Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Sabtu, 7 Mei 2016
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . .
Naruto terkekeh, "Kurasa kekuatan yang terkumpul sudah lebih dari cukup. Sekarang tidak ada lagi yang perlu ku khawatirkan."
Ini seperti titik balik dalam misi besar yang diemban oleh Naruto. Semua yang ia kira sangat sulit bahkan hampir mustahil untuk diselesaikan sejak awal, sekarang seperti mendapat angin segar. Tidak salah pilihannya untuk menceritakan masalahnya pada Sasuke, Sona, dan Tsubaki, bahkan keberadaan Ophis juga sangat membantu.
'Tapi mungkin masih ada satu masalah lagi.' kata Naruto dalam hati, sambil matanya melirik ke arah Hinata yang fokus pada Cube dan dua artefak yang melayang mengelilinginya.
.
To The End of The World
By Si Hitam
Chapter 41. Apa Naruto akan membangun harem?.
-Pulau Melayang Konoha-
Cuaca siang ini sangat cerah. Langit biru membentang diseluruh cakrawala melingkupi segenap permukaan bumi. Tak sedikitpun ada awan yang menghias langit. Terik matahari musim panas menciptakan fatamorgana disetiap sudut jalan. Walau begitu, Konoha yang melayang diatas langit tetap berhawa sejuk, berbeda sekali dengan kondisi dipermukaan bumi.
Saat ini, disebuah ruangan besar serupa aula, yang kesemua sudut dan sisinya dihias dengan dekorasi mewah dan elegan dengan nuansa serba putih. Ini adalah tempat pesta resepsi pernikahan. Semua undangan telah datang. Kebanyakan dari mereka adalah ninja dan ANBU yang bertugas di sektor keamanan Konoha, serta beberapa tamu penting pejabat negara dan petinggi klan. Hari ini, mereka semua sejenak melupakan masalah besar yang mereka hadapi didunia yang keji ini, berbahagia dan bersenang-senang untuk satu hari saja, sebelum kembali lagi melawan kejamnya dunia.
Semua undangan berpakaian formal ala Budaya Barat. Yah, budaya dari Eropa kini telah masuk ke Konoha dan berasimilasi dengan budaya setempat. Setelah pernikahan dan janji suci diselenggarakan di kuil sesuai adat istiadat Konoha, selanjutnya pesta resepsi dengan nuansa modern dilanjutkan di aula besar ini. Pernikahan antara Sai dengan Yamanaka Ino.
Okehh,,, salahkan Ino yang terbawa arus perkembangan jaman! Dia yang sudah beberapa kali bertugas di permukaan bumi, keluar dari Pulau Melayang Desa Tersembunyi Konohagakure, sempat-sempatnya mengamati perkembangan mode, fashion, dan romantisme manusia di dunia yang baru. Tidak jarang dia membeli banyak sekali majalah wanita dan membawanya pulang ke rumah.
Akibatnya, Sai terpaksa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk menuruti keinginan mempelai wanitanya. Membuat pesta resepsi mewah. Aaahhhh~~~, padalah sudah tahu kalau Konoha dalam keadaan genting, ini malah membuat sesuatu yang berlebihan. Walau begitu, Sai tetap bahagia. Ini hari pernikahannya.
Kata Ino, ia tidak tahu akan seperti apa nasib Konoha di masa depan nantinya, apakah bisa selamat didunia ini atau tidak? Yang jelas dia hanya ingin memiliki pesta pernihakan yang selalu ia impikan sejak kecil. Sai pun tidak bisa berkomentar apa-apa dengan argumen Ino.
Sekarang sudah saatnya ke acara puncak pesta resepsi, acara yang ditunggu-tunggu oleh para undangan pasangan muda-mudi yang belum meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan. Acara lempar buket bunga.
Sai dan Ino telah berbalik membelakangi para undangan. Bersamaan dengan aba-aba dari Ino, kedua mempelai itupun melempar buket bunga sekuat tenaga kebelakang. Buket bunga itu pun meluncur bebas, hingga,,,,,
Hap...
berhasil ditangkap oleh tangan dari sepasang muda-mudi yang berdiri paling belakang, mereka memiliki warna rambut yang sangat kontras, merah muda dan hitam.
"Huuuuu..." teriakan dan siulan langsung menyambut saling bersahutan.
Ino sang ratu hari ini berteriak, "FOREHEEEAAADDD, AKU MENUNGGU UNDANGAN PERNIKAHANMUUUU... TIDAK BOLEH LEBIH DARI SEBULAN YAAAA...!"
Si gadis berambut merah muda itu berkedut kesal, ada banyak perempatan siku yang menonjol didahi lebarnya. "Awas kau Pig!, jangan sombong hanya karena kau menikah lebih dulu dariku."
Sakura memang balas berteriak dan menyumpah, tapi hatinya mengamini do'a dari rivalnya yang selalu menjadi saingannya dalam hal apapun. Yah, dia membiarkan sahabat blondenya ini menang hari ini. Mau bagaimana lagi?, karena ketika dia melihat kesamping,
"Ehh,,, Sasuke-kun,, tu-tunggu!..." Sakura memekik.
Sasuke sudah berjalan meninggalkannya, meninggalkan acara pesta. Acara sudah selesai, dan Sasuke sepertinya ingin kembali secepatnya dengan tugas-tugas berat yang ia miliki.
"Hei,,,, kau ini kenapa sih, Sasuke-kun?"
Sakura berhasil menyusul langkah Sasuke, mereka berdua sudah ada di luar ruangan pesta. Melangkah bersama-sama tanpa tahu kemana tujuan mereka.
"Hn..."
Seperti biasa, jawaban ini sudah lumrah didapat Sakura. Dia hanya harus bersabar. Kalau yang seperti ini saja dia tidak sanggup bersabar, bagaimana nantinya jika dia menjadi Uchiha Sakura?
"Sasuke-kuuunn..." Sakura merengek manja. Walau ia tahu tingkahnya ini paling tidak disukai Sasuke, tapi dia ingin terus berusaha. "Emmm,,, Shikamaru dan Temari-san kemarin ke klinik ku loh. Mereka berdua memeriksa kesehatan."
"Hn?" dengusan tanda tanya. Sasuke ingat dengan dua orang yang sudah menikah lebih dari dua bulan lalu itu karena ia turut hadir di pesta resepsinya. Tapi buat apa cek kesehatan? Baru tadi ia bertemu dan bertegur sapa dengan Shikamaru dan Temari di pesta resepsi Ino, pasangan suami istri itu tampak sehat dan baik-baik saja.
"Mmmmm,,, me-mereka memeriksakan kesehatan rahim Temari-san. Selain itu mereka berdua juga melakukan pemeriksaan darah, urin, penyakit TORCH, penyakit Hepatitis, golongan darah Rhesus, Pap Smear, VDRL, dan pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga."
"Hah?" Sasuke mendengus heran, apa maksudnya coba? Merahasiakan data pasien itu kewajiban seorang dokter, tapi kenapa Sakura seenaknya membuka privasi Shikamaru dan Temari? Ini sudah melangggar kode etik.
"Mereka menjalani rangkaian medical check-up pra kehamilan. Tau sendiri kan bagaimana cara kerja otak suami istri itu kalau berpikir, mereka ingin semuanya dipikirkan dan disiapkan matang-matang. Intinya Shikamaru dan Temari-san sedang menjalankan program punya anak."
Secepat kilat chidori menyambar, Sasuke itu pulalah mengerti, "Oh.."
Hanya itu respon yang didapat Sakura. Perempuan ini tahu kalau Sasuke cukup peka, berbeda jauh dengan sahabat pirangnya yang butuh waktu bertahun-tahun bahkan perlu genjutsu untuk sadar akan perasaan seorang gadis yang lama menunggu dan rela mati untuknya.
Walau begitu Sakura tidak berhenti, dia tidak boleh menyerah, "Sai dan Ino baru saja menikah."
"Terus?" sahut Sasuke datar.
Sakura sudah biasa makan sifat datar dan dingin Sasuke. Cukup sudah!, saatnya to the point, "Kita kapan?"
"Hn."
Mendengus lagi Sasuke-nya. Apa bagi Sakura, menikah dengan Sasuke itu hanya ada di khayalannya?
"Naruto dan Hinata-chan saat ini pasti bahagia banget. Sudah lama mereka pergi, sepertinya mereka keasyikan menikmati bulan madu."
"..."
"Tidak bisakah kita seperti tiga pasangan yang sudah mendahului kita, Sasuke-kun?"
"..."
"Haaaahhhh..." Sakura membuang nafas panjang, dia masih setia mengikuti Sasuke berjalan, tanpa tahu kemana tujuan pria yang ia cintai ini. "Kau bahkan belum pernah sekalipun mengatakan cinta padaku. Apalagi melamar, menikah, tinggal serumah berdua, punya keturunan, dan,,,, aahhh~~~, aku sepertinya sudah kebanyakan mengkhayal."
"..."
"Sasuke-kuunnn, bisakah kau tidak mengacuhkanku?"
Lagi-lagi rengekan manja Sakura tidak mendapatkan respon dari Sasuke. Saat melihat kesamping, Sakura baru menyadari kalau laki-laki berambut hitam ini sedang menanggung masalah berat. Terlihat jelas dari ekspresi yang terpahat diwajah rupawan itu.
"Apa sebenarnya yang kau pikirkan, Sasuke-kun? Tidak biasanya kau seperti ini."
Sasuke berhenti, menatap wajah Sakura yang lebih rendah darinya, "Tidak ada" jawabnya singkat, padat, dan jelas.
Namun Sakura bukanlah orang yang sebatas kenal saja dengan Sasuke. Sakura tahu betul bagaimana Sasuke luar dalam. Teringat kalau tadi Sasuke tidak lagi menanggapi ocehannya sejak dia menyebut nama Naruto, Sakura langsung mengerti.
"Kau pasti bertemu dengan Naruto lagi setelah kita datang ke Kouh bersama Kakashi-sensei dan Kazekage-sama kan? Apa dia terkena masalah lagi?" tanya Sakura.
Sasuke tidak menjawab, menolehpun seperti tak sudi, dia melanjutkan acara jalan kakinya, meninggalkan Sakura yang masih berdiri diam.
Terpaksa Sakura mengejar lagi, "Heiiii Sasuke-kun,,,! bukan hanya kau saja sahabat Naruto. A-aku juga ingin tahu tentang dia, bagaimana keadaan dia sekarang, dan pasti kau sudah tahu apa yang sebenarnya Naruto dan Hinata kerjakan saat ini, iya kan?"
Sakura masih tidak mendapatkan jawaban.
"Sasuke-kun.!" kali ini Sakura berkata dengan nada tegas, "Katakan padaku!, katakan padaku kalau saat ini tidak ada masalah besar, masalah yang lebih berat dan lebih berbahaya daripada Imperium of Bible yang mengancam Konoha dan membuat Kakashi sensei pusing!."
Sasuke menyerah, bahunya sedikit turun, wajahnya yang menatap Sakura menyendu. Menyimpan rahasia dari Sakura bukanlah hal baik untuknya. Sakura tidak hanya cerewet dan membuatnya sakit kepala jika keingintahuannya tidak dituruti, karena bagaimanapun juga Sakura adalah orang yang berharga untuknya.
Bagi Sasuke, Sakura adalah satu-satunya orang selain Naruto yang mau menunggu dan mengharapkannya walau ia jatuh dalam gelapnya kutukan kebencian. Selain karena sahabat pirangnya itu, Sakura adalah alasan utama dia masih ingin melanjutkan hidup hingga saat ini. Jika tidak, dia merasa akan lebih baik mati, ikut menjadi korban kiamat dunia tempat asalnya.
Sakura menarik tangan Sasuke, "Ke rumahku saja. Kau bisa menceritakan semuanya disana. Naruto pasti punya beban berat, aku juga ingin ikut meringankannya. Aku ingin melakukan hal yang sama dengan yang kau lakukan untuk Naruto, Sasuke-kun."
Yah, Naruto memang memintanya untuk merahasiakan masalah tentang keruntuhan seluruh universe, tapi Sasuke masih ingat dengan jelas kalau permintaan Naruto adalah untuk merahasiakannya pada teman-teman di Konoha, bukan merahasiakan dari satu teman, terlebih itu adalah Sakura. Jadi Sasuke merasa tidak bersalah disini.
.
.
.
-Kuoh Gakuen-
Insiden di Kyoto dengan semua intrik pemilik kepentingan sudah seminggu berlalu. Kembali ke rutinitas seperti biasa, pagi ini kembali menjadi pagi yang membosankan bagi Naruto. Aahhh~~~~, bukan cuma membosankan, tapi juga membuat otaknya yang hanya setara processor pentium I jadi berasap. Bagaimana tidak, ini dikelas dan jam pelajaran sedang berlangsung?
Apalagi sekarang jam pelajaran ekonomi, ditambah gurunya terlalu proaktif, membuat dirinya tak bisa tenang. Takut kalau tiba-tiba sang guru menunjuk dirinya untuk melakukan sesuatu. Sumpah demi celana boxernya Obama, Naruto paling benci yang namanya menghitung uang, uang yang tidak nyata. Kalau saja uang itu ada didepan matanya, maka akan lain lagi ceritanya.
Satu lagi yang membuat otak Naruto makin tidak karuan, disebelahnya, teman sebangku selama duduk di kelas XII Kuoh Gakuen, Akeno Himejima, gadis berambut ungu gelap panjang yang diikat ekor kuda dengan tatapan mata sayu, gadis penganut aliran sadistic-masochist dengan level kegenitan diluar batas. Lihat saja apa yang dilakukan Akeno sekarang!
"Akeno-san, bi-bisa tidak geser sedikit?" tanya Naruto pelan, takut di marahi guru, tapi cukup untuk didengar oleh telinga iblis dari Akeno yang sangat peka. Akeno memang duduk terlalu dekat dengan Naruto, bahu mereka saja hampir bersentuhan, padahal siswa lainnya yang duduk sebangku tidak serapat ini.
"Eh?" Akeno memasang wajah polos kebingungan menatap Naruto, "Ada apa, Naruto-kun?"
'Gh,,, apa-apaan iblis ini?. Aku tidak sudi ada perempuan lain selain Hinata yang memanggilku begitu. Kalau saja saat ini aku tidak sedang menyamar jadi iblis, ku pastikan lidahmu jadi sarang belatung...'
Naruto mengumpat kesal, dalam hati tentunya. Mana mungkin dia merusak kesepakatannya dengan Sona hanya karena dia memaki budak dari sahabat iblis berkacamata itu. Ditambah lagi saat ini kesepakatannya dengan Sona berubah jauh lebih baik, sekarang semuanya terbuka, tidak seperti kesepakatan pertama yang ditutup-tutupi dan didasari kepentingan masing-masing.
"Anoo,,, hawanya panas, jadi bisakah kau geser sedikit agar aku bisa merasakan angin dari jendela?"
Baru sejak beberapa minggu lalu, ruang kelas XII ini dipindah ke bangunan lain. Jika dahulu ruangannya tertutup rapat namun dengan fasilitas full AC, maka sekarang ruang kelas tanpa pendingin ruangan tapi dengan jendela terbuka.
"Ohh~~~"
Akeno begeser sedikit, tapi,,,,
"Maksudku geser menjauh dariku, Akeno-san. Bukannya merapat."
Akeno mencondongkan badannya hingga seperti bersandar di tubuh Naruto, seraya meletakkan satu tangannya di paha laki-laki itu.
"Hmm,,, apa? aku tak dengar tadi, Naruto-kun."
Twichh,,,,
"Husshh,,, jangan pegang-pegang pahaku. Geli tahu..!"
Akeno tak mempedulikan Naruto, malah dia mengelus-elus paha itu hingga mencapai dan merasakan sesuatu yang sangat menonjol dari balik celana yang dikenakan Naruto.
Akeno bergumam sendiri, gumaman yang cukup nyaring untuk didengar Naruto. "Hmmm,,, besar tapi pas, hangat, keras, dan lurus. Tipeku banget."
Karena otaknya lelet, Naruto masih belum merespon gumaman Akeno.
Ketika Naruto merasa Akeno sudah meremas kuat miliknya disana, barulah,,,,
Plakkk...
Cukup keras Naruto menepis tangan nakal Akeno. Naruto tidak terima dirinya dilecehkan begitu. Wajah Naruto merah padam, ekspresi marah yang kental terpahat jelas di wajahnya.
Melihat Naruto yang sudah mulai emosi, Akeno kembali ke posisi semula. Tapi jangan harap Akeno akan menyerah dan berhenti.
"Aahhh~~~, gerahhhh..." Akeno berguman dengan nada sensual tanpa mempedulikan kemarahan Naruto. Dia lalu mengambil buku tulis dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengangkat rok seragam sekolah yang ia pakai, mengipasi sesuatu yang ada didalam sana.
Mata Naruto yang terbuka lebar karena marah, kini makin lebar lagi melihat kelakuan bejat Akeno.
Belum cukup sampai disana, Akeno makin berani. Akeno menurunkan celana dalamnya sampai ke lutut, walau area berbahaya masih terhalang kain rok sehingga mata Naruto belum melihat bagaimana rupa selangkangan gadis iblis itu. Rupanya bagian tubuh Akeno yang itu benar-benar kegerahan.
Glekk...
Ternyata yang namanya Akeno Himejima itu benar-benar wanita bejat dan gila. Ini dikelas, banyak siswa-siswi, dan guru ada didepan kelas sedang mengajar. Tapi Akeno sungguh berani berbuat seperti itu.
Ohh,,, sepertinya Naruto makin marah dan makin 'kepanasan'. Dia menoleh pada Hinata, berharap sesuatu dari istrinya itu untuk membantu masalahnya. Masalah akibat digoda iblis genit nan mesum. Naruto yakin bisa menahan diri, lagipula ia tidak tertarik dengan tubuh perempuan manapun selain tubuh Hinata. Naruto hanya tidak ingin ada yang menyangka tidak-tidak padanya.
Namun apa mau dikata, Hinata yang duduk bersebelahan dengan Sona sedang sibuk. Mereka berdua sedang sibuk dengan sebundel dokumen yang entah darimana datangnya, mungkin diberikan oleh Sasuke. Yang Naruto tahu hanyalah dua gadis licik itu sedang membuat sebuah rencana untuk misi tim yang ia bentuk.
Karena kelamaan menoleh Hinata, jadinyaaa,,,
"Uzumaki-san,,, Jelaskan ruang lingkup, permasalahan, dan indikator keberhasilan kebijakan ekonomi makro dan ekonomi mikro yang diterapkan Pemerintah Jepang saat ini...!"
Nah kan,,, ketiban sial pada akhirnya.
"Ha'i sensei..." Naruto berdiri dari posisi duduknya. Pokoknya berdiri saja dulu, bisa atau tidak menjawab urusan belakangan daripada dihukum membersihkan toilet.
1-0, satu kosong untuk kemenangan pihak gadis iblis penggoda.
.
Kali ini Naruto sedang berada di perpustakaan sekolah. Bukan untuk membaca buku, tapi untuk mencari ketenangan. Memang begitu keadaannya, sebagai salah salah satu tempat paling tidak diminati, perpustakaan menjadi destinasi siswa yang paling sepi. Apalagi sekarang jam pelajaran masih berlangsung. Naruto pun disini karena tidak tahan dengan kelakuan bejat teman sebangkunya, Akeno Himejima. Yah, wanita iblis itu benar-benar bejat menurut Naruto.
Naruto inginnya bersama Hinata, tapi tidak bisa karena Hinata masih sibuk dengan Sona menyusun rencana untuk timnya. Kalau ada sang istri kan tentu lebih enak. Yaahh, begitulah. Enak karena ekkheemmm... Pernah empat atau lima kali karena dirinya atau Hinata yang kadang kala tak bisa menahan diri, mereka berhubungan seks di pojok perpustakaan yang tidak terjangkau kamera CCTV ketika suasananya sepi dan penjaga perpustakaan sedang keluar. Seperti kata Kurama, ia dan istrinya memang mesum, tapi bukan maniak.
Namanya juga Naruto, mana pernah bisa hidup tenang. Sekarang jelas sekali terdengar ditelinganya, suara dua gadis yang sedang asik membahas sesuatu. Kalau saja yang dibahas itu sesuatu yang berguna, maka akan lain ceritanya. Lah ini, membahas bulu mata keluaran terbaru. Ada tadi disebutkan bulu mata cendrawasi, bulu mata khatulistiwa, dan nama-nama bulu mata aneh lainnya yang tidak familiar bagi orang Jepang.
'Kemana sih penjaga perpustakaannya? Ada orang ribut kok dibiarin?'
Ketika Naruto menengok dari balik rak yang jadi tempatnya duduk bersandar, ia langsung mengenali dua gadis yang berbicara nyaring mengganggu ketenangannya.
"Ooohhh... Mereke berdua ternyata." gumam Naruto.
Di sana, saling berhadapan terpisah meja rendah berbentuk persegi, dua kouhainya yang merupakan Bishop Sona sekaligus anggota OSIS dari kelas XI duduk bersimpuh. Satu yang berambut putih dengan iris mata biru kehijauan dan satu lagi yang berambut coktlat panjang dengan iris mata coklat pula. Naruto agak sedikit tidak menyangka, sejauh yang ia tahu dua gadis itu punya pembawaan sifat lumayan serius, walau tidak separah sifat Sona. Jadi aneh saja kalau melihat mereka berdua yang beberapa kali jejerita histeris membahas bulu mata. Istilah populernya,,, alay.
Walau memiliki hubungan pertemanan yang cukup dekat, namun Naruto tidak ingin mempedulikan apa yang dibicarakan dua Bishop Sona. Ia merasa itu bukan ranah obrolan yang bisa dimasukinya, obrolan tentang bulu mata?. Dia lalu bangkit berdiri hendak pindah ke pojok lain perpustakaan, biar bisa lebih tenang. Namun,,,
"Loh, Naruto-senpai?" Momo Hanakai, si gadis yang berambut putih memekik ketika padangan Naruto di perpustakann jatuh di pelupuk matanya.
Naruto berhenti karena namanya dipanggil, lalu berbalik.
Reya Kusaka si gadis bersurai coklat melirik ke arah pandangan Momo, "Aaahh~~~, ayo sini!, gabung dengan kami, Senpai!" katanya dengan tangan melambai pada Naruto sebagai isyarat untuk mendekat.
Naruto berjalan mendekat pada Momo dan Reya sambil nyengir seperti biasa. Walaupun dia ingin sendiri saat ini, tapi kan tidak baik menolak ajakan orang lain. Berharap saja saat ia ikut gabung, mereka tidak akan membahas bulu mata lagi.
"Baiklah. Kurasa tidak apa-apa, aku tidak sibuk sekarang." Naruto ikut duduk bersama dua gadis itu. Duduk bersila disalah satu sisi meja persegi yang masih kosong.
"Tumben senpai kesini?" Momo agak heran, pasalnya dia belum pernah melihat peerage palsu King-nya ini main ke perpustakaan.
"Iya, tidak biasanya loh." sambung Reya.
"Aaah~, tidak segitunya juga kali. Aku lumayan sering kok ke perpustakaan." jawab Naruto.
"Hah? Massa?" Momo memasang ekspresi tak percaya. Semua orang di jajaran budak Sona tahu betul kalau Naruto itu paling malas kalau urusan belajar.
"Iyya lah. Memangnya wajahku seperti wajah pembohong ya?"
"Tidak sih. Tapi kan wajahmu jauh banget jika dibandingkan dengan wajah kutu buku."
Pernyataan Reya diberi anggukan setuju oleh Momo.
"Ke perpustakaan tidak harus membaca buku juga kan?" sanggah Naruto.
"Terus Naruto-senpai ngapain dong di perpustakaan kalau bukan membaca buku?"
"Se..." Naruto hampir saja kelepasan, tidak mungkin kan kalau ia menjawab ke perpustakaan hanya untuk menuntaskan hasrat berhubungan 'Seks' dengan Hinata. "Se-seterah aku dong. Phuhiii..." kata Naruto seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
Momo dan Reya menautkan alis masing-masing. Aneh,,, bisa-bisanya senpai mereka yang hangat, ceria serta punya wibawa dan kharisma sebagai pria dewasa ini mejadi alay begitu.
Huuhhh,,, sekarang perpustakaan jadi tempat ngumpul para Alay'ers.
"Kalian sendiri, ngapain diperpustakaan? Bolos dari tugas OSIS kah?"
Pertanyaan balik dari Naruto, kontan membuat Momo dan Reya terdiam.
"Aku bilangin nih sama Sona-Kaichou. Hayooo..." Naruto memicingkan matanya mengancam Momo dan Reya.
Niatnya Naruto bercanda, tapi ternyata berdampak besar.
Akibat ancaman Naruto, dua Bishop Sona langsung kelimpungan. Namun bukan budak Sona namanya kalau tidak pintar...
Momo beringsut kesisi kanan Naruto,
Gyuttt...
lalu memeluk erat lengan Naruto, membenamkannya diantara kedua payudaranya yang untungnya masih dilapisi seragam. Ukuran payudara itu lumayan besar, jadi sensasi empuknya sangat terasa. Hangat, lembut, kenyal, dan aaahhh~~~, susah dijelaskan.
"Eh?" Naruto sontak heran, risih juga sekalian.
"Sennpaaiiii..." Momo mencolek dada Naruto, "Jangan beritahu Kaichou yaa,,, Pleeeasee... Aku akan melakukan apapun yang kau minta. Kau suruh aku telanjang dan menari striptease disini pun aku rela."
Reya yang mengerti tindakan Momo, langsung ikut-ikutan. Mereka berdua adalah iblis, dan merayu adalah keahlian mereka.
Gyutt...
Dengan tingkah manja dan genit, Reya juga melakukan hal yang sama disisi kiri Naruto.
"Kalau masih kurang, kau boleh meremas dan menghisap payudaraku sepanjang hari sambil melihat Momo-chan telanjang dan menari striptease. Bagaimana Senpai?"
"Hiiieeee..." Naruto menggeleng cepat karena tawaran mesum Momo dan Reya.
"Atau kau mau keperawanan kami sekalian?" kata Reya.
"Ya. Aku dan Reya-chan pasti bisa memuaskanmu setiap saat." sambung Momo.
"Ha?" rahang Naruto menggantung. Semua tawaran ini sudah kelewatan.
"Senpai... Kasihani kamiiii,,, apa kau ingin lihat kami dicambuk Kaichou seperti yang sering Gen-chan dapatkan?" pinta Reya dan Momo dengan wajah memelas.
Naruto ingat dengan jelas, sering sekali ia melihat Genshirou Saji, satu-satunya budak Sona berjenis kelamin laki-laki, mendapatkan hukuman dari Sona jika berbuat salah, sekecil apapun kesalahannya. Biasanya Sona akan merajam Saji,,,, bukan di rajam, hanya dicambuk saja sampai 100 kali cambukan di pantat. Itu hal menyakitkan untuk dilihat. Untung saja ia hanya budak palsu yang terikat oleh kesepakatan, bukan budak asli yang diikat oleh Evil Piece. Jika iya, mungkin dirinya juga bernasib sama dengan Saji.
"Haaaaahhhhh..." Naruto membuang nafas panjang, kasihan juga dua gadis ini kan kalau sampai dihukum Sona? Lagipula kalau diteruskan, ia sendiri yang kerepotan menghadapi kelakuan mesum kedua budak Sona ini. "Baiklah, aku tidak akan melaporkan pada Sona-kaichou. Tapi,,, Momo, Reya, bisa tidak singkirkan payudara empuk milik kalian dari lenganku sekarang..!"
Ucapan frontal Naruto sukses membuat wajah dua gadis iblis itu merona. Bukan karena malu, tapi dipuji kalau payudara mereka empuk, itu sesuatu banget.
Biasanya kan si gadis yang berteriak 'Kyaaahhh... Singkirkan tanganmu dari payudaraku..! Aahhnn,, Ugh...' pada sang pria. Lah ini terbalik...
Bukannya menuruti perintah Naruto, Momo dan Reya malah mengeratkan pelukannya pada lengan Naruto. Sudah malu, kepalang tanggung, lanjutkan saja sekalian, begitu isi pikiran Momo dan Reya. Lagi pula bagi mereka berdua, sosok Naruto lebih dari pantas diperlakukan seperti ini. Hal yang wajar bagi mereka tertarik pada laki-laki hot dan seksi seperti Naruto. Hanya sebatas ketertarikan seksual saja, untuk sekarang masih belum bisa disebut cinta. Perlu waktu lebih lama lagi untuk memastikannya.
"Mmmhhh. . . . ."
Sambil mendesah, Momo dan Reya menggesek-gesekkan hidung dan pipi mereka di bahu Naruto.
"Hiiieeeeeyy..."
Membuat badan Naruto bergidik tegang. Ditambah lagi sekarang, Momo sudah berani meraba-raba pahanya dengan liar. Sedangkan Reya berhasil membuka satu kancing seragam atasan Naruto dan memasukkan tangannya kebalik baju serta mengelus erotis dada bidang miliknya.
Kalau sudah begini, Naruto terpaksa menggunakan akal licik. "Hei,,, Momo, Reya. Lihat!, ada pesawat lewat..."
"Mana?"
Dengan bodohnya Momo dan Reya termakan tipuan konyol Naruto. Aktifitas mereka menggoda Naruto terhenti sejenak, menoleh kearah jendela kaca yang ditunjuk Naruto.
Sesaat kemudian, ketika tidak melihat adanya pesawat yang lewat dilangit dari balik jendela kaca, baru mereka berdua sadar sudah dibodohi Naruto.
"Senpaiiiii...!" Momo dan Reya menggeram tertahan. Namun ini malah membuat mereka semakin gencar melaksanakan aksinya.
Meraba, mengelus, mencolek, menggigit, menjilat, meremas, dan me- me- me- yang lainnya sudah mereka berdua lakukan. Namun anehnya Naruto tidak lagi berontak. Bukan menikmati, tapi diam saja tak bergerak sedikitpun.
Karena heran, Momo berinisiatif menepuk pipi Naruto, lalu
Pooffttt...
setelah kepulan asap tipis hilang, tubuh Naruto yang mereka peluk erat telah berganti menjadi rebung bambu yang berukuran besar.
"SEENNPAAAIIII...!"
Momo dan Reya berteriak kesal. Melempar rebung bambu kesembarang arah hingga merobohkan satu rak buku diperpustakaan. Belum berhenti sampai disitu, karena susunan rak buku yang sedemikian rupa, timbul efek domino. Satu persatu rak buku roboh hingga tidak sampai semenit kemudian, semua rak buku di perpustakaan sudah roboh akibat perbuatan Momo dan Reya.
Kebetulan penjaga perpustakaan sudah datang. Dia melotot dengan mulut menganga.
Aahhh,,, sial bagi Momo dan Reya. Bisa saja mereka menggunakan sihir untuk menghipnotis dan membungkam mulut penjaga perpustakaan, tapi tetap saja ada CCTV yang merekam perbuatan mereka. Sona sang Ketua OSIS pasti sudah melihat, dan dipastikan setelah ini mereka berdua dihukum cambuk 100 kali dipantat masing-masing. Jangan lupakan gatal-gatal yang sebentar lagi akan menyerang akibat memeluk batang rebung bambu tadi.
1-1, satu sama untuk Naruto dan gadis iblis penggoda.
.
Berhasil lepas dari Momo dan Reya, Naruto sekarang bersantai di bangku panjang yang ada di taman belakang, tepat di bawah pohon momiji yang rimbun daunnya. Jutsu Shunsin-Kawarimi ternyata efektif untuk kabur dari jerat godaan kedua iblis tadi, bahkan sekalian mengerjainya dengan rebung bambu.
Nikmatnya angin sepoi yang menerpa, membuat Naruto mulai memejamkan mata. Kali ini dia ingin tidur. Sudah cukup lelah seharian membolos tapi tak kunjung bisa mendapat ketenangan.
Towelll...
Sentilan yang dirasakan Naruto di pipi kirinya, membuat Naruto batal bertolak ke alam mimpi.
Naruto membuka sedikit matanya, melirik kearah kiri dari ekor matanya.
Wajah manis dan imut, rambut putih dengan iris mata kuning. Sangat menggemaskan.
Kini mata Naruto terbuka lebar, wajahnya diputar kekiri supaya dapat melihat wajah itu lebih pasti.
"Aaaaa..."
Brukkk...
Naruto jatuh dari bangku, gerak refleksnya yang tak terkontrol akibat kaget, membuat pantatnya jatuh lebih dulu di tanah.
"Itteee,,, Koneko-chan. Jangan mengagetkanku seperti itu."
Naruto kaget, tadi pas membuka mata, wajah Koneko teramat sangat dekat dengannya. Deru nafas Koneko bisa ia rasakan, bahkan sedikit lagi bibirnya akan menempel di bibir mungil dan tipis milik Koneko.
"Habisnya kau imut sekali kalau sedang tidur, Senpai."
"Heh? Imut apaan? Kau pikir aku anak gadis?" sungut Naruto yang kini sudah mendudukkan kembali pantatnya di bangku taman.
Koneko juga duduk, tepat disamping Naruto.
"Bu-bukan... Tanda lahir di pipimu membuat aku gemes."
"Yayayaaa,,, kau orang kesekian yang berkata begitu padaku, Koneko-chan."
"Heheee... Oh ya Senpai, aku sudah bisa menguasai varian teknik pukulan Yasogami Kugeki yang kau ajarkan."
"Pantas saja, kau kelihatan lesu akhir-akhir ini. Kau pasti kelelahan karena berlatih keras ya?"
"Hu'umm..." Koneko mengangguk.
"Baiklah,,, karena kau sudah berusaha keras maka kau berhak beristirahat. Sini,,, rebahkan kepalamu dipangkuanku. Aku akan mengelus-ngelus rambutmu, kau pasti suka kan? Ku dengar youkai nekomata paling senang jika rambut dikepalanya dielus-elus seperti kucing."
Pupil mata Koneko melebar, tawaran Naruto ini tak mungkin dia tolak. Biasanya dia sendiri yang harus memberi kode keras agar Naruto mengelus kepalanya Lah ini ditawari, bahkan di ijinkan meletakkan kepalanya di paha Naruto. Suatu pencapaian besar.
Tanpa pikir panjang, Koneko langsung merebahkan diri dibangku taman, dengan kepala dipangku oleh Naruto. Sekarang pemudai bersurai pirang itu sudah mengelus-ngelus lembut kepalanya yang bermahkotakan surai putih, bagi Koneko rasanya nyaman sekali. Perlakuan manis ini lebih dari cukup untuk membuat pipi Koneko merona merah.
Hubungan Naruto dan Koneko memang cukup baik. Tidak pernah bertengkar, selalu terlihat harmonis. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan hubungan Naruto dengan gadis iblis lainnya yang selalu diwarnai kelakuan bejat para gadis iblis. Sebagai sesama pengguna senjutsu, mereka sering berbagi ilmu dan kadang berlatih bersama. Kedekatan seperti ini seperti biasa saja bagi Naruto, tapi bagi Koneko sendiri agak sedikit lain ceritanya.
"Loh,,, Koneko-chan. Kau deman ya?"
Sifat tidak peka Naruto kambuh, rona merah Koneko bukan karena demam.
Koneko yang merasa malu, langsung memalingkan wajahnya. Berpaling kearah perut Naruto.
"Koneko-chan?"
Panggilan bernada khawatir dari Naruto membuat perasaan Koneko membuncah. Tapi dia juga semakin malu, dan semakin membenamkan kepalanya disana.
Seketika Naruto merasa ada yang salah, dia merasakan sentuhan hidung mungil Koneko dengan sesuatu dari dalam celananya. Rasanya seperti menempel ketat. Ini cukup buruk bagi Naruto.
"Koneko-chan,,, bisakah kau bangun dulu?"
Koneko menjawab dengan gelengan.
Akibatnya, Naruto merasakan adanya gesekan di bawah sana. Gesekan yang mampu membangkitkan gairah seksual.
Tanpai pikir panjang, Naruto menggunakan kedua tangannya yang awalnya mengelus rambut Koneko, jadi memegang erat kepala gadis mungil berambut putih itu. Berusaha menjauhkan kepala Koneko dari area berbahaya miliknya.
Namun, entah Koneko mengerti atas tidak, mungkin karena malu dan tidak ingin rona merah diwajahnya kelihatan oleh Naruto, dia menahan tangan Naruto yang berusaha menarik kepalanya. Koneko bersikeras tidak ingin menjauh, kepala Koneko bergerak makin liar di area pangkal paha Naruto.
Intinya, Naruto yang merasa risih dan Koneko yang kelewat polos. Itu adalah kejadian yang sebenarnya, namun yang dilihat oleh orang lain belum tentu sama. Yah, sudah lumrah sekali kalau setiap manusia punya persepsi yang berbeda-beda.
Tengok saja dua orang satpam berbadan kekar yang berdiri tidak jauh dari tempat Koneko dan Naruto. Wajah mereka merah padam, jelas sekali di pandangan mereka berdua kalau itu adalah perbuatan pelecehan seksual. Si laki-laki berambut pirang memaksa si gadis berambut putih untuk melakukan seks oral di taman belakang. Gadis itu tampak berontak namun tangan si laki-laki malah semakin menekan kepala sang gadis ke selangkangannya.
Bayangkan,,! Seks oral loh. Ini jauh lebih buruk daripada pelecehan seksual sekuhara yang sering terjadi di kereta. Ini sudah masuk kategori tindak pidana kriminal pemerkosaan.
Salah satu satpam langsung berteriak,,, "WOOIII,,, SISWA BEJAT... HENTIKAN.! KEMARI KAU...!"
Sedangkan satpam satunya sudah berlari melakukan tindakan dengan menenteng tongkat pemukul dan borgol untuk menghentikan tindakan amoral yang ditangkap menurut padangan mata mereka.
'Ooohhh,, Shittt...!'
Naruto mengutuk dalam hati.
2-1, kekalahan untuk Naruto dari gadis iblis penggoda.
.
Urusan Naruto dengan dua satpam tadi sudah selesai. Setelah satu jam menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, ditambah penjelasan dari Koneko kalau dia tidak melakukan tindakan pelecehan, barulah dia dilepas oleh satpam yang sempat-sempatnya memborgol tangannya dan mengurungnya dibalik jeruji pos satpam. Beruntung kasus ini tidak sampai masuk ke ruang kepala sekolah.
Kini Naruto sedang berjalan di koridor yang sepi. Tidak ada ruang kelas didekat sini, ini adalah area bangunan khusus untuk tempat ruang-ruang klub, ruang olahraga, ruang seni, serta ruang kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan non akademik lainnya, jadi tidak akan ada guru-guru yang berkeliaran, cukup aman bagi Naruto membolos dan berkeliaran disekitar sini.
Naruto berjalan sambil bersiul-siul. Sekarang dia tidak tahu mau kemana, yang penting jalan dulu daripada balik ke kelas. Bayang-bayang Akeno si iblis bejat terus saja menghantuinya ketika ingin kembali ke kelas.
Kriieeetttt...
Suara nyaring sebuah pintu yang berderit kencang membuat gendang telinga Naruto bergetar hebat.
Naruto menoleh ke arah pintu itu, pintu ruang klub memasak. Tidak ada siapapun yang keluar, yang ada hanya kepulan asap tipis. Walaupun ini masih siang, namun sukses membuat bulu kuduk Naruto merinding disco.
Naruto sudah tahu tentang macam-macam makhluk supranatural bahkan pernah berhadapan dengan mereka. Dari ras iblis, siluman atau youkai, naga, dan lain-lain. Namun beda sensasinya jika yang akan muncul dari balik pintu itu adalah arwah gentayangan dari orang yang sudah mati.
Entah tubuhnya yang bermasalah atau otaknya yang kelewat idiot, bukannya menjauh Naruto malah mendekat masuk ke ruangan klub memasak. Perlahan mendekat dengan kaki bergetar hingga sampai di ambang pintu. Ketika sampai disana, hilang sudah ketakukan Naruto, digantikan oleh,,,
"Uhhukk,, uhuk, uhukkk..."
rasa panik.
Di dalam ruangan, salah satu gadis iblis budak Sona yang mengambil posisi Knight, Tomoe Meguri. Tubuh gadis itu oleng hendak jatuh setelah batuk-batuk dan kesusahan bernafas dan berdiri. Hanya dia sendirian saja yang ada disana, tidak ada orang lain.
Dengan sigap Naruto menangkap tubuh Tomoe sebelum jatuh, lalu merebahkannya di lantai dengan tangan kiri menahan kepala gadis itu agar lebih tinggi. "Hei,,, Tomoe-chan. Kau kenapa? Katakan padaku apa yang terjadi.!" tanya Naruto sambil menepuk-nepuk pelan pipi Tomoe dengan tangan kanannya, berusaha agar Tomoe tidak kehilangan kesadaran.
"Ughh,,, se-senpai... Ssesak,, a-aku sulit bernafas."
"Katakan padaku apa yang kau perlukan!" Naruto masih belum berhenti panik.
"Nafas,,,"
"Yaa?"
"Beri a-aku nafas buatan."
"He?" Naruto terdiam, paniknya hilang, permintaan yang bukan-bukan itu langsung membuat Naruto sadar kalau Tomoe tidak kenapa-kenapa.
Ini bukan area kolam renang, jadi tidak mungkin Tomoe perlu nafas buatan akibat tenggelam di air. Dan lagi, walau ada asap di dapur ruang klub memasak ini, tapi asapnya tipis, bukan asap hitam karena kebakaran. Buktinya Naruto masih bisa bernafas dengan tenang walau aroma bahan makanan yang gosong lumayan menusuk indra penciumannya.
Dukkk...
"Adduhh..."
Tomoe mengerang kesakitan karena kepalanya langsung dijatuhkan Naruto dilantai begitu saja tanpa aba-aba. Tidak keras, tapi tetap saja sakit. Naruto lalu beranjak hendak keluar dari ruang klub memasak.
"Mau kemana senpaiii?" tanya Tomoe setelah ia bangkit dan duduk di lantai.
"Kau urus saja dirimu sendiri, aku sibuk." kata Naruto acuh.
Dibanding dengan budak-budak Sona yang lain, Naruto paling akrab dengan Tomoe. Faktor kesamaan sifat hiperaktif dari dalam diri keduanya lah yang membuat mereka seperti itu. Yah, saking akrabnya, setiap hari jika bertemu, dua orang ini hanya akan saling ejek dan bikin ribut seperti tokoh kucing dan tikus dari kartun barat. Sebenarnya yang sering memulai keributan untuk mencari perhatian adalah Tomoe, tapi Naruto juga dengan senang hati melayaninya.
"Loh,,, kau bukan laki-laki kalau meninggalkan seorang gadis yang kesusahan dan butuh bantuan." teriak Tomoe.
"Aku tidak pernah menganggapmu seorang gadis, jadi aku masih bisa disebut laki-laki sejati."
"Eh? Terus kau anggap aku ini apa dong, Senpai?"
"Ba-dut."
"Huaaaaa,,, senpai jahaaattt... Hiks,, hikss..."
Yah, begitulah aktifitas dua orang ini. Drama Queen.
"Huuuuu. . . . ." Tomoe masih dengan isak tangisnya, "Hikss,, padahal aku ingin memasakkan sesuatu untuk Senpai, aku sudah berusaha keras sejak pagi tadi disini,,, hiks... tapi, ta-tapi tidak berhasil."
Penuturan Tomoe membuat langkah Naruto terhenti tepat di pintu ruang klub memasak. Yah, walaupun nada ucapan Tomoe itu terdengar dibuat-buat, tapi Naruto tidak tuli untuk mendengar keinginan tulus Tomoe.
Naruto mendekati Tomoe yang masih duduk dilantai, berjongkok dan menatap Tomoe yang masih menangis dengan wajah cemberut. Gadis iblis itu persis seperti anak balita yang tidak dituruti keinginannya.
"Cup cuppp..." Naruto mengelus dan menepuk pelan pucuk kepala Tomoe. "Tomoe-chan udah yaa. Tidak usah dipikirkan yang tadi, mengetahui kalau kau sudah berusaha keras untukku, itu saja sudah membuatku senang."
Tomoe menyeka hidungnya, ada ingus yang meleleh di sana ternyata. Tangisannya sudah berhenti, tapi matanya masih berkaca-kaca, "Ta-tapi kan, aku ingin membuat sesuatu yang nyata untuk senpai."
"Iyyaaa,,, aku mengerti. Lagipula aku sudah pernah merasakan masakan buatanmu?"
"Tapi waktu itu kan aku memasak dibantu Hinata-senpai. Aku ingin memberimu makanan buatanku sendiri tanpa campur tangan orang lain."
Memang, Tomoe seringkali datang ke apartemennya Naruto dan Hinata. Alasannya selalu sama, yaitu untuk belajar memasak. Semenjak tahu masakan Hinata luar biasa enak, semenjak itu juga Tomoe meresmikan dirinya sendiri sebagai murid Hinata.
"Memangnya kau memasak apa sih?" tanya Naruto.
"Tomyam.."
"Pantas saja gagal, masakah khas Thailand itu sulit dibuat oleh pemula sepertimu. Hmmm,,, bagaimana kalau memasak makanan kesukaanku?"
"Heh? Ramen kah?"
Naruto mengangguk.
"Tapi bukan ramen instan kan, Senpai. Kalau yang itu, sama saja aku tidak memasak."
"Iyyaa,,, dan kita akan memasaknya berdua."
"Benerkah,,,? Yeeeiii... Arigatou, Senpai..."
Akhirnya tirai panggung drama mereka ditutup. Sekarang mereka berdua asik memasak ramen. Naruto sendiri cukup hafal dengan cara Hinata memasakkan ramen sehat dengan ekstra sayur untuknya. Itulah yang Naruto dan Tomoe buat.
Setelah 25 menit bergelut didapur, akhirnya ramen sehat pun selesai dibuat.
"Nah, yang terakhir,,, masukkan naruto untuk topingnya, Tomoe-chan."
"Hahh,,, Senpai kalau makan ramen, tidak pernah mau ketinggalan kue ikan ini."
"Mau bagaimana lagi, itu kan toping favoritku."
Tomoe meletakkan naruto dengan hati-hati kedalam mangkuk yang sudah berisi ramen, menatanya agar tampilan ramen tampak semenarik mungkin. "Yes,,,, akhirnya selesai. Dua mangkuk ramen sehat dengan ekstra sayur ala Chef Naruto dan Chef Tomoe, siap disantap."
"Yosshhh,,, ayo kita makan sekarang, Tomoe-chan. Mumpung masih panas, kau ke meja duluan, biar aku yang membawa ramennya."
"Aaaahh,,, jangan! Kau saja yang kemeja duluan, sekalian ambil sumpitnya, Senpai. Ini biar aku saja yang bawa." kata Tomoe.
Naruto bukan tipe orang suka protes, jadi dia iya-iya saja. Melangkah ke lemari pojok untuk mengambil sumpit yang disimpan disana sebelum ke meja makan.
Sedangkan Tomoe, menyeringai licik. Ketika Naruto sibuk mencari sumpit, dia menambahkan lima tetes cairan dari botol berlabel tengkorak entah apa isinya pada salah satu mangkuk ramen.
'Hihihiiiii,,, Neee Senpai. Hari ini kau akan jadi milikku, tubuhmu menyatu kedalam tubuhku...'
Naruto sudah duduk, Tomoe pun meletakkan mangkok ramen, untuknya dan untuk Naruto. Tomoe dan Naruto duduk berhadapan di meja makan tersebut.
"Ittadakimassu..."
Tanpa curiga atau apapun, langsung saja Naruto melahap ramen buatannya dan Tomoe. Hal yang sama juga dilakukan Tomoe, namun sesekali dia melirik Naruto yang menyuap helaian ramen dengan beringas. Sambil senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
Acara makan sudah selesai, Naruto duduk bersandar di kursinya. Efek kekenyangan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Naruto merasakan badannya menjadi gerah. Biasanya kalau makan ramen, paling berkeringat saja. Tapi sekarang ini gerah berkeringat sekaligus ada sensasi lain yang dirasakannya. Sedikit pusing ditambah sensasi seperti menginginkan sesuatu.
Tomoe berdiri, membersihkan meja, lalu membawa dua buah mangkuk bekas mereka makan lalu ke wastafel dan mencucinya, meninggalkan Naruto sendiri masih duduk tak berpindah secentipun.
Waktu lima menit sudah habis berjalan, anehnya Naruto merasa badannya makin panas dan kepalanya semakin pusing.
Krriieettt...
Suara nyaring dihasilkan oleh kaki meja berbahan logam yang bergesekan dengan lantai. Meja makan bergeser karena tiba-tiba saja Tomoe duduk diatas meja makan menghadap Naruto yang duduk dikursi.
"Haahh?" Naruto menyerngit bingung. Dia mendongakkan sedikit wajahnya, menatap kearah wajah Tomoe yang terlampau dekat dengannya.
"Sennnpaiii,,, kau gerah ya?" nada sensual dan erotis keluar dari mulut Tomoe. Belum sampai disana, gadis iblis itu mengangkangkan kedua kakinya yang menjuntai di sisi meja, area selangkangan yang tak tertutup sehelai benangpun terekspos jelas didepan mata Naruto. Ternyata Tomoe tidak menggunakan celana dalam sejak awal.
"Tomoe-chan. Ap,apa-apaan kau?"
"Apa? Kau ingin sesuatu, sennpaiii?" bukannya menjawab, Tomoe malah semakin agresif.
"K-kau?"
"Ayolah Senpaiii... Kau pasti ingin ini kan?"
Tomoe menggapai kepala Naruto dengan kedua tangannya. Menarik kepala berambut pirang itu tepat kearah selangkangannya sendiri. Ini baru permulaan dari aksinya.
Naruto tidak berbuat apa-apa, dia sepertinya sudah pasrah.
Sekarang kedua kaki Tomoe sudah berada di bahu kanan dan kiri Naruto. Mengapit kepala Naruto agar tidak bisa bergerak bebas. Menarik lebih dalam kepala Naruto keselangkangannya.
Sedikit lagi sampai di tempat berbahaya.
Naruto sendiri semakin mabuk kepayang. Indra penciumannya mengenali aroma familiar yang selalu ia hirup jika bersama istrinya. Membuat tubuhnya yang awalnya pasrah, kini malah bergerak sendiri menginginkan lebih.
Kepala Naruto sudah masuk seluruhnya ke balik rok seragam sekolah Tomoe. Hembusan nafas pria berambut pirang itu membuat sensasi geli luar biasa di bagain vital Tomoe. Gadis itu memejamkan mata, bersiap untuk serangan pertama yang sangat ia inginkan sejak ia pertama kali kenal dengan Naruto.
Namun,,,
"Gaki... Sadarlah!"
Suara berat dari alam bawah sadar, membuat Naruto berhasil mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya sendiri.
Zssshhttt...
Naruto menghilang secepat kilat dari kuncian kaki Tomoe, dan secepat kilat pula muncul berdiri disisi kanan Tomoe seraya mengacungkan garpu tajam yang tepat menempel di leher gadis iblis itu, dititik dimana urat nadi leher berada.
"Katakan padaku! apa yang kau masukkan kedalam ramenku tadi hah?" Naruto sudah kehabisan kesabaran. Ini keempat kalinya dia ketiban sial karena di kerjai oleh gadis iblis.
"Aaahhh,, it-itu." Tomoe hanya nyengir cengengesan, seakan tidak merasa bersalah sama sekali. "Obat perangsang, Senpai." katanya dengan suara pelan.
"Kauuuu,,,! Sengaja mau membuatku marah hah?" Naruto membentak Tomoe, emosinya belum surut, malah makin tinggi.
Tomoe langsung menundukkan kepala karena bentakan keras dari Naruto, "I-iyaaa,,, aku minta maaf, Senpai. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Hmm?"
"Aku juga berjanji, tidak akan berbuat nakal lagi seperti tadi. Sumpah,..." Tomoe menyadari kesalahannya, perbuatannya yang barusan sudah sangat berlebihan.
"Ya sudah lah,,, kali ini kau ku maafkan, Tomoe-chan. Bercanda sih bercanda, tapi jangan kelewatan seperti itu lagi."
"Iya, sekali lagi aku minta maaf." kata Tomoe dengan ekspresi menyesal.
"Huuuuuhhh..." Naruto membuang nafas panjang.
Untung saja Kurama punya kemampuan untuk menentralisir senyawa asing yang berpotensi merusak tubuhnya, jadi Naruto tidak terkena masalah yang tidak-tidak. Setiap bijuu sejak jaman dulu di dunia shinobi, mempunyai kemampuan untuk melawan racun yang masuk ke tubuh jinchurikinya. Obat perangsang juga termasuk racun.
"Anoo,,, Naruto-senpai..."
"Apa lagi, Tomoe-chan?"
"Bi-bisakan kau singkitkan garpu ini dari leherku? A-aku takut."
Siapa yang tidak takut jika diposisi hampir mati? Garpu tajam itu siap merobek urat nadi leher Tomoe dalam waktu sekian milidetik. Secepat apapun Tomoe sebagai iblis yang mengkonsumsi bidak Knight, tak akan sempat jika ada diposisi kritis seperti ini.
"Oh..." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Naruto, lalu mengembalikan garpu yang ia ambil ke wadahnya semula. Kemudian berjalan keluar, benar-benar pergi dari ruangan klub memasak. Meninggalkan Tomoe yang menyendu.
2-2, skor sama untuk Naruto dan gadis iblis. Kali ini diakhiri dengan lebih serius, karena Tomoe tidak seharusnya melakukan hal yang sangat kelewatan seperti itu. Jika hal yang tak diinginkan oleh Naruto benar-benar kejadian, masalahnya pasti akan berbuntut sangat panjang, bahkan mengubah total kehidupannya dan mempengaruhi apa yang sedang ia kerjakan di dunia ini.
Kesimpulan saat ini, hasil seri dengan fakta bahwa perempuan iblis dari budak Gremory lebih berbahaya dalam urusan godaan nafsu dibandingkan budak Sitri. Buktinya saja, Naruto selalu kalah dan ketiban sial jika berurusan dari iblis budak Rias Gremory.
.
.
.
TBC...
.
Note : Sorry nih, ga bisa update hari jum'at kemarin. Kesibukan seminggu ini bertambah, makanya aku ga bisa nulis banyak. Isi chapter ini hanya konflik ringan, tidak ada materi maupun teori berat seperti pada beberapa chapter sebelumnya, dan semoga feel humornya dapat. Chapter depan saja kita bawa serius lagi yaaa.
Ulasan review :
Yang menyinggung tentang harem. Nih,,, udah ada scene harem. Ketahuan kan siapa saja yang tertarik dan ada rasa pada Naruto selain Sona. Ada lumayan banyak lah. Kalau Sona kan udah jelas ada rasa, udah sering ditunjukin scenenya. Tapi kita kembali ke warning yang ku tuliskan sejak awal yaa... Singel Pair! :V . Oooohhh,,, hampir kelupaan. Kalau menantikan adegan khusus NaruSona, chapter depan aja yaa. Aku bikin sedikit lebih ngefeel tanpa mengurangi kesan humornya.
Rating Game kah?,,, Sampai sekarang fic ini belum membahas rating game kan?Tenang aja, ada kok. Chapter depan akan disinggung karena rating game akan salah satu bagian terpenting fic ini.
Bangsa Vampire Rumania? Mmmm,,, mungkin nanti akan jadi masalah panjang sama seperti masalah di Kyoto. Yang jelas ada banyak kubu yang bakal rebutan Relic Cawan Suci Holy Grail.
Kalau menunggu bagaimana sebenarnya tindakan kubu Reliji Hindu-Buddha dan Mitologi Olympus, nantikan saja lah. Entah bergabung dengan Konoha atau tidak, yang jelas peran mereka cukup penting.
Ada yang penasaran dan mengusulkan satuan pembanding konversi ninja dan makhluk supranatural. Aku buat satu saja, dari segi kekuatan murni (power), Jounin Standar setara dengan High-Middle Class Devil (Iblis kelas menengah keatas). Sisanya silahkan bandingin sendiri. Karena semuanya itu bersifat relatif, skill-teknik dan pengalaman lebih menentukan kemenangan daripada sekedar power.
Sekali lagi,,, Madara, Edo Tensei, dan Zetsu Putih tidak akan ada di fic ini. Sudah aku pikirkan baik-baik. Aku akan menggunakan metode lain sebagai kekuatan Konoha yang lebih masuk ke alur dan tentu lebih Woooowww daripada hanya bangkitin orang mati. Tentu saja agar bisa bersaing dengan eksistensi supranatural superior, apalagi aliansi punya 1 juta malaikat kloning.
Ophis,,, tidak ada yang protes kan kalau dia ikut gabung sama Naruto mencari artefak, mengumpulkan komponen Matrix?
Naruto? Hmmm, anggap saja dia sudah mulai merasakan ada yang tidak beres dengan Hinata, tapi dia belum tahu sama sekali dengan apa yang direncanakan istrinya itu.
Tentang True End, keruntuhan Sistem Multiuniverse, aku lupa menambahkan, sebenarnya lebih dari separuh jumlah total universe yang ada sudah mengalami kiamat.
Walaupun fic ini mengambil setting cerita HS DxD tapi memang bener beda jauh dengan DxD itu sendiri. Fic ini tidak menonjolkan adegan cabul sebagai inti cerita (walau beberapa kali adegan seperti itu keluar, tapi masih dalam batasan wajar. Dan lebih banyak terjadi pada pasangan yang sudah sah suami istri [NaruHina], bukan adegan cabul tanpa ikatan kalau satu chapter ini kita anggap tidak ada, heheheeee...). Dan yang pasti kita tidak membahas perdamaian. Buat apa damai kalau dunia mau kiamat, iya kan?
Dikasih soundtrack kah? Aku sendiri ga terlalu tau tentang musik. Sorry. Kalau mau, tambahkan aja sendiri pas kalian baca fic ini.
Yang bikin aku heran, kok banyak yang minta Naruto menggagalkan rencana Hinata dan mengorbankan dirinya sendiri alias tewas. Serem amatt? Katanya ga mau sad ending, tapi kok mintanya gitu. Hihiii,,, pokoknya bagian akhir udah aku siapin lah.
Kalau kalian jeli, sebenarnya opsi ketiga yang dipilih Naruto itu berasa janggal. Disitu Naruto mengatakan kalau ia ingin mencegah kiamat dan membiarkan waktu berjalan semestinya tanpa terjadi pengulangan waktu. Coba aja baca dan amati lagi paragraf itu baik-baik di chap kemarin. Temukan jawabannya sendiri.!
Artefak keempat jadi penghabisan cerita fic ini.
Artefak ketiga, ada di universe lain, artinya kita nyusup lagi ke cerita anime lain. One Piece dan Bleach sudah. Heheee, tebak aja kalau bisa kemana kita selanjutnya. Atau ada yang mau kasih saran mungkin? Kalau kasih saran, sertakan timeline dan draft alur kasarnya ya. Biar enak dikembangkan.
Sekian. Terima kasih yang selalu ngingetin typo. Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
