Naruto © Masashi Kishimoto
Fanfic by JSYvanilla
H. Sakura, U. Sasuke
Dia
Drama, Romance
Rated T
.
.
.
Warning! OOC, typo bertebaran, don't like don't read.
Enjoy!
.
.
.
Pagi yang cerah telah menyambut hari dengan indah. Matahari yang kian meninggi pun membuat hari semakin hangat. Semua orang sudah memulai aktivitasnya, setelah semalaman beristirahat. Begitu pun para pengurus rumah tangga disalah satu komplek ternama. Dengan telaten tangannya merapihkan mangkuk dan piring ke atas meja makan. Menyiapkan sarapan seperti hari-hari biasanya.
Sasuke menuruni anak tangga dengan kedua tangan yang sedang mengancingkan kancing dipergelangan tangan. Lalu beralih pada dasi yang sedikit miring akibat gerakannya. Kakinya berhenti melangkah ketika sampai didepan meja makan, dan menarik kursi untuk diduduki setelahnya. Bersama dengan sang ibu yang sedari tadi sudah duduk terlebih dahulu, ia pun mulai memakan makanan yang tersaji.
"Berapa hari kau disana?" Mikoto bertanya sebelum menyuapkan makanan kedalam mulutnya. mengunyah makanan tersebut dengan anggun.
"Sekitar 4 minggu." Sasuke menatap Mikoto dari tempatnya. "Ada apa memang?"
Wanita paruh baya itu menghela napasnya pelan. Tangannya memainkan sendok tanpa berniat menyuapkan makanan kedalam mulutnya lagi. "Tidak. Ibu pasti akan kesepian dirumah ini."
Sasuke menyentuh punggung tangan yang sedikit keriput itu, mengusapnya pelan. "Aku akan menelpon ibu setiap malam."
Senyum tipis terulas diwajah Mikoto. "Ibu beruntung memiliki anak sepertimu. Setelah kepergian kakak dan ayahmu, kau tidak pernah membiarkan ibu merasa kesepian." Mikoto menumpukkan tangannya diatas telapak tangan Sasuke yang kini berada diatas tangan kanannya. Menggenggam lembut tangan itu.
"Itu karena aku menyayangi ibu."
"Bisa kau telepon Karin untuk kesini nanti malam? Ibu ingin makan malam dengannya." Senyum Sasuke seketika luntur tak tersisa. Meninggalkan guratan-guratan tak suka disetiap ekspresinya.
"Jangan sebut nama itu lagi bu."
Wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya tak suka saat mendengar penuturan anaknya. "Kenapa kau bicara seperti itu? Ibu tau kau tidak menyukainya. Tapi bagaimana pun, dia itu kan tunanganmu. Calon istrimu. Tidak seharusnya kau berbicara seperti itu Sasuke."
Sasuke menghela napas. Jemari kirinya memijat kening. "Dia sudah menipu kita. Dia sudah menipu ibu. Dia itu hanya menginginkan uang kita bu."
"Bagaimana kau bisa berpikiran kalau Karin menipu kita. Ibu mengenal dia dengan baik. Ibunya pun berteman baik dengan ibu." Mikoto mulai tersulut emosi. Ya, ia tau jika Sasuke sangat tidak menyukai Karin. Tapi, menjelekkan namanya dengan cara seperti ini tidaklah baik. Lagi pula, keluarga mereka memang dekat sedari dulu. Tidak mungkin, kan kalau anak temannya itu menipunya?
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku menyelidikinya selama ini. Dan ternyata memang benar, orang itu hanya menipu kita. Apakah ibu tau, kalau perusahaan ayah Karin terancam bangkrut? Mereka hanya mempermainkan kita dengan memanfaatkan kita untuk kembali memajukan perusahaannya itu."
Mikoto tidak tau harus bereaksi seperti apa. Pasalnya, selama ini tidak ada hal yang mengganjal dari pertemuan keluarga beberapa minggu lalu. Dan temannya pun—ibu dari Uzumaki Karin tidak memberitahukannya apapun tentang masalah ini. Benarkah yang dibicarakan putera satu-satunya itu?
"Mulai sekarang jangan sebut nama itu lagi. Jangan berhubungan dengannya lagi. Aku tidak ingin ibu membagi kasih sayang ibu dengan percuma pada mereka. Karena bagiku kasih sayang ibu sangatlah berharga." Sasuke bangkit dari duduknya, mencium kening sang ibu sebelum beranjak keluar. Dengan tangan mengancingkan jas abu-abu yang dikenakannya, ia mulai berjalan meninggalkan sang ibu dengan kontroversi hatinya.
.
.
.
Sakura melajukan mobilnya keluar dari parkiran butik yang dikelolanya. Bersama Sarada yang duduk disamping kemudi, ia membelah jalan dengan kecepatan sedang. Hari ini adalah hari libur— tepatnya untuk anak sekolah. Warna merah dikalender memang sudah menjadi hal yang mutlak untuk anak sekolah menikmati waktunya dirumah. Dan sudah menjadi kebiasaan untuk Sakura membawa Sarada ketempat kerjanya ketika hari libur tiba.
Ia menghentikan laju mobil itu disalah satu tempat makan. Cukup ramai disini, karena memang sudah waktunya jam makan siang.
Sakura ikut berdiri mengantri untuk memesan makanan. Dengan Sarada yang setia memegang telunjuk tangannya. Namun sesuatu kembali mengejutkan dirinya saat ia menoleh kesisi kanan. Pria yang beberapa hari lalu ditemuinya setelah bertahun-lahun kini menampakkan kembali wajahnya dihadapannya. Wajah yang membuatnya tidak bisa tertidur dihari itu.
Mereka sama-sama terkejut. Bahkan omelan dari pelanggan yang ikut mengantri dibelakang Sakura hiraukan. Hal itu pun memaksa Sarada untuk menarik-narik telunjuk Sakura yang dipegangnnya.
"Ma, ayo."
Seakan tersadar, Sakura langsung memajukan langkahnya. Memutuskan tatapan antara dirinya dan Sasuke. Meninggalkan lelaki itu yang masih setia menatapnya.
.
.
.
Sakura tidak tau mengapa ia bisa berada disini sekarang. Duduk dihadapan Sasuke dengan Sarada disampingnya. Mungkin bagi orang yang melihat, mereka bagaikan keluarga kecil yang harmonis.
Jantung Sakura bekerja lebih cepat dari biasanya. Ia tidak bisa makan dengan keadaan seperti ini, berbeda dengan Sarada yang tengah lahap memakan bagiannya. Begitupun Sasuke. Ia sama sekali belum menyentuh apapun yang ada diatas meja, sekalipun itu sendok yang tersedia.
"Aku akan jujur padamu." Sakura menghela napas pelan. Sendok dan garpu yang dipegangnya ditaruh kembali diatas piring seperti sebelumnya. Matanya dengan tegas menatap manik hitam disana. Ia tidak tau apa yang akan ia katakan ini benar atau salah. Namun, jika mengingat kenyataan. Ini adalah hal penting yang harus ia ungkapkan.
"Sebenarnya dia adalah puterimu."
Sasuke seakan berhenti bernapas. Oksigen disekitarnya terasa menipis. Telinganya terus mendengungkan perkataan Sakura. Gadis kecil yang kini sedang menyedot minumannya ditatap. Hatinya bergetar ketika mengetahui kenyataan bahwa gadis itu adalah puterinya. Anaknya. Rambut hitam, mata hitam. Yah, bahkan itu sama persis seperti miliknya.
"Maaf baru mengatakan hal ini. Tapi sungguh aku tidak bermaksud—"
"Kau telah menjauhkan seorang anak dari ayahnya." kata itu keluar dengan emosi yang mendalam. Ya, Sasuke kecewa mengetahui kenyataan yang Sakura sembunyikan selama ini.
"Sejak kapan dia ada?" mata hitamnya menatap tajam mata Sakura yang kini selalu menghindar. Meminta penjelasan dengan semua kebenaran ini.
Sakura menghela napas pelan sebelum kembali berucap. Ia tau ini pasti akan terjadi ketika Sasuke mengetahui kebenarannya. "Dua hari sebelum kau mengajakku ke rumahmu."
"Aku sungguh ingin mengatakan hal ini pada malam itu. Tapi hatiku sudah terlanjur sakit dengan perkataan ibumu." Sakura menghembuskan napasnya kasar. Kembali mengingat kata-kata yang ibu Sasuke lontarkan padanya.
"Ibu?" Sasuke mengangkat kedua alisnya terkejut. Apa yang ibunya katakan sehingga membuat Sakura merasa tersakiti?
"Ibumu sudah mengucapkan hal-hal buruk tentang orang tuaku. Aku memang tidak tau siapa orang tua kandungku. Tapi, mengucapkan kata-kata keji tentang orang tuaku membuat hatiku merasa seperti terinjak-injak. Meskipun aku tidak pernah merasakan kasih sayang mereka, tapi mereka tetap orang tuaku. Dan tidak ada yang boleh menghina orang tuaku, termasuk ibumu."
Sasuke sedikit terkejut mendengar penuturan Sakura. Jadi, malam itu ibunya mengatakan sesuatu pada Sakura? Mengapa ia tidak tau? Pantas saja saat itu Sakura langsung mendiamkannya dan tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Berarti selama ini ia berburuk sangka pada orang yang salah? Ternyata dugaannya tentang Sakura yang suka memainkan hati seorang pria itu salah?
"Ibu…" Sasuke berucap lirih. Kekecewaan besar tersirat dalam suaranya. Ia tidak menyangka bahwa ibunya tega membohongi dirinya seperti ini. Ia menghela napas kasar. Tubuhnya disenderkan dengan kesal pada penyangga tubuh. Baiklah, sekarang ia mengerti mengapa ibunya selalu mengganti topik ketika ia sedang bercerita tentang Sakura. Namun, apa alasan ibunya tidak menyukai Sakura?
"Mama tidak makan?" suara anak perempuan menghanyutkan perasaan gundah Sasuke. Mata hitam persis sepertinya ditatap.
"Paman juga tidak makan." Katanya lagi. Kini tatapan mereka bertemu. Hati Sasuke bergetar dibuatnya.
"Mulai sekarang, panggil paman papa." Sasuke mengelus lembut dagu Sarada.
Sarada yang terkejut seketika membulatkan matanya yang besar. Lalu beralih menatap mata hijau Sakura setelahnya.
"Dia papamu, Sarada."
.
.
.
Sasuke berhenti tepat didepan pintu rumah minimalis tersebut. Mengetuk singkat setelahnya. Beberapa hari ini memang ia sering datang kesini. Lebih tepatnya setelah ia mengetahui fakta bahwa dirinya mempunyai seorang anak. Pintu cokelat yang rapat itu perlahan terbuka. Menampakkan sosok gadis kecil dengan senyumnya yang indah. Gadis itu menarik telapak tangannya untuk segera memasuki rumah ini.
Saat sampai didalam, ia ditinggal sendiri oleh Sarada. Gadis itu berlari cepat dan hilang dibalik dinding, lalu keluar bersama Sakura yang dituntun paksa. Gadis itu tersenyum ceria, membuat Sasuke seketika mengacak rambut hitam yang dicepol itu. Matanya beralih pada Sakura. Wanita itu tampak rapih, ah ya bukankah sedari dulu Sakura memang selalu rapih?
"Silahkan duduk. Mau minum apa?" entah kenapa Sakura merasakan sensasi aneh dihatinya. Tangannya menyelipkan rambut kesisi telinga.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin mengajak Sarada jalan-jalan." Mata Sarada berbinar dibuatnya. Gadis itu kini berpindah tempat bergelayut pada lengan Sasuke.
Sakura berpikir sejenak sebelum ia mengangguk mengiyakan. Namun ekspresinya seketika berubah saat Sarada menarik-narik ujung kemejanya.
"Mama harus ikut." Sakura tidak tau harus menjawab apa. Ia tidak mungkin ikut mereka saat ini. karena itu sama saja membuat harapan dihatinya semakin membesar. Namun, saat ia mengatakan kalau ia tidak bisa ikut. Wajah Sarada seketika menjadi murung. Hal itu yang Sakura tidak sukai. Melihat Sarada bersedih.
"Baiklah. Mama akan ikut. Tapi jangan memasang wajah seperti itu lagi, oke?" Sarada mengangguk antusias. Wajahnya kini kembali ceria.
Dengan sangat bersemangat, kedua tangan orang tuanya kembali ditarik. Menyuruh agar mereka cepat menuju mobil. Dan hal itu mengundang tawa kecil diwajah Sakura serta senyum tipis diwajah Sasuke.
Yah, tidak ada yang lebih berharga dibanding kebersamaan bersama keluarga.
.
.
.
Hari sudah semakin gelap. Matahari yang bertugas pun telah digantikan oleh sang bulan. Awan yang memang sedari sore sudah mendung semakin mendung ketika malam tiba. Namun Sarada tidak mau diajak pulang dari wahana tempatnya bermain, dan mengundang omelan dari mulut Sakura.
Sarada yang sangat takut ketika mamanya marah pun langsung diam tak banyak bicara. Duduk dengan tenang dibelakang hingga matanya terpejam. Sakura sedikit merasa bersalah karena telah memarahi gadis kecilnya itu. Namun, jika ia tidak melakukan hal tersebut. Sifat keras kepala Sarada tidak bisa dihentikan. Sehingga ia harus tega melihat wajah imut anaknya itu ditekuk.
"Dia tertidur." Suara baritone mengagetkannya ketika ia menoleh untuk mengecek puterinya. Ia sedikit bergumam tanda merespon.
Hening untuk beberapa menit hingga Sasuke kembali mengeluarkan suaranya. "Maaf."
Sasuke tidak tau harus berkata apa lagi. Ia tidak tau harus melakukan apa lagi untuk semua kesalahan ibunya. Mungkin kata maaf yang diucapkannya kali ini sedikit telat.
"Maaf atas perkataan ibuku yang menyakitimu."
Sakura terdiam. Mulutnya seakan kelu untuk berucap. Matanya menatap jalan melalui kaca sampingnya. "Aku sudah memaafkannya. Bagiku, itu sudah menjadi masa lalu."
Entah mengapa Sasuke merasa sesak saat Sakura mengatakan itu hanya masa lalu. Hatinya seakan tidak menerima kalau itu memang benar masa lalu. Meskipun masa lalu, namun Sasuke selalu memiliki harapan dari masa lalunya itu. Harapan untuk bisa kembali seperti dulu.
Keadaan kembali hening. Jalan diluar kini dibasahi oleh guyuran hujan. Langit yang sedari sore gelap kini menumpahkan seluruh isinya pada bumi. Membuat riak air menyegarkan, bagi orang. Tapi tidak untuk Sakura.
Mobil Sasuke berhenti tepat didepan gerbang rumah Sakura. Tangannya mematikan mesin mobil sebelum mengambil payung untuk dipakai. Langkahnya memutari mobil, membukakan pintu untuk Sakura. Sarada yang masih tertidur pulas dibangku belakang kini telah berpindah tempat digendongan Sakura. Sasuke dengan sigap melindungi mereka dari tetesan hujan menggunakan payung ditangannya. Namun ia dikejutkan dengan sesuatu. Disana, kini berdiri lelaki bertubuh tegap dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam kantung. Rambutnya yang mencolok semakin mencolok saat cahaya lampu memantul dikepalanya. Sasuke pun merasa Sakura juga sama terkejut sepertinya. Jalannya yang tiba-tiba terhenti menandakan bahwa memang benar Sakura sangat terkejut.
Sasuke kembali melangkah mendekati teras dengan Sakura yang berjalan menunduk. Ia dengan sangat jelas melihat tangan orang itu mengambil alih Sarada dari gendongan Sakura. Menepuk pelan punggung anaknya ketika suara erangan kecil keluar. Sakura membungkuk dihadapannya, mengucap terima kasih. Entah mengapa rasa tidak suka menyelinap dalam hatinya saat melihat mereka masuk bersama. Masih pantaskah ia memiliki rasa seperti ini? Andai saja ibunya tidak melakukan hal itu. Andai saja sakura tidak dibawanya malam itu. Pasti bukan lelaki itu yang kini berjalan disamping Sakura, melainkan dirinya. Tapi kenyataan tak sesuai harapannya. Dan seharusnya ia sadar, bahwa hubungannya dan Sakura tidak bisa kembali lagi seperti dulu.
.
.
.
To be continue
A/N :
Terima kasih atas respon positif dari readers.
Terima kasih juga yang sudah mau menunggu fic mainstream vanilla ini.
Mudah-mudahan dichapter dua ini bisa menjawab rasa penasaran kalian.
Sampai jumpa dilain waktu..
