.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.

.

.

.

Some People Feel The Rain, Other Just Get Wet.

.

"Ini konyol." Omelan Sakura terdengar jelas, membuat Hinata seketika menggerakkan kepalanya, menengok ke arah pintu yang memunculkan sosok Sakura, dan tentu saja bersama Naruto.

"Dia memaksa untuk melihat kondisimu, padahal kami punya jadwal pertemuan sekarang." Naruto menjelaskan tanpa diminta perihal alasan kemunculan mereka di bagian klinik Anbu.

"Kau ini... siapa orang yang dengan cerobohnya mematahkan lengan sendiri karena terjatuh dari tangga? Astaga, Hinata... memangnya kau ini apa? Anak umur tiga tahun?" racau Sakura lagi dengan cepat.

"Berhenti, Cerewet!" ujar Naruto santai sambil menarik sedikit surai merah muda Sakura pelan. "Kau benar-benar terlihat kacau. Sebaiknya kita biarkan Hinata istirahat, Sakura," lanjutnya setelah mengamati sekilas kondisi rekannya itu. "Kita juga harus segera bergegas."

Hinata melirik lengannya sendiri yang sudah terbebat sempurna, terkulai kaku pada arm sling yang digantungkan pada bahunya yang normal. Ia lega, setidaknya cidera yang dialaminya masih dapat ditangani klinik agensi sehingga ia tak perlu penanganan dari rumah sakit.

Setelah semalaman menginap di klinik, Hinata diperbolehkan untuk kembali ke apartemennya. Namun begitu, rasanya ia masih terlalu malas untuk beranjak sehingga memutuskan untuk tetap duduk di atas ranjang yang semalam ia gunakan. Dan saat itulah Sakura mengadakan kunjungan dadakan untuknya. Yah, Hinata tak terlalu terkejut sebenarnya, ia sudah menduga Naruto akan menceritakannya kepada Sakura tentang bagaimana semalam Hinata menghubunginya untuk meminta bantuan.

"Bisa tolong beri tahu Konan kalau aku tidak bisa ke rumahnya malam ini?" tanya Hinata terdengar lelah yang dibalas oleh anggukan singkat Naruto. "Terima kasih," balasnya lagi.

"Kita akan bicara lagi nanti," ujar Naruto datar terhadap Hinata sebelum berbalik. "Ayo, Sakura," ajaknya.

Entah karena tak memiliki banyak waktu atau memang Naruto memberinya kelonggaran sehingga pria itu tak terlihat terlalu menuntut penjelasan, setidaknya untuk sekarang. Namun apapun itu, ia merasa lega. Ia memang butuh waktu untuk menenangkan diri.

Sakura menghela napas. "Jaga dirimu, Hinata," ucapnya juga kepada Hinata sambil memberikan lambaian singkat sebelum berlalu mengikuti Naruto.

Setelah Hinata kembali menjadi satu-satunya makhluk yang bernapas di ruangan itu, ia berdiri untuk sekedar menutup tirai pada jendela kaca ruang itu, membuat keadaan menggelap sebelum ia kembali merebahkan dirinya di atas ranjang.

Semalam, ia kesulitan tidur karena nyeri yang dihasilkan oleh cideranya. Hal itu mungkin yang menyebabkan ia merasakan lelah yang teramat pagi ini.

Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa butuh waktu setidaknya sebulan untuk lengannya bisa kembali normal. Itu jelas tak dapat diterima. Bagaimana bisa ia menjalankan misi-misinya? Khususnya misi rahasia mereka. Naruto sanggup menjalankannya sendiri, Hinata tak meragukan efektivitas cara kerjanya. Namun, pria itu tak mengetahui segala halnya sebanyak yang Hinata ketahui. Keadaan akan semakin memburuk jika nantinya Naruto mengatakan sesuatu kepada Kakashi. Itu yang Hinata khawatirkan sekarang.

Kemudian ingatannya tentang Izumi membuatnya memejamkan mata erat. Ah... sepertinya tinggal masalah waktu sampai Sasuke menemukan gadis itu. Semuanya menjadi terlalu rumit sekarang. Jadi apa yang harus dilakukannya? Apa mungkin ia perlu meminta Ryuzaki untuk membantunya?

..

...

..

Hinata mengerjapkan kelopak matanya. Cahaya yang begitu minim menyambutnya saat ia sedikit membuka matanya. Ruang yang ditempatinya terlihat lebih gelap dari yang sebelumnya ia ingat sebelum terlelap.

Ia merasakan kepalanya berputar hebat, membuatnya enggan menampakkan iris lavendernya lebih lebar lagi. Terlebih nyeri yang ia rasa di bahunya masih begitu mendominasi, memaksa tubuhnya untuk tak bergerak meski posisi tidurnya yang kini menyamping agak tak mengenakkan untuk cidera yang ia alami.

Jika saja Hinata tak merasakan kejanggalan dalam lelapnya, mungkin ia akan menyerah dan kembali tenggelam dalam alam mimpinya. Namun lengan yang melingkar di pinggulnya juga embusan napas yang menyapu tengkuknya mau tak mau membuatnya penasaran. Ya, Hinata meyakini sosok lain tengah bersamanya sekarang. Terlebih setelah merasakan hujan kecupan ringan di lehernya juga usapan di bahunya yang terluka.

Alam bawah sadarnya mengantarkan nama Sasuke sebagai hal paling pertama yang muncul atas apa yang dirasakannya. Namun baru saat Hinata hendak berbalik untuk memastikan, tubuhnya kembali ditahan untuk tak bergerak.

"Shhh... tidak apa-apa, aku akan pergi. Tidurlah lagi."

Suara Sasuke. Hinata tak pernah salah mengenali suara pria itu.

Seperti mantra, Hinata tak melawan apa yang ia dengar. Ia hanya mengeluarkan erangan pendek yang pelan, tubuhnya kembali rileks, kesadarannya kembali berdiri di ambang batas.

Sebelum kembali terlelap, dalam benaknya Hinata memutuskan, mungkin ia masih bermimpi. Mungkin rasa kalut dan obat yang ia konsumsi yang membuatnya merasa Sasuke berada di sana, memeluknya. Ya, pasti ini merupakan efek samping dari keadaannya yang kacau. Tidak mungkin ada kemungkinan lain.

Karena Sasuke berada di sana bersamanya adalah hal yang mustahil.

..

...

..

"Hinata."

Suara sapaan Kakashi menembus udara hingga sampai ke telinga Hinata, dan itu membuatnya mau tak mau berbalik untuk merespons atasannya itu.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya pria dengan surai kelabu itu setelah berhenti dua langkah jauhnya dari titik Hinata berdiri.

Hinata benar-benar berusaha untuk menahan ekspresinya agar tetap datar, tak ingin memperlihatkan redup yang ia rasakan setiap berpapasan dengan Kakashi.

"Sudah agak lebih baik," jawab Hinata.

Hinata kemudian melihat Kakashi tersenyum, dan oh... bahkan sampai sekarang ia masih kesulitan untuk menemukan celah yang mengungkap bahwa itu bukanlah sebuah senyum yang tulus.

"Sayang sekali, satu lagi agen harus dinonaktifkan sementara waktu."

"Maaf atas kecerobohanku," balas Hinata, sebisa mungkin berusaha untuk tak terdengar ketus.

"Tidak. Itu bukan salahmu. Untuk sekarang, lebih baik kau beristirahat dan fokuskan pada pemulihan lenganmu." Kakashi kembali memberikan senyum ringan yang—mungkin jika orang lain lihat—bermaksud menenangkan.

'Munafik!' Merupakan dengusan sengit Hinata di dalam hati. Terlihat jelas sekali dari mana kemampuan akting Sasuke diturunkan.

"Tentu. Terima kasih," ujar Hinata sebagai balasan pada akhirnya.

"Omong-omong, kau akan ke mana? Kukira Konan sudah menginformasikan padamu soal agendamu yang dianulir."

"Oh, ya... Konan sudah memberitahukanku soal itu. Aku kemari hanya untuk memenuhi panggilan marsekal," jawab Hinata jujur.

"Hmm... dia memang tidak memperlihatkannya, tapi dia mencemaskanmu, kau tahu?" ujar Kakashi kembali.

Hinata tak menjawab, ia hanya mengangguk singkat.

"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa. Lekas sembuhlah, kami membutuhkanmu," tutup Kakashi lembut sebelum bergerak menuju elevator.

Hinata mendelik nyalang ke arah pintu elevator, tempat Kakashi menghilang. Pria itu juga putranya benar-benar memiliki topeng malaikat yang terpoles sempurna. Hinata penasaran, apa mungkin Kakashi tahu kalau putranyalah penyebab cidera yang dialami Hinata? Mungkin ya, tapi mungkin juga tidak. Hinata tak benar-benar tahu sedalam apa hubungan ayah dan anak itu untuk menebaknya.

Setelah berdiri diam selama hampir tiga puluh detik, Hinata kembali melangkah menuju tujuan awalnya. Ia tak tahu apa yang membuat sang ayah memanggilnya. Mungkin untuk mengomeli kecerobohannya pada waktu kritis seperti sekarang, entahlah, tapi Hinata tak menemukan alasan lain atas pemanggilan ayahnya.

Pintu ruangan Hiashi terbuka bahkan sebelum Hinata berjarak lima langkah dari sana. Ryuzaki muncul dari baliknya, lelaki itu agak terkejut mendapati Hinata di sana, begitu pula sebaliknya.

"Hinata!" sapa Ryuzaki setelah lepas dari kejutnya, dengan cepat ia bergerak ke arah Hinata dan menarik wanita itu ke dalam pelukan yang begitu erat.

"Aw!" Hinata berjengit saat pelukan Ryuzaki terlalu mengusik cideranya.

"Oh... maaf, maaf." Ryuzaki sebera melepas lingkar lengannya dari tubuh Hinata kemudian mengusap bahu Hinata yang terluka dengan begitu pelan menggunakan ujung jari telunjuknya. Sinar di matanya meredup. "Dia yang melakukannya, bukan?" tanyanya sambil terus mengamati cidera Hinata.

Hinata tak lekas menjawab. Ia diam beberapa saat sebelum mengedarkan pandangannya ke sekeliling kemudian berdeham. "Kau... tidak mengatakan pada siapa pun, kan, L?" tanyanya hati-hati.

Ryuzaki menggeleng pelan. "Itu urusan Hinata. Aku tidak bisa... ikut campur."

"Terima kasih." Hinata menawarkan senyum kecil.

"Tapi..." Kata awal Ryuzaki menggantung, arah tatapnya beralih fokus menemui jalur tatap Hinata. "Aku tahu dia di sana, harusnya... harusnya aku tidak meninggalkan Hinata."

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, L," sela Hinata.

"Memang seharusnya begitu," gumam L, agak mengabaikan kalimat Hinata. "Aku hanya tidak menyangka dia akan melukai Hinata," sambungnya dengan suara yang lebih jelas terdengar.

Hinata menghela napas, mengambil waktu sejenak sebelum memutuskan untuk membuka mulut. "Apa yang kau lakukan malam itu? Kau bicara dengannya?" tanya Hinata lugas.

Bahu Ryuzaki mengedik ringan. "Dia muncul secara tiba-tiba dan mulai memancingku dan..." Ryuzaki berhenti, diambilnya napas panjang yang seolah menandakan kalau ia tak ingin melanjutkan apapun yang sebelumnya berniat ia utarakan. Dan Hinata lebih dari mengerti untuk tak memaksa pria itu.

"Ya, rasanya itu sudah menjadi hobinya," balas Hinata ringan sebelum membelokkan topik pembicaraan. "Kau ada perlu apa dengan marsekal?" lanjutnya.

"Oh... marsekal memberiku beberapa misi di China bersama Konan," ujar Ryuzaki.

"Apa?" kelopak mata Hinata terbuka lebar. "Kau dan Konan?"

Ryuzaki mengangguk. "Kau tidak akan dilibatkan, tentu saja," singkatnya sambil menunjuk cidera Hinata.

Hinata memalingkan wajah, diembuskannya napas secara kasar sebelum tanpa aba-aba, ia bergerak meninggalkan Ryuzaki, masuk ke dalam ruangan sang ayah.

"Marsekal!" panggilnya tepat saat ia berhenti di depan meja sang ayah.

Hiashi merespons panggilan itu dengan mengangkat wajahnya, mengabaikan sejenak dokumen yang tengah ia periksa di atas mejanya. Pria paruh baya itu mengamati Hinata sesaat kemudian berbicara. "Kau jatuh di tangga?" bukanya datar kemudian menghela napas pelan. "Apa kau sadar keadaan timmu saat ini sampai begitu mudahnya kau melakukan kecerobohan fatal seperti itu?" lanjutnya.

Sindira Hiashi tak serta merta ditanggapi Hinata. Yang ada, ruangan itu selanjutnya diisi gelak tawa ringan Ryuzaki—yang tak Hinata sadari ternyata mengikutinya masuk ke dalam ruangan itu.

"Itu semacam versi lain dari ucapan 'bagaimana keadaanmu', kau tahu?" ujar Ryuzaki enteng kepada Hinata yang kemudian dihadiahi delikan baik dari Hiashi maupun Hinata sendiri.

"Marsekal, kumohon, libatkan aku pada misi di China." Hinata memilih untuk langsung mengutarakan maksudnya ketimbang meladeni intermezo Ryuzaki.

Hiashi menegakkan posisi duduknya, ia menatap putrinya dengan sorot yang menuntut. "Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan hanya satu tangan yang berfungsi normal?"

"Kalau begitu kenapa harus L?" Karena setidaknya Naruto yang harus maju, begitu pikir Hinata.

"Agen Wind dan Agen Haruno sudah dijadwalkan untuk tugas lain. Tidak ada pilihan lain," jelas Hiashi singkat.

"Oh ayolah. Konan bukan agen lapangan sesungguhnya, kau tidak bisa memasangkannya hanya dengan L." Hinata beralasan, nadanya terdengar begitu mendesak.

"Yang kuingat, salah satu mantan agen tingkat lima di sini dapat memiliki banyak catatan bagus di misi solo. Aku yakin Agen L juga bisa mengatasi hal ini walaupun sendirian," sanggah Hiashi.

"Tunggu... tunggu..." Ryuzaki menyela. "Aku akan sangat berterima kasih kalau Anda tidak membandingkanku dengan seorang pembunuh bermental psiko-sosiopat sepertinya, Marsekal,"lanjut Ryuzaki tak terima.

Namun sebelum Hiashi sempat menegur Ryuzaki atas ucapannya yang benar-benar di luar kepentingan, Hinata terlebih dahulu menyela.

"Mundurkan jadwalnya untuk beberapa Minggu saja. Aku akan berusaha untuk pulih, kumohon," pinta Hinata, nada suaranya lebih rendah dari yang sebelumnya ia gunakan.

Kening Hiashi berkerut, matanya memicing meneliti ekspresi putrinya. "Kenapa kau begitu tertarik dengan misi ini?"

"Benar, kupikir kau pernah bilang kalau kau tidak suka Chinese." Ryuzaki kembali menyelipkan komentar nyeleneh, membuat pasangan ayah dan anak di ruangan itu menahan diri untuk tak bekerja sama melemparkan pria itu dari jendela ruangan Hiashi.

"Keluar, Agen L!" titah Hiashi dengan suara berat.

Ryuzaki berkedip dua kali sebelum dengan gaya santainya, ia melenggang keluar ruangan, memenuhi perintah Hiashi.

Hinata mencuri pandang ke arah punggung Ryuzaki. Baru dua malam lalu, pria itu berdiri di hadapannya dengan beban terpancar di sorot matanya, menyatakan perasaan padanya. Tapi sekarang, nampaknya pria itu kembali menjadi dirinya sendiri. Pria itu bahkan memeluknya tadi seolah tak ada yang terjadi di antara mereka sebelumnya.

Baru setelah pintu kembali tertutup rapat, Hinata memberikan atensinya lagi kepada sang ayah.

"Aku menginginkan misi itu," putus Hinata rendah namun tegas. "Aku tidak akan menjadi beban, aku bersumpah. Jika aku nantinya berpotensi menghambat pergerakan L, aku akan menyingkir."

Hiashi diam, terlihat menimbang-nimbang. "Apa Agen L yang memberitahumu soal misi ini?"

"Tidak. Konan yang memberitahuku," jawabnya, sedikit mendusta.

"Konan meminta agar misi ini selesai secepatnya. Aku juga belum tahu kenapa dia datang padaku ketimbang memberitahu jenderal Hatake terlebih dahulu."

Yah, tentu karena Hinata mengatakan pada Konan untuk menghindari Kakashi mengenai misi ini.

"Mungkin karena Kakashi sibuk mengurus hal-hal terkait Akatsuki sekarang." Oh tentu, tentu saja jenderal mereka itu sibuk mengurusi Akatsuki, begitu tambahan Hinata dalam hati. "Sebelumnya sudah kukatakan, bukan? Kami butuh misi baru di luar semua kekacauan ini," cetus Hinata singkat.

"Tapi kau tetap di sini. Itu keputusannya," putus Hiashi tegas.

"Tapi Ayah—" Hinata menghentikan dirinya sendiri saat sadar akan panggilan yang ia alamatkan, rasanya sudah lama sekali sejak ia benar-benar memanggil pria di hadapannya itu dengan sebutan ayah. Hinata menghela napas untuk yang kesekian kalinya. "Maksudku... aku... aku mohon. Untuk kali ini saja percayalah kepadaku," ujar Hinata melembut. "Lagipula ini hanya kasus perdagangan obat ilegal. Tidak akan memerlukan banyak usaha seperti biasa."

"Itu dia intinya, agen L bisa mengatasi ini seorang diri,"balas Hiashi.

Hinata menggigit bibir bawahnya, matanya ia pejamkan untuk beberapa saat untuk kemudian kembali terbuka dengan sorot yang mencoba meyakinkan sang ayah.

"Aku mohon, biarkan aku melakukannya. Aku janji akan menjelaskan semuanya nanti, Ayah. Tapi untuk kali ini, tolong, percaya padaku."

Hiashi menjeda perbincangan mereka. Sinar kuat dari matanya perlahan melembut. "Tiga Minggu," cetusnya. "Jika kau bisa kembali pulih dengan sempurna sampai saat itu, aku akan memberimu izin pergi bersama agen L dan Konan."

Hinata yang sejak tadi tanpa sadar menghela napasnya, mendesah pelan, merasa lega. Ujung lidahnya menyapu bibir bawahnya sambil menahan senyuman. "Terima kasih," ujarnya kepada sang ayah.

Hinata tak mendengar apapun sebagai balasan ujarannya. Ia akhirnya memutuskan untuk berbalik pergi dari ruangan itu.

"Hinata." Panggilan sang ayah menghentikan langkahnya sebelum ia dapat meraih pintu. Di serongkan tubuhnya sebagai tanda bahwa ia mendengar panggilan itu. Tanpa menyurakan apapun, Hinata menengokkan kepalanya menunggu Hiashi melanjutkan. "Lekaslah pulih," sambung sang ayah."

Mata Hinata agak melebar, namun hanya sejenak. Ia hanya mengangguk kecil sebagai responsnya sebelum kembali berbalik menuju pintu. Dan kali itu, Hinata tak menahan senyum kecilnya.

..

...

..

"Jadi... apa yang terjadi?"

Pertanyaan Ryuzaki seketika menyentak Hinata yang baru saja menutup pintu ruangan ayahnya. Ia mengangkat wajah untuk kemudian mendapati pria itu berdiri menyender pada dinding koridor.

"Huh?"

"Ayolah, Hinata. Aku bisa membacanya." Ryuzaki memisahkan punggungnya dari dinding. "Hinata ingin sekali pergi ke China meskipun cidera parah yang Hinata alami, dan sesuatu mengatakan padaku kalau itu bukan karena Hinata ingin pergi berlibur. Lalu, belakangan ini Hinata dan Konan lebih sering menghabiskan waktu bersama. Agen Wind banyak mencari informasi tentang ini itu. Juga agen Haruno yang terlihat tidak mengetahui apapun hingga kesal karena perhatian partnernya terpecah," jelas Ryuzaki secara mendetail. "Jadi... apa yang terjadi?" tanyanya ulang.

Hinata menggigit pelan bibirnya menyadari betapa Ryuzaki sangat teliti memperhatikan bahkan detail terkecil yang terjadi. Ia menimbang apakah harus memberitahukan segalanya pada Ryuzaki. Hinata memang membutuhkan bantuan, ia tak akan bisa menyelesaikannya sendiri. Terlebih agensi Wammy memiliki catatan tentang kelompok-kelompok China yang artinya Ryuzaki dapat dengan mudah melacak mereka.

Mungkin ia bisa mempercayai Ryuzaki sepenuhnya. Mungkin.

"Ada yang ingin aku jelaskan padamu," ujar Hinata pada akhirnya.

"Aku harap itu bukan tentang sesuatu yang tidak ingin aku dengar."

..

...

..

Hinata tak melihat kekecewaan ataupun raut tak setuju di wajah Ryuzaki setelah ia menjelaskan segalanya. Malah, pria itu terlihat tertarik dengan apa yang direncanakan, mengabaikan bahwa yang akan mereka lakukan benar-benar di luar protokol yang ditetapkan.

"Jadi... Hinata bersekutu dengan adik pacar Hinata untuk meledakkannya." Ryuzaki menyimpulkan. "Kalian benar-benar dramatis, aku sangat menyukainya," tambahnya berkomentar.

"Ya," gumam Hinata pelan. "Kau... tidak akan mengatakannya pada siapa pun, kan?"

"Tentu saja tidak!" jawab Ryuzaki bersemangat. "Aku memiliki kesempatan untuk menghancurkan satu-satunya penghalang untukku mendekati Hinata. Bagaimana mungkin aku akan mengacaukannya?" aku Ryuzaki yang Hinata pikir kelewat jujur.

Hinata hanya menggeleng pelan atas respons tak biasa Ryuzaki namun tak berkomentar lebih jauh.

Ryuzaki melangkah lebih mendekat ke arah Hinata dan berhenti selangkah di hadapan wanita itu. "Aku janji, aku akan ada di sisi Hinata. Aku akan membantu Hinata sebisaku."

Hinata memalingkan pandangannya mendapati Ryuzaki menatapnya lurus. "T-terima kasih," ujarnya sebelah berdeham kecil.

"Tapi... Hinata mempercayai Izumi?" tanya Ryuzaki lagi sambil mengambil satu langkah mundur, matanya mengedar, waspada terhadap siapa pun yang berkeliaran di area parkir itu.

"Kupikir dia bersungguh-sungguh," jawabnya.

"Kalau begitu, baiklah." Ryuzaki mengangguk ringan. "Aku akan mencari informasi tentang Xiandaihua dan Sheziming. Dan Hinata... Hinata harus berusaha memulihkan lengan Hinata, oke?"

Hinata tersenyum. "Pasti. Terima kasih, L."

Sejujurnya, Hinata masih belum dapat memastikan apakah ia dapat benar-benar mempercayai Ryuzaki. Tapi persetan, ini cara paling masuk akal yang bisa ia tempuh. Keterlibatan Ryuzaki kali ini sangatlah vital.

"Hati-hati, jangan sampai malah memperparah cidera Hinata."

Hinata mendengus geli masih dengan lekung senyumnya, ia mengangguk untuk menegaskan.

"Baiklah. Mau keluar untuk minum kopi?" tanya Ryuzaki tiba-tiba. "Aku bosan dengan kopi kantin."

"Sepertinya tidak. Ada hal yang harus kulakukan," aku Hinata. "Jadi, sampai jumpa besok, kurasa."

Hinata melihat Ryuzaki mengangguk sebelum ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya sendiri, mengakhiri komunikasinya dengan pria itu.

Saat itu mereka bertingkah seolah lupa dengan pernyataan mendadak Ryuzaki dan sepertinya Ryuzaki tak masalah untuk tak mengungkitnya. Tapi bagaimanapun, pada akhirnya mereka harus bicara tentang hal itu.

Hinata memikirkan hal itu, merasa gundah akan apa yang akan ia lakukan jika saat itu datang. Yang ia takutkan adalah jika ia tak bisa menolak pria itu. Hinata kini berada di ambang kegilaan yang menuntutnya menemukan seseorang untuk mencintainya dengan tulus. Namun ia tak menginginkan egonya berkuasa sampai harus menumbalkan pria sebaik Ryuzaki hanya untuk penutup lukanya.

..

...

..

Hinata belum mengunjungi lagi apartemen Konan beberapa hari terakhir ini. Mereka hanya bertemu saat berada di agensi. Ryuzaki benar-benar merupakan sebuah bantuan besar karena ia dapat memperoleh beragam informasi tentang kelompok yang mereka tuju. Naruto beberapa kali berkunjung ke apartemen Konan untuk mengawasi Izumi dan tanpa disangka, gadis itu terlihat sudah nyaman tinggal di sana, mengabaikan Konan yang terlihat begitu terusik akan kehadirannya.

Suatu sore, Hinata kembali melatih dirinya, melayangkan tinjuan-tinjuan pada salah satu sandbag di ruang pelatihan. Tangan kanannya sudah bisa ia gerakkan meski nyeri masih terasa setiap kali sendinya bergesekan. Hinata tak peduli, ia harus segera kembali dalam keadaannya semula.

Jika ada seseorang yang harus melawan Sasuke, orang itu haruslah dirinya. Ryuzaki mungkin akan menjadi eksekutor paling potensial, namun Hinata cukup egois untuk memainkan peran besar dalam rencana ini.

"Hei."

Sapaan itu membuat Hinata berhenti membidik, tinjunya ia turunkan sembari badannya berbalik. Ryuzaki berdiri di ambag pintu dengan senyum anehnya, seperti biasa.

"Aku terkesan. Sepertinya Hinata sudah dapat menggunakan lengan kanan Hinata kembali," komentarnya masih dari tempat yang sama.

"Lumayan. Walaupun rasanya masih sangat nyeri," sungut Hinata setengah hati. Ia berjalan menepi, menjemput sebotol air yang sebelumnya ia letakkan bersama handuk kecil di salah satu bangku panjang yang tersedia. "Ada urusan apa kau kemari?" tanyanya sebelum menenggak air dari botol tersebut.

"Tidak ada. Hanya mampir. Tadinya aku mencari Konan, tapi yang lain bilang dia sudah pulang."

Hinata mengangguk sembari memakai jaketnya, menutupi kaos hitam tanpa lengan yang ia gunakan saat latihan tadi. Lewat ujung matanya ia dapat menangkap bagaimana Ryuzaki berusaha menyibukkan diri memainkan arah pandangnya agar pria itu tak berlama-lama memandangnya.

"Mau ikut denganku ke rumahnya?" tawar Hinata.

Kening Ryuzaki agak berkerut, mempertimbangkan. "Memangnya tidak apa-apa?"

Hinata paham yang Ryuzaki maksud. Pria itu juga menduga Hinata tengah diawasi, dan bukan hal bagus jika nantinya kunjungan Ryuzaki ke apartemen Konan yang mendadak akan menimbulkan kecurigaan.

"Kurasa begitu. Sasuke sudah tidak berada di sini, maksudku..." Hinata menarik napas dan memelankan suaranya. "Izumi mengatakan dia mungkin sudah pergi ke China."

"Tapi bukan berarti dia tidak menurunkan bawahannya untuk mengawasi Hinata," sanggah Ryuzaki.

Hinata diam, dalam hati setuju dengan kemungkinan yang Ryuzaki paparkan, namun akhirnya ia menghela napas. "Kau ikut atau tidak?" tanya Hinata lagi. "Tidak perlu terlalu paranoid tentang hal itu."

Ryuzaki butuh beberapa detik sebelum akhirnya memutuskan. "Baiklah."

Hinata kembali mengangguk. "Aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Kita bertemu lagi di lobi nanti," ujar Hinata sebelum beranjak dari tempatnya.

..

...

..

Alunan lagu Something Stupid milik Frank Sinatra terdengar nyaring seketika Konan membukakan pintu untuk mereka dengan wajah lesu. Melihatnya, Hinata ragu untuk memutuskan apakah ia harus tertawa atau bersimpati terhadap rekannya itu.

"Konan kenapa?" Ryuzaki bertanya langsung melihat raut wajah Konan, namun yang ditanya hanya mendesah lelah.

"Masuklah," ujar sang tuan rumah.

Di ruang tengah, Izumi terlihat menjulurkan lehernya, melongok ke bagian foyer untuk melihat siapa yang datang. Dan saat melihat Hinata, ia kembali bersantai seperti sebelumnya.

"Kalian sedang apa?" tanya Hinata kepada Konan.

"Oh... kami sedang bermain catur dan aku tengah berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencekik seseorang di sini." Konan menjawab dengan ironi. "Dan tahu tidak? Bocah centil ini ternyata suka sekali lagu lama," dengus Konan tak suka.

Izumi menyamankan diri, menyandarkan punggungnya di sofa, lengannya terlipat di depan dada saat ia melirik Konan dengan tatapan angkuhnya.

"Jujur saja, kau mengagumiku, kan?"

"Kagum? Kagum bokongmu!" balas Konan.

Hinata menggeleng kecil kemudian ikut menjatuhkan diri di atas sofa. "L mencarimu," ungkapnya singkat.

"Oh, ya. Aku menerima pesan darinya." Konan berkedip, menyadari sesuatu, ia kemudian menengok ke arah Ryuzaki yang masih berdiri. "Maaf aku tidak sempat membalasnya, L. Jadi... ada apa?" tanyanya.

Bukan menjawab, Ryuzaki masih berdiri di tempatnya sambil jelas-jelas memandangi Izumi.

"L?" panggil Hinata yang seketika memecah lamunan pria itu. Izumi sendiri yang merasa menjadi objek pandangnya menukikkan sebelah alis heran.

"Kau... yang namanya Izumi?" tanya Ryuzaki, tak mengindahkan pertanyaan Konan maupun panggilan Hinata sebelumnya.

Kening Izumi mengernyit, merasa aneh dengan pria yang bertanya padanya itu. "Bukan... aku Milea!" cibir Izumi ketus pada akhirnya.

Ryuzaki kembali mengedipkan matanya beberapa kali, seperti mencoba kembali ke dirinya semula. "Maaf," ujarnya, masih kepada Izumi. "Hanya saja, Izumi terlihat seperti orang yang aku kenal. Aku tidak menyadari hal ini sebelumnya," jelasnya jujur sebelum mengambil tempat duduk di samping Konan. "Omong-omong, senang bertemu kembali denganmu," sapanya ramah.

"Dasar aneh." Izumi kembali mencibir.

"Dia selalu seperti ini, ya? Tidak sopan sekali," protes Ryuzaki, telunjuknya terang-terangan mengarah ke wajah Izumi.

"Selalu," respons Konan cepat. "Aku tidak sabar pergi ke China dan meninggalkannya di sini!"

Hinata berdeham. "Sebenarnya... dia juga akan ikut, Konan," ujar Hinata.

"Huh? Apa kau bilang?"

"Kita jelas tidak bisa meninggalkannya sendirian." Hinata memberikan alasan singkat.

Seakan tak mendengarkan percakapan mulut-mulut lain di ruangan itu, Izumi berdiri dan masih dengan gelagat angkuhnya, berjalan ke dapur.

"Jadi... aku butuh Konan untuk meretas beberapa akses data Wammy." Ryuzaki mulai mengutarakan secara gamblang maksud kedatangannya.

"Oh... tentu saja akan kulakukan. Lagipula itu sama mudahnya dengan mencari es krim cokelat di minimarket," balas Konan dengan ironi. "Kau bercanda atau apa, hah?!" nada bicaranya meninggi.

"Kenapa? Konan tidak sanggup?" balik Ryuzaki datar.

Konan mulai menggerutu panjang, memaparkan risiko ini dan itu akan apa yang Ryuzaki minta dan kemudian Ryuzaki akan membalasnya seolah itu bukanlah perkara besar. Hinata hanya duduk mendengarkan sampai ia merasa agak jenuh. Ia memberi sinyal kepada keduanya untuk pergi ke dapur, mencari cairan yang bisa menyiram kerongkongannya yang terasa kering.

Di dapur ia menemukan Izumi duduk di salah satu kursi tinggi dengan satu cangkir di genggamannya. Namun Hinata memilih untuk mengabaikan gadis itu dan terus melancarkan niat awalnya.

"Aku sangat bersemangat, kau tahu," ujar Izumi saat Hinata membuka salah satu pintu lemari es Konan.

Hinata menengok kepada gadis itu namun menemukan tatapan sang gadis masih tertuju pada cairan di dalam cangkir yang digenggamnya. Tak melirik ke arahnya.

"Kenapa?" balas Hinata singkat.

"Sasuke selalu berpikir dia tidak terkalahkan. Tapi kelemahan seseorang ada di dalam dirinya sendiri," ucap Izumi tenang, optimis dengan segala yang ada di kepalanya. "Dia telah dibutakan oleh kekuatan. Dan itu yang menjadikannya lemah."

"Kau pikir rencana ini akan berjalan mudah? Aku tidak berpikir begitu, malah aku sangat mewaspadai kalau saja dia menyimpan rencana lain atas hilangnya kau secara tiba-tiba," jelas Hinata. "Dia tahu apa yang dia lakukan. Itu yang membuatnya tidak terkalahkan."

"Kau mungkin berpikir kau mengenalnya, tapi jujur saja... aku lebih mengetahui Sasuke yang sesungguhnya."

Hinata diam-diam menelan ludah, merasa kalimat Izumi mencubit hatinya. Tapi itulah fakta. Hinata memang tak benar-benar mengenal Sasuke yang asli.

"Dia kakakku dan aku tahu kelemahan-kelemahannya," lanjut Izumi.

Hinata menjilat bibir bawahnya, pandangannya ia lemparkan ke jendela dapur. Malam itu begitu gelap, kelihatannya mega terlalu tangguh untuk ditembus cahaya benda langit yang mencoba menyusup. Hinata terdiam, tak menyadari Izumi yang kini sudah berdiri di sisinya, begitu dekat dengannya.

"Dan kau adalah salah satunya," bisik Izumi yakin, membuat Hinata memalingkan wajah kepada gadis itu.

"Kau keliru," kelit Hinata, matanya tak segan menantang warna iris kelam Izumi.

"Begitukah?" Izumi menyeringai. "Bagaimana kalau kuralat jadi seperti ini... Sasuke, memiliki beberapa kelemahan. Tapi kau, kelemahanmu hanyalah Sasuke seorang. Bukan begitu?"

"Terserah apa katamu," jawab Hinata cepat, tangannya meraih segelas air mineral, menutup kembali lemari esnya kemudian segera bergegas keluar.

"Kalian berdua benar-benar bersifat saling menghancurkan." Izumi kembali berceletuk dengan seringai yang sama. Hinata yang sudah hampir mencapai ambang pintu masih bisa mendengarnya namun memutuskan untuk tak meladeninya.

..

...

..

Bersifat saling menghancurkan.

Ucapan-ucapan Izumi terus berputar di dalam kepala Hinata bahkan sampai mereka tengah dalam perjalanan kembali ke agensi. Ryuzaki mengemudikan mobilnya sambil menyampaikan beberapa informasi yang baru didapatkannya bersama Konan, namun tak satu pun perkataannya menempel lama di otak Hinata.

Sasuke adalah satu-satunya kelemahan yang ia miliki?

Benarkah? Jika memang begitu lalu apa? Apa itu akan mempermudah langkahnya menghabisi Sasuke, atau malah menghambatnya?

Hinata menghela napas, enggan berpikir lebih jauh.

"Hinata? Hinata dari tadi mendengarkan tidak?" tanya Ryuzaki.

Hinata hanya membalas dengan anggukan, matanya yang lelah ia arahkan ke jendela mobil.

"Mau makan malam di mana? Di restoran cepat saji?"

Hinata melirik cepat kepada Ryuzaki. "Tidak. Aku ingin turun di sini."

"Huh?"

"Tepikan mobilnya."

Kening Ryuzaki mengernyit, namun ia tetap menuruti keinginan Hinata. Di carinya area parkir terdekat sebelum akhirnya ia tepikan mobil mereka.

"Hinata baik-baik saja?" tanyanya hati-hati setelah mematikan mesin mobil.

Tak ada jawaban dari Hinata, Ryuzaki malah mendapati wanita itu melepaskan sabuk keselamatannya. Hinata benar-benar ingin pergi sepertinya.

"Apa ada yang salah?" Ryuzaki menahan tangan Hinata sebelum wanita itu sempat meraih handle pintu mobil. "Hinata?" tanyanya lagi dengan lembut setelah melihat Hinata mengembuskan napas panjang.

Hinata masih mencoba menguasai dirinya sendiri dengan mengatur napas dalam. Saat ia merasa cukup, barulah ia menengok, menghadapi tatapan bertanya Ryuzaki. Mereka menahan tatapan itu untuk beberapa saat. Dan Hinata menyadari, tak seperti tatapan tajam Sasuke yang selalu membuatnya sesak, mata gelap Ryuzaki memberi efek kebalikannya.

"Kenapa?" Hinata memulai dengan nada lirih setelah beberapa kali ia membuka dan mengatupkan bibirnya tanpa menghasilkan suara. "Kenapa kau..." Hinata berhenti kembali, tak menemukan kata yang bisa mewakili rasa penasarannya. Ia kemudian melepas kontak mata mereka, matanya kini tertuju pada tangan pria yang tengah menahan tangannya itu. "Kenapa aku?" la melanjutkan, masih dengan lirih yang sama.

"Kenapa apa?" Ryuzaki bertanya balik.

"Jangan berpura-pura tak mengerti, L." Akhirnya Hinata membalas dengan tak sabar. "Apa kau benar-benar menghindari topik tentang apa yang kau katakan malam itu?"

Ryuzaki melepaskan genggamannya, menghela napas dan kembali menyamankan diri di kursinya. "Aku kira Hinata tidak ingin mengungkitnya. Jadi aku diam."

"Tidak. Aku butuh kejelasan. Jadi katakan padaku. Kenapa... bagaimana bisa kau... merasakan hal itu padaku?"

"Aku tidak tahu, Hinata," jawab Ryuzaki. "Sejak kecil aku selalu ingin memungut anak kucing tersesat di tengah hujan, memberinya perlindungan. Seperti itulah aku melihat Hinata."

Hinata berkedip. "Huh?"

"Aku tahu itu terdengar menghina. Tapi begitulah adanya. "Ryuzaki menggigit bibirnya singkat. "Aku tidak tahu kapan dan bagaimana jalannya, tapi tiba-tiba aku memiliki keinginan untuk menyelamatkan Hinata. Awalnya hanya sebuah empati. Aku kasihan dengan Hinata, Hinata merusak diri sendiri dan aku ingin menghentikan itu. Aku ingin setidaknya membuat Hinata tenang," paparnya.

Ryuzaki berhenti sejenak untuk mengambil napas, ia menegakkan posisi duduknya, memandang ke depan. Hinata tak menyela, menunggu kelanjutan.

"Tapi setiap kali aku mencoba mendekat, Hinata mendorongku menjauh. Hinata mungkin berpikir aku hanya bermain-main karena aku tidak terlihat seperti tipe laki-laki yang serius dalam menanggapi sesuatu."

"L—"

"Hinata mungkin berpikir aku aneh karena dengan tiba-tiba menyatakan perasaanku. Aku akan jujur... malam itu, Sasuke menantangku untuk mengatakannya, dia bilang Hinata tidak akan pernah melupakannya. Aku... sebenarnya aku tahu tahu Hinata tidak menyukaiku seperti aku menyukai Hinata, tapi yah, aku pikir bukan hal buruk juga untuk mengungkapkannya."

Ryuzaki kembali menengok, menemui tatapan Hinata yang sejak tadi tak berpindah.

"Aku ingin Hinata tersenyum, benar-benar tersenyum. Karena di balik topeng keras yang Hinata gunakan, Hinata tengah terluka." Ryuzaki tersenyum kecil. "Percaya atau tidak, aku selalu di sana, aku dapat melihatnya."

Kali ini Hinata yang memalingkan pandangannya terlebih dahulu. "Bagaimana jika... aku tidak bisa membalasnya?" tanya Hinata, nyaris berbisik.

"Aku tidak memaksa Hinata. Itu bukan hal yang bisa aku paksakan," balas Ryuzaki lugas. "Tapi tidak akan ada yang berubah. Kita akan tetap berteman."

Masih dengan kepala tertunduk, Hinata kembali berbisik. "Dan bagaimana jika... aku memperimu kesempatan?"

Untuk beberapa saat, Hinata tak mendengar jawaban apapun. Yang tak ia duga adalah tangan kanan Ryuzaki yang terulur ke arahnya, meraih dagunya dan membuatnya kembali bertatap muka dengan pria itu. Kembali menerima senyum tulus pria itu.

"Aku akan sangat senang, kalau begitu."

.

to be continued...

..

.

Shorter than the last one. But hope you enjoy this. Thank you...