Otaku-chan to Yandere-kun

Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto

Warning: Typo-OOC-Labil (seperti author-nya)

Pairing: SaiSakura

.

.

.


Haruno Mebuki tengah sibuk menyapu halaman depan rumahnya di pagi hari. Langit di minggu pagi terlihat cerah, disertai angina semilir yang berembus. Sepertinya ramalan cuaca hari ini tepat, cuaca akan cerah seharian.

"Kalau begini aku bisa pergi ke Mall untuk belanja bulanan! Sekalian ah, cuci mata kalau ada baju diskon-"

"Selamat pagi, Mebuki-san!"

"Kyaaaa!"

Nyaris saja ujung sapu lidi yang dipakai Mebuki untuk menyapu tadi menusuk mata Sai. Dengan sigap Sai bisa menghindari serangan refleks Mebuki tersebut.

"Sa-sai-kun! Kagetnya! Bibi kira tadi kau itu penjahat yang ingin menculik diri bibi yang cantik nan menawan ini!" Mebuki tertawa genit saat sadar kalau orang yang menyapanya dari belakang tadi adalah kekasih putri semata wayangnya.

Sai hanya ikut tertawa kecil menanggapi lawakan calon mertuanya (ehem!) yang garing itu. Di dalam hati dia berkata,

'Hahaha, mana mungkin. Tapi kalau kau Sakura-chan, lain lagi ceritanya…'

"Sakura ada di rumah?" tanya Sai, dengan senyuman sejuta watt-nya.

"Ada kok! Tapi anak itu masih ngelindur di kasurnya. Padahal tadi bibi sudah menjewer telinganya supaya dia bangun dan membantu bibi bersih-bersih. Tapi dia malah tertidur lagi. Dasar anak pemalas!"

Mendengar keluhan Mebuki barusan, membuat Sai menahan kepalan tangannya di belakang sambil tetap tersenyum.

Seandainya saja Mebuki bukan ibu kandung Sakura, mungkin sudah Sai bungkam mulutnya dengan jarum jahit, lalu memotong telinganya sebagai balasan karena sudah menjewer telinga Sakura. Tapi kalau dia benar-benar melakukannya Sakura pasti akan membencinya dan tidak mau menjadi pacarnya lagi. Sai tidak mau kalau hal itu sampai terjadi.

"Seperti biasa Sai selalu rajin ke sini tiap hari ya? Apa kalian ada janji kencan lagi hari ini?" tanya Mebuki.

"Ah, tidak juga. Saya Senang berkunjung kemari untuk melihat Sakura secara langsung. Lewat ponsel saja rasanya tidak cukup."

"Ya ampuun, Sai-kun ini benar-benar romantis sekali lho! Andai saja ayahnya Sakura bisa seromantis Sai-kun. Orang itu malah sering berpetualang ke negeri antah berantah, sedangkan anak dan istrinya di tinggal di sini dan jarang mendapat kabar!" seperti biasa Mebuki curhat on the spot lagi pada Sai.

Ayah Sakura yang berprofesi sebagai wartawan lepas memang suka berkeliling dunia untuk mencari referensi berita yang menarik, unik, dan menggelitik. Karena itu Sai tidak pernah bertemu dengan ayah Sakura secara langsung. Padahal mereka sudah satu bulan berpacaran. Dia hanya mendengar cerita tentang ayah Sakura melalui Mebuki. Sakura sendiri tidak terlihat cuek walaupun jarang bertemu ayahnya.

"Oh iya! Kalau kalian tidak ada janji untuk kencan di luar, bibi boleh minta tolong padamu?" suara Mebuki mengembalikan Sai ke alam nyata.

"Tentu saja boleh, Mebuki-san." Jawab Sai, setengah hati.

"Bibi mau belanja ke Mall, mungkin agak lama. Jadi bisa kau jaga rumah bersama Sakura hari ini?"

Saat mendengar permintaan Mebuki hati Sai rasanya ingin meleleh karena terlalu senang. Kesempatan berduaan di rumah Sakura untuk pertama kalinya akhirnya tiba! Dia ingin sekali menatap wajah Sakura yang masih tidur dan memotretnya sebanyak-banyaknya. Tanpa ada gangguan Mebuki dia bisa melancarkan aksinya dengan lebih mudah.

"Dengan senang hati saya akan memotret Sakura—ehm, maksudnya menjaga rumah bersama Sakura-chan." Ujar Sai sambil menundukan badannya ala butler yang menghormat kepada tuannya.

Mebuki malah tertawa kesenangan karena merasa dihormati oleh sikap Sai yang gentleman, tanpa tahu kalau privasi anak gadisnya sebentar lagi akan diganggu oleh pacarnya sendiri.

.

.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Sai mengetuk pintu kamar Sakura dengan wajah bahagia. Namun tidak ada jawaban dari si pemilik kamar. Berarti Sakura masih tidur. Hal itu justru membuat Sai semakin antusias untuk segera melihat wajah tidurnya yang tengah terlelap manis di alam mimpinya.

"Permisi, Sakura-chan."

Perlahan Sai membuka pintu kamar Sakura dan menutupnya kembali. Layaknya seorang Otaku sejati, kamar Sakura dipenuhi dengan poster, manga, action figure serta boneka-boneka karakter anime dan manga yang dia sukai. Semuanya tersusun rapi dan apik, tidak seperti kamar Otaku yang biasanya berantakan.

Bahkan kamarnya wangi pengharum ruangan aroma bunga Sakura. Sai langsung tahu karena dia juga membeli pengharum ruangan yang sama agar kamarnya (atau lebih tepatnya seluruh ruangan di rumahnya) memiliki aroma yang sama dengan kamar Sakura. Dengan begitu dia bisa menganggap Sakura sedang berada di dekatnya.

Tapi yang membuat Sai sedikit (banyak) kesal adalah kumpulan benda berbau otaku ini. Mereka (?) membuat Sai iri dan cemburu, karena Sakura selalu menomor satukan mereka. Sai tidak paham kenapa Sakura bisa menyukai manga konyol ini. Walaupun Sai suka melukis, tapi menggambar manga dan melukis benar-benar lingkup yang berbeda.

Ingin rasanya membuang dan membakar semuanya agar perhatian Sakura bisa teralih padanya seratus persen. Tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak melakukannya. Sebab dia pernah merobek shonen jump yang sedang dibaca Sakura, akhirnya Sakura membakar salah satu lukisan kesayangan Sai sebagai balasannya. Sai bahkan sempat menangis saat Sakura dengan santainya membakar lukisan master piece-nya.

Oh iya. Apakah aku sudah bilang kalau lukisan kesayangan Sai adalah lukisan potret Sakura yang sedang tersenyum? Belum? Nah, sekarang kalian sudah tahu.

"I-IMUUUUUUUUUTTTT!" Teriak Sai dalam hati.

Saat dia melihat sosok Sakura yang matanya masih terpejam, dengan air liur yang membentuk pulau di bantal serta rambut panjang yang acak-acakan, Sai langsung mimisan. Dia seolah melihat seorang putri tidur yang polos menunggu untuk dicium bibirnya oleh sang pangeran. Ini dia kesempatan emas Sai. Dia bisa mencuri ciuman di bibir Sakura yang sedang terlelap. Tapi sebelum itu dia harus memotret wajah Sakura dulu.

Sai mengeluarkan ponsel pintarnya dari kantong celananya, lalu mulai memotret Sakura dengan raut wajah bahagia versi Yandere (silahkan kalian bayangkan sendiri). Pria Eboni itu berusaha mengambil potret Sakura dari berbagai angle. Kanan, kiri bawah, atas, serong kanan, serong kiri, utara, selatan, barat dan timur.

Sampai satu jam berlalu dia masih asyik memotret Sakura tanpa lelah. Potret tidur Sakura ini bisa menjadi koleksi terbarunya.

"Aa~ Sakura-chan memang manis dan imut! Tidak ada perempuan yang semanis dirinya saat tertidur sepertii ini. Aku jadi ingin mengurungnya di kamarku selamanya!" gumam Sai sambil terus memotret Sakura dengan penuh semangat.

"Hmmm…jadi kau mau mengurungku selamanya di kamarmu?"

"Iya! Aku ingin mengurungmu di kamarku, agar tidak ada orang yang bisa melihat wajah manismu saat sedang tertidur."

"Boleh saja…tapi sebelum kau lakukan itu, boleh aku meninju perutmu dulu?"

"Boleh! Tentu saja Bo—Eh?"

Sai menurunkan ponselnya saat melihat kelopak mata Sakura sudah terbuka lebar seperti Sadako. Wajahnya terlihat kesal karena melihat sosok pria eboni itu tengah memotretnya tanpa ijin, membuatnya terbangun dari alam mimpi, dengan hidung yang penuh darah mimisan pula.

"A-aku bisa jelaskan…" ucap Sai terbata-bata.

Tentu saja Sai terlihat panik. Walaupun tubuh Sakura lebih kecil daripada dirinya, tapi tenaga dalam gadis bersurai pink ini tidak bisa diremehkan. Seorang sumo saja mungkin bakal pingsan kalau mendapat pukulan Sakura. Sai memang suka dengan tinjuan Sakura, mengingat dia seorang masokis (hanya di hadapan Sakura). Tapi saat ini bukan saat yang tepat untuk pingsan karena dia belum mencium bibir Sakura sesuai rencananya! Ini gara-gara dia keasyikan memotret tadi. Sial!

"Tunggu Sakura-chan, aku belum mencium—"

"DASAR HENTAI YAROOO!"

BUAK!

Sai pun langsung pingsan dengan wajah tersenyum bahagia, dan dipenuhi dengan darah mimisan.

.

.

.

.


Catatan Author: Fic ini sebenarnya hanya saya ketik di saat senggang dan kalau lagi ada ide saja. Jadi saya nggak bisa pastikan apa akan ada kelanjutannya atau nggak. Jadi jangan terlalu berarap banyak ya…

Terima kasih juga untuk ceexia, Kise Sakura, I'm Elya, lalisa kw, dan AAM yang sudah bersedia mereview cerita fiksi yang labil ini. Semoga kalian terhibur dan tidak ikut-ikutan labil setelah membacanya. XD