Kantor Japan news mendapat bombardir telepon, semua reporter sibuk mencatat kasus yang sedang panas diperbincangkan masa.

Kasus supermodel Teruhashi Kokomi ditetapkan sebagai tersangka.

Surai birunya tergerai berantakan, wajah cantik itu kini lesu tanpa rona sedikitpun, bibir yang awalnya merah muda indah memutih getir. Tangis gadis itu membelah langit—nyaring menembus deru suara hujan di luar.

Netra birunya menatap bengis kearah pria berjas bersurai jelaga, "Kubunuh kau iblis!" jeritnya.

Ia memiringkan tubuh, meraih vas kaca diatas nakas kemudian melempar tanpa ampun kearah pria itu, "Kau merebut kehormatanku dan kini kau membuatku menjadi seorang tersangka!"

"Tenanglah Teruhashi–san," tegur seorang wanita, "Anda hanya tinggal menandatangi kontrak, maka semua beres, bukan?"

Sepasang manik biru melebar—menatap wanita itu tidak percaya, "Jangan-jangan kau?"

Sudut bibir wanita itu terangkat, membentuk seringai keji, "Impianmu akan tercapai dan kau akan mendapat seorang suami kaya, bukankah itu penawaran luar biasa?"

Napasnya tercekat. Bulir air bening bergulir menuruni pipi, berderai disela jeritan kecilnya. Kedua tangannya ia pakai menutup telinga, berusaha menulikan pendengaran, gadis itu menggeleng keras dengan punggung gemetar.

Tidak mampu menerima kenyataan yang menimpanya.

"Tolong aku, Kusuo!"

Sepasang manik violet terbuka sempurna, ia duduk dengan napas terengah, keringat dingin mengucur tanpa sadar membasahi pelipis. Ia mengerjap—memperhatikan jam dinding yang menunjukan pukul tiga pagi.

Ini mimpi?

Manik violetnya melebar.

Bukan—ini penglihatan masa depan. Yare-yare, akan ada kejadian besar terjadi dan itu menimpa Kokomi.

Apa yang harus kulakukan?

Sejenak ia panik. Biasanya ia bisa dengan mudah menyelesaikan kejadian yang muncul dimimpinya, namun kali ini berbeda. Mimpi yang sangat singkat—tanpa info mendetil sedikitpun.

Ia bahkan tidak melihat wajah dua orang selain Kokomi disana.

Menyadari pria di sampingnya terbangun, netra biru Teruhashi terbuka, ia mengernyit melihat Saiki yang nampak memijit-mijit keningnya, "Kusuo–kun daijobu?" ucapnya khawatir.

Pria itu menoleh singkat kemudian mengangguk, "Aku mau minum air," ucapnya kemudian turun dari ranjang.

Teruhashi hanya memandang punggung kekasihnya itu dengan alis tertaut, "Apa dia sakit?" batinnya.

Pusing, dua gelas air belum juga menjernihkan kepalanya. Berbagai spekulasi menginvasi pikiran, bertahap berusaha mencari solusi dari A hingga Z, namun nihil—ia tidak menemukan jalan keluar yang pasti.

Alasan utamanya karena ia bahkan tidak tahu kasus apa yang akan menjerat kekasihnya itu. Samar-samar membingungkan.

Pertama: aku hanya melihat bahwa akan ada pemberitaan tentang Kokomi yang ditetapkan sebagai tersangka.

Kedua: dua orang yang menjadi pelaku, namun aku bahkan tidak melihat wajah mereka.

Ketiga: tidak ada petunjuk waktu apapun, aku tidak tahu kapan kejadian itu terjadi.

Keempat: Kokomi menjerit minta tolong.

Pintu balkon di buka, ia melangkah keluar. Desir angin membelai surai pinknya sembari menyandarkan punggung di pagar pembatas, satu tangannya memegang kopi hangat dan satu lagi sibuk mencari kontak di layar smartphone.

Benar. Saat ini hanya mereka orang yang tepat untuk dimintai bantuan.

Aiura, Toritsuka dan Akechi.

Ia sebenarnya enggan meminta tolong Akechi karena baginya akan jauh lebih merepotkan dibanding dua sejoli gesrek itu, namun kepintarannya dibutuhkan disini.

Ia tidak bisa menggunakan telepati, karena jarak rumah ketiganya berada di luar jangkauan 200 meter.

Cincin germanium dipasang di jari manis agar bisa fokus mendengar pembicaraan di telepon, orang pertama yang ia hubungi adalah Toritsuka.

Panggilan ketiga—pria itu menyahut dengan suara parau, yah—tidak bisa disalahkan karena ini memang masih dini hari dan belum waktu mayoritas penduduk Tokyo untuk bangun tidur.

"Kita bertemu besok malam di cafe dekat tempat kerjaku," titah Saiki.

"Heh— aku ada janji besok dengan pacar kedelapanku, bisa ditun—"

"Kubunuh kau,"

Toritsuka menjerit ngeri, "B–baik Saiki–san."

Kedua: Aiura, panggilan pertama wanita berkulit tan itu sudah menjawab teleponnya. Samar, ia bisa mendengar suara debum musik dan sorak manusia diseberang, tanpa menggunakan kekuatannya pun Saiki bisa menebak wanita ini sedang berada di club malam.

"Kusuo! Tumben kau meneleponku, kangen?" ucapnya santai.

"Tentu saja tidak baka!" sahutnya menghela napas, "Nah Aiura— datanglah ke Tokyo besok, aku membutuhkan bantuanmu."

Gadis itu bergumam mengerti, "Kasus baru cenayangerz?"

Kepalanya terdongak, menatap pancaran sinar rembulan yang nyaris memudar,

"Anggap saja begitu."

Suara gesekan spatula dengan wajan melatari pagi, aroma nasi goreng menguar di udara—menyulut perut bergejolak minta segera diisi. Semenjak lulus Universitas, mereka memang tinggal satu atap—bukan alasan romansa melainkan demi menghemat uang sewa.

Memasak sudah menjadi rutinitas untuk Teruhashi, Saiki dibuat merasa bersalah karena gadis itu kadang menyempatkan pulang kerumah disela kesibukan syuting demi memasak sepiring omelet untuk sarapan atau makan malam.

Saat Saiki merasa sungkan—gadis itu selalu membuat alasan 'latihan menjadi istri yang baik'.

Padahal ia sendiri juga pandai memasak.

"Kau tidak ada saat aku bangun," ucap gadis itu memecah hening tanpa repot menoleh kearah pria di meja makan.

"Aku bangun lebih dulu," balas Saiki kemudian menyeruput segelas susu yang sudah disiapkan kekasihnya itu.

"Bukan karena mengobrol dengan Aiura di telepon?"

Melipat koran, sepasang manik violet memicing kearah punggung Teruhashi yang sibuk memasak, "Menguping itu tidak sopan, ojou–san,"

Bibir gadis itu mengerucut, pipi chubby-nya menggembung lucu, "Tidak sengaja terdengar," sahutnya sarkas.

"Bohong."

Spatula diletakan di bak cuci, kompor dimatikan. Gadis itu memutar tubuh, mengacak pinggang dengan dagu terangkat, "Kusuo sudah janji tidak akan menghubungi wanita lain selain aku."

"Aku punya banyak rekan kerja perempuan, kau melarangku menghubungi mereka juga," balas pemuda itu, "egois sekali."

Tersinggung, gadis itu menghentakan kaki, melepas apron kemudian berjalan memasuki kamar, "Kusuo baka!" teriaknya lalu membanting pintu.

Yare-yare

Berdecak, pria itu bangkit mengambil piring dan menyendok sendiri nasi goreng dari wajan. Ia melirik sekilas pintu kamar yang tertutup kemudian membuang napas.

"Kau tidak lapar?" teriaknya namun tidak ada jawaban, "Jangan salahkan aku jika nasi gorengmu kuhabiskan!"

Pintu sedikit terbuka, gadis itu mengintip dibalik celah sempit, "Jangan dihabiskan, " gumamnya.

Saiki menyeringai, "Kuhabiskan jika kau tidak juga keluar," sahutnya final.

Pintu perlahan terbuka lebar, namun gadis itu masih berdiri disana—terlihat ragu.

Seulas senyum terukir, Saiki menyendokan nasi goreng ke piring kosong kemudian meletakannya di meja makan,

"Berhentilah marah, kemari dan ayo makan bersama."

Ragu, gadis itu melangkah mendekat.

"Sadarlah Kokomi, kau sedang marah sekarang, jangan terpancing senyumannya." rutuk gadis itu namun bisa didengar jelas oleh pria pink disana.

Yare yare.
Inilah yang aku suka dari gadis ini, jika banyak gadis di luar sana memiliki harga diri tinggi pada kekasihnya.
Berbeda dengan Kokomi, ia terbilang tipe yang mudah luluh.
Saat ia marah, kau hanya perlu berbicara lembut dan tersenyum padanya.

Melihat sang kekasih belum juga duduk, Saiki memasang wajah sedih—dibuat-buat tentunya, "Kau sudah tidak mau makan bersamaku lagi?"

Pukulan telak, gadis itu menyerah.

"Kau sungguh tidak ada hubungan apapun dengan Aiura?" tanyanya memastikan.

Yang ditanya tersenyum, "Tidak ada."

Senyum cerah gadis itu kembali, ia mulai menyedok nasi goreng—makan dengan ceria.

Saiki melirik jam tangannya, dua jam lagi ia harus pergi menemui mereka.

Otak detektif Akechi pasti bisa membantu mencari tahu apa yang menyebabkan Teruhashi menjadi tersangka.

Aiura pasti bisa meramal tanggal pasti kejadian tersebut.

Toritsuka sebenarnya tidak diperlukan namun tetap diajak—untuk berjaga-jaga.

Apapun yang terjadi.

Kokomi harus kuselamatkan.

Bersambung...