Sixth Phase

Ventuswill: "Cerita ini bakal cepat berakhir"

"Yuutsu!" Teriakku sambal berlari mencegatnya. Kita gak tau apa yang bakal dilakukannya sekarang di Selphia, tapi karena ia kini jadi buron, kita harus segera menahannya.

Dia tidak menanggapi teriakanku, dan meneruskan pekerjaannya. Ia mengetuk pintu klinik, sontak membuat Forte spontan berteriak, "Dolce! Jangan buka pintu itu!"

Tapi dasar bengal, Dolce sempat membuka pintu itu dan langsung kaget, terlihat jelas dari wajahnya yang shock berat. Yuutsu sempat berjalan sedikit memasuki klinik, tapi aku berhasil menahan Yuutsu dari belakang.

"Kena, kamu…" Gumamku, sambil menahannya di lantai. Forte menyiapkan ancang-ancang menyerang di sebelahku, sementara Dolce—dan mungkin Pico—memasang wajah horror. Siapa sangka mereka bisa ketemu dengan sosok yang baru saja dibicarakan.

"Ada ribut apa, sih?" Tanya pangeran gaul yang tiba-tiba ikut nimbrung.

"Nih, buron. Kita dapet hadiah, gak?" Tanyaku.

"Waduh, gak kusangka bisa secepat ini," Kata Lest. "Bawa saja ke negara asalnya, Racch. Nanti biar dia diurus sama pihak setempat."

"Hmmm..." Gumamku, sedikit curiga.

"Io..." Kata Yuutsu pelan. Anak ini memanggil Io, untuk apa?

Aku melihat kepala Yuutsu yang wajahnya menempel di lantai, untuk sementara aku terdiam. "Io sedang koma, ayo kita kembali ke Aseton untuk berbicara."

Tak ada balasan dari Yuutsu, tampaknya badannya sudah pasrah. Otot-ototnya rileks, dia tampak tidak memiliki kekuatan hanya untuk menendangku.

"Baiklah, aku akan membawa gadis ini ke tempat asalnya," Ucapku. Tanpa banyak berpikir panjang (karena khawatir siapa tahu Yuutsu tiba-tiba melakukan serangan), aku memindahkanku dengan Yuutsu ke kota Aseton. Singkatnya, aku menggunakan kekuatanku untuk membuat portal menuju kota tersebut, sekalipun negara itu hampir tidak pernah tersentuh kekuatan mistis.

Dengan hitungan detik, kami sampai di kota Aseton yang agak mendung. Tempat yang kupilih untuk membawa Yuutsu adalah bekas proyek pembangunan yang ditinggalkan. Tentu saja beralasan, dan Author pikir Readers udah pada ngerti sendiri.

Herannya, sesampainya kami di tempat tersebut, Yuutsu masih terkulai lemas dan tiduran saja di atas tanah. Sempat terpikir untukku memberinya makanan. Tapi, mana ada warung di sekitar sini.

"Kenapa, Yuutsu? Apa menjadi kriminal dengan kekuatan Reva malah membuatmu kewalahan?" Tanyaku tanpa berharap jawaban.

Tapi, Yuutsu malah menggumam, "Io.." Sama seperti ketika ia tiba di klinik.

"Io kenapa?" Tanyaku. Bisa jadi ada hubungannya sama kejadian waktu Io bilang 'Tsu..' saat ia koma.

"... Lapar.." Gumamnya lesu, bener aja dugaanku. Aku mendesah pendek, dan memutuskan untuk mencari kedai dengan makanan yang sekiranya bisa dimakan Yuutsu. Otakku berpikir kembali, seharusnya ada warung untuk menjual makanannya ke pada pekerja proyek di sini.

"Tunggu, ya, aku carikan kamu makanan," Ucapku yang akhirnya simpati pada kriminal kecil ini. Bagaimanapun juga, hidup adalah hak untuk seluruh umat manusia (eaaaa *plak*).

Teringat karena ini di negeri Hamondunt, aku menggunakan kacamataku untuk mencari kedai terdekat. Begitu menemukannya, lokasinya tidak jauh dari tempat aku berada. Aku bergegas menuju kedai tersebut dan membeli apapun yang terlihat lezat (untuk dimakan berdua, karena aku juga ingin makan) dan mengenyangkan. Kuputuskan untuk membeli roti putih dengan isian keju Gruyere dan tak lupa membeli sebotol susu kambing segar. Untuk sebuah kedai, barang yang dijual cukup komplit tapi harganya lumayan tinggi. Aku memaklumi karena aku sendiri gak kepikiran ada lahan cukup untuk petani di kota semaju ini.

Baru sampai antrian kasir, suara 'ledakan' itu terdengar lagi. Untuk sementara, aku berpikir itu bukan berasal dari Yuutsu, karena ia sedang lemas. Tapi, aku juga perlu memastikannya. Setelah membayar di kasir (di luar dugaan, harganya murah karena kena diskon musim gugur) aku segera berlari ke tempat Yuutsu berada. Tapi, begitu di sana, Yuutsu sudah menghilang.

"Oke... Racchi, tenang," Ucapku pada diri sendiri. Tiba-tiba, di suatu sisi tempat proyek pembangunan itu terdapat bekas 'ledakan' yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku lebih terkejut, adalah banyak darah bersimbahan di sekitarnya.

Kacamataku menampilkan peringatan stres dan ketakutan. Ya, aku pikir Yuutsu telah membohongiku dan membuatku mengembalikan ke tempat asalnya untuk melakukan serangan lagi. Tubuhku tersungkur, badanku mulai bergidik dan tegang. Belum pernah aku merasakan hal ini untuk beberapa lama. Ketika identitasku kembali, emosiku juga menjadi jauh lebih stabil.

Tiba-tiba, Yuutsu datang dari belakang dan mengunci leherku dengan sebilah pisau. Aku sontak menangkisnya dan menjauh. Kali ini, aku benar-benar tak percaya apa yang ada di depan mataku.

"Yuutsu... A-apa itu?!" Tanyaku gelagapan. Karena sewaktu aku melihatnya, ada tampak banyak seperti ekor serangga dengan ujung tajam dari Yuutsu. Dia tampak seperti monster. Tidak, dia memang monster.

"Ini... Miki," Katanya. "Fujiwara Miki."

Aku tak membalasnya. Karena dia sudah makin gak waras.

"Aku ini, hanya wadah yang digunakannya. Segala bentuk kriminal yang aku lakukan.. itu ulahnya," Katanya dengan santai. "Mengerikan, bukan? Kekuatan Reva bisa mengubahku menjadi seperti ini.."

Diamond of Impurity yang membuatnya seperti itu? Kalau dipikir-pikir, ketika aku mendapat kekuatan itu, identitasku kembali seperti semula. Kalau begitu, ini... adalah wujud asli dari Fujiwara Kiyuutsu?

Setelah aku amati, pada sesuatu yang—kita sebut saja—ekor itu, terdapat bercak darah. Wajahnya juga kotor dengan noda kemerahan. Berarti, ia benar-benar melakukan penyerangan barusan. Itu artinya yang ia lakukan di NA bukanlah pengeboman, tapi.. ia baru saja menyerang seseorang sampai mati. Pantas saja agak bau darah ketika ia mengunciku.

"Yuutsu... pelaku penyerangan di NA itu, kamu..?"

"Aku tidak menyerang siapapun, Racchi," Jawabnya tenang. "Miki yang melakukannya."

Aku diam, tidak menimpalinya. Kemudian ia terus bertutur, "Katanya, Miki lapar. Jadi, aku memutuskan untuk memberinya makan siang..."

Jadi itu artinya, ia baru aja makan seseorang? Kampret, gue belum makan apa-apa jadi mual begini. Oh, wow, rasanya tak aneh kalau Yuutsu dijadikan buron seluruh dunia.

"Jadi, ini keinginanmu... dari apa yang telah kamu rebut?"

"Itu juga bukan keinginanku," Kata Yuutsu. Oke, jadi sekarang aku tahu kalau ia diberi dua panggilan bukan karena tanpa alasan. Kriminal bangsat mengerikan juga bukanlah nama tanpa alasan. Tapi, bagaimanapun juga, ia masih termasuk keluarga denganku karena memiliki kekuatan yang sama.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan kekuatan itu?" Tanyaku.

"Aku tidak tahu!" Kata Yuutsu tiba-tiba dengan volume yang dikeraskan. "Miki sialan! Kenapa kamu bisa sebegitunya dengan tubuhku, lebih baik kamu hilang dan semua ini gak bakal terjadi!"

Aku cukup terpana dengan perkataan Yuutsu. Tentu saja, karena aku pernah mengalami hal semacam ini. "Tenang, Yuutsu. Jangan biarkan dia menguasai tubuhmu. Rileks..."

"Aku memberimu tubuh ini karena aku yakin kita dapat menyelamatkan teman-temanku, dari si brengsek Zwillinge itu!"

Dugaanku benar. Kita semua telah dipermainkan oleh Zwill, dan akhirnya bisa ditebak. Kalau gak salah, kita semua bakal berakhir seperti ini. Ingatan kita yang kembali, membuat kita hancur. Aku benar-benar gak menyangka, korbannya bukan hanya aku. Kita semua, bakal seperti ini. Hanyut dalam keputusasaan.

Aku menenangkan diriku, dan aku sadar kalau ini adalah momen itu. Momen yang sama ketika aku mengalahkan Reva, Rean, Zone, dan Zero. Pada akhirnya, aku akan mendapatkan kembali semua ingatanku setelah mengalahkannya. Tapi, dengan aku yang sekarang, aku keberatan untuk membunuhnya.

"Gak ada alasan untuk membunuh mereka! Kita lebih memprioritaskan Zwill... Sindikat itu bertujuan sama denganku, tak ada satu pun dari mereka jadi pengkhianat!"

Dia barusan menyebut 'Sindikat..." apa yang ia maksud itu Luxotic? Jadi, selama ini dia mendalangi kelompok tersebut, termasuk Io? Tapi... untuk apa?

"RACCHI! BUNUH AKU SEKARANG!" Teriak Yuutsu, dan kini, sklera mata kirinya berwarna hitam mengelilingi warna hijau terang di tengahnya. Ini sama seperti saat Reva hendak kubunuh, ketika ini pula sang pengguna menjadi tidak stabil.

"Sial..!" Ucapku sambil menyiapkan kekuatanku. Untuk sekarang, mana mungkin aku bisa menandingi kekuatannya tanpa dibantu Zwill. Tapi, tak ada gunanya meminta bantuan pada kutu busuk sialan itu.

Dan tiba-tiba saja Yuutsu sudah ada di depanku, berusaha untuk menghajarku sekuat tenaga. Dalam mata hitam itu, terdapat keputusasaan dan rasa kesenangan yang terlampau besar. Seperti yang diharapkan dari seorang Fujiwara Kiyuutsu.

Drifting... [91%]

(Venti's POV)

"Bagaimana dengan Racchi, Lest?" Tanyaku.

"Dia sudah membawa Yuutsu ke negeri asalnya," Jawab Lest.

"Menurutmu, apa yang bakal dilakukannya di sana?"

"Entahlah, seharusnya kamu yang ngasih tau.."

"Mereka bakal bertarung sampai salah satu dari mereka mati," Jawabku tenang. "Ini seperti yang ia lakukan sebelum warna rambutnya berubah."

"Kalau begitu, Racchi... bakal dapet ingatannya kembali, ya?"

"Itu pun kalau Racchi menang, kalau kalah gimana? Aku sendiri gak tau."

Lest terdiam dan berpikir di tengah kekhawatirannya.

"Bagaimanapun juga, kita gak bisa membantunya dari kejauhan sini. Dia sendiri mengklaim kalau ia tidak menggunakan runes... apa boleh buat," Lanjutku.

"Anda berbicara seperti Racchi yang bakal kalah..." Katanya, formal. Terdengar menggelikan di telingaku.

"Ya, kenyataannya seperti itu. Tapi, kan, kalau dipikir-pikir Yuutsu gak bakal menang..."

"Gara-gara?"

"Dia kan buron," Jawabku singkat setelah dipotong Lest. "Ada banyak sepasang mata yang mengincarnya. Lest... tolong beri tahu Arthur untuk mengirimkan pesan ke pada pemerintah Aseton untuk mengembalikan Racchi kemari."

"Apa yang sebetulnya anda pikirkan?"

"Nanti saja penjelasannya, kita harus segera bertindak."

"Baiklah..." Kata Lest sambil meninggalkan ruanganku.

Aku menatap langit-langit, di sana ada lubang. Kalau tak ada lubang itu, Lest dan Frey tak mungkin bisa selamat dan menjadi sahabatku. "Racchi... sebentar lagi kamu tahu kenyataan itu. Entah bagaimana sikapmu selanjutnya..." Gumamku. "Tapi, cerita ini bakal cepat berakhir..."

Drifting... [93%]

(Racchi's POV)

"Tidak, Miki, hentikan... Aku gak ingin melawan Racchi sekarang!" Kata Yuutsu pada dirinya. Setelah mendapat kekuatan Reva, ia jauh tak tertandingi dengan diriku sekarang. Tapi, dengan kondisinya yang seperti itu, hanya perlu mencari titik lemah yang sangat fatal. Satu serangan pada titik tersebut, maka semuanya berakhir.

"Aku juga gak kepingin melawan kamu, sialan..." Ucapku pelan sambil bangkit, sial, aku udah kewalahan banget. Gimana bisa aku menang lawan Miki kalau gini caranya?

Untuk sementara, aku perlu bertahan dengan Alter. Dan sebisa mungkin aku hanya menahan serangannya. Sejujurnya, aku masih ragu untuk membunuh Yuutsu sekarang. Kalaupun aku berhasil menemukan titik kelemahannya, aku tak akan segera menyerangnya. Karena aku perlu tahu, selayak apa dia untuk mati dan apa kesalahanku sebenarnya. Kalau aku tak mengakui kesalahanku itu, dia tak bakal mati sukses dan Emerald tak akan jatuh.

"Alter..." Gumam Yuutsu. "Kamu... benar-benar mau memusnahkanku rupanya..."

Kemudian, dia menyerangku dengan intensitas tinggi secara tidak sadar (kemungkinan). Sesuai strategiku, aku tak akan menyerangnya sampai titik fatal itu muncul. Sialan, sampai saat ini aku terus memikirkan titik itu, padahal aku sendiri ragu dengan tindakanku.

Sampai aku benar-benar kewalahan, perasaan itu muncul. Kekuatan itu datang padaku secara tiba-tiba, bergejolak setengah mampus dalam dada (eaaa *plak*). Ketika orang kira aku telah kehabisan tenaga, yang terjadi malah sebaliknya. Pada kasus ini, sebaiknya aku mulai menahan Yuutsu secepatnya.

"Coba saja kalahkan dia, Miki! Kamu tak akan sanggup!" Kata Yuutsu, kemudian ia berusaha menyerangku lagi. Tapi, siapa pernah melawanku dengan kondisi seperti ini, mengesalkannya gila-gilaan. Karena saat itu, dalam konteks waktu, aku sudah dapat menyaingi Yuutsu.

Kali ini, aku berhasil menahan Yuutsu dengan memotong beberapa ekornya. Di dalamnya, mungkin Miki sedang menggila dan mengamuk. Kalau tidak cepat-cepat, aku bisa mati duluan karena dia bakal pakai Diamond of Impurity sampai batasnya.

"Miki, apa alasanmu menyerang kami semua?" Tanyaku. Bodoh, mana mungkin aku bisa mendengarnya langsung.

"Itu gak benar... yang kamu lakukan cuma membuat masalah!" Kata Yuutsu.

"Yuutsu, aku perlu tahu alasan itu... daripada kamu berakhir tragis..."

"Dia bilang ingin memusnahkan semua pengkhianat... Zwill dan Luxotic... Tapi itu gak masuk akal!"

"Kalau begitu, gak ada alasan untuk menyerangku, dong..."

"Karena dulunya kamu terlibat dengan Zwillinge.." Kata Yuutsu. "Sejak mendapat kekuatan Reva, dia menggila. Dia memusnahkan segalanya..!"

Aku berjalan perlahan menuju Yuutsu, dengan sisa ekornya yang bisa dihitung dengan jari satu tangan.

"Tidak.. JANGAN MENDEKAT!"

Aku tidak peduli, karena bagaimanapun... semua ini harus diakhiri. Aku belum menemukan titik lemah itu, tapi karena tidak ada yang bisa kulakukan lagi... jadi, terpaksa...

Aku menebas mata kiri Yuutsu dan ekor Miki menusuk dada bagian kananku... Sial, aku pikir bakal mati karena Miki akan menyerang bagian vitalku. Kalau gini, kekuatan Sapphire bisa cepat memulihkannya. Pertaruhanku gagal total. Kalau aku mati, semua kekuatanku bakal jatuh pada Yuutsu dan Zwillinge pasti terpaksa untuk membantuku. Semuanya bakal berakhir secepat itu dengan akhir yang gak menyenangkan... karena semuanya tidak berjalan dengan bahagia. Kita semua jatuh pada perangkap Zwillinge.

"AHHH!" Teriak Yuutsu mendapati matanya yang ditebas. Kalau begini... hanya tinggal menunggu waktu ia akan dibunuh selain olehku. Dia juga buron... kan...

Aku tersungkur di sebelah Yuutsu dan tubuhku kembali lemas.

"Racchi... jangan... mati..." Katanya.

Aku memang gak bakal mati, tapi perasaanku sudah seperti sekarat.

"Atas apa yang telah aku perbuat... aku benar-benar minta maaf... Racchi, aku benar-benar gak bisa diandalkan..." Kata Yuutsu, menghampiri tubuhku.

Sebelum aku melihat apa yang akan terjadi berikutnya, Yuutsu sudah banyak bicara, "Aku... terlibat dengan Zwillinge karena kebodohanku. Saat itu, aku gak paham dengan apa yang harus aku lakukan. Hingga akhirnya, kita semua malah berakhir begini..."

Suatu saat, penglihatanku menjadi tajam. Dan kacamataku menampilkan suatu proyeksi yang agak aneh.

"Racchi, aku perlu jujur... dengan kondisi di mana kita saling kehilangan ingatan... yang pertama kali muncul pada ingatan itu, adalah..."

Mataku menunjukkan titik lemah Yuutsu. Proyeksi kacamata itu juga. Bisa dipastikan, aku bisa membunuhnya sekarang juga. Sebelum aku sanggup membuat pedang dengan kekuatan Sapphire... dia-

"Aku ingat tentang kamu. Kupikir, dengan segala yang aku lakukan, bisa membantumu melenyapkan Zwillinge dan kembali ke pada masa-masa yang damai seperti saat itu. Kamu tidak mengingatnya, kan.. Racchi," Katanya. Setelah jeda sebentar, dia mulai berkata lagi, "Aku berpikir untuk menyediakan dunia yang layak untuk kembali hidup dan melupakan masa lalumu... walau aku tahu itu tak berguna karena kamu selalu mencarinya. Selama ini, aku melakukan ini semua karena..."

Pedangku sudah terbentuk, tapi-

"Aku ingat cinta pertamaku. Racchi... tolong, maafkan aku, dan akhiri semuanya di sini. Aku akan senang walaupun tak akan berada denganmu selamanya, karena aku telah menciptakan dunia ini untukmu, paling tidak... aku sendiri yang membuatnya untukmu..."

Perasaan itu kembali lagi. Sial, apa yang harus aku lakukan? Yuutsu menutup matanya, tersenyum sambil meneteskan air mata. Sementara ekornya, sudah siap menghujamku.

Titik fatal itu ada pada mata kirinya, sesuai dugaanku. Aku hanya tinggal menghancurkannya!

Fujiwara Kiyuutsu, maafkan aku... karena ingatan itu... kamu...

Uh..? Tidak, aku tidak paham. Aku tidak mengerti. Kenapa akhirnya seperti ini? Ini... tidak seperti yang diharapkan. Aku tidak tahu kesalahanku, mana musuh dan kawan? Semua itu buram. Sia-sia. Atas yang telah Zwillinge lakukan pada kita...

Kita akan berakhir seperti ini?

"YUUTSU!"

Tiba-tiba saja, terdengar suara tembakan. Seketika peluru itu menembus kepala Yuutsu, mengenai mata kirinya. Dalam sekejap, Yuutsu mokad, dan ekornya menghilang. Kekuatan Emerald yang ada padanya, kembali padaku... juga Diamond milik Reva.

A-apa..?!

Aku tak sempat memikirkan apapun. Di sekelilingku sudah muncul agen khusus. Seingatku, aku dibawa mereka ke suatu tempat. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran, aku sempat menengok ke arah Yuutsu yang mati tergeletak. Dia sudah dikepung oleh beberapa agen yang lain.

"Y-yuut... su..." Gumamku sebelum kesadaranku menghilang.

Pada saat-saat terakhir tersebut, indera perabaku merasakan tetes air hujan yang mengenai ujung jemariku. Awan yang dari tadi menutupi cahaya matahari, mengeluarkan air yang dikandungnya.

To be Continued

Drifting... [Completed]

Please don't turn off the system

Force Shut Down... [Initializing...]