A/n : Nah, itu dia main cast kita udah muncul di akhir chapter! Tanpa banyak bacot kita langsung aja ya gengs. Ini dia, karakter kesayangan kita sudah tampil di layar!

Phase Two

Lest: "Kalau semisal aku bisa, pasti dikerjakan."

"Eh, ada apa, sih?!" Ucap Frey.

"Ini, beneran kamu… Racchi?!" Kata Lest

"Saya permisi dulu.." Pamit sang penerima tamu.

"Silahkan masuk…" kata Io.

"Ngapain lo pada ke sini?!" ucapku.

Suasana tiba-tiba menegangkan. Io menyarankan agar aku tak kembali lagi ke Selphia, namun akhirnya malah kedatangan langsung pangeran dan putri dari Selphia. Kemudian, untuk apa mereka datang ke sini?!

"Ini beneran kamu, Racchi?" Tanya Lest tersedu, mungkin ia terharu (iyalah bego).

"Loh, luka di wajahmu masih berbekas," ucapku sambil menunjuk wajahnya yang terdapat bekas luka goresan. Itu pasti bekas perkelahianku dulu, sebelum aku meninggalkan Selphia.

"Ini beneran kamu!" Kata Lest histeris kemudian memelukku. Aku spontan kaget, kemudian mencoba menjernihkan pikiranku. Aku rindu pada kalian, sebagaimana sebaliknya. Aku juga hampir menangis gara-gara pangeran gaul itu kebanyakan tingkah. Frey, yang ngeliatin doang, sama-sama terharu.

"Hey, kalian mau masuk atau tidak?" Tanya Io yang sewot sesudah ia menyiapkan tempat duduk untuk tamunya.

"Ayo, masuk dulu, Lest. Frey," ucapku sambil mempersilahkan mereka masuk. Tapi si bengal itu gak mau melepas pelukannya dan Frey masih shock. Mereka sama-sama gak percaya kalau aku bisa balik lagi ke dunia ini. "Ayo masuk!" Akhirnya, dengan sedikit dorongan, mereka pun masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan Io.

"Jadi, huft… apa yang kalian perlukan dariku?" Tanya Io sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.

"K-kami.." ucap Lest. Tampaknya ia masih tegang.

"Frey, coba bantu pangeranmu itu," kataku.

Tak ada respon apapun. Mereka masih shock dengan kehadiranku.

"Aduh, Racchi, boleh ke luar dulu sebentar? Mereka jadi gak fokus, nih," kata Io, tega mengusir kakaknya.

"Lah, kok gitu? Aku juga ingin bantu, dan ingin tahu tujuan mereka datang kemari."

"Oke, o-oke, aku akan menjelaskan ini secara gamblang.. tak perlu ada yang dirugikan.." ucap Lest, dia masih tegang seperti sebelumnya. "Hari ini, kami kedatangan serangan entah dari mana. Forte mendapat serangan itu dan sempat kami temukan tak sadarkan diri di dekat hutan."

"Uh, huh, masalah baru lagi, di Selphia," gumam Io, tampaknya ia sudah biasa menangani masalah ini.

"Kenapa kalian engga coba minta bantuan Venti dan malah langsung ke sini?" Tanyaku.

"Kami menduga kalau serangan itu berasal dari orang yang tak asing, khususnya kalian. Pasti Racchi juga mengetahui orang ini," kata Lest.

"Hah, siapa?!" Tanyaku makin penasaran. Jantungku mulai berdegup kencang.

"Siapa lagi.." jawab Io pelan. "Kita baru saja membahasnya."

"Fujiwara Miki, maksudmu?!"

"Iya, itu. Kan sudah kubilang, belakangan ini dia memang sering muncul di Northern Area," ucap Io tenang. Kemudian, ia melanjutkan, "Kenapa kali ini dia bisa muncul ke Selphia, ya? Dan lagi… menimbulkan teror…"

Aku terkesiap. Kali ini, aku benar-benar tak bisa menahan urat merindingku. Masalahnya, ia tengah mencariku, lalu ia menyerang Selphia? Aku terus memikirkan kemungkinan. Apa 'orang itu' menggunakan kekuatanku, lalu Yuutsu mencoba menyerangnya dengan maksud merebut kekuatan itu?

Sambil menulis laporannya, Io melanjutkan, "Lalu, bagaimana kondisi Forte sekarang?"

"Dia masih belum sadar. Aku gak tau kekuatan apa yang bisa membuat Forte gak sadar seperti itu, sepertinya kekuatan yang besar," jawab Lest.

"Anu.. Racchi, kalau mengetahui sesuatu tolong jelaskan, oke..?" Kata Frey, dia tampak masih canggung.

"Racchi, jelaskan saja apa yang kakak ketahui. Untuk sementara, aku akan mencegahmu dulu pergi ke Selphia. Jadi, tolong-"

"Apa, kenapa langsung main larang saja?! Aku harus melihat kondisi Selphia, dan mengawasi pergerakan Yuutsu, karena aku tak mau ia menyerang Selphia lagi!"

"Racchi, kamu sudah menjelaskan kondisinya, dan sekarang, aku pun tak mau Selphia mengalami teror menakutkan itu lagi. Aku memikirkan suatu jalan yang tak akan tercium target. Kita harus main aman, Racchi," jelas Io.

"Aku juga… kurang setuju kalau Racchi tak boleh pergi ke Selphia sementara ini.." ucap Lest. Asek, pangeran gaul ikut membela sobatnya!

"Iya, maksudku.. Kita masih kurang informasi dan kita memerlukan Racchi menjadi penengah permasalahan ini…" jawab Frey, kata-katanya tampak lemah. Tapi Racchi dukung! Hehehe.

"Penengah, huft…" Io mendengus pendek. Dia tampak tidak puas dengan pendapat Frey. "Racchi, coba jelaskan kondisinya."

"Uh.." maka dengan terpaksa, aku menceritakan kondisinya. Dari poin bagaimana aku bisa kembali lagi ke dunia ini, dan apa yang aku libatkan di dunia ini. Sebisa mungkin aku mengalihkan topik dari penyerangan Yuutsu ke Selphia.

"Bagaimana, menurut kalian?" Tanya Io selepas aku menceritakan kondisiku kali ini.

"Begitu, ya, jika Racchi ada di Selphia hanya akan menimbulkan bahaya. Sebaiknya kita tunggu saja apa yang akan terjadi berikutnya.." ucap Frey.

"Tapi, kalau di sini, kamu juga pasti akan terancam, kan, Io.." kata Lest. Wajah Io berubah ketus, lalu ia menundukkan wajahnya. Hayo loh, Lest ngomongnya macem-macem neh.

"Aku…" kata Io pelan. Nada bicaranya menjadi aneh, dia terdengar sedih. "Meski begitu, aku hanya ingin mencoba melindungi Racchi. Karena beberapa bulan setelah kelahiranku, aku ditarik ke Abyss dan kembali ke dunia ini bersama Racchi. Ibuku koma saat itu… jadi.. aku cuma ingin melindungi keduanya."

Kami semua terkesima. Aku juga ikut merenung. Meski aku diangkat, Cecile Dolgatari tetaplah seorang ibu yang harus kuhormati dan kulindungi. Io juga berarti seorang adik.. angkat (?) yang perlu kurawat dan kudidik, karena aku tahu dia merasa kehilangan sosok ayah yang seharusnya mendidik dan ikut membahagiakannya. Maka karena itu, aku, selama ini Io jauh lebih menyayangiku dari siapapun. Aku termangu, dan hampir-hampir menangis juga.

"Baiklah, kalau itu perlu, aku akan tetap berada di sini," ucapku mengambil keputusan yang agak sulit. Di suatu sisi, aku ingin melindungi Selphia, tapi ternyata aku perlu melindungi keluargaku lebih dari itu. Baiklah, mungkin jalan terbaik bagi kami adalah untuk melihat bagaimana perkembangannya.

"Aku tidak pernah asal bicara, Racchi," kata Io. Aku menghampiri dan mendekapnya. Malah bikin dia makin sedih, dasar tolol.

"Kalau begitu, kami hanya perlu menyampaikan pada Venti untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya, dan mengabari Racchi sudah kembali ke dunia ini, apa tidak masalah?"

"Ya, tak masalah. Jelaskan juga alasan Racchi bisa kembali ke dunia ini," kata Io.

"Hey, Lest, Frey.. aku perlu bicara dengan kalian…" Kataku.

"Ada apa, memangnya?" Tanya Lest.

"Sebutkan saja di sini, aku juga perlu mengetahuinya," kata Io.

"Uhh, sebetulnya…" ucapku ragu. "Sebelum aku meninggalkan Selphia, aku memberikan kekuatanku pada seseorang di sana…"

"Apa?!" Kata Io terperanjat. "Kalau begitu, ini bakal jadi beda, dong.."

"Dengar dulu.. Aku memang sudah mengetahui ancaman Miki sehari sebelum hari ulang tahunku waktu itu. Jadi, aku memutuskan untuk memberikan kekuatanku ke pada seseorang di sana, dengan maksud agar aku bisa kembali atau orang itu bisa paling tidak menangkal Miki datang ke Selphia, tapi.."

"S-siapa yang kamu maksud?" Tanya Lest.

"…" Aku terdiam sangat lama. Kemudian, aku memberanikan membuka mulutku, "Forte.."

Drifting… [33%]

"Forte..?" Kata Frey mengulangi ucapanku, bagai tak percaya.

"Dia kan korban penyerangan kala itu.." gumam Lest.

"Racchi, kalau gitu kamu bertanggung jawab atas penyerangan ini. Dengar, setelah kalian mengabari Venti dalam jangka waktu dua belas jam, Racchi akan datang ke Selphia. Racchi jangan ada di Selphia selama lebih dari sekali 24 jam," kata Io.

"Lalu, apa yang kamu kira aku akan lakukan di sana?" Tanyaku.

"Kamu perlu menginvestigasi, khususnya tempat kejadian perkara dan Forte itu sendiri. Selebihnya kamu yang lebih mengetahui harus gimana.."

"Racchi, anu, maaf. Kalau boleh tahu, kenapa harus Forte yang kau berikan kekuatanmu?" Tanya Frey tiba-tiba.

"Aku mempercayainya… sejujurnya aku kagum dengan sifatnya yang sangat menyayangi adiknya. Aku gak kebayang siapapun selain Forte untuk diberi kekuatanku," jelasku.

"Kasih tau Dolce, loh," celetuk Io.

"Ga ada hubungannya, lagian."

"Racchi, kalau kami bisa, akan kami lakukan. Saat ini kita ikuti saja instruksi Io, lalu paling lambat setelah dua belas jam, kamu akan datang ke Selphia. Setelah itu, kamu perlu bertemu dengan Venti sebelum melakukan investigasi. Gimana?" Kata Lest.

"Aku tak masalah, sih, yang jadi masalah sekarang.. itu Yuutsu," ucapku.

"Baiklah, terima kasih atas bantuannya," kata Lest. "Kami akan pamit."

"Sama-sama, baiklah, akan kuantar," jawab Io.

"Racchi, setelah ini.." kata Lest, lalu aku menatapnya. "Kita, masih bisa melakukan hal yang biasa kita lakukan, ya?"

Aku tersenyum, "Tentu saja bisa!"

"Hidih, yakin betul," cibir Io.

"Jangan gitu dong, aku yakin semua bisa berjalan sesuai rencana," ucapku.

Setelah itu, aku dan Io mengantarkan Lest dan Frey ke luar istana. Hari sudah mulai gelap, mungkin ini masih sore di Norad. Seperti yang kita ketahui, Northern Area memang paling juara soal musim dinginnya.

"Baik, kita pamit duluan. Racchi, sampai jumpa di Selphia, oke?" Kata Frey.

"Oke, tolong jaga doiku di sana."

"Nanti aku comblangin yang macem-macem sama dia, gak apa-apa kan?" Kata Lest iseng.

"Mukamu gak apa-apa."

"Hati-hati, lebih baik lewat jalur kereta bawah tanah. Kamu bisa naik dari stasiun dekat sini, pastikan yang ada tangga ke bawah tanah!" Kata Io.

"Baru tau ada kereta bawah tanah, tau gitu ke sini pake itu aja!" Kata Lest.

"Itu aku juga baru tahu," ucapku.

"Ya sudah, hati-hati ya!" Kata Io sambil melambaikan tangannya.

"Sampai jumpa!" Kata Lest dan Frey berbarengan. Jika dilihat dari adegan tersebut, duo pangeran-putri itu cocok juga. Kemudian, mereka membalikkan badannya dan berjalan mencari stasiun kereta bawah tanah.

Rupanya ada berbagai akses transportasi yang aku tidak ketahui. Selama ini saja, aku tak tahu ada negara dekat Northern Area yang bukan Norad. Akan ada banyak hal yang kupelajari kali ini, karena kini, masalah baru muncul dengan seluk beluk yang lebih rumit. Buenos, Keysi, kota kelahiran Yuutsu, negara futuristik itu, adalah hal yang baru di dunia ini. Rupanya, sementara aku berkutat dengan ingatanku, ada tempat yang aku tak ketahui dan pastinya menyembunyikan segala informasi. Bagaimana pun juga, aku masih perlu mencari ingatanku yang hilang itu, tapi, setelah itu… apa yang akan kulakukan, ya?

"Racchi, ke dalam yuk. Di sini dingin," ajak Io. Kala itu, aku menggunakan jaket hoodie putihku, jadi aku sedikit merasa kehangatan. Aku memberikan jaketku padanya, wajahnya memerah.

"Ayo, aku kedinginan, neh," ucapku tanpa ekspresi, kesannya mengolok Io.

"…" kemudian, Io berjalan menuju dalam istana tanpa menghiraukanku. Dasar, sikap macam apa itu? Aku pun menyusulnya ke dalam istana. 12 jam, paling lama besok sore, dan aku akan kembali ke Selphia.

Drifting… [39%]

Keesokannya, aku bangun dari tempat tidurku. Rasanya sudah pagi, tapi langit masih agak gelap. Aku mengembalikan kesadaranku, kemudian aku mendengar ada ketukan pintu. Ada yang datang, kemudian aku membukakan pintu untuknya.

"Sudah pagi, Racchi. Aku sudah membuatkan sarapan," kata Io begitu aku membukakan pintu untuknya. Wajahnya tampak tidak segar, nih anak jangan-jangan abis gadang. "Ayo makan bareng."

"Oke, makasih.." ucapku lesu. Kesadaranku belum sepenuhnya terkumpul. Kami pun beranjak ke ruang makan. Di sana, hanya ada aku dan Io. By the way, ini kan ceritanya di istana, kenapa gak ada yang jadi pelayan atau koki? Biarlah, namanya juga Author ganjen. Hehe.

Aku mengambil roti yang baru dipanggang dan mengoleskan mentega, kemudian dimakan begitu saja. Kuulang sekitar tiga kali, kemudian aku mengambil cangkir untuk minum susu hangat. Io melakukan hal yang sama, sisi karnivoranya masih ada, syukurlah. Ia menambahkan daging kornet pada roti panggangnya, mengulanginya selama dua kali, kemudian minum kopi dengan cokelat. Setelah makan, Io masih tampak ngantuk, atau entah itu kebingungan. Mana gue tau, tanya aja dia.

"Kamu abis begadang?" Tanyaku, membuka percakapan dengannya.

"Engga, anu… semaleman cuma susah tidur.." jawabnya pelan.

"Kepikiran soal hari ini, ya?"

"Uhh huuuh…" Gumamnya. Mungkin maksudnya adalah, "Iya."

"Jangan khawatir, aku akan baik-baik aja."

Io terdiam, untuk sementara ia tampak sedang menilaiku dengan pandangannya. Kemudian, ia melanjutkan pembicaraan, "Kamu sudah boleh ke Selphia sekarang."

"Seriusan, nih?"

"Iya, tadi malam mereka menghubungiku. Mereka menyarankan agar kamu sebisa mungkin ke Selphia sekarang."

"Tapi, kamu, gak bakal kenapa-napa..?"

"Bicara apa, kakak?" Tanya Io dengan wajah malas. "Aku juga perlu mengirim surat, jadi jangan khawatir."

"Justru karena itu, aku semakin khawatir."

"Kita akan naik kereta bawah tanah bersama, setelah itu aku akan meninggalkanmu ke Selphia, gak perlu ada yang aneh-aneh," Kata Io sambil beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan siap dalam tiga puluh menit, sebaiknya kakak juga bersiap-siap."

Dalam pikiranku, emangnya ada, ya, cewek yang siap-siap mau berangkat cuma makan waktu selama tiga puluh menit? Oke, mungkin sebelum Io membuatkan sarapan, ia telah bersiap-siap dahulu. Makanya, setelah membangunkanku dan sarapan, waktu untuk ia bersiap untuk pergi akan terpotong, alhasil ia hanya perlu memakan waktu tiga puluh menit untuk bersiap.

Dari pada kebanyakan mikir, aku pun ikut mempersiapkan diri untuk pergi ke Selphia. Hanya mandi, menggunakan wewangian, menyiapkan barang-barang yang dikira perlu: alat tulis, senjata, dan tas selempang untuk membawa itu semua. Kemudian, aku sadar kalau aku sebenarnya tak perlu membawa senjata, karena kekuatanku jauh lebih berguna dari pada itu. Tapi saat ini, aku tidak akan menggunakan kekuatanku untuk sementara. Jadilah, sebuah pistol mesin otomatis dengan pisau pendek berbilah dua kubawa di dalam tas. Senjata itu paling praktis untuk mengantisipasi serangan dadakan, itulah alasan aku membawanya.

Setelah siap, aku turun ke lobi dan menunggu Io di sana. Tak lama menunggu, Io sudah datang ke lobi. Setelannya masih seperti biasa: sebuah blus berwarna biru tua dan hitam, sepatu sol tinggi dan stoking gelap yang menutup kakinya. Rambutnya ia ikat ke belakang tanpa dibiarkan menggelayut begitu saja, membuat kesan anggun untuk anak ratu. Dia memerhatikanku dengan serius, kemudian bergegas untuk pergi.

"Sudah siap? Apa saja yang kamu bawa di dalam tas itu?" Tanya Io.

"Alat tulis dan senjata."

"Senjata?" Io terbelalak. "Senjata api atau tajam?"

"Dua-duanya," jawabku polos.

"Dasar maruk," keluh Io. Kemudian, ia mengambil sesuatu di meja penerimaan tamu yang ada di lobi. Setelah itu, ia memberikan semacam slip ke padaku. "Bawa ini kalau mau bawa senjata api ke luar negeri, dengan begitu petugas imigrasi tak akan menyita senjatamu."

"Aku baru tahu kalau sistem seperti itu ada di dunia ini."

"Ya ampun, sudahlah, sekarang ayo berangkat!"

Kemudian, kami bergegas untuk pergi ke stasiun bawah tanah. Stasiun itu tak jauh letaknya dari istana, sesuai dengan perkataan Io ke pada Lest dan Frey kemarin. Di sana banyak masyarakat biasa yang hendak hilir mudik menafkahi keluarganya. Kereta yang menunggu penumpang pun terkesan seperti lokomotif kuno, tapi tidak jelek juga.

"Io, nanti aku harus naik kereta yang mana?" Tanyaku sesampainya di stasiun.

"Kereta dengan kode jurusan 002. Jangan khawatir, aku juga akan menaiki kereta itu."

"Oke," jawabku singkat. "Io, kamu memang biasa begini? Apa orang-orang di sekitarmu engga melihatmu sebagai orang yang mencolok?"

"Jangan dipikirkan, aku sudah terbiasa," Jawabnya tanpa memandangku.

Aku mengerti perasaannya. Ia menyayangiku dan ibunya, dan kini ia tengah bertarung dengan dunia, sebuah dunia yang ia yakini sebagai dunia nyata. Dengan sikap seperti ini, membuatku iba dan aku akan berjanji untuk membuatnya bahagia. Walaupun suatu saat, dia pasti akan menemukan kebahagiaan itu sendiri. Berpikir seperti ini, membuatku merasa seolah-olah seperti ayahnya yang akan mengantarnya ke universitas untuk pertama kali.

"Io.." ucapku, mencoba membuka mulut. "Setelah ini, kamu mau jalan-jalan denganku ke Selphia?"

Untuk sementara, aku kira Io tak menghiraukannya. Sesaat kemudian, dia menjawab, "Boleh."

Kereta dengan jurusan 002 datang, kami pun bergegas menempati tempat duduk di kereta tersebut. Penumpang kereta itu lumayan sepi, aku jadi bisa nyaman menikmati perjalanan. Io yang duduk di sebelahku, pandangannya kosong. Ia terus menunduk, sepertinya dia kepikiran sesuatu.

"Ada apa, Io?"

"Enggak, lupakanlah," ucapnya sambil mengintip isi tas selempangnya.

"Ada yang tertinggal?"

"Tidak ada, semua aman."

Sepuluh menit penuh dengan keheningan, Io menginstruksikan sesuatu lagi padaku.

"Aku akan turun di stasiun berikutnya. Racchi terus saja di kereta hingga sampai di stasiun terakhir. Setelah itu, seperti yang kukatakan, mengurus urusan imigrasi. Sebenarnya kita tak memerlukannya, jadi langsung saja. Tapi, karena Racchi bawa senjata api, tunjukkan slip barusan. Setelah itu, Racchi sudah ada di perbatasan Norad. Tinggal cari saja Selphia, kamu pasti sudah mengenal tempat itu," jelas Io.

"Oke, mengerti."

Tak lama kemudian, kita sudah sampai di stasiun berikutnya. Io bangkit dari tempat duduknya. Kemudian, sambil memberikan sebuah amplop, ia berkata, "Pegang ini, buat jaga-jaga. Ongkos perjalananmu akan kubayar, jangan khawatir."

Aku terenyuh, seolah-olah di sini aku adalah adiknya Io. Tingkat kepercayaan diriku menurun. "O-oke, terima kasih banyak. Hati-hati di sana."

Io tersenyum, kemudian berkata, "Racchi juga, hati-hati. Aku akan bertemu lagi denganmu nanti," kemudian ia bergegas ke luar stasiun. Ketika ia tepat di tangga untuk ke luar dari bawah tanah, ia memandangku, lalu melambaikan tangan. Dasar konyol, pasti gak kelihatan. Aku hanya tersenyum, lalu tanpa sadar aku membalas lambaian tangannya. Yah, siapa tahu, itu adalah lambaian tangan terakhirnya.

Drifting… [40%]

Kereta berhenti dan mematikan mesinnya. Artinya, aku telah sampai di stasiun terakhir. Aku bergegas ke luar dari stasiun, kemudian bertemu dengan urusan imigrasi. Aku menelusuri otakku, dan menemukan metode untuk ke Norad tanpa harus bertemu orang-orang ini. Dan betul, jawabannya adalah teleportasi. Semua orang di Norad punya kemampuan ini, dan kalau ada runes, aku pasti bisa melakukannya. Setelah mencari titik hangat untuk melakukan teleportasi, aku melakukan teleportasi menuju Plaza di Selphia. Kemudian, aku mencoba menghindari pandangan orang-orang di sana selagi aku akan masuk ke dalam ruangan Venti.

"Selamat pagi, Venti," sapaku begitu sampai di ruangan itu.

"Halo, Racchi. Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan hingga repot-repot balik ke Selphia?" Tanya Venti. Dia pasti gak serius, nada bicaranya seolah-olah mengolok-olokku.

"Uh, anda jelas sudah mengetahuinya, kan.."

"Tenanglah, aku tidak bermaksud membuatmu terpojok," katanya, aku pun sedikit lega. "Aku sudah mendengar semuanya dari Lest, tapi aku perlu kamu juga untuk menjelaskan apa yang terjadi. Supaya makin jelas, Racchi."

"Okee.." kemudian aku menjelaskan lagi apa yang terjadi, lengkap dengan kasusku dengan Forte. Males juga nyebut ulang permasalahannya, Author capek :(

"Begitu, rupanya kamu ke sini bukan atas kemauanmu. Dan kamu mengasumsikan kalau serangan yang terjadi baru-baru ini adalah perilaku Fujiwara Miki, begitu?"

"Ya, setidaknya itulah yang aku dan Io bahas dengan Lest dan Frey."

"Itu dugaan sementara Lest dan Frey.. mereka mengira serangan itu berasal dari Miki, jangan dulu termakan ucapan mereka," ucap Ventuswill dengan bijak, eaaa. "Lebih baik kamu periksa tempat kejadian penyerangan itu di dekat gerbang istana, dan coba uji apakah benar Miki adalah pelaku penyerangannya. Untuk sementara, biar aku yang urus tentang Forte."

"Oke, terima kasih arahannya, Venti," ucapku sambil tersenyum.

"Senyumlah dengan senang hati, Racchi. Untuk sementara, aku tak bisa membantumu dalam hal itu," ucapnya, seolah ia mengetahui isi hatiku. "Sekarang, kamu berusaha jadi Selphia Guardian lagi, ya, Racchi?"

"Uh, ya, hahaha. Entahlah, Venti, aku hanya ingin mengembalikan kekacauan itu ke pada kondisi semula."

"Tidaklah semua kekacauan kembali lagi menjadi kondisi normal, kekacauan akan terus terjadi," katanya tenang. "Akan ada sesuatu yang kamu korbankan di sini. Usahakan itu adalah hal yang tidak merugikan kita semua."

"Aku ingat itu baik-baik," ucapku sambil tersenyum. "Hey, Venti, apa kamu senang aku bisa kembali?"

"Jangan bertanya macam-macam, sudah jelas kami di sini senang dengan kehadiranmu."

"Hahaha, terima kasih banyak!"

Kemudian, aku melakukan teleportasi menuju tempat kejadian perkara. Aku menyelidiki sesuatu yang mungkin ada kaitannya dengan pelaku penyerangan. Di tempat itu, ada sedikit bercak darah. Berarti, penyerang menggunakan senjata untuk menyerang manusia. Tapi, darah siapa? Forte atau sang pelaku kah? Kemungkinan itu tetap ada.

Di dekat bercak darah itu, ada serpihan besi yang tidak wajar. Kalau aku kaitkan dengan darah ini, maka ini adalah darah Forte. Dengan senjata tajam, pelaku melukai Forte sekaligus helm atau zirah besi milik Forte, sehingga terdapat serpihan besi dekat darah di sini.

Yang kemudian kuperhatikan, apakah terdapat perlawanan dari Forte? Jika iya, seharusnya bisa terdengar suara pertarungan antar senjata. Forte ditemukan tak sadarkan diri di sini pada siang hari, maka seharusnya penyerangan dimulai sejak pagi hingga siang (didasari fakta bahwa semalam sebelum penyerangan Forte masih ada di rumahnya). Dan jika ada perlawanan, maka siapapun di dekat sini bisa menjadi saksi. Hal itu di luar kemampuanku, aku akan menanyakannya pada Venti nanti.

Kemudian, terlihat sesuatu yang lebih mencolok bagiku. Ini serpihan permata safir yang sesuai dengan warna kekuatanku. Lokasinya tidak jauh dari bercak darah dan besi. Kalau begitu, Forte sempat menggunakan kekuatanku untuk menghadang serangan pelaku. Tapi, siapa yang bisa menembus pertahanan itu? Aku tak pernah bertarung melawan Miki sebelumnya, jadi aku tak tahu persis bagaimana dia akan menyerang seseorang. Kemudian, setelah Forte lengah, sang pelaku menghabisi lawannya dengan sekali serangan. Dia pasti bukan orang biasa, orang yang terlatih dalam pertarungan dan bahkan sampai menghancurkan pertahananku dan sebuah helm besi.

Sampai saat ini, aku tak bisa menemukan petunjuk yang mengarah ke pada pelaku, aku hanya menemukan fakta bahwa Forte diserang oleh seorang petarung profesional di dekat pintu gerbang istana Selphia. Pencarian ini jelas semakin rumit, yang perlu kita lakukan adalah bertanya langsung ke pada sang korban. Mudah-mudahan saja dia masih dapat sadar. Aku ikut merasa bertanggung jawab karena Forte diserang.

Dalam pencarianku berikutnya yang lebih meluas, aku menemukan sebuah kacamata. Kacamata itu tidak asing bagiku, karena itu adalah kacamataku.

"H-huh.. kenapa kacamataku ada di tempat seperti ini?"

Kacamata itu adalah kacamata yang biasa aku pakai di dunia ini. Tapi sejak kemarin, aku mengenakan kacamata baru yang sangat canggih. Pasti ada kaitannya dengan segala apa yang terjadi denganku waktu itu. Misalnya, kacamataku diganti tanpa kusadari oleh pelaku, dan pelaku membuang kacamataku di sini selepas menyerang Forte atau sebelumnya.

Untuk sementara, aku berpikir dengan segala yang baru kuketahui dari dunia ini. Melihat sebuah kacamataku diganti, aku teringat kalau Io kini menggunakan kacamata baca. Keysi yang kutemui di Buenos juga mengenakan kacamata. Memang tidak masuk akal untuk dikatakan hal ini berkaitan, tapi aku merasa aneh dengan kondisi tersebut saat ini.

Apakah ada kemungkinan penyerangan ini diatur dan didalangi oleh seseorang atau suatu kelompok? Hal itu jelas di luar pengetahuan, karena aku pun tidak menemukan petunjuk apapun mengenai pelaku. Kecuali…

Benar juga! Sebelum aku datang ke dunia ini, aku menyaksikan mata kiri tetanggaku berubah berwarna hijau terang. Betul, ini pasti kerjaan Fujiwara Miki. Hingga tau-tau aku berada di kota bernama Aseton, kacamataku diambil dan diganti olehnya dengan yang lebih canggih, entah apa maksudnya. Dan kemungkinan, setelah ia mengambil kacamataku, ia pergi menyerang Forte.

Kemudian, setelah berpikir ini-itu dengan metode pendekatan yang rumit, semuanya tampak semakin jelas dengan tragedi yang menimpaku pada hari kemarin. Aku sudah mengetahui betul, dan yakin, kalau aku…

"Halo, Racchi-kun!"

… terjebak dalam suatu perangkap yang paling mematikan di manapun: terperangkap oleh dimensi waktu itu sendiri.

To be Continued

Drifting... [42%]

Loh, ini kenapa Author ngepublish tapi masih dua chapter ya? Entahlah gengs, Author pinginnya sih ini jadi fanficts yang long term. So, stay tune ya readers!