Love is War, Whenever you take the fated and be her/his destiny. Love is Love. When it was between you and me it will decide be the fated-
Senja membawa sedikit rasa bosan.
Gumi menguap. Miki hampir menjatuhkan bedak di tangannya.
Dan Rin tidak lebih baik dengan ekspresi bosannya.
Ketiga gadis tersebut memilih atap sebagai tempat peristirahatan, dimana satu lantai di bawah mereka ada peringatan untuk mejauhi atap. Dan tak seorang pun boleh menjelajahinya.
Kecuali tiga orang yang bertanggung jawab atas hilangnya kunci cadangan dan tanda aneh yang dipasang di bawah sana.
Perlahan angin menghempas rambut Miki, membuat sebuah teriakan protes begitu terdengar dari gadis tersebut. Ia merutuki angin yang menghancurkan dandanannya, dan menghela nafas dengan keras nya saat ia tau bahwa raut wajah Rin tak berubah dari tadi.
"Berbicaralah Rin, aku tau ada emosi yang teredam dengan ekspresi 'mengerikan' milikmu itu."
Gumi tak kan menyalahkan Miki, ia dengan anggukan senang hati. Ia tau Rin bukan seorang yang suka berdiam diri saat ada sesuatu yang mengganggunya, jadi dengan ekspresi mengerian yang diberikannya tersebut Gumi benar-benar tau dia akan mengungkapkan sesuatu.
"Baiklah, dengarkan aku."
Gumi dan Miki mengangguk.
"Len Kagamine, Sialan!"
Gumi dan Miki menghela nafas bersamaan. Apa yang mereka fikirkan benar-benar terjadi.
Attention of Idol
(c) Rilliant
Disclaimer : Vocaloid not mine c: , I just have this story
Warning ! Ooc , Au , Typo(s),Alur kecepetan, dan banyak kesalahan lainnya dalam penulisan EYD.
Don't Like, Don't Read, dan dengan begitu tolong injak (?) tombol [x] dipojokan sana, atau tombol back terdekat c:
Step 3 : The Annoying Idol.
[ Beberapa jam sebelumnya….]
An-sensei menunjuk tepat kearah meja Rin, membuat Rin menoleh kekanan dan kekiri.
"Aku?"
"Yup, nona Kagami, mohon bantuannya. Dan maaf nona Megpoid. Kau bisa pindah ke samping nona Furukawa."
Gumi menaikkan alisnya kebingungan, bahkan seharusnya ada sebuah bangku kosong yang disediakan di ujung kelas, tempat yang seharusnya cocok untuk seorang seperti Len Kagamine.
Berada di ujung kanan ruangan, bersebelah dengan jendela yang menghadap ke lapangan dengan view seperti tokoh hero sebuah cerita manga-manga romansa yang disukainya. Bukankah itu begitu menarik.
Dan karena disini ada dirinya yang dikorbankan untuk berpindah ke sisi Miki, hanya karena selama awal semester dia belum memiliki seorang teman duduk. Gumi akan mengeluh.
Dia sudah duduk bersama Miki sejak kelas satu SD dan saat ia telah menemukan kebahagiaan dengan Rin yang akhirnya sekelas dengannya dan mereka bertiga disatukan kembali dalam kelas bersama kebahagiaan. Gumi harus menerima pahitnya kenyataan. Hell No.
Tempat duduknya harus di perjuangkan.
"Tapi Gumi sudah menjadi teman duduk saya, sensei. Lagi pula kenapa tuan Kagamine harus duduk disisi saya?"
Nice job Rin!
An-sensei hanya menghela nafas, saat semua murid sepertinya mengharapka seorang Kagamine duduk bersama mereka sepertinya ada seorang pemberontak disini, ia berfikir bagaimana mungkin Rin menolak seorang Len. Bukan kah dia idola.
"Sudahlah ini perintah atasan nona Kagami, silahkan nonan Megpoid anda bisa pindah ke sisi nona Furukawa."
Penbicaraan telah menemukan titik finalnya. Gumi tak ada pilihan selain mengemasi barangnya dan mengangkat pantatnya dengan berat hati berpindah disisi Miki, dimana gadis itu menatapnya dengan begtu sepat.
"Bareng lagi nih kita, bosen gue sama muka lo Gum."
Seandainya Gumi bisa ia sudah menjambak rambut merah ceri disana.
"Sebosen-bosennya lo sama gue Mik, gue lebih bosen duduk sama elo."
Dan mereka berdua hanya menghela nafas bersamaan.
Tapi ada hal yang membuat Gumi melirik kearah tempat duduk Rin, gadis itu memasang wajah yang tak dimengerti oleh Gumi.
Bukan sebuah ekspresi yang biasanya gadis itu munculkan. Ekspresi bosan dengan wajah sedikit redup seperti mengantuk.
Dia memasang wajah tertarik.
Gumi memiliki feeling yang buruk dengan senyuman itu, senyum manisnya menyambut Len yang duduk dengan begitu 'sengak' disisi Rin-Mungkin jika itu dia, Rin bisa saja langsung menendangnya pergi, Rin tidak suka dengan perilaku seperti itu.
Dan lihat lah bagaimana sang idol menatap Rin rendah. Gumi sedikit merinding tentang itu.
"Lo liat apa ?" Miki menoleh, mengikuti arah pandangan Gumi.
"Gak! Lupakan!"
###
Pelajaran berjalan sedikit lambat bagi Miki, berapa kali pun ia menutup matanya. Terantuk. Lantas kembali membuka matanya. Jam seolah berjalan begitu lambat, bahkan 5 menit belum berlalu semenjak Lui-sensei masuk dan menerangkan semua rumus Kimia yang membuat Miki kembali menguap, terantuk, sebelum mengerang sedikit kesal. Mengganggu konsentrasi Gumi.
'Lo bias diem gak?'
Gumi berbisik, menatap Miki dengan raut wajah sebal.
Ia berusaha mati-matian disini, memperhatikan papan tulis yang terlihat seperti tulisan china tanpa terjemahan dengan seluruh rumus aneh disana. Saat Miki sedang sibuk dengan dirinya sendiri.
Miki sedikit menghela nafas, mengeluarkan secarik kertas, melipatnya dengan senang hati lantas melemparnya pelan.
Puk!
Kertas tersebut mendarat dengan mulusnya diatas meja Rin.
Rin menoleh kearah Miki, gadis itu mengisyaratkan Rin agar membuka kertas terlipat disana, meletakkan jari telunjuknya di bibir. Miki meminta Rin merahasiakannya.
Rin menaikkan alis. Ia tak terlalu tertarik dengan apapun yang Miki tulis, karena Miki selalu menulis hal yang sama saat dia bosan.
Rin, aku bosan, tidak kah kau memiliki hiburan yang menarik?
Sudah Rin duga.
Puk!
Kertas itu kembali mendarat, kini tepat di hadapan Miki yang tengah memainkan bolpoin merah dengan gambar cerinya. Gadis ini segera membuka kertas tersebut, membacanya dan sedikit terkikik geli.
Miki mulai menulis balasannya.
Puk!
Kertas tersebut kembali mendarat.
Rin membukanya cepat. Begitu pula saat dia membalasnya.
Puk!
Miki tersenyum.
Puk!
Rin menaikkan alisnya.
Puk!
Miki hampir saja tertawa terbahak-bahak.
Puk!
Rin kembali tersenyum.
Puk!
Miki terkikik kecil, ia tak tahan, ya tuhan Rin punya jokes yang bagus. Bahkan Gumi sekarang melihatnya seperti orang gila.
Puk!
Rin memiringkan bibirnya.
Puk!
Surat tersebut berhasil mendarat di hadapan Gumi, ia menaikkan alis. Tak memperdulikan psst! Dari Miki yang terdengar berisik. Gumi membacanya dan terkikik geli. Dengan senangnya ia membalas surat tersebut. Miki hanya Mendengus kesal. Hey dia belum membaca kelanjutannya.
Puk!
Rin membuka dengan pelan, lantas tersenyum miring.
Puk!
Miki dan Gumi menaikkan alis, dan mencoba menahan tawa sekuat yang mereka bisa. Sebelum Miki muai menulis balasannya dengan senyuman geli.
Ciuu~
Puk!
Tapi sayang sekali. Kertas itu tak mendarat dengan baik.
Benda tersebut membentur ujung meja Rin. Sebelum remasan berbentuk bulat bola itu mulai menggelinding menyentuk kaki Len Kagamine yang sedang memperhatikan papan tulis dengan ogah-ogahan.
Pemuda tersebut terlihat tertarik, memungut benda tersebut dan menaikkan alisnya. Rin telah memijit keningnya dan menghela nafas. Berbeda dengan Gumi dan Miki. Seolah mereka baru saja menemukan petaka, kedua gadis itu menahan nafas terkaget. Apalagi saat Len membaca surat tersebut.
Kemudian mengangkat tangannya dengan senyuman miring.
Habislah mereka.
"Sensei."
Lui-sensei menoleh, memperbaiki posisi kacamatanya yang sedikit melorot, melihat Len dengan tatapan terganggunya
"Ya. Ada apa anak baru?"
"Saya menemukan hal menarik," Semua mata ikut tertarik, bersama menoleh karah Len yang mengangkat sebuah kertas pink bergambar barbie yang terlihat begitu lusuh. Sepertinya telah diremas berulang kali.
Lui-sensei sebenarnya malas untuk menunda pelajarannya. Namun, demi melihat apa yang Len ucapkan menarik Lui-sensei berjalan mendekat, mengambil kertas yang ada di tangan Len dan kembali memperbaiki posisi kacamatanya.
Hening sejenak mengukung kelas.
Hingga Lui-sensei menggenggam kertas tersebut dan menata tajam kearah Rin.
Rin menebak, ia akan mendapat sebutan yang membahana.
"MIKI FURUKAWA! RIN KAGAMI! DAN GUMI MEGPOID! KALIAN BERTIGA BERDIRI DI LORONG KELAS! SEKARANG!"
Lihat. Dia benar bukan?
###
Rin menghela nafas.
Tangannya terasa pegal, begitu pun juga dengan kakinya. Gadis ini terlalu lama berdiri dengan tangan yang terangkat ke atas. Sejenak ia berfikir bagaimana caara mengutuk Lui-sensei menjadi batu. Setidaknya guru dengan wajah shota itu akan merakan sengsara dan Rin suka itu semua.
Ia kembali menghela nafas.
"Honesly, ini memalukan."
Miki melirik kearah Gumi yang mendengus kesal. Bergumam kecil kepada dirinya sendiri, "Kita harus membuat peringatan dengan si Shota!" Kemudian menghela nafas.
Tapi Rin masih dengan wajah menyedihkannya, menatap dengan muram dan tak tertarik sama sekali. Ia malas mengeluh, toh jam istirahat sebentar lagi. Ia akan sangat senang saat nanti ia berjalan menuju atap tangannya penuh dengan roti dan buah jeruk kesukaannya.
Mendapat hukuman berdiri di lorong memungkinkan mereka untuk lari lebih cepat saat bel berbunyi. Bukankah ia harusnya berterimakasih kepada Lui-sensei.
"Tapi seharusnya kita memberi pelajaran si idola menyebalkan!?"
Miki mendengus, sepertinya ada yang berubah menjadi Anti Fans disini.
"Dia yang memulai melaporkan, dasar pengadooou….!"
"Itu karena seseorang melempar kertasnya terlalu bersemangat."
Miki Mendengus kasar, tak terima dengan ucapan milik Gumi. Rin ikut menggelengkan kepalannya. Melihat jauh ke arah langit berawan melalui jendela dihadapannya. Ia tak ikut dalam perdebatan kecil milik Miki dan Gumi. Karena Rin masih harus memikirkan sesuatu yang penting dan sepertinya terlewatkan begitu saja tadi.
Ia menghela nafas.
"Oh ya Rin… kenapa lo makai kacamata lagi? Bukankah saat menyamar kemarin lo gak make kacamata bulat aneh itu?"
"Hmm, entah gue lebih suka dengan kacamata bulat ini. Lo ada masalah?"
Gumi terkikik geli, "Harusnya lo buka kacamata itu, kalau lo gak mau terlihat seperti Harri potter."
Rin menaikkan bahunya, "Aku akan menyihirmu menjadi kurcaci. Abvra Kadavra."
Dan Miki lah yang terkikik geli.
"Kenapa tidak menyihirnya menjadi wortel?"
"Ah ya, ide yang bagus Cerry! Lo yang seharusnya disihir menjadi seperti buah-buah merah itu."
Miki mendengus dengan ucapan Gumi.
"Terimakasih banyak nona Megpoid, saya begitu tersanjung dengan ucapan anda."
Miki menjulurkan Lidahnya, saat Gumi mendengus karena Miki mengerti bagaimana membuat nada menyebalkan saat menyebut Marga miliknya. Rin tersenyum.
Sebelum kembali menatap langit yang cerah dengan awan yang mulai melenggang pergi, bergerak dengan pelan. Ogah-ogahan. Rin sedikit merenung, entah mengapa ada sebuah ingatan menyenangkan yang melintasi pikirannya. Tentang masalalu-saat ia masih menjadi gadis kecil cengeng yang berusaha untuk tegar dengan gelar komite kelas-bersama seorang lelaki berdiri di depan kelas hanya karena hal sepele.
Ia mendesah pasrah.
Apa mungkin suatu saat nanti, lelaki itu akan menjadi cukup manis seperti dulu. Bahkan saat semua telah berubah dan dia bukanlah gadis komite kelas yang galak dengan seluruh peraturan tegas.
Rin ingin sekali mengetahuinya.
###
Rin berniat melangkah pelan menuju tempat duduknya, untuk melihat kelasnya begitu ramai dan tempat duduknya berubah menjadi tempat teramai yang ada disana. Gadis-gadis duduk berjejalan. Bertanya dengan berisik kepada seseorang yang Rin tau siapa itu.
Jadi dengan menghela nafas gadis ini memilih untuk masuk kedalam kelas mencari tempat yang sedikit jauh dari tempat Len, menunggu hingga kerumunan itu mulai pergi. Earphone berwarna oraye kesukaannya terpasang di telinga dan Rin tak melakukan sesuatu selain melipat tangannya dan bersiap meletakkan kepalanya untuk terlelap menikmati lantunan suara khas yang selalu menenangkannya.
Suara piano dengan lantunan suara anak kecil yang terdengar piawai memainkan benda tersebut. Rin selalu menyukainya dan merindukannya.
Senyumannya yang mencoba terbentuk saat ia terjatuh, tawanya saat mencoba memetik gitar kebesaran. Semuanya.
Jika kau katakana Rin adalah orang gila karena itu, ia tak begitu keberatan. Toh menurut buku-buku yang dia baca, orang yang merindu adalah orang yang gila, pun orang yang jatuh cinta adalah orang yang paling sulit untuk di nasehati.
"Kagamine-kun, bagaimana setelah kemunculan gadis gila itu?"
"Ku dengar ia sudah mendapat tagihan…pffft…!
"Gadis yang gila, aku harap dia tak membenturkan kepalanya dan berubah menjadi segila itu."
"Jangan berkata seperti itu, mungkin saja sejak lahir dia memang sudah gila."
"Hahahha."
Rin diam merasa sudut keningnya berdenyut. Mulut-mulut mereka haruslah mendapat pelajaran, andaikan Rin bisa kesana dan menaparnya.
Tapi tidak, kemana perginya image Rin sebagai gadi 'sedikit' culun yang suka mengabaikan banyak hal. Ia tak mau kembali menjadi gadis galak seperti saat dia kecil.
Akhirnya ia menghela nafas, dan berdiri dari posisinya. Sepertinya menunggu bunyi bell sekolah di dalam kelas semakin membuatnya muak, ditambah kejadian tadi siang.
Amarah Rin bisa saja meluap dan itu bukan pilihan yang baik.
Ia mendorong pintu kelas dan berjalan pelan, berniat mecari Miki dan Gumi yang tadi meninggalkan Rin menuju toilet sekolah.
Dan disanalah Rin mendapat kesialannya.
Entah sejak kapan Si manusia kuning mengikutinya, yang ia tau seseorang yang menepuknya-sesaat ia menuruni tangga- tiba-tiba terpeleset.
Menarik blazer-nya, berakhir dengan suara ber-debug dan erangan kesakitan.
Sepermenit berikutnya suara ribut seolah mengitari Rin. Bisik-bisik, ringisan kasihan, suara orang yang menyalahkan atau simpati dari puluhan gadis yang menghkawatirkan seseorang. Jelas itu bukanlah Rin. Dia adalah seorang lelaki yang saat ini tengah tenutup wajahnya dengan lengan kanannya, sedangkan sebelah tangannya memeluk erat Rin yang berkedip bingung dalam dekap sang lelaki.
Lelaki yang tadi diingatnya masih di kelilingi gadis-gadis menyebalkan, Len Kagamine.
.
.
.
.
To Be Continue
N/A :
Hello minna-san. Apalah ini cerita seperti sinetron wkwkkw. saya sudah begitu lama meninggalkan mereka dan berakhir dengan merindu-alay-wkwkkw. yah walau sedikit yang bisa saya tuliskan namun saya berharap ada yg mau baca c: . BTW, abis ini jangan di close dulu _*
.
.
Reply Review-Yang terlambat beratus-ratus tahun :") maafkan saya.
To: Kagamigami Rei
Hi Kagamigami-san. Ini udah next, makasih buat RR-nya ==v==
To Manusia
Hi, manusia-san. wkwkkw. ini sebuah cerita romance-gagal-yang dibumbui wortel dan juga cerri . pairingnya adalah OTP saya RinxLen. makasih RR-nya.
OMAKE
Langit senja memanjakan mata Rin. Ia, entah mengapa, menghentikan ceritanya, seolah teringat akan sesuatu yang lama terlupa. Dibawah tatapan penasaran dari Miki dan Gumi. Gadis itu menghela nafas. Meraih tasnya dan berjalan pergi meninggalkan tanda tanya besar dari dua gadis disana.
"Lo baik-baik saja kan Rin?"
Rin tak menjawab, ia mengisyaratkan dengan menganggukkan kepalanya.
"Nanti lanjutan ceritanya di Lite aja, gue lupa sesuatu."
Rin melambaikan tangannya dan bergegas pergi.
Ia harus menemukan kertas tadi, sebelum seseorang menemukannya. Karena Rin belum menghapus tulisan terakhir yang ia yakin tadi Len maupun Lui-sensei melewatkannya. Sebuah tulisan kecil di pojok kanan kertas. tepat berada di bawah gambar hitam yang sempurna menyembunyikan tulisan tersebut. Tempat yang sempat dibalas oleh Miki dan Gumi.
'Jangan sampai ada yang nemuin, kami-sama, aku mohon!'
###
Gradasi senja selalu membuat gadis ini menyukainya, awan yang menjingga. Suara dari pemain softball dan suara dari pembicaraan-pembicaraan yang berakhir dengan tawa maupun lambaian tangan.
Ia tesenyum dengan seringainya, membuka pintu kelas di ujung lorong. Mencari seseorang murid pindahan yang seharusnya masih berada di kelas tersebut. Tapi ia sepertinya terlambat. Lelaki yang dicarinya telah pergi, hanya menyisakan sesuatu di atas mejanya.
"Eh apa ini?"
Gadis itu diam mebacanya dan tersenyum.
"Aree.."
.
.
.
Rin, aku bosan, tidak kah kau memiliki hiburan yang menarik?
Hmm.. Coba gue liat, lo tertarik dengan gosip?
Tentang gosip sekolah, itu membosankan.
Oh, bukan begitu nona Furukawa. Ini tentang gosip terbaru.
Apa itu?
Lo tau Liu-sensei, ia baru saja menumbuhkan rambut oranye itu.
Seriously! kau jangan bercanda!
Iya, jika Lo gak percaya tarik saja rambutnya. Lo bakal melihat sang surya.
Pfft! Joke murahan Rin. Semua tau itu.
Gue gak berbohong, mau mencoba menggunduli Hibiki Lui-sensei?
Lo bakalan mati di hadiahin rumus Kimia.
Bullshit! kalau iya, gue bakalan makanin semua kertas ujian Kimia biar rumusnya bisa nyantol.
Pffft! Itu Konyol kelinci. bagaimana dengan cinta pertamamu itu heh?
(pojok kanan rahasia) Mau mengetahuinya, dia adalah suara dari cermin yang menatap redup kearah langit disisiku, L.
Romantis nona Kelinci.
