Naruto © Masashi Kishimoto
Fanfic by JSYvanilla
H. Sakura, U. Sasuke
Dia
Drama, Romance
Rated T
.
.
.
Warning! OOC, typo bertebaran, don't like don't read.
Enjoy!
.
.
.
Suara tawa tak bisa Sakura hentikan saat Naruto terus saja membuat perutnya terasa menggelitik. Kini mereka sedang berada disebuah kafe, hanya mereka berdua, tidak dengan Sarada. Sakura yang sedang berada dibutik siang itu diajak Naruto untuk makan bersama. Layaknya sepasang kekasih, Naruto datang menjemput Sakura dengan mobil sport miliknya. Saat ini mereka sedang dalam pembicaran ringan yang mengundang tawa kecil dimulut Sakura.
"Aku mencintaimu." Naruto memegang tangan Sakura diatas meja. "Aku tau."
"Coba ulangi perkataanku tadi." Sakura ikut memegang tangan Naruto diatas tangannya. Sedikit tertawa pelan. "Aku mencintaimu."
"Aku tau."
Ada perasaan aneh yang menghampiri Naruto saat ini. Ia tau, Sakura mengucapkan itu bukan dengan hatinya. Ia pun sadar, bukan tatapan cinta yang kini Sakura lemparkan ke pandangannya. Selama ini hatinya terus saja meyakinkan, bahwa Sakura memang benar mencintainya. Tapi kenyataan dihadapannya sekarang seakan menamparnya. Membuatnya tersadar bahwa tidak ada cinta dari sepasang emerald itu.
"Aku sudah bilang pada Chouji untuk memakai kateringnya saat pernikahan kita nanti." Sakura mengangguk. Lantas ia mengambil tangannya kembali, dan meminum minumannya.
"Apa gaunmu sudah jadi?"
"Sudah delapan puluh persen. Hanya tinggal ditambah ornamen-ornamen sebagai penghias." Kali ini giliran Naruto yang mengangguk. Soal gaun pengantin, Sakura memang telah merancangnya sendiri. Dengan kemampuan ide menggambar, Ia membuat sendiri gaun seperti apa yang akan dipakainya nanti.
Sejenak mereka terdiam, bergulat dengan pikiran masing-masing. Namun teriakkan seseorang menghentikan niatan Sakura untuk menyuarakan suaranya. Sakura menoleh, menatap seorang gadis yang kini berlari menghampirinya. Ia senang karena puterinya juga kesini untuk makan siang. Namun saat melihat orang yang juga datang bersama puterinya itu, masih bisakah ia merasa senang saat ini?
"Papa." Sarada melambaikan tangannya pada Sasuke. Menyuruh lelaki itu untuk ikut bergabung dengan Sakura dan juga Naruto.
Sakura tidak tau, apakah ini situasi yang baik atau buruk untuk mereka, lebih tepatnya untuk Naruto. Mengingat lelaki itu sangat marah saat ia pulang dengan Sasuke saat hujan dimalam minggu yang lalu. Namun saat melihat Naruto yang tersenyum ramah pada Sasuke, membuat rasa takut dihatinya perlahan terkikis. Lelaki itu menyambut baik Sasuke selayaknya seorang pria ketika bertemu.
"Jadi sekarang kau yang menjemput Sarada?" Naruto menatap Sasuke yang duduk diam ditempatnya setelah memesan makanan untuk Sarada dan juga Sasuke. Namun Sasuke tidak menjawab, ia hanya menggumam singkat.
"Pantas saja beruang pinkku ini selalu berada dibutiknya saat siang." Naruto mengacak rambut Sakura dihadapan Sasuke dan juga Sarada. Membuat Sakura merona kala itu juga. Sakura tidak tau apa yang sedang dilakukan Naruto saat ini. Namun ia menyadari sedikit perubahan ekspresi diwajah Sasuke yang terkesan datar itu.
"Jangan melakukan ini didepan banyak orang Naruto." ucap Sakura seperti berbisik. Namun hal itu masih bisa terdengar jelas ditelinga Sasuke.
"Aku hanya ingin menggoda tunanganku." Lagi-lagi Sakura melihat ekspresi Sasuke yang mengganjal. Lelaki itu langsung meminum minuman yang baru saja datang. Terbesit rasa senang dihatinya saat melihat Sasuke seperti itu. Namun, mengingat statusnya saat ini. Masih pantaskah ia memiliki rasa seperti ini?
"Kudengar kau membuka cabang dikota ini." Naruto menatap Sasuke yang duduk disampingnya. Sedikit menyuapkan makanan yang beberapa detik lalu sampai. Sasuke hanya menjawabnya dengan gumaman, serta anggukkan singkat. "Jadi kau yang mewarisi Perusahaan BS itu."
"Kurasa kita bisa bekerjasama. Maksudku, aku ingin menawarkan asuransi untuk perusahaan barumu itu."
Sasuke seketika menoleh, menatap Naruto yang kini sedang meminum jus orangenya. "Kau bekerja diperusahaan asuransi?"
"Ya. Tapi lebih tepatnya, aku yang memimpin perusahaan itu." lagi, Sasuke mengangguk singkat. Sesekali mata hitamnya melirik Sakura yang kini duduk dihadapannya. Mata wanita itu terus saja memperhatikan Naruto ketika pria itu berbicara. Mengundang rasa tidak suka dihatinya. Ada apa? Bukankah itu hal yang wajar?
"Sampai kapan kau akan tinggal dikota ini?" Sakura yang tengah memainkan sedotan didalam gelas mendongkakkan kepalanya. Menatap Naruto yang kini memangku dagu dengan telapak tangan. Pertanyaan Naruto tadi seakan menyiratkan ketidaksukaannya terhadap kehadiran Sasuke dikota ini. Yah, setidaknya itulah yang dipikirkan Sakura. Ia memegang lembut tangan berkulit tan diatas meja. Menatap Naruto seakan tidak suka dengan pertanyaan itu.
"Ada apa? Aku hanya menanyakan sampai kapan Sasuke disini. Apa itu salah?" Naruto menatap Sasuke kembali, meminta jawaban. Sakura tau, bukan itu yang dimaksud Naruto. Sakura bisa merasakan tatapan cemburu dari mata biru tersebut. Tatapan tidak suka bila ia membela lelaki itu.
"Mungkin dua atau tiga hari lagi."
.
.
.
Sakura tersenyum kagum saat pandangannya menatap para model yang memamerkan gaun dari designer ternama. Gaun-gaun itu memang sederhana, namun terkesan mewah. Motif-motif daerah yang menjadi warna pada dasarnya membuat gaun tersebut terlihat elegant tanpa mengurangi nilai budaya yang menjadi asalnya. Ia cukup bangga akan keberadaannya saat ini. Pasalnya kini ia sedang menghadiri acara Fashion Show tahunan yang diselenggarakan dibeberapa tempat. Dan sebagai designer pemula, ia sangat beruntung mendapat undangan untuk menghadiri acara ini. Semua yang datang pada hari ini bukanlah sekedar orang biasa. Maka dari itu ia merasa bangga karena ini tahun pertamanya menghadiri acara yang selalu ia impikan sedari dulu.
Acara Fashion Show itu memakan waktu hingga empat jam lamanya. Sakura bangkit dari kursinya saat acara yang diselenggarakan sudah selesai. Ia berjanji dalam hati, bahwa suatu saat nanti ia pasti bisa memamerkan rancangannya diatas catwalk seperti itu. Asalkan ia belajar dan terus belajar mengasah keterampilannya dalam merancang, semua itu pasti akan terwujud. Tidak ada yang tidak mungkin, kan, dalam hidup ini?
Sakura menempelkan telepon genggamnya pada telinga, menghubungi seseorang. Dengan langkah yang anggun, ia mulai berjalan menuju mobil yang terparkir sambil menunggu orang disana mengangkat sambungannya. Ia langsung mengucap salam saat telepon itu tersambung. Tangannya lalu menutup pintu mobil merahnya.
"Kau dimana?" Sakura memindahkan handphone itu ke telinga kiri menggunakan tangan kirinya.
"…"
"Baiklah, aku kesana sekarang." sejenak ia menggantung kata-katanya diudara. "Terima kasih."
Sakura menggeser layar itu hingga sambungannya terputus. Menghembuskan napas kasar setelahnya. Ada apa dengan dirinya? Mengapa mengucapkan kata terima kasih saja sampai berdebar begini?
.
.
.
Sasuke memasukkan handphone kedalam saku saat hendak menuruni mobil. Sambil menuntun Sarada disampingnya, ia mulai berjalan memasuki tempat makan itu. Seorang waiter datang sesaat setelah ia mendudukkan diri dimeja dekat kolam ikan. Memesan makanan untuknya dan juga Sarada. Senyum tipis terlihat diwajah datar itu saat melihat Sarada menatap senang ikan-ikan emas dikolam dekat sampingnya. Saat ini ia hanya bisa berharap dalam hati, semoga pertemuan kali ini mencairkan segala perselisihan yang ada.
Sasuke mengangkat kepalanya saat bangku disamping Sarada dirasanya berdecit. Menampakkan sesosok wanita pink disana. Wanita itu tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya lantas ia mendudukkan dirinya. Sasuke menggerakkan matanya kesegala arah, sedikit berdebar akibat senyum singkat itu. Lalu mengambil napas dalam setelahnya.
"Apa kalian sudah lama?" Sasuke kembali menatap Sakura yang kini mencium kening Sarada lembut. Ia mengangkat tangannya memanggil waiter. "Tidak. Kami juga baru sampai. Kau mau pesan apa?"
"Seperti biasa."
Sakura menghentikkan niatan untuk mengerakkan jemarinya dihandphone saat tersadar akan kata yang baru saja diucap. Ia melirik Sasuke perlahan. Berkedip beberapa kali sebelum tangannya langsung menyambar menu yang disodorkan Sasuke. Ah, betapa malunya ia saat ini. Bagaimana bisa berkata ia seperti itu. Seharusnya ia sadar, ini bukan tempat makan yang dulu sering ia datangi dengan Sasuke. Dan, juga itu merupakan masa lalu. Sasuke tidak mungkin masih ingat makanan kesukaannya.
"Apa dia membuatmu repot?" tanya Sakura setelah selesai memesan makanan untuknya. Ia menatap Sasuke yang tengah memainkan handphonenya.
"Hn. Tidak. Dia anak penurut." Satu usapan didapat Sarada oleh Sasuke dikepalanya. Sakura sedikit tertawa mendengarnya. Membuat Sasuke menatapnya dengan kedua alis terangkat.
"Benarkah? Biasanya dia sulit diatur dan keras kepala sepertimu." Ekspresi Sasuke merenggut tidak suka. Ia merasa saat ini sedang dikatai.
"Ada apa? Sifatnya memang persis sepertimu." Sakura sedikit tersenyum, kedua jarinya memetik hingga mengeluarkan bunyi. "Ah.. Juga sedikit menyebalkan."
"Aku tidak seperti itu. Kau yang menyebalkan!"
"Huh..! Kau selalu pintar memutar balikkan fakta." Sakura memutar bola matanya malas. Menatap Sasuke yang kini menghempaskan tubuhnya pada penyangga.
"Memang kenyataannya seperti itu." Sakura menatap sebal Sasuke dari tempatnya. Sedari dulu ia memang tidak pernah menang jika melawan Sasuke. Entah mengapa lelaki itu pintar sekali memainkan kata, baginya. Lelaki itu kini tersenyum menyeringai menatapnya. Membuat Sakura mengalihkan tatapan pada Sarada.
"Bagaimana butikmu?" Sakura sedikit bergumam. Tangannya masih sibuk merapihkan tatanan rambut Sarada. "Maksudku, kau tidak kesana?"
Sakura menghentikan gerakkannya. Menatap Sasuke yang kini menyilangkan kedua tangannya didada. "Kau mengusirku?"
"Bukan begitu." Sasuke mengendus sebal ditempatnya. "Kenapa kau sensitive sekali. Ah, sudahlah."
"Baik." Sasuke menjauhkan tatapannya dari handphone. "Kau bertanya bagaimana dengan butikku, kan? Baik." Kepala pink itu mengangguk beberapa kali. Sasuke sedikit memajukan tubuhnya. Menopang dagu dengan tangannya. Ia memperhatikan seluruh wajah Sakura dengan intens. Senyum itu, tatapan itu, bibir itu..
"Ternyata kau masih sama seperti dulu." Ia mengucapkan itu tanpa sadar. Sakura terkejut dibuatnya. Wanita itu langsung memutuskan tatapan yang terjalin diantara mereka. Membuyarkan pikiran liar diotak Sasuke.
"Aku ketoilet sebentar." Sasuke bangkit, menjauhkan diri dari meja. Membuat Sakura terpaksa menatap punggung itu. Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya menatap layar handphone yang bergetar.
"Kau?!"
Sakura mendongkakkan kepala menatap seseorang yang kini berdiri disampingnya. Matanya membulat seketika. Jantungnya berdebar tak karuan saat melihat siapa orang yang ditatapnya kini. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan takdir untuknya? Mengapa semuanya datang secara bersamaan diwaktu yang tidak tepat? Pertama Sasuke. Lalu kini, ibunya.
.
.
.
To be continue
A/N :
Ohhaloo…
Apa kabar? Apa masih ada yang menunggu?
Akhir-akhir ini mood lagi ga bagus. Jadi males banget buat ngetik. Jangankan ngetik, buka lepi aja males. Heol.. -_- #curcol
Sebenernya udah males banget lanjutin, udah bosen sama tulisan sendiri. Tapitapi, ya gitudeh XD
Sangkyu buat yang sudah baca. Sampai berjumpa dilain waktu..
