Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M (Naik Rate)

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 29 Januari 2016

Happy reading . . . . .

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 26. Dewa Jahat Loki, Part I.

Sekarang sudah memasuki awal semester baru untuk siswa-siswi Kuoh Gakuen. Ke salah satu kelas, ada yang tampak berbeda disana. Kedatangan dua orang murid pindahan. Agak aneh sebenarnya karena kelas tersebut adalah kelas XII dimana masa belajarnya hanya tinggal setengah tahun lagi. Mereka akan segera ujian akhir, lalu lulus. Aaah,,, tapi tidak usah pedulikan hal itu.

"Perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto, ttebayou. Siswa pertukaran pelajar dari luar negri" kata si siswa berambut pirang dengan riangnya.

"Hajimemashite, Watashi wa Uzumaki Hinata desu" siswi berambut indigo gelap panjang yang berdiri disamping pria berambut pirang tadi juga memperkenalkan diri. "Douzo yosorshiku onegaishimasu" lanjutnya, lalu berojigi. Memperkenalkan diri dengan adat jepang yang sangat sopan.

"Nah, minna. Mereka berdua adalah siswa pertukaran pelajar dari Moscow yang akan menimba ilmu di kelas ini sekaligus mempelajari Budaya Jepang selama 4 bulan kedepan. Jangan sungkang berbicara dengan mereka, mereka fasih berbahasa Jepang karena mereka berdua adalah blasteran Rusia-Jepang. Jadi, sensei harap kalian bisa cepat akrab dengan teman baru kalian" seorang pria paruh baya, melanjutkan perkenalan Naruto dan Hinata sebagai siswa pertukaran pelajar. Dia adalah wali kelas ini.

"Ha'i Sensei..." jawab semua siswa-siswi bersamaan.

Terdengar riuh, betapa sangat antusias penghuni kelas XII ini menyambut teman baru mereka. Si siswa berambut pirang, tampan, dan hot yang tampak sangat friendly dan si gadis yang sangat cantik, imut dan sopan, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi semua penghuni kelas, siapapun itu tanpa terkecuali.

Begitulah singkatnya Naruto dan Hinata secara resmi menjadi siswa Kuoh Gakuen kelas XII, sekaligus perkenalan diri mereka di kelas barunya. Awalnya sesuai perintah Sona, seharusnya Naruto dan Hinata sudah masuk kelas sejak akhir semester kemarin. Namun kepala sekolah memberi saran agar sebaiknya Naruto dan Hinata masuk pada awal semester saja.

Sona tidak bisa menolak, lagi pula terlalu aneh jika ada siswa yang masuk di akhir semester. Dan lagi, pertemuan besar tiga fraksi yang berlangsung di Kuoh Gakuen, berserta kejadian tak terduganya membuat Sona pusing. Tidak mempedulikan lagi mau mulai sejak kapan Naruto dan Hinata masuk ke Kuoh Gakuen sebagai siswa.

Ahh,,, berbicara tentang pertemuan tiga fraksi, sudah satu setengah bulan terlewat sejak kejadian itu. Kebetulan sekali, tepat setelah pertemuan besar itu adalah awal liburan sekolah Kuoh Gakuen. Rias bersama seluruh peeragenya berangkat ke Underworld untuk berlatih meningkatkan kemampuan masing-masing, di bawah bimbingan Azazel sensei. Katanya khusus untuk Issei, dia dilatih oleh sang raja naga, Dragon King Tannin.

Azazel?,, entah ide dari mana, dia menjadi guru di Kuoh Gakuen. Khususnya guru pembimbing Klub Penelitian Ilmu Ghaib. Aslinya Azazel bertugas untuk meningkatkan kekuatan dan mengambangkan kemampuan semua pemilik sacred gear dalam peerage Rias.

Sona, sempat terbersit rasa iri karena tim sahabatnya dilatih oleh Azazel yang memiliki pengetahuan banyak tentang sacred gear. Namun Sona tidak punya waktu untuk memikirkan itu, dia punya tugas dan tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi Kuoh Gakuen, serta keseluruhan Kota Kuoh.

Berkat Sona, Kuoh aman dari gangguan iblis liar selama satu setengah bulan ini. Bantuan yang diberikan Naruto dan Hinata, berperan besar dalam tugas itu. Beban Sona jadi jauh lebih ringan.

Sekarang awal semester baru sudah dimulai, Rias dan semua peeragenya telah menyelesaikan latihan mereka dan kembali aktif belajar di Kuoh.

Dan saat perkenalan tadi, hanya empat orang siswi yang tidak menunjukkan ekspresi antusias dengan kedatangan dua murid baru. Wajar saja bagi Sona, Tsubaki, Rias, dan Akeno sebagai penghuni lama kelas itu yang mana mereka sudah mengenal Naruto dan Hinata sejak satu setengah bulan yang lalu.

Berhubung kedatangan dua siswa pertukaran ini sudah cukup lama di Kuoh, jadi pihak sekolah sudah menyediakan dua meja kosong besera kursinya, berdampingan di barisan paling belakang sebelah kanan.

"Maaf sebelumnya, ini sudah menjadi keputusan sensei" sang wali kelas kembali berucap. "Tsubaki Sinra dan Rias Gremory, harap pindah tempat duduk ke meja kosong yang di belakang"

Tsubaki yang duduk bersebelahan dengan Sona di barisan depan sebelah kanan dekat pintu, dan Rias yang bersebelahan dengan Akeno di barisan belakang sebelah kiri dekat jendela, mau tidak mau harus menuruti keinginan wali kelas mereka. Walau mereka iblis dan pemilik yayasan donatur tetap sekolah ini, tapi apa boleh buat?, dan ini bukan lah hal yang harus dipermasalahkan.

"Nah, sekarang Uzumaki Naruto boleh menempati tempat duduk Rias tadi, dan Uzumaki Hinata menempati tempat duduk Tsubaki. Sensei harap tidak ada yang protes, sensei hanya ingin teman baru kalian cepat bersosialisai"

Alasan sang wali kelas sangat masuk akal. Jika dua siswa pertukaran ini duduk dipisah, maka akan mendorong keduanya untuk membaur bersosialiasi lebih cepat dengan teman-teman sekelas, ketimbang jika Naruto duduk bersebelahan dengan Hinata.

Dengan perintah itu, Naruto pun duduk bersebelahan dengan Akeno. Aaahhh,,,, Naruto jadi risih dengan tatapan genit menyeramkan dari Akeno. Berkah atau derita?, entahlah. Lalu Hinata, yang bersebelahan dengan Sona, mungkin akan ada hal menarik nantinya mengingat kedua gadis ini sama-sama licik. Mereka berdua lah otak dari perjanjian yang mereka buat.

.

Jam belajar berakhir, siswa-siswi Kuoh Gakuen sudah mulai beranjak pulang. Kelas XII sudah mulai kosong, Sona pun akhirnya berdiri, menyapa sahabatnya, Rias.

"Rias, aku punya tawaran untukmu" kata Sona tanpa basa basi.

"Eh" Rias menoleh ke arah Sona, membatalkan niatnya untuk segera keluar dari ruang kelas. "Tawaran apa?"

"Aku ingin mengajak tim mu sparring, bagaimana?"

Sona mendekat pada Rias, begitu pula Tsubaki dan Akeno yang masih belum pulang.

"Tap-..." Rias tampak enggan menerima tawaran Sona.

"Aku tau apa yang kau pikirkan, Rias. Kau tidak ingin menunjukkan hasil latihan tim mu padaku sekarang kan? Karena tim kita pasti akan bertemu di rating game nanti" kata Sona sebelum Rias sempat menolak. "Tapi ini setimpal kok, lagi pula kau belum pernah melihat kemampuan dua peerage cadangan dibelakangku ini kan?" lanjut Sona sembari menunjuk Naruto dan Hinata yang berdiri tidak jauh dibelakangnya.

Sona maupun Rias sudah saling mengetahui kemampuan peraage masing-masing, berhubung mereka sudah bersahabat lama dan satu sekolah lagi. Lalu kedua tim ini tidak jarang bertarung bersama untuk membasmi iblis liar sewaktu-waktu, jadi antara keduanya sudah tahu luar dalam kemampuan tim masing-masing. Hanya saja Rias masih belum tahu tentang Naruto dan Hinata. Saat pertemuan petinggi tiga fraksi, Naruto dan Hinata juga ikut bertarung melawan para penyihir namun saat itu Rias sibuk dengan pertarungannya sendiri sehingga tidak sempat mengamati.

Naruto dan Hinata sudah di beritahu Sona sebelumnya, bahwa ada hal penting setelah jam pulang sekolah, rupanya ini lah keinginan Sona.

"Hmmmm. . . . ." Rias masih tampak berpikir, menimbang untung ruginya tawaran Sona.

"Kau boleh menentukan aturan main sparring semaumu. Apa masih kurang, Rias?"

"Ah, kalau begitu baiklah. Ku terima tawaranmu"

Sona tersenyum senang, sambil menyelam minum air, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Dua hasil dalam satu kerja. Sona membuat tawaran sparring ini memang bertujuan untuk mengobservasi bagaimana kemampuan peerage Rias yang nanti pasti jadi lawannya saat rating game setelah menjalani latihan berat selama satu setengah bulan. Ini perlu untuk membuat strategi melawan Rias nanti. Selain itu, berlaku juga untuk dua peerage palsunya.

Selama membasmi iblis liar, kemampuan dan teknik yang ditunjukkan oleh Naruto dan Hinata selalu sama dengan saat ketika membasmi Skull Reaper. Berbekal bola biru ditangan, menggandakan diri atau pukulan kecil akurat dari Hinata. Itu-itu saja, hanya kreatifitas gaya bertarung mereka saja yang selalu berubah sehingga iblis liar bisa dibasmi dengan mudah.

Kemampuan lain yang ditunjukkan Naruto dan Hinata saat menolongnya ketika pertemuan tiga fraksi, yaitu kecepatan tak masuk akal untuk menghindari serangan nyasar dari Hakuryuukou, juga tidak pernah lagi ditunjukkan sampai sekarang. Sona yakin masih banyak kemampuan lain yang disembunyikan dua orang ini. Berharap dengan sparring menghadapi lawan tangguh seperti bidak Rias yang sudah dilatih orang hebat macam Azazel, akan membuat lebih banyak hal yang terungkap.

Sona Sitri, gadis iblis yang benar-benar licik.

.

Di tempat inilah sparring dilaksanakan, meminjam dojo yang biasanya digunakan oleh klub kendo. Ruangannya lumayan luas, arena bertarung saja berukuran 30x20 meter. Tim Rias datang dengan anggota lengkap, namun Gasper yang sudah kembali ke ruang klub, katanya dia malu bertemu dengan Naruto dan Hinata,,, yaah memang sifatnya begitu. Lain halnya dengan Sona, hanya ada Tsubaki yang menemaninya, serta peerage cadangan Naruto dan Hinata. Anggota OSIS lain tidak diikut sertakan. Bukan karena Sona ingin menomorduakan peeragenya sendiri, hanya saja tugas OSIS masih menumpuk.

Di arena, tampak Hinata sendirian menghadapi Kiba dan Koneko sekaligus. Kiba menggunakan sebuah boken atau pedang kayu, sementara Koneko hanya berbekal sarung tangan. Hinata sendiri, seperti biasa, tidak bersenjatakan apa-apa. Begitulah jadinya karena Rias yang menentukan aturan main, dua lawan satu. Setelah ini giliran Naruto yang akan sparring melawan Xenovia dan Issei.

Rias bukannya takut kalah, namun dengan aturan ini dia ingin melihat kerjasama peeragenya dalam pertarungan, yang nanti bisa dijadikan bahan introspeksi agar bisa membuat kerjasama tim mereka lebih solid. Selain itu dengan cara ini pula, Rias berharap Sona tidak memperoleh banyak data personal anggota timnya dari sparring ini. Akan jadi sangat menyusahkan bagi Rias kalau Sona yang pintar itu tahu terlalu banyak data personal kekuatan bertarung budak-budaknya.

"Hajime...!" seru Tsubaki, yang jadi wasit sparing.

SPARKLE,,,

Hinata langsung mengaktifkan Byakugannya.

Zzzssshhttt..

Kiba dengan kecepatan bidak kuda, sudah berpindah tempat. Kini Hinata dalam posisi terkepung.

Hinata memasang kuda-kuda bertarung menghadap Kiba, dengan membelakangi Koneko. Umumnya, petarung yang menonjolkan kecepatan harus lebih diwaspadai karena seringkali membuat serangan kilat mematikan.

Shuuuuttt...

Kiba maju, mengayunkan bokennya dan menargetkan leher Hinata. Gerakan kilat yang sangat berbahaya.

Menghadapi ini, Hinata merendahkan kepalanya kebelakang, dan...

Hap,

sekaligus mengangkat kedua kakinya, gerakan salto. berputar kebelakang, menghindari tackle dari Kokeno yang datang dari arah belakang dalam waktu yang bersamaan dengan ayunan boken Kiba.

tapp..

Hinata kembali ke posisi awal tanpa berpindah secenti pun. Sedangkan Kiba dan Koneko telah bertukar posisi.

Sementara di pinggir arena, tampak Rias yang cukup terkejut dengan gerakan Hinata. Dia jelas tahu kalau Hinata sedikitpun tidak melihat kebelakang, fokus menatap Kiba. Tapi dengan mudahnya menghindari tackel Koneko dalam timing yang sangat tepat. Hanya dengan satu gerakan sederhana, Hinata mampu menghindari dua serangan sekaligus tanpa cela sedikitpun. Tidak hanya Rias yang terkejut, tapi juga peeragenya.

"Perubahan pada mata Hinata, dia menyebutnya mata Byakugan, dengan mata itu dia mampu melihat ke segala arah. Bidang penglihatan 360 dejarat hingga radius 10 kilometer. Dimanapun posisi dan pergerakan musuhnya, Hinata selalu melihatnya" kata Sona menjawab keterkejutan Rias.

"Huuuuhh" Hinata menghela nafas.

Kiba mensummon satu boken lagi ditangannya, kini bertarung dengan dua pedang - niitoryu. "Siap?" tanyanya.

Hinata mengangguk.

zsssshhhtt...

Kiba dengan kecepatan yang sama seperti tadi, kembali menyerang dengan ayunan pedangnya, kali ini menargetkan kaki Hinata.

Hinata terpaksa melompat, di udara ternyata Koneko telah menunggu dengan tinjunya.

Kondisi kurang menguntungkan bagi Hinata, tidak ada pijakan untuk menghindar di udara,,

wussshhh,,

satu pukulan bertenaga di arahkan keperut Hinata,,,,,,

Tap,,tap

Hinata dan Koneko mendarat dan berpijak lagi dilantai arena. Bukannya Hinata, tapi Koneko lah yang kehilangan keseimbangan, hampir saja Koneko jatuh. Saat diudara tadi, sebelum tinju Koneko mengenainya, Hinata lebih dulu menangkap pergelangan tangan Koneko, menjadikannya tumpuan untuk menghindar lalu menghadiahi pukulan kecil di punggung Koneko.

"Ayo,, serang aku lagi" kata Hinata provokatif.

Begitula caranya, dalam tingkat ini, kecepatan Hinata cukup jauh dibawah Kiba, jadi dia tidak akan bisa menyerang Kiba, hanya mengandalkan moment dimana Kiba mendekat untuk menyerang, mematahkan serangannya sekaligus meberikan serangan balik saat itu juga. Pun begitu dengan Koneko, pukulan kecil Hinata tidak terlalu berpengaruh pada tubuh mungil Koneko yang sekuat badak.

Dan seterusnya, jual beli serangan terus berlanjut. Koneko terus melancarkan tinju-tinjunya namun tidak satupun yang mengenai Hinata, serangan Kiba juga berhasil dipatahkan Hinata tanpa cela. Selama menyerang, baik Koneko maupun Kiba seringkali menerima pukulan balik dari telapak tangan Hinata pada beberapa bagian tubuh mereka.

10 menit berlalu, keadaan seperti itu-itu saja. Melihat usaha Koneko yang tampak selalu sia-sia, sebab Koneko dirugikan karena Hinata tampak lebih condong kearah petarung tipe speed. Pukulan Koneko semuanya berhasil dihindari dengan mudah. Maka dari itu, Kiba berinisiatif sedikit menunjukkan hasil latihannya, latihan kecepatan yang disebut Issei sebagai 'kecepatan dewa'.

Zsshhttt...

Kiba muncul tiba-tiba disamping Hinata, menebaskan bokennya ke arah leher.

Hinata terdesak, matanya masih bisa melihat gerakan Kiba tapi refleks geraknya tidak sanggup mengimbangi 'kecepatan dewa' itu untuk menghindar.

Kiba menyeringai, kemenangan didepan matanya. Namun tepat sebelum Boken itu menyentuh leher Hinata, lebih dahulu satu jari telunjuk menghalanginya, menyentuh bokennya. Kiba merasa tangannya bergetar hebat, dan boken itu pun terlepas jatuh dari tangannya.

Kiba mengambil langkah mundur. Wajahnya menampakkan ekspresi terkejut yang sangat, ayunan pedangnya bisa dihentikan hanya dengan satu jari saja...

Tidak hanya Kiba, semua iblis di sekitar arena juga dibuat takjub. Namun tidak ada satupun yang mengerti, sebab mereka tidak melihat kejadian pastinya. Gerakan Kiba terlalu cepat untuk di ikuti oleh mata mereka.

Tidak ada seorang pun yang menyadari hal barusan. Hinata melakukan pengaktifan terbatas The True Tenseigan karena terpaksa. Gerakan Kiba dalam kecepatan tadi mustahil dia hadapi dalam keadaan biasa. Saat melakukan perngaktifan terbatas, Hinata bisa merilis kemampuan pertama dan kedua doujutsu ini dalam skala kecil. Membuat bidang manipulasi vektor hanya pada bagian tertentu dari tubuhnya, dan manipulasi jarak dalam ruang lingkup pendek yang tidak lebih dari 50 meter. Berbeda dengan pengaktifan sempurna, ketika Hinata mampu membuat bidang manipulasi vektor di seluruh permukaan tubuhnya dan manipulasi jarak dalam ruang lingkup mencapai 10 km.

Saat mengaktifkan doujutsunya secara terbatas, Hinata membentuk bidang manipulasi vektor pada jari telunjuknya. Saat jari itu bersentuhan boken Kiba, Hinata tidak menahannya namun membalikkan vektor boken itu kearah yang berlawanan. Ketika ayunan tangan Kiba memaksa untuk tetap mengayunkan boken kearah normal, bertemu dengan pembalikan arah dalam gaya yang sama kuat, akan dihasilkan vektor sama dengan nol, yang artinya tidak ada gerakan pada Boken.

Boken akan terasa seperti dipantulkan dengan momentum sama, ketika tidak sanggup menahan pantulannya, maka boken itu akan terlepas dari genggaman tangan. Apa yang dirasakan Kiba persis seperti ketika menebaskan boken pada bantalan karet padat misalnya ban mobil. Boken akan dipantulkan, namun ketika tangan berusaha keras untuk meredam gaya pantul itu, maka jadinya tangan lah yang bergetar dan merasakan sakit.

Hanya berbekal kemampuan pertama The True Tenseigan dalam kondisi terbatas, itu sudah cukup untuk mematahkan serangan mematikan dari Kiba. Dan tidak ada yang menyadari ini, karena tidak ada perubahan pada iris mata Hinata saat The True Tenseigan diaktifkan secara terbatas.

Kiba masih menyisakan satu boken lagi, sementara Koneko sudah siap dengan tinjunya.

Kiba melesat maju lagi untuk yang kesekian kalinya, bukan dengan gerakan menebas tapi dengan gerakan menusuk dari arah depan dengan kecepatan tinggi. Percuma mencoba dari arah lain karena Kiba sudah tahu kalau Hinata bisa melihat kesegala arah, telinga iblisnya yang peka cukup untuk mendengar ucapan Sona tadi. Koneko pun melakukan hal yang sama, serangan lurus langsung dari arah belakang.

Hinata yang berada ditengah-tengah keduanya tidak bergerak untuk menghindar, namun memenfaatkan kelenturan tubuhnya untuk,,,

Wussshhh..

membalik keadaan. Hembusan angin menerpa wajah Kiba sedangkan ujung boken Kiba telah menyentuh dahi Koneko.

Saat diserang bersamaan tadi, satu tangan Hinata lebih dulu menangkap pergelangan tangan Koneko tanpa menahan tinju itu, memutar tubuhnya sendiri untuk mebelokkan sedikit arah tinju Koneko hingga tepat mengarah kewajah Kiba. Walaupun jarak antara kepalan tangan Koneko masih cukup jauh dari wajah Kiba, tapi kuatnya pukulan itu mampu menghantarkan hembusan anginnya.

Sedangkan tusukan boken Kiba berhasil dihindari Hinata dengan memanfaatkan kelenturan tubuhnya sehingga boken itu terus bergerak lurus hingga mencapai dahi Koneko.

Hinata sendiri, berada diposisi aman ditengah-tengah Koneko dan Kiba. Satu tangannya yang masih tersisa, dengan ujung jari yang sudah menempel di leher Kiba, siap untuk memutus aliran darah pembuluh nadi disana.

Itu posisi yang sangat mematikan untuk Kiba maupun Koneko. Jika itu bukan sparring melainkan pertarungan sebenarnya, maka Kiba dan Koneko pasti akan berakhir dengan kematian.

Kembali ke sisi lapangan, Rias serta teman seklubnya, takjub dengan cara bertarung Hinata. Baru kali ini mereka melihat skill beladiri tingkat tinggi. Berbeda jauh dengan mereka yang biasanya lebih mengandalkan kekuatan murni serta kemampuan dasar yang berfokus pada kekuatan, kecepatan, dan sihir untuk bertarung. Gerakan Hinata sangat efektif, bahkan tanpa membuat satu pun serangan langsung mampu menghentikan Kiba dan Koneko sekaligus. Ini akan menjadi masalah berat buat mereka di rating game nanti jika bertemu Tim Sona.

Namun Sona tampak kecewa karena tidak mendapat hasil yang diharapkan dari Hinata. Hal seperti ini sudah sering ia lihat ketika Hinata melawan iblis liar. Namun begitu, dia sudah cukup puas mengobservasi bagaimana Kiba dan Koneko. Seperti yang ia duga, kecepatan Kiba berkembang sangat pesat dan kekuatan pukulan Koneko juga semakin menjadi-jadi. Tampaknya latihan Rias dan peeragenya hanya bertumpu pada pengembangan kemampuan dasar masing-masing, tidak ada perkembangan berarti dari segi teknik dan skill lainnya, pikir Sona menyimpulkan.

"Ku rasa sudah cukup sampai disini" kata Hinata lalu melepaskan tangan Koneko.

Kiba berdiri bersebelahan dengan Koneko,

"Terima kasih atas kerjasamanya, Hinata senpai" kata Kiba, lalu membungkukkan badan tanda hormat diikuti oleh Koneko.

"Douitta..." balas Hinata, membungkukkan badan pula.

Kiba dan Koneko berjalan ke tepi arena, lalu duduk di kursi yang ada disana. Beristirahat setelah sparring, menghadapi Hinata membuat mereka berdua cukup kelelahan. Mereka berdua kini mengerti bahwa Hinata adalah petarung profesional yang sarat pengalaman dan tidak hanya mengandalkan kekuatan murni, tapi juga seni beladiri khas yang baru pertama kali mereka lihat. Latihan fisik untuk mengembangkan kemampuan dasar saja masih belum cukup untuk mereka berdua agar bisa mengalahkan Hinata. Mereka juga harus mengasah skill bertarung. Ini pelajaran penting untuk mereka berdua, serta semua anggota Klub Penelitian Ilmu Ghaib.

"Tidak apa-apa, jangan pikirkan kekalahan kalian berdua. Anggap saja ini pelajaran bahwa latihan kita masih belum cukup" kata Rias bijak, berdiri didekat Kiba dan Koneko yang duduk beristirahat. Akeno, Asia, Issei dan Xenovia juga mendekat.

"Ughh..." tiba-tiba Koneko tampak merintih kesakitan, dia juga seperti sulit bergerak.

Hal yang sama juga terjadi pada Kiba, "Buchou, seluruh tubuhku terasa kesemutan luar biasa, seperti habis tersetrum listrik tegangan tinggi. Aku juga sulit bergerak" keluh Kiba.

Rias tampak terkejut, dia juga tidak mengerti. Menatap Asia, tanda harus memberi pertolongan, namun

"Tidak usah" Sona yang telah berdiri diantara kerumunan tim Rias menghentikan Asia.

"Kenapa?" tanya Rias.

"Itu hanya sementara. Nanti juga sembuh sendiri setelah beberapa menit. Lagipula itu bukan luka atau cedera, jadi tidak ada gunanya di obati dengan Twilight Healling nya Asia. Sebagai rasa terima kasihku karena mau menerima ajakan sparing ini, aku berbaik hati akan memberitahu kalian sesuatu."

"Maksudmu?"

"Mata Hinata tidak hanya memiliki bidang penglihatan 360 derajat, tapi juga melihat tembus pandang, dia mampu melihat jelas bagian dalam tubuh lawannya. Organ internal, aliran pembuluh darah, pembuluh saraf, bahkan aliran energi sihir dalam tubuh. Kalian sudah lihat kan, Hinata beberapa kali memberikan serangan balik dengan pukulan telapak tangan?"

Rias dan peeragenya mengangguk.

"Dari pengamatanku saat sparring tadi, pukulan Hinata walaupun kecil, tapi di arahkan secara akurat dengan kemampuan matanya tepat menuju titik-titik ganglion berada, yaitu kumpulan sel saraf yang terdapat pada sistem saraf perifer. Jika terkena, pukulan itu akan menekan jalur sistem saraf. Akibatnya akan timbul rasa nyeri disekujur tubuh, serta menghambat penyampaian impuls saraf motoris pemicu kontraksi otot secara temporer, sehingga mengakibatkan penurunan drastis pada sistem gerak tubuh. Serangan seperti itu tidak menyebabkan cedera, sehingga tidak akan bisa di obati atau disembuhkan. Itulah spesialisasi Hinata dalam bertarung. Hal itu sudah sering Hinata lakukan selama kami berburu iblis liar, kemampuannya sangat berguna dalam bertarung jarak dekat ataupun support"

"Aku tidak menyangka ada teknik seperti itu" sahut Akeno.

"Kalian beruntung, Hinata tidak menggunakannya pada titik-titik akupuntur. Kalian tahu kan tentang teknik akupressure dari Cina yang dilakukan pada titik akupuntur untuk mengobati penyakit organ dalam? Jika saja pukulan tadi diarahkan pada titik akupuntur, maka akan mengganggu aliran energi, akibatnya bisa membuat organ dalam rusak parah. Contohnya saja, jika pukulan Hinata diarahkan pada dua titik akupuntur yang berada dibelakang leher, maka sanggup membuat jantung berdetak tidak normal, hingga berujung kematian" kata Sona menjelaskan.

Walaupun mereka iblis, tapi struktur tubuh mereka tidak berbeda dengan manusia normal. Hanya ketahanan fisik dan adanya aliran energi sihir saja yang membedakan antara iblis dan manusia biasa. Jadi bisa disimpulkan kalau pukulan Hinata juga mampu membuat iblis sekarat. Hal yang sama mungkin juga berlaku untuk malaikat, youkai, vampir ataupun jenis makhluk supranatural lainnya.

". . . . ." Rias dan peeragenya tidak bisa berkata apa-apa. Mereka sadar bahwa walaupun Hinata terlihat lemah, namun tekniknya sangat berbahaya. Jika berhadapan dengan Hinata, pertarungan jarak dekat harus dihindari bagaimanapun caranya. Beruntung Sona berbaik hati memberitahu tentang ini pada mereka, jadi mereka bisa melakukan tindakan antisipasi jika berhadapan dengan Hinata lain waktu.

Rias sepertinya harus berterima kasih pada Sona, walaupun Sona itu licik dan hanya ingin mengambil untung dari sparring ini.

"Yooo,,, aku sudah siap bertarung" suara cempreng Naruto dari seberang arena yang berdiri disamping Hinata, menghentikan pembicaraan iblis-iblis tadi.

"Pengguna senjutsu" gumam Koneko pelan.

"Yap, yang satu itu adalah pengguna senjutsu. Yang menjadi lawannya, berhati-hatilah, ketika bertarung Naruto lebih cerdik dari Hinata" kata Sona menasehati.

Selama Hinata bertarung tadi, Naruto duduk dengan posisi bertapa, mengumpulkan senjutsu. Kini penampilannya berubah, walau hanya bagian mata saja.

"Terima kasih atas perhatianmu Kaichou, aku tidak akan mengecewakan Buchou dalam sparing ini" kata Issei lantang. Dia pun berjalan ke tengah arena, di ikuti Xenovia.

"Yooo, Issei-san dan aaa , , , " kata Naruto namun tidak selesai karena masih belum tahu nama gadis berambut biru pendek yang bersama Issei, mereka belum berkenalan.

"Xenovia Quarta"

"Yah, maaf Xenovia-san. Namaku Uzumaki Naruto ttebayou, mari kita bertarung serius, aku tidak akan menahan diri"

Naruto mengerti tujuan sparing ini sehingga menahan diri ketika bertarung. Namun dia tetap berkata kalau dia akan bertarung serius, untuk menaikkan mental dan semangat lawannya. Itulah kebiasaan Naruto dari dulu.

Karena tantangan Naruto, Issei mengeluarkan gauntlet merah di tangan kirinya, bahkan Xenovia tidak segan-segan menggunakan pedang Durendal.

Kedua kubu sudah bersiap.

"Hajime" seru Tsubaki yang menjadi wasit.

[Promotion, Rook]

Issei melakukan promosi bidak benteng untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan tubuhnya. Tadi Naruto berkata harus serius, jadi Issei makin semangat.

"Haaaa..." Issei berteriak semangat, maju untuk melayangkan pukulan pertama.

grreppp...

Tinju tangan kiri Issei berbalut gauntlet, dengan mudah di tahan oleh Naruto.

"Pukulanmu masih kurang kuat Issei-san"

Walau sedikit terkejut, pukulannya yang di enhance banyak energi sihir dalam promosi bidak rook berhasil ditahan Naruto, namun Issei malah semakin semangat. Issei memperkuat kuda-kudanya, dengan mengalirkan lebih banyak energi sihir lagi ke tangan, membuat tinjunya semakin kuat, namun...

Lebih dulu Naruto memegang lebih erat tangan issei, lalu mengangkat tubuh Issei, memutarnya di udara, dan,,,

Buaaggg...

Menghantamkannya ke tubuh Xenovia yang ternyata sudah melompat dan menghunuskan Durendal, mencuri kesempatan menyerang dari arah belakang Naruto.

Issei dan Xenovia terlempar cukup jauh dari Naruto.

Xenovia pertama kali bangkit, hendak mengayunkan Durendalnya namun tidak bisa karena terasa sangat berat.

Tidak, lebih tepatnya Naruto sudah berada didepan Xenovia, menginjak Durendal dengan kaki kiri sementara kaki kanan ditekuk dan lutut Naruto sudah hampir mencapai wajah Xenovia, akhirnya,,,,

Duaaggg...

Wajah mulus Xenovia jadi korban keganasan lutut Naruto, Xenovia terpaksa terpental lagi kebelakang beberapa meter. Ada luka memar di wajah cantik itu, hidung Xenovia sedikit mengeluarkan darah.

Sementara di sisi lapangan, di bangku penonton.

"Naruto menggunakan senjutsu untuk meningkatkan kekuatan fisik, daya tahan, kecepatan, dan staminanya. Jika dalam keadaan normal, kekuatannya hanya seperti manusia biasa saja, namun jika menggunakan senjutsu, empat poin tadi meningkat drastis hingga puluhan kali lipat. Itulah yang ku tahu dari pertarungannya melawan iblis liar, dia seringkali menggunakan senjutsu, dia menamainya sebagai Sennin Mode atau mode pertapa. Aahh,,, dia juga pernah memberitahuku kalau dalam mode itu, ia bisa merasakan keberadaan orang lain dan sinyal bahaya di sekitarnya, mungkin seperti sensor atau radar, jadi mudah saja baginya menghindari serangan dari belakang, bahkan dengan menutup matanya sekalipun" kata Sona, menjelaskan hal berkaitan dengan Naruto sebelum Rias dan timnya bertanya.

Sona bisa memberikan banyak informasi kepada Rias tentang kemampuan Naruto dan Hinata. Dia sudah cukup banyak tahu tentang Sennin Mode dan Byakugan. Dia memperolehnya dengan mengamati langsung atau kadang Naruto dan Hinata sesekali memberitahunya cuma-cuma. Dengan imbalan dengan memberikan ijin kepada Hinata dan Naruto memasuki perpustakaan Keluarga Sitri di mansionnya di Underworld. Itulah kesepakatannya.

"Hmm, seorang pertapa yaa,,, terima kasih sudah mau memberitahuku." kata Rias.

"Tidak masalah, lagi pula hanya itu yang bisa ku beritahu padamu. Naruto itu penuh kejutan, walau hanya dengan kekuatan seperti itu, namun ku pikir sulit mengalahkannya karena dia selalu memiliki terobosan baru saat bertarung, dia kreatif"

"Aahh~~~,, peerage cadangan mu sungguh hebat, Sona" puji Rias.

"Tidak juga, ku rasa kita sama. Peeragemu juga tidak menunjukkan semua hasil latihan kalian kan? Aku memang melihat perkembangan drastis kekuatan peeragemu dalam hal kemampuan dasar seperti kekuatan fisik dan kecepatan, tapi tidak hanya itu saja kan? Balance Breaker dari peeragemu yang memiliki sacred gear pasti berkembang pesat setelah dilatih langsung oleh Azazel sensei" terka Sona.

Rias hanya bisa tersenyum hambar, sahabatnya yang berkacamata ini, kepalanya selalu dipenuhi logika dan perhitungan.

Hanya Koneko yang tampak berbeda disisi lapangan. Dia tidak memperhatikan latih tanding, namun lebih memperhatikan Naruto. Matanya berbinar-binar, sebagai sesama pengguna senjutsu, dia kagum dengan Naruto,,, aah mungkin nanti dirinya bisa sedikit belajar dari Naruto-senpai nya.

Jika ditelusuri, pengaplikasian senjutsu antara Naruto dengan ras youkai macam Koneko jauh berbeda. Senjutsu yang dikumpulkan Naruto, digabungkan dengan chakra didalam tubuh, sehingga kemampuan taijutsu, genjutsu, dan ninjutsu Naruto akan meningkat drastis. Kekuatan dan daya tahan fisik, kecepatan, stamina, dan refleks juga ikut meningkat. Sedangkan pada Koneko, pengaplikasiannya lebih diarahkan pada kemampuan untuk menetralkan aura negatif dan mengembalikan semuanya seperti awal layaknya yang diberikan oleh alam contoh pada teknik penyembuhan. Namun tetap saja senjutsu keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu alam.

Jika nanti Naruto mau berbaik hati mengajari Koneko, tentu Koneko dengan senang hati menerimanya. Variasi teknik Koneko pasti bisa berkembang lebih jauh.

Beralih ke pertarungan latih tanding lagi.

"Masih bisa lanjut?" tanya Naruto pada Issei dan Xenovia yang sudah berdiri tegap kembali.

"Tentu saja, ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan latihan neraka yang kami jalani, iya kan Xenovia?"

Xenovia menjawabnya dengan anggukan.

Zsshhttt,,,

Kedua kubu lanjut saling serang, adu kekuatan fisik telak tak terhindarkan.

Xenovia dengan kecepatan tinggi bidak kuda, terus membuat serangan yang cukup mematikan dengan Durendalnya. Issei juga sama, tinju-tinju penuh tenaga darinya yang telah berpromosi mejadi bidak rook tidak henti-hentinya dia arahkan pada Naruto.

Naruto, hanya dalam sennin mode, berbekal style taijutsu kawazu kumite (seni beladiri katak myobukazan), berhasil mengimbangi Issei dan Xenovia. Selalu berhasil menghindari serangan mematikan dari kedua lawannya karena dalam mode ini selain bisa merasakan keberadaan lawan, Naruto juga bisa merasakan adanya bahaya lebih cepat dalam cakupan yang luas. Selagi menghindar, Naruto juga membalas dengan pukulan telak ke tubuh Issei dan Xeovia sebagai serangan balik, membuat dua iblis itu semakin bebak belur.

Melihat situasi pertarungan, Xenovia dengan kecepatannya maupun Issei dengan kekuatannya yang telah berpromosi mejadi bidak rook, mendominasi semua serangan. Namun mereka berdua lah yang tampak tertekan, Naruto memakai style beladiri unik sehingga yang mampu mematahkan semua jenis serangan sekaligus memberikan serangan balik.

Setelah hampir 10 menit jual beli serangan, Naruto berucap lantang,,, "Ini serangan terakhirku, rasakan lah... heyaaaa...!" ,,, dengan penuh semangat.

Naruto maju menyerang ke arah Xenovia dengan kecepatan tinggi. Issei jadi panik, dia tidak ingin salah satu gadis yang sudah dia nobatkan dengan semaunya sendiri sebagai salah satu anggota kerajaan harem masa depannya, bebak belur lebih dari ini.

Naruto sampai tepat di depan Xenovia, dengan kuda-kuda yang kokoh dia mengumpulkan tenaga untuk kedalam satu tinju.

Xenovia tidak sempat menghindar, Naruto dalam mode sennin lebih cepat dari dirinya yang notabene mengkonsumsi bidak kuda. Lain kali Xenovia harus berlatih keras agar bisa secepat Kiba.

Tiba-tiba, Issei melompat kedepan Xenovia, menjadikan perutnya sebagai tameng untuk menahan tinju Naruto.

DDUUAAKKK...

"Ohhhoookkk..." Issei yang kena, langsung terbatuk. Beruntung pertahanan tubuhnya sangat kuat sehingga tidak sampai muntah darah.

Brukkk...

"Ugghhhh. . . . . . ." Xenovia yang di belakang Issei, jatuh bertumpu pada lutut. Dia meringis kesakitan memegang perutnya,

Naruto melompat mundur,,, "Oppss,, maaf.. pukulanku terlalu keras yaa?" kata Naruto dengan tampang bodohnya.

Kembali lagi ke sisi lapangan, dimana beberapa iblis kembali dibuat terkejut untuk yang kesekian kalinya.

"Ada pelepasan senjutsu dari tinju ditangan Naruto senpai, dan energi senjutsu itu merambat menembus tubuh Issei senpai. Tidak hanya melukai Issei senpai saja tapi juga sampai membuat cedera Xenovia senpai. Sugooii , , , , lain kali aku harus minta Naruto senpai mengajariku teknik seperti itu" kata Koneko semangat, tidak mempedulikan temannya yang merintih kesakitan.

Koneko sebagai youkai nekomata yang menggunakan senjutsu sebagai basis kekekuatannya, mampu merasakan aliran senjutsu yang keluar dari tinju Naruto, makanya dia bisa berkata seperti itu tadi.

"Ummm, sebenarnya aku baru tahu" kata Sona menanggapi. Yaaah, ini informasi baru untuk Sona.

Balik lagi ke arena, Issei dan Xenovia masih sanggup bertahan, mereka berdua bangkit berdiri lagi, bersiap untuk serangan balasan.

"Stopp... Aku menyerah, oke.. jangan serang aku!" kata Naruto seraya mengangkat kedua tangan, mencegah Xenovia dan Issei yang hendak menyerangnya.

Issei dan Xenovia membatalkan serangan meraka karena ucapan atau lebih tepat jika disebut teriakan Naruto tadi.

"Senjutsuku sudah habis, aku tidak bisa bertarung dengan kalian dalam kondisi seperti ini, sekarang aku tidak lebih dari iblis kelas rendah, daripada menjadi samsak kalian, lebih baik aku menyerah saja" kata Naruto lagi yang tampak dari iris matanya menjadi biru seperti semula. Lalu dengan entengnya dia berjalan ke tepi lapangan.

Naruto hanya mengumpulkan senjutsu secukupnya saja, sesuai perhitungannya hingga sparing selesai. Buat apa capek-capek bertarung serius? Ini sama sekali tidak tertulis dalam perjanjiannya dengan Sona, pikir Naruto egois.

Sementara Issei, dia menggeram kesal. Bagaimana tidak, dirinya sudah bebak belur di hajar Naruto, sedangkan Naruto tidak ada luka sama sekali. "Awas saja, nanti kalau bertemu di rating game, akan ku balas kau dengan kekuatanku yang sebenarnya" gerutunya.

Pun begitu dengan Xenovia, dia juga tampak kesal karena tidak berhasil mendaratkan satu seranganpun pada Naruto, dan yang paling membuatnya marah adalah hidung mancung kesanyangannya yang patah karena dihantam lutut Naruto tadi.

Tidak kalah kesalnya dengan Issei dan Xenovia, Sona juga sama namun dengan alasan yang berbeda. Sona kesal karena 'kenapa susah amat sih membuat Naruto maupun Hinata terdesak hingga mengeluarkan kemampuan aslinya? Bahkan Naruto tidak menggunakan bola-bola biru yang dia sebut rasengan ditangannya, apanya yang bertarung serius dan tidak menahan diri? Dia jelas-jelas mempermainkan kami. Dasar brengsek kau, Naruto', kata Sona menyumpah serapah dalam hatinya.

Sona masih meyakini kalau kemampuan bertarung Naruto dan Hinata lebih dari itu. Ia masih ingat dengan apa yang dilakukan Naruto dan Hinata untuk menyelamatkan dirinya dan Tsubaki ketika jadi target serangan nyasar saat pertemuan tiga fraksi bulan lalu. . . . Atau memang hanya segitu saja kekuatan mereka?. Aaahh,,, Sona mulai meragukan keyakinannya.

Beda lagi dengan Rias, juga peeragenya di sisi lapangan. Ini pukulan telak bagi mereka, sudah sudah payah menjalani latihan seperti neraka, tapi bisa kalah dengan peerage cadangan yang baru saja direinkarnasi menjadi iblis. Bahkan jika di klasifikasikan, itu pun hanya setara iblis menengah kebawah. Walaupun sebenarnya peerage Rias masih menahan diri untuk tidak mengeluarkan semua kekuatan, tapi tetap saja kan, ini kekalahan telak, dua kali pula.

"Maaf, apa kami boleh pulang duluan?" tanya Hinata pada Sona.

"Aahh, silahkan. Tugas kalian sudah selesai, terima kasih ya" jawab Sona.

"Umm,, Osaki ni shitsurei shimasu" kata Hinata mengucap salam perpisahan.

"Doozo"

"Ayo, Naruto-kun" ucap Hinata pada Naruto lalu berjalan keluar dari dojo klub kendo.

Naruto pun ikut melangkah pulang bersama, "Ada apa sih Hinata, kok buru-buru begtu?" tanya nya yang masih bisa didengar oleh telinga peka para iblis.

"Sudah, tidak usah banyak tanya" balas Hinata, walaupun ketus, tapi tetap saja terdengar lembut di telinga Naruto. Naruto itu sudah di butakan dan ditulikan oleh cintanya pada Hinata.

Sparring pun selesai sepeninggal Naruto dan Hinata pulang. Semua bidak Rias tidak ada yang menggunakan balance breaker karena memang Sona yang melarang penggunaan mode tidak ingin arena sparring yang masih berada dalam komplek sekolah rusak berat kalau bertarung dengan kekuatan penuh, tentu nanti yang akan kerepotan adalah OSIS. Khusus untuk Naruto tadi pun, sebenarnya Sona kurang setuju dengan cara Naruto memanas-manasi Xenovia dan Issei. Bukan sparring lagi namanya kalau pakai senjata asli dan menggunakan banyak kekuatan.

Namun ada hal yang membuat Sona sedikit senang. Dia berhasil mendapatkan banyak data perkembangan latihan tim Rias dari sparing barusan. Pada intinya latihan yang tim Rias jalani lebih mengutamakan pada kemampuan 'monster' dari setiap bidak Rias. Hal ini tidak masalah, Sona lebih mengandalkan taktik. Lihat saja nanti, siapa yang lebih unggul, peerage Rias yang berisi orang-orang kuat atau kemampuan otak Sona membuat taktik jitu, terlebih lagi kemampuan bertarung Naruto dan Hinata yang ada sekarang sangat cocok dan menunjang kemampuan kelompoknya, pikir Sona.

...

Tidak lama setelah Naruto dan Hinata pulang, Sona dan Tssubaki pun juga meninggalkan tempat latihan klub kendo, tersisa Rias bersama peerage-peeragenya.

"Buchou, aku baru menyadari, Sona-kaichou tidak hanya ingin mengobservasi kekuatan baru kita, tapi dia juga sudah melakukan serangan pembuka, sebelum rating game dimulai." Akeno mengatakan sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Hmm?"

"Walaupun dari segi kekuatan serang dan kemampuan dasar kelompok kita jauh lebih unggul, tapi ada jurang yang sangat lebar antara kita dengan dua peerage cadangan Sona-Kaichou dalam hal skill dan pengalaman bertarung. Keluarga kita yang bertarung tadi sangat kelelahan bahkan Issei bebak belur, sedangkan Naruto-san dan Hinata-san tidak kelihatan berkurang staminanya bahkan tidak terluka sedikitpun. Mereka berdua memperlihatkan cara bertarung yang sangat efektif tanpa harus menguras banyak tenaga. Kedua orang itu memiliki seni beladiri tingkat tinggi masing-masing yang sangat berbeda. Ini serangan mental bagi kita. Sona tahu dimana keunggulan tim kita, yaitu tim tipe offensive dengan daya serang besar. Dan Sona sudah tahu cara mengatasi itu" Akeno mengutarakan pendapatnya.

Begitulah adanya, Naruto menggunakan style taijutsu Kawazu Kumite, sedangkan Hinata menggunakan taijutsu Klan Hyuga. Dan baru saja, tim yang di gadang-gadang sebagai tim muda dengan potensi besar dalam segi serangan 'monster' di Underworld, di buat tak berdaya hanya dengan seni beladiri dari iblis menangah kebawah.

"Aku mengerti, tapi jangan berkecil hati. Jadikan ini pembakar semangat agar kita berlatih lebih keras lagi. Kita buktikan pada Sona, kalau hasil latihan keras kita tidak sia-sia"

"Baik Buchou" jawab semua anggota keluarga Rias, kecuali satu orang.

"Ada apa lagi Kiba? Kau memikirkan sesuatu?" tanya Rias pada Kiba yang termenung sejak tadi.

"Ahh, tidak... Aku hanya memikirkan Hinata-senpai"

"Whoooaaa, kau sudah tertarik pada perempuan, Kiba. Syukurlah temanku yang tampan ini tidak maho, aku sudah aman sekarang" Issei senang karena hal ini, dengan begini ia tidak akan lagi digosipkan oleh gadis-gadis fujoshi Kuoh Gakuen sebagai pasangan homonya Kiba. "Yah, wajar sih kalau si tampan ini tertarik. Hinata senpai itu sangat cantik, apalagi da-"

Jduuakk...

Rias menjitak kepala bidak pionnya yang hendak berkata tidak senonoh.

"Jaga ucapanmu Issei! Kau baru saja di hajar Naruto-san. Dia kelihatannya sangat protektif pada Hinata-san, apa kau tidak ingat Naruto-san pernah menunjukkan tatapan tidak sukanya padamu saat kau memandangi Hinata-san terlalu lama di aula dahulu saat berkenalan dengan mereka?"

"I-iya, maaf Buchou"

Kiba kembali melamun, masih memikirkan Hinata. Sebut saja Kiba tertarik, karena memang Hinata itu menarik hati pria manapun tanpa cela. Teringat lagi serangannya tadi, dia sudah mengeluarkan salah satu kemampuan terbaiknya untuk menyerang, tapi hanya dengan satu jari saja disertai senyuman menawan dari bibir Hinata yang sempat matanya tangkap saat itu, serangannya bisa dipatahkan semudah membunuh semut.

.

.

.

Lima hari telah berlalu sejak pertama kali masuk sekolah, dan sejak sparing dengan tim Rias. Naruto yang sejak pagi tampak bosan dengan pelajaran, kali ini wajahnya lebih cerah. Bagaimana tidak, sekarang jam istirahat dan dia sedang makan bento bersama istrinya tercinta di kelas. Uuuughh,,,, membuat iri beberapa pasang mata remaja yang sepertinya masih jomblo.

"Whooaa, masakan buatanmu semakin enak saja Hinata," puji Naruto setelah dia menelan satu tamagoyaki dari kotak bento miliknya.

"Umm, terima kasih Naruto-kun" sahut Hinata dengan wajah memerah tersipu malu.. Sudah berapa bulan jadi istri Naruto, masih saja kebiasaan ini belum berubah.

Namun,,,

"Yoo, Naruto senpaaaaai, Hinata senpaaaaaai.. Aku dataaangg..."

sapaan riang gadis hiperaktif bernama Tomoe menginterupsi kegiatan mesra pasangan suami istri tadi. Tomoe terpaksa mengganti sufiks sapaannya menjadi "senpai" kepada Naruto dan Hinata karena dua peerage palsu King-nya ini ternyata ditempatkan dikelas XII. Sedangkan ia sendiri masih kelas XI.

"Aahh, Tomoe-chan... ada apa nih?" tanya Naruto.

"Iya, kok tumben kemari." tambah Hinata.

"Begini, ada pesan dari Kaichou"

"Pesan apa?" tanya Hinata.

"Dewa jahat Loki, terang-terangan telah menyatakan kalau dia akan menyerang pertemuan antara Dewa Ketua Odin-sama dengan dewa-dewa Shinto Jepang. Bahkan katanya berniat membunuh Odin-sama. Jadi kita semua di minta Azazel sensei bersiap-siap untuk ikut bertarung bersama tim Rias dan tim Vali melawan Loki, ada pertemuan penting nanti malam di rumah Issei. Kita semua disuruh hadir disana"

"Oh, itu saja" Naruto menanggapi sepele.

"Kau tidak terkejut Naruto-senpai?" tanya Tomoe.

"Kenapa harus terkejut, memangnya siapa sih si Loki itu?"

"Kau tidak tahu? Dia itu salah satu Dewa Norse, Dewa dari mitologi Bangsa Nordik di belahan bumi Eropa Utara. Dia sangat kuat loh."

Glekk..

Naruto menelan makanan dimulutnya, "Waduh, gawat nih" baru Naruto merespon dengan benar, dia sudah mendengar cerita tentang banyaknya dewa-dewa dari berbagai mitologi yang kekuatannya tidak bisa diremehkan dari mulut Sona. 'Dewa? Iiisshh, seraaaaammm...' pikir Naruto bergidik.

"Baiklah, kami akan ikut. Terima kasih ya Tomoe-chan, sudah memberi tahu kami" kata Hinata.

"Okkeh, urusan ku sudah selesai. Kalau begitu, aku pamit ya, Hinata senpai, Naruto senpai"

"Iyaa" jawab Naruto dan Hinata bersamaan.

Tomoe melangkah keluar dari kelas XII. Namun,,,

"Oh iya.." tiba-tiba Tomoe berbalik, tidak jadi meninggalkan kelas Naruto dan Hinata.

"Ada apa lagi Tomoe-chan?" tanya Hinata.

"i-ittuuu. . . . Heheheee..." tunjuknya pada kotak bento yang ada di meja Hinata.

"Kau mau ini?" kata Hinata seraya menawarkan bento miliknya.

Tomoe mengangguk,

"Jangan sungkan, ambil saja semaumu kalau kau lapar, lagipula aku tidak bisa menghabiskan semuanya, aku sudah kenyang" kata Hinata lagi.

"Benarkah?"

Tomoe mencicipi tamagoyaki yang sama dengan yang dimakan Naruto tadi.

"Ummmm,," Tomoe meresapi rasa tamagoyaki, tidak lama kemudian ekspresi wajahnya semakin cerah, "Totemo oishii... Ini masakan buatanmu sendiri, Hinata senpai?" tanya Tomoe dengan mata berbinar-binar.

"Yaaa.."

"Benarkah?, Waaah, kalau begitu nanti aku minta ajarin memasak ya, ya yaaa... Mau yaa..." pinta Tomoe dengan nada merengek.

"Iya, nanti aku ajarin... Ini ambil lah semuanya." Hinata menyodorkan kotak bentonya.

"Aaaahh,,, terima kasih banyak Hinata senpai" Tomoe girang, memeluk Hinata erat, mengambil kotak bekal itu dan membawanya keluar kelas, untuk dinikmatinya sendiri. Sendirian saja...

Hinata terkekeh pelan karena tingkah Tomoe,

"Kau berkata padaku kalau jangan membuat hubungan yang terlalu erat dengan para iblis, tapi kenapa kau terlalu baik begitu pada Tomoe-chan tadi?" tanya Naruto pada Hinata.

"Kurasa tidak apa-apa, Tomoe-chan itu sangat polos. Aku suka anak seperti dia"

.

.

.

To be Continued...

.

Note :

Yosshh, ini lanjutan setelah arc pertemuan tiga fraksi. Ku kasih banyak wordnya nih, hampir 7k. Seperti yang sudah ku bilang, cerita ini tidak mengikuti alur waktu canon Anime-LN DxD. Ceritanya, sampai disini sudah sekitar sebulan lebih setelah pertemuan tiga fraksi. Selama waktu itu tidak terjadi insiden apapun. Diodora, Shalba, Cruzerey, dan pemberontakan Old Satan belum ada. Itu aku simpan untuk nanti. Dan chapter 26 ini dimulai setelah kepulangan Rias+Allpeerage ke Kuoh setelah berlatih di underworld.

Satu lagi, chapter 26 ini dan mungkin sampai chapter 29, sebenarnya hanya selingan saja sebelum masuk ke masalah inti lagi di chap 30. Konfliknya juga tidak terlalu penting, berisi cerita membasmi dewa jahat Loki. [Loki itu ga penting bro,, hahahahaaa]. Isi ceritanya akan lebih menonjolkan kepada bagaimana pertarungan melawan Loki dan Fenrir, tapi jangan harap NaruHina akan ikut-ikutan bertarung all-out disana. Jika seperti itu, akan merugikan posisi NaruHina dikalangan kaum supranatural. Pertarungan melawan Loki itu tetap milik kekuatan kombinasi dua naga surgawi, tapi peran NaruHina disana tetap sangat penting karena menjadi support "dari balik layar". Namun walau konflik ini tidak terlalu penting, tetap saja ada beberapa point yang akan sangat menentukan konflik-konflik selanjutnya. Jadi tetap harus baca bagian ini baik-baik ya.

Lalu, seharusnya yang jadi target pukulan khas Hyuga kan adalah titik tenketsu yang dapat menghentikan aliran chakra. Disini aku ganti dengan titik akupuntur saja, agar lebih familiar di DxD Universe. Lagipula menurutku titik akupuntur tidak beda jauh dengan tenketsu. Dalam ilmu medis Cina, titik akupuntur dilalui oleh aliran energi Qi, yang terbagi menjadi Yin dan Yang. Tenketsu juga begitu kan? Kishimoto sendiri sepertinya mengambil referensi untuk Taijutsu Hyuga dari medis Cina juga, buktinya adalah simbol Yin dan Yang dipakai dalam keluarga Hyuga.

Ulasan review :

Pertama,, aku putuskan untuk menaikkan rating dua fic di akunku, yaitu fic "To The End of The World" ini dan "Spirit, Uzumaki, dan Kekacauan" atas saran dari beberapa author dan reader yang lebih berwawasan daripada aku dalam hal tulis menulis dan kontent cerita. Naik ke rate M, bukan berarti akan ada lemon loh ya. Untuk yang satu ini, sejak awal aku memang ga niat bikin. Kalau material sugestif mungkin ada, dan untuk sebatas Lime, silakan baca di fic "Spirit, Uzumaki, dan Kekacauan" saja. Lalu adegan Gore? Boleh tuh, mungkin nanti ku coba bikin.

Lalu kalau ga salah ingat, di kolom review ada yang mempermasalahkan nama panggilan. Hinata ke Naruto 'Naturo-kun', ini pas untuk pasangan muda, si wanita seperti tampak ingin bermanja-manja. Naruto ke Hinata 'Hinata' aja, ini ku baca dari artikel hasil survey di Jepang kalau pasangan muda memang lebih sering begitu. Si pria lebih suka memanggil pasangan wanitanya dengan nama depan saja, kesannya lebih simpel. Namun untuk waktu lainnya, waktu khusus NaruHina berdua, mereka telah belajar pakai panggilan "Anata" dan "Tsuma". Dua panggilan itu lebih sering digunakan oleh PaSuTri harmonis yang sudah punya anak. Begitu kata survey. Masalah Naruto masih manggil 'Sakura-chan', lalu juga pada 'Tomoe-chan' dll, itu hanya agar lebih akrab, bukan dalam artian suka.

Kemudian, tidak ada diantara makhluk supranatural yang menyadari kesamaan dari orang-orang Konoha dengan NaruHina. Jelas saja, kan NaruHina sudah makai aksesoris untuk mengkonversi aura iblis.

Review lainnya ku balas lewat PM dan yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.