Cerita ini hanyalah khayalan saya dan fiktif belaka. Saya hanya meminjam karakter dari Senpai Masashi Kishimoto. Jika ada kesamaan cerita dengan yang lain, sungguh bukan sesuatu yang saya sengaja. Selamat membaca, para pecinta SasuHina di mana pun Anda berada…

-.-.-.-

"Selamat pagi!" sapa seseorang dengan hangat dan gembira di depan pintu kondomium Sasuke.

Hinata.

Ia membawa sebuah piring yang ia angkat dengan kedua tangannya. Aroma makanan yang berada di atas piring langsung masuk ke indra penciuman Sasuke. Wanginya enak sekali! Semoga rasanya juga.

"Pagi," balas Sasuke dengan senyum tipis.

"Aku membuatkanmu sarapan sebagai ucapan terima kasih," kata Hinata seraya menyerahkan piring ke tangan Sasuke.

"Kau tidak perlu repot-repot begini," ucap Sasuke yang benar-benar merasa tidak enak.

Hinata menggeleng kuat-kuat sampai menerbangkan poninya kesana kemari. "Sama sekali tidak repot, kok. Aku memang hobi memasak. Lagipula kau tinggal sendirian. Kemarin aku tidak sengaja melihatmu membeli banyak makanan siap saji. Kau tahu kan itu tidak baik untuk kesehatan?"

Sasuke seperti teringat pada ibunya yang dulu juga sering mengatakan hal itu saat ia ketahuan memakan makanan siap saji. Sudah bertahun-tahun lamanya, tapi ia masih bisa mengingat dengan jelas kata-kata yang diucapkan oleh ibunya.

"Ya, aku tahu. Terima kasih," jawab Sasuke yang masih melihat makanan di tangannya.

"Baiklah, selamat menikmati. Aku tidak mau mengganggumu lama-lama. Tapi jika kau ingin makanan yang dimasak sendiri, kau bisa mengunjungi kondomiumku. Sampai jumpa!" ucap Hinata seraya melambaikan tangan dan langsung pergi tanpa menunggu respon dari Sasuke.

Gadis itu berlari dengan riang menuruni tangga hingga hilang dari pandangan Sasuke. Sasuke kemudian masuk ke dalam dan mengunci pintu. Ia berjalan menuju ruang makan dan duduk di sana. Cukup lama ia mengamati makanan di depannya. Bukan, bukan karena takut sudah diracuni. Tapi karena mendadak Sasuke merindukan masakan ibunya. Ia tahu seharusnya ia sudah melupakan masa lalunya, karena Yondaime terus berkata seperti itu di sela-sela latihan beratnya. Tapi makin kesini Sasuke merasa bahwa harusnya dia ikut mati saja waktu itu. Jika saja dia tidak telat pulang ke rumah karena bermain, pasti kakaknya juga turut membunuhnya. Itu adalah hal yang paling Sasuke sesali di dunia ini.

Tapi jangan harap Sasuke menangis ketika mengingat hal tersebut. Ia telah dilatih sedemikian beratnya hingga dirinya menjadi sangat pintar mengatur emosi. Ia tidak mudah menunjukkan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Ia bahkan terkenal sebagai agent yang tidak pernah tersenyum sama sekali. Apalagi menangis, seperti hal yang mustahil bagi Sasuke.

Sasuke menghabiskan makanan yang baginya luar biasa enak tersebut. Sasuke memang tidak pernah masak sendiri karena banyaknya misi yang harus dikerjakan. Hingga sepertinya sudah lama sekali Sasuke tidak memakan masakan yang dibuat khusus hanya untuknya. Sepertinya ide yang bagus jika dia sering mampir dan makan bersama Hinata.

Apa? Sasuke terkejut dengan pemikirannya sendiri. Ia baru saja mengenal gadis itu dan kini Sasuke ingin sering makan bersamanya? Sasuke pasti sudah gila karena sampai memikirkan hal seperti itu. Ia menggelengkan kepalanya lalu mengangkat piring bekas makannya untuk dicuci. Ia akan mengembalikan piring itu nanti, pikirnya. Tapi cukup mengembalikan piring, Sasuke. Kau tidak boleh terlalu dekat dengan gadis itu, nasehatnya pada diri sendiri.

Ia kembali duduk di depan laptopnya sambil menunggu tugas selanjutnya. Kemarin Sasuke sudah melaporkan kepada Yondaime bahwa ia sudah berhasil mendapatkan kontak untuk menghubungi Pein, yang mana membuat Yondaime sedikit terkejut karena Sasuke mampu melakukannya dengan begitu cepat. Namun Sasuke menjelaskan bahwa Pein memang sangat tertarik dengan resort 'miliknya', bukan karena ingin dekat dengan Sasuke secara personal. Sehingga dirasa tidak perlu terburu-buru untuk menghubungi Pein, dan Yondaime menyetujuinya.

Nikmati saja waktu luangmu di sana sekaligus liburan.

Itu yang dikatakan Yondaime di akhir laporan Sasuke. Sasuke merasa sedikit tidak nyaman jika harus bersenang-senang selama misi. Tapi melihat saldo dalam tabungannya di Islandia yang bernilai fantastis, Sasuke merasa bahwa dirinya memang disarankan untuk berlibur. Yondaime pernah bilang bahwa tidak masalah jika Sasuke menghabiskan semua uang tersebut. Agensi akan mengirimkan lagi uang untuknya. Belum pernah ada kejadian yang seperti ini sebelumnya. Biasanya dalam setiap misi sudah ditentukan berapa budget-nya, dan jarang sekali terjadi uang yang dihabiskan lebih dari budget tersebut.

Awalnya Sasuke berpikir untuk apa ia liburan. Tapi selama sepekan berikutnya ternyata belum ada juga tanda-tanda akan ada tugas selanjutnya yang harus ia kerjakan. Sasuke mulai merasa jenuh dan bosan di dalam kondomiumnya. Tempat itu begitu nyaman untuk ditinggali, namun Sasuke terus saja merasakan kecemasan. Akhirnya ia memutuskan untuk menuruti saran Yondaime untuk berlibur.

Sasuke memilih setelan kasual yang cocok untuk musim panas. Ia meninggalkan kondomiumnya dan memilih untuk menyetir sendiri, ia sengaja tidak menghubungi aset yang menjadi supir pribadinya. Sasuke memang belum hapal jalanan di Islandia, tapi ia bisa memanfaatkan fitur peta digital di ponsel pintarnya.

Meski sedang musim panas, namun suhu di Islandia hanya berkisar 15-25 derajat Celcius. Tidak seperti di Jepang yang sangat panas. Itu sebabnya Sasuke merasakan kenyamanan hembusan angin sejuk saat mengendarai mobilnya dengan kap terbuka. Ya, Sasuke punya beberapa koleksi mobil di sini. Dari mobil mewah seperti Jaguar, hingga mobil sport berkap terbuka seperti Porsche. Ia bisa memilih mobil mana yang ingin ia gunakan sesuai kebutuhannya.

Di Islandia, tujuan wisata dibagi sesuai dengan musim. Artinya jika sedang musim panas, maka beberapa tujuan wisata musim dingin ditutup dan tidak boleh dikunjungi. Saat musim panas begini, biasanya turis mengunjungi museum-museum. Ada juga festival seni yang menampilkan opera, konser musik, tarian, dan teatrikal. Sasuke mengetikkan nama Thingvellir National Park di ponsel pintarnya lalu arah menuju kesana muncul di peta digitalnya. Tempat tersebut merupakan situs cagar alam yang merupakan warisan dunia UNESCO. Ada dua lempeng tektonik dari Eropa dan Amerika Utara yang saling bertemu di sini. Ada banyak taman dimana lebih dari 80 jenis burung dapat ditemukan sambil berjalan-jalan.

Sasuke memarkirkan mobilnya dan ikut naik bus bersama pengunjung wisata yang lain untuk berkeliling. Ia menikmati kesendiriannya yang tenang, jauh dari hiruk pikuk negara asalnya yang berbau darah di setiap pekerjaannya. Sasuke berharap tidak menemukan hal seperti itu di sini karena Yondaime pernah mengatakan bahwa ia tidak boleh gegabah menggunakan kekerasan.

Beberapa pengunjung wisata yang satu bus dengan Sasuke berkali-kali memperhatikan dirinya. Mereka mengagumi ketampanannya walaupun ia orang Asia. Karena biasanya orang-orang Eropa tidak terlalu tertarik dengan ras orang Asia, tapi ketampanan Sasuke memang bukan sebuah lelucon. Ia memiliki bentuk garis mata yang tajam dengan warna bola mata hitam pekat berkilau layaknya batu onyx. Alisnya terbentuk sempurna, panjang dan cukup lebat. Hidung mancungnya juga menampakkan bentuk batang hidung yang kokoh. Dan tak lupa bentuk bibirnya yang tidak tipis dan juga tidak penuh, sedang saja. Bentuk wajahnya seperti dipahat sedemikian rupa, membuat banyak kaum hawa susah untuk memalingkan pandangan darinya.

Saat ingin turun dari bus, Sasuke mengucapkan terima kasih kepada tour guide dalam bahasa Islandia, membuat mereka semakin terpesona oleh attitude dan kecerdasannya. Mereka berjalan di belakang Sasuke sambil berbisik-bisik dan mengambil foto secara diam-diam. Bukannya menikmati pemandangan yang tersaji di Thingvellir, mereka justru sibuk memperhatikan kemana Sasuke melangkah dan mengikutinya di belakangnya.

Sasuke sadar akan hal ini, tentu saja. Memperhatikan penguntit adalah salah satu dari sekian banyak latihan yang ia pernah jalani. Sejak di bus saja Sasuke sudah menyadari ada banyak orang yang memperhatikannya. Tapi Sasuke tidak merasa waspada, karena ia tahu mereka hanya memperhatikan Sasuke karena menyukainya. Para penguntit itu bukanlah mata-mata yang sedang mengikuti gerak-gerik Sasuke. Maka dari itu Sasuke tetap tenang dan terus berjalan tanpa memperdulikan wanita-wanita yang makin kegirangan saat Sasuke berhenti dan memperhatikan seekor rubah yang sedang berkeliaran mencari makan dari kejauhan.

Ia memperhatikan bagaimana rubah itu mengendap-endap mendekati mangsanya dan menunggu waktu yang tepat sampai mangsa lengah dan menerkamnya. Entah mengapa ia merasa rubah itu mirip dengannya. Selama ini pekerjaan yang ia lakukan adalah mengendap-endap mendekati target dengan halus, tanpa dicurigai sama sekali hingga akhirnya ia lengah, lalu HAP! Sasuke menjatuhkannya. Para agent adalah para rubah. Bedanya jika menetap di habitat yang luar biasa ini mungkin Sasuke akan merasa lebih tenteram.

Pendengaran Sasuke menangkap sebuah kalimat, "Wahhh, dia tampan sekali."

Ia sama sekali tidak tersipu mendengar hal semacam ini. Di agensi pun Sasuke merupakan perbincangan hangat di antara para wanita, baik itu agent maupun para karyawan. Ia bahkan pernah mendengar gosip bahwa agent Spring dan Florist bersaing untuk merebut hati Sasuke dan berkencan dengannya. Namun mereka hampir tidak pernah punya kesempatan untuk bersosialisasi dengan Sasuke di luar misi karena Sasuke menghindari semua orang kecuali Yondaime. Dalam misi pun Sasuke fokus dan tak memberikan celah sedikitpun bagi agent lain untuk membahas masalah pribadi dengannya. Anehnya, bukannya menyerah, para wanita itu malah menganggap Sasuke yang sulit ditaklukkan sebagai sebuah tantangan. Ia benar-benar tidak paham dengan wanita.

Ia kembali berjalan dan tak memperdulikan para wanita yang semakin menggila di belakangnya. Sampai akhirnya Sasuke berhenti ketika melihat seseorang yang ia kenal. Meski dari jarak sejauh ini, Sasuke yakin sekali bahwa orang yang ia lihat adalah Pein. Dan ternyata ia sedang bersama Hinata! Kening Sasuke berkerut melihat target dan tetangganya saling berbicara. Namun ia tidak mampu membaca gerak bibir keduanya karena jarak yang cukup jauh. Apa mereka berdua saling kenal? Atau tidak sengaja bertemu di sana.

Cukup wajar jika kita merasa senang bisa bertemu dengan sesama orang Jepang di luar negeri. Namun wajah Pein tidak murni seperti orang Jepang karena ia blasteran. Besar kemungkinan Pein lah yang menghampiri Hinata terlebih dahulu, jika memang mereka tidak sengaja bertemu di sini. Tapi bagaimana kalau ternyata mereka saling kenal, bahkan punya hubungan lebih? Sasuke melihat hal ini sebagai sebuah peluang untuk mencari tahu lebih banyak tentang Pein dari Hinata. Sasuke mulai memikirkan strategi untuk mendekati gadis itu.

Ia melihat Hinata meninggalkan Pein dan berjalanan menuruni lereng untuk sampai ke jalan utama. Sepertinya dugaan Sasuke bahwa mereka saling kenal itu benar, karena tampaknya mereka bertemu secara diam-diam. Sasuke semakin tergelitik untuk mengetahui bagaimana hubungan keduanya hingga tanpa sadar ia menaiki bus yang berbeda dengan yang membawanya tadi. Ia menaiki bus yang sama dengan yang dinaiki Hinata. Dan Hinata tampak terkejut saat melihat Sasuke menghampirinya dan ingin duduk di sebelahnya. Hinata bergeser ke samping agar Sasuke bisa duduk dengannya.

"Aku yakin ini bukan pertama kalinya kau kesini karena kau sudah berbulan-bulan tinggal di sini," ucap Sasuke tanpa basa basi.

Hinata melihat ke arahnya dengan pandangan yang ramah sambil tersenyum. "Hanya jalan-jalan saja untuk bertemu dengan teman."

Teman? Berarti Hinata berteman dengan Pein? Sasuke merasa jenuh karena tak kunjung ada perintah untuk ia kerjakan, dan sekarang ia tahu apa yang harus ia lakukan seraya menunggu. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi teman Hinata agar bisa mengorek informasi mengenai Pein darinya.

Dan semua terjadi begitu saja. Sasuke sering mengunjungi kondomium Hinata untuk makan malam bersamanya. Hinata tidak keberatan karena ia pun tinggal sendiri. Ia senang karena kini punya teman bicara saat makan malam. Terkadang mereka membeli sampanye atau wine untuk dinikmati setelah makan malam. Satu hal yang Sasuke simpulkan dari kegiatan ini adalah, Hinata bukanlah kekasih Pein. Karena Sasuke bisa dengan bebas mengunjungi Hinata dan Hinata tidak pernah melarangnya. Ia juga tidak pernah melihat keberadaan Pein di sini. Sehingga masih menjadi pertanyaan apakah mereka cukup dekat atau hanya sekedar kenal saja.

Merasa belum cukup dekat agar Hinata mau bercerita masalah pribadi, Sasuke mulai sering mengajak Hinata pergi keluar. Karena banyak festival saat musim panas, mereka mendatanginya satu persatu. Jalanan akan ramai ketika para penari melakukan tarian di jalanan sambil berkeliling kota. Mereka mengunjungi banyak tempat makan dan saling mengobrol tentang apa saja. Namun seperti Sasuke, Hinata juga menghindari topik-topik sensitif mengenai dirinya. Ia lebih sering bercerita pengalamannya saat pertama kali datang ke Islandia sampai kemudian menjadi pengusaha kue kering di sini. Ia tidak pernah bercerita tentang kehidupannya di Jepang, bagaimana masa lalunya, siapa keluarganya, dan dengan siapa saja ia pernah berhubungan. Hinata tidak pernah sekalipun mau membahas masa lalunya. Apalagi Sasuke. Mana mungkin dia menceritakan pada Hinata bahwa dalam sebulan ia bisa membunuh setidaknya sepuluh orang. Hinata pasti akan berlari ketakutan setelah mendengarnya.

Tak terhitung sudah berapa banyak tempat wisata yang mereka kunjungi berdua. Karena Hinata yang lebih dulu tinggal di Islandia dan sudah pernah mendatangi hampir semua tempat wisata di beberapa musim, maka ia yang bertindak sebagai tour guide untuk Sasuke. Hinata juga sudah hapal jalanan Islandia dengan baik sehingga Sasuke tidak perlu meminta panduan dari ponsel pintarnya. Ia percaya saja kemana Hinata akan membawanya.

Sasuke merasa nyaman dengan perjalanan ini. Kejenuhannya menunggu tugas perlahan-lahan berkurang, dan ia mulai menikmati liburannya kali ini. Meski kemarin aset yang mengurus resort-nya melaporkan bahwa Pein kembali datang untuk menemui Sasuke, namun Sasuke belum mendapatkan perintah apapun untuk kembali bertemu dengan Pein. Ia masih harus menahan diri. Dan mendadak dunianya kini penuh dengan Hinata. Ia bahkan membantu gadis itu mengantarkan pesanan kue keringnya kepada pelanggan. Islandia memang luar biasa. Sasuke pasti akan sangat merindukan Negara ini setelah misinya selesai. Tidak ada jalanan yang macat, perumahan penduduk layaknya seperti di pedesaan, pemandangan yang indah, dan nanti saat pergantian musim ia bisa mengunjungi tempat wisata yang lain.

Malam itu seperti biasa Sasuke menuruni tangga menuju kondomium Hinata. Ia memencet bel pintu namun tidak ada jawaban. Ia memencetnya lagi sampai tiga kali dan masih belum ada jawaban. Mungkin Hinata sedang keluar. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Hinata namun tidak aktif. Baru saja Sasuke ingin kembali ke atas saat ia melihat Hinata keluar dari lift sambil sedikit terisak. Ia berjalan cepat sambil menunduk dan tidak menyadari bahwa Sasuke sedang berada di depan pintunya. Ia tampak kaget saat melihat kehadiran Sasuke.

Itu adalah pertama kalinya Sasuke tidak melihat senyuman di wajah Hinata. Biasanya dalam kondisi apapun Hinata pasti tetap tersenyum saat bertemu dengan Sasuke. Jejak-jejak air mata tampak jelas di pipi pucat Hinata. Ia bahkan tidak pernah terlihat sepucat itu. Rambut di sekitar wajahnya berantakan, dan Sasuke terkejut melihat ujung bibirnya yang lebam seperti bekas pukulan.

"Oh, maaf Sasuke. Aku tidak bisa makan bersamamu malam ini."

Ia kemudian merogoh isi tasnya untuk mencari kunci pintunya. Ia tampak semakin kesal karena tak bisa menemukan kunci tersebut. Saat ia berhasil menemukan kunci dan mencoba untuk membuka pintu, kunci tersebut lepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai. Ia kembali terisak saking kesalnya. Sasuke mengambil kunci yang jatuh dan membukakan pintu untuk Hinata.

"Masuklah," ucap Sasuke.

Hinata menurut dan masuk ke dalam, Sasuke mengikutinya. Sasuke menuntun Hinata untuk duduk di sofa ruang tamu lalu ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil semangkuk air dan handuk kecil. Saat ia kembali, Hinata sudah tampak lebih tenang. Ia membasahi handuk dengan air lalu memberikannya kepada Hinata untuk mengompres lebam di sudut bibirnya.

"Terima kasih," ucap Hinata serak.

Sasuke tidak tahu harus melakukan apa lagi. Ini pertama kalinya ia menghadapi seseorang yang sedang bersedih. Ia memilih untuk menunggu Hinata yang bercerita duluan kepadanya. Hening beberapa lama sampai akhirnya Hinata buka suara.

"Aku berbohong padamu," Hinata memulai ceritanya.

Suasana kembali hening. Sasuke berinisiatif bertanya.

"Tentang?"

Hinata menghela napas dan mencoba berbicara dengan jelas.

"Ada yang menyuruhku untuk mendekatimu. Sama sepertiku, dia juga seorang imigran. Tapi dia punya kekuasaan yang besar di sini. Awalnya aku tidak bersedia, tapi dia mengancam akan membunuhku jika aku tidak mau. Padahal aku tidak pernah mencari masalah dengannya…"

Hinata kembali terisak dan Sasuke mencoba menenangkan dengan mengelus pundak Hinata.

"Entah darimana dia tahu nomor ponselku. Pertama dia menelpon, dia bilang ada seseorang berkebangsaan Jepang yang tinggal satu lantai di atasku, pemilik baru dari resort di Semenanjung Seltjarnarnes. Dia menyuruhku untuk mendekatimu dan mencari informasi tentangmu. Awalnya aku menolak karena aku tidak tahu siapa dia dan aku juga tidak mengenalmu. Kemudian dia bilang akan membunuhku atau membunuh semua keluargaku di Jepang."

Hinata mencoba terus bercerita sambil sesekali masih terisak. Sasuke mengepalkan sebelah tangannya, merasa marah karena seseorang telah memanfaatkan warga sipil untuk memata-matainya.

"Lalu dia mengajakku bertemu di Thingvellir…"

Sasuke tersentak. Berarti benar dugaannya bahwa yang sedang diceritakan oleh Hinata adalah Pein. Namun Sasuke menahan diri untuk tidak menyebutkan nama itu karena Hinata akan curiga darimana dia mengenal Pein.

"Dia bilang, ternyata aku lebih cantik daripada di foto. Rasanya lututku langsung lemas saat dia berkata seperti itu. Artinya dia atau orang lain sering mengikutiku dan mengambil fotoku. Aku tidak bisa menolak permintaannya. Awalnya jika aku menolak dia ingin membunuhku, tapi kemudian setelah bertemu denganku dia berubah pikiran. Dia ingin aku menjadi wanitanya. Orang itu pasti sudah gila."

Tangisan Hinata meledak setelah berkata seperti itu. Darah Sasuke serasa mendidih. Jika Pein ada di depannya saat ini pasti sudah ia pukuli sampai semua tulang di tubuhnya hancur. Butuh waktu yang cukup lama sampai Hinata kembali tenang.

"Setiap akhir pekan dia akan meminta informasi dariku. Tapi yang menemuiku adalah salah satu bawahannya. Aku bilang aku tidak punya informasi apa-apa lagi. Dia tidak percaya dan mengancamku. Karena aku memang tidak tahu harus menyampaikan apa lagi, dia kemudian memukulku. Lalu setelah itu dia pergi."

Oke, sudah cukup. Ini semua sudah keterlaluan. Sasuke sudah tidak tahan lagi. Ia akan segera menemui Pein dan bertanya apa sebenarnya mau pria itu. Meski Yondaime akan marah besar karena melangkahi dirinya, Sasuke tidak peduli.

"Apa kau tahu kenapa dia sangat ingin tahu tentangku?" tanya Sasuke pelan seraya merangkul kedua bahu Hinata agar Hinata menatapnya.

Hinata mencoba mengingat sesuatu.

"Dia bilang, belakangan ini Semenanjung Seltjarnarnes didatangi turis-turis penting. Sepertinya ada hubungannya dengan transaksi narkotika atau sejenisnya. Aku juga tidak begitu paham," jawab Hinata.

Jadi itu! Ternyata Pein mengatur peredaran narkotika di sini. Kepemilikan resort hanyalah kedok untuk menutupi bisnisnya yang sebenarnya. Betul juga. Pihak berwenang tidak akan bisa tahu ada transaksi jual beli narkotika jika yang punya peran disitu adalah pemilik resort-nya sendiri. Kini Sasuke tahu tugasnya di sini adalah menghancurkan kerajaan bisnis Pein.

Sasuke menemani Hinata malam itu. Setelah membaringkannya di ranjang, Sasuke mengelilingi kondomium Hinata untuk mencari tahu apakah ada alat penyadap atau sejenisnya. Tidak ada. Sepertinya bawahan Pein hanya membuntuti Hinata ketika keluar saja. Tapi tetap saja itu sudah sangat keterlaluan, apalagi sampai memukul seorang wanita. Benar-benar perbuatan yang tidak bisa dimaafkan.

Sasuke mengambil ponselnya dan mencari kontak Yondaime. Ia kemudian mengirimkan sebuah pesan.

Ada warga sipil yang dimanfaatkan Pein untuk mencari tahu tentangku, dan dia sedang terluka. Dengan atau tanpa perintahmu aku akan menemui Pein besok.

Sasuke duduk di sofa yang mengarah ke sebuah jendela dimana cahaya bulan begitu terlihat terang. Ia mencoba menenangkan emosinya yang meluap-luap. Ia sendiri tak paham mengapa susah sekali mengontrol dirinya setelah tahu apa yang terjadi pada Hinata. Semacam semua hasil latihannya selama bertahun-tahun sia-sia. Baru di dekat wanita ini, Sasuke menyadari emosi yang belum pernah ia tampakkan muncul semua ke permukaan. Wanita ini mampu membuat dirinya tersenyum, nyaman, dan marah hingga tak tertahankan. Ia juga merasa harus berada di sisi Hinata untuk menjaganya. Karena kalau tidak, Pein dan bawahannya akan terus mengikutinya. Sasuke tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

Sasuke terus terjaga sampai cahaya bulan digantikan oleh cahaya matahari. Rasanya cepat sekali mengingat di musim panas matahari bisa bersinar selama hampir 24 jam. Ia mengecek kondisi Hinata dan wanita itu sudah bangun. Keadaannya tampak lebih baik pagi ini.

"Kau sudah merasa baikan?" tanya Sasuke saat memasuki kamarnya.

Hinata turun dari ranjang dan menghampiri Sasuke lalu memeluknya.

"Aku belum sempat bilang terima kasih," ucap Hinata.

Refleks, Sasuke membalas pelukan Hinata. Gadis itu sangat mungil hingga rasanya Sasuke sedang memeluk gumpalan kapas. Rambutnya harum, meski ia baru saja bangun tidur dan belum mandi. Hati Sasuke yang biasa dingin kini merasa hangat. Gadis ini berhasil merubah Sasuke kurang dari satu bulan.

Ini bukan pertama kalinya Sasuke berhadapan dengan wanita dalam misinya. Karena wajahnya yang rupawan, Sasuke juga cukup sering mendapatkan misi mendekati wanita-wanita seperti istri atau selingkuhan pejabat, wanita kantoran biasa yang jadi simpanan bosnya, dan segala macam jenis wanita untuk mengorek informasi dari mereka semua. Dan tidak ada satupun dari semuanya yang dapat memikat hati Sasuke, meski mereka berusaha dengan keras. Semua hanya sebatas profesionalitas kerja dan Sasuke akan menghentikan komunikasi begitu ia mendapatkan semua informasi yang ia butuhkan.

Tapi kali ini beda. Meski niat awal Sasuke mendekati Hinata adalah untuk mencari tahu tentang Pein, namun Sasuke merasa ia perlu untuk melindungi gadis itu karena sudah sampai terluka. Ia pasti merasa ketakutan sekali kemarin, tapi sekarang ia merasa aman karena kehadiran Sasuke. Sasuke merasa senang karena Hinata merasa nyaman saat berada di sisinya.

Akhirnya hari itu Sasuke tidak jadi menemui Pein karena Hinata masih merasa sedikit cemas. Ia meminta Sasuke untuk tinggal setidaknya satu malam lagi. Takut kalau-kalau bawahan Pein mendatangi kondomiumnya. Dalam hati Sasuke jika hal itu memang terjadi, ia pasti akan memukul orang tersebut habis-habisan sampai mati. Ia berjanji akan hal itu.

Yondaime juga membalas pesan Sasuke dan mengatakan agar Sasuke bersabar untuk menunggu setidaknya beberapa hari lagi. Sasuke kemudian melaporkan apa-apa yang disampaikan Hinata kepada Yondaime. Kini mereka sudah tahu kemana arah misi ini akan berjalan. Yondaime menerima laporan dari Sasuke dan berjanji Sasuke akan mendapatkan perintah dalam dua kali dua puluh empat jam. Ia boleh melindungi warga sipil jika itu memang dibutuhkan, apalagi hal itu berkenaan dengan diri Sasuke. Tapi tetap jangan sampai mengganggu jalannya misi.

Sasuke duduk di kursi makan yang mengarah ke dapur tempat Hinata memasak. Ia memperhatikan bagaimana gadis itu mengikat rambutnya dan menampakkan leher putihnya yang jenjang. Rambutnya tidak berwarna biru, tidak juga berawarna ungu. Sasuke tidak tahu itu warna asli rambut Hinata atau ia mewarnainya. Poni di kening dan di pipinya ia biarkan saja tergerai membingkai wajah mungilnya. Begitu juga warna matanya yang langka seperti menangkap pandangan Sasuke untuk terus melihatnya. Ia sudah sering melihat orang memakai lensa kontak berwarna sama, tapi ternyata itu memang warna asli mata Hinata.

Memang ia tidak bisa dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah Sasuke temui dalam misi-misinya. Namun kencantikan alami Hinata membuat gadis itu berada di atas mereka semua. Hari ini Sasuke bisa melihat wajah aslinya tanpa riasan, dan ternyata tidak berbeda dengan ketika memakai riasan. Ia tidak punya kata yang cocok untuk mendeskripsikan Hinata. Cantik namun pucat, berkepribadian sehangat mentari dengan wujud sedingin es, dan dia akan tampak misterius jika sama sekali tidak tersenyum. Syukurnya, Hinata selalu tersenyum.

"Apa kau punya makanan favorit?" tanya Hinata.

Sasuke tersadar dari lamunannya. Ia pasti tampak bodoh sekarang karena Hinata tersenyum mendapatinya sedang memperhatikan gadis itu.

"O-oh… Tidak ada yang khusus. Aku bisa makan apa saja," jawabnya.

'Tentu, aku juga bisa makan daging ular dan meminum darahnya ketika sedang tersesat di tempat antah berantah,' celetuk Sasuke dalam hati.

Ia kemudian menuangkan air ke dalam gelas lalu meminumnya, mencoba mengurangi rasa gugupnya.

"Ya, seingatku kau selalu menghabiskan makanan yang aku buat. Sepertinya tidak sia-sia aku memenuhi kulkas dengan bahan makanan. Biasanya hanya ada bahan-bahan untuk membuat kue kering di kabinet dapur. Apa kita perlu tinggal serumah?"

Sasuke tersedak ketika mendengar pertanyaan Hinata yang begitu frontal. Biasanya para wanita hanya ingin berkencan dengannya. Baru kali ini ada yang mengatakan ingin tinggal serumah dengannya. Sial! Sasuke merutuki dirinya yang kini mulai keringat dingin saking gugupnya. Apa-apaan ini, Sasuke? Kau benar-benar bukan seperti dirimu. Kalau Hinata adalah musuh, pasti Sasuke sudah lengah dan sebilah pisau sudah menancap di dadanya.

Hinata tertawa melihat ekspresi terkejut Sasuke. "Aku hanya bercanda." Ia kemudian lanjut memasak.

Sasuke berusaha kembali ke mimik stoic-nya, tapi sia-sia. Ayolah Sasuke, masa hanya dengan satu kalimat seperti itu saja kau jadi begini? Yondaime pasti akan menenggelamkanmu di Laut Mediterania jika dia tahu kau jatuh hati pada seorang wanita. Apalagi ketika menjalankan misi. Tapi Sasuke seperti tidak bisa menahan dirinya sendiri. Entah datang darimana keberanian untuk mengampiri wanita yang sedang memasak itu dan menariknya untuk menghadap Sasuke. Dan setelah itu, yang ia sadari bahwa ia mencium wanita itu tepat di bibirnya dengan lembut.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Hari yang ditunggu Sasuke akhirnya tiba. Sebuah pesan masuk dari Yondaime mengatakan bahwa Sasuke sudah boleh bertemu dengan Pein. Ia duduk di kursi belakang dan seorang aset menyetir untuknya. Mobil Jaguar hitam itu melaju kencang menuju Semenanjung Seltjarnarnes. Mata Sasuke menatap tajam ke jalanan. Meski pemandangan di kanan kiri tampak luar biasa, namun Sasuke sama sekali tidak bisa menikmatinya. Ia terus fokus pada apa yang akan ia katakan atau lakukan jika nanti bertemu dengan Pein.

Aset yang mengelola resort menghubungi Pein kemarin malam, mengatakan bahwa bosnya ingin bertemu. Tidak yakin bagaimana ekspresinya saat itu, namun tampaknya Pein bersemangat mendengarnya. Sasuke paham ia pasti mengejar waktu untuk mendapatkan resort sesegera mungkin agar bisnisnya bisa semakin berkembang. Orang ini benar-benar tamak. Tapi Sasuke mungkin harus mengikuti permainannya jika ingin bisa masuk ke dalam bisnis Pein dan menghancurkannya. Memang bukan perkara gampang mengingat Pein tidak mudah percaya dengan orang lain.

Mobil berhenti tepat saat mobil Pein juga tiba. Mereka berdua turun dari mobil masing-masing dan saling bersitatap. Di dalam dirinya, darah Sasuke seperti direbus dengan suhu yang sangat tinggi. Tapi yang tampak di wajahnya hanyalah ekspresi datar yang tidak berarti apa-apa. Sepertinya hari ini dia sudah kembali menjadi dirinya sendiri lagi.

Beda dengan Pein, ia tersenyum meski tak begitu lebar. Mereka kemudian saling mengampiri. Jika tak mampu mengontrol dirinya sendiri, pasti kepalan tangan Sasuke sudah melayang ke wajah tampan dan mulus Pein. Dan masalah akan semakin runyam setelah itu. Maka Sasuke berusaha untuk setenang mungkin.

"Butuh waktu hampir satu bulan untuk bertemu lagi denganmu, Tuan Uchiha," sapa Pein lebih dulu.

"Aku cukup sibuk, kau juga pasti sama sibuknya denganku." Sebenarnya, kalimat ini adalah sindiran. Tapi Pein pasti tidak menyadarinya.

Ia terkekeh pelan. "Ya… ya… Kita memang orang-orang muda yang sibuk. Harus terus memperkaya diri selagi masih mampu."

Sasuke muak dengan basa basi ini. Ia pun mencoba untuk langsung berterus terang.

"Sebenarnya apa alasanmu begitu menginginkan resort ini?" tanyanya.

Pein terdiam sejenak, seperti memikirkan kalimat yang cocok untuk diucapkan. Namun sebelum ia menjawab, Sasuke sudah memotong lebih dulu.

"Jika kau ingin aku menjualnya, aku tidak bisa. Tapi jika kau ingin berbagi, mungkin aku bisa pertimbangkan."

Pein tersentak dengan perkataan Sasuke, yang mana, tidak terpikirkan olehnya sebelumnya. Lalu seulas garis tipis muncul di bibirnya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

To be continued…

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

I'm sorry for being soooooo late XD I hope you're still waiting for this chapter :*