Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : T

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Rabu, 6 Januari 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . . .

Sementara Sona, sudah berjalan cukup jauh dari Rias dan peeragenya. Tiba-tiba Tsubaki yang berjalan disamping Sona bertanya.

"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan, Kaichou?"

"Umm. . . . Ku rasa, aku punya kesempatan bagus untuk memperkenalkan Naruto-san dan Hinata-san pada banyak orang" jawab Sona

"Hah? Ada apa dengan mereka berdua?"

"Aku ingin mereka ikut serta mendampingiku saat menghadiri pertemuan besar itu nanti"

"Kau serius?" tanya Tsubaki tidak percaya

"Memangnya aku pernah becanda?"

Tsubaki tidak menanggapi pernyataan Sona.

"Instingku mengatakan, akan ada hal menarik yang terjadi pada pertemuan besar itu nanti, dan aku ingin melihat bagaimana mereka bereaksi dan bertindak jika ada hal tidak terduga" lanjut Sona lagi.

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 22. Sandiwara Bermula, Tirai Panggung pun Terbuka.

-Kuoh Gakuen-

Kota Kuoh, salah satu kota destinasi wisata di Jepang. Ibarat kata, kota ini adalah tiruan kota-kota di Eropa jaman dulu. Walaupun tidak sepenuhnya benar, tapi ada beberapa bangunan dengan gaya arsitektur Eropa jaman dulu disana. Salah satunya adalah, Kuoh Gakuen. Akademi setingkat SMA dengan bangunan sekolah bergaya eropa yang sangat megah, yang dulunya adalah sekolah khusus perempuan namun sekarang menjadi sekolah campuran setelah keluarnya kebijakan sekolah yang baru sejak beberapa tahun ini.

Tatkala pagi sudah menjauh, siang menghampiri dan teriknya sinar matahari mulai terasa menyengat, tampak dua orang manusia, sepasang, laki-laki dan perempuan dengan seragam Kuoh Gakuen sudah berdiri tepat didepan gerbang akademi Kuoh.

Laki-laki beriris mata seperti permata sapphire dan bersurai blonde dengan kulit berwarna tan yang eksotis, wajahnya yang tampan, gagah, dan terkesan sangat dewasa untuk ukuran anak SMA tapi tidak sedikitpun mengurangi kadar keimutannya sebagai seorang remaja. Satu lagi, seorang gadis yang sangat cantik berkulit putih bersih, dan berbadan mungil namun ideal yang jarang dimiliki gadis-gadis SMA pada umumnya. Dia memiliki iris mata layaknya manik amethys dan rambut berwarna indigo gelap panjang tergerai sampai pinggang dengan poni rata menutupi dahinya.

Mereka, Naruto dan Hinata, yang seharusnya beberapa hari lagi akan menimba ilmu di sekolah ini, namun untuk suatu urusan mereka berdua harus datang ke Kuoh Gakuen hari ini. Jadi jangan sebut mereka berdua adalah siswa yang datang telat.

Flashback Start...

"Kita hari ini ngapain Hinata, tidur-tiduran di apartemen saja?"

Naruto bertanya ketika dirinya dan istrinya masih duduk di meja makan. Mereka berdua baru saja selesai menyantap sarapan. Sarapannya agak telat, waktu menunjukkan sudah hampir siang. Salahkan saja kegiatan mereka berdua tadi malam yang begitu panas dan -ugghh,,,- sehingga membuat keduanya telat bangun karena sama-sama kelelahan.

Sejak perjanjiannya dengan Sona kemarin sore, Naruto tidak perlu lagi bersusah payah bekerja membanting tulang mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Walalupun informasi adalah imbalan dari perjanjian itu, tapi Sona tetap memberi kompensasi berupa uang yang cukup banyak dan fasilitas-fasilitas lainnya agar Naruto tidak perlu bekerja dan bisa fokus pada perjanjian itu. Sebenarnya tidak masalah kalau bagi Naruto kalau hanya tidur-tiduran saja di apartemen, apalagi bersama istrinya tercinta. Eheheheee.

"Tidak tahu kalau kamu, Naruto-kun. Kalau aku sih, mungkin akan berbelanja saja. Kulkas kita sudah hampir kosong" jawab Hinata santai.

"Gh" ekspresi Naruto berubah sedikit masam karena apa yang dipikirkannya tadi tidak menjadi kenyataan, "Ya sudah, aku ikut. Aku akan menemanimu belanja, daripada aku di apartemen saja mati kebosanan"

"Teserah mu saja lah, Naruto-kun." balas Hinata lembut. Sebagai seorang ibu rumah tangga, tentu berbelanja akan lebih menyenangkan jika ditemani sang suami.

Drrrtttt...

Naruto dan Hinata menoleh, ada benda yang bergetar berada di atas meja dekat TV.

"Benda apa itu, Hinata? Aku belum pernah melihatnya di apartemen kita" Naruto bertanya karena tidak tahu apa-apa. Benda kecil aneh berbentuk segiempat seperti pelat datar yang dapat bersinar dan bergetar sendirinya. Hiiiiiiiiee,,,,, membuat Naruto jadi merinding. Salahkan sifatnya yang phobia pada hal berbau mistik, yang selalu melekat pada dirinya, sejak di dunia shinobi, hingga dibawa ke DxD Universe.

"Aduuuuh... Itu namanya smartphone, Naruto-kun. Di dunia ini, hampir setiap orang memilikinya"

"Eh? . . . Apa namanya tadi? semat,,, semat apa?" tanya Naruto sekali lagi.

"Smart-Phone. . . ."

"sematpun"

"Iyaaa,,, Naruto-kun sayaang" Hinata tidak ingin mepermasalahkan ini, "Smartphone itu adalah alat untuk berkomunikasi dari jarak jauh di dunia ini. Sona-san yang memberikannya pada kita agar dia lebih mudah menghubungi kita"

"Ooohh~~,,, terus kita apakan benda itu" kata Naruto sembari menunjuk ponsel pintar yang masih bergetar.

"Ya ampun. Aku lupa, ini karena kau bertanya padaku Naruto-kun. Tunggu sebentar ya" pinta Hinata, lalu ia berdiri dan bergegas mengangkat panggilan telepon itu.

"Moshi-moshii" Hinata sudah tahu siapa yang menelpon karena hanya ada satu orang yang tahu nomor ponsel ini, tidak lain adalah Sona.

"Hinata-san. Bisakah kau dan Naruto-san datang kesekolah sekarang. Aku tunggu secapatnya, ada hal yang ingin ku jelaskan sebagai tugas pertama kalian"

"Ha'i..." jawab Hinata segera.

"Jangan lupa pakai alat itu dan seragam sekolah yang sudah ku berikan pada kalian"

"Wakarimashita..." balas Hinata

Tuuuutttt...

Hinata kembali duduk di kursi berhadapan dengan Naruto terpisah meja makan.

"Ada apa Hinata?" tanya Naruto melihat perubahan raut wajah istrinya.

"Kita tunda belanjanya. Sekarang kita harus ke sekolah, Sona-san meminta kita secepatnya kesana. Ada hal yang ingin disampaikannya untuk tugas pertama kita"

"Baiklah, ayooo" sahut Naruto langsung saja tanpa protes

Flashback End...

"Jadi, kita masuk lewat gerbang ini?" tanya Naruto serasa tidak yakin dengan gerbang Kuoh Gakuen. Naruto entah kenapa jadi paranoid, padahal tidak mungkin ada jebakan di gerbang akademi tempat manusia biasa menimba ilmu.

"Mau bagaimana lagi? Masa kita melompat-lompat di atap gedung siang-siang ditempat ramai begini. Ini Kuoh, bukan Konoha,,, Naruto-kun" Hinata sudah terbiasa dengan kelakuan aneh suaminya. Bukan sejak menjadi istrinya saja, tapi sudah sejak kecil, sejak dia kenal dengan Naruto.

"Kau yakin?" tanya Naruto sekali lagi

"Umm." Hinata mengangguk, "Lagipula kita berpakaian sama dengan siswa-siswi disini, jadi kurasa tidak masalah"

Naruto hanya mengangkat bahu, lalu mereka berdua melangkah masuk.

Tidak lama setelah Naruto dan Hinata masuk kedalam komplek sekolah, Naruto merasa de javu. Hinata masih tenang-tenang saja. Hanya Naruto yang merasa aneh, ini seperti keadaan di Konoha dimana ketika ia ke akademi ninja atau sedang di jalan dan diteriaki 'Senpaaaaaiiii...' oleh calon-calon kunoichi muda di akademi ataupun gadis-gadis centil di jalanan Konoha.

Dan memang begitulah kenyataannya sekarang. Karena kebetulan sekarang adalah jam istirahat, jadi banyak siswi-siswi yang berkeliaran di area komplek sekolah. Mereka sebenarnya diam, tidak ada teriakan-teriakan histeris ala makhluk-makhluk alay, hanya saja sorot mata mereka terus memperhatikan dua orang yang baru masuk ke dalam sekolah. Katakanlah karena dua orang yang sedang mereka perhatikan tampan dan cantik, yang mungkin akan jadi idola baru mereka, tapi bukan itu fokus utamanya. Mereka sangat penasaran karena sama sekali belum pernah melihat dua orang itu.

Selain merasa de javu akan tatapan gadis-gadis Konoha, Naruto juga merasakan suatu de javu yang lain. Jadi ada dua de javu yang dirasakan Naruto sekaligus, aneh memang... Yang kedua ini rasanya mirip sekali seperti tatapan lapar guru yang selalu dipanggilnya dengan sebutan 'Ero-sennin', siapa lagi kalau bukan Jiraiya. Untuk perasaan ini, Naruto merasa Hinata lah yang jadi korbannya sehingga dia memasang tampang pembunuh pada setiap murid yang bergender laki-laki yang ada disekolah. Cara ini terbukti ampuh, buktinya Naruto tidak melihat ada satupun siswa yang berani menatap ke Hinata lagi.

Beberapa waktu berkeliling dan melihat-lihat keadaan sekolah saat jam belajar sedang tidak berlangsung, akhirnya Naruto dan Hinata bertemu dengan orang yang menyebabkan dia berada disini, Sona Sitri. Tadi selama berkeliling, mereka berdua juga melihat adanya orang tua murid yang berkeliaran. Wajar saja, karena hari ini adalah hari kunjungan keluarga siswa Kuoh Gakuen.

"Naruto-san, Hinata-san. Ayo ikut aku" ajak Sona santai, tidak formal apalagi nada memerintah. Dia bersikap seperti ini dengan tujuan untuk mengakrabkan diri sehingga ikatannya dengan Naruto dan Hinata tidak hanya sebatas sebuah perjanjian, tapi layaknya seorang teman. Sona lalu berjalan didepan Naruto dan Hinata, menuntun kedua orang itu ke Ruang OSIS.

"Kita mau kemana, Sona-san?" tanya Naruto basa basi, dia juga ingin lebih akrab dengan Sona sebagai teman.

Memang seperti itulah kondisinya, Naruto sudah cukup akrab dengan semua anggtoa OSIS karena Naruto meyakini dalam hatinya, bahwa Sona dan teman-temannya adalah orang-orang baik walaupun aura iblis yang dirasakannya cukup membuatnya merasa tidak enak. Hinata pun juga bersikap seperti itu. Walau kemarin sempat terjadi ketegangan saat membuat perjanjian, tapi itu tidak masalah dan sudah dilupakan begitu saja.

"Ke ruang OSIS" jawab Sona singkat, padat dan jelas.

"Oh~~~" hanya itu yang keluar dari mulut Naruto.

Inilah salah satu sifat yang kurang disukai Naruto dari diri Sona. Dia sudah cukup mengenal Sona sebagai gadis yang hanya bicara seperlunya saja, tidak jauh berbeda dengan Sasuke. Hal ini membuat Naruto bingung mencari topik pembicaraan jika lawan bicaranya hanya menanggapi seadanya, Naruto itu tidak suka keheningan.

Akhirnya, tidak butuh waktu lama. Mereka bertiga sampai diruang OSIS. Hanya ada mereka bertiga diruang itu, semua anggota OSIS yang lain sedang sibuk.

"Duduk lah!" kata Sona, buka suara pertama kali setelah masuk keruang OSIS

Naruto dan Hinata menurut, lalu duduk di sofa.

"Begini, aku sudah menceritakan kan kemarin malam tentang tiga fraksi besar makhluk supranatural dan perang yang pernah terjadi diantara ketiganya?"

Naruto dan Hinata mengangguk saja.

"Saat kita bertemu pertama kali dan kalian menolongku waktu itu dari serangan orang berambut perak, sebenarnya ada hal besar yang terjadi sebelum itu. Kokabiel, salah satu petinggi fraksi malaikat jatuh berniat memulai perang lagi dengan cara menyerang sekolah ini serta membunuh aku dan Rias sebagai anggota keluarga dari fraksi iblis. Dia juga menggunakan senjata suci milik fraksi malaikat. Jika dia berhasil, maka pasti akan timbul perang besar antara tiga fraksi. Beruntung rencana Kokabiel dapat digagalkan. Dan sekarang untuk menindak lanjuti insiden itu dan mencegahnya agar tidak terulang lagi. Pemimpin dari masing-masing fraksi berniat mengadakan pertemuan besar di kota ini" kata Sona menjelaskan panjang lebar.

"Lalu apa tugas kami?" tanya Naruto.

"Pertemuan itu akan diadakan disekolah ini. Jadi aku sebagai ketua OSIS adalah tuan rumah dan aku bersama Rias sebagai korban ulah Kokabiel akan menyampaikan laporan langsung tentang penyerangan itu didepan pemimpin dari ketiga fraksi. Aku ingin kalian berdua mendampingiku dalam pertemua itu. Mengerti?"

"Kapan waktunya?" tanya Naruto lagi.

"Besok malam"

"Baiklah, tidak masalah untuk kami. Iya kan, Hinata?"

"Ummm" balas Hinata disertai anggukan kepala. "Kalau sudah, kami ingin pulang dulu. Aku ingin berbelanja kebutuhan dapur"

"Tunggu dulu" kata Sona, mencegah kepulangan Hinata dan Naruto, "Boleh bicara sebentar?. Begini, aku sebenarnya penasaran"

"Penasaran kenapa?"

"Apa yang terjadi pada kalian berdua sehingga bisa-bisa nya aku menemukan kalian dalam kondisi sekarat?" tanya Sona. Sebenarnya sudah lama Sona ingin menanyakan hal ini.

Naruto dan Hinata saling berpandangan sejenak, tidak lama setelah itu Naruto yang bersuara untuk menjawab pertanyaan Sona.

"Begini, waktu itu saat kami dalam perjalanan hendak pulang, kami tiba-tiba berada ditempat yang aneh yang tidak ada tempat berpijaknya. Dan saat aku melihat keadaan sekitar, ternyata kami berdua berada tepat di depan mulut seekor naga merah raksasa yang berukuran sangat besar. Lalu tiba-tiba di tengah mulut naga itu muncul gumpalan energi dan langsung saja ditembakkannya kearah kami. Karena terkejut aku tidak sempat berbuat apa-apa dan setelah itu aku tidak ingat lagi kejadian selanjutnya" cerita Naruto panjang lebar.

Hinata mengangguk membenarkan perkataan Naruto.

Naruto menjawab dengan jujur, tapi tidak seratus persen semua hal dia katakan. Ada hal yang sengaja tidak dia ungkapkan. Kejadian sebenarnya adalah, Naruto dan Hinata pulang dari Bleach Universe, secara tidak sengaja Hinata melakukan sedikit kesalahan dalam menggunakan cube untuk menentukan koordinat tujuan kepulangan mereka. Akhirnya mereka berdua muncul di tempat yang disebut celah dimensi di DxD Universe.

Ketika mereka berdua bingung dengan apa yang terjadi, tiba-tiba saja ada seekor naga raksasa berwarna merah seukuran juubi datang. Naga itu membuka mulutnya lebar-lebar dan tanpa berkata apapun langsung menembakkan laser dengan daya rusak luar biasa. Naruto masih belum selesai mencerna apa yang terjadi, begitupula dengan Hinata. Mereka berdua tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Mungkin naga merah raksasa itu merasa terganggu dan marah karena tempat tinggalnya diusik oleh manusia yang tidak seharusnya berada disana.

Naruto hanya sempat membuat perlindungan seadanya, dia juga memeluk Hinata dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng agar Hinata lebih aman karena bahaya besar yang tiba-tiba saja muncul. Dan setelah itu, Naruto tidak tahu apa-apa lagi. Saat dia sadar, pertama kali yang ia lihat adalah wajah Hinata dan kemudian dia baru tahu kalau dia bangun di ruang OSIS setelah di tolong oleh Sona. Setelah itu, Kurama juga menceritakan apa yang Sona coba lakukan pada tubuhnya saat tidak sadarkan diri namun berakhir gagal. Tapi Naruto sendiri tidak mempermasalahkan, malah berterima kasih karena Sona sudah mau menolongnya.

"Great Red" gumam Sona pelan.

"Aaah,,,, apa? Apa itu Great Red?" kata Naruto yang ternyata mendengar jelas gumaman Sona.

"Menurut asumsiku, tempat aneh yang kalian sebut tadi adalah celah dimensi dan ciri-ciri naga yang kalian sebutkan paling mendekati dengan naga bernama Great Red"

"Memangnya ada apa dengan Great Red?" tanya Naruto penasaran.

"Dia adalah naga yang sekarang menjaga celah dimesi. Naga dengan julukan The True Dragon, makhluk terkuat didunia ini bersama dengan rivalnya, Ophis, The Dragon God"

Ekpresi Naruto dan Hinata sedikit berubah karena perkataan Sona.

"Ada apa dengan kalian?" tanya Sona yang menangkap perubahan ekspresi dua orang didepannya.

"Ah,,, A-aaku tidak menyangka saja, kami diserang oleh makhluk terkuat di dunia ini. Hiiiiieee,,, aku tidak ingin lagi bertemu dengannya. Untung saja kami berdua masih diberi kesempatan hidup" kata Naruto dengan gestur tubuh yang sengaja dibuat merinding. Dia berharap, dengan begini Sona tidak akan bertanya lebih jauh lagi.

Hal yang membuat Naruto dan Hinata sedikit terkejut tadi adalah keluarnya nama Ophis dari mulut Sona. Mereka berdua masih ingat dengan jelas, apa yang dilakukan Ophis pada mereka berdua, bahkan telah membuat Naruto sekarat beberapa hari. Great Red adalah rival Ophis, berarti Great Red sama kuatnya dengan Ophis. Tidak perlu lagi dibuktikan dengan pertarungan.

Ancaman yang terlontar dari mulut Ophis kepada Hinata waktu itu, seolah dia akan menjadi penghalang misi yang mereka berdua jalankan. Jadi, menghindari konfrontasi dengan dua makhluk itu, mau tidak mau menjadi suatu keharusan bagi Naruto. Lalu karena Naruto tidak ingin lebih banyak orang lagi yang terlibat dengan misinya, maka dari itu ia ingin menghindari pembicaraan tentang Ophis dan Great Red dengan Sona. Cukup Ophis saja seorang.

Berbeda halnya dengan Hinata, sebenarnya dia ingin menggali informasi tentang Ophis lebih dalam dari Sona. Tapi karena suaminya sudah terlanjur bersikap seperti itu, ya sudah lah, mungkin lain kali saja, pikir Hinata.

"Yah, semoga saja kalian tidak akan bertemu lagi dengannya" kata Sona santai. Sona tidak bisa membahas hal ini lebih jauh, sikap yang ditunjukkan Naruto jelas menandakan bahwa dia tidak ingin membahas kejadian itu lagi, mungkin karena trauma psikis saja, karena Naruto sampai sekarat bahkan hampir mati, pikir Sona sederhana tanpa menaruh curiga berlebihan.

Menurut Sona, bagaimanapun caranya atau apapun sebabnya yang membuat Naruto dan Hinata bisa berada di celah dimensi, itu bukan urusannya. Tapi fakta penting kalau Naruto dan Hinata bisa selamat dan masih hidup setelah diserang oleh The True Dragon Great Red membuktikan bahwa mereka berdua pasti kuat. Jadi dia yakin bahwa, dia tidak salah membuat keputusan untuk menjalin kerja sama dengan Naruto dan Hinata. Ini pasti menjadi keuntungan besar bagi Sona nantinya.

Braaakkk,,,,

Tiba-tiba terdengar keras suara pintu dibanting. Pelakunya adalah salah seorang anggota OSIS. Gadis bernama Tomoe yang merupakan Knight dalam keanggotaan peerage Sona. Dia adalah gadis hiperaktif yang tampak selalu ceria, jadi membanting pintu sudah menjadi kesehariannya.

"Haaaahh,,, Kaichou...!" teriak Tomoe dengan nafas terengah-engah, "Eh, ada Naruto-kun dan Hinata-chan juga" tambahnya, tampak terkejut dengan keberadaan Naruto dan Hinata di sekolah, ditambah lagi memakai seragam siswa Kuoh. Padahal Kaichou-nya menyuruh Naruto dan Hinata masuk sekolah seminggu lagi.

"Yohallooo. Tomoe-chan" sapa Naruto riang. Sedangkan Hinata hanya memasang senyum pada kedatangan Tomoe yang tiba-tiba.

Naruto paling akrab dengan Tomoe dibanding anggota peerage Sona yang lain, faktor kesamaan sifat hiperaktif dari dalam diri keduaya lah yang membuat mereka seperti itu dengan sangat cepat.

"Halo juga, Naruto-kun" balas Tomoe

"Tomoe...!" seru Sona. Walalupun sudah kebiasaan, tapi tetap saja tingkah Tomoe sering membuatnya naik darah, "Bisa tidak kalau masuk itu, ketuk pintu dulu"

"Eheheheee..." Tomoe si pelaku, hanya cengengesan jika sudah dimarahi King-nya.

Naruto tersenyum dalam hati, ini mengingatkannya saat kecil, saat masih genin ketika ia seringkali membuat Tsunade yang menjabat Hokage Kelima marah-marah ketika ia masuk tanpa mengetuk pintu. Apa yang terjadi didepannya antara Tomoe dan Sona, persis sama dengan dirinya dan nenek Tsunade dimasa lalu.

"Anoo, kaichou. Ada masalah di aula. Tahu sendiri kan? Ada kakakmu" kata Tomoe menjelaskan penyebab ia berbuat seperti tadi.

"Haaaaahhh..." Sona membuang nafas pasrah sejenak, kemudian menatap Hinata dan Naruto bergantian. "Hinata-san, Naruto-san. Bisa ikut aku? Aku ingin mengenalkan kalian berdua pada orang-orang sebagai anggota peerageku"

"Baiklah" jawab Naruto cepat, sedangkan Hinata hanya menjawab dengan anggukan.

.

Aula sekolah sedang tampak ramai. Jelas saja, penyebabnya adalah hadirnya seorang gadis cosplayer seksi yang berkunjung sebagai keluarga salah satu siswa Kuoh Gakuen. Kalau datang dengan cara biasa tidak jadi masalah, tapi ini datang dengan pakaian cosplay, lengkap dengan semua aksesorisnya.

Magical Girl Milky Spiral Seven Alternative Cosplay, itulah peran yang sedang gadis itu lakonkan. Berpakaian ala penyihir dengan busana minim berwarna merah muda, rambut hitamnya dikepang dua, dan tak lupa sebuah tongkat sihir yang sangat kekanak-kanakan ditangan kanannya.

"Hey, apa yang sedang kalian lakukan hah?" seorang anggota OSIS bergender laki-laki marah-marah. Dia sedang berdiri menghadap banyak siswa yang ramai-ramai berada di aula, sekaligus menyembunyikan sang gadis cosplayer dibelakang punggungnya. Jelas saja dia marah, banyak sekali siswa-siswa yang seenak jidatnya mangambil foto di aula, padahal dikelas sedang ada acara kunjungan keluarga siswa ke sekolah. "Sudah, pergi sana. Hus, huss" katanya mengusir siswa-siswa itu.

"Dasar OSIS pengganggu"

"Ini hanya sesi pemontretan"

"Apa masalahmu hah?"

Begitulah teriakan protes yang dilancarkan siswa-siswa disana. Tapi walaupun protes, mereka tetap pergi dari sana. Tidak ada yang berani macam-macam dengan anggota OSIS.

"Bisakan, anda datang dengan wajar?" kata Saji pada sang gadis cosplayer. Saji lah anggota OSIS yang mengusir siswa-siswa tidak tahu diri tadi.

"Yoo, Saji. Sepertinya kau sedang bekerja keras" bukan jawaban dari gadis cosplayer, tapi yang Saji dapat adalah sapaan riang dari rekan sesama budak iblis, Hyoudo Issei. Dia datang bersama Rias, Akeno, dan Asia karena penasaran dengan suara ribut-ribut yang berasal dari aula.

"Ini bukan waktunya bercanda, Issei" protes ia layangkan pada Issei yang seenaknya mengganggu kerjaannya.

Brakkk,,

Pintu Aula dibanting oleh seorang gadis berkacamata dengan rambut hitam model bob. Dia tidak bersuara apapaun, hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.

"Huuaaaaaa,,,, Sou-tan. Ketemuuu..." pekik si gadis cosplayer seksi.

"Hoi-hoiii. Jangan bilang kalau Kaichou ada hubungan dengan gadis cosplayer ini?" bisik Issei pada Saji.

"Yah, dia kakaknya Kaichou, Serafall Leviathan-sama. Dia juga seorang Maou seperti kakaknya Rias-sama"

"Ehh" Issei terkejut dengan jawaban Saji.

"Sou-taaaann" teriakan cempreng Serafall menghentikan acara bisik-bisik Saji dan Issei. Bahkan dia tanpa ampun memeluk Sona dengan erat.

Yang dipeluk, hanya memasang wajah datar, tak ada perubahan ekspresi sedikitpun.

Serafall melepas pelukannya, "Sou-tan. Mukamu memerah tuh, apa kamu senang bertemu dengan kakak tercintamu ini lagi? Ayooo... Begembiralah, jangan murung seperti itu. Kau seharusnya berlari memelukku sambil berteriak 'Kyaaaa,,,, Onee-samaaaaa'. Lalu ada ribuan bunga-bunga lili yang menjadi latarnya. Itulah yang aku pikirkan. . . . ." Serafall terus mengoceh tidak jelas walau Sona sama sekali tidak menghiraukannya.

Bulir keringat sebesar biji jagung turun dari pelipis Sona, dalam hatinya dia benar tidak tahan dengan sikap childish kakaknya, tapi ekpresinya di wajahnya masih tetap datar, sedatar papan setrikaan.

"O hisashiburi desune, Serafall-sama" sapa Rias yang sudah berada dekat dengan Serafall.

"Oh, Rias-chan, hisahiburi. O genki desuka?" tanya Serafall membalas sapaan Rias.

"Ha'i, genki desu, Serafall-sama" jawab Rias dengan hormat.

Degggg..

Semua orang menjadi bingung, datangnya dua orang manusia berbeda gender dibelakang Sona langsung membuat banyak tanda tanya di kepala mereka. Yah, semuanya hanya bingung ditambah rasa penasaran biasa, sama sekali tidak ada hal besar.

Tapi berbeda dengan Serafall, hanya dia saja yang merasakan hal lain. Suatu hal yang pernah ia rasakan lebih dari sebulan lalu saat tiba-tiba dalam waktu singkat muncul sebuah pusat energi yang terasa sangat kuat yang hanya diketahui oleh orang-orang berkedudukan tinggi saja, seperti dirinya yang menjabat sebagai salah satu dari empat mauo.

Serafall memandang laki-laki yang datang mengekor dibelakang adiknya ini dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia jelas merasakan sesuatu, sesuatu yang sangat mirip dengan yang ia rasakan waktu itu walau sekarang terasa sangat kecil dari diri si laki-laki, bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan yang dia rasakan saat itu. Hal ini membuat dirinya terpaksa menelan keraguan.

Rumor tentang adanya eksistensi baru memang sedang hangat dibicarakan oleh semua jenis ras makhluk supranatural, jadi kemungkinan Sona juga sudah tahu rumor itu. Tapi Serafall tidak sedikitpun memberitahu Sona bahwa rumor itu memang benar adanya. Bukti-bukti kuat tentang adanya eksistensi baru itu, bahkan fakta kekalahan Sairaorg masih dirahasiakan oleh keempat mauo agar tidak menimbulkan kehebohan besar dikalangan kaum iblis. Jadi Sona, Rias, dan iblis-iblis muda lainnya tidak ada yang tahu tentang eksistensi baru itu. Karena tidak ingin menimbulkan hal-hal yang mencurigakan, akhirnya Serafall kembali memasang kelakukan childish seperti biasa.

Tatapan singkat yang sulit diartikan dari Serafall kepada Naruto tadi, tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Semua orang yang ada disana, Rias dan perageenya, Sona dan Saji bahkan Naruto pun juga tidak sadar karena mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi tidak dengan Hinata. Mata Hinata tidak bisa dibohongi, mata itu mampu melihat segalanya. Walau Byakugannya tidak aktif tapi dia dapat melihat dengan jelas kalau tatapan singkat yang diberikan Serafall pada Naruto akan berujung pada sebuah masalah besar dan pelik suatu hari nanti.

"Ettooo, , , , Kaichou" kata Naruto. Dia selalu memanggil Sona dengan sebutan 'Kaichou' jika ada orang lain selain anggota peerage Sona untuk menyembunyikan identitasnya sebagai peerage palsu. Dia heran, sejak tadi dirinya hanya diberi tatapan penasaran penuh tanda tanya sejak ia masuk ke aula.

Sona bisa tenang sekarang, keikutsertaan Naruto dan Hinata ke aula bisa membuat banyak orang terdiam, termasuk kakaknya yang childish dan hiperaktif ini. Tapi itu hanya sesaat karena,,,,

"Sou-tan. Siapa dia? Kau yang membawanya kemari?" Serafall kembali bicara pada Sona dengan nada kekanak-kanakan.

"Ah,,, mumpung banyak orang yang berkumpul disini. Aku ingin memperkenalkan kedua orang ini, mereka adalah anggota peerageku yang baru"

"Hah? Peeragemu kan sudah lengkap. Kok bisa?" Rias tidak mengerti. Dia tahu kalau Peerage sahabatnya sudah lengkap sejak lama. Hanya dia sendiri yang masih kurang. Satu bidak rook Rias masih kosong.

"Mereka berdua adalah peerage yang ku reinkarnasi menggunakan prototype percobaan evil piece bidak pion ekstra yang pernah di berikan Ajuka-sama padaku. Anggap saja kalau mereka berdua anggota peerage cadangan" jelas Sona.

"Oh, aku mengerti. Tapi kenapa bisa? Seingatku kemarin saat aku di ruang OSIS, yang perempuan itu masih manusia" tanya Rias lagi sambil menunjuk Hinata. Dia masih ingat saat mengunjungi ruang OSIS untuk menyerahkan laporan bulanan klub pada Sona, saat itu aura yang terpancar dari tubuh Hinata adalah aura manusia dan Rias yakin itu.

"Tidak ada hal besar. Laki-laki berambut pirang ini cukup lama tidak sadar-sadar dari pingsannya, jadi aku menawari untuk mereinkarnasi menjadi iblis. Akhirnya Hinata-san juga ingin ikut direinkarnasi" jawab Sona enteng membuat cerita bohong.

Naruto dan Hinata jelas masih manusia, bukan iblis. Tapi berkat alat yang diberikan Sona dan disuruh Sona untuk memakainya saat berbicara di telepon tadi pagi, auranya dapat di ubah. Sekarang aura yang terpancar dari tubuh Naruto dan Hinata sama seperti iblis pada umumnya, setara Low-Middle Class Devil atau iblis kelas menengah kebawah. Itu hanya penemuan kecil Mauo Ajuka, dan kebetulan saja Sona memilikinya.

Tidak ada seorang pun yang menyadari, bahkan Serafall Sang Mauo Leviathan juga tidak menyadari kalau Naruto dan Hinata memakai alat itu karena disamarkan dalam bentuk sepasang anting untuk Hinata dan sebuah piercing atau tindik kecil berwarna hitam yang terpasang di daun telinga kiri Naruto sehingga membuat Naruto terkesan berandalan karena siswa Kuoh Gakuen memiliki aturan dilarang memakai piercing. Beruntung tidak ada seorang pun yang meminta bukti dengan melihat sayap iblis milik Naruto dan Hinata, akan jadi masalah karena Sona tidak mempersiapkannya sampai kesitu.

"Oh, maaf. Aku lupa" kata Sona pada orang-orang yang lebih dulu berada di aula, lalu dia beralih menatap peerage palsunya, "Naruto, Hinata, ayo perkenalkan diri kalian" kata Sona memerintah.

Akting sudah dimulai sejak tadi, selain Naruto yang menggunakan sebutan Kaichou untuk Sona, Sona pun juga memanggil nama depan Naruto dan Hinata tanpa embel-embel -san tanda segan dan hormat seperti biasa. Dia ingin meperlakukan Naruto dan Hinata sama seperti anggota peerage asli miliknya sebagai King mereka.

"Ah ya. Perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto, dattebayou... Dan dia Uzumaki Hinata" kata Naruto dengan santai dan hangat memperkenalkan dirinya juga memperkenalkan Hinata. Walau sedang berakting, dia tetap bersikap seperti dirinya yang biasanya, tidak pernah memandang terlalu tinggi terhadap orang lain, juga tidak memandang rendah. Itulah sifat Naruto. "Kami berdua masing-masing mengkonsumsi satu bidak pion ekstra" tambah Naruto lagi.

"Salam kenal" tambah Hinata.

"Aku Rias Gremory, putri Keluarga Gremory. Aku juga King sama seperti Sona" Rias memperkenalkan diri terlebih dahulu. "Dan mereka bertiga adalah anggota peerageku" tambahnya lagi sembari menunjuk pada Akeno, Asia dan Issei.

"Hajimemashite, Himejima Akeno desu, ufufufuuuu" Akeno memperkenalkan diri dengan gaya khasnya. Selalu saja, diiringi dengan tatapan lapar jika melihat laki-laki yang terlihat kuat, gagah dan tampan. Naruto dibuat risih karena tatapan Akeno yang seperti ini.

"Watashi wa Asia Argento desu, douzo yosorshiku onegai shimasu" Asia mengambil giliran kedua memperkenalkan diri dengan sangat sopan tidak lupa berojigi, membungkukkan badannya.

"Aku Hyoudo Issei. Impianku adalah menjadi High Class Devil dan mendirikan kerajaan Hareem ku sendiri" Issei memperkenalkan diri dengan lantang, tidak lupa dengan slogan impian hidupnya.

Baik Naruto maupun Hinata, tidak terlalu ambil pusing dengan cara perkenalan diri Issei. Tidak ada masalah dengan impian seseorang selama itu tidak melanggar aturan maupun merugikan orang lain. Mereka berdua hanya memasang senyum khasnya masing-masing.

Saji sudah saling kenal dengan Naruto dan Hinata, tersisa satu orang yang sejak tadi teracuhkan.

"Neeee,,, aku tidak disuruh memperkenalkan diri ya. Sou-tan jahaaatt..." rengek Serafall dengan nada manja.

"Gh, cepat perkenalkan dirimu, Onee-sama. Dan langsung pulang setelah ini!, Pulang ke Underworld sekalian!" balas Sona memberengut.

"Ha'i. Perkenalkan, Aku Serafall Sitri, kakak kandung tercintanya Sou-tan. Aku Mauo dengan gelar Leviathan. Jadi kau bisa memanggilku Levia-tan. Okey" Serafall pun meperkenalkan dirinya dengan gaya khasnya, gaya alay ala gadis penyihir dengan pose yang sengaja dibuat-buat imut.

"Hajimemashite, panggil saja saya Naruto, Serafall-sama" kata Naruto, setelah tahu kalau gadis cebol seksi aneh didepannya seorang mauo, mau tidak mau dia harus menunjukkan sikap hormatnya, dia hanya mengikuti aturan keluarga iblis.

"Kyaaaa,,,, Naru-tan kawaiiiii..." sontak saja semua orang terkejut, pasalnya tiba-tiba saja tanpa aba-aba Serafall menerjang Naruto lalu memeluknya erat. Setelah melepas pelukannya, dia lanjut dengan mencubit pipi Naruto dengan gemas. "Tanda lahir dipipimu bikin aku gemas. Nee neee,,, Naru-tan, boleh aku mencubit pipimu selamanya?" kata Serafall lagi dengan pertanyaan yang tidak logis.

Naruto, jangan ditanya. Tentu saja dia merasa risih, ini sudah kelewat batas. Fansgirlnya di Konoha saja tidak seberingas ini, paling-paling hanya berteriak tidak jelas. Tapi Serafall, tanpa ampun malah secara brutal lewat kontak fisik memperlakukannya seperti ini. Naruto itu bukan boneka panda.

Karena tidak tahan lagi, jadi Naruto melirik kearah Sona, "Anooo,,, Ka-kaichou,, bisakah kau me-menolongku" pintanya dengan nafas teputus-putus akibat perlakuan Serafall.

"Onee-sama, lepaskan Naruto!" teriak Sona.

"Tidak mauuuu..., pipi imut Naru-tan bikin tanganku gemes dan ga mau berenti mencubit" jawab Serafall.

Serafall bukannya tanpa alasan bersikap seperti ini pada Naruto, walaupun banyak keraguan dalam dirinya atas pemikirannya tadi. Tapi demi adik yang sangat dia sayangi, dia harus menyelidiki laki-laki bernama Naruto ini sampai tuntas sendirian. Tidak perlu membicarakan ini dengan mauo lainnya karena Serafall merasa ini adalah masalah pribadinya, berkaitan dengan adik tersayangnya.

Semua orang disana hanya memasang tampang maklum akan tingkah Serafall, hanya Issei yang beda. Terlihat jelas kalau dia merasa sangat iri. Mungkin setelah pulang sekolah nanti, Issei akan pergi ke tukang tatto dan membuat goresan wishker kumis kucing dipipinya, barangkali saja ada banyak gadis yang berebut mencubit pipinya nanti.

Bahkan Hinata juga diam saja melihat Naruto diperlakukan seperti itu. Tidak ada sedikit pun ekspresi cemburu terpampang di wajah cantiknya. Walaupun dia seorang istri Uzumaki Naruto yang sah, tapi dia harus profesional menjalankan tugas dan perjanjiannya dengan Sona. Lagipula dia sangat yakin kalau Naruto itu tipe laki-laki setia yang tidak akan pernah mengingkari janji, pikir Hinata dalam benaknya.

"Haaahhh..." Naruto menghela nafas lega setelah lepas dari cengkraman Serafall. Cukup lama dia harus menderita secara fisik akibat ulah Serafall pada kedua pipinya. Masih terasa jelas nyeri nyut-nyutan dipipinya akibat cubitan Serafall yang terbilang cukup bertenaga.

Setelah keadaan kembali tenang, Naruto bergeser dan berdiri membelakangi Hinata dan menyembunyikan Hinata dibalik punggungnya. Dia tidak suka kemana arah tatapan mata Issei, "Ada apa Issei-san? Kok diam saja" tanya Naruto sambil tersenyum pada Issei yang tampak melamun saja dari tadi.

"Aaahh,,,.. Yaah, , , , aku hanya ingat setelah ini ada ulangan dikelas. Heheee" jawab Issei terkejut. Dan Asia terpaksa dibuat bingung. Asia sekelas dengan Issei dan seingatnya tidak ada ulangan setelah ini. Sedangkan yang lainnya hanya acuh saja, tidak mempedulikan apa yang dilakukan Issei. Semuanya juga sudah tahu bagaimana kelakuan Issei.

Yah, memang harus diakui kalau bentuk dan ukuran milik Hinata tidak kalah bagus dibanding milik Duo Great Onee-sama nya Kuoh Gakuen, bahkan kualitasnya sama. Issei yang notabene memiliki fetish akut kearah bagian tubuh itu, tidak akan mungkin bisa menahan diri untuk melewatkan kesempatan ini.

Walaupun begitu, Naruto masih tersenyum hangat. Dia baru saja menjalin kerja sama dengan Sona, Naruto menghormati perjanjian itu karena dia adalah tipe orang yang pantang mengingkari janji. Jadi dia tidak ingin membuat masalah pada kesan pertama dengan menghajar Issei sampai bebak belur.

.

.

.

TBC...

.

Note : Yooo, update kali ini agak lama'an. Heheee, kan udah ku bilang kalau aku pergi liburan akhir tahun. Kedepannya ku usahain update seperti biasa.

Issei disini rada OOC. Kelakuan frontal mesum Issei tidak tampak sejak kemunculannya di dua chap terakhir ini. Itu ku sengaja karena aku sendiri sebagai manusia tidak suka jika ada seseorang dengan sikap yang terbilang menjijikkan seperti itu. Mesum itu ku rasa hal wajar, tapi simpan rapat-rapat. Kalau seperti Issei di LN DxD, malu-maluin dan jelas menjijikkan. Itu pendapatku, terserah apa kata kalian. Yang jelas aku masih waras dan tahu aturan untuk tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik. Mau protes? Silahkan, hehee. Tapi ingat satu hal, aku sama sekali tidak menjelek-jelekkan Issei apalagi membashing dia, hanya mengurangi sikap mesumnya yang terlalu frontal saja di fic ini. Walaupun begitu, aku tetap berusaha menunjukkan sifat mesumnya walau hanya dengan kata-kata implisit. Begitu saja sudah cukup untuk menunjukkan kalau sifat Issei di fic ini tetap lah mesum dan tidak terlalu OOC.

Ulasan Review, yang kemarin sorry kalau salah. Benar sekali kalau Naruto merasakan niat jahat dalam mode kyubi, bukan mode sennin. Terimakasih koreksinya. Rizevim, Euclid, Crom Cruach dll, bukan berarti ga ada. Mereka tetap ada, dengan tujuan dan impian yang sama, tapi dilakukan dengan cara berbeda di fic ini. Kosakata jepang, udah tuh. Maklumi kalau masih masalah, baru belajar. Naruhina beneran ikut pertemuan itu, tunggu saja sepak terjang mereka berdua nanti.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

"Eeeiitss, tunggu. Mungkin ada beberapa di antara kalian yang merasa risih dengan satu kalimat persis di paragraf atas yang sudah ada sejak chapter 1 hingga sekarang. Bukannya apa-apa, aku masih cetek dan masih perlu bantuan tentang cara menulis yang baik, penggunaan kata, tanda baca, dan diksi yang tepat, serta koreksi jika ada kesalahan baik itu tentang cara penulisan maupun materi isi cerita terkait jutsu, teknik, atau semacamnya. Aku masih perlu saran dan kritiknya. Kalau ada yang menganggap aku sombong atau ngeyel karena banyak kritik dan saran yang kelihatannya tidak kuterima atau ku abaikan, itu mungkin karena berkaitan dengan alur cerita. Maaf jika tidak bisa memenuhi keinginan kalian,,, aku tidak bisa merubah alur cerita dan aku akan tetap pada pendirianku. Hal seperti itu seringkali ku layani lewat PM langsung pada reviewer yang log-in atau di Author Note kok. Jadi jangan sungkan kalau mau memberitahu sesuatu ya, flame juga boleh walaupun pasti ku abaikan jika hanya berisi kata-kata hinaan tidak bermanfaat. Peace 'V'. . . ."