Fourth Phase
Kiel: "Namanya juga cinta ..."
"Racchi? Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?"
Aku menengok ke arah sumber suara tersebut. Aku melihat Frey, tampaknya ia baru saja ke luar dari pemandian air panas. Dia juga diikuti Amber dari belakang.
"Malam, Frey.." Ucapku agak lesu, karena kejadian sore tadi.
"Malam juga… loh, kamu kenapa, sih?" Tanya Frey.
"Ngga, cuma sedikit capek."
"Oh! Iya, kamu gak apa-apa, kan? Sudah mendingan?" Kata Frey seolah ia baru sadar kalau aku baru saja siuman.
"Sudah, kamu tahu dari mana kalau aku abis pingsan?"
"Volkanon, dia yang membawamu ke klinik. Gitu katanya!"
"Oh.. ya, Dolce juga ngomong gitu."
"Aduh, cie, tadi baru ketemu Dolce lagi ya?" Goda Frey, tapi untuk saat ini aku sudah terlalu lelah hingga akhirnya aku hanya memberikan tawa kecil untuk membalasnya. "Btw, kamu gak kongkow bareng cowok-cowok di rumah Kiel? Katanya pada mau nginep, gitu."
"Hmmm, kalau aku dateng ke sana gak kenapa-napa gitu?"
"Ya gak apa-apa lah! Kamu kan cowok!"
"Maksudku-ah, sudahlah. Aku akan coba datangi Kiel."
"Ya sudah kalau begitu, aku duluan, ya, Racchi! Sampai jumpa!" Kata Frey, lalu kubalas salamnya. Aneh, sepertinya orang-orang jadi tidak begitu kaku karena aku kembali, seperti saat waktu itu. Tak masalah, aku lebih suka seperti ini.
Kemudian, karena aku juga merasa perlu nangkring dengan teman-temanku, maka kuputuskan untuk datang ke rumah Kiel… Semoga saja mereka lagi gak ngaco. Siapa tau kali ini gue dikasih surprise yang lebih wow (Dylas: Kegeerannya masih sama aja kaya dulu!).
"Permisi," Sapaku di depan rumah Kiel. Bentar dulu, kenapa mereka malah ngumpul di rumah Kiel padahal Forte abis terluka? Hal itu baru aku sadari begitu sampai di depan pintu rumah Kiel.
"Ya, selamat malam," Jawab seseorang sambil membuka pintu. Benar saja dugaanku, yang membukakan pintu itu adalah Forte.
"Eh, Forte. Maaf ganggu malam-malam gini. Aku kira Kiel ada di rumah."
"Racchi?! Oh, ya, mereka jadinya ke Dylas. Susul saja mereka.." Kata Forte sambil meraba kepalanya.
"Bentar, Forte. Anu.. mau ada sesuatu yang kubicarakan."
"Perihal serangan itu, ya?"
"Ya.. aku kepingin tau detilnya."
Forte duduk di halaman rumahnya sambil mempersilahkanku duduk juga. "Sori nih, gak keberatan, kan?" Tanyaku.
"Gak apa-apa, lagian aku udah hampir pulih." Jawab Forte. "Waktu itu, aku emang lagi di luar istana. Biasalah, mobile. Tiba-tiba saja aku merasakan aura seseorang, kemudian ia menyerangku! Tapi, berkat kekuatanmu itu, aku bisa menahan serangannya. Padahal, aku tidak bermaksud menggunakannya sama sekali,"
"Singkatnya, abis itu kamu dikalahkan olehnya?"
"Iya, cukup menyebalkan juga. Habis, gerakannya gak keliatan!" Keluhnya. Agak beda dengan sifat Forte yang asli. Apa gara-gara diserang kepalanya dia jadi berubah gini? *dihajar Excalibur*
"Oke, sepertinya gak ada petunjuk tambahan…" Gumamku, sambil mencoba merelaksasikan badanku.
"Anyway, Racchi, apa kamu gak mau kekuatan itu kembali? Kukira kamu bakal minta balik kekuatan itu."
"Sejujurnya gak masalah, kan aku udah ngerti seluk beluk kekuatan itu," Jawabku. "Penyerang itu masih ada, bahkan bisa mengalahkanku. Mungkin, seharusnya kita tarung bareng aja, siapa tahu menang."
"Kamu juga kalah?" Kata Forte jumawa.
"Iya, edun," Kataku. "Dia itu pengendali waktu, mana bisa menang kalau dipikir-pikir."
"Hmmm, mungkin kita lebih baik berkonsultasi pada petarung pro. Tapi, untuk sekarang, intinya kekuatan ini gak akan kamu ambil? Gak masalah, tuh?"
"Hey, kalo kamu mau tahu, sebenernya aku cuma kasih 'segel' biar kamu bisa pake kekuatanku dengan bebas. Itu keuntungan yang sangat besar dari Sapphire of Benevolence, sesuai namanya."
"Asik, dong? Kalo gitu, kenapa kamu gak ngasih segel itu ke banyak orang aja?"
"Kalo sanggup sama sempet.. Waktu itu aku sempetnya kasih ke kamu doang, dan sekarang aku udah gak sanggup lagi karena aku udah gak punya Diamond of Impurity. Kalo asal kasih, mereka kena kutukan."
"Oh, gitu.. Baiklah, karena kamu percaya aku, aku gak bakal iseng pake kekuatan ini."
"Ya emang gitu kan perjanjiannya."
"Oke, deh… gak ada yang mau dibahas lagi, kan, nih?"
"Iya, gak ada. Aku juga mau ke Dylas nyusul temen-temen. Kamu istirahat aja, aku pamit duluan!" Pamitku sambil bangkit dari tempat duduk.
"Makasih, hati-hati!"
"Jangan takut di rumah sendirian, ya!"
"Jangan nakut-nakutin, Racchi!"
"Ntar ada han-"
"RACCHI! SUDAH SANA PERGI!"
"Iya, kok, soalnya aku juga takut sama hantu!" Balasku sambil lari sekencang-kencangnya menuju tempat makan milik Porco.
"Hah,hah, selamat malam!" Sapaku begitu sampai sambil ngos-ngosan.
"Malam, eh, Racchi toh!" Kata Porco. "Gimana kabarnya, nak Racchi?"
"Baik, pak- eh, Porco."
"Pada main ke Dylas, ya? Mereka udah pada di kamar, naik aja!"
"Oh, oke, terima kasih! Aku permisi, ya."
"Hohoho."
Aku langsung beranjak ke atas untuk menemui teman-temanku. Begitu datang, mereka heboh menyambutku.
"Weeeh, liat siapa yang datang!" Kata Lest, si pangeran gaul.
"Racchi! Apa kabar, bro?" Sapa Leon, si binaragawan.
"Baik, baik, kalian gimana-gimana?" Jawabku, si ganteng anak NA. *dilempar tisu*
"Baik gimana? Katanya abis pingsan gara-gara kalah tarung, ya?" Tanya Kiel, si kutu buku tolol.
"Yah, payah lu!" Maki Dylas, si kuda liar. *disepak*
"Dia sampe dateng ke sini biasanya karena dia lagi baik-baik aja, kan?" Kata Arthur, si pangeran yang tertukar.
"Dia abis modus lah sama si Dolce, aku liat mereka di klinik lagi ngobrol!" Kata Doug, sang master iseng.
"Biasalah namanya juga bucin, hahaha!" Kata Vishnal, si butler copo. *dilempar failed dish* Sampe saat ini, bahkan mereka tidak membiarkanku membalas omongan mereka satu-satu. Begitu duduk udah diomongin sedemikian rupa, memang teman-teman ngaco.
"Weh, tenang dulu, guys. Ngopi dulu lah, Racch," Kata Lest sambil menawarkan segelas kopi. Sejak kapan ada kopi di Selphia. Awalnya gue mikir ini berasal dari- eh, lupakanlah. Takutnya jadi ga sopan. Hehe.
"Siap, makasih," Ucapku sambil meraih segelas kopi itu, gak peduli dari bahan apa. Wanginya enak, soalnya. Begitu aku menyicipi kopi itu, benar saja, rasanya enak. Badanku langsung segar seketika.
"Enak, gak? Aku yang buat tuh," Kata Dylas, kenapa dia tiba-tiba dia jadi narsistik gini ya?
"Enak, kok. Ada lagi gak?"
"Yeeee rakus," Caci Doug. "Lagian gitu doang gue juga bisa, kali."
"Oh, gitu? Kalo gitu buatin dong, aku juga pengen ngopi lagi," Kata Kiel, seolah ia menanggapinya serius.
"Yah, paling juga kopinya dua sendok airnya seteko," Celetuk Dylas.
"Emangnya Vishnal!" Kata Doug memulai pertengkaran, sambil bawa-bawa orang lain pula.
"Kenapa jadi gue?!" Sahut Vishnal heboh, nih anak siapa yang ngajarin bahasa gaul?
Begitulah, selama kurang lebih sepuluh menit kumpulan lelaki lajang ini saling bergurau sampai bahkan hampir mengubah acara nginep kita jadi ajang gladiator. Hingga akhirnya, si pemimpin kelompok, pangeran gaul kami, mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh, mumpung kita kumpul lengkap, nih. Udahlah kita ngobrol yang lebih berfaedah. Quality time, bro!" Katanya, tumben sekali bisa ngomong sewaras ini.
"Ah, paling gosip-gosip gak bermutu lagi," Keluhku.
"Iya tuh, lagian gak ada berita yang lagi hangat akhir-akhir ini," Kata Vishnal.
"Ini?" Kata Arthur sambil menunjuk ke arahku.
"Eh, iya, Racchi ke mana aja?" Tanya Leon memulai percakapan.
"Dari dunia nyata," Jawabku singkat.
"Kok bisa balik lagi sih? Gue sampe tangisin lo tau!" Kata Doug tiba-tiba jadi alay.
"Alay, ih!" Caci Dylas.
Aku secepat mungkin menghindari ajang gladiator yang kemungkinan bakal terjadi, "Ceritanya panjang, sih.."
"Gak apa-apa, cerita aja! Kita pengen tahu," Kata Arthur.
Dengan perasaan penuh rasa keberatan, aku menceritakan semua detilnya. Semua tampak antusias kecuali Lest, jelas aja, dia kan udah tau ceritanya. Author juga gak antusias buat nulisin ulang gimana ceritanya.
"Oh, Yuutsu narik kamu ke sini.. Yuutsu siapa, sih?" Tanya Kiel yang menunjukkan kalau ia udah lama hidup di bawah tanah.
"Doi cantik ga?" Tanya Leon, tiba-tiba kepingin nyekil.
"Yeeh," Ucapku ke pada Leon. "Yuutsu itu salah satu keluargaku di Abyss, bilang aja gitu."
"Yuutsu yang aku lihat ada di klinik?" Tanya Doug.
"Di klinik cuma ada Dolce, kali?" Kata Vishnal.
"Engga, tadi aku emang beneran sempet ngintip si Racchi, hehehe sori ya. Terus aku liat satu orang lagi di kasur, itu Yuutsu, kan?"
"Eh, itu si Io, kali. Adiknya Racchi, kan ya?" Kata Lest. Mendengar 'Io,' aku jadi teringat lagi kejadian sore tadi sampai-sampai raut wajahku berubah.
"Oh, ya. Volkanon juga yang gotong adiknya Racchi. Io, ya, sampe lupa. Dia emang jarang ke Selphia, ya?" Kata Vishnal.
"Lu kenapa, Racchi? Kaya sedih gitu?" Tanya Dylas, yang akhirnya sadar dengan perubahan raut mukaku ini.
"Eh, iya, lu kenapa? Ada masalah?" Tanya Leon.
"Gak perlu dibahas.." Jawabku berusaha menutup-nutupi masalah ini.
"Cerita aja kali, kita kan temen, siapa tau bisa bantu juga," Kata Doug dengan rasa setia kawan yang tinggi.
"Udahlah, cuma masalah keluarga…"
"Yaaah…"
"Lagian, dia masih koma."
"Ooh, gitu, ya sudah jangan dilanjutin deh," Kata Arthur tobat.
"Terus, terus, tadi kamu bilang begitu sadar, ada di kota antah berantah namanya Aseton… di mana tuh?" Tanya Kiel dengan antusias tinggi.
"Itu di negara dekat NA. Kurang lebih di sebelah Barat Daya."
"Kok asik ya bisa ke luar negeri gitu? Aku jadi penasaran, kukira di dunia ini cuma ada Norad doang…" Kata Doug. Kami readers juga sama, penasaran. Maklum, kan namanya juga AU.
"Norad juga luas, aku juga sampai bingung ngurusin ini-itu," Kata Arthur, ini nih, da real prince!
"Soalnya kita pada kerja di sini, jadi hampir ga tau kondisi di luar gimana…" Kata Vishnal.
"Di sana kondisinya gimana, sih? Gak jauh beda kayak Norad?" Tanya Lest, akhirnya menanyakan sesuatu yang penting.
"Jauh beda," Jawabku dengan tegas. "Di sana lebih mirip.. umm.. masa depan. Teknologi sudah semakin canggih di sana, dibandingkan Norad dan NA."
"Kok gitu?" Tanya Kiel.
"Iya, makanya juga aku bingung. Kaya beda dimensi gitu.." Lanjutku.
Ada jeda yang cukup lama setelah penjelasanku barusan. Jeda yang aneh, biasanya mereka kalau udah ngobrol susah berhentinya. Apalagi dengan adanya Dylas dan Doug, pasti ada aja yang jadi masalah sampe-sampe mau gelut.
"Kenapa, Kiel, kaya yang bingung gitu?" Kata Doug memecah keheningan ke pada Kiel.
"Aku jadi kepikiran, tapi Racchi bilang gak mau dibahas," Kata Kiel.
"Kalau boleh jujur, ya.. aku ceritain aja," Ucapku pasrah, setelah mengembalikan mood. "Io bilang, dia bener-bener nganggap aku ini orang paling penting di hidupnya. Barusan, dia tuh ngelindungin aku dari Yuutsu yang sempet nyerang aku siang ini. Tapi, kekuatannya malah berakibat fatal, jadi aja kita pingsan. Io sempet siuman setelah aku siuman, terus dia ngungkapin perasaannya. Rasanya baru pertama kali dia ngomong gitu. Terus, dia tiba-tiba koma lagi. Sampe sekarang aku kepikiran terus omongannya.."
"Namanya cinta keluarga, Racch. Kan wajar.." Balas Kiel, seolah ia yang paling mengerti. Tapi emang iya, sih, keluarganya bisa dibilang lengkap dan tinggal di tempat yang sama.
"Iya, sih… Tapi aku ngerasa perasaannya itu sangat spesial," Lanjutku.
"Wah…" Ucap Leon. "Dolce cemburu gak, tuh?"
"Ngaco," Kata Dylas. "Dia kan keluarganya Racchi juga, mana bisa cemburu."
"Yeee si kuda sok tau banget, sih, kaya yang ngerasain aja," Kata Doug, kebiasaan ini muncul lagi.
"Eh, kalo ngomong tuh jangan asal, ya!" Kata Dylas hampir ngamuk. Bisa-bisa kita semua mati dengan tragis oleh sepakan maut Thunderbolt *beneran disepak*.
"Udah, hal penting gitu gak perlu dibawa-bawa. Tapi, kok, dia segitunya banget sama lo, Racch?" Tanya pangeran gaul, dari perkataannya aja udah beda kasta sama yang lain.
"Coba pikirin aja, kan aku udah cerita soal Io waktu itu," Jawabku tenang. Setelah Lest memasang wajah berpikirnya (Author: Lha emang bisa? *dicangkul*) ia terkejut dan ber-oh ria dengan panjang.
"Oke, mungkin bisa jadi gitu, ya," Gumam Lest.
"Eh, apaan, sih?" Tanya Kiel, lagi-lagi kepo.
"Aib, bro. Racchi gak bakal ceritain, lagian," Jawab Lest.
"Iya, hehe. Sori," Kataku sambil terkekeh kecil.
"Lha, terus kenapa Lest dikasih tahu?" Kata si buku keparat, malah makin ngotot dia.
"Iya, ya, kenapa gue kasih tau Lest waktu itu? Padahal gak berguna juga," Tanyaku pada diri sendiri, menunjukkan kebodohanku.
"Yasud, nanti kita jenguk Io besok. Siapa tau dia membaik," Ujar Lest mengalihkan topik pembicaraan, seperti yang ia biasa lakukan.
"Aduh, Lest kok jadi perhatian?" Goda Vishnal.
"Hayo, Frey-nya dikemanain?" Celetuk Arthur, yang selama ini gue anggap udah mati (tidur) duluan.
"Yah, kenapa jadi Frey!" Kata Lest protes.
"Namanya juga sama-sama main character…" Gumamku.
Biasanya kalo udah gini, mereka pada asik ngobrolin cewek-cewek, tanpa memedulikan kalau tak jauh dari sini, ada kamarnya Meg. Aku gak sempet ngeliat Meg sesampainya di sini. Mungkin dia mau nemenin temen ksatrianya yang ketakutan gara-gara dijailin Racchi.
Setelah malam melarut, kami semua memutuskan untuk segera tidur. Setelah satu per satu orang tumbang, tersisa aku dan Doug. Alasanku untuk tetap terjaga adalah supaya bisa mengawasi Doug, karena siapa tahu ia bakal isengin temen-temennya. Dalam kondisi menahan kantuk yang berat, aku terus menunggu Doug untuk segera tidur.
Tiba-tiba Doug ngomong, "Racchi."
"Eh, ya?" Jawabku, masih belum tertidur.
"Aku.. uh, lupakan. Aku ngantuk, mau tidur."
"Gak penting banget," Gerutuku.
"Nanti saja deh."
"Oke, bagus. Aku juga mau tidur. Malam…"
"Malam."
Drifting… [66%]
Keesokan harinya, setelah kami semua pamit dan meninggalkan kamar Dylas, aku segera bergegas menuju klinik untuk melihat perkembangan Io. Sepanjang perjalanan, belum ada orang-orang, mungkin mereka semua masih lelap tertidur. Dasar kebo, pikirku *dihajar massal*.
Sesampainya di klinik, aku langsung asal ketuk tanpa berpikir kalau penghuninya sudah bangun atau belum. Alhasil, sudah dua kali aku mengetuk dan belum ada jawaban. Setelah sadar kalau penghuninya belum juga terbangun, aku pun nongkrong depan klinik melihat ikan-ikan di got. Memang gak elit, tapi aku sendiri doyan ngeliatin perairan.
Setelah beberapa saat, seseorang membuka pintu klinik. "Ya, barusan siapa yang ngetuk?"
Aku berhenti memandangi got, dan melihat ke belakang. "Oh, Dolce. Maaf mengganggumu pagi-pagi begini," Jawabku, makanya kalo jadi orang jangan kebanyakan tidur, bangun tuh pas fajar *ditampol Pico*.
"Oh, Racchi.. Masuk, yuk. Ada yang mau aku ceritain," Kata Dolce sambil mempersilahkanku masuk.
"Ada kabar bagus?" Ucapku selagi bangkit.
"Nggak, sayangnya Io belum juga siuman. Tapi, kemaren malam aku nemu sesuatu."
"Apaan tuh?" Kemudian, setelah masuk ke klinik, aku duduk di kursi dekat kamar pasien.
"Nanti kita liat di kamar pasiennya langsung," Kata Dolce sambil menutup pintu. "Btw… Racchi datang pagi-pagi begini udah sarapan?"
"Oh, ya.. Sori."
"Huh, belum makan, ya," Gerutunya, mungkin ia udah terbiasa denger Racchi ngomong gini.
"Makasih, looh…"
"Yeeeh, geer."
Setelah itu, Dolce pergi ke dapur. Mungkin sebenernya dia diem-diem buatin sarapan buat Racchi, tapi siapa peduli. Sewaktu membukakan pintu, ia tampak seperti orang yang baru bangun tidur. Jelas aja, dia pasti belum sarapan sampe-sampe nawarin Racchi gitu. Tak lama kemudian, Dolce sudah membawa dua piring sarapan yang simpel. Setelah aku dan Dolce menghabiskan sarapan itu, kami masuk ke dalam kamar pasien untuk melihat apa yang Dolce temukan.
"Kondisinya masih sama?" Tanyaku.
"Ya," Jawab Dolce singkat. "Jadi, gini… Sewaktu aku memeriksa sekujur tubuhnya, aku nemu ini di pergelangan tangannya."
Kemudian Dolce menunjukkan suatu barang dari laci tak jauh dari ranjang tempat Io dibaringkan. Benda itu adalah gelang, semacam gelang tapi untuk ukurannya, besar juga. Desainnya juga biasa-biasa aja, warnanya Amber dan seolah-olah tak ada yang menarik dari gelang itu. Tapi, aku jadi tahu kalau Io diam-diam pakai perhiasan juga.
"Itu… Io pake gelang itu?" Tanyaku.
"Iya, dia pasang di tangan kirinya. Coba lihat apa yang terjadi kalau aku berusaha melepaskan gelangnya," Lalu Dolce berusaha untuk melepas gelang itu. Tiba-tiba, dari gelang tersebut keluar jarum yang cukup membuatku horor.
"Kenapa Io mau menggunakan perhiasan berbahaya seperti itu?" Tanyaku setelah terperanjat.
"Di sini, ada tulisan 'Property of Luxotic Syndicate.' Racchi, apa Io pernah bergabung dengan suatu organisasi?"
"Aku gak pernah tanya, kukira ia hanya sibuk dalam urusan kerajaan."
"Mungkin ini… adalah semacam perjanjian? Karena posisi Io yang penting seperti itu, siapa saja bisa mengancamnya. Apalagi, Io dapat keluar-masuk istana dengan mudah," Jelas Dolce, memberikan dugaan. Kupikir, dugaan itu bisa jadi benar. Ada komplotan yang sedang ingin mengubah pemerintahan.
"Sewaktu aku periksa tangannya, ada luka cukup parah. Aku langsung menghubungi Jones untuk menanganinya, dan untung bisa terselamatkan. Jones bilang, mungkin ini yang membuatnya pingsan. Ada kemungkinan dia akan sadar dalam waktu yang gak sebentar," Lanjut Dolce.
Kemudian aku mengalihkan pandanganku pada Io, dan memeriksa tangan kirinya. Benar saja, ada bekas pengobatan dan dibalut khusus menggunakan perban. Io selalu menggunakan atasan berlengan panjang, jadi nggak aneh kalau aku tidak menyadari gelang itu. Pandangan anak itu semakin membuatku khawatir, dan aku semakin terhanyut emosi melihatnya.
"Oh, ya, kemarin malam juga Volkanon membawakan tas Io ke sini. Ia menemukannya sehabis memeriksa tempat kejadian perkara kemarin," Kata Dolce menunjuk ke arah tas selempang Io yang tergeletak di lantai.
Aku meraih tas itu, dan dengan lancang, aku membuka dan melihat isinya. "Maafkan aku, Io."
Di dalam tas itu, tidak ada surat sama sekali. Mungkin, ketika di Selphia, ia sudah mengirimkan semua suratnya. Setelah itu, aku melihat sebuah botol kecil berisi cairan berwarna kecoklatan. Sewaktu aku membuka dan mencoba menghirup botol itu, wanginya tercium sampai ujung paru-paru. Ini adalah parfum yang biasa Io gunakan, dan lagi, aku juga jarang mendapati Io menggunakan wewangian. Terdapat juga beberapa aksesoris rambut, dan sebuah gunting yang dibalut kain tebal.
Lalu yang menarik perhatianku, sebuah notebook kecil berwarna biru muda. Entah bagaimana pola pikirku, aku mencari alat tulis di tas tersebut, tapi aku tak menemukan satu pun. Aku memberanikan diri melihat buku catatan itu, dan sekali lagi meminta maaf pada Io. Mungkin, kalau dia sadar, dia pasti sudah bilang begini, "Bodoh, siapa juga yang minta Racchi minta maaf."
Beberapa halaman awal buku catatan itu tidak ada yang membuatku tertarik. Isinya semua tentang kerjaannya, to-do list dan beberapa rencananya untuk hari-hari ke depannya. Tulisan Io cukup rapih dan sangat enak untuk dipandang. Tetapi kadang di beberapa halaman, Io banyak mencurat-coret dan membuat kesannya sebagai tulisan yang enak dilihat semakin berkurang.
Dan seperti yang readers bisa tebak, halaman paling menarik ada pada pertengahan buku itu. Seolah-olah, benda yang diselipkan pada buku itu semestinya tidak ada di sana. Itu adalah sebuah foto, tapi hampir-hampir aku tak bisa percaya apa yang ditunjukkan oleh foto itu. Pada foto itu, tampak jelas semua anggota pengguna Gems of Spirit: Aku, Reva, Yuutsu, Rean, Zone, Zero.
Pikiranku mengawang, mungkin ini bagian ingatanku yang hilang. Tapi, kenapa foto dengan mereka, apa ini kebetulan atau suatu rencana yang benar-benar matang?
Dalam foto itu, Reva tampak bahagia dengan senyumannya yang menawan. Rean masih tampak sangat serius seperti biasa. Yuutsu tampak senang usil dengan Zone, Zero dan aku asik bergaya di depan kamera. Foto itu tampak diabadikan di suatu perbukitan, dengan latar suasana kita hendak berkemah. Di foto itu, kami semua mengenakan pakaian yang seragam. Kalau begitu, kita dulu sebenarnya pernah berada dalam suatu lembaga, dan yang paling mungkin, kita semua dulu pernah satu sekolah.
Dolce yang menyadari perubahan raut wajahku, langsung bertanya, "Ada apa, Racchi?"
Aku diam sebentar, kemudian menunjukkan foto tersebut tanpa berkata apa-apa. Begitu Dolce melihatnya, ia pun tampak terkejut. "Astagaa…" Katanya dengan ekspresi yang tidak begitu mengesankan. "Racchi, kamu dulu seimut ini?"
Gubrak. Salah fokus dia.
Meski sempat mengelak (dan Author juga sempet kegeeran sendiri), aku sebenarnya mengakui betapa imutnya aku waktu itu. Mungkin, dari usianya, sekitar 13 atau 14 tahun. Tapi, dibandingkan sekarang, aku yang dulu tampak culun sekali. Orang-orang mungkin akan menganggapnya sebagai banci jika pertama kali bertemu.
Hal yang aku pertama kali sadar kalau dulu rambutku benar-benar berwarna merah muda seperti sekarang. Kesimpulannya, ketika aku pertama kali di sini (pada saat rambutku berwarna hitam), diriku memang kehilangan identitasnya. Seperti dugaanku sebelumnya, kalau ingatan dan jiwaku benar-benar terpecah dan hilang entah ke mana. Tapi, kalau begitu, foto ini asli, dong?
"Eh, ini apa? Itu orang, bukan?" Tanya Dolce sambil menunjuk suatu bagian pada foto tersebut.
Aku memfokuskan penglihatanku pada objek yang ditunjuk Dolce. "Eh, iya. Kayak ada orang."
Posisi 'orang' itu tampak tersembunyi dari foto, lebih terlihat seperti penampakan. Jelas saja, ketika melihat foto itu orang pasti bakal autofokus pada wajah Reva, atau paling tidak Zero dan aku. Dan, ketika aku melihat dengan jelas, orang itu adalah Zwill.
Dia menggunakan jaket warna putih, dari jauh ia tampak mirip sepertiku. Rambutnya berwarna putih dan postur tubuhnya tak jauh beda denganku. Itu berarti, kemungkinan dia sedang masa-masa mencari 'korban' untuk kekuatannya yang terlampau besar itu. Dan jika melihat foto ini, kesimpulannya sudah jelas: ingatan itu benar dan Gems of Spirit benar-benar dibuat oleh Zwill. Dari foto itu, kita semua menjadi korbannya, dan aku sendiri belum tahu alasannya. Ingatanku yang terakhir, pasti dapat menjawab semua pertanyaan itu.
Aku membalikkan foto itu, dan di situ terdapat tulisan, "Luxotics, 712 NA Year." Di NA, mereka menggunakan sistem penanggalan mereka sendiri, entah berdasarkan apa. Sekarang sudah tahun 720 di NA, dan itu berarti delapan tahun yang lalu. Tulisan itu berbeda dari gaya tulisannya Io, dan kurasa memang sudah jelas.
Hal yang berikutnya aku sadari, yaitu gelangnya Io. Di tulisannya, terdapat kesamaan, yakni 'Luxotic.' Apa Io sempat berhubungan dengan kami pada masa lalu? Tidak, jelas tidak mungkin. Io lahir beberapa saat setelah aku tinggal di Selphia. Hal ini jadi semakin rumit, dan makin membuatku penasaran.
"Dari mana Io dapat foto seperti ini?" Tanya Dolce.
"Iya, ya, aku juga gak tahu."
Kemudian, dengan inisiatif entah dari mana, aku terus membuka buku catatan Io. Dan halaman paling sakral itu ada pada halaman terakhir. Di halaman tersebut, terdapat catatan Io yang bertuliskan:
"Ingatan itu adalah sesuatu yang paling mengerikan. Di satu sisi, kamu perlu ingatan itu untuk belajar dari masa lalu. Pada sisi yang lain, ingatan hilang yang dicari hanya menimbulkan kekecewaan. Dari kekecewaan itu kamu akan hancur. Racchi, aku cinta padamu dan aku tidak ingin kamu jatuh pada keputusasaan seperti diriku. You'll remember everything, and you will be remembered."
Dari tulisan tersebut, jelas menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Yang kufokuskan pada tulisan Io ini yakni kalimat ketiga. Dia menuliskan " … jatuh pada keputusasaan seperti diriku." Ini berarti sesuatu telah terjadi padanya. Lalu untuk apa ia memperingatiku? Apa ia tahu ingatanku yang hilang itu? Ingatan yang ada pada foto itu?
Aku duduk di atas kasur kosong di sebelah Io koma. Aku mencoba merelaksasikan seluruh tubuhku dan tidak berpikir apa-apa. Aku lelah. Kalaupun aku mendapat kenyataan itu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kemudian. Jika readers memberi sugesti tentang cinta ke pada orang yang udah desperate soal hidupnya, gue tonjok muka lo satu-satu (Frey: Lah, Author tiba-tiba kasar gini!). Memang penting, tapi sekedar pendamping. Itulah cinta menurutku, jadi kesimpulannya aku perlu tahu juga apa yang harus kulakukan ketika mendapat ingatanku kembali.
Tiba-tiba datang seseorang tanpa permisi dengan terburu-buru.
"Racchi!" Teriaknya. Siapa lagi yang gak ngetuk pintu ketika masuk rumah warga, Lest *dihajar Rune Blade*.
"Sssst! Ini klinik, jangan teriak-teriak!" Kata Dolce.
"Duuuh, kenapa sih?" Tanyaku.
Tiba-tiba Doug datang ke klinik juga, "Loh, Lest, ngapain di sini?"
Kamu juga ngapain ada di sini, Doug, pikirku.
"Ada berita gawat, nih, Racch."
"K-kenapa?" Tanyaku agak khawatir.
"Serangan teror," Kata Lest sambil terengah-engah. "Di ibukota Northern Area!"
To be Continued
[Drifting… 70%]
