Act 3: Pertempuran Final
Seperti yang disebutkan dalam surat yang diterimanya, Lancelot tiba disebuah tempat yang terletak di bagian utara Swan Lake. Tempat tersebut sudah tidak lagi terlindungi oleh penghalang sihir, berarti memungkinkan pasukan Dark Abyss untuk menyerang dirinya di tempat itu. Lancelot sudah hafal betul seluk beluk Swan Lake, akan tetapi dia merasa tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya. Disana terdapat sebuah pohon yang tinggi besar, yang nampak bersinar di malam itu, disampingnya terdapat sebuah batu kecil yang sepertinya terawat, karena tidak tertutupi oleh lumut.
"Aku sudah tiba disini Vexana, seperti yang kamu minta. Segera lepaskan Odette, atau aku tidak akan segan membunuhmu"
Dari dalam kegelapan Vexana menjawab teriakan itu "Anak yang pintar" "Apakah kamu yakin bisa mengalahkanku, Lancelot? Kamu bahkan tidak bisa melihatku?"
Lancelot tampak terus memperhatikan sekelilingnya, tempat tersebut begitu gelap, sehingga sangat sulit untuk melihat siapa yang berada di dalam kegelapan itu. "Hentikam trik kotormu penyihir! Marilah kita berduel dengan adil"
"Andaikan saja aku seorang ksatria, tentu aku mau berduel dengan adil Lancelot, namun sayangnya aku ini seorang mage, jadi kupikir kondisi seperti ini cukup adil"
Sementara itu di sisi danau yang lain, Odette dan Ecila memilih untuk beristirahat sejenak di sebuah gasibu kecil yang terletak di pinggir danau. Odette terlihat sangat gelisah, ia bahkan tidak bisa duduk beristirahat melepas rasa lelahnya. Ia benar-benar khawatir bahwa Lancelot telah jatuh ke dalam jebakan musuh.
"Kita harus segera bergegas Ecila, mungkin Lancelot dalam bahaya"
"Tenanglah sedikit Odette, Lancelot itu seorang pria yang tangguh, tidak akan mudah untuk mengalahkannya"
"Lagipula kuda tungganganku perlu beristirahat sejenak, aku mengestimasi kita hanya perlu waktu sekitar 30 menit untuk tiba di tempat Lancelot"
Odette menghela nafas dalam-dalam berupaya menenangkan dirinya, ia lalu duduk disamping Elica yang daritadi sibuk menyiapkan api kecil dan suatu minuman.
"Ini Odette minumlah"
"Terima kasih Ecila"
"Di tempat tadi aku menemukanmu, kulihat sesosok pria yang menunggangi kuda"
Mendengar perkataan Ecila, Odette menjadi panik sehingga membuatnya tersedak.
"Uhuk uhuk, kuda apa? Aku tidak melihatnya kok. Mungkin aku terlalu fokus saat memberi makan angsa tadi"
"Hmm mugkin karena efek gelap jadi aku salah liat" "Atau jangan-jangan kamu diam-diam menyelingkuhi Lancelot dan menemui pria misterius tersebut ya"
"Eng, Enggak kok, mana mungkin aku mengkhianati Lancelot. Kamu jangan berpikir yang macam-macam ya" jawab Odette dengan nada sedikit marah
"Hahaha, tentu saja bagaimana mungkin muridku yang memiliki hati sesuci salju menyelingkuhi cinta sejatinya. Lagi pula memainkan banyak hati pria bukanlah sebuah dosa, melainkan sebuah seni, jadi aku tidak perlu khawatir jika kamu dekat dengan pria lain"
"Apa katamu Ecila?" Tanya Odette penasaran
"Eh tidak, kamu masih terlalu muda untuk mengerti itu" "Aku khawatir, sosok yang kulihat tadi mirip seseorang bernama Leomord. Kamu harus berhati-hati jika bertemu dia"
Setelah mendapatkan isitirahat yang dibutuhkan, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Ecila mulai memacu kudanya, menerjang dinginnya udara serta gelapnya malam. Sementara Odette dibelakangnya nampak sedang nampak sedang memikirkan apa maksud dari perkataan Ecila tadi.
Disisi lain Leomord terduduk dibawah sebuah pohon cemara yang tampak sudah berumur lebih dari ratusan tahun. Disisinya, Barbiel menemani tuannya duduk diabawah pohon tersebut, berusaha untuk mengerti apa yang sedang dipikirkan tuannya.
"Hey Barbiel, apakah kamu mempunyai ide bagaimana caranya kita menolong ratu Vexana?" Kuda tersebut hanya menjawab dengan ringkihan khasnya "Aku sudah gila, berbicara dengan kuda, terkutuklah wanita itu, ia menyuruhku untuk menyelamatkan Vexana namun tidak memberi tahu bagaimana caranya". Leomord merasa ada yang menarik bajunya dari arah belakang pohon, namun saat ia periksa tidak ada seorangpun disana hanya terdapat sebuah bunga mawar yang nampak tak biasa. "Seriously, wanita danau. Kamu pikir hanya dengan mawar bisa menolongnya? Ya layak dicoba" Leomord langsung bergegas menaiki kudanya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Kembali ketempal Lancelot berada, Vexana mulai melakukan serangan pada Lancelot
"Nether Snare!" Diikuti dengan permukaan tanah yang dipijak Lancelot berubah menjadi hitam pekat lalu meledak.
"Wow, hampir kamu mengenaiku Vexana, tapi sihir rendahan seperti itu tak cukup untuk melukaiku"
"Necromancy Spell!" Makhluk-makhluk Undead bangkit dari tanah "Mulailah bermain dengan anak-anak kesayanganku Lancelot, Wahaha"
"Tcih, akan kuladeni tantanganmu penyihir" Lancelot mulai serius, satu persatu Undead ia hadapi. Lancelot dapat dengan mudah menhindari serangan Undead tersebut menggunakan jurus Puncturenya lalu diikuti dengan jurus Thorned Rosenya untuk menyerang balik Undead.
Pertarungan tersebut berjalan satu sisi, Lancelot sibuk melawan para Undead sedangkan Vexana hanya berdiri manis melihat dari jauh.
"Jika seperti ini terus, aku akan kehabisan mana terlebih dahulu sebelum bisa menemukan Vexana asli"
Tak disadari bahwa matahari mulai terbit menyinari, semua kegelapan yang tadi menyelimuti perlahan menghilang. "Sepertinya keadaan mulai berbalik, penyihir jahanam" Lancelot lalu mengubah arah serangannya menuju Vexana yang tak lagi tersembunyi oleh gelap. "Rasakan jurus pamungkasku ini, Shadow Power ..."
Tiba-tiba sebuah tangan hitam menghajar Lancelot dari sisi samping "Charmed Specter! kenapa Lancelot? Tidak bisa menggerakan tubuhmu?"
"Argh apa ini, kenapa tubuhku tidak bisa bergerak" Lalu tubuh Lancelot bergerak kearah Vexana yang menatapnya dengan senyum yang sadisnya.
"Jangan takut Lancelot, aku akan mencintaimu layaknya seekrong binatang peliharaan hahaha" Diikut gerak kedua tangan Vexana kearah atas sambil membaca sebuah mantra "Cursed Oath"
Tubuh Lancelot merasakan sensasi panas yang luar biasa, ia tak kuasa menahan rasa perih tersebut. Ia ambruk ke tanah, tidak ada luka ataupun darah yang nampak pada tubuhnya, ia hanya merasa seperti jiwanya baru saja ditarik keluar oleh sesuatu yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ia berusaha untuk bangkit kembali, namun betapa terkejutnya dirinya ketika melihat sebuah bayangan telah berdiri dihadapannya.
Bayangan hitam tersebut mulai menyerang Lancelot, dengan menahan rasa sakit yang luar biasa Lancelot masih bisa bertahan dari serangan brutal bayangan yang meneyrupai dirinya. Pertarungan berjalan sengit, terjadi jual beli serangan antara kedua Lancelot, mereka saling menukar jurus demi jurus. Tak bisa dihitung lagi sudah berapa banyak jurus yang mereka keluarkan.
Bayangan Lancelot mulai terlihat mendominasi pertarungan ini, terlihat jelas bayangan tersebut lebih memiliki tenaga dalam melancarkan serangannya, sedangkan Lancelot hanya bisa menghindar atauapun menangkis, hanya beberapa kali ia melakukan serangan dan itupun dapat dihindari dengan mudah. Serangan bertubi-tubi terus dilancarkan oleh sang bayangan dari depan, kanan, kiri, maupun belakang, seakan-akan bayangan tersebut memiliki energi yang tak terbatas. Pertahanan Lancelot mulai goyah, serangan lawannya mulai mampu melukai tangan maupun bagian badan Lancelot.
Ketika tiba-tiba terdengar suara Odette memanggil nama Lancelot. Lancelot yang mencari arah sumber suara berasal, hal tersebut dimanfaatkan oleh lawannya untuk menghunus pedangnya dan kearah jantungnya, namun dengan separuh kekuatan yang ada ia mencoba menghindar namun pedang tersebut tetap berhasil menembus pundaknya, Lancelotpun terduduk di tanah.
Odette yang melihat kejadian itu berteriak, berupaya menghampiri Lancelot "Tidaak, Lancelot bertahanlah"
Lancelot rupanya masih memiliki sedikit tenaga untuk bertahan dari serangan itu, meski ia kehilangan banyak darah "Tidak Odette, jangan kesini, aku bisa mengahadapi ini"
Vexana menggerutu dalam hati "Mengapa dia bisa disini? Harusnya Leomord telah menghabisinya" Vexana yang tidak senang melihat Odette dan Lancelot kembali bersama, berusaha memisahkan mereka "Lihatlah Lancelot, kekuatanmu melemah setelah bertemu dengan gadis itu. Kamupun terluka karena gadis itu, apakah itu yang dinamakan cinta?" Vexana mulai bergerak mendekat kearah Lancelot "Ingatlah dirimu sebelum bertemu putri itu, kamu lebih kuat, lebih haus akan kekuatan, bergabunglah denganku, akan kuberikan kamu kekuatan yang selama ini kamu cari"
Odette marah mendengar dengan apa yang dikatakan Vexana, ia merasa terluka mendengarnya "DIAM KAMU, PENYIHIR JALANG" Seketika itu muncul kubah magis disekitar tubuhnya, ia nampak siap melancarkan sihir pamungkasnya Swan Song, tidak seperti sebelumnya yang perlu membutuhkan waktu, kali ini ia dengan mudah mengeluarkan sihir terkuatnya.
"Kamu, putri yang naif Odette" diikuti senyum kecil dibibirnya "Charmed Specter!" sebuah tangan hitam menyerang Odette dari rah belakangnya
"Uhh kenapa ini?"
"Selamat tinggal Odette, semoga mimpi indah" Ujar Vexana sambil tertawa "Nether Snare!"
Muncul lingkaran hitam dibawah kaki Odette, badannya yang tidak bisa bergerak membuatnya tidak dapat menghindari sihir tersebut. Lingkaran tersebut meledak dan melukai Odette, sang putri jatuh tak sadarkan diri ketanah, lalu badannya mengeluarkan sebuah aura ungu"
Dalam hati Vexana bergumam "Bagaimana mungkin ..."
"Odette, tidaak!" Lancelot berteriak melihat apa yang terjadi pada Odette
"Shh shh, Lancelot, kamu harusnya tetap fokus pada lawanmu" Ujar Vexana dengan senyum licik dibibirnya
Bayangan hitam Lancelot, menyiapkan kuda-kuda untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya Phantom Execution. Lancelot berdiri dengan kekuatan yang tersisa dan kembali menyiapkan pedangnya untuk bertarung "Ya, memang aku tidak sekuat diriku yang dulu lagi, Tetapi dengan Odette aku belajar banyak hal" Bayangan tersebut mulai melakukan serangannya "Untuk menjadi ahli pedang bukan hanya kekuatan yang diperlukan, namun juga keindahan ..." saat pedang musuhnya mulai mendekati tubuhnya, dengan indah Lancelot menghindari serangan itu dengan menggunakan jurus Thorned Rose yang biasa ia pakai untuk menyerang lawan "... kepintaran ..." diikuti dengan Puncture yang ia gunakan untuk berpindah ke belakang bayangan hitam itu, lalu melakukan tusukan menggunakan jurus Soul Cutter untuk melukai tubuh sang bayangan "... dan hal yang terpenting dalam berpedang adalah tujuan" Lancelot meyelesaikan serangannya dengan jurus pedang pamungkasnya Phantom Execution, tepat menembus jantung bayangan tersebut. Bayangan tersebut berubah menjadi sebuah fragmen kecil yang lalu masuk kedalam pedang yang digunakan oleh Lancelot.
Setelah memenangi pertarungan tersebut, Lancelot langsung berlari kearah Odette yang masih tergeletak tak sadarkan diri, disamping Odette nampaknya Ecila sudah memberilan pertolongan kepada Odette.
"Ecila, apakah Odette baik-baik saja"
"Yah sepertinya keberuntungan menaungi dirinya, serangan tadi harusnya membunuh Odette dengan sekejap, namun entah bagaimana ia memiliki item Rose Gold Meteor dipedang yang ia bawa. Item ini memberikan perlindungan ketika nyawa pemakainya dalam bahaya, sehingga serangan Vexana tadi sebagian terserap oleh item ini"
"Bagaimana mungkin seorang mage memiliki item physical seperti itu?"
"Entahlah akupun tidak tau, tapi dia harus mendapatkan perawatan, kondisinya saat ini masih lemah"
"Baiklah kupercayakan Odette padamu Ecila, aku masih harus membereskan penyihir itu" Lancelot kembali mengeluarkan pedang dari sarungnya dan berlari kearah Vexana
"Kamu pikir, dengan keadaan seperti itu kamu masih bisa mengalahkanku? Necromancy Spell!" Undead kembali muncul dari permukaan tanah dan menyerang Lancelot
Lancelot memegang pedang dengan kedua tangannya, lalu membaca sebuah mantra "I AM THE ONE WHO LURKS IN THE NIGHT, THIRSTY FOR THE BLOOD, SKIN ON, DARK EARL" Sebuah aura hitam keunguan keluar dari tubuh Lancelot diikuti dengan penampilannya yang berubah rambutnya menjadi putih perak, kulitnya menjadi pucat pasi, pakaiannya menjadi hitam keunguan.
Lancelot menyerang Undead yang datang padanya, semakin banyak ia menyerang luka-luka pada tubuhnya justru menghilang. Ia merasa luka yang daritadi mengerogotinya menghilang ketika ia menyerang musuh-musuhnya. Vexana yang terkejut akan perubahan Lancelot tidak dapat mengantisipasinya, Pedang Lancelot sudah siap untuk menerjang tubuh Vexana, ketika pedang lain tiba-tiba menghalau serangan Lancelot.
"Cukup sampai sini Lancelot, dari sini biar aku yang menangani hal ini, lebih baik kamu mengurusi putri tercintamu terlebih dahulu" Ujar pria berkuda itu.
"Kamu, Leomord. Bagaimana bisa aku mempercayaimu setelah kamu membunuh Tigreal"
"Percayalah, kamu tidak akan bisa mengalahkan Vexana dengan kondisi seperti sekarang, ini ambilah kalung ini dan berikan pada putri yang malang itu. Aku bersumpah akan menyelesaikan masalah ini, sumpah seorang ksatria"
"Baiklah, namun jika kamu berbohong. Aku tidak akan segan untuk menghabisimu dan Vexana"
"Tentu saja, akan kuberikan kamu kehormatan untuk memenggal kepalaku jika aku berbohong" dengan kudanya Leomord lalu bersiap berduel melawan Vexana, sedangkan Lancelot membawa kalung pemberian Leomord kepada Ecila untuk merawat Odette.
"Ecila apakah kalung ini dapat menolong Odette?"
"Ya tentu saja, Healing Necklace ini setidaknya dapat membantu mengembailikan darah yang hilang dalam jumlah yang kecil"
"Tapi aku tidak meilhat Odette terluka, bagaimana bisa ia kehilangan darah?"
"Sihir Vexana tadi memberikan efek seperti membakar darah tanpa mengeluarkan luka, sehingga orang yang terkena sihir tesebut tidak sadar bahwa ia kehilangan banyak darah" Ecila lalu mengalungkan kalung tersebut ke leher Odette "Omong-omong lukamu yang menghilang"
"Ya entah bagaimana, Skin ini seperti menyembuhkan luka setiap aku menyerang musuh"
"Sudah kuduga jenis skin yang kamu dapatkan ini berjenis Enhanced Skin, dengan kekuatan senjata legendaris Bloodlust Axe yang memberikan regerasi ketika kamu menyerang musuh"
"Bisa kamu jelaskan lebih lagi Ecila? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan"
"Hal itu bisa menunggu, aku sekarang harus berfokus untuk menyembuhkan Odette terlebih dahulu"
"Jika begitu, aku akan menyaksikan Leomord bertarung melawan Vexana"
"Bukankah ia sudah memberitahumu untuk membiarkan Vexana padanya?"
"Ya, tetapi aku ingin melihat kekuatan Leomord yang sebenarnya. Ia adalah ksatria yang mampu mengalahkan Tigreal. Lagipula aku tidak percaya penuh padanya, mungkin saja mereka hanya berpura-pura" Lancelot lalu meninggalkan Ecila dan Odette menuju tempat untuk menyaksikan pertempuran Leomord dengan Vexana.
"Sudah kuduga kamu akan memberontak, Leomord"
"Aku datang kesini tidak untuk melwanmu baginda ratu, aku ingin menyelamatkanmu"
"Menyelamatkanku dengan apa? Dengan menembuskan pedangmu itu ke badaku Hah? Necromancy Spell!"
"Aku tidak punya pilihan lain, Phantom Charge!" Leomord memukul mundur semua Undead milik Vexana
"Harusnya aku tidak perlu membangkitkanmu Leomord, Nether Snare!"
Tanah yang dipijak Barbiel hancur seketika dan membuat kuda tersebut terjerembab dalam lubang. Namun Leomord masih berdiri kokoh dan melanjutkan berjalan mendekati Vexana
"Aku tak akan segan-segan membunuhmu Leomord! Charmed Specter"
Tangan hitam tersebut dengan telak mengenai Leomord, namun sepertinya itu tidak memberikan efek apa-apa terhadap Leomord. "Hentikan itu Vexana" Leomord mulai berlari kearah Vexana.
"Tsh, tak akan kuberi ampun kamu Leomord!"
Leomord dengan sigap meraih kedua tangan Vexana, lalu ia mengeluarkan suatu barang dari zirahnya. "Masih ingatkah kamu dengan bunga ini, Vex? Bunga yang pertama kali mempertemukan kita. Kumohon sadarlah Vex, lihatlah bagaimana putri itu rela berkorban demi yang dicintainya, apakah hal itu tidak mengingatkanmu pada dirimu yang dulu?"
"Kamu pikir dengan cara ini, kamu bisa mengubah pendirianku Leomord?"
"Tentu tidak, aku tahu ini hal yang bodoh, namun aku percaya bahwa dirimu yang dulu masih ada, bagian dirimu yang membuat aku jatuh cinta padamu masih ada"
Mendengar perkataan Leomord, Vexana terdiam
"Jadi kumohon sadarlah Vex, mari kita pulang ke Necrokeep"
Lancelot yang daritadi melihat pertarungan antara Vexana dengan Leomord, terheran-heran dengan akhir dari pertarungan itu, ia berteriak memaki Leomord "Yang benar saja Leomord? Kamu ingin mengakhiri pertempuran ini dengan menyatakan cinta pada Vexana. Itu konyol"
"DIAM KAMU, ksatria tak tahu diri" Leomord melempar pedangnya ke arah Lancelot. Pedang tersebut hampir saja mengenai badannya jika saja ia tidak sigap.
Tertegun melihat kekuatan Leomord sebenarnya, Lancelotpun kembali diam dan perlahan mundur kembali ketempat Odette dan Ecila berada "Baik aku akan diam, anggap saja aku tidak berada disini"
"Kamu memang ksatria yang bodoh Leomord" diikuti oleh air mata kecil di ujung mata Vexana. "Jangan pikir dengan apa yang kamu lakukan telah berhasil mengubah pendirianku, kita mundur sekarang, aku mulai kehabisan mana"
"Baiklah jika itu maumu, baginda ratu, setidaknya aku tahu dirimu yang dulu masih ada"
Dengan menunggangi kudanya masing-masing, mereka meninggalkan tempat itu. Mereka berpapasan dengan Lancelot dan Ecila yang tengah menunggu kedatangan pihak istana untuk membawa Odette yang masih tidak sadarkan diri
"Kita hentikan pertempuran ini sesaat, Lancelot" Ujar Vexana "Jika putrimu sudah kembali sembuh, akan kita lanjutkan pertempurannya"
Mereka berjalan melewati ketiga orang tersebut, sesaat Leomord mengucapkan sesuatu di telinga Ecila. "Apa yang kamu lakukan disini, penyihir?"
Ecila menjawab "Apakah aku mengenalmu, tuan pengkihanat? Hihihi"
Leomord dan Vexana sudah hilang dari pandangan mata, ketika pasukan istana akhirnya datang untuk menjemput.
"Mari kembali ke istana, Ecila, kurasa Odette membutuhkan pertolonganmu" ujar Lancelot.
"Kurasa dokter istana cukup unutk menyenbuhkan tuan putri, lagipula aku belum pulang kerumah dari kemarin akibat mencari putri Odette semalam suntuk, aku khawatir keluargaku mencariku"
"Baiklah jika kamu ingin pulang, berhati-hatilah dijalan"
"Terimakasih, Lancelot" Ecila lalu memacu kudanya ke arah berlawanan.
Memakan waktu yang lama untuk Lemord dan Vexana tiba di perkemahannya, matahari sudah tepat berada diatas kepala.
"Apa rencana selanjutnya, baginda ratu?"
"Entahlah, akibat ulahmu semua rencanaku jadi berantakan, kamu harus membantuku untuk mecari rencana baru Leo"
"Baik, baginda ratu" Mereka berjalan memasuki kemah pimpinan
"Well, well, well, lihat siapa yang baru pulang dari kencan pertamanya" ujar sesosok perempuan yang tengah duduk sambil menikmati segelas wine.
"Apa yang kamu maksud Alice?" Ujar Vexana erkaget melihat Alice ada dikemahnya
Alice bangkit dari tempat duduknya "Mulai saat ini, aku yang akan menjadi pemimpin pasukan ini. Kalian berdua bisa pergi kemanapun kalian suka"
Dengan sinis, Leomord menjawab ucapan Alice "Jadi setelah sekian lama, The Dark Lord akhirnya turun tangan dengan mendelegasikan pembantu kesayanganya untuk menyerang Swan Castle, huh"
"Ssh, tidak perlu murung seperti itu, ambil positifnya, kamu jadi bisa menghabiskan waktu berdua lebih dengan Vexana, bukan begitu Leo? Akan kutunjukkan bagaimana caranya menaklukan hati manusia" Alice kembali menuangkan isi wine kedalam gelasnya "Moskov bawa perempuan itu ke ruangan yang sudah disiapkan, kita akan memulai ritualnya"
"Baik, ratu Alice"
Sambil meminum winenya alice berbisik ketelinga Vexana dan Leomrod "Sebaiknya kalian berdua duduk yang manis, pertempuran yang cantik nan mematikan akan segera dimulai"
A/N
Halo, semuanya. Semoga suka dengan jalan cerita yang udah dibuat.
Jujur ini pertama kali gua nulis, jadi maaf kalo banyak plot hole, karakter yang kurang jelas, atau kekurangan yang lain
Terima kasih
