Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

.

Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!

You've been warned!

.

.

This is the 2nd installment of Game On. You might need to read that one first to follow the plot of this installment.

.

.

.

Doesn't Matter If It's Real or Dream. We Have Our Own World To Live In.

.

Hinata menghela napas panjang, mata sayunya mengikuti setiap gerakan Ryuzaki yang mencoba memindahkan Sasuke ke atas ranjang. Irama napas Sasuke sudah terlihat lebih teratur, denyut nadinya pun dirasa normal saat Ryuzaki tadi memeriksanya.

"Harusnya dia dibawa ke rumah sakit," gumam Hinata.

Ryuzaki menegakkan tubuhnya kemudian melirik ke arah wanita itu. "Dia tidak akan menyukainya, Hinata," ujarnya kemudian mundur beberapa langkah untuk menyandarkan punggungnya di dinding, entah bagaimana ia merasa tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya. Dipandangnya Hinata tanpa berkedip.

Merasa diperhatikan dari arah lain, Hinata mengalihkan pandangannya hingga bertemu tatap dengan Ryuzaki.

"Ada apa?" tanyanya, menyadari ada banyak tanya di dalam sorot lembut lelaki itu.

Ryuzaki tak begitu memainkan ekspresinya, tapi sepertinya kali ini netranya terlalu banyak bercerita. "Aku menyaksikan bagaimana Hinata menggila tadi," balasnya rendah, dijejalkannya kedua tangan di saku celana.

Kening Hinata berkerut, belum memahami apa yang hendak Ryuzaki sampaikan.

Ryuzaki menghabiskan beberapa detik untuk terus memandang Hinata sampai kemudian ia berpaling, melirik sosok lain yang kini tengah terbaring. "Saat dia sekarat... Hinata begitu... lepas kendali," paparnya rendah, singkat dan perlahan.

Hinata berkedip beberapa kali. Dirinya? Lepas kendali?

"A-aku?"

Ryuzaki menengok, kembali berhadapan dengan Hinata. "Hinata mungkin tidak menyadarinya sama sekali, ya?" ucapnya dengan senyum tipis yang tak begitu memiliki arti. "Aku melihatnya... bagaimana Hinata panik, bagaimana Hinata berteriak, bagaimana Hinata menangis. Aku... tidak bisa memalingkan wajahku saat itu," tambahnya, netranya turun, seperti mencoba menyapa karpet yang melapisi lantai kamar tersebut. "Agak menyakitkan untukku mengatakan ini tapi..." Ryuzaki kembali menyambungkan sorotnya dengan mata Hinata. "Semua itu benar-benar menunjukkan seberapa besar Hinata mencintainya."

Hinata tak dapat mengatakan apapun. Segala kata seperti terpenjara di tenggorokannya. Ryuzaki masih memasang senyum tipis saat mengatakannya, tapi melihatnya malah membuat dada Hinata sesak. Ia tak pernah berniat untuk menyakiti perasaan lelaki itu.

"Aku memang tidak bisa menjadi seperti dia, ya?" Ryuzaki lebih terdengar seperti tengah mengatakan hal itu untuk dirinya sendiri ketimbang menunjukkannya sebagai pertanyaan kepada Hinata. "Dia memang tidak pernah bisa digantikan, ya?" tambahnya.

"L..." Sejujurnya Hinata tak tahu apa yang akan ia katakan seiring sesuatu terasa membebankan hatinya.

Apa Sasuke tak tergantikan? Entahlah. Dulu Hinata pernah berpikir tak akan ada lelaki lain yang bisa memiliki tempat tersendiri di hatinya seperti Neji. Lalu ia bertemu dengan Sasuke untuk kemudian kembali merasakan hal yang sama sekaligus begitu berbeda. Jadi bukan tak mungkin hal itu akan terulang, 'kan? Bukan tak mungkin baginya menggantikan Sasuke, 'kan?

Seharusnya Hinata mengatakan logika itu kepada Ryuzaki. Mungkin hal itu bisa sedikit mengobati nyeri yang dirasakan lelaki itu. Tapi Hinata tak bisa mengatakannya. Bagaimana bisa ia mengatakannya saat ia sendiri tak bisa meyakinkan diri sendiri akan hal itu?

Hinata tak ingin menyampaikan sesuatu yang bahkan ia ragukan. Ryuzaki adalah lelaki yang baik, ia tak ingin memberi harapan apapun yang mungkin tak bisa ia realisasikan kepada lelaki itu.

"Tidak apa-apa." Ryuzaki kembali bersuara saat Hinata tak terlihat akan mengatakan apapun setelah melirihkan nama panggilannya tadi. "Aku mengerti, Hinata. Tidak apa-apa," ujarnya lagi, kali ini dengan sorot dan senyum yang tulus.

Senyum yang Hinata artikan sebagai upaya lelaki itu untuk menyemangati Hinata, untuk meringankan beban rasa bersalah yang dirasakan Hinata.

Ryuzaki merenggangkan tubuhnya agar terasa lebih rileks. Dihelanya napas panjang untuk kemudian ia embuskan secara perlahan. "Aku butuh udara segar, sepertinya. Aku keluar dulu, Hinata," tukasnya sebelum melangkah keluar.

Hinata menunduk selepas kepergian Ryuzaki, masih sulit baginya mengatasi situasi seperti ini. Wanita itu kemudian sedikit mendongakkan kepalanya, memandang Sasuke yang bergeming di atas ranjang. Hinata mendesah panjang, matanya terpejam, tubuhnya ia pasrahkan bersandar pada sofa yang is duduki.

Ryuzaki adalah lelaki yang baik, semua ini tak adil untuknya. Begitu kiranya pikir Hinata.

Tapi, hei... bukankah segalanya adil dalam perang dan cinta?

..

...

..

Matahari di luar sudah berada pada titik tertingginya dan sampai saat itu pula Hinata terjaga. Jelas ia merasa lelah, secara fisik juga mental, namun ia tak bisa berhenti memikirkan apa yang Ryuzaki katakan sebelumnya. Jujur saja, ia kebingungan soal cara berhadapan dengan Ryuzaki nantinya karena entah bagaimana ia meyakini hubungan mereka tak akan senormal biasanya.

Hinata menggeleng, mencoba mengenyahkan apapun yang mengganggu pikirannya. Ia baringkan tubuhnya di sofa, berharap dapat terlelap sejenak, setidaknya sampai sebelum Sasuke bangun. Butuh waktu cukup lama untuk Hinata untuk membuat dirinya kalah dari rasa kantuk, namun saat momen itu datang, ketukan pintu kamar hotel terdengar.

Hinata menggeram antara kesal dan malas. Rasanya ia sudah meminta petugas hotel agar tak perlu ke kamar. Tak memiliki pilihan lain, pada akhirnya ia bangkit untuk menyambut ketukan itu.

Seketika pintu terbuka, mata Hinata melebar menemukan Yahiko berdiri di hadapannya. Dan nampaknya pria itu pun merasakan keterkejutan yang serupa menyadari keberadaan Hinata.

"Apa... hah?" gumam Yahiko, menyuarakan keheranannya. Kepalanya kemudian ia longokkan untuk mengintip lebih jauh ke dalam kamar. Keningnya berkerut mendapati Sasuke tertidur di ranjang, perhatiannya kemudian ia alihkan kepada Hinata. Ditelitinya Hinata dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Jadi ini alasannya Sasuke menghilang tanpa bisa dihubungi?"

Hinata menghela napas. Yahiko pasti memikirkan hal mesum setelah melihat sekilas situasi kali ini. Dirinya dan keadaan kamar yang tampak berantakan, Sasuke yang tertidur pada tengah hari. Jelas Hinata tak bisa menyalahkan Yahiko jika pria itu keliru dalam mengambil kesimpulan.

"Ini tidak seperti kelihatannya." Hinata mencoba meluruskan dugaan Yahiko sembari memberi jalan untuk pria itu masuk.

"Aku pikir dia sudah tidak peduli lagi denganmu," tambah Yahiko sambil melangkah santai ke dalam. Yahiko berhenti saat netranya menangkap bayangan tanaman yang cukup familier baginya berserakan di kemudian berbalik, kembali menghadap Hinata. "Oke, awalnya aku pikir kamar ini kacau karena kalian main gila semalaman. Tapi jelas tanaman itu bukan tanaman yang lazim digunakan untuk dekorasi kamar hotel. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yahiko langsung pada intinya.

"Ceritanya panjang," gumam Hinata, ia kembali menjatuhkan dirinya di sofa, membiarkan Yahiko mendekati Sasuke.

"Dia keracunan Fadalia?" tanya Yahiko cepat setelah memeriksa mata Sasuke.

"Kau... tahu?"

"Jadi benar?!"

"Dia terpaksa mengambilnya," gumam Hinata.

"A... hah? Oh, sial!" Yahiko mengumpat tak jelas, tangannya ia ulurkan untuk memeriksa denyut nati di leher Sasuke, beberapa detik berlalu sebelum ia menghela napas lega. "Jadi dia tak menghadiri pertemuannya karena keracunan, bukan karena kelelahan habis menghajarmu semalaman," ujar Yahiko sekonyong-konyong. Ia mendudukkan dirinya di kaki ranjang hingga posisinya berhadapan dengan Hinata yang duduk di sofa. "Jadi... apa yang terjadi?"

"Apa dia akan baik-baik saja?" Hinata balik bertanya.

"Sepertinya begitu," jawabnya singkat. "Sekarang lebih baik kau mulai bercerita. Karena rasanya tidak mungkin Sasuke memilih racun seperti itu untuk menu sarapannya."

Hinata menarik napas panjang sebelum memulai. "Kami... aku... bertemu Itachi."

Yahiko berkedip dua kali sebelum matanya kembali melebar. "Itachi? Maksudmu Itachi kakak tiri Sasuke yang sinting itu?"

"Oh, sepertinya seluruh keluarganya memang sinting," sahut Hinata tanpa antusiasme.

"Yah, yang satu itu sulit aku sangkal. Tapi sungguh, bagaimana bisa kau bertemu Itachi?" Yahiko bersedekap, lebih dari siap mendengarkan.

Hinata mulai menceritakan runtut kejadian, tak berniat menyembunyikan apapun karena jelas, pria itu terlihat tak akan berhenti mengganggunya sebelum mendapatkan jawaban yang menurutnya memuaskan. Sampai di penghujung cerita, raut wajah Yahiko berubah, penuh kejut juga heran.

"Kurang lebih seperti itu," tutup Hinata.

"Kau baru saja bilang kalau dia secara sukarela menyuntikkan fadalia pada tubuhnya sendiri untuk menyelamatkanmu?" tanya Yahiko tanpa berkedip. Sebenarnya Hinata tak secara gamblang mengatakan bahwa Sasuke menyelamatkannya, namun bagaimanapun ia menyamarkan plotnya, kesimpulan yang Yahiko ambil adalah garis besar yang jelas tak bisa diabaikan.

"Percayalah, aku juga masih mempertanyakan hal yang sama pada diriku sendiri," gumam Hinata sebagai balasan. "Aku lega Konan dan Izumi baik-baik saja. Untunglah Sasuke di sana untuk membantu, aku..." Hinata menambahkan, ia berhenti sebentar, diliriknya Sasuke yang tak bergerak di atas ranjang. "Kadang aku... tidak mengerti jalan pikirannya. Tidak. Rasanya aku memang tidak pernah bisa mengerti," aku Hinata yang ditutup dengan embusan napas panjang yang samar.

"Dia memang seperti itu," timpal Yahiko, ia berdiri kemudian bergerak menuju jendela dengan tirai yang masih tertutup. Disibakkannya kain itu sebelum ia kembali melibatkan diri dalam percakapan mereka. "Jadi... selama ini Izumi bersamamu?" tanyanya meski sudah mengetahui jawabannya dari cerita Hinata sebelumnya.

"Ya."

"Kenapa dia kabur padamu?"

"Hinata mengedikan bahu. "Entahlah. Mungkin karena bocah itu butuh suasana baru setelah terlepas dari kegilaan lingkungan kalian."

"Aku harus bertemu dengannya," tegasnya secara tiba-tiba.

Hinata tak tahu seberapa serius Yahiko menganggap hubungannya dengan Izumi. Namun melihat reaksinya, Hinata merasa memang tak ada tanda bahwa pria itu hanya menganggapnya main-main.

"Aku tidak tahu ke mana mereka. Kalau aku tidak salah ingat, L meminta seseorang untuk mengantar mereka."

Yahiko mengusap kasar wajahnya, geraman rendah terdengar. "Oh ayolah! Dia pergi begitu saja tanpa berkata apapun kemudian menghilang tanpa bisa dihubungi! Kau tahu tidak seberapa kacau aku belakangan ini?!"

Hinata menatap lekat Yahiko beberapa saat. "Kau bawa ponsel?" tanyanya, membuat Yahiko berhenti merapalkan celoteh tak jelas. "Mungkin aku bisa mencoba untuk menghubungi mereka."

..

...

..

Hinata tak tahu konsekuensi apa yang akan terjadi ketika ia memutuskan untuk mempertemukan Izumi dengan Yahiko. Tapi ia berpikir tak ada gunanya lagi menyembunyikan gadis itu, toh Sasuke sendiri sudah mengetahuinya.

Ada waktu di mana Hinata menemukan dirinya iri dengan Izumi. Gadis itu membuat orang-orang di sekelilingnya dengan mudah menyukainya atas alasan yang rasanya tak bisa Hinata pahami. Hinata bahkan tak ingin menampik bahwa ia sendiri tertarik dengan kelakar aneh gadis itu. Rasanya ia bisa melihat mengapa Yahiko begitu mencintai gadis itu. Izumi seperti memiliki kharisma yang membuat orang lain tertarik padanya.

Berbalikan sekali dibanding Hinata yang malah membuat orang di sekitarnya menjauh.

"Izumi itu manja sekali," ujar Yahiko, suaranya terdengar ringan dan meski pandangan Hinata kini mengarah ke luar jendela samping mobil, ia dapat menebah bahwa pria dengan tampilan nyentrik itu tengah tersenyum saat mengatakannya. "Dia selalu membutuhkan seseorang untuk membantunya walaupun sebenarnya ia bisa menyelesaikan hal itu sendirian."

Hinata tak menjawab, tak juga memberi respons non verbal. Namun Yahiko tahu dirinya tengah didengarkan.

"Apa dia baik-baik saja? Maksudku, dia sehat 'kan?" tanyanya sambil memindahkan persneling.

Hinata melirik pria di sampingnya, beberapa saat hening sampai ia memutuskan untuk menjawab. "Dia baik-baik saja," responsnya kemudian kembali melempar pandangannya ke luar mobil. "Apa tidak masalah meninggalkan Sasuke sendirian?" tanyanya.

Yahiko menyeringai, beberapa kali ia melirik Hinata. "Dia akan baik-baik saja. Lagipula sepertinya ia akan lebih senang kalau dia terbangun tanpa orang lain di sekitarnya. Kau tahu sendiri 'kan, dia benci terlihat lemah," jawabnya. "Dan lagi, butuh sekitar satu atau dua hari penuh untuknya benar-benar pulih. Racun semacam itu masih akan menimbulkan efek samping, kau tahu? Kepalanya mungkin akan penuh dengan kebingungan dan hal-hal menyebalkan lainnya." Yahiko mengedikan bahu.

"Apa ini pernah terjadi sebelumnya?"

"Huh?"

"Apa sebelumnya... dia pernah keracunan seperti ini?"

"Oh." Yahiko mengangguk. "Beberapa kali. Tapi kebanyakan hanya bagian dari eksperimennya sendiri," tambahnya, mengantarkan mereka ke dalam situasi yang hening tanpa percakapan lebih lanjut.

Hampir lima belas menit mungkin terlewat tanpa mereka bertukar kata, sampai Yahiko kembali buka mulut.

"Hinata," panggilnya.

Hinata hanya menengok sebagai respons.

"Kalau kulihat, sepertinya kau terlalu peduli terhadap seseorang yang kau bilang begitu ingin kau hancurkan."

Hinata menggigit bibir bawahnya. Selama ini ia memang terus-menerus membangun niat untuk menghancurkan Sasuke, semua orang dapat melihatnya dan Yahiko bukan pengecualian. Pria itu mungkin sedang menertawakannya dalam hati sekarang.

"Aku tidak peduli," sangkal Hinata dangkal.

"Sungguh?" Yahiko mendengus kemudian ekspresinya berubah sedikit lebih serius. "Aku sungguh tidak mengerti. Selama ini aku pikir kalian hanya main-main, aku pikir kau juga hanya menganggap Sasuke sebagai teman ranjang yang hebat."

"Bisa tidak kita tidak membicarakan hal itu," sungut Hinata cepat.

Yahiko terkekeh pendek. "Oh, lihat siapa yang cemberut."

Hinata menghela napas, ia menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap kosong langit-langit atap mobil. "Benar. Kau... kalian... hanya berasumsi. Kalian tidak tahu apa yang aku rasakan atau apa saja yang harus aku hadapi karena Sasuke. Jadi bisa tidak kalian berhenti berpikir kalau aku tidak mau melupakan segalanya begitu saja," sergah Hinata cepat, jelas terdengar kesal.

"Hei..." Yahiko mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tidak sepertimu, jalan pikiran Sasuke itu terlalu rumit. Kalau kalian memang saling memandang lebih, daripada terus saling adu kepala, kenapa kau tidak mengalah?" sarannya dengan cara bicara yang ringan. "Maksudku, sungguh... berhentilah saling menghancurkan satu sama lain. Menikahlah kemudian pergi bulan madu ke Paris atau apalah," tambahnya, yang menurut Hinata agak melantur.

Hinata menengokkan kepalanya, memandang penuh tanya pria yang kini tengah menyetir dengan santainya. Sepanjang ia mengenal Yahiko, ia tahu pria itu adalah tipe yang memiliki pemikiran sederhana. Namun ia tak menyangka pria itu akan melayangkan solusi sekonyol itu.

"Dan soal lelaki itu... L?" Yahiko menambahkan setelah beberapa saat Hinata tak merespons. "Dia tidak terlihat seperti tipe lelaki yang kau suka."

Hinata mendengus penuh cibiran. "Memangnya kau tahu apa soal tipeku?"

"Kau suka yang berbahaya, benar 'kan?" Yahiko melirik sekilas untuk melihat reaksi Hinata. "Itulah kenapa kau terlibat bersama Sasuke sampai sejauh ini," jawabnya dengan menambahkan sedikit nada cemooh yang makin membuat Hinata enggan bicara lebih banyak.

..

...

..

Yahiko mengedarkan pandangannya ke seluruh area lobby hotel—yang Konan katakan merupakan tempatnya dan Izumi singgah saat Hinata menghubungi mereka. Hinata yang terlihat lebih bergerak santai mengikutinya di belakang. Dengan tenang ia juga mencari sosok Konan atau Izumi di sekitarnya.

"Yahiko!" seru seseorang yang tak lain adalah Izumi.

Detik setelah Hinata dan Yahiko mengarahkan pandangan mereka ke sumber suara, dapat mereka lihat Izumi tengah berlari kecil menuju ke arah mereka dengan Konan yang juga berjalan ke arah yang sama.

Izumi langsung memeluk Yahiko yang jelas sangat disambut oleh pria itu. Dan melihat bagaimana Yahiko kemudian mencium kening sebelum melumat bibir Izumi, jelas keduanya tak peduli dengan keadaan sekitarnya.

Hinata memilih untuk mengalihkan pandangannya ke Konan yang juga menyaksikan sajian roman picisan dadakan, meski wanita itu memperlihatkan ekspresi normalnya, Hinata dapat melihat kerutan samar di dahi wanita itu.

"Konan," sapa Hinata, membuat rekannya itu melepaskan tatapan dari sepasang kekasih di sana.

Konan menoleh, memberikan senyum kecil sebagai respons kemudian bergerak menarik Hinata ke salah satu sisi lobby yang menyediakan kursi panjang. "Sebaiknya kita beri mereka ruang."

"Kau baik-baik saja?" gumam Hinata setelah beberapa saat terdiam.

"Tidak. Aku merasa tidak berguna karena tidak bisa melakukan apapun saat Itachi mengancammu." Konan menghela napas.

"Kau juga berada di bawah ancaman," sanggah Hinata.

"Tetap saja. Kalian terlibat masalah besar karena aku menjadi sandera tanpa bisa melawan." Konan menggigit bibir bawahnya.

Hinata menghela napas panjang, ia menarik rekannya untuk duduk bersisian dengannya. "Itu bukan salahmu, sungguh. Kita hanya sedang sial karena terlibat dalam skenario balas dendam Itachi."

Konan mengusap wajahnya. "Setelah mengetahui tentang Itachi, bocah itu jadi sangat emosional. Dia terus mengatakan kalau dia membuat kesalahan besar karena sudah berniat untuk mengkhianati Sasuke. " Diliriknya Izumi yang masih bersama Yahiko sesaat sebelum ia kembali menundukkan kepalanya. "Baguslah Yahiko ada di sini untuk menenangkannya," tambahnya lirih.

"Konan..." panggil Hinata pelan, disandarkannya punggung pada dinding di belakangnya, matanya masih tak lepas dari sosok wanita di sampingnya. "Kau... masih menyukai Yahiko, ya?"

Konan mengedikan bahu. "Di mana L?" tanyanya, mengalihkan penbicaraan.

"Entahlah. Dia bilang ingin sendiri dulu, jadi aku biarkan. Kalau dipikir lagi, kita semua memang butuh ruang setelah kejadian gila ini," kekeh Hinata tanpa rasa humor di dalamnya.

"Ya, mungkin. Rasanya aku juga ingin cepat pulang ke apartemenku." Konan membungkuk, mencoba menenggelamkan wajahnya pada tangan yang ia lipat di pangkuannya sendiri. "Selanjutnya apa?" tanyanya dengan suara agak teredam karena posisinya.

"Mungkin kita harus pindah ke hotel lain, kembali ke kamar hotel yang sebelumnya akan berbahaya. Aku sendiri... rasanya aku perlu melihat keadaan Sasuke,"akunya.

"Oh, benar! Bajingan itu, bagaimana keadaannya? Apa dia masih hidup?" serang Konan yang seketika menegakkan posisi duduknya lagi.

"Ya, sayangnya dia masih hidup."

"Ah sial , sayang sekali," timpal Konan, meski sebenarnya sama seperti Hinata, ia agak lega mendengar berita itu.

"Hinata."

Hinata mendongakkan kepala dan menemukan Izumi berdiri di hadapannya dan Konan.

"Terima kasih," ucap gadis itu dengan suara bergetar dan mata yang masih berkaca-kaca.

Hinata berkedip dua kali. Sungguh? Barusan itu benar Izumi berterima kasih padanya?

"Uh... sama-sama, kurasa," gumamnya sebagai balasan. Ia kemudian melihat Izumi menyodorkan ponsel milik Ryuzaki kepadanya.

"Aku akan membawanya pulang." Yahiko menyela momen mereka, pria itu menempatkan diri di sisi Izumi dan melingkarkan satu lengannya di pinggang gadis itu. "Hai, Konan. Lama tidak berjumpa," sapanya kemudian.

"Oh, hai juga, Idiot," balas Konan, tangannya ia lipat di depan dada.

Izumi tersenyum kecil kepada Konan sebelum memeluknya, membuat wanita itu terkejut. Sungguh, ada apa dengan bocah angkuh menyebalkan yang beberapa Minggu terakhir mengganggunya itu? Namun pada akhirnya, Konan membalas pelukan singkat yang Izumi berikan sebelum gadis itu berjalan menjauh bersama kekasihnya.

"Aku tidak percaya kau dan bocah itu akhirnya berteman," komentar Hinata tanpa mengalihkan pandangan dari punggung Izumi yang semakin menjauh.

"Ya... aku juga tidak menyangkanya, sih," ujar Konan, juga memandang objek yang sama. "Tapi kurasa ini yang terakhir. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi 'kan?"

Hinata terkekeh kecil. "Siapa yang tahu?"

..

...

..

Langit sudah gelap ketika mereka selesai memindahkan barang-barang mereka ke kamar hotel yang baru. Hinata masih tak mengetahui ke mana Ryuzaki pergi. Konan sendiri sudah melaporkan lokasi mereka kepada agensi. Setelah semuanya selesai dan situasi lebih terkendali, Hinata memutuskan untuk kembali mengunjungi hotel tempat Sasuke menginap.

Hinata menyeret kakinya ke dalam kamar. Di sana, ia dapat melihat Sasuke yang masih tertidur, bedanya kini pria itu terlelap di posisi yang terlihat lebih nyaman dari sebelumnya, yang artinya sadar tak sadar, Sasuke sudah dapat bergerak sendiri.

Hinata berdiri diam di tempatnya, ia pandangi sosok Sasuke sejenak. Bagaimana pria sekacau Sasuke bisa terlihat begitu tenang saat terlelap? Sungguh, kalau bukan karena tindikan di telinganya, kini pria itu benar-benar terlihat seperti Sasuke yang membuat Hinata jatuh cinta.

Hinata perlu mempertanyakan beberapa hal kepada Sasuke saat pria itu bangun nanti. Perihal mengapa Sasuke berpasrah diri diracuni? Benarkah semua itu untuknya? Tapi bukankah Sasuke sendiri yang mengatakan bahwa pria itu tak akan mempertaruhkan apapun untuk Hinata? Atau mungkin Sasuke berani mengambil racun itu karena pria itu tahu betul ia bisa selamat dari racun itu? Dan bukan karena Hinata. Tapi tetap saja, mengapa pria itu mau mengambil risiko yang sebegitu besarnya?!

Setelah satu embusan napas panjang, Hinata memutuskan untuk merebahkan dirinya di sofa. Ia memandang langit-langit kamar, cukup lama kemudian melirik Sasuke selama beberapa detik lalu kembali menantang langit-langit kamar. Lagi-lagi ia masuk ke dalam suasana yang begitu apik untuknya merenungi perasaannya.

Setiap manusia memerlukan orang lain masuk ke dalam hidupnya. Mereka hanya perlu memilih. Hinata hanya perlu memilih. Ia sudah merasakan jatuh cinta dua kali dan bukan sebuah kemustahilan jika ia jatuh cinta lagi, bukan? Seharusnya begitu, jika saja Hinata lebih tegas untuk berhenti memikirkan Sasuke.

Sasuke adalah lelaki penuh celah yang bahkan mengakui bahwa ia tak bisa mencintai Hinata seperti apa yang wanita itu inginkan. Tapi sekarang, nyatanya Hinata masih menginginkan pria itu. Orang-orang selalu menganggap dirinya terlalu lemah hingga tak bisa lepas dari jeratan Sasuke. Mereka menganggapnya bodoh karena telah dibutakan oleh cinta. Mereka memandang rendah dirinya tanpa tahu setiap rontaan yang ia lakukan untuk melawan perasaannya sendiri.

Demi Tuhan! Yang Hinata lakukan dua tahun belakangan adalah untuk lepas dari masa lalunya. Mencoba memperbarui jati dirinya. Berpura-pura seolah ia tak butuh cinta. Bertingkah seolah ia tak memerlukan orang lain.

Tapi bukankah kegagalan tak pernah pandang bulu dalam memilih teman mainnya? Tak pernah meskipun itu adalah seseorang yang sungguh-sungguh dalam berusaha.

..

...

..

Hinata tak ingat kapan pastinya ia terlelap, yang ia sadari kemudian saat matanya terbuka dan kesadaran kembali menguasainya adalah suara gemericik air dari kamar mandi. Di luar, kini langit gelaplah yang mengintip dari balik tirai jendela. Hinata merenggangkan tubuhnya sedikit sembari mengganti posisi menjadi terduduk.

Arah pandangan Hinata bergerak secara refleks saat ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Sasuke muncul dari baliknya, wajahnya masih terlihat letih. Sorot mata mereka saling terikat untuk beberapa saat dan Hinata merasa segala pertanyaan yang ingin ia ajukan kepada pria itu terlupakan begitu saja.

Sasuke memutuskan kontak mata mereka kemudian menghela napas pelan. Ia berjalan dan susuk di sisi ranjang, tangannya sibuk memegang handuk untuk mengeringkan wajah dan rambutnya. Mungkin lima menit sudah terlewatkan tanpa mereka bertukar kata.

Hinata tak merasakan tangannya dingin ataupun gemetar, namun bibirnya bergetar setiap kali ia berniat menyuarakan sesuatu. Ia ingin mengatakan sesuatu, bertanya. Namun sesuatu seperti mengganjal tenggorokannya. Hinata terus menatap ujung kakinya sendiri sampai akhirnya ia mendapatkan keberanian untuk mengangkat wajah dan menatap Sasuke—yang sepertinya merupakan langkah yang salah karena setelahnya, ia langsung mendapati Sasuke yang tepat menatap ke matanya.

Gurat di wajah Sasuke begitu memperlihatkan kondisi pria itu yang belum menyentuh kata pulih. Tapi daripada terlihat seperti orang sakit, Sasuke lebih seperti orang yang sedang mabuk dengan wajah sayu dan mata memerahnya. Mungkin itu salah satu efek samping yang Yahiko peringatkan sebelumnya. Hinata berpaling, tak betah berlama-lama terlibat dalam kontes saling tatap itu.

"Ke-kenapa kau... melakukannya?" tanya Hinata pada akhirnya dalam sebuah bisikan, masih tanpa kontak mata di antara mereka.

"Untuk alasan yang sama kenapa kau menyelamatkanku," jawab Sasuke parau.

"Kau bilang kau tidak akan mengambil risiko apapun untukku."

"Memang. Tadinya aku berpikir seperti itu."

Wajah Hinata terangkat mendengar gumaman itu. Kini ia melihat Sasuke, rasanya pria itu merupakan seseorang yang berbeda. Tanpa seringai, air wajah itu cukup membuat Hinata tercekat. Sorot matanya bersinar redup, memancarkan sesuatu yang belum pernah Hinata lihat.

Sasuke kemudian menengadah, kelopak matanya menutup. "Tapi sepertinya tubuhku memiliki fungsi otomatis saat kau dalam ancaman," kekehnya hambar, dan Hinata menyadari bibir pria itu yang sedikit bergetar.

"Kau bilang kau tidak akan berhenti melawan, tapi kau juga bilang kalau pada akhirnya, yang baik lah yang akan menang. Apa arti dari kontradiksimu itu?"

"Artinya aku yang tidak ingin kau kalah dan kehilangan dirimu sendiri," jawab Sasuke cepat tanpa ragu meski nada bicaranya terdengar layu. "Juga aku yang tidak ingin kehilanganmu."

Hinata memalingkan wajahnya saat Sasuke berdiri, bergerak menuju dirinya. Meski tak melihat secara langsung, Hinata tahu Sasuke yang berlutut di hadapannya saat ia merasakan sepasang tangan mendarat, berpangku ringan di pahanya. Hinata menggigit bibir bawahnya, seolah dengan begitu kewarasannya tetap setingkat di atas dilemanya.

"Aku tidak bisa bersamamu, Hinata," desis Sasuke, tak menuntut iris bulan Hinata menghampiri mata kelamnya. "Aku yang kau kenal tiga tahun lalu... semua itu hanya lakon yang aku penuhi. Sebuah ilusi untukmu. Aku memang tidak pernah jatuh cinta padamu saat itu. Bukan begitu caraku mencinta," ujarnya tenang dan perlahan. "Tapi aku yang sekarang kau tahu... kurasa beginilah caraku mencinta. Aku tidak bisa membuang segala ambisiku hanya untukmu. Aku ini bajingan egois, kau tahu itu. Tapi saat ini aku sungguh jatuh cinta padamu."

Sulit untuk Hinata menerima pengakuan itu. Ia mencoba untuk terlihat tenang, namun detak jantungnya yang terus meningkat membuat paru-parunya juga bekerja lebih cepat hingga napasnya memburu. Sebuah rantai reaksi yang seolah memberikan bukti, bahwa sejauh manapun Hinata berlari, hatinya enggan mengikuti.

"Aku tidak bisa bersamamu, Hinata," ulang Sasuke. "Tapi aku juga tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Aku telah mencobanya."

Sasuke bangkit hanya untuk menyamakan tingginya dengan Hinata. Tangannya naik menelungkup wajah ayu itu agar berhadapan dengannya. Satu usapan ibu jari di pipi rupanya cukup untuk membuat Hinata menatapnya.

Tangan kiri Sasuke diam sedang tangan kanannya merayap pelan ke tengkuk Hinata untuk kemudian memberi sedikit tekanan di sana yang makin mengiris jarak wajah mereka. Lagi-lagi Hinata melepaskan zirahnya, ia hanya berdiam, matanya terpejam saat hangat bibir Sasuke menyapu permukaan bibirnya.

Bagaimana Sasuke yang terlihat begitu enggan melepaskannya membuat momen itu terasa begitu lambat, namun juga begitu tenang. Benak Hinata terlempar ketika saat mereka bercinta dengan Sasuke yang terkekang demam. Terasa sama lambatnya, namun kali ini lebih membara.

Dan detik itu, Hinata hanya ingin mempercayai satu hal. Bahwa saat ini Sasuke tak sedang mempermainkannya. Bahwa kini ia tengah bersama sosok Sasuke yang sebenarnya, sosok Sasuke yang tak pernah dunia lihat juga tak ingin Hinata bagi dengan siapa pun.

Hinata hanya ingin mempercayai hal itu. Karena rasanya terlalu menyakitkan untuk mempercayai kemungkinan lain.

Sasuke memiringkan kepalanya, mencari sudut yang dirasa sempurna. Giginya menggoda bibir bawah Hinata, menyampaikan rayuan yang agak memaksa agar wanita itu memberikan akses lebih dalam untuknya. Sedang tangan kirinya yang semula menangkup pipi Hinata mulai bekerja lebih serius pada kancing-kancing kemeja Hinata.

Hinata membiarkan perasaannya menang atas tubuhnya, membiarkan Sasuke menang atas tubuhnya. Ia membiarkan dirinya menikmati bagaimana ujung jemari Sasuke mengusap setiap inci permukaan kulitnya, bagaimana bibir Sasuke beradu dengan bibirnya, bagaimana lidah Sasuke menari bersama lidahnya. Hinata membiarkan Sasuke menyeretnya masuk ke dalam bara api yang tak pernah mati.

Tak ada yang perlu diburu-buru. Baik Sasuke maupun Hinata seperti menginginkan momen itu bertahan selama mungkin.

Masih dengan bibir dan lidah yang saling terhubung, Sasuke bergerak, mencoba berdiri secara sempurna. Ia mengangkat tubuh Hinata yang secara otomatis melingkarkan kakinya di pinggang pria itu. Tangan Hinata mengalung di leher Sasuke, membuat tubuhnya menyentuh tubuh Sasuke yang sejak awal bertelanjang dada.

Perlahan Sasuke mendudukkan dirinya di sisi ranjang, menjadikan Hinata duduk di atas pangkuannya. Ciumannya turun, dari bibir menuju rahang hingga ceruk leher wanita itu. Menciptakan tanda di setiap jejak basah yang dibuatnya. Tangannya melepaskan kemeja Hinata yang sudah terlebih dahulu ia bereskan kancing-kancingnya.

Dengan bibir yang tak tertawan, Hinata bebas mengeluarkan desahan yang tak sanggup ia tahan. Terlebih saat mulut Sasuke bermain di sekitar telinganya.

"Aku mencintaimu..." desis Sasuke setelah menggigit pelan daun telinga Hinata. "Aku mencintaimu..." ulangnya sebelum kembali memberikan kecupan di belakang telinga Hinata. Dan Sasuke terus membisikkannya hingga ciumannya sampai pada dada Hinata.

Rasanya menyakitkan.

Mengetahui bagaimana Sasuke mendefinisikan perasaan mereka sebagai sesuatu yang saling menghancurkan begitu sulit untuk Hinata terima. Namun kali ini Hinata tak ingin memikirkannya. Yang ia inginkan hanya Sasuke, merengkuhnya hangat, melindunginya dari dingin kenyataan.

..

to be continued...

.

Laptop mati mendadak di saat finishing sebuah dokumen itu disaster, apapun situasinya! Thank God autosave exist, jadi aku cuma kehilangan beberapa paragraf dan editing.

Sebenernya malem ini aku cuma nambah nggak sampe 1k words, tapi 1k itu adalah bagian yang bikin chap ini ngendap berbulan-bulan, padahal bagian sebelumnya udah rampung bahkan sebelum bulan desember kemarin :v

Hope you enjoy... much thanks and see yaaaa :*