Semakin lebar Naruto mengambil langkah, semakin cepat jantungnya berdetak. Bukan karena gugup. Namun karena menahan emosi yang mulai membakar seluruh tubuh.

'Kenapa?' Kata itu berulang menghantui benaknya disusul kalimat pelengkap.

'Kenapa Sasuke bisa ada di sini?'

'Kenapa Sasuke bisa pergi bersama Neji?'

'Kenapa aku tidak mengetahui semua hal ini sebelumnya?!'

Geram dari tenggorokan tidak lagi bisa ditahan, bahkan beberapa orang yang sempat menghalangi jalannya harus merasakan betapa keras tubuh mereka terdorong ke sembarang arah.

"SASUKE!" teriakan pertama terdengar begitu yakin. Disusul pukulan keras dari kepalan tangan pada kaca pemisah.

Tidak ada ragu sedikit pun jika di balik kaca beku tersebut bukanlah sosok yang dikenalnya, karena pada detik yang sama, Naruto mendapati tubuh pria yang dimata-matainya sejak tadi tersentak karena terkejut.

"UCHIHA SASUKE!"

Seluruh pengunjung mulai menoleh ke arah kaca yang bergetar. Manusia pada umumnya akan selalu tertarik pada keributan di sekitar, dan Naruto sama sekali tidak berniat untuk menurunkan volume suaranya.

"SASUKE AKU TAHU KAU DI DALAM!" Semakin panik siluet dalam kaca terlihat, semakin keras pukulan pada kaca dibuat.

Naruto kesal. Bahkan kedua tangannya bergetar hebat. Kepalanya hampir penuh oleh pertanyaan tanpa jawaban, dan ia tidak tahu harus berbuat apa selain meluapkan emosinya pada kaca beku yang terlihat hampir tidak lagi mampu menahan tekanan.

Jika saat itu kedua bodyguard tidak datang untuk mendorong tubuhnya ke atas lantai dengan paksa, bisa dipastikan Mama harus menutup paksa club-nya malam itu.

"Apa yang kalian lakukan?! Lepas!" Meskipun wajah hanya berjarak 3 senti dari lantai, bukan Naruto namanya jika tidak memberontak. Berulang kali ia berusaha menghentak dengan kedua kaki, tetapi tenaga kedua bodyguard yang memiliki tubuh jauh lebih besar darinya memang tidak sebanding.

"Kalian ini tuli?! Kubilang lepas!"

Kedua bodyguard saling menatap, lalu mengangguk bersamaan. Entah perintah apa yang didengar dari single sided earphone mereka, tetapi Naruto bisa memastikan pertanda buruk saat tubuhnya diseret paksa keluar.

"Hey!" Naruto belum menyerah, kakinya masih berusaha menahan karena kedua tangannya terkunci pada belakang tubuh. "Kalian tidak bisa mengusirku seperti ini!"

Kedua bodyguard memilih bungkam. Bagi mereka, Naruto terlihat seperti anjing kecil penurut yang menjadi liar karena tulang favorit miliknya direbut.

Saat pintu utama dibuka, Naruto memberontak lebih hebat karena mengira tubuhnya akan dihempas ke luar. Namun ternyata dugaannya salah. Kedua bodyguard tersebut, justru membawanya kembali masuk melalui pintu kedua sebelum menghempaskannya tepat ke hadapan sesosok wanita yang dikenalnya dengan sebutan 'Mama'.

"Kau puas setelah membuat keributan di club milikku?"

Naruto bangkit bukan karena terintimidasi oleh sepatu hak tinggi Tsunade. Namun ingin memastikan, apakah sosok berkulit pucat yang menatapnya tajam dari arah samping sedari tadi, benar Uchiha Sasuke yang dikenalnya.

"Hhaa," gumam kesal bercampur kecewa dibuat bibirnya. 3 detik setelahnya, entah mengapa ia merasa menyesal karena sudah menoleh.

Instingnya memang tepat, sosok yang berdiri di sana adalah sang sahabat.

"Kau sudah puas? Sekarang saatnya kau pergi, Naruto," Tsunade menegaskan sekali lagi. Namun si pirang tidak berpaling dari Sasuke, hingga sosok lainnya menginterupsi.

"Kau mengenalnya, Sasuke?" Neji melangkah mendekat, tetapi belum sempat pertanyaannya dijawab, Sasuke lebih dulu ditarik si pirang ke arah pintu.

"Ayo kita pulang Sasuke."

Sayangnya, genggaman tangan si pirang yang begitu kuat bisa dilepas hanya dalam satu tarikan.

"Kau bisa pulang sendiri." Sasuke melangkah lebih dulu ke arah pintu, lalu membukanya dengan lebar. "Jangan ganggu urusan pribadiku, Naruto."

Si pirang tertawa sinis. "Urusan pribadi?" ujarnya menoleh ke arah Neji, sebelum balik menatap Sasuke. "Maksudmu, tidur dengan pria itu?"

"NARUTO KA—"

Belum sempat telinganya mendengar lanjutan protes Sasuke, hantaman kuat dari arah samping membuat pengelihatannya kabur selama beberapa detik.

"Tutup mulutmu."

Naruto menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, lalu mengeluarkan desah pelan. Rasa nyeri di rahang tidak sebanding dengan harga dirinya yang jatuh menyadari Neji berhasil membuat luka kecil pada wajahnya.

"Kau yang tutup mulut berengsek!" balasnya, balik menghantam Neji tepat di wajah.

Pukulan pertama.

Pukulan kedua, lalu

Pukulan ketiga.

Naruto senang emosinya yang menumpuk sejak tadi berhasil disalurkan. Semakin merah wajah Neji dibuatnya, semakin kuat tangannya menghantam. Ia tidak lagi peduli dengan keadaan sekitar, atau status sosial pria berambut hitam panjang itu. Dalam kepalanya hanya ada satu kata sama terulang, yaitu 'bunuh, bunuh, dan bunuh'.

"Anjingmu bisa dihukum jika kau tidak merantainya sekarang, Sasuke." Asap sigaret dari bibirnya terlihat lebih tebal. Berbeda dari si Uchiha yang tampak terkejut, Tsunade yang berdiri di belakang mereka justru terlihat tenang.

"Dia pantas mendapatkannya," sahut Sasuke menggertakkan gigi.

Tsunade melirik. "Kau yakin?"

Detik kelima setelah Sasuke bungkam, ia tidak mampu lagi menahan tubuhnya untuk menarik paksa kerah baju si pirang keluar.

"Apa yang kau lakukan?! Aku belum selesai menghajarnya, Teme!"

"DIAM!"

Saat Sasuke membentak, Naruto tahu kesempatannya membuka mulut telah habis. Ditatapi Tsunade dari sisi kanan ruangan, ia hanya bisa diam dengan wajah menunduk, tanpa memberontak sedikit pun.

"Anjing gila," rutuk Tsunade mematikan bara api pada sigaretnya, lalu hela napas panjang terdengar saat menoleh ke arah Neji yang tidak mampu lagi berdiri dengan kedua kaki. "Kau baik-baik saja?"

"Apa kau pikir kondisiku ini bisa dikatakan baik?" sahut Neji balik bertanya. "Sial, dia benar-benar kehilangan kendali."

Tsunade berjongkok tepat di hadapan Neji. Dengan jemarinya, pelan ia menyeka darah segar yang menetes dari sudut bibir. "Lalu kenapa kau tidak membalasnya? Satu, atau dua pukulan? Aku tahu kau tidak selemah itu."

Neji mengeluarkan desah pelan. "Dan membuat si pemilik menangis karena anjingnya dipukul, huh? Apa kau lihat bagaimana cara dia menatapku tadi?"

"Sekarang kau sudah paham yang kumaksud dengan 'hanya mencintai satu orang saja' bukan?" Tsunade tertawa puas, "dan jangan bilang ini semua salahku karena tidak memperingatkan dari awal."

"Apa salahnya mencoba? Mereka bahkan bukan kekasih," ketus Neji.

"Belum," sahut Tsunade tersenyum tipis, dan Neji memilih bungkam. "Untuk permintaan maaf, kau bebas melakukan apa pun yang kau suka. Malam ini seluruh club jadi milikmu. Akses langsung, kau suka yang seperti itu, bukan?"

"Dengan kondisi seperti ini. Ya ..., sepertinya itu ide yang bagus," sarkas Neji.

"Mereka tidak akan menolak bagaimanapun wajahmu terlihat," sahut Tsunade membantu tubuh Neji bangkit dari atas lantai. "Kecuali kau tidak mampu lagi berfungsi karena patah hati pertama membuatmu terlalu hancur."

"Kau itu benar-benar wanita tua pilih kasih," sinis Neji, menjilat sudut bibirnya yang sobek.

"Aku mengenali semua pelanggan spesialku dengan baik," ada jeda sesaat, "sayangnya, uangmu itu tidak mampu mengalahkan rasa simpati untuk air mata yang menetes karena cintanya pada sang sahabat tidak terbalas."

"Kau sudah bukan remaja lagi," balas Neji, merapikan pakaiannya.

"Kau mungkin benar," ujar Tsunade melangkah ke arah pintu, sebelum menoleh untuk yang terakhir kalinya. "tetapi ..., apa kau pernah merasakan bagaimana sulitnya mencintai sahabatmu sendiri? Tidak bukan?"

Neji diam bukan karena tidak punya kalimat untuk diucap. Namun ia tahu seberapa kerasnya membuktikan, hasilnya hanya sia-sia.

.

Kaleng soda jeruk menempel pada pipi si pirang yang mulai menunjukkan tanda memar. Di atas kursi taman, keduanya memilih untuk menghadap ke arah tiang lampu karena terlalu canggung untuk saling menatap.

"T-Terima kasih untuk minumannya," ujar Naruto terbata. Ada rasa segan dalam hatinya saat itu, mengingat si Uchiha masih memperlakukannya dengan baik setelah dibuatnya malu.

"Hn."

Naruto menelan ludah. Ingin bicara, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. "A-Aku, aku tidak bermaksud untuk mengucap ... m-mengucap kali—"

"Tidur dengan pria itu?" potong Sasuke datar.

Naruto diam membeku.

"Bukan masalah. Kau bisa menilaiku seperti apa pun yang kau mau," jelas Sasuke dengan ekspresi datar, meskipun suaranya terdengar sedikit bergetar di akhir kalimat.

"Kau salah Sasuke!" Naruto membantah. Namun si Uchiha memilih bungkam. "Aku tidak pernah menilaimu seperti itu! Sama sekali tidak pernah!"

Sasuke masih bungkam.

"Kau sahabatku, mana mungkin aku menilaimu seperti itu," bisik Naruto, lalu beberapa detik setelahnya spontan menoleh ke arah Sasuke gugup. Lagi-lagi ia mengucap kalimat yang sama tanpa disadari.

"Kau benar, sahabat," tegas Sasuke dengan penekanan keras di akhir. "Dan harusnya, sahabat tidak seposesif itu, Naruto."

Naruto mengigit bibir bawahnya. Terlalu keras hingga lidahnya bisa mengecap cairan rasa besi yang begitu pekat.

"Atau aku salah?" ujar Sasuke disusul tawa sinis, "hhaa ..., sudahlah. Aku tidak peduli lagi, kau bisa lakukan apa pun yang kau inginkan." Dengan itu tubuhnya bangkit dari atas kursi. Namun belum sempat mengambil langkah pertama, tangannya digenggam kuat dari arah samping.

"Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi?"

Mendengar pertanyaan seperti itu, Sasuke menggertakkan giginya lagi. "Apa aku harus meminta izinmu mulai dari sekarang?"

"Sasuke," panggil Naruto. Suaranya tidak lagi terdengar seperti biasa.

"Jangan katakan aku juga harus meminta izinmu untuk tidur dengan pria lain?"

"SASUKE!"

Keduanya saling menatap. Entah apa yang dipikirkan dalam kepala masing-masing, tetapi keduanya tahu jika terus membungkam, benang kusut di antara mereka tidak akan pernah terurai.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku berengsek?!" Sasuke menarik kerah kemeja Naruto. Begitu kasar hingga salah satu kancing teratasnya lepas. "APA YANG KAU INGINKAN?!"

Tidak kalah keras Naruto menyahut, "Aku ingin kau kembali seperti biasa!"

Tinju keras dilayangkan Sasuke pada pipi Naruto yang sudah memar sebelumnya. "Kembali seperti biasa apa maksudmu?! Apa yang berubah dariku?! Kau menginginkan sahabat, kau masih mendapatkannya! Lalu apa lagi?!"

Naruto menatap Sasuke bingung. Apa yang telinganya dengar tidak salah. Hanya karena orientasi seksnya berubah, bukan berarti Sasuke berhenti menjadi sahabatnya, lalu mengapa ia merasa seperti ini?

Mengapa ia merasa sangat frustasi?

"Aku harusnya bisa menebak sejak awal." Sasuke melonggarkan cengkram tangannya dengan senyum pahit di bibir. "Bukan sahabat yang kau permasalahkan Naruto, tetapi bagaimana caraku menjalani hidup, benar?"

"Bukan itu," sahut Naruto cepat, tetapi ia juga tidak tahu lanjutan kalimat apa yang harus diucap setelahnya.

"Kau tidak harus menyaring kalimat yang ingin kau katakan, Naruto, akui saja kau membenci pilihanku ini. Apa kau pikir aku tidak tahu bagaimana kau menatapku saat bersama dengan Neji tadi? Kau pikir kami ini menjijikkan, bukan?"

Naruto mengangkat tangan hampir menampar. Namun melihat si Uchiha menatapnya pahit, kontrol tubuhnya yang semula dikuasai emosi berhasil diambil alih.

"Kenapa kau berhenti? Lanjutkan saja," ujar Sasuke pelan. Namun menantang.

Menyerah. Kali ini Naruto benar-benar menyerah, dia tidak akan lagi menutupi rasa tidak nyaman dalam hatinya. Ia akan menumpahkan segalanya pada pria itu.

"Aku tidak ingin kau menyentuh, atau disentuh pria lain," sahut Naruto mengabaikan pertanyaan yang diajukan untuknya.

Mendengar pernyataan langsung dari bibir si pirang, Sasuke tertawa getir. "Hn, akhirnya kau jujur juga," ada jeda sesaat, "bukankah, semuanya lebih mudah seperti ini, Naruto? Kau seha—"

"Atau menyentuh, dan disentuh wanita," potong Naruto.

Sasuke takut telinganya salah dengar, ia menatap Naruto memastikan dengan alis mengernyit. "Aku tahu kau posesif, tapi aku tidak menyangka kau berani sampai sejauh ini, Naruto."

"Jika kau menyentuh mereka, aku tidak akan tinggal diam. Jika kau berpikir aku menganggapmu menjijikkan, itu salah, karena wanita atau pria, aku akan merebutnya darimu," ujar Naruto.

Sasuke tidak tahu lagi harus berbuat apa, dadanya terlalu sesak hingga rasanya ingin meledak.

"Kau hanya akan melihatku saja, sebagai sahabatmu."

"SAMPAI SEJAUH APA KAU AKAN BERHENTI, NARUTO?!"

"AKU TIDAK AKAN BERHENTI, SASUKE!"

Naruto gila menurut Sasuke, pria itu tidak waras lagi. Sudah kehilangan akal sehat.

"AKU TIDAK AKAN BERHENTI HINGGA KAU TIDAK MEMILIKI PILIHAN SELAIN AKU!" lanjut Naruto tidak kalah keras, lalu tatap matanya yang semula tajam melembut, nyaris terlihat pilu. "Kita tidak hidup seperti dalam manga kau tahu? Aku tidak bisa menyerahkan diriku agar kau berhenti menghabiskan waktu dengan pria-pria itu. Kau tidak pernah melihatku seperti kau melihat mereka, karena aku hanya sahabat bagimu, benar?" ada jeda sesaat, "bagaimana mungkin, aku bisa berharap lebih dengan kenyataan seperti ini? Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan aku mencintaimu?"

Lagi-lagi Sasuke hanya mampu menggertakkan gigi kuat-kuat. Selama ini berusaha keras mengubur jauh perasaannya dalam dengan satu harapan sama, nyatanya Naruto memang pria yang tidak bisa memfungsikan otak dengan sempurna.

"Kau tidak memiliki otak di kepalamu Naruto."

"Benar, tetapi setidaknya aku sudah tahu apa yang kuinginkan darimu." Naruto tersenyum getir. Ia menepuk bahu Sasuke, hendak pergi. Namun baru lima kali kakinya melangkah, tarikan kuat di bahu membuatnya berpaling paksa ke arah belakang.

Sasuke menciumnya tepat di bibir.

Hanya ciuman singkat, tetapi mampu membuat pandang mata Naruto kabur karena air matanya mulai membendung.

"Kau benar-benar tidak memiliki otak dalam kepalamu," ujar Sasuke, menatap lurus dengan senyum tipis di bibir.

Berjongkok, lalu menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajah. Naruto tidak tahu mengapa tubuhnya memilih bergerak spontan tanpa izin. Namun saat pipinya mulai basah, dia tahu itu bukan pilihan yang buruk.

"Maaf," bibirnya mengucap sambil tertawa pelan, "aku berjanji akan memfungsikannya dengan sempurna besok."

.

End