Hinata?" ujar Sasuke lagi, dengan nada yang seolah takjub.
Hinata mengirim senyum tipis untuk membalas Sasuke sebelum ia menarik tangan Sasuke yang sudah terikatnya ke atas kepala pria itu, mendekati kepala ranjang, dan kembali mengikatkan dengan cepat dan kencang blusnya di sela besi kepala ranjang.
"Sial!" Sasuke mengumpat sesaat setelah menyadari niat Hinata. "Apa yang ka—"
Kalimat Sasuke terpotong seketika tinju Hinata menghantam wajahnya. Sasuke kembali melempar umpatan rendah, tangannya menggeliat berusaha melepaskan diri. Dan seperti belum cukup, Hinata kembali melayangkan tinjunya keras-keras ke pipi Sasuke.
Saat Sasuke mengerang, Hinata dengan cepat melepas sabuk yang pria itu kenakan dan menggunakannya untuk lebih mengencangkan ikatan tangan Sasuke di kepala ranjang. Hinata baru bangkit dan turun dari ranjang setelah memastikan ikatan itu dapat menahan Sasuke, setidaknya untuk beberapa menit.
Hinata meraih kopernya, mengambil kaus dan mengenakannya cepat, menutupi tubuhnya. Ia juga kembali mengencangkan resleting dan kancing jeans-nya. Manik lavendernya terus mengawasi tiap gerak yang Sasuke buat.
"Kau cukup cekatan," komentar Sasuke dibarengi tawa terhibur.
Hinata diam, keningnya berkerut ringan melihat Sasuke yang tersenyum lebar. Pandangannya kemudian ia edarkan ke sekeliling kamar dan berhenti saat retinanya menangkap bayangan pistolnya di lantai.
Hinata bergerak santai, meraih senjata itu sebelum kembali berdiri di kaki ranjang, mengawasi Sasuke yang beberapa kali menarik-narik tangannya yang terikat. Hinata tahu ikatan itu tak akan bertahan lama, Sasuke terlalu pro untuk masalah seperti ini. Melepaskan diri dari jerat asal seperti itu bukanlah momok berat baginya. Jadi Hinata memutuskan untuk tak menghabiskan lebih bayak waktu.
"Aku yakin kau ingat bagaimana kau membunuh Neji," buka Hinata, ia naik ke atas ranjang dan berlutut di antara kedua kaki Sasuke.
"Kenapa? Kau mau melakukan reka ulang dengan aku sebagai modelnya?" tanya Sasuke dengan seringaian yang tak goyah. "Kau tidak akan berani, Hinata. Kau tidak akan membunuhku," ujarnya penuh keyakinan.
Hinata diam beberapa saat, ia mengarahkan moncong pistolnya ke pada kanan Sasuke. "Kuberi kau satu menit untuk mulai mengatakan semuanya. Dari awal sampai akhir. Jika kau masih diam, akan kutembak kakimu dan aku pastikan Sakura juga L akan berada di sini sebelum kau sempat menjerit."
Sasuke sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Hinata dengan lebih jelas. "Kau benar-benar berubah menjadi jalang, huh? Menggunakan tubuhmu sebagai umpan untuk memerangkap targetmu." Sasuke memberikan seringai merendahkan.
"Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau menganggapku sebagai pelacurmu. Apa bedanya jika aku melakukannya lagi untuk membalasmu sekarang?" desis Hinata tajam. "Dua puluh tiga detik." Hinata menginformasikan waktu yang sudah berjalan tanpa menunggu respons Sasuke. "Bicaralah!" titahnya rendah.
Rahang Sasuke mengancang, seringainya hilang. Air wajahnya menjadi begitu datar dan dingin.
"Tik tok, Sasuke." Hinata memainkan senjata yang digenggamnya, mengarahkan dan mengetukkan moncong pistolnya pelan tepat di gundukan ereksi Sasuke.
Sasuke mengerang rendah, keningnya berkerut menatap Hinata dengan sorot protes. "Baiklah," jawab Sasuke akhirnya. Jelas pria itu terlihat tak senang dengan situasi kali ini, namun tak ada sedikitpun ekspresi terancam muncul di wajahnya.
"Pertama-tama, berikan satu alasan kenapa aku harus mempercayaimu," tambah Hinata, ia kembali turun dari ranjang, berdiri di kakinya namun tetap mengarahkan senjatanya ke peliharaan kebanggaan Sasuke. "Sebelumnya kau bilang akan menjawabku dengan jujur, tapi kau berbohong saat aku bertanya apakah ada mata-mata lain di agensi."
Sasuke mengeluarkan kekeh pendek dari bibirnya. Ia mendongak dan melirik tangannya yang terikat sesaat. Seperti baru menganalisis ikatan itu, Sasuke sudah mencatat dalam hati jika ikatan itu akan bertahan paling lama sepuluh menit sebelum mengendur dengan sendirinya.
"Hinata, aku bisa saja melepaskan diri dalam satu kali kedipan mata. Kau dan aku sama-sama tahu itu," ujarnya.
"Ya, aku tahu. Tapi aku bisa menembakmu sebelum kau sempat berkedip, brengsek."
"Kau tidak akan melakukannya," balas Sasuke penuh percaya diri.
Hinata membuka kokang pistolnya kemudian membenarkan arah tembaknya. Dilepaskannya satu peluru tanpa ragu, memenuhi ruangan itu penuh oleh suara gema letusan senjata api. Peluru itu melesat menembus matras, membuat lubang tepat di antara kedua paha Sasuke, beberapa inci jaraknya dengan area vitalnya sebagai seorang pria.
"Sial!" Sasuke tak bergerak karena kejut, namun ekspresinya semakin menunjukkan bahwa ia terganggu.
"Aku tidak bercanda, Sasuke," ujar Hinata. "Aku yakin, hal terakhir yang kau inginkan adalah menjadi sandera agensi. Aku memiliki bayangan tentang segala hal yang akan para agen lakukan untuk menghancurkanmu sebelum ayahmu bisa mengangkat tangannya untuk menyelamatkanmu. Jadi berhenti berdalih dan mulailah bicara."
Sasuke menghela napas, ekspresinya kembali mengendur, tak tegang seperti sebelumnya. Ia menjilat bibirnya dan merenggangkan tubuhnya asal sebelum menjawab. "Pertanyaanmu saat itu adalah berapa banyak lagi yang bekerja untukku di agensi. Kubilang tidak ada. Dan itu lah yang sebenarnya." Sasuke menjawab datar. "Nyatanya Kakashi memang tidak bekerja untukku. Aku tidak berbohong."
Hinata berdecak, ingin rasanya menghantamkan kepalanya sendiri ke dinding. Ia merutuki dirinya yang salah menyusun kata saat berhadapan dengan Sasuke. Ia menghela napas untuk menahan diri dari melakukan apapun yang tak diperlukan.
Sasuke menyeringai melihat reaksi Hinata. "Aku mengatakan yang sejujurnya. Kakashi adalah otak dari semua ini. Aku lah yang bekerja untuknya, bukan sebaliknya."
Hinata kembali memfokuskan diri. "Apa yang dia inginkan. Posisi pemimpin akatsuki sudah jatuh padamu, apa yang dia dapatkan dari semua ini?"
"Seperti tipikal ayah pada umumnya. Dia ingin menunjukkan bahwa putranya adalah yang terbaik." Seringai masih tak luntur dari wajahnya. "Kau tahu, sebelumnya Kakashi benar-benar dilatih untuk menjadi seorang agen. Tapi salah satu misi membawanya mengenal Akatsuki. Dan tebak, dia menyukai paham yang dibawa Akatsuki. Saat itu Akasuki masihlah organisasi kecil karena memang butuh waktu untuk menjatuhkan suat pemerintahan yang konservatif. Dan Kakashi... dia benar-benar lihat dalam memainkan setiap strateginya."
"Apa tujuan utama Kakashi di agensi?"
"Untuk mengepalai seluruh agen di agensi. Kita adalah pembunuh bayaran, kita cenderung tidak begitu peduli untuk apa kita bekerja. Yang kita tahu hanyalah kita memiliki tugas untuk diselesaikan." Sasuke masih berujar dengan nada yang setenang air. "Jadi... mereka sudah pasti akan mengikuti apapun instruksi dari Kakashi selama mereka tidak mengetahui bahwa mereka... tanpa sadar bergerak untuk Akatsuki."
Hinata diam beberapa saat, menimbang-nimbang apakah yang dikatakan Sasuke benar adanya. "Tentang Yahiko. Jelaskan kenapa kau mematahkan lengannya malam itu."
Sasuke menghela napas panjang. "Aku melakukannya karena sedang bosan juga karena aku perlu keluar dari agensi secepat mungkin. Yahiko menyerangmu malam itu karena dia tahu aku meniduri Izumi, mungkin dia berpikir hal itu akan mengangguku. Hmm... dia bahkan menampar Izumi karena itu," ujarnya dengan raut yang menunjukkan seolah ia tengah mengingat-ngingat. "Saat dia menidurimu dan terlihat mengejarmu, itu upayanya agar aku kalah taruhan saat itu. Dan kau tahu, Hinata? Sebenarnya aku berencana untuk melukaimu agar agensi menahanku. Tapi kemudian Yahiho muncul dengan tindakan yang memberikanku kesempatan untuk melakoni narasi lain."
Kening Hinata berkerut, giginya bergemeletuk. Ia benci bagaimana Sasuke mengatakan semua itu degan mudahnya seolah mereka tengah berbincang santai dengan secangkir teh sebagai pelengkap.
"Kakashi memberikanku obat untuk merangsang kerja jantungku kemudian meyakinkan dokter untuk menyeterumku dengan alibi itu adalah perintah dari marsekal. Akhirnya, aku mendapat serangan jantung dan mereka membebaskanku untuk sementara waktu."
Hinata memejamkan matanya sesaat, mengambil napas diam-diam. "Bagaimana tentang penyekapan itu?"
"Itu adalah rencana utamanya. Pertunjukkan final yang menegaskan bahwa Akatsuki bisa mengancam agensi. Hasilnya? Marsekal langsung menurunkan perintah untukku dan Naruto untuk menyusupi Akatsuki. Tanpa sadar memberiku jalan untuk keluar dari agensi tanpa pengawasan berarti."
Hinata masih menunggu, mengetahui Sasuke akan mengatakan hal yang lebih dari itu.
"Sebelum ini, aku bukan siapa-siapa. Hanya salah satu anggota Akatsuki yang merangkap sebagai mata-mata di agensi. Tapi kemudian aku sadar... aku mampu membawahi organisasi ini, jadi kenapa tidak? Sejak itulah aku mulai mengambil keuntungan dari misi yang berhubungan dengan Akatsuki." Sasuke menyeringai lagi, membanggakan diri. "Aku tidak suka dibawahi, kau pasti sadar hal itu. Baik di agensi maupun di Akatsuki. Sama seperti di agensi, sebelumnya di Akatsuki pun aku hanya melakukan hal yang ingin mereka lihat. Dan aku benci itu."
Hinata memandang tajam Sasuke hampir tanpa kedip, seolah tak ingin memberikan celah untuk pria itu berbohong.
"Kemudian aku mendengar kabar kalau pemimpin saat itu mati, aku melihat itu sebagai kesempatan. Ditahan oleh agensi kemudian keluar dengan drama mengorbankan nyawaku untuk menyelamatkanmu dari Adrian. Membuat pembuktian kepada agensi bahwa aku telah berubah." Sasuke menjelaskan dengan padat. "Seperti yang kau tahu, agensi membutuhkanku untuk misi besar itu namun ragu karena reputasiku. Itu alasan utama bagi agensi untuk menerimamu dan menjadikanmu sebagai partnerku, untuk menstabilkan tingkahku. Kau... yang merupakan putri salah satu petinggi agensi. Mereka berpikir itu akan membuatku cukup kesulitan untuk mengancammu, dan yah... mereka tidak salah. Aku memang sangat berhati-hati saat kau menjadi partnerku."
Hinata meringis gusar melihat senyum keji Sasuke. "Kenapa kau melibatkanku? Kau membuatnya terlihat seperti kau tertarik padaku."
"Jangan terlalu percaya diri, Manis. Itu karena agensi mengharapkan yang demikian, bukan? Mereka ingin karena kau aku melunak. Di samping itu, kau memang teman ranjang yang menyenangkan." Sasuke mengedipkan sebelah matanya. "Aku hanya memberikan apa yang mereka inginkan, dan kau dengan butanya mempercayaiku hanya dengan berdasarkan emosi menyedihkan yang kau sebut cinta."
Hinata berusaha membuat pengakuan Sasuke tak mengganggunya. "Kenapa kau tidak kabur saat misi di Singapura? Kenapa menunggu selama itu?"
"Aku perlu membunuh beberapa orang sebelum jalanku benar-benar bersih. Selain itu, agensi masih mengawasi kita. Tapi misi terakhir dengan Naruto saat itu, kami benar-benar lepas dengan alasan kerahasiaan."
"Marsekal sebelumnya... kenapa kau membunuhnya? Kenapa kau hanya membunuhnya?"
"Tentu agar Papa Hiashi dapat mengklaim posisi itu, dan saat Kakashi siap, ayahmu juga akan mati sehingga Kakashi yang akan menggantikannya. Tapi sepertinya dia agak ragu, kau tahu. Kurasa Kakashi benar-benar menganggap ayahmu sebagai temannya." Sasuke tertawa geli dengan dugaannya itu. "Kakashi memiliki berencana untuk membujuk ayahmu agar memihak padanya, bergabung dengan Akatsuki. Tapi kurasa itu mustahil mengingat bagaimana sifat seorang Hyuuga Hiashi."
Napas Hinata tercekat mendapati informasi itu, bahwa benar ayahnya adalah target selanjutnya. "Kenapa kau tidak membunuh serta ayahku, bukankah akan lebih mudah untuk Kakashi menguasai agensi jika kau melakukannya?"
"Memang, tapi kondisinya akan sangat tidak stabil. Lagipula seperti yang kukatakan tadi, Kakashi masih menahan dirinya." Jawab Sasuke. "Yeah... sekarang aku hanya menunggu perintah darinya untuk membunuh ayahmu. Mungkin akan sulit, ayahmu sangat cerdas."
"Kau ingin seisi agensi bermain di bawah perintahmu tanpa menyadarinya." Hinata menggumamkan kesimpulan itu.
"Rasanya hanya kau agen yang menjalankan misi untuk kebenaran, Hinata. Kebanyakan dari kita hanya melakukan apa yang diperintahkan." Sasuke menghela napas bosan. Ia kemudian menarik tangannya, menggerakkannya beberapa kali hingga ikatan yang membelenggunya terlepas dengan mudahnya.
Hinata tak melakukan apapun, hanya memandang datar Sasuke yang mencoba duduk dan merenggangkan tubuhnya.
"Ada pertanyaan lain?" tanya Sasuke sambil mengusap pelan pergelangannya.
Hinata menelan liur sejenak. "Kenapa... kau membunuh Tenten?"
"Bukan aku, tapi Fugaku, ayah Izumi. Dia ingin mereka berdua disingkirkan karena sudah mengendus terlalu dalam. Naruto beruntung dia masih hidup," ujar Sasuke, ia turun dari ranjang dan berdiri di depan Hinata.
"Kau membunuh Tenten karena hampir mengetahui segala tentang Kakashi. Kenapa kau memberitahuku?"
"Karena aku bosan, mungkin. Aku ingin kau meningkatkan cara mainmu. Kau agak lambat," jawab Sasuke ringan, bahunya mengedik. "Juga karena aku tahu kau tidak bisa melakukan apapun meski kau mengetahui rahasia itu."
"Apa?"
"Jika mereka yang mengetahuinya, agensi akan percaya karena pasti mereka membawa bukti. Tapi kau? Kau ingin melaporkannya? Atas dasar apa?"
Hinata menggertakkan gigi. "Aku mungkin diam-diam membunuh Kakashi."
"Kau akan dihakimi oleh ayahmu sendiri karena telah menyakiti atasanmu. Ayahmu tidak akan bisa berbuat banyak mengingat peraturan tetaplah peraturan. Di samping itu, membunuh Kakashi jauh lebih sulit daripada yang kau bayangkan. Dan jika kau membocorkannya ke siapapun, mungkin aku sendiri yang akan turun tangan menghentikanmu."
Hinata terdiam, sepenuhnya mengerti sekarang. Yang Sasuke inginkan hanyalah duduk manis bertopang dagu melihat Hinata kesulitan menanggung segala rahasia yang dibeberkannya.
"Kenapa kau berada di sini, Hinata?" tanya Sasuke tiba-tiba dengan suara rendah, membuyarkan lamunan Hinata.
Hinata mengernyit menatap pria di hadapannya, tak memahami apa yang Sasuke tanyakan.
"Kau. Di sini. Menghadapiku," lanjut Sasuke masih sama rendahnya. Sasuke tersenyum kecil melihat kebingungan Hinata. "Sudah cukup lama tapi kau belum juga mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau di sini. Apa yang membuat ayahmu bersikeras untuk melibatkanmu di sini."
"Apa yang terjadi?" tanya Hinata mendesak, keningnya berkerut,mengabaikan bahwa jika mereka menghabiskan waktu lebih lama lagi, Sakura dan Ryuzaki mungkin akan segera kembali.
Sasuke hanya menyeringai tipis, ia mengangkat tangan kanannya untuk mengusap rahang Hinata. "Itu PR untuk kau pecahkan, Manis," bisiknya rendah.
"Berikan aku alasan untuk percaya padamu," ujar Hinata, nyaris terdengar seperti bisikan.
"Aku cukup banyak bicara saat ini, benar. Tapi setiap kata yang kukatakan adalah kejujuran," aku Sasuke. "Karena sekarang aku bicra padamu bukan sebagai Agen Thunder yang kau kenal, tapi sebagai aku yang sesungguhnya. Sebagai seorang lelaki yang kau benci sekaligus cintai di waktu yang bersamaan."
"Jadi..." Bibir Hinata agak bergetar. "Jadi akan terus seperti ini?" gumamnya, bertanya lebih kepada dirinya sendiri.
"Aku sudah mengatakannya padamu, Hinata." Sasuke merespons gumaman itu. "Aku ingin kau berada di pihakku, tapi itu tetap tak membuatmu berhak memiliku untuk dirimu sendiri. Karena aku tidak mencintaimu," tekannya.
Hinata mengangguk pelan sambil tersenyum miris. "Intinya kau hanya ingin menyiksaku. Lalu apa? Pada akhirnya aku mungkin benar-benar membunuh diriku sendiri. Itu yang kau inginkan, bukan?"
"Kau tidak senekat itu, Hinata. Karena jika benar begitu, kau mungkin sudah bunuh diri jauh-jauh hari. Memikirkan itu adalah alternatif terbaik daripada harus melanjutkan hidupmu ini."
Hinata merasa mati rasa, ia bergerak pelan meletakkan pistol yang digenggamnya di atas nakas kemudian mendekati jendela besar di salah satu sisi ruangan. Dibukanya jendela itu lalu ia lirik situasi di bawahnya sebelum kembali berbalik menghadap Sasuke.
"Begitukah?" tanya Hinata, suaranya mengambang tanpa jiwa. "Saksikan aku menghadapi kematianku kalau begitu," ujarnya masih membalas tatapan datar Sasuke.
Hinata kembali melirikkan matanya ke luar jendela sesaat. Menimbang dari ketinggian ini, setidaknya cukup untuk menghancurkan tengkoraknya.
"Aku tidak berarti apapun bagimu, bukan? Kalau begitu katakan, katakan kau tidak mencintaiku. Dan aku akan dengan senang hati memilih mati," ujar Hinata, kakinya naik menapaki rangka jendela. "Kau benar, Sasuke. Aku tidak sampai hati untuk membunuhmu... tapi aku tahu kau juga sama."
Sasuke masih tak bereaksi, oniksnya masih nyalang menatap Hinata, seolah mencoba menembus jiwanya. Dan Hinata, rasanya tak ada kata yang cukup untuk mendeskripsikan bagaimana ia berharap Sasuke menyerah dan mengakui perasaannya. Atau setidaknya untuk Sasuke mengatakan bahwa pria itu tak ingin Hinata mati.
Setelah beberapa menit mematung pasif, Sasuke akhirnya mengambil beberapa langkah mendekati Hinata. "Aku... tidak mencintaimu," jawabnya. Rendah, rata dan tak terbaca.
"Baguslah. Karena aku tidak lagi berniat untuk melanjutkan permainanmu saat kau sendiri memberi penegasan bahwa pada akhirnya aku akan menjadi pihak yang kalah."
Dengan perlahan, Hinata mundur, semakin menepikan dirinya sebelum melepaskan pegangannya di sisi-sisi rangka jendela dan menjatuhkan dirinya. Namun sebelum tubuhnya benar-benar terhempas, tangan besar Sasuke meraihnya, mencengkeram kausnya dan menariknya masuk menjauhi jendela.
Tarikan Sasuke yang kuat membuat Hinata menghantam tubuh keras pria itu. Untuk sesaat, Hinata tak menyadari dirinya telah masuk ke dalam pelukan Sasuke. Ia baru menyadarinya saat merasakan naik turunnya dada Sasuke akibat irama napas pria itu yang memberat. Dan pada saat itu, Hinata merasa waktu di sekitarnya membeku, bersama dirinya. Ia membiarkan tangan Sasuke merengkuhnya penuh.
"Aku jujur saat kubilang aku ingin kau aman, Hinata." Sasuke menenggelamkan wajahnya di pucuk kepala Hinata, mengusapkan hidungnya di helai-helai lembut surai Hinata. "Aku yakin kau sadar peran kita. Kau sebagai protagonis dan aku sebagai antagonisnya." Sasuke melepaskan pelukannya, tangannya kembali ia gunakan untuk menangkup wajah Hinata. "Seorang protagonis selalu menang pada akhirnya, ingatlah itu," tambah Sasuke, diusapnya bibir bawah Hinata dengan ibu jarinya. "Tapi tetap, tidak ada penjahat yang menyerahkan diri tanpa perlawanan, Hinata."
Hinata menatap lurus ke dalam mata Sasuke, berusaha membaca setiap kata yang pria itu ucapkan.
"Jangan mati. Kubilang ini terlalu awal untukmu mati. Sama sepertiku, aku yakin kau juga masih bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya aku rasakan. Jadi jangan mati sekarang," ujarnya seperti perintah.
Sasuke kemudian memajukan wajahnya, semakin menghapus jarak antara dirinya dan Hinata hingga bibir mereka bertemu. Bukan seperti ciuman yang biasanya terlibat saat mereka bertemu, hanya sentuhan ringan dan lembut tanpa aksi berlebih.
Tiga detik yang Sasuke perlukan sebelum ia menyingkir dari bibir Hinata. Meski begitu, seperti masih enggan menjaraki diri, keningnya ia sandarkan di kening Hinata, membiarkan wanita itu merasakan tiap hembus napasnya.
"Game on, Hinata," bisiknya serak sebelum benar-benar mundur, beranjak dari sana.
Sasuke pergi, menghilang di balik pintu meninggalkan Hinata yang masih berdiri terpaku. Benaknya mengolah hal terakhir yang Sasuke katakan, mencoba menerjemahkannya.
'Aku yakin kau juga masih bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya aku rasakan.'
Hinata menghela napas setelah menemukan dirinya yang kembali mengharap.
.
to be continued...
..
.
4k words full of SasuHina... yay! Senangnya main tarik-ulur hubungan mereka :"
And abt Kakashi, beberapa udah nebak yaaa, meski sebagian besar mleset xD. Padahal aku ngasih satu-dua clue soal kecurigaan L ke Kakashi di chapter lalu lhoo .-.
Okay... kayaknya semua rahasia udah terkuak (atau belum), entah. Tapi rasanya udah lebih dari cukup buat meraba mau dibawa kemana cerita ini :3
Sampai jumpaaaaaa :*
