Rin mencoba untuk mengangguk, namun raut wajahnya tidak berubah. Hanya untuk beberapa detik tersenyum, lantas kembali terlihat cemberut.

"Kau tau, apa yang baru saja kau lakukan,"Seorang laki-laki berperawakan tinggi-dengan kemeja necis miliknya, dan rambut klimis yang tersisir rapi-memandangnya galak.

Dia hanya menunduk dengan sebuah dengusan. Laki-laki ini mengaku sebagai manajer dari laki-laki itu, yang sekarang sedang menenangkan pikirannya dengan beberapa es batu yang diletakkan di keningnya mencoba untuk tidak semakin mengacaukan suasana dengan amarahnya.

Biar ia sedikit bercerita kilas balik tadi.


Attention of Idol

(c) Rilliant

Disclaimer : Vocaloid not mine c: , I just have this story

Warning ! Ooc , Au , Typo(s),Alur kecepetan, dan banyak kesalahan lainnya dalam penulisan EYD.

Don't Like, Don't Read, dan dengan begitu tolong injak (?) tombol [x] dipojokan sana, atau tombol back terdekat c:

Step 2 : Enchounter, Hi Kagamine.


Jadi, seperti yang kalian tau. Setelah ia melakukan hal 'gila' tadi beberapa petugas akhirnya meringkusnya, dengan paksa. Membawanya yang memberontak menuju ke belakang panggung. Dimana disana ada seorang laki-laki dengan senyum mengembang namun terlihat menahan kedutan amarah di dahinya.

Menyapa 'hallo' dengan ramah. Lantas menariknya dengan tidak manusiawi. Menuju ruangan tatarias. Mendorongnya hingga terduduk di salah satu bangku rias. Menatapnya makin tajam.

"Kau.." dia menunjuk, menyipitkan mata, "...mengganggu! kau... kau tak tau apa yang kau lakukan. Huh?!"

Rin menaikkan alis, "Apa?"

Laki-laki itu menggeram, "Dengar anak muda. Gara-gara kelakuanmu konser ini jadi berantakan. Kau menghancurkan segalanya."

Dengan segala cara laki-laki ini mencoba untuk menahan dirinya agar tidak terkuasa amarah.

"Jadi dengar, kau harus bertanggung jawab."

"Hah? Tanggung jawab?!"

Laki-laki berbaju necis tersebut mengangguk, dengan kakinya yang naik keatas kursi tempat gadis ini duduk, memandang tajam dengan tangan jempol yang menghadap ke bawah.

"Tentu saja, kau kira hanya dengan perkataan maaf semua mudah sekali selesai, jangan harap."

Kemudian, laki-laki itu mengeluarkan smartphone miliknya menekan sesuatu dengan cepat, seakan menghitung sesuatu.

"Biaya ini.. biaya itu.. kerusakan.. kegagalan.. semua menjari ratusan juta yen?!"

Dia menodong gadis ini dengan smartphone miliknya, tepat saat seorang laki-laki datang. Tatapannya tajam, menyibak setiap sudut ruangan itu sebelum menemukannya. Dan dengan cepat melangkah kearah Rin, mendengus kasar.

"Kau.." itu terdengar seperti ia mencoba menghilangkan amarahnya yang terkumpul di ubun-ubun. Laki-laki ini mengerang, mendorong sang manager ke belakang lantas menarik kerah baju Rin, membuat gadis ini meringis, tercekik.

"Bodoh?! Kau kira apa yang baru kau lakukan!?"

Dia mendorong pelan Rin, mendengus keras. Lihat seberapa marahnya ia. Dengan kasar menendang tiang penyangga baju-baju konser disana. Merubuhkan dua ... dalam sekejab. Gadis ini masih mengerjab.

Laki-laki itu mengerang menghempas tubuhnya ke sofa merah disana. Merampas bongkahan es yang tertutup sapu tangan dan entah sejak kapan ada di sana.

Nah begitulah ceritanya. Hingga sekarang dia dan laki-laki itu beserta manajernya masih berdiam diri daram athmosfer kuat dan berat.

Sang manager berdiri dari duduknya mendekati gadis ini, kembali bertanya.

"Ku ulangi," dia menghela nafas, setidaknya sekarang ia merasa lebih baik setelah duduk beberapa saat.

"Kau tau apa yang baru saja kau lakukan?"

"Iya, aku mengerti. Dan mungkin disini kau lah yang tak mengeri, tentu aku melakuka itu untuk mengalahkannya."

Rin menyilangkan kaki, melipat tangannya di depan dada, melihat sinis kearah laki-laki itu dan tertawa.

Laki-laki disana malah mengerang.

"Bilang kepada gadis gila itu,"ia melempar kasar es yang tadi di pegangnya, kini menoleh untuk melihat gadis ini.

"Tanyakan berapa bayaran yang dinginkan, dan siapa yang mengirimnya. Berikan yang dia mau. Kemudian suruh untuk pergi sejauh mungkin dari media. Aku tak mau ini menjadi gosip bagus untuk para paparazi dan orang-orang yang haus akan berita di luar sana."

Ia melambaikan tangannya untuk laki-laki di sana.

Namun, berbeda dengan laki-laki berkemeja necis disana, Rin terdengar mendengus kesal. Ia berdiri dari tempatnya mendekati laki-laki ini berdecih saat si kemeja necis menghentikannya.

"Apa yang ingin kau lakukan," ia terlihat galak.

Rin hanya mengelindingkan mata, "Aku hanya ingin mengatakan ini tuan arogant."

Dengan kasar menendang kaki sang manager sehingga dia meringis terduduk. Lantas mendekati sang idol-yang menatapnya tajam-secara cepat menarik kerah bajunya berdecih.

"Dengar ya, aku hanya datang untuk mengatakan. Aku akan mengalahkanmu. Dan asal kan kau tau saja, tidak ada yang mengirimku ke tempa ini. Ini kemauanku. Dan juga..." ia keras mendorong sang idol, sebelum menendang sofa merah itu hingga sedikit berdecit. Sofa berat itu sedikit berpindah tempat dengan tendangan gadis berbaju sweet loli ini.

"... aku tak membutuhkan apapun yang kau ucapkan tadi, bahkan saat paparazii disana mengejarku. Aku yakin tidak akan berpengaruh terhadap kepopuleranmu."

Kemudian Rin melangkah pergi, meninggalkan kedua orang ini dalam diam. Sebelum suara berdebum pintu yang di tutup kasar mengejutkan mereka.

Laki-laki idol disana sedikit berdecih.

"Gadis gila!"


Gadis itu menatap awan yang berlarian, membentuk berbagai macam bentuk yang membuatnya menatap tajam. Laki-laki di sampingnya hanya menengok dalam diam. Merasakan angin yang menerpa tubuh kecil mereka. Dan menerbangkan biji bunga dandelion jauh dihadapan mereka.

"Itu terlihat seperti mochi, "

Gadis itu tertawa kecil, mengingat hewan peliharaannya manis di rumah yang bernama seperti makanan kesukaannya itu.

Laki-laki itu mengangguk.

Mencoba melihat kearah tunjukan gadis itu dengan memvisualisasikan kucing manis dengan bulu seputih kapas, yang sering mengeong dengan manja saat ia berkunjung ke rumah sang gadis.

"Dan itu seperti not lagu, " gadis itu bangun dari posisi nyamannya, tersenyum senang kearah lelaki dihadapannya tersebut. Walau tampilannya sedikit berantakan dengan rumput yang menempel di wajahnya, lelaki itu hanya menghela nafas dan tersenyum, "Benarkan.. Len... "

"..."

Mata biru sejernih lautan musim panas itu menerawang dengan tajam, melihat kearah lorong yang begitu sepi. Dengan pelan ia melilitkan syal berwarna oranye miliknya dan menaikkan masker bermotif jeruk sehingga benar-benar membuatnya seperti orang aneh.

Padahal saat itu matahari masih bersinar terang, dan kenapa dia harus mengunakan syal musim dingin seperti orang bodoh. Rin tersenyum, karena ia yakin akan begitu menyebalkan keluar dari ruangan dengan baju sweet loli kesayangannya itu, jadi setelah beberapa perbincangan hangat dengan sang idol dan manajernya gadis ini memutuskan untuk mengenakan baju sailor putih dengan garis kuning di leher dan dengan rok abu-abunya. Toh sekarang ia terlihat begitu berbeda dengan pakaian formal dan rambut yang digerai dengan tambahan jepit rambut dan pita kelinci. Tidak lagi dengan kepang menggemaskan dan topi kecil dengan dandanan pucat.

Rin menghela nafas dan kembali berjalan, yakin bahwa tidak akan ada orang yang mengetahui keberadaannya ia melanjutkan perjalanannya dengan santai.

Tak menduga bahwa seseorang dengan mata teal-nya sedang mengawasi.

"Dia yang mengacaukan konser tadi. "Gadis itu mengangguk pelan, lantas untuk beberapa detik kemudian ia tersenyum manis dengan seringai iblis, "Menarik sekali. "

Deg!

Rin mengerjab, tiba-tiba merasakan bulu kudunya merinding dan perasaan aneh menggelitiknya. Seperti sedang di awasi oleh seseorang. Dengan cepat ia berbalik, meyakinkan dirinya bahwa tak ada seorang pun di lorong itu. Ia menghela nafas.

"Tidak ada. " Ia meringis, mungkin hanya halusinasi, dengan cepat melintasi loby yang terlihat ramai, mencoba tak menarik perhatian.

"Gadis yang nekat. "

"Sepertinya ia gila. "

Beberapa bisikan membuat telinganya menajam. Rin mengerti apa tema menarik yang orang-orang tengah perbincangkan. Itu mengenai dirinya bukan, dalam balutan kostum loli manisnya dan telah mengacaukan konser seorang idol terkenal.

Ia tak peduli, dengan cueknya meninggalkan bangunan tersebut saat sengat matahari siang sedikit membuatnya menghela nafas.

Kadang ia berfikir matahari siang adalah yang terburuk. Saat orang-orang menginginkan sebuah hari yang menyenangkan dengan angin sepoi. Matahari bersinar begitu terang.

Mengingatkannya kepada seseorang.

Ia berdecih dan bergegas pergi.


"Aku suka teman yang nekat sepertimu. "

Temannya tertawa dengan kerasnya saat Rin dengan sibuk memotong telur miliknya menjadi dua bagian. Dengan senyum sedikit di paksakan gadis ini melihat kearah langit. Kebiasaan yang menyenangkan baginya melihat awan yang bergerak berlarian.

membentuk berbagai bentuk, hey lihat itu seperti bentuk kelinci!

"Menurutmu begitu? "

Gadis itu tak mengerti bagaimana gadis di sampingnya ini terlihat begitu senang dengan perilakunya-yang bagi orang lain-adalah hal bodoh dan menyebalkan.

Ditatapnya sepatu miliknya yang digoyangkan pelan, membuatnya terlihat seperti seorang melancholic yang menyedihkan.

"Ayolah Rin, mana kesenanganmu. Menguap bersama panas? Bukankah kau sudah bertemu dengan pemuda Kagamine itu. "

Rin hanya tersenyum kecil, "Yahh, kau tau Gumi... "ia menutup kotak bekal makan siangnya dan meringis kecil, "...aku memang bertemu dengannya, namun ia seperti orang yang berbeda. "

"Tentu, ia seorang idol. Biasanya orang terkenal dengan gelimang harta akan berubah. "

Kotak susu ditangan gadis bersurai hijau itu sudah habis, ia mengeluh sedikit sebelum kembali menatap gadis itu. Gumi tersenyum, saat ia membuka mulutnya untuk kembali berucap, suara pintu yang terbuka kasar mengagetkannya.

Seorang gadis manis, bersurai sama seperti ceri masak dengan antena yang bergerak naik turun seirama dengan hentak kakinya mengagetkan mereka berdua.

"Kalian sudah melihatnya! Len Kagamine ada di sinhi-arghh...! "

Gadis itu berteriak kesakitan, terlalu cepat untuk mengucapkan kata-kata nya, membuat gadis itu tak mampu menghentikan lidahnya yang tergigit. Ia meringis kesakitan.

Rin dan Gumi hanya menunggu beberapa detik, sebelum mereka berkedip. Dan Gumi lah yang pertama kali berlari menuju pagar besi yang mengurung mereka diatas atap. Melihat bagaimana pemandangan manusia yang berkumpul bagaikan lautan semut di depan gerbang dengan sebuah mobil metalik yang terterparkir manis didepan sana.

Komplit bersama seorang dengan surai honeyblone yang berkuncir dan jas hitam metalik yang membuatnya terlihat mempesona.

"Weew, ada apa ini. " Gadis itu bersiul senang, "Kau dalam masalah Rin. "

Rin tak peduli, apa ia benar-benar akan dalam masalah, ia juga tak yakin pemuda itu datang untuknya. Memangnya laki-laki itu mengenal penampilan formalnya.

"Aku takkan dikenalnya."

Gumi tersenyum dengan seringan, "Benarkah. "

Rin mengangguk. Ia benar-benar yakin laki-laki itu takkan mengenalinya-

-atau tidak.

"..."

Mata birunya berkedip cepat. seseorang yang gila baru saja datang ke kelasnya!

"Salam kenal semua, namaku Kagamine Len untuk seminggu kedepan aku akan bersekolah disini. "

Senyum manis terpampang rapi. dengan stelan jas yang berkebalikan dengan yang mereka kenakan. ia terlihat begitu friendly. Rin yakin dia terlihat bodoh.

Lupakan tentang semua teriakan fangirling dan dengusan iri para kaum laki-laki karena Rin yakin. Saat mata ochean itu menatap sekeliling ia menjatuhkan tatapan terakhir kepadanya. Tepak kepadanya. Ia tak salah lihat kan? Bahkan saat mata mereka bertemu ada sesuatu yang membuat senyum laki-laki itu terlihat berbeda. Dan Rin merasa ada sebuah kebahagiaan yang menggelitiknya.

Karena dia tak pernah menyangka.

Mangsanya masuk kedalam lingkaran bodoh yang tak sengaja di buatnya.

Ini akan menarik.

Senyum mereka terbentuk seperti iblis.

"Hi Kagamine," Ia berbisik kecil kedalam dirinya sendiri.

Selamat datang dalam Neraka. Kagamine/Gadis Gila.

Mereka takkan mengerti bahwa suara hati mereka telah menyerukan suara peperangan, dan tatapan itu bertahan selama beberapa detik sebelum terselesaikan dengan segala senyuman kejahatan mereka dan ucapan Ann-sensei.

"Nah, Kagamine-san kau boleh duduk di samping-"

.

.

.

To Be Continnue