.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.
.
.
.
It Takes Two to Tango.
.
"Aku bukan adikmu, Keparat."
Segalanya lebih dari sekedar mengejutkan, dirasa luar akal malah oleh Hinata. Pertama dan yang paling utama, bagaimana bisa di negara dengan jumlah penduduk tertinggi di dunia ini, Hinata harus berpapasan dengan Sasuke? Terlebih pada momen ia tengah dalam kejaran orang-orang jahat.
Mungkinkah Sasuke menguntitnya lagi? Tapi kali ini sepertinya tidak, jika melihat pria itu dikelilingi para pengawalnya, terlebih Hinata yakin ia sempat melihat raut kejut muncul sejenak di wajah pria itu saat mereka bertatap muka. Bisa jadi Sasuke ada di sana untuk alasan tertentu. Kemungkinan itu cukup besar mengingat informasi dari Ryuzaki yang mengatakan bahwa distrik tersebut memiliki rekor aktivitas 'gelap' yang tinggi.
Tanpa sadar Hinata membiarkan emosinya mengalir dengan begitu rumitnya, dan itu mungkin atas alasan tentang bagaimana saat itu lengan Sasuke menahannya dengan begitu protektif. Di sisi lain, jantungnya berdetak semakin liar menyadari begitu dekatnya mereka.
Bagaimana seseorang bisa begitu merasa terikat seperti ini kepada orang lain bahkan setelah semua perbuatan di luar akal yang telah orang itu perbuat? Hinata tak pernah tahu jawabannya. Sekarang ia bahkan tak yakin apakah saat ini ia tengah merasa bersyukur atau mengutuk takdir gilanya hari ini.
Selanjutnya Itachi. Adik. Oh, baiklah... sepertinya Hinata perlu bersiap untuk kegilaan lainnya.
"Oh tentu, tentu saja bukan," decih Itachi sarkastis. Pria itu masih terlihat mengatur napas dengan gerakan yang tenang dan teratur. "Jadi... apa Izumi juga di sini?"
"Dia bukan urusanmu. Baginya kau sudah mati," ujar Sasuke dengan suara datar yang rendah. "Dan kupikir memang sebaiknya begitu. Dengan begitu setidaknya dia masih punya sedikit hormat terhadapmu."
Itachi terkekeh. "Bagaimana, Sasuke? Apa kau pikir dia akan senang jika aku muncul di kongres kalian?"
Hinata menyadari rahang Sasuke mengeras. "Jika kau melukai Izumi, aku janjikan bahwa setiap bagian tubuhmu yang menyentuhnya akan hancur."
Oh, Hinata merasa ragu apakah ia jelas mendengarnya. Tapi sungguh, apa yang tadi bicara itu benar-benar Sasuke?
"Dia adikku. Bukan adikmu, Sasuke," desis Itachi penuh penekanan.
Sasuke terlihat mengabaikan pernyataan itu, lebih memilih memberikan atensinya kepada Hinata kini. "Kau baik-baik saja?" ucapnya seperti bisikan dan Hinata butuh beberapa detik lamanya sebelum dapat memberikan anggukan kecil. Sasuke melepaskan Hinata dari rengkuhannya kemudian mengambil satu langkah ke depan. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya kepada Itachi.
"Kau berada di area kekuasaanku, Sasuke."
"Aku tidak peduli. Aku akan menendang bokongmu di manapun aku mau," balas Sasuke enteng.
Itachi menyuarakan tawa mengejek. "Kamu masih sama bajingannya seperti dulu, huh?"
"Oh, lihat siapa yang bicara?" Sasuke menyeringai tajam. "Jika ada bajingan di antara kita berdua, jelas itu kau, Itachi."
Itachi berdecih. "Aku tidak perlu membicarakan apapun denganmu. Aku hanya butuh dia." Itachi memecah basa-basi keduanya, dagunya menunjuk Hinata yang berdiri di belakang Sasuke.
"Oh... baiklah." Sasuke melipat tangan di dada. "Kau boleh membawanya kalau dia bersedia."
"Berhenti bertingkah seolah kau bisa memerintahku, Sasuke. Aku bukan bawahanmu, atau perlu kuterangkan bahwa kau tidak membawahi siapapun," geramnya tertahan.
"Oh... kau belum dengar, ya?" Kali ini Sasuke yang mendecih dengan nada cemooh, dengan santai ia masukkan kedua tangannya di saku celana. "Maaf mengganggu kesenanganmu, tapi perlu kuberitahu kalau ayahmu sudah mati."
Ekspresi Itachi mengeras hanya dalam satu kedipan mata yang kemudian kembali digantikan oleh raut datarnya. "Apa?" tuntutnya rendah.
"Yeah, aku membunuhnya." Sasuke mengatakannya dengan begitu santai, seperti mengangkat bahasan bahwa ia baru saja meminjam pemotong rumput tadi pagi. "Dan karena kau sudah benar-benar memutuskan kontak dengan Akatsuki, biar kuberitahu hal lain. Aku yang memimpin sekarang. Dan kau, kau yang bahkan tidak memiliki separuh kemampuan ayahmu, tidak akan memiliki kesempatan untuk menghadapiku." Sasuke masih mengatakannya dengan begitu santai, namun ancaman kental di setiap kata yang ia ucapkan. "Jadi, kau lebih baik dengarkan nasihatku, pergilah dari hadapanku. Kau punya masalah yang harus kau urus, begitu juga aku. Pura-pura saja tidak menemuiku."
Itachi menyeringai kemudian mengeluarkan kekehan rendah yang membuat bulu kuduk Hinata meremang. Sungguh, siapa yang bisa tertawa setelah menerima kabar bahwa ayahmu telah dibunuh?!
"Kenapa kau mengatakannya? Kau pikir aku peduli dengan bedebah yang kupanggil ayah itu?" Itachi meremehkan. "Dengar, Sasuke..." Nada bicaranya kembali berubah menjadi lebih terdengar rasional, siap untuk bernegosiasi dengan lawan bicaranya. "Aku tidak di sini untuk menghalangimu atau ikut campur dengan urusanmu. Aku hanya butuh dia," ujarnya, secara terang-terangan menunjuk Hinata. "Dia bersama pria yang membunuh ibu kita."
Mata Hinata melebar, apa tadi katanya? Membunuh ibu mereka? Ryuzaki? Tunggu dulu, Hinata perlu meruntutnya. Itachi adalah kakak kandung Izumi juga kakak tiri Sasuke. Mereka lahir dari satu wanita yang sama.
Tapi bukankah sebelumnya Fugaku berkata bahwa Hiashi lah yang membunuh istri dan anak lelakinya? Sekarang mereka menuduh Ryuzaki, ditambah Itachi yang ternyata masih hidup. Ah, rasanya Hinata ingin pecah memikirkan ke mana kalkulasi ini akan berujung.
Sasuke melirik Hinata yang terlihat tengah tenggelam dalam benaknya sendiri, hanya sesaat sebelum kembali berhadapan dengan Itachi.
"Jangan bicara seolah-olah kau peduli kepada ibu, Itachi. Kau tidak peduli, itulah mengapa kau lari dari Akatsuki," ujar Sasuke. "Lanjutkan saja pelarianmu, teruslah bersembunyi. Kau ahlinya di bidang itu." Sebuah seringai tajam yang merendahkan terlempar sebelum Sasuke berbalik hendak kembali menuju tempat di mana Hinata berdiri.
Di tengah semua ini, Hinata masih memikirkan nasib Ryuzaki. Berharap semoga pria itu dapat kabur.
"Kenapa kau begitu kukuh menahannya?" Suara Itachi menghentikan langkah santai Sasuke. "Kau terlihat begitu melindunginya. Apa pandanganku salah?"
Sasuke hanya sedikit menyerongkan tubuhnya. Tak sampai membuat mereka kembali berhadapan tapi cukup untuk saling menyatukan kontak mata.
"Kau tidak salah," jawabnya, tak ada keraguan pada suaranya. "Dan kalau kau mau tahu, aku membunuh ayahmu karena dia berani menyentuhnya."
Ada kilatan kejut di netra Itachi meski hanya sesaat. "Kalau begitu kau seharusnya tahu jika tujuannya kemari adalah untuk mengacaukan konferensi yang akan kalian adakan di sini," cetus Itachi.
Ekspresi wajah Sasuke mengeras seketika, namun ia berusaha menahannya agar tak terlalu terlihat. Matanya melirik Hinata tajam sedang rahangnya mengeras menahan diri. "Aku bisa mengatasinya," ucapnya, lebih seperti gumaman tanpa arah. Lalu dengan cepat, dicengkeramnya lengan Hinata sebelum menyeret wanita itu menjauh dari tempat mereka semula.
"Kau bedebah keparat, Sasuke!" Itachi menggeram lantang saat Sasuke menjauh, para pengawal yang sejak awal mengikutinya berjejer melintang, menghalangi kemungkinan Itachi maupun anak buahnya mengejar. "Ini belum selesai!"
Sasuke berhenti sejenak, sedikit menengokkan kepalanya. "Aku tidak punya waktu untuk membicarakan tentang masalah keluarga denganmu, Itachi. Jadi... sampai jumpa di kehidupan lain," tutupnya kemudian kembali berjalan, masih dengan menarik Hinata untuk tetap mengikutinya.
"Sa-Sasuke," gumam Hinata terengah-engah, kesulitan menyamai langkah kaki Sasuke yang terlalu lebar dan terburu-buru.
"Diam!" sela Sasuke tanpa menghentikan langkahnya.
Mereka baru berhenti saat mereka sudah berada di trotoar jalan tempat mobil yang Sasuke kendarai terparkir. Sasuke membalik tubuhnya tanpa melepas cengkeramannya di lengan Hinata, membuat mereka berhadapan dalam jarak yang cukup sempit.
"Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkanku, Hinata?!" desisnya tajam, tak menghiraukan salah satu anak buahnya yang sudah membukakan pintu mobil untuknya. Fokusnya kini sepenuhnya kepada Hinata.
"Siapa dia? Kakak dari Izumi?" cetus Hinata, tak menghiraukan pertanyaan geram Sasuke sebelumnya. "Kenapa dia bukan bagian dari Akatsuki?" tambahnya lagi.
Kini kedua tangan Sasuke berpindah, mencengkeram erat kedua pergelangan tangan Hinata. Ditambah langkahnya yang membuat dada keduanya nyaris bersentuhan.
Sasuke menunduk untuk menangkap sorot mata Hinata, menyambungkan dengan miliknya, geraman rendah terdengar begitu mengancam dari pria itu. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Hinata menjilat bibir bawahnya, mencoba untuk tak memalingkan wajah. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya balik.
Sasuke mengembuskan napas gusar. "Kau lihat gedung itu?" Ditunjuknya salah satu bagunan tertinggi di area itu yang mungkin jaraknya tak lebih dari lima kilometer dari tempat mereka berdiri. "Kebetulan sekali aku menginap di sana," lanjutnya dengan nada sarkastis.
Untuk sesaat, tak ada yang buka suara. Masing-masing membiarkan ramai lalu-lalang sekitar untuk melewati celah-celah ketegangan di antara keduanya.
"Demi Tuhan, Hinata! Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukan dengan benar!" Cengkeraman Sasuke semakin kencang dirasakan Hinata. "Kau ingin menghancurkanku? Membunuhku? Lakukanlah! Tapi berhentilah melibatkan dirimu ke dalam masalah-masalah yang tidak perlu! Bagaimana bisa kau bertemu dengan Itachi, hah?!"
"Percayalah, Sasuke... aku juga ingin tahu kenapa," jawab Hinata. "Mana aku tahu kalau dia memiliki hubungan keluarga denganmu. Mana aku tahu kalau kau ternyata memiliki relasi darah di setiap sudut dunia ini!"
Sasuke kembali menggeram gusar, namun memutuskan untuk tak merespons Hinata. "Masuk!" Alih-alih, pria itu memerintah Hinata untuk masuk ke mobilnya.
"Tidak!" Hinata menahan tubuhnya dari tarikan tangan Sasuke. "Katakan padaku, Sasuke. Malam itu... malam itu saat ayah Izumi menangkapku, dia mengatakan bahwa ayahku membunuh istri dan putranya. Lalu siapa Itachi ini? Kenapa dia mengatakan kalau L adalah pembunuh ibu kalian?" Hinata memberondong Sasuke dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengusutkan pikirannya. "Katakan, Sasuke... ayahku tidak membunuh ibumu, bukan? Itulah mengapa kau tidak pernah memiliki dendam serius terhadapku? Karena kalian berdua, kau dan Itachi, tahu yang sebenarnya. Kalian tahu kalau L adalah orang yang terlibat dalam masalah ini. Benar, bukan?"
"Dia ada di bawah komando ayahmu, jadi tangannya juga berlumur darah," jawab Sasuke datar setelah menunggu beberapa detik. "Tapi aku tidak peduli soal itu, aku tidak peduli soal ibuku. Dia sama buruknya dengan yang lain."
Hinata menghela napas kemudian menggigit pelan bibir bawahnya. Bola matanya bergerak memerhatikan area di sekelilingnya sekilas. Beberapa pejalan kaki melirik ke arah mereka, mungkin karena perdebatan pendek mereka tadi. Namun Hinata memutuskan untuk tak beranjak. Mereka memang lebih baik berada di tempat umum seperti ini, karena dengan begitu, akan rendah kemungkinan Sasuke untuk melukainya.
"Apa lagi sekarang?" tanya Hinata lelah. "Apa kali ini kau berniat mematahkan lenganku lagi untuk menghentikanku?"
Sasuke masih menatap lekat wanita di hadapannya. "Kakashi mengatakan padaku kalau kau pergi ke China untuk kasus penyelundupan narkoba," ujarnya datar.
Seketika itu pula Hinata mengumpat dalam hati, mengutuki sang ayah yang kelihatannya tak bisa berhenti menyuplai informasi kepada Kakashi.
"Dan sekarang aku tahu, bukannya melakukan tugasmu, nyatanya kau berkeliaran di sini, mengumpulkan tikus-tikus jalanan untuk mengacaukan acaraku," tambah Sasuke. "Hmm... mungkin lebih baik kali ini kupatahkan juga kakimu. Bagaimana kedengarannya?" tanyanya jauh lebih santai.
"Lakukan saja," dengus Hinata. "Kau selalu membual, mengatakan kepadaku untuk menghadapimu secara langsung. Tapi kau sendiri yang selalu membuang kesempatan itu. Kau pikir kau akan menang dengan terus melukaiku? Tidak, Sasuke... malah kau terlihat seperti menghindar untuk melawanku."
Sasuke menggertakkan giginya. "Yang benar adalah bahwa aku tidak ingin melawanmu karena aku akan tahu kau akan kalah, Hinata." Dilepaskannya cengkeraman pada pergelangan tangan Hinata kemudian mundur satu langkah. "Sekarang terserah padamu, aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan. Larilah, mintalah bantuan dari berandal jalanan macam Itachi. Carilah lebih banyak masalah."
"Itachi kelihatannya tidak begitu menyukaimu," gumam Hinata menyela. "Dan tadi kau cukup pintar melemparkan provokasi dengan mengatakan kalau kau telah membunuh ayahnya. Aku pikir dia akan dengan senang hati menerima tawaranku untuk menghancurkanmu," tambah Hinata, memprovokasi pria di hadapannya.
Sasuke mengeluarkan kekehan mengejek. "Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu, Hinata. Lakukanlah, kau tengah membunuh dirimu sendiri. Kali ini aku berhenti menjadi penyelamatmu," ujarnya di sela kekehan itu. Selang beberapa saat, air wajah Sasuke berubah, menampakkan emosi yang sebenarnya. "Kau ingin bekerja sama dengannya? Silakan! Lakukan apa yang kau bisa! Aku tidak akan menghentikanmu. Aku tidak peduli!"ucapnya keras, nyaris berteriak.
Hinata menahan diri untuk tak mengambil langkah mundur. Sudah lama sekali, entah kapan terakhir kali Hinata melihat Sasuke meledak-ledak seperti ini. Pria itu terlihat marah untuk suatu alasan yang tak Hinata sadari dan Hinata sendiri terlalu terpaku untuk membalasnya.
Dan tanpa mengatakan apapun lagi, Sasuke masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan Hinata berdiri masih di tempat yang sama.
..
...
..
Hinata mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya tak sabaran di lantai elevator yang akan membawanya ke lantai di mana apartemen sewaan mereka berada. Dalam hati ia mengumpat, menyesali dirinya yang tidak bergegas memasang kartu SIM lokal pada ponselnya sehingga kini ia tak bisa menjangkau rekan-rekannya. Tiba di lantai yang dituju, Hinata segera mengambil langkah cepat menuju pintu apartemen mereka, berharap Ryuzaki berhasil lolos dan sudah kembali.
Keterkejutan menerkamnya seketika saat ia membuka pintu dan menemukan Ryuzaki mendesak Izumi di dinding ruang tengah dengan satu tangan mengurung leher gadis itu, berusaha mencekiknya.
"L!" seru Hinata, sontak ia bergerak untuk memisahkan keduanya.
Izumi refleks mengambil napas panjang saat tangan Ryuzaki terlepas dari lehernya. Ia memandang pria itu dengan tatapan sengit. "Apa maksudmu?!"
"Kau ada hubungannya dengan Itachi, bukan?! Aku sudah menduga hal ini!" tunjuk Ryuzaki geram. "Kau bilang kakak dan ibumu terbunuh!"
Ryuzaki murka. Pria itu tak peduli dengan keadaan Izumi yang masih berlutut memegangi lehernya dengan napas terengah. Dan itu adalah kali pertama Hinata melihat sisi lain pria itu.
"Itachi adalah kakakku!" Izumi berusaha menjawab lantang. "Dia sudah mati, aku tidak berbohong!"
"Oh, sungguh?" Ryuzaki membalas dengan nada meremehkan, ia lagi-lagi bergerak maju untuk menyerang Izumi namun kembali terhenti karena Hinata yang menahannya.
"Dia mengatakan yang sebenarnya, L," sela Hinata, kedua tangannya mencengkeram lengan atas pria itu, mencoba mengalihkan Ryuzaki dari amarah yang melingkupi akalnya.
"Apa?"
Belum Hinata menjawab, pintu kembali terbuka dan memunculkan Konan dengan tangan penuh kantong belanjaan.
"Apa yang terjadi?" serunya spontan melihat situasi ruang tengah mereka kini. Refleks ia meletakkan asal belanjaannya di lantai sebelum menghampiri Izumi, ikut berlutut untuk memastikan keadaannya. "Apa yang terjadi?" tanyanya kepada semua kepala yang hadir di ruangan itu.
"Jika kau belum menyadarinya, kuberitahu kalau Itachi adalah bagian dari Akatsuki!" tudingnya keras kepada Hinata, dan Hinata menyadari ada perbedaan pada diri Ryuzaki yang sekarang bahkan hanya dengan memerhatikan caranya berbicara.
"Tidak. Dia bukan bagian dari mereka," balas Hinata sama persistennya. "Tenangkan dirimu, L!" tambah Hinata, tangannya masih menahan pria itu sedang di sisi lain, Konan berusaha membantu Izumi, menuntunnya ke dalam salah satu kamar.
"Apa maksudmu tidak? Tidakkah kau lihat tadi?! Bocah Izumi itu berbohong, dia menjebak kita! Dia mengarahkan kita kepada kelompok milik Itachi untuk membuat kita tertangkap!"
"Tolong dengarkan aku dulu," pinta Hinata dengan nada dan tatapan yang melembut.
Ryuzaki menghembuskan napas dengan kasar, ia memutus kontak matanya dengan Hinata namun tetap menurutinya. Setelah Hinata merasa tubuh Ryuzaki sedikit lebih rileks dari sebelumnya, tangannya naik menangkup wajah pria itu, menuntut fokusnya sejenak.
"Dengar, L..." buka Hinata. "Aku tidak yakin kalau Izumi tahu kakak kandungnya masih hidup."
Bibir Ryuzaki bergerak, mendak menyuarakan sesuatu namun Hinata menyela sebelum satu huruf pun dapat ia ucapkan.
"Tidak! Jangan menyelaku! Sungguh, aku mengatakan yang sebenarnya," ujar Hinata sebelum menghela napas. "Aku... aku pernah bertemu dengan ayah mereka sekali. Dan baik ayahnya maupun Izumi sama-sama berpikir kalau Itachi sudah mati. Ini bukan salah Izumi, L. Sekarang kita tahu soal Itachi yang ternyata masih hidup, dan dia bukan bagian dari Akatsuki. Aku yakin, percayalah padaku."
"Tapi saat itu dia bagian dari mereka."
Kali ini tatapan Hinata berubah menjadi tatapan menyelidik. "Kenapa kau bisa seyakin itu? Kau kenal Itachi, bukan? Bagaimana kau mengenalnya? Empat tahun lalu, apa benar... apa benar kau pernah bekerja untuk ayahku?" Hinata bertanya cepat namun jelas.
Kening Ryuzaki berkerut samar. "Itu bukan hal penting untuk dibahas sekarang."
"Kau... yang membunuh ibu dari Izumi, bukan?" tanya Hinata lagi, rendah dan perlahan.
"Oh ayolah! Kita ini memang komplotan tim pembunuh. Wanita itu hanyalah salah satu dari banyaknya target, dia orang jahat." Secara otomatis Ryuzaki membela diri, menekan kemungkinan Hinata akan mempermasalahkan hal ini.
"Jadi ini bukan kali pertama kau bekerja sebagai anggota sementara di Anbu?"
"Waktu itu hanya salah satu dari sekian misiku, Hinata. Aku ditempatkan di tim yang dipimpin oleh ayahmu. Itu saja."
"Dan kau tidak pernah mengatakan apapun tentang ini?"
"Pada dasarnya memang aku tidak bisa mengatakan hal ini kepada siapapun. Ini salah satu misi rahasia, Hinata."
Hinata menghela napas, mendengus ringan. "Apa yang aku harapkan memang? Seorang agen yang tak menyimpan rahasia untuk dirinya sendiri?"
"Itu bukan rahasia, Hinata. Itu bukan apa-apa!" Ryuzaki jelas tak menyukai situasi ini, ia tak suka disudutkan atas sesuatu yang bukan merupakan kesalahannya.
"Kau terlibat semua ini lebih jauh daripada aku, L, dan kau bilang ini bukan apa-apa?" Hinata mendesis tak percaya. "Kau pasti sadar bukan kalau Sasuke mengetahuinya? Dia tahu kalau kau yang membunuh ibunya. Dia bisa saja mencoba membunuhmu kapanpun dia mau," jelas Hinata peduli. "Dan lagi... dia juga satu-satunya yang mengetahui tentang Itachi," tambahnya dengan nada yang lebih rendah.
"Bagaimana Hinata mengetahuinya?" sela Ryuzaki.
"Itu bukan hal yang penting." Hinata memutar tubuhnya, berniat bergerak ke arah balkon untuk mencari udara segar, mencoba sedikit menenangkan pikirannya. Namun baru ia berbalik, Ryuzaki menahannya agar tetap berada di sana.
"Baiklah..." Ryuzaki menghela napas, mengalah. "Hinata ingin tahu, akan kukatakan secara singkat. Saat itu misi kami adalah menyerang salah satu agenda Akatsuki. Mereka terkepung dan mencoba melarikan diri. Perintahnya adalah untuk membunuh semua yang hadir. Dan saat itulah Itachi dan ibunya menjadi salah satu korbanku." Ryuzaki memberi sedikit jeda, memerhatikan Hinata yang mendengarkan dengan seksama. "Malam itu aku yakin mereka tewas di tempat. Saat itu bukan hanya agensiku dan Anbu yang terlibat, masih banyak yang lainnya. Hanya itu yang aku tahu, Hinata, sungguh. Aku tidak tahu kalau mereka adalah kakak dan ibu dari Izumi, saat itu aku bahkan tidak tahu siapa Izumi itu."
"Jika Izumi tahu kau terlibat, dia pasti akan meledak," gumam Hinata, tangan kanannya memijat pelan pelipisnya kemudian kembali memandang Ryuzaki dengan sorot serius. "Tolong jangan katakan padanya kalau Itachi masih hidup. Menemukan kenyataan bahwa kakakknya meninggalkannya begitu saja adalah hal terakhir yang dia perlukan."
"Baiklah." Ryuzaki memberikan anggukan pasti. "Aku akan meminta maaf padanya dan menjelaskan kalau tadi itu sebuah kesalahpahaman. Sekarang Hinata mau mengatakan padaku darimana Hinata tahu semuanya?"
Hinata tak menjawab, ia hanya memandang pria di depannya dengan sorot menimbang sebelum menggeleng kecil dan beranjak ke kamar mandi, berharap mungkin air dingin bisa sedikit menyegarkan pikirannya.
..
...
..
Hinata duduk di salah satu bangku taman di area apartemen sewaan mereka. Malam ini langit begitu cerah, tak malu menampakkan bintang-bintang yang bermain di atas sana. Angin juga sepertinya sedang dalam suasana hati yang baik saat bertiup hingga menerpa wajahnya. Malam itu begitu tenang, namun tidak dengan dirinya. Ke manapun ia pergi, ia melihat Sasuke membayanginya.
Sekarang ia tahu kalau Sasuke sebenarnya menyadari bahwa Ryuzaki adalah agen yang bertanggung jawab atas Kematian ibunya, tapi pria itu tidak melakukan apapun. Atau mungkin Sasuke memang bukan tipikal pendendam seperti kelihatannya?
Selain itu masih banyak rasanya pertanyaan yang harus Hinata dapat jawabannya. Tentang Itachi, mengapa ia meninggalkan Akatsuki? Kenapa ia memalsukan kematiannya dan melarikan diri ke China? Kenapa hubungannya dan Sasuke terlihat begitu buruk? Dan sekarang Sasuke mengetahui Hinata di sini, apa yang akan pria itu lakukan? Apa yang harus Hinata lakukan untuk melancarkan rencananya? Apa ini hanya akan menjadi kegagalan lain?
"Hinata?"
Suara Ryuzaki membuatnya berkedip, sedikitnya menghentikan ia dari memikirkan semua pertanyaan tadi. Ia mengangkat wajahnya untuk bertemu tatap dengan rekan kerjanya itu meski tanpa ekspresi berarti. Sedangkan Ryuzaki, mengizinkan dirinya sendiri untuk duduk di sisi lain bangku yang Hinata duduki.
"Masih marah?"
Hinata belum menjawab.
"Maaf. Sepertinya aku memang lepas kendali tadi." Pengakuan Ryuzaki terdengar grogi.
"Bagaimana dengan Izumi?"
"Aku tidak mengatakan apapun soal Itachi. Aku juga sudah meminta maaf padanya, tapi sepertinya dia tidak memaafkanku," akunya, tangan kanannya terangkat mengusap tengkuknya sendiri.
"Tentu saja, dari awal dia memang terlihat begitu keras kepala." Hinata menghela napas. "Omong-omong, kapan kau menyadari kalau Itachi adalah kakak dari Izumi?"
"Hmm... saat aku berlari kesetanan?" kekehnya ringan. "Aku teringat beberapa informasi tentang Izumi dan juga kemiripannya dengan Itachi. Dan begitulah... aku pulang untuk 'menanyakan' kepadanya nama kakaknya yang sudah mati itu."
"Kau tahu, L..." ucap Hinata rendah, nyaris berbisik. "Rasa peduli Itachi bahkan tidak sampai setengah kepedulian Sasuke kepadanya. Sungguh ironis bagaimana sekarang Izumi terobsesi untuk menghancurkan Sasuke."
Ryuzaki menjilan bibir bawahnya sebelum membalas. Ia melirik Hinata sejenak sebelum kembali meluruskan pandangannya ke depan. "Bisa tidak Hinata tidak bicara soal Sasuke itu?"
"Huh?"
Hinata sontak menengok ke arah pria itu. Kini Ryuzaki masih memandang ke depan. Kekehan kecil keluar dari bibirnya, jari kirinya menggaruk sebelah pipinya sendiri. "Aku... saat Hinata bicara soal dia... rasanya begitu menggangguku," bisiknya di selah kekehan yang masih sama. "Aku ini serakah, ya?" tanyanya dengan nada yang begitu mengambang.
Hinata menelan liurnya sendiri, menimbang-nimbang tentang apa kiranya yang harus ia katakan sebelum berujar. "Aku... aku bertemu Sasuke hari ini," akunya.
"Apa?" Ryuzaki jelas terkejut.
Hinata mulai menarasikan segala detail yang terjadi siang itu sedang Ryuzaki mendengarkan secara utuh, mencoba menahan diri untuk menyela.
"Rencana ini tidak akan berhasil, L," tutupnya.
Ryuzaki menghela napas gusar, wajahnya ia tutup dengan sebelah tangannya. "Bagaimana bisa Hinata tiba-tiba bertemu dengannya seperti itu? Hinata bahkan tidak pernah bertabrakan denganku meskipun kita berada di bawah atap yang sama," tumpahnya setelah Hinata selesai bercerita. "Apa mungkin itu namanya takdir?" Ryuzaki berkedip beberapa kali.
"Sungguh, L... setelah semua ceritaku, hanya itu yang kau cemaskan?" Hinata menatapnya heran.
"Uhhh... tidak, tidak juga... maksudku..." Ryuzaki berdeham, kembali memfokuskan diri. "Jadi... bagaimana sekarang menurut Hinata?"
"Hal terburuknya adalah kita kembali dengan tangan kosong. Tapi mungkin kita masih bisa mencoba bernegosiasi dengan kelompok lain besok. Sasuke berjanji dia tidak akan ikut campur," jelas Hinata.
"Dan Hinata percaya apa yang dia katakan?"
"Aku yakin kau sudah memiliki gambaran bagaimana maniaknya dia, L. Dia menganggap kita sebagai sebuah tantangan. Jadi kupikir dia tidak berbohong saat mengatakannya."
"Hinata mengatakannya seperti itu adalah hal paling atraktif di dunia," komentar Ryuzaki datar.
"Aku tidak begitu," sangkal Hinata.
"Iya."
"Tidak."
"Iya."
"Oh ayolah, L... sejak kapan kau jadi sesensitif ini?" balas Hinata gusar.
"Tidak tahu." Ryuzaki tertawa renyah. "Mungkin sejak aku semakin menyukai Hinata."
Oh... andai Hinata bisa mengatur arah hatinya sesuka hati, pasti segalanya akan jauh lebih mudah.
..
...
..
"Hinata... Hinata!"
Ryuzaki mengguncang lengan Hinata sambil memanggil namanya beberapa kali untuk membangunkan Hinata. Kelopak mata Hinata perlahan terbuka, masih dalam keadaan setengah sadar, ia menatap Ryuzaki dan bergerak untuk mendudukkan diri, keningnya berkerut.
"Bangunlah... sesuatu telah terjadi," ujar Ryuzaki lagi.
"Huh?" Hinata mengusap wajahnya sebelum kembali memandang Ryuzaki. Butuh sekitar satu menit sampai akhirnya ia menyadari sosok lain berdiri di belakang pria itu.
Sasuke?
Sejenak Hinata berpikir mungkin ia masih bermimpi. Ia menengok ke arah jam digital di atas nakas. Ini bahkan belum sampai pada pukul empat dini hari.
"Hinata," panggil Ryuzaki lagi, membuat Hinata berkedip beberapa kali, mencoba mengusir kabut di kepalanya.
"Apa yang terjadi?" Pada akhirnya Hinata bersuara.
"Konan dan Izumi... mereka menghilang," jelas Ryuzaki singkat.
"Apa?"
Sasuke maju dan membuat Ryuzaki menyingkir secara paksa. Ia kemudian menarik kasar tangan HInata agar wanita itu berdiri.
"Tu-tunggu dulu! Apa yang terjadi?!" Hinata mencoba menahan tarikan tangan Sasuke, menuntut penjelasan singkat yang lebih bisa diterima akalnya yang sekarang.
"Ini semua salahmu!" desis Sasuke tajam.
Ryuzaki menengahi keduanya, mencoba tetap bersikap rasional. "Konan dan Izumi diculik oleh Itachi dan dia menginginkan aku dan Sasuke menyerahkan diri jika ingin mereka bebas," jelas Ryuzaki lagi.
"Apa?!" Secara instan, kantuk yang menyelimuti Hinata menghilang. Keterkejutan itu seperti membuat dunianya berhenti berputar.
Tangan Sasuke yang mencengkeram lengannya masih Hinata rasakan, malah semakin kuat, membuat Hinata meringis menatap pria itu.
"Jika sesuatu terjadi pada Izumi, aku akan membunuh kalian berdua!" geramnya rendah saat sorotnya terhubung dengan sorot mata Hinata.
.
to be continued...
..
.
Molor bangeeeeeeeeet... macem udah lupak cerita sebelumnya kali ya yang baca-dimaklumi karena aku bahkan sempet lupa :v
Ini arahnya mau ke mana lageeeehhhh? Aku dilemaaaaaa :v
Btw maaf dan makasih untuk yang udah berjamur nunggunya T.T
