Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : T

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 18 Desember 2015

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . . .

"Dengar Sirzech, kau harus berhasil menjalankan misi rahasia yang sudah kita berempat bicarakan saat rapat kita sebelum ini. Kau mengerti kan?" tanya Falbium dengan tatapan tajam. Dia tidak ingin ada kata gagal dalam rencana besar yang telah disusunnya.

"Baiklah, aku mengerti. Akan ku usahakan sebaik mungkin" jawab Sirzech. Serafall dan Ajuka diam saja untuk hal ini, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka berdua juga menginginkan hal yang sama dengan yang dipikirkan Falbium.

Dan pernyataan terakhir yang keluar dari mulut Sirzech, adalah penutup dari rapat mereka berempat hari ini.

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 20. Perjanjian Manusia Pengguna Chakra dengan Si Gadis Iblis.

-Kota Kuoh-

"Haaah,,,, kenapa sih Sona minta laporan bulanan klub ku hari ini? Besok-besok kan bisa. Lagian laporan ini tidak penting juga kan?. Hanya untuk formalitas administrasi sekolah saja" gumam seorang gadis berambut merah yang sedang menggerutu kesal.

Gadis itu, walaupun dalam benaknya sedang menggerutu kesal, tapi dia tetap berjalan dengan anggun, layaknya seorang putri kerajaan. Begitulah sikapnya jika sedang di sekolah, menjaga image agar tetap dikenal baik sebagai siswi bermartabat. Dan keanggunannya didukung oleh bentuk tubuh ideal seorang wanita dewasa yang diimpikan banyak wanita lain dan selalu dipuja-puja para pria, walau ia sendiri masih remaja SMA. Gadis dengan rambut merah panjang yang tergerai, beriris mata berwarna hijau dengan wajah yang cantik. Rias Gremory, yang dikenal orang-orang sebagai putri Keluarga Gremory pemilik yayasan yang mendanai sekolah ini, Kuoh Gakuen.

Saat ini Rias sedang berjalan menuju ruang OSIS untuk memberikan laporan yang dia bawa. Untuk diserahkan pada ketua OSIS yang juga adalah sahabatnya sendiri. Kini dia telah sampai didepan pintu ruangan yang dia tuju. Mengetuk pintu itu, , ,

tok tok. . .

Tanpa menunggu ada yang membukakan pintu, langsung saja Rias masuk. Memang sudah jadi kebiasaannya.

"Halooo, Sona. . . " sapa Rias dengan riangnya.

"Oh, Rias. Ada apa?" sahut seorang gadis berambut pendek berkacamata, dia lah orang bernama Sona yang dimaksud Rias.

"Ck, kau lupa? Kau sendiri yang memintaku kemari hari ini" Rias makin kesal sekarang, serasa sedang dipermainkan sahabatnya sendiri.

"Maaf, aku lupa. Beberapa hari ini aku banyak masalah" kata Sona dengan nada berat. Raut kelelahan tampak dari wajahnya, wajar saja karena tugasnya yang banyak sebagai ketua OSIS, lalu sebagai salah satu penanggung jawab teritori kekuasaan Keluarga Iblis Sitri, dan ditambah selama dua hari kemarin harus merawat dua orang manusia sekarat yang ia tolong.

"Haaaah,,," memaklumi keadaan Sona, Rias menghela nafas saja, "Kalau kau memang lelah, katakan saja padaku dari awal. Kelompok ku bisa saja menggantikan tugas malam kalian"

"Terima kasih atas tawarannya. Tapi maaf, kurasa itu tidak perlu" jawab Sona. Sebagai seorang yang terbilang perfeksionis, dia jarang menerima bantuan orang lain jika menyangkut kewajibannya.

Rias melihat-lihat keadaan ruang OSIS, sama saja sejak dulu, tidak ada yang berubah. Terasa cukup sepi. Hanya ada beberapa orang didalam ruang OSIS, ada gadis yang ia kenal yaitu Tsubaki, Momo, dan Ruruko yang sedang sibuk dengan kerjaannya masing-masing sebagai anggota OSIS. Anggota OSIS lain sedang tidak ada, mungkin ada yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu diluar atau masih belajar di kelas. Rias pun berjalan mendekati Sona yang sedang duduk dikursi, dibalik meja kerjanya.

"Nih, laporan yang kau minta" kata Rias to the point, lalu menyerahkan kertas-kertas yang sejak tadi ia bawa.

"Iyaa..." jawab Sona mengambil benda yang diserahkan Rias.

Karena merasa tidak ada urusan lagi, Rias pun berjalan keluar, menuju pintu untuk segera kembali ke ruang klubnya yang mewah. Namun langkahnya terhenti, sebab ada seorang gadis yang sangat cantik tiba-tiba ada di depannya. Baru saja gadis itu masuk setelah membuka pintu ruang OSIS tanpa mengetuk terlebih dahulu. Aneh bagi Rias, sebab dia tidak kenal sama sekali dengan gadis ini, tapi dengan mudahnya bisa masuk ke ruang OSIS, ruangan sahabatnya.

"Anoo, , , , maaf kalau aku mengganggu. Permisi" gadis itupun melewati Rias berjalan menuju sebuah pintu di ruang OSIS, membukanya lalu masuk keruangan dibalik pintu itu.

Rias masih memperhatikannya. Gadis berambut indigo gelap panjang sepinggang dengan iris mata ungu pucat. Dia berpakaian kasual berupa longdress berwarna krem selutut dan celana panjang yang tidak ketat, menandakan bahwa dia bukan siswi Kuoh Gakuen karena tidak memakai seragam di jam belajar sekolah seperti sekarang ini.

Rias sempat mengira itu pelayan, tapi setelah mengetahui gadis itu adalah manusia, tidak ada aura makhluk supranatural yang terpancar dari gadis berambut indigo gelap tadi, timbul banyak pertanyaan dibenak Rias. Dia tahu pasti, Sona tidak terlalu suka jika ada pelayan keluarganya sampai disini, selain itu Sona juga bukan orang yang suka seenaknya membawa manusia masuk kedalam wilayah kekuasaannya.

Rias berbalik lagi menatap sahabatnya, ingin bertanya agar rasa ingin tahunya lenyap, "Sona, siapa gadis itu?"

"Maksudmu?" tanya Sona balik tidak mengerti. Mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi dia tidak menyadari apa yang di alami Rias. Pun begitu dengan anggota OSIS lain yang ada diruangan itu, tidak ada yang menjawab pertanyaan Rias sebab masing-masing sibuk dengan tugas yang sedang dikerjakan.

"Tadi aku melihat ada gadis berambut gelap panjang lewat di depanku, siapa dia?"

"Itu hanya imajinasimu. Sadako mungkin,," jawab Sona singkat.

"Haaaah? Jangan bercanda" balas Rias tidak terima.

"Maaf, maaf" kata Sona santai, dia sedikit meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk. "Dia, Hinata-san"

Rias diam menatap Sona, menanti informasi lainnya. Kalau hanya nama saja, itu sangat kurang.

"Dia manusia, 3 hari yang lalu aku menemukan dia pingsan sekarat bersama temannya. Kemarin dia sadar, tapi temannya masih belum. Sekarang dia mungkin sedang menunggui temannya itu diruang perawatan itu" kata Sona sambil menunjuk ke arah pintu dimana Hinata tadi masuk.

Hinata sudah sadar sejak kemarin, sedangkan Naruto masih terbaring pingsan. Mereka berdua memang sama-sama sekarat, tapi luka yang diterima Naruto jauh lebih parah, terutama di bagian punggungnya. Hal ini mungkin saja terjadi karena saat itu sebelum ditemukan sekarat, Naruto memeluk Hinata lalu menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng.

Dan karena Hinata sudah sadar dan sudah bisa beraktifitas seperti biasa, jadi dia meminta pada Sona dan Tsubaki agar tidak perlu lagi merawat Naruto. Dia bisa melakukannya sendiri, lagipula Hinata bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain. Sona dan Tsubaki pun hanya mengiyakan saja.

Hinata juga sudah berkenalan dengan seluruh anggota OSIS, bahkan sudah saling berbicara panjang lebar dengan Sona tentang tempat yang ia diami sekarang yakni Kuoh Gakuen. Hinata sudah lumayan mengerti tentang sistem pendidikan di dunia yang baru saja ia huni, lebih tepatnya sistem pendidikan negara Jepang. Walaupun begitu, Hinata tidak pernah membicarakan tentang insiden sekaratnya dirinya dan Naruto kepada Sona.

Sona pun merasa hal itu cukup sensitif, mengingat sampai sekarang Naruto belum juga sadar. Jadi dia juga tidak menanyakan hal itu dulu padah Hinata, mungkin nanti saja, pikir Sona.

Kembali lagi pada Rias.

"Kau? Menolong manusia?" Rias masih belum bisa percaya, pasalnya aneh mendapati seorang Sona terlalu baik pada ras manusia.

"Tenang lah. Nanti akan ku ceritakan semuanya padamu. Aku sedang sibuk sekarang, kalau kau ada urusan, pergilah dulu. Aku tidak akan merahasiakan sesuatu darimu, Rias" kata Sona dengan nada yang sangat meyakinkan.

"Baiklah, aku tunggu saat itu" kata Rias, lalu tanpa basa-basi langsung meninggalkan ruang OSIS.

"Huuuuh" menghela nafas lega, Sona bisa melanjutkan kesibukannya sekarang tanpa gangguan dari sahabatnya.

Sona memang berencana akan memberitahukan hal ini pada Rias, karena memang hal ini tidak bisa selamanya ia sembunyikan dari sahabatnya. Tapi walau begitu, Sona sama sekali tidak berencana untuk menceritakan semua yang ia tahu. Sekedarnya saja, yang cukup untuk menjawab semua rasa ingin tahu sahabatnya. Ini adalah urusannya, dan dia tidak ingin Rias ikut campur.

Tsubaki, Momo, dan Ruruko tadi sempat menghentikan aktifitasnya karena pertanyaan Rias yang membuat suasana sedikit tegang. Beruntung sang ketua mereka bisa mengatasinya tanpa masalah. Akhirnya mereka bertiga pun melanjutkan pekerjaannya. Mereka sudah tahu tentang kejadian yang menimpa Naruto dan Hinata, jadi mereka tidak ingin ambil pusing.

Hening melanda karena empat gadis itu sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tapi itu tidak bertahan lama sebab, , ,

"Naruto-kun" terdengar suara bernada senang dari arah kamar perawatan. Walaupun pelan, tapi telinga iblis peka untuk mendengar suara sepelan itu.

Segera saja mereka masuk ke kamar perawatan, ingin tahu apa yang terjadi. Dan setelah masuk, ternyata mereka mendapati Naruto sudah siuman. Walaupun masih terbaring, tapi matanya sudah terbuka dan bisa berbicara.

.

.

.

Ini sudah hari keempat Naruto dan Hinata bermalam di Kuoh Gakuen. Hari sudah sore sehingga semua anggota OSIS telah berkumpul diruangan itu. Naruto pun sudah sepenuhnya pulih, sejak sadar kemarin pagi dengan cepat dia memperoleh kesehatannya lagi. Karena Naruto tidak ingin merepotkan Sona dan teman-temannya, dia ingin segera pulang ke apartemen. Dan beginilah sekarang, berdua bersama Hinata hendak berpamitan dengan seluruh anggota OSIS.

Naruto sudah kenal satu persatu dengan semua anggota OSIS karena sejak dia sadar, secara bergantian anggota OSIS yang semuanya adalah iblis menyapa dirinya. Naruto membalasnya dengan hangat karena tidak ada yang salah dengan iblis-iblis anggota OSIS yang menyapanya. Semuanya bersikap baik, bahkan beberapa gadis iblis yang sudah pernah bertemu langsung dan bertatap muka dengannya ketika membasmi iblis liar jenis skull reaper tempo hari, menyampaikan terima kasih pada Naruto dan Hinata yang belum terucap saat itu hingga akhirnya berbicara lepas dan santai tanpa beban cukup lama.

Naruto yang mudah akrab dengan siapa saja, menjadikan suasana antara dia dan gadis-gadis iblis menjadi hangat. Hanya Saji yang tampak kurang senang, bukan karena dia tidak menyukai Naruto. Tapi yaa tau lah,,, ada sedikit bumbu persaingan karena Saji kalah supel dengan Naruto dalam memperoleh perhatian gadis-gadis disana.

"Sona-san, yang lainnya juga. Terima kasih telah menolong kami berdua. Aku tidak ingin merepotkan kalian kalau tinggal disini lebih lama. Kalau begitu kami langsung pulang ya" kata Naruto berpamitan pada Sona dan peeragenya, lalu menatap ke arah Hinata, "Ayo Hinata, kita pulang"

Hinata membalasnya dengan anggukan, kemudian keduanya berjalan keluar dari ruang OSIS, tapi sebelum meraih kenop pintu,,,

"Tunggu!" suara Sona menghentikan langkah Naruto dan Hinata.

"Kita masing-masing tahu kalau diri kita sama-sama sebuah entitas yang melebihi keberadaan manusia biasa. Bagaimana kalau kita bekerja sama?" tawar Sona.

Ini sudah Sona pikirkan matang-matang sejak kegagalannya menjadikan Naruto dan Hinata sebagai budaknya. Sona berpikir bahwa Naruto sudah tahu tentang kegagalan ritual reinkarnasi itu, mengingat sosok astral yang menghalangi ritual reinkarnasi tampak sangat dekat dengan Naruto. Tapi melihat Naruto yang sama sekali tidak pernah mengungkit tentang kejadian itu sejak kemarin, Sona merasa masih memiliki kesempatan. Dan sekaranglah saatnya, Sona tidak akan menyia-nyiakannya.

"Aku memang tidak tahu apa yang sedang kalian lakukan di Kuoh, tapi aku merasa dengan kerja sama ini kami bisa memberikan keuntungan yang setimpal untuk kalian berdua." lanjut Sona lagi.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto bingung. Dia dan Hinata sudah berbalik dan menatap Sona dan semua anggota OSIS lainnya.

Naruto merasa yakin kalau gadis bernama Sona yang menawarkan kerja sama padanya sama sekali tidak mengetahui tentang dirinya, Konoha, apalagi misi penting yang sedang dijalaninya berdua dengan Hinata. Tapi tawaran kerja sama yang datang tiba-tiba ini, mau tidak mau membuat otaknya yang berjalan dengan kecepatan seadanya itu, terpaksa kebingungan.

"Mudah saja, kalian membantu kegiatan kami dan kami menjamin keberadaan kalian di kota ini. Ku beritahukan padamu satu hal, bahwa Kota Kuoh ini adalah teritori kekuasaan dua keluarga iblis besar, yaitu Keluarga Sitri dan Gremory, keluargaku dan keluarga sahabatku yang juga bersekolah di tempat ini. Aku bisa saja memberitahukan pada pemimpin kaum kami tentang manusia dengan kekuatan tidak biasa seperti kalian berdua"

Dengan cara ini walaupun terkesan sedikit memaksa, Sona berniat mengikat Naruto dan Hinata dalam sebuah perjanjian. Tujuan Sona ialah sedikit demi sedikit menyelidiki tentang siapa dua manusia ini sebenarnya, dan tentu saja memanfaatkannya untuk keuntungannya sendiri. Licik memang, tapi mau bagaimana lagi? Hanya cara ini yang bisa dia lakukan sekarang. Dan Sona pun memang sangat membutuhkan kerjasama ini.

"Kau mengancamku?" kata Naruto tidak terima.

Naruto sudah mengerti bahwa dia tidak bisa mengacuhkan hal ini begitu saja. Keputusan yang dia buat sejak awal yaitu berurusan dengan makhluk supranatural saat dia memilih untuk menolong Sona ketika terjadi insiden penyerangan Kokabiel dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi, malah berbalik secara tidak terduga. Naruto tidak menyangka kalau gadis iblis didepannya benar-benar pintar memanfaatkan situasi.

Perkataan tegas dari mulut Naruto sontak membuat semua anggota peerage Sona bersiaga. Tomoe sudah mengeluarkan setengah katana miliknya dari sarungnya, bahkan Tsubasa sudah menyiapkan kepalan tinju, tapi tidak dengan King mereka. Sona masih tenang dengan wajah datarnya.

"Tenanglah Naruto-kun, kita dengarkan saja dulu apa yang akan dia tawarkan" Hinata mencoba berpikir jernih dengan kepala dingin.

"Baiklah, bagaimana kalau kita membicarakan ini sambil duduk" usul Sona.

Keadaan kembali tenang. Naruto dan Hinata akhirnya menurut dan duduk berdampingan di sofa, berhadapan dengan Sona yang sudah lebih dahulu duduk di sofa yang berseberangan meja dengan Naruto dan Hinata.

Sona pertama kali buka suara, "Pertama aku jelaskan dahulu. Seperti yang kau tahu, aku dan semua bawahanku yang ada disini adalah ras iblis, salah satu dari beberapa jenis makhluk supranatural yang ada didunia ini. Lalu, Kota Kuoh ini adalah teritori kekuasaan iblis yang tanggung jawabnya di serahkan kepada keluarga iblis Sitri dan Gremory. Jadi jika ada makhluk supranatural lain yang membuat ulah atau ada manusia yang mengetahui tentang makhluk supranatural akan menjadi urusan kami"

"Aku mengerti. Langsung saja, apa yang kau mau dalam kerjasama ini?" tanya Naruto.

"Seperti kataku tadi, aku butuh bantuan kalian untuk setiap kegiatan kami. Contohnya seperti bantuan yang pernah kau berikan hampir dua minggu yang lalu ketika membasmi iblis liar ditengah hutan, kalian berdua kelihatan seperti petarung profesional jadi pasti akan sangat membantu pekerjaan kami. Selain itu juga mengurus beberapa masalah lain yang berkaitan dengan urusan supranatural, dan mungkin nanti kalian berdua bisa membantuku dalam rating game yaitu turnamen adu kekuatan antar keluarga iblis beberapa bulan lagi" kata Sona menjelaskan.

Bagi Sona, membasmi iblis liar bukan masalah. Tapi untuk rating game, mengingat sahabatnya Rias memiliki sekiryutei, tentu dia tidak ingin kalah. Sona tahu kalau Issei saat ini masih lemah dan tidak perlu dikhawatirkan. Sona juga memiliki Saji pemegang Sacred Gear Naga Hitam Poison Dragon yang bersemayam Vritra, salah satu dari Lima Raja Naga (Five King Dragon), tapi Saji pun juga masih lemah. Namun Sona yakin bahwa pemegang Boosted Gear budak Rias itu memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi High Class Devil dan potensinya melebihi saji.

Draig sang Kaisar Naga merah yang bersemayam dalam Boosted Gear mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari Vritra yang termasuk Lima Raja Naga, Draig adalah Naga Surgawi. Serta pemegang Boosted Gear, si Issei itu mungkin masih menyembunyikan bakat tak terduga lainnya. Mau tidak mau, untuk seorang Sona yang pemikirannya jauh kedepan harus mempersiapkan rating game dari sekarang. Karena itulah, dia butuh petarung profesional yang mampu bertarung taktis dengan cepat, efektif, dan efisien seperti yang ia yakini ada pada diri Naruto dan Hinata.

Selain itu, ada yang lebih penting bagi Sona. Rasa penasarannya karena kemisteriusan dari sosok Naruto dan Hinata telah menyita banyak pikirannya. Dan Sona bukanlah orang yang menerima jika ada suatu hal yang tidak terselesaikan oleh otak jeniusnya. Jika berhasil membuat Naruto dan Hinata ikut dalam kelompoknya, Sona merasa akan lebih leluasa membongkar identias dan kemampuan dua manusia itu.

"Lalu apa keuntungannya untuk kami?" tanya Naruto.

"Yang pasti, keberadaan kalian berdua akan aman di kota ini. Aku sendiri yang menjamin. Jika kalian berada di bawah naungan keluarga iblis Sitri, tidak akan ada yang macam-macam dengan kalian baik itu dari kalangan iblis sendiri ataupun dari jenis makhluk supranatural lainnya."

"Hanya itu saja, Sona-san?" tanya Naruto.

Naruto merasa itu saja masih belum cukup sebagai imbalan jika ia memberikan bantuannya pada Sona. Mudah saja bagi ninja seperti dirinya dan Hinata untuk menyembunyikan diri, karena bersembunyi memang sudah menjadi keahlian alaminya sebagai seorang ninja. Lagipula, Naruto sama sekali tidak ingin misi yang ia kerjakan terganggu akibat ikatan kerjasama ini nantinya.

"Bukan hanya itu, aku juga akan memberikan kompensasi. Uang dan tempat tinggal serta fasilitas lainnya, bisa kalian miliki sesuka kalian. Aku tahu kok, Naruto-san sering kelelahan karena terlalu banyak mengerjakan pekerjaan fisik untuk mencari uang. Bagaimana?" Sona menawarkan hal menggiurkan yang pasti menarik nafsu manusia. Mungkin setelah ini Sona juga akan menawarkan wanita-wanita cantik untuk Naruto sebagai imbalan.

"Haaaah, kalian benar-benar tipikal makhluk yang selalu menawarkan kenikmatan. Pantas saja kalian disebut iblis" cibir Naruto. Dia sudah terbiasa hidup susah, tawaran itu sama sekali tidak membuatnya tertarik.

Karena cibiran Naruto, Sona merasa bahwa Naruto bukan manusia yang bisa dipancing nafsunya. Terpaksa dia mengeluarkan kartu As nya, "Oke, kalaupun kalian tidak tertarik dengan hal seperti itu. Bagaimana kalau aku memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang sebagai bayarannya?"

"Apa itu?" tanya Naruto penasaran.

"Informasi" jawab Sona mantap.

"Sepertinya~~,,, aku tidak bisa bilang tidak jika seperti itu" kali ini Hinata yang menjawab tawaran Sona. Dia tiba-tiba saja bersuara, padahal sejak tadi dia diam saja membiarkan suaminya menangani masalah ini.

"Eeeh" Naruto terkejut menatap Hinata yang duduk disampingnya. Kenapa dengan mudahnya Hinata percaya pada Sona padahal dirinya sudah berusaha keras untuk menahan diri dan tidak tergoda dengan bujuk rayu maut gadis iblis didepannya tadi.

Apa yang diputuskan Hinata, adalah keputusan yang sangat tepat. Mereka ninja, dan kebutuhan ninja akan sebuah informasi sangat penting. Informasi adalah hal yang sangat berharga dan menentukan tindakan selanjutnya yang akan diambil oleh seorang ninja. Bahkan saat di akademi, demi keberhasilan sebuah misi, mereka diajarkan bahwa sebuah informasi bisa menjadi jauh lebih bernilai daripada harga satu nyawa. Ketiadaan informasi atau kesalahan dalam mencari informasi, bisa mengakibatkan banyak orang terbunuh. Satu nyawa lebih baik daripada kehilangan satu desa. Begitulah cara kerja ninja yang di ajarkan di akademi.

Sedangkan Sona tersenyum simpul mendengar keputusan Hinata.

"Sudahlah, kali ini biarkan aku saja yang bicara Naruto-kun." kata Hinata pada Naruto, meminta ijin untuk mengambil alih pembicaraan. Hinata sudah memikirkan hal ini matang-matang walaupun keputusan yang ia ambil, dia buat dalam waktu singkat.

"Emm, kami setuju" kata Hinata tegas pada Sona.

Hinata mengulurkan tangan kanannya, mengajak berjabat tangan sebagai tanda perjanjian kerjasama ini telah disepakati. Sona, tentu saja dengan cepat menyambut uluran tangan Hinata.

"Sudah ku duga, kalian bukan pengembara biasa" tutur Sona setelah selesai berjabat tangan dengan Hinata.

Sementara semua anggota peerage Sona, sejak tadi diam saja menikmati pertunjukan keahlian diplomasi yang ditampilkan King mereka. Ya, sekarang mereka sadar kalau laki-laki bernama Naruto memang sangat susah untuk dibujuk, tapi gadis bernama Hinata yang bersamanya, jauh lebih pintar untuk mencerna situasi.

Sejak awal Sona berjumpa dengan Naruto dan Hinata ketika insiden penyerangan Kokabiel [[AN: Kembali ke chap 9]], dia sudah menduga bahwa dua manusia yang menolongnya itu, baru saja mengetahui tentang eksistensi dunia supranatural. Walaupun saat itu Naruto berkata padanya kalau dia bisa membedakan antara manusia dan bukan manusia, tapi saat itu Naruto berkata hanya sebatas 'makhluk supranatural' saja. Kata-kata itu kemungkinan besar secara tersirat bisa saja diartikan kalau Naruto saat itu belum tahu tentang pembagian ras makhluk supranatural menjadi iblis, malaikat jatuh, malaikat, youkai dan lain-lain.

Hal ini sudah merujuk pada kemungkinan bahwa Naruto dan Hinata memang minim informasi. Lalu pengakuan mereka sebagai pengembara, ini menjadi kesempatan emas bagi Sona sebab dia tahu kalau seorang pengembara dengan suatu misi penting dan rahasia, pasti lah membutuhkan sekali yang namanya informasi. Dan sekarang, melihat respon yang ditunjukkan Hinata, membuat dugaan Sona sejak awal menjadi,,,, terbukti benar.

Kerjasama yang Sona inginkan akhirnya tercapai. Dia yakin bahwa dua orang didepannya bukanlah manusia petarung sembarangan. Naruto, walaupun tampak konyol dan ceroboh jika dilihat dari sikapnya sejauh yang Sona amati, tapi jelas dia adalah seorang jenius pertarungan mengingat apa yang dilakukannya pada pertemuan pertama dan kedua mereka. Lalu Hinata, kemampuan mata miliknya sangat berguna untuk mengobservasi lawan dan keadaan sekitar, dan juga tampak cerdas serta selalu tepat dan matang ketika mengambil keputusan.

Walaupun Sona belum mengetahui sama sekali sampai mana batas kekuatan tertinggi Naruto dan Hinata, tapi hanya dengan mengingat bagaimana sikap mereka berdua dalam menghadapi pertarungan ketika melawan iblis liar saja, jelas sekali bahwa dua orang ini tidak akan mudah untuk di kalahkan.

"Nah, kalau begitu bisa jelaskan bagaimana posisi dan tugas kami dalam pernjanjian kita ini dengan lebih detail?" tanya Hinata. Dia perlu ini untuk menyusun agenda kegiatan jauh kedepan, karena Hinata tentu tidak ingin misi penting yang ia jalani bersama Naruto terganggu sedikit saja.

"Sebelum itu, kalian harus tahu bahwa kelompok ku menggunakan sistem evil piece. Sebuah sistem yang khusus digunakan oleh iblis kelas atas berdarah murni seperti diriku"

Pembicaraan sepihak dari mulut Sona, dia menceritakan secara panjang lebar tentang iblis dan makhluk supnaratural lainnya. Bahkan sejarah umum sejak Great War dan kematian Kami-sama (The God of Bible), beberapa perseteruan dikalangan makhluk supranatural hingga saat ini, lalu sistem keluarga iblis yang berhubungan dengan peerage dan rating game serta tidak lupa tentang reinkarnasi iblis dalam rangka memperbanyak jumlah populasi ras iblis.

Ketika menyinggung tentang reinkarnasi, Naruto sempat merubah ekspresi wajahnya, sepertinya Kurama sudah menceritakan apa yang terjadi atau apa yang dilakukan Sona pada tubuh Naruto dan tubuh Hinata ketika masih belum sadar. Beruntung Hinata tidak ingin mempermasalahkan hal ini lebih jauh, sehingga Sona bisa kembali tenang.

Cerita Sona sudah menghabiskan waktu berjam-jam. "Peran kalian nanti adalah menjadi bagian dari anggota peerage kerajaanku, dengan kata lain sebagai bawahanku. Tapi hanya sebagai peerage palsu. Aku sendiri yang akan mengaturnya sehingga tidak akan ada orang lain selain kita semua yang ada disini, yang mengetahui kalau kalian berdua adalah partnerku, bukan bawahan ku. Mengerti?" kata Sona mengakhiri penjelasan panjangnya.

"Aku mengerti. Kami setuju, iya kan, Naruto-kun?" kata Hinata.

Naruto pun mengangguk menyetujui keputusan Hinata karena ia sudah mempercayakan hal ini sepenuhnya pada istrinya. Naruto tahu bahwa otak istrinya itu lebih baik daripada otaknya untuk keadaan seperti ini, dan Naruto sangat mensyukuri itu, memiliki Hinata sebagai istrinya.

"Oh iya, aku ingin kalian menjadi siswa sekolah ini agar kita bisa lebih sering bersama. Tenang saja, nanti aku yang akan mengurusnya. Kalian akan mulai masuk sebagai siswa pertukaran pelajar dari luar negri 1 minggu lagi."

"Tidak masalah bagi kami" jawab Hinata. Dia merasa bersekolah di Kuoh Gakuen tidak akan mengganggu agendanya misinya bersama Naruto. Dia yakin kalau masih sanggup memanage waktu yang ia miliki dengan baik.

Sona tersenyum mendengar jawaban Hinata, langkah pertamanya untuk lebih dekat dan lebih sering bersama Naruto dan Hinata sudah berhasil.

"Sekarang giliranku bertanya. Siapa sebenarnya kalian? Dan darimana kalian berasal?" kata Sona.

"Kami berdua manusia yang disebut ninja" jawab Hinata singkat.

"Maksudmu, mata-mata sekaligus petarung ahli taktik yang selalu bergerak sembunyi-sembunyi?" tanya Sona memastikan. Naruto dan Hinata menjawab dengan anggukan.

Sejauh yang Sona tahu tentang ninja di dunia ini, ninja adalah mata-mata, ahli taktik, bergerak sembunyi-sembunyi tanpa disadari dan selalu mengalahkan musuh dengan cepat, efektif dan efisien menggunakan usaha yang minimal tapi memperoleh hasil yang maksimal. Julukan yang tepat bagi ninja adalah The Invisible Assassins. Sebuah julukan yang terdengar cukup mengerikan.

Sekarang dia bisa mengerti, bagaimana bisa Naruto dan Hinata mengambil alih pertarungan dengan cepat ketika melawan skull reaper tempo hari bahkan menghabisinya. Hanya dengan informasi sedikit saja tentang skull reaper yang dia katakan waktu itu, Naruto langsung mempunyai cara untuk mengalahkan skull reaper dengan cepat serta memanfaatkan semua kemampuan anggota peeragenya yang ikut bertarung waktu itu dengan sangat baik. Naruto dan Hinata juga bisa masuk kedalam arena pertarungan tanpa ketahuan padahal dia sudah memerintahkan sisa peeragenya yang lain untuk memasang kekkai yang membuktikan bahwa mereka berdua memang benar adalah ninja yang ahli bergerak sembunyi-sembunyi. Dan melihat teknik yang digunakan Hinata untuk melumpuhkan skull reaper, yaitu hanya pukulan kecil tapi langsung menuju titik-titik vital anggota gerak skull reaper sehingga gerakan iblis liar itu langsung menurun drastis, membuktikan kalau Hinata hanya perlu sedikit usaha untuk melumpuhkan skull reaper.

Sona senang, inilah yang ia butuhkan. Selama ini dikalangan iblis, tidak ada satupun dalam sistem evil piece ada yang berisi petarung dengan keahlian seperti ninja. Tentu saja ini hal baru yang pasti akan meningkatkan kekuatan tempur kerajaannya untuk bekal rating game nanti. Berbeda dari Rias yang perlu petarung yang berkekuatan besar, Sona yang terkenal dengan kecerdasannya lebih membutuhkan petarung yang handal mengalahkan musuh dengan cepat tanpa perlu banyak tenaga.

"Tapi kami bukan berasal dari dunia ini" lanjut Hinata jujur. Naruto juga menampilkan ekspresi biasa saja, menunjukkan bahwa kejujuran yang dikatakan Hinata tidak masalah baginya.

"Apa maksudmu? Jangan bercanda" kali ini Sona dibuat sangat terkejut.

"Sebenarnya dimensi ruang dan waktu dunia ini tersusun secara paralel. Satu dengan yang lain terpisah dan sama sekali tidak terhubung. Dunia yang kita pijak ini hanyalah bagian kecil dari sistem multiuniverse. Aku juga tidak terlalu mengerti bagaimana konsep sebenarnya, yang jelas kami adalah pengembara. Bukan pengembara atau pengelana biasa tapi kami adalah pengembara yang melintasi batas-batas universe" kata Hinata panjang lebar, ditambah sedikit bumbu kebohongan. Naruto tentu tidak akan mengijinkan dirinya membeberkan informasi tentang eksistensi dan keberadaan Konoha.

"Kalian alien?"

"Ku rasa tidak. Buktinya komponen dan struktur tubuh kami sama persis dengan manusia yang ada didunia ini" jawab Hinata.

"Lalu bagaimana bisa kalian sampai disini?" tanya Sona masih setengah percaya.

"Dunia tempat tinggal kami lenyap, musnah tak bersisa dihari kehancuran. Bisa ku katakan kalau dunia kami telah kiamat. Untungnya kami berdua selamat sampai disini berkat sebuah alat. Dan kami berencana menetap di dunia ini sampai tua"

"Baiklah, aku mengerti kondisi kalian" kata Sona menampilkan ekspresi wajah percaya.

Sona berhenti bertanya, informasi ini saja sudah lebih dari cukup baginya. Nanti dikesempatan lain bisa saja mengorek-ngorek informasi lagi. Walau begitu, Sona masih belum bisa mempercayai sepenuhnya apa yang dikatakan Hinata karena ini benar-benar hal baru baginya yang sudah memiliki banyak sekali pengetahuan dan wawasan. Terasa seperti tidak masuk akal. Dan ia yakin masih banyak hal yang disembunyikan oleh Naruto dan Hinata.

"Kurasa sudah cukup sampai disini pembicaraan kita" kata Hinata. Dia dan suaminya ingin pulang mengingat hari sudah malam karena banyak sekali informasi tentang makhluk supranatural yang diberikan Sona padanya hingga menghabiskan waktu berjam-jam sejak sore tadi hanya untuk cerita itu.

"Ya" Sona mengangguk setuju dengan pernyataan Hinata

Sekarang Hinata sudah berdiri, begitupun Naruto.

"Kalau begitu kami mohon pamit, Sona-san dan kalian semua juga" kata Naruto pada Sona dan semua gadis serta dua laki-laki yang sekarang sudah ia ketahui ternyata adalah budak-budak Sona. Ini kedua kalinya Naruto berpamitan pada Sona dan anggota OSIS Kuoh Gakuen.

"Tunggu, kita pulang bersama saja" lagi-lagi Sona menawarkan hal yang sama sejak pertemuan pertama mereka. Memanfaatkan keadaan letak apartemennya yang berdekatan dengan apartemen Naruto dan Hinata. Langsung saja Sona membuat dengan lingkaran sihir teleportasi dan pulang setelah sebelumnya memerintahkan semua anggota peerage yang menemaninya selama diplomasi tadi agar pulang juga.

.

.

.

TBC...

.

Note : Sorry, kalau awal ikatan pihak Naruto dengan Sona terkesan terlalu rumit seperti di atas. Padahal bisa saja dibikin simpel seperti dengan cara, hanya sekali menolong dan akhirnya langsung menjadi teman baik. Pada chapter ini, intinya aku hanya ingin menunjukkan bahwa, makhluk berbeda ras tidak akan bisa semudah yang dibayangkan untuk saling mempercayai. Apalagi ras manusia dan iblis yang dikenal selalu bermusuhan. Itu saja, kan kedengarannya jadi jauh lebih logis dan realistis?

Namun berhubung basic keilmuanku adalah sains, jadi maklumi saja kalau proses negosiasi diatas tidak terlalu bagus, aku tidak mendalami ilmu politik, dan aku tidak terlalu suka politik. Lalu mengapa Hinata begitu saja menyetujui tawaran Sona dengan iming-iming imbalan berupa informasi? Chap depan diuraikan alasan Hinata.

Untuk ulasan review, ku ringkas di bawah ini yah. Heheee..

Inilah alasan aku membuat Naruto sekarat kemarin, biar Sona punya alasan agar bisa ikut campur dalam kehidupan Naruto dan berakhir dengan perjanjian mereka antar keduanya. Sebenarnya ada satu alasan lagi, dan penyebab sekaratnya juga, tapi nanti aja diceritakan.

Bagaimana hubungan Konoha dengan makhluk supranatural, nanti juga ketahuan.

NaruHina emang baik dari sananya, tapi mereka berdua tidak akan lembek dengan makhluk supranatural. Naruto memang agak bodoh dan naif jika berhadapan dengan makhluk supranatural, tapi ada Hinata yang bisa membacking kekurangan itu. Ini salah satu alasan Naruto melakukan misi duo, bukan misi solo.

Di fic ini, sampai tamat juga tidak bakal ada satupun orang dari Konoha yang berubah menjadi iblis atau apapun. Mereka tetap manusia pengguna chakra.

Rias beserta peeragenya nanti juga bakal banyak muncul, tapi peran mereka tidak sepenting peran Sona. Diatas aja udah nongol si Rias.

Sasuke tidak terus menerus pindah dimensi. Misal setelah sampai di underworld maka dia jadi mata-mata selama beberapa jam hingga beberapa hari, sehingga dia punya waktu untuk memulihkan chakranya (cooldown) agar bisa menggunakan Ultimate Rinne-Sharingan lagi.

Terkait umur, jika dikonversikan menjadi umur manusia normal, maka Sona, Rias yang kelas 12 SMA berumur sekitar 18 tahunan, peeragenya menyesuaikan tingkat kelas. Naruto, Hinata, Sasuke, dkk, karena fic ini dimulai dengan setting Movie The Last saat pernikahan, perkiraanku umur mereka 19 tahunan.

Yang tidak puas dengan batle Naruto Vs Kenpachi, hanya itu yang bisa saya buat. Lalu Naruto hanya amatir dalam berpedang?, saya menganggap dia hanya memiliki style berpedang sama seperti ninja pada umumnya, dia tidak memiliki seni berpedang ciri khasnya sendiri. Itu sejauh yang saya tahu sampai Movie The Last. Kalau saat melawan Momoshiki dia Pro, itu udah beda jauh karena fic ini berubah arah sejak The Last, sedangkan Momoshiki muncul di Boruto The Movie dan Narutonya di Movie itu udah berumur.

Godoudama emang bisa menghancurkan apapun, Zanpakuto Kenpachi aja patah, lihat aja lagi di akhir batle mereka. Lagipula dibatle itu, Naruto menang telak tanpa luka. Aku membuat seperti seimbang agar Kenpachi ada memberikan perlawanan. Beda kalau Hinata saat melawan Byakuya, Hinata memang benar-benar terdesak. Lagipula Hinata baru saja memiliki The True Tenseigan, perlu waktu untuk ahli menggunakan doujutsu barunya, begitu jadi lebih logis kan?

Lalu, daripada ditanyai mulu. Heheee, ku bocorin dikit deh. Kemarin kan Naruto sudah ketemu Ophis, pokoknya aku sudah menetapkan di fic ini, hanya tiga eksistensi yang kekuatannya di atas Naruto, yaitu Trihexa, Great Red, dan Ophis. Kalau yang lain, lewat. Itu secara personal. Tapi kalau Naruto dan Sasuke bergabung dalam Biju Susano'o Form, ada peluang buat mereka berdua untuk ngalahin Ophis. Untuk fanatik Naruto, itu saja yang bisa ku buat agar ada penghalang misi Naruto kedepannya. Dan buat yang tahu betul seluk beluk LN DxD, sorry kalau aku membuat tiga esksistensi tadi sebagai yang terkuat adalah kesalahan karena berbeda jauh jika dibandingkan dengan cerita asli di LN-nya. Sengaja ku buat begitu, karena menang ada banyak perubahan pada pembagian power chara DxD dalam fic ini.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya. See U...