Chapter 1

A Tale of The Swan

Episode 1 Ratu dan Janji Seorang Ksatria

Act 1 Pengepungan Swan Castle

Tiga bulan telah berlalu semenjak pertempuran antara Moniyan Empire dengan Dark Abyss, sebagai pemenang dari pertempuran tersebut Dark Abyss memulai invasi mereka ke seluruh daerah di Land of Dawn, semua kekuatan yang mereka miliki dikerahkan ke segala penjuru dunia.

Dari seluruh lokasi yang mereka rencakan untuk dikuasai, Swan Castle yang diprioritaskan, terlihat dari jumlah pasukan yang mereka bawa yang jumlahnya hampir setengah total pasukan yang Dark Abyss miliki. Vexana dan Leomord memimpin invasi ke Swan Castle kali ini, pasukan memasang kemah didaerah dekat hutan untuk mengatur segala kebutuhan strategi perang dan juga beristirahat.

Daerah Swan Castle telah dikepung dari segala arah, pasukan Dark Abyss menutup semua jalur hubung antara Swan Castle dengan daerah luar, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk Swan Castle jatuh ke tangan Dark Abyss. Namun dengan segala keuntungan yang mereka miliki, masih terdapat satu hambatan yang menggagalkan usaha mereka untuk merebut Swan Castle, yaitu sebuah aura magis disekeliling Swan Lake yang membuat semua monster yang berusaha masuk langsung hancur seketika.

"Sudah lebih dari tiga bulan sejak kuberikan kamu mandat untuk mengambil Swan Castle, namun masih belum berhasil juga?" ujar sesosok makhluk hitam dalam ruangan yang gelap, sosok itu terproyeksikan dari atas bola kristal.

"Maafkan aku tuan, kekuatan magis di area sekitar Swan Lake dan Swan Castle terlalu kuat, sehingga pasukan undead yang kita miliki tidak dapat mendekati area kastil" jawab Vexana sambil bertekuk lutut menghormati The Dark Lord. "Lagipula tujuan sebenarnya dari invasi ini adalah mencari tempat suci itu, namun kami masih belum dapat menemukannya, sehingga kita tidak bisa gegabah untuk melakukan penyerangan"

Dengan nada marah sosok tersebut membalas "Hampir setengah pasukanku bersamamu Vexana, apa sulitnya mencari tempat itu? Swan lake adalah daerah yang kecil" Sosok tersebut kemudian bangkit dari kursinya "Jika hingga awal musim salju kamu tidak dapat menyelesaikan misi ini, akan kuanggap aliansi kita berhenti, MENGERTI?"

"Baik, yang mulia" jawab Vexana dengan nada rendah.

Seketika sosok hitam nan menyeramkan tersebut mengilang dari pandangan, berganti dengan nuansa hening yang menghinggapi ruangan tersebut, Vexana tidak dapat berkata apa-apa.

Ditengah keheningan yang menyelimuti terdengar suara langkah kaki yang memecahkan keheningan. "Ada apa baginda ratu? Sepertinya telah terjadi sesuatu", ujar Leomord.

Dengan cepat Vexana bangkit dari terbangun dari lamunannya "Tidak perlu khawatir Leomord, bagaimana dengan tugas yang kuberikan?"

"Sudah kudapatkan informasi yang kamu minta baginda ratu"

"Bagus, panggil jenderal yang lain ke ruangan ini, kita akan mengadakan pertemuan mengenai informasi yang kamu dapatkan"

Leomord melangkah keluar ruangan, namun tiba-tiba ia mengehenikan langkahnya "Baik yang mulia, tetapi inginku bertanya satu hal padamu baginda, untuk apa kita bekerja pada Dark Abyss? Kita memiliki kekuatan untuk mengalahkan mereka, dan tentu baginda sudah tau mengenai kebenaran tentang benda yang disebut Twilight Orb itu"

"Musuh dari musuh kita adalah teman, selama kita berbagi musuh yang sama bukan masalah yang berarti untuk bekerja sama" Vexana menjawab sambil mengusap bola kristalnya.


Sementara itu di Swan Castle

"Lapor, baginda ratu, situasi diluar masih belum berubah, semua pasukan Dark Abyss mengepung serta memutus semua jalur kita menuju kerajaan tetangga. Untuk persediaan makanan masih tersedia untuk bertahan sekitar 6 bulan"

Dengan suara lembut nan anggun ia membalas "Terimakasih atas laporannya, sir ..."

"Tristan, baginda ratu"

"Ah iya sir Tristan, terimakasih atas laporannya. Semoga kita semua diberkahi dengan kemenangan atas musuh-musuh yang kita hadapi"

"Baik baginda ratu, saya undur diri"

"Apakah tadi itu yang terakhir?" tanya perempuan itu dengan nada setengah lega

"Tentu saja, yang mulia ratu"

Dengan muka memerah ia berkata "Berhenti memanggil dengan kata-kata yang mulia, ratu, atau sebagainya, malu tau Lancelot"

"Habis mau gimana, kamu terlalu mudah untuk diejek sih, apalagi ketika kamu tidak dapat mengingat nama ksatria tadi, aku tidak bisa menahan tawa" balas Lancelot dengan diikuti tawa halus.

"Kamu kira gampang apa menghafal banyak nama orang yang harus kukenal dalam kurun waktu 2 bulan"

Odette akhirnya bisa bernafas lega, semua kesibukan yang ia lakukan sebagai ratu dari pagi hingga sore hari akhirnya selesai. Menandai selesainya kewajiban ia sebagai ratu, ia melepas jubah yang sepanjang hari ia kenakan. Mengekspos lengannya yang putih halus serta kakinya yang jenjang. Sekarang ia hanya mengenakkan gaun berwarna putih dengan motif angsa berwarna perak dan biru sebagai kepala untuk menutupi tubuhnya yang seperti tanpa cacat, dilehernya menggantung sebuah kalung berwarna biru, sama seperti warna bola matanya yang berwarna biru safir, dan dikepalanya menempel mahkota perak berbentuk bulu angsa yang menghiasi rambut emasnya bagaikan perpaduan yang menawan. Bagi siapapun yang melihatnya pasti akan mengira bahwa Odette bukanlah manusia biasa, melainkan seorang titisan Dewi yang turun ke dunia.

"Mengapa kamu menatapku seperti itu, Lance? Jangan berpikiran yang aneh-aneh yah dasar laki-laki mesum" Odette lalu melemparkan jubah yang dilepaskannya ke arah Lancelot.

"Eh aku gak mikir apa-apa kok, Aku hanya bertanya-tanya aja bagaimana bisa aku bisa berpacaran dengan seorang dewi" jawab Lancelot sambil membersihkan darah dari hidungnya

Saar mereka berdua sedang asik berbincang, terdengar ketukan pintu "Permisi yang mulia, makan malam sudah siap"

"Makan malam udah siap tuh, mending kita lanjut ngobrolnya di meja makan" Seraya meraih tangan Odette.

Diatas meja makan telah dihidangkan berbagai macam makanan, dari Kalkun Panggang, Ratatouille, Lancashire Hotpot, hingga makanan kesukaan Odette, Macaroon. Ditambah dengan lilin dan peralatan makan mewah serta dekorasi ruangan baik itu serbet, lampu, hingga dinding menambah kesan kemewahan yang ada diruangan tersebut.

Namun disamping seluruh kemewahan tersebut terdapat kesunyian yang tak dapat dielakkan, hanya Odette dan Lancelot yang berada diruangan untuk makan malam. Semua keluarga Windsor yang tinggal di istana tersebut telah gugur dalam pertempuran Twilight Orb, termasuk ayah Odette, sedangkan ibunya sudah meninggal saat Odette masih kecil. Yang tersisa di istana tersebut hanyalah Odette, meski usianya masih muda, mau tidak mau harus menjadi penguasa Swan Castle saat ini, serta Lancelot yang ditugaskan untuk menjaga dan menemani Odette.

Sambil memakan buah Anggur yang ada di meja, Odette mengeluh "Sampai kapan kita akan bertahan di kastil ini? Tidak lama lagi pelindung magis yang terpasang di sekeliling Swan Lake pasti akan tertembus"

"Tenang Odette pasti akan ada cara untuk mengalahkan pasukan Dark Abyss ini, kuyakin surat permintaan bantuan kita akan direspon dengan segera"

"Hmm, Kukira menjadi ratu akan menyenangkan, ternyata tidak sama sekali, bahkan aku menjadi tidak lebih bebas daripada sebelumnya"

"Yah mungkin saja karena semua kegaduhan yang dibuat oleh Dark Abyss ini, membuat semua hal menjadi tidak menyenangkan" jawab Lancelot sambil menyeruput Black Tea kesukaannya

"Sepertinya memang takdir membeciku, tidak ada semua doaku saat ulang tahunku ke 17 terkabul, bahkan lebih buruk semua keluargaku mati diperang tersebut" Odette tak dapat lagi menahan air matanya."Harapan sederhanaku untuk pergi melihat dunia luar saja tidak bisa terkabul"

Lancelot menggenggam tangan Odette untuk menenangkannya " Tidak peduli apakah tuhan ataupun para dewa membencimu, selama aku Lancelot masih hidup akan terus berada disampingmu dan menghiburmu, My Little Swan"."Dan aku bersumpah, setelah semua perang ini berakhir, aku akan mengajakmu untuk pergi melihat dunia luar, itu adalah janjiku, janji seorang kssatria"

"Terima kasih Lance, kamu memang laki-laki terbaik yang pernah kutemui, sebaiknya aku pergi beristirahat, semua hal ini membuatku lelah secara fisik dan psikis" Odette bangkit dari kursinya dan memberikan pelukan ke Lancelot sebelum pergi meninggalkan ruang makan "Good night, Lance"


Sementara itu dikemah pasukan Dark Abyss

"Baiklah, sebelum kita memulai pertemuan ini, ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan padama Leomord" Vexana lalu bangkit dari duduknya "Dimana para jenderal yang lain?" ujar Vexana kesal

"Selain Alice yang menghilang entah kemana dari awal pertempuran kita disini, kurasa kita tidak membutuhkan pendapat dari orang lain disini" Leomord dengan tenang menjawab pertanyaan Vexana "Kecuali jika yang mulia ingin mendegarkan pendapat dari orang mati (undead) ataupun monster yang keduanya kuragukan mempunyai cukup otak untuk berpikir, kurasa aku bisa membawa 1 hingga 2 orang kesini.

"Kurasa itu akan menghabiskan waktu, lebih baik kita mulai saja pertemuan ini, jadi informasi apa yang kamu dapat?"

"Putri Odette selalu pergi menuju swan lake saat bulan purnama muncul di tiap bulannya, dan ia pergi sendiri tanpa pengawalan"

"bahkan tanpa Lancelot?" tanya Vexana penasaran

"Ya bahkan tanpa ksatria konyol kesayangannya itu"

"Jadi apa saranmu?"

"Saran dariku, kita tarik pasukan kita mundur dari sini, pulang ke Necrokeep, lalu mengatur strategi untuk mengalahkan sosok yang bernama Dark Lord itu" Leomord menjawab dengan nada penuh amarah

"Kita sudah membahas hal ini berkali-kali Leo, dan jawabannya akan selalu sama." Timpal Vexana dengan dingin

"Baiklah, jika itu yang diinginkan yang mulia, Aku bisa menembus pelindung magis yang disekitar Swan Lake dan bisa menghampiri Odette ketika ia sendiri, sedangkan yang mulia bisa membuat sibuk Lancelot agar ia tidak bisa menolongnya"

"Ide yang bagus, tapi ingat aku ingin Odette dalam keadaan hidup, tujuan utama kita bukanlah Swan Castle tetapi letak dari tempat suci dimana pedang Excalibur berada"

"Mengerti yang mulia"

"Bulan purnama akan terjadi 3 hari lagi, jadi kita harus mempersiapkan segala hal segera mungkin"

Lengkap sudah segala hal yang dibutuhkan Vexana dan Leomord untuk menyelesaikan misi mereka. Kunci penting sudah mereka pegang, hanya tinggal menunggu waktu bagi mereka untuk menyegel kemenangan. Sedangkan bagi Odette dan Lancelot pada tiga hari kedepan akan menentukan, takdir apakah yang akan menanti mereka.