Act 2 Hati yang tercemar


Hari ini adalah hari ketiga Lancelot berada dikota untuk melaksanakan tugasnya. Serangan pasukan Dark Abyss ke kota secara tiba-tiba telah menyebabkan kerusakan parah diseluruh bagian kota.

Seluruh kesibukannya tidak dapat menutupi rasa rindu serta khawatir terhadap Odette, ia mengirim surat tiap hari untuk mengabari sang kekasih, namun tak satupun dari surat itu dibalas.

Hari itu nampak seperti hari yang lainnya bagi Lancelot, warga sibuk hilir mudik melakukan rutinitasnya ditemani suasana riuh ramai perkotaan. Kali ini ia ditugaskan untuk menjaga dan membantu perbaikan sebuah kedai minuman, tak disangka disana ia melihat seorang perempuan yang nampak tak asing baginya. Perempuan berambut panjang berwarna kemerahan, parasnya yang cantik, serta matanya yang jernih bagaikan berlian. "Nona Guinevere?" seru Lancelot ragu.

Perempuan yang nampak tak asing bagi Lancelot itupun menjawab "Oh, Lancelot? Lama kita tak berjumpa"

"Syukurlah kamu masih hidup, Tidak pernah kudengar kabar darimu lagi semenjak daerah Brits jatuh ke tangan Dark Abyss"

Perempuan bernama Guinevere itu kemudian mengajak Lancelot duduk di kursi kedai, dan menghidangkan segelas wine "Saat itu aku beruntung dapat melarikan diri, sayangnya tunanganku Arthur serta warga lainnya tidak selamat"

Lancelot mulai meminum wine yang berada dimeja "Jangan bersedih Guinevere, kami harusnya bersyukur masih dapat hidup, lagipula masih ada diriku yang akan senang hati membantu" Ia menenggak minuman anggur tersebut hingga habis "Saatnya kembali bekerja, terimakasih atas winenya" Diikuti dengan kecupan pada tangan wanita itu, lalu ia berlalu pergi keluar dari kedai.


Ecila baru menjadi guru sihir Odette selama 3 bulan, namun hanya dengan waktu yang singkat tersebut sang putri sudah menganggap Ecila seperti temannya sendiri. Tidaklah aneh jika Odette menganggap Ecila seperti temannya, wajahnya cukup cantik, ditemani dengan rambut hitam sebahu, serta tubuh sempurna yang tak dapat disembunyikan oleh gaun berwarna ungu kehitaman yang ia gunakan, memberikan kesan bahwa umurnya tidak terpaut jauh dari sang putri. Selain itu sifat Ecila yang mudah bergaul dengan orang-orang disekitarnya terutama lelaki, menjadi nilai lebih selain ilmu sihir yang ia kuasai.

Siang itu Odette dan Ecila menikmati indahnya taman dari gazebo, secangkir teh hijau untuk Odette dan segelas wine untuk Ecila menemani perbincangan mereka berdua

"Apakah kamu ingat Odette? Saat kamu mengeluarkan sihir Swan Song untuk menyerang Vexana tanpa persiapan apapun seperti yang biasanya kamu lakukan?" Ujar Ecila sambil menatap mata sang murid dalam-dalam "Saat itu kekuatan sihirmu menjadi lebih kuat sehingga dapat dengan mudah mengeluarkan Swan Song, kamu tahu penyebabnya?"

Odette dengan wajah seriusnya mencoba mengingat-ingat kejadian tersebut "Maafkan aku Ecila, aku tidak tau penyebabnya"

Ecila tertawa kecil, lalu ia mengelus wajah Odette dengan jarinya "Oh Odette, aku tidak tau apakah kamu itu bodoh, pelupa, atau masih terlalu polos. Saat itu kamu membiarkan amarah mengendalikanmu" Ecila kemudian membalikkan badannya, mulai berjalan kembali ke arah kastil "amarah merupakan salah satu dari 7 sifat kegelapan, atau orang-orang menyebutnya 7 dosa terlarang"

Dengan nada khawatir sang putri bertanya "Jika itu disebut terlarang, bukankah itu berbahaya Ecila?"

"Tentu saja!" Ecila menjawab pertanyaan itu dengan tegas "Amarah hanya akan menghilangkan kecantikan wanita, yang akan kuajarkan padamu bukanlah amarah melainkan nafsu" Ecila sesaat tersenyum memikirkan apa yang baru saja ia katakan "Dengan nafsu, wanita bisa menaklukan apapun yang ia mau bahkan tanpa kekuatan sihir sekalipun" kemudian ia menenggak habis wine yang dipegangnya "akan kita mulai pelajarannya malam ini, gunakanlah pakaian yang telah kusiapkan, akan kutunggu kamu di dekat gerbang kastil


Senja telah tiba, semua pekerjaan yang ditugaskan pada Lancelot sudah selesai. Ia kembali ke kedai minum tersebut untuk berpamitan pada Guinevere "Nona Guinevere, aku pamit, jika kamu memerlukan bantuanku, kamu bisa datang ke Swan Castle"

"Tidakkah kamu bisa bertugas disini lebih lama Lancelot? Tidak ada pria yang berjaga di kedai ini, sedangkan dimalam hari pengunjung sangat ramai dan merepotkan jika hanya diurus oleh wanita saja"

"Baiklah jika itu kehendakmu, mungkin aku dapat meminta kepada jenderal untuk menugaskanku disini selama tugas perbaikan kota masih berjalan"

Guinevere tiba-tiba memeluk Lancelot "Terima kasih Lancelot, sebagai rasa terimakasihku akan kutraktir kamu malam ini"


Matahari telah berganti dengan rembulan, Ecila tengah menunggu kehadiran muridnya Odette ditengah kerumunan awrga yang beraktivitas malam hari. Setelah menunggu lama akhirnya sang putri datang, ia menggunakan gaun hitam pendek yang jelas memperlihatkan lekuk tubuhnya, rambut yang biasa ia biarkan terurai kini ia kuncir sedemikian rupa, saat itu penampilannya 180 derajat berubah.

Dengan nada malu ia bertanya "Apakah harusku berpakaian seperti ini Ecila? Lagipula memangnya kita akan belajar apa? Bukankah seharusnya kamu mengajarkanku ilmu sihir?"

Ecila buru-buru membungkam mulut sang putri dengan jari telunjuknya "Ssh, tenanglah, aku menyutruhmu berpenampilan seperti itu agar semua orang tidak mengenalimu" Ecila kemudian mengajak Odette untuk naik ke kereta kuda yang telah dipesannya "Mari naiklah sesuai janjiku akan kuajariku kamu tentang nafsu, salah satu sifat kegelapan yang dapat menguatkan ilmu sihirmu" setelah berada naik, kereta kuda mulai berjalan menuju kota.


Lancelot dan Guinevere tengah bersama disalah satu meja makan kedainya. Diatas meja terhidang 1 botol wine beserta 2 gelas minum, ditemani pie yang baru saja keluar dari oven, ditemani cahaya lilin yang memberi kesan romantis makan malam tersebut.

Guinevere membuka pembicaraan diantara mereka "Maafkan aku Lance, hanya ini yang terbaik yang kedai milikku bisa tawarkan"

Seperti kebiasaan yang ia lakukan, Lancelot mulai menuangkan isi wine gelas miliknya dan juga Guinevere "Ah, tidak apa-apa Vere, justru menurutku ini berlebihan. Aku merasa tidak pantas menerima jamuan makan seperti ini"

Guinevere menatapa mata Lancelot dalam-dalam "Hahaha, kamu masih tidak berubah seperti dulu" ia lalu menggenggam kedua tangan Lancelot "Aku hanya ingin mengingat masa-masa kita dulu"

Lancelot merasa gugup dan tidak enak saat itu, ia buru-buru melepaskan genggaman tangan Guinevere "Itu masa lalu Vere, aku sudah berubah"

"Ya sekarang sifatmu menjadi tenang serta senang membantu orang lain, tidak seperti sifatmu dulu yang arogan" Guinevere kemudian meraih gelasnya dan meminum sedikit isi gelas tersebut "Kudengar kamu memiliki pacar seorang putri Lance, maukah kamu menceritakannya padaku?"

Kedua insan tersebut melanjutkan makan malamnya, selagi berbincang-bincang mengenai kehidupan baru mereka. Disaat yang sama Ecila dan Odette baru saja tiba di kedai minuman tersebut.


"Kamu mengajakku ke tempat apa Ecila? Disini sangat ramai, nanti orang tau mengenai keberadaanku, lagipula tempat ini penuh tidak terdapat meja kosong, mari kita pulang" ujar Odette sambil menarik baju Ecila untuk kembali ke kereta kuda.

Ecila menarik masuk Odette ke kedai minum tersebut "Tenang Odette, ini adalah tempat yang sempurna untukmu mempelajari bagaimana kehebatan sifat nafsu, tunggu disini dan perhatikan baik-baik" Ecila kemudian berjalan menuju meja tempat sekumpulan pekerja pria yang sedang minum bir untuk melepas dahaga, ia kemudian memeluk dari belakang dengan mesra seorang pekerja, dan membisikkan kata-kata ditelingnya dengan nada manja "Tuan, bisakah aku dan temanku untuk bergabung bersama,tidak ada meja lain yang kosong"

Pria tersebut membalikkan badannya dan balik memeluk Ecila, sekarang mereka berdua saling menatap "Oh tentu saja, apa yang tidak untuk perempuan secantik dirimu"

Ecila mencium pipi sang pria itu dan berkata "terima kasih tuan, atas kedermawanan dirimu" ia lalu berjalan kembali kearah Odette "Ayo Odette, kita duduk disebelah sana" ia menarik tangan Odette membawanya ke arah sekumpulan pekerja tadi. 2 orang pria langsung berdiri dan memberikan tempat duduknya untuk mereka berdua. "Terima kasih tuan-tuan tampan, perkenalkan aku adalah Ecila, dan ini adikku"

Sadar bahwa semua mata menuju matanya, Odette buru-buru memperkenalkan dirinya "Na namaku Odille, salam kenal"

Salah satu pria berbicara "berunutng sekali kita kedatangan dua orang bidadari untuk minum bersama" ia lalu memesan sebuah wine kepada pelayan. Sesampainya minuman tersebut dimeja ia menuangkan isinya kedalam gelas dan memberikannya kepada mereka berdua "untuk bidadari yang cantik ini, terutam dirimu Odille, hanya winelah yang pantas untuk membasahi bibir mereka"

Dengan gugup Odette membalas "Te terima kasih, tapi aku tidak ..."

Secepat kilat Ecila memotong perkataan Odette "Kalian baik sekali tuan-tuan tampan, terima kasih atas winenya, dengan senang hati kami akan meminumnya" kemudian Ecila membisikkan sesuatu ketelinga Odette "Minumlah sedikit, aku tau kamu tidak bisa minum alkohol, tapi ini merupakan bagian dari pelajaran"

Odette dan Ecila kemudian meminum wine pemeberian dari pria itu. Para pekerja mulai bercakap-cakap dengan 2 wanita yang baru saja duduk bersama mereka. Mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal, terutama mengenai kecantikan Odette yang dianggap tak ada bandingannya. Entah mengapa Odette mulai terbiasa dengan itu, dan ia justru merasa senang karena orang memujinya bukan karena ia seorang putri kerajaan.

Semakin malam obrolan mereka menjadi lebih liar, tak segan pekerja tersebut menyentuh bagian tubuh kedua wanita itu, terlebih lagi Ecila. Namun ia tak menghiraukannya walaupun ada 1 hingga 2 orang yang menyentuh pahanya.

Sedangkan Odette mulai merasa risih, namun karena ini adalah perintah dari Ecila maka ia harus bertahan dari rasa malunya. Ia mengalihkan perhatiannya ke meja dibelakangnya, sekilah ia melihat Lancelot sedang duduk bersama seorang wanita, mereka bedua terlihat seperti akarb sekali. Odette berbisik pada Ecila "Uhh Ecila bukankah itu Lancelot dibelakang?"

Ecila yang sedang menikmati obrolannya menjawab "Berhentilah memikirkan Lancelot, tidak mungkin ia disini. Seharusnya ia sekarang berada dikemah pasukan, jadi sekarang nikmatilah dirimu, jangan memikirkan orang lain"

Hari semakin larut, para pekerja mulai mabuk, Begitu juga dengan Odette dan Ecila yang mulai merasakan pusing dikepalanya.

"Terima kasih tuan-tuan atas malam ini, kami ingin pulang sudah terlalu malam" Ujar Ecila.

"Ini sudah terlalu malam nona-nona, alangkah baiknya kalian menginap semalam di salah satu rumah kami" Kata salah satu pekerja

Odette yang merasakan pusing dikepalanya menjawab dengan segenap kemampuannya "Tidak perlu repot-repot, kami sudah menyewa kereta kuda untuk pulang, lagipula rumah kami tidak jauh dari sini. Sekali lagi terimakasih" Odette lalu menarik Ecila keluar menuju kereta kuda.

Didalam kereta merek beristirahat "Bagaimana Odette, menyenangkan bukan?" ujar Ecila

"Ya sedikit menyenangkan, apalagi mereka tidak mengetahuiku sebagai putri. Rasanya seperti menjadi lebih hidup" balas Odette "Tapi apa itu berdampak pada kekuatan sihirku?"

Ecila lalu mengeluarkan sebuah lilin dari tas miliknya "Ini cobalah nyalakan api pada lilin itu"

"Tidak mungkin bisa, aku tidak membawa tongkat sihirku"

"Lakukan saja, lakukan seperti biasanya namun tanpa tongkat sihir"

Odette mulai mengkonsentrasikan sihirnya pada tangannya, dan dengan sekejap api muncul diatas lilin tersbut. "Ba bagaimana bisa?" taya Odette penasaran

"Ini hanya sebagian kecil dari kekuatan kegelapan, kamu mulai membiarkan kegelapan ada padamu. Tidak seperti sifat amarah yang memberikanmu kekuatan besar, nafsu akan membarikanmu kekuatan secara perlahan. Nafsu adalah seni, sebuah senjata rahasia yang hanya dimiliki perempuan untuk mengontrol orang disekitarnya" Ecila memadamkan api di lilin tersebut "mulai nanti siang akan kuajari kamu bagaimana memperkuat sifat nafsu pada dirimu, atau dengan kata lain akan kuajari kamu menjadi perempuan dewasa"