.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.

.

.

.

Warning! 7911 words ahead!

And I got the feeling that you might hate me for this chap, idk... ._.

.

We Accept The Love We Think We Deserve.

.

Poin utama yang Hinata incar dengan meminta misi lain di luar campur tangan Kakashi adalah untuk menghindari Akatsuki dalam lingkup apapun. Tapi sekarang, ia lagi-lagi malah terperangkap ke dalam jerat konyol organisasi itu. Jujur saja, Hinata mulai berang dengan semua ini sampai rasanya ia ingin menembak setiap anggota Akatsuki tepat di dahi mereka masing-masing jika saja ia berkesempatan. Sayangnya, pagar yang melindungi Akatsuki terdiri dari barisan pembunuh bayaran elit, terlalu kokoh untuk diterjang sendiri. Dan jangan lupakan fakta bahwa pemimpin mereka adalah pria yang pernah Hinata proklamirkan sebagai belahan jiwanya. Hah, rasanya Hinata ingin tertawa.

Dulu, Hinata pernah beranggapan bahwa menuruti perintah ayahnya untuk bergabung dalam agensi merupakan sebuah karunia di hidupnya karena dengan begitu, ia dapat bertemu dengan Sasuke. Tapi sekarang, jika mungkin, ia akan melakukan apapun untuk memutar waktu dan kembali meringkuk di kamar bertemankan PTSD-nya, menyembunyikan diri dari dunia luar. Karena sumpah, mungkin hal itu jauh lebih mudah untuk dijalani daripada terus mencoba menemukan sosok asli dalam diri Sasuke.

Hinata sama sekali tak peduli ke mana ia akan dibawa sekarang, ia membiarkan anak buah Fugaku menyurungnya menuju basement salah satu area pusat jaringan listrik kota.

"Apa yang akan kau lakukan? Menyetrumku sampai mati di sini?" tanya Hinata dengan nada cemooh kepada Fugaku yang berjalan angkuh beberapa langkah di depannya.

"Aku akan menghancurkanmu di sini. Seperti saat ayahmu menghancurkan istriku." Fugaku menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Anak buahnya yang sebelumnya terus menyurung Hinata tiba-tiba mencengkeram lengan Hinata, membuatnya otomatis ikut berhenti.

Kening Hinata berkerut ringan, namun tak menunjukkan antusiasme dari rasa keingintahuannya.

"Apa kau tahu kalau Hiashi bertanggung jawab penuh atas kematian istri dan putraku? Dia, ayahmu, membunuh mereka. Di sini. Tepat di tempat ini." Fugaku merentangkan tangannya, menegaskan tempat mereka berada.

Hinata masih memandang pria paruh baya itu tanpa antusiasme, ia sudah berada di titik yang membuatnya terlalu malas barang untuk peduli. Ia bahkan tak mengharapkan Sasuke untuk datang sesuai janji pria itu. Oh sial, memangnya Sasuke pikir siapa dirinya? Ksatria yang siap sigap menyelamatkan anak dara yang tengah dalam bahaya?

Tidak. Hinata tidak mengharapkan apapun dari pria itu. Yang ia lihat tadi malah seolah Sasuke menahan dirinya di hadapan Fugaku. Mana mungkin ia akan sanggup melawan pria di hadapannya itu.

"Aku tidak yakin aku memahami bahkan separuh dari apapun yang terjadi di sekitarku," jawab Hinata ringan pada akhirnya.

"Oh... banyak sekali yang ayahmu perbuat sampai aku tidak yakin bisa menyebutkannya satu per satu" Fugaku menyeringai sengit. "Dan kemudian, setelah semua dosanya itu, dia menarikmu bersamanya, melindungimu di dalam cangkang bobrok yang dia sebut agensi itu!"

Potongan informasi ini seketika merenggut perhatian Hinata, kelopak matanya melebar samar.

"Apa... apa maksudmu?" tanya Hinata pelan.

"Setelah apa yang dilakukannya beberapa tahun lalu, dia tahu aku akan mengincarmu. Jadi dia membuatmu terlibat di dalam pekerjaannya untuk dapat terus mengawasimu," geram Fugaku masih dengan tatapan nyalangnya.

Hinata berkedip. Jadi... jadi itu alasannya. Jadi itu mengapa ayahnya dengan perintah keras memaksanya bergabung dengan Anbu dan membuat Sasuke sebagai mentor sekaligus partnernya? Untuk membuatnya aman? Untuk memastikan ia ada dalam pengawasannya? Untuk melindunginya?

Hinata mengingat saat Kakashi berkata bawa yang ayahnya lakukan semata untuk kebaikannya, tapi saat itu, Hinata tak mengindahkan hal itu, tak percaya.

Seketika Hinata merasa hatinya seperti dipukul keras-keras, rasa bersalah nama pelakunya. Selama ini ia membangun dinding es yang tebal untuk membatasi interaksinya dengan sang ayah hanya karena persepsi jelek yang dimilikinya. Memang ayahnya bertindak irasional dengan mengirimkannya—seorang yang awam dengan segala hal tentang pekerjaan agen—untuk misi-misi berbahaya. Tapi jika dipikir lagi, bukankah keputusan ayahnya itu membuatnya kembali menapaki dunia yang sesungguhnya? Menariknya keluar dari trauma yang membayanginya?

Hinata mengambil napas perlahan dan menghembuskannya secara samar, mencoba mengendalikan perasaannya. Ia mengembalikan raut datarnya, berusaha tak terlihat terpengaruh sedikit pun dengan apa yang Fugaku katakan.

"Dendammu adalah kepadanya. Kenapa kau tidak hadapi langsung saja ayahku?" tanya Hinata, nadanya seringan kapas.

"Memangnya balas dendam macam apa yang akan paling menyakitinya selain ini? Dia merenggut anakku, dan aku akan bertindak adil dengan melakukan hal yang sama,"jawab Fugaku, seringai keji menghiasi wajahnya saat ia bergerak, berjalan memutari Hinata. "Aku sudah memerintahkan Sasuke untuk menggunakanmu sebagai umpan, tapi dia malah terus melepaskanmu di setiap kesempatan. Anak jadah itu..." Fugaku berdecak dongkol. "Dia selalu saja menjadi pembangkang!" Fugaku kembali melemparkan tatapan tajamnya ke arah Hinata. "Tapi sekarang itu bukan lagi masalah. Akhirnya kau berada dalam genggamanku."

"Apa yang ingin kau lakukan padaku?" Hinata kembali melayangkan dengan suara yang lurus, tanpa getar sedikit pun. Sasuke pernah mengatakan padanya di salah satu sesi latihan mereka, jangan pernah membiarkan musuh melihat kelemahanmu, karena jika itu terjadi, kau sama saja menawarkan nyawamu.

"Hmmm... bagaimana jika kukatakan aku ingin kau melawan kesakitan saat aku mempermainkanmu dengan sebilah pisau? Tentang saja, aku tidak akan membunuhmu, tidak sekarang. Aku akan membiarkanmu hidup dan mengantarmu sampai di depan gerbang agensi, membiarkan ayahmu menyadari pesan yang aku kirimkan padanya. Lalu kemudian, mungkin aku akan kembali mengejarmu, kali ini untuk benar-benar membuatmu terbunuh."

Fugaku dengan gerakan ringan menyodorkan tangannya, dan tanpa perintah lebih lanjut, seorang anak buahnya mendaratkan sebuah pisau di telapak tangannya. Dalam diam Hinata meneguk liurnya sendiri, tangannya terkepal kencang saat matanya menatap benda tajam itu.

"Kau akan hidup dalam ketakutan, Hyuuga. Ayahmu mungkin berpikir dia sudah melatihmu dengan baik, tapi kau bukan tandinganku. Kau bukan ayahmu yang mungkin bisa mencoba melawan."

Napas Hinata terasa lebih memburu saat Fugaku mengambil satu langkah mendekat. Namun ia menahan diri, bersumpah agar tak kalah dengan refleksnya untuk mundur. "Kenapa ayahku membunuh istrimu? Juga kakak Izumi?" tanya Hinata cepat.

"Oh... kau mengenal Izumi?" Fugaku berhenti. "Sekarang aku penasaran, seberapa banyak hal yang Sasuke sembunyikan dariku,"ujarnya dengan kening berkerut tak suka.

"Ya, aku mengenalnya. Dia juga sangat membenciku, dan sekarang aku tahu alasannya," jawab Hinata, suaranya masih terdengar tegas, namun caranya berbicara lebih terburu.

"Bagus jika kau menyadarinya. Hanya Sasuke orang tolol yang tidak bisa berbuat apapun terhadap orang yang berhubungan dengan pembunuh ibunya sendiri," umpatnya.

Kelopak mata Hinata melebar, ia menyadari betapa bodoh dirinya. Sasuke dan Izumi adalah saudara seibu. Bagaimana bisa ia baru menyadari hal itu!

"Ibu Sasuke..." gumam Hinata linglung. "Ayah... ayahku... membunuh ibunya..."

"Beberapa buka sebelum kau bergabung dengan agensi lebih tepatnya. Dan Sasuke mengetahui hal itu," jelas Fugaku singkat. "Itu sudah berlalu. Untuk sekarang, jangan berpikir terlalu keras, Manis."

Manis. Sama seperti bagaimana Sasuke memanggilnya di awal-awal pertemuan mereka.

Fugaku kembali bergerak mendekat dengan ancaman di tangan kanannya. Tangan Hinata tak terkekang borgol, namun ia harus tetap melepaskan diri dari anak buah Fugaku yang mencekalnya jika ingin melawan.

"Kita lihat seberapa bagusnya pertahananmu tanpa senjata." Fugaku menyeringai, tangan kirinya terangkat hendak menyentuh rahang Hinata.

Namun bahkan sebelum ujung jari pria itu menyentuhnya, kaki Hinata bergerak. Lututnya ia hantamkan ke perut Fugaku hingga pria itu membungkuk karena sakit juga kejut. Posisi Fugaku memberi Hinata celah lain untuk menyerang, diangkatnya lagi lututnya, kali ini untuk ia hantamkan di wajah pria itu.

Selanjutnya, setelah Fugaku terhuyung, Hinata mengayunkan kepalanya keras-keras ke belakang hingga tengkorak belakangnya menghantam wajah orang yang mencekalnya. Tangannya memberontak berkali-kali dengan beberapa gelaran melawan untuk melepaskan diri.

Hinata baru menghentikan gerakan-gerakan liarnya saat ia merasakan ujung benda tajam mengancam di punggungnya. Ia merutuki dirinya yang terlalu terfokus kepada anak buah Fugaku hingga agak melupakan bahwa ia belum sepenuhnya melumpuhkan bos mereka.

"Sepertinya aku tahu kenapa Sasuke begitu tertarik padamu. Kau sama saja sepertinya, bodoh dan ceroboh."

Bukan mulai menjalankan rencananya dengan langsung melukai Hinata, Fugaku mengendurkan ancamannya, ia berjalan mengitari Hinata hingga berdiri tepat di hadapan wanita itu. Hinata tak berkedip saat ujung pisau itu kembali mengancamnya, kini di area perut.

Namun sebelum sempat melakukan apapun, ia melihat sebelah kaki menyerang tangan kanan Fugaku, menghempas ancaman itu menjauh dari Hinata. Butuh dua detik sampai Hinata menyadari Sasuke di sana. Pria itu menerjang orang yang juga bertitel sebagai ayahnya dengan gerakan kilat.

"Sentuh dia lagi dan aku tidak akan segan untuk menghancurkan tengkorakmu!" bersutnya rendah setelah ia memiting lengan Fugaku dan membuat pisau yang di genggaman pria paruh baya itu terlepas.

Para anak buah Fugaku yang mengelilingi Hinata tak bergerak sedikit pun, mungkin karena menyadari bahwa Sasuke juga bos mereka.

"Apa yang kau lakukan, Anak Tengik!" Fugaku menggeram dengan rahang menegang. " Kau berani melawanku sekarang?!" murkanya.

Sasuke tak begitu mengindahkan umpatan berselimut pertanyaan itu, ia memandang tajam para bawahan yang masih di tempatnya masing-masing.

"Di mana loyalitas kalian berata?" tanya Sasuke rendah, sangat rendah sampai suara yang dihasilkannya mampu membuat Hinata bergidik ngeri.

"Mereka bekerja untukku," sahut Fugaku dengan nada mencemooh. "Kau mungkin memimpin mereka, tapi semua orang tahu kau juga bisa dikalahkan, Sasuke," ejeknya sambil berjalan santai mendekat. "Dan jika kau berani untuk menghentikanku lagi... akan kupastikan kau—"

Kalimat berisi ancaman itu terpotong seketika oleh dua bunyi ledakan senjata api dalam interval waktu yang begitu sempit. Timah panas yang melesat menembus tulang tengkorak Fugaku, membuat darah berlomba mengucur keluar sebelum tubuh pria itu rubuh.

Hinata merasa kerja sistem dalam tubuhnya berhenti seketika. Sasuke baru saja membunuh Fugaku, ia menyaksikannya. Tanpa menunggu satu kedipan mata. Tanpa satu pun kata. Begitu cepat dan singkat.

Masih dengan tangan kiri yang menggenggam senjata api, Sasuke mendekat kemudian menarik lengan Hinata dengan tangannya yang menganggur. Meski begitu, tatapan elangnya masih ia arahkan kepada bawahan-bawahannya.

"Aku tidak perlu melemparkan ancaman sebelum memutuskan untuk memutus nyawa seseorang. Aku bisa melakukannya kapan pun aku ingin." Sasuke mendeklarasi dengan rendah, dingin dan datar. Sebuah kalimat terkesan kasual namun begitu menekankan ancaman kepada para bawahannya itu. "Bereskan semua kekacauan ini!" titahnya masih tanpa ekspresi sebelum ia menyeret Hinata pergi dari tempat itu.

Hinata tak melawan, kepalanya masih berkabut. Ini gila! Apa Sasuke sempat berpikir atas tindakannya barusan? Dia baru saja membunuh Fugaku! Ayah biologis Izumi. Bagaimana nantinya gadis itu akan bereaksi?!

Sasuke pernah mengatakan padanya bahwa ia lebih dekat dengan ayah Izumi daripada ayah kandungnya sendiri. Tapi yang Hinata lihat, pria itu tak terlihat memerlukan satu detik pun untuk melakukan pertimbangan sebelum menarik pelatuk senjatanya. Bagaimana bisa Sasuke membunuh orang yang telah ikut andil dalam membesarkannya? Apa ia memang benar-benar tak memiliki ruang untuk merasakan sebuah afeksi?

Hinata baru tersentak dari lamunannya saat Sasuke mendorong dan menghimpitnya di permukaan dinding sebelum menabrakkan bibir keduanya.

"Sasuke!" Hinata memekik di sela ciuman itu, berusaha mendorong pria yang mengukungnya menjauh. Namun perlawanannya kalah oleh ketegasan tindak Sasuke. Jadilah Hinata hanya diam, menunggu Sasuke selesai melampiaskan amarah yang membakar pria itu di bibirnya.

Yang bisa Hinata lakukan hanyalah mencengkeram erat bagian depan mantel Sasuke saat pria itu dengan kasar menyerang bibirnya. Sangat jelas bagi Hinata bahwa Sasuke tengah murka, ciuman pria itu meneriakkan segalanya.

Tangan kiri Sasuke menyusup di tengkuk Hinata, menariknya ke dalam ciuman yang lebih dalam meski rasanya tak mungkin lagi untuk memperpendek jarak di antara mereka. Lidahnya bergerilya, menginvasi ruang di mulut Hinata. Sedang tangan kanannya menjelajah, mengikuti lekuk tubuh Hinata dari atas sampai bokong sintalnya.

Sasuke memperlambat lumatannya sebelum memisahkan bibir mereka, benang tipis yang dihasilkan dari campuran saliva keduanya terbentuk sesaat saat mereka membuat jarak. Hinata terengah, ia diam mengambil waktu untuk menstabilkan jalan napasnya.

"Kenapa?" tanya Hinata saat ia mulai dapat menguasai diri.

"Kakashi memerintahku untuk membunuhnya. Itu alasannya," jawab Sasuke rendah, nyaris berbisik.

"Kenapa?" Hinata mengulang pertanyaan yang sama, menuntut Sasuke mengutarakan jawaban yang sebenarnya.

"Suka atau tidak, Kakashi masih memiliki simpati terhadapmu." Tangan kanan Sasuke terangkat, telapaknya ia tempelkan di permukaan dinding tepat di samping kepala Hinata. Wajah keduanya tak lebih dari sepuluh senti meter jaraknya.

"Kau... aku bertanya tentangmu." Hinata tak menatap mata kelam pria itu langsung, perbedaaan tinggi keduanya membuat pandangan mereka tak bertemu dan Hinata merasa berat untuk sekedar mendongak.

"Aku hanya menjalankan perintah."

'Pembohong!' Benak Hinata berteriak, namun ia tak mengungkapkannya.

"Kau ingin melupakanku, Hinata? Baiklah, aku akan memberimu ruang untuk mencobanya," ujar Sasuke dengan suara rendah, napasnya dapat Hinata rasakan, begitu ringan dan hangat seperti sentuhan ujung jemari di bibir bawahnya sekarang. "Tapi dengar ini, Hinata... aku tidak akan berhenti. Aku akan menghancurkan siapa pun yang dapat membuatmu berpaling. Aku akan membunuh lelaki mana pun yang dapat membuatmu jatuh cinta lagi."

Hinata menggigit lidahnya pelan, ia berharap Sasuke dapat berkaca sendiri dan menyadari betapa pria itu menginginkannya. Segala pengakuan Sasuke terdengar aneh. Tentu, ini bukan cara orang normal menunjukkan rasa cintanya. Ini cara Sasuke mencinta.

Hinata masih berdiri tanpa gentar saat Sasuke membalik tubuhnya dan mendorongnya hingga bagian depan tubuhnya mendesak dinding. Kedua tangannya dicekal tangan kanan Sasuke di atas kepala, mengunci pergerakannya.

Digigitnya bibir bawah kencang-kencang saat Hinata merasakan tangan Sasuke yang terbebas berusaha membuka celana yang ia kenakan. Dengan ereksi Sasuke yang jelas ia rasakan menyentuh bokongnya, Hinata tahu ke mana semua ini akan mengarah.

"Sas—ahhh..." Hinata memekik tertahan saat dua jari menginvasi dirinya, protes verbal yang baru akan ia layangkan terlupakan.

"Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu seperti yang kau inginkan, Hinata," ujar Sasuke bersama bersisian dengan erang tertahannya di telinga Hinata sebelum ia lumat daun telinga wanita itu. "Aku tidak memahami bagaimana caranya." Sasuke memperlebar area jelajah bibirnya ke ceruk leher Hinata sambil tangan kirinya terus mengerjai bagian intim wanita itu.

Hinata kesulitan bergerak, bukan hanya Sasuke mengunci tangannya, namun juga pria itu menekan kaki Hinata dengan lututnya untuk membatasi pergerakan Hinata.

Gigitan Hinata pada bibirnya mengencang sampai ia dapat merasakan anyir menyentuh lidahnya sendiri saat Sasuke menggantikan posisi jemari di dalamnya dengan organ lelakinya. Sudah cukup lama semenjak terakhir kali mereka melakukannya, dan itu membuat Hinata tak terbiasa dengan invasi Sasuke di dalam dirinya. Hinata menyerah menahan genangan di matanya, namun ia tetap menahan suara apapun yang memaksa lolos dari bibirnya. Bersamaan dengan jatuhnya air mata Hinata, Sasuke bergerak, tanpa keraguan, tanpa memberi Hinata waktu untuk terbiasa dengan kehadirannya.

..

...

..

"Aku akan memastikan mobilmu dikirim besok."

Itu adalah kalimat pertama Sasuke sejak mereka berkendara nyaris satu jam yang lalu. Suara pria itu terdengar serak, seperti ia juga merasakan lelah yang sama.

Hinata duduk diam di kursi penumpang, sekujur tubuhnya terasa nyeri, apalagi pada bagian intim dan pinggulnya. Penampilannya benar-benar kacau, tapi ia tak memprotes apapun. Hinata menahan diri untuk menghela napas, alih-alih, ia menutup matanya ringan. Bukan saja ia membiarkan Sasuke menyetubuhinya, ia juga dengan tak tahu malunya meminta pria itu mengantarnya pulang. Tidak dalam kalimat permintaan langsung, tapi ia mengutarakan hal seperti bagaimana ia berharap Sasuke tak meninggalkannya seketika itu juga.

Hinata membuka kelopak matanya perlahan, masih dengan posisi duduk menyandar dengan kepala menengok ke kaca jendela mobil, Hinata menatap kosong pemandangan yang berlalu di sampingnya. Ia melalui malam yang panjang, dan besok, ia harus bersiap dengan hari yang akan lebih melelahkan jika saja Ryuzaki memutuskan untuk mengatakan tentang pertemuannya dengan Sasuke malam ini.

"Aku berharap ini yang terakhir, Sasuke." Hinata berbisik lelah, namun hening di dalam mobil membuat Sasuke dapat mendengarnya dengan jelas. Untuk pertama kalinya, Hinata dapat melakukan percakapan dalam tensi normal dengan Sasuke tanpa dorongan untuk menghancurkan wajah pria itu.

Sasuke memelankan laju mobil yang dikendarainya hingga akhirnya berhenti sempurna di tepian jalanan. Tangannya seketika memindahkan posisi persneling sebelum ia larikan jemari untuk menyapu surai hitamnya.

"Untuk memiliki hak untuk mengatakan padaku tentang apa yang harus aku lakukan, kau harus menjadi seseorang yang aku takuti," ujar Sasuke dengan raut tak terbaca—raut yang Hinata benci, sorot manik gelap itu masih lurus menembus kaca depan mobil.

"Kau tidak akan pernah takut terhadapku."

"Tapi aku mencemaskanmu," akunya.

Kening Hinata berkerut, ia memalingkan wajahnya dari jendela mobil dan memandang Sasuke langsung sebagai gantinya. "Apa maksudnya itu?"

Sasuke menoleh, membuat tatapan keduanya bertabrakan. Hinata menelan ludah, namun tak berpaling. Ia baru bergerak menghindar saat tangan Sasuke mencoba meraih wajahnya. Sasuke menyeringai kecil atas penolakan itu dan memilih untuk menarik tangannya kembali.

"Kau tahu, bukan, bagaimana pertemuan kita selanjutnya nanti." Sasuke menyatakannya dengan kalimat mirip pertanyaan.

"Apa?"

"Musuh," jawab Sasuke singkat. "Selanjutnya kita akan bertemu sebagai musuh."

"Kau bukan musuhku, Sasuke," sangkal Hinata.

"Aku juga bukan temanmu."

"Bukan," sela Hinata cepat. "Dulu kau adalah kekasihku. Dan sekarang, aku lebih memilih untuk menganggapmu sebagai rivalku." Hinata menyatakan tanpa ragu.

Sasuke menghela napas panjang sebelum membalas Hinata. "Yang kau cintai itu sosok lain, Hinata. Dia bukan aku."

Hinata kembali membuang wajah, menganggap pemandangan di balik kaca mobil lebih menarik dari segalanya. Mereka kembali tenggelam dalam keheningan sampai Sasuke kembali menyalakan mesin mobilnya.

"Apa... yang kau maksud dengan... tidak bisa mencintaiku seperti yang ku inginkan?" Hinata kembali melayangkan pertanyaan setelah sepuluh menit kiranya mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Aku bersandiwara, aku sangat baik dalam hal itu. Aku tahu bagaimana cara seseorang menunjukkan hal yang mereka sebut cinta itu. Yang harus kau lakukan adalah memberi perhatian lebih, menyanjung dan melakukan hal-hal menggelikan lainnya. Itu mudah, aku bisa melakukannya," jawab Sasuke, ia memberi jeda untuk dirinya bernapas. "Aku bisa melakukannya, tapi tidak merasakannya," sambung Sasuke. "Oh ayolah, Hinata... kau serius ingin bicara tentang cinta dengan lelaki yang seumur hidupnya hanya berkhianat dan membunuh? Aku bukan lelaki yang bisa menyerahkan hidupku kepada orang lain begitu saja hanya karena cinta."

Hinata melirik ke arah Sasuke, raut wajah pria itu mengeras, tak sedatar tadi.

"Yang bisa aku lakukan adalah memastikan bahwa nantinya tidak akan ada situasi yang mengharuskanku melanggar prinsipku itu."

"Sudah cukup, Sasuke. Aku mengerti..." Hinata bergumam lelah.

"Itu dia... jika kau ingin aku mencintaimu, sejauh inilah rasa yang bisa aku tunjukkan," balas Sasuke cepat, agak gemas dengan keadaan. "Aku... aku sungguh-sungguh ingin kau aman, Hinata."

"Berhenti! Berhenti melakukan ini! Berhenti menarik ulur perasaanku seperti ini!" nada bicara Hinata meninggi, ia lelah juga jenuh.

"Aku tahu." Helaan napas Sasuke masih sama ringannya. "Itulah kenapa aku membiarkanmu lepas."

"Tidak, kau tidak pernah melepaskanku!"

Sasuke kembali menginjak rem mobilnya, kali ini secara mendadak sampai mereka berhenti. Ia mendekatkan dirinya ke arah Hinata dan menangkup wajah wanita itu dengan kedua tangannya. Ia menahan perlawanan kecil Hinata untuk melepaskan diri.

"Dengar aku..." Sasuke mencoba mengumpulkan atensi Hinata agar terarah sepenuhnya padanya. Hinata berhenti, iris dengan warna kontras itu kembali bertemu dalam jarak yang dekat. "Cintaku akan menghancurkanmu, Hinata," bisiknya rendah namun tegas. "Saat aku jatuh cinta padamu, saat itulah aku merusakmu. Dan perlu kau sadari, itulah yang saat ini terjadi," aku Sasuke.

Mereka masih bertatapan meski terselimutkan diam. Sasuke tak pernah menyatakan secara gamblang kalau pria itu mencintainya. Tidak pernah. Yang Sasuke katakan adalah bahwa pria itu tak pernah mencintai Hinata sebelumnya. Atau bahwa pria itu tak bisa mencinta seperti orang pada umumnya.

Pengertian cinta menurut Sasuke mungkin sesuatu yang berhubungan dengan kepuasan diri sendiri. Setidaknya itulah yang Hinata rasa pria itu lakukan terhadapnya, mempermainkannya seperti boneka.

Terserah. Apapun itu tak ada artinya lagi. Entah itu Sasuke akan benar melepaskannya atau tidak, akal sehat Hinata tak akan dengan mudahnya membiarkan hatinya kalah.

..

...

..

Hinata duduk di tepi ranjang dengan jubah mandinya, tangannya mengusak surai indigo miliknya yang basah dengan kain handuk ukuran sedang. Ia memandang tanpa arti ke arah jendela, membiarkan benaknya melayang, menjelajah tiap rekaman memori yang pernah dilakoninya.

Rantai lamunannya baru terputus seketika ia mendengar ketukan di pintunya. Tanpa respons berarti, secara otomatis Hinata meletakkan asal handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya di atas ranjang dan bergerak santai ke arah pintu, hendak menjawab langsung ketukan itu.

Tepat setelah membuka pintunya, Hinata mendapati Ryuzaki berdiri di balik pintunya, dengan cengiran khas juga segenggam kecil bunga di tangan kanannya.

Bicara soal Ryuzaki, Hinata lega pria itu tak mengatakan apapun kepada agensi tentang kejadian semalam. Ryuzaki juga sekaligus membereskan hingga tuntas perihal laporan tentang misi semalam sendiri. Efisiensi kerjanya itu benar-benar membuat Hinata tak meragukan betapa pria itu merupakan seorang profesional.

"Uhh..." Ryuzaki memandang singkat Hinata dari atas sampai bawah, menyadari wanita itu belum benar-benar siap untuk menerima tamu. "Selamat pagi," sapanya setelah ia mengembalikan arah pandangnya lurus ke wajah Hinata.

"Kau membawa bunga?" Hinata tak repot membalas sapaan bersahabat itu, ia sedikit menyandarkan diri di ambang pintu dengan kedua lengan menyilang di dadanya.

"Memangnya Hinata tidak suka bunga? Aku suka bunga, aku belum pernah dengar ada orang yang membenci bunga," jawabnya datar.

Hinata menghela napas, ia menengok ke dalam apartemennya, mencari tahu informasi waktu dari jam digital yang menempel di salah satu dinding ruang tengahnya. "Ada perlu apa kemari? Sebentar lagi aku juga akan menuju gedung utama."

Ryuzaki berkedip dua kali. "Kalau begitu aku buang saja bunganya." Ia menjatuhkan bunga yang di bawanya secara asal hingga mendarat tepat di sebelah kiri kakinya sendiri. "Jadi... boleh aku masuk?" tanyanya.

Hinata mengerutkan kening. "Tidak?" balasnya tak yakin.

"Kenapa tidak?"

"Karena aku bilang begitu." Kerutan di kening Hinata terlihat semakin dalam.

"Hinata takut aku mengambil kesempatan dan menyerang Hinata, ya?" tebak Ryuzaki dengan sebelah alis yang menukik halus. "Tentang saja, aku bukan lelaki seperti itu."

"L—"

"Tapi aku juga tidak masalah kalau Hinata lebih suka kita mengobrol sedikit di ambang pintu seperti ini," potong Ryuzaki sebelum Hinata sempat menimpali kalimatnya. "Jadi... apa yang terjadi semalam?" tanyanya langsung mengarah pada inti.

"Kau tahu jelas apa yang terjadi, L," jawab Hinata dengan desisan kecil.

"Ya... aku hanya ingin kejelasan kenapa pacar Hinata semalam terlihat seperti ingin sekali menginjak wajahku dengan bot beratnya."

Hinata hampir meringis saat mendengar Ryuzaki menggunakan kata pacar, tapi ia mencoba mengabaikannya, dan sebagai gantinya, ia berdeham pelan. "L... aku... aku sangat berterima kasih padamu karena tidak mengatakan kepada siapa pun tentang malam tadi, tapi... maaf, aku tidak bisa mengatakan segalanya padamu."

"Dengar..." Air wajah Ryuzaki tak berubah sedikit pun. "Aku tidak meminta Hinata menceritakan segalanya. Itu hak Hinata untuk menyimpannya sendiri. Hanya saja..." Ryuzaki berhenti sesaat, bibirnya terbuka sedikit namun tak lantas melanjutkan kalimatnya. "Aku mendengar beberapa hal tentang Hinata... soal bagaimana Hinata menjalani beberapa tahun terakhir di agensi," lanjutnya dengan nada yang lebih rendah.

Hinata agak tercekat, menduga ke arah mana Ryuzaki akan membawa percakapan mereka. "L..."

"Aku memang pembunuh. Tapi aku juga bisa berempati kepada orang lain, tahu. Aku tahu rasanya membebani diri sendiri tanpa orang lain membantu, jadi kurasa aku agak mengerti bagaimana... maksudku... hhaahh..." Bukan melanjutkan, Ryuzaki malah menghela napas panjang, gemas dengan dirinya sendiri. "Lupakan. Rasanya aku hanya berharap bisa bertemu dengan Hinata lebih dulu beberapa tahun silam," ujarnya dalam satu tarikan napas.

Hinata memandang Ryuzaki tanpa berkedip, sorot mata pria itu kini menuju ke ujung sepatunya sendiri yang ia goyang-goyangkan secara asal.

"Aku..."

"Jangan dipikirkan," potong Ryuzaki lagi. "Hinata jangan terbebani dengan ocehanku tadi. Kita berteman, oke?"

Hinata membalas dengan senyum kecil yang tulus, ia kemudian membungkuk untuk mengambil bunga yang semula Ryuzaki jatuhkan. "Dulu aku selalu membeli bunga setiap hari Sabtu untuk ibuku," gumam Hinata.

"Aku memilih bunga itu karena itu jenis yang paling aku suka," balas Ryuzaki.

"Huh?"

"Aku sudah bilang, aku suka bunga," aku Ryuzaki lagi. "Hal seperti itu tidak akan menghalangiku untuk memegang titel lelaki sejati," lanjutnya dengan cengiran ringan khas miliknya.

"Aku tidak pernah meragukan hal itu. Kau memang benar lelaki sejati," balas Hinata jujur.

Ryuzaki tersenyum lebar. "Jadi sekarang aku boleh masuk?" tanyanya lagi, pencoba peruntungan.

"Tidak," tolak Hinata lagi, kali ini dengan senyum di wajahnya. "Sampai jumpa di ruangan Kakashi," ucapnya sebelum mundur dan menutup pintu tanpa permisi.

Setelah memasukan bunga yang digenggamnya di dalam sebuah gelas tinggi berisi air es dan meletakkannya di meja ruang tengah, Hinata bergegas ke kamar, mempersiapkan dirinya sendiri dengan pakaian dan keperluan lainnya. Pikirannya agak lebih terang, sepertinya ia harus berterima kasih lagi kepada Ryuzaki dan tingkah absurdnya.

Hinata bergerak cepat keluar dari apartemennya. Ia baru selesai mengunci pintu dan hendak menuju elevator saat ia mendengar namanya diserukan dari ujung koridor yang berlawanan. Hinata berdecak tak sabar sembari berbalik, mencari pelaku pemanggil namanya.

Dan saat itulah Hinata melihat Izumi, menampakkan diri dari ruang sempit untuk menyimpan alat yang berada di ujung koridor. Mata Hinata melebar tak percaya, ia terperangah, bibirnya terbuka.

"Izumi... kau?"

Izumi terlihat melirik keadaan sekitarnya sebelum memutuskan untuk menghampiri Hinata. Raut wajahnya keras, iris hitamnya seperti memercikkan bara.

"Bagaimana bisa kau masuk ke sini?!" tanya Hinata cepat. Sungguh, ini adalah gedung delapan lantai dengan penjagaan ketat. Bagaimana bisa gadis itu menembusnya?

"Aku juga terlatih kalau kau mau tahu. Bahkan mungkin jauh lebih baik daripada kau," desisnya tak ramah sebagai jawaban.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Hinata melemparkan pertanyaan itu dengan nada rendah yang tajam.

"Aku ingin membunuhnya!" jawabnya singkat.

Untuk sesaat, Hinata masih belum bisa memproses jawaban itu. "Huh?"

"Tidak... tidak! Aku ingin menghancurkannya! Dan aku butuh bantuanmu!" ujar Izumi dengan nada tak terbantahkan.

Hinata berkedip dua kali, ia mengedarkan pandangannya sekali lagi, memastikan tak ada siapa pun yang menyaksikan pertemuan mereka ini sebelum kembali menatap Izumi dengan serius. "Apa dan siapa maksudmu?" tuntut Hinata.

"Sasuke! Bajingan itu! Dia... dia membunuh ayahku!" sergahnya frustrasi.

Oke, soal itu Hinata tahu. Lalu apa?

"Jadi? Kenapa kau datang padaku?" tanyanya retoris, tapi jujur saja, ia masih tidak menyangka Izumi akan menemuinya seperti ini.

"Oh, ayolah. Kau pasti tau," balas Izumi gemas. "Musuh dari musuhmu adalah teman. Dan sekarang, aku ingin menghancurkan bajingan itu, sama sepertimu!" lanjutnya penuh bara.

Hinata menghela napas cepat, memasang wajah jenuhnya. "Kau benar-benar berpikir aku akan mempercayaimu? Sejauh yang kuingat, darah pengkhianat mengalir dalam keluargamu."

Izumi berdecak tak sabaran. "Beri aku beberapa menit untuk menjelaskannya. Dan kau akan lihat betapa seriusnya aku sekarang."

Posisi Izumi kali ini begitu riskan, Hinata dapat dengan mudah membuat gadis itu tertangkap mengingat ini masih area Anbu. Namun gagasan lain soal memberikan gadis itu kesempatan untuk bicara begitu mendominasi akalnya. Lagipula, jika memang Izumi berniat menyerangnya, gadis itu tak akan menghabiskan banyak waktu untuk meracau seperti tadi.

Akhirnya, Hinata melirik kembali gadis itu sejenak. Embusan napas untuk yang Kesenian kalinya ia lepaskan sebelum ia berucap. "Masuklah."

..

...

..

"Kau mau saja tinggal di ruang macam kotak sepatu seperti ini." Izumi berkomentar sesaat setelah memasuki tempat tinggal Hinata.

"Tempat tinggalku bukan urusanmu," balas Hinata tak peduli.

Hinata mengunci pintu apartemennya kemudian berjalan ke ruang tengah, tempat Izumi berdiri. Dalam langkahnya, mata Hinata melirik laci nakas tempat ia menyimpan senjata apinya, sekedar waspada. Namun rasanya ia ragu jika ia butuh benda itu sekarang. Izumi terlihat datang dengan tangan kosong.

"Jadi apa yang perlu kudengar?" Pertanyaan Hinata ini membuat Izumi berhenti menjelajah matanya ke seisi apartemen Hinata. "Jangan bersikap tinggi hati. Kau datang meminta bantuanku, jadi jaga sikapmu," saran Hinata tajam.

Netra Hinata lekat mengawasi Izumi. Melihat sifat Izumi, dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana bisa Yahiko menyukai gadis itu. Gadis itu memang cantik, bahkan terlihat lebih belia dari usianya, dalam sekali tatap, rasanya tak akan ada yang percaya jika gadis ini memiliki jiwa pemberontak.

Tapi lagi, Izumi memiliki hubungan darah dengan Sasuke. Dan segala yang tak mungkin bisa berbalik arti jika berhubungan dengan pria itu.

"Kau benar tidak sedang dalam perintah Sasuke untuk kemari, bukan?" tanya Hinata langsung yang kemudian direspons dengan delikan jijik oleh Izumi.

"Untuk apa Sasuke mengirimku kemari? Mengikutimu? Kau merasa sepenting itu, ya? Ku beri tahu saja, ya, Sasuke itu tidak akan punya waktu hanya untuk sekedar membuntutimu," cibir Izumi.

Hinata berdecih pelan. Tidak punya waktu katanya? Sangat berbanding terbalik dengan kenyataannya di mana belakangan ini Sasuke seperti begitu bebasnya hingga dapat menjangkaunya dalam situasi apapun.

"Jawab pertanyaanku. Apa rencanamu sebenarnya?" lempar Hinata lagi, mencoba mengarahkan fokus pembicaraan mereka.

"Sudah kubilang!" Nada bicara Izumi meninggi, Hinata dapat melihat gadis itu mengepalkan tangannya. "Aku ke sini karena ingin menghancurkan Sasuke!"

"Kalau begitu kenapa tidak kau lakukan sendiri. Kau bilang kau juga terlatih dan jauh lebih baik daripada aku, bukan?" ungkap Hinata datar. "Walaupun sudah pasti kau bukan tandingannya dalam duel, sepertinya bukan hal yang sulit untukmu menyisipkan semacam racun mematikan ke dalam anggur kakakmu itu," jelasnya dengan maksud ironi.

"Aku... aku tidak benar-benar ingin membunuhnya," aku Izumi lelah, ditenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. "Dia... dia membunuh ayahku... untuk alasan yang tidak kuketahui. Dia tidak mengatakan alasannya padaku."

Hinata diam mendengarkan setiap kalimat Izumi yang bergetar. Ia juga tak mengetahui pasti apa alasan Sasuke sebenarnya. Sebagian dari diri Hinata hanya berharap dugaan bahwa ia adalah alasan atas tindakan Sasuke itu merupakan sebuah kekeliruan.

"Dia tidak pernah beralasan, selalu. Dia mengerikan. Monster sakit jiwa!" lanjut Izumi separuh mengumpat. "Dia tahu ayahmu membunuh ibu kami... dan... dan dia tidak melakukan apapun terhadapmu. Dia malah berhubungan denganmu, terobsesi padamu! Dia bahkan tidak membiarkan siapa pun melukaimu."

Hinata mencoba untuk tak kehilangan konsentrasinya saat mendengarkan perihal Sasuke terhadapnya dari Izumi.

"Aku memohon kepadanya untuk menjauhimu, aku bahkan mengancamnya untuk itu! Tapi... tapi dia tetaplah bajingan gila yang tidak dapat kumengerti jalan pikirannya!"

Dalam hati, Hinata setuju dengan kalimat terakhir yang Izumi katakan. Ya, ternyata bukan hanya dirinya yang kesulitan membaca Sasuke.

Hinata mengambil napas panjang dan membuangnya perlahan, ia bergerak ke sofa di ruang tengah itu dan mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk. Menunggu Izumi mengatakan lebih tanpa menawarkan gadis itu mengubah posisi berdirinya.

Izumi mengangkat wajah, sorotnya runcing ke arah Hinata. "Awalnya kukira dia punya rencana, untuk menyingkirkanmu. Tapi tidak. Dia selalu membiarkanmu lolos setiap waktu," ujarnya kecut. "Parahnya lagi Yahiko juga berpikir bahwa tidak ada untungnya bagiku jika aku bergerak sendiri untuk menyerangmu." Rahang Izumi mengejang menahan amarah. "Aku... aku menurutinya sampai... sampai Sasuke pulang dan dengan santainya mengatakan dia telah menembak mati ayahku."

Hinata dapat melihat mata gadis itu berkaca. "Kukira kau lebih dekat dengan Sasuke daripada ayahmu sendiri."

"Kami memang dekat. Sebelumnya dia sering menggunakan tubuhku untuk kepuasan pribadinya dalam berbagai kesempatan," aku Izumi, dan dari caranya mengaku, Hinata tahu gadis itu tak keberatan dengan hubungan mereka itu. "Tapi sekarang dia bahkan jarang bicara denganku," tambahnya sambil mendelik tajam ke arah Hinata. "Tapi baguslah, itu membuat ikatan emosionalku dengannya renggang, aku jadi tidak perlu berberat hati untuk menghancurkannya."

Hinata diam sejenak, ia menjilat bibir bawahnya sebelum bersuara. "Dengar, Izumi... kau sedang berduka sekaligus marah. Kurasa itu yang membuatmu bertindak sembrono seperti ini," ujar Hinata jujur. "Jika kau pikir aku akan menerima penawaranmu, kau salah. Kami sudah mencobanya, dan Sasuke masihlah belum terkalahkan. Aku bahkan tidak yakin aku ingin mengalahkannya, tugasku adalah Akatsuki, bukan Sasuke." Oh... Hinata tak begitu yakin, ia berbohong. Poros dunianya saat ini adalah dan selalu Sasuke. Bukan yang lainnya.

"Kalau begitu kita hancurkan Akatsuki."

"Apa?" Hinata mempertanyakan secara spontan, agak tak menduga.

"Aku tidak peduli. Aku tidak pernah peduli dengan Akatsuki atau segala buntt-buntunya. Aku terlibat di dalamnya hanya karena aku lahir di dalam lingkaran itu," runtut Izumi cepat. "Kau ingin Akatsuki hancur dan aku ingin menghancurkan Sasuke dengan merebut obsesinya. Kita sama-sama diuntungkan!"

"Tidak akan semudah kedengarannya," sanggah Hinata.

"Memang, tapi itu sebelumnya. Sebelum kalian punya orang dalam untuk membantu. Aku bisa menyediakan informasi apapun yang kalian perlukan, sungguh." Izumi berujar, meninggikan nilai dirinya untuk Hinata pertimbangkan.

"Kau sadar tidak? Jika aku memutuskan menerima tawaranmu dan membawamu ke markas utama, mereka tidak akan memiliki pemikiran kedua untuk menangkapmu, menginterogasimu bahkan menyiksamu habis-habisan," jelas Hinata rasional.

Mata Izumi melebar, baru menyadarinya. "Kau... tidak akan melakukannya, kan?"

"Sebenarnya aku tidak peduli, tapi..." Hinata menggantung kalimatnya secara misterius.

"Tidak! Tidak! Kumohon jangan bawa aku ke sana!" pinta Izumi panik. "Kau tidak bisa membawaku ke sana. La-lagipula ada Kakashi di sana, dia—"

"Aku tahu," potong Hinata sebelum Izumi menyelesaikan penyampaian informasi kecilnya. "Sasuke yang mengatakannya padaku."

Sorot panik Izumi langsung tergeser dengan keterkejutan murni. "Dia... memberitahumu... bahkan soal itu?"

"Itu bukan intinya," sela Hinata, ia tak ingin membahas soal itu sekarang, atau mungkin sampai seterusnya. "Informasi macam apa yang bisa kau sediakan? Oh... tunggu, aku bertanya bukan berarti aku sudah percaya padamu."

Izumi mengembuskan napas keras-keras, tapi tetap berniat menjawab Hinata. "Sebelumnya aku berpikir untuk menyingkirkan Sasuke dengan mencari pemimpin baru yang ingin menggulingkan bajingan itu. Tapi karena misimu itu mengharuskan Akatsuki pecah, rasanya kita memerlukan kelompok organisasi lain untuk mengancam Akatsuki."

"Kau sadar, kan, kalau Akatsuki merupakan ancaman terbesar itu sendiri? Akatsuki adalah organisasi dengan aktivitas paling santer belakangan ini."

"Mungkin di negara ini begitu adanya. Tapi aku tahu kelompok-kelompok yang tidak menyukai reputasi tinggi Akatsuki sekarang," jelas Izumi, bibirnya menyeringai tipis, seakan ia sudah menemukan kunci menuju kemenangannya.

Hinata diam sesaat, memandang Izumi dengan tatapan menimbang. "Tunggu di sini," titahnya kepada gadis yang lebih muda darinya itu sebelum meraih ponsel dari sakunya sendiri.

Hinata jelas butuh bantuan dari orang yang lebih ahli darinya. Namun di antara rekan-rekannya sekarang, ia sangsi untuk menghubungi Ryuzaki maupun Sakura. Jadilah ia hanya mengirimkan pesan singkat kepada Naruto dan Konan, meminta keduanya ke apartemennya beralaskan keadaan darurat.

Saat Hinata berbalik untuk melihat kondisi Izumi, gadis itu sudah mendudukkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan tempatnya. Hinata dapat melihat kegelisahan di raut gadis itu meski wajahnya agak menunduk.

"Dia pasti akan membunuhku jika dia tahu," gumam Izumi tanpa mengangkat wajahnya.

"Sasuke?"

"Hum."

"Kau takut?"

"Jelas saja," jawabnya tanpa ragu.

"Apa Yahiko tahu tentang ini?"

Izumi menggeleng. "Yahiko sangat loyal terhadap Sasuke."

"Tapi dia mencintaimu, kan?"

Izumi diam, dan Hinata merasa ia tak perlu mendesak gadis itu untuk merespons apapun.

"Kelompok yang kau maksud itu..." Hinata kembali memfokuskan atensi mereka ke topik utama. "Mereka juga pasti memiliki tujuan sendiri. Bagaimana kalau ternyata motif mereka sama dengan Akatsuki?"

"Hal itu bisa terjadi, tapi setelah Akatsuki dibereskan, butuh setidaknya hitungan dekade untuk memunculkan organisasi serupa yang sama kuatnya."

"Kau terlihat... lelah. Mau minum?" tanya Hinata setelah beberapa saat memandang Izumi.

"Kita ini sekutu, bukan teman. Kau tidak perlu memaksakan untuk bersikap baik."

Hinata menahan diri untuk tak memutar bola matanya. "Terserah," singkatnya sebelum kembali memeriksa ponselnya dan mendapati balasan dari Naruto dan Konan yang memberitahukannya bahwa mereka segera bergegas.

Tak sampai sepuluh menit setelahnya, pintu apartemen Hinata kembali diketuk. Ia berdiri kemudian bergerak untuk membukanya hingga mendapati Konan berdiri di baliknya.

Hinata melirikkan bola matanya ke kanan da kekiri. "Di mana Naruto?"

"Oh... kau juga mengundangnya?" tanya Konan.

Hinata hanya mengangguk kecil . "Masuklah," ujar Hinata mempersilahkan Konan untuk masuk.

Baru saat Hinata hendak menutup pintunya kembali, Naruto muncul dengan peluh dan napas terengah.

"Jadi... apa situasi daruratnya?" tanya pria bersurai pirang itu cepat.

"Ya Tuhan!"

Keduanya—Hinata dan Naruto—dapat mendengar pekikan konan dari arah ruang tamu Hinata. Mereka bertatapan sejenak sebelum ikut bergerak menuju ruang tengah.

Konan, dengan mulut ternganga tak percaya, menatap sosok Izumi yang duduk di sofa. Dan Naruto, yang baru masuk pun menampakkan reaksi yang sama dengan wanita surai biru itu.

"Kau... bercanda kan?" tanya Naruto kepada Hinata tanpa melunturkan wajah tak percayanya.

Hinata mengangkat kedua tangannya di depan dada, emnggesturkan kedua rekannya untuk sedikit menenangkan diri. "Sebelum kalian berkomentar apapun... aku akan jelaskan semuanya," jelasnya membuat baik Konan dan Naruto berkedip kosong ke arahnya.

..

...

..

Sepanjang Hinata menjelaskan detailnya, Naruto dan Konan terus memasang wajah skeptis plus raut kecut mereka.

"Dan kau... percaya padanya?" Naruto bertanya.

"Tidak," jawab Hinata kemudian mengambil lirikan singkat ke arah Izumi. "Tapi aku tidak melihat alasan lain kenapa dia datang padaku dan mengutarakan semuanya."

"Tentu saja itu sebuah jebakan, Hinata!" sela Konan berapi-api.

"Untuk apa lagi? Sasuke tahu segala yang dilakukannya sudah cukup untuk menghentikan pergerakan agensi," sanggah Hinata. "Lagipula kita tidak memiliki opsi lain, kan? Jika kita menolak, artinya kita memilih untuk jalan di tempat. Dan jika kita menerima, kita bisa memiliki satu kesempatan meskipun terlalu berisiko karena melibatkannya." Hinata kembali melirik Izumi.

Naruto mengusap dagunya sendiri, memikirkan perihal yang barusan ia terima. "Bagaimana jika marsekal menolak untuk percaya padanya?"

"Kita tidak akan membawanya ke agensi," tegas Hinata. Tentu tidak bisa, Kakashi tidak boleh mengetahui hal ini. "Selain kita, tidak ada yang boleh mengetahuinya."

"Kau gila!" seru Konan. "Bagaimana bisa kita bergerak tanpa sepengetahuan Kakashi atau ayahmu?!"

Hinata menghela napas. "Kalian sendiri tahu kita gagal dalam setiap misi yang mereka berikan belakangan ini. Jadi sekarang, kita akan mencoba menyusunnya sendiri."

"Kau 'kan intel," celetuk Izumi mengarah kepada Konan, itu kali pertamanya bersuara setelah kedatangan Naruto dan Konan. "Memangnya kau tidak ada ide untuk membuat alasan yang dapat diterima marsekal kalian," cibirnya rendah.

"Diam kau!" balas Konan sengit.

"Tidak ada yang boleh mengetahui apa yang kita lakukan." Hinata berujar, menengahi sekaligus memutus interaksi dingin antara Izumi dan Konan. "Kaulaupun perlu, aku sendiri yang akan mengatakannya kepada ayahku."

Naruto mengangguk setuju dengan apa yang Hinata katakan. Konan dan Izumi diam, namun tak ada bantahan. Beberapa saat mereka membiarkan hening menyambangi diskusi kecil mereka itu.

"Aku masih belum mempercayai ini," desah Konan frustrasi. "Kita benar-benar akan bersekutu dengannya?!" tunjuknya kepada Izumi, baik dengan jari maupun sorot mata tajamnya.

Naruto menepuk ringan bahu Konan. "Bagaimanapun, Hinata ada benarnya. Aku juga merasa tidak akan ada kemajuan apapun jika kita terpaku pada rencana awal. Kita butuh strategi baru, dan anak itu bisa membantu kita... yah, itu pun kalau dia tidak berbohong." Naruto mengedikan bahunya pelan.

"Baiklah," sahut Konan akhirnya. "Tapi kita harus memastikan bocah ini tidak akan berlari kembali ke Sasuke untuk berkhianat."

"Kau boleh memasungku kalau mau!" Seru Izumi dengan nada menantang.

Mata konan memicing tajam, kemudian ia alihkan ke arah Hinata. "Bagaimana kalau Sasuke mencarinya?"

"Itu pasti." Kali ini, Naruto yang menjawab. "Kita harus memastikan dia berada di tempat yang aman," ujarnya sambil melirikkan matanya ke setiap kepala di ruangan itu.

"Yang pasti bukan di sini," balas Hinata.

Semuanya berpikir. Naruto mengetuk-ngetukkan ujung jemarinya di kening, beberapa saat sampai ia menegakkan posisi duduknya sambil menampilkan ekspresi yang cerah.

"Aku tahu..." bukanya, semua menunggu dengan serius. "Tempatmu," lanjutnya sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Konan.

Hinata membuka sedikit bibirnya, akalnya setuju dengan usulan Naruto. Kecil kemungkinan Sasuke akan curiga. Hinata sering berkunjung ke apartemen Konan, jadi Sasuke tak akan mungkin menaruh kecurigaan jika ia harus berkunjung untuk memastikan keadaan Izumi di sana.

"Oh... permisi, aku tidak salah dengar, kan?" tanya Konan dengan ekspresi horor.

"Ayolah, Konan... rumahmu adalah tempat terakhir yang akan Sasuke geledah untuk mencari adiknya. Terlebih itu tidak berada di area agensi," ujar Naruto, mencoba mempersuasi.

"Biar aku simpulkan." Konan mengangkat sebelah tangannya, meminta momen untuk bicara. "Kalian berpikir aku harus membiarkannya tinggal di rumahku. Dia... seorang adik dari psikopat kelas kakap. Dan jangan lupakan dia sendiri merupakan bocah yang terlatih dalam urusan bunuh-membunuh. Dia bisa saja membunuhku saat aku tertidur, astaga!"

Izumi terkekeh garing mendengar racauan Konan, hal yang benar-benar mengganggu wanita bersurai biru itu.

"Dia ini siapa, sih? Cara berpikirnya paranoid sekali," cibir Izumi di sela kekehannya.

"Aku? Kau bertanya siapa aku?" Konan balik menyerang dengan nada tak terima. "Aku ada—"

"Hentikan!" Seruan berat Naruto memotong cekcok tanpa faedah keduanya. "Dia akan tinggal di tempatmu. Titik," ujarnya mutlak kepada Konan. "Dan kau..." Naruto menatap Izumi tajam. "Buktikan kalau kau berguna untuk kami!"

Hinata berdeham, mencegah ketegangan yang mungkin akan tercipta. "Dia mengatakan bahwa kita perlu menarik kelompok organisasi lain untuk mengancam Akatsuki. Itu adalah langkah awal," jelas Hinata.

"Dan bagaimana kita akan melakukannya?" tanya Naruto.

"Kalian cukup sedikit memanas-manasi mereka," jawab Izumi nyaris seperti gumaman ogah, namun sebelum melanjutkan penjelasannya, ia mengangkat wajah. "Akan ada kongres yang digelar di China bulan depan. Menghancurkannya tidak akan terlalu berpengaruh terhadap apapun. Yang kalian perlukan adalah kelompok lokal lain untuk meneror kongres itu."

"Kau tahu beberapa kelompok yang bisa kami jangkau?" tanya Naruto lagi.

Izumi mengangguk kecil. "Xiandaihua dan Sheziming misalnya."

Konan berkedip sekali sebelum segera mengeluarkan tabletnya. "Aku pernah membaca sedikit tentang mereka di profil L. Mereka pernah terlibat di salah satu misi Agensi Wammy," ujarnya sambil menggerakkan jarinya lincah, mencari informasi yang ada di dalam tabletnya.

"Kita tetap perlu cara untuk pergi ke China tanpa dicurigai oleh agensi," gumam Hinata.

"Ada beberapa transaksi ilegal di sana. Aku mungkin bisa mengatur agar Kakashi mau mengirim kita untuk menuntaskan persoalan itu," cetus Konan.

"Bagus. Kuharap tidak ada hambatan berarti, lebih cepat lebih baik," ujar Naruto. "Dan... kita perlu informasi detail tentang kedua kelompok itu juga, bisa kau mengusahakannya, Konan?" tanyanya.

Konan menggigit bibir pelan. "Kita benar-benar akan melakukan ini?" tanyanya masih agak tak yakin.

Hinata memandang rekannya itu dengan tatapan memohon. "Tolonglah, Konan. Kami butuh bantuanmu."

Konan menghela napas, ia melirik kedua rekannya kemudian memandang Izumi dengan tatapan menilai sedikit lebih lama sebelum berujar pelan. "Baiklah.

..

...

..

Seminggu ini Hinata benar-benar disibukkan dengan segala sesuatunya. Ia tetap menjalani misi yang ditetapkan agensi bersama L di tiap harinya, kemudian saat malam tiba, ia akan mengunjungi kediaman Konan untuk melihat kondisi Izumi juga mengadakan diskusi kecil dengan bahasan detail kongres mendatang.

Naruto juga begitu baik dalam memainkan perannya. Ia terus mengulik informasi tentang kelompok yang mereka targetkan berdasarkan pengetahuan dasar yang Konan berikan. Hubungan Konan dan Izumi tak memperlihatkan adanya kemajuan, tapi bagusnya, mereka tak lagi saling serang. Itu bagus karena mereka benar-benar harus memiliki kepala dingin sepanjang rencana ini dijalankan.

"Jadi dia akan berada di sana?" tanya Hinata memastikan. Mereka tengah membahas perihal lokasi pasti keberadaan Sasuke.

"Tentu saja," jawab Izumi.

"Bagaimana dengan Yahiko?" taya Konan.

Izumi menengok, satu alisnya menukik mendengar pertanyaan itu. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal dia?"

"Tidak apa-apa, hanya memastikan." Konan mengedikan bahunya ringan, rautnya datar tak menunjukkan apapun. "Kukira kalian berkencan, tapi sepertinya kau tidak begitu peduli."

"Apa maksudmu?" tanya Izumi cepat dan tajam.

"Bisa kita fokuskan pembicaraan kita?" Hinata menghela napas, ia lelah dan ingin segera pulang sekarang. Izumi memalingkan wajah dan Konan bergerak menuju kamarnya, tak berniat memperpanjang apapun. "Jadi... semua anggota Akatsuki akan hadir?" tanya Hinata lagi, tentu kepada Izumi.

"Tidak semua. Tapi sebagian besar orang penting akan ada di sana. Artinya sudah pasti Sasuke akan benar-benar waspada. Kau harus hati-hati mengambil langkah."

"Kau tidurlah," ujarnya kepada Izumi sebelum bangkit dari duduknya. "Dan cobalah untuk tak membuat Konan jengkel," lanjutnya memberi saran sebelum beranjak dari sana.

Hinata tengah mengemudikan mobilnya menuju agensi—pulang—saat ponselnya bergetar, menandakan panggilan masuk untuknya. Hinata melirik layar ponselnya dan menemukan nama juga foto Ryuzaki di sana.

Dipasangnya wireless in-ear segera di telinganya sebelum menjawab panggilan itu.

"Ada apa, L?" tanyanya langsung sebagai pembuka hubungan telepon mereka.

"Hinata ada di mana?" Ryuzaki bertanya balik, nadanya masih sedatar biasanya.

"Aku masih di mobil, baru akan pulang. Kenapa?"

"Bisa kita bertemu?"

"Uh... tentu," jawabnya meski kerutan terbentuk di keningnya. "Di mana?"

"Umm... di sekitaran ruko lama di daerah Minato. Hinata tahu?"

"Ya, aku tahu. Aku akan ke sana."

Dengan itu Hinata memutus sambungan. Ia sedikit memberi tekanan lebih pada pedal gas mobilnya, mengubah tujuan awalnya. Hinata belum memahami mengapa Ryuzaki meminta bertemu di daerah terbengkalai itu, namun ia tak begitu memikirkannya.

Setibanya di lokasi, Hinata menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan sebelum keluar untuk mencari sosok Ryuzaki. Malam itu angin terasa dingin, udara terasa lembab dan keadaannya gelap karena awan terlalu menutupi bintang dan bulan sebagai sumber pencahayaan terbatas malam.

Beberapa ruko jaraknya dari tempatnya berdiri, Hinata dapat melihat Ryuzaki. Pria itu tengah menundukkan kepalanya hingga tak menyadari sosok Hinata yang mendekat.

"Hei," sapa Hinata sambil terus memotong jarak.

"Oh, hai," sapa Ryuzaki balik setelah menyadari kehadiran Hinata. Suaranya terdengar lebih rendah, tangannya terus ia lesakkan di saku mantelnya.

"Tenpat yang aneh untuk bertemu." Hinata berkomentar kecil dengan sedikit kekeh pendek. "Jadi... ada apa?" tanyanya dengan senyum tipis.

L masih diam, tatapannya mengarah kepada Hinata namun Hinata tak yakin pria itu benar-benar menatapnya. Rasanya begitu canggung melihat pria itu begitu serius. Tapi saat itu, untuk pertama kalinya, Hinata benar-benar melihat mata gelap juga profil pria itu.

"L..." panggil Hinata skeptis saat ia merasa L belum juga berniat untuk buka mulut. "Kau... baik-baik saja, bukan?" tanyanya sedikit mencemaskan.

"Aku menyukai Hinata," ucapnya cepat namun tanpa keraguan.

Kelopak mata Hinata melebar, bibirnya terbuka sedikit, jelas terkejut dengan pernyataan dadakan serba seadanya ini. Kelampau sederhana namun menggelitik, itulah yang Hinata rasakan. Sudah lama sekali sejak seseorang menyatakan perasaan padanya seperti itu.

Ungkapan Ryuzaki mungkin terdengar sangat setengah hati. Tapi mengingat bagaimana sifat pria itu, Hinata cukup mengerti untuk tak menganggap hal ini sebagai lelucon.

Hinata terdiam, ia menunggu Ryuzaki mengatakan apapun tanpa mengetahui bahwa pria itu juga menunggu Hinata mengutarakan responsnya.

Namun Hinata masih belum bisa menguasai dirinya dari keterkejutan. Ia sadar beberapa kali Ryuzaki menggodanya dengan gombalan remeh. Tapi ia tak pernah menyangka akan mendapatkan penyataan langsung tanpa basa-basi seperti ini.

Setelah beberapa menit, Ryuzaki menengok ke arah kirinya, hanya usaha memalingkan muka. Kepalanya mengangguk pelan beberapa kali. Helaan napas lembutnya terdengar jelas dibantu kesunyian malam.

""Maaf, Hinata. Aku tidak... bermaksud mengejutkan Hinata. Hanya... hanya aku tidak bisa berpura-pura," gumam Ryuzaki, cukup untuk Hinata dengar.

"L... aku..." Hinata mencoba menyahutinya dengan penuh kehati-hatian. "Sejujurnya aku tidak tahu harus mengatakan apa." Hinata menghela napas.

"Tidak perlu mengatakan apapun," balas Ryuzaki, pandangannya kembali ke arah Hinata. Namun Hinata tak begitu menyadari bahwa pria itu tak tepat menatapnya, melainkan lurus di suat sisi gelap di belakangnya. "Hinata akan pulang sendiri, bukan? Kalau begitu boleh aku duluan? Mobilku diparkir agak jauh," cecarnya tanpa menunggu Hinata menjawab.

Hinata hanya menggumam pendek, mengiyakan segala racauan Ryuzaki tadi. Ia hanya berdiri terdiam di sana sampai Ryuzaki berbalik untuk pergi. Ia memandang punggung pria itu sampai sosoknya menghilang di telan kegelapan.

Hinata menghela napas. Ryuzaki adalah pria baik yang hebat. Ia agak menerka-nerka kiranya apa yang membuat pria itu menyukainya. Menyukai wanita dengan jiwa yang sudah hancur seperti dirinya.

Lamunannya pecah saat ia mendengar tawa pelan yang terdengar renyah dari belakangnya. Dengan segera, Hinata berbalik untuk kemudian mendapati Sasuke berjalan dengan langkah santai mendekatinya.

"Dugaanku tepat," buka Sasuke.

"Kau..." Hinata kehilangan kata, secara refleks otaknya berusaha memproses segalanya. Tidak mungkin 'kan, sejak tadi Sasuke mengamatinya? Mendengar percakapannya dengan Ryuzaki?

"Aku sudah bilang padanya kalau kau tidak mungkin membalas perasaannya. Kalau kau masih cinta mati padaku," ujar Sasuke santai, langkahnya berhenti saat jarak mereka tak sampai dua langkah jauhnya.

"Kau... bicara dengannya?"

"Ya," aku Sasuke jujur. "Nah sekarang... katakan di mana Izumi?" tanyanya kemudian, tanpa basa-basi, sama sekali membanting setir dari percakapan awal mereka.

Tenggorokan Hinata seketika terasa mengering. "Apa?" tanyanya, berusaha sedemikian mungkin tak menampakkan raut yang berpotensi akan dicurigai.

Sasuke menatap tajam wanita di hadapannya. "Di mana Izumi?" ulangnya dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.

Hinata berusaha tak menelan liurnya. Sasuke terlihat datar seperti biasa, namun kali ini aura mengerikan yang menciutkan Hinata begitu terasa menguar dari pria itu.

"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan," bantah Hinata.

"Aku sudah mengatakan padamu, Hinata. Bahwa saatnya kita bertemu lagi, kita akan bertemu sebagai musuh. Itu artinya..." Sasuke tak lantas menyelesaikan kalimatnya, malah tangan kanannya yang bergerak untuk mencengkeram siku Hinata.

Dengan gerakan cepat, Hinata dibuatnya berputar hingga membelakanginya, membuat lengannya terpelintir secara paksa. Tangan Sasuke yang lain mencekal tangannya yang terbebas dan menahannya di belakang tengkuk. Hinata mengeluarkan pekikan pendek namun ia tak melawan. Ia tak bisa melawan, tidak dalam posisi terkunci seperti ini, jika ia memaksa, bukan tidak mungkin ia akan melukai tangannya sendiri.

"... aku tidak akan ragu untuk melukaimu." Sasuke menyambung ucapan yang sebelumnya ia gantungkan.

"Lepaskan aku!" umpat Hinata. "Aku bahkan tak tahu apa yang kau bicarakan, berengsek!"

"Dia pasti datang kepadamu," balas Sasuke. "Dia tidak akan mungkin kabur tanpa memiliki tujuan pasti. Jadi katakan padaku, di mana dia sekarang?" tuntut Sasuke, begitu rendah dan mengancam.

"Kubilang aku tidak tahu. Terserah kau ingin percaya atau tidak," kukuh Hinata menyangkal.

"Kau... mengetahui tentang kongres itu, bukan?" tanya Sasure rendah, masih mengunci gerak tubuh Hinata.

Hinata tak mengatakan apapun, ia memilih untuk menstabilkan napasnya yang agak memburu karena agresi dadakan Sasuke.

Sasuke berdecak. "Apa yang harus kulakukan terhadapmu, Hinata?" tanyanya retoris. "Maaf, Sayang... tapi kali ini aku harus memastikan kau tidak akan ikut campur dalam urusanku."

Dalam satu kedipan mata, Sasuke memelintir lengan kanan Hinata kencang, menciptakan gemeletuk samar tercipta dari pergeseran paksa sendi pada bahu wanita itu.

Hinata merasakan sakit yang teramat di bahu kanannya. Sangat sakit sampai ia tak menyadari dirinya berteriak kencang. Yang ia tahu, ia sudah berlutut di tanah dengan tangan kiri yang mencegah lengan kanannya untuk bergerak.

Kekosongan di hadapannya musnah saat Sasuke yang semula berdiri di belakangnya berpindah posisi. Pria itu berjalan memutar sebelum berlutut di hadapan Hinata. Namun Hinata tak memiliki gagasan sedikit pun untuk memandang pria itu, titik konsentrasinya penuh berkumpul pada rasa sakit di bahunya.

"Aku harap ini cukup. Jangan memaksaku untuk mematahkan kakimu juga, Sayang," ujarnya rendah Sambil mengusap pipi Hinata—yang tanpa wanita itu sadari, telah dijejaki oleh aliran air mata.

Hinata tak melawan saat jemari Sasuke mengusap wajahnya, otaknya masih terlalu disibukkan dengan sengat rasa nyeri yang dirasanya.

"Ini peringatan. Untukmu juga untuk Izumi," ujar Sasuke lagi dengan suara yang seakan mampu mencekik siapa pun yang mendengarnya. "Jika dia bersamamu, katakan padanya untuk pulang."

Dengan itu, Sasuke berdiri, ia menatap Hinata yang masih terduduk juga tertunduk beberapa saat sebelum berjalan pergi dari tempat itu sembari menyelipkan sebatang rokok pada celah antara bibirnya.

.

to be continued...

..

.

Longer chapter plus early update than I usually did lately...

I'm getting lost, I just want to end this work asap... but I don't think I can fastforwarding the plot I've had already settled *sigh* t.t