Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 18 Maret 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

"Jadi kita harus bagaimana, Kakashi?" tanya Tsunade.

"Pilihan satu-satunya yang kita punya hanyalah bersiap-siap."

"Maksudmu bersiap-siap untuk perang? Apa dengan mencari sekutu?" tanya Tsunade lagi.

"Itulah yang aku pikirkan" jawab Kakashi

Konoha saja sendirian tidak akan cukup untuk bertahan. Konoha bisa hancur dan lenyap jika diserang habis-habisan oleh para makhluk supranatural, sehingga mencari sekutu adalah pilihan mutlak.

". . . . . . . . . . . . . . ." Sasuke menjelaskan panjang lebar informasi lain yang ia dapatkan.

"Aku sudah mengerti situasinya" ungkap Kakashi. "Hawk!" seru Kakashi, memanggil seorang ANBU dibelakangnya yang ikut rapat ini.

"Buka topengmu!, kali ini kau bertugas bukan sebagai ANBU" seru Kakashi

ANBU Hawk melepas topengnya. Dari balik topeng, ternyata wajah yang tersembunyi adalah wajah berkulit putih pucat dengan iris mata hitam, dengan bibir yang menyunggingkan senyum khas.

"Kalian berdua, Sasuke dan Sai,,,! Ikut aku. Aku yang memimpin langsung urusan diplomatik ini. Kita akan berangkat besok pagi, persiapkan diri kalian!

"Ha'i" jawab Sasuke dan Sai bersamaan.

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 33. Jalan menuju akhir dunia.

-Kuoh Gakuen-

swusshhhh., swuussshh., swussshhhh...

Angin sepoi berhembus perlahan, angin berhawa sejuk yang mampu menentramkan jiwa-jiwa yang tersesat. Angin pembawa nikmat yang mana jika mata hati manusia terbuka untuk melihat dan merasakannya, maka yang ada dihatinya tidak ada yang lain selain rasa syukur yang dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Dan juga angin yang mampu membuat manusia terlena, hingga melupakan Penciptanya.

Angin seperti itu biasanya selalu identik dengan suatu momen indah. Misalnya saat berada di padang rumput luas, atau dibawah pohon rindang tatkala sinar matahari sedang terik-teriknya. Bisa juga ketika beberapa orang sedang bersantai di atap bangunan menikmati panorama khas perkotaan, atau di gunung menikmati pemandangan asri hutan pedesaan, bahkan saat dipantai sambil memandang matahari yang tenggelam di ufuk barat. Itu semua adalah momen-momen yang indah, terlebih jika bersama pasangan hidup.

Tapi pengecualian untuk Naruto. Ya, Naruto sedang tidak dalam momen seperti itu. Saat ini di kelas, guru pengajar tidak masuk karena berhalangan. Suhu udara siang hari terasa sangat panas, dan hari ini kebetulan Akademi Kuoh sedang melakukan maintenance atau perawatan pada sistem instalasi listrik hingga membuat pendingin ruangan dan kipas angin listrik libur bekerja untuk sementara. Jendela kaca pada ruang kelas XII yang terletak di lantai paling atas bangunan utama yang di tempati Naruto hanyalah jendela kaca yang menempel di dinding tanpa bisa dibuka. Jadi hasilnya ruang kelas itu sangat panas, membuat siapapun menjadi gerah.

Kebanyakan siswa-siswi memilih untuk keluar kelas termasuk Rias dan Akeno yang katanya ada urusan di ruang klubnya, sebagian tetap bertahan dengan kipas tidak pernah lepas dari tangan mereka. Naruto bertahan di kelas, dalam kegerahan yang sangat, dia duduk di kursinya dan merebahkan kepalanya di atas meja menghadap ke samping. Peluh bercucuran dari seluruh permukaan kulitnya. Lidah Naruto sedikit terjulur. Namun walau begitu, Naruto masih dapat merasakan angin pembawa nikmat seperti yang dideksripsikan tadi karena ada Hinata yang mengipas-ngipasi Naruto. Hinata memang wanita idaman dan istri yang sangat berbakti pada suami.

Hinata menatap miris suaminya yang saat ini sedang tepar di meja, "Naruto-kun. Ini minumlah lagi. Jangan sampai kau dehidrasi".

Naruto bangun, "Ah iya, terima kasih Hinata"

Glupp,,glupp,,glupp,,

Naruto langsung menegak habis sebotol minuman isotonik yang diberikan istrinya.

"Grrrrr,,,, aaaargghhhh..." Naruto bersendawa, "Maaf ya, Hinata. Minumanmu kuhabiskan"

"Iyaaa, tidak apa-apa kok. Nanti aku beli lagi"

"Memangnya kau sendiri tidak kegerahan ya?" tanya Naruto, merasa aneh melihat Hinata yang sepertinya tidak apa-apa, tak ada keringat atau deru nafas ciri orang kegerahan.

"Aku tidak kegerahan, kau lihat sendiri kan?"

"Iya, tapi kok bisa.? Lihat, semua teman-teman sekelas kita kegerahan juga, bahkan banyak dari mereka yang memilih keluar dari kelas"

"Hihihiiii,,,,, sebenarnya ini berkat teknik mataku. The True Tenseigan selain bisa diaktikan dalam mode terbatas ataupun sempurna, ternyata juga bisa di aktifkan dalam mode bayangan. Dengan cara ini, salah satu kemampuan doujutsuku bisa tetap aktif meskipun doujutsunya sendiri sudah di nonaktifkan, walau kemampuannya dalam kondisi sangat minim. Dengan cara ini, aku melapisi seluruh pemukaan tubuhku dengan barrier pengubah vektor, radiasi photon gelombang elektromagnet sinar ultraviolet dari matahari 95%-nya akan diubah vektor atau arahnya sehingga dipantulkan kembali, hanya 5% yang sampai ke kulitku, membuat aku tidak merasakan sengatan sinar matahari. Partikel-partikel udara panas yang hendak menimpa kulitku juga dipantulkan oleh barrier tadi sehingga aku tidak merasa kegerahan. Cara ini efektif untuk bertahan dari kondisi lingkungan yang tidak mendukung, tapi kemampuan dalam kondisi minim ini tidak akan bekerja jika aku menerima serangan saat bertarung"

"HA?" Naruto menganga dibuatnya, dia mengerti betul dengan penjelasan panjang lebar istrinya. "Kau curang Hinata, massa menggunakan jutsu seperti itu untuk hal seperti ini"

"Aaiisshh,,,, kau sendiri selalu menggunakan bunshin untuk kau suruh bekerja sedangkan kau yang asli malah malas-malasan. Jadi tidak masalah dong kalau aku melakukan hal yang sama. Kau suamiku, kau panutanku, kau telandanku, jadi tidak lah salah jika aku mengikutimu" sanggah Hinata.

". . . . . ." Naruto tidak punya jawaban masuk akal untuk membalas logika Hinata.

Semakin kesini, Naruto merasa istrinya yang imut ini perlahan semakin berubah. Walau sifat pemalu, lembut, dan santunnya masih sama, tapi seperti ada sifat lain yang muncul. Contohnya saja semakin pintar membuat rencana licik, lalu jadi agak egois, dan sekarang suka mengerjai suami sendiri. Entah semua sifat itu adalah sifat terpendam Hinata yang baru saja muncul ke permukaan sejak berumah tangga, atau bisa juga karena sebab lain.

"Kenapa?" tanya Hinata, memasang raut wajah yang dibuat-buat heran. Dia tau suaminya ini cemberut karena dia kerjai.

"Ahhh,, tidak" elak Naruto. Dia kembali menyamankan posisi kepalanya di atas meja, "Jangan berhenti mengipasiku sampai aku tertidur ya, Hinata...!"

"Umm,, baiklah. Dengan senang hati" Hinata kembali melanjutkan aktifitasnya mengipasi suami tercinta yang kegerahan.

Naruto yang sudah meletakkan kepalanya di meja, mencoba memejamkan mata, perlahan berpindah ke alam mimpi. Tapi sebelum seluruh kesadarannya berpindah alam, mata Naruto terbuka lebar-lebar, telinganya berdenging karena,,,,

'Pemberitahuan kepada semua siswa-siswi Kelas XI, diharapkan agar segera ke aula utama. Ada pengarahan untuk kegiatan darmawisata yang tahun ini bertujuan ke Kyoto. Sekali lagi, semua siswa-siswi kelas XI, harap agar segera ke aula utama.'

pemberitahuan yang tidak penting untuk Naruto. Masalahnya bukan terletak pada isi pemberitahuannya, namun cara memberitahukannya, menggunakan megaphone atau pengeras suara portabel yang ditenteng oleh seorang guru BK di koridor kelas layaknya orator yang sedang berunjuk rasa. Ditambah lagi suara guru BK itu yang sangat lantang dan tegas serta volume megaphone yang sepertinya diatur pada kondisi maksimal. Mungkin karena aliran listrik sedang maintenance, saluran pengeras suara keseluruh Kuoh Gakuen ikut mati, jadinya guru BK mengumumkan pemberitahuan dengan cara tidak elit seperti ini.

Braakkk...

Naruto baru saja menggebrak mejanya dengan kepalanya sendiri, "Sialaaaaan... Kuso...!"

"Sabaaaaar, , , , , , Naruto-kun" ucap Hinata.

"Memangnya Kyoto itu apa sih? Sepenting apa sampai harus dibuat pengumuman dengan cara norak begitu" ungkap Naruto yang kekesalannya semakin menjadi-jadi. Sudah panas kegerahan, diganggu suara bising pula.

Hinata mengusap rambut Naruto pelan sambil terus mengipasinya, "Sudah lebih enak?"

"Um yah... Kau memang yang terbaik Hinata" kata Naruto dengan pipi tetap menempel di meja.

"Ah,..., ettooo,, ummm arigatou" rona merah malu-malu kembali hinggap dipipi Hinata hanya karena pujian Naruto. Bukan karena berisi kata-kata manis dan romantis, tapi karena ketulusan yang menyertai ucapan itulah yang mebuat Hinata bahagia. "Bagaimana kalau aku menceritakan tentang Kyoto? Mungkin kau bisa cepat tidur. Anggap saja ini sebagai dongeng" usul Hinata.

"Lakukan saja..." ucap Naruto pasrah. Untuk kali ini, sang pahlawan dunia shinobi kalah hanya karena cuaca panas dan kegerahan.

Hinata mulai bercerita, "Kyoto adalah sebuah perfektur Jepang yang menjadi destinasi wisata paling favorit. Bentang alam pegunungan dengan bermacam-macam jenis vegetasi yang sangat indah. Selain itu ada ribuan kuil unik disana. Menjadikan Kyoto sebagai salah satu kota warisan budaya dunia. Tempat terkenal disana contohnya adalah Kinkaku-ji yaitu istana tiga lantai dengan arsitektur yang sangat indah. Bagian eksterior bangunan hampir semuanya disepuh dengan lapisan emas, dan bagian interiornya pun sangat unik disetiap lantainya. Lalu ada Ginkaku-ji, ini juga kuil bersejarah. Walaupun namanya berarti 'perak', tapi pada bangunannya tidak terdapat perak sama sekali. Konon katanya, nama itu muncul karena ketika cahaya bulan masuk kedalam bangunan, maka akan timbul pembiasan cahaya seperti kilauan perak"

"..."

"Ada pula kastil Niijo, yaitu kastil yang dibangun untuk tempat tinggal para Shogun yang terkenal. Lalu ada Arashiyama, ini wilayah hutan bambu yang sangat menakjubkan. Suara merdu selalu terdengar ketika angin membuat batang-batang bambu itu saling bergesekan. Konon katanya, pasangan yang mengikat cinta di Arashiyama akan awet sampai tua. Kemudian ada Fushimi Inari Taisha yang terletak dikaki Gunung Inari, kalau ini merupakan tempat wisata berupa lorong yang dibentu dari ribuan gerbang merah. Konon lorong ini disebut sebagai simbol jalan pembawa keberuntungan"

"..."

"Naruto-kun? Kau mendengarku?" Hinata memperhatikan suaminya yang sudah tampak tenang,

Hinata mencoba mengibas-ngibaskan tanganya di dekat wajah Naruto, namun nihil tak ada respon, "Naruto-kun,,, kau sudah tidur?" tanya Hinata.

"?" Hinata jadi merasa bodoh karena bertanya pada orang tidur, "Baiklah, Oyasuminasai Anata"

krik krik krikkkk,,,

"Anata yah,, Naruto-kun, Anata,, Naruto-kun, Anata,,, Naruto-kun, Anata,,, Naruto-kun, Anata, Anata,,, Anataaa,,,,, ahihihiiiiii. . . . ."

Hinata cekikan sendiri dengan senyum tidak jelas, tapi tetap mengipasi suaminya agar tidur suaminya tetap lelap dan tidak terganggu karena kegerahan. Aaaahh,, Hinata jadi berpikir untuk selalu memakai panggilan 'Anata' untuk Naruto-kun tersayangnya.

Kelamaan mengipasi suami tercinta, Hinata berhenti karena tangannya pegal. "Sekarang aku ngapain ya?" guman Hinata.

Bingung sendiri didalam kelas karena tidak ada yang bisa dikerjakan, ingin keluar namun tak tega meninggalkan Naruto yang sedang terlelap tidur. Tugas, PR atau apapun yang sejenisnya sudah beres dia kerjakan, bahkan milik Naruto pun sudah dia kerjakan juga sejak tadi pagi.

"Huuuuuuhhh. . ." membuang nafas panjang, kemudian tersenyum simpul dengan dagu disangga kedua tangan yang bertumpu pada meja.

Hinata sekali lagi menatap intens ke arah Naruto yang terlelap tidur. Begini saja sudah membuah perasaannya membuncah, kebahagiaan yang meluap-luap dan tak mungkin bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Kenangan lama, kenangan tentang Naruto yang terpatri kuat dalam otaknya, tak pernah hilang dan tak pernah lekang oleh waktu, lagi-lagi menyeruak muncul dalam benak Hinata. Kenangan ketika pertama kali bertemu Naruto yang menolongnya ketika ia dibully saat kecil, kegiatannya yang selalu menguntit Naruto kemanapun, saat pernyataan cintanya ketika invasi Pein, lalu saat perang, hingga ciuman pertamanya setelah kembali dari bulan, kencan, menikah, lalu malam pert-,,,,,,

"Hinata-san..."

Suara feminim seorang gadis memecah lamunan Hinata. Yaaahh, hampir saja Hinata melamunkan sesuatu yang tidak-tidak, walau sebenarnya tidak apa-apa juga untuk dilamunkan karena dia sudah sah terikat dengan Naruto dalam ikatan pernikahan.

Hinata sedikit tersentak, walau hatinya sangat kesal karena lamunannya yang semakin ngeres tentang suaminya diganggu, tapi ekspresi diwajahnya tetap seperti biasa, karena dia sadar siapa yang merusak lamunannya, "Ada apa, Kaichou?"

Sona lah yang menganggu acara Hinata barusan. Dia baru saja kembali dari ruang OSIS setelah menyelesaikan urusannya disana. Kembali ke kelas untuk menunggu jam pelajaran selanjutnya yang sebentar lagi akan tiba.

"Ah, tidak. Hanya ingin menyapamu saja" kata Sona.

"Ooohh,,, apa ada sesuatu yang kau perlukan dengan ku, atau dengan Naruto-kun barangkali?"

"Tidak ada kok." Sona mengerlingkan mata ke arah Naruto yang tertelungkup di meja, "Dia beneran tidur, Hinata-san?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Naruto.

"Ummm iya,,, cuacanya panas, jadi dia kegerahan dan memilih tidur" jawab Hinata.

"Tidur saat gerah itu tidak baik, bisa-bisa kena dehidrasi berat nanti" kata Sona menasehati.

"Biarkan saja, ku rasa tidak apa-apa. Mungkin karena efek kelelahan jadi dia tidur"

"Kelelahan kenapa? Ini baru saja siang dan tadi pagi tidak ada jam pelajaran olahraga kan?"

"Tadi malam dia bergadang"

"Bergadang?" Sona menyerngit bingung.

"Umm, yah,,, a-ada pekerjaan yang dia lakukan.." jawab Hinata yang tiba-tiba tampak gugup malu-malu.

"O00hh..." Sona walaupun sebenarnya penasaran dengan pekerjaan apa yang dilakukan Naruto, namun dia merasa sungkan untuk menanyakannya.

Hinata bersyukur Sona tidak bertanya lebih jauh. Naruto memang punya pekerjaan tadi malam, bahkan Naruto kerjakan sampai hampir pagi. Pekerjaan menggarap ladang, maksudnya ladang dalam konotasi kehidupan berumah tangga. Sejak menggunakan suntik kontrasepsi berisi medroxyprogesterone acetat dan estradiol cypionate, Hinata bisa sesuka hati tiap malam meminta jatah pada Naruto agar ladangnya digarap tanpa takut terjadi kehamilan.

"Ummm,, fukokaichou kemana? Biasanya dia selalu bersamamu kan?"

"Tsubaki sedang membantu dewan guru yang mengurus darmawisata siswa-siswi kelas XI"

"Pantas saja sejak kemarin lusa aku belum bertemu dengannya"

"Yah, begitulah. Belakangan ini ayahku sering memintaku pulang ke Underworld, jadi aku menyerahkan semua pekerjaan disini pada Tsubaki"

"Begitu ya..."

"..."

"..."

"..."

Lalu hingga belasan menit selanjutnya kedua perempuan terus saja mengobrol. Membicarakan sesuatu yang sebenarnya sangat tidak penting. Mengobrolnya tidak terlalu berisik, apalagi seberisik gerombolan siswi-siswi yang bergosip ria. Mereka berdua tidak ingin kalau Naruto sampai terbangun.

Sona dan Hinata, tampak sangat akrab dari sudut pandang orang lain. Namun jika ditelisik lebih jauh kedalam otak mereka, yang ada hanyalah pikiran untuk mencoba mengambil hati lawan bicaranya dan berusaha untuk tampak baik sebaik mungkin, dengan tujuan untuk dimanfaatkan tentu saja. Dua perempuan licik yang menggunakan cara apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari arah luar kelas XII, ruang kelas yang ditempati oleh Sona dan Hinata. Suara ribut-ribut itu semakin nyaring terdengar ditelinga, seakan suara sedang bergerak menuju ruang kelas XII. Lalu,,,

"Sou-taaaannn. Onee-sama datang mengunjungimu..."

Pukkkk...

Sona menepuk keningnya, "Gzz..." dengan raut wajah yang langsung berubah kesal dia berdiri dari kursi lalu berucap "Aku keluar dulu ya, Hinata-san. Ada penyihir jadi-jadian yang harus ku urus"

"Silahkan, Kaichou" jawab Hinata sembari melempar senyum. Dia sudah mengerti bagaimana sifat dari kakaknya Sona.

"Onee-sama... Jangan sembarangan datang saat jam pelajaran begini..! Kau membuat seisi sekolah gaduh tahu. Apalagi dengan kostum anehmu ini" Sona marah-marah tepat didepan pintu kelasnya, apalagi kalau bukan karena ulah kakaknya yang aneh ini.

Seperti biasa, Serafall selalu kemanapun dengan kostum cosplayer penyihir kesukaannya. Pakaian penyihir ketat yang sangat minim dan tak lupa aksesoris tongkat sihirnya. Siswa manapun yang melihat ini, tidak ada yang sanggup melewatkan kesempatan untuk memuaskan dahaga mata mereka.

"Isshh,, Sou-tan kok gitu sih pada Onee-sama? Tidak boleh yaa aku menuruti rasa rindu padamu yang menggebu-gebu ini"

"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak jelas! Jadi ada apa sebenarnya, Onee-sama."

"Ummm, aku hendak ke Kyoto, mengurus kafe ku yang semakin sibuk disana. Mungkin akan lama aku di Kyoto, jadi aku ingin bertemu denganmu dulu sebelum berangkat"

"Ya ampun,,, kau bisa menemuiku kapan saja darimanapun dengan teleportasi"

"Eheheeee..." Serafall hanya terkikik cengengesan.

Tiba-tiba Sona teringat sesuatu, kebetulan yang sangat pas karena akhir-akhir ini Serafall semakin sibuk dengan tugasnya sebagai Maou, entah apa yang direncanakan oleh para Maou dan aliansi saat ini, Sona tidak tahu dan tidak berminat ingin tahu. Jadi,,, "Oh, yaaa. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu, Onee-sama. Ikut aku ke ruang OSIS sekarang...!"

"Disini saja memangnya tidak bisa ya?"

"Jangan protes!, ayo ikut aku" tanpa basa-basi lagi, Sona langsung menarik pergelangan tangan Serafall, menyeret tubuh pendek Maou wanita itu ke ruang OSIS.

Sebelum menjauh, Serafall masih sempat menengok kedalam kelas. Menatap ke arah dua peerage cadangan adiknya, yaitu Naruto dan Hinata. Memberikan tatapan yang tersirat makna penuh kecurigaan.

Hinata pun begitu, dia hanya membalas tatapan Serafall dengan senyuman. Senyuman tanda hormat kepada Serafall, sebab posisinya sebagai iblis rendahan harus seperti itu pada seorang Maou. Naruto masih terlelap tidur. Hinata sebenarnya tidak tahu sama sekali apa maksud tatapan Serafall, tapi instingnya sebagai ninja yang banyak merasakan asam garam pertikaian dan pertarungan mengatakan kalau ia harus selalu waspada dengan Maou bergelar Leviathan itu.

.

Setelah sampai di ruang OSIS, yang sepi karena anggota OSIS lain sedang ada urusan ataupun pekerjaan masing-masing,

"Mau bicara apa denganku, Sou-tan?" tanya Serafall setelah pegangan tangan Sona terlepas dari tangannya.

"Yah, emm be-begini.."

"Kenapa kau seperti ragu gitu sih?" potong Serafall, "Ahaaaa,,,, pasti ada pria yang kau sukai, iya kan? Hayooo ngaku." tebaknya.

"..." Sona memasang raut wajah heran.

"Siapa pria itu,, aaahh kalau kau suka pria itu pasti dia pintar dan sanggup mengalahkanmu bermain catur. Lain kali pertemukan aku dengannya ya, tanding catur melawanku. Aku ingin tahu apa dia layak untukmu, karena aku tidak akan membiarkan adikku tersayang ini mendapat pria tidak bermutu. . . . . . ."

"Ghh,, Aku serius, Onee-sama" Sona segera memotong omongan kakaknya yang ngelantur, sebelum semakin panjang.

"Un,, ya sudah. Jadi apa?"

"Kau tau sesuatu tentang ujung semesta?"

"Ohhh, massa yang seperti itu kau tidak tau sih?"

"Hee?" Sona memasang wajah bingung.

"Begini yaa Sou-tan. Sejak kecil kau sudah dengar kan, sudah diajari kalau jagat raya, alam semesta ini sangat luas. Kata para ilmuan alam semesta tidak ada ujungnya, ada milyaran galaksi dan bintang yang tersebar di seluruh alam semesta. Sejak The Big Bang jutaan milyar tahun lalu, semua galaksi bergerak menjauh dari pusat Big Bang, terjadi invasi ruang, membuat jagat raya ini semakin luas dari waktu ke waktu. Khusus untuk Sistem Tata Surya, yang paling terluar, yang paling ujung ada planet Pluto. Massa sih pengetahuan umum seperti itu saja kau tidak ingat?"

"Adduuuhh, Onee-sama. Bukan itu maksudku"

"Memangnya apa lagi? Kau jangan membuat Onee-sama mu yang imut ini kebingungan dooong..."

"Yaaa,,, sesuatu yang mungkin ada di ujung semesta dan mungkin berhubungan dengan kita para makhluk supranatural? Itu yang aku maksud."

"Hmmm,, aku tidak tau sama sekali Sou-tan"

"Gzz... Percuma aku bicara denganmu"

Sona beniat pergi meninggalkan kakaknya, berjalan kearah pintu, hendak keluar dari ruang OSIS.

"Tunggu,,,, Sou-tan... Sepertinya aku teringat sesuatu"

Sona berbalik, memasang wajah serius menatap kakaknya.

"Aku pernah dengar topik yang dibicarakan para peneliti makhluk supranatural. Mereka membuat hipotesis tentang suatu eksistensi. Salah satu hipotesisnya mengatakan tentang ujung semesta"

"Beritahu semua yang kau ingat Onee-sama, ku mohon.." pinta Sona.

"Itu hanyalah hipotesis, bukan fakta, jadi belum tentu benar. Hipotesis tentang lokasi suatu eksistensi yang keberadaannya pun juga masih hipotesis"

"Jangan berbelit-belit.! Katakan dengan jelas, Onee-sama"

"Para peneliti itu membuat sebuah hipotesis tentang suatu makhluk, sebagian percaya makhluk itu ada sebagian lagi tidak percaya. Keberadaan makhluk itu masih sebuah kemungkinan. Tidak ada bukti nyata, hanya berdasar apa yang tertulis di kitab-kitab mitologi tertentu. Itupun sedikit sekali. Tidak berhenti sampai disitu, mereka yang mempercayai kalau makhluk itu ada mulai mendiskusikan dimana keberadaan makhluk itu jika memang benar makhluk itu ada"

"Makhluk apa yang kau bicarakan sebenarnya, Onee-sama?"

"Makhluk yang berhubungan erat dengan Ayat Kiamat"

Sona terkejut dengan ini, dia sudah cukup banyak tahu tentang apa itu ayat kiamat dari beberapa kitab mitologi.

"Apa yang kau maksud didalam ayat kiamat itu adalah makhluk legendaris selain Sekiryushintei Great Red. Makhluk Pengkiamat, Trihexa [666]?" tanya Sona

"Ummm, para peneliti itu bilangnya begitu..."

"Berapa persen peluang kalau Trihexa ada disana?"

"Kata mereka yang mempercayai kalau Trihexa itu ada, peluangnya kurang dari 0,1%" jawab Serafall dengan nada meyakinkan.

"..."

"Sou-tan" panggil Serafall yang melihat adiknya melamun, pasti memikirkan tentang jawabannya barusan.

'Hinata-san dengan Cube miliknya mendeteksi kalau ada sesuatu di ujung semesta. Walaupun sinyalnya lemah, tetap saja hal ini harus mendapat perhatian. Dan yang Onee-sama tahu tentang ujung semesta, adalah hal yang berkaitan dengan Trihexa [666]. Apa mungkin dua hal ini berhubungan? Jika iya, jika benar kalau kedua peerage palsuku itu mencari Trihexa, pasti ada rencana besar yang mereka sembunyikan. Tidak mungkin mereka mencari Trihexa yang disebut-sebut sebagai makhluk yang sangat mengerikan tanpa suatu tujuan yang besar. Walau peluang kebenarannya sangat kecil, tapi tetap saja ini bukan sesuatu yang bisa dengan begitu mudahnya diabaikan.' pikir Sona dibenaknya.

"Hoooii,,,, Sou-tan" panggil Serafall lagi.

"Ah, terima kasih telah memberitahuku, Onee-sama"

"Tidak masalah"

"..." Sona kembali melamun.

'Hal ini harus dibuktikan dahulu kebenarannya. Sudah disebutkan dengan jelas dalam beberapa ayat dari berbagai kitab bahwa Trihexa sama seperti Great Red, tercipta dalam satu paket dimana kedua eksistensi itu ditakdirkan bertarung sebagai satu kejadian yang menjadi penutup kehidupan, akhir dari dunia. Tapi bagaimana cara membuktikan keberadaannya?, apalagi untuk menentukan lokasinya? Ini benar-benar sulit.'

"..." Serafall jadi ikutan melamun, memasang wajah serius karena melihat tingkah adiknya.

'Bagaimana caranyaaa? apa yang bisa membuktikan itu? apa...? apaaa?... Tunggu, aku ingat, sepertinya ada satu cara,,,, Jika diasumsikan Trihexa adalah makhluk yang eksistensinya pernah dinyatakan hidup dahulu kala, maka ada satu cara. Sesuatu yang mampu bersentuhan dengan prinsip kehidupan, sesuatu yang mampu menjelaskan tentang konsep kehidupan, kematian dan jiwa. Sacred Gear yang mampu memberikan informasi tentang semua itu, Sephiroth Graal atau yang disebut dengan relic Holy Grail (Cawan Suci). Seperti yang pernah ku baca dari laporan penelitian Azazel sensei dari Institut Grigori. Baiklah, aku akan mulai dari sini...' pikir Sona dalam lamunannya.

Sona yang telah selesai dengan lamunannya, "Onee-sama, kau tau sesuatu tentang Sephiroth Graal?"

"Tidak banyak sih, yang ku tahu itu salah satu dari 13 Sacred Gear tipe Longinus"

"Begitu ya,,,, ummm ya sudah. Kita bicara sampai disini saja. Aku ingin kembali ke kelas lagi"

"Tunggu, Sou-tan. Ada apa sebenarnya? Sejak kemarin kau menanyakan hal-hal aneh, mulai dari dunia lain, lalu Trihexa, dan sekarang Sephiroth Graal."

"Tidak ada sesuatu yang penting kok, hanya sedikit belajar untuk menambah wawasan sekaligus memecahkan teka-teki saja. Onee-sama sebaiknya segera ke Kyoto kalau tidak ada keperluan lagi disini" jawab Sona lalu keluar meninggalkan Serafall sendirian di ruang OSIS.

Serafall merenung, dia menyadari ada hal yang tidak beres dengan adiknya. Bertanya tentang suatu informasi rahasia, hipotesa yang belum jelas kebenarannya dan Sacred Gear Sephiroth Graal yang dia tahu sangat dijaga oleh Bangsa Vampir di Rumania.

Serafall yakin ada sesuatu yang direncanakan adiknya, tidak mungkin hanya untuk alasan kecil menambah pengetahuan atau sekedar memecahkan teka-teki saja. Dua hal itu memang sifat alamiah Sona sejak kecil, tapi jika sudah berkaitan dengan informasi tadi, maka itu tidak bisa lagi disebut 'sesuatu yang tidak penting'. Serafall yakin itu.

Karena itulah, tentang Sephiroth Graal tadi, Serafall hanya menjawab seadanya saja. Serafall tahu dengan detail kalau Sephiroth Graal di miliki oleh gadis bernama Valerie Sang Ratu Vampir Tepes saat ini, namun sedang ada masalah disana. Sebagai petinggi, sebagai seorang Maou, wajar jika dia tahu tentang masalah yang dihadapi oleh bangsa supranatural lainnya. Terlebih Aliansi Tiga Fraksi merencanakan sesuatu yang besar, informasi tentang musuh mutlak harus diketahui. Tapi sebagai kakak, Serafall memilih untuk tidak memberitahukan semuanya pada Sona. Jika informasi tadi digunakan untuk yang tidak-tidak, pasti Sona akan dalam bahaya dan Serafall tidak ingin itu terjadi.

'Sona tidak mungkin memikirkan itu hanya dari rasa ingin tahu yang murni. Dia pasti memiliki suatu tujuan, atau yang paling buruk adalah Sona sedang dimanfaatkan oleh seseorang. Tidak,,,, tidak... Ini tidak boleh terjadi. Mulai sekarang aku harus lebih sering mengawasi adikku. Ya,,, itu harus.'

Setelah berpikir sejenak, Serafall pun pergi dari ruang OSIS. Dengan menggunakan lingkaran sihir teleportasi, dia langsung ke tempat yang dia tuju, Kyoto.

.

"Trihexa [666] dan Sacred Gear Sephiroth Graal atau yang disebut relic Holy Grail... Kheh,,, sebagai permulaan, informasi ini sudah lebih dari cukup..." gumam seorang gadis berambut indigo panjang yang sedang duduk di kelas dengan kepala tertunduk kearah meja. Area disekitar matanya yang semula dipenuhi pembuluh saraf dan pembuluh darah kembali normal.

Hinata Hyuga, gadis itu menyeringai senang setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Byakugan, mata hebat, doujutsu yang memungkinkan penggunanya untuk melihat semua area bidang pandang 360 derajat, lalu menembus material apapun untuk melihat apa yang ada dibaliknya hingga radius yang lumayan jauh. Dengan Byakugan, Hinata mampu menyadap pembicaraan Sona dan Serafall.

Walau suara dari Sona dan Serafall tidak kedengaran, tapi dengan Byakugan saja sudah cukup. Mengamati bagaimana gerak bibir, posisi gigi, rahang dan lidah, bahkan frekuensi getaran dari pita suara di bagian faring atau pangkal atas tenggorokan, maka data visualiasi itu bisa dikonversi menjadi media komunikasi layaknya suara sehingga bisa diterjemahkan menjadi suatu informasi. Itu adalah kemampuan baru dari doujutsu Byakugan yang Hinata kembangkan sendiri dalam teknik penyadapan, selain untuk mengintai dan melacak yang sudah dikenal sejak dulu. Informasi penting telah Hinata dapat.

Apa yang Hinata perbuat di taman belakang setelah makan bento bersama Naruto beberapa hari lalu, tidak perlu waktu lama untuk membuahkan hasil. Dengan Byakugan, dia tahu kalau saat di taman belakang waktu itu ada yang menguping pembicaraannya dari balik jendela OSIS, siapa lagi kalau bukan Sona?.

Memanfaatkan moment itu, membuka sedikit celah dalam misi rahasianya dengan berbicara pada Naruto. Ketidak tahuan Naruto ketika itu kalau ada Sona yang menguping, membuat sikap Naruto menjadi sangat natural sehingga Sona tidak akan sadar kalau sedang di manfaatkan. Hinata akan memanfaatkan apapun untuk rencananya, bahkan juga memanfaatkan kepolosan suaminya.

Hingga akhirnya, Sona tertarik dengan apa yang dia bicarakan saat itu. Langkah awal Hinata untuk menyeret Sona dalam misinya sudah berhasil, dan selanjutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya membuat Sona mendapatkan semua hal itu untuknya, membuat Sona mencari jalan menuju suatu eksistensi yang disebut Trihexa, membuat Sona tanpa disadari telah menuntun ia dan suaminya kesana tanpa ia harus bekerja susah payah sendiri. Kelicikan Hinata, sungguh sangat mengerikan hingga berada pada taraf dimensi yang berbeda, yang bahkan sampai mengorbankan nurani dan perasaan yang selama ini ia junjung.

Disinilah kepentingan Naruto dan Hinata pada Sona Sitri dari kesepakatan saat itu terbukti sangat dibutuhkan. Sasuke bisa saja mencarikan informasi untuk Naruto, buktinya saja dia yang bekerja independen, berkerja sendirian, menyusup ke berbagai tempat berbahaya, bisa mendapatkan informasi rahasia sebesar Imperium of Bible.

Namun pekerjaan Sasuke hanya membuahkan informasi 'jadi'. Jika dipikirkan lebih teliti, informasi yang dibutuhkan oleh Naruto dan Hinata sebenarnya belum ada dimanapun mencarinya, masih berupa kepingan-kepingan informasi yang tidak akan bisa dimengerti oleh orang Konoha. Oleh karena itulah, Hinata membuat informasi itu menjadi 'ada' dengan bersentuhan dan terlibat langsung dengan mahkluk supranatural, serta memanfaatkan otak Sona dan menyeret Sona kedalam alur masalah yang sudah ia rencanakan dari awal.

.

.

.

-Underworld, Grigori's Institute-

Cahaya yang minim, pemandangan alat-alat elektronik, monitor besar, dan berberapa set komputer menjadi pemandangan yang lumrah dilihat jika kita ada didalam sebuah laboratorium. Salah satu ruangan didalam Institut Grigori milik Fraksi Malaikat Jatuh, ruangan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi dan pusat kontrol seluruh bangunan. Di ruangan itu lah terdapat beberapa orang, orang-orang yang memiliki posisi penting dan jabatan tinggi di kalangannya.

Shemhazai, si tuan rumah sekaligus Wakil Gubernur Fraksi Malaikat Jatuh dan salah satu peneliti utama di Institut Grigori. Falbium, salah satu dari Yondai Maou yang memimpin Fraksi Iblis saat ini, dan seorang seraph bernama Raphael. Ketiga orang ini lah yang ditugaskan untuk fokus menangani eksistensi baru, Konoha, yang kemunculannya sangat fenomenal di semua kalangan makhluk supranatural.

Tiga orang itu tampak sedang berbincang serius,

"Bagaimana keadaan keluargamu saat ini, Falbium-san?" Raphael bertanya dengan nada prihatin, sosok seorang malaikat selalu berbicara dengan ekspresi penuh kebaikan, tak peduli walau dihatinya terpatri niat sebusuk apapun, terlebih dia seorang Seraph yang tidak terikat dengan mekanisme 'jatuh'-nya malaikat, sayapnya tidak akan pernah ternoda apalagi menghitam.

"Yaaah,,, sejak kematian pewaris tahta Glaysa-Labolas si Zefordoll itu, muncul masalah rumit"

"Bagaimana dengan kasus pembunuhannya, apa sudah menemukan titik terang?"

"Tidak sama sekali, Raphael-san. Tidak ada jejak apapun yang tersisa dari pelaku. Data kerusakan tempat kejadian perkara juga tidak terlalu berguna. Semua kerusakan disana sudah diidentifikasi dan semuanya murni bekas kekuatan sihir yang digunakan Zefordoll yang sempat membuat perlawanan, tapi sama sekali tidak ada bekas perbuatan pelaku."

"Sulit ya,,, apa motif pelaku sudah bisa diperkirakan?"

"Itu juga sama sekali tidak. Tidak ada hal apapun yang bisa dipikirkan dari kasus yang tanpa jejak ini. Di TKP tidak ditemukan bukti, bahkan setelah diperiksa secara menyeluruh pada setiap sudut Istana Glaysa-Labolas, tidak ada satupun yang rusak atau kurang. Hal ini malah membuatku ragu apakah pelaku itu benar-benar ada"

"Tapi,,, mustahil kan kalau pelakunya tidak ada"

"Iya, aku tahu. Zefordoll sudah dipastikan tidak mungkin bunuh diri. Kejiwaannya tidak terganggu sama sekali dari 10 tahun lalu hingga sekarang. Otopsi sudah dilakukan pada tubuh Zefordoll, tapi hasilnya tidak memuaskan. Dia mati dengan leher terpotong, tapi tidak bisa diketahui bagaimana lehernya bisa terpotong. Senjata seperti pedang bukan penyebabnya karena tidak ada sisa serpihan logam dari bekas sayatan, bahkan atom logam juga tidak terdeteksi. Serangan sihir juga bukan penyebab kematiannya, tim forensik yang melakukan otopsi tidak menemukan jejak sihir jenis apapun disana. Serangan fisik juga pasti bukan karena leher Zefordoll terpotong halus tanpa ada daging yang terkoyak, artinya penyebabnya adalah sesuatu yang sangat tajam. Penyidikan kami mengalami jalan buntu" ungkap Falbium sambil mendesah membuang nafas berat.

Kusanagi no Tsurugi milik Sasuke,,, memiliki keunikan tersendiri. Pedang yang berbeda dengan jenis pedang berbahan logam lainnya karena pedang ini memiliki afinitas paling tinggi terhadap elemen petir. Setelah Sasuke menusukkan pedangnya ke leher Zefordoll saat itu, partikel-partikel atom logam dari pedang memang akan tertinggal di leher Zefordoll, namun ketika Sasuke mengeluarkan chidori, chakra berlemen petir akan merambat lewat Kusanagi no Tsurugi, membuat partikel-partikel tadi akan terionisasi sehingga akan bereaksi dengan darah dan daging Zefordoll, hasilnya atom-atom iu membentuk senyawa baru yang tidak akan dikenali lagi sebagai sisa bekas tebasan pedang.

Sasuke tahu bahwa luka sayatan benda logam bisa diindentifikasi oleh tim forensik dengan memeriksa ada atau tidaknya atom logam yang dalam keadaan bebas dibekas sayatan. Karena itulah, Sasuke menggunakan chakra petir untuk membuat atom-atom itu bereaski membentuk senyawa lain sehingga tim forensik tidak akan tahu bahwa penyebab terpotongnya leher zefordoll adalah bekas sayatan pedang. Dan lagi chakra petir dari chidori akan mempermudah penggalnya leher Zefordoll karena membuat Kusanagi no Tsurugi semakin tajam. Sasuke bukan orang bodoh yang akan meninggalkan barang bukti dari kejahatan yang ia lakukan.

"Kau sendiri, bagaimana Falbium-san?" Shemhazai juga tertarik dengan topik ini.

"Aku tidak terlalu mempermasalahkan kasus itu, Shemhazai-san. Zefordoll itu tipe anak yang susah diatur, dia sombong dan bakat iblisnya pun tidak seberapa hebat, sehingga kurasa dia cukup pantas untuk mati sebelum sah menjadi pemimpin Keluarga Glaysa-Labolas. Daripada nanti malah menurunkan reputasi keluargaku"

"Heh,,, bisa-bisanya kau berpikiran sepicik itu pada anggota keluargamu sendiri?"

"Che, terserah. Aku ini iblis, jadi wajah aku berpikir begitu. Awalnya aku memang mendukungnya untuk naik tahta, tapi itu hanya karena tidak ada calon lain. Kakaknya yang jauh lebih pantas menjadi pewars tahta sudah tewas lebih dulu."

"Jadi bagaimana tindakanmu atas kasus ini, Falbium-san?" Raphael bertanya dengan ekpresi tenang, tidak sedikitpun wajahnya dikuasai emosi negatif walau hanya sekedar untuk mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan.

"Tentu saja penyidikan terhadap kasus ini harus berlanjut walau sama sekali tidak membuahkan hasil karena jika penyidikan kami hentikan, reputasi Glaysa-Labolas sebagai salah satu dari 72 pilar iblis bisa merosot jatuh. Tapi ada hal lebih penting yang harus ku pikirkan. Aku harus mencari kandidat pewaris tahta baru yang sangat patuh padaku, meskipun kekuatan iblisnya tidak seberapa"

Semenjak Falbium dinobatkan menjadi maou, dia tidak bisa seenaknya lagi mencampuri urusan internal keluarganya, Keluarga Iblis Glaysa-Labolas. Sudah menjadi aturan tetap bahwa seorang yang telah dinobatkan menjadi Maou harus lepas dari kepentingan keluarga, menjunjung kepentingan kaum iblis secara menyeluruh agar tidak timbul perpecahan. Tidak jarang ditemukan, kadang ada keluarga iblis tertentu dari 72 pilar yang berbeda paham dengan pemerintahan Yondai Maou, oleh karena itulah seorang maou harus independen agar masalah yang mungkin timbul tidak menyeret nama keluarganya.

Dan untuk Falbium, dia tentu masih ingin berkuasa atas keluarganya. Bukan hanya untuk dirinya saja, tapi untuk rencana Aliansi Tiga Fraksi yang mereka canangkan. Sebenarnya masih ada beberapa pilar iblis yang berbeda paham dengan pemerintahan Yondai Maou, mereka enggan dan merasa kurang yakin dengan rencana Aliansi tentang Imperium of Bible. Di situlah peran Falbium untuk membuat keluarga Glaysa-Labolas mengajak pilar iblis lain yang masih kurang sepaham agar kekuatan Iblis benar-benar bersatu dan solid.

"Yaa,,, aku setuju dengan yang kau pikirkan" sahut Shemhazai.

"Aku juga,,, jadi bagaimana dengan Konoha?" tanya Raphael.

". . . . . ."

". . . . . ."

Kembali membahas Konoha, sejak kemunculannya yang pertama kali di Kuoh, Konoha sudah membuat gempar Aliansi Tiga Fraksi. Bagaimana tidak?, pernyataan yang keluar dari mulut Kakashi dihadapan empat petinggi dari Aliansi Tiga Fraksi bukanlah omong kosong belaka. Hal itu terbukti dari kekuatan yang ditunjukkan oleh Uchiha Sasuke dengan menghabisi semua pengkudeta sekaligus menghancurkan sebagian besar wilayah Kuoh dalam sekali serang, lalu membuat teknik Vali Lucifer tidak berguna melawan sosok astral emas. Bahkan sampai membuat Sirzech sang Maou terkuat bergelar Lucifer, hampir mengeluarkan bentuk tertinggi dari kekuatan Power of Destruction karena ancaman pemuda berambut merah. Semua hal tadi tidak akan dapat terjadi jika saja Konoha hanya kumpulan manusia pembual bermulut besar.

Selain oleh pihak aliansi, pihak-pihak lainnya seperti mitologi Nordik, Olympus, Reliji Hindu-Buddha, bahkan pihak teroris dari bermacam-macam golongan yang berkumpul dibawah naungan Khaos Brigade menjadikan Konoha sebagai topik pembicaraan paling sensasional selama beberapa minggu. Kebanyakan dari mereka sudah memasukkan Konoha kedalam list organisasi yang harus diwaspadai seperti halnya organiasi teroris Khaos Brigade.

Tiga orang tadi, Shemhazai, Raphael, dan Falbium adalah pusat komando dari Aliansi Tiga Fraksi untuk menangani hal apapun yang berkaitan dengan Konoha. Mereka bertiga lah yang ditunjuk, bukan langsung ditangani oleh petinggi lain. Jika sampai gubernur malaikat jatuh, archangel atau maou bergelar Lucifer yang berdiri paling depan diantara maou lainnnya, yang menangani hal-hal tentang Konoha, itu dipandang sebagai hal yang terlalu berlebihan. Malah membuat Aliansi seakan takut dan gentar pada Konoha jika sampai pemimpin utama yang turun langsung.

Lalu, tiga orang tadi sepakat membentuk sebuah tim. Tim yang mengemban misi untuk menjalin komunikasi dengan Konoha. Pembentukan tim ini didasari oleh kewaspadaan pihak Aliansi pada Konoha agar tidak mengganggu proyek New World Order yang mereka jalankan. Sudah menjadi resiko pasti bahwa proyek New World Order akan menyebabkan bentrok dengan eksistensi lain, dan semua eksistensi supranatural sudah diantisipasi dan direncakan dengan matang oleh Aliansi. Hanya Konoha saja yang belum mereka buatkan rencana khusus, karena eksistensi Konoha baru saja muncul dan informasi tentang Konoha pun sangat minim.

Setelah menjalin komunikasi dengan Konoha, Aliansi Tiga Fraksi bisa menentukan bagaimana kejelasan posisi Konoha terhadap mereka. Memang saat itu Hokage Keenam Hatake Kakashi menyatakan bahwa Konoha tidak akan tunduk pada aliansi atau pihak manapun. Tapi itu masih belum cukup, perlu negosiasi pada Konoha dan observasi tentang militer Konoha sebagai bahan pertimbangan. Bahan pertimbangan untuk menentukan apakah Konoha akan ditetapkan sebagai penghalang besar proyek New World Order atau hanya pembual yang tidak perlu mendapat perhatian serius. Jika memang Konoha akan menjadi penghalang, maka Aliansi harus mempesiapkan rencana untuk menghabisi Konoha bagaimanapun caranya sampai tak bersisa.

Tim tersebut bertanggung jawab langsung pada tiga orang tadi. Tim bentukan ini berisi puluhan intel profesional dari tiga fraksi dan dipimpin oleh Dulio Gesualdo, lalu tambahan anggota baru Sairaorg Bael. Selama hampir dua bulan, usaha tim ini untuk menjalin komunikasi dengan Konoha tidak membuahkan hasil.

Konoha sangat hebat menyembunyikan diri dan tidak pernah keluar walau dipancing dengan cara apapun. Karena usaha pencarian gagal, tim ini pun mencoba cara lain, yaitu dengan mengirimkan sinyal-sinyal komunikasi diseluruh Jepang, lebih khusus di Kuoh sebab terakhir kali kegiatan orang-orang Konoha terdeteksi ada disana. Sinyal-sinyal komunikasi dikirim menggunakan banyak media, seperti sinyal elektronik pada berbagai macam frekuensi, lalu berupa tanda-tanda yang diletakkan diberbagai tempat yang berisi kode tertentu. Isinya adalah ajakan pada Konoha untuk menjalin Komunikasi dan mau bersikap lebih terbuka.

Dan setelah dua bulan inilah, usaha tim ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Kerena itulah semua yang berkepentingan berkumpul di salah satu ruangan laboratorium Institut Grigori ini. Selain tiga petinggi tadi, ada dua orang dari tim tadi yang baru datang untuk melaporkan hasil pekerjaannya.

"Haaaaahhhhh,,,,, tidak kusangka. Usaha menyelidiki tentang Konoha baru mendapatkan hasil setelah menghabiskan waktu yang cukup lama." gerutu si wakil gubernur malaikat jatuh, Shemhazai, setelah dua orang yang sejak tadi mereka tunggu tiba.

"Mau bagaimana lagi, sepertinya Konoha bukan kelompok yang bisa dianggap enteng" timpal si Seraph bernama Raphael dengan senyum maklum.

"Gh,, ini benar-benar merepotkan. Karena Konoha, kita harus mengatur ulang proyek besar aliansi kita" sambung Falbium dengan nada bicara yang terkesan ambisius. "Jadi informasi apa yang kalian peroleh?" tanyanya pada dua orang pria yang merupakan anggota tim untuk menjalin komunikasi dengan Konoha.

Seorang pria berambut blonde dengan iris mata hijau, menggunakan setelan pakaian khas seorang Priest. Seorang pria lagi berambut hitam dengan badan kekar, kali ini tanpa pakaian khas bangsawan Bael, hanya menggunakan baju kaos dan celana jeans biasa. Kedua orang ini, Dulio Gesualdo dan Sairaorg Bael.

"Misi kami sepertinya gagal, Konoha tidak sedikitpun merespon sinyal-sinyal komunikasi yang kami kirimkan. Lebih baik usaha menjalin komunikasi dengan Konoha dihentikan." ungkap Dulio.

"Mungkin saja mereka memang tidak berniat menerima iktikad baik kita" kata Sairaorg menimpali.

"Aku tidak peduli Konoha mau bersikap bagaimana terhadap kita, yang aku inginkan informasi baru. Ku dengar kalian memperoleh hasil yang tidak terduga kali ini" kata Falbium.

Sairaorg dan Dulio saling berpandangan, melayangkan tatapan saling setuju, lalu Dulio memberikan satu disc memory pada Shemhazai.

"Apa ini?" tanya Shemhazai tanda tidak mengerti.

"Informasi yang kami temukan semuanya ada disitu" jawab Sairaorg.

Shemhazai langsung saja menghubungkan disc memory itu ke komputer lab, menampilkan datanya di layar monitor. Data tersebut berupa gambar peta suatu wilayah.

"Ini kan citra satelit pemetaan wilayah yang dimiliki saluran komunikasi Surga?" kata Raphael dengan ekspresi sedikit terkejut.

"Benar sekali, Raphael-sama" jawab Dulio. "Ide ini awalnya dari Sairaorg-san, menempelkan microchip pada setiap tanda sinyal komunikasi berisi pesan ajakan kerjasama pada Konoha yang kami sebar di seluruh Jepang. Microchip dilengkapi teknologi GPS yang dapat dipindai menggunakan saluran komunikasi satelit khusus milik Surga yang sanggup melingkupi semua batas dimesi dari Surga, Bumi, Dunia Bawah, Celah Dimesi, hingga tempat-tempat lainnya. Dan kita beruntung, karena sepertinya salah satu tanda itu diambil oleh seseorang dari Konoha."

"Kau yakin?" tanya Shemhazai.

"Aku cukup yakin, karena sinyal yang ditunjukkan microchip itu mengarah ke lokasi tersembunyi. Jadi tidak mungkin itu diambil oleh orang yang kebetulan lewat. Dan sampai sekarang, sinyal GPS dari microchip itu masih ada dan tidak berpindah dari sana" jawab Sairaorg.

"Asumsikan kalau Konoha sudah mengambil pesan itu, mengerti isinya, namun Konoha tidak memberikan respon apapun. Ini artinya Konoha sama sekali tidak tertarik menjalin komunikasi dengan kita. Dan mereka juga tidak menyadari kalau koordinat lokasi persembunyian mereka sudah kita ketahui, itulah mengapa sebabnya sinyal GPS tidak hilang sampai sekarang" Raphael menyimpulkan.

"Benar, itulah yang ku pikirkan, Raphael-sama" sambung Dulio.

"Hei,,, ini kan citra satelit kota Kuoh dan wilayah sekitarnya?" Shemhazai menyadari kalau gambar tersebut adalah kota Kuoh.

"Ya, itulah yang kami dapatkan. Lihat titik berwarna merah disana!" tunjuk Dulio pad sebuat titik yang berada diantara bentang perbukitan Kuoh yang berjarak sekitar 35 km dari pusat kota Kuoh.

Shemhazai memperbesar foto citra satelit, zoom out pada area sekitar titik tadi.

"Tidak ada apapun." kata Raphael. Memang benar karena yang terlihat diarea itu hanyalah hutan belantara.

"Sekarang coba proyeksikan citra itu secara tiga dimensi. Amati ketinggian titik itu dari permukaan tanah!" seru Dulio.

Sesuai apa yang dikatakan Dulio, Shemhazai mengatur proyeksi citra itu secara tiga dimensi. Setelah diamati dari sudut tertentu, dan dihitung, ternyata,,,,,

"Titik ini berada diketinggian 6500 meter diudara" kata Shemhazai menyimpulkan.

"Tapi tidak terlihat apapun diudara, apa...?" Raphael tampak kebingungan dengan data ini.

"Apa mungkin tempat persembunyian Konoha adalah sebuah pulau melayang yang tersembunyi dalam barrier atau kekkai khusus sehingga tidak bisa dilihat?" tebak Falbium.

"Ya,, kurasa hanya kemungkinan itulah yang paling mendekati kebenaran berdasarkan data-data ini" jawab Sairaorg.

"Aku menyimpulkan bahwa tempat persembunyian itu seperti berada dalam suatu dimensi lain yang dapat dianalogikan sebagai dunia dibalik cermin. Lokasi mereka ada di dunia ini dan dapat dipetakan serta ditentukan koordinatnya, namun keberadaannya seperti bayangan tak terlihat dan tak bisa disentuh. Disana aliran udara, jatuhnya air hujan, dan cahaya matahari tidak terhalang sedikitpun. Bahkan pernah ku lihat ada pesawat terbang komersil dari maskapai milik manusia yang melewati tepat titik dari sinyal GPS itu, namun seolah pesawat itu hanya lewat saja, tidak menabrak apapun. Aku menduga fenomena ini mirip prinsip kerjanya dengan teknik yang digunakan oleh Hatake Kakashi saat pertemuan di Kuoh seperti yang pernah dikatakan Michael-sama padaku. Saat itu sosok astralnya yang berwarna emas tidak bisa disentuh ataupun ditembak dengan serangan sihir, padahal mereka jelas berada di Kuoh, dapat berbicara bahkan dapat menyerang balik pihak Aliansi" ungkap Dulio.

"Hmmm,, ini benar-benar sulit. Mereka punya teknik dan teknologi yang tidak tersentuh oleh ilmu pengetahuan kita. Walaupun kita sudah tahu lokasi mereka, tapi kita tidak bisa pergi ketempat persembunyian mereka. Sekarang kita harus mendiskusikan ini dengan petinggi lainnya untuk menentukan tindakan apa yang akan kita ambil." kata Falbium.

Empat orang lainnya mengangguk mengiyakan. Seperti yang dikatakan Falbium, Mereka semua harus bekerja lebih keras untuk dapat mewujudkan Imperium of Bible yang mereka inginkan. Dengan begini, pertemuan singkat mereka berlima pun usai.

Hmmmm, rupanya Kakashi waktu itu bertindak ceroboh, bahkan sampai meninggalkan selebaran pamflet berisi pesan komunikasi dari Aliansi di tempat sampah didalam kantornya sendiri. Seandainya Kakashi menyadari bahwa pamflet itu telah ditanami dengan microchip pelacak berteknologi GPS, maka dia tidak akan sebodoh itu untuk meninggalkan benda tadi didalam tempat sampah di ruang kerjanya, bahkan sampai berhari-hari, sampai sekarang mungkin selebaran itu masih ada disana. Ini saja, sudah cukup untuk membuat Konoha dalam bahaya.

.

.

.

Jikukan-Kekkai: Hogo Nisshoku, kekkai hebat yang Naruto ciptakan, berhasil dengan baik menyembunyikan Konoha dan seisinya tanpa bisa disentuh oleh orang-orang dari luar. Namun setiap jutsu pasti ada kelemahan, seperti kata Kakashi bahwa Jikukan-Kekkai: Hogo Nisshoku tidak selamanya bisa bertahan karena kekkai ini memerlukan suply chakra senjutsu secara kontinyu.

Jadi bagaimana selanjutnya? Apakah Naruto dan Hinata bisa menyelesaikan misinya untuk menemukan Sang Makhluk Pengkiamat Trihexa [666] yang merupakan pertanda mutlak akhir dunia. Atau Aliansi Tiga Fraksi yang menemukan cara untuk pergi ke Konoha lebih dahulu dan menghabisi Konoha sebelum Konoha bisa berbuat apa-apa. Ataukah Konoha yang lebih dahulu bertindak, membuat persekutuan besar bersama ras makhluk supranatural lain sebagai pihak penantang dan menghancurkan Aliansi Tiga Fraksi beserta dengan rencana besarnya. Semua pilihan itu, berujung pada yang namanya perang dan kehancuran.

Tiga jalan menuju akhir dunia 'To The End of The World' sudah kelihatan, dan mungkin masih ada jalan lain lagi yang akan muncul. Siapa yang tahu dengan apa yang direncanakan Ophis Sang Ketidakbatasan yang memimpin Khaos Brigade, yang sudah lama tidak menunjukkan diri lagi. Atau siapa yang menduga bagaimana tindakan kubu raksasa Mitologi Olympus dan Reliji Hindu-Buddha jika mereka tahu bahwa eksistensi mereka sedang terancam oleh proyek New World Order dalam rangka pembentukan Imperium of Bible yang dicanangkan oleh Aliansi Tiga Fraksi.

Lebih banyak misteri yang terungkap, semua hal perlahan menjadi semakin jelas, hanya tinggal menanti klimaks yang menjadi akhir dari dunia,,,,,,,

'End of the World'

.

.

.

.

TBC...

Note : Apa yang dicari Hinata dan Naruto ternyata berhubungan dengan Trihexa [666]. Dari ini saja, sudah kelihatan penghujung masalah. Trihexa yang merupakan binatang kiamat, terkait erat dengan sesuatu yang disebut-sebut dalam judul fic ini yaitu "To The End of The World". Akhirnya titik terang dari judul fic ini terungkap di chapter 33. Jadi kiamat dunia shinobi bukan lah akhir yang sebenarnya, bahkan masih ada "The True End" yang melingkupi semua sistem kehidupan.

Dan satu lagi perempuan yang terlibat dalam urusan ini. Serafall, dia menyadari ada yang aneh dengan Sona. Tiga orang perempuan ini, Hinata, Sona, dan Serafall lah yang akan berperan besar menentukan bagaimana nasib dan jalannya cerita menuju akhir dunia nanti.

Skor satu sama untuk Konoha dan Aliansi. Mereka tidak saling tahu kalau masing-masing sudah kecolongan, Konoha tahu projek besar Aliansi Tiga Fraksi, walau belum tahu pasti bagaimana caranya rencana dan projek itu dijalankan. Dan Aliansi sudah mengetahui koordinat persembunyian Konoha, walau masih belum menemukan cara kesana.

Oh iya, bagaimana menurut kalian tiga chapter terakhir ini? Chapter 31-33 adalah chapter krusial yang sangat menentukan arah cerita kedepan nanti. Setelah ini akan lebih banyak hal-hal mengejutkan yang muncul dan konfliknya pun akan semakin rumit. Organisasi teroris Khaos Brigade akan segera menyusul untuk beraksi, dan jangan lupakan kalau Ophis yang menjadi pemimpin Khaos Brigade di fic ini berbeda dengan Ophis di LN DxD yang begitu polos. Di Fic ini, Ophis adalah sosok ketidakbatasan yang memiliki kekuatan penuh, cerdik, dan punya ambisi besar sendiri yang akan ia capai dengan cara apapun. Agar lebih mudah, anggap saja sosok Ophis disini memiliki sifat dan tindakan yang tercermin dalam diri Kaguya Ootsusuki+Zetsu Hitam. Lalu akan seperti apa respon Dewa superior seperti Zeus, Sakra atau dewa-dewa superior lainnya terhadap keadaan dunia saat ini? Hmmm, lihat saja nanti...

Ulasan Review :

Mitologi Nordik hanya mitos pengantar tidur sedangkan Reliji Shinto masih ada walau penganutnya menipis, tapi kenapa Norse lebih kuat dari Shinto? Kita mengambil referensi sejarah, Mitologi Nordik dahulu di anut oleh Bangsa Viking yang kebanyakan adalah perompak, wilayahnya berada di seluruh Eropa Utara, Skandinavia, hingga Jerman. Itu jauh lebih besar daripada Shinto yang hanya ada di Negara Jepang. Walau sekarang Mitologi Nordik hanya tinggal mitos setelah penganut Reliji Injil menyebar sampai ke Eropa Utara, tapi tetap mereka pernah berjaya. Jadi kejayaan Mitologi Nordik dimasa lalu lah yang membuat Dewa-Dewa Norse lebih superior daripada Dewa-Dewa Shinto. Kekuatan setiap Dewa, tidak hanya ditentukan oleh jumlah penganutnya sekarang, tetapi juga seberapa besar puncak kejayaan yang pernah diraih Dewa itu. Maka dari itulah, Olympus yang dahulu di anut Bangsa Yunani dan Romawi serta Reliji Hindu-Buddha yang tetap berjaya dari dahulu hingga sekarang, memiliki dewa superior. Itu argumenku, sesuai dengan teori yang ku ajukan di chapter kemarin.

NaruHina belum tahu tentang Imperium of Bible dan Proyek New World Order, sebab mereka berdua belum pulang ke Konoha. Sona, Rias, Vali dan lainnya juga belum tahu. Tokoh muda yang tahu hanyalah Dulio dan Sairaorg saja.

NaruHina mencari Trihexa, bisa-bisa bakal bentrok tuh dengan Rizevim nanti.

Pembagian kubu? Sudah ada tiga kubu, lihat aja di atas!, tapi masih bisa nambah. NaruHina pun beda kubu dengan Konoha karena beda tujuan.

Yang kemarin, seandainya diijinin, Sasuke yakin dirinya bisa membunuh satu persatu pemimpin aliansi, tapi tidak akan segampang itu. Ada banyak hambatan bahkan mungkin Sasuke bisa gagal membunuh salah satunya.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM serta yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

***psssttt,, aku mau curhat dikit nih, review yang ku balas lewat PM kok feedbacknya kurang yah. Rasanya rada gimanaaaa gitu,,,