Act 3 The Darkening


2 minggu telah berlalu sejak hari pertama Ecila mengajari Odette kekuatan sihir kegelapan, yaitu dengan nafsu. Hari demi hari Ecila mengajari Odette, baik itu dari segi kekuatan sihir maupun tingkah laku dan kepribadian demi memperoleh sihir yang lebih kuat.

Waktu seminggu janji Lancelot berada dikota telah lewat, namun ia belum juga pulang dari tugasnya, bahkan ia tidak mengirim kabar sekalipun, hal ini membuat Odette khawatir. "Ecila apakah masih belum ada surat dari Lancelot?"

"Tidak ada sama sekali Odette, mungkin saja ia diberi tugas yang berat oleh jenderal sehingga belum kembali dan tidak memberikan kabar" ujar Ecila sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi jika kamu ingin mendaatkan informasi lebih mungkin kita bisa bertanya pada prajurit dikota"

"Ide yang bagus, tapi dimana kita bisa menemui prajurit yang mengetahui keberadaan Lancelot?"

"Kurasa saat kita pergi minum ke kedai, aku melihat seorang prajurit bawahan Lancelot sedang minum, mungkin kita bisa kembali kesana dan bertanya padanya, lagipula itu akan menjadi hal bagus untukmu mempraktikkan apa yang sudah kuajari selama sepekan"

"Baiklah demi Lancelot, kita akan pergi kembali kesana" Odette kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan latihan "Oh, iya Ecila. Kata kunci yang kamu butuhkan untuk mendapatkan akses tingkat rahasia di perpustakaan kerajaan adalah Lady of The Lake" sang putri lalu pergi keluar dari ruangan itu.


Hari ini adalah hari terakhir Lancelot berada di kota, ia sudah sangat terlambat untuk kembali ke Swan Castle karena Guinevere memaksanya untuk tetap tinggal disana dan membantunya, dan Lancelot tidak dapat menolak permintaan tersebut. Ia sudah mengirimi surat untuk memberikan kabar namun sampai sekarang tidak juga terdapat balasan dari semua suratnya.

Lancelot berbicara empat mata dengan Guinevere "Vere, ini hari terakhirku disini. Aku tidak bisa terlalu lama tinggal dikota, Odette pasti akan mengkwatirkanku"

Dengan raut muka penuh kekecewaan Guinevere membalas "Tidak apa-apa Lance, karena ini hari terakhir, maukah kamu membantuku membersihkan taman dirumahku malam ini?"

"Yah kurasa aku bisa sedikit membantumu" Lancelot kemudian pergi meninggalkan Guinevere, berjalan kembali menuju tempat jaganya.


Malam kali ini tidak ditemani dengan sinar rembulan yang terang ataupun bintang yang menghiasi langit, namun awan mendung yang nampak menemani gelapnya malam. Odette berpakaian seperti saat pertama ia dan Ecila pergi ke kedai minuman. Ecila yang sudah menunggu di gerbang kastil segera menuntun Odette untuk naik ke kereta kuda.

"Kali ini kamu yang harus melakukannya Odette, aku hanya akan mengawasimu" ujar Alice.

"Iya aku tau kok, omong-omong apa kamu tadi berhasil menemukan apa yang kamu cari diperpustakaan?"

"Tidak, memang sepertinya hal yang kucari hanya mitos belaka" Ecila kemudian menuangkan wine ke gelasnya "Itu tidaklah penting, yang terpenting adalah apa yang kuajarkan padamu, manis" ia mengelus muka Odette dengan jarinya dan senyuman diwajahnya.

Mereka tiba di kedai minum tersebut, tidak seperti saat pertama kali mereka datang kesini, kali ini tempat itu tidak begitu ramai. Hanya terdapat beberapa orang yang pergi minum kesana.

"Itu dia Odette, prajurit yang kamu cari. Mungkin pria itu mengetahui beberapa informasi mengenai Lancelot"

Odette lalu bergegas masuk ke dalam kedai minuman tersebut, berjalan mendekati pria yang duduk sendiri itu. Dengan nada manja Odette menyapa pria itu "Bolehkah aku duduk disini tuan? Aku sedikit kesepian dan butuh teman untuk mengobrol" diikuti dengan gerak tubuhnya yang sedikit membungkuk sehingga memperlihatkan belahan dadanya kepada pria itu.

"Tentu saja, wanita manis. Kebetulan aku juga sedang kesepian" Jawab sang prajurit

Selama 30 menit meraka minum dan mengobrol, selama itu pula mereka saling bertukar pandangan layaknya sepasang kekasih. Odette seakan menikmati apa yang baru saja ia lakukan, jantungnya berdegup dengan cepat, seakan ia tidak pernah melakukan hal yang semenyenangkan ini.

Odette memindahkan tempat duduknya kesamping prajurit itu, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu sang pria. "Tuan, apakah kamu mengenal ksatria bernama Lancelot?"

Pria tersebut lalu memindahkan tangannya ke bahu Odette atau yang saat ini ang ia kenal sebagai Odille, layaknya sepasang kekasih pria itu kemudian mengusap rambut wanita yang ada disampingnya "Lancelot, tentu saja. Selama seminggu ini dia sibuk membantu wanita cantik bernama Guinevere itu" Ia lalu memindahkan tangannya dari bahu ke pinggang Odette "Bahkan mereka sempat makan malam berdua disini, aku merasa kasihan pada putri Odette jika mengetahui hal ini"

Mendengar pekataan sang prajurit Odette terkaget dan merasa marah, namun ia bisa mengendalikannya "Oh benarkah? Lalu apakah kamu tau dimana ia sekarang?"

"Lancelot tadi memberitahuku dia akan pergi kerumahnya malam ini untuk membantu sesuatu. Rumah Guinevere berada tak jauh darisini, rumah yang paling dekat dengan danau dengan taman bunga didepannya"

"Oh terima kasih pria tampan, sangat menyenangkan berbicara denganmu" Diikuti dengan kecupan di pipi prajurit pria itu "Aku harus pulang, semua tagihan mimun aku yang bayar. Anggap saja sebagai rasa senangku minum bersamamu"Odette lalu bergegas pergi meninggalkan kedai.

"Tadi itu sempurna Odette" Ujar Ecila bangga "Kamu memang benar-benar pelajar yang cepat"

"Terimakasih atas pujiannya Ecila, jika bukan dirimu yang mengajarkanku, mungkin aku tidak bisa seperti ini" Odette kemudian menarik tangan Ecila menuju kereta kuda "Kurasa aku mengetahui keberadaan Lancelot" dan kereta kudapun dengan cepat berjalan menuju tempat yang Odette sebutkan.


Hujan rintik mulai turun membasahi tanah, Lancelot tengah membersihkan taman milik Guinevere. Mleihat Lancelot yang masih terus bekerja Guinevere keluar dari rumah untuk melihat keadaan sang ksaatria.

"Lance masuklah kedalam untuk berteduh, tingalkan saja pekerjaan taman itu. Nanti kamu sakit loh" Teriak Guinevere dari teras rumahnya.

"Tidak apa-apa Vere, aku harus menyelesaikan tugasnya malam ini. Karena besok aku harus kembali ke Swan Castle"

Mendengar perkataan Lancelot, Guinevere berjalan masuk kedalam taman diwajahnya "Apasih yang dimiliki putri pacarmu itu Lance? Sampai-sampai kamu rela meninggalkanku sendiri disini.

Lancelot bangkit berdiri untuk menyenangkan hati Guinevere "Jangan khawatir Vere, aku akan selalu bersedia menolongmu"

Hujan mulai turun dengan deras, air membasahi seluruh pakaian mereka. Disaat itu tiba-tiba Guinevere memeluk erat-erat Lancelot dan mendaratkan ciuman dibibirnya. Lancelot membalas ciuman itu, ia menganggap bahwa ciuman tersebut dapat menenangkan hati Guinevere.

Dari belakang terdengar suara seorang perempuan dengan nada marah yang nampak terdengar tak asing bagi Lancelot "Jadi ini yang selama ini lakukan dibelakangku Lancelot! Kamu tidak memberi kabar padaku selama di kota, hanya demi perempuan kedai"

Lancelot menyadari bahwa itu adalah suara Odette, ia segera melepaskan pelukannya pada Guinevere dan menoleh ke belakang. "Odette ini tidak seperti yang kamu pikirkan"

Guinevere yang merasa cemburu menimpal "Tentu saja Odette, Jelas Lancelot memilihku aku lebih cantik dan lebih kuat darimu. Dan apakah kamu tau bahwa aku adalah cinta pertama Lancelot dan aku juga yang menjadi ciuman pertamanya jauh sebelum ia mengenalmu. Ia sadar bahwa ia salah memilih perempuan lemah sepertimu"

Odette merasa marah dan cemburu dengan apa yang baru saja ia dengar dari perempuan itu. Tangis mulai jatuh dari airmatanya bersamaan dengan jatuhnya air hujan "DIAM KAMU! PELACUR, kamu akan merasakan akibat dari perbuatan yang telah kamu buat"

Lancelot sadar bahwa situasi menjadi rumit, ia berusaha menenangkan keduanya "Tolong tenanglah, akan kujelaskan situasi ini"

"Avian Authority!" Odette mengeluarkan sihirnya, menghempaskan Lancelot dan Guinevere ke tanah tak sadarkan diri. Ia lalu berlari menjauh dari keduanya dengan isak tangis yang tersamar oleh hujan.


Ecila yang melihat Odette menghampirinya. "Odette janganlah bersedih masih banyak pria lain yang akan mencintaimu, tidakkah kamu ingat pelajaranku. Pria itu hanya mainan"

"Ini semua salahku Ecila, andai saja aku lebih kuat, lebih cantik, lebih sempurna, Lancelot pasti tidak akan mengkhianatiku"

"Jika itu yang kamu mau, aku bisa membantumu. kamu sudah menguasai satu sifat kegelapan nafsu. Cukup dengan itu kurasa aku bisa melakukan ritual The Darkening untukmu agar kekuatan sihirmu menjadi lebih kuat. Apakah itu akan menyenangkanmu?"

"Ya itu akan membantuku, dengan kekuatan aku bisa mencegah kehilangan yang kucintai lagi, lakukan ritual itu sesegera mungkin Ecila" Odette menghapus tangis dari mukanya lalu berjalan masuk ke kereta kuda "Dan perintahkan prajurit-prajurit untuk menangkap Lancelot hidup-hidup karena sudah berkhianat" kereta itu lalu berangkat kembali menuju Swan Castle.


Lancelot yang terbaring ditanah akibat serangan Odette mulai sadarkan diri "Ugh, bagaiman bisa Odette mengeluarkan sihirnya tanpa tongkat sihir"

Guinevere yang sudah sadar, duduk disamping Lancelot "Lance aku masih mencintaimu, mari kita hidup bersama lagi seperti dulu, lupakanlah putri itu"

Lancelot mengehela nafas dan menatap wajah Guinevere dengan serius "Maafkan aku Vere, aku tidak bisa menerima cintamu lagi. Hatiku sudah tertambat pada putri Odette, namun aku berjanji selalu bersedia untuk membantumu"

Mendengar pengakuan Lancelot Guinevere malah tertawa "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang boleh memilikimu!" Seketika munculah sepasukan Dark Creature dari segala arah mengepung Lancelot. Mata Guinevere yang tadinya jernih berubah menjadi hitam gelap ditambah aura gelap disekitar tubuhnya.

"A apa yang terjadi padamu Guinevere?" Lancelot terduduk, dan perlahan mundur mendekat ke arah danau. Dengan kondisinya saat ini ia tidak bisa melawan makhluk-makhluk tersebut. Ajal seperti akan menjemputnya, sebelum terdengar suara kuda dari arah belakang pasukan Dark Creature. Orang itu lalu menebas semua Dark Creature dan menancapkan pedangnya tepat di jantung Guinevere.

"Apa yang kamu lakukan bocah bodoh? Baru saja kamu menyakiti hati sang putri" Ksatria tersebut berbicara dari atas kudanya.

"Aku hanya berempati pada Guinevere setelah hal yang menimpa dirinya, tidak lebih. Aku masih menicntai Odette dengan tulus" Lancelot berusaha mengetahui identitas ksatria berkuda tersebut, saat ksatria tersebut turun dari kudanya dan membantu Lancelot untuk bangkit, ia dapat melihat wajahnya "Leomord! Apa yang kamu lakukan?"

"Dengan mencium wanita itu? Bodoh sekali, apakah kamu berpikir Guinevere dapat selamat begitu saja dari serangan Dark Abyss saat mereka menyerang kerajaan Brits? Ia ditangkap hidup-hidup dan dicuci otaknya untuk menjalankan rencana Alice."

"Alice? Bagaimana ia bisa tau tentang Guinevere? Aku tidak mengerti apa yang tejadi" ujar Lancelot terheran

"Orang yang bernama Ecila itu sebenarnya adalah Alice sang Blood Demon" Leomord melemparkan Pedang Lancelot ke tanah "Bangun dan ambillah pedangmu kita harus segera menolong putri kecilmu sebelum semua rencana Alice berjalan" Leomord mulai kembali menyiapkan pedangnya, ia merasakan kehadiran sebuah pasukan "Sepertinya putri sangat mencintaimu sehingga ia mengirim sepasukan prajurit istana untuk menjemput"

"Tangkap Lancelot si Pekhianat itu!" Ujar seorang pemimpin pasukan. Mereka semua mulai menyerang Lancelot dan Leomord.

"Wah, nampaknya putri memiliki panggilan sayang yang baru untuk ksatria tercintanya" Ujar Leomord setengah tertawa.

Lancelot mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ia lalu mulai mengambil pedangnya "Diam kamu, pria tua" Lancelot bangkit kembali, berjalan kearah sepasukan prajurit dengan pedang disampingnya serta rambut emasnya yang terurai "Bilang pada pacar tercintaku Odette, tidak perlu repot-repot menjempuku. Akulah yang akan kesana" Sang ksatria mulai melawan, ia bersama dengan Leomord terpaksa bertarung melawan prajurit kerajaan yang berusaha menangkapnya.


Waktu tepat menunjukkan jam 12 malam, Ecila tengah mempersiapkan ritual The Darkening diruangan utama kerajaan. Sedangkan Odette tengah menyendiri dikamarnya. Ia tidak bisa menerima apa yang baru saja terjadi, ia tidak mengira Lancelot mengkhianatinya.

Terdengar suara ketukan dipintunya "Odette semua persiapan sudah siap"

"Baiklah Ecila, aku akan segera kesana" Odette pun segera pergi menuju ruangan utama. Disana telah tersedia lingkaran sihir untuk ritual.

"Mari Odette, berbaringlah ditengah-tengah lingkaran ini. Pejamkan matamu dan kosongkan pikiranmu, aku akan membacakan mantranya" Ujar Ecila sambil menuntun Odette ke ruangan itu.

"Maaf menggaggu nona Ecila, Lancelot serta seorang ksatria berhasil mengalahkan pasukan yang dikirim dan sedang menuju kesini" Ujar seorang penjaga.

Ecila yang sedang menyiapkan ritual untuk sang putri tampak tersenyum mendengar kabar itu "Bagus, biarkan mereka menonton pertunjukkan dari kursi terdepan"


Lancelot mendobrak pintu ruang utama, disana nampak Alice tengah melakukan ritual The Darkening pada Odette. "Odette sadarlah, ini jebakan yang dibuat oleh Alice. Selama ini ia menyamar menjadi Ecila"

Mendengar suara Lancelot, Odette membuka matanya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat "Kamu, Alice si Blood Demon" Odette berusaha untuk bangkit namun kekuatan lingaran sihir itu seakan mengikatnya.

Alice selesai membaca mantranya, ia lalu menatap Odette "Oh Odetteku tercinta, semua persiapan telah selesai. Sekarang kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, dengan bantuan kegelapan" sang penyihir mendaratkan ciuman dibibir sang putri. Odette menjadi tak sadarkan lalu sekelebat cahaya hitam muncul dari bawah lingkaran sihir.


Sinar hitam perlahan menghilang, Lancelot bergegas menuju Odette yang terbaring tak sadarkan diri. Alice yang berdiri dibelakang Odette tak ia hiraukan, hanya Odettelah yang menjadi fokus utamanya. "Odette, sadarlah. Maafkan diriku yang bodoh ini, aku tidak bermaksud menyelingkuhimu dengan Guinevere, Aku masih mencintaimu dengan tulus"

Odette perlahan membuka matanya, menatap Lancelot, lalu dengan segenap kekuatan, ia mendorong Lancelot ke tanah, sekarang ia duduk diatas tubuh Lancelot. Perlahan ia mendekatkan wajahnya kearah wajah Lancelot "Oh Lancelot sayangku, jika kamu menyayangiku ciumlah mulutku ini. Aku sudah tidak bisa menahan rasa cintaku ini, ciumlah aku, gunakanlah tubuhku ini seperti yang kamu inginkan" ia mendekatkan mulutnya kearah Lancelot serta tubuhnya menekan tubuh sang kekasih.

"Si siapa kamu?!" Dengan tenaganya ia menghempaskan tubuh perempuan itu. Lancelot memperhatikan dengan seksama permpuan itu, rambutnya merah, sama seperti bola matanya berwarna merah ruby, pakaiannya serba hitam kebiruan, namun wajahnya mirip sekali dengan Odette

Dengan nada manja nan menggoda gadis itu membalas "Oh sayangku, ini aku putri kesayanganmu Odette. Tidak bisakah kamu melihat tubuh yang kumiliki ini? Apakah kamu melupakan diriku akibat wanita bernama Guinevere itu"

Dari belakang Leomord berjalan menuju kedua orang tersebut sambil mengeluarkan pedangnya "Berhentilah bermain-main. Lancelot nampaknya kita telat untuk menyelamatkan kekasihmu. Odette kini telah jatuh dalam kegelapan"

"Oh kamu merusak suasana romantis reuni ini Leomord" Odette kemudian berjalan menuju ke arah Alice "Baiklah jika kamu tidak ingin mencumbuku, mungkin aku bisa bercumbu dengan teman baikku ini" ia mencium bibir Alice yang dibalas pula dengan panas oleh sang iblis "Hihi, Kenapa Lancelot? Cemburu?"

Lalu dengan kekuatan sihir gelapnya Odette mengeluarkan tongkat sihirnya, tongkat itu berbeda dengan yang biasa Odette gunakan. Tongkat itu berwarna hitam dengan batu ruby berwarna merah dipuncaknya, aura merah kehitmana memancar dari tongkat tersebut.

"Alice kubawakan 2 pria bodoh ini untuk kita jadikan mainan" Ujar Odette disertai tawa jahatnya.

"Oh baik sekali dirimu Odette, mainan ini pasti akan menyenangkan. Apakah kamu senang dengan kekuatan yang diberikan oleh The Dark Lord?"

Dengan senyum dan tawa jahat Odette menjawab "Bukan hanya senang Alice, aku seperti merasa terlahir kembali. Mari Alice kita aku sudah tak sabar bermain dengan mainan itu" Odette mulai menggenggam tongkat sihirnya, pertanda bahwa ia siap mengeluarkan ilmu sihirnya.