Fifth Phase
Pico: "Kita banyak melewatkan waktu bersama."
"Te-terror?" Ucapku tak percaya pada ucapan Lest. Aku baru aja menemukan suatu hal yang cukup membuatku terkejut, dan kali ini malah makin parah. Aku kembali mencerna maksud perkataan Lest tersebut.
"Iya, katanya dekat istana terjadi ledakan!" Kata Lest heboh.
"Beneran, tuh?" Tanya Doug, seolah tak percaya.
"Aku dengar berita dari turis yang mampir dari sana, mereka dapet berita kalo negeri asalnya abis kejadian teror dari ga tau siapa!" Kata Lest dengan kalimat yang agak ngaco, tapi kedengeran gaul di telingaku.
"Waduh, kira-kira siapa ya, pelakunya.." Kata Dolce.
"Aku akan ke sana, kita liat gimana perkembangannya," Ucapku.
"Jadi, kamu gak akan jaga Io?" Tanya Dolce, seolah mengingatkan janjiku.
"Uh, habis gak ada dari pihak istana yang hadir di sana untuk bantu menyelesaikan kasusnya," Jawabku.
"Duh, kan ada pihak keamanan negara, gak apa-apa kali!" Kata Lest. "Kalau kamu bener-bener terpaksa gak bisa ke sana, aku bakal ngasih tau orang di sana untuk menghubungi kamu di sini. Gimana?"
"Aku bakal ke sana, soalnya aku berpikir kalau Yuutsu punya andil besar dalam kasus itu," Kataku.
"Yah, bisa jadi ini taktik barunya!" Kata Lest. Bisa jadi, sih, kalau aku ke sana dan ternyata bener Yuutsu pelakunya, gimana, ya?
"Pada ngomong apa, sih? Aku gak ngerti, tau," Kata Doug.
"Itu loh, kasus Racchi waktu dateng ke sini!" Kata Lest masih tetep heboh. "Kita mikirnya kalo Yuutsu masih terlibat kasus ini, gitu!"
"Wah, gila juga. Iya, aku pikir bisa jadi ia terlibat. Waktu itu juga sama, ia melakukan serangan ke Forte-san, dan sekarang serangan ke negeri sebelah," Jelas Doug.
"Kalau gitu, kira-kira apa motifnya, ya.." Gumamku.
"Yang jelas, aku bakal coba hubungin orang di sana tentang perkembangannya. Secepatnya bakal aku kabarin lagi, Racch!" Kata Lest semangat.
"Haduh, ada-ada aja, masih pagi begini pula," Keluhku. "Terus, kamu ngapain dong kabarin aku kalau aku gak boleh ke mana-mana?"
"Yang ngelarang tuh your bae." Jawabnya, membuat telingaku agak geli.
"Kamu janji, kan, mau ngejaga Io?" Tanya Dolce.
"Iya, sih… tapi aku juga perlu tahu kasus ini. Soalnya Io kan punya posisi penting di NA, jadi aku harus menggantinya demi dia," Jawabku.
"Hmmm… gak apa-apa gitu?"
"Yah, gak masalah. Ini menyangkut banyak orang,"
"Kenapa Dolce, capek ngejaganya? Kan ada Pico, dia bukannya biasa bantu kamu, kan?" Tanya Doug.
"Gak masalah sih, aku cuma khawatir. Pico sekarang sibuk, bisnisnya sukses, soalnya."
"Loh, aku baru tahu. Bisnis apa lagi dia?" Tanyaku.
"Gorengan," Kata Dolce singkat. "Dia buat dagangannya jadi usaha waralaba. Dalam tempo selama kamu pergi, dia udah sukses besar."
Hening. Aku gak tau mau ikut bangga atau meledeknya, tapi itu jelas suatu hal besar yang membuatku terkejut. Gak disangka sesosok hantu bisa menguasai pasar hanya dengan gorengan. Apa dunia ini kekurangan rempah jadi belum pernah ngerasain nikmatnya tahu isi atau cireng bumbu?
"Aku gak keberatan kalau harus jaga Io, tapi, Racchi… jaga diri baik-baik ya," Kata Dolce.
"Iya, Io percaya padaku. Aku gak bakal ngecewain dia," Jawabku.
Setelah itu, aku dan Lest bergegas menuju NA tanpa banyak basa-basi. Perjalanan terasa singkat… karena kami menggunakan teleportasi sampai ke luar Norad. Setelah itu kami menggunakan kereta untuk pergi ke istana. Tak ada banyak hal yang kita bicarakan selama perjalanan, lagipula Lest sempat lupa sarapan dan kehilangan sebagian besar tenaganya karena mengejar kereta yang hampir pergi meninggalkan kita berdua.
Barulah setelah kereta itu berhenti, aku mencoba bertanya-tanya mengenai soal ini pada Lest, sambil kita berjalan menuju TKP.
"Anu, Lest, apa Venti tahu soal ini?" Tanyaku.
"Dia tahu, dan minta aku untuk ngasih tahu soal ini ke kamu," Jawabnya.
"Dari mana tahunya? Itu pertanyaan penting."
"Namanya juga dewa…" Jawabnya sanskuy.
Aku diem, gak tau mau ngomong apa lagi. Itu emang jawaban paling masuk akal, tapi ngeselin.
"Venti itu, dia ngekhawatirin kita semua sebagai penduduk Selphia. Apalagi kamu, Racchi, yang baru aja dateng-pergi ke Selphia dengan asal. Takutnya dunia bakal kacau, jadi sebaiknya kita berhati-hati, Racch," Ucap Lest tiba-tiba.
"Uhm.. oke.." Jawabku.
"Bisa jadi kasus ini berkaitan dengan serangan pada Forte kemaren-kemaren, jadi sebaiknya kita coba mengusut masalah ini sesegera mungkin."
Aku tak menjawab, sekedar mendengarkan.
Begitu sampai TKP, sudah banyak polisi militer mengawasi tempat tersebut. Setelah sempat dicegat oleh petugas setempat, kami dengan mudah memasuki TKP dengan menunjukkan identitas kami. Memang sebenarnya kami berdua tidak berwenang penuh, tapi mengingat ini isu dengan hajat banyak orang, kami diizinkan masuk.
Di tempat itu, terdapat bekas ledakan yang memang cukup dahsyat. Tembok sampai bolong, dan menghancurkan saluran air yang ada di depannya. Untungnya tidak ada korban jiwa, dilihat dari kondisi TKP yang tidak ada bercak darah setetes pun. Kali ini pelaku tidak banyak memberikan petunjuk, yang terjadi hanya ledakan. Kukira pelaku sempat iseng untuk meninggalkan suatu pesan. Tapi ya, untuk apa juga… hal itu cuma menambah masalah baginya karena akan semakin mudah untuk menangkap sang pelaku.
"Gimana, Lest? Ada penemuan bagus?" Tanyaku setelah melihat-lihat kondisi TKP.
"Huh, gak ada, sih.." Jawabnya. "Kalau gini kita perlu tanya saksi mata."
"Iya, mungkin itu satu-satunya cara," Kataku setuju.
Kami berseliweran untuk mencari orang yang sekiranya merupakan saksi mata kasus ledakan tersebut. Kejadian ini terjadi pada pagi hari, entah begitu fajar menyingsing atau pukul tujuh pagi. Tapi, mengingat ini adalah NA, kalau ada yang bilang 'pagi,' mungkin masih jam delapan atau sembilan. Habis, malam di negeri ini sangat panjang. Dan itu berarti ledakannya baru saja terjadi.
Tidak ada banyak orang yang bisa kami tanya tentang tragedi ledakan ini. Kita memaklumi karena memang masih pagi, dan di luar sini dingin. Mana ada orang yang nekat mau berangkat pagi-pagi begini? Dan ngapain juga pelakunya ngebom waktu lagi sepi-sepinya? Ya jelas menimbulkan teror lah, bego! (Frey: Author kasaaar! Author: Kenapa kamu mulu yang komen sih -_-)
Ada banyak pertanyaan dalam kepala. Tapi, karena minimnya petunjuk alhasil kami terpaksa menghentikan investigasinya. Selain itu, aku pun waspada terhadap serangan berikutnya yang mungkin bakal terjadi. Maka dari itu, pihak keamanan negara akan mengusut tuntas masalah ini dan menetapkan kebijakannya sesegera mungkin.
Satu-satunya keganjalan yang kutemukan pada TKP tersebut adalah bentuk reruntuhan dari dinding dan saluran air. Maksudku, keduanya tidak terletak terlalu dekat tapi seolah menghasilkan kerusakan ledakan yang berasal dari sumber yang berbeda. Jika menggunakan satu bom, seharusnya kerusakannya menjadi lebih besar. Namun, jika menggunakan dua bom, paling tidak akan ada interval sepersekian detik sebelum bom kedua meledak. Dan menurut saksi, hanya ada satu dentuman yang terdengar. Tapi, kalau dipikirin juga sebenarnya hal ini gak begitu penting. Kalau ada petunjuk lain, mungkin bakal lebih gampang menelusuri jejak pelaku.
Oh, apa mungkin ini bukan sebuah tindak pengeboman? Sialan, kemungkinan bertambah dan tragedi ini semakin rumit.
"Kenapa, Racchi? Kalau kepikiran sesuatu bagi-bagi laah," Kata Lest dalam perjalanan pulang ke Selphia.
"Cuma sekedar ngayal, aku mikirnya ada kemungkinan kalo itu bukan ledakan bom."
"Loh, kenapa?"
"Biasanya, kalau ada yang hancur karena ledakan, bentuknya rapi, kan? Tapi ini engga. Bekas ledakan di dinding dan saluran air seolah terpisah."
"Iya, sih, kok kepikiran gitu?"
"Iya, padahal awalnya aku ngira asalnya dari ledakan yang sama. Tapi bentuk kehancuran saluran air itu memang berbeda dengan yang ada pada dinding istana."
"Haduh, bingung.." Keluh Lest. "Tapi yang jelas gak ada tanda-tanda korban jiwa, kan?"
"Ya.. gak ada bercak darah di manapun."
Sesampainya di Selphia (singkatnya, setelah sampai di Norad kami langsung teleport ke Selphia), Lest pamit untuk mengabarkan ini pada Venti. Aku pun memutuskan untuk kembali ke klinik, ingin melihat perkembangan Io.
"Aku kembali," Ucapku begitu sampai di klinik.
"Ah, Racchi. Cepet amat," Kata Dolce.
"Iya, gak banyak yang bisa kita temuin," Jawabku mendekati kamar pasien.
"Hey, kamu ke mana aja!"
Aku menoleh sumber suara itu. Suara yang gak asing, justru suara ini biasa kedengeran kalau lagi bareng Dolce.
"Pico, ya?" Kataku. "Mana kamu? Aku gak bisa lihat yang ghaib."
"Gak sopan!" Katanya, nadanya seolah terdengar kesal. "Milady mengkhawatirkan kamu, loh."
"Kamu enggak, gitu?"
"Uhh.." Kata Pico. Ada hening sebentar, tampaknya dia beneran ngilang.
"Dagangan kamu gimana, sukses? Aku lagi kepingin makan cireng, nih."
"Yah, Pico lupa!" Kata Pico. Sampai saat ini, aku masih belum bisa liat Pico. Sejujurnya, sejak awal aku memang tidak bisa melihat Pico. Untuk melihatnya aku dibantu kekuatanku, dan semenjak aku dapat Diamond milik Reva, pandanganku dibersihkan. Itu artinya, aku gak bisa melihat Pico lagi selama-lamanya. Tapi bohong! Sapphire gue kan meng-alter Diamond Reva!
"Ya ampun, kamu kenapa balik ke sini? Katanya sibuk?" Tanyaku, sambil memasuki ruang pasien.
"Mau menjenguk.."
"Aku udah ngabarin dia sejak kapan, akhirnya dia bisa nyempetin dateng ke sini," Kata Dolce.
"Syukurlah, kukira kamu udah lupa sama Racchi."
"Gak lah, lagian… mana bisa," Kata Pico. "Kita banyak melewatkan waktu bersama."
"Iya, lebih sering dari pada bareng Dolce."
"Uhhh?" Kata Dolce bingung.
"Iya lah, kalau kamu lagi bareng Dolce kan bareng aku juga!" Kata Pico.
"Udah, lupain," Ucapku. Pico adalah orang pertama yang kuingat ada pada ingatanku di dunia ini, jadi wajar saja kalau aku lebih akrab dengannya. Walaupun aku sebenernya selama ini bohong, pura-pura bisa ngeliat dia padahal harus dibantu kekuatan… ah biarlah.
"Jadi, Racchi… orang di ranjang itu adalah adikmu?" Tanya Pico. Suaranya terdengar jelas dari sebelah aku berdiri. Kami berdua sedang berdiri di dekat ranjang tempat Io tidak sadarkan diri.
"Bisa dibilang begitu.." Jawabku seadanya.
"Aku gak ingat kalau aku pernah ketemu dengannya, lagian emang dia bisa ngeliat aku, ya?" Kata Pico.
"Aku bahkan gak tau kriteria manusia kayak gimana yang bisa ngeliat wujud asli kamu," Timbalku.
"Tapi dia pernah ke Selphia sebelumnya, kan?"
"Iya, lumayan sering."
Io masih belum sadar juga, dan kondisinya belum berubah sejak awal ia tak sadarkan diri. Tampak seperti mati, atau paling tidak bertarung melawan kematian. Tapi, kurasa tak mungkin Io bakal mati secepat ini. Kenapa ia harus sampai sebegitunya sampai-sampai mau merelakan nyawanya?
"Tsu…"
Aku terperanjat, tiba-tiba saja Io mengatakan sesuatu. Mulutnya bergerak dan berkata pelan. Lantas hal tersebut membuatku dan Pico heboh, tapi Dolce mengatakan kalau itu memang biasa terjadi pada orang yang sedang koma.
"Tadi dia bilang apa?" Tanya Pico.
"Dia kaya ngomong 'su.. su… tsu' atau apalah itu."
"Dia minta susu? Kasih dong Racch," Kata Pico.
"Ngaco," Ucapku dan Dolce berbarengan.
"Eh, aduh, serasi nih, ya!" Goda Pico. Aku dan Dolce diam, membiarkannya menggoda kita setelah sekian lama.
Untuk sementara, kupikir ia telah memanggil Yuutsu dalam komanya. Masih belum jelas dan terlalu cepat untuk menyimpulkan. Tapi, jika ini benar, maka cerita bakal jadi menarik. Memang terkadang adegan seperti ini terlalu murahan tapi Author yakin, ini pasti bakal menarik! (Dylas: Jiaaaah kepedeannya muncul)
"Dia harusnya enggak koma selama ini," Kata Dolce.
"Yah, aku juga menyayangkannya. Tapi, apa yang bisa kita lakukan…" Ucapku.
"Mungkin Venti bisa membantu," Usul Pico.
"Tidak, aku gak suka membebani naga itu," Kataku.
Aku mengambil tangan kiri Io yang ternyata diperban di sekitar pergelangan tangannya. Aku bertanya tentang ini pada Dolce.
"Itu karena luka barang tajam yang tiba-tiba ke luar dari gelangnya, kan…" Kata Dolce.
"Oh, iya. Tapi kenapa sampai diperban begini?"
"Mata pisau itu bukan tidak mengandung zat-zat asing," Jelas Dolce. "Ini berarti, gelang itu dilepasnya untuk melepas 'perjanjiannya.' Dengan resiko, itu…"
Aku sudah cukup mendengar perkataannya, tapi banyak hal yang tidak aku mengerti dari Io. Apa yang telah terjadi padanya, dan sebagainya. Aku cuma tahu sedikit tentangnya, dan kali ini, aku merasa amat bersalah karenanya.
"Perjanjian?" Tanyaku, tiba-tiba teringat.
"Eh, kenapa responmu lambat?" Kata Dolce bertanya balik.
"Sori, tadi bengong," Jawabku ngeles.
Hening. Kemudian, Dolce menjelaskan, "Gimana, ya? Di gelang itu ada tulisan kalau gelang itu punya kelompok bernama Luxotic. Dengan mencabut gelang itu, sebilah pisau terhunus ke luar, dan membuat Io koma begini. Gimana, menurutmu ada kaitannya, kan?"
"Oh.. ya, bisa," Ucapku agak pelan. "Jadi dia beneran terlibat sama kita pada masa lalu, gitu?"
"Uh, ya, gak tau… Mungkin kamu lebih tahu."
Kalau dipikirin sebenernya gak mungkin juga, soalnya Io lahir setelah zaman tersebut. Kemungkinan paling masuk akal mungkin juga gara-gara ada kelompok yang menyamakan namanya dengan kelompok kami dulu. Io bergabung dengan kelompok tersebut, dan 'membuat perjanjian.' Ada banyak hal yang aku gak ketahui, jadi aku gak begitu yakin dengan dugaanku saat ini.
Tak lama kemudian, Lest kembali datang ke klinik dengan tergopoh-gopoh. Sepertinya bakal ada berita yang menarik, kami sendiri sampai kaget dengan perilaku Lest yang begitu antusiasnya.
"Berita baru!" Kata Lest sesampainya di klinik.
"Kenapa, sih? Santai aja dulu, kali," Kata Pico.
"Ini breaking news," Kata Lest.
"Ada apa lagi, nih?" Tanyaku.
"Jadi, aku dapat ini dari Venti…" Lest mengambil nafas sebentar, kemudian berkata, "Yuutsu sudah dijadikan buron internasional!"
Mendengarnya sontak membuat kami terkejut. Gila, dalam tempo hanya dua hari gadis itu sudah diincar hidup atau mati oleh seluruh dunia.
"Jadi, Yuutsu pelaku pengeboman itu?" Kata Dolce menyimpulkan.
"Kalau menurut pengamatan kita, masih belum bisa dipastiin," Kata Lest. "Ada beberapa faktor yang membuat dia jadi buron. Pertama, kasus pengeboman itu tidak hanya terjadi di NA. Pihak dari negara kelahirannya menyatakan telah membuktikan kalau Yuutsu melakukan teror di kota Buenos. Karena menyerang dua negara, makanya ia dicari seluruh dunia!"
"Gila juga…" Gumamku.
"Jadi, kita semua diperintahkan supaya bersiaga karena bisa jadi Yuutsu mengincar Selphia!" Lanjut Lest.
"Tapi, kenapa?" Tanya Dolce.
"Aku juga gak begitu ngerti, kita kan masih gak tau motifnya. Aku perlu memberitahukan ini ke semua penduduk, jadi aku caw lagi!" Kata Lest tanpa jeda dan langsung meninggalkan klinik.
Kami saling bertukar pandang begitu melihat Lest meninggalkan klinik. Aku menghela nafas panjang, betul-betul tak percaya Yuutsu bisa dicari sama seluruh orang di dunia. Hanya saja, aku belum yakin dengan pasti kalau Yuutsu pelaku pengeboman di NA, atau itu bukan pengeboman?
"Jadi, gimana kondisi sekarang, Racchi?" Tanya Pico.
"Oh, kamu ketinggalan info, kan, ya?" Kataku. "Kurang lebih dua hari lalu, Yuutsu menyerang Forte di dekat hutan. Dan baru saja tadi ada kasus pengeboman di NA, negara asal keluarga Dolgatari. Terus, ada berita lagi kalau Yuutsu diburon sedunia, gara-gara dia menimbulkan teror di negara kelahirannya juga.."
"Hmm, United States of Hamondunt?" Kata Pico.
"Hamon.. apa?" Tanyaku.
"Hamondunt Frigel, itu nama pendiri negara yang ada di sebelah Barat Daya NA. Kamu merujuk negara itu, kan?" Kata Pico.
"Oh..? Aku saja baru tahu nama negara itu," Kataku. "Iya, benar."
"Wah, aku tak menyangka Yuutsu benar-benar orang USH."
"Memang kenapa? Aku sendiri tidak menyangka kalau ada negara lain di dunia ini."
"Makanya, main yang jauh!"
"Ya, ya, lagipula kamu kan hidup lebih awal dariku, gak aneh kalau kamu tahu lebih banyak dariku," Ucapku. "Tapi, kok, kamu bisa tahu?"
"Biasa, bisnis," Jawab Pico singkat.
"Hidih," Cibirku.
"Dulu, negeri itu sarang kriminal. Kasus pidana seperti makanan sehari-hari, jadi Hamondunt kewalahan membangun negaranya pasca kemerdekaan. Maksudku, nggak aneh kalau Yuutsu bisa melakukan teror di mana-mana. Tapi untuk sekarang, tindakannya pasti mengalihkan perhatian pemerintah di sana. Makanya negara gak tanggung-tanggung," Jelas Pico.
"Karena sekarang negara itu udah jauh lebih damai dan canggih, ya?"
"Iya, loh, tau dari mana kamu?" Kata Pico seolah-olah meremehkanku.
"Sewaktu aku kembali ke sini, aku ada di sana, bukan di Selphia. Aneh, gak?"
"Iya, sih, gak biasanya…" Kata Pico. "Pasti ada kaitannya, Racchi."
"Oh iya, jelas. Tapi aku sendiri belum tahu betul, kayaknya ada ingatanku tentang negara itu yang ada pada Yuutsu," Ucapku.
"Racchi… kamu, masih memikirkan ingatanmu yang hilang itu sampai sekarang?" Tanya Pico. Suasana seketika agak berubah. Perlu waktu untukku menjawab pertanyaan itu.
"Hmmm.." Dan pada akhirnya aku hanya meringkih pelan.
"Tidak.. aku bukannya mau menghina," Kata Pico. "Kukira perkembangannya sudah sampai mana.. gitu."
"Tinggal satu bagian lagi yang belum aku dapatkan," Ucapku. "Sisa bagiannya hanya menjelaskan Zwill. Sebenarnya sangat aneh, dan baru kepikiran pula. Ingatan yang ada pada empat bagian itu cuma menjelaskan tentang kekuatanku, dan Zwill."
"Kalau gitu, ingatanmu satu lagi.."
"Yang asli... ada di Yuutsu." Ucapku. Pico mengubah mukanya menjadi bingung sekaligus curiga.
"Gimana cara kamu dapetin ingatan itu?"
"Dengan merebut kekuatan mereka," Jawabku pelan.
"Oh..." Kata Pico. Tampaknya ia cukup polos untuk memahaminya, sesuai dengan wajah dan bentuk tubuhnya. *ditendang*
Setelah itu, aku memutuskan untuk menemui Forte, berhubungan dengan kasus ini. Siang begini, pasti dia lagi keluyuran entah kemana kayak anak kucing. Dan ketika aku menemukannya, ternyata ia ada di dekat warung Porco- gak, terlalu bagus untuk disebut warung.
"Forte," Sapaku.
"Ah, Racchi, selamat siang. Ada perlu apa?" Tanyanya, kayak yang lagi buru-buru.
"Kamu sudah dengar kabar tentang Yuutsu yang dijadikan buron internasional?"
"Baru saja aku dengar dari Frey, dan aku baru pingin ketemu kamu," Jawabnya.
"Oh, ya, kebetulan banget."
"Tentang kekuatan itu, aku perlu membiasakannya. Jadi, meski aku bisa menggunakan kekuatan itu sesukaku, aku perlu tahu gimana sang professional melakukannya. Ini biar aku bisa menggunakannya secara efektif."
"Entahlah, kamu sendiri lebih berpengalaman dalam medan perang, bukan?"
"Memangnya kamu sendiri nggak?"
"Nggak," Jawabku apa adanya. Tampaknya Forte jadi tak yakin, kenapa orang yang punya kekuatan sebegitu besarnya gak pernah punya pengalaman bertarung? Tapi, yah, namanya juga Racchi, pasti dia lagi ngaco.
"Serius.."
"Maksudku, aku bukan petarung atau pegawai militer yang kerjaannya tiap hari ada di medan perang. Jelas beda, kan, kalau dibanding kamu..."
"Aduh.." Keluh Forte. "Kamu ini gimana... kan kamu lebih berpengalaman dariku soal kekuatan itu daripada aku, makanya aku minta bantuanmu, gitu loh!"
"Heheheheh," Ucapku terkekeh. "Lakukan saja sesukamu. Tinggal pakai imajinasi. Kekuatanku bisa menjadi bentuk apapun yang kamu inginkan. Dengan kemampuanmu sekarang, mungkin kamu lebih baik dariku."
"Uhh..?"
"Sini, biar aku tunjukkan," Kataku.
"Tidak, kalau bisa jangan di sini. Kita pindah ke dekat hutan. Aku gak menyarankan untuk memegang senjata di dalam istana."
"Oh, oke," Kataku menimpali permintaannya. Kami langsung teleport ke hutan, dan aku menunjukkan kekuatanku untuk membuat sebuah pedang. Kemudian, aku mengubah-ubahnya, menjadi pisau, keling, sampai sabit. Pengen gue iseng ngubah benda-benda itu jadi bunga... tapi Forte pasti bakal mukul leher bagian belakang gue pake bagian bawah pedangnya karena udah nganggap gue gila.
"Iya, sih.. kukira kekuatanmu itu bagus di pertahanan saja."
"Memang paling kuat," Kataku. "Tapi, Yuutsu saja bisa menembusnya. Ada kelemahan, dan untuk kasus kali ini pasti gawat. Kita bakal kewalahan kalau lawan Yuutsu."
"Yah..." Kata Forte sambil menundukkan pandangannya.
"Kenapa? Kayak masih bingung gitu."
"Aku... masih kepikiran sebenernya apa tujuan kamu ngasih kekuatan sebesar ini..." Kata Forte. "Aku belum sesiap itu buat ngambil resiko yang terlalu besar."
"Aku memercayai semua orang di Selphia. Kalau sempat, aku bisa saja kasih kekuatan ini ke semuanya... tapi kan engga. Tujuanku sebenarnya kan hanya untuk menangkal Yuutsu, dan kalau beres, pasti semua kembali lagi seperti semula."
"Kalo gitu..." Kata Forte. Wajahnya sedang berpikir keras sampe-sampe harus dipegang mulutnya, takut bicara macem-macem. "Eh, jejak kaki siapa, ini?"
Aku menoleh ke arah jejak kaki yang ia maksud. Jejak itu mengarah ke istana. Jejaknya masih baru, karena kita ke sini pakai teleport, tidak mungkin itu jejak kaki kami. Lagipula, kita bahkan tak sempat untuk melihat siapa yang baru saja datang ke istana.
"Warga biasa, kali?"
"Aku, punya firasat buruk."
Tubuhku tegang. Aku memang mengakui kemampuan intuisi perempuan, apalagi Forte. "Kita lihat siapa yang datang."
Kami berdua pun menelusuri jejak tersebut, dan benar saja, jejak itu berakhir di depan istana. Kemudian, kita putuskan untuk mencarinya bersama-sama. Aku tidak tahu kalau bisa saja jejak kaki itu adalah jejak pengembara, tapi kita gak tahu pengembara yang kaya gimana.
Kita berbelok ke kiri dari gerbang istana. Dan menemukan...
"Apa kubilang..."
"Yuutsu?!"
Kami melihat Yuutsu datang menuju klinik. Suasana mencekam, dan jantungku berdebar cepat. Sebelum ia sempat mengetuk pintu klinik, kami berdua lari menyusulnya.
Lari secepat-cepatnya.
To be Continued
Drifting... [77%]
