Act 4 Pertempuran antara penyihir dengan ksatria
Situasi telah berubah, kini Odette telah jatuh dalam kegelapan dan bekerjasama dengan Alice untuk melawan Lancelot dan Leomord. Ia benar-benar berbeda dari Odette yang selama ini dikenal.
"Leomord, apakah Odette masih bisa diselamatkan?" Ujar Lancelot sambil bersiap mengeluarkan pedangnya.
"Entahlah, dari seluruh buku yang kubaca setelah jatuh kekegelapan tidak ada yang pernah bisa kembali, hanya membunuhnyalah satu-satunya cara"
"Sudahkah kalian selesai berbicara?" Odette memotong pembicaraan antara keduanya "Jika sudah, mari kemari kita akan bersenang-senang" Odette mulai mengayunkan tongkat sihirnya "Avian Authority!"
Ilmu sihir tersebut dengan telak mengenai tubuh kedua ksatria itu, mengakibatkan mereka terdorong jauh kebelakang. Odette terus mengeluarkan sihir itu, memaksa kedua ksatria berada diposisi bertahan.
Rasa sakit yang diakibatkan serangan itu sangat hebat, ditambah lagi dengan rasa membakar yang diakibatkan, rasa membakar itu bahkan tetap ada meskipum Leomord dan Lancelot berhasil menghindar dari sihir Odette.
Lancelot dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit disekujur tubuhnya "Tch, mengapa rasa membakar ini masih terasa? Kurasa kekuatan sihir Odette tidak pernah sehebat ini"
"Perhatikan baik-baik tongkat sihir itu. Aura merah yang dikeluarkannya, tidak lain itu adalah tongkat sihir legendaris Glowing Wand, tongkat itu memberikan efek seperti membakar setelah sihir mengenai targetnya"
"Maksudmu seperti kekuatan senjata legendaris di pedangku Bloodlust Axe?"
"Ya bisa dikatakan seperti itu, ritual The Darknening mirip seperti ritual skin on, hanya saja jika ritual skin on hanya mengubah penampilan dan menambah kekuatan bergantung pada tingkatan skin yang kamu panggil, the Darkening mengubah perilaku sang pemakai menjaid satu atau lebih sifat kegelapan" Leomord kembali bersiap menghadapi serangan dari lawannya. "Sepertinya kekasihmu ini jadi memiliki sifat nafsu, lagipula Alice merupakan salah satu dari tujuh tangan kanan kepercayaan The Dark Lord dengan kode Lust"
Mendengar penjelasan Leomord, Lancelot hanya bisa menggaruk kepalanya "Jadi apa rencana kita untuk mengalahkan mereka berdua?"
"Kita harus menghadapi mereka satu persatu, mereka terlalu kuat jika dihadapi secara bersamaan. Akan kuurus Alice sementara dirimu buatlah sibuk Odette. Siapa tau dengan membunuh Alice kita bisa mengembalikkan Odette seperti semula, mengerti?"
"Ok, akan kuikuti strategimu selama itu tidak membunuh Odette" Lancelot mulai kembali menyiapkan pedangnya.
Leomord berteriak dengan lantang "BARBIEL!" kudanya yang setia muncul menjemput tuannya. "Alice akan kubalaskan dendamku atas apa yang kamu perbuat di masa lalu!" ia mulai menyerang Alice, yang daritadi hanya menonton perbuatan Odette.
"Oh rupanya kamu masih ingat kejadian yang menimpa Vexana itu, hampir sama seperti saat ini bukan hahaha" Alice lalu mengeluarkan sebuah bola darah dan melemparkannya ke arah luar istana "Blood ..." ia berpindah tempat kesarah bola itu berada menghindari serangan Leomord.
"Tak akan kubiarkan kamu kabur kali ini Alice, HIYAAH" Leomord memacu kudanya keluar jendela mengikuti kemana Alice pergi.
Lancelot mengeluarkan pedang dari sarungnya "Sekarang hanya ada kita berdua Odette, akan kutolong dirimu dari kegelapan yang mengonsumis jiwamu" ia menarik nafas dalam-dalam sambil berfokus pada pedangnya "SKIN ON! Dark Earl"
"Oh manis sekali Lancelot, kamu menunggu agar kita hanya berdua untuk mengeluarkan kekuatan drakulamu" Odette sedikit membuka baju bagian atas lalu menawarkan lehernya "Ini Lancelot hisaplah darahku, atau jika ingin lebih kamu juga bisa mengambil darah keperawananku".
"Hmph, aku tak punya waktu untuk bercanda. Akan kumusnahkan kegelapan dari dirimu Odette"
"Huh sombongnya drakula yang satu ini, tidak pernah ada yang menolak tawaran tubuhku yang sempurna ini sebelumnya" ia kemudian membaca sebuah mantra sihir, dan memunculkan pedang ditangannya "Sebagai rasa cintaku, aku tidak akan menggunakan sihirku namun akan kugunakan pedang pemberianmu ini untuk melawanmu"
Odette mulai menyerang Lancelot dengan pedangnya, meskipun Lancelot sangat mahir dalam ilmu berpedang, Odette mampu mengimbangi serangan Lancelot bahkan sesekali mengancam nyawa Lancelot.
Pertukaran jurus demi jurus tak bisa terelakkan, Lancelot hanya setengah hati melawan Odette, ia tidak mau pacarnya terluka dan hanya bisa bertahan dari seluruh serangan yang dilancarkan, hanya sesekali ia nampak menyerang namun serngan itu sangat lemah.
Sang putri berhasil melukai Lancelot, darah mulai bercucuran keluar dari luka ditubuhnya. Dengan kekutan Bloodlust Axe sedikit demi sedikit Lancelot bisa mengobati lukanya meskipun itu hanya luka kecil. Ia menahan diri untuk tidak melukai Odette dengan pedangnya.
Sang lawan mulai merasa bosan dengan Lancelot "Oh ayolah Lancy, bermainlah dengan sepenuh hati. Jika seperti ini terus terpaksa aku membunuhmu, padahal aku ingin menginginkanmu, bermain dengan budak cintaku"
"Akan kubunuh kamu, penyihir sialan" Leomord terus menyerang Alice dan berhasil membuatnya terpojok. "Sekarang matilah kamu! Momentum!" ia mengeluarkan jurus pedang andalannya untuk menghabisi Alice, namun kembali Alice dapat menghindar dari serangannya. "Kamu bisa terus menghindar namun dangan kondisimu yang sekarang saat ini, ajal hanya tinggal menunggu waktu"
Alice terluka cukup parah, luka berada disekujur tubuhnya namun ia masih bisa tertawa "Hahaha, harus kuakui kekuatan pedang suci itu sangat merepotkan. Namun jangan kamu lupakan, aku ini adalah seorang Blood Demon" ia mejentikkan jarinya dan sepasukan prajurit istana muncul disekelilingnya. Prajurit-prajurit itu memiliki tatapan mata yang kosong "Prajurit-prajuritku yang setia, maukah kalian berkorban demi diriku yang cantik ini?"
Semua prajurit menajawab dengan serempak "Tentu saja yang mulia Alice"
"Hahaha, terimakasih prajuritku yang setia, kemarilah mendekat padaku" kemudian tiga orang prajurit berjalan mendekat kearah Alice, disusul dengan sebuah mantra yang keluar dari mulutnya "Blood Ode!" ia menghisap darah dan energi ketiga prajurit tersebut, lukanya seketika sembuh, kini ia kembali seperti semula, sedangkan ketiga prajurit itu mati kering kerontang akibat energinya dihisap." Masih berpikir bisa mengalahkanku Leomord?"
Terdengar suara tembok rubuh dari arah istana, rupanya suara itu berasal dari pertarungan Lancelot melawan Odette. Tebasan pedang Odette yang kuat rupanya mendorong Lancelot sangat jauh hingga merubuhkan dinding luar istana. Kedua ksatria tersebut berada dilokasi yang sama saling memunggungi.
"Huah, aku mulai bosan. Alice bolehkah aku menyelesaikan mereka?"
"Tentu saja Odetteku, jika mereka mati akan kucarikan pria baru yang lebih tampan dan gagah"
"Oh baik sekali dirimu" Kedua penyihir mulai bekerja sama untuk mengalahkan Lancelot dan Leomord. Alice memulai dengan sihirnya yaitu Blood Awe membuat kedua ksatria itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya, setelahnya Odette mngeluarkan sihirnya Blue Nova,memastikan bahwa lawannya benar-benar tidak bisa bergerak dari posisinya. Dan sebagai serangan akhir Odette dengan menggunakan tongkat sihirnya mengeluarkan Swan Song. "Selamat tidur tuan-tuan tampan, semoga nyanyian sihirku ini tidak membuat kalian mimpi buruk ya" .
Kubah sihir dengan kekuatan magis yang amat kuat muncul, mengelilingi Lancelot dan Leomord, perlahan mereka mulai merasakan sengatan-sengatan magis disertai rasa membakar disekujur tubuh mereka "Leomord lakukanlah sesuatu, jika tidak kita akan mati disini". Ujar Lancelot menahan rasa sakit.
"Tidak bisa, aku bahkan tidak bisa menggerakkan mulutku untuk memanggil Babiel, kita harus bisa menahannya sampai serangan sihir Odette berhenti"
"Ya kamu bertahan, karena kamu ini Undead. Aku akan mati jika disini terus" Nada suara Lancelot mulai terdengar panik.
Serangan sihir tersebut mulai terasa amat menyiksa, Lancelot tidak bisa menahan serangan itu lagi, ia sekarat. Disaat itulah terdengar sebuah suara "Arrival Spell" sesosok perempuan tiba dibelakang mereka berdua, kemudian perempuan tersebut memegang baju keduanya dan berkata "Flicker Spell" menarik mereka keluar dari kubah sihir tersebut, dan diakhiri dengan mantra "Healing Spell" yang sedikit mengobati luka yang didapat.
Leomord tau siapa sosok yang baru saja menolongnya "Vexana, kamu datang kesini, apakah kamu mengkhawatirkan kondisiku?"
Vexana membalas perkataan Leomord dengan sebuah tamparan keras diwajahnya "Aku kesini bukannya untuk menolongmu ya! sudah kubilang sejak awal aku tidak rela Alice memenangi pertempuran ini" Vexana kemudian melihat kearah kedua penyihir lawannya Odette dan Alice "Leomord berikan laporan mengenai kondisi saat ini"
"Seperti yang bisa kamu lihat, Odette telah jatuh dalam kegelapan dan membantu Alice. Mereka menganggap kami sebagai mainannya dan berusaha membunuh kami. Ya sejauh ini aku bisa menahan serangan mereka namun tidak dengan Lancelot, ia terluka parah"
"Hmph kamu masih berlagak sok kuat dengan luka seperti itu Leo" Vexana mencoba mengobati luka disekujur tubuhnya dengan mantra sihir "Lagipula penyihir macam apa yang menganggap pria bodoh sebagai mainannya, jelas orang mati adalah mainan yang lebih baik"
Lancelot yang terbaring memotong pembicaraan "Maaf memotong, Kukira wanita harusnya bermain dengan boneka daripada nyawa pria hidup ataupun orang mati"
"Huh mainan seperti itu hanya untuk anak kecil"
Lancelot menimpal "Terserah dengan mainan wanita yang terpenting masih bisakah kita menyelamatkan Odette?"
"Berbeda dangan kondisiku saat itu, kurasa ada kemungkinan kecil kita bisa menyelamatkannya. Aku bisa menggunakan sihir Cursed Oathku padanya berharap bisa memicu sedikit ingatannya, seperti apa yang pernah kulakukan padamu" Ujar Vexana "Tapi kemungkinan itu sangat kecil, jika gagal maka kita harus membunuh Odette dan Alice"
"Yah itu layak dicoba, akan kulakukan apapun untuk menyelamatkannya"
"Kalian berdua beristirahatlah sejenak, akan kutangani Odette. Jika Alice menyerang coba tahanlah sedikit agar ia tidak mendekatiku" Vexana mulai membaca sebuah mantra "WITHIN THE BEAUTY,THERE IS A HIDDEN POWER RESIDE! SKIN ON! Sanguine Rose" Penampilan Vexana berubah, pakaiannya menjadi serba merah keunguan tidak hanya itu penampilannya juga menjadi seperti saat masa mudanya, cantik dan menawan.
Leomord terkesima dengan perubahan Vexana "Huh kamu jauh-jauh pulang ke Necrokeep hanya untuk mengambil baju tuamu?" ia terus memandangi Vexana dengan takjub "Tapi bagaimana bisa kamu mengembalikkan penampilanmu? Skin On hanya dapat mengubah penampilan luar serta kekuatan"
"Jika kamu terus memandangiku seperti itu, kamu duluanlah yang akan kubunuh" Vexana mengancam Leomord yang daritadi terus melihatnya "Saat perjalanan di alam pikiran menggunakan Arrival Spell, aku bertemu dengan wanita yang mengaku sebagai penjaga danau"
Mendengar hal itu Leomord sedikit tertawa "Jadi kamu bertemu juga dengan wanita menyebalkan itu"
"Ya wanita itu cukup menjengkelkan, ia memberikanku kekuatan ini sebagai ganti untuk menyelamatkan putri kecil itu" ia kemudian berjalan menuju tempat Odette berada "Kalian duduklah dengan tenang, akan kuberi sedikit pelajaran bagaimana menjadi ratu yang baik pada putri kecil itu"
Odette melihat Vexana dengan rasa kesal dan marah "Oh Lancelot sayangku, rupanya kamu tidak hanya berselingkuh dengan cinta pertamamu tapi juga dengan penyihir tua Vexana ini" mata Odette terlihat penuh rasa amarah "Tak akan kumaafkan dirimu Lancy, akan kubunuh dirimu dan penyihir laknat ini" ia mulai menyerang Vexana dengan tongklat sihirnya.
Pertarungan antara kedua penyihir tersebut berjalan sangat sengit, keduanya saling bertukar mantra sihir. Avian Authority milik Odette dibalas dengan Nether Snare milik Vexana. Vexana memanggil pasukan Undeadnya mengepung Odette dari segala arah, namun degan kekuatan barunya Odette dengan mudah membinasakan makhluk-makhluk tersebut.
Kondisi itu terus berlangsung hingga akhirnya mereka mulai terlihat kelelahan akibat mana yang mereka mulai menipis. Melihat Odette yang mulai kelelahan Vexana mulai menjalankan taktik yang ia simpan.
Vexana berupaya untuk mengalihkan perhatian Odette "Sepertinya putri kecil ini mulai mengantuk, sebaiknya kamu pergi tidur kekamarmu yang hangat" Merasa terhina, Odette menjadi lengah dan menyerang Vexana membabi buta "Kena kamu, Charmed Spectre!" Sihir itu mengenai Odette dan membuatnya tidak bisa menggerakkan badannya "Selamat tidur tuan putri, Cursed Oath!" Vexana mengeluarkan sihir pamungkasnya.
Tubuh Odette langsung ambruk ke tanah, ia meringis kesakitan dan berteriak "Argh tidak, apa ini? Alice, lAncelot tolong aku!" rencana Vexana untuk mengembalikkan Odette seperti semula sukses dijalankan.
Ia mulai mendekati Odette yang sudah berhenti berteriak dan tidak sadarkan diri. "Bangunlah Odette, bangun dari mimpi burukmu" Vexana berusaha menyadarkan Odette dari ilmu sihirnya.
Odette tiba-tiba terbangun dan membuka matanya "Oops kamu pikir sihir seperti itu bisa mempan? Lucu sekali kamu tertipu dengan aktingku" ia mulai menagyunkan tongkat sihir ditanganya "saatnya meyudahi permainan ini. Avian Authority!" ia mengeluarkan sihirnya tepat dihadapan musuhnya, sial baginya Lancelot datang menolong Vexana.
"Tidak perlu repot-repot menyelamatkanku ksatria bodoh" Vexana melepaskan genggaman tangan Lancelot "Sudah kuduga sihir itu tak mempan, satu-satunya cara yaitu dengan ..."
Lancelot yang masih terluka memotong ucapannya "Cukup Vexana dari sini biar aku yang mengurusnya.
"Apa yang akan kamu lakukan, ksatria bodoh? Jika Cursed Oath saja tidak bisa menolongnya maka tidak ada yang bisa mengembalikannya"
"Tolong percayalah padaku, aku bisa menolongnya. Jika tidak maka kamu baru boleh membunuhnya" ia kemudian berjalan kedepan, menuju Odette berada "Hei Odette yang kamu cari adalah diriku, mari kita selesaikan persoalan ini"
"Oh dengan senang hati Lancelot, akan kuhabisi kamu dengan tanganku. Karena hanya aku seorang yang boleh membunuhmu:" Odette memulai serangan sihirnya, sedangkan Lancelot hanya bisa menghindar dan mundur mendekat kearah danau.
Lancelot mulai terpojok, ia tidak bisa lagi mundur kemana-mana, dibelakangnya hanyalah kumpulan air. "Cukup sampai disini Lancy, akan kubunuh dirimu disini" Odette mulai bersiap untuk mengayunkan tongkat sihirnya.
Lancelot menghela nafasnya "Huh, tidak ingatkah kamu tempat ini Odette? Tempat pertama kali kita berjumpa, aku saat itu tengah sekarat seperti saat ini. Lalu kamu datang bagaikan malaikat untuk menolongku" Saat ini mereka berada di dekat sebuah gazebo kecil di tepi danau yang dikelilingi bunga mawar. Lancelot kembali berdiri diatas kakinya, sementara Odette sudah siap mengeluarkan sihir miliknya.
Odette melepas sihirnya mengarah ke Lancelot, sang ksatria mampu mengelak dari serangan itu dengan jurus Thorned Rosenya, ia kemudian mendekati Odette dengan jurus Puncture "Bunga mawar inilah bunga yang pertama kali kuberikan padamu, tidakkah kamu ingat Odette?" Lancelot bersiap mengeluarkan jurus pamungkasnya Phantom Exeution untuk menyerang Odette "Jika kamu tidak mengingatnya biarkanlah pedang ini mengingatkanmu" dengan pedangnya Lancelot menerjang sihir Odette dan menggapainya. Namun sesaat sebelum pedang menembus tubuh Odette, ia jatuhkan pedangnya dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir sang kekasih.
Bibir mereka saling bertemu, Odette menganggap Lancelot menyerahkan dirinya dan dengan senang menerima ciuman Lancelot "Oh Lancy, jika kamu ingin menciumku kamu harusnya bilang, aku bisa meberikanmu bibirku yang indah ini kapanpun kamu mau" tiba-tiba Odette merasakan sakit dikepalanya pandangannya menjadi kabur. Kedua kekasih tersebutpun jatuh tak sadarkan diri.
