.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.

.

.

.

Whether Love Can Save You From Your Own Fate

.

Angin musim semi menyambut jejak mereka di tanah China, seperti sengaja memberi sedikit hawa tenang untuk mereka sebelum nantinya mereka harus kembali menempatkan diri di dalam keadaan dengan adrenalin yang mengikat kuat.

Di lobi terminal kedatangan, seorang supir taksi segera menghampiri mereka, mencari peruntungan, bertanya apakah mereka membutuhkan jasanya. Hinata baru akan membuka mulutnya untuk menjawab, namun kalah cepat dengan Ryuzaki yang berdiri tepat di sampingnya.

"Aku cukup lancar berbicara Mandarin," ungkap Ryuzaki kepada Hinata setelah menerima tawaran supir taksi tadi. "Ada banyak permainan kata di sini. Jangan senang saat mereka mengatakan kata piku. Itu bukan makanan ataupun hal biasa lainnya. Seorang agen dari Prancis salah paham dengan artinya dan berakhir dengan mempermalukan dirinya sendiri," jelas Ryuzaki antusias, seperti seorang bocah yang bersemangat menceritakan pengalaman liburan musim panasnya.

"Umm... L..." Hinata mencoba memotong, jelas sekali di matanya bahwa partnernya itu tak mengetahui bahwa Hinata juga menguasai bahasa yang dimaksudkan.

"Aku sangat bersemangat," lanjut Ryuzaki. "Aku pernah menjalani misi di sini tidak kurang dari tiga tahun. Dan anehnya, meskipun itu sebuah misi, aku merasa menemukan rumahku di sini."

Hinata tak menyela kali ini, dalam hati menanggapi cerita Ryuzaki. Ia tak heran, seseorang dengan kepribadian seperti Ryuzaki pasti akan sangat mudah diterima lingkungan sekitarnya.

"Aku masih cukup hafal seluk-beluk kota ini. Mungkin aku bisa membawa Hinata berkeliling. Percobaan kencan, mungkin?" ujarnya sekonyong-konyong.

Hinata masih belum benar-benar membalas, namun ia tak dapat menahan senyum gelinya akibat tingkah partnernya itu.

Di lain sisi, Hinata beberapa kali menangkap Izumi meliriknya dengan tatapan yang mencemooh. Hinata bahkan yakin gadis itu beberapa kali mengeluarkan dengusan yang sebenarnya dialamatkan untuknya dan Ryuzaki.

Izumi melirik mereka dengan pandangan yang begitu menilai. Seperti mengatakan kalau apapun kesempatan yang coba Hinata buka untuk Ryuzaki, tak akan pernah berhasil.

Hinata menemukan dirinya sendiri tengah membuat perbandingan. Percikan yang mengindikasikan emosi berlebih itu, percikan yang mengantarnya ke dalam situasi rumit yang disebut jatuh cinta. Hal itu tak ia rasakan di dalam pertemanannya dengan Ryuzaki. Sensasi yang pernah ia rasakan saat awal bersama Neji maupun Sasuke nyatanya belum ia rasakan sampai saat ini.

Tapi memangnya apa yang penting? Toh dua hubungannya yang lalu, yang selalu diawali dengan sensasi itu tak berakhir baik. Tragis bisa dibilang. Jadi pentingkah untuknya menarik percikan itu agar terlibat di dalam hubungannya dengan Ryuzaki? Hinata tak berpikir demikian.

Yang ia sadari, ia membutuhkan seseorang yang bersedia membuatnya bahagia. Yang dengan senang hati mengikis beban akibat masa lalunya. Hinata merasa ia tak mampu mencinta seperti sebelumnya. Ia sudah terlalu remuk untuk bisa mencintai orang lain sebesar ia mencintai Sasuke. Tapi setidaknya ia bisa mencoba membalas separuh dari afeksi yang Ryuzaki hujankan terhadapnya.

Untuk saat ini, Ryuzaki berarti penenang untuknya. Ryuzaki adalah seseorang yang ia butuhkan. Namun sayangnya belum menjadi seseorang yang ia inginkan.

Terdengar menyedihkan, tapi bukankah Hinata memang sudah terlalu menyedihkan untuk membuat pertimbangan?

"Jangan bercanda!" Antusiasme Izumi terhadap misi kali ini surut seketika mereka sampai di penginapan tempat mereka akan tinggal satu Minggu ke depan. "Kita akan benar-benar tinggal di tempat sampah ini?!" komentarnya pedas.

"Memangnya apa yang kau harapkan? Istana abad pertengahan seperti rumahmu?" Konan membalas dengan sindiran kental, kopernya ia geletakkan sembarang sebelum ia menghambur ke sofa.

"Memangnya agensi kalian semiskin ini? Setidaknya berikan tempat tinggal yang lebih layak, suite hotel misalnya," cetus Izumi dongkol, kedua tangannya terlipat di depan dada.

Hinata menggeleng dalam diam, namun enggan terlibat dengan perang mulut antara Konan dan Izumi. Ia mengikuti langkah Konan, mengambil tempat di bagian sofa yang lain.

"Oh, itu ide bagus," respons Konan dengan senyuman paksa yang tak bertahan lama. "Sayangnya keamanan di hotel akan menyulitkan kita untuk menyelundupkan persenjataan yang agensi kirimkan!" balasnya setelah mengganti raut wajahnya menjadi raut sengit.

Izumi mendengus, enggan mengalah. "Setidaknya berikan tempat yang lebih besar. Hanya ada dua kamar di sini, demi Tuhan!" tangannya menggeliat menunjuk-nunjuk dua pintu kamar di sana.

"Bukan masalah. Aku bisa pastikan Izumi tidak akan menjadi seseorang yang akan berakhir tidur di sofa." Ryuzaki menyela, dengan gayanya yang angin-anginan ia menepuk bahu Izumi yang seketika itu juga menghalaunya.

"Pokoknya aku mau kamarku sendiri!" tuntut Izumi

"Oh, tentu saja kau akan mendapatkan kamarmu sendiri," balas Konan dengan nada menyindir. "Lagipula siapa memangnya yang mau berbagi kamar dengan manusia sepertimu?"

"Oh, baguslah. Aku senang mendengarnya," timpal izumi.

"Kau—"

"Konan..." Hinata memotong ucapan Konan kemudian menariknya menuju salah satu kamar yang tersedia.

Hinata jenuh dan lelah, pertama karena tangan kanannya yang masih terasa kaku, kedua karena jetlag yang dialaminya. Dan jelas, cekcok tanpa ending Izumi dan Konan adalah hal terakhir yanag ingin ia saksikan saat ini.

"Sumpah, dia selalu berhasil membuatku naik pitam!" Konan melancarkan segala omelannya setelah mereka sudah berada di dalam kamar. "Aku jelas lebih tua darinya, tapi dia sama sekali tidak peduli. Oke, bukan aka mempermasalahkan hal itu, setidaknya perlihatkan sedikit hormat, demi Tuhan!"

"Kuharap kau masih bisa bertahan," komentar Hinata. "Setelah kita mendapatkan informasi berharga darinya, aku janji kita tidak akan terlibat dengannya lagi."

Konan menghela napas. Ia paham situasi mereka tentu saja, yang gagal ia pahami adalah sifat ajaib seorang Uchiha Izumi.

Hinata kembali ke ruang tengah untuk kemudian memutuskan bergabung bersama Ryuzaki duduk bersandar di sofa. Menyadari pergerakan di sampingnya, Ryuzaki membuka kelopak matanya yang semula terpejam dan menengok ke samping kanan.

"Hinata terlihat lelah," komentarnya pendek.

Hinata hanya menggumam untuk mengiyakan. Tak ada obrolan lanjutan, masing-masing diam, mencari kenyamanan dalam hening yang mereka buat.

Ryuzaki sama seperti biasa, tak banyak mengekspresikan dirinya. Namun semenjak Hinata memilih untuk memberikan pria itu kesempatan, ia dapat menemukan rasa nyaman dari setiap afeksi ringan yang Ryuzaki tunjukkan padanya. Hinata yang terlanjur membutuhkannya jelas menerima hal ittu.

"Hinata?" panggilan dari Ryuzaki menyadarkannya. "Sedang melamun, ya?" tanyanya.

Hinata berkedip dua kali sebelum menjawab. "Tidak," singkatnya, ia kemudian menghela napas. "Hanya... rasanya aku butuh membersihkan diri kemudian tidur."

"Ya, kurasa Hinata memang perlu istirahat. Hinata harus terlihat segar dan cantik besok saat bertemu dengan preman jalanan kita," canda Ryuzaki, tangannya mengibas ringan seolah tengah mengusir Hinata.

Hinata memutar bola mata. "Omong-omong, kau sudah tau di mana kita akan menemukan mereka?" tanyanya.

"Oh... aku akan segera mendapatkan informasinya. Aku sudah meminta bantuan kepada salah satu rekan di agensiku," jelas Ryuzaki seadanya.

"Apa dia bisa dipercaya?" Mata Hinata memicing.

"Hmmm..." Ryuzaki menampakkan raut berpikir untuk beberapa saat sebelum memamerkan senyum tipis. "Kurasa insting rasa percayaku jauh lebih baik ketimbang Hinata, jadi tidak usah khawatir," ujarnya blak-blakan. "Lagipula dia hanya akan mencari tahu tentang keberadaan tangan kanan kelompok itu."

"Baiklah..." Hinata mengangguk pelan. Ia kemudian berdiri, mengambil kopernya yang masih tergeletak di ruang tengah dan menyeretnya masuk ke kamar yang ia bagi bersama Konan.

Di dalam kamar, Konan duduk di tepi ranjang dengan tablet di tangannya.

"Aku dan L akann menemui tangan kanan Xianndaihua besok," ujar Hinata menginformasikan, kopernya ia letakkan di salah satu sudut kamar.

"Hm," respons Konan datar, kepalanya tak terangkat, matanya masih terfokus pada layar tablet.

Kening Hinata berkerut. "Kau baik-baik saja?" tanya Hinata hati-hati.

"Yahiko... dia akan ada di sana, bukan?" Konan menanyakannya dengan suara pelan yang terdengar tanpa jiwa.

"Sepertinya begitu," jawab Hinata, ia tahu pertanyaan Konan menjurus pada konferensi Akatsuki mendatang. "Konan..." Hinata menghela napas, dibukanya koper miliknya kemuudian ia mengambil satu set pakaian dari dalamnya. "Cobalah lupakan dia," lanjut Hinata hati-hati.

"Seperti kau yang melupakan Sasuke dengan mudahnya setelah semua rasa cinta yang kau tunjukkan kepadanya?" sergah Konan, agak tak dapat mengendalikan dirinnya.

Hinata terpaku untuk sesaat, ia memandang Konan yang kini menatap kosong layar tabletnya.

"Kau... kau selalu di sana," ujar Hinata, terdengar begitu berat. "Selama ini kau tahu sehancur apa aku dan bagaimana sulitnya aku melewai semua ini." Hati Hinata memberat, ia agak tak menyangka pembahasan ini akan muncul dari Konan.

Konan terlihat mengigit bibir, merasa bersalah. "Dengar, Hinata. Aku senang jika kau bahagia..." ucapnya, agak mengantung. "Tapi bahkan Izumi bisa melihat kalau kau hanya mennggunakan L untuk pelarian."

Rahang Hinata mengatup erat, emosi negatif mulai memenuhi dadanya. Rasanya ia ingin melemparkan benda di sekitarnya ke arah Konan, namun ia menahan diri, berusaha tenang.

Sekarang apa lagi? Sebelumnya, semua orang membenci kenyataan bahwa Hinata masih mencintai Sasuke bahkan setelah apa yang pria itu lakukan. Tapi sekarang, saat Hinata memutuskan untuk melupakannya dan melihat pria lain, orang-orang kembali berkomentar tentang perasaannya yang terlihat tak tulus.

Keparat! Persetan dengan semuanya!

Hinata merasa tak nyaman berada aatu ruangan dengan Konan seeelah konfrontasi tak masuk akal mereka. Jadilah malam itu, setelah selesai membersihkan dan menyegarkan dirinya, ia memilih duduk di sofa ruang tengah. Saat itu Ryuzaki sudah terlelap, berbaring di sofa panjang yang tersedia. Tak ingin menjadi gangguan, Hinata memilih sofa tunggal yang tersisa untuknya beristirahat. Hingga yang terakhir ia ingat, kesadarannya lenyap dibungkus awan mimpi meski ia sedang tak berada di posisi yang nyaman. Ia terlelap dengan posisi duduk bersandar di sofa.

Tapi pagi ini rasanya berbeda. Hinata dibangunkan oleh hujan sinar matahari pagi juga bisikan kecil Ryuzaki. Tubuhnya terbaring di sofa panjang yang seharusnya ditempati Ryuzaki. Mata Hinata mengerjap beberapa kali, semakin jelas pandangannnya, semakin ia dapat melihat sosok Ryuzaki yang kini tengah berjongkok tepat di hadapan wajahhnya, tengah tepat memandanginya.

Sadar Hinata sudah mennarik diri dari lelapnya, Ryuzaki, masih dengann posisi berjongkok, melambaikan tangan ringan di hadapan wajah Hinata. "Zhaoshang hao, Airen," sapa Ryuzaki di tambah beberapa rayuan ringan pagi hari dalam bahasa Mandarin kepada Hinata.

Masih dengan keadaan setengah sadar dan suara seraknya, Hinata terkekeh menanggapi.

"Bagaimanan bisa aku tertidur di sini?" tanya Hinata meski ia sudah tahu pasti kalau Ryuzaki yang memindahkannya, mungkin bertukar tempat dengannnya.

Bahu Ryuzaki mengedik. "Sepertinya semalam Santa datang. Dan sepertinya ia lebih menyayangi Hinata ketimbang aku sampai tega memindahkan aku dari tempat tidur nyamanku," jawab Ryuzaki separuh bergurau, membuat Hinata kembali terkekeh.

"Kalian menggelikan." Izumi yang baru keluar dari kamarnya tanpa sungkan berkomentar. Kepala Hinata sontak menengok ke arah gadis yang kini bergerak menuju dapur itu.

"Jangan hiraukan," ujar Ryuzaki kepada Hinata setelah Izumi tak lagi terlihat. "Ayo, Airen... sekarang lebih baik kita bergegas. Ada kelompok yang perlu kita temui." Ryuzaki mengingatkan Hinata sebelum akhirnya bangkit dari posisi jongkoknya.

Hinata ikut bangkit, telapak tangan kirinya mengusap wajahnya sendiri sebelum bergegas ke kamar mandi tanpa kata. Hingga tak sampai lima belas menit setelahnya, ia keluar kamar mandi dengan keadaan rapi dan siap untuk pergi.

"Izumi," panggil Ryuzaki, membuat Izumi berhenti di ambang pintu dapur dengan segelas air dingin di tangannya. "Jangan melangkah keluar dari sini saat kami pergi," tambahnya mengingatkan.

Izumi mendengus merendahkan. "Sasuke dan anak buahnya berkeliaran di daerah ini. Aku tidak berniat bunuh diri dengan berkeliaran di luar sana, kalau kau mau tahu!" sergahnya.

Pintu kamar lain terbuka, menampakkan Konan dengan piyama dan rambut birunya yang terihat berantakan. "Kalian sudah bersiap untuk pergi?" tanyanya setelah melihat penampilan kedua rekannya.

"Wow, piyama yang sangat manis," komentar Izumi sambil tertawa mengejek. "Seperti biasa."

Dengan wajah masam, Konan menghampiri Izumi. Direbutnya gelas berisi air dingin yang digenggam gadis itu sebelum ia siramkan isinya ke wajah Izumi, membuat baik Hinata maupun Ryuzaki mematung sejenak menyaksikannya.

"Wow, ekspresi yang sangat manis." Dengan senyum manis, Konan mengejek balik. Izumi yang kesal memilih langsung beranjak, masuk dan membanting pintu kamarnya.

"Aku rasa Konan sebaiknya ikut dengan kita," usul Ryuzaki, berbisik kepada Hinata. "Mereka mungkin akan saling membunuh satu sama lain jika kita tinggal berdua." Meskipun mengatakannya dengan nada bicara yang serius, nyatanya Ryuzaki tersenyum geli atas apa yang barusan dilihatnya, merasa terhibur.

"Kalau kulihat, suasana hati Konan sedang tidak baik pagi ini." Ryuzaki berkomentar di tengah perjalanan mereka menuju sebuah bengkel yang menurut informasi merupakan tempat di mana mereka dapat bertemu dengan salah satu mafia jalanan di sana. "Hinata tahu kenapa?" tanyannya langsung.

"Entah. Mungkin masih memikirkan tentang Yahiko," jawab Hinata dengan antusiasme rendah.

"Yahiko?"

"Umm, mereka... oh, maksudku Konan... dia semacam memiliki perasaan lebih terhadap Yahiko. Tapi Yahiko tidak menyadarinya. Atau mungkin bedebah itu sadar namun memilih pura-pura tidak mengetahuinya," tebak Hinata kemudian mengedikan bahunya, menegaskan bahwa apapun itu, bukanlah menjadi urusannya.

"Astaga... pantas saja Konan dan Izumi tidak bisa akur," cetus Ryuzaki geli.

Hinata memilih untuk tak memperpanjang bahasan itu dengan tak menjawab lebih lanjut.

"Umm... Hinata?" Ryuzaki kembali mencoba mengisi waktu dengan memulai percakapan.

Hinata hanya bergumam sambil menengok ke arah pria itu sebagai sahutannya.

"Apa Hinata... merasa... uh, merasa tidak nyaman setiap aku... mendekati Hinata?" tanya Ryuzaki, wajah dan pandangannya lurus ke depan.

"Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu," jawab Hinata dengan kening berkerut.

"Tidak tahu," Ryuzaki mengedikan bahu. "Hanya saja... aku tahu Hinata belum menyukaiku seperti aku menyukai Hinata. Aku juga belum berpengalaman dengan hal semacam ini. Jadi kurasa kita perlu... menjalaninya pelan-pelan?" lanjut Ryuzaki, tak yakin telah memilih kata yang tepat untuk ia ucapkan. "Aku tidak ingin semua ini malah membuat Hinata merasa aku terlalu menuntut dan membuat Hinata tidak nyaman."

Hinata tak merespons secara verbal, ia hanya melirik pria itu dalam diam. Sejujurnya, ia sungguh bersyukur dengan sifat Ryuzaki. Pria itu tak pernnah memaksakan apapun terhadapnya dan selalu bersikap seperti biasa di hadapannya. Semuanya dibiarkan mengalir. Seperti Ryuzaki tak terbebani dengan perasaanya terhadap Hinata dan selalu memastikan agar Hinata juga tak membebani diri dengan hal itu.

Keduanya membiarkan hiruk-pikuk sekitar menengahi diam yang mereka bawa sampai tibalah mereka di depan bengkel yang mereka tuju yang lebih terlihat seperti gudang. Kedatangan mereka seketika disambut oleh seorang pria yang jelas tak terlihat seperti seorang montir.

"Zhao." Satu nama adalah segala yang dibutuhkan Ryuzaki untuk menyampaikan maksudnya kepada pria itu.

Pria itu mengangguk kemudian berjalan meniti tangga sederhana yang menghubungkan area garasi bengkel dengan lantai dua bangunan tersebut. Hinata dan Ryuzaki menunggu di tempat semula, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap mereka dengan sorot menyelidik.

"Zhao ini... dia tangan kanannya?" Hinaata bertanya dengan suara rendah dan ekspresi tak terbaca, tak menginginkan menarik perhatian lebih dari yang kini sudah mereka terima.

"Yap."

Perhatian mereka teralihkan saat sekelompok pria berjumlah lima orang turun dari tangga yang sama. Salah satu pria di golongan itu bergerak maju hingga jaraknya mungkin hanya tiga langkah dari Ryuzaki, sedang empat orang lainnya bertahan di belakang pria itu.

"Apa yang kau inginkan?" tanyanya dalam bahasa Mandarin.

"Zhao?" Ryuzaki bertanya balik, hendak mengkonfirmasi.

"Itu aku."

Ryuzaki mengangguk pelan, mencoba memberi kesan ramah meski dengan wajah datarnya. "Rasanya aku perlu sedikit berdiskusi dengan Zhao."

Zhao—pria tadi—memicing meneliti sosok Ryuzaki kemudian Hinata. "Siapa kau?"

"Bisa kita mencari tempat yang lebih nyaman? Tidak etis rasanya berbicara seperti ini," tawar Ryuzaki.

Tatapan Zhao kembai meneliti untuk beberapa saat sebelum ia memutuskan untuk menganggukkan kepalanya. Ryuzaki dan Hinata dipersilakan masuk ke sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat satu set sofa dengan warna hitam yang memudar.

Ryuzaki memulai obrolan dengan mengatakan identitas—yang tentu saja palsu—mereka. Mengatakan bahwa mereka adalah suruhan salah satu kelompok serupa sambil menunjukkan bukti—yang juga palsu—untuk meyakinkan target mereka . Dan beberapa saat ketika Ryuzaki mulai menjelaskan tentang Akatsuki, Zhao memotongnya, mengatakan hawa ia sudah mengetahui perihal kelompok radikal tersebut. Mereka juga membahas perihal konferensi tertutup mendatang yang Akatsuki adakan.

"Kalian mengetahuinya, dan harusnya kalian sadar mereka tidak akan berhenti sampai di sini." Ryuzaki memprovokasi, memanfaatkan situasi karena dari apa yang Zhao katakan, Xiandaihua juga tak menyukai paham dan perkembangan Akatsuki. "Cepat atau lambat mereka akan menjadikan kita target selanjutnya untuk disingkirkan."

"Aku akan coba menyampaikannya kepada Bos. Dia jelas tidak menyukai Akatsuki," ucap Zhao ringan. "Tapi untuk bergabung dengan kelompok lain... itu juga bukan salah satu hal yang disukainya."

"Hal semacam itu bisa dinegosiasikan nanti," sela Hinata. "Untuk sekarang, penting bagi para pemimpin kelompok untuk berrtemu dan mendiskusikannya."

"Akan aku usahakan. Jika Bos setuju, aku akan memberitahukan kalian, kami juga akan mengurus sisanya." Zhao bangkit dari sofa.

"Bisa kami tunggu jawabannya sampai nanti malam?" tanya Ryuzaki sambil mengikuti gerik Zhao, mengubah posisi duduknya menjadi berdiri .

"Tentu."

"Jadi bagaimana dengan kelompok lainnya?" Hinata bertanya kepada Ryuzaki saat mereka berjalan hendak keluar dari bengkel tersebut.

"Seperti yang dikatakan Zhao tadi, jika bos mereka setuju, mereka sendiri yang akan mengatur pertemuan dengan yang lainnya," jelas Ryuzaki ringkas. "Tapi jika tidak, kita harus bergerak cepat untuk menjangkau yang lainnya."

Ryuzaki baru saja akan menjabat tangan pria yang sebelumnya mempertemukan mereka dengan Zhao saat sebuah suara yang tak terdengar familier merambat cepat melalui udara, menyapa mereka.

"Sepertinya kita kedatangan tamu, huh?" ungkap suara itu dengan nada mengejek yang juga terdengar geram.

Hinata yang pertama dikuasai refleksnya untuk menengok ke arah sumber suara. Didapatinya seorang pria berjalan santai menuju tempat mereka berdiri, air mukanya datar tak menampakkan ketertarikan ataupun antusiasme sama sekali.

Hinata berkedip beberapa kali saat menyadari sesuatu. Sesuatu yang Hinata anggap membuat pria yang tengah melangkah dengan rokok di sela bibirnya itu terlihat familier. Pria itu terlihat memiliki kemiripan dengan seseorang... seperti Izumi? Atau bahkan Sasuke?

Hinata baru berhenti mencoba mengingat-ngingat saat ia merasakan Ryuzaki mencengkeram lengannya, menariknya agar lebih dekat.

"Sial."

Hinata mendengar Ryuzaki mendesis malas, namun penuh antisipasi.

"Itachi," lanjut Ryuzaki.

Hinata yang awalnya mendongak ke arah Ryuzaki memalingkan wajahnya, masih dengan ekspresi bingung, kini menatap pria yang menyapa mereka.

"Coba tebak siapa yang datang berkunjung," ujar pria yang Ryuzaki sebut bernama Itachi itu.

Beberapa orang seketika mengelilingi Ryuzaki dan Hinata. Sedangkan Zhao segera bergerak menuju Itachi dan menjelaskan apa yang membuat Hinata dan Ryuzaki berada di sana.

"Dan kau percaya dengan yang mereka katakan?" tuntut Itachi dengan kening berkerut tak suka setelah tangan kanannya itu selesai menjelaskan.

Melihat interaksi singkat itu cukup membuat yakin bahwa Itachi adalah pemimpin Xiandaihua. Ini cukup janggal bagi Hinata karena dari namanya saja, Itachi tak terdengar seperti nama lokal di China.

"Apa kabar, L?" sapa Itachi kembali, kali ini khusus ditujukan kepada Ryuzaki. "Lama tidak berjumpa. Kalau kuingat lagi... sudah sekitar empat tahun sejak kau menembakku, bukan?"

Ryuzaki berusaha mengatur ekspresinya agar tetap tak terlihat terpengaruh. "Kali ini aku tidak berniat berurusan dengan Itachi. Aku mencari bos mereka. yang tidak aku tahu, ternyata... Itachi adalah bosnya."

"Dimaklumi. Aku memang belum lama naik pangkat," jawan Itachi di tengah seringainya.

Itachi semakin mendekati Ryuzaki, memutarinya sejenak sebelum berhenti tepat di sisinya. Di sisi lain, Zhao membisikkan sesuatu kepada seorang anak buahnya dan tak lama setelahnya, semakin banyak orang yang mengelilingi mereka.

"Aku cukup terkesan kau mengingatku, L," tambah Itachi, tangannya ia lingkarkan di bahu Ryuzaki.

"Aku punya ingatan yang cukup bagus," balas Ryuzaki, tangannya yang mengengam tangan Hinata semakin mengerat sembari mencoba melepaskan rangkulan Itachi. "Malah aku yang seharusnya terkejut kalau Itachi ternyata masih begitu mengingat aku."

Sinar di mata Itachi mengelap. "Kau membunuh ibuku dan juga hampir membunuhku," geramnya. "Kau pikir aku akan melupakanmu begitu saja?!"

Hinata hanya berdiam diri, mencoba mengikuti obrolan mencekam mereka meskipun pada akhirnya ia tak bisa memahami apapun.

"Aku hanya menjalankan tugasku," ucap Ryuzaki ringan.

"Oh, tentu..." gumam Itachi, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan beberapa langkah menjauh. "Kalau begitu... sekarang biar aku yang melakukan tugasku."

"Dalam hitungan ke tiga, kita lari." Ryuzaki berbisik dengan hati-hati kepada Hinata saat Itachi masih memungungi mereka.

"Huhh?" respons Hinata, pikirannya masih berkabut kebingungan.

"Satu..." Ryuzaki memulai tanpa memberi pencerahan kepada Hinata, tangannya masih menggenggam erat wanita itu. "... tiga! Lari!" Langsung ditariknya Hinata untuk kabur.

"Kau tidak bilang dua!" protes Hinata, namun tetap membiarkan dirinya ditarik oleh Ryuzaki.

"Aku perlu mengecoh mereka!" jawab Ryuzaki masih berlari menyusuri gang setelah keluar dari bengkel tersebut.

Hinata menengokkan kepalanya ke belakang. Itachi dan anak buahnya masih mengejar mereka dengan kecepatan yang sama bahkan saat mereka sudah memasuki daerah yang ramai lalu lalang.

"Siapa dia sebenarnya?" tanya Hinata tanpa menurunkan kecepatannya.

Ryuzaki menarik Hinata lagi untuk berbelok menuju persimpangan yang terlihat sibuk. "Musuh yang aku buat beberapa tahun lalu," jawab Ryuzaki singkat.

Hinata menerima jawaban itu, menyadari saat itu bukanlah situasi yang tepat untuknya menuntut detail apapun. Mereka terus berlari bersama sampai beberapa menit selanjutnya.

"Ini buruk! Kita harus berpencar!" usul Hinata.

Tanpa menunggu respons Ryuzaki terlebih dahulu, Hinata melepaskan genggaman pria itu di lengannya kemudian berlari ke arah yang berbeda.

"Hinata!" panggil Ryuzaki yang kemudian Hinata abaikan.

Dengan gesit ia melalui para pelajan kaki. Cukup merepotkan memang berlari di tengah hiruk-pikuk seperti ini, namun positifnya, hal ini juga dapat memperlambat orang-orang yang mengejarnya.

Hinata tahu keadaan mulai memburuk sejak napasnya mulai tersengal menuntut oksigen yang memadai, terlebih saat sesuatu menyandung kakinya hingga terjatuh di tengah gang yang cukup panjang. Menyadari jaraknya yang semakin pendek, tanpa pikir panjang Hinata berdiri, ia melayangkan satu tendangan memutar ke salah satu anak buah Itachi yang paling dekat dengan jangkauannya sebelum kembali berlari.

Terik matahari yang menyengat sama sekali tak mempermudah keadaan. Ia tak tahu lagi sejauh mana lagi ia bisa berlari sampai tenaganya habis nanti. Ia hanya berharap agar segera keluar dari jalan sempit ini dan kembali membaur di keramaian.

Hinata kembali menengok hanya untuk mendapati jarak mereka tak selebar sebelumnya. Dan saat ia kembali berbalik, langkahnya dipaksa berhenti saat ia menabrak sesuatu. Oh... seseorang.

Setengah sadar dan masih dalam keadaan terengah-engah, Hinata merasakan sebuah lengan melingkari pinggangnya. Lewat sudut matanya, Hinata dapat melihat sekelompok orang yang ia yakin jumlahnya tak kalah banyak dengan kelompok yang megejarnya, berdiri di depannya, menghadapi anak buah Itachi yang entah kenapa juga berhenti mengejarnya.

Saat dirasa sudah cukup menguasai dirinya kembali, Hinata mencoba menarik diri dari seseorang yang melingkarkan lengan di pinggangnya. Kepalanya ia dongakkan untuk melihat sosok itu. Iris lavendernya terlihat jelas saat matanya membelalak kaget, jantungnya yang sudah mulai masuk ke ritme detakan normal terasa berhenti.

Sasuke berada di sana. Menahannya agar tetap dekat.

Tatapan pria itu lurus menusuk kelompok anak buah Itachi. Hinata sendiri merasa gila saat dirinya terjebak di dalam situasi ini. Ia terdiam tak dapat memberikan reaksi apapun. Jadilah Hinata hanya menatap secara bergantian antara Sasuke dan sekelompok orang yang sebelumnya mengejarnya itu.

Anak-anak buah Itachi yang terlihat akan mundur berhenti saat Itachi muncul, membelah barisan mereka sehingga ia berdiri di barisan paling depan. Untuk beberapa saat, baik Sasuke maupun Itachi mematung, seperti sama-sama tak mengira akan pertemuan mereka kali ini.

Selanjutya, berbeda dengan ekspresi keras Sasuke, Itachi mengubah ekspresinya hingga terlihat lebih santai, seringai tajam ia lemparkan kepada Sasuke.

"Lama tidak berjumpa... adikku." Itachi memulai.

"Aku bukan adikmu, Keparat," umpat Sasuke tanpa repot-repot menyembunyikan ketidaksukaannya.

.

to be continued...

..

.

*Zhaoshang hao: Selamat pagi
*Airen: Sweetheart

Ummm... aku nggak punya pembelaan karena udah PHP-in readers (sebenernya aku ngak ngerada PHP sih *whaakkss :v)

Chapter pendek, tapi aku emang lagi susah ngetik belakangan ini, jadi aku publish aja daripada nunggu lebih lama lagi.