Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Dunia shinobi mencapai akhir, akhir yang sebenarnya. Bukan akibat orang yang berniat jahat, tetapi karena memang dunia shinobi sudah berada penghujung usianya. Apakan masih ada cara untuk menyelamatkan seluruh manusia? Apakah mereka masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup? Naruto, sang pahlawanlah yang akan menjawabnya. . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : T

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 25 September 2015

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . .

Lengkap, kesembilan Biju telah berkumpul mengelilingi tempat pesta resepsi itu.. Ekspresi para biju sendu seakan ingin memberitahukan sebuah berita buruk. Lalu muncul sebuah portal dimensi, keluarlah dari sana kepala makhluk astral berwarna ungu dengan hidung panjang. Semua orang mengetahuinya, itu adalah kepala Susano'o. Dari kepala itulah, muncul orang yang tak terduga kedatangannya. Menampakkan ekspresi seperti juga akan membawa berita buruk. Datang dengan pakaian mengembaranya, Uchiha Sasuke.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 2. Akhir yang mengawali segalanya.

Suasana pesta resepsi yang sebelumnya riuh dan ramai, hening seketika karena kedatangan tamu yang tak terduga. Kemunculan Uchiha Sasuke yang tiba-tiba serta sembilan biju lengkap mengelilingi tempat pesta membuat semua orang terkejut. Terkejut dalam kebingungan masing-masing, tidak ada satu orangpun yang bersuara membuat suasana hening. Kedatangan Uchiha Sasuke terbilang cukup aneh, memang wajar kalau ia datang ke acara resepsi sahabatnya sendiri, tapi melihat caranya datang lewat portal dan pakaian yang dikenakannya sekarang, bukan hal yang lumrah untuk datang kesebuah pesta resepsi pernikahan. Lain halnya dengan Naruto dan temannya yang lain, mereka semua tahu kalau Sasuke tidak akan hadir sebelum menyelesaikan perjalanan penebusan dosanya, sehingga mau tidak mau kedatangan Uchiha Sasuke adalah hal mengejutkan saat ini. Belum lagi berkumpulnya semua biju, tidak pernah sekalipun biju berkumpul jika tidak dalam keadaan darurat atau mengkhawatirkan. Di antara keterkejutan semua orang, hanya Naruto yang berbeda. Menundukkan kepalanya untuk menutupi raut wajah sendu yang sekarang telah menggantikan wajah bahagianya beberapa saat yang lalu.

"Sasuke. . !" ungkap Kakashi yang pertama kali sadar dari keterkejutan. Sebagai Hokage, dia tahu pasti kalau ada yang tidak beres dengan kehadiran Sasuke, terlebih lagi semua biju berkumpul.

"Hn. . " Sahut Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya pada Kakashi. Matanya masih setia menunggu respon Naruto karena dia yakin sahabat pirangnya itu sudah mengetahui cukup banyak hal.

"Maaf kalau kami mengganggu hari bahagiamu Naruto, tapi ada hal yang harus kami sam- . . "

"Paman Bee,,, sudah pergi ya" Kata Naruto memotong ucapan Son, biju berekor empat. Naruto medongakkan kepalanya menatap Gyuki, sebulir air mata kesedihan mengalir dipipinya yang tidak seharusnya ada dihari yang penuh kebahagiaan seperti sekarang.

Gyuki atau Hachibi si biju berekor delapan hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Semua orang yang mendengarnya segera menyadari berita buruk ini. Cukup dengan melihat keberadaan biju berekor delapan tersebut tanpa jinchurikinya disini sudah membuktikan bahwa Killer Bee sudah tewas. Mereka semua menatap Naruto yang dirundung kesedihan akan kehilangan seorang guru lagi. Mereka masih ingat bagaimana Naruto yang sangat terpukul akan berita kematian Jiraiya dahulu dan itu terjadi lagi sekarang. Hinata yang berada disamping Naruto menggemgam erat tangan Naruto untuk memberi dukungan moril agar suaminya tidak jatuh terpuruk terlalu dalam.

"Ini berita buruk, sesuatu yang seharusnya belum terjadi sekarang entah kenapa melanda dunia saat ini. Akhir dari dunia akan sebentar lagi tiba, sesuai ramalan yang dikatakan oleh Rikudou Sennin bahwa dunia ini pasti akan berakhir, tapi aku tidak menyangka itu terjadi sekarang, ditengah kedamaian yang baru sebentar kita nikmati" kata Son. Setelah membiarkan semuanya diam akan berita buruk kematian Bee, dia memberitahukan hal ini karena memang harus diberitahukan.

Perkataan Son membuat semua orang bingung.

"Akan ku jelaskan" sahut sasuke mencoba mengalihkan kebingungan semua orang. "Sebagian belahan bumi sudah musnah. Seluruh wilayah pegunungan Kaminari no Kuni termasuk desa Kumogakure didalamnya telah rata dengan tanah. Mizu no Kuni juga, semua wilayahnya tenggelam didasar laut. Sebagian Tsuchi no Kuni serta beberapa negara kecil ikut lenyap, serta desa Sunagakure musnah setelah dihantam sebuah meteor besar"

Gaara sangat terkejut akan perkataan Sasuke. Desa yang seharusnya dia lindungi telah tidak ada lagi, tempatnya pulang sudah hilang.

"Semua ini karena hujan meteor, jauh lebih mengerikan daripada insiden ancaman jatuhnya bulan beberapa saat lalu. Sebuah benda angkasa berdiameter lebih dari seribu kilometer telah menghatam bulan dan menghancurkannya berkeping-keping sehingga serpihan itulah yang menghujani bumi. Sebentar lagi juga, benda besar tersebut akan sampai di bumi dan jika itu terjadi, bisa dipastikan semua jenis kehidupan dibumi akan lenyap. Aku pulang bukan untuk menyelamatkan diri karena memang sudah tidak ada lagi tempat untuk lari dan menyelamatkan diri sekarang. Aku pulang agar aku bisa mati bersama orang-orang yang berharga bagiku di sini"

Penjelasan panjang Sasuke membuat semua orang putus asa, mereka hanya bisa pasrah menantikan akhir hidup mereka. Kalau memang ini adalah akhir dunia, tidak akan ada satupun cara untuk menyelamatkan diri. Hanya tinggal menunggu waktunya saja.

"Kau punya ruang dimensi milikmu sendiri kan Sasuke? apa tidak bisa kita menyelamatkan diri kesana?" tanya Shikamaru mencari setitik harapan.

"Kita bisa hidup di dimensi yang kumiliki, tapi dimensi itu tidak bisa menyokong kehidupan sebuah ekosistem. Lari kesana hanya mengulur waktu sedikit hingga kita mati kelaparan" jawab Sasuke.

Semuanya terdiam pasrah karena tidak bisa apa-apa lagi.

"Ya sudah, sebaiknya kita nikmati saja sisa waktu sebentar yang kita miliki ini" kata Naruto yang sudah kembali dengan senyum cerianya. Semua orang disana termasuk para biju mengangguk setuju. Ada yang menghela nafas lega, berpikir positif untuk menghabiskan sisa waktu berharga yang tinggal sebentar lagi. Mengetahui kapan waktu kematian datang menjemput bukanlah hal yang sangat buruk, karena dengan begitu kita akan sadar dan sangat mensyukuri betapa berharganya waktu yang dimiliki dan akan menggunakannya sebaik-baiknya. Walau begitu beberapa orang masih dilanda ketakutan yang sangat.

"Tou-san, Kaa-san, Ero sennin. Sebentar lagi aku akan menyusul kalian. Kita akan berkumpul lagi sebagai sebuah keluarga" kata Naruto menatap sambil langit. Kemudian dia mengalihkan padangannya kesamping menatap gadis yang baru saja sah menjadi istrinya. "Ne Hinata, nanti aku akan mengenalkanmu pada orang tua ku. Kau sudah pernah melihat ayahku kan saat perang kemarin?, nanti aku akan mengenalkanmu pada ibuku juga, dia sangat cantik, rambutnya merah dan panjang sepertimu."

Hinata mengangguk setuju, namun ekspresi sendu tak bisa disembunyikannya.

"Ada apa lagi Hinata? seharusnya kau tersenyum bahagia dihari pernikahan kita ini"

"Naruto-kun, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu" kata Hinata dengan wajah serius.

"Bicara saja" sahut Naruto.

"Berdua saja"

"Baiklah" Naruto memegang tangan Hinata lalu membawanya pergi degan Hiraishin kesuatu tempat.

Semua yang disana bengong melihat kepergian pengantin baru itu dalam sekejap.

"Ya sudah, sebaiknya kita nikmati saja sisa waktu sebentar yang kita miliki ini" kata Kiba meniru ucapan Naruto sebelumnya dengan bibir yang sengaja dimonyongkan, "Ck, aku yakin dia pergi untuk menikmati malam pertamanya sekarang. Sialan, kenapa dia selalu lebih beruntung daripada aku?"

Gerutuan Kiba ditanggapi dengan gelak tawa beberapa orang. Yah, lumayan untuk menghibur hati mereka menghadapi kematian yang sebentar lagi.

Pletakk

Kiba terjungkang dengan kepala berasap setelah sebuah higheels menghantam kepalanya. Pelaku penimpukan yang tak lain adalah Sakura yang terlihat sangat kesal.

"Jangan bicara sembarangan Kiba" teriak Sakura, "Kau tidak lihat ekspresi Hinata sebelum pergi tadi. Aku pernah melihatnya, ekspresi sendu yang dia tunjukkan seakan tengah memikirkan beban yang sangat berat. Ekspresi yang sama yang dia tunjukkan saat dia akan menerima lamaran Toneri di bulan untuk menyelamatkan Hanabi" lanjut sakura dengan suara pelan, membuat semua orang terdiam. "Semoga saja Hinata tidak merencanakan yang aneh-aneh. Kalian tahu kan, kelakuan Hinata itu tidak kalah mengejutkannya dengan naruto, seperti ketika invasi Pein di Konoha dahulu"

"Sudahlah Sakura, tenangkan dirimu. Sebaiknya kita juga menikmati sisa waktu berharga yang kita miliki ini" kata Sasuke dengan memegang pergelangan tangan Sakura. Sikap tempramental Sakura langsung lenyap begitu saja digantikan wajah merona hampir seperti Hinata.

"Aaah, andai aku memiliki kekasih juga sekarang. Pasti aku akan lebih tenang menanti ajal menjemputku" gerutu Kiba lagi menatap kesal dengan interaksi yang terjadi pada Sasuke dan Sakura sehingga membuat teman-teman rokie 12 kembali tertawa, karena hiburan gratis yang diberikan Kiba.

.

Sebuah pohon yang sangat rindang, tumbuh tepat diatas tebing yang mengukir wajah para Hokage. Sudah selama 20 menit sepasang pengantin baru menikmati sisa waktu mereka, Naruto merangkul Hinata sedangkan Hinata sendiri dengan senangnya menyadarkan kepalanya didada Naruto. Di tempat ini lah biasanya sepasang kekasih ini menghabiskan sisa waktu kencan mereka sebelum menikah.

"Sebenarnya kau mau membicarakan apa Hinata?" tanya Naruto memecah kesunyian.

"Coba lihat ini"

Hinata menengadahkan telapak tangannya didepan sambil tetap bersandar di dada suaminya itu. Dari telapak tangan Hinata keluarlah sebuah benda berbentuk kubus berwarna darksteel atau hitam metalik yang bergerak berputar-putar diatas telapak tangan Hinata. Benda itu lebih tepatnya menyerupai sebuah rubik dengan 7x7 petak piece disetiap sisinya dan memiliki ukiran aneh disetiap petak. Rubik yang ukurannya pas ditelapak tangan itu belum terselesaikan puzlenya.

"Apa itu Hinata?" tanya Naruto, dia merasa aneh dengan benda yang belum perah dilihatnya itu. Walau begitu naruto cukup tau kalau benda itu adalah sebuah rubik, permainan puzle yang hanya menguras otak dan Naruto sangat tidak menyukai benda seperti itu.

"Ini namanya Cube, benda ini ku temukan tidak sengaja ketika dibulan, saat aku mencari letak senjata pemusnah tenseigan"

"Oh" gumam Naruto tidak mempedulikan benda itu, baginya sekarang yang terpenting adalah waktu kebersamaannya dengan Hinata saat ini.

"Sekarang Naruto-kun, ayo tangkupkan cube ini dengan telapak tanganmu"

Naruto segera saja menuruti keinginan Hinata tanpa menaruh curiga. Ketika cube itu diantara telapak tangan Naruto dan Hinata, cube itu tiba-tiba bergetar karena beresonansi dengan jiwa mereka berdua dan menarik keduanya ketempat lain.

"Di-dimana ini Hinata?" Naruto bertanya kepada Hinata yang tengah berdiri membelakanginya. Dia kebingungan dengan tempat yang ia pijak sekarang. Sebuah tempat tanpa batas seperti tengah berada di ruang angkasa yang gelap dihiasi banyak bintang. Kaki mereka berdua berpijak disebuah lantai seperti kerakmik berbentuk bujur sangkar transparan. Mereka berdua masih menggunakan pakaian pengantin mereka ditempat itu.

Hinata dengan byakugan aktif sedikit mendongakkan kepalanya memandang cube yang berukuran jauh lebih besar sekarang didepannya, sekitar 10 meter panjang sisi cube itu.

"Sekarang kita berada diruang dimensi khusus tempat cube yang sebenarnya berada. Cube kecil yang ditelapak tanganku tadi hanya miniatur dari benda aslinya. Cube ini bukan benda biasa Naruto-kun. Benda ini salah satu peninggalan Hamura yang terlupakan. Hanya pengguna byakugan dan yang mewarisi chakra Hamura yang mengalir dalam darahnya saja yang dapat menggunakan benda ini"

"Hinata, jelaskan padaku semuanya sekarang. Jangan membuatku bingung" pinta Naruto.

"Setelah aku mengetahui keterangan tentang Cube ini dibulan dan membaca petunjuknya, aku sadar benda ini ternyata sangat hebat. Dengan benda ini, aku bisa memindahkan seseorang jauh kedimensi lain. Lebih tepatnya ke universe lain yang disana terdapat sistem kehidupan sendiri yang berbeda dengan dunia kita. Tidak seperti dimensi kamui yang masih terhubung dengan dunia ini, tempat lain tersebut benar-benar terpisah baik ruang dan waktu dari tempat tinggal kita. Chakraku tidak banyak, sehingga aku hanya bisa mengirim satu orang" Hinata merentangkan kedua tangannya kedepan mengarah pada cube, membuat piece disetiap sisi bergerak. Hinata mulai memecahkan rangkaian puzle cube itu. "Dan aku akan mengirimmu, Naruto-kun. Ku harap kau bisa melanjutkan hidupmu disana. Aku tahu, selama kau hidup hingga sekarang, kau selalu menderita, selalu menanggung beban berat dipundakmu sendirian" kata Hinata dengan air mata mengalir dipipinya

"Jangan bercanda Hinata, hentikan!" teriak Naruto, 'siaal, kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan?'

"Kita berdua tidak bisa bergerak di tempat ini Naruto-kun. Lebih baik kau tunggu saja sementara aku menentukan koordinat tempat tujuanmu. Jangan pernah melupakan ku, temukanlah kebahagiaan ditempat baru nanti"

"Tidak, ini salah Hinata. Hentikan perbuatanmu sekarang juga. Kau harusnya lebih tau dari siapapun, kalau kebahagianku ada di Konoha, bersama semua teman dan semua orang yang mengakuiku dan terlebih lagi bersamamu. Ku mohon Hinata, aku tidak ingin hidup sendirian lagi"

Gerakan puzle cube itu terhenti sejenak, Hinata sempat bimbang dengan penuturan Naruto.

"Hinata?"

Cube itu ahirnya bergerak lagi, Hinata telah memantapkan hati akan keputusan yang diambilnya.

"Maaf Naruto-kun, sepertinya aku bersikap egois lagi kali ini. Aku tidak ingin kau mati sekarang, perasaan yang kurasakan sekarang sama dengan ketika aku melihatmu hampir terbunuh ditangan Pein. Biarkan aku menyelamatkanmu sekali ini saja. Kau selalu menyelematkan dan melindungiku, jadi biarkan kali ini aku membalasnya"

"Kubilang hentikan Hinata" teriak Naruto, "kau seharusnya tahu, bagaimana perasaanku saat ini. Sama halnya ketika aku melihatmu terluka ditangan Pein, aku sangat ketakutan jika kehilanganmu"

"maaf" Hinata sedikit lagi menyelesaikan puzle cube itu.

"HINATAAA" teriak Naruto, dia mengaktifkan mode terkuatnya, Senjutsu-Rikudou Mode

Wuusshhh,

Dengan itu, semuanya menjadi silau. Tidak ada sesuatupun yang terlihat karena tidak sanggup membuka mata.

.

-Beberapa saat sebelumnya, tempat Resepsi-

"Haaaah, aku bosan. apa tidak ada sesuatu yang bisa kita lakukan lagi sekarang?" Kiba tidak bisa diam, terus saja menggerutu mebuat beberapa temannya kesal.

"Lebih baik kau bantu aku menghabiskan makanan ini, semua makanan ini sangat enak Kiba" sahut Chouji.

"Aku tidak lapar"

"Kiba, daripada ribut lebih baik kau tidur seperti Shikamaru. Lihat saja, dia benar-benar menikmati tidur terkahirnya"

"Diam kau Shino, aku tidak butuh saranmu. Jika begini, sebaiknya ada meteor jatuh dikonoha sekarang agar aku tidak kebosanan lebih lama lagi menunggu ajalku"

"Hoi, maniak anjing. Kau sama berisiknya dengan bocah pirang itu" kata seekor biju berekor empat.

"Sepertinya harapanmu sebentar lagi terkabul, lihatlah keatas" sambung Chomei si biju terbang berekor tujuh.

Semua orang segera mendongakkan kepalanya kelangit. Terlihat jelas dilangit yang sebelumnya terang telah menggelap, seberkas cahaya yang cukup menyilaukan bergerak sangat cepat mengarah ke mereka, sebuah meteor berukuran besar siap meratakan Konoha. Dibelakangnya, benda berdiameter ribuan kilometer yang menghalangi cahaya matahari juga akan menyusul hendak jatuh kebumi.

Semua orang di pesta itu tersenyum menanti ajal mereka yang tinggal beberapa detik lagi. Temari membangunkan Shikamaru dengan mengibaskan kipasnya, Sai merangkul Ino lalu memberikan senyum tulus pertamanya sehingga membuat Ino merona. Sasuke dan Sakura saling berpegangan tangan dengan erat. Yang lainnya pun sudah menutup mata masing-masing, siap menerima ajal mereka.

Tanpa disangka, sumber cahaya yang sangat menyilaukan muncul dari arah bukit Hokage. Kemudia cahaya itu melingkupi seluruh desa konoha termasuk sebagian hutan disekitarnya.

Setelah cahaya menyilaukan itu pudar, desa Konohagakure lenyap dari permukaan bumi. Tidak lama setelah itu, sebuah meteor menghantam bekas desa Konohagakure, disusul benda angkasa terbesar yang jatuh tepat ditengah samudera. Kerak bumi hancur, seluruh daratan berganti dengan magma cair, lautan menguap. Planet Bumi menjadi berwarna merah. Selanjutnya ledakan terakhir, sebuah supernova, ledakan dari matahari melenyapkan bumi dan planet lainnya dalam tata surya. Lenyap tak bersisa.

.

Brukk

Hinata terduduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya, didepannya Naruto tengah terbaring sekarat dibawah pohon rindang diatas tebing ukiran wajah Hokage. Hinata menangis, kecerobohan yang dibuatnya membuat suaminya sekarat.

'selalu saja berakhir begini, kau tidak pernah sekalipun memberiku kesempatan untuk melindungimu, Naruto-kun'

To be Continued. . . .

Note :

Hmm, sebagai newbie saya sudah cukup puas dengan responnya. Terima kasih terlebih dahulu untuk reader yang bersedia memfavorite, follow, dan mereview serta membaca cerita ini. Saya akan terus melanjutkan cerita ini selama saya masih bernafas dan diberi kemampuan untuk menulis cerita. Draft cerita ini sudah saya selesaikan sampai akhir, jadi saya hanya berfokus mengembangkan cerita saja lagi. Kalau ada uneg-uneg atau saran, kasih tau saya. Siapa tau bisa menjadi sangat bagus untuk dimasukkan kedalam draft cerita ini. Kalau masukan untuk isi cerita, kasih tau lewat PM aja, biar jadi rahasia diantara kita. Heheee.

Chapter kemarin saya ada menyinggung keberadaan Killer Bee, dichap ini terjawab. Bee masuk dalam deadchara list akibat kiamat. Saya hanya mengurangi karakter saja, soalnya dicerita ini Bee tidak mendapatkan peran yang bagus jadi buat apa dia masih hidup kalau tidak melakukan apapun, selain itu alasannya juga agar Naruto memiliki biju lengkap sehingga dia kekuatannya bisa fullpower. Kemudian dampak dari ini, Karui terpaksa ikut mati karena kan aneh kalau dia datang sementara Bee yang gurunya Karui, tidak datang keresepsi. Ujung-ujungnya hanya Chouji yang tidak memiliki pasangan sehingga kita kekurangan satu pair canon. Tapi untuk Chouji tenang saja, ada kejutan nanti di akhir.

Para reviewer, saya berterima kasih terlebih dahulu untuk yang memuji dan menganggap cerita ini menarik. Yang minta lanjut dan update, saya hanya bisa menjawab "Nih, updatenya, lanjutannya. Silakan baca". Yang nanya apa saya benar-benar newbie, saya dengan sangat jujur mengakui bahwa saya memang benar-benar newbie dalam hal menulis. Semenjak SD sampai sekarang yang baru lulus kuliah, baru kali ini saya bikin cerita. Kalau ditanya apakah saya hobi menulis, tidak juga sih. Saya hobi membaca dan dari situlah saya belajar. Bagi yang nebak kalau ini pindah dimensi, anda lumayan benar tapi saya yakin 99% fic ini tidak akan seperti yang anda pikirkan. Saya sudah bikin konsep dan tidak akan sama dengan fic-fic crossover Naruto & DxD kebanyakan. di Chap depan sudah mulai keluar konsep teori dasarnya. Pantengin aja terus fic ini.

Lalu untuk yang nanya tentang kejadian kiamat yang saya buat, semuanya berdasarkan data-data fiksi ilmiah yang didukung oleh teori sains. Saya memang newbie dalam menulis cerita, tapi kalau membahas sains dan fiksi ilmiah, saya suka dan saya sudah lama menggeluti itu. Nah, sekarang kita akan membahas persoalan meteorid dan atmosfer. Atmosfer bumi dengan pasti melindungi permukaan bumi dari hantaman benda langit yang jatuh. Ketika ada meteor yang jatuh, perlahan tapi pasti meteor akan terkikis akibat panas karena gesekan dengan atmosfir hingga mengecil lalu habis. Lain halnya kalau meteor itu berukuran besar. Bersadarkan simulasi perhitungan jatuhnya meteor yang dilakukan Collins, et al. 2005, meteor berdiameter 40 meter yang penyusunnya adalah besi akan jatuh kebumi hingga membuat kawah ditanah selebar 1,2 km. Kalau hanya bebatuan biasa, perlu ukuran yang lebih besar mungkin sekitar 100 meter agar sampai dipermukaan bumi. Lain lagi kalau yang jatuh adalah kristal keras, ukuran yang kecil saja sudah cukup untuk menghantam bumi. Kemudian itu semua tergantung lagi dengan sudut jatuhnya apakah miring atau tegak lurus. Dampak kerusakannya jatuhnya meteor juga berbeda beda tergantung bagaimana meteor itu jatuh, bisa seperti bola api, menimbulkan kawah, atau gempa bahkan tsunami jika jatuh dilaut.

Nah, sekarang dicerita ini, benda yang akan menghantam bumi itu berukuran lebih dari 1000 km, bagaimana jadinya?. Atmosfer pasti tidak akan sanggup melindungi bumi lagi kan. Maka dari itulah saya tidak menyinggung tetang atmosfer di chapter sebelumnya. Kalau aku membahas tentang meteor dan atmosfer disana, kesannya apa yang saya tulis akan seperti materi kelas fisika dan saya tidak ingin cerita ini jadi seperti itu. Lagipula kalau sudah mau kiamat, mau pelindung seperti apapun atau usaha bagaimanapun, pasti semuanya tetap hancur. Dichap 1, saya sudah mencoba mendeskripsikan kiamat sebisa saya. Kalau mau lebih mudah, coba ingat-ingat film Armegeddon yang pernah tayang di salah satu stasiun TV. Bagaimana kepanikan bumi saat itu. Saya juga mengambil literatur dari beberapa video simulasi kiamat sebagai bahan untuk membuat chapter 1. And the last, supernova atau ledakan matahari yang memastikan semua yang ada dibumi berakhir. Cukup banyak literatur yang menjelaskan tentang supernova kalau ada yang ingin tau tentang itu, tapi disini saya membuat penyebab ledakan supernova sedikit berbeda dengan teori fisika.

Saya sangat senang membahas sains, jadi kalau ada diantara anda sekalian yang beda persepsi dengan saya, mari kita diskusikan. Genre fic ini adalah sci-fi, jadi saya akan mencoba bertanggung jawab sebisa saya untuk teori-teori yang menjadi dasar konsep fic ini. Terima kasih, dan saya minta maaf kalau karena hal ini, Author Note dalam chapter ini kepanjangan. Saya jadi semangat kalo membahas sains. hehehee.

Semua pair yang digunakan dalam fic ini adalah pair canon, sesuai cerita asli baik dari dunia shinobi maupun DxD. Dan kuharap jangan ada yang protes karena saya cuma ingin menghargai keputusan yang dibuat sang mangakanya. Terima kasih.

Saya Newbie, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di kolom review atau PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.

Sekali lagi, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H kepada semua reader yang merayakannya.