Act 2: Ingatan yang kembali hadir

Hari ini merupakan hari dimana bulan purnama akan muncul, spesialnya bulan purnama kali ini ialah kali ini purnama yang muncul adalah purnama penuh. Dibandingkan dengan purnama yang lain, yang tidak sepenuhnya utuh, jika hanya dilihat secara bentuk fisiknya, namun jika dilihat secara magis. bulan purnama utuh ini memberikan kekuatan magis yang luar biasa pada bumi, semua kekuatan magis yang tersembunyi ataupun telah menghilang akan kembali menampakkan magisnya hari ini.

Vexana dan Leomord tampak sedang bersiap-siap sebelum menjalankan misinya masing-masing. Tentu ini menjadi misi yang sangat penting dan tidak boleh gagal

"Apa yang kamu lakukan Leomord?" ujar Vexana dengan tatapan dinginnya

Sambil menaikkan alat-alat yang dipersiapkannya ke atas sadel, Leomord menjawab "Tidak bisakah kamu melihatnya, baginda putri? Aku sedang memberi makan Barbiel"

"Tentu saja aku tahu itu, aku tidak buta, yang kutanyakan adalah esensi dari tindakanmu memberi makan kuda itu, Undead tidak perlu makan"

"Ok, aku tahu undead tidak perlu makan, i'm dead not stupid, alasan kuberi makan kudaku ini agar diriku merasa hidup"

"Kamu tau Leomord, hari ini merupakan hari yang penting, kuharap kita bisa sukses menjalankan misi ini"

"Terima kasih yang mulia, aku juga berharap atas kesuksesan kita" Seraya meninggalkan kemah

"Jangan sampai kamu mati, membangkitkanmu lagi akan memerlukan upaya yang merepotkan"

"Tenang saja, baginda ratu. Memerlukan lebih dari 1000 prajurit untuk membunuhku, seorang putri kecil yang lemah tidak akan mampu mengalahkanku, lagipula aku ini Undead, jadi aku tidak mungkin mati jika masih dalam keadaan mati" Leomord lalu memacu kudanya.


Di Malam harinya Leomord menunggu kedatangan Odette ditempat dimana biasanya ia singgahi pada tiap bulan purnama. Disekeliling tempat itu hanya terdapat hutan belantara, sedangkan dipinggir danau terdapat sebuah gazebo kecil yang dikelilingi oleh taman kecil yang ditumbuhi berbagai macam bunga. Di bagian danau dekat gazebo terdapat bangau putih berkerumun, bagaikan menunggu kehadiran seseorang yang istimewa.

"Bulan purnama akan segera muncul, seharusnya putri itu akan tiba sebentar lagi"

Dari kejauhan munculah sesosok orang menggunakan jubah berwarna gelap, dalam kegelapan malam sulit untuk melihat siapakah sosok dibalik jubah tersebut. Sosok itu berjalan mendekati gazebo kecil di tepi danau, disana ia melepaskan jubah gelapnya dan mengeluarkan sebuah tongkat sihir berwarna putih uang dipuncak tongkat tersebut terdapat batu safir memancarkan warna biru yang sangat indah. Tongkat tersebut serasi dengan penampilan sosok yang telah melepaskan jubahnya itu.

Dibawah sinar rembulan sosok tersebut memulai ritualnya, ia arahkan tongkat sihirnya ke arah bulan purnama, ia mulai menari dengan gemulainya, disusul dengan nyanyian dengan suara yang amat merdu. Melihat hal tersebut Leomord tahu bahwa itu adalah ritual Swan Song, ritual untuk menghormati roh penjaga Swan Lake, agar selalu dapat menjaga kesucian danau tersebut. Sinar rembulan mulai menerangi wajah sosok tersebut, yang tidak lain adalah sang Swan Princess Odette.

Ritual sang putri angsa mulai memasuki fase puncaknya, terlihat sebuah kubah dengan Odette sebagai porosnya, angsa-angsa yang dari tadi menunggu di pinggiran danau mulai beterbangan mengerumuninya, bagaikan ikut menari bersama sang putri. Atmosfer dikubah tersebut tidaklah menyakitkan, justru terasa menyegarkan bagaikan mata air yang masih terjaga keasriannya.

Ritual itu berlangsun hampir 10 menit, hingga akhirnya sang putri mulai berhenti menyanyi dan menari, para angsa mulai kembali ke danau, dan kubah yang sebelumnya besar akhirnya mengecil sebelum akhirnya menghilang.

Terdengar suara riuh rendah tepuk tangan dari arah hutan "Sebuah konser yang bagus tuan putri, aku tidak tahu bahwa selain cantik, kamu juga berbakat dalam menyanyi dan menari"

"Siapa kamu?" Tanya Odette sambil memegang erat tongkat sihirnya karena ketakutan

"Pernahkah kamu berpikir untuk mengikuti kontes pencarian bakat Tuan putri?"

"Berhenti disitu atau aku akan menyerangmu, pria misterius"

"Maaf tuan putri sepertinya konsermu tadi akan menjadi konsermu yang terakhir, aku memerlukanmu untuk sesuatu yang penting, yah mungkin nanti kamu bisa menggunakan kamar mandi untuk berlatih bernyanyi" ujar Leomord seraya mengeluarkan pedangnya.

"Blue nova!" Odette mengeluarkan ilmu sihirnya yang mengikat Leomord sehingga ia tidak dapat bergerak. Odette bersiap mengeluarkan sihir berikutnya "Avian authority!" sihir yang mengeluarkan energi spiritual berbentuk angsa.

"Itukah sihir terbaik yang kamu miliki?" Leomord mulai kembali mendekati Odette

"Tidak perlu susah-susah melawan tuan putri, mari kita buat sederhana. Beri tahu lokasi dimana pedang Excalibur berada, lalu kuhancurkan pedang itu dan semuanya beres kamu bisa hidup bahagia bersama Lancelot" "Atau jika ingin kamu buat ini menjadi sulit, kamu bisa terus menyerangku, yang mana itu sia-sia, dan siapa tahu apa yang akan terjadi pada Lancelot kesayanganmu setelah putri kesayangannya hilang?"

Mendengar apa yang dikatakan oleh Leomord membuat Odette menjadi marah

Dengan tatapan penuh keyakinan Odette berteriak dengan lantang "Akan kurelakan nyawaku demi melindungi apa yang kucintai, memberikan pedang excalibur berarti sama saja dengan menghancurkan danau ini, dan tak akan kubiarkan kamu mendekati Lancelot sejengkal pun"

Melihat reaksi Odette seperti itu, memicu sebuah ingatan dalam diri Leomord. " Tatapan dan perkataan itu, mengapa seperti tidak asing kudengar. Seperti seseorang yang kukenal"

Sementara itu Odette mulai melafalkan sebuah mantra, mantra untuk mengeluarkan sihir pamungkasnya, Swan Song.

Leomord masih berusaha keras untuk mengingat sesuatu "Argh, siapakah sosok tersbut, mengapa aku merasa sangat mengenalnya" seketika ia sadar bahwa Odette tengah berusaha untuk mngeluarkan sihir pamungkasnya.

Odette sudah dalam posisi siap untuk mengeluarkan sihir pamungkasnya, hanya perlu satu kata untuk memicu sihir tersebut. "SWAN!" teriak Odette penuh keyakinan. Seketika itu pula muncul kubah magis disekeliling Odette, tepat berada dimana Leomord berpijak, udara dikubah menjadi terasa sangat sesak, ditambah sengatan aura magis disekujur tubuhnya yang terasa menyiksa.

"Jadi ini senjata pamungkasmu tuan putri? memang terasa sangat menyakitkan berada di posisi ini, namun kamu pikir aku datang tanpa mengetahui apa kekurangan dan kelebihanmu?"

Lalu dengan lantang Leomord mengeluarkan jurus pamungkasnya "BARBIEL!"

Dengan cepat dan tak terduga, kuda tersebut menabrak tubuh Odette sebelum akhirnya berlari menuju tuannya. Ia terjatuh ke tanah dan sihir Swan Song yang sedang berlangsung menjadi terhenti. Kubah magis yang tadi memberikan rasa sakit yang amat perih bagi Leomord hilang begitu saja.

"Apa yang baru saja kamu lakukan? Susah payah kupersiapkan sihir pamungkasku, dan kamu dengan mudahnya menggagalkannya hanya dengan menggunakan kuda bodohmu itu!" Odette berteriak sambil menutupi rasa malunya sreta kekesalannya bahwa sihirnya dihentikan oleh seekor kuda.

Tawa keras keluar dari mulut Leomord "Tidak perlu menutupi malumu seperti itu tuan putri" ia menyadari bahwa Odette hanyalah seperti gadis biasa "Sekali lagi maaf tuan putri, jujur mungkin aku sedikit menyukai sifatmu, tapi tugas tetaplah tugas"

Sambil menengadahkan mukanya, Odette berkata dengan suara kecil "Yah mungkin ini adalah akhir hidupku, pada akhirnya memang takdir membenciku" diikuti senyum dan tangisan kecil putus asa karena tidak bisa menyelamatkan apapun yang ia cintai. "Silakan, ambil nyawaku, atau apa pun yang ingin kamu lakukan, yang pasti kamu bertanya pada orang yang salah tentang lokasi pedang Excalibur itu, aku tahu pedang tersebut hanya sebagai dongeng belaka"

Seketika pedang yang dipegang oleh Leomord jatuh ke tanah, "aku ingat, semua ekspresi dan perkataan tersebut" Leomord tampak tidak mempercayai apa yang baru saja ia ingat."Putri ini sangat mirip dengan Vexana" gumamnya dalam hati

"Sepertinya takdir mulai mencintaimu putri kecil"

"Huh?"

"Kubiarkan kamu lepas kali ini, tapi jangan harap pertemuan selanjutnya aku memberi ampun" Ujar Leomord sambil memutar arah kudanya untuk pulang.

"Bisa berikan penjelasan mengapa kamu tidak jadi menangkapku?" tanya Odette semakin penasaran "Baiklah, jika kamu tidak ingin berbicara" Odette membaca mantra dan dengan segenap kekuatannya mengayunkan tongkat sihirnya ke arah Leomord "Truth Spell"

"Huh sihir seperti itu tidak akan mempan untuk ..." Dengan sekejap Leomord tersungkur jatuh ke tanah

Setelah beberapa saat jatuh pingsan Leomord mulai membuka matanya. " Urgh, dimana ini?"

Leomord tahu bahwa saat ini ia tidak sedang berada di area sekitar Swan Lake. Kegelapan menyelimuti seluruh sudut ditempat ia sadar, satu-sarunya sumber cahaya berasal dari seorang wanita cantik yang beraurakan cahaya nan lembut.

"Ini adalah alam memorimu, Ksatria" Ujar wanita misterius itu

"Apakah kamu masih ingat akan sumpahmu, ksatria?" Pertanyaan itu lalu diikuti oleh percikan memori bermunculan, dan mulai membentuk menjadi sebuah realita semu yang berada disekeliling dirinya.


Malam kali ini adalah malam dimana bulan purnama penuh menampakkan dirinya, setelah hampir 1 abad tertidur, bersembunyi dari peradaban manusia. Seorang anak perempuan kecil bermain sendirian dihutan mencari sesuatu, namun anjing-anjing hutan nampannya terganggu dengan kehadirannya dan mulai menyerang anak perempuan itu. Anak kecil tersebut berlari sekencang mungkin untuk menjauh dari kejaran anjing-anjing hutan, hingga akhirnya ia jatuh tersungkur dan terluka.

Anak perempuan tersebut tidak lagi memiliki kekuatan untuk berlari, tiba-tiba datang seorang anak laki-laki berusaha melindungi dirinya. Akhirnya anak laki-laki itu mampu mengusir kembali anjing-anjing hutan tersebut kembali ke hutan. Ia lalu mengulurkan tangannya menawarkan bantuan kepada anak perempuan yang baru saja ia tolong

"Apa yang kamu lakukan di tengah hutan di malam hari seperti ini?"

Sambil mengusap air matanya ia menjawab "Aku hanya ingin mengambil bunga yang ada disana, menurut cerita bunga itu hanya akan muncul ketika bulan purnama total"

"Yang benar saja, ada orang yang masih percaya mitos seperti itu?"

"Itu bukan mitos kok, ini buktinya bunga mawar yang kubawa"

"Bisa saja itu hanya mawar biasa, lebih baik kamu berhati-hati jika ingin masuk ke hutan tersebut"

"Terima kasih mmm ..."

"Leomord, kamu bisa memanggilku Leo"

"Terima kasih Leo, sebagai rasa terima kasihku, ini kuberikan kamu satu bunga mawar" Diikuti senyum kecil di ujumg bibirnya "Dan oh iya namaku Vexana, salam kenal"

"Tidak perlu berterima kasih, memang sudah tugasku untuk melindungi yang lemah"

Momen itulah Leomord dan Vexana pertama kali bertemu dan dengan seiring berjalannya waktu mereka mulai mengenal satu sama lain.

Leomord adalah salah satu anak bangsawan yang terpandang di kerajaan ini, ayahnya merupakan ksatria yang berjasa dalam perang sebelumnya melawan kerjaan kegelapan, sedangkan ibunya terkenal sebagai penari terbaik dan tercantik di kerajaan, begitu pula kakak-kakaknya yang dikenal karena mereka dianggap mempunyai potensi yang bagus dan dapat menjadi pemimpin di masa yang akan datang.

Vexana memiliki nasib yang jauh berbeda dibanding Leomord, Vexana saat ini merupakan yatim piatu, ayah dan ibunya meninggal saat ia masih berusia satu tahun akibat monster kegelapan yang datang menyerang kota. Saat ini ia tinggal di sebuah panti asuhan, namun penjaga asuhan tersebut tidak memperlakukannya dengan baik. Sehingga Vexana merasa tidak betah tinggal di panti itu dan sering datang mengunjungi Leomord.

Leomord mengetahui kodisinya dan meminta orangtuanya untuk mengadopsi Vexana. Merasa iba dengan kondisi Vexana saat ini, orangtuanya setuju untuk merawatnya sebagai anak angkat dan mulai sejak itu Leomord dan Vexana terus bersama.

Sudah 10 tahun sejak pertemuan pertama mereka, kedua anak itu kini telah tumbuh menjadi remaja yang penuh bakat, Leomord disekolahkan di akademi ksatria sedangkan Vexana disekolahkan di akademi ilmu sihir. Meski disibukkan dengan kehidupan sekolah, Leomord dan Vexana tetap sering bertemu satu sama lain. Seperti sore ini dimana mereka janjian untuk bertemu di taman dekat akademi.

"Leo tahun ini kita akan berumur 17 tahun dan kita akan lulus sekolah" ujar Vexana yang tengah duduk sebuah ayunan.

"Yah, memang waktu terasa begitu cepat. Seperti baru kemarin rasanya aku menolong mu Vex" Leomord membalas diikuti dengan tawa yang girang

"Sudahkah kamu memiliki mimpi setelah keluar akademi?"

"Entahlah, mungkin menjadi pengawal seorang ksatria hebat, seperti yang dilakukan anak laki-laki lainnya"

"Urgh membosankan"

"Apa katamu? Memang apa mimpimu setelah lulus?"

"Aku ingin menjadi seperti bunga mawar, cantik dan wangi memberikan rasa cinta dan kasih bagi setiap makhluk yang melihatnya, namun kuat dan berduri mampu untuk menjaga serta mengusir makhluk jahat yang berusaha menganggu apa yang dicintainya" jawab Vexana diikuti dengan senyum manis khasnya.

"Hahaha, sepertinya kamu belum banyak berubah sejak pertama kita berjumpa Vex" Leomord kemudian mengeluarkan pedang imitasi dan mengangkatnya keaatas "Jika itu mimpimu maka mimpiku adalah aku akan menjadi Ksatria yang melindungi bunga mawar itu apapun yang terjadi"

"Benarkah itu Leo? Hahaha, sepertinya aku mulai menyukaimu" Vexana berdiri dan berakting layaknya seorang putri.

"Itu adalah sumpah seorang ksatria, tuan putri, ksatria tidak pernah berbohong" Leomord bertekuk lutut, menggenggam tangan kanan Vexana, lalu mencium tangannya sebagaimana layaknya seorang ksatria menyampaikan sumpahnya terhadap putri kerajaan.

Tawa yang lepas kemudian terdengar dari kedua remaja tersebut, memecah kehenigan di hari yang senja.

Tiga tahun kemudian Vexana dan Leomord sukses meraih mimpi yang ingin mereka gapai. Vexana menjadi salah satu mage terkuat di kerajaan, ia dijuluki sebagai " The Charming Roses" sedangkan Leomord menjadi ahli pedang terbaik di kerajaan bahkan di dunia, dengan pedang sucinya "The Oathkeeper" pedang yang konon terbuat dari Dragonsteel, besi yang hanya mampu ditempa oleh api naga, pedang itu merupakan pedang terkuat yang pernah ada.

Karena nama tersohornya, mereka berdua diberikan kehormatan untuk berpartispasi dalam misi penting oleh keluarga bangsawan Ainsworth. Mereka ditugaskan untuk menyelidiki pergerakan sebuah sekte sesat yang berada dalam hutan terkutuk. Namun ternyata semua itu hanyalah jebakan belaka, keluarga Ainsworth menyimpan rasa iri kepada Vexana karena ia akan segera menikahi pangeran dan berusaha membunuhnya.

Leomord sadar akan kejanggalan tersebut, namun ia terlambat karena Vexana bersama kelompoknya sudah berjalan menuju tempat yang diberitahukan. Benar saja, tak lama setelah Vexana dan kelompoknya tiba, terjadi serangan tiba-tiba, musuh yang dihadapi terlalu banyak, anak panah berterbangan dari segala mata penjuru angin. Satu persatu personelnya pun gugur demi melindingi Vexana.

"Pada akhirnya aku hanyalah bunga mawar biasa yang rentan dan rapuh" ujar Vexana tertelungkup di tanah. "Sepertinya tuhan sangat membenciku, ia mengambil semua apa yang kucintai, orang tuaku, dan kini teman seperjuanganku" air mata keputus asaan mulai membasahi pipinya. Vexana mulai pasrah dengan keadaan dan ketidakmampuannya, ia hanya bisa menyalahkan ketidakmampuannya untuk melindungi semua teman yang ia cintai.

Tiba-tiba terdengar suara pedang menembus tubuh manusia. Satu persatu orang yang berada disekitar sana ia habisi, hingga tidak terdengar lagi suara apapun kecuali suara langkah kakinya yang tegas dan tanpa keraguan.

"Maafkan, aku terlambat Vex. Aku harus membereskan bangsawan bedebah itu terlebih dahulu sebelum sampai kesini" Ujar Leomord sambil. Ia melihat Vexana tengah terbaring dengan tatapan kosong.

Leomord lalu ikut berbaring disamping Vexana, sambil menatap indahnya langit malam yang dihiasi bintang-bintang serta cahaya rembulan.

"Kamu bisa menangis sekarang Vex, tidak akan ada yang melihatmu"

Seketika itu juga Vexana menyandarkan kepalanya ke pundak Leomord, lalu menumpahkan tangis yang ia tahan sebelumnya. Air mata membanjiri pipinya yang merona serta membasahi pundak Leomord yang menjadi sandarannya.

"Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu Vex, aku tahu kamu baru saja kehilangan teman-temanmu, tapi kamupun juga harus tahu mereka mati bukan karena ketidakmampuanmu, tetapi mereka mati melindungimu, mereka percaya bahwa kamu suatu saat akan menjadi ratu yang baik" "Belajar mencintai berarti juga harus belajar melepaskan, kamu harus terbiasa dengan hal itu Vex. Yang kamu cintai itu bukan benda mati, melainkan benda hidup yang sudah mempunyai garis takdirnya masing-masing"

Terdengar suara derapan langkah kaki kuda dari kejauhan

Leomord bangkit berdiri lalu mengelap air mata Vexana "Kuyakin pangeranmu datang untuk menolongmu Vex, kamu adalah wanita yang kuat, kejadian seperti harus menjadikanmu wanita dan ratu yang lebih kuat"

Vexanapun kembali tersenyum "Kamu memang laki-laki terbaik yang pernah kukenal Leo, terimakasih" diikuti dengan sebuah pelukan hangat.

Tiga bulan setelah kejadian tersebut, Vexana akhirnya menikahi pangeran Tylor, dan resmi menjadi ratu di kerajaan. Pernikahan tersebut berjalan meriah, pesta rakyat sepanjang 3 hari 3 malam diadakan untuk merayakan pernikahan raja dan ratu baru mereka. Lampu hias dan pedagang dimana-mana, ditambah penampilan penari di tiap jalan kota menambah ramai suasana pesta.

Leomord senang dengan pernikahan Vexana namun dalam lubuk hatinya sebenarnya ia juga mencintai Vexana sebagaimana pria mencintai wanita pada umumnya. Ia tidak pernah menyampaikan perasaannya tersebut kepada Vexana, karena tahu ada pria yang lebih pantas darinya untuk mencintai Vexana.

Lima tahun berlalu, pernikahan raja dengan ratu mulai diterpa masalah. Raja Tylor dikabarkan sering pergi keluar untuk menemui wanita lain, hal ini tentu saja membuat ratu Vexana cemburu. Vexana mulai melakukan hal apapun demi mempertahankan yang dicintainya, termasuk sihir hitam. Leomord yang mendengar hal tersebut, berusaha untuk menyadarkan Vexana.

"Yang mulia ratu, ini sudah melewati batas, berhentilah"

"Diam kamu Leo, kamu tidak tahu rasanya melihat orang yang kamu cintai direbut oleh orang lain, kamupun bahkan tidak pernah merasakan cinta"

Leomord terdiam mendengar kata-kata tersebut, perkataan itu seperti membuka luka yang sudah dipendam oleh Leomord selama lima tahun.

"Ini semuanya salahku" Ujar Vexana dengan terisak "Jika saja aku lebih cantik, dan lebih kuat tentu raja tidak akan direbut oleh wanita lain"

"Leo, jika kamu ingin membuatku senang, ingatlah sumpahmu kepadaku, lindungi aku dari semua orang yang ingin menyerangku."

Perilaku Vexana semakin hari semakin memburuk, ia mulai menculik perempuan muda yang ada, bukan hanya karena alasan sihir hitam untuk membuatnya jadi lebih kuat dan cantik semata, melainkan juga rasa cemburu dan takut akan perempuan-perempuan tersebut akan merebut raja yang ia cintai. Sedangkan raja sendiri tidak pernah kembali lagi ke istana, tidak pernah ada kabar lagi mengenai dirinya.

Leomord tidak dapat berbuat banyak, Vexana tidak lagi mau mendegarkannya, dan ia hanya mengerti ilmu pedang bukan ilmu sihir. Ia hanya bisa memegang teguh pada sumpahnya untuk melindungi Vexana meskipun itu artinya ia harus berhadapan dengan rakyat yang mulai geram. Ia hanya berharap Vexana akan kembali menjadi seperti dirinya yang dulu lagi.

Pada akhirnya kerajaan tersebut hancur akibat sihir hitam Vexana. Leomord mati demi melindungi Vexana dari bahaya yang ada meskipun tahu bahwa Vexana yang sekarang adalah dirinya yang berbeda, ia rela dicap sebagai ksatria tak berperasaan hanya demi menjaga sumpahnya dan membuat Vexana bahagia.

Setelah ingatan itu hilang semuanya seketika mulai gelap kembali

"Jadi, sudah kamu ingat sumpahmu yang sebenarnya, Leo?" Tanya wanita yang memancarkan aura putih nan suci itu

"Jadi takdir inilah yang membawaku kembali hidup dari kematian"

"Ya, sumpahmu yang membangkitkanmu dari tidur, sumpahmu belum usai dan kamu tidak bisa mengulangi kesalahan yang sama"

"Ya, aku tahu dosaku, aku yang berperan membuat Vexana menjadi seperti ini, takkan kubiarkan Vexana berada terus dalam kegelapan"

Seraya berjalan kearah cahaya putih yang baru saja muncul didepanya, Leomord menanyakan suatu hal. "Tidak pernah kusangka bahwa sosok Lady of the Lake bukanlah dongeng belaka, bolehkah kupinjam pedangmu? pedang Excalibur"

"Untuk apa kamu butuh pedang itu? Kamu sudah memiliki pedang yang jauh lebih hebat ditangamu"

"Yah, kudengar Excalibur dapat memisahkan kejahatan dan kebaikan dalam satu tebasan, mungkin aku memerlukannya untuk menyelamatkan Vexana"

"Berarti kamu bodoh memercayai hal itu, kecuali kamu ingin ratu tercintamu mati, mungkin tebasan pedang adalah solusi dari masalahmu"

"Oke aku hanya bergurau, aku hanya ingin tahu apa diriku pantas menggenggam pedang legendaris itu, nampaknya memang hanya orang terpilihlah yang layak memegang Excalibur" "Satu hal yang perlu kuberitahu padamu, aku hanya peduli terhadap Vexana, aku tidak peduli terhadap putri kecilmu tersebut dan apa yang akan menimpanya kelak"

"Ya aku tahu itu, dan aku juga tahu isi hatimu, takdir yang menimpa ratumu pasti akan terjadi pada sang putri kecil, itu adalah takdir yang tak bisa dihindari, mungkin setidaknya kamu bisa sedikit membantu agar takdir bisa sedikit berubah"

Seraya tubuhnya perlahan menghilang dari alam memorinya "Apapun itu, selama tidak buruk mungkin akan ku coba, anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih ku"


Leomord perlahan mulai membuka matanya, dan mulai bisa merasakan tubuhnya kembali. Setelah melalui perjalanan panjang di alam memorinya, tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang kembali ke tubuh asalnya, dan bisa kembali merasakan benda-benda disekitarnya. Rasa menyenangkan tersebut terganggu ketika ia sadar sepasang mata menatapnya dengan rasa penuh perasaan di dekatnya.

"Apa yang kamu lihat, putri kecil?"

"Eh, maaf sir Leomord, aku hanya bermaksud menolongmu tadi, tapi tidak sengaja mendengarkan tentang kisahmu.

"Bagaiman kamu bisa mengetahui namaku? Kamu pikir aku percaya kamu mengetahui kisahku"

Dengan nada polos Odette menjawab "Kamu berjanji untuk melindungi Vexana dari segala bahaya, akan tetapi sebenarnya kamu jatuh cinta pada dia" diakhiri dengan senyum di bibirnya.

Dengan muka tidak percaya Leomord membalas "Ba, bagaiamna kamu bisa tahu itu putri kecil?"

"Tidakkah kamu ingat, sir Leomord? Truth Spell. Mantra yang memaksa orang berkata sejujur-jujurnya."

Dalam hati Leomord bergumam "Tidak mungkin mantra rendahan seperti itu berefek, ini pasti ulah wanita sialan itu" "Baiklah putri kecil, aku mengaku kalah. Bagaimana jika kita berdamai? aku berjanji tidak akan menyerangmu dan semua yang kamu cintai lagi dan kamu tidak akan memberi tahu siapapun mengenai apa yang tadi kamu dengar, deal?"

"Ok, deal. Selama kamu berjanji untuk tidak menggangguku dan orang-orang disekitarku, aku tidak akan menceritakan permasalahan cintamu dengan Vexana" "Dan sebagai permintaan maaf dan rasa terima kasihku, maukah kamu menerima hadiah ini Leomord." Odette mengeluarkan fragmen kecil dari jubahnya "Sebenarnya itu untuk Lancelot, tapi kurasa itu cocok denganmu tuan ksatria, Kamu punya alat untuk menggunakannya kan? Kamu mengerti cara mengunakannya kan?"

"Tentu saja tuan putri yang menjengkelkan, Kekuatan Skin On ini sudah kugunakan sejak dari remaja, tentu aku tahu kegunaannya"

"Kamu bisa memanggilku dengan Odette saja, tuan Leomord, jujur aku tidak suka dipanggil dengan sebutan tuan putri atau sebutan lainnya"

Dari jauh terdengar suara langkah kuda beserta perempuan memanggil-manggil nama Odette.

"Baik Odette aku mengerti, sepertinya seseorang datang menjemputmu, lebih baik aku segera bergegas pergi, dan sebagai rasa terimakasihku kuberikan ini" Leomord lalu mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. "Pasang barang itu pada pedang yang kamu bawa, aku tak tahu mengapa seorang mage sepertimu membawa pedang, tapi kurasa itu akan membantumu kelak" Selesai dengan ucapannya, dengan secepat kilat Barbiel datang menjemput tuannya lalu pergi menjauh dari.

Perempuan yang daritadi berteriak memanggil nama Odette, mulai mendekat. Ia merasa lega menemui putri Odette yang sejak daritadi

"Odette, apakah kamu tidak apa-apa, kamu terlihat sangat kotor? Apa yang terjadi?"

"Tidak ada yang terjadi kok Ecila, aku hanya sedikit terjatuh ketika memberi makan angsa di danau"

"Syukurlah, kamu membuatku khawatir, terlebih kamu adalah guru ilmu sihirmu, aku harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi padamu"

"Eh, maafkan diriku, aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir"

"Tidak apa-apa Odette, karena sekarang kamu sudah ketemu, seiisi istana pasti akan merasa lega, terutama Lancelot. Dia terlihat sangat shock dan terburu-buru pergi setelah membaca surat mengenai dirimu telah diculik."

"Pergi kemana dia?"

"Setahuku dia pergi ke daerah luar danau dekat dengan hutan di bagian utara, seperti isi surat tersebut"

"Ecila kamu bisa pulang duluan ke istana, aku akan pergi menjemput Lancelot"

"Eh, mengapa terburu-buru? Kamu harusnya beristirahat terlebih dahulu"

"Ada orang yang ingin menjebak Lancelot, jika tidak segera mungkin, Lancelot bisa dalam bahaya"

"Aku akan menemanimu Odette, aku adalah gurumu, akan berbahaya jika kamu pergi sendiri. Akan kukirim pesan melalui burung merpati mengenai keadaanmu dan Lancelot ke istana"

"Terimakasih Ecila"

Dengan tergesa-gesa Ecila bersama Odette bergegas memacu yang mereka tungggangi menuju tempat yang ada dis ebutkan dalam surat tersebut. Odette merasa sangat khawatir akan keselamatan Lancelot, ia tahu Lancelot adalah ksatria yang mahir, akan tetapi rasa khawatirnya terhadap Lancelot sangat besar, ia takut akan kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.