Episode 2 Angsa Hitam

Act 1 Permulaan yang baru


Satu pekan telah berlalu semenjak pertarungan antara si penyihir sang dengan ksatria muda. Tidak ada korban, namun semua hal yang telah terjadi pada pertempuran itu telah mengubah banyak hal.

Nyanyian burung nan merdu menemani matahari yang baru saja menampakkan wajahnya. Lancelot tengah menyisir rambut peraknya, lalu menutupi tubuhnya dengan wewangian mawar, orang-orang memberikan julukan "The Perfumed knight" bukan tanpa sebab. "Yap, sempurna. Saatnya membangunkan Odette" lalu ia keluar dari ruangannya.

Odette masih terlelap dikamarnya menggunakan piyama putih yang nampak memperlihatkan bagian tubuhnya yang tidak pernah dilihat oleh orang lain. Lancelot masuk ke kamar itu, lalu membaringkan tubuhnya di samping sang putri yang masih terlelap, menatap wajah sang kekasih sambil membelai pipinya. "Odette, bangunlah. Aku sangat haus, haus akan darahmu"

Sang putri perlahan mulai membuka matanya, seketika ia menyadari Lancelot tidur disampingnya, ia langsung terduduk dan menyelimuti tubuhnya, wajahnya memerah akibat malu "ngapain kamu disini Lancelot? Gak lucu tau" Wajah sang putri mengekspresikan ketidaksenagannya dengan ulah Lancelot.

Tau bahwa pacarnya tidak senang dengan kelakuannya, ia buru-buru mengubah penampilannya menjadi seperti biasa "Skin Off" dengan sekilat ia mengubah penampilannya. "maaf, Odette aku hanya ingin menghiburmu, sudah seminggu sifatmu tidak seperti biasa"

Odette kemudian menggenggam tangan pacarnya, diikuti tatapan mata yang saling bertukar "aku baik-baik saja Lance, aku hanya lelah, semua hal terjadi begitu cepat"

Mendengar pekataan kekasihnya, Lancelot mengerti apa yang dirasakannya olehnya. Ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut "sepertinya kamu membutuhkan waktu untuk sendiri, omong-omong aku akan pergi ke kota untuk membantu perbaikan kota selama seminggu". Lancelot mengeluarkan sesuatu dari jubahnya, membuka sepucuk surat "Ecila akan kembali kesini sore ini, selama ku pergi dia akan menemanimu, mungkin teman perempuan akan lebih baik untuk mendengarkan segala curhatmu" kemudian ia meninggalkan ruangan tersebut dan menutup pintunya rapat-rapat.


Vexana tengah membereskan barang-barangnya ke dalam peti, peti kayu yang ukurannya tidak terlalu besar namun cukup untuk memuat barang barang miliknya ,ruangannya terlihat telah kosong. "maaf mengganggu yang mulia, apakah anda yakin kita kembali ke Necrokeep?" Ujar Leomord seraya masuk keruangannya.

Vexana yang telah selesai mengepak semua barangnya lalu menoleh ke arah sang ksatria "jika kamu masih memiliki urusan disini, kamu bisa menetap" ia berjalan menuju pintu "kamu khawatir terhadap putri angsa itu kan?"

"te, tentu tidak ratuku, keselamatanmu yang kuutamakan" Leomord tampak terkejut dengan reaksi sang ratu.

Vexana berjalan keluar ruangannya dan bergegas menaiki kereta kuda yang telah menunggunya "jika kamu punya waktu luang naiklah ke kereta kuda bersamaku, aku ingin berbicara sesuatu denganmu" Leomord lalu mengikuti sang ratu di belakangnya.

Kereta kuda mulai melaju menuju jalanan utama, kereta tersebut tidaklah mewah namun cukup nyaman digunakan. Leomord mulai berbicara memecah sunyi perjalanan "apa yang kamu butuhkan dariku ratuku?"

Vexana yang sepanjang perjalanan menatap pemandangan diluar kereta, mulai mengalihkan perhatiannya kepada satu-satunya orang di kereta tersebut. "Kamu bilang, kamu mencintaiku". Perkataan tersebut membuat sang ksatria terdiam tanpa kata "Seandainya saja, kamu menyatakan itu padaku kita tidak akan berakhir seperti ini, menjadi seorang penyihir terkutuk dan ksatria setengah hidup"

"apa maksudmu, yang mulia?"

"aku juga menyukaimu Leo, tapi kamu tidak pernah mengungkapkannya padaku hingga ku jatuh cinta kepada orang lain" lalu menghela nafas yang dalam "yang lalu biarkanlah berlalu, sekarang kamu dan aku hanya bisa merasakan keputusasaan" ia menatap mata lawan bicaranya dalam-dalam "kamu terlihat sangat peduli pada putri angsa tersebut, tidakkah seharusnya kamu khawatir padanya karena Alice berada disini?"

Leomord tertegun mendengar apa yang diucapkan Vexana "maafkan aku yang mulia, aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan hatimu yang suci dan jujur"

Sang penyihir mendekatkan wajahnya kearah Leomord, lalu mengusap wajahnya "panggil aku seperti biasanya kamu memanggilku Leo, dan jawab pertanyaanku yang lain"

Leomord berusaha membuang muka menutupi rasa malunya "baik Vex, ya sebenarnya aku merasa sedikit khawatir, tapi aku lebih mengkhawatirkanmu Vex"

"Aku tidak tau apa yang membuatmu sebegitu pedulinya pada putri itu, seperti ada sesuatu yang memengaruhi pikiranmu" Vexana kemudian mulai mengayunkan tongkat sihirnya "Lagipula, apakah kamu meragukan kekuatanku Leo? Aku tidak membutuhkan penjagaanmu" Diikuti dengan ayunan tongkat sihirnya ke arah pintu kereta kuda yang langsung membuka pintu itu. "cepat bergegaslah, kamu tahu seberapa liciknya Alice. Terserah apa yang ingin kamu lakukan dengan putri itu, aku hanya tidak ingin Alice berhasil merebut Swan Castle."

"Kamu pasti tidak ingin bertemu dengan orang yang telah mempengaruhi pikiranku" Diikuti senyum kecil diwajahnya "Baik, Vex akan dengan senang hati akan kulakukan perintahmu. Lagipula masih ada dendam yang harus kubalaskan pada Blood Demon sialan itu" Leomord lalu melompat ke kudanya Barbiel dan segera memacu kudanya kembali ke arah Swan Castle.

"Akan kuberitahu secara detail rencana Alice nanti, segeralah mencari tempat tinggal sementara di wilayah Kota" Teriak Vexana dari kereta yang melaju lambat.


Senja telah tiba, begitupun dengan Ecila yang baru saja kembali ke Swan Castle. Saat itu Odette tengah berada dikebun kerajaan, melakukan rutinitas yang ia sukai, menyirami bunga mawar. "Odette, kudengar dari pacarmu, kamu tidak seceria biasanya, apa yang mengganggumu?"

Odette yang terkejut dengan keberadaan Ecila menghentikan kegiatan berkebunnya dan memeluk guru yang juga sahabatnya itu. "Ecila, kemana saja kamu, aku khawatir terjadi sesuatu padamu atau keluargamu"

Ecila menatap wajah sang putri "tidak apa-apa tuan putri, aku hanya memiliki sedikit urusan yang harus diselesaikan. Jadi maukah kamu bercerita mengenai masalahmu?"

Sang putri melepas pelukannya, berganti dengan menggenggam tangan gurunya "Setelah pertarungan yang terjadi, aku merasa seperti lemah dan tidak berguna. Akibatnya aku justru menyusahkan orang lain, terutama Lancelot. Aku tidak ingin bergantung terus pada orang lain, aku ingin menjadi lebih kuat dan berguna"

Ecila melepaskan genggaman tangan sang putri, berjalan melangkah kearah kumpulan bunga mawar "Oh, itu masalahmu Odette. Aku bisa membantumu, lihatlah bunga mawar ini" Ecila mengeluarkan mawar hitam dari tas kecilnya, menanamkan bunga tersebut, dan seketika sekumpulan bunga mawar merah dikebun berubah menjadi berwarna hitam "Untuk menjadi kuat terkadang kita harus membiarkan sedikit kegelapan berada dalam diri kita, dan seperti bunga mawar tadi dengan mudah kita bisa meraih apa yang kita inginkan" Ecila kemudian kembali menatap wajah Odette "apakah kamu siap untuk menerima kegelapan dihatimu?"