Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

.

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

.

This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.

.

.

.

One Tend To Be Reckless Whether When They're In Fear, Or In Love.

"Kau bilang Konan juga?!"

"Ya. Cepatlah, Hinata!"

"Tunggu dulu! Berhenti menyeretku seperti ini," protes Hinata sambil menahan dirinya dari tarikan Sasuke. "Kapan tepatnya mereka menghilang? Kenapa kau bisa ada di sini?"

"Aku sungguh tidak punya waktu untuk mendongeng, Hinata!" geramnya kemudian kembali melanjutkan langkah tergesa-gesanya, kali ini tanpa menyeret Hinata.

"Sebaiknya kita juga bergegas." Dan tadi itu adalah Ryuzaki yang entah bagaimana malah terdengar seperti menyetujui apa yang Sasuke perintahkan sebelumnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, L?" tanya Hinata, masih tak dapat memahami situasi namun tetap menurut dengan ikut berlari kecil mengikuti Ryuzaki yang bergerak ke arah yang sebelumnya Sasuke tuju.

"Itachi mengincarku dan menjadikan Konan sebagai sanderanya. Dia mengirim ini." Ryuzaki menunjukkan layar ponsel yang sedari tadi digenggamnya, memperlihatkan Hinata sebuah foto dengan Konan dan Izumi yang terikat di kursi. "Sesaat setelah aku selesai melihat pesan itu, Uchiha Sasuke menggedor pintu kita. Aku tidak tahu apa masalahnya dengan Itachi, tapi sepertinya Itachi mengancamnya dengan jaminan keselamatan Izumi."

Hinata berkedip beberapa kali saat mulai memahami apa yang terjadi. "Dan dia datang ke sini sendiri?"

Bunyi klakson mobil menghentikan Ryuzaki untuk menanggapi pertanyaan Hinata. Tepat di hadapan mereka, Sasuke sudah menunggu dengan wajah gusar di balik kemudi mobilnya.

"Tentu dia datang sendirian, Hinata," jawab Ryuzaki setelah interupsi singkat tadi, keduanya bergegas menuju mobil Sasuke. "Karena dari awal dia tidak berniat untuk menyerahkan diri. Dia hanya ingin membebaskan Izumi."

Hinata tak mengerti bagaimana bisa Ryuzaki bertingkah sebegitu tenangnya di situasi yang bahkan membuat Sasuke terlihat cukup panik. Pria itu mengambil tempat di samping kursi kemudi, membuatnya dihadiahkan delikan singkat dari Sasuke.

"Jadi apa rencananya?" tanya Hinata dari kursi penumpang.

"Ada beberapa senjata di dashboard." Sasuke berujar, memberikan informasi dengan perintah tersirat di dalamnya. "Kita akan langsung ke tempat yang dia tunjukkan. Dan kau yang jadi umpannya," lanjut Sasuke sambil melirik sekilas Ryuzaki untuk memperjelas.

"Maaf?" balik Ryuzaki, dipandangnya Sasuke yang tengah mengemudi dengan tatapan santai.

"Kau masuk secara terang-terangan sementara aku dan Hinata menyelinap untuk mencari posisi Izumi," jelas Sasuke enteng.

"Dan Konan!" Hinata menambahkan.

"Dan kenapa harus aku yang diumpankan?" dengus Ryuzaki.

"Pertama karena Itachi lebih ingin menghabisimu ketimbang berhadapan denganku. Kedua karena kau aneh. Ketiga karena aku tidak menyukaimu." Sasuke menambah tekanan pada pedal gas, membuat mereka semakin melaju.

"Wow, Sasuke ternyata punya pemikiran yang sangat dewasa," sindir Ryuzaki, masih tanpa emosi berlebih. "Aku mengerti, Sasuke iri padaku."

Di kursi belakang, diam-diam Hinata menggigit lidahnya. Jelas sekali Sasuke dan Ryuzaki dalam satu obrolan adalah hal yang tak pernah diantisipasinya.

Ryuzaki mengembuskan napas yang jelas terdengar sangat dibuat-buat. "Aku tidak menyangka akan terlibat di dalam situasi calon versus mantan pacar seperti ini," lanjutnya angin-anginan sambil menyandarkan punggung ke kursi.

"Aku tidak peduli jika ada anjing yang ingin menjilat sisa makanan yang sudah aku buang." Sasuke mengatakannya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

Hinata sama sekali tak berniat untuk menyela. Arah pandangnya tak menentu, sesekali melihat ke luar jendela, ke arah sepatunya yang tak terlalu terlihat karena keadaan mobil yang gelas, ke arah dua lelaki yang duduk di depannya, dan arah tak penting lain. Namun dalam hatinya ia terus berdoa agar Konan maupun Izumi tak terluka.

Hinata sedikit terkejut saat Ryuzaki menyodorkan dua buah pistol ke arahnya. Hinata menerimanya dengan tangan yang agak bergetar. Ia telan salivanya sendiri, berusaha untuk memegang kendali diri. Memegang senjata bukanlah hal asing bagi Hinata, itu jelas. Namun kesadarannya yang akhirnya memahami secara penuh situasi mereka kali inilah yang membuatnya agak kikuk.

Sasuke ada di hadapannya, duduk bersebelahan dengan Ryuzaki yang terlihat fokus terhadap ponsel di genggamannya. Dan mereka beserta Hinata akan bekerja sama layaknya sebuah tim.

Sungguh sebuah babak humor tragis bagi Hinata.

"Sungguh, kenapa kau di sini, Sasuke?" gumam Hinata sadar tak sadar, mengulangi pertanyaan yang ia ajukan bahkan sebelum mereka menembus jalanan.

Sasuke melirik sekilas ke kaca spion depan kemudian kembali fokus ke jalanan. "Karena kalian melibatkan Izumi dalam kekacauan ini. Jadi, ya, bahkan jika kalian menolak ikut, aku akan tetap menyeret Si Idiot ini untuk membebaskan Izumi jadi aku tidak perlu menyerahkan diri."

"Hei, hati-hati kalau mau memberi julukan. Siapa tahu aku lebih pintar darimu," sela Ryuzaki tanpa antusiasme berarti.

Hinata mendengus mendengar jawaban Sasuke. Sungguh cara yang egois.

"Kau punya banyak orang yang bekerja untukmu. Kenapa kau tidak langsung menggerakkan mereka saja?" tambah Hinata.

"Kau tahu tentang pertemuan yang akan digelar, aku tidak ingin hal ini menciptakan kekacauan," jawab Sasuke. "Aku di sini untuk pertemuan itu, bukan untuk kejadian konyol seperti ini. Jelas mana yang merupakan prioritasku."

"Kau baru saja bilang kalau pertemuan itu lebih penting," tekan Hinata. "Buat apa mencoba menyelamatkan Izumi kalau begitu," decihnya.

Sasuke kembali melirik Hinata melalui kaca spion depan, kali ini sorotnya tajam meski tak secara langsung diarahkan. "Dia adikku," akunya lugas.

Kening Hinata sedikit berkerut. Meski tak secara gamblang, jawaban Sasuke benar-benar mengungkapkan bahwa memang lelaki itu peduli terhadap Izumi. Tapi apa benar Izumi dipedulikan sebagai adiknya?

"Adik yang kau setubuhi di ujung gang gelap?" celetuk Ryuzaki tanpa melepaskan kontak dengan ponselnya.

Sasuke berdecih. "Percayalah, Izumi bukan satu-satunya perempuan yang aku setubuhi di area gang atau semacamnya." Sebuah seringaian tajam muncul di bibir Sasuke.

Hinata yang mendapati Sasuke kembali meliriknya langsung membuang muka, wajahnya terasa panas. Rasanya ia ingin menepak tengkorak belakang kedua lelaki di hadapannya itu. Bagaimana bisa mereka menyeret namanya di setiap obrolan tak masuk akal yang mereka ciptakan?! Dan hal terburuknya adalah bahwa Hinata tak bisa membawa diri untuk melayangkan protes apapun.

Mereka tiba d area pabrik tua yang terbengkalai. Sasuke memarkirkan mobil beberapa blok jauhnya dari bangunan yang ditentukan. Masing-masing dari mereka mempersiapkan senjata, memastikan apa yang mereka bawa dapat difungsikan nantinya.

"Katakan lagi satu alasan kenapa aku harus bekerja sama dengan Sasuke?" celetuk Ryuzaki, setengah bergumam sebelum membuka pintu mobil dan keluar.

"Pertama, karena kau adalah alasan utama dari kekacauan ini. Kedua, kalian jelas harus kembali ke Jepang bersama Konan."

"Padahal aku hanya minta satu," cibir Ryuzaki, bahunya mengedik kecil.

Sasuke mengembuskan napas gusar. "Terserah. Sekarang kau masuklah lewat pintu depan dan menahan Itachi. Aku dan Hinata akan menyelinap dari belakang."

"Maksudmu Itachi tidak bersama Konan dan Izumi?"

"Itachi itu tipikal penjahat yang lebih suka main aman. Dia tidak akan langsung berdiri di garis depan sebelum memastikan situasinya lebih unggul daripada situasi lawan." Ryuzaki menginformasikan.

"Dia jelas akan memperketat pengawasan di sini," tambah Sasuke. "Itachi jelas sudah memperkirakan kedatangan kita, tapi dia mungkin tidak terpikirkan kalau kita datang bersama. Itulah kenapa kita butuh umpan," jelasnya kemudian melirik ke arah Ryuzaki. "Jadi kau masuklah ke sana, temui Itachi, pura-pura bernegosiasi, sementara kami mencari Izumi dan Konan. Dan saat kami sudah memastikan mereka berdua aman, aku akan membantumu keluar."

"Terima kasih, tapi aku tidak butuh bantuan Sasuke," jawabnya sambil tersenyum kecil.

"L!" hardik Hinata, menolak penyataan Ryuzaki barusan. Baginya, ini bukan waktu yang tepat untuk memilih bantuan.

"Cukup amankan Konan juga Izumi, aku bisa menagani sisanya." Ryuzaki menyela Hinata dengan tegas.

"Terserah," timpal Sasuke. "Sekarang ayo bergerak, aku yakin rencana ini akan berjalan dengan mudah kalau kau tidak mengacau," desisnya kemudian berbalik, memulai langkah lebar menjauh.

Hinata memandang punggung Sasuke untuk beberapa detik kemudian mengalihkan tatapannya tepat menarget pada mata Ryuzaki. Dihelanya napas pelan-pelan. "Setelah kami selesai, kau harus cepat-cepat keluar, kau dengar aku!" ucapnya serius.

Ryuzaki tersenyum. "Tidak perlu cemas, aku sudah pernah melewati situasi seperti ini berkali-kali," ujarnya, tangan kanannya terangkat untuk menepuk ringan ujung kepala Hinata. "Hinata berhati-hatilah." Tatapan matanya berpindah, lurus ke arah sosok Sasuke yang semakin mengecil. "Jangan lengah."

Hinata berkedip kemudian mengikuti arah pandang Ryuzaki. Oh tentu, mereka tak boleh lengah. Meskipun kali ini mereka beraksi berada di jalur yang sama, Sasuke tetaplah Sasuke yang sulit ditebak isi kepalanya. Dan Ryuzaki jelas-jelas terlihat tak bisa memercayai lelaki itu dengan mudahnya. Hinata mengangguk kecil kemudian berlari mengejar Sasuke.

Dan saat itu, siapa menyangka mereka kembali berpartner setelah dua tahun lebih lamanya mereka mencoba saling menghancurkan?

"Kau bisa saja menyelamatkan Izumi dengan cara lain, bukan? Itachi bukan ancaman besar megingat kelompok yang ia pegang tidak sebanding dengan Akatsuki." Hinata buka suara saat ia sudah menyamakan langkahnya dengan Sasuke.

"Jika kau saja berpikiran bersekutu dengannya untuk menyerang pertemuan Akatsuki, itu artinya dia cukup berpengaruh," jawab Sasuke dengan suara rendah, dinaikinya tumpukan beton berlumut untuk meninggikan titik pandangnya. "Dan sudah kubilang, aku tidak punya cukup waktu untuk menyiapkan kelompok hanya untuk menyelamatkan Izumi. Ditambah Itachi tidak akan tinggal diam jika ia tahu aku datang bersama satu pasukan pembunuh bayaran. Dia akan melukai Izumi."

"Bagaimana kau tahu di mana kami menginap?" tanya Hinata lagi.

Sasuke terkekeh singkat. "Hinata... memangnya masih menjadi hal aneh jika aku punya suruhan untuk membuntutimu?"

Kening Hinata berkerut. "Tidak." Memang nyatanya itu bukan hal baru yang bisa membuat Hinata terkejut.

"Hanya perlu memastikan kalau Izumi bersamamu." Sasuke menambahkan.

"Sejak kapan orang-orangmu membuntutiku di sini?"

"Sejak pertemuan kita bersama Itachi." Sasuke mengedarkan pandangannya untuk mengamati keadaan. "Ada empat orang yang berjaga di sana." Sasuke menunjuk satu pintu dengan dagunya, tangannya memegang pistol yang sudah siap memuntahkan timah panas dari dalamnya.

"Kali ini aku ingin kau memegang omonganmu. Kita harus memastikan L—"

"Dengar," potong Sasuke, ia berbalik menghadap Hinata. "Dia adalah agen terlatih. Jika sesuatu terjadi, melarikan diri adalah hal yang biasa untuknya," jelas Sasuke datar sebelum kemudian kembali pada fokus utamanya.

Sasuke keluar dari dinding yang menyembunyikan mereka dari pandangan para penjaga. Kedua tangannya mengarahkan pistol ke depan dan tanpa ragu, peluru-peluru miliknya melesat, melubangi tengkorak keempat orang tadi bahkan sebelum mereka sempat mengangkat senjata.

Sasuke tertawa pendek. "Tadi itu mengasyikkan."

Hinata berlari ke pintu belakang dan membukanya setelah empat sosok yang menjaga pintu itu ambruk. "Kau benar-benar manusia paling sadis yang pernah aku temui," cibirnya tanpa melihat Sasuke.

Sasuke menyeringai singkat lalu berjalan mengikuti dan kembali mendahului Hinata sehingga ia berjalan di depan wanita itu lagi.

"Aku hanya sedang mencoba bertindak efisien, Hinata. Ada pertemuan yang harus kuhadiri besok pagi," balas Sasuke ringan namun dengan kewaspadaan yang masih tajam akan sekitarnya. "Jika kau terlalu takut melihat beberapa percik darah, kau bisa bersembunyi di belakangku." Sasuke menambah kecepatan langkahnya.

"Kau sampai sejauh ini untuk menyelamatkan Izumi." Hinata masih terus mengikuti Sasuke, menjaga jarak agar tak terlalu tertinggal. "Rasanya agak... mengejutkan untuk melihatmu benar-benar peduli terhadap seseorang," tambahnya.

Bukan respons atas ucapan tadi, tiba-tiba Sasuke berbalik, membungkam mulut Hinata dengan telapak tangannya dan mendorongnya hingga menghimpit dinding.

"Shhh," desisnya, isyarat agar mereka tak menimbulkan suara.

Hinata mematung beberapa saat karena keterkejutannya, lalu ia mendengar suara seperti sebuah pintu yang dibuka secara paksa. Sasuke bergerak perlahan ke sisi koridor yang lebih gelap dari sisi lainnya, dengan Hinata yang masih ia desak dan bungkam. Satu tangannya yang terbebas mengarahkan mulut pistol dari balik bayangan.

Hinata kembali mendengar dua kali letusan pistol yang diikuti dengan bunyi tubuh yang menghantam lantai.

"Ayo." Sasuke melepaskan Hinata kemudian berjalan melewati pintu yang sebelumnya dilewati dua orang yang ia tembak tadi.

"Untuk beberapa saat tadi kau terlihat panik. Dan sekarang kau benar-benar tenang," komentar Hinata.

Sasuke memuka pintu lain di ujung koridor yang menjadi pembatas langsung dengan area basement. "Aku masih merasa panik. Hanya mencoba bertindak dengan tenang karena jika kau panik, tanganmu akan gemetar. Jika tanganmu gemetar, kau tidak bisa membidik tembakanmu dengan tepat."

Hinata mencoba mencerna apa yang Sasuke katakan. Lelaki itu dengan gamblang mengatakan bahwa ia tengah panik. Seorang Uchiha Sasuke mengakui tengah merasa panik!

Hal ini agaknya mengejutkan Hinata. Ia tak pernah menyangka Sasuke bisa sepeduli ini kepada Izumi.

"Dia begitu berarti untukmu, huh? Apa karena dia adikmu atau..." Hinata menggantungkan kalimatnya, tak ia lanjutkan bahkan sampai mereka memasuki koridor lain. Baik dirinya maupun Sasuke kini membuka semua pintu yang mereka temui, memastikan apakah sandera yang mereka cari berada di sana.

Sasuke memberikan seringai mengejek. "Kenapa? Kau cemburu?"

Hinata berhenti sejenak, memberengut ke arah Sasuke kemudian kembali bergerak ke pintu lain. "Kenapa aku harus cemburu?" gerutunya.

"Entahlah." Sasuke mengedikan bahu. "Tapi jujur saja, kau sendiri mungkin ingin membuatku merasa cemburu, bukan?"

"Huh?"

Perbincangan mereka terus mengalir tanpa hambatan sembari keduanya melakukan segala gerakan tergesa-gesa untuk menemukan Izumi dan Konan. Jika bukan keadaan yang menekan keduanya, situasi ini bisa jadi terasa lucu.

"Kau ingin aku cemburu karena Si Idiot itu." Sasuke berujar enteng, ia mendorong pintu lain yang menampakkan ruangan yang penuh dengan pipa dan kabel yang terjulur tak beraturan.

"Aku tidak mengerti," respons Hinata.

"Dia seorang pecundang. Untuk apa aku cemburu karena orang sepertinya," ejek Sasuke.

Hinata berhenti untuk menatap tajam Sasuke. Ia agak tak mengerti, namun ia tak suka bagaimana Sasuke merendahkan rekannya. "Dia bukan pecundang. Dia lelaki yang baik," tegasnya.

Sasuke ikut menghentikan langkahnya, ia berbalik untuk mengembalikan tatapan Hinata terhadapnya. "Lalu? Apa yang kau ingin aku lakukan tentang itu?" balas Sasuke dengan seringai tajam.

"Jangan katakan padaku kalau kau akan mencoba mencelakainya," sergah Hinata defensif.

Sasuke mendekat, tangan kanannya ia angkat untuk mencoba menyentuh dagu Hinata. Niatnya ia urungkan saat Hinata menarik diri menjauh dari jangkauannya. "Kenapa aku harus melakukannya?" tanyanya masih dengan seringai dan nada yang sama menyebalkannya.

Kening Hinata berkerut, tak memahami jalan pikiran lelaki di hadapannya.

"Sumpahku adalah untuk membunuh lelaki lain yang membuatmu jatuh cinta lagi." Sasuke mendeklarasikan dengan nada rendah namun tanpa keraguan.

Sasuke membuka sebuah pintu ganda secara paksa dengan menendangnya keras-keras. Tepat setelah pintu terbuka, sekelompok orang maju menyerang mereka, dan beberapa detik setelahnya, ruangan itu dipenuhi oleh bunyi rentetan senjata api.

Hinata berusaha melayangkan pelurunya seefektif mungkin mengingat ia juga harus melindungi Sasuke yang kini melawan musuh mereka dengan tangan kosong sejak kehabisan peluru. Tak begitu merepotkan juga sebenarnya karena jelas pertarungan dengan tangan kosong merupakan salah satu spesialisasi Sasuke. Tapi tetap saja, ia harus mencoba menghentikan siapa pun yang mungkin akan menyerang dari titik buta lelaki itu.

Hinata melemparkan pistolnya secara sembarang ketika ia akhirnya juga kehabisan peluru. Tak tersisa terlalu banyak, tinggal tiga atau mungkin lima orang paling banyak. Entahlah, Hinata tak memiliki waktu untuk berhitung.

Dengan refleks yang cepat, Hinata menghindari tinju lawan yang hampir menghantam wajahnya. Hinata berputar, mengambil kesempatan untuk menyerang balik dengan menyikut dada lawannya sebelum kembali memutar tubuh untuk melayangkan tendangan keras ke bagian kiri kepala. Tumbangnya satu lawan tak lantas membuat Hinata dapat mengambil napas karena nyatanya, ia harus lanjut meladeni lawan lain yang menyerangnya.

"Pergilah!" teriak Hinata kepada Sasuke yang baru saja merobohkan sosok lain.

Sasuke melirik Hinata sambil menghindari beberapa serangan yang ditujukan padanya.

"Aku bisa mengatasi ini. Pergilah! Cari mereka!" lanjut Hinata, kakinya memiting leher lawan dengan brutalnya.

Sasuke berdiri melangkahi lawannya kemudian berlari keluar ari koridor itu. Membiarkan Hinata membereskan sisanya.

Hinata banyak menggunakan lompatan dan tendangan untuk melawan yang jelas lebih banyak menguras tenaga. Tapi mau apa lagi, tak banyak pilihan ia miliki saat harus melawan orang yang lebih kuat dan lebih tinggi darinya.

Baru Hinata merobohkan lawan lain, seseorang menyerangnya dari belakang, melintangkan lengan tepat memerangkap lehernya dengan tekanan tinggi, berusaha menghentikan pergerakan Hinata. Sementara yang lainnya—yang sebelumnya sudah sempat Hinata jatuhkan—mencoba mengambil kesempatan menyerang setelah melihat gerakan Hinata yang masih tertahan.

Tak sudi dikalahkan, Hinata kembali melayangkan kaki kanannya untuk menghantam rahang bawah lawan di depannya, memanfaatkan pitingan di lehernya sebagai tumpuan. Setelah lawan di depannya terhuyung mundur, Hinata memanfaatkan jeda waktu yang tercipta untuk mencoba melepaskan diri. Diayunkannya kepala ke belakang hingga tengkorak belakangnya menghantam wajah lawan yang menahannya, membuat piringan yang mengekangnya mengendur. Siku kanannya menyikut sisi tubuh lawan beberapa kali hingga akhirnya ia terbebas.

Beberapa serangan terus Hinata lancarkan tanpa jeda sampai membuat kedua lawannya kesulitan bangkit. Bahunya naik turun akibat aktivitas bernapasnya yang lebih intensif dari sebelumnya. Ia berdiri memandangi semua penjaga yang terkapar di lantai, beberapa meringis kesakitan, beberapa hilang kesadaran. Hinata diam sejenak, memastikan tak ada satu pun dari mereka akan sanggup mengejarnya. Setelah yakin barulah ia berlari keluar koridor, hendak menyusul Sasuke.

Belum terlalu jauh ia berlari, ia melihat Sasuke datang dari arah lain dengan Izumi—yang terlihat masih memberontak—ia panggul di bahunya. Hinata mempercepat langkahnya untuk menipiskan jarak mereka.

"Izumi!" panggil Hinata yang sontak membuat Izumi berhenti memberontak.

"Hi-Hinata? Itu kau 'kan, Hinata?" tanya Izumi, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri mengikuti naluri meski bandana masih menutup indera pengelihatannya.

Sasuke menurunkan Izumi kemudian melepaskan ikatan bandana yang menghalangi mata Izumi.

Izumi berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke matanya. "Kau!" geramnya saat retinanya menangkap bayangan Sasuke. Ia kemudian mengedarkan pandangannya. "Di mana? Di mana dia?" tanyanya, kali ini suaranya terdengar histeris.

"Kita harus cepat keluar dari sini," ujar Sasuke, sama sekali tak menjawab pertanyaan Izumi.

"Tidak! Di mana Konan?!" cetusnya sengit, membuat Sasuke mendengus malas.

"Dasar tidak tahu terima kasih," cibir Sasuke, ia mulai mencoba menyeret Izumi yang jelas—lagi-lagi—melempar perlawanan.

"Aku tidak mau! Lagi pula tidak ada yang menyuruhmu untuk datang menyelamatkanku! Lepaskan aku sekarang, Brengsek!" seru Izumi menggila.

"Kau harus cepat keluar, Izumi." Hinata menyela, memahami bahwa mungkin Izumi masih begitu merasa sentimen terhadap Sasuke. "Keselamatan L juga terancam saat ini. Kami butuh kerja samamu," jelasnya. "Aku akan mencari Konan. Dan kau, ikuti apa yang Sasuke katakan. Jangan melawannya."

Dari sorot matanya, Izumi benar-benar tak ingin menuruti apa yang Hinata perintahkan, namun ia juga tak melawan secara langsung. Meski masih dalam suasana hati yang dongkol, ia pasrah saja saat Sasuke benar-benar menyeretnya untuk keluar dari bangunan itu.

Hinata berlari ke arah yang berlawanan dengan arah yang Sasuke dan Izumi tuju. Diperiksanya setiap ruangan yang ia lewati. Dalam hati ia meragukan kalau Sasuke akan kembali untuk membantunya setelah memastikan Izumi aman. Tapi tidak masalah, ia merasa tak begitu membutuhkan bantuan dari lelaki itu. Ya, mungkin. Atau mungkin tidak.

Hinata membuka pintu lain kemudian mengulang aksi yang sama seperti sebelumnya, mengedarkan pandangan untuk memastikan apakah Konan berada di salah satunya. Pencariannya berakhir saat ia menemukan sosok Konan tengah berlutut di lantai dengan mata tertutup kain dan tangan kaki terikat.

"Konan!" seru Hinata yang sontak mendekat, tanpa menunggu ia mulai melepaskan ikatan kain yang menutup mata Konan sesaat setelah ia juga ikut berlutut untuk menyamai wanita itu.

"Hinata?" tebak Konan.

"Ya, ini aku."

Konan tak serta-merta membuka matanya saat kain yang terikat di kepalanya terlepas. Ia hanya diam sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, menjadikan bahu Hinata sebagai tumpuan keningnya sementara Hinata berusaha melepaskan ikatan tangannya.

Dan tepat pada saat itulah mereka mendengar suara Itachi mengisi ruangan.

"Kenapa kau di sini?" tanya Sasuke tajam saat ia dan Izumi berpapasan dengan Ryuzaki.

"Umm... mungkin karena Sasuke salah perhitungan," jawabnya datar.

"Apa?!" Kening Sasuke berkerut gusar.

"Sekarang, di mana Hinata?"

"Hinata di sana! Dia mencari Konan," sahut Izumi, jari telunjuknya menuding ke koridor yang ia lalui.

"Aku tanya kenapa kau—"

"Aku tidak bertemu Itachi," sela Ryuzaki sebelum Sasuke sempat menyelesaikan pertanyaannya. "Aku tidak akan menyalahkan deduksi Sasuke, karena aku juga terlambat menyadarinya," ujar Ryuzaki begitu ambigu.

"Apa maksudmu?"

"Itachi tidak menungguku untuk datang menyerahkan diri. Kalau sudah begitu, Sasuke pikir siapa target sebenarnya?" tanyanya masih terdengar tanpa emosi.

"Oh, sial!" gerutunya geram.

"Itachi tahu Hinata mengenal kita berdua. Jadi ya... apa yang lebih efektif daripada memancing dengan umpan yang dapat menarik dua ikan sekaligus?"

"Kau!" Sasuke menunjuk Ryuzaki dengan sorot matanya. "Bawa Izumi keluar."

Kening Ryuzaki berkerut. "Kenapa harus aku?"

"Tidak ada waktu untuk berdebat, Demi Tuhan! Aku tahu arah yang dilalui Hinata, jelas aku bisa lebih cepat menemukannya dibanding kau!" geramnya.

"Benar. Biar Sasuke yang kembali ke sana," timpal Izumi, sebenarnya ia agak berat hati menyetujui ucapan Sasuke. "Terlebih aku lebih sudi menunggu denganmu daripada bersamanya," tambahnya berupa cibiran pahit.

Ryuzaki menghela napas pelan. "Baiklah," ujarnya, ia meraih ponsel di saku celananya kemudian melihat sekilas apa yang tertera di layar. "Enam menit. Aku akan bersiap di pintu belakang."

Sasuke tak menyempatkan waktu untuk meminta penjelasan lebih lanjut atas apa yang Ryuzaki katakan. Ia langsung berbalik, berlari kembali untuk mencari Hinata juga Konan.

"Apa itu?" tanya Izumi penuh kewaspadaan.

"Batas waktu yang mereka miliki," jawab Ryuzaki sambil tersenyum kecil.

"Apa maksudmu?"

"Kalau tidak ada masalah berarti, aku yakin Sasuke pasti bisa membawa mereka keluar kurang dari enam menit," jelasnya singkat, padat namun begitu ambigu. "Nah, untuk sekarang sebaiknya kita keluar. Mobilnya harus siap saat mereka keluar nanti." Ryuzaki mendorong Izumi dari belakang untuk membuat gadis itu bergerak.

"Coba lihat apa yang kita dapat."

Suara Itachi mengisi ruangan yang sebelumnya sepi, beberapa orang berdiri di belakangnya kini menyebar ke segala sisi ruangan. Hinata segera menyelesaikan gerakannya untuk melepas semua ikatan pada Konan kemudian berdiri penuh kewaspadaan, ia juga menarik tangan Konan, sebuah gestur yang mengisyaratkan wanita itu untuk berdiri mengikutinya.

Itachi mengarahkan moncong pistolnya ke Hinata, seringai menghiasi wajahnya. "Kemarilah," titahnya.

Hinata melirik Konan sesaat kemudian kembali menatap lurus ke Itachi. Ia ambil dua langkah mendekat. "Dengar, apapun masalahmu dengan L maupun Sasuke, kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu semua," ungkap Hinata, mencoba menguasai diri agar tetap tenang.

"Benarkah." Itachi memiringkan kepalanya, pura-pura berpikir. "Padahal aku ingin mencoba mencari tahu apa hubunganmu dengan mereka. Informasi darimu mungkin bisa aku gunakan nanti, setidaknya kau bisa berguna sebelum aku membunuh kalian semua. Jadi... bisa kau jelaskan beberapa hal padaku?"

Suara gedebuk dari belakang Itachi cukup mengganggu momen mencekam mereka.

"Bagaimana jika aku memberimu kesempatan untuk mati terlebih dahulu, Itachi?"

Untuk sesaat, Hinata merasa jantungnya berhenti berdetak saat mendengar suara Sasuke menginterupsi mereka. Itachi tersenyum puas tanpa membalikkan tubuhnya, tetap memunggungi Sasuke yang berdiri di ambang pintu dengan satu kaki menginjak tubuh yang ia jatuhkan pada detik sebelumnya.

"Rasanya aku meragukan akan adanya kesempatan itu, Sasuke," jawab Itachi, masih tak menghadap Sasuke. Malah, ia mengambil langkah hingga berdiri tepat di depan Hinata. Tangan kanannya terangkat pelan, ujung jarinya ia sapukan secara ringan di sisi wajah Hinata. "Aku butuh bantuanmu untuk memastikan suat hal. Bagaimana kalau kita coba sekarang?" ujarnya kepada Hinata.

Hinata tak mengerti rencana apa yang akan Itachi lancarkan, namun jelas, ia tak bisa menurunkan kewaspadaannya.

Dan benar saja, hanya dalam satu kedipan mata, kelembutan dan ketenangan yang Itachi tampakkan berubah drastis saat lelaki itu memutarnya kemudian menahan tubuh Hinata dari belakang. Hinata baru akan melawan, namun ia urungkan ketika satu tangan Itachi yang tak menahannya menodongkan pistol tepat di pelipisnya.

"Jangan bertindak gegabah, Hinata. Kau mungkin tidak peduli dengan nyawamu, tapi bagaimana dengan temanmu itu, hmm?" bisik Itachi, membuat Hinata sontak melirik Konan yang kini juga sudah berada di bawah todongan senjata api.

Itachi kembali bergerak, kali ini akhirnya untuk berhadapan langsung dengan Sasuke dengan Hinata sebagai sanderanya. Ia melemparkan senyum ringan dengan tangan kiri mengekang leher Hinata dan tangan kanannya yang menodongkan ancaman kepada wanita itu. "Bagaimana menurutmu, Sasuke?"

Sasuke tak menunjukkan reaksi berarti, ia masih terlihat setenang biasanya, masih menatap Itachi dengan sorot tak tertariknya. "Kenapa juga kau menanyakannya padaku," decih Sasuke.

"Hmm... entahlah, karena mungkin kau tidak ingin dia mati? Atau mungkin tidak?" balasnya dengan seringaian.

Sasuke tak menjawab. Hinata heran mengapa Itachi menjadikannya umpan seperti ini. Sasuke, seseorang yang bahkan tak bisa menentukan perasaannya sendiri, jelas tak akan terpancing dengan hal semacam ini.

"Jadi... kau tidak masalah jika aku menembak kepalanya, bukan?" Itachi kembali memprovokasi.

Sasuke menghela napas gusar. "Apa yang kau inginkan?" ucapnya dengan rahang mengejang.

Suara tawa Itachi mengisi ruangan. "Kau selalu pintar, aku memang menginginkan sesuatu," ujarnya di sela kekehan yang ia keluarkan. Ia melirik Zhao—tangan kanannya—mengirimkan isyarat yang langsung dipahami tanpa pertukaran kata. "Aku punya satu penawaran."

Zhao mendekati Itachi dan memberikannya sebuah alat suntik berisi cairan berwarna hijau. Itachi menukar pistol yang sebelumnya ia gunakan untuk mengancam Hinata dengan suntikan itu, sebagai gantinya, Zhao lah yang mengarahkan pistol ke Hinata. Sebuah pencegahan agar tak ada perlawanan. Kelopak mata Sasuke melebar, jelas mengenali benda itu, bahkan mungkin juga isinya.

"Aku ingin memberikannya sebagai hadiah untuk kalian berdua. Hanya saja, aku hanya memiliki satu," buka Itachi, mulai menjelaskan maksudnya. "Jadi bagaimana menurutmu? Fadalia terakhir ini... untukmu, atau dia?" tanya Itachi, tangan kanannya memainkan alat suntik itu tepat di sisi kepala Hinata.

Hinata tak tahu apa yang ada di dalam suntikan itu, ia bahkan tak pernah mendengar apa itu fadalia. Namun ia dapat menyimpulkan dari ekspresi Sasuke—dan juga ekspresi Konan saat ia sekilas mencuri lirikan—bahwa apapun itu, bukanlah sesuatu yang bagus.

"Sasuke... jangan," ungkap Hinata lirih. Sejujurnya ia tak ingin Sasuke mempertimbangkan apapun.

Mata Sasuke yang menatap suntikan itu refleks beralih, bertemu pandang dengan Hinata saat dua kata itu terdengar olehnya. Selang beberapa detik, ia kembali menatap suntikan itu.

"Ahh... jadi Hinata kita begitu menginginkan hadiahku ini? Sayang sekali, padahal kau sangat cantik." Itachi mengecup ringan pipi Hinata dari belakang, membuat Hinata berjengit mengelak. "Baiklah," cetusnya kemudian mengarahkan ujung jarum suntik itu tepat di atas nadi pada leher Hinata.

"Berhenti!" sela Sasuke. "Aku akan melakukannya," tambahnya.

Kali ini Hinata yang dibuat terkejut, namun ia berusaha untuk meyakinkan diri. Ia yakin Sasuke memiliki rencana lain kalau lelaki itu sampai nekat mengambil keputusan ini.

Itachi menyeringai menang kemudian menggelindingkan perlahan suntikan itu di lantai agar dapat dijangkau oleh Sasuke. Sasuke membungkuk untuk memungutnya, kemudian ia singsingkan lengan kanan kemejanya, bersiap menambahkan cairan itu masuk ke pembulu darahnya.

"Oh ayolah, Sasuke... kita tahu reaksinya akan terlalu lambat jika kau menyuntikkannya dari sana," ujar Itachi meremehkan.

Dengan gigi yang bergemeletuk menahan amarah, Sasuke mengangkat tangannya, mengarahkan ujung jarum suntik itu tepat di lehernya. Dan yang dapat Hinata lakukan hanyalah menyaksikan Sasuke mengalirkan cairan itu ke dalam tubuhnya sendiri. Ia yakin Sasuke menggigit bibir bagian dalamnya saat merasakan ujung jarum itu menembus kulitnya. Sasuke melemparkan alat suntik itu kembali ke lantai setelah yakin ia telah mengonsumsi habis isinya.

Hinata, seakan baru bisa menguasai dirinya, memberontak di dalam kekangan Itachi.

"Tenanglah, Cantik. Dia masih punya waktu sekitar tiga puluh menit untuk bernapas," ujarnya kepada Hinata. "Aku hanya memberinya racun yang biasa digunakan untuk melumpuhkan hewan buruan liar. Benar 'kan, Sasuke? Ah, kalau kuingat lagi, bukankah fadalia adalah salah satu senjata favoritmu?" Itachi mengatakannya dengan sangat tenang, seperti mereka tengah membicarakan hobi masing-masing. "Apa kau bersedia menjelaskan efek samping racun itu terhadap manusia?" tanyanya.

Sasuke tak menggubris, ia berdiri tertunduk, bahunya bergerak samar naik dan turun.

"Ah... kau mungkin lupa. Biar aku yang menjelaskan. Di beberapa menit awal, itu akan melemahkan tubuh hingga terasa lumpuh. Dan setelahnya akan menyerang organ dalam hingga organ itu berhenti berfungsi," jelasnya. "Kau memang sangat berbakat dalam memilih senjata, Sasuke. Aku kagum bagaimana fadalia akan bereaksi tanpa henti sebelum semua sistem di tubuh korbannya mati," lanjutnya sambil terkekeh. "Nah, Hinata... sekarang bagaimana kalau kita menikmati pemandangan bagaimana dia—"

Suara sirene beberapa mobil polisi yang terdengar memotong kesenangan Itachi. Sontak ia menyapu pandangannya sembari menduga-duga apa yang tengah terjadi. Beberapa detik setelahnya, dua ledakan dengan jeda yang sangat singkat terdengar, menimbulkan kepanikan di kubu Itachi.

"Sial! Pasti bocah brengsek itu!" geram Itachi. "Kita mundur!" titahnya kepada seluruh anak buah yang mengikutinya. Itachi melepaskan Hinata dan bergegas keluar dari sana.

"Kau gila!" teriak Izumi setelah ledakan terdengar. Kau membuat tempat ini dikelilingi polisi dan memancing mereka dengan ledakan itu!" lanjutnya.

"Aku sudah bilang, batas waktunya enam menit," sahut Ryuzaki.

Izumi menggeram. "Apa yang ada di kepalamu saat memasang peledak-peledak itu, hah? Terlebih melibatkan polisi?!"

"Yang ada di kepalaku..." Ryuzaki tak memburu-buru jawabannya. "Waktu itu aku berpikir, kalau aku tidak bisa keluar dengan Hinata dalam waktu delapan menit, mungkin kami akan terjebak dalam rencana Itachi."

"Delapan menit? Kau bilang pada Sasuke enam menit!"

"Sudah berjalan hampir dua menit sejak aku memikirkannya sampai aku bertemu Sasuke, ditambah perdebatan pendek kita. Dan yah... sisanya enam menit," jelas Ryuzaki singkat namun mudah dicerna. "Tadi mungkin Itachi tengah menghadang mereka. Atau mungkin tidak." Ryuzaki mengedikan bahu ringan.

"Mungkin?!" geram Izumi tak percaya.

"Dengar, Izumi... aku hanya membuat jalan keluar jika mereka terjebak di dalam keadaan yang tidak diinginkan."

"Tapi dengan semua polisi itu—"

"Ledakannya ada di sisi yang berseberangan dengan posisi mereka. Yang pertama polisi kejar adalah sumber ledakan itu. Di sisi lain, Itachi dan komplotannya akan tertekan dengan kondisi ini dan memutuskan untuk mundur. Dengan begitu, Hinata, Konan juga kakakmu juga memiliki kesempatan untuk melarikan diri," jelasnya lagi yang kali ini benar-benar membungkam Izumi.

Dalam kepalanya Izumi mengernyit ngeri, tak menyangka lelaki dengan tampang bodoh seperti Ryuzaki dapat membuat rencana pengalihan sejauh ini.

"Kenapa kau menerimanya, Bodoh!" Konan—yang juga lepas dari ancaman—langsung berlari mendekati Sasuke.

"Sasuke." Hinata hanya memanggil nama Sasuke dengan suara lirih tanpa melakukan apapun, terlalu tertegun, kekacauan yang terjadi di area sekitarnya seperti belum cukup untuk menarik kembali kesadarannya.

"Kita harus segera keluar dari sini." Hanya itu yang Sasuke katakan. Ia kemudian berlari hendak mencari pintu keluar yang dikatakan Ryuzaki. Mengingatnya membuat Sasuke juga mengingat soal enam menit yang juga lelaki itu katakan. Sasuke berdecih sengit, rupanya Si Idiot itu benar-benar memberinya enam menit. Dan sungguh, Sasuke benci berhutang budi.

"Ayo, Hinata!" Konan menarik Hinata untuk ikut berlari mengikuti Sasuke.

Hinata menurut, namun isi kepalanya masih penuh dengan apa yang terjadi barusan. Dan jika memang apa yang Itachi katakan benar soal efek samping racun itu, artinya Sasuke harus cepat ditangani secara medis. Hinata berkedip, ia mulai mempercepat langkahnya untuk mengejar Sasuke

"Kita harus ke rumah sakit!" cetusnya saat mereka akhirnya keluar dari gedung bangunan itu.

Sasuke menengok, wajahnya penuh peluh. "Aku akan mati bahkan sebelum dokter dapat menyentuhku. Dan aku lebih baik mati daripada harus dihadapkan dengan pertanyaan dari mana aku mendapat fadalia itu!" ujarnya tanpa menghentikan langkah menuju mobil mereka yang sudah terlihat beberapa meter jauhnya.

Terlihat Ryuzaki duduk di atas kap mobil dan Izumi bersender di salah satu pintunya, menunggu kedatangan mereka. Dan saat keduanya menangkap bayangan ketiga orang itu, mereka sontak bergerak mendekat.

"Hinata! Konan! Kalian baik-baik saja?" tanya Ryuzaki sambil berlari. Ia mengamit tangan Hinata dan membuatnya berhenti membuntuti Sasuke.

Hinata mengangguk linglung untuk menjawab pertanyaan Ryuzaki. "Tapi dia... tidak baik-baik saja," gumamnya lirih. Tangannya bergetar, telinganya berdengung, hatinya berdegup tak nyaman selagi pandangannya tak pernah lepas dari punggung Sasuke.

"Apa?" tanya Ryuzaki, agak tak mengerti apa yang Hinata maksudkan.

"Sasuke... dia akan mati?" Hinata memandang Ryuzaki, berharap lelaki itu mengatakan tidak atas pernyataan yang ia ubah menjadi pertanyaan itu.

Ryuzaki menengok ke Konan, meminta penjelasan.

"Bajingan keriput itu membuat Sasuke menyuntikkan fadalia ke tubuhnya sendiri," jelas Konan geram.

"Apa?!" Kata tanya itu keluar dari bibir Ryuzaki juga Izumi secara bersamaan.

Izumi memandang kakaknya dengan tatapan ngeri, dalam hati berharap Sasuke menyangkal apa yang dikatakan Konan. Tapi Sasuke hanya menghela napas, tak tertarik memperpanjang bahasan ini.

"Racunnya memiliki penawar," ujar Sasuke datar dan tenang. Ia melirik Ryuzaki, merogoh kunci mobil di sakunya dan melemparkannya ke Ryuzaki yang secara refleks langsung ditangkap oleh lelaki itu. "Kau yang menyetir," titahnya.

Ryuzaki tak mengangguk. Ia memberikan ponselnya kepada Konan, memintanya membawa serta Izumi untuk kembali ke hotel tempat menginap. Ia juga mengatakan bahwa akan ada yang menjemput mereka. Setelahnya Ryuzaki langsung berjalan ke arah mobil dan masuk ke kursi kemudi, sedang Sasuke masuk menempati kursi di sebelahnya. Hinata sendiri bergegas masuk ke kursi belakang.

Dari belakang, Hinata terus menatap Sasuke yang bersandar di punggung kursi. Seolah lelaki itu akan menghilang jika Hinata berkedip barang sekali pun. Ia tak mengerti, sistem kerja otaknya seakan tersumbat, detak jantungnya menggila tak beraturan, dadanya sesak luar biasa. Segalanya terasa menyakitkan. Dan bagaimana bisa ia merasakan semua itu saat Sasukelah yang seharusnya mengalaminya?!

"Kita tidak akan ke rumah sakit," ujar Ryuzaki sambil menggeser persneling.

"Hn," jawab Sasuke mengiyakan. Ia gunakan lengan untuk menutupi matanya, napasnya mulai memberat. "Kita akan mendapat banyak masalah jika kita ke rumah sakit. Kita ke hotel tempatku." Sasuke menyebutkan alamat hotelnya kepada Ryuzaki.

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan di kamar hotelmu?" Hinata mulai agresif, geram dengan Sasuke yang menolak berhadapan dengan medis bahkan di situasi genting seperti ini.

"Sudah kubilang, racunnya bisa dinetralisir. Aku pernah melakukannya, ini bukan hal baru. Ini bukan apa-apa," gumam Sasuke, terdengar enggan membuang tenaga lebih banyak.

"Bukan apa-apa?!" seru Hinata tak percaya.

"Kita butuh beberapa hal untuk menetralisir racunnya," timpal Ryuzaki, membanting setir ke kanan, berlawanan dengan arah jalan tempat hotel Sasuke menginap berdiri. "Sebaiknya kau berdoa untuk bertahan lebih lama jika kau masih ingin hidup," tambah Ryuzaki.

Ryuzaki menghentikan mobil di depan sebuah toko tanaman herbal tradisional.

"Tunggu di sini," ujarnya sebelum keluar dari mobil.

Butuh sekitar tiga menit untuk Ryuzaki menyelesaikan urusannya di toko itu. Dan sumpah, tiga menit itu terasa seperti tiga menit terlama di hidupnya.

Ryuzaki kembali masuk ke kursi kemudi dan melemparkan sebuah kantong kertas berukuran sedang ke atas dashboard sebelum kembali menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke hotel tempat Sasuke menginap.

Sesampainya di tujuan, Sasuke langsung bergerak keluar mobil membawa serta kantong kertas yang Ryuzaki beli sesaat setelah mobil berhasil terparkir. Hinata langsung menyusul Sasuke yang sekarang mulai berjalan terhuyung-huyung.

"Sasuke!" Hinata dengan sigap menahan Sasuke yang hampir kehilangan keseimbangannya. Ia dapat merasakan dinginnya suhu tubuh Sasuke dan bagaimana kemeja lelaki itu basah karena peluh. Saat itu, Hinata merasa seperti dirinya lah yang tengah sekarat.

"Aku baik-baik saja, sial!" gerutu Sasuke lemah.

"Diamlah!" Hinata mencoba memapah Sasuke ke kamarnya. "Aku akan membunuhmu jika kau mati, kau dengar!" sergahnya.

Hinata jelas dapat melihat bahwa semakin benyak menit terlewati, semakin sulit untuk Sasuke menggerakkan tubuhnya.

"Biar aku..." Ryuzaki menyela, mengambil alih tugas untuk memapah Sasuke saat mereka memasuki koridor lantai kamar Sasuke. Meski samar, Ryuzaki dapat mendengar Sasuke berdecih.

Sampai di depan pintu kamar, Hinata merogoh kantong kanan celana Sasuke—ia ingat kebiasaan lelaki itu menyimpan kunci dan ponsel di saku kanan—kemudian mengambil kartu pemindai pintu kamar hotel milik Sasuke.

"Ambilkan air," titah Sasuke, mulai kesulitan berbicara. Dirobeknya kantong kertas yang tadi ia bawa untuk kemudian ia tumpahkan segala isinya di atas kasur.

"Wadah besar. Pakai saja vas itu," tambah Ryuzaki, menunjuk vas kaca di atas meja kecil. "Kita butuh banyak, untuk jaga-jaga."

Hinata berlari meraih vas yang ditunjuk Ryuzaki kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengisinya dengan air. Ia juga mengambil gelas ukuran sedang untuk mempermudah Sasuke meminum penawarnya.

"Aku tidak mengerti kenapa aku melakukan ini. Bukankah harusnya aku biarkan Sasuke mati?" Ryuzaki berbicara kepada dirinya sendiri, namun tangannya masih bekerja untuk meremukkan beberapa daun kering yang Sasuke tumpahkan di atas kasur.

Hinata melihat Sasuke kehilangan kesadarannya tepat saat ia menyodorkan vas berisi air kepada Ryuzaki. Saat di mana tubuh Sasuke seutuhnya tertarik oleh gravitasi, Hinata merasa detak jantungnya berhenti.

"Sasuke!" Hinata bergegas meraih lelaki itu, berlutut di sisinya kemudian memeriksa denyut nadinya. Masih terasa. Ia mengangkat pandangannya, menatap dedaunan kering yang tak ia mengerti cara pakainya. Matanya kemudian terarah kepada Ryuzaki yang terlihat terburu-buru mencampurkan segala tanaman herbal yang ada di hadapannya.

Hinata merutuki dirinya sendiri yang hanya bisa menunggu tanpa berbuat apapun. Pandangan matanya mulai buram karena air mata sampai Ryuzaki menyodorkan vas tadi kepadanya.

"Pastikan dia menelannya," ujar Ryuzaki.

Tanpa kata, Hinata merebut vas itu dan mencoba meminumkan isinya kepada Sasuke. "Aku mohon. Aku mohon. Aku mohon," ulangnya seperti mantra.

"Hinata." Ryuzaki berusaha menenangkan Hinata dengan menyentuh lengannya saat wanita itu terlihat memaksa air penawar ke dalam mulut Sasuke. Namun Ryuzaki menarik diri saat Hinata menepis tangannya. Ryuzaki mengambil langkah mundur melihat Hinata menggila.

"Dia tidak akan mati hanya karena racun! Tidak akan!" ucapnya, lebih kepada diri sendiri.

Saat ia merasa Sasuke tak bisa menelan penawarnya. Hinata memikirkan cara lain. Ditenggaknya campuran penawar itu sebelum ia satukan bibirnya dengan bibir Sasuke. Hinata mencoba membuka bibir Sasuke dengan lidahnya, membuka celah untuk air penawar masuk ke dalam rongga mulut lelaki itu. Namun lagi-lagi, air yang Hinata coba paksakan terhadap Sasuke mengalir keluar melalui sudut bibir lelaki itu.

Belum berhasil. Hinata bahkan hampir tak merasakan embusan napas lelaki itu.

Namun Hinata tetap mengulang hal yang sama berkali-kali, ia bahkan tak menyadari wajahnya yang sudah basah karena air mata. Hingga kemudian, ia merasakan ujung lidah Sasuke bergerak menyentuh bibirnya.

Hinata menarik wajahnya untuk mengamati wajah Sasuke. Tak ada pergerakan berarti. Ia kemudian mendekatkan telinganya di hidung Sasuke dan mendapati napas lelaki itu yang mulai dapat ia rasakan kembali.

Hinata tersenyum lega, air matanya semakin deras mengalir. Ia terkekeh lemah sambil didekapnya kepala Sasuke erat. Tak terlalu lama karena selanjutnya, wanita itu memutuskan untuk menambah dosis penawar untuk Sasuke telan. Ia usap asal air mata di wajahnya kemudian ia tangkup wajah Sasuke dengan kedua tangannya sebelum kembali mengalirkan penawar itu ke mulut Sasuke dengan cara yang sama.

to be continued...

Some of you might wonder abt the plotting that might feel faster than it used to be... well yeah, I don't have anything to say :v

But hope you enjoy this one as well.

Thanks you for always sticking with my lazy*ss *sobs :')

p.s I just want to know if it's ok if I publish the last two part on Wattpad only? Not that I've decided things, I'm just considering abt this.

What do you think? Is it ok or it such a troublesome? .-.