Chapter ini menceritakan hubungan antara Sasuke dan Hinata.

.

Chapter 2

.

Hinata menghela nafas. Sudah hampir dua jam ia menanti Naruto di café ini namun harus berakhir dengan kekecewaan. Naruto hanya mengirimkan pesan jika ia tidak bisa bertemu dengan Hinata hari ini karena ada rapat mendadak yang harus ia hadiri. Hinata selalu berusaha untuk menjadi kekasih yang pengertian, akan tetapi sikap Naruto yang selalu membatalkan janji-janji mereka membuatnya sedih.

Hinata tidak berharap banyak dari Naruto. Ia hanya ingin Naruto mau meluangkan sedikit waktu untuknya. Sangat sulit bagi Hinata untuk bisa bertemu dengan Naruto akhir-akhir ini. Bahkan terkadang Hinata merasa Naruto sudah tidak membutuhkannya lagi.

Sosok cantik Sakura Haruno muncul di benak Hinata. Sejujurnya kedekatan Naruto dan Sakura membuat Hinata cemburu. Setiap kali Naruto menatap Sakura seolah-olah di matanya hanya ada gadis itu, tidak ada hal lain lagi. Hinata masih tidak tahu alasan Naruto mau berpacaran dengannya. Hinata tahu sampai detik ini Naruto masih menyukai Sakura dan ia selalu merasa sedih setiap kali memikirkan hal itu. Yang dapat ia lakukan hanyalah berharap, berharap, dan berharap. Hinata berharap suatu hari nanti ia bisa menggantikan posisi Sakura di hati Naruto. Sampai saat itu tiba ia akan mencoba bersabar dan menanti.

"Si idiot itu menelantarkanmu, huh?"

Hinata tersentak dari lamunannya. Tanpa berkata apapun juga Sasuke Uchiha mengambil tempat duduk di hadapannya.

"Sasuke-san… apa yang kau lakukan disini?"

"Aku ingin minum kopi." Kata Sasuke sambil mengangkat alisnya. "Tapi siapa sangka aku justru bertemu denganmu yang terlihat menyedihkan karena ditelantarkan si dobe."

Hinata menggigit bibirnya. Ia tidak tahu bagaimana Sasuke bisa mengetahui jika ia memang ditelantarkan oleh Naruto.

"Aku pamit dulu, Sasuke-san." Kata Hinata sambil beranjak pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah keluar dari café, Hinata merasa ada seseorang yang berjalan di sampingnya.

"Sasuke-san." Kata Hinata dengan terkejut.

"Sampai kapan kau akan memanggilku seperti itu, Hinata."

"Um… a-aku minta maaf."

Suasana diantara mereka berdua kini terasa canggung.

"Kau tidak pernah berubah, Hinata. Kau selalu saja merasa tidak nyaman saat berada di dekatku meski kita sudah lama mengenal."

Hinata terdiam. Semua kata-kata Sasuke itu memang benar. Meski sudah mengenal Sasuke sejak di bangku SMA namun Hinata masih saja merasa canggung dengannya. Rasa canggung itulah yang membuatnya selalu berusaha menghindari Sasuke.

"Kau hanya melihatnya saja. kau tidak pernah menyadari ada orang lain yang selalu memperhatikanmu."

"A-apa maksudmu, Sasuke-sa-… Sasuke?"

Sasuke hanya menatap Hinata sekilas lalu beranjak pergi.

"Sampai jumpa lagi, Hinata."

.

.

"Kutinggal sebentar ya Hinata-chan. Mobil Sakura sedang rusak jadi aku akan mengantarnya pergi bekerja. Tidak apa-apa kan?"

Hinata hanya menganggukkan kepala mendengar pertanyaan Naruto. Tak lama kemudian Naruto pergi, meninggalkan Hinata bersama Sasuke di rumahnya. Pagi ini Hinata sengaja mengunjungi Naruto untuk sarapan pagi bersama kekasihnya yang sudah jarang ia temui itu. Namun siapa sangka sosok Sasuke Uchiha juga berada di sana.

"Tidakkah kau merasa lelah selalu menjadi nomor dua? Tidakkah kau merasa cemburu karena Naruto selalu memprioritaskan Sakura meskipun kau adalah kekasihnya?"

Hinata mengabaikan kata-kata Sasuke. Ia mengambil tas-nya dan mulai pergi.

"Tolong katakan pada Naruto-kun jika aku ada acara lain dan tidak bisa menemaninya sarapan. Aku pulang dulu, permisi."

Ketika ia hendak membuka pintu, pergelangan tangannya justru dicengkeram Sasuke.

"Sampai kapan aku akan membohongi dirimu sendiri, Hinata?"

"Tolong lepaskan."

Sasuke tidak melepaskan Hinata, ia justru semakin mendekat dan mulai mengurungnya. Hinata kini tersudut, punggungnya bersandar di pintu sedangkan pergelangan tangannya dicengkeram pemuda berambut hitam itu. Jarak diantara mereka kini hanya beberapa senti saja. Hinata menundukkan kepalanya, ia tidak ingin beradu pandang dengan pria di depannya itu.

"Kau pasti sudah mengetahui perasaan Naruto pada Sakura, atau harus kujelaskan padamu agar kau mengerti."

"Lepaskan aku, Sasuke!"

"Mengapa kau masih bersama dengan seseorang yang bahkan tidak menyukaimu? Kau seharusnya mencampakkannya lebih dulu sebelum ia membuangmu."

"Minggir!"

"Kau benar-benar menyedihkan. Tak heran Naruto selalu mengabaikanmu."

Hinata memberikan tatapan tajam pada Sasuke. Apa haknya mencampuri urusan pribadi Hinata?

"Apapun yang terjadi padaku, itu tidak ada hubungannya denganmu." Bisik Hinata.

Ekspresi kesal terpampang di wajah Sasuke. Ia mengeratkan cengkeraman tangannya.

"Lepaskan tanganku, Sasuke! Mengapa kau ikut campur mengenai hubunganku dengan Naruto?"

"ITU KARENA AKU MENCINTAIMU!"

Hinata mematung.

"A-apa ka-katamu barusan?"

"Aku jatuh cinta padamu, Hinata Hyuuga. Melihatmu bersama Naruto benar-benar membuatku muak!

"Ka-kau jangan bercanda. I-ini tidak lucu."

"Kau tidak mempercayaiku, apa yang harus kulakukan agar kau bisa mempercayaiku?" Tanya Sasuke dengan perlahan.

Hinata menggelengkan kepalanya. Ini mustahil! Sasuke tidak mungkin mencintainya. Itu benar-benar tidak mungkin.

Sasuke lalu melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Hinata. Kini kedua tangannya memegang pipi Hinata dengan lembut.

"Tatap mataku, Hinata."

Hinata menggeleng. Kedua matanya justru tertutup rapat. Ia tidak berani menatap keseriusan yang terpancar di mata Sasuke.

Ketika Hinata merasakan sebuah ciuman yang mendarat di bibirnya, matanya terbuka lebar. Tubuhnya terkejut kaku.

"Aku benar-benar mencintaimu, Hinata." Bisik Sasuke dengan lembut di telinganya.

Sasuke lalu mencium kening Hinata sebelum beranjak pergi meninggalkan Hinata yang masih berdiri mematung.

.

.

Beberapa hari berlalu sejak perjumpaannya dengan Sasuke. Kata-kata Sasuke selalu terngiang di benaknya, membuat perasaannya jadi campur aduk.

Hinata lalu memberanikan diri mengunjungi Sasuke. Ia ingin meminta kejelasan lebih lanjut mengenai kata-katanya itu. Hinata tidak ingin merasa bingung dan ragu mengenai perasaan Sasuke.

Sasuke tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat ia membuka pintu dan melihat sosok Hinata Hyuuga datang mengunjunginya.

Dan disinilah mereka saat ini, duduk dengan canggung tanpa ada yang berani memulai pembicaraan.

Hinata baru beberapa kali datang ke apartemen Sasuke, itupun selalu bersama dengan Naruto. Hinata tidak menyangka ia justru mengambil inisiatif untuk menemui pemuda berambut hitam itu.

"A-apa kau bersungguh-sungguh dengan perkataanmu dulu, Sasuke?" Tanya Hinata sambil menyembunyikan rasa gugupnya.

"Kau masih tidak mempercayaiku?" Kata Sasuke sambil memandangi Hinata.

"Aku sangat terkejut mendengar perkataanmu karena bagiku itu adalah hal yang mustahil." Kata Hinata sambil mengangkat bahunya. Sejak di SMA Sasuke selalu popular di kalangan gadis-gadis. Mereka semua berlomba-lomba untuk mendapatkan Sasuke. Tidak mungkin seseorang seperti Hinata mampu menarik perhatian pemuda yang saat ini duduk di hadapannya itu.

"Kau adalah Sasuke Uchiha, kau sangat popular dan tampan. Kau bisa mendapatkan gadis manapun yang kau sukai dengan mudah. Tidak mungkin seseorang sepertimu menyukai seseorang yang biasa sepertiku."

"Tapi aku memang menyukaimu, Hinata… bahkan sejak dulu."

Hinata menundukkan kepalanya. Kini ia berpura-pura sibuk mengamati jari-jarinya. Hinata sangat terkejut ketika menyadari Sasuke beralih duduk di sampingnya. Sebelum Hinata sempat melarikan diri, Sasuke dengan sigap meraih lengan Hinata sehingga mereka berdua kini saling duduk berhadapan. Dengan lembut Sasuke mengangkat dagu Hinata dan membuat pandangan mereka beradu.

"Sejak kapan kau mulai menyukaiku?" Tanya Hinata sambil berbisik.

"Aku juga tidak tahu dengan pasti kapan aku mulai menyukaimu…" Mereka masih beradu pandang. Onyx dan lavender. "Bagiku kau sangat bodoh dan naif. Kau sangat pendiam dan pemalu. Kau selalu mementingkan orang lain dan mengorbankan dirimu sendiri, tidak pernah protes meski disakiti. Kau juga lemah. Bahkan seleramu juga sangat payah. Aku masih tidak habis pikir apa yang kau lihat dari sosok si dobe yang membuatmu tergila-gila padanya."

Jari telunjuk Sasuke kini berada di sudut bibir Hinata.

"Awalnya aku sangat membencimu, Hinata. Aku benci dengan semua kekuranganmu. Aku benci karena aku justru memperhatikanmu. Aku benci karena kau selalu membuatku mencari-cari dirimu diantara sekian banyak orang. Aku benci karena kau tidak pernah melihatku. Aku benci karena kau selalu memperhatikan Naruto. Aku benci karena kau membuatku cemburu padanya. Aku benci… karena kau membuatku menyukaimu. Kau adalah gadis yang jahat, Hinata Hyuuga."

Hinata hanya terdiam mendengarkan pernyataan Sasuke. Dengan tersenyum tipis, Sasuke kembali berbicara.

"Saat kelas satu, kita dan teman-teman lain mengunjungi festival kembang api. Apa kau masih mengingatnya? Saat itu kau tampil sangat cantik memakai yukata berwarna putih dengan motif ungu. Rambutmu yang biasanya tergerai justru kau gulung rapi. Kau terlihat malu-malu, pipimu merona merah. Aku tahu kau berdandan demi Naruto, dan saat Naruto mengabaikanmu aku bisa melihat dengan jelas ekspresi kekecewaan di wajahmu. Matamu mulai berkaca-kaca namun kau mencoba bersikap tegar. Saat itu juga aku tidak bisa membantahnya, aku benar-benar jatuh cinta padamu, Hinata…"

Perlahan air mata mulai mengalir di pipi Hinata. Ia masih mengingat dengan jelas saat itu. Hinata menghabiskan waktu berjam-jam dalam berdandan. Ia ingin terlihat cantik malam itu agar bisa mendapatkan perhatian Naruto. Ia memakai yukata putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna ungu milik mendiang ibunya. Saat itu neneknya masih hidup, jemari tuanya dengan cekatan menata rambut cucu perempuannya dengan perasaan penuh sayang. Setelah selesai, Hanabi dan Neji Nii-san memuji penampilannya. Ayahnya dengan mata yang sedikit basah mengatakan bahwa ia sangat mirip dengan ibunya. Hinata tahu ayahnya masih mencintai mendiang istrinya yang sudah lama meninggal itu.

Dengan malu-malu ia menyapa Naruto, berharap agar Naruto memperhatikannya meski hanya sedikit saja. Saat Naruto hanya menyapanya sekilas dan mengalihkan pandangannya pada Sakura, ia merasa sedih dan kecewa. Semua usahanya sia-sia. Ia ingin menangis, tapi dengan sekuat tenaga ia menahannya. Ia tidak ingin merusak kesenangan teman-temannya di festival ini. Hinata bahkan sempat berpikir tidak ada seorangpun yang mau mencintainya.

Hinata tidak pernah menyangka Sasuke justru memperhatikannya. Bahkan Sasuke mencintainya sejak dulu. Mengapa Hinata tidak pernah menyadarinya?

"Mengapa kau tidak pernah mengatakan hal ini padaku?" Bisik Hinata dengan suara parau.

Sasuke menghapus air mata Hinata.

"Aku tahu kau sangat mencintai Naruto. Jika aku mengungkapkan persaanku, kau pasti akan menolaknya. Aku tidak ingin hubungan kita yang kaku menjadi semakin rumit. Aku tidak ingin membebanimu dengan perasaanku."

Air mata Hinata masih tetap mengalir.

"Lalu apa yang berubah? Apa yang membuatmu mengungkapkan perasaanmu sekarang?"

"Karena aku tidak ingin melihatmu bersedih. Aku tahu kau tidak bahagia bersama Naruto, kau selalu mengalah dan berkorban demi dirinya. Hatiku sakit setiap kali melihat ekspresi kesedihan di wajahmu."

Sasuke lalu memeluk tubuh Hinata dan membuat gadis itu membenamkan wajahnya ke dadanya yang bidang. Tangan kirinya memeluk dengan erat pinggang gadis itu sementara tangan kanannya mengelus rambut Hinata dengan lembut.

"Jadilah milikku, Hinata. Aku berjanji akan membuatmu bahagia." Bisik Sasuke di telinga Hinata.

Hinata menggeleng. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan Sasuke namun tangan kekar itu mencegahnya.

"A-aku ma-masih mencintai Naruto-kun." Kata Hinata sambil terisak.

"Aku tahu itu, tapi bisakah kau memberiku kesempatan?"

"Ma-maafkan a-aku. Aku ti-tidak bisa melakukan itu."

.

.

Sejak saat itu tidak banyak yang berubah dari hubungan Sasuke dan Hinata. Hubungan mereka masih terlihat kaku. Sasuke masih bersikap dingin dan Hinata tetap terlihat canggung.

Akan tetapi Hinata kini bisa melihat dengan jelas perhatian yang diberikan Sasuke padanya. Setiap kali ia berbicara, Sasuke menyimak perkataannya dengan seksama. Setiap kali ia tertawa, Sasuke selalu menoleh ke arahnya. Setiap kali ia murung dan kecewa dengan sikap Naruto, Sasuke selalu berusaha mengalihkan perhatiannya.

.

.

"Apa kau masih mencintai Naruto?"

"Ya."

"Apa kau yakin itu?"

"Aku yakin, Sasuke."

.

.

"Maaf, Hinata-chan. Sakura sedikit mabuk, aku akan mengantarkannya pulang. Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu malam ini."

"Tidak apa-apa, Naruto-kun."

Hinata tertunduk lesu saat memandangi kekasihnya itu mengantarkan sahabatnya pulang. Mereka berdua terlihat serasi. Sebenarnya ia atau Sakura yang menjadi kekasih Naruto? mengapa Naruto lebih mementingkan Sakura dibandingkan dirinya.

Malam ini adalah pesta perayaan ulang tahun Ino di salah satu klub malam yang berlangsung dengan sangat meriah. Setelah meneguk beberapa gelas minuman beralkohol, Sakura terlihat sedikit mabuk. Dengan sigap Naruto langsung berinisiatif mengantarkannya pulang dan menelantarkan kekasihnya sendirian.

"Ayo kuantar pulang." Kata Sasuke sambil menghampiri Hinata.

"Ti-tidak usah. Aku bisa naik taksi." Tolaknya dengan halus.

"Jangan keras kepala, ini sudah larut malam."

Hinata menggigit bibirnya, ia tidak ingin merepotkan Sasuke.

"Berhenti menggigit bibirmu. Itu justru membuatku ingin menciummu."

Wajah Hinata memerah.

"Aku akan mengantarmu pulang. Jangan membantah."

.

.

"Hey Hinata, apa kau masih mencintai Naruto?"

"Te-tentu saja."

"Kau terlihat ragu."

"Aku tidak ragu!"

"Berhentilah berpura-pura, Hinata."

.

.

Hinata tahu hubungannya dengan Naruto semakin lama semakin merenggang. Mereka sudah jarang bertemu. Sikap Naruto juga mulai berubah, tidak lagi sehangat dulu.

"Maaf aku harus membatalkan kencan kita hari ini, Hinata-chan. Sakura tadi terjatuh dari tangga, aku harus menemaninya ke rumah sakit. Aku takut jika kakinya terkilir atau patah." Kata Naruto saat Hinata meneleponnya.

"O-oke… semoga Sakura tidak apa-apa."

Bagi Naruto, Sakura adalah yang terpenting, lalu bagaimana dengan Hinata?

.

.

"Apa kau masih mencintai Naruto?"

"I-iya…"

"Kau tidak perlu berbohong."

"A-aku tidak bohong!"

.

.

"Apa yang kau lakukan disini, Sasuke?"

"Si dobe tidak bisa datang kali ini, ada rapat penting. Ia merasa menyesal, itu yang ia katakan."

Hinata menghela nafas. Naruto dan semua kesibukannya. Tidak ada ruang bagi Hinata di dalam hidup Naruto.

Sasuke mencubit pipi Hinata.

"OW! Le-lepaskan!"

"Berhenti memasang ekspresi menyedihkan seperti itu."

Hinata mengusap-usap pipinya yang terlihat memerah.

"Kau jahat sekali, Sasuke."

"Jangan cemberut. Aku akan mentraktir semua yang kau mau. Kau ingin pesan apa?"

.

.

"Kapan kau akan memulai bersikap jujur, Hinata?"

"Apa maksudmu, Sasuke?"

"Kau tahu apa maksudku."

"Jika ini tentang Naruto, aku masih mencintainya."

"Kau masih saja berbohong, Hinata."

.

.

Hinata tidak tahu sejak kapan perasaannya pada Naruto mulai berubah. Hatinya tidak lagi berdebar-debar setiap kali memikirkan Naruto. Kini ia tidak lagi merasa cemburu setiap kali Naruto menghabiskan waktu bersama Sakura. Hinata tidak lagi menanti janji-janji kosong Naruto. Ia sudah merasa terbiasa dengan sikap Naruto yang selalu mengabaikannya.

.

.

"Aku mencintaimu, Hinata."

"A-aku tahu, Sasuke."

.

.

"Kau tidak perlu repot-repot datang kemari."

"Berhentilah menggerutu, Sasuke. Kau sedang sakit, jadi aku datang mengunjungimu."

"Aku hanya demam, Hinata. Bukan hal yang serius."

"Kau harus beristirahat, oke? Aku akan menyiapkan bubur untukmu." Kata Hinata sambil memaksa Sasuke untuk beristirahat.

"Asalkan kau selalu memberi perhatian seperti ini padaku, tidak masalah jika aku jatuh sakit." Kata Sasuke sambil tersenyum jahil.

Hinata memutar bola matanya. "Aku lebih senang jika kau sehat."

"Kau sangat cantik, Hinata."

"Berhenti merayuku, Sasuke." Kata Hinata dengan wajah memerah.

"Itu memang kenyataannya." Jawab Sasuke dengan serius.

.

.

"Hey Hinata… apa kau masih mencintai Naruto?"

"A-aku… A-aku tidak tahu…"

.

.

"Maafkan aku, Hinata-chan. Kurasa kita lebih baik mengakhiri hubungan ini."

Hinata hanya terdiam mendengarkan kata-kata Naruto.

"Sejujurnya aku menyukai Sakura-chan. Aku tidak bisa bersama denganmu saat hatiku justru menyukai orang lain. Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Kau adalah gadis yang baik, Hinata. Semoga kau bisa bersama dengan seseorang yang benar-benar mencintaimu."

.

.

Sasuke membuka pintu apartemennya. Di hadapannya tampak sosok Hinata dengan mata sembab dan rambut kusut.

"Hinata?!"

"Ini semua salahmu!" Teriak Hinata sambil memukul-mukul Sasuke.

"Apa yang terjadi?" Kata Sasuke sambil mencoba menenangkan Hinata.

"Aku dan Naruto sudah putus."

Sasuke hanya memasang ekspresi datar saat mendengar kabar itu.

"Saat ia putus denganku aku hanya diam saja dan menyetujuinya. Aku tidak merasakan apapun! Tidak ada rasa kecewa, sakit hati, marah, atau apapun itu. Tidak ada! Aku merasa normal, seolah-olah yang Naruto katakan itu bukanlah hal yang penting. Ini semua adalah salahmu!"

"Hinata…"

"Aku membencimu, Sasuke Uchiha! Kau membuatku jatuh cinta padamu! Apa kau sudah puas sekarang!" Hinata mulai menangis.

Sasuke lalu memeluk Hinata. Ia membawa Hinata masuk ke apartemennya dan menutup pintu. Gadis dalam pelukannya itu masih menangis terisak-isak.

Sasuke membelai rambut Hinata, berusaha menenangkannya.

"Ssshhh… tenanglah, Hinata…"

Hinata lalu melepaskan dirinya dari dekapan Sasuke. Matanya masih basah. Ekspresinya terlihat serius.

"Aku mencintaimu, Sasuke." Kata Hinata dengan tegas.

Sasuke tersenyum. Sorot matanya penuh kebahagiaan.

"Aku tahu." Jawabnya dengan santai.

"Kau seharusnya menjawabnya dengan mengatakan aku juga mencintaimu." Kata Hinata sambil mengerucutkan bibirnya.

Sasuke tertawa, dengan lembut ia mengecup bibir Hinata.

"Aku juga mencintaimu, Hinata."

.

.

"Siang tadi Neji-nii menemuiku. Kurasa ia mencemaskan keadaanku." Kata Hinata sambil memainkan rambut Sasuke yang sedang tidur di pangkuannya. Mereka berdua saat ini sedang menonton film di apartemen Hinata.

"Ia hanya memastikan kau tidak melakukan hal-hal bodoh karena baru saja putus cinta." Kata Sasuke dengan datar.

Hinata tertawa kecil. "Nii-san sangat perhatian dan protektif padaku. Ia sepertinya masih tidak percaya padaku ketika aku mengatakan padanya jika aku baik-baik saja. Bahkan semua teman-teman dan keluargaku juga tidak percaya."

"Kau baru saja putus dari si dobe, orang yang kau cintai selama bertahun-tahun. Mana mungkin kau bisa melupakannya hanya dengan hitungan hari. Tak heran mereka semua tidak percaya padamu."

"Tapi aku memang sudah melupakan perasaanku padanya."

"Kau pikir siapa yang telah membantumu, huh?"

"Aku mencintaimu, Sasuke." Kata Hinata sambil tersenyum lembut. Sorot matanya menyiratkan isi hatinya.

"Aku juga mencintaimu, Hinata."

.

.

"Apa keluarga dan teman-temanmu tahu jika kau selalu menghabiskan malam di tempatku?" Kata Sasuke sambil memeluk tubuh telanjang kekasihnya.

"Tentu saja tidak. Mereka pikir aku mengurung diri di apartemenku karena sedang patah hati." Kata Hinata dengan setengah mengantuk. Ia membenamkan wajahnya di dada Sasuke sambil menikmati momen kebersamaan mereka.

Sasuke mengecup kepala Hinata. Tangannya membelai punggung mulus Hinata, semakin lama belaiannya semakin menggoda.

"Sasuke… aku sudah lelah…"

"Sekali lagi, Hinata."

"Aku ingin tidur."

"Kau bisa tidur sepuasnya setelah selesai."

"Sasuke! Ah…"

.

.

Dengan tangan gemetar Hinata memegang testpack di tangannya.

Positif.

Tangannya kini mengusap perutnya yang masih rata.

Ia hamil.

Bagaimana ia harus mengatakan kabar ini pada keluarganya? Bagaimana dengan Sasuke? Hinata masih belum siap untuk menjadi seorang ibu. Bagaimana ia bisa merawat anaknya kelak? Ia belum memiliki pengalaman apapun.

"Nee-chan! Apa kau sudah selesai?" Kata Hanabi sambil mengetuk pintu kamarnya di kediaman Hyuuga. Hari ini ia pulang ke rumah lamanya karena menghadiri pesta pertunangan kakaknya dan Tenten yang diselenggarakan disini.

"Se-sebentar lagi, Hanabi." Dengan terburu-buru ia menyembunyikan testpack itu di laci meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Setelah itu ia bercermin, merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit kusut. Matanya sedikit merah dan wajahnya terlihat pucat. Hinata berharap tidak ada seorangpun yang memperhatikannya.

"Nee-chan! Otou-san dan Neji Nii-san sudah menunggu kita." Kata Hanabi dengan tidak sabaran.

"I-Iya."

Sekali lagi Hinata mengusap perutnya. Ia berharap bisa menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan kabar ini pada semuanya.

.

.

A/n :

Maaf jika alur ceritanya agak cepat. Percakapan yang dicetak miring adalah percakapan antara Sasuke dan Hinata dari waktu ke waktu. Dari percakapan itu dapat terlihat bagaimana perasaan Hinata pada Naruto berubah, bagaimana ia yakin dan perlahan berubah menjadi ragu.

Kunjungi saya di wattpad www .wattpad com /user/ Hana_nako

Sampai jumpa di chapter berikutnya!