A/n : Sebelum memulai lanjutan ficts ini, Author mau ada perayaan kecil-kecilan. Karena sampai chapter ini, Author udah mencapai 100.000 kata yang udah dipublish di fanfiction dan pada fanfict yang ke-18 ini! :3 Sudah lima tahun akun ini berjalan, Author sangat bersyukur karena dukungan kalian dan menghaturkan banyak-banyak terima kasih! (Lest: FYI, mau ga ada yang baca sekalipun dia tetep nulis. Karena dia emang suka nulis-nulis ngaco dan jadilah fanfict kaya gini. Saat ini, mending kalian coba hargai si Author sarap ini, karena emang kasian aja *disiram minyak*) Oke, sekarang, lanjut!
Third Phase
Io: "Kamulah cinta pertamaku."
Aku memberanikan diri untuk menatap seseorang yang memanggilku barusan. Dugaanku benar, dia adalah Fujiwara Yuutsu. Atau Miki, ya? Entahlah, gak peduli juga. Mereka adalah orang yang sama.
Sewaktu aku melihatnya, pandanganku ke padanya tetap sama: senyuman indah yang licik, rambut pendek yang rapi, serta tatapan mata yang tajam. Kali ini, mata kirinya berwarna hijau terang. Artinya, dia sedang menggunakan kekuatannya, menjelajahi dunia waktu dan membuka portal menuju Selphia.
"M-miki..?" Jawabku pelan, agak ketakutan. Aku masih memasang wajah khawatir, seolah menghadap dengan seorang perampok bank yang tengah meminta ampun sementara pistol sudah menempel di kepalaku.
"Jangan sebut nama itu, itu hanya gelar masa laluku!" Katanya tanpa mengendurkan senyumannya. Dia masih tampak selalu ceria, gue makin bingung sama kepribadian orang satu ini.
"Oke.. Yuutsu.." ucapku tobat. "Jadi, apa yang kau inginkan dariku?"
"Kenapa, sih? Aku cuma menyapa, kamu takut sama aku?" Tanya Yuutsu blak-blakan.
Ngapain juga takut sama kamu, mending juga gue mikirin gimana cara melarikan diri terbaik dari seorang petarung overpower.
"Lah, emangnya kamu mau apa ke sini, pasti ada sesuatu yang kamu inginkan, gitu kan?"
"Hahaha, ucapanmu sama aja," Katanya sambil tertawa. Makin bikin gue merinding. "Kamu udah sadar ternyata. Semenjak aku menarikmu ke sini, kukira kamu masih linglung dan balik ke Selphia karena instingmu sendiri. Tapi, yah, itu tak masalah, karena rencanaku untuk membawamu ke Selphia tetap saja berhasil!"
Aku terdiam sebentar, dan berpikiran seandainya ucapan dia benar. Berarti, aku betul-betul ditarik ke sini oleh Yuutsu, dan dipancing sedemikian rupa untuk bisa ke Selphia. Meskipun aku tidak selinglung yang ia katakan, aku akan tetap kembali ke Selphia. Dia memang tidak bermaksud untuk menemuiku di Aseton, kota kelahirannya. Kalau gitu, apa ada alasan penting ia menarikku ke sini? Ah, bukan, pertanyaan itu sudah jelas jawabannya. Apa yang ia inginkan dariku di Selphia?
"Kalo gitu, yang menyerang Forte kemarin siang… itu kamu?"
"Huh.. aku kira aku menyerang kamu, Racchi.." Jawabnya. "Tapi gak masalah karena aku tetap bisa bertemu denganmu sekarang ini di Selphia, sesuai dengan rencana!"
"Aku memberinya kekuatanku," jelasku.
Raut wajah Yuutsu seketika berubah, tampangnya jadi jauh lebih serius. Oh sh*t, Run! "Bukannya kita tidak dibolehkan memberi kekuatan kita secara asal, Racchi? Kamu sudah lupa apa yang dikatakan Reva?"
"Aku tidak memedulikannya, karena aku tahu seluk-beluk Gems of Spirit yang sebenarnya," jawabku.
"Kalau gitu, kamu sudah mengetahui segalanya, begitu ya?"
Aku jelas tak bisa menjawab pertanyaan itu, karena sisa ingatanku ada pada Yuutsu. Saat ini, baru kepikiran kalau aku bisa saja merebut ingatan itu dariku, dan drama yang dibuat oleh Zwill berhenti sampai di sini. Tapi, ya, masalahnya, aku gak tau siapa yang bakal menang kalau bertarung.
"Tak perlu penjelasan, aku akan merebut barang itu darimu sekarang," Katanya, sambil menyiapkan senjatanya. Gawat, udah mau asal gelut aja kita.
"Apa maksudmu-"
"Diamond of impurity, ada padamu, kan? Aku akan mengambilnya," katanya memotong perkataanku.
"Jadi, selama ini kamu mengincarnya…" Ucapku pelan. "Tapi, untuk apa?"
"Kamu tidak perlu tahu," Jawab Yuutsu, sambil mengaktifkan kembali kekuatannya. "Karena kamu sendiri nggak tahu apa kekuatan itu sebenarnya."
Dia menatapku tajam, dan aku bersiap untuk pertarungan dadakan. Aku sendiri nggak tahu apa kekuatan Reva sebenarnya, huh… Pasti dia sudah mengetahui apa yang ada pada kekuatan besar itu. Dia sedikit-banyak terlibat dengan Zwillinge, bisa jadi dia mengetahui apa yang aku gak tahu.
Pada saat genting seperti ini tiba-tiba terbesit dalam benakku untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan damai. Sejujurnya, Diamond of Impurity merupakan salah satu kekuatan yang Zwillinge berikan padaku, namun kekuatan itu baru jadi ketika Reva lahir di Abyss. Kekuatan itu sekarang ada padaku, dan aku tak terbayang apapun keuntungan darinya. Aku berpikir untuk membiarkan kekuatan ini untuk kuberikan begitu saja ke pada Yuutsu, tapi kekuatan ini cukup besar. Dan lagi, ini Yuutsu, aku bahkan tidak memercayai ia sepenuhnya. Tak ada alasan untuk memberinya kekuatan ini.
Tiba-tiba saja Yuutsu melesat dengan cepat ke arahku. Pertarungan telah dimulai, dan kali ini Yuutsu membuka serangan! Author sampai-sampai tidak bisa menuliskan kecepatan ia menerjang, SAKING CEPATNYA! (Racchi's POV) Aku sempat kaget, dan kehilangan kesadaran sekejap. Namun, pertahananku adalah yang terbaik di dunia ini, aku tak akan bisa dikalahkan serusuh apapun serangan lawanku.
Oh, ya, tapi tetap saja. Kita semua ini berada pada dimensi waktu. Kurasa, sekuat apapun pertahananku pasti tak akan sanggup jika Yuutsu menggunakan kekuatannya yang sebenarnya.
Kalau gitu, ini soal hidup dan mati. Aku mengaktifkan kekuatanku dengan intensitas yang tinggi. Yuutsu yang menyadari ini juga ikut mengaktifkan kekuatannya. Pertarungan antara mata kanan berwarna merah muda terang, dengan mata kiri berwarna hijau terang, siapakah yang akan jadi pemenangnya?
"Sekuat apapun Sapphire-mu tak sanggup membuatmu menyentuhku!"
"Aku yang membuat kemungkinan menjadi plus-minus, hal itu tak akan terjadi, kriminal kecil!"
Karena kekuatan masing-masing telah dipakai, kali ini aura pertarungan semakin menegangkan. Aku mengeluarkan pedang yang dibentuk melalui Sapphire of Benevolence, dan Yuutsu menyiapkan Dagger of Time Alter. Pertarungan berlangsung seru dan tiap serangan berhasil diblok, hampir-hampir tidak ada yang terluka.
"Sebetulnya apa alasanmu untuk mendapatkan kekuatan Reva? Kau sudah cukup hebat!" Ucapku seolah memancing emosinya keluar.
"Seharusnya kamu sudah tahu.." Katanya.
"Huh?" Gumamku bingung. "Aku hampir tak pernah menggunakan kekuatan ini setelah Reva mati."
"Tidak, justru, sementara kamu ada di dunia nyata, kamu berhasil mengembangkan kekuatan Reva mencapai titik tertingginya. Makanya aku menarikmu ke sini, untuk merebutnya!"
"Haaah?" Kali ini, aku meledeknya. Iya, gue tahu ini kedengeran bego.
"Racchi, sewaktu di dunia, kamu berhasil melakukan 'Alter,' ya kan?"
Aku terkesiap. Sejujurnya, aku sendiri tak pernah kepikiran kekuatan itu, tapi kenapa ia membawa-bawa hal tersebut?
Alter itu adalah teknik mengubah profil. Contohnya, jika awalnya aku adalah orang dengan pertahanan yang paling kuat dan aku sifatnya pendiam, ketika menggunakan alter, semua itu akan berubah. Kekuatan seranganku menjadi paling kuat, sampai-sampai bisa merobek dimensi ruang, dan sifatku menjadi maceuh. Tidak hanya sifat dan kekuatan, penampilanku juga berubah. Memang teknik yang aneh dan sebetulnya kurang menguntungkan karena sifatnya situasional, namun apa Yuutsu ingin menjadi orang baik dengan Alter ini? Eh, seharusnya aku berpikiran seperti ini, apa kaitannya Alter dengan Diamond of Impurity?
"Ya, uh.. Apa kaitannya dengan kekuatan Reva?"
"Aku bermaksud menggunakan Alter, untuk…" Yuutsu tidak melanjutkan perkataannya, kemudian ia merelaksasikan seluruh anggota badannya.
Dari heningnya Yuutsu tersebut, aku mencoba menganalisis kemungkinan. Pertama-tama, aku menyimpulkan kalau Yuutsu menarikku ke Selphia untuk merebut Diamond of Impurity milik Reva untuk mempelajari teknik Alter. Dia bermaksud merubah sifatnya, tapi untuk apa? Ia masih belum memberitahukan alasannya.
Kemudian, Yuutsu membuka mulutnya, "Sudahlah, kamu tak perlu mengetahuinya."
"Kamu malah bikin aku makin penasaran."
"Keras kepala!" Lalu, pertarungan dimulai lagi. Kali ini, Yuutsu menggunakan kekuatannya hampir maksimal, seolah dia makin terbutakan dengan sekelilingnya dan fokus pada tujuannya. Ia berhasil membuatku kewalahan. Pertahananku hampir hancur, dan gerakan Yuutsu semakin tak terbaca. Jadi ini kekuatan yang menyerang Forte, duh kasihan sekali dia harus menghadapi Yuutsu dengan kekuatan penuh.
Hingga akhirnya, ia betul-betul menghancurkan pertahananku dan menyerangku bertubi-tubi. Seolah pasrah, aku berpikir kapan ia mulai kewalahan lalu tobat menyerangku. Serangan itu berakhir dengan sebuah tendangan yang amat pedih, aku sampai terlempar cukup jauh. Kali ini, aku yang malah kewalahan.
Aku membuat keputusan yang sulit: akan kuaktifkan Alter, tapi versi yang jauh lebih hebat.
"Yuutsu, sebaiknya kamu melihat ini sebelum merebut kekuatan Reva. Karena kali ini, aku akan menghentikanmu."
Dalam sekejap aku mengaktifkan versi Alter yang terbilang cukup hebat, yaitu Polymerization. Aku sudah mengembangkan teknik Alter sampai sejauh itu. Teknik ini mengubah profil tanpa menghilangkan sifat yang dimiliki. Ini artinya, pertahanan dan seranganku akan sama kuatnya. Aku akan membuatnya kehilangan ruang, meskipun waktu adalah dimensi paling utama.
Yuutsu sangat tercengang melihat diriku yang berubah karena Alter itu. Penampilanku tidak jauh berbeda, hanya saja setelan busanaku agak berbeda. Aku menggunakan topi dan syal yang sangat panjang, seluruh pakaianku menjadi minim (maksudnya setelan santai), tapi gak beda-beda amat. Syal itulah yang menggantikan jaket bertudungku, yang bisa kumanipulasi menjadi senjata. Benar-benar kreatif.
"K-kenapa?" Gumam Yuutsu, seolah ada sesuatu yang salah.
Tanpa memedulikannya, kali ini aku fokus untuk menahan Yuutsu. Namun anehnya, Yuutsu tampak terasa tak berdaya. Kalau gitu, sebenarnya cukup tunjukkan saja diriku ketika memasuki Alter, tak perlu reopt-repot menggunakan kekuatanku untuk membuatnya bungkam. Tapi, hal ini jelas aneh sekali.
Hingga saat aku hendak melakukan serangan terakhir, tiba-tiba Yuutsu mengangkat tangannya ke arahku, dan menatap lekat-lekat tangan itu. "Racchie," katanya. Dan saat itu, tiba-tiba aku kembali ke awal. Alter-ku terlepas. Dari situlah, keadaan berbalik, dan Yuutsu yang justru berhasil melakukan serangan akhirnya ke padaku. Aku sempat menatap matanya, dan terangnya warna hijau itu sampai-sampai membekas di udara, menunjukkan saking cepatnya Yuutsu bergerak.
Kenapa bisa begini?
Aku tersentak, dan tiba-tiba saja perasaanku agak berubah. Kurasa Yuutsu memang sekuat ini, sampai-sampai aku saja kewalahan. Tapi, jelas ada yang berubah dariku.
"Racchi.." Ucap Yuutsu. "Ada satu hal yang perlu kamu ketahui tentang teknik itu. Aku memang sangat lemah jika melawan seseorang dengan Alter, apalagi kamu mengembangkannya. Tapi, Alter 'membuka kunci' kekuatan Reva yang ada pada dirimu. Untuk melawan saudaramu sendiri, ini memang fatal."
"Jadi…"
"Terima kasih atas Diamond of Impurity-nya," kata Yuutsu memotong perkataanku. Ia telah berhasil merebut kekuatanku.
"Apa yang akan kau lakukan dengan kekuatan itu?" Tanyaku sekali lagi, karena aku betul-betul tidak tahu apa maksud ia merebut kekuatan itu. Namun kali ini, ia tak membalas pertanyaanku. Kebanyakan bacot sih.
Justru kali ini ia malah menatapku tajam dan mendekatiku yang tengah terbaring karena kewalahan. Setelah itu, muncul aura mengerikan dari tubuhnya. Dia melepaskan senjatanya, seolah akan mengakhiri pertarunganku dengannya. Mampus, gue bakal mati di sini.
Aku pasrah dengan ketidaktahuanku. Aku membiarkan kekuatan Reva direbut oleh Yuutsu begitu saja. Padahal, aku sadar bahwa ialah yang telah memaksaku datang ke sini, dan melukai Forte di Selphia. Kalau perlu, aku harus menghapusnya dari dunia ini. Ah, tidak. Itu memang tujuan utamaku di sini. Tapi, kini, bahkan Alter yang telah berkembang saja tak sanggup mengalahkannya. Aku perlu mencari cara lain untuk merebut kembali ingatanku, tapi… GIMANA?!
Kaya di film-film, tiba-tiba datanglah suatu kekuatan yang menghalangi Yuutsu melakukan serangannya. Kekuatan itu berelemen kegelapan, tapi kok pekat banget, ya. Aku sempat mendengar Yuutsu mendecakkan lidahnya, kemudian ia kabur begitu saja. Benar-benar cara yang nggak sopan.
Setelah pulih, aku melihat seorang gadis yang menutupi matanya menghadap ke arahku. "Io.." Ucapku pelan. Ya, orang itu adalah Io. Kenapa dia tampak menderita?
Aku mencoba bangkit dari keterpurukanku (eaaa *plak*) dan menghampiri Io dengan sempoyongan. Aku langsung merasakan ada yang aneh jika sebelum Diamond of Impurity direbut Yuutsu. "Kenapa kamu ke sini? Apa yang…"
"Sudah jelas, kan? Aku mau melindungi Racchi.." Jawabnya :(
Lagi-lagi aku terdiam dengar ucapan Io seperti tadi. "Matamu kenapa?"
"Nggak, gak kenapa-napa."
"Piraku," kataku menggunakan bahasa Sunda. Habis, gak ada kata yang lebih enak untuk membalas perkataannya Io, sih. "Kamu buka segel, pasti. Emang tadi itu kekuatan apa?"
Io terdiam sebentar, sambil terus menutupi matanya. "Avatar.."
"Oh, kamu manggil dewa," ucapku santai, kemudian, kalian bisa tebak gimana reaksiku selanjutnya. "HAH?! Terus, kamu ngorbanin apaan?!"
"Penglihatanku bakal terganggu, tapi tenang aja. Cuma tiga jam.." Katanya.
Aku gak tau mau reaksi seperti apa. Kalau di sini, manggil dewa udah kaya pemujaan, harus ada sesuatu yang dikorbankan. Kekurangannya itu, tapi kelebihannya… udahlah gak perlu diragukan, namanya juga dewa.
"Avatar-ku tipe vantablack. Jadi aku bakal kehilangan kegelapan selama tiga jam dari mataku. Meski aku tutupi mataku seperti ini, tetap saja pandanganku masih silau." Lanjut Io.
Aku terkulai lemas mendengarnya. Itu berarti, kekuatan gue juga diserap avatar-nya Io! Elemen utama gue kan cahaya! YA BERARTI GUE JUGA KENA PENGARUHNYA KARENA AVATAR IO MUNCUL DEPAN MUKA GUE SAMA YUUTSU! (Lest: Tenang, tenang! Jangan rusuh!) Tapi paling enggak, aku jadi tahu salah satu kelemahan Yuutsu, tapi gak enak juga kalo harus ngorbanin sesuatu sampe kaya gini.
Taunya, bener aja, aku langsung ngerasa pusing dan mual. Tubuhku lemas seketika. Aku mencoba menahannya sampai menunduk-nunduk, tapi akhirnya aku terperosok ke tanah. Aku jatuh, dan udah gak kuat bergerak sama sekali.
"Racchi, kenapa?" Kata Io. "Kita harus cepat pergi dari sini, sebelum Avatarku meledak!"
Mampus lah kita.
Semenit kemudian, setelah Io susah payah berusaha melarikan diri denganku, terdengar ledakan yang suaranya cukup untuk membuat kerusuhan satu kota.
Drifting… [51%]
Sewaktu aku sadar, tiba-tiba aku sudah ada di rumah sakit, pondok Jones. *dilempar betadine* Aku melihat sekelilingku, di kasur sebelah ada Io, dan sebelah lagi kasur kosong. Tak jauh dari pandanganku, terdapat seorang gadis dengan rambut ikal berwarna merah muda, menggunakan topi hitam yang familiar, tengah duduk termangu dengan bingung.
"Hmmm…" Aku mulai terengah begitu aku membutuhkan udara untuk bernafas (sadar -_-).
Begitu aku merintih seperti itu, gadis yang barusan duduk tak jauh dari kasurku bangkit mendekatiku.
"Racchi, gimana kabarmu?" Tanyanya membuka percakapan.
"Uhh.." Sewaktu sadar, aku masih merasa sedikit pusing. Seolah aku telah pingsan, tapi memang itu yang terjadi. "Aku, mendingan…"
"…" Dia terdiam cukup lama. Pada saat itu, entah kenapa rasanya, seperti déjà vu. "Kamu, ingat aku?"
Perlu ada jeda yang terbilang cukup lama untuk membalas percakapan. Tapi konyolnya, aku malah bilang, "Hah?"
"Kamu ga inget siapa aku?" (Dylas: JADI SINETROOON!)
"Ohh, Doolly. Atau Lychee ya? Aku lupa sering manggil kamu siapa. Dolce, Dolly, atau Lychee?" Jawabku meracau. Ya, dalam tulisan Author sendiri, Author baru tau kalau Racchi panggil Dolce dengan sebutan 'Lychee.'
"Oh, masih ingat rupanya," Balasnya sambil tersenyum.
"Kenapa emangnya, kangen?"
"Bodo ah," katanya, kali ini mengendurkan senyumannya. Tatapan yang menghina.
"Loh, kamu kok gak kaget?"
"Kita udah tau ceritanya, dari Lest sama Venti."
"Yaaah.." Keluhku. "Tapi seneng aku bisa ke sini lagi?"
Dolce sempat tertawa kecil, dia jelas bahagia bisa bertemu lagi sama badut yang cinta setengah mati sama dia. Tapi, kalau dipikir-pikir, kejadian waktu itu jelas gak lucu kalau tiba-tiba aku ada di sini lagi. Dia bilang, dia denger berita kalau aku balik lagi dari Lest dan Venti. Itu artinya, satu kota gak bakal mikir aneh-aneh. Jadi, beban moralku sedikit berkurang.
"Jadi.. gimana Selphia selama aku ga di sini?" Tanyaku, sedikit basa-basi.
"Aman-aman saja, sampai kemarin.."
"Kenapa?" Tanyaku, pura-pura tak tahu.
"Forte diserang, pelakunya gak tahu siapa."
"Hah, terus, gimana kondisinya?"
"Pagi ini, ia sudah pulih. Terdapat luka di kepalanya, jadi kita sarankan supaya ia jangan dulu beraktivitas yang terlalu berat." Jelas Dolce. "Lalu, sore ini, tiba-tiba saja Volkanon menemukan kalian di dekat istana. Dia membawa kalian berdua ke sini."
Untuk seketika, aku terperanjat karena sadar kalau Io juga masih belum siuman. Aku melihatnya terbaring dengan damai di atas ranjang klinik di Selphia. Aku jadi kebingungan, sebenarnya kenapa ia tiba-tiba datang ke Selphia? Setelah ia menyerang Yuutsu, tiba-tiba saja kami tidak sadarkan diri dan dirawat di klinik ini. Padahal, sebelumnya ia bilang akan mengantarkan surat ke tempat-tempat lain, apa ia sadar kalau aku sudah terperangkap Yuutsu sejak awal?
"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan pada Io.." Ucapku dengan pandangan nanar.
"Entahlah, seharusnya ia sudah bisa sadar sekarang ini," Balas Dolce. "Ada yang terjadi di antara kalian?"
"Yah.. bisa dibilang kaya gitu."
Kami menunggu Io untuk siuman, sementara itu Dolce membuatkanku minuman hangat dan menawarkanku beberapa cemilan. Aku menerimanya dan memakan apa yang kelihatannya bisa dimakan, lalu meneguk teh hangat dengan lemon. Setelah itu, perasaanku membaik dan kondisiku menjadi lebih segar. "Terima kasih atas hidangannya,"
"Kamu gak perlu kaku begitu," jawab Dolce sambil tersenyum.
"Ah.. iya, hehehe. Aku memang selalu biasa begini."
Tak lama kemudian, apa yang dikatakan Dolce terjadi. Io menggerakkan kepalanya sambil merengek, kemudian membuka matanya seolah tak terjadi apa-apa. Pandangannya kosong, dan wajahnya lesu.
"Di mana aku…" gumam Io.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Dolce. "Kita di klinik Selphia, Volkanon yang membawamu kemari."
Perlu waktu bagi Io untuk mencerna perkataan Dolce. Kemudian setelah melihatku, seolah-olah ia mendapatkan kesadarannya kembali. "Ah, Racchi. Oh, ya.. aku ingat semuanya. Anyway, terima kasih telah merawatku, Dolce," katanya sambil berusaha bangkit, namun ia tampak tak sanggup melakukannya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanyaku dan Dolce bersamaan.
"Leherku, sakit.." Jawabnya sambil berusaha kembali ke posisi tidurnya.
Pasti karena efek ledakan itu, pikirku. Saat itu, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk melindungi kita berdua, karena aku sendiri malah kewalahan karena Avatar milik Io. Rasanya, pantas saja Io tidak pernah menggunakannya karena ia belum pernah dihadapi dengan kondisi pertarungan beregu, ia membutuhkan temannya untuk melindunginya selama pandangannya menjadi silau. Tapi, kalau digunakannya di dekatku, itu juga salah besar. Kenapa Io bisa bertindak seperti itu? Aneh kalau ia melakukan tanpa pemikiran yang matang, tapi ia juga pemikir yang cepat. Mustahil ia datang ke Selphia tanpa tujuan yang jelas.
"Io, ada yang ingin kutanyakan.." Kataku. "Kamu sadar kalau aku dijebak?"
"Yah.. aku menyadari setelah tahu jelas kronologi Racchi kembali lagi ke sini. Awalnya aku mengabaikan hal tersebut, alhasil aku membiarkanmu pergi."
"Jahat lah, harusnya kamu kasih tahu saja aku.."
"Masalahnya adalah, bagaimana pun juga kamu pasti akan datang ke Selphia…" Lanjut Io. "Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak mengulur banyak waktu. Sudahlah, lagipula sekarang kita impas."
"Lah, iya, bagaimana penglihatanmu?"
"Sudah membaik."
"Ada apa dengan penglihatannya?" Tanya Dolce.
"Dia menggunakan kekuatannya dengan mengorbankan pandangannya untuk melindungiku.."
Dolce terdiam sebentar, kemudian melanjutkan perkataannya, "Oh, ya, katanya ada banyak hal yang ingin kau tanyakan padanya."
"..?" Io kebingungan.
"Ah.. itu, Io.." Kataku. "Kenapa kamu ke Selphia?"
"Kamu ini gimana, aku kan sadar kalau Racchi dijebak Yuutsu, makanya aku mencarimu!" Kata Io, dia baru saja ngambek. Dan lagi, baru kali ini ia memanggilku dengan sebutan 'kamu.'
"Racchi.." Kata Dolce, pandangannya agak kesal. "Coba pahami perasaan Io sekarang. Dia baru saja siuman, aku tidak ingin ada hal-hal buruk menimpa kalian lagi."
Kala itu, aku tersadarkan. Iya sori, gue emang agak telmi kalo berurusan ama cewek. "Kamu berusaha melindungi aku, kan.."
Io tak menjawab, wajahnya masih dongkol. Dolce mengatakan pada Io, "Tidak apa-apa, Racchi memang rada-rada kalau soal beginian." Ya, dia ngomong gitu kan karena udah sering juga berurusan ama gua.
"Racchi, aku sebenarnya tidak peduli kalau kakak kehilangan ingatan atau apalah," Kata Io, tiba-tiba membuat suasana sedikit menegangkan. "Sampai sekarang, keselamatanmu adalah prioritas utama bagiku, jika dibandingkan pekerjaanku dengan ibu. Kamu tahu kenapa?"
"Aku yang merawatmu di dunia, untuk pertama kali?" Jawabku agak tegang. Duh, Io beneran ngambek nih, dia makin sering manggil 'kamu' ke kakaknya. Tapi di sisi lain, perasaanku diselimuti rasa bersalah dan sedih.
"Ayolah, kamu udah tau jawaban itu sebelumnya!" Kata Io makin kesal. Aku semakin bingung, dan Dolce masih berusaha mendengarkan Io. "Racchi mengenalkanku pada Selphia untuk pertama kalinya, dan pada saat itu aku merasa bahagia. Racchi yang mengenalkanku pada kebahagiaan itu, bukan ibu. Sewaktu Racchi tiba-tiba menghilang, aku terus mencari cara untuk membuatmu kembali, dan aku selalu ada untukmu bukan karena semata-mata urusan pekerjaanku, itu karena aku sayang dengan kakakku!"
Aku terisak ketika ia menghabiskan kalimatnya, tapi sebelum aku berkata apa-apa, ia masih terus ngomel. "Awalnya aku memaklumimu karena ingatanmu yang hilang, namun sekarang, aku membicarakannya tanpa sensor supaya Racchi sadar. Kamu adalah cinta pertamaku, Racchi!"
Io menangis begitu menghabiskan perkataannya, dan aku semakin tak bisa menahan air mataku. Aku berlutut dan menangis di dekatnya. Dolce, yang hanya melihat, tampak terharu terhadap pasangan adik-kakak ini. Yah, Author juga sedih nulisnya (Frey: *sambil ngusap air mata* Nggak ada yang nanya pendapat Author!).
"Racchi," Kata Dolce. "Ketika kamu menyatakan perasaanmu padaku, kira-kira beginilah yang akan kau lakukan kalau mengetahui ada perasaan kecewa pada kita selama kita menjadi teman. Aku mengerti cinta yang kamu maksud itu, dan sekarang, coba berempatilah pada adikmu."
Aku gak bisa menangkap dengan jelas perkataan Dolce barusan, tapi aku mengerti. Aku berusaha untuk menahan tangisanku yang tak kunjung reda.
"Io, terima kasih banyak, kamu sudah menyampaikan perasaanmu yang sebenarnya. Aku sendiri cukup senang, aku bisa merasakan suasana keluarga yang sehangat ini." Kata Dolce berusaha menghibur Io.
Io berusaha menghentikan tangisannya, kemudian berkata, "Uh, ya.. aku bicara begini supaya Racchi bisa menghargai perasaanku yang sebenarnya kupendam lama. Aku gak bisa mengatakan ini pada orang lain. Aku juga senang membicarakannya dengan Dolce."
Dolce tersenyum dengan penuh haru mendengar ucapan Io. Aku membuka wajahku yang kututup dengan kedua tanganku, kemudian memegang dengan lembut tangan Io. "Maafkan aku. Selama ini.."
Io tersenyum dan berkata, "Bodoh, gak ada yang memintamu untuk minta maaf." Sambil terus tersenyum, ia mengalihkan pandangan dariku. Wajah yang sangat penuh kedamaian. "Sebenarnya, aku tak perlu bicara sampai segininya. Tapi, aku juga ingin memicu ingatanmu dan menyadarkanmu kalau memang Racchi lupa. Aku senang kalau Racchi bisa sampai mengerti."
Ketika ia berkata seperti itu, terasa suatu perasaan janggal. Perasaan itu sangat nyaman, namun aku terus menelusuri otakku, seperti apakah ingatan yang hilang mengenai kebahagiaan itu? Seolah aku mendapat ilham dan ingatanku kembali, tapi tetap saja, ingatanku tak akan kembali begitu saja.
"Aku mengalami krisis yang amat gawat, tapi sekarang aku sangat lega." Kata Io tanpa mengendurkan senyumannya. "Setelah ini, permasalahanmu dengan Yuutsu pasti akan segera berakhir. Percayalah padaku, karena untuk ke depannya, aku juga memercayaimu. Kamu bisa menyelesaikan masalah itu."
Tanpa melepaskan tangan Io, aku menempelkan tangannya ke peningku. Rasanya, itulah benda terhangat saat itu. Kenapa aku baru menyadarinya? Perasaanku jadi semakin kacau. Aku jadi tidak terpikiran apapun untuk ke depannya. Aku sangat terpaku pada momen ini, dan entah kenapa, rasanya baru kali ini.
Tiba-tiba Dolce tersentak, "Io?!"
Aku melihat ke depan dan mendapati wajah Io yang tidak sadarkan diri. Matanya tertutup dan mulutnya mengendur. Tidak, jangan sekarang. "Io, kenapa? Bangun, tolong sadar!"
"Tenang Racchi, jantungnya masih berdetak. Biarkanlah, mungkin ia kelelahan. Aku akan merawatnya untukmu, tidak masalah, kan, Racchi?"
"Aku juga ingin ikut merawatnya…"
"Dia memercayakanmu untuk menyelesaikan urusanmu. Aku yang akan merawatnya."
Aku diam sebentar, dan tanpa pikir panjang lebar, aku mengizinkannya. Io sudah cukup membantu dan pekerjaannya sudah selesai. Aku terus berpikir seperti itu. Kali ini, aku akan menyelesaikannya sendiri. Aku janji, Io!
"Baiklah, jika ada sesuatu, tolong kabari aku, ya."
"Terima kasih, Racchi." Kata Dolce.
Setelah itu, aku berjalan ke luar menuju rumahku di Selphia (tanpa kepikiran apakah rumah itu masih kosong atau tidak). Hari sudah malam, dan tanpa sadar, pada saat aku berjalan menuju rumahku setelah keluar klinik, langkahku menjadi pendek. Aku terus berpikiran dan merasakan sesuatu yang agak ganjal, hingga akhirnya, langkah itu terhenti.
To be Continued
Drifting… [62%]
