Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Dunia shinobi mencapai akhir, akhir yang sebenarnya. Bukan akibat orang yang berniat jahat, tetapi karena memang dunia shinobi sudah berada penghujung usianya. Apakan masih ada cara untuk menyelamatkan seluruh manusia? Apakah mereka masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup? Naruto, sang pahlawanlah yang akan menjawabnya. . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : T
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Jum'at, 30 Oktober 2015
Happy reading . . . . .
To The End of The World
By Si Hitam
Chapter 11. Bagaimana Jalinan Hubungan Mereka?
-Kota Kuoh-
Sudah empat hari Naruto dan Hinata tinggal di kota Kuoh. Sekarang mereka sudah terbiasa karena tidak banyak perbedaan cara hidup antara penduduk kota Kuoh dengan warga desa Konoha. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Naruto harus bekerja. Pekerjaan serabutan, apapun dikerjakan termasuk jadi kuli angkut, buruh kontruksi bangunan, buruh pengaspalan jalan, pegawai rumah makan (tukang cuci piring), pegawai kantor (office boy) dan banyak lagi pekerjaan fisik lainnya. Dalam empat hari saja, dia sudah memperoleh cukup banyak uang untuk sewa apartemen dan kebutuhan lainnya.
Walapun hanya pekerjaan serabutan seperti itu, Naruto bisa cepat mengumpulkan cukup banyak uang karena dengan kagebunshin, dia bisa bekerja sekaligus di banyak tempat dalam waktu bersamaan. Kagebunshin memang jutsu hebat yang tidak hanya berguna untuk bertarung, tapi juga bisa dipakai untuk mengumpulkan uang dengan cepat. Yah walaupun akibatnya, setiap malam selama empat hari ini, Hinata harus bersabar memijat suaminya yang sangat kelelahan karena efek membuat banyak bunshin yang disuruhnya bekerja. Sedangkan Naruto yang asli selama siang hari malah hanya santai saja dan enak-enakan tidur di apartemen mereka.
Namun khusus malam ini, entah muncul ide dari mana, Naruto ingin berendam air panas. Tidak sulit mencari onsen di kota wisata seperti Kuoh.
Malam ini adalah malam yang dihiasi langit cerah bertabur banyak bintang. Malam yang tenang untuk melepas penat setelah beraktifitas selama siang hari. Termasuk bagi sepasang muda mudi ini, lebih tepatnya sepasang suami istri muda yang baru saja selesai memanjakan diri di salah satu pemandian air panas yang ada di Kota Kuoh. Mereka berjalan kaki menyusuri jalanan yang berada dipinggir hutan untuk pulang ke apartemen mereka setelah menikmati mandi air panas.
"Nee, Hinata. Anooo, , , ummmm. . . . Kau belum lelah kan Hinata?" dengan memalingkan wajah ke sisi kanan, Naruto tiba-tiba bertanya pada Hinata yang sedang berjalan disebelah kirinya. Kurang sopan jika berbicara seperti itu, tapi beginilah jika Naruto sedang ada maunya.
"Tidak juga, memang ada apa Naruto-kun?"
"Aaaaaa, begini, eemm. . . " kata Naruto tidak jelas disertai dengan memainkan kedua jari telunjuknya. Jika Hinata yang malu biasanya akan memutar-mutar kedua jari telunjuknya dibawah dagu, maka sekarang Naruto menaut-nautkan ujung jari telunjuknya didepan wajah.
"Apanya?" Hinata makin penasaran dengan tingkah suaminya.
"Umm, ituu. . . . Aduh, bagaimana ya mengatakannya. . ."
"Katakan saja, Naruto-kun. Jangan buat aku bingung" kata Hinata yang semakin tidak mengerti dengan tingkah suaminya sekarang.
"Aaah, , , , massa kau tidak mengerti sih Hinata?" sekarang Naruto sudah menatap Hinata, namun dengan wajah merona beserta cengiran malu-malu.
"Naruto-kun!" kata Hinata tegas karena sudah mengerti kemana arah pikiran suaminya. "Kau tidak lupa kan, kalau aku sedang dalam masa subur sekarang? Kita sudah sepakat kalau kita tidak akan menjalankan program punya anak selama misi kita berdua ini belum selesai. Naruto-kun sendiri yang duluan mengusulkannya kemarin" lanjutnya tanpa terbata-bata. Kadang pada saat saat tertentu, Hinata bisa bicara lancar dan tegas pada Naruto. Contohnya seperti saat sekarang ini.
Sebenarnya Hinata merasa tidak ada masalah kalau harus melayani Naruto malam ini, malah Hinata pun juga sangat menginginkan belaian hangat dari suaminya. Yah, begitulah kalau pengantin baru. Tapi karena bisa membahayakan janinnya nanti jika sampai terjadi kehamilan selama misi, sehingga program punya anak mereka kesampingkan dahulu. Misi mereka bukan lah misi sederhana. Ada banyak hal yang dipertaruhkan jika Naruto dan Hinata gagal dalam misi ini.
"Iya sih, Heheee. . . Maaf ya Hinata, jangan marah gitu dong" kata Naruto dengan cengiran mohon maafnya.
"Kapan aku pernah marah padamu, Naruto-kun? Aku hanya ingin kita konsisten dengan kesepakatan yang telah kita buat" Hinata sedikit kesal dengan sikap Naruto yang kurang bisa menahan diri. Padahal ia sendiri sebagai perempuan yang baru saja berubah status menjadi istri muda sudah berusaha keras menahan hasratnya mati-matian.
"Iya, iyaaa. Aku mengerti" kata Naruto lembut. Tapi sejenak kemudia Naruto tiba-tiba berhenti melangkahkan kakinya.
Hinata yang menyadari Naruto berhenti berjalan, sedikit kebingungan, "Ada apa lagi Naruto-kun?" tanya Hinata yang sudah lima langkah didepan Naruto.
"Perasaan ku jadi tidak enak. Mirip seperti yang kurasakan empat hari yang lalu saat kita bertemu dengan dua gadis yang memiliki kekuatan supranatural"
Mengerti apa yang dipikiran Naruto, Hinata langsung bertindak.
Byakugan
"Didalam hutan itu sedang terjadi pertarungan. Gadis bernama Sona yang kita temui kemarin bersama temannya sedang melawan seekor monster" kata Hinata menunjuk kekedalam Hutan yang ada disamping jalan yang mereka lalui, melaporkan apa yang dia lihat pada Naruto.
"Kita kesana, siapa tahu mereka butuh bantuan" usul Naruto.
"Aku kan sudah pernah mengatakan padamu, Naruto-kun? Kalau gadis itu selalu mengawasi kita dari apartemen tempat tinggalnya. Kalau kita kesana, dia bisa tahu lebih banyak tentang kita" Hinata kurang sependapat dengan usul Naruto.
Sejak awal mereka berdua menempati apartemen yang di sarankan oleh gadis yang bernama Sona itu, Hinata menyadari bahwa dia dan suaminya selalu diawasi dari seberang apartemennya. Mungkin Sona masih belum percaya sepenuhnya. Hinata tahu pasti kalau urusan makhluk supranatural sama sekali tidak diketahui oleh manusia di dunia ini. Jadi wajar saja Sona curiga pada mereka berdua yang juga termasuk manusia.
"Tidak apa-apa, lagipula kita hanya beristirahat saja di kota ini. Kita tidak melakukan hal mencurigakan dan misi yang kita lakukan juga tidak di dunia ini. Dia itu tetangga kita, jadi harus saling menolong jika butuh bantuan. Lagipula mereka tidak mempunyai niat jahat, aku yakin sekali kalau mereka orang baik"
"Baiklah kalau begitu, aku setuju denganmu"
Walau kurang sependapat, namun Hinata memahami keinginan Naruto. Dia sangat mengenal suaminya itu, Naruto adalah orang yang senang menolong orang lain siapapun mereka dan dari mana asalnya. Naruto tidak pernah membedakan orang-orang yang hendak ditolongnya, bahkan orang jahat sekalipun, akan Naruto tolong dan disadarkan dari perbuatan jahatnya. Inilah salah satu hal yang membuat Hinata sangat mencintai Naruto.
"Yosh, kita kesana sekarang Hinata" kata Naruto dengan semangat.
Setelah itu mereka langsung menuju kehutan tempat terjadi pertarungan.
.
Skull Reaper, salah satu jenis iblis liar kelas atas yang memiliki kekuatan besar. Jauh lebih kuat dari iblis liar dari jenis minotaur atau sea serpent. Wujud skull reaper hanya berupa rangka tanpa diselimuti daging dan kulit. Memiliki sepasang tangan yang berbentuk seperti sabit, banyak kaki dan ekor yang yang lumayan panjang. Tinggi iblis ini sekitar 5 meter dan panjangnya mencapai 25 meter. Tidak diketahui bagaimana iblis liar ini bisa ada di Kuoh.
Dan iblis liar jenis inilah yang sekarang sedang dilawan oleh Sona bersama anggota peeragenya ditengah hutan tepat di area tanah kosong tanpa pohon. Harusnya ini adalah tugas Rias, tapi karena kelompok itu masih luka-luka setelah dihajar Kokabiel, terpaksa Sona yang menggantikannya.
"Persiapan sudah selesai, lalu bagaimana cara kita melawannya, Kaichou?" seorang gadis berkacamata dengan rambut hitam panjang bertanya pada Sona yang dia panggil Kaichou.
Persiapan yang dia maksud adalah pembuatan kekkai agar pertarungan mereka tidak diketahui oleh manusia di luar kekkai. Tugas itu dilakukan oleh sebagian kelompok mereka yang lain. Sekarang hanya ada lima orang gadis didalam kekkai dan bertanggung jawab untuk membasmi iblis liar itu.
"Kita tetap berbagi tugas seperti biasa. Iblis liar dihadapan kita ini dari jenis Skull Reaper, salah satu jenis iblis liar yang sangat kuat. Kita harus waspada, tapi tidak usah takut. Iblis liar jenis ini tidak memiliki intelejensia lagi, tidak ada bedanya dengan binatang" kata Sona menjawab pertanyaan anggota peraagenya yang bernama Tsubaki.
"Kami mengerti, Kaicho" sahut tiga gadis lainnya.
"Tsubaki, Tomoe. Kalian berdua gunakan senjata kalian untuk menahan kedua tangannya yang berbentuk seperti sabit itu. Setahuku, itulah senjata utama jenis skull reaper. Hati-hati, sabit itu sangat berbahaya jadi jangan sampai terkena tubuh kalian"
"Ha'i" jawab Tsubaki dan Tomoe bersamaan.
"Tsubasa, kau serang bagian belakang iblis itu dengan tinjumu. Bagian belakangnya lebih aman diserang, dan Momo, bersiaplah membuat lingkaran sihir pertahanan jika iblis itu tiba-tiba menembakkan demonic powernya"
"Oke" sahut Tsubasa dan Momo santai.
"Aku akan menyerangnya dengan sihir skala besar dalam sekali serang. Jadi aku perlu sedikit waktu, kalian tahan dulu makhluk itu"
GRROOOAARRRR. . .
Iblis liar skull reaper mengaum dan maju menyerang kelompok Sona.
"Maju sekarang!" perintah Sona
Syuuutt..
Tomoe dan Tsubaki langsung melesat maju duluan dengan kecepatan tinggi. Tidak sulit bagi Tomoe karena dia mengkonsumsi bidak knight, Tsubaki pun tidak kalah cepat karena dia adalah queen.
Skull reaper juga tidak tinggal diam dan mulai menyerang, mengangkat kedua tangannya lalu menebaskan kearah Tsubaki dan Tomoe yang berlari hendak menebaskan senjata mereka.
Tranggg...
Suara besi beradu dengan tulang. Tsubaki dan Tomoe masing-masing menahan sabit skull reaper yang diarahkan tepat keleher. Mereka tidak menyangka bahwa walau tubuh skull reaper besar, tapi tetap mampu menebas dengan cepat. Membuat mereka berdua yang berniat menyerang malah sekarang harus bertahan.
Sreeekk...
Tsubaki dan Tomoe yang masing-masing menahan satu tangan skull reaper harus terseret mundur beberapa meter di tanah yang mereka pijak. Selain cepat, ternyata skull reaper juga memiliki tenaga yang besar.
Buggg..
Tsubasa memukul bagian belakang tubuh skull reaper. Monster itu terseret beberapa meter dari posisi awalnya setelah menerima tinju berkekuatan penuh dari Tsubasa.
Berkat Tsubasa, Tsubaki dan Tomoe bisa bebas dari sabit skull reaper.
Pertarungan pun terus berlanjut. Tsubaki menyerang tubuh skull reaper dengan naginatanya sedangkan Tomoe menggunakan katana miliknya, sesekali mereka harus menahan ayunan sabit karena hanya mereka berdua yang mampu menandingi kecepatan ayunan sabit itu.
Tsubasa juga tidak henti-hentinya meninju bagian belakang tubuh skull reaper. Hanya bagian itu yang bisa dia serang, menyerang bagian depan sangat berbahaya baginya, karena tidak akan sanggup menghindari tebasan cepat dari sabit skull reaper.
Sekarang, skull reaper hanya berputar-putar ditempatnya berdiri. Tubuh bagian depannya mengejar serta menebaskan sabitnya pada Tsubaki dan Tomoe yang secara perlahan bergerak mundur dengan arah melingkar. Hal ini mereka berdua lakukan agar skull reaper tidak berpindah dari posisinya atau keluar dari hutan. Memang menguntungkan kalau melawan iblis yang tidak punya intelegensia lagi.
"Tsubaki, Tomoe, Tsubasa. Mundur sekarang!" kata Sona memerintahkan bawahannya mundur. Sedangkan dia sendiri sudah menyiapkan sebuah lingkaran sihir berukuran besar tepat diatas skull reaper.
Setelah tiga gadis itu mundur, dari lingkaran sihir yang dibuat Sona muncullah puluhan bongkahan es yang berbentuk tombak menghujani skull reaper.
DHUUAARRRR...
Akibat serangan itu, timbul kepulan asap dan skull reaper pun berhenti bergerak.
"Kuharap, serangan tadi cukup untuk memusnahkannya" kata Sona.
Sona adalah iblis kelas atas yang memiliki sihir manipulasi air. Kemampuannya sudah cukup hebat diusianya yang masih muda. Bahkan sekarang dia bisa merubah air miliknya menjadi es seperti yang dilakukan kakaknya, Serafall Sitri yang termasuk dari salah satu Yondai Maou.
GRROOOOOAARRRR. . .
Skull reaper meraung keras setelah menerima serangan Sona. Dengan satu kali kibasan tangannya, asap yang mengelilinginya lenyap. Setelah itu langsung bergerak maju dengan cepat kearah Sona yang sedang berdiri bersama empat bawahannya.
Praaannggg...
Tebasan sabit skull reaper berhasil ditahan oleh lingkaran sihir pertahanan yang dibuat Momo. Mereka berlima tidak sempat menghindar karena begitu cepatnya gerakan skull reaper. Walaupun begitu Momo harus kewalahan mempertahankan sihir pertahanan yang dia buat. Tsubaki membantu Momo dengan membuat satu lapis lingkaran sihir pertahanan lagi.
Krakk, kraakk..
Ternyata, ujung sabit yang runcing milik skull reaper berhasil sedikit menembus dua lapis lingkaran sihir pertahanan sekaligus. Kondisi yang kurang menguntungkan untuk lima orang pengurus OSIS Kuoh Gakuen itu.
Hakke Kuusho
Pukulan tenaga dalam yang dilancarkan Hinata ke arah wajah skull reaper dari samping sukses membuat iblis liar itu oleng dan. . .
"Terima ini..." teriak Naruto ketika menghadiahkan pukulan telak langsung pada tubuh bagian depan skull reaper.
Dhuaaarrr. . . .
Membuat iblis liar itu terpental beberapa meter kebelakang.
"Hey, kalian baik-baik saja kan?" tanya Naruto pada lima orang gadis yang baru saja dia tolong.
"Uzumaki-san. . .?" Sona tidak menyangka manusia yang baru dikenal ikut dalam pertarungannya. "Bagaimana bisa kau ada disini?" Sekali lagi Sona dibuat heran karena kedatangan Naruto, padahal anggota peeragenya sudah membuat kekkai yang seharusnya membuat manusia menjauh. Lagipula, untuk melewati kekkai berarti harus menembus atau menghancurkan dahulu kekkai yang dibuat peeragenya. Dan jika itu terjadi, seharusnya anggota peerage yang membuat kekkai sudah datang kesini dan memberitahu padanya.
Anggota peerage yang bersama Sona, yaitu Momo, Tsubasa, dan Tomoe juga sangat terkejut karena kedatangan Naruto, kecuali Tsubaki. Tapi melihat pemimpin mereka yang mengenal Naruto, terpaksa untuk sementara harus menahan rasa penasaran mereka terlebih dahulu.
"Kami kebetulan saja lewat dekat sini sehabis ke onsen" Jawab Naruto jujur
"Tapi bagaimana caranya?" Sona masih saja terkejut.
"Uuumm, yah dengan sedikit trik aku bisa melewati kekkai kalian tanpa ketahuan. Hehheee" jawab Naruto sambil nyegir malu karena ketahuan masuki wilayah orang seenaknya.
Mudah saja bagi Naruto untuk melubangi sebuah kekkai. Dengan sedikit chakra senjutsu rikuduo ditangan kanan yang berubah menjadi orange serta tambahan elemen Yin dan Yang penyusun partikel godoudama, dia bisa menguraikan materi atau energi pada apapun yang disentuhnya. Agak mirip dengan apa yang dilakukkannya pada Hinata untuk melepaskan pengaruh genjutsu yang ditanam Toneri didalam tubuh istrinya ketika di bulan dahulu. Dengan prinsip ini pula, Naruto bisa membuat lubang pada kekkai tanpa merusak kekkai itu. Lubang seukuran tubuhnya sehingga dia dan Hinata bisa masuk tanpa ketahuan.
"Jangan lengah. Monster itu tidak terluka setelah serangan tadi" kata Hinata memperingatkan. Dengan byakugan aktif, Hinata mampu melihat kondisi skull reaper walaupun tertutup asap tebal setelah terpental karena pukulan Naruto.
'Jadi seperti itu mata sebenarnya Uzumaki Hinata. Apa mungkin mata itu mampu melihat tembus pandang? Bahkan dia juga pernah mengatakan kalau ia mampu melihat apa yang ada dibalik kekkai' kata Sona dibenaknya setelah melihat penampilan mata Hinata dengan byakugan aktif. Dia tidak boleh terus-menerus terkejut. Dia harus bisa menguasai diri, dia juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk mengetahui lebih banyak tentang dua manusia yang sudah dua kali terlibat dengan urusan kaumnya.
"Apa ada informasi berguna tentang monster itu?" tanya Naruto pada Sona yang sudah lebih dahulu bertarung menghadapi skull reaper.
"Monster itu bergerak sangat cepat, tenaganya kuat, dan daya tahan tubuhnya menerima serangan juga besar. Kedua tangannya yang seperti sabit itu adalah senjata utamanya dan bagian belakang tubuhnya lebih aman diserang secara fisik" Sona menjawab pertanyaan Naruto dengan singkat.
"Itu sudah cukup. Terima kasih, Sitri-san" kata Naruto menanggapi informasi Sona.
Tiba-tiba kelopak mata Naruto berubah menjadi jingga, dan iris matanya pun mejadi garis horizontal. Tanda bahwa Naruto telah memasuki sennin mode. Sebelum Naruto ke tempai pertarungan, dia membuat satu bunshin untuk mengumpulkan senjutsu. Dan sekarang bunshin itu telah hilang sedangkan senjutsunya berpindah ketubuh Naruto yang asli.
'Uzumaki Naruto, ternyata dia pengguna senjutsu' Sona mendapat informasi baru tentang Naruto. Dia sudah mampu mengenali aliran senjutsu seperti yang sering digunakan beberapa bangsa Youkai.
"Aku yang akan menahan kedua sabit itu, yang lain serang saja sekuat tenaga"
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu, Uzumaki-san" kata Sona lalu mengalihkan tatapannya pada keempat bawahannya, "Kalian sudah mengerti kan?"
Tsubaki, Tomoe, Tsubasa, dan Momo mengangguk sebagai jawaban perintah Sona. Mereka tidak ingin mempermasalahkan dahulu tentang dua manusia yang baru mereka temui. Mereka percaya sepenuhnya pada keputusan Sona.
Kagebunshin no Jutsu
Boofft...
Naruto membuat satu kloning dirinya.
GRROOOOOAARRRR. . .
Skull reaper mengaum lagi, dia sudah bangkit dan siap menyerang. Dengan kedua tangan yang sudah teracung keatas, skull reaper maju dengan cepat dan menebaskan sabitnya.
Naruto dan bunshinnya juga melesat dengan cepat maju lalu menahan sabit itu dengan tangan kosong. Tubuh Naruto dan bunshinnya terseret sedikit kebelakang sambil memegang erat kedua tangan skull reaper. Dalam sennin mode, tidak sulit baginya menahan serangan seperti itu. Dulu bahkan Naruto pernah menahan tanduk badak besar hewan kuchiyose milik pain yang menyeruduknya.
"Serang sekarang!" seru Naruto yang asli. Sepertinya sekarang Naruto yang memimpin jalannya pertarungan.
Sedangkan yang lainnya mengikuti saja, karena seruan Naruto tidak ada salahnya untuk dicoba.
Tsubaki dan Tomoe maju membawa senjata masing-masing, menebaskannya kearah kaki-kaki skull reaper. Sehingga tidak sedikit kaki iblis liar itu yang putus membuat keseimbangannya goyah.
Hinata menggunakan Jyuken untuk memukul skull reaper dari punggung sampai ekor secara beruntun puluhan kali. Pukulan khas Hyuga yang dilancarkan Hinata membuat pergerakan monster itu berkurang drastis karena terget pukulan Hinata tepat mengenai titik-titik vital monster itu.
Dan terakhir sebagai penutup tinju penuh tenaga yang sarangkan Tsubasa dari atas ke badan skull reaper membuat skull reaper langsung ambruk.
"Mundur sekarang!" perintah Sona. Dia sudah menyiapkan lingkaran sihir yang sama dengan sebelumnya diatas skull reaper, tapi dengan ukuran tiga kali lebih besar.
Setelah semua orang menjauh, dari lingkaran sihir buatan sona muncul tombak-tombak es yang jumlahnya ratusan dan ukurannya lebih besar dari sebelumnya menghujani skull reaper.
DHUUUARRR...
Serangan Sona yang inipun juga menghasilkan asap yang mengelilingi skull reaper. Tubuh iblis liar itu tidak kelihatan sama sekali.
"Masih belum" kata Hinata yang berada bersama enam orang lainnya. Mereka semua mundur kearah Sona setelah mendengar perintahnya.
Setelah kepulan asap akibat jurus Sona menghilang, terlihat skull reaper masih berusaha bangkit berdiri walaupun sudah menerima banyak luka fatal.
"Ini yang terakhir" kata Naruto, sebuah bola biru berputar sudah siap ditangannya.
Melompat keatas lalu dan menyalurkan lebih banyak chakra senjutsu pada bola itu.
Senpou: Oodama Rasengan
Rasengan berukuran cukup besar itu dijatuhkannya ke tubuh skull reaper. Membor tulang keras skull reaper sehingga makin banyak luka, hingga akhirnya iblis liar itu lenyap tak bersisa. Lenyap tanpa jasad, seperti itulah nasib iblis liar yang telah dibasmi. Tubuhnya tidak diterima tanah, dan rohnya tidak akan diterima diakhirat.
"Haaaaah" menghela nafas lega setelah pertama kali membunuh iblis liar, "akhirnya selesai" lalu Naruto berjalan menghampiri Hinata yang bersama Sona dan temannya.
"Tidak ada yang terlukan kan?" tanya Naruto setelah berdiri dekat dengan yang lainnya.
"Kami tidak ada yang terluka. Eemm, sepertinya aku harus berterima kasih lagi pada kalian, Uzumaki-san. Ini sudah dua kali kalian membantu kami" kata Sona berterima kasih pada Naruto dan Hinata.
"Tidak usah formal seperti itu, panggil saja nama depan kami" kata Naruto.
"Iya benar. Kita bertetangga, jadi wajar saja saling menolong" kata Hinata menambahkan.
"Ah iya. baiklah, Naruto-san, Hinata-san"
"Kalau begitu, kami langsung pulang saja ya. Sona-san" ucap Naruto seraya memalingkan tubuhnya, diikuti pula oleh Hinata.
"Tunggu, kita pulang bersama saja, bagaimana? Apartemen kita kan searah" kata Sona menahan kepergian Naruto dan Hinata. Untuk sekarang, Sona menghilangkan dahulu wajah datar dan sikap tegasnya dan berusaha mengakrabkan diri dengan Naruto dan Hinata. Walaupun masih banyak hal yang belum ia ketahui, tapi ia merasa mereka berdua adalah orang baik. Sona sepertinya mulai tertarik dengan dua manusia yang sudah dua kali menolongnya.
"Boleh kok, ayo" jawab Hinata.
"Tsubaki, besok kumpulkan anggota OSIS. Ada yang perlu dibahas." kata Sona pada Tsubaki yang menjabat wakil ketua OSIS.
Kemudian Sona mendekat pada Naruto dan Hinata, "Sudah siap?"
Dibalas anggukan oleh Naruto dan Hinata, Sona langsung membuat sihir teleportasi dibawah kakinya. Membawa dirinya dan dua manusia disampingnya pulang ke bangunan apartemen mereka.
Setelah tiga orang tadi hilang dalam lingkaran sihir teleportasi, Tsubaki pun akhirnya buka suara, "Tenang saja, besok Kaichou pasti akan memberitahukan semuanya pada kita" untuk menghilangkan rasa penasaran Tsubasa, Tomoe, dan Momo.
"Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya" sahut Momo
Setelah itu mereka semua pulang kerumah mereka masing-masing.
.
.
.
Diudara, pada ketinggian beberapa ratus meter. Sesosok yang tidak tampak jelas bagaimana rupanya ditengah kegelapan malam, melayang diudara seolah hukum gravitasi tidak berlaku pada tubuhnya.
'Akhirnya, kutemukan kalian' katanya setelah mengamati pertarungan beberapa anak muda melawan iblis liar di hutan dibawah dia melayang.
Tepat ketika sinar rembulan yang sebelumnya terhalang awan menyinari sosok itu, sekilas tampak seorang gadis mungil berambut hitam panjang dengan mata abu-abu berpakaian ala gothic, sebelum akhirnya sosok itu lenyap dalam ketiadaan.
To be Continued. . . .
Note : Lupa, tambahan untuk AN kemarin. Saya senang dan sangat berterima kasih untuk kalian yang mendoa'akan saya sehat selalu dan bisa melanjutkan penulisan naskah fic ini. Dan inilah lanjutannya, semoga tidak mengecewakan walau chapter ini hanya berisi selingan dengan konflik ringan.
Aku asal ambil aja nih untuk iblis liar yang muncul di chap ini. Kalau mau tahu gambarnya, search aja 'Skull Reaper' di google picture. Dia salah satu bos lantai istana aincrad dari SAO, kalau aku tidak salah ingat, lantai 78.
Dipertarungan diatas, Naruto tidak langsung menghabisi skull reaper dengan jutsu mematikan padahal dia bisa saja. Aku hanya ingin menunjukkan kesejajaran kemampuan bertarung, supaya Sona tidak merasa direndahkan dan Naruto pun tidak ingin seluruh kemampuan bertarungnya diketahui Sona. Dan juga aku membuat Naruto dan Hinata datang ditengan-tengah pertarungan, karena jika Naruto datang tepat ketika Sona dkk sudah pasrah dan menutup mata menerima serangan mematikan, nanti kesannya kedepan hubungan sona kepada naruto hanya sebatas balas budi.
Walau pertama kali Sona dan Naruto bertemu dalam kondisi seperti itu, tapi itu tidak bisa dihitung sebab menurut Sona bukan dia yang salah melainkan Naruto, karena Naruto lah yang menjadi target serangan Vali. Sona hanya korban yang kebetulan berada didekat Naruto sehingga dia tidak bisa sepenuhnya merasa bahwa dia memang harus membalas budi.
Pokonya aku hanya ingin interaksi antara Sona dan Naruto hanya sebatas hubungan yang saling menguntungkan dahulu. Terlebih lagi Sona itu orangnya kritis dalam memutuskan sesuatu, dan dia pun masih menaruh curiga pada Naruhina. Jadi lebih bagus membangun hubungan seperti itu antara Naruto dan Sona. Baru nanti seiring berjalannya konflik, hubungan mereka akan berkembang.
Susah banget ternyata ngumpulin data DxD. Kalau begini, mungkin akan banyak terjadi penyimpangan Canon LN DxD dan aku minta maaf terlebih dahulu pada kalian yang pecinta DxD untuk itu. Tapi tentang data kekuatan dan pertarungan, aku akan tetap berusaha mendapatkan info yang tepat.
Saya masih newbie jadi tetap mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di kolom review atau PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.
