Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Ahad, 3 April 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Tersisa empat orang di lobi, Sona dan tim kecilnya.

"Huuuuhhhh. . . . ." Sona mendesah membuang nafas panjang. Wajahnya tertekuk masam, bibirnya melengkung kebawah, cemberut. Kali ini Sona lebih ekspresif daripada biasanya.

"Kau masih kepikiran yang kita bahas tadi, Sona-san?" Hinata yang berdiri didekat Sona mengajukan pertanyaan.

"Tidak. Itu semua logis. Aku tidak punya argumen untuk membantah"

"Iblis dan Malaikat Jatuh. Seperti pandangan manusia pada umumnya, dua ras itu memang memiliki sifat buruk yang selalu melekat dan tidak bisa terpisahkan dari diri mereka. Ahahahaaa..."

"Aku mengakuinya, tapi jangan katakan frontal seperti itu, Naruto-san!"

"Maaf, maaf Sona-san. Hanya saja aku cukup terkejut karena hal ini."

"Yayayayaaa... Kita akan melakukan semuanya sesuai rencana kan?" kata Sona.

"Oke" sahut Naruto.

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 36. Kasus Penculikan di Kyoto Part 3.

-Perfektur Kyoto-

Tepat di atap sebuah kuil, salah satu dari ratusan kuil bersejarah yang tersebar di Perfektu Kyoto, yang letaknya cukup jauh di pinggiran kota, beberapa orang sedang memasang posisi waspada. Aaahh tidak,,, tapi mereka sedang mengamati apa yang mereka lihat dari sana. Tiga gadis bersama satu orang pemuda, tim kecil yang dikumpulkan oleh Sona Sitri.

Sona yang sedikit jengah karena tak ada obrolan, mulai buka suara, "Hei,,, Naruto-san, Hinata-san. Kurasa akan lebih baik jika kalian serius. Tidak perlu bertindak terlalu hati-hati untuk menjaga apa yang pernah kita sepakati, aku bukan atasan sekarang kalian karena tidak ada yang melihat kita saat ini. Bertindak saja sesuka kalian"

Sona yang mencari topik obrolan, tidak seperti sikap dia yang biasanya lebih pasif.

"Tanpa kau bilang pun, aku sudah tahu, Sona-san" Hinata lah yang menjawab.

"Showdown sebentar lagi dimulai, aku sudah merasakan hawa keberadaan orang-orang asing di kota ini yang terpusat di Istana Nijou" Naruto sudah memasuki Sennin Mode sejak setengah jam yang lalu, mudah saja dia merasakan hawa keberadaan orang lain.

"Jadi kita hanya akan berdiam disini saja, Kaichou?" Tsubaki tidak ingin ketinggalan obrolan.

"Kalau mengingat apa yang sudah Hero Faction perbuat tadi siang, aku yakin mereka tidak akan mengacaukan Kyoto, tapi menggunakan Dimension Lost. Mereka pasti akan mentransfer paksa Tim Gremory ke dimensi buatan alternatif yang direkonstruksi seperti Kyoto asli" kata Sona, lalu dia melirik Hinata dari ekor matanya, "Bagaimana menurutmu, Hinata-san?"

"Mungkin iya. Dimension Lost memiliki kemampuan itu, membawa targetnya ke dimensi yang disegel khusus dan dikurung disana. Yang didalam tidak akan bisa keluar, dan yang diluar tidak akan bisa masuk"

"Kita tidak akan bisa apa-apa jika itu terjadi. Bagaimana dengan tugas dari Azazel sensei untuk mengamati kelompok Hero Faction, Kaichou?"

"Tak masalah. Aku sudah punya persiapan untuk mengatasinya" Hinata yang menjawab pertanyaan dari Tsubaki.

"Heeeiii,,,, bisa kah kalian tidak mengobrolkan sesuatu yang kurang aku pahami?" Naruto menginterupsi, "Hawa keberadaan asing tadi sudah hilang. Tim garis depan yang dikirim Azazel sensei, para budak Gremory, Irina dan Saji juga sudah hilang sejak tadi dibawa kabut Dimension Lost"

"Gz,,,, kenapa kau tidak bilang dari tadi hah?" Sona bicara dengan dahi berkedut kesal. Bukan kesal karena kedatangan musuh, tapi karena keterlambatan Naruto memberitahu hal penting.

"Habisnya kalian terlalu asik dengan obrolan kalian sih"

"Kaichou,,,?" Tsubaki jadi heran, kenapa Sona maupun Hinata bisa setenang ini, padahal apa yang seharusnya mereka amati sudah lenyap, tidak ada yang bisa dilakukan lagi kalau begini. Naruto pun tampak acuh tak acuh.

Sona tidak terlalu menghiraukan panggilan wakilnya, namun malah menyeringai senang. "Sepertinya perkiraanmu tepat 100%, Hinata-san"

"Ummm,,,"

"Kaichou, tolong jangan buat aku bingung..." Tsubaki tampak frustasi karena hanya dia seorang yang tidak tahu apa-apa disini.

"Apa yang diucapkan Cao Cao tentang eksperimen adalah undangan untuk kita semua, dan sebagai tamu undangan tentunya akan disambut dengan meriah. Musuh sepertinya telah merencanakan semuanya dengan sangat matang, aku yakin Cao Cao adalah tipe musuh yang selalu memperhitungkan segalanya dan dia bukan orang yang meremehkan lawannya meskipun lawannya lemah dan tidak punya bakat. Tim Gremory dan yang lainnya dijemput oleh musuh, karena mereka ingin eksperimennya jadi bahan tontonan dan panggung raksasa replika Kyoto untuk semua itu sudah disiapkan. Mereka yakin kalau tim garis depan kita tak akan sanggup menggagalkan rencana mereka, jadinya mereka sengaja mengundang, bukannya malah melakukan eksperimen sembunyi-sembunyi. Hanya saja, kita masih belum tahu apa alasan Cao Cao membutuhkan penonton untuk pertunjukannya"

"Lalu?"

"Intinya Tsubaki, tugas yang diperintahkan Azazel sensei pada kita sudah selesai. Kita akan melaporkan bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak menemukan hasil apapun karena objek yang harusnya kita amati sudah ditransfer kedimensi lain yang tidak bisa kita jangkau. Tapi,,,,,,"

"...?"

"Mulai saat ini, kita akan bertindak untuk kita sendiri, Tsubaki" kata Sona mantap, "Iya kan, Hinata-san?"

"Ya"

"Kaichou,,,," Tsubaki memberengut karena sama tidak mengerti jalan pikiran King-nya. Semenjak Sona berurusan dengan Hinata dan Naruto, Tsubaki seolah tidak bisa lagi berpijak di dunia pemikiran Sona.

"Tsubaki-san,,, jangan kesal begitu. Aku juga tidak terlalu mengerti apa yang diinginkan Hinata dan Kaichou-mu, lebih baik kau seperti aku saja yang hanya ikut arus" kata Naruto menasehati.

"Hn..." hanya dengusan yang keluar dari hidung Tsubaki.

"Sebaiknya kau berterima kasih pada Naruto-san dan Hinata-san, Tsubaki. Berkat dia aku menyadari kalau Azazel sensei tidak sebaik yang kita kira. Apa yang gagak tua itu ucapkan selalu untuk keuntungannya sendiri. Kau tentu ingat tadi kami bertiga mengorbol lama di kamar hotel"

Tsubaki mengangguk, "Jadi apa yang sebenarnya, Kaichou?"

"Rencana yang dibuat Azazel sensei, kemungkinan besar memiliki kepentingan tersembunyi. Aku, Naruto-san dan Hinata-san sama sekali tidak tahu menahu konspirasi apa yang ada didalamnya, namun kami meyakini bahwa itu bukanlah suatu hal yang baik. Azazel sensei pasti sudah sejak awal menyadari kalau kejadiannya akan seperti ini, semua orang yang terlibat akan ditransfer secara paksa, karena itu lah dia menyusun strategi yang menguntungkannya"

Tsubaki diam saja mendengarkan apa yang diucapan King-nya. Sona melanjutkan lagi,

"Tim Gremory diterjunkan ke garis depan dengan tujuan untuk mengekspolitasi semua potensi yang dimiliki tim itu, terlebih Sekiryutei yang merupakan wujud dari banyak kemungkinan dan terus berkembang menjadi lebih kuat. Dia ingin tim Gremory tumbuh menjadi tim paling tangguh dengan cara diterjunkan langsung dalam situasi hidup-mati. Sudah berulang kali dia menggunakan Tim Gremory dalam pertempuran garis depan. Bahkan Saji juga dia ikutkan bersama Tim Gremory karena dia menyadari banyak potensi dari Saji. Budak-budakku yang ditempatkan di Stasiun Kyoto hanyalah pelengkap saja dengan tugas membasmi pasukan musuh level bawah, dengan begitu tim garis depan bisa bertarung serius melawan BigBoss,murni dengan kekuatan mereka sendiri. Azazel sensei dan Serafall Onee-sama bahkan tidak ikut dalam panggung, padahal masalah yang dibuat Hero Faction dari organisasi teroris Khaos Brigade adalah urusan orang dewasa seperti mereka, bukan urusan yang harus diselesaikan anak-anak macam Tim Gremory. Sedangkan alasan kita disini adalah,,,, karena Azazel sensei ingin menyingkirkan kita..."

" . . . . . " Tsubaki terperangah dengan kata-kata Kaichou-nya yang diluar dugaan.

"Azazel sensei memang tahu kalau tugas mengamati detail peristiwa sangat cocok untuk kita, terlebih dengan kemampuan Naruto-san dan Hinata-san. Tapi itu tidak akan berguna jika musuh mentransfer paksa penonton dan membuat panggung permainan sangat jauh dari sini. Musuh maupun tim yang sudah ditransfer menggunakan Dimension Lost tidak akan mungkin bisa kita kejar. Jadi, sejak awal, tugas yang dibebankan pada kita berempat hanyalah tugas mengada-ada yang dibuat-buat sendiri oleh Azazel sensei. Lagipula kalaupun dia ingin mengikut sertakan kita dalam rencana, hal itu tidak akan dibiarkan Onee-sama. Kakakku yang siscon itu tidak mungkin membiarkan aku masuk kedalam bahaya. Karena Onee-sama ada disana saat penyusunan strategi, makanya Azazel sensei tidak bisa melakukan itu"

"Tapi,,,," Tsubaki masih tampak ragu.

"Karena itu lah, aku dan Hinata-san merencanakan sesuatu. Kita berdiri disini pun ada alasannya. Ini adalah titik paling aman dari jangkauan musuh. Posisi kita lumayan jauh dari Istana Nijou yang merupakan panggung utama, jadi aku yakin kita tidak akan terdeteksi musuh dan tidak akan ikut ditransfer. Sebenarnya ini hal merepotkan, Hinata-san juga berpikiran seperti itu. Tapi mengetahui kalau ada suatu maksud tertentu dibalik semua ini, aku jadi penasaran."

"Pasti akan ada hal menarik yang akan terjadi, mumpung kita disini, kenapa kita tidak ikut saja?" sambung Hinata.

"Ya. Kita tidak akan ikut berpartisipasi, hanya mengamati saja, pasti seru. Kita sudah dipermainkan oleh Azazel sensei, jadi sekalian saja kita ikuti permainan ini dengan cara kita." lanjut Sona lagi

"Apa kalian berdua yakin, Azazel sensei sepicik itu?" tanya Tsubaki.

"Apa perlu kita buktikan sendiri?" tanya Sona sarkastik.

Naruto tampak jengah, malas sekali mendengar betapa liciknya Sona, bahkan istrinya juga ikut-ikutan. Bagaimana mulut dua perempuan licik itu menarik Tsubaki masuk dalam wilayah mereka, membuat Naruto pusing.

Hinata menatap Tsubaki, meyakinkan wanita berambut hitam panjang itu untuk percaya, "Tsubaki-san. Percaya lah!, ini memang pemikiran skeptis dan negatif terhadap strategi yang direncanakan Azazel sensei. Namun hal ini ada yang mendasarinya. Naruto-kun lah yang pertama kali menyadarinya, yaaah harus diakui kalau dia itu orang yang paling tidak peka, apa lagi dahulu,"

Naruto yang mendengarnya merasa tersindir, apa Hinata memang berniat menyinggung masa lalunya yang tidak peka akan perasaan Hinata? Syukur saja Sona dan Tsubaki tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya.

"Tapi kalau menyangkut keinginan dan niat orang lain, dia jagonya untuk menangkap itu. Akhirnya setelah aku dan Sona-san memikirkan semua kemungkinan dan motif yang ada, kesimpulan itulah yang kami dapat." lanjut Hinata.

Naruto akhirnya ikut bicara,

"Aku bukan orang yang pandai berpikir, tapi aku bisa membedakan orang baik dan buruk. Kau jangan terlalu naif, Tsubaki-san!. Menurutku, Azazel sensei itu tidak jauh berbeda dengan Cao Cao dari Hero Faction. Dua orang itu memang memiliki tujuan berbeda, tapi mereka sama-sama melakukan eksploitasi pada apapun yang mereka punya. Jika Cao Cao terang-terangan mengeksplotasi para manusia pengguna Sacred Gear sampai diluar batas, maka Azazel sensei melakukannya dengan cara lebih lembut. Grigori, intstitut yang dia pimpin tidak lebih dari baik dari Hero Faction. Institut Grigori yang merupakan lembaga resmi hanyalah kedok untuk meneliti dan melakukan eksploitasi pengguna Sacred Gear, entah apapun tujuannya, yang jelas mereka memang melakukan hal buruk itu. Aku tahu karena aku sudah pernah pergi ke Grigori bersama Sona-san dan Hinata dua minggu lalu"

Melihat Tsubaki yang tampak mulai percaya padanya, Naruto melanjutkan ucapannya lagi.

"Jika Cao Cao menggunakan cuci otak, maka Azazel memberikan tekanan psikologis lalu memasukkan sugesti pada pola pikir objek penelitiannya, hingga mereka rela di eksploitasi, sampai-sampai mau diterjunkan langsung pada situasi hidup dan mati. Vali, Issei, dan Saji, adalah sedikit dari orang yang ku tahu. Vali yang merupakan maniak kekuatan dan Issei si maniak oppai, berhasil Azazel eksploitasi dengan memanfaatkan keinginan terdalam dari sepasang rival itu. Kau masih ingat kan saat Issei hampir kalah melawan Vali di Akademi Kuoh? Saat itu Azazel dengan mudahnya memanipulasi pikiran Issei hanya berbekal bujukan tentang 'oppai', hingga Issei berhasil meningkatkan kekuatan balance breakernya. Itu satu contoh nyata yang aku ingat, Tsubaki-san"

Tsubaki langsung mengerti, entah kenapa dia merasa Naruto selalu bisa membuat orang lain dengan mudah untuk percaya. Seakan Naruto itu punya daya magnetis kuat agar orang lain percaya dan menaruh harapan padanya, semua orang tanpa terkecuali siapapun itu. Tidak seperti Rias yang hanya mengumpulkan orang-orang kuat saja. Berbeda lagi dengan Hinata bahkan Kaichou-nya sendiri, walau dua wanita itu sudah menjelaskan secara gamblang dan panjang lebar, tapi tetap saja sulit untuk percaya. Mungkin inilah perbedaan nyata ucapan yang keluar dari mulut orang baik dan orang pintar.

"Baiklah, aku paham. Jadi apa rencana kalian bertiga?" tanya Tsubaki

Sona menjawab, "Tidak muluk-muluk. Kita hanya akan ikut ke dimensi buatan yang diciptakan dengan Dimension Lost. Mengamati apa saja yang ada disana. Kalau ada hal menarik, baru kita melibatkan diri. Ini seperti memecahkan misteri, jadi perhatianku tertuju kesana, sama seperti yang dipikirkan Hinata-san. Iya kan?"

"Tepat sekali,,, aku juga tertarik di bagian itu" bagi Hinata, terlibat disini berarti terlibat lebih jauh didalam urusan makhluk supranatural. Itu lah yang dia inginkan, untuk kepentingan misi besarnya bersama Naruto. Hal ini sudah ia bicarakan berdua dengan Naruto, dan suaminya itu setuju untuk mengikuti semua rencana yang telah disusunnya.

"Hmmm,, aku akan coba percaya. Tapi bagaimana caranya kita kesana, Kaichou?"

"Bagus, tim kecil ini sudah punya pemikiran yang sama" Bagi Sona, Tsubaki harus sepemikiran dengannya untuk rencana ini, tidak cukup hanya dengan jadi budak penurut saja.

"Caranyaaa..." Sona menatap kearah Hinata, "Bagaimana dengan persiapan yang kau janjikan?"

"Sudah selesai"

"Baiklah, ayo kita mulai"

"Naruto-kun!"

BooppfftBooppfftBooppfftBooppfft

Tercipta empat kloning, tiga diantaranya memakai henge sesuai dengan orang-orang yang ada dalam tim kecil ini.

Naruto sudah tahu detail rencananya, dia membuat klon lalu merubah penampilannya tepat menjadi empat orang tim kecil ini. Sebagai bukti kalau mereka berempat masih ada di Kyoto, dan tidak kemana-mana.

Hinata menengadahkan telapak tangannya, muncul benda seperti rubik berwarna silver metalic dengan aksara unik di setiap sisinya.

"Itu kah yang namanya Cube, Hinata-san?" Sona yang baru pertama kali melihat, dibuat takjub pada benda berbentuk kubus itu. Walau Hinata sudah pernah beberapa kali menyebutkan tentang Cube padanya, tapi belum pernah sekalipun ia lihat langsung.

"Ummm. Aku sudah men-setting alat ini. Berkat informasi yang kau berikan tentang pemetaan seluruh tempat di dunia ini, aku berhasil memetakan semua koordinat lokasi di Bumi, Underworld, Heaven, dan berbagai tempat Mitologis lainnya hingga Dimensional Gap. Tempat dimana Tim Gremory di transfer sudah ku temukan"

Tsubaki paham, jadi dengan Cube itu lah mereka pergi ke panggung permainan, menjadi penonton tak diundang.

"Kita aman, aku tidak merasakan adanya orang lain disekitar sini. Kita bisa pergi sekarang" kata Naruto setelah merasakan tidak ada orang lain didekat mereka dengan mode sensornya.

Dengan itu, tim kecil tadi berangkat ke tempat tujuan, menyisakan bunshin-bunshin Naruto yang menyamar agar tidak ada orang yang menyadari kalau mereka berempat melakukan sesuatu di luar rencana Azazel.

Cube dengan setting baru bisa sangat berguna, dimanapun sesuatu berada, asal bisa dilacak dan koordinatnya terpetakan, maka tidak akan ada yang bisa bersembunyi dari benda itu.

.

.

.

-Dimensi Buatan, Replika Kyoto-

Pengguna Dimension Lost saat ini, Georg, sudah sampai pada level dimana dia mampu merakit ulang, merekonstruksi replika sebuah tempat yang luasnya sama dengan satu kota besar. Ini bahkan lebih luas dimensinya daripada arena yang umum digunakan untuk rating game. Dan sekarang, Kyoto secara keseluruhan telah di buat replikanya. Istanan Nijou adalah pusatnya, tempat-tempat lain seperti Stasiun Kyoto, Istana Imperial Kyoto, dan bermacam spot-spot penting semuanya lengkap persis seperti aslinya, bahkan dengan jalanan dan pepohonan Kyoto juga tidak tertinggal satu pun.

Budak-budak Gremory serta Irina dan Saji ditambah Kunou sudah berada didalam dimensi buatan itu. Sudah diduga sebelumnya. Mereka disambut hangat, maksudnya disambut oleh para manusia pengguna Sacred Gear, walaupun lemah tapi sudah mencapai Balance Breaker. Namun itu bukan lah masalah bagi mereka, semuanya bisa dihadapi dengan mudah. Dan sekarang kedelapan orang itu sudah berkumpul di Istana Nijou, disambut oleh Cao Cao dan komplotannya.

Issei serta yang lain benar-benar dikurung didalam dimensi buatan. Tidak hanya terkurung, tapi juga terputus komunikasi dengan dunia luar. Tadi Kiba beberapa kali menghubungi Azazel namun tidak tersambung. Rossweisse mengatakan kalau dimensi ini mungkin dilengkapi mantra atau perisai spesial yang mencegah saluran komunikasi keluar masuk.

Dua botol air mata phoenix yang dibekali Azazel pada tim garis depan ini masih lengkap. Satu dipegang Issei dan satunya lagi ada pada Kiba.

"Ternyata kalian sudah mengalahkan para assasin pengguna Balance Breaker. Meski mereka hanya dihitung sebagai pengguna Sacred Gear kelas rendah atau menengah, mereka tetap saja memiliki Balance Breaker. Cukup mengejutkan kalian bisa mengalahkan mereka semua"

Cao Cao bersama komplotan Hero Faction yang lain, berdiri lengkap tidak jauh dari tempat berkumpulnya Issei dan kawan-kawan. Mereka semua sekarang ada di taman yang terletak didalam Istana Nijou.

"Ibu!"

Kunou berteriak, tatapannya mengarah pada seorang wanita dewasa cantik yang mengenakan kimono, berdiri diantara para anggota Hero Faction. Wanita itu punya telinga rubah dikepalanya, dan ada banyak ekor berbulu lembut yang melambai-lambai dibelakangnya. Wanita cantik itu, Kyubi si pemimpin kaum youkai Kyoto, Yasaka-hime.

"Ibu! Ini aku, Kunou! Tolong bangunlah!"

Tapi tak peduli seperti apapun Kunou berteriak, Yasaka masih tak merespon. Wajah Yasaka sama sekali tanpa ekspresi, sorot matanya memancarkan kegelapan.

Kunou dengan marah meneriaki Cao Cao dan kelompoknya. "Tak bisa dimaafkan. Kalian semua, Apa yang kalian sudah lakukan pada ibuku?"

"Bukankah sudah kuberitahu? Kami sekarang sedang bekerjasama dengan ibumu untuk eksperimen, Putri kecil."

Setelah mengatakan itu, Cao Cao mengetuk ngetuk tanah dengan tombaknya. Dalam sekejap,,,

"AARRRRHH. . . . . ."

Yasaka berteriak kencang dengan ringisan kesakitan, dan penampilannya mulai berubah dramatis. Tubuhnya mulai bersinar dan sosoknya perlahan berubah, membesar secara simultan, dan kesembilan ekornya juga turut memanjang.

"Roooooarrrr . . . . .!"

Raungan hewan emas raksasa menggema sepanjang langit malam replika Kyoto. Monster rubah raksasa telah bangkit, tingginya mencapai puluhan meter, dan penampilannya sangat menawan. Itulah sosok asli Yasaka-hime, pemimpin para youkai.

Tapi tak peduli bagaimanapun keadaanya sekarang, kedua mata rubah raksasa itu tak menampakkan emosi sama sekali. Yasaka-hime pasti sedang dikendalikan.

Issei bertanya dengan nada keras. "Cao Cao, membuat replika Kyoto dan mengendalikan pemimpin Kyuubi, konspirasi macam apa yang kalian rencanakan?"

Cao Cao mengetuk ngetuk gagang tombak ke bahunya dengan santai sambil berbicara. Itulah kebiasaan Cao Cao.

"Eksistensi Kota Kyoto sebenarnya adalah perangkat sihir berskala besar yang dikelilingi oleh tempat-tempat ritual kuat. Sejumlah lokasi yang menjadi pusat pariwisata adalah titik titik kekuatan, menjadi pusat kekuatan spiritual, sihir, dan Iblis. Master Yin Yang kuno (Onmyouji) menempa kota ini menjadi sejenis 'kekuatan raksasa'. Yah, lebih tepatnya karena hal itu, semua macam eksistensi menjadi tertarik pada tempat ini. Dimensi ruang buatan kita saat ini terletak di celah dimensi, yang amat sangat dekat namun juga sangat jauh dari Kyoto di saat yang bersamaan. Seluruh kekuatan spiritual dari Kyoto asli saat ini sedang mengalir kemari. Sebagai level eksistensi terkuat diantara para youkai, rubah ekor sembilan dikatakan selevel dengan Dragon King dari segi kekuatan murni. Hubungan diantara Kyoto dan rubah berekor sembilan juga sangat dekat. Karena itulah rencana kami harus dilangsungkan di tempat ini."

Menghela nafas, Cao Cao melanjutkan dengan kata-kata mengejutkan.

"Menggunakan Kyoto dan kekuatan rubah ekor sembilan, rencana kami adalah memanggil Great Red ke tempat ini. Umumnya untuk memanggil Great Red memerlukan gerbang Naga serta sejumlah Dragon King, namun mengumpulkan mereka semua secara alami akan mustahil bahkan bagi Tuhan dan Buddha, jadi Kyoto dan kekuatan Kyuubi bisa menjadi penggantinya."

"Great Red? Kenapa kau ingin memanggil naga raksasa itu? Makhluk itu, yang dia inginkan hanyalah berenang dan terbang bebas di celah dimensi, dia tak berbahaya bagi semua orang kan?"

"Benar, naga itu secara alami tak berbahaya, namun bagi boss kami eksistensinya adalah rintangan yang membuat dia tak bisa kembali ke kampung halamannya."

"Ophis?"

"Benar. Ternyata kalian cukup tahu tentang identitas bos kami"

"Jadi kalian mau memanggil Great Red dan membunuhnya?"

Cao Cao menggeleng kepalanya karena pertanyaan Issei, "Yah, mungkin kami takkan berbuat sejauh itu. Yang jelas, kami akan menangkapnya lebih dulu sebelum kami memutuskan harus berbuat apa. Ada begitu banyak misteri dengan eksistensinya, dan ada banyak hal yang bisa dipelajari. Misalnya, efek apa yang akan terjadi jika Pemakan Naga digunakan pada The True Apocalypse Dragon Great Red. Tak peduli apa pun nanti, saat ini kami hanya bereksperimen untuk melihat apakah kami bisa memanggil eksistensi kuat itu"

"Aku tak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku yakin hal buruk akan terjadi setelah kau menangkap naga raksasa itu. Jadi, kembalikan pemimpin Kyuubi pada kami".

Baru saja Issei selesai dengan ucapannya, Xenovia sudah mengacungkan pedangnya pada Cao Cao. Durandal bersarung, sejumlah bagian dari sarungnya mulai bergerak dan bertransformasi. Dengan disertai suara keras, beberapa bagian Durandal bergerak dari sarungnya dan mulai melepaskan aura suci dalam jumlah besar. Aura itu menutupi seluruh panjang pedang membentuk menjadi perpanjangan bilah pedang. Inilah Durandal yang baru saja diperbarui oleh Gereja Vatican.

"Seperti kata Issei, kejahatanmu sangat nyata, kalian akan membawa bencana pada kami dan orang orang disekitar kami. Melenyapkan kalian semua disini, adalah solusi terbaik"

Tim Gremory mengangguk dan setuju dengan pernyataan perang Xenovia.

Saji berbicara sambil mendesah. "Baiklah, toh ini untuk semua orang di sekolah dan teman temanku."

Banyak ular-ular yang hitam muncul dari lengan, kaki, dan bahu Saji hingga menyelimuti seluruh permukaan tubuhnya. Usai seluruh tubuhnya tertutup sempurna oleh ular-ular hitam, ular hitam lain berukuran raksasa muncul di samping Saji dan membentuk kumparan, seluruh tubuhnya memancarkan api hitam. Mata kiri Saji berubah merah dan mirip dengan mata ular.

"...Vritra, hari ini kita akan bertarung sepuas hati kita."

Disertai gumaman Saji, api hitam besar muncul di sekelilingnya.

Kemudian ular besar mulai berbicara dengan suara berat, "Ah sosok lainku. Dimana mangsanya? Apa tombak suci itu? Atau rubah yang disana? Yang manapun tak masalah. Sudah lama sekali sejak aku terakhir muncul. Aku merasa sangat baik sekarang untuk bertarung. Bagaimana kalau begini, tak peduli siapa, biar aku memangsa semuanya dalam api hitam ku?"

Swoooosh!

Baru saja Dragon King Vritra selesai dengan ucapannya, Xenovia mengayunkan Durandal baru miliknya, aura suci tipis yang sangat kuat sepanjang 15 meter dihasilkan dari sana.

"Menyerang lebih dulu dan akhiri pertarungan. Rasakanlah pedangku, heyaaaaa...!"

Xenovia berteriak dan menghantamkan pedang raksasa cahaya suci miliknya, hingga ledakan energi dalam jumlah besar jatuh ke arah Hero Faction.

Crash. . . .

Tanah terbelah menjadi dua, dan setelah serangan itu, seluruh area hancur lebur. Serangan aura dahsyat juga menghantam hingga Istana Nijou dan bahkan menghancurkan banyak bangunan diluar dan jalan-jalan yang jauh disana, tanpa menyisakan apa apa

"Huuuhhh..." Xenovia menarik nafas panjang dan menyeka keringat di dahinya dengan tangannya. Durandal kembali ke kondisi tersarungnya. Dia lalu menepuk-nepuk Durandal barunya, "Durandal baru ini adalah hasil penggabungan dengan Excalibur memakai alchemy."

Irina maju menjelaskan, "Pada dasarnya, mereka memakai semua keping Excalibur yang dimiliki oleh Gereja untuk menciptakan sarung yang menutupi bilah pedang Durandal. Kekuatan Excalibur membuat aura ofensif Durandal bisa ditekan. Untuk tambahan, kekuatan Excalibur bisa menyerang di saat yang sama dengan Durandal, membuat kekuatan mereka beresonansi satu sama lain sehingga menghasilkan kekuatan penghancur yang jauh lebih besar!"

Pihak Gereja menyatukan Excaibur dan Durandal menjadi satu pedang suci.

Xenovia mengangkat pedangnya dan bergumam pada dirinya sendiri, "Ex-Durandal. Ini nama baru yang kuberikan untuk pedang ini."

Brruuaghhh... Dhuaarrr..

Bongkahan tanah besar diangkat dan dilempar hingga jatuh ditempat yang jauh. Dari sana muncul para anggota Hero Faction, mereka yang diselimuti dalam kabut tipis.

Cao Cao menggosok dagunya dan tertawa. "Ahahahaaa, sama sekali tidak buruk. Kalau begitu, mari kita mulai eksperimen ini."

Cao Cao mengetuk tanah dengan tombaknya, sosok rakasasa dari Yasaka bersinar terang. "Georg, fokuskan kekuatan pada saluran energi kyubi dan persiapkan pemanggilan Great Red!"

"Aku mengerti..."

Georg mengacungkan tangannya, membuat lingkaran sihir yang tak terhitung di sekitarnya. Angka-angka dan aksara aksara sihir mulai berputar dengan cepat di dalam lingkaran.

Groar...!

Pupil mata Yasaka melebar, matanya memancarkan cahaya berbahaya dan bulu emas diseluruh tubuhnya berdiri.

Dengan tenang Georg berkata, "Lingkaran sihir dan pengorbanan untuk memanggil Great Red sudah siap. Langkah berikutnya adalah melihat apakah Great Red tertarik pada kekuatan kota ini. Beruntungnya, kita juga memiliki Dragon King dan Naga Langit sebagai umpan disini. Maaf Cao Cao, aku akan disibukkan dengan pengoperasian lingkaran sihir, jadi aku tak bisa ikut bertarung."

Cao Cao mengibaskan tangannya pada si penyihir tanda memahami. "Tak masalah. Annihilation Maker Leonardo dan yang lain tengah menghadapi pasukan aliansi diluar sana, jadiiiiii,,, Jeanne, Heracles."

"Ya"

Sebagai respon panggilan Cao Cao, gadis bule pirang berpedang ramping dan lelaki berbadan besar melangkah kedepan.

"Dua orang ini adalah pewaris kehendak dan semangat dari Pahlawan Jeanne d'Arc dan Heracles. Siegfried, siapa yang ingin kau lawan?"

Merespon pertanyaan Cao Cao, Siegfried mencabut pedangnya dan mengacungkan ujung runcing pedangnya kearah Kiba dan Xenovia.

"Kalau begitu, akan kuurus si Malaikat. Dia kelihatan manis." kata Jeanne sambil tertawa santai.

"Ya sudah. Aku mengurus si wanita berambut perak itu saja."

Mereka semua bertukar pandangan. Kiba dan Xenovia vs Siegfried, Irina vs Jeanne, dan Rossweisse vs Heracles.

"Berarti tinggal Sekiryuutei tersisa untukku. Bagaimana dengan Vritra disana?" kata Cao Cao sambil menatap Saji.

Saji memperkuat apinya kearah Cao Cao, namun Issei menghalangi langkah Saji.

"Saji, lawanmu adalah Kyuubi. Temukan cara untuk melepaskannya"

"Jadi aku mendapat pertarungan antar monster kan, Hyudou?" tanya Saji, memastikan perannya.

"Hn"

. . .

"Sungguh, ini semua benar-benar sama persis dengan Kyoto yang asli, bahkan luasnya sama dengan luas seisi Kota Kyoto. Detail kecil seperti tiang lampu jalan dan tempat sampah pun tidak tertinggal satupun" Tsubaki bergumam, memuji kehebatan si pengguna Dimension Lost.

Sekarang Sona, Tsubaki, Naruto, dan Hinata telah sampai di panggung eksperimen buatan Cao Cao. Tidak perlu waktu lama bagi Hinata untuk memindahkan dirinya dan tiga orang lain ke tempat ini dengan Cube, bahkan tidak perlu banyak chakra untuk mengoperasikan Cube karena perpindahannya didalam satu universe. Yang lama ialah memetakan dan melacak dimana koordinat posisi dimensi buatan ini, makanya setelah tim garis depan ditransfer paksa, butuh waktu beberapa menit bagi Hinata untuk menemukannya, seraya mereka mengobrol panjang membujuk Tsubaki tadi.

"Ya. Anggota Hero Faction memang diisi oleh para pengguna Sacred Gear yang hebat"

Berbanding terbalik dengan ekspresi santai yang ditampilkan oleh tiga perempuan disana, si laki-laki, Naruto, malah memasang ekspresi serius.

"Hei kalian, dengarkan aku...!"

Semuanya menoleh kearah Naruto.

"Aku merasakan ada orang lain yang menonton panggung pertunjukan ini selain kita"

"Dimana, Naruto-san?" tanya Sona.

"Tidak disini, dia ada didimensinya sendiri yang dekat dan jauh secara bersamaan dari sini, bagaikan dia menonton dari balik cermin. Prinsipnya sama seperti dimensi buatan ini dengan Kyoto asli. Aku merasakannya sesaat sebelum tubuh kita sampai di tempat ini" Naruto mengalihkan pandangannya pada istrinya, "Hinata, Gunakan Cube-mu sekali lagi, scan lokasi yang dimensi ruangnya tumpang tindih disekitar sini!"

"Ha'i, Naruto-kun"

Dengan perintah itu, Hinata langsung fokus melakukan tugasnya, kembali mengutak-atik Cube. Sedangkan Sona dan Tsubaki, diam menurut. Bagi Sona, saat ini adalah saat Naruto pertama kali menunjukkan sisi kepemimpinannya, kalau situasi begini, berarti ada hal yang tidak bagus. Dan seperti perkiraannya sejak awal, ternyata dibalik insiden ini, ada konspirasi lain yang menempatkan kepentingannya diatas aksi Cao Cao menculik Yasaka. Tidak sia-sia mereka berempat kesini, padahal baru sampai tapi sudah disuguhi masalah pelik.

Sementara menunggu Hinata melakukan pemindaian mencari keberadaan penonton asing selain mereka, Naruto menatap ke tempat dimana terjadi pertarungan mati-matian bagi Tim Gremory.

"Hoii,,, Bocah. Kau ingin bertanya sesuatu padaku?"

Naruto mendengar suara berat Kurama dari alam bawah sadarnya. Sebenarnya memang ada hal yang ingin ia tanyakan sejak awal tiba didimensi buatan dan melihat pertarungan, tapi karena ia merasakan keberadaan penonton lain yang lebih prioritas, pertanyaan itu ia urungkan dahulu. Pertanyaan untuk sesuatu yang cukup membuat ia terkejut, Hinata pun tampak sama terkejutnya tadi.

Hal yang membuat Naruto terkejut dan bingung adalah keberadaan suatu eksistensi yang bentuk dan ukurannya sangat mirip dengan Kurama, Naruto yakin itu adalah Yasaka, Si Kyubi pemimpin kaum youkai Kyoto yang diculik dan dikendalikan paksa oleh Cao Cao.

"Dia sangat berbeda denganku, bocah. Jangan samakan aku dengan dia hanya karena wujud asli kami sangat mirip"

Kurama berujar dengan lantang, sedangkan bijuu-bijuu lain yang ada disana memilih tidak ikut campur, lebih menyenangkan bagi mereka bermain di habitat masing-masing. Saat ini, suasana alam bawah sadar Naruto tidak seperti kerangkeng yang berair, tapi alam bebas yang sangat luas. Isobu sedang berenang di danau, Son Goku sedang bergelantungan di pohon, Gyuki bermain lumpur, Chomei sedang terbang kesana kemari, dan macam-macam tingkah aneh lainnya, bahkan si Matatabi bijuu berekor dua, sedang bermain bola benang layaknya anak kucing lincah yang baru bisa bermain.

Kyubi sang bijuu dari dunia Shinobi berbeda jauh dengan Kyubi dari ras youkai. Hanya bentuk dan wujudnya saja yang sama. Asal mula penciptaan, sistem hidup, habitat, dan sumber energi antara Kurama dan Yasaka jelas sangat berbeda jauh. Satu yang pasti, Yasaka bisa punya anak, sedangkan bijuu tidak punya sistem perkembangbiakan, alias tidak memiliki kelamin. Pokoknya, tidak ada sangkut pautnya antara Kurama dan Yasaka, jadi tidak usah dihubung-hubungkan.

"Iyaaa ah, jangan bawel Kurama-chan, aku kan hanya terkejut saja"

"Jangan panggil aku dengan nama itu, atau kepalamu kepenggal hah..."

"Oke,,, Kuu-chan" kata Naruto dengan cengiran mengejek.

Dhuuuarrrr...

Tempat Naruto berdiri langsung berlubang karena tembakan bijuudama kecil dari Kurama, ia benar-benar marah karena panggilan menjijikan itu disematkan padanya. Untung ini hanya alam bawah sadar, jadi belum sampai 10 detik sudah kembali seperti semula.

Sedangkan delapan biju lain, masih anteng dengan kegiatan masing-masing, tidak mempedulikan pertengkaran Naruto dengan Kurama.

Naruto mendarat mulus dan duduk dikepala Kurama.

"Lagipula kyubi yang disana itu, gendernya betina"

"Aku tidak bertanya jenis kelaminnya,,," tiba-tiba senyum aneh muncul dibibir Naruto, "Oooooo ehehehheee.. Kau tertarik padanya, Kurama?"

"Gzzz, baka-gaki. Aku dan bijuu-bijuu lainnya tidak memiliki ketertarikan seksual. Kami di ciptakan Rikudou Sennin tanpa nafsu jenis itu. Intinya aku ini tidak sepertimu yang hampir tiap malam bergumul dengan istrimu setiap ada kesempatan setelah tahu ada yang namanya alat kontrasepsi pencegah kehamilan. Kalian berdua suami istri yang sangat mesum, lebih mesum daripada saat aku tinggal didalam tubuh Kushina ataupun Mito. Aku jadi bosan melihat kalian yang selalu berusaha saling mendominasi diatas ranjang dari sini. Apa hebatnya coba, menjadi yang mendominasi? Sampaikan juga keluhanku ini pada Hinata"

"Ohh,, maafkan aku dan istriku yang tidak bisa menahan diri ini, Kurama-sama. Wajar saja kan, kami ini sepasang pengantin baru. Muehheheheee..."

"Cuih,,, Kau dan istrimu sama-sama tidak bisa menahan diri tahu. Aku sampai tidak habis pikir. Kalian berdua sengaja membolos ke ruang UKS atau gudang alat olahraga di Kuoh Gakuen saat jam pelajaran untuk mencari tempat bergumul, pergi ke tempat-tempat dengan pemandangan indah yang jauh dari pemukiman penduduk hanya untuk merasakan sensasi seks di alam terbuka, lalu mencoba cara BDSM, bahkan kalian sempat-sempatnya mojok di atap sekolah di sela tandon air hanya untuk seks kilat saat istirahat jam makan siang. Dasar tak tahu malu!, kalian berdua sungguh tak ada bedanya dengan maniak seks"

"Kau tidak akan bisa mengerti hasrat manusia, Kurama. Bhuahahahahaaaa" Bukannya malu, Naruto malah tertawa bangga dijuluki Kurama seperti itu.

"Gh..."

Naruto semakin menyamankan diri di kepala Kurama yang berbulu lebat dan halus.

Walau mata terpejam, Kurama tersenyum menyeringai, "Naruto,,, coba kau perhatikan kyubi yang disana lebih teliti, aku yakin kau pasti menemukan hal yang sangat menarik!"

Setelah mendengar perintah Kurama, Naruto kembali ke realita. Dia memakai sedikit kekuatan Kurama dan mengaktifkan mode kyubi. Tubuhnya bersinar terang, tidak berjubah dan tidak ada penebalan garis tanda lahir dipipinya. Dalam mode itu, dia bisa merasakan niat dari dalam hati orang lain.

"Awasss..."

Teriakan Tsubaki seiring dengan datangnya tembakan nyasar Dragon Shoot Issei. Ahh, ini memang kesialan, selalu saja mereka kena serangan nyasar. Saat pertemuan petinggi tiga fraksi di Akademi Kuoh ataupun saat melawan Loki juga kena serangan nyasar.

Dhuuarrrr...

Tempat dimana empat orang tadi berdiri sudah hancur lebur karena dragon shoot berkekuatan penuh dari Issei yang nyasar kemari.

tap...

Di atap sebuah bangunan yang masih berdiri kokoh, Naruto mendarat sempurna sambil menggendong seorang gadis, dengan mode kyubi, dia bisa bergerak secepat kilat.

"Naruto-san, apa tidak ada posisi lain untuk menyelamatkan ku selain posisi ini?"

Sona berkata pada dengan wajah memerah malu, dia sekarang sedang digendong Naruto ala bridal. Tubuhnya bereaksi tidak wajar, yang hanya akan ia alami jika terlalu dekat dengan Naruto, efeknya seperti orang yang terkena peningkatan jumlah hormon seksual. Reaksinya aneh pikir Sona, tapi bikin ketagihan dan ingin lagi.

"Mana sempat aku memilih posisi saat situasi terjepit seperti tadi. Memangnya kenapa?" kata Naruto setelah dia menurunkan Sona dari gendongannya, memastikan gadis itu berdiri tegak kembali.

"Tidak apa-apa juga sih bagiku,,," Sona memalingkan wajahnya, "Hanya saja,,, kau ini asli kan? Bukan bunshin?"

"Iya, aku yang disini adalah yang asli. Dua bunshinku menyelamatkan Hinata dan Tsubaki. Aku juga tidak sempat membagi tugas karena mepet, jadi kami bertiga secara acak menyelamatkan kalian."

"Ooohhh~~~~"

"Kau ini aneh, memangnya apa bedanya aku asli atau bunshin, yang penting kau selamat kan?"

"Ya beda lah... Huh,,, kau yang laki-laki mana mungkin ngerti perasaan perempuan" sungut Sona.

"Apa sih, dattebayou"

tap,, tap...

Dua bunshin Naruto yang lain mendarat diatap bangunan ini juga, membawa serta Hinata dan Tsubaki.

"Naruto-kun,,, aku sudah menemukan koordinatnya. Apa kau ingin kesana?"

"Tunggu sebentar,,,," Naruto lalu mengamati sosok kyubi Yasaka sekali lagi, dia juga memasang pose berpikir.

Tidak lama kemudian, Naruto terkekeh senang setelah ia menemukan sesuatu yang menurutnya benar-benar menarik. "Khehh,,, ahahahaaa.. Aku mengerti sekarang..."

"Naruto-kun/Naruto-san" tentu saja para perempuan yang ada disana dibuat heran.

"Hinata, gunakan byakuganmu dan lihat baik-baik sosok kyubi yang ada disana" kata Naruto sambil menunjuk kearah Yasaka.

Sparkle,,,,

Hinata mengaktifkan byakugannya,, lalu sesaat kemudian dinonaktifkan kembali. Ia juga tampak sudah mengerti, lalu menatap Naruto dengan tatapan minta kepastian.

Naruto membalasnya dengan anggukan dan tatapan yang mungkin bisa di artikan 'Kakashi-sensei dan teman kita yang lainnya terlibat dalam insiden ini. Jadi ayo kita pastikan rencana mereka berjalan lancar, Hinata!..'

Hinata yang seolah mengerti, langsung mengangguk.

Naruto menatap kearah Sona, "Emm,,, Sona-san. Aku dan Hinata yang akan mengurus penonton lain itu. Kau dan Tsubaki tetap disini"

"Pergi saja. Kalau ku tanya pun, kalian mungkin tidak akan memberitahuku apa yang hendak kalian lakukan, iya kan?, tapi,,,," Sona menggantung ucapannya.

"Aku tidak akan pernah mengingkari kesepakatan yang kita buat. Percayalah padaku, Sona" ucap Naruto dengan wajah serius.

"Baik,,, aku selalu yakin kalau kau orang yang dapat dipercaya, Naruto-san"

"Naruto-kun..."

Naruto memalingkan kepalanya kesisi lain, "Iya, Hinata"

"Kau pergi duluan, aku akan mengirimmu ke koordinat penonton asing itu. Aku ke tempat lain dahulu ingin memeriksa sesuatu. Baru setelah itu aku menyusulmu"

"Hmmm. . . .?"

"Percayalah,,, aku bisa mengurusnya sendiri" kata Hinata meyakinkan suaminya.

"Baiklah..." Naruto mengiyakan tanpa protes.

BopfftBopfft

Naruto membuat dua bunshin. "Bunshinku ini yang memastikan kemananan kalian berdua, Sona-san, Tsubaki-san. Jadi jangan khawatir kenapa-kenapa..!"

"Ya, arigatou" sahut Sona.

Hinata mengeluarkan Cube di telapak tangannya. Naruto mendekat lalu menangkupkan tangannya pada benda berbentuk kubus itu, sekejap kemudian Naruto menghilang setelah tubuhnya terurai menjadi serpihan cahaya berkilau.

Hinata yang masih berdiri diam, merasa tidak enak akan tatapan Sona padanya sejak Naruto pergi.

"Sona-san. Kau sendiri kan yang bilang kalau kami boleh berbuat sesukanya dan tidak perlu bertindak hati-hati?"

"Ya.."

"Naruto-kun hanya pergi untuk mengurus penonton asing itu, tidak lebih"

"Yayayaaaa,,,,, aku bisa percaya pada Naruto-san. Tapi aku tidak bisa sepenuhnya percaya padamu, Hinata-san" kata Sona, menatap serius wajah Hinata.

Senyum manis dibibir Hinata berubah menjadi senyum sinis, "Kheh... Terserah kau saja lah." gaya bicara Hinata, sifat barunya ini hanya akan muncul kepermukaan jika Naruto sudah tidak ada didekatnya. "Oh iya,,, apa kau mau titip salam pada orang yang akan ku temui?"

"Eh?" Sona menaikkan sebelah alisnya, bingung. Apa maksud Hinata?

"Ahaaa,, lupakan ucapanku tadi. Jaa"

Kemudian, Hinata pun hilang dalam serpihan cahaya.

.

.

.

-Unknown Place-

"Ugghhh,, Hinata mengirimku kemana sih? Tempat apa pula ini?" Naruto kebingungan, berada di tempat yang sama sekali tidak ia kenal. Sejauh mata memandang, hanya tempat seperti padang gersang tanpa ada air barang setetespun, apalagi makhluk hidup. Bentang alam nya pun didominasi gunung runcing dan ngarai terjal.

"Siapa kau?" suara berat khas pria memecah gerutuan Naruto.

Naruto celingukan kanan kiri,,,,

"Hei, jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kau bukan orang sembarangan, caramu datang kesini dan aura kekuatanmu sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata" suara itu terdengar lagi.

Naruto menatap keatas, dimana terdapat sebuah singasana terbang berbentuk bundar dan besar dengan ornamen emas berkilau yang sangat mewah, lalu dia nyengir cengegesan... "Eheheheheeee,, halooo hai... Aku? Namaku Uzumaki Naruto, hajimemashita"

Singasana emas itu perlahan bergerak turun hingga menapak daratan, ternyata di sana ada seseorang yang sedang duduk bersila. Orang itu berdiri, tahu bahwa pria bernama Uzumaki Naruto ini memang sengaja datang padanya, dan pasti dengan persiapan dan maksud tertentu, jadi, "Perkenalkan, aku lah yang disebut-sebut sebagai The Heavenly Emperor,"

"Sakra-sama kah?" tebak Naruto.

"Ya, orang-orang dari Reliji Hindu lebih mengenalku dengan nama Indra, Sang Dewa Perang"

"Hmm,, tidak kusangka kalau dewa superior seperti mu terlibat dengan insiden kecil di Kyoto"

'Dewa ini berada di dimensi tersembunyi miliknya sendiri. Kakashi sensei tidak mungkin menyadari keberadaan orang ini. Kemungkinan besar, dia tidak termasuk dalam bagian rencana Kakashi sensei. Jadi aku harus bisa menahan dia disini selama mungkin dan mencegahnya mencampuri insiden Yasaka, itu harus, demi Konoha'

Sakra menatap tajam ke arah Naruto, "Lebih tidak kusangka lagi, kalau ada seorang pemuda tanpa asal usul jelas yang semudah dan seberani dirimu datang langsung kehadapanku"

.

-Ibukota Pusat Kaum Youkai, Kyoto-

Gadis bertubuh mungil, dengan rambut hitam di ikat twintail, saat ini sedang enak-enakan menyendiri di Ibukota Pusat para Youkai Kyoto. Dia duduk di balkon hotel menikmati gemerlap pemandangan malam Kyoto dari sana, tugas mengurus hewan-hewan monster ciptaan Leonardo pemilik Sacred Gear Annihilation Maker sengaja dia serahkan pada anak buahnya. Namun kesendiriannya lenyap karena merasakan kedatangan seseroang,

"Siapa kau?" tanyanya ketika melihat ada siluet hitam sesosok tubuh berjalan mendekat ke arahnya. Minimnya cahaya membuatnya belum bisa mengenali sosok itu.

"Akhir-akhir ini kau selalu mengawasiku kan? Bahkan setiap saat kau tidak pernah melepaskan aku dari matamu. Tapi kali ini aku datang langsung kehadapanmu," siluet hitam itu terus mendekat hingga sorot cahaya lampu dari kamar hotel hingga memperlihatkan dengan jelas sosok seorang wanita berambut indigo panjang.

"Heh,, ternyata kau. Apa tujuanmu?"

"Ingin menuntaskan urusan di antara kita, Serafall Leviathan-sama"

"Tidak kusangka akan secepat ini, Hinata-chan"

.

.

.

TBC...

.

Note : Nih di update lagi chapter terbarunya, dan sesuai janjiku kemarin.

Ulasan Review :

Nah, sebenarnya reader yang gagal paham atau aku yang enggak becus menyampaikan ya? Aku kok dituduh PHP, ingkar janji dan ga jadi bikin NaruHina fullpower? Hadeehhh. . . . Aku ga akan mengingkari apa yang sudah ku tulis kemarin, tapi fight-nya chap depan aja yah. Di akhir chapter ini, udah ketahuan alasan kenapa Naruto maupun Hinata harus bertarung sungguh-sungguh dengan semua kekuatan yang mereka punya. Karena lawannya ga main-main, terutama Hinata. Melawan Maou, walaupun bukan maou terkuat tapi tetap saja mengerikan. Secara statistik power, strength, defense, speed, dan durability, Hinata masih dibawah Rias ataupun Sona. Alasannya simpel, Hinata itu manusia, sedangkan Rias dan Sona adalah iblis. Pasti ada perbedaan fisik yang jauh. Apalagi Hinata akan menghadapi Satan Class Devil macam Serafall, entah bagaimana aku harus membuat adegan fightnya, ditambah lagi Hinta ga bisa terbang, aku jadi bingung sendiri, huuuu. . . ... Beda dengan Naruto, lebih mendingan karena dia punya fisik kuat, chakra banyak, dan ditopang kekuatan sembilan bijuu serta chakra alam senjutsu rikudou lalu juga bisa terbang, bertarungnya ga jauh-jauh dari tipe all-out, dan kadang bisa pake trik licik juga. Walaupun musuhnya adalah Indra, yang termasuk dalam Top 10 Strongets Being in The World.

Untuk guest, Naruto punya wibawa dan kharismanya sendiri. Dia ga perlu pintar agar bisa dihormati orang lain, bahkan hawa keberadaannya saja sudah membuat orang disekitarnya nyaman, apalagi kalau dia berbuat sesuatu untuk orang lain. Lalu aku sama sekali tidak membuat Naruto bodoh, hanya saja dia tidak pintar mempelajari sesuatu yang rumit dan teori. Dan Naruto tidak akan bisa dimanfaatkan dan diperintah orang lain bahkan termasuk oleh istrinya sendiri, karena dia punya hati, tekad dan nurani yang selalu membimbing jalannya (source: Shikamaru dari NS Movie 3 The Will of Fire). Intinya, aku mendeskripsikan Naruto sebagaimana adanya dari perilaku dia, bukan penjelasan sebagaimana aku menggambarkan betapa pintar dan liciknya Hinata disini, jadi bisa-bisa saja lah lagi mencerna isi ceritanya. Hohohoooo . . . .

Tentang sudut pandang penulisan, entahlah. Aku enaknya nulis sebagai pengamat, jadi susah pakai sudut pandang lain. Aku juga udah bahas ini di AN chap 23.

Tentang Kurama dan Yasaka, diatas tadi sudah dibahas. Teori singkat yang ku kemukakan sudah logis, jadi jangan ada lagi yang menghubung-hubungkan mereka berdua ya.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM jadi cek inbox masing-masing yaa, serta yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.