Langkahnya berat, ia berjalan menaiki tangga menuju pintu depan gedung agency yang sudah menaungi Kokomi lima tahun terakhir.
Ia terhenti di depan meja administrasi, seorang wanita dengan balutan coat berwarna cream berdiri dengan dahi berkerut, "Ada yang bisa saya bantu?"
"Teruhashi Kokomi, dimana dia?"
Wanita itu menautkan alis, "Anda ini?"
Sadar sikapnya yang terburu-buru- Saiki mengambil dompet dari saku celananya, meraih secarik kartu nama dan memberikannya pada wanita di depannya, "Saya reporter Japan news, saya sudah membuat janji dengan Teruhashi Kokomi untuk melakukan wawancara."
Wanita itu meraih gagang telepon-terlihat berbicara pada seseorang kemudian mendongak menatap kembali pria bersurai pink di depannya.
"Memang agak mendadak, tapi nona Teruhashi-san sedang pergi bersama manajer beliau ke Amerika sekarang, kabarnya ini menyangkut tanda tangan kontrak dengan brand parfum Olliver."
Tubuh pria itu tersentak, kepalanya mendadak pusing. Firasatnya buruk, gadis yang ia cintai itu pasti jauh dalam keadaan baik sekarang. Saiki membalik tubuh, berlari meninggalkan gedung agency kemudian menghubungi Aiura.
"Aiura kau dimana?" tanyanya begitu telepon tersambung, "Ramal dengan bolamu keberadaan Kokomi sekarang juga, cepat!" desaknya.
"Aku tidak mau!" desis gadis bersurai biru, "Menjadi istrimu? Jangan bercanda! Kau pikir aku wanita murahan yang bisa dengan mudah tergiur uang? Persetan dengan kontrak, pokoknya aku tidak akan menikahimu."
Sudut bibir pria pirang terangkat, ia menyeringai, "Walau kau akan menjadi tersangka?"
Sepasang manik biru melebar, "tersangka?"
Kopi hitam disesap, pandangan Mr Smith teralih kearah map berisi kontrak yang kini berada di tangan asistennya, "Hukum Jepang tidak segan pada siapapun yang melanggar kontrak resmi, menurut pasal yang ada kau bisa saja dihukum penjara lima tahun."
"Tapi kau tidak pernah membicarakan masalah tentang pernikahan!" ujar gadis biru itu kalut.
"Itu tidak penting lagi Teruhashi-san," sahut pria pirang itu, "Bukti ada di tanganku, pernikahan juga tercantum tepat di kontrak yang kau tanda tangani. Itu salahmu karena kau tidak membacanya dengan teliti."
Kokomi tercekat.
Smith bangkit dari sofa, melangkah mendekat kearah Kokomi membuat gadis itu reflek beringsut mundur, tangan kekarnya menyentuh pipi putih Kokomi, membelainya perlahan lalu menyeringai.
"Kau cantik sekali."
Tangan pria itu ditepis kasar, "Lepaskan!" bentaknya, iris biru melebar—menyorot tajam lawan bicaranya, "Aku hanya milik kekasihku, aku tidak akan menikahimu."
"Kekasih?" dua alis pria itu tertaut, iris biru mudanya teralih kearah manajer Kokomi yang masih tidak beranjak dari tempatnya berdiri, "Dia punya kekasih?"
Manajer wanita itu mengangguk, "dia seorang reporter."
Netra biru Kokomi membulat sempurna, ia menoleh kearah manajernya-menatap dengan tatapan tidak percaya, "Kau?"
Manajer itu mengangguk, ia menyeringai, "Tuan Smith memberiku banyak uang, aku tidak bisa menolak apapun permintaannya."
Bulir air mata jatuh, bergulir di pipi mulusnya, ia menggigit bibir menahan isak tangis yang hendak keluar. Otaknya berputar, teringat kembali perkataan Saiki tadi malam, bagaimana pemuda itu begitu melarangnya untuk tidak menandatangani kontrak Olliver.
"Maafkan aku Kusuo-kun."
"Dia ada di dalam pesawat—bukan, tapi jet pribadi."
Saiki memijit kening, "Tujuannya?"
"Tunggu sebentar, " suara wanita bergumam, terdengar jelas gadis berkulit tan itu tengah berkonsentrasi sekarang, "tujuannya Amerika, mereka sedang melintasi samudera pasifik sekarang."
Manik violet melebar, ia tersenyum simpul, "Nice Aiura."
Tangannya ditarik, tubuh ramping itu diseret paksa. Beberapa pasang mata yang melihat hanya bergeming tidak melakukan apapun—antara tidak peduli atau takut dipecat sang atasan.
Kokomi memberontak, pergelangannya sudah merah karena cengkraman si lelaki pirang. Ia terhisak kuat, menangis dan meringis perih.
"Siapapun yang mengganggu, akan kuberi pelajaran." titah pria itu.
Gadis biru diangkat di pundak Smith, Kokomi menjerit begitu pinggangnya ditahan pria pirang itu. Pria itu membawa Kokomi memasuki salah satu ruangan pesawat.
Kesadaran Kokomi hampir hilang begitu melihat apa yang ada di ruangan itu. Ranjang dan-beberapa mainan seks.
"Lepaskan aku!" teriaknya kalut, sedang tubuhnya menggelinjang memberontak, "Aku mohon!"
Tubuh gadis biru dihempaskan diatas ranjang, ia gemetar ketakutan, napasnya nyaris terhenti begitu melihat pria pirang didepannya mulai melepas tuxedonya. Kokomi menjerit, menggeleng keras dengan air mata berderai.
"Tidak kumohon."
Pria itu menyeringai, perlahan menaiki ranjang, "Kau itu mainanku sekarang, seharusnya kau mengerti itu."
Tubuh pria itu setengah telanjang, badan kekarnya sudah terekspos. Wajahnya memerah, sorot mata biru itu memandang kearah gadis didepannya penuh nafsu, "Kau memang cantik sekali, Teruhashi Kokomi, biarkan aku memilikimu seutuhnya."
Pria itu menahan dua tangan Kokomi agar tidak berontak, sedang tubuh kekarnya kini sudah menindih tubuh mungil gadis itu. Kokomi menangis histeris, ia berteriak meminta pertolongan.
Namun otaknya memaksa menangkis argumen itu. Tidak akan ada yang bisa menolongnya, semua orang di pesawat ini sudah menjadi bawahan pria brengsek itu. Ia berada di atas udara sekarang, di sebuah kamar didalam jet pribadi.
Tidak akan ada pertolongan.
Sepasang netranya memejam perlahan membiarkan bulir air jatuh membasahi sprei. Aroma kopi hitam dari mulut pria pirang memenuhi indera penciuman—membuatnya muak dan pusing. Bibir pria itu sudah menjelajahi lehernya.
Ia putus asa—tidak ada yang bisa ia lakukan lagi.
"Maafkan aku, Kusuo. "
Suara alarm tanda bahaya menginterupsi kegiatan terlarang itu, pria pirang mendongak—menyorot lampu kamar yang mati tiba-tiba, "Ada apa?!" teriaknya.
"Ada penyusup masuk tuan!" balas orang dari luar kamar.
Smith menggertakan gigi—geram, "Jangan bercanda, ini jet pribadi. Hanya hantu yang bisa menyusup kedalam sini—"
Suara dobrakan pintu terdengar, "Kalau begitu anggap saja aku hantu," suara bariton mengalihkan atensi keduanya. Lampu kembali menyala, wajah pria bersurai pink terpampang jelas di daun pintu yang sudah rusak.
Sepasang manik biru terbuka begitu mendengar suara yang begitu familier, ia tercekat melihat sosok pria yang ia cintai tepat berada disana, "Kusuo, tidak mungkin." gumamnya.
"S-siapa kau?" pekik Smith terbata, ia menyorot Saiki dengan tatapan ngeri.
Sorot manik violet tajam menusuk, dilihatnya pria itu sudah nyaris terlanjang, sedangkan wajah kekasihnya pucat pias penuh jejak air mata. Seketika darah pria itu mendidih, tangannya terkepal kuat hingga kuku jarinya memutih.
"Beraninya kau menyentuh wanitaku." desisnya melangkah mendekat, sedangkan pria pirang itu mundur ketakutan, tangan Saiki menonjok dinding pesawat hingga berlubang membuat angin berembus masuk—alarm tanda bahaya kembali berbunyi.
Kaki pria pirang itu gemetaran, melihat tatapan manik violet itu membuat otaknya memikirkan satu hal menakutkan—kematian.
"Tarik kontrak itu atau kau kubunuh." bisik Saiki membuat wajah pria itu memucat.
Pria pirang itu mengangguk cepat, "Akan kuhapus, anggap saja semuanya tidak terjadi dan ampuni nyawaku. Kumohon." pekiknya masih dengan kaki gemetar.
Saiki mengangguk, "Aku pegang ucapanmu," pria itu mengalihkan pandangan pada gadis bersurai biru diatas ranjang, sorot mata tajam perlahan memudar berubah hangat, ia perlahan mendekat kemudian merengkuh tubuh mungil gadis itu.
"Maaf aku terlambat."
Gadis itu tercekat, air matanya kembali mengalir deras, ia terhisak kuat, membenamkan wajah didada pria didepannya kemudian mengeluarkan semua rasa takut melalui tangisnya.
"Kusuo–kun, kau sungguh Kusuo–kun, kan?" ucapnya tergugu, "Aku takut sekali."
Saiki mengangguk, "Ini memang aku, " ia mengusap pelan air mata di pipi Kokomi, kemudian tersenyum simpul,
"Ayo pulang."
Sekejap mata, mereka berdua sudah berada di apartemen. Gadis itu mengerjap—mengusap mata kemudian mengerjap lagi. Ia terdiam sesaat hingga,
"EEEEHH!" teriaknya membuat pemuda disampingnya menutup telinga, "Bagaimana kita bisa ada disini? Bukankah tadi kita di pesawat."
Kokomi mengalihkan pandangan kearah kekasihnya itu, menatapnya dengan tatapan menyelidik, "Sebenarnya apa yang terjadi?" gumamnya minta penjelasan.
Pria itu menghela napas, tangannya melepas sweater kemudian menggantungkannya di tiang gantungan, ia menoleh sekilas kemudian tersenyum tipis.
"Kau pasti lelah, akan kuceritakan sambil makan kopi Jeli."
Bersambung..
Episode selanjutnya cuman dikit, pengen lanjutin disini takutnya kebanyakan words entar. Maaf karena cerita ini jadi kepanjangan 😂😆😆
