Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Dunia shinobi mencapai akhir, akhir yang sebenarnya. Bukan akibat orang yang berniat jahat, tetapi karena memang dunia shinobi sudah berada penghujung usianya. Apakan masih ada cara untuk menyelamatkan seluruh manusia? Apakah mereka masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup? Naruto, sang pahlawanlah yang akan menjawabnya. . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : T

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 13 Nopember 2015

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . .

[Garis keturunan utama terindetifikasi. Akses diterima]

Kedatangan Hinata jauh-jauh dari DxD Universe ke planet asal Klan Ootsutsuki ini tidak sia-sia. Ternyata sejarah didunia shinobi yang mengatakan bahwa Klan Hyuga adalah klan dengan garis keturunan paling dekat dengan Kaguya Ootsutsuki terbukti benar. Untuk kali ini, Hinata bersyukur dilahirkan dalam Klan Hyuga. Gelarnya sebagai Byakugan no Hime pun bukan sekedar julukan kosong belaka, dan sekaranglah julukan itu terbukti benar.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 14. Harta Pusaka Klan Ootsutsuki Part II.

Pintu besar itupun akhirnya terbuka lebar. Pintu yang hanya memberikan izin pada keturunan utama bangsawan Ootsutsuki saja, yang boleh melewatinya. Setelah menonaktifkan byakugannya untuk menghemat chakra, Hinata berjalan masuk kedalam pintu itu. Berjalan dengan pelan, waspada pada apapun yang bisa terjadi tiba-tiba. Namun bukan sebuah ruangan yang ditemui setelah melewati pintu, melainkan sebuah lorong yang cukup panjang.

Sebuah lorong yang memiliki pencahayaan cukup terang yang dihasilkan dari kristal-kristal yang berpendar di bagian atas lorong layaknya sebuah lampu. Lorong itu terdiri dari dinding, lantai, serta bagian atas lorong yang semuanya terbuat dari emas. Bahkan ukiran serta ornamen-ornamen yang sangat indah menghias sepanjang lorong dan itupun semuanya terbuat dari emas. Pada lantai lorong, berjejer pola hexagram sebanyak 6 buah dari ujung ke ujung lorong ini. Satu fakta lagi yang ditemukan, Klan Ootsutsuki ternyata adalah bangsa yang kaya raya serta menyukai seni yang indah. Jika saja tujuan Hinata kesini untuk mencari harta, tentu dia sudah berhenti dan memunguti emas-emas itu.

Tidak lama berjalan melewati lorong itu, akhirnya Hinata sampai di ujung lorong. Berhenti tepat didepan sebuah pintu berukuran sedang. Pintu yang juga berdaun dua itu memiliki hiasan berupa sebuah gambar lingkaran penuh. Lingkaran itu terbagi menjadi beberapa bagian bersudut sama yang disetiap bagiannya terdapat sebuah simbol. Hinata tahu itu, simbol itu adalah simbol-simbol zodiak yang lumayan terkenal akan ramalannya dikalangan remaja-remaja perempuan seusia dirinya. Bertambah satu fakta lagi yang terungkap, ramalan zodiak ternyata dibawa oleh Klan Ootsutsuki ke Bumi.

Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, Hinata harus melewati pintu itu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci, melewatinya dan sekarang Hinata berada disebuah ruangan yang cukup luas. Pintu dibelakangnya yang baru saja ia lewati seketika tertutup rapat dan tidak bisa terbuka lagi yang menandakan bahwa tidak ada kata gagal maupun kesempatan kedua di tempat ini.

Pintu tertutup dan terkunci, sehingga tidak ada jalan kembali. Satu-satunya cara untuk keluar adalah dengan berhasil memperoleh sesuatu yang tersimpan dalam sebuah benda seperti kaca berbentuk tak beraturan yang berada cukup jauh didepan Hinata didalam ruangan itu.

Belum ada satupun langkah kaki yang dilakukan Hinata, tiba-tiba ruangan itu berubah. Ruangan yang tadinya kosong, yang hanya ada dirinya dan kotak kaca berubah mengerikan. Diiringi dengan decitan keras suara-suara mekanik yang dihasilkan oleh gear-gear sebagai penggeraknya. Lantai itu terbelah, bergerak, lalu membuat Hinata dan kotak kaca tak beraturan itu terpisah semakin jauh. Ditengah-tengahnya muncul jurang pemisah selebar puluhan meter yang dibawahnya adalah lava cair berwarna jingga-merah menyala yang sangat panas.

Sebagai jembatan penghubung jurang itu, terdapat banyak tempat pijakan berwarna hitam berbentuk piringan berdiameter kurang lebih 3 meter yang bisa digunakan untuk melompat keseberang. Pijakan-pijakan itu seolah melayang tanpa ada tiang penyangga dan tanpa ada tali penggantung. Entah dengan mekanisme seperti apa, sehingga suatu benda bisa melayang sendirinya, tidak terikat dengan gravitasi seperti itu.

Byakugan

Sia-sia. Byakugan tidak berfungsi. Entah kenapa penglihatan Byakugan sepenuhnya buta dalam ruangan ini. Tidak terlihat apapun, yang ada hanya kegelapan seperti malam tanpa bulan dan bintang ketika mengaktifkan Byakugan. Mekanisme ruangan yang sangat hebat, hingga mampu menghalangi penglihatan Byakugan. Hinata juga merasakan sekarang sistem aliran chakra ditubuhnya seperti berhenti. Hanya fisiknya saja yang tidak terpengaruh. Jika seperti ini, tidak mungkin menggunakan jutsu untuk menyeberang.

Setelah menonaktifkan Byakugan, penglihatan mata normal bisa Hinata dapatkan kembali. Hinata memasang tampang berpikir. Masih dalam posisi berdiri sambil mengamati apa yang ada didepan matanya. Cukup lama Hinata diam tanpa melakukan apapun.

Hinata mulai mengerti, ini adalah traproom. Ruang perangkap yang hanya membiarkan orang-orang tertentu saja yang bisa melewatinya. Merogoh kantong ninja yang melekat dipahanya, Hinata mengambil sebuah kunai. Kunai yang tidak pernah sekalipun Hinata gunakan dalam pertarungan. Sebagai keturunan Hyuga, dia bangga dengan taijutsu khas milik klannya yang bertarung tanpa senjata apapun. Tapi walau begitu, tetap saja Hinata membawa benda itu karena kunai bukan hanya senjata untuk melukai musuh, tapi juga banyak memiliki fungsi lain seperti layaknya sebilah pisau.

Melempar lurus kunai itu, tepat keseberang jurang. Namun belum sampai setangah, perjalanan kunai itu disambar petir besar yang sangat kuat yang entah datang dari mana. Hinata terpaksa memejamkan mata dan menutup telinga akibat efek cahaya terang yang sangat menyilaukan dan bunyi guntur menggelegar yang dihasilkan. Dengan ini, Hinata langsung mengerti bahwa satu-satunya cara melewati jurang ini adalah dengan melompati pijakan-pijakan yang tersusun melayang diantara dua sisi jurang yang terpisah. Begitulah aturan traproom ini.

Menggunakan tali penyebarangan, melompat langsung sejauh mungkin langsung keseberang, atau bahkan terbang seperti Naruto tidak akan berguna pada saat ini. Hanya mati konyol yang ada kalau tidak mengikuti aturan perangkap ini untuk menyeberang, seperti lenyapnya kunai yang dilempar tadi. Hiraishin atau jutsu perpindahan dengan teknik mata rinnegan Sasuke juga tidak bisa dilakukan sebab mekanis ruangan ini melenyapkan kemampuan chakra.

Sekarang hanya satu hal yang harus Hinata pikirkan. Memikirkan bagaimana caranya agar bisa menyeberang dengan selamat.

Bunshin no Jutsu

Boofftt.

Muncul 2 kloning Hinata disampingnya, hanya dua ini lah batas maksimun yang mampu ia keluarkan. Berhasil membuat bunshin karena ternyata mekanisme ruangan ini tidak sepenuhnya menghilangkan aliran chakra, hanya menekan aliran chakra hingga batas terendah yang masih memungkinkan manusia untuk hidup. Jika chakra berhenti sepernuhnya, maka manusia akan mati. Lagi pula pada dasarnya Hinata tidak punya chakra sebanyak suaminya yang bisa membuat ribuan bunshin.

Satu bunshin Hinata melompat ke pijakan pertama yang dipilihnya secara asal, dan. .

Plukkk

Bunshin Hinata tidak sempat berpijak, malah menembus pijakan itu dan jatuh meluncur lalu tercebur kedalam lava cair. Hangus terbakar tak bersisa sedikitpun abunya.

Bunshin keduapun juga mengalami hal yang sama, pada pijakan yang kedua bunshin itu malah lenyap karena tampat pijakannya berubah menjadi semacam gas asam yang sangat korosif. Mengelupas daging bunshin hingga ketulang-tulangnya. Jebakan di traproom ini benar-benar mengerikan.

Brukkk,

Hinata terduduk, kelelahan, padahal hanya sekali ia menggunakan ninjutsu untuk membuat dua bunshin sejak pertama menginjakkan kaki di planet ini. Memutar otak memikirkan bagaimana caranya agar bisa keseberang dan mencapai tempat kotak kaca itu berada. Hampir saja akan menyerah. Bunshin pun dipastikan tidak berguna untuk ini.

Pijakan-pijakan yang melayang itu jumlahnya tepat 100 buah. Tersusun rata seperti sebuah persegi dengan sisi 10x10 pijakan, yang artinya ada 10 baris pijakan dengan 10 pijakan dalam setiap barisnya. Jika diasumsikan harus melompati setiap baris, dan memilih satu dari sepuluh pijakan dalam satu baris tanpa boleh ada pijakan yang terulang. Maka setelah dihitung dengan rumus permutasi secara matematis, hasilnya diperoleh ada 3,628,800 jumlah kemungkinan cara atau urutan melompat dan hanya ada satu diantara sekian banyak cara itu yang benar.

Itupun kalau misalnya harus melompat perbaris dan satu pijakan tiap barisnya, jika tidak mengikuti aturan persamaan permutasi itu, misalkan melompat ketengah dahulu, lalu kesamping lalu kepijakan lain lagi atau tidak harus 10 kali melompat dan berpijak, bagaimana? tentu akan lebih banyak jumlah kemungkinan lagi yang muncul. Mungkin bisa lebih dari ratusan juta kemungkinan.

Hanya keberuntungan saja yang bisa diharapkan, berharap kalau pada percobaan cara pertama sudah menemukan urutan pijakan yang benar. Kalau kena sial, berarti memang harus melakukan percobaan sebanyak jumlah angka diatas. Hal yang tidak logis, tidak masuk akal untuk dilakukan oleh ninja sehebat apapun, termasuk suaminya. Walaupun ditopang dengan chakra biju, mustahil bisa membuat bunshin yang jumlahnya ratusan juta. Selain itu, melakukan percobaan melompat sebanyak itu juga membutuhkan waktu yang sangat lama. Kesimpulannya, solusi teka-teki pijakan tidak bisa dipecahkan dengan cara trial and error atau coba-coba.

... Tunggu, 'Tidak logis'. Hinata mengingat satu kata yang baru saja melintas diotaknya. Tidak mungkin ada hal yang tidak logis ditempat yang memiliki peradaban tinggi seperti ini. Pasti ada sebuah solusi matematis terstruktur untuk menemukan cara menyebarang dalam traproom ini. Dia hanya perlu petunjuk. Hinata merasa dirinya tidak boleh menyerah, seperti sifat dasar suaminya yang tidak kenal kata menyerah. Salah satu slogan yang pernah dikatakan oleh suaminya, 'Menunggu aku menyerah, berarti sama saja kau menunggu selamanya'. Dan ia, sebagai istri yang berbakti tentu mengikuti jalan ninja suaminya itu.

Hinata bangkit berdiri, lalu menatap lekat-lekat pada seisi ruangan traproom berharap ada petunjuk yang bisa dia temukan. Pandangannya terhenti pada pijakan-pijakan yang berupa piringan berwarna hitam itu. Jika dilihat lebih teliti, pada beberapa pijakan yang berwarna hitam itu ada ukiran yang tampak samar berupa simbol-simbol zodiak. Setelah diamati satu persatu, totalnya ada 13 pijakan yang telihat memiliki ukiran simbol itu.

Dipintu masuk traproom tadi juga terdapat 13 simbol yang terbagi disetiap bagian lingkaran. Umumnya memang hanya ada 12 zodiak sesuai jumlah bulan dalam satu tahun, tapi ada juga sistem 13 zodiak yang didasarkan pada rasi bintang.

Merasa senang karena sudah berhasil mendapatkan jawaban, Hinata bergegas hendak melompat pada pijakan pertama sesuai urutan 13 zodiak tersebut.

Namun berhenti ketika kakinya akan melompat, Hinata merasa masih ada yang kurang. Melihat lagi pada posisi pijakan-pijakan itu, jika sesuai urutan terdapat pijakan yang sangat berjauhan urutannya. Pijakan ke-3 yang bersimbol pisces dan ke-4 aries letaknya sangat berjauhan. Letaknya dari sudut ke sudut. Sulit untuk melompat sejauh itu.

Kembali berfikir, petunjuk apa yang masih kurang? Hinata yakin, petunjuk yang dia butuhkan ada di lorong masuk keruangan ini tadi. Berusaha mengingat lagi apa saja yang ia temukan selama berjalan dilorong.

Hinata menyadari satu hal, lorong itu sepenuhya terbuat dari emas. Sesuatu yang sangat menjurus pada sebuah angka, yaitu ratio emas 1,618. Sebuah ratio yang berasal dari pembagian angka dalam deret Bilangan Fibonacci dengan angka sebelumnya. Hal ini juga menjelaskan kenapa menggunakan sistem 13 zodiak. Deret pertama dari enam Bilangan Fibonacci adalah 1, 2, 3, 5, 8, dan 13. Sesuai jika menggunakan 6 pijakan untuk menyeberang berdasarkan jumlah pola dan bentuk ukiran dari lantai dilorong itu yakni 6 buah ukiran berbentuk hexagram. Jika dalam simbol zodiak, maka urutannya menjadi capricorn, aquarius, pisces, taurus, leo, dan sagitarius.

Hinata berharap jawaban yang diperolehnya kali ini benar. Dia tidak punya cukup chakra lagi untuk membuat bunshin yang bisa digunakan untuk mencoba urutan itu. Lagipula, kemungkinan besar perangkap seperti ini hanya menyediakan satu kali kesempatan untuk jalan yang benar. Kali ini Hinata asli benar-benar melompat sendiri.

TAP...

Berhasil, Hinata berhasil melompat dengan selamat sampai diseberang jurang. Dan benar saja, setelah berhasil melompat sampai seberang, pijakan yang benar dan baru saja digunakan Hinata tadi lenyap. Beruntung, dirinya sendiri yang menyebrang. Jika tidak, mungkin teka-teki pijakan penyeberangan dalam traproom ini akan hilang dan tidak pernah terpecahkan sama sekali.

Deru suara mekanik dari gigi-gigi roda yang berputar kembali terdengar. Mekanisme traproom menghilang dan kembali menjadi ruangan kosong persis seperti saat pertama kali Hinata masuk kesini.

Hinata sudah berdiri didepan benda yang ia cari. Phillosopher's seed, benda berwujud seperti mutiara kecil indah yang berkilau berwarna putih keunguan. Benda itu tampak bersinar yang dihasilkan perpendaran cahaya dari dalam intinya. Phillosopher's seed yang merupakan bibit untuk membangkitkan The True Tenseigan, berada dalam kotak kaca berbentuk tak beraturan.

Tapi perjuangan Hinata belum selesai. Bibit Phillosopher's seed terkurung dalam benda terbuat dari kaca bening, kuat, dan tidak bisa dihancurkan yang bentuknya tidak beraturan secara geometris. Benda berupa kaca itu memiliki lebar kurang lebih satu meter dan melayang diudara setinggi tubuh Hinata. Sekali lagi Hinata harus berpikir bagaimana memecahkan puzle yang terakhir ini.

Hinata mengelilingi benda kaca itu, tidak ada petunjuk apapun. Benda polos yang tidak terdapat sedikitpun ukiran atau relief, tidak seperti kebanyakan benda lain yang ada di reruntuhan ini yang pasti dihiasi relief indah Klan Ootsutsuki. Hinata mencoba menyentuh benda itu dengan tangannya, dan ternyata benda itu dapat bergerak. Setiap sisi tampak seperti piece-piece kecil mirip dengan piece rubik yang bisa digerakkan.

Byakugan

Aktivasi Byakugan kali ini berhasil dilakukan Hinata. Berhasil mengaktifkan matanya karena mungkin efek mekanisme traproom yang menghalangi bidang penglihatan byakugan itu sudah tidak ada lagi.

Menggunakan Byakugan, serta daya imajinasi untuk membangun ruang geometris dalam otaknya, tidak perlu waktu lama bagi Hinata hingga berhasil menganalisa dan menyusun bentuk akhir dari puzzle kaca berbentuk tak beraturan itu. Hasilnya adalah sebuah bangun ruang oktahedral. Dalam hal kecerdasan otak, walaupun tidak secerdas Shikamaru dalam membuat banyak strategi jitu, tapi dari segi daya imajinasi dan kemampuan analitis, Hinata tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal seperti ini mudah bagi kebanyakan anggota Klan Hyuga yang memiliki Byakugan, sebab ketika Byakugan akfit, bidang penglihatan berubah menjadi ruang tiga dimensi dengan ruang lingkup 360 derajat kesegala arah. Apalagi Hinata adalah putri keturunan golongan atas Hyuga.

Sekarang yang perlu Hinata lakukan hanyalah memainkan benda yang dapat dikatakan sebagai rubik mirror, seperti yang seringkali ia mainkan dengan cube miliknya. Namun kali ini Hinata harus bekerja menggunakan tangannya. Ini dimensi nyata, bukan dimensi khusus dimana ia hanya perlu merentangkan tangan untuk memainkan cube.

Perlu waktu lebih dari 15 menit untuk menyelesaikannya. Memainkan rubik mirror tidak semudah rubik biasa yang hanya menyusun sisinya berdasarkan warna. Apalagi bentuk bangunnya adalah bangun oktahedral dan ada banyak piece kecil yang harus dia susun.

Berhasil menyelesaikan puzle itu. Tepat dihadapan Hinata, salah satu sisi bangun oktahedral dari kaca itu terbuka. Hinata menjulurkan tangannya untuk mengambil phillosopher's seed yang ada di dalam sana.

Tidak perlu berpikir bagaimana cara untuk menggunakan bibit itu, karena semua penjelasan sudah tertulis cukup detail di prasasti Klan Ootsutsuki yang Hinata lihat dari visualisai rekaman jejak penggunaan cube oleh Kaguya. Hinata segera memasukkan bibit itu kemulut, dan menelannya.

Menfokuskan aliran chakra pada daerah mata, Hinata membangkitkan doujutsu baru. Evolusi dari Byakugan, The True Tenseigan. Ketika mengaktifkan doujutsu ini, iris mata Hinata tidak lagi berwarna ungu pucat layaknya permata amethys seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Iris matanya berubah menjadi ungu gelap dan pekat dengan pupil kecil ditengahnya berwarna putih yang bersinar. Disekitar pupil itu tersebar banyak bintik-bintik kecil berkilau yang membentuk pola spiral. Tidak ada lagi tonjolan pembuluh darah dan pembuluh saraf disekitar matanya. Sungguh, ini seperti mata malaikat yang benar-benar luar biasa indah. Sangat bertolak belakang dengan mata Sharingan yang mengerikan atau mata Byakugan yang membuat wajah penggunanya tampak menyeramkan.

Inilah yang ia butuhkan. Kekuatan baru, kekuatan yang lebih kuat. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi kekuatan untuk membantu apa yang sekarang sedang diperjuangkan oleh Naruto. Dan sebagai seorang istri, tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Hinata selain mampu memberikan yang terbaik untuk sang suami.

Dengan bersatunya 3 hal, yaitu phillosopher's seed, chakra Ootsutsuki dan Byakugan miliknya. Hinata menjadi orang pertama yang berhasil membangkitkan The True Tenseigan. Tujuannya datang jauh-jauh kesudut lain semesta tempat asal Klan Ootsutsuki berhasil ia raih. Setelah beristirahat sebentar untuk mengumpulkan chakra. Hinata langsung pulang keapartemen di DxD universe. Dia tidak ingin membuat Naruto-nya menunggunya lebih lama lagi. Apalagi Naruto dia tinggalkan ketika masih belum sadarkan diri. Hinata tidak ingin ketika Naruto sadar, dirinya tidak ada disamping suaminya ketika pertama kali membuka mata.

.

.

.

-Kota Kuoh-

Serpihan-serpihan cahaya muncul entah dari mana, dalam waktu singkat serpihan cahaya itu berkumpul lalu membentuk sesosok tubuh manusia bergender perempuan. Hinata, berhasil pulang dengan selamat sampai ke apartemennya. Lansung muncul di ruang tamu apartemen karena mudah bagi Hinata mengatur koordinat tempatnya berpindah universe.

Hinata bisa bernafas lega. Namun itu hanya sesaat karena, , ,

"Naruto-kun . . . .", Hinata tidak tahu harus berkata apa. Senang karena suaminya sudah sadar atau merasa bersalah karena ketahuan meninggalkan suami dalam keadaan tidak sadarkan diri. Naruto sedang duduk disofa menatap pada dirinya, mungkin saja sudah mengunggu lama kepulangannya.

"Habis dari mana,,, Hinata?" tanya Naruto dengan wajah serius.

"aa. . . It-" Hinata hendak menjawab tapi tidak tahu harus berkata apa, lagipula seorang Hinata Hyuga tidak pernah berbohong, terlebih lagi pada suaminya sendiri.

"Sudahlah, nanti saja. Aku tahu kalau kau pergi menggunakan cube sendirian dan sekarang aku merasa ada yang berbeda dari dalam dirimu"

"Maafkan aku, Naruto-kun. Aku benar-benar minta maaf, aku hanya tidak ingin menjadi yang selalu dilindu- . . " kata Hinata sembari menundukkan kepalanya

"Hm, kali ini aku memaafkanmu. Tapi lain kali jangan lakukan hal berbahaya sendirian lagi" kata Naruto memotong perkataan Hinata.

"Aku tahu, aku yang salah" sahut Hinata sambil menatap lagi kearah Naruto.

"Tidak, kau tidak salah. Aku hanya tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu padamu dan tidak bisa melindungimu" kata Naruto sendu.

"Tapi dengan sesuatu yang baru ku dapatkan ini, aku pasti akan lebih berguna untukmu, Naruto-kun."

"Tidak perlu seperti itu, aku lebih menyukai kau yang seperti biasanya" kali ini Naruto bisa berkata sambil tersenyum bahagia.

"Emm, sekali lagi maafkan aku"

"Iya, iyaa. Ayo, mandi dulu sana. Bau tubuhmu terasa sangat aneh, aku tidak habis pikir kau pulang dari tempat seperti apa, hahaa" kata Naruto sambil tertawa pelan.

"Um, , ," Hinata mengangguk dan langsung beranjak pergi dari sana.

"Oh iya, kita akan berangkat untuk misi pencarian artefak berikutnya segera setelah tubuhku pulih, Hinata. Mungkin 2 hari lagi" kata Naruto lagi sedikit keras pada Hinata yang sudah berjalan cukup jauh darinya.

"Baiklah, aku setuju" sahut Hinata yang sudah tidak tampak lagi dipandangan mata Naruto

.

Sepasang suami istri keluarga baru Uzumaki, telah merebahkan tubuh mereka masing-masing dikasur yang sama. Kasur berukuran cukup besar yang lebih dari cukup untuk mereka berdua. Malam sudah semakin larut, suasana riuh kota Kuoh tidak terasa lagi padahal kamar apartemen mereka berhadapan langung ke pusat kota dan letaknya pun tidak jauh dari jalan besar.

"Oooh,,, jadi begitu ceritanya" kata Naruto yang sudah berada dibawah selimut yang sama dengan istrinya. Mereka berdua saling berhadapan dengan posisi berbaring miring. Naruto berbaring miring kekanan menatap wajah Hinata yang juga menatap pada dirinya.

Hinata sudah menyelesaikan cerita dan pengalamannya berpetualang sendiri di planet asal Klan Ootsutsuki dan apa hasil yang dia peroleh disana.

"Iya, kamu tidak marah kan, Naruto-kun?" tanya Hinata yang sekarang menatap wajah suaminya. Ia ingin kepastian sikap suaminya, agar hatinya bisa tenang.

"Iyaa, aku tidak marah" jawab Naruto. Lalu mengambil kesempatan untuk

cup...

memberikan kecupan singkat di bibir istrinya. Membuat Hinata merona, kebiasaan yang belum hilang dan mungkin tidak akan pernah hilang sama sekali jika Naruto melakukan hal itu lagi padanya.

"Tapi, , , " kata Naruto menggantung ucapannya, memancing rasa penasaran Hinata.

"Eh? Tapi apa?"

"Kau harus ku hukum." sambung Naruto sambil menyeringan mesum.

Perlahan, tangan kiri Naruto bergerak turun. Tangan yang semula berada di bahu kanan Hinata bergerak turun, mengusap bagian perut sebentar dan terus turun lagi hingga paha. Memberikan elusan hangat dibagian tubuh itu, membuat Hinata segera diserang sensasi yang,,,,

...aaahh, sangat Hinata sukai dan,,,

Hap...

Telapak tangan Naruto berhenti di salah satu bagian tubuh Hinata yang paling sensitif, bagian tubuh yang ketika menerima rangsangan akan memberikan sensasi luar biasa bagi Hinata.

"Ahn, , Hmmmpp" Hinata sudah mulai mendesah erotis tapi segera ia tahan dengan menutup mulutnya, desahan pertamanya pada malam yang panas ini. "Jangan, Narutooo,,, -kuuunhh. Berhenti, kumohonhh... Kalau begini aku tidak akan bisa menahan diri.. . .aaakhh" dan satu desahan lagi, berhasil lolos dari mulut Hinata.

"Hihihiii, tidak akan. Aku tidak akan berhenti sampai aku puas, Hinata" jawab Naruto.

Tangan Naruto masih belum berhenti memberikan sentuhan-sentuhannya, menimbulkan stimulus pada reseptor saraf yang banyak terdapat di bagian tubuh Hinata itu. Bagian tubuh Hinata yang sangat sensitif, yang baru Naruto ketahui setelah melakukan observasi ketika malam pertama dia tidur berdua dengan Hinata sebagai pengantin baru. Sebenarnya ada banyak titik sensitif yang telah Naruto ketahui dari tubuh istrinya, tapi bagian yang sekarang ini dia berikan rangsangan dan sentuhan halus merupakan satu dari tiga bagian favorit Naruto karena bagian ini mampu membuat Hinata mendesah hebat dan menjerit-jerit kegelian.

Seringaian Naruto bertambah lebar, Naruto sudah menggunakan satu jarinya. Jari telunjuk, dengan adanya ujung kuku yang walaupun pendek tapi keras mampu memberikan sensasi sentuhan dan rasa yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya. Bukan menggaruk, tapi hanya sedikit menyentuhkan ujung kukunya dengan sentuhan lembut dan tipis. Sentuhan yang mampu menimbulkan sensasi geli yang luar biasa. Jari itu bergerak-gerak dibagian sensitif Hinata.

"Uuughhhh.. gee..li.., Hmmmpp" desahan Hinata pun menjadi lebih kencang dan lebih panjang dari yang pertama. Terpaksa dia menggunakan tangan kanan untuk membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara-suara erotis lagi. Kaki Hinata tidak bisa berhenti bergerak-gerak tak beraturan sejak Naruto memulai aksi menghukum istrinya.

"Hinata, ayolaaaah.. Tidak usah ditahan begitu suaramu, aku suka mendengarnya" bisik Naruto dengan nada sensual ditelinga istrinya setelah ia berhasil menangkap kaki Hinata yang terus bergerak kesana kemari agar diam dengan tangan kakannya yang sedang nganggur. "Kalau tidak mau, hukumanmu akan bertambah berat" lalu menempelkan bibirnya yang sedikit basah pada daun telinga Hinata

"Janga,,,,aaannh, Narutoo-kuuunhh.." Hinata harus mengeluarkan desahannya lagi ditambah dia sudah memanggil-manggil nama suaminya. Terpaksa begitu karena sentuhan dan rangsangan yang diberikan suaminya semakin hebat. Jari tengah Naruto sudah ikut bermain, dua jari itu sedang menari-nari dibagian tubuh Hinata yang sangat sensitif.

"Ayolaah, Hinata. . . Tidak usah malu padaku mengeluarkan suara seperti itu. Toh, ini bukan pertama kali bagi kita kan?" kata Naruto, mencoba memprovokasi Hinata agar menuruti keinginannya untuk mendesah bahkan menjerit lebih hebat lagi.

"Jang,,,, ssshhhh,,,,, kalau begini aku aahn-kan keluar" kata Hinata terbata-bata karena ucapannya disertai desahan erotis yang tidak kunjung berhenti keluar dari mulutnya akibat permainan yang dilakukan Naruto. Tubuh Hinata menggelinjang kegelian, kepalanya menggeleng-geleng sebagai reaksi dari sentuhan-sentuhan yang Naruto berikan.

"Huh, massa segitu saja sudah mau keluar. Aku tidak akan berhenti sekarang Hinata" sahut Naruto sementara kedua jarinya semakin liar menari-nari dibagian tubuh Hinata yang sejak tadi dipermainkannya.

"Ber-eeenghhh,,, berhenti, Naruto-kun!" Hinata menyuruh suaminya berhenti dengan apa yang dilakukan pada bagian tubuhnya sekarang. Tapi sama sekali tidak di hiraukan oleh suaminya.

Naruto mulai menurunkan kepalanya kebawah, menuju bagian sensitif Hinata yang sedari tadi dipermainkan oleh jari-jarinya. Naruto benar-benar serius memberikan hukuman untuk istrinya yang telah berani meninggalkan dirinya sendirian di apartemen ketika masih belum sadarkan diri.

"Naah, sekarang aku akan menggunakan lidahku. Bersiaplah, Hi-na-ta-ku sayaaang"lanjut Naruto dengan permainannya, sedangkan mulutnya terus mengucapkan kata-kata untuk memberikan sugesti pada pikiran Hinata agar menuruti keinginannya.

"Jangg,,aaahn! itu kotor, Naruto-kun" Hinata tidak bisa berhenti mendesah. Hinata juga meremas rambut Naruto untuk menyalurkan apa yang sekarang dirasakannya dan sekalian menjambaknya agar Naruto tidak jadi menurunkan kepalanya.

Namun usaha Hinata menjambak rambut suaminya gagal. Naruto terus melakukan aksinya walau rambutnya terasa lumayan sakit karena ulah Hinata.

Dan ketika bagian tubuh Hinata yang sejak tadi dikerjai Naruto telah merasakan benda hangat, lunak, dan basah ikut andil memberikan sentuhan di bagian sensitif itu, akhirnya Hinata benar-benar tidak kuat untuk menahan dirinya lagi.

"Aaaakkhhhhh... AKU KELUUAAARRRRR. . . ." desah Hinata disertai dengan jeritan teriakan kencang yang keluar dari mulutnya.

Ctekk

BAAAMMMM.

Pintu kamar dibanting keras oleh Hinata. Dia akhirnya benar-benar KELUAR dari kamar tidur mereka, tidak tahan lagi akan sentuhan-sentuhan Naruto yang menyebabkan dia kegelian tiada tara.

Ctek

Tidak lama setelah itu, pintu kamar terbuka lagi dan Hinata masuk kembali kekamar mereka berdua, tanpa berkata apapun langsung saja menyelusup kedalam selimut mereka dan beranjak tidur. Tidak menghiraukan tatapan heran suaminya.

"Loh, kok kau memakai kaos kaki sih, Hinata? Yang tebal lagi kaos kakinya. Kalau begini aku tidak bisa lagi menggelitiki telapak kakimu seperti tadi. Aku kan masih belum puas, Hinataaaaa" kata Naruto merajuk dengan wajah cemberut khas miliknya.

"Sudahlah, cepat tidur Naruto-kun!" jawab Hinata singkat, berbaring memunggungi Naruto tanpa mempedulikan bagaimana tampang cemberut suaminya itu.

To be Continued. . . .

Note : ya, update lagi. Nih, udah lumayan banyak wordnya, tapi aku engga janji kedepan akan bikin sepanjang ini lagi, tergantung keadaan karena bikin banyak word itu susah loh.

Akhirnya selesai juga petualangan khusus untuk Hinata. Tidak ada pertarungan di chap ini, karena menurutku Hinata itu bukan karakter yang pantas menjadi petarung murni. Dia jauh lebih pantas menyandang titel Yamato Nadeshiko. Dia hanya akan bertarung untuk satu tujuan yang ingin ia capai atau melindungi. Dan inilah jadinya, chap ini aku peruntukkan untuk kalian yang suka teka-teki, puzle, dan matematika. Anggap saja ini pengalihanku sebelum menyiapkan adegan battle berikutnya. Heheee..

Oh iya, kemampuan Hinata OOC disini ya. Dia jauh lebih cerdas dari canon dan dia juga tahu banyak tentang matematika hingga Bilangan Fibonacci. Jangan tanya deh bagaimana bisa di dunia shinobi ada pengetahuan seperti itu dan Hinata mempelajarinya pula. Sebab ini fanfic, semuanya bisa terjadi. Hahahaa. Pokoknya kalau kurang mengerti tentang Bilangan Fibonacci, ratio emas, bangun oktahedral, rumus permutasi, sistem 13 zodiak dan hal-hal lain yang berhubungan dengan matematika di chap ini, searching aja pake google. Disana tersedia lengkap kok.

Setelah mendapatkan The True Tenseigan, Hinata tidak serta merta menjadi kuat yang mampu sejajar dengan Naruto dan Sasuke. Fisiknya lemah, tapi kemampuan mata Hinata sangat hebat dan berguna. Nanti juga akan dijelaskan kemampuan dari mata baru itu. Yang jelas kemampuannya kubuat berbasis sci-fi, tidak seperti jutsu ninja pada umumnya.

Lalu, kalau mau lebih jelas dengan deksripsi pola mata The True Tenseigan, search aja di google picture 'galaksi bimasakti'. Terus pilih salah satu yang gambarnya paling bagus menurut anda, lalu kasih latar hitam dibelakangnya. Jadi deh, pola iris mata The True Tenseigan. Saya ga bisa bikin gambar, jadi bikin seperti itu aja. Mengingat Klan Ootsutsuki dicerita ini juga berlatar sebagai klan yang menjunjung tinggi sistem astronomi dan rasi bintang (zodiak) sehingga pola seperti itu lah yang menurutku paling pas. Kalau mau komplain, silahkan, hohooo.

Oh iya, hampir lupa. Gimanna adegan sugestifnya, yang pernah ku janjikan sebagai pengganti lemon? Pasti udah pada ngeres kan? Hihhihihiiii, , ,*)ketawa mengejek para reader mesum.

Dan sesuai saran kalian, aku tidak akan pernah sekalipun lagi menyinggung atau mengungkit flame tidak berisi yang muncul dikolom review.

Saya masih memiliki kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di kolom review atau PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.