Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : T

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Ahad, 17 Januari 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . . .

Pernah beberapa kali Vali bertemu muka dengan Ophis belakangan ini, tapi yang ada Ophis seperti lupa, tidak ingat pernah memberikan tugas itu padanya, bahkan sama sekali tidak pernah lagi menyinggung tentang kemunculan kekuatan eksistensi baru itu. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang ada di pikiran dewi naga berwujud sosok loli, entah apa yang sedang dipikirkannya.

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 24. Pertemuan Besar Part I.

Kouh Gakuen, tempat yang menjadi lokasi diadakannya pertemuan puncak antar pemimpin dari tiga fraksi terbesar makhluk supranatural, yaitu malaikat, malaikat jatuh, dan iblis. Kekkai yang mengurung seluruh komplek Kuoh Gakuen sudah selesai dibuat, kekkai yang dibuat oleh anggota OSIS untuk menyembunyikan aktifitas didalam Kuoh Gakuen dari manusia-manusia diluar akademi. Kekkai ini juga dibuat untuk mencegah adanya pengganggu yang masuk dan merusak pertemuan itu.

Bertempat di sebuah ruangan tertutup yang cukup luas, dimana ada satu meja bundar dengan empat buah kursi ditengah ruangan. Empat kursi yang setiap kursinya diduduki oleh orang-orang penting dari setiap fraksi.

Meja bundar itu dibagi menjadi tiga sudut, sudut pertama di isi pria paruh baya berponi pirang, dia sang gubernur, pemimping tertinggi dari fraksi malaikat jatuh, Azazel. Tidak jauh darinya ada seorang pria berpakaian mewah, pria berambut pirang panjang, pria yang sekarang menjadi pemimpin para malaikat menggantikan peran The God of Bible yang telah tewas, malaikat berpangkat Archangel, Michael. Dan disudut terakhir, dua orang berbeda jenis kelamin yang merupakan wakil dari fraksi iblis. Sirzech Lucifer, pria rupawan berambut merah yang sekarang menggunakan setelah jas resmi, serta Serafall leviathan, perempuan cantik bertubuh pendek dengan rambut berwarna hitam yang di ikat model twintail.

Suasana hening meliputi seisi ruangan, kentara sekali kondisi tegang diantara mereka.

Kriiiieeetttt...

"Permisi . . . ." suara seorang gadis.

Pintu berderit dan terbuka, lalu masuklah gadis berambut merah panjang tergerai yang baru saja menyampaikan salam, Rias Gremory. Dia diiringi oleh peeragenya, yaitu Akeno Himejima, Issei Hyoudo, Asia Argento, Kiba Yuuto, dan Xenovia Quarta.

Suasana yang sejak awal sudah tegang, karena pertemuan ini didasari oleh sebuah konflik, menjadi betambah tegang ketika Rias dan kelompoknya masuk.

Xenovia tampak sangat terkejut ketika didalam ada Irina. Ini masalah besar diantara mereka berdua yang pada awalnya adalah sahabat dekat. Xenovia menjadi iblis karena putus asa mengetahui kalau The God of Bible sudah tidak ada, sedangkan Irina yang belum tahu apa-apa masih menjadi exorcist yang percaya pada tuhan. Irina hadir sebagai pendamping untuk Michael.

Issei pun begitu, sebagai Sekiryutei, dia tentu saja terkejut karena sang rival, Hakuryuukou, ada dipertemuan itu. Hakuryuukou yang bernama Vali, ikut hadir dalam pertemuan ini sebagai pendamping Azazel.

Sirzech buka suara pertama kali memecah ketegangan, "Aku perkenalkan mereka pada kalian semua, dia yang berambut merah adalah adikku, Rias Gremory, dan dibelakangnya adalah peerage-peeragenya. Mereka lah yang terlibat secara langsung dengan insiden penyerangan yang dilakukan Kokabiel dan berusaha menghentikannya, karena merekalah yang menjadi target Kokabiel"

"Kerja bagus, semuanya" kata Michael. Dia memuji tindak heroik Rias dan kelompoknya.

"Maaf soal itu, tampaknya kami telah merepotkan kalian" Azazel menyahut dengan santainya. Yaa, Azazel meminta maaf karena Kokabiel adalah bagian dari fraksinya walaupun sebenarnya Kokabiel itu membangkang perintahnya.

Issei sedikit geram karena pernyataan Azazel yang seakan menyepelekan insiden itu, padahal dia dan keluarga iblisnya hampir mati gara-gara Kokabiel.

"Apa semuanya sudah lengkap? Kalau sudah, sebaiknya kita langsung mulai saja pertemuan ini" kata Michael.

"Tunggu sebentar lagi. Adikku juga terlibat, jadi dia juga akan menyampaikan hasil laporannya bersama Rias. Dan dia juga penanggung jawab sekolah tempat pertemuan kita ini, karena dia adalah ketua OSIS" Serafall meminta sedikit waktu lagi.

Sona entah kenapa sedikit terlambat, mungkin ada hal yang masih diurusnya berhubungan dengan persiapan tempat untuk penyelenggaraan pertemuan yang diadakan di sekolah yang menjadi tanggung jawabnya.

Kriieeeetttt

Tidak perlu waktu lama, pintu ruangan pertemuan kembali berderit. Deritan pintu bisa terdengar jelas, karena didalam ruangan tidak ada suara apapun. Kondisi tegang masih menyelimuti seisi ruangan.

Masuklah dari balik pintu itu, dua orang gadis berkacamata. Sona dan wakilnya, Tsubaki. Kedua gadis itupun berjalan dan berdiri mengambil tempat didekat temannya, disamping Rias.

Sona menatap semua orang yang hadir, dan ada satu hal yang membuat dirinya teramat shock.

"Kau?" suara Sona keluar lumayan kencang, tidak seperti Sona biasanya. "Kau yang waktu itu mencoba membunuhku kan?" tunjuknya pada pemuda yang berdiri bersandar pada dinding ruangan tepat dibelakang Azazel. Walaupun Sona belum tahu namanya, tapi dia ingat dengan jelas wajahnya.

Sontak saja, pernyataan yang keluar dari mulut Sona membuat suasana menjadi semakin tegang. Bahkan jauh lebih tegang dari sebelumnya. Pernyataan yang dibuat Sona, membuat seseorang yang sedang duduk dikursi marah besar.

Suasana yang sangat menegangkan ini didukung oleh kondisi ruangan yang berubah total. Seluruh ruangan menjadi sangat dingin membuat semuanya menggigil, terutama iblis-iblis muda yang ada disana. Kristal-kristal es menempel di seluruh ruangan dari lantai, dinding hingga langit-langit.

Pemuda berambut perak yang tadi ditunjuk Sona tidak bisa bergerak sedikitpun, separuh bagian bawah badannya dari kaki hingga pinggang telah beku oleh es yang sangat keras. Puluhan tombak es yang yang sangat tajam mencuat keluar dari lingkaran-lingkaran sihir berukuran kecil disekeliling pemuda tadi. Tombak-tombak es itu mengarah pada tubuh si pemuda berambut perak, ada yang hampir menancap di kepala, leher, dada, dan bagian tubuh lainnya, bahkan ada yang tepat mengarah pada bola matanya. Ujung runcing tombak es itu bahkan sebagian telah menyentuh kulit si pemuda hingga mengucurkan darah.

Vali, nama pemuda itu, sedang dalam posisi berbahaya. Sedikit melakukan gerakan yang tiba-tiba, bisa-bisa nyawanya melayang.

Si pelaku, gadis cantik bertubuh mungil tampak sedang menggeram marah. Dia mengepalkan erat jari jemari dikedua tangannya. Wajahnya berubah menjadi bengis, gigi taringnya tampak mencuat lebih tajam. "Siapapun yang mencoba mencelakai adikku, tidak akan ku biarkan hidup" ucapnya tanpa sedikitpun bergerak dari tempat duduknya ataupun mengalihkan tatapannya. Serafall benar-benar murka atas apa yang terjadi pada Sona.

Inilah sisi sebenarnya seorang maou bergelar Leviathan. Walaupun dia bukan Mauo terkuat, tapi dia sendirian saja sudah cukup untuk membekukan dan menghancurkan sebuah negara sebesar Jepang dalam sekejap. Apalagi kalau hanya untuk membunuh pengguna sacred gear muda seperti Vali.

"Ada apa ini sebenarnya?" Michael bingung atas apa yang tengah terjadi. Dia masih dalam keadaan biasa, bisa bertahan dari dinginnya es Serafall karena kekuatan malaikat berpangkat Archangel itu tidak main-main. Namun Irina yang jadi pendampingnya sudah hampir mati membeku. Tidak hanya Irina saja, Rias, Sona, dan budak-budaknya juga mengalami hal yang sama.

"Tenangkan dirimu, Serafall" Sirzech mencoba mencairkan ketegangan. Tindakan Serafall berakibat buruk pada semua orang, termasuk Rias dan Sona, adik-adik mereka.

"Vali, apa maksudnya ini?" Azazel bertanya kepada Vali secara langsung, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hening masih melanda, ketegangan tidak sedikitpun menurun.

"Serafall!" Sirzech berseru sedikit nyaring pada rekan sesama Maou. Menurut Sirzech, apa yang dilakukan Serafall sudah kelewatan. Mereka berdua mengemban misi penting seperti yang diusulkan oleh Falbium dan telah disepakati empat maou secara rahasia dalam pertemuan ini, dan ia tidak ingin misi ini gagal hanya karena emosi Serafall yang meledak akibat berita yang belum ada kejelasannya.

Serafall melunak, walaupun emosi menguasai dirinya. Sebagai bagian dari Keluarga Iblis Sitri yang mengedepankan berpikir daripada emosi, hal ini tidak boleh sampai berakibat buruk pada semua orang.

Es-es yang tadi memenuhi ruangan dan membuat Vali di ambang kematian, sudah hilang semuanya. Keadaan sedikit lebih kondusif. Walaupun begitu, hal yang baru saja terjadi tadi harus diluruskan karena akan mempengaruhi jalannya pertemuan ini.

"Vali..." Azazel berseru tegas pada bawahannya. Dia ingin ini segera diluruskan.

"Aku saat itu hanya ingin membasmi lalat kecil yang kebetulan berada didekat adik Maou itu, mungkin tidak sengaja dia juga ikut terkena seranganku" kata Vali mengakui perbuatannya.

Saat itu, Vali yang baru saja menangkap Kokabiel kebetulan berjumpa dengan Naruto, dan karena ingin mencoba sesuatu, dia menyerang Naruto tanpa menyebutkan alasannya terlebih dahulu. Tapi dia tidak tahu kalau salah satu gadis yang berada didekat target serangannya adalah adik seorang Maou.

Hening sejenak. Tidak ada suara lagi, akhirnya Sirzech yang tidak tahan mengalihkan pandangan matanya.

"Sona?" kata Sirzech. Dia ingin meminta penjelasan dari adik rekannya agar masalah terselesaikan dan suasana kembali kondusif.

"Ah, yaa... Maaf kalau aku sempat emosi tadi sehingga menyebabkan ketegangan. Aku tahu saat itu bukanlah aku yang menjadi target serangannya, dan mungkin dia juga tidak menyadari kalau aku ada disana" kata Sona dengan wajah datar kembali seperti biasa, dia semakin pandai berbohong.

Sona sudah tahu sejak awal kalau target serangan Vali bukanlah dirinya, tapi Naruto. Berhubung masih banyak misteri tentang Naruto yang belum ia ketahui, jadi ia tidak ingin mempermasalahkan hal ini lebih jauh. Yang penting sekarang, Sona merasa yakin kalau sang Hakuryuukou ada hubungannya dengan Naruto walau mereka tampak sama sekali tidak saling kenal.

Vali tahu kalau Sona berbohong karena dia masih ingat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dia tidak ingin ambil pusing, beruntung nyawanya sudah selamat dari ancaman Mauo bergelar Leviathan yang tadi sempat membuatnya tidak berkutik. Walaupun dia bisa mengaktifkan kekuatan penuhnya, tapi akan sangat beresiko karena tombak-tombak es tadi sudah hampir menancap ditubuhnya, ada pula yang tepat mengarah ke jantungnya dan salah bergerak sedikit saja, tubuh dan jantungnya pasti benar-benar akan ditembus tombak-tombak es.

"Jadi masalah ini sudah bisa kita anggap selesai kan?" tanya Azazel.

"Kurasa begitu" jawab Sirzech, dia juga berkata mewakili Serafall yang tidak berbicara lagi sejak marah tadi, walaupun sekarang emosi Serafall sudah mereda.

"Kalau begitu, rapat ini benar-benar sudah bisa dimulai kan?" tanya Michael.

Krriiieeettt...

Pintu lagi-lagi berderit, ada lagi yang datang. Kalau Rias dan Sona memang ada keperluan sehingga terlambat, tapi yang datang kali ini benar-benar terlambat tanpa alasan jelas. Ada dua orang yang datang, memakai seragam sekolah Kuoh Gakuen. Seorang pria berambut pirang dan gadis berambut indigo gelap panjang.

"Eheheeee, kamiiii,,, terlambat ya?" tanya si pirang cengengesan.

Tanpa perlu ada yang menjawab, sudah jelas jawabannya. Ya, Naruto dan Hinata benar-benar terlambat. Naruto mungkin lumrah jika begitu, karena mewarisi sifat gurunya yang sekarang menjadi Hokage Keenam. Tapi Hinata? ini pasti karena ulah Naruto.

Hampir semua orang disana jadi kesal sendiri, terutama Rias dan budak-budaknya begitu juga Irina. Mereka semua sudah mengalami ketegangan sampai dua kali, bahkan yang terakhir hampir merenggut nyawa mereka karena membeku. Kalau sampai terjadi lagi, Naruto mungkin akan dicincang.

Sona, sudah kelihatan jelas dari raut wajahnya. Dia benar-benar marah.

Beda lagi dengan empat petinggi fraksi yang ada. Walau ekspresi mereka berempat tidak berubah sedikitpun, tapi mereka menyadari suatu hal. Tidak usah dijelaskan karena ini lah salah satu penyebab mereka harus mengadakan pertemuan besar ini selain karena ulah Kokabiel. Walaupun begitu, mereka semua harus menelan keraguan karena apa yang mereka rasakan sekarang terasa amat kecil jika dibandingkan dengan kekuatan yang muncul waktu itu.

Sirzech menatap kearah Serafall seakan meminta kejelasan, dan dibalas tatapan Serafall yang dapat diartikan sebagai tanda iya. Serafall sebelum pertemuan ini, sudah pernah menceritakan tentang hal ini kepada Sirzech mengenai apa yang dirasakan olehnya saat pertama kali bertemu Naruto kemarin siang di aula.

Serafall memberitahukan hanya kepada Sirzech, tapi tidak dengan Maou lainnya. Lagipula Sirzech pasti bertemu dengan Naruto di Kuoh, jadi untuk apa dirahasiakan. Serafall merasa hal ini kurang penting. Dia memang berencana menyelidiki asal usul dan identitas Naruto, tapi bukan untuk kaum iblis, hanya untuk menjamin keselamatan Sona saja, agar tidak ada bahaya yang mengancam adiknya itu. Tidak lebih.

Vali lain lagi, ekspresinya seperti orang terkejut walaupun perubahan ekspresi di wajahnya sangat tipis. Ketika Vali memandang Naruto, ada sesuatu dibenaknya. Dia masih ingat kalau dirinya akan meyakini kalau Naruto adalah orangnya yang dia cari kalau berhasil selamat dari serangannya waktu. Dan sekarang buktinya, Naruto masih hidup dan berdiri dalam keadaan segar bugar.

Namun Vali tidak ingin bertindak gegabah, karena ia tidak ingin urusannya dengan salah satu Maou lebih panjang lagi. Apalagi nyawanya sempat terancam melayang oleh Maou itu karena kecerobohannya asal serang anak orang saat membawa pulang tubuh Kokabiel. Vali berniat akan mengurus ini nanti, setelah urusannya di pertemuan ini selesai.

Itulah keadaan akibat ulah Naruto. Hinata, dia menundukkan kepalanya karena malu sebab terlambat. "Anoo, maafkan kami karena kami menganggu jalannya pertemuan" kata Hinata dengan nada menyesal. Berbeda sekali dengan Naruto yang memasang tampang seperti orang tak berdosa.

"Ahahahaaa, tidak apa-apa. Hal seperti inilah yang dibutuhkan. Berkat kalian, suasana tegang tadi jadi lebih santai" Azazel yang menjawab. Dia memang lebih suka keadaan santai daripada suasana menegangkan.

Michael tersenyum seakan membenarkan pernyataan Azazel.

"Maafkan kesalahan anggota keluargaku" kata Sona kepada semua petinggi fraksi. Sebagai King dari Naruto dan Hinata, tentulah ini menjadi tanggung jawabnya.

Keempat petinggi itu hanya mengangguk sembari tersenyum, bahkan mood Serafall kembali membaik seperti sedia kala. Kemudian karena merasa tidak ada masalah lagi, Naruto berjalan kearah Sona dan berdiri disampingnya, diikuti pula oleh Hinata.

Setelah menempati posisinya, baik Naruto maupun Hinata mengamati seisi ruangan. Kebanyakan wajah yang terlihat tidak mereka kenal. Hanya Sona, Tsubaki, Serafall, Rias serta sebagian budaknya yang sudah bertemu dan berkenalan di aula kemarin saja yang mereka berdua ingat. Yang duduk mengelilingi meja, pasti para petinggi yang mengadakan pertemuan ini, pikir mereka. Lalu pemuda berambut perak yang berdiri bersandar didinding di pojokan, aaaah serasa pernah bertemu tapi lupa dimana, mungkin bukan orang penting jadi pasangan suami istri ini kompak, lupa.

Sona dengan tampang marah menatap Naruto. Baru saja pertama kali menjalankan tugas, Naruto sudah tidak becus seperti ini. Bagaimana nantinya, apa akan terus tidak becus seperti ini lagi. "Kenapa terlambat?" tanya Sona dengan suara sangat pelan pada Naruto yang berdiri disampingnya.

"Ahahaaa, kau tahu laaah... Tadi di jalan aku bertemu kucing hitam, karena kata orang-orang itu adalah pertanda sial, jadi aku mengambil rute lain. Lalu aku bertemu nenek-nenek yang hendak menyeberang jalan raya, karena kulihat dia sedang kesusahan jadi aku menolongnya dahulu. Setelah itu, aku bertemu gadis kecil imut yang menangis karena kucing peliharaannya terjebak di atas pohon dan tidak bisa turun, jadi aku kesana kemari mencari tangga untuk menurunkan si kucing yang terjebak. Kemudian aku melanjutkan perjalanan, dan aku berada di suatu tempat entah dimana yang aku tidak tahu, mungkin aku tersesat dijalan yang bernama kehidupan. Begitulah, Kaichou . . ." jawab Naruto panjang lebar dengan senyuman. Alasan tidak logis dan tidak bermutu yang dibuat-buat dengan mengutip perkataan dari salah satu gurunya yang sering ia dengar.

"Gh" Sona benar-benar murka kali ini.

Ingin rasanya Sona melubangi kepala Naruto dengan pasak rangka kontruksi jembatan. Tapi mengingat sekarang sedang ada pertemuan penting, jadi ia harus menahan diri. Membuat perjanjian dengan orang misterius belum jelas seperti Naruto sedikit banyak ternyata membuatnya menyesal, Sona merasa sebagai pihak yang dirugikan karena Naruto ternyata kelewat bodoh dan ceroboh.

Sona merasa ditipu, saat pertama kali bertemu, saat membantu membasmi skull reaper, dan saat membuat kesepakatan kemarin, Naruto dan Hinata seperti sosok misterius yang sangat sulit ia capai. Tapi sekarang apa? Datang terlambat, cengengesan dengan wajah tak berdosa padahal sudah tahu membuat salah dan dengan seenaknya pula membuat alasan tak masuk akal.

Semua orang yang ada disana, selain Sona, ternyata mendengar jawaban Naruto walaupun bicara pelan. Wajar karena semua makhluk supranatural memiliki indera pendengaran yang peka. Mereka semua hanya terkikik pelan, beruntung tidak keluar suara tawa keras dari mereka. Sona sepertinya mendapatkan budak yang sifatnya bertolak belakang dengan sifat Sonanya sendiri, pikir semua orang. Bahkan empat pemimpin besar yang ada disana sempat melupakan tentang pertemuan ini sejenak karena juga terhibur setelah mendengar perkataan Naruto.

Haaah, dimanapun berada dan apapun situasinya. Tingkah Naruto selalu bisa membuat suasana menjadi terasa lebih hangat dan rileks.

"Baiklah, setelah ini tidak akan ada yang mengganggu lagi kan? Jadi sebaiknya kita mulai rapatnya sekarang" kata Michael. Ini untuk yang ketiga kalinya Michael bertanya hal yang sama.

Beberapa menit kemudian, Sona dan Rias yang terlebih dahulu menyampaikan laporan tentang penyerangan Kokabiel telah selesai membacakan laporannya. Setelah selesai, langsung dilanjutkan ke acara inti pertemuan ini.

Awalnya pembicaraan berjalan tidak bagus karena Azazel berkelakuan tidak sopan dan kurang menyenangkan, berkata kalau ia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang Kokabiel lakukan. Tapi dengan pernyataan kalau ia meminta agar persetujuaan damai segera ditanda tangani karena memang itulah tujuan awal diadakannya pertemuan ini, semua pembicaraan menemui jalan buntu. Tidak ada pilihan lain bagi Sirzech, Serafall, maupun Michael karena apa yang dikatakan Azazel sama sekali tidak salah.

Ditengah-tengah pembicaraan yang alot, sesuatu hal yang tak terduga terjadi. fenomena yang tampak seperti waktu sedang berhenti. Beberapa orang diruang pertemuan tidak bisa bergerak, Sona, Tsubaki, Akeno, dan Asia.

"Ada apa ini?" Issei bertanya ditengah kebingungannya.

"Waktu berhenti?" kata Michael seakan bertanya karena dia bukan orang yang tidak tahu situasi.

"Sepertinya begitu" sahut Azazel mendengar perkataan Michael. "Hanya menyisakan kita yang memiliki kemampuan yang kuat yang bebas dari fenomena ini"

Maksud Azazel adalah orang berkekuatan besar seperti semua pemimpin tiap fraksi.

"Ditambah orang yang memegang Sacred Gear Naga terkuat, dan mereka yang dilindungi oleh pedang suci" kata Vali menambahkan.

Ada Issei, Irina, Kiba, dan Xenovia yang masih bisa bergerak. Ditambah dengan Rias yang tadi kebetulan sedang memegang tangan kiri Issei.

Tidak lama setelah keanehan waktu terjadi, muncul sebuah lingkaran sihir teleportasi raksasa, sebuah portal yang dari sana bermunculan banyak orang yang melakukan penyerangan. Mereka yang bermunculan langsung menembakkan energi sihir sehingga membuat Kuoh Gakuen bergoncang. Ini seperti sebuah perang.

Sontak saja, semua yang masih bisa bergerak menengok keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Ditengah-tengah keributan itu, terjadi suatu hal yang tak seorang pun menyadarinya.

Grepp...

Ada sebuah gerakan kecil, berpegangan tangan dan saling menggenggam, yang terjadi antara sepasang manusia, Naruto dan Hinata. Seperti yang dikatakan Azazel, fenomena ini tidak berpengaruh pada orang yang kuat. Naruto dan Hinata tidak terpengaruh efek dari fenomena ini, alasannya sederhana, karena mereka berdua,,,,,, kuat.

Walaupun begitu, mereka berdua tetap diam tidak bergerak berada didekat Sona dan Tsubaki. Mereka berdua hanya bekerja untuk Sona, semua orang di ruangan ini tahu kalau mereka berdua adalah bawahan Sona, jadi mereka berdua memutuskan untuk tetap diam sampai Sona memberikan sebuah perintah.

Tapi karena Sona tidak bergerak dan tidak bisa memberikan perintah, mereka berdua pun akan diam menunggu. Lagipula, kalau bergerak, maka itu sudah menunjukkan kalau mereka berdua lebih kuat dari Sona yang kena pengaruh fenomena ini, dan mereka tidak ingin ada orang yang tahu hal tersebut. Mereka berdua bawahan Sona, jadi sewajarnya lah mereka tidak boleh terlihat lebih kuat dari Sona.

Dan terakhir, ini adalah kesempatan bagus bagi mereka berdua, terlebih Hinata untuk mengamati apa yang sebenarnya terjadi, tanpa harus ikut melibatkan diri secara langsung.

Kembali pada orang-orang yang sedang sibuk dengan fenomena yang terjadi.

"Siapa mereka?" Issei bertanya. Wajar kalau tidak tahu karena dia termasuk iblis baru diruangan ini.

"Penyihir" jawab Serafall.

"Sebenarnya, kekuatan apa yang menyebabkan fenomena ini?" kata Michael.

"Kemungkinan besar, mereka mengaktifkan kemampuan si bocah vampir secara paksa lalu mengubahnya menjadi balance breaker" jawab Azazel

"Mereka menangkap Gasper?" Issei terkejut. Dia dekat dengan Gasper, dan saat ini Gasper mereka tinggalkan di ruang klub mereka karena kekuatannya tidak stabil. Ada Koneko yang bertugas menemani gasper disana.

"Kita tidak bisa berdiam diri saja disini" seru Sirzech. "Jika kekuatan Gasper ditingkatkan lebih dari ini, maka waktu yang kita semua miliki akan benar-benar berhenti"

"Kau benar" sahut Azazel.

"Jika kita tidak melakukan sesuatu terhadap bocah vampire itu, kita tidak akan bisa memberikan serangan balasan"

"Onii-sama. Ada satu bidak benteng didekat Gasper, biarkan aku yang pergi kesana. Aku bisa melakukan gerakan spesial bidak catur"

"Aku ikut, aku yang akan melindungi Buchou" kata Issei lantang.

Tidak lama kemudian, setelah berbicara serius. Rias pergi bersama Issei untuk menyelamatkan Gasper.

Setelah kepergian Rias, Azazel buka suara "Nah Vali,,, kenapa kau tidak coba bersenang-senang saja dengan lawan yang ada diluar sana?"

"Baiklah kalau begitu" jawab Vali.

Dia pun langsung keluar, mengaktifkan Balance Breaker Vanishing Dragon untuk membantai pasukan pernyihir yang terus berdatangan.

"Segera setelah Rias dan Issei berhasil menyelamatkan Gasper, kita akan langsung melakukan serangan balasan" ucap Sirzech.

"Kurasa tidak, Sirzech, Serafall" kata seorang wanita paruh baya berkacamata yang baru saja datang. Muncul menggunakan lingkaran sihir teleportasi langsung kedalam ruang pertemuan.

"Kau? Katerea Leviathan." Serafall terkejut.

Tanpa basa-basi, Katerea mengangkat tongkat sihirnya dan meledakkan bagunan tempat diadakan pertemuan tadi.

Seluruh bangunan hancur lebur, beruntung dengan kerja sama tiga pemimpin, Sirzech, Michael, dan Azazel, membuat sihir pertahanan dengan cepat sehingga tidak ada seorangpun didalam ruangan pertemuan yang terluka.

"Apa tujuanmu melakukan semua ini, Katerea?" tanya Sirzech.

"Aku hanya ingin menentang apa yang dibahas dalam pertemuan ini" jawab Katerea.

Katerea adalah yang memimpin operasi serangan ini, dia menginginkan reformasi dunia karena The God of Bible sudah tidak ada.

Akhirnya Azazel yang turun tangan sendirian untuk menghadapi Katerea. pertarungan udara atara keduanya pun tak terelakkan.

Rias dan Issei telah berhasil menyelesaikan tugasnya, mereka berdua berhasil membebaskan Gasper, membawanya ke tempat sisa puing-puing ruang pertemuan yang telah hancur. Gasper menggunakan kekuatannya untuk membatalkan efek dari Balance Breaker Forbidden Balor View yang keluar secara paksa.

Dengan begitu, Akeno, Asia, Sona, dan Tsubaki bebas. Naruto dan Hinata juga mulai bergerak.

Iblis-iblis muda. Semuanya, dari kelompok Rias membasmi para penyihir. Kelompok Sona juga, walau hanya ada tsubaki, dibantu dengan Naruto dan Hinata. Mereka membasmi penyihir sebagai mana yang dilakukan oleh Rias. Naruto dan Hinata bertarung seperlunya, karena tidak ingin kelihatan mencolok.

Pertarungan dengan pasukan yang melakukan kudeta semakin sengit. Vali, sendirian saja telah melenyapkan setengah dari jumlah penyihir-penyihir yang berdatangan dari lingkaran sihir teleportasi atau portal berukuran raksasa.

Katerea terdesak karena kekuatannya jauh dibawah Azazel, dia pun memanfaatkan ular yang dia bawa untuk menambah kekuatan sihirnya. Hal ini memaksa Azazel menggunakan sacred gear ciptaannya sendiri bernama Down Fall Dragon Spear. Mengaktifkan Balance Breaker, Fallen Heavenly Dragon Armor. Azazel menggunakan armor naga, berwarna emas berhasil memojokkan Katerea.

Katerea lagi-lagi terdesak. Dia sudah putus asa karena tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan Azazel. Katerea menggunakan sulur-sulur yang dibuat dari tangannya, menangkap tangan Azazel dan meledakkan diri.

Karena tidak ada pilihan lain, terpaksa Azazel memotong tangannya sendiri, Dia sedikit menjauh dari Katherea untuk menghindari ledakan.

Tapi, tanpa disangka seorangpun

WUUUSSSHHHHH...

Satu sabetan gelombang energi yang dihasilkan oleh sebilah pedang raksasa, sudah cukup untuk melenyapkan semua pengacau. Separuh dari penyihir yang tersisa, portal raksasa tempat para penyihir bermunculan, bahkan Katerea yang belum sempat meledak ikut tersapu dan lenyap karena sabetan energi tadi.

Kekkai yang melingkupi seluruh area kompleks sekolah Kuoh Gakuen, langsung hancur. Parit raksasa terbentuk ditanah dari Kuoh Gakuen hingga bukit yang berada dibelakang Kuoh Gakuen, bahkan bukit besar yang tinggi menjulang itu telah terbelah dua. Tidak berhenti sampai disitu, deretan gunung yang lebih tinggi lagi dan ribuan hektar hutan juga lenyap tersapu gelombang sampai batas terluar wilayah Kota Kuoh.

Ini kejadian luar biasa yang tak pernah disangka, serangan ini adalah serangan tingkat tinggi yang hanya sanggup dilakukan oleh seseorang iblis dengan kelas setingkat Ultimate Class Devil, setara seorang Maou. Serangan ini jauh lebih mengerikan daripada kudeta barusan, bahkan kudeta yang dipimpin oleh Katherea yang baru saja tewas tidak ada apa-apanya sama sekali dibanding dengan ini. Bagi keempat petinggi yang pernah merasakan pahitnya perang pada Great War, ini bukan yang pertama kali mereka lihat. Tapi bagi iblis-iblis muda, ini sama sekali tak masuk akal.

Dari langit, tempat arah datangnya serangan tadi. Turun perlahan sosok makhluk astral raksasa bersayap setinggi 100 meter berwarna ungu berwujud seorang samurai dengan armor perang khas Era Sengoku, lengkap dengan sebilah katana raksasa ditangan kanannya, katana yang telah melenyapkan semua pengkudeta. Sosok astral raksasa itu mendarat ditanah, lalu tak lama kemudian wujud astral raksasa itu menghilang dan menyisakan seorang pemuda berambut hitam dengan mata aneh. Uchiha Sasuke, baru saja menggunakan wujud tertinggi, The Great Full Armored Susano'o, miliknya.

Ditengah-tengah keterkejutan iblis-iblis muda, empat petinggi yang mengadakan pertamuan sudah mengusai lagi kesadarannya. Mereka semua menyadari bahwa, kekuatan inilah yang menjadi salah satu pendorong harus dicapainya kesepakatan antar tiga fraksi besar. Sirzech, sepertinya mengetahui lebih banyak dari yang lain. Dia tahu ciri-ciri pemuda itu, persis seperti ciri-ciri manusia yang telah dengan mudahnya mengalahkan dan mempecundangi Sairaorg.

Belum habis keterkejutan mereka, di smping pemuda berambut hitam tadi, tercipta pusaran yang mendistorsi dimensi ruang, yang kemudian keluarlah tiga orang sosok manusia dari sana. Seorang pria paruh baya berambut putih yang menggunakan masker, satu pemuda berambut merah tanpa alis dengan tatto di dahi sebelah kiri, dan terakhir seorang gadis berambut merah muda sebahu.

Empat tamu tak diundang, berdiri tegap dengan tatapan berani, seolah berhadapan langsung dengan empat orang terkuat dari dari tiga fraksi terbesar makhluk supranatural hanyalah seperti bertemu orang biasa. Mereka berdiri tanpa sedikitpun menampakkan perasaan takut dan gentar kalau tiba-tiba empat pemimpin yang sedang melangsungkan pertemuan akan marah besar.

"Perkenalkan, namaku Hatake Kakashi. Maaf kalau kedatangan kami yang tiba-tiba ini, mengganggu acara kalian. Kami datang,,,,, dengan damai"

.

.

.

TBC...

.

Note : Ku potong yaa, sampai disini aja dulu, hehee.

Nah, ini berkaitan dengan semua pemimpin fraksi. Mereka yang pernah merasakan kedatangan Naruto dan Konoha, lalu sekarang bertemu langsung dengan Naruto. Kalau ditanya apa mereka semua terlalu bodoh untuk menyadari siapa Naruto dan menaruh kecurigaan pada Naruto? Ku rasa tidak. Justru karena mereka berempat pintar, mereka bertindak seperti di chap ini. Bersikap seolah angin lalu dan dibiarkan saja.

Mungkin banyak diantara kalian berpikir, harusnya kalau sudah ada kecurigaan dari mereka pada NaruHina, langsung saja diselidiki secara menyeluruh bahkan kalau perlu diinterogasi. Tapi menurutku itu cara yang kurang tepat, hal tadi memang pencegahan dini untuk sesuatu yang buruk, tapi jika begitu akan banyak hal yang tidak diketahui.

Lebih baik begini, semua pemimpin fraksi tak berbuat apa-apa dan membiarkan dahulu pergerakan musuhnya, dalam hal ini "NaruHina", sampai mendapatkan kejelasan tentang "apa, siapa, bagaimana, kekuatan, dan tujuan" dari musuhnya itu, lalu mengambil tindakan penghabisan berupa pemusnahan secara menyeluruh pada musuh. Itulah menurutku cara berpikir yang lebih cocok dipakai oleh semua pemimpin setiap fraksi, daripada mencegah diawal tapi kenyataannya belum tuntas dan menimbulkan bahaya yang lebih besar lagi kedepannya.

Kemudian mengulas kolom review :

Orochimaru, dan tim taka. Ku pikir mereka sedang di lab karena tidak hadir di resepsi NaruHina, dan lab mereka pasti di luar desa Konoha, jadi mereka semua juga korban kiamat. Kan yang selamat hanya desa Konoha saja serta sedikit hutan-hutan disekitarnya.?

Ada yang protes nih Gaara dan Kakashi ku sebut jomblo di chapter kemarin... Gaara ama Shijima? Hmm,,, cerita Gaara Hiden kan? Timeline LN Gaara Hiden itu setelah LN Konoha Hiden, artinya setelah Naruto nikah ama Hinata. Soo, Shijima ga ada dalam fic ini, karena awal mula fic ini pas resepsi NaruHina. Lagipula, seingatku kalau ga salah hubungan GaaraxShijima itu rasanya masih ngegantung deh di akhir Gaara Hiden. Aku ga mau nyantumin suatu hal ngegantung yang belum pasti. Lalu Kahyo ya? Heheee. Emang sih setting timeline LN Kakashi Hiden sebelum resepsi NaruHina, bahkan sebelum Movie The Last. Kahyo 4 bulan setelah insiden kapal udara di Kakashi Hiden, yang jadi pemimpin Houzukijiyou, sampai kirim-kiriman surat dengan Kakashi. Kalian boleh menganggap Kakashi menjalin hubungan spesial dengan si janda ditinggal mati suami dan anak itu, tapi sebagai pemimpin didesanya, Kahyo tidak bisa sembarangan keluar desa ombak. Dan desa itu letaknya jauh di luar Konoha. So mungkin jadi korban kiamat juga. Kesimpulanku, apa salah kalau Gaara dan Kakashi ku sebut ngenes? 'V'

Sisanya, pertanyaan di kolom review, udah lewat PM yaa. Sebagian lagi terjawab seiring cerita. Dan yang pasti aku berterima kasih untuk kalian semua yang mau membagi ilmunya terkait pernyataanku di chapter kemarin.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.