Closing Phase

Preparing Force Shut Down

Zwillinge: "Kembali untuk berkorban"

Aku membuka mataku. Ketika tersadar, aku mendapati diri ada di penjara entah di mana dengan tangan diborgol ke belakang, lengkap dengan kakinya pula. Aku sontak terkejut, dan mencoba meringkih dan meminta pertolongan.

"Sudah sadar? Maaf harus melakukan ini padamu, kami tahu anda tidak bersalah. Tapi, ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan," Ucap seseorang di balik jeruji. Aku tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, mungkin karena backlighting.

"Apa..." Jawabku perlahan.

"Apakah kamu betul-betul terlibat dengan Yuutsu?" Tanya orang itu.

"Tentang apa, ya..."

"Apakah kamu benar-benar terlibat dengan kasus penyerangan yang dilakukan Yuutsu?"

"..." Aku diam sebentar. Di dalam kepalaku, seolah-olah aku menelusuri segala alur ingatanku. Dan, ketika mencapai titik terbuntu, aku menemukan itu. Sebuah ingatan yang selama ini aku cari. "Tidak..."

"Kalau begitu, anda hanya sekedar korbannya yang selamat..."

"Ya, tak kurang dan tak lebih."

Dalam posisi terbaring menghadap jeruji, perlahan aku mulai mengingat semua yang terjadi sebelum aku berada di dunia ini. Awal kisah kompleks dan mengerikan ini, Zwillinge, Luxotic, Harukawa, dan yang terakhir... Dolgatari.

Dari ingatan itu sebenarnya aku sadar kalau aku tak pernah mengalami amnesia, aku hanya kehilangan kemampuan mengingatku. Tapi, aku benar-benar gak menyangka kalau ini semua pernah terjadi. Zwillinge memang memberi kita semua kekuatan, tapi untuk apa? Itulah yang menjadi pertanyaanku selama ini. Masalahnya, terlalu dangkal kalau menyimpulkan bahwa ia hanya ingin menjadi manusia dengan kekuatan yang tidak berlebihan. Pasti ada suatu hal yang masih disembunyikannya.

Terdengar suara orang datang dari ujung lorong penjara. Interogator barusan mengeluarkan suaranya, "Siapa?"

Sekejap kemudian, tanpa peringatan, ia terjatuh pingsan dan tergeletak begitu saja. Aku jadi horor, dan berharap semoga bukan orang aneh yang akan membunuhku selanjutnya.

Namun di luar dugaan, orang itu jauh lebih berbahaya.

"Halo, gimana kabarmu? Racchi?" Tanya orang itu... Zwillinge.

"Bagaimana bisa kamu kembali ke sini?" Tanyaku, masih dengan tampang terkejut. "Siapa yang kau bawa itu?"

Ketika sampai di depan jeruji, ia meletakkan seseorang yang digotongnya. "Aku kembali untuk berkorban," Jawabnya. "Masa kamu tidak mengenali saudara sendiri?"

Ketika mendapat sudut pandang yang lebih leluasa, aku mendapati kalau yang dibawa Zwill adalah Yuutsu. Kukira dia sudah diculik pihak keamanan untuk diraibkan, namun ternyata Zwill membawanya.

"Kalau gini, ingatanmu yang hancur sudah kembali, kan..." Kata Zwill. "Coba kutanya, apa yang akan selanjutnya kamu lakukan dengan ingatan itu?"

Sebelum aku sempat membuka mulut, orang itu terus memojokkanku, "Tidak ada? Padahal, itu hal yang selama ini kau cari?"

"Aku belum sempat berbicara.."

"Sudahlah, jawabannya pasti sama. Dari Abyss, aku selalu memerhatikanmu, loh," Katanya. Wajahku bergidik jijik.

"Apa sebenarnya tujuanmu?" Tanyaku.

"Menciptakan kedamaian," Jawabnya singkat.

"Dengan mengorbankanku dan yang lainnya?"

"Tidak, kamu tidak seharusnya aku korbankan... tapi dengan begitu malah berakhir kaya gini."

"Kau kecewa, dan sekarang kamu ingin melenyapkanku?"

"Ngomong apa, sih," Jawabnya kesal. "Kalau gitu, usahaku selama ini sia-sia, dong? Dan lagi, yang paling ingin kalian lenyapkan itu aku, gak ada yang lain."

Aku tidak menimpalinya, memalingkan wajah dan berpikir selagi aku bisa.

"Pengalamanku jauh melebihimu, dan aku memberikan kekuatan ini untuk mewariskannya."

"Mewariskan?" Potongku. "Tujuanmu itu sebenarnya apa, sih?"

"Ah... gimana, ya..." Katanya kebingungan. "Sudahlah, nanti juga paham. Di dunia ini, ada satu musuh besar yang ingin kukalahkan. Aku tak bisa langsung membunuhnya, jadi aku mencoba merusaknya perlahan. Dengan bantuan kalian... aku berharap kalian bisa mewujudkannya. Jangan biarkan dia hidup, atau dunia ini akan rusak."

"Kamu ngomong terlalu banyak. Musuh apa, sih?" Ucapku yang mulai kesal.

"Sudahlah, aku gak punya banyak waktu," Jawabnya pasrah. "Aku akan mengembalikan kalian semua. Jadi, tolong, sekali lagi aku memohon pada kalian untuk mengalahkan musuh itu. Kali ini, aku akan benar-benar menghilang."

Tanpa sempat membalasnya, Zwill mengeluarkan mayat Zero, Zone, Reva, dan Rean. Kemudian, menghidupkannya kembali. "Aku... ambil ya kekuatanmu itu."

Kemudian ia mengambil kekuatan yang berasal dari masing-masing pengguna, dan mengembalikannya. Setelah itu, dia mengerahkan semua kekuatannya untuk menghidupkan mereka kembali. Dengan ajaib, mereka semua kembali bernafas dan sadar, Yuutsu yang terkena tembakan di kepala saja bisa kembali normal.

"Ini... di mana?" Gumam Reva. "Kamu... Zwill-"

"Zwillinge?! Keparat sialan!" Kata Yuutsu sambil mengeluarkan pisaunya. Oh, dia kini benar-benar kembali normal.

"Tenanglah Yuutsu, sekarang aku akan menghilang, jadi tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, ya?" Ucap Zwill pada Yuutsu. "Anggap saja, kekuatan itu murni milik kalian. Tak perlu ada yang dipermasalahkan lagi, kan ya? Luxotics, hiduplah bahagia selamanya."

Sebelum ia benar-benar menghilang, bahkan Rean pun yang jarang bicara mengacungkan pisaunya ke arah Zwill. Ini berarti, kita semua memang punya dendam pada orang itu.

"Maafkan aku, Rean. Mulai sekarang, aku pastikan tidak akan ada yang mengkhianatimu lagi. Bukankah kalian kembali berkumpul seperti sedia kala?"

Ucapan itu sukses membuat Rean yang Absolute Zero itu tertunduk. Lalu, di akhir hidupnya, ia berkata, "Selamat reuni, teman-teman. Pada akhirnya aku mewujudkan keinginan kalian yang selama ini aku halang."

Dan kali ini Zwillinge benar-benar menghilang.

Sekarang... bagaimana?

"Kampret, bantuin gua ke luar dari sel ini!" Teriakku pada yang lain. Aku sengaja melakukannya untuk memancing ingatan mereka, siapa tahu Zwill masih iseng dan sebenernya pengen membunuhku.

"Racchi-san? Ngapain ada di penjara?" Tanya Zone, kepolosannya masih sama.

"Wah... orang ini kriminal..." Kata Zero.

"Yang kriminal itu Yuutsu!"

"Ngomong apa, hah!? Enak aja kalo ngomong!"

"Udah, sekarang kita cari kunci selnya, kasian amat Racchi bisa dipenjara. Setauku dia anak baik-baik," Kata Reva, yang kini sudah keibuan... rupanya.

"Iya, cepetan, aku ditahan gara-gara masalah dengan Yuutsu, nih!"

"Apa, sih, gak jelas main tuduh segala!" Kata Yuutsu yang makin sewot.

"Ssst, ini penjara, jangan menarik perhatian penjaga. Ini, aku dapet kuncinya, kita keluarin dia sekarang," Kata Rean yang tiba-tiba jadi baik. Terima kasih untuk berbicara pada waktunya dan solutif. Dia membuka jeruji dan melepaskan belenggu yang selama ini mengekangku (eaaa *plak*).

"Dari mana dapet kunci itu?" Tanya Zero.

"Kalau gak salah, di sini barusan ada penjaga yang pingsan..." Jawab Zone.

"Tengkyu, Rean..." Ucapku setelah dibebaskan, namun seperti biasa, ia tak membalasnya.

Ketika aku ke luar dari sel itu, aku merasa sangat canggung. Masalahnya adalah aku yang telah membunuh mereka semua demi ingatanku, dan kini mereka dihidupkan kembali.

"Jadi... perlu berapa tahun untuk kita menepati janji bertemu kembali?" Celetuk Zone.

"Delapan tahun, ya..." Jawab Reva.

"Semua gara-gara si kutu busuk itu..." Cerca Yuutsu.

Lalu, diluar dugaan, kami semua (yang bisa) menangis tiba-tiba saling berpelukan. Aku sendiri ikutan, tapi nangisnya ditahan-tahan karena sebenarnya aku bahagia. Bisa ditebak, Rean tidak ikut berpelukan, entah kenapa kita malah membiarkannya asik dengan senjata pribadinya.

"Astaga, banyak hal terjadi, ya..." Kata Reva.

"Aku senang setengah mati, loh, bisa ketemu lagi padahal kita baru aja mati..." Kata Yuutsu.

"Iya, Racchi sialan..." Kata Zero. Rupanya, mereka masih dibiarkan mengingat segala yang pernah terjadi pada diri mereka masing-masing. Buset, gue mau naro muka di mana nantinya?

"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu," Ucapku mengalihkan mereka.

"Eh, iya, astaga! Apa aku masih jadi buron di sini?" Tanya Yuutsu.

"Lah, apa yang sebenernya terjadi padamu, Un?" Kata Zone, dia memang biasa memanggil Yuutsu dengan sebutan 'Un.'

"Aduh, sial, siaaaal!" Kata Yuutsu, kesal maksimal. "Kalau gitu, aku harus balik lagi ke tempat asalku. Lalu bersembunyi di sana sampai kondisi membaik!"

"Kamu berencana apa..." Tanya Rean.

"Sudahlah, lagipula kita tidak perlu lagi ada di Abyss... aku juga ragu kalau kita bisa balik lagi ke sana."

"Ya sudah, tempatnya tidak jauh dari sini, kan? Ini penjara di Aseton, sekota dengan tempat asalmu," Kata Reva.

"Iya, syukur..." Kata Yuutsu. "Tapi, gimana kita bisa ke luar tanpa ketahuan, ya?"

"Dasar nenek..." Kataku usil.

"Apa maksudnya?!"

"Baru aja mati, udah lupa?" Ucapku, kesannya aneh banget, ya. Aku mengaktifkan kekuatanku sehingga mataku berubah warnanya menjadi merah muda, berharap ia bakal ingat dengan kekuatannya dan menggunakannya untuk ke luar dari penjara ini.

"Oh, iya, iya!" Katanya semangat. "Zone, kamu bisa meledakkan tempat ini dengan mudah, kan?"

Gubrak.

"BUKAN GITU," Ucapku sewot, dan agak terkejut. "Kita pakai kekuatanmu untuk menghentikan waktu, terus pergi dari sini dengan aman, damai, sentosa, sejahtera! BUKANNYA PAKE LEDAKAN, LOE MASIH JADI BURONAN, SETAAAN!"

"Waduh, tenang, Racchi. Jangan ngomong kasar, apalagi teriak-teriak!" Kata Zero.

"Kedengerannya lucu, soalnya semua akhirannya '-an' sih!" Kata Zone, agak ngawur ya.

"Sudahlah, jangan menirunya," Kata Reva.

"Iya juga, hehehe. Maaf banget, ye," Kata Yuutsu.

Setelah itu, kami semua meninggalkan penjara tersebut sesuai rencanaku, dan kembali ke tempat kediaman Yuutsu dengan damai. Beberapa dari kami memang berasal dari negara ini, tapi Rean, Zone, dan Zero berasal dari NA. Mereka sempat norak melihat negara yang serba canggih, berbeda dengan negeri asalnya. Sebisa mungkin aku dan Reva mencegah Zone untuk segera mengunjungi pusat informasi yang ada di tengah kota dan Rean—siapa tahu dia bakal asal bacok untuk mendapatkan darah. Yang penting kita semua selamat dan sampai di kediaman Yuutsu untuk beristirahat.

Sesampainya di sana, kami semua merebahkan diri pada kursi sofa dan lantai beralaskan karpet yang cukup tebal.

"Uwaaah, lelahnya!" Kata Yuutsu begitu ia merebahkan diri di sofa.

"Un, ikutan di sofa, dong," Kata Zone.

"Ya, sini di belakang Yuutsu," Katanya sambil sedikit memajukan badannya dari sofa. Zone menyempil di situ dan tertidur seketika. Reva yang mengetahuinya, melepas kacamatanya dan menaruhnya di meja dekat sofa itu berada.

Aku memerhatikan sekitar, dan aku jadi ingat tentang rumah Yuutsu. Kita memang biasa main ke sini kalau libur panjang, rumahnya luas dan nyaman. Orang tuanya tajir parah, dia diberi rumah saat masih SMP dan menginginkan anaknya untuk bisa hidup mandiri. Ketika aku pertama kali ke sini dan mendengar cerita itu, aku sampai terkejut dan buru-buru ngerampok isi kulkas dari dapurnya. Yah... dulu gue memang sebengal itu.

Nanti, Author ceritain ya, masa lalu mereka. Ingatan yang hilang dari Racchi pas mereka masih sekolah sesuai foto yang ada di buku catatan Io. Jangan sekarang, udah mau abis fanfictnya soalnya :)

"Rumahmu masih bersih saja, memangnya kapan terakhir kali kau merawatnya?" Tanyaku.

"Kadang-kadang, kalau aku gak ada di Abyss aja," Jawab Yuutsu dengan mata tertutup.

"Rajin juga, ya, calon istri idaman, nih!" Kata Reva, sedikit menggoda Yuutsu.

"Apa sih, anda dulu, bu, yang harusnya mikirin nikah..." Kata Yuutsu. Reva memang paling tua, tapi dia seangkatan dengan Rean dan Yuutsu. Aku, setingkat ada di bawah mereka, dan di bawahku ada si paling bungsu Zone dan Zero.

"Kita kan seangkatan, kamu juga harus mikirin nikah, kali," Balas Reva.

"Ya... perjanjiannya kan kamu dulu nikah, abis itu aku," Kata Yuutsu. "Atau Racchi dulu, ya, dia kan udah punya Dolce. Kapan lu nikahnya?"

"Waduh..." Ucapku singkat, tidak bermaksud menjawabnya.

Seketika, aku ingat dengan Dolce yang ada di Selphia, dan Io yang tengah dirawatnya. "Oh, iya, aku harus cabut, mau ke Selphia!"

"Tuh, kan... dasar bucin," Kata Yuutsu, sampai sekarang ia masih berbicara sambil berusaha tidur.

"Gue cabut duluan, ya!" Pamitku sambil segera pergi ke Selphia.

"Hati-hati, salam buat Dolce!" Kata Reva. Gak bakal disalamin, ntar dia kaget setengah mampus.

Dari rumah Yuutsu, aku pun mencari cara tercepat untuk pergi ke Norad. Setelah kutelusuri, jalur paling cepat adalah jalur laut. Tapi bakal makan waktu dari sini ke kota pesisir, namun karena tak ada pilihan lain, aku pun berangkat dengan menggunakan taksi.

Aku mencegat taksi, dan tak menyangka kalau aku mendapat sebuah taksi yang sama dengan yang aku dapatkan dulu ketika hendak kabur dari kota ini. Supirnya sampai mengenalku, pada pertemuan itu, kami jadi ngobrol banyak hal.

Dalam perjalanan, aku melihat-lihat pemandangan kota ini. Modern, terkesan gelap, namun diterangi cahaya buatan yang nggak malu-maluin. "Kota ini tidak buruk juga," Gumamku.

Force Shut Down... [Error. A dynamic link library found missing]

Restart to Continue

Singkatnya, aku sudah sampai di Norad dan melakukan teleportasi ke Selphia. Setelah mabuk tiga kali dalam perjalanan laut, (betul... tiga kali) dan menghirup banyak-banyak oksigen, aku kini berada di Selphia. Orang yang pertama kali kutemui adalah Lest. Di luar dugaan, hari masih sore. Entah berapa hari aku meninggalkan Selphia.

"Oh, Racchi! Gimana, kabarnya?"

"Aman, semuanya lancar," Jawabku tenang.

"Lancar bagaimana?"

"Intinya..." Kataku. "Ah, sudahlah. Masalahnya beres."

"Begitu, ya? Syukurlah.." Kata Lest. "Venti memintamu kembali, kita sangat khawatir..."

"Sudahlah, sekarang semuanya berjalan dengan baik. Aku ingin bertemu dengan orang-orang klinik, baru habis itu aku akan menemui Venti. Tunggu sebentar, ya?"

"Yah, gak masalah sih. Nikmati saja waktumu."

"Terima kasih."

Setelah itu, aku bergegas menuju klinik. Aku mengetuk pintu klinik itu dengan lembut, perasaanku diselimuti rasa kebahagiaan... wajahku tiba-tiba menyunggingkan senyuman. Lalu aku disambut Dolce, dan menyayangkanku karena lama berada di luar Selphia dengan kondisi terancam. Pico menyambutku hangat pula, kondisi yang tumben karena Pico bisa ada di rumah bersama Dolce.

Setelah menyambut mereka, aku pergi menuju kamar pasien untuk melihat perkembangan Io. Sesampainya di dalam sana, aku melihatnya yang sudah sadar tampak termenung memandangi vas bunga yang ditempatkan di sebelah ranjang itu.

"Racchi..." Katanya perlahan.

Aku tersenyum bahagia sambil menangis dan duduk di dekat ranjang Io. Aku mendekap tangan kirinya yang masih dibalut perban, dan berkata, "Aku... sangat senang."

Io berpikir sebentar, kemudian ikut tersenyum. "Sakit tahu," Katanya.

"Oh, oke. Maaf, maaf," Ucapku sambil melepas dekapanku.

"Kamu mau bilang apa sama aku?" Tanya Io.

"Aku, sangat senang," Jawabku. "Semuanya, kembali seperti semula."

Io melepas ikat rambutnya, dan dilanjut merebahkan dirinya di atas kasur. Sambil tetap tersenyum, ia memejamkan mata dan berkata,

siapa tahu?

Drifting... END

A/n : Akhirnya tamat juga toool, dikira fanfictnya bakal berbulan-bulan ternyata cuma dua bulan... Biasalah, Author ada rencana lagi untuk menyelesaikan rangkaian cerita-cerita ini! (Pico: Nooo Author bakal berenti nulis nih?) Itu tergantung, Pico, gimana mood! Anyway, lu pada yang udah baca, jangan lupa review! Author perlu masukan biar bisa ngembangin kemampuan nulisnya! BUAT SKRIPSI, COOOK! (Arthur: Yaaah, kagak ada kaitannya juga...)

Special Thanks!

Kagak

Ada

Ucapan

Terima

Kasih

Khusus

Dari

Author

Karena

Gue

Cinta

Lo

Semua!

Lady (INI SIAPA!?)