"offu..."

Iris violetnya terputar malas, ia mengernyit melihat semua pria di kantor bergumam menyedihkan memperhatikan televisi dimana kekasihnya yang mengisi acara tersebut.

Pria bersurai pink itu kembali mengerjakan aktivitasnya mencatat kasus, enggan peduli dengan sekitar yang sudah terpaku pada kecantikan dewi disana. Mungkin ia cemburu.

Aku tidak cemburu konoyarou!

"Baiklah ini pertanyaan terakhir," sambung pria pembawa acara, "Ada rumor beredar bahwa anda sudah memiliki seorang kekasih, apa itu benar Teruhashi-san?"

Napas pria itu tercekat, gerak pulpen terhenti seketika, namun sorot iris violet itu masih terkunci pada notebook ditangan. Kaidou yang meminum coffeemilk ikut tersedak mendengar pertanyaan pembawa acara.

Semua pria di kantor studio seketika hening, seakan menunggu tim jagoan memasukan gol disaat-saat terakhir pada pertandingan piala dunia. Mereka tidak berkedip menyorot televisi. Saiki bisa mendengar semua pikiran mereka,

"Kumohon katakan tidak ada Teruhashi–san!"

"Jika kau punya kekasih aku akan bunuh diri!"

"Jika kau punya kekasih aku akan menteror kekasihmu seumur hidup"

Saiki menghela napas, "Yare yare"

Pria itu mendongak, melihat kekasihnya itu terlihat gelisah hanya untuk menjawab pertanyaan host. Walau ia tidak bisa mendengar pikiran gadis itu sekarang, setidaknya ia bisa menebak apa yang dipikirkannya saat ini.

Kenapa kau harus ragu? Jawab saja 'tidak ada' itu yang terbaik untukmu dan untukku juga.

"Tidak ada," jawab Kokomi membuat semua pria di studio bersorak gembira, bahkan ada yang menangis terharu. "Aku tidak punya kekasih." lanjut gadis itu.

Raut wajah Saiki mendatar, ia menghela napas lega namun pria disampingnya nampaknya tidak benar-benar memahami situasi.

Kaidou menggeggam erat pulpen ditangannya, perempatan imajiner menghiasi pelipisnya, "Kenapa Teruhashi–san berkata sejahat itu? Dia kan sebenarnya kekasih Saiki" gumamnya, ia menoleh kearah Saiki kemudian menepuk pelan pundak pria yang sudah ia anggap sahabat itu, "Jangan sedih Saiki"

Kau lah yang tidak mengerti, Kaidou.

Keningnya berkerut heran, "Apa maksudmu? Bukankah dia bilang seperti itu karena malu memiliki kekasih sepertimu." ucapnya polos membuat Saiki hampir memukulnya.

Jangan buat aku terdengar menyedihkan.

"Lalu apa?"

Ini yang terbaik, jika dia mengaku bahwa dia kekasihku, menurutmu apa yang terjadi?

Manik Kaidou membulat.

Dia akan kehilangan penggemarnya, karirnya hancur dan itu merusak predikat gadis cantik sempurna miliknya. Selain itu, aku juga tidak mau diteror penggemarnya. Secara tidak langsung sebenarnya dia melindungiku.

Kaidou menghela napas dan mengangguk mengerti, "Pasti sulit memiliki kekasih orang terkenal."

Begitulah.

Pulang kerja larut sudah biasa untuk Saiki, bahkan dibanding dirinya—pegawai lain seperti Kaidou masih harus menginap di kantor polisi demi satu atau dua kasus. Di perusahaan, ia termasuk sebagai reporter teladan karena sebagian besar kasus besar di kota—Dialah yang menemukannya.

Bukan kepribadiannya yang tidak suka menarik perhatian berubah—melainkan ia tidak suka menginap di kantor polisi atau lobi perusahaan karena banyaknya spesies kecoa disana.

Aroma bunga sakura samar tercium, suhu udara Tokyo lebih hangat dibanding seminggu lalu—benar, musim semi telah tiba.

Saat belum bekerja, ia selalu menghabiskan musim semi-nya dirumah, menikmati coffee jeli bersama orangtua, nenek dan kakeknya diakhir liburan musim dingin.

Hampir setahun ia bekerja dan hampir lima bulan lamanya ia tidak pulang karena sibuk bekerja—jujur membuatnya sedikit merindukan suasana rumah. Pria itu merindukan ibunya yang ceria—ramah dan ayah pencundangnya.

Langkahnya terhenti di gang sepi, tubuhnya yang lelah membuatnya memutuskan untuk teleport ke apartemennya.

Ia tiba di depan gedung apartemen—sebenarnya ia bisa saja teleport langsung ke dalam kamar, hanya saja saat ini dia harus memeriksa kotak surat. Ibu meneleponnya pagi tadi bahwa dia mengirimkan satu pac Coffee Jeli beberapa hari lalu dan seharusnya kiriman itu sudah sampai hari ini.

Kiriman tersebut benar-benar datang satu pac Coffee Jeli ditangannya, manik violetnya berbinar senang.

Aku harus kirim hadiah begitu gajihan nanti.

Bunyi denting mengiringi terbukanya pintu lift, pria itu melangkah ringan menuju pintu apartemennya. Rasa lelah usai seharian bekerja seketika lenyap berkat sekotak coffe jeli dari sang ibu.

Manik violet membesar begitu mendapati sosok gadis bersurai darkblue di depan pintu apartemen, gadis itu menutupi kepala menggunakan penutup jaketnya, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri waspada.

Helaan napas dihembuskan, Saiki menepuk pelan pundak gadis itu dari belakang membuat ia menjerit terkejut, "AKU BUKAN TERUHASHI!" pekiknya reflek.

Lalu kau siapa?

Gadis itu memutar tubuh, menghela napas lega begitu melihat wajah Saiki, "Aku pikir kau stalker."

Yare yare, jangan sebut kekasihmu sendiri stalker.

Saiki berjalan mendekat, mengetik password dan membuka pintu. "Masuklah," ucap pria itu kali ini dengan mulutnya sendiri, bagaimanapun ia ingin bersikap se-normal mungkin di hadapan kekasihnya itu.

Gadis itu tersenyum riang kemudian melangkah memasuki apartemen, ia duduk rapi di sofa dan memperhatikan Saiki yang nampak berkutat dengan gelas didapur, "Apa yang kau lakukan, Kusuo–kun?"

"Membuat kopi jeli, kau mau?"

Kokomi mengangguk antusias, "Mau!"

Hanya perlu sepuluh menit, dua gelas kopi jeli selesai dan terhidang di meja tepat di depan sofa. Teruhashi yang menyantap lebih dulu, "Enak!" pujinya.

"Ini hanya kopi jeli instan, ibuku mengirimkannya dari rumah." ucap pria itu kemudian ikut menyuap kopi jeli, "Jadi.. Apa yang membuatmu datang kemari?"

"Apa kau melihat acaraku tadi siang di televisi?"

Saiki mengangguk.

Raut wajah gadis itu sontak menyendu, ia meletakkan gelas yang sudah kosong di meja, "Maafkan aku," balasnya nyaris bergumam.

"Bagaimana jika ia memutuskanku?"

"Dia pasti marah! Jelas karena aku tidak mengakuinya di depan umum."

"Ahhh.. Aku mohon, katakan kalau kau tidak marah!"

Saiki menghela napas, ia bisa mendengar rutukan gadis itu dengan jelas, "Aku tidak marah."

"Eh?"

Netra violet teralih, menyorot iris biru disana, "Aku tidak marah." ulangnya, "Justru aku lega kau melakukannya, aku tidak ingin melihatmu kehilangan karirmu karena kau terlihat menikmati dunia hiburan. "

Sepasang mata biru memicing, "Sungguh?"

"Lagipula jika kau mengaku kekasihku, aku bisa saja diserbu dan dibunuh para penggemarmu, " ia menghela napas, enggan membayangkan kemungkinan tersebut, "Aku tidak mau itu terjadi."

Gadis itu tertegun, iris birunya menyorot dalam kekasihnya itu lamat-lamat, bulir bening menggenang dan jatuh membasahi pipi. Saiki yang melihat Teruhashi menangis hanya mengernyit heran, "Kenapa kau menangis?"

"Aku pikir kau akan marah," gumamnya disela isakkan, "Kusuo~" pekiknya kemudian memeluk erat tubuh Saiki hingga pria itu hampir terjungkal ke belakang.

"Aku pikir kau akan memutuskanku." isaknya lagi, Saiki menghela napas kemudian menepuk pelan puncak kepala biru itu.

Kenapa aku harus melakukan itu?

Bersambung..