Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Jum'at, 13 Mei 2016
Happy reading . . . . .
.
To The End of The World
By Si Hitam
Chapter 42. Naruto itu setia - Terbentuknya Tim 7 orang.
-Kuoh City-
Jam pelajaran Kuoh Gakuen kini sudah usai. Namun tidak semua siswa-siswi Kuoh Gakuen langsung pulang. Contohnya yaaa orang-orang ini, anggota OSIS yang berkumpul di ruang kerja mereka. Tidak ada yang mengumpulkan atau menyuruh berkumpul dan tidak ada tugas yang harus dikerjakan. Hanya saja ini sudah jadi kebiasaan, bisa dibilang kalau mereka hanya bersantai sebelum pulang ke rumah.
Mereka semua lengkap disana, Sona serta semua peerage aslinya dan Naruto. Kalau Hinata sedang ada urusan sebentar. Lalu di ruangan ini adapula Rias, Akeno, Koneko, dan Xenovia yang datang berkunjung. Tidak semua budak Rias ada disini, yang lain sedang sibuk membuat kontrak dengan manusia, terlebih Issei yang harus berusaha keras untuk itu, agar bisa naik level menjadi iblis kelas tinggi.
Dan karena ini hanyalah perkumpulan santai, jadinya yaaaaa,,,,
"Naruto senpai,,, maafin aku yaa...! Pleaseee..."
Semua orang menatap heran pada Tomoe yang sejak tadi merengek-rengek minta maaf pada Naruto.
Naruto duduk di sofa mengunyah batang coklat pocky, sedangkan Tomoe dengan bertumpu pada lutut di lantai, terus merengek sambil memegang kaki Naruto. Entah apa masalahnya, mereka tidak ada yang tahu, dan jelas membuat mereka heran tak mengerti.
Kruukkkk...
Batang coklat pocky terakhir sudah habis ditelan Naruto, "Iyaaa Tomoe-chaaannn. Aku sudah bilang kan tidak usah dipikirkan lagi, lupakan saja. Aku sudah memaafkanmu."
Masih dengan wajah memelas, "Tapi Senpai,,,"
"Apalagiiii?" Naruto jadi sedikit geram.
"Kau menghindariku, kau selalu menjauh dariku saat ku dekati. Hiksss..." isakan Tomoe yang sudah ada dari tadi tidak kunjung berhenti.
"Ya jelas lah. Kau membuatku trauma, mana bisa aku secepat itu berani dekat-dekat denganmu lagi."
"Hikss,,, Senpaiii... Lalu apa yang harus ku lakukan supaya kau tidak menjauhiku lagi?"
"Tidak ada." jawab Naruto singkat.
"Araa,,, ufufufufuuuu... Kalian berdua romantis sekali, aku ingin ikut boleh tidak?"
Tomoe berhenti merengek karena ucapan Akeno. Sedangkan Naruto langsung menoleh pada Akeno dengan tatapan sebal.
"Tidak...! Ingat, aku masih marah padamu, Akeno-san!. Gara-gara kau, aku yang disuruh sensei mencatatkan 35 halaman materi pelajaran ekonomi makro di papan tulis."
"Ufuuuuu,,,, kalau begitu aku minta maaf saja deh." kata Akeno dengan nada riang seolah tak bersalah.
Naruto jadi makin kesal, "Gh, kau merusak makna permintaan maaf tahu" Naruto mecengkram kepalanya dengan kedua tangan, "Aaahh~,,, pokoknya besok aku akan minta pada wali kelas agar tempat dudukku di ubah. Aku tidak ingin duduk sebangku denganmu lagi."
"Yah, Jangan dong! Nanti kita tidak bisa lagi bermain erotis seperti biasanya."
Ucapan Akeno sukses membuat perhatian semua orang tertuju pada Naruto. Termasuk Sona dan Rias yang sejak tadi sibuk membahas sesuatu.
"Hoi hoi hoooii... Aku tidak melakukan apa-apa, aku bukan siswa mesum seperti Issei. Dia yang berbuat tidak senonoh padaku." jari Naruto menunjuk Akeno.
Naruto membela diri, tidak ingin dicap buruk oleh orang lain.
Tomoe yang masih memegangi kaki Naruto bertanya, "Anoooo Naruto senpai,,, memangnya apa yang dilakukan Akeno-senpai padamu?"
"Diam kau, Tomoe-chan!. Yang dia lakukan sama saja denganmu."
Tomoe langsung diam karena hardikan Naruto, rupanya dari dalam hati Naruto masih marah pada Tomoe.
Tidak ada suara lagi. Suasana didalam ruangan jadi suram. Naruto yang mereka kenal adalah pribadi yang hangat dan ceria, tapi melihat Naruto marah seperti saat ini serasa membuat nafas sesak. Jika berkumpul, Naruto biasanya menjadi moodboster untuk yang lainnya, namun jika seperti ini, siapa yang bisa merasa nyaman?
Sona dan Rias, sebagai orang yang paling tinggi posisinya disana, merasa sudah harus bertindak agar tidak berlebihan.
"Naruto-san..."
"Ya, Rias-ojou?" Naruto menatap ke arah Rias yang berdiri cukup jauh darinya, berdiri didekat Sona yang sedang duduk di kursi Ketua OSIS.
"Sebenarnya ada apa sih denganmu? Sejak tadi moodmu kelihatan tidak bagus."
"I-itu,,, anooo..." mata Naruto melirik kanan kiri. Jika dengan yang lain, Naruto bisa menganggapnya teman, tapi dengan Rias sedikit canggung. Rias itu putri bangsawan Gremory. Naruto harus bisa menjaga sikap.
"Katakan saja, tidak usah ragu!. Aku sendiri tidak nyaman melihat kau seperti itu."
"Akeno-san melakukan pelecehan seksual padaku." jawab Naruto singkat dan jelas.
Tidak ada yang terkejut, hal seperti itu sudah sering Akeno lakukan pada siapapun laki-laki yang menarik perhatiannya.
Saji, satu-satunya laki-laki selain Naruto diruangan itu jadi penasaran. "Memangnya hal apa yang Akeno-senpai lakukan padamu, Naruto-senpai?"
"Kurasa pertanyaanmu tidak perlu ku jawab, Saji."
Kalau Naruto tidak mau menjawab, maka Akeno yang menjawabnya, dengan sangat antusias, "Jadi begini, aku meraba-raba pangkal paha Naruto-san saat jam pelajaran. Dan kau tahu apa yang ku temukan, Saji-kun?"
Saji menggeleng penasaran akan kelanjutan ucapan Akeno.
"Aku menemukan sesuatu benda yang besar, hangat, ke-"
Tuk...
"Adduuhhh..." ucapan Akeno tidak selesai karena lebih dulu ditimpuk Naruto dengan pulpen yang ia ambil di meja dekat sofa yang ia duduki.
Xenovia tidak terima teman seklubnya dibegitukan,"Naruto-senpai. Tidak baik menimpuk seorang gadis. Kalau mau timpuk-timpukan, aku bisa melayanimu."
Shinnggg...
"Pakai ini sekalian." lanjut Xenovia setelah dia mengeluarkan Ex-Durandal miliknya.
Rias memijit pelipisnya, Xenovia selalu seperti ini pada Naruto. Semenjak kalah telak sparing dengan Naruto tempo hari, dia selalu mengajak Naruto bertanding ulang setiap kali bertemu. Mungkin Xenovia ingin balas dendam karena hidung mancung kesayangannya dipatahkan oleh sikutan lutut Naruto.
Sebelum semuanya makin ruwet, "Xenovia, sarungkan pedangmu. Jangan merusak ruang OSIS!" kata Rias.
"Ha'i, Buchou" Xenovia menyimpan kembali pedangnya di inventori sihir pribadinya.
Rias menatap lagi pada Naruto, "Ada lagi yang lain kan, Naruto-san? Tidak mungkin hanya karena kelakuan Akeno saja. Dia sudah cukup sering berbuat tidak senonoh padamu, jadi tidak mungkin kau semarah itu."
"Hn. Ini juga karena Momo dan Reya."
Yang namanya disebut Naruto langsung mencari objek lain untuk dipandang. Tampaknya pemandangan lampu ruang OSIS jadi sangat menarik untuk mereka berdua saat ini.
Merasa dipandangi sejak tadi, akhirnya Momo buka suara. "Hmm,, Eheee... Kami hanya bermain-main sebentar dengan Naruto-senpai di perpustakaan. Iyakan Reya-chan?"
"Iya, Aku dan Momo-chan hanya bermain. Yahhh,, bermain-main saja."
ctak ctak ctaakkk...
Suara cambuk memenuhi ruang otak Momo dan Reya. Tapi hanya di imajinasi saja, buktinya Sona masih bergeming di kursi Ketua OSIS sedari tadi. Namun pasti, Momo dan Reya akan mendapat hukuman itu nanti.
"Anooo,,, maafkan aku juga, Senpai." Koneko yang mulanya diam, tiba-tiba bicara, mungkin karena masih merasa bersalah karena kejadian tadi.
"Loh?" Rias heran, ternyata Koneko si bidak bentengnya juga terlibat. "Memangnya apa yang kau lakukan, Koneko?"
"Karena aku, Naruto senpai dituduh satpam sekolah melakukan pelecehan se-,,,"
"Stop! jangan diteruskan.. Aku memaafkanmu kok, Koneko-chan. Yang ditaman tadi, memang aku saja yang ketiban sial."
"Terima kasih, Senpai."
Tsubasa Yura, gadis berambut biru muda yang sejak tadi asik bermain gitar, tertarik bertanya. Tadi dia sudah mendengar dan bisa mengira apa yang di alami Naruto akibat Akeno, Momo, Reya, dan Koneko. Tapi belum dengan Tomoe. "Hei, Tomoe-chan. Aku lihat Naruto-senpai paling marah padamu. Memangnya apa yang kau lakukan?"
"Tadi aku dan Naruto-senpai membuat ramen bersama, lalu memakannya. Aku hanya memasukkan obat per-,,, Mmmpphhh..."
Naruto dengan cepat membekap kuat mulut Tomoe. "Yah,,, obat per-,,,,, -tambah darah."
"Haaaahh?" semuanya membeo.
"Maksudnya obat penambah darah. Ya, itu,,,,,. Padahal aku sedang baik-baik saja, tidak luka sama sekali tapi dia malah memasukkan obat penambah darah di makananku."
Apa yang dilakukan Tomoe yaitu memasukkan obat perangsang kedalam ramen sudah keterlaluan, Naruto malu kalau sampai diketahui orang lain.
Naruto memandang Tomoe dengan tatapan mengintimidasi, "Iya kan, Tomoe-chan? Iyya kan hahh...!"
Tidak ada pilihan lain bagi Tomoe selain mengangguk.
"Phuaaahh,,,," Tomoe lega setelah Naruto tidak lagi membekap mulutnya, "Kau membuatku hampir kehabisan nafas, Senpai."
"Huh,,, biarin. Mati saja kau sekalian.!" kata Naruto sewot, tidak mau disalahkan.
"Huaaaa,,, Senpai jahaaatttt..."
Itulah sedikit kehebohan yang melibatkan Naruto sebagai pusatnya. Tidak terlalu berlebihan, bukan hal mengejutkan dan tidak bisa dianggap lucu juga. Tapi yang ada dipikiran gadis iblis yang satu ini sangat jauh berbeda.
Ya, berbeda jauh sekali. Gadis iblis berambut hitam pendek yang dipotong model bob dan memakai kacamata, gadis bernama Sona Sitri. Sejak tadi dia memikirkan hal yang membuat hatinya seakan sesak.
Menurut pandangan Sona, apa yang sudah dilakukan oleh Akeno, Momo, Reya, Koneko, dan Tomoe adalah suatu tindakan agresif seorang wanita pada pria yang disukainya. Pandangan ini tidak salah, tapi juga tidak seratus persen benar. Sona merasa didahului. Sebagai iblis yang menempati posisi King, ia merasa dilangkahi oleh bawahannya sendiri. Entah kenapa, itu memuat hatinya tercubit, perih dan sakit.
Sona adalah iblis pintar, tidak sulit bagi dia untuk menafsirkan apa yang dia rasakan selama ini jika berdekatan dengan Naruto. Apa penyebab tubuhnya merasa panas dan selalu bergejolak jika melakukan kontak langsung dengan tubuh Naruto. Masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai perasaan cinta. Perasaan itu terlalu sakral untuknya, apalagi dia berasal dari ras iblis yang awam terhadap perasaan itu.
Yang jelas sebagai iblis, Sona merasa yakin kalau dirinya punya ketertarikan seksual yang sangat besar pada Naruto. Hasratnya begitu menggebu-begu saat ini, ia ingin memiliki tubuh Naruto seutuhnya, dia ingin mendominasi Naruto di ranjang, membuat Naruto merintih dan mendesah karenanya. Tapi sekarang api kecemburuan membakar semua ruang di hati Sona.
Sona merasa harus bertindak sekarang juga. Ya, harus...!
Tanpa berkata apapun, dengan wajah datar seperti biasa, Sona bangkit berdiri dari kursi Ketua OSIS. Berjalan perlahan tapi pasti, berjalan kearah Naruto yang masih duduk bersandar di Sofa.
Tidak lama, Sona sudah sampai di dekat Naruto. Semua orang jadi bingung, heran. Ekspresi Sona yang seperti ini baru pertama kali mereka lihat. Wajah Sona memerah seperti hendak berasap, seperti orang melawan malu dengan segenap keberanian yang ia punya.
Tidak ada yang berani menggangu apa yang hendak Sona lakukan, bahkan Tomoe yang sejak tadi ada didekat Naruto saja, langsung menyingkir, menjauh dari Naruto dan Sona.
Setelah Tomoe menyingkir, Sona menempati posisi tepat didepan Naruto yang masih duduk di sofa. Naruto sendiri sama sekali tidak bisa menebak apa yang di inginkan Sona. Dia hanya memandang Sona heran.
Brukkk...
Sona menjatuhkan dirinya di sofa, memerangkap Naruto dalam kungkungannya. Kedua lututnya digunakan untuk bertumpu di sofa, mengapit kedua paha Naruto agar tidak bergerak. Tangan kiri ia letakkan di sandaran sofa untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Sedangkan tangan kanannya melonggarkan dasinya.
Semua orang memasang wajah tegang, terkejut sudah pasti. Sona tidak pernah berbuat seagresif ini. Masing-masing meneguk ludah kasar, tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi. Walaupun tidak ingin, tapi tetap saja adegan erotis yang panas dan menggairahkan antara Sona dan Naruto melintas dipikiran mereka begitu saja.
Naruto sendiri, tidak bisa berbuat apa-apa. Yang jelas otaknya blank. Kalau gadis iblis lain dia merasa wajar, apalagi macam Akeno. Tapi Sona yang minim ekspresi, bermuka datar dan hanya bertindak seperlunya saja tiba-tiba bertindak sejauh ini, membuat Naruto tidak habis pikir hingga ia sendiri tidak terpikir untuk menjauh. Dia memang sering berada diposisi seperti ini, tapi tidak dengan gadis manapun selain Hinata.
Setelah Sona melonggarkan dasinya, tangan kanan itu bergerak melepas dua kancing atas seragamnya. Sona sadar kalau dibalik kemeja yang ia pakai, tidak ada apa-apa untuk dibanggakan, tidak seperti milik gadis-gadis iblis lainnya. Ia sendiri tidak mengerti dan tidak terlalu memikirkannya, yang jelas tubuhnya bergerak sendiri tanpa ia sadari. Sona hanya tahu kalau ia sangat menginginkan ini, hasrat birahinya harus segera dituntaskan.
Sona pun mendekatkan wajahnya pada wajah Naruto, bibir mungilnya sudah mengunci target.
Naruto masih tidak bergerak karena otaknya blank, hanya bisa pasrah saja dan menutup matanya berharap ada seseorang yang bisa menghentikan ini karena apa yang akan terjadi, jelas berakibat buruk padanya nanti, pada rumah tangganya.
Tidak Rias, tidak Tsubaki, pokoknya tidak ada satupun yang tidak melotot dengan mulut menganga. Ini benar-benar diluar ekspekstasi mereka. Sona yang sekarang benar-benar bukan Sona yang mereka kenal. Sona adalah gadis iblis penuh logika, bukan gadis iblis agresif tak tahu malu. Kalau sampai Sona melakukan adegan erotis didepan banyak orang, maka kejadian itu bisa dimasukkan dalam buku rekor dunia.
Sedikit lagi, kurang dari 2 cm lagi, kedua kedua bibir itu akan bertemu dan menyalurkan hasrat dan gairah panas yang menggebu-gebu.
Krriiieetttt,,,,,
Pintu ruang OSIS berderit karena dibuka, namun tidak ada seorangpun yang menyadarinya. Fokus semua orang di dalam ruang OSIS tertuju pada apa yang sedang Sona lakukan.
Setelah pintu itu terbuka lebar, nampak lah dua perempuan. Satu bertubuh pendek dengan rambut hitam di ikat twintail, mengenakan pakaian penyihir seksi. Satu perempuan lagi, walau tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi jelas sangat proporsional, sangat ideal dan sedap dipandang.
Itu Serafall dan Hinata. Seperti yang disebutkan tadi, Hinata ada urusan, dan urusannya dengan Maou bergelar Leviathan.
Serafall sontak dilanda panik luar biasa ketika melihat apa yang dilakukan adiknya pada Naruto, dengan gerakan leher patah-patah, dia menoleh ke arah Hinata. Dilihatnya tatapan mata Hinata mengeras, tangan kiri gadis itu terangkat. Serafall masih ingat jelas apa yang akan terjadi pada adiknya kalau tangan kiri itu sampai pada posisinya. Hyuga no Juinjutsu.
Serafall harus bertindak cepat kalau tidak ingin adiknya kenapa-kenapa, apalagi sampai pingsan karena meraung-raung kesakitan. Karena panik, dengan asal-asalan dia melakukan sihir es pembeku.
Kembali ke Sona, melihat Naruto yang sudah menutup mata, melihat bibir Naruto yang begitu seksi dan menggoda, dia menutup matanya juga.
Chhuu...
Target yang sudah terkunci akhirnya tercapai, bibir Sona sudah sampai pada target yang dituju.
Namun bukanya rasa manis, panas, dan menggairahkan seperti kata orang-orang yang dirasakan oleh bibir Sona. Rasanya dingin, dia seperti meletakkan es dibibirnya sendiri.
Merasa tidak seperti yang dia inginkan, Sona membuka mata. Dipenglihatannya, seluruh tubuh Naruto terbungkus es. Sona langsung sadar akan perbuatannya yang sudah kelewat batas tak terkontrol. Tidak ada rasa malu atau menyesal, walaupun sekarang gagal tapi masih ada kesempatan lain. Dia merapikan bajunya seperti semula. Kembali ke Sona yang datar seperti biasa seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi.
Sona menatap semua orang yang ada diruang OSIS, dia hanya mendapati wajah tegang tak percaya dari semua orang. Terlebih dari Rias, sahabatnya sejak kecil. Tsubaki yang selalu bersamanya juga sama. Budak-budak miliknya yang lain tidak ada yang bersuara. Akeno yang biasanya memasang tatapan mata sayu, kini melotot selebar-lebarnya, wajah Kokeno pun tidak datar lagi seperti biasanya, dan Xenovia kehilangan hasrat bertarung. Yang pasti wajah mereka semua memerah dengan telinga berasap.
Ketika Sona mencari pelaku yang menggagalkan perbuatannya, tatapan Sona berhenti di pintu. Ada kakaknya yang bernafas terengah-engah, kakaknya itu lebih seperti orang yang lega setelah melewati kenyataan diambang hidup dan mati.
Satu lagi, ada Hinata. Tidak ada yang spesial dari wajah Hinata dimata Sona. Hinata tampak seperti biasa, hanya saja tangan kiri gadis berambut indigo panjang itu sedikit terangkat.
"Sou-taaannnn..." Serafall berteriak lalu menerjang Sona dan memeluknya erat. "Huuaahh... Syukurlaaaah,,, kau tidak apa-apa?"
"Heh?" Sona sama sekali tidak mengerti dengan tingkah kakaknya, "Memangnya apa yang terjadi padaku, Onee-sama?"
"Ahh,,, sebaiknya jangan kau pikirkan lagi!" jawab Serafall.
Serafall bersyukur tindakannya cepat. Kalau terlambat sedikit saja, yang terbayang adalah adiknya yang meraung-raung kesakitan, atau bahkan lebih buruk, bisa saja Hinata dalam sekejap membunuh Sona dengan kekuatan matanya tanpa bisa dicegah, dirasakan, maupun diketahui.
Serafall baru saja berbicara serius dan tertutup dengan Hinata. Ada beberapa hal yang dibahas, tapi yang jelas dia tidak punya kuasa untuk menolak. Dia hanya bisa menuruti keinginan Hinata. Pembicaraan serius dua wanita yang pernah bertarung hidup mati ini melahirkan sebuah kesepakatan baru.
Intinya Serafall yang sudah 'jatuh', harus melakukan apapun yang Hinata inginkan. Demi menjaga orang-orang yang ia sayangi, adiknya, orang tuanya, serta seluruh keluarga Iblis Sitri.
Krakk,,, pyarr...
"Phuuaaahhhh..." Naruto akhirnya bisa membebaskan diri akibat dibekukan oleh Serafall. Lapisan es yang dibuat Serafall di seluruh tubuhnya tidak tebal, jadi dia bisa bebas tanpa perlu menggunakan banyak kekuatan.
"Grrrrr..." Naruto menggeram...
"Ehheeee,,,, Naru-tan. Jangan marah padaku dong."
Apapun yang terjadi, Serafall harus bersikap biasa didepan semua orang.
Naruto kini berdiri, menatap tajam semua orang. Terlebih pada gadis-gadis iblis yang telah berbuat tak senonoh padanya.
"Aku sama sekali tidak mengerti. Apa kalian tertarik padaku?, lalu kalian seenaknya berbuat yang tidak-tidak dan tak bermoral seperti tadi?" hanya satu hal ini yang bisa Naruto pikirkan sekarang, setelah melewati kejadian mulai dari ulah Akeno hingga tingkah Sona barusan.
Tidak ada yang menjawab dengan suara. Hingga beberapa saat kemudian anggukan kepala dari Sona sebagai jawaban pertama yang didapat Naruto.
Sona sudah mengakui dengan jelas dan terang-terangan kalau ia tertarik dan menyukai Naruto.
Disusul oleh suara tegas Tomoe, "Iya, aku tertarik padamu. Aku menyukaimu, Naruto senpai."
Momo dan Reya hanya menggaruk-garuk pipi masing-masing dengan telunjuk, disertai wajah merona merah malu-malu. Anggap saja artinya 'iya'.
Koneko mengeluarkan telinga kucing dan ekornya yang berbulu putih. Kali ini dia jujur akan hasratnya.
Akeno hanya menyeringai. Wanita tipe sadistik ini tidak dapat ditebak apakah dia benar-benar tertarik pada Naruto atau hanya menjadikan Naruto sebagai objek kesenangannya seperti yang ia lakukan pada Issei.
"Aku,,,!" tiba-tiba Serafall mengangkat tangannya sambil bersuara nyaring, "Aku sangat tertarik dan ingin sekali bercinta denganmu, Naru-tan"
Entah Serafall terlalu jujur, cuma bercanda dan ikut-ikutan saja, atau dia amnesia untuk mengingat ancaman nyawa seseorang padanya. Yang jelas ini sudah memperburuk suasana.
Naruto duduk kembali, merelakskan badannya disandaran sofa. Dia sudah seperti raja yang diperbutkan banyak gadis sekarang. "Aku akan menjawab sekarang, jadi dengarkan baik-baik.!"
Seperti mendapat angin segar, tidak ada satupun dari para gadis yang menyangka akan mendapat jawaban secepat ini. Terutama Sona yang kelihatan paling berharap diantara yang lainnya.
"Aku tipe laki-laki setia."
Ucapan Naruto menambah ketertarikan pada gadis pada lelaki berambut pirang ini. Mereka semua menaruh harapan besar pada Naruto agar memilih salah satu diantara mereka.
"Dan aku sudah punya seorang istri. Jadi aku hanya akan setia pada istriku saja. Jawabanku sudah jelas dan tidak perlu dipertanyakan lagi kan?" kata Naruto tegas.
Pupus sudah...
Semuanya shock, serangan mental hebat, mulut mereka menganga lebar sebagai manifestasi akan ketekejutan mereka, terlebih untuk Sona. Kacamata yang selalu ia gunakan terlepas dengan sendirinya, jatuh ke lantai,,,,
Krakkk,,,
retak, memantul keatas,
Kretaakkk..
jatuh dan memantul lagi membuat retakannya semakin besar.
tukk..
jatuh sekali lagi, dan,,,
Pyaarrrr...
remuk berkeping-keping, remuk seperti keadaan hati pemilik kacamata itu.
Tubuh Sona tak bergerak, raut wajahnya seperti baru mendengar berita kematian orang paling berharga.
"A-anoooo,,, Sona-san?" Naruto merasa sedikit bersalah melihat kondisi Sona saat ini. Dia sudah menolak Sona secara langsung tidak lama setelah gadis iblis itu menyatakan ketertarikannya pada dirinya.
"Katakan padaku, siapa istrimu?" tanya Sona dengan nada datar dan tatapan mata kosong. Cerminan dari hatinya yang sudah hancur, hancur, hancur, hancur berkeping-keping.
"Hah? Massa kau tidak tahu siapa istriku?" Naruto jadi bingung dengan pertanyaan Sona. Kenapa hal itu ditanyakan?
Sona menggeleng.
"Kalian semua hampir setiap hari bertemu istriku."
"Me-memangnya siapa istrimu, Senpai?" tanya Koneko terbata-bata.
Naruto menunjuk gadis berambut indigo panjang yang berdiri di ambang pintu sejak tadi, gadis itu masih dengan ekpresi seperti biasa dan senyum manis khasnya yang tidak pernah luntur barang sedetikpun.
"Dia,,, Hinata... Uzumaki Hinata itu istriku. Kami sudah 4 bulan lebih menikah, sebelum aku menjadi siswa di Kuoh Gakuen."
Sona tidak berusara lagi, banyak pertanyaan yang ada dibenaknya namun tak satupun bisa dikeluarkan.
Pertanyaan Sona disuarakan oleh yang lain.
"Kau menikah dengan saudaramu sendiri, Naruto-san?" tanya Tsubaki.
"Eh? Saudara?" Naruto tidak mengerti.
"Kau dan Hinata bersaudara kan?" Tsubasa memperjelas pertanyaan Tsubaki.
"Haaaaaahh?" Naruto sungguh benar-benar tidak mengerti jalan pikiran para iblis, pintar atau bodoh sih?. "Sekarang ku tanya, darimana kalian menyimpulkan kalau kami ini bersaudara? Wajahku dan Hinata saja tidak ada kemiripan sama sekali. Lihat baik-baik!, apa kami mirip?"
"Tapi kan, nama marga kalian sama. Uzumaki." ungkap Ruruko Nimura, gadis yang menempati posisi sama dengan Saji sebagai bidak pion. Dia tidak terlalu memperhatikan hal ini karena terlalu sibuk mengejar cintanya Saji.
"Ya iya lah. Dia istriku, jadi pasti memakai nama margaku. Sebelum menikah, istriku memakai nama Hyuga Hinata." tukas Naruto.
"Setahuku kau dan Hinata-san tinggal seapartemen kan?" kini Rias yang menyuarakan isi pikirannya.
"Masalahnya dimana? Memangnya hanya saudara saja yang boleh serumah. Kami sudah menikah jadi sudah sewajarnya tinggal seatap dan tidur seranjang."
"Ta-, tapi,,,, tapi aku tidak pernah melihat kalian bermesraan." kata Momo diikuti anggukan dari Reya.
"Yah,,, Ehmmm... Kalau itu siiih..." Naruto jadi merasa malu sendiri. "Kamiii, kami merasa masih pengantin baru, dan masa pacaran kami sebelum menikah cukup singkat akibat kebodohanku dulu. Makanyaaaa,,,, yaaaa, kami belum terbiasa bermesraan dimuka umum."
Harus Naruto akui, ia memang tidak berani mengumbar kemesraan di depan banyak orang. Yaah, masih malu, seperti masa pacaran singkat yang ia jalani di dunia shinobi dulu. Setiap kencan saja, paling jauh hanya berpegangan tangan. Walau begitu setelah menikah, jika berdua saja, apalagi di apartemen, ia dan istrinya sangat mesra. Tidak usah disebutkan kemesraan seperti apa yang ia lakukan bersama Hinata jika hanya berdua saja, apalagi jika hasrat sedang menggebu-gebu dan gairah panas memuncak, derit ranjang menjadi satu-satunya melodi simfoni pengiring kemesraan cinta mereka.
"Ta-,,,"
Ucapan Koneko dipotong Naruto,
Naruto tidak habis pikir, "Tapi apa lagi? Apa kami pernah menggunakan panggilan adik-kakak seperti yang saudara lakukan?"
Semuanya menggeleng. Diam.
Reya merasa masih ada yang janggal, "Kalau begitu, kenapa selama ini Senpai tidak pernah mengatakan pada kami kalau kau dan Hinata senpai itu sudah menikah?"
"Pertanyaanmu kukembalikan saja ya. Apa pernah ada diantara kalian yang bertanya apa hubungan ku dengan Hinata?"
Reya dan yang lainnya menggali memorinya sejak pertama bertemu Naruto hingga sekarang. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sona, dia lah yang pertama kali bertemu Naruto dan dia juga yang paling banyak memiliki waktu kebersamaan dengan Naruto. Tapi hasilnya nihil. Tidak sedikitpun ada memori apakah ada diantara mereka yang pernah bertanya tentang bagaimana hubungan Naruto dan Hinata.
Mereka semua menggeleng lagi.
"Kalian sendiri yang seenaknya menyimpulkan kalau aku dan Hinata adalah saudara, iya kan?"
Tidak ada pilihan lain bagi semua iblis selain mengangguk.
"Ufufufuuuuu... Baiklah, Naruto-san. Aku percaya." Akeno yang pertama kali menyadari kebodohannya. "Siapa yang menyangka kalau kau dan Hinata-san menikah muda? Dan bagaimana bisa kau bersekolah di Kuoh Gakuen dengan status sudah menikah, sekolah inikan melarang siswanya menikah selama masa belajar."
"Kau orang kesekian yang mengomentari statusku tentang menikah muda, Akeno-san. Lalu kenapa aku bisa sekolah disini?, itu karena statusku di kantor catatan sipil Kuoh masih lajang. Aku dan Hinata menikah di tempat asal kami dan baru legal secara administratif disana. Apa ada yang kurang jelas?"
"Tidak. Ufufufuuuu... Tapiiiiii,,,"
"Tapi apa?" tanya Naruto heran. Akeno seperti sengaja menggantung ucapannya.
"Aku tidak akan menyerah, sudah wajar sistem perkawinan iblis membangun harem. Aku rela jadi herammu yang keberapapun." lanjut Akeno dengan nada bercanda.
"Aku juga rela, Senpai." kata Tomoe dengan riangnya.
"Tidak...! Aku tidak ingin membangun harem. Jangan samakan aku dengan bocah Sekiryutei mesum itu." ucap Naruto tegas, dan ketegasan ini memupuskan harapan gadis-gadis yang tertarik padanya.
Dasar bodoh. Bodoh, bodooohhhh... Ada banyak gadis iblis yang menaruh harapan pada Naruto, namun hari ini semua harapan mereka hancur. Naruto tidak PHP, tidak sekalipun Naruto pernah memberikan peluang dan harapan pada gadis untuk mengejarnya. Yang salah adalah para gadis iblis yang dengan begitu bodohnya tidak sedikitpun menyadari kalau Naruto sudah menikah dan hanya setia pada satu-satunya istri yang ia miliki.
Sebagai yang paling tua, Serafall harus menjadi yang paling bijak disini. "Hohooooo,,,, nah jadi kesalahpahaman ini sudah selesai kan? Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi."
"Ettooo, Leviathan-sama. Apa kau juga baru tahu kalau Naruto-san dan Hinata-san sudah menikah?" Rias memberanikan diri bertanya.
"Tidak juga, aku sudah lama tahu sih. Heheheee..."
Serafall nyengir. Bagaimanapun dia sendiri juga sama bodohnya dengan para iblis muda ini. Awalnya dia juga tidak tahu kalau Naruto dan Hinata sudah menikah, tapi setelah mendapatkan peringatan keras dari Hinata, baru ia sadar kalau ia salah menggoda orang. Kesalahan ini pula yang membuat ia hampir tewas.
"Apa ada lagi yang tahu kalau Naruto-san dan Hinata-san sudah menikah?" Sona sudah bisa bersuara, walau hatinya yang patah masih belum kembali seperti semula.
"Aku,,, aku...! Aku tahu. Aku sendiri tidak masalah asal Hinata-senpai mau berbagi denganku. Tapi yaaaahh, ternyata Naruto-senpai yang tidak mau membagi cintanya." jawab Tomoe cepat, dan dia langsung mendapat pelototan tajam dari Sona.
"Sejak kapan kau tahu, Tomoe?" tanya Sona geram.
"Sudah lama sih, aku kan sering bertandang ke apartemennya Hinata-senpai untuk belajar memasak. Diruang tamu apartemen itu, ada foto pernikahan yang dipajang. Naruto senpai sangat tampan dan menawan di foto itu, Hinata-senpai juga luar biasa cantik. Aaahhhh~~~, aku jadi iri dan ingin cepat menikah."
Ucapan Tomoe yang selancar jalan tol membuat Sona makin geram, "Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku hah?"
"Yah,,, ku kira semua yang disini sudah tahu, jadi aku diam saja. Lagi pula tidak ada yang bertanya kan?"
Ucapan Tomoe menohok Sona. Dia yang dikatakan jenius, kini seperti orang paling bodoh sedunia. Air mata yang sejak tertahan di kelopak mata Sona, akhirnya mengalir deras.
"Hiks,, hiks. . . ." Sona menyeka air matanya, tapi tetap saja keluar terus. "Hiikksss,,,, Huuaaaaa..." sifat cengeng Sona saat kecil yang sudah lama tak muncul, kini melesak keluar tanpa bisa ditahan. Akhirnya, pertahanan Sona runtuh. Dia yang selalu perfeksionis, tidak bisa lagi mempertahankan wibawanya.
Sona berlari sambil menangis, lalu duduk di kursinya, di kursi ketua OSIS. Menelungkupkan kepalanya di meja. Terisak dan menangis disana sejadi-jadinya. Sona merasa sangat malu. Kenapa otaknya yang dikenal jenius sampai sebodoh itu untuk menyadari kalau Naruto dan Hinata adalah sepasang suami istri. 'Sialannnn,,,' Sona menggeram dalam hati, merasa tidak punya muka lagi untuk menatap siapapun saat ini.
Budak-budak Sona merasa kasihan pada King-nya. Cinta pertama Sona hancur, dihancurkan dalam sekejap oleh Naruto. Walau pada kenyataannya Naruto tidak bisa disalahkan sebab yang bodoh dan bersalah disini adalah Sona. Ya, Sona lah yang bodoh dan terlalu berharap.
Rias, tidak bisa berkomentar apa-apa. Sona telah salah memilih pria yang menjadi objek ketertarikan seksualnya, tapi bisa dimaklumi karena baru pertama kali ini Sona tertarik pada seorang pria.
Koneko merasa makin bersalah saat ini, apalagi mengingat kelakuannya yang sering cari perhatian dan selalu mencuri waktu Naruto. Dia merasa ikut terlibat dalam kesalahpahaman ini. "Anooo, Naruto-senpai. Maafkan aku yang tidak menyadari kalau kau sudah punya istri."
"Sudahlah,,, kau tidak salah jadi tidak usah dipikirkan lagi, Koneko-chan."
Momo dan Reya mendekat pada Hinata yang masih berdiri di ambang pintu, lalu mereka membungkukkan badan. "Hinata-senpai, maafkan kami. Maaf kalau kami membuatmu sakit hati dan cemburu."
Momo dan Reya sangat menyesali perbuatannya. Bagi dua iblis ini, sosok Hinata adalah panutan seorang gadis ideal dengan segala sikap baik dan keanggunan, sosok wanita cantik sejati yang melebihi pesona malaikat sekalipun. Mereka ingin seperti Hinata.
"Jangan membungkuk seperti itu" pinta Hinata. "Yah,,, aku memang agak marah tadi, tapi mengetahui kalau ini semua hanya kesalahpahaman aku tidak memikirkannya lagi. Malah aku ingin tertawa karena hal konyol ini, Hihiii..." Hinata menutup mulutnya untuk meredam tawanya agar tidak terlalu lepas, menjaga pribadinya sebagai wanita yang sopan dan anggun.
"Tapi senpai, bagaimana kalau seandainya Naruto-senpai menduakanmu tadi?"
"Itu sangat tidak mungkin. Naruto-kun itu suamiku dan aku sangat mengenalnya sejak aku baru bisa mengingat. Dia setia dan tidak akan pernah berpaling dariku. Aku percaya dan yakin itu." jawab Hinata dengan senyum meyakinkan.
"Huaaaaaa... Hinata-senpaaaaiii..." Momo dan Reya terharu lalu memeluk erat Hinata. "Tolong ajari kami menjadi seperti mu dan cara mendapatkan laki-laki seperti Naruto senpai."
"Ummmm,,, baiklah."
Sedangkan Sefarall, dia berjalan mendekati adiknya yang masih menelungkupkan kepalanya di meja. Mengusap rambut adiknya yang manis itu.
"Hiksss... Ak-akuuu, aku malu Onee-samaaaa..."
Sona masih menangis, kalau sudah cengeng begini, maka Serafall lah satu-satunya orang yang memahami Sona.
"Sudahlah, Sou-tan. Cobalah belajar merelakan! Relakan Naruto yang sudah menjadi suami perempuan lain."
"Hiksss,, iyaa. Aku akan berusaha, Onee-sama."
"Hmmm, bagus." usapan lembut tangan Serafall pindah ke punggung Sona. Lalu berbisik ditelinga adiknya, "Tapi ingat satu hal. Kita ini iblis, dan sudah sepantasnya kalau iblis itu merebut suami orang, iya kan? Iblis gitu loh..."
DONNGGGGGG...
"HUUAAAAA,,, ONEE-SAMAAAA. . . . . . "
Candaan Serafall, sukses membuat Sona yang cengeng, menangis semakin menjadi-jadi.
Hiburan untuk Serafall karena sudah lama sekali ia tidak melihat adiknya secengeng ini. Dan tentu hiburan baru untuk semua yang ada disana tentunya, termasuk Rias yang merupakan sahabat Sona sejak kecil
Masalah selesai. Oh iya,,,, ada yang kelupaan. Dua peerage Sona yang paling pendiam, sama sekali tidak bersuara sejak tadi. Bennia sang grim reaper yang mengkonsumi bidak Knight dan Loup Garou si manusia serigala yang mengkonsumsi bidak Rook. Dua orang ini seperti hantu yang menempel di dinding ruangan, yang keberadaannya sulit dirasakan.
.
.
.
-Tempat Pertemuan Khusus, Sudut Terjauh Dimensional Gap-
Hari ini ada pertemuan penting. Pertemuan pertama tim kecil yang dibentuk oleh Naruto. Tidak ada nama khusus untuk tim ini, apalah arti sebuah nama jika mereka tidak ingin mencetak sejarah dan tidak ingin dikenal. Mereka hanya perlu mencegah keruntuhan Sistem Multiuniverse, mencegah kiamat terjadi, lalu menikmati hidup didalamnya. Tapi agar tidak susah, sebut saja Tim Naruto.
Ruangan pertemuan mereka ada di dalam kompleks Kuoh Gakuen. Lebih tepatnya di ruangan pribadi Sona Sitri yang tersambung langsung dengan ruang OSIS. Ruangan ini tak kalah mewahnya dengan ruangan Klub Penelitian Ilmu Ghaib milik Rias Gremory. Hanya saja dengan desain interior yang berbeda. Kalau Rias suka dengan nuansa interior Eropa Klasik, maka Sona lebih nyaman dengan konsep Go Green.
Ruangannya tidak terlalu luas dan tidak didominasi warna hijau. Ada beberapa tanaman dalam pot ditambah water feature seperti air mancur mini lengkap dengan kolam ikan koi. Semua furniturenya dari kursi, meja, lemari dan lain-lain berbahan kayu, kebanyakan dari kayu mahoni yang kokoh dan divernis berwarna coklat kehitaman. Tidak ada penggunaan AC tapi terdapat pemanfaatan cross-ventilation sebagai penggantinya. Langit-langit ruangan di atur lumayan tinggi sehingga menambah kesan lapang dan terasa sejuk. Jendela yang terbuka lebar adalah sumber pencahayaan satu-satunya.
Ini pertemuan rahasia dan sangat penting, orang-orang yang berkumpul pun memiliki posisi tinggi digolongan masing-masing. Ada Uzumaki Naruto calon Hokage Konoha beserta istrinya, Uzumaki Hinata. Sona Sitri yang merupakan pewaris tahta keluarga Iblis Sitri beserta wakilnya, Tsubaki Shinra. Dan sosok ketidakbatasan, Sang Uroboros Dragon, Ophis, mantan pemimpin Organisasi Teroris Khaos Brigade yang kini dalam wujud loli.
Ini pertemuan rahasia, tapi kenapa ruangan tempat pertemuan terkesan di alam terbuka yang mudah di susupi orang lain? Tidak perlu mempermasalahkan itu. Ophis si mantan naga penjaga celah dimensi, sudah mendistorsi dimensi ruangan ini sedemikian rupa. Letaknya tetap berada di Kuoh Gakuen, namun sekaligus berada di tempat yang sangat jauh disudut celah dimensi yang tidak bisa dijangkau seorang pun, bahkan oleh Dewa sekalipun.
Entah bagaimana mekanisme ruang ciptaan Ophis ini, cahaya dan pemandangan dari Kuoh bisa masuk kedalam ruangan, tapi orang-orang dari luar hanya melihat ruangan ini kosong tanpa ada seorangpun. Katakanlah kalau ruangan ini mirip prinsip kerjanya dengan Jikukan-Kekkai Hogo Nisshouku buatan Naruto yang melindungi dan menyembunyikan Konoha di atas langit. Ophis adalah dewa naga yang pernah menjaga celah dimensi, jadi tidak musthil untuknya membuat hal seperti itu.
Ophis duduk di kursi kayu, menyeruput teh yang dibuat oleh Tsubaki. Sesekali menatap ke arah luar jendela besar didekat dia duduk. Memandang panorama kota Kuoh siang hari.
Sona duduk di kursi yang berseberangan dengan Ophis, terhalang oleh meja bundar kecil. Entah kenapa, saat ini Sona lebih nyaman duduk didekat perwujudan Dewa Naga, walau membuatnya sangat terintimidasi akibat betapa besarnya kekuatan Ophis. Tapi itu lebih baik ketimbang dekat dengan istri seseorang. Sampai hari ini sejak kejadian di ruang OSIS, Sona merasa canggung berdekatan dengan Naruto ataupun Hinata. Padahal pasangan suami istri itu tampak acuh dan melupakan kejadian kemarin. Yah, bagaimanapun, rasa malu akan hal bodoh itu tidak bisa dienyahkan begitu saja dari kepala Sona.
Hinata duduk di bangku panjang yang tampak seperti sofa, terbuat dari bahan rotan. Hinata memilih membaca majalah untuk mengusir kebosanan daripada tidak melakukan sesuatu.
Selain Tsubaki yang berdiri di dekat Sona, ada juga Naruto yang masih berdiri mondar-mandir tidak jelas sambil menyumpah.
"Sialan si Teme,,, sudah hampir satu jam ditunggu, masih belum datang juga."
Hinata menurunkan majalah yang ia baca, lalu berusaha menenangkan suaminya, "Tenanglah, Naruto-kun. Mungkin dia terjebak macet."
"He?" Naruto berhenti mondar-mandir. Menatap ke arah istrinya dengan mata menyipit, "Kau ngelawak, Hinata?"
Hinata hanya mengangkat bahu seraya tersenyum, lalu kembali membaca majalah ditangannya.
Naruto beralih pada Sang Ketidakbatasan, "Ophis, apa kau tidak terlalu jauh menyembunyikan ruangan ini?"
"Tidak, Naruto. Koordinatnya sudah ku berikan pada Sasuke. Teknik perpindahan dimensi Rinnegan miliknya pasti bisa menjangkau dimensi ruang ini." jawab Ophis setelah menyeruput teh yang kesekian kali.
Karena Ophis yang menciptakan dimensi ruang khusus ini, dia juga bertanggung jawab jika ada keperluan. Dia memberikan tanda untuk Sona, sehingga gadis iblis itu punya akses menggunakan lingkaran sihir teleportasi keluarganya untuk keluar masuk ruang khusus ini. Hinata memiliki Cube yang sanggup mencapai tempat dimanapun, jadi tidak masalah untuknya dan Naruto. Sasuke pun juga punya tanda sendiri sehingga dengan Rinnegan bisa dengan mudah sampai ke tempat ini.
"Apa aku harus menjemput Si Teme ke Konoha?"
"Tidak perlu, Dobe. Aku sudah dibelakangamu."
Seiring datangnya suara, muncul pula Sasuke dari lubang pusaran Kamui Rinnegan. Walau tampilannya sama, tapi penggunaannya sedikit berbeda dengan Kamui Mangekyou Sharingan milik Kakashi. Kamui Rinnegan punya jangkauan dimensi yang jauh lebih luas.
Tapi Sasuke tidak datang sendiri, ada seorang gadis yang ikut bersamanya. Gadis beriris mata hijau dengan rambut pendek sebahu sewarna permen kapas.
"Ssa-sakura-channn...!" Naruto memekik tak percaya. Dia tentu sangat mengenali gadis itu.
Sakura tidak banyak berkata apa-apa walau baru bertemu Naruto setelah cukup lama terpisah. Tidak ada tangis haru dari sepasang sahabat ini. Dia berjalan cepat kearah Naruto, ketika sudah dekat,,,
"Baka,,, kau benar-benar bodoh...!"
"Heh?" Naruto cengo.
Jduaakkk...
"ADDAWWWW..."
Jitakan yang sudah lama tidak Naruto rasakan lagi, membuat kepalanya benjol, tertunduk kebawah karena kuatnya jitakan itu.
Naruto hendak bangkit melayangkan protes, tapi,,,
Sakura lebih dulu merangkul leher dan meletakkan kepala Naruto di bahunya. Memeluk Naruto erat.
"Hikssss,,," isakan kecil keluar dari mulut Sakura, "Aku sudah mendengar semuanya dari Sasuke-kun. Terima kasih,,, kau selalu berada paling depan, menantang bahaya dan mempertaruhkan hidup untuk kami."
Naruto hanya bisa nyengir lega, "Ah i-ittu,,,, eheheheeee. Maaf, kalau aku membuatmu khawatir."
Sakura tidak menyahut, dia berusaha menahan air mata harunya. Ini untuk kesekian kalinya dia berada dibelakang Naruto dan Sasuke, juga sekarang dibelakang Hinata. Kali ini dia ingin benar-benar sejajar, seperti sekali saat perang dulu.
"Oooohhhh~~,,, aku mengerti sekarang kenapa si Teme terlambat kesini. Dia pasti menunggumu berdandan kan?"
Hilang sudah rasa haru di hati Sakura.
"Apalagi sekarang bedak di wajahmu lebih tebal dari terakhir kali kita bertemu."
Twicchh...
Naruto salah tempat bercanda, ini moment mengharukan bagi Sakura, bukan untuk di ejek.
Sakura melepas rangkulannya pada Naruto, lalu...
Jduaakkkk...
Sekali lagi jitakan maut bersarang dikepala Naruto.
"Itteee... Sakura-chan, makin hari kau makin beringas.!"
"APA? mau ku jitak lagi hah?"
"Eeeiittt,, jangan! Sudah! Sakit tahu..." kata Naruto sambil mengusap-ngusap kepalanya yang memar karena di pukul Sakura. Kebiasaan sih kebiasaan, tapi yang namanya sakit tetap saja tidak akan hilang.
Sasuke,,, hanya memasang tampang masa bodoh dengan kelakuan dua orang didepannya ini. Satu perempuan kasar tempramental, satu lagi pria bodoh. Kalau bertemu, yaaa seperti ini. Namanya juga Dobe.
Hinata,,, tak usah ditanya. Ini nostalgia,,, seperti saat dulu, saat Naruto pertama kali diakui sebagai pahlawan Konoha setelah menyadarkan Pein Nagato dan menghidupkan kembali semua orang yang mati. Dalam hati, dia senang tentunya.
Sona dan Tsubaki, tentu masih ingat dengan wajah Sakura. Gadis yang ikut dengan pemimpin Konoha, Hokage Keenam Hatake Kakashi yang datang tak diundang dan mengacaukan Pertemuan Tiga Fraksi di sekolah ini juga. Tidak ada prasangka buruk pada Sakura, dari sini mereka berdua dapat menyimpulkan kalau orang-orang Konoha memiliki ikatan yang sangat kuat yang disebut teman. Sesuatu yang sangat langka dimiliki oleh ras iblis.
Ophis, tipe orang yang tak punya kepedulian sosial, tidak peduli mau seperti apapun kejadiannya. Hanya acuh, asal apa yang seharusnya, berjalan sebagaimana mestinya.
Naruto yang kini sudah tegap berdiri menatap tajam kearah Sasuke, seraya tangannya menunjuk muka Sakura.
"Jadi,,, kenapa kau membawa Sakura-chan kesini, Teme?"
"Hn..."
"Naruto,,, jangan mengabaikanku! Tatap mataku sekarang!"
Naruto menuruti perintah Sakura.
"Aku ninja medis. Sudah menjadi aturan tetap Konoha bawah setiap tim harus memiliki ninja medis. Aku ikut timmu..! Kau mengerti?"
"Tap-,,,"
"Aku tidak menerima penolakan, Naruto..!"
"Guhh... Ya sudah. Menolak pun percuma, kau sudah terlanjur tahu dengan misi yang aku dan Hinata kerjakan."
"Jawaban yang bagus... Heheeee..." Sakura tertawa senang. Ia kini ikut andil dalam peran besar. Mana mau dirinya hanya menjadi penunggu rumah sakit sedangkan tiga temannya mengerjakan misi berbahaya.
Kini, Tim 7 orang sudah terbentuk. Angka yang menurut Naruto adalah angka pertanda bagus. Tujuh,,, Naruto sudah dinobatkan menjadi calon Hokage ketujuh satu-satunya di Konoha, pengganti Kakashi kelak.
"Ekhkheemmmm.."
Deheman Sona mengambil atensi semua orang
"Jadi bisa kita mulai pertemuannya?"
Anggukan adalah satu-satunya jawaban yang diperoleh Sona.
Pertemuan dimulai dengan khidmat. Waktu berjam-jam mereka lewati untuk membahas rencana besar yang akan mereka kerjakan untuk menangkap Trihexa, memanfaatkan siapapun demi tujuan itu. Rencana besar yang melibatkan semua golongan makhluk supranatural, memanipulasi semuanya.
Sepulang dari Kyoto setelah urusan dengan Yasaka selesai, Sasuke memberikan untuk Tim Naruto satu eksemplar copy-an laporan hasil dari memata-matai dan mencuri semua informasi rahasia di setiap golongan makhluk supranatural, termasuk di dalamnya tentang Proyek New World Order demi membangun Imperium of Bible. Intinya sekarang, Sasuke menjadi agen ganda untuk Konoha dan untuk tim kecil ini.
Setelah Sona menerima copy laporan itu, dia hanya bisa menganga. Sona merasa sangat sulit mempercayai ada orang yang bisa mengumpulkan informasi serahasia itu dengan begitu lengkap. Bagi Sona, mungkin Sasuke adalah mata-mata super terhebat yang pernah dia temui selama dia hidup. Sasuke yang narsis, hanya menyahut kekaguman Sona kalau ia tidak merasa sulit mengumpulkan informasi selama ia bisa menarik nyawa seseorang dan mengambil ingatannya.
Menggunakan semua informasi di laporan itulah, rencana awal di buat oleh Hinata dan Sona. Makanya, selama 2 minggu ini sejak pulang dari Kyoto. Hinata dan Sona tampak selalu bersama, membahas hal rumit yang Naruto tidak mengerti sama sekali. Naruto adalah pemimpin, anggap saja dia hanya terima beresnya saja.
Dan pertemuan sekarang ini adalah untuk mengulas detail rencana yang telah dibuat oleh Hinata dan Sona pada semua anggota tim, sekaligus mengkoreksi jika ada kesalahan dan melakukan pembaruan rencana jika ada informasi terbaru. Ada beberapa topik penting yang mereka bahas.
Salah satu topik berkaitan dengan Cardinal System. Tiga eksistensi terkuat yaitu Trihexa, Great Red, dan Ophis diciptakan oleh sistem dengan beberapa fungsi. Salah satunya adalah keberadaan Great Red di celah dimensi, yaitu untuk mencegah adanya eksistensi yang keluar masuk melewati batas-batas DxD Universe.
Hal ini pernah terjadi pada Naruto dan Hinata, terakhir kali mereka pulang dari universe lain dalam misi mencuri artefak Hogyokou dari dunia shinigami, mereka berdua dilumpuhkan oleh Great Red. Kemunculan Naruto dan Hinata di celah dimensi, sebenarnya bukanlah akibat kesalahan penentuan koordinat Cube, namun karena sistem yang memindahkan lokasinya secara sengaja ke celah dimensi, langsung kehadapan mulut Great Red.
Untuk masalah di atas, keberadaan Ophis sangat dibutuhkan sebagai rival Great Red ketika nanti Tim Naruto berangkat ke universe lain untuk mencari artefak ketiga. Ophis adalah pembuka dan pengaman jalan.
Kemudian tentang Rizevim Livan Lucifer, superdevil satu ini adalah satu-satunya orang didunia ini yang mengetahui tentang keberadaan dunia lain selain DxD Universe. Dan untuk pergi kesana, berarti harus melewati Great Red. Rizevim tidak mungkin sanggup melawan Great Red, karena itulah dia dan kelompoknya yaitu Qlippoth ikut bernaung dibawah Ophis pemimpin Khaos Brigade yang bertujuan menundukkan Great Red. Rizevim mengambil keuntungan dari sini. Setelah berhasil melewati Great, ia ingin membuktikan kebenaran universe lain itu. Hanya untuk pembuktian sebuah teori yang terdengar konyol, tapi inilah tujuan Rizevim Livan Lucifer yang sebenarnya.
Disinilah rencana awal Tim Naruto dimulai. Dengan mundurnya Ophis dari Khaos Brigade, maka Rizevim tidak lagi punya kesempatan untuk bisa melewati Great Red. Jika sudah begitu, Rizevim tidak punya pilihan lain selain mengambil tampuk kepemimpinan Khaos Brigade, membangkitkan Trihexa yang merupakan rival lain Great Red dan mengadunya agar bisa melewati Sekiryushintei itu, lalu pergi menyeberang ke dunia lain.
Informasi tentang Rizevim, banyak di berikan oleh Ophis untuk tim kecil ini. Ophis adalah Dewa Naga yang pintar dan cerdas, jadi dia tidak bodoh untuk membiarkan anak buahnya memiliki rencana sendiri.
Rencana Tim Naruto yang dibuat oleh Hinata dan Sona sudah dimulai. Inti dari rencana cukup sederhana, tapi ada banyak detail rencana yang mereka berdua buat karena tahapan dan proses kebangkitan Trihexa cukup rumit.
Waktu yang tersisa kurang dari empat bulan, dan bagian akhir dari rencana itu akan dilakukan saat event besar berlangsung. Event yang diadakan di Underworld setiap satu dekade yakni Tounamen Rating Game. Jika rating game biasa hanya untuk mengadu dua kekuatan atau sebagai penyelesaian sebuah masalah, maka turnamen akan melibatkan semua peserta dari para profesional hingga para pemula, tidak ada yang tertinggal dan tujuannya hanya satu, mencari sang juara.
Dan event itu nantinya, sesuai yang direncanakan tim ini, akan berubah menjadi Armageddon. Armageddon adalah peristiwa besar berupa peperangan mahadahsyat yang belum pernah terjadi di jaman manapun, bahkan Great War saja tidak sebandingkan dengan ini, suatu bencana apokaliptik yang hanya akan terjadi di akhir jaman.
Armageddon seharusnya terjadi di akhir jaman, tapi karena waktu kiamat berubah maka Armageddon akan dipercepat. Sang Binatang Pengkiamat Trihexa [666] perlu panggung yang tepat untuk kemunculannya, dan panggung itu adalah Armageddon. Itulah pekerjaan berat Tim Naruto di dunia ini.
.
Saat ini, setelah melewati lebih dari lima jam yang membuat Naruto seperti di neraka karena hanya dia satu-satunya orang yang tak punya otak memadai dalam hal membuat rencana, tersisalah di ruang pertemuan, Naruto, Hinata dan Ophis. Bertiga saja.
Sona dan Tsubaki sudah kembali ke Kuoh Gakuen, sedangkan Sasuke dan Sakura kembali ke Konoha.
Naruto dan Hinata masih disini karena permintaan Ophis.
Ophis masih duduk nyaman di kursinya, tidak sedikitpun dia beranjak dari sana selama lima jam penuh diskusi tadi.
"Ophis-san. Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan pada kami?" tanya Hinata dengan sopan.
"Iya,,, kami mau pulang tahu." sambung Naruto.
Pria berambut pirang ini sepertinya ingin cepat pulang dan tidur. Mungkin dia ngambek karena dia satu-satunya yang tak ikut andil dalam menyusun rencana, padahal dia pemimpin tim. Kan konyol?
"Ini sebenarnya diluar rencana kita menangkap Trihexa. Ada sesuatu yang kurasa kalian berdua harus tahu karena mungkin akan berguna suatu saat nanti."
"Heh? Tentang apa sih?"
"Vali dan timnya kini sedang dikejar-kejar oleh banyak fraksi. Tim kecil itu yang dituduh yang bertanggung jawab akibat rumor palsu tentang pengunduran diriku dari Khaos Brigade."
"Oh, Vali yang berambut putih perak itu? Aku ingat orangnya. Jadi rumor apa yang kau maksud?"
"Rumor tentang Vali yang memanfaatkanku untuk kepentingannya sendiri."
"Terus apa hubungannya dengan kami?" tanya Hinata.
"Vali tidak masalah dengan rumor itu, dia dan timnya adalah kelompok paling ahli dalam urusan kabur dan melarikan diri. Hanya saja Vali memberitahukan informasi padaku kalau ada seseorang yang mengincar diriku."
"Hei Ophis, kau kan salah satu eksistensi terkuat di dunia ini. Memangnya apa yang kau khawatirkan?" Naruto tidak mengerti, Ophis itu kuat, jadi kalau ada yang mengincarnya ya tinggal dilenyapkan saja kan?
"Sekuat-kuatnya aku, tapi sebagai naga aku punya musuh alami, dan aku punya ketakutan pada itu."
Naruto tidak bisa memikirkan apapun, tapi keyakinan dari hatinya membuat dia menyunggingkan senyum lebar. "Ya sudah. Dengar ya Ophis, aku akan membantumu, seberat apapun masalah yang menimpamu. Itu karena sekarang kau adalah temanku."
"Teman ya.. Ahahaaa... Tidak salah aku mengenalmu, Naruto."
Dan kejadian ini membuat Hinata dan Naruto senang, baru pertama kali ini mereka melihat Ophis tersenyum dan tertawa dari hati yang tulus.
.
.
.
Sudah sekian hari yang melelahkan, sekaligus membosankan. Ini sudah malam, semua orang tentu ingin tidur agar bisa melanjutkan aktifitas esok hari dengan badan segar bugar. Termasuk pasangan suami istri yang kini berada dikamar tidur mereka.
Naruto duduk di tepi kasur. Dia sedang menatap istrinya, Hinata yang saat ini memakai handuk yang hanya menutup sebagian kecil dada hingga pahanya, duduk menghadap cermin besar di meja rias. Istrinya itu baru saja habis mandi, tampak begitu seksi dan menggairahkan. Tapi sayang, saat ini Hinata sedang ada tamu bulanan. Sudah enam hari dan selama itu pula Naruto puasa menahan hasrat. Naruto cukup tahu, secara medis berhubungan seksual saat wanita sedang mens itu sangat tidak dianjurkan, ada banyak dampak buruk yang terjadi termasuk berbagai penyakit yang timbul nantinya.
Terbersit sedikit rasa penyesalan di hati Naruto, andai saja dia menerima Sona,,,, juga Tomoe, Koneko dan yang lainnya lalu membangun harem. Maka tidak akan ada hal seperti ini. Jika salah satu istri sedang mens, maka bisa minta jatah pada istri yang lainnya. Tidak mungkin juga kan, dari sekian banyak istri, semuanya memiliki jadwal mens yang bersamaan?
Naruto menggeleng,,,, aaahh tidak. Dia tidak ingin membayangkannya. Itu ide buruk, terutama untuk dirinya sebagai pria yang setia.
Karena bosan, Naruto bangkit dan berdiri dibelakang Hinata. Dia lalu mengambil hairdryer dan sisir di tangan istrinya tanpa berucap sepatah katapun. Membantu mengeringkan rambut panjang Hinata. Rambut lembut dan halus yang sangat Naruto sukai.
Hinata hanya diam, merasakan betapa nikmatnya sentuhan tangan Naruto di rambutnya. Baginya, ini moment romantis karena Naruto jarang punya waktu untuk membantu mengeringkan rambutnya seperti saat ini.
Memecah keheningan, Naruto buka suara pertama kali.
"Hime, eeemmm. . . . Etto, ide tentang Armageddon itu sebenarnya berasal darimu kan?"
Hinata langsung tanggap kemana arah pembicaraan Naruto, "Kau tidak setuju dengan ide itu ya, Anata?"
"Bukan begitu,,, tapi bagaimana yah mengatakannya?"
Saat semua anggota Tim Naruto membahas rencana membangkitkan dan menangkap Trihexa dengan memanfaatkan moment Armageddon, Naruto menunjukkan raut wajah ketidaksukaannya saat ia tahu apa makna sebenarnya dibalik kata Armageddon. Perang mahadahsyat sebagai penghujung kehidupan dunia.
"Hmmm,,, aku mengerti isi pikiranmu, Anata. Ini tentang prinsip hidup dan jalan ninjamu, jalan ninja kita berdua, iya kan?"
"Ya begitulah. Aku yang dulu saat di dunia Shinobi, berusaha keras menciptakan perdamaian, berusaha menghentikan perang, kini malah membuat perang itu sendiri bersama kalian. Seperti ironi."
"Tidak, Anata. Bukan seperti itu. Kau hanya harus membuat pemikiranmu lebih fleksibel. Menurut pemikiranku, perdamaian memang bisa dibuat, tapi perdamaian hakiki yang berlangsung selamanya tak akan pernah ada. Terlalu naif kalau kau berpikir mampu menciptakan perdamaian untuk semua orang dalam jangka waktu lama."
"...?"
"Setiap universe dalam sistem semesta ini pasti akan berakhir, dan akhir dari suatu universe hampir selalu diakibatkan perang yang merusak semuanya, perang yang membawa kehancuran dimana-mana. Universe yang sudah rusak karena perang, maka akan dieksekusi dan dihapus oleh Cardinal System yang dimanifestasikan dalam bentuk kiamat. Begitupula dunia ini.
Perang terjadi karena setiap makhluk hidup punya rasa ingin mendominasi. Binatang berebut makanan, pejantan berebut betina, yang kuat berebut wilayah kekuasaan, menjadi yang tertinggi, memaksakan sebuah pemahaman dan ideologi atau apapun itu, pada intinya semua makhluk hidup pasti memiliki hasrat ingin menjadi dominator."
"Ya, contoh lainnya adalah kau yang selalu ingin mendominasiku diatas ranjang."
"Ini bukan waktunya bercanda, Anata." Hinata bersungut kesal karena penjelasan seriusnya ditanggapi godaan mesum oleh sang suami.
"Ahaaaa, maaf Hime." Naruto tertawa senang, "Ayo lanjutkan lagi...!"
"Umm... Pada intinya, rasa ingin mendominasi lah yang menjadi pemicu awal suatu perang. Walaupun ada seorang juru damai, tapi perdamaian hanya berlangsung sementara. Ketika juru damai itu mati, perang pasti akan kembali tercipta entah siapapun yang memulai dan dengan alasan seperti apapun. Itu lah dunia, dunia yang pasti binasa. Bisa diibaratkan, Armageddon adalah penutup cerita kehidupan dunia."
"Jadi?"
"Yah,,, jadi ku rasa tidak masalah kalau kita memajukan waktu Armageddon, iya kan? Menyesuaikan dengan waktu terjadinya kiamat yang lebih cepat akibat kerusakan pada Cardinal System."
"Baiklah. Ku rasa sekarang aku sependapat denganmu, Hime"
"Hu'um... Arigatou."
Hinata berhasil mengubah pola pikir suaminya. Dia tidak mengubah pendirian dan jalan ninja yang Naruto pegang sejak lama, hanya saja meninjau situasi saat ini, pemikiran naif harus dikesampingkan dan mendahulukan logika untuk membuat penyelesaian yang tepat. Ini juga demi kepentingan semua orang.
Topik itu sudah habis, namun karena masih ada sesuatu yang dipikirkan, Hinata membuat topik obrolan baru.
"Neee Anata,,, misi kita kurang dari empat bulan lagi. 85% dari jumlah total seluruh universe yang ada sudah mengalami kiamat dan hancur, termasuk dunia para bajak laut dan dunia shinigami yang pernah kita singgahi. Kedua dunia itu sekarang hanya menyisakan nebula atau debu angkasa, menunggu dimensi ruangnya runtuh hingga tidak menyisakan apapun lagi."
"Hmmm..."
"Apa kita akan berhasil?"
"Tadi kau sangat antusias dengan rencanamu, tapi kenapa sekarang ragu?" Naruto meletakkan hairdryer dan sisir di meja rias, memutar posisi duduk Hinata, hingga saat ini mereka berdua saling berhadapan. Memegang kedua bahu Hinata dan menatap kedua bola mata istrinya itu dengan tatapan penuh kepercayaan diri. "Dengar...! Kau harus optimis, Hime. Jika kau tidak percaya pada dirimu sendiri, bagaimana mungkin takdir akan percaya pada kita untuk menyelesaikan tugas berat ini?"
"Iya, arigatou." Hinata merasa semangat juangnya terisi penuh. Dia memutar lagi badannya menghadap cermin. Rambutnya masih belum kering benar, dan Naruto yang mengerti melanjutkan tugasnya pada rambut istrinya itu, "Tapi Anata, saat itu, saat kita di Kyoto. Kenapa kau memintaku mengembalikan Yuuki Nagato kedalam inti Cube sebelum dia menyelesaikan penjelasannya pada semua orang? Kenapa kau merubah semaumu bagian akhir dari informasi yang seharusnya Yuuki Nagato sampaikan saat itu?"
Itulah hal yang mengganjal hati Hinata saat ini. Sebelum Yuuki Nagato menjelaskan tentang opsi ketiga untuk menyelamatkan Cardinal System dan seluruh universe, Naruto memegang erat tangannya sebagai tanda isyarat kepadanya bahwa Naruto sendiri lah yang akan menjelaskan opsi ketiga. Karena Hinata adalah pemegang Cube, jadi dia bebas menentukan kapan saatnya Yuuki Nagato bicara dan kapan saatnya diam.
"Karena aku tidak bisa membiarkan mereka tahu semua hal tentang misi kita, Hime. Ini adalah rahasia kita berdua." tukas Naruto sambil terus menyisir rambut istrinya. Hairdryer sudah ia letakkan karena rambut istrinya sudah kering.
"Tap-,,,"
"Mereka tidak seharusnya tahu kalau peluang keberhasilan opsi ketiga yang kita pilih sebenarnya bukan 50%, melainkan 0,05% saja. Peluang yang sangat amat kecil, tapi pilihan ini sangat pantas untuk diperjuangkan. Opsi pertama dan kedua, walaupun peluang keberhasilannya tinggi, tapi pilihan itu sama sekali tidak ada bedanya dengan kiamat dan berakhirnya dunia ini. Kembali ke awal (reset) atau kembali ke waktu tertentu di masa lalu (restore) dan semua cerita berubah. Aku bahkan tidak yakin jika memilih itu, aku akan tetap ditakdirkan bersamamu, Hime. Makanya aku tidak ingin memilih pilihan pertama dan kedua. Lebih baik membiarkan dunia ini kiamat daripada mengulang takdirku mencintaimu, menikah dengamu, hidup bersamamu sampai mati yang hanya menjadi satu kemungkinan dari sekian kemungkinan yang tak terhingga banyaknya. Aku tidak ingin cerita hidup kita berdua sampai waktu ini dihapuskan begitu saja. Hanya mendengarnya saja, sangat menyakitkan hatiku, Hime."
Naruto terdengar egois dengan pilihannya, tapi logika dan nurani yang mendasari Naruto memilih opsi itu sangat masuk akal.
"Iya, aku mengerti karena dalam hatiku aku juga memilih opsi ketiga, Anata."
"Yokatta, sebagai suami istri sudah seharusnya kita satu pemikiran. Tujuan kita sebenarnya setelah mengumpulkan semua artefak dan menjadikannya Matrix adalah pergi ke Awal Penciptaan, Beginning of Creation. Dimesi ruang-waktu yang merupakan pusat dari sistem multiuniverse dan tempat kontrol Cardinal System berada. Dari sana kita mencegah keruntuhan Sistem Multiuniverse dan Cardinal System. Suatu tempat yang jika kita sampai kesana, maka tidak ada jalan kembali.
Jika Teme dan Sakura-chan tahu, apalagi semua teman-teman dan keluarga kita di Konoha tahu, atau bahkan Sona dan yang lainnya. Mereka pasti tidak akan membiarkan kita memilih pilihan ini. Aku ragu mereka semua mau menerima pengorbanan kita dan rela kehilangan memori tentang kita berdua jika kita terperangkap di Awal Penciptaan sebagai makhluk lima dimensi selamanya, bukan makhluk lima dimensi sementara seperti pada pilihan pertama dan kedua.
Kalau berhasil dengan opsi ketiga yang peluangnya hanya 0,05% saja, kita akan mengembalikan Konoha tepat ke waktu sesaat sebelum dunia shinobi kiamat. lalu membiarkan alur waktu berjalan semestinya seolah kiamat tidak pernah ada. Mengembalikan kehidupan milyaran universe lain yang juga telah kiamat, ke waktu yang sepantasnya pula. Dan khusus untuk universe ini, alur waktu ingin ku kembalikan ke point sesaat sebelum Konoha tiba dan aku juga ingin membuat batasan jelas antara manusia dan makhluk supranatural yang tidak bisa saling diseberangi, agar manusia dan makhluk supranatural tidak bisa melakukan kontak sedikitpun. Dengan begini, manusia akan aman dari ancaman yang ditimbulkan makhluk supranatural, dan para makhluk supranatural pun akan kehilangan alasan untuk menjadi pendominasi manusia yang menjadi dasar pertikaian mereka selama ini."
"Ummm... Aku tahu, aku mengerti dengan keinginanmu, Anata. Karena itulah, sejak awal kita sudah sepakat kalau kita berdua akan menjadi makhluk lima dimensi, mengorbankan diri kita untuk semua orang."
Ini adalah kebenaran tentang misi yang dijalankan Naruto dan Hinata, misi terakhir mereka sebagai ninja dari Konoha. Setelah bertemu pertama kali dengan Yuuki Nagato didalam Cube, lalu mengerti situasi yang sebenarnya, maka mereka berdua sepakat dan memutuskan untuk mengorbankan diri bagi semua orang, lebih khusus orang-orang yang mereka sayangi.
Cardinal system adalah sistem yang sangat kompleks. Ada banyak sekali komponen yang menyusunnya. Dia ibarat satu kesatuan tubuh yang tersusun atas banyak sel, dan setiap sel adalah satu makhluk lima dimensi. Katakanlah bahwa Cardinal System itu gabungan dari sekian banyak otak makhluk lima dimensi yang pernah ada.
Yuuki Nagato memberitahukan bahwa dua orang harus berkorban untuk mencegah keruntuhan sistem. Kerusakan akibat Bug telah menjalar hingga ke komponen yang paling penting yaitu fungsi Administrator yang mengakibatkan bagian itu rusak total. Akibat kerusakan pada fungsi administrator, Cardinal System kehilangan 95% fungsinya untuk bisa mempertahankan kehidupan pada semua universe. Administrator terdiri dari dua komponen yaitu Pemegang Kehendak dan Pemegang Kuasa.
Fungsi pemegang kehendak adalah membuat suatu instruksi atau perintah yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup seluruh universe, sedangkan fungsi pemegang kuasa adalah mengeksekusi instruksi yang telah dibuat. Itulah posisi yang akan Naruto dan Hinata tempati sebagai makhluk lima dimensi didalam Cardinal System nantinya. Pada akhirnya, menjadi makhluk lima dimensi, tidak serta merta membuat Naruto ataupun Hinata menjadi tuhan yang merajai sistem multiuniverse karena mereka berdua hanya menjadi bagian kecil dari kesatuan besar Cardinal System.
Artinya apa? Artinya adalah kematian untuk Naruto dan Hinata, serta tidak ada istilah balasan surga untuk mereka. Menjadi makluk lima dimensi yang merupakan bagian dari Cardinal System membuat keduanya kehilangan sifat sebagai manusia. Tidak ada lagi cinta, harapan, dan rasa sakit.
Tidak ada artinya mereka bisa bersama berdua abadi selamanya di Awal Penciptaan jika mereka tidak bisa memaknai kebersamaan itu layaknya sepasang manusia. Selain itu, kenangan dan memori tentang hidup mereka berdua di otak semua teman, sahabat, keluarga dan orang-orang yang mengenalnya juga akan terhapuskan setelah mereka berdua menjadi makhluk lima dimensi. Tidak ada seorangpun didunia yang tahu, kenal, ingat, dan punya ikatan dengan Naruto dan Hinata.
Naruto maupun Hinata, selama hidup sama-sama pernah merasakan pahitnya kesendirian dan kesepian, namun dilupakan dan dianggap tak pernah ada rasanya akan jauh lebih menyakitkan lagi.
Hal inilah yang menjadi alasan kuat Naruto tidak memberitahukan kepada siapapun tentang akhir dari misi yang ia dan istrinya jalankan. Peluang 0,05% itu masih bisa diterima akal untuk diperjuangkan, tapi ketiadaan jalan kembali dari Awal Penciptaan dan resiko yang harus ditanggung sebagai makhluk lima dimensi, merupakan hal yang sangat berlawanan dengan hati dan nurani semua sahabat dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua.
Jika sampai sahabat dan keluarga tahu, mungkin saja dari ketiga opsi yang ada, tidak satupun yang akan dipilih. Opsi pertama dan kedua tidak ada bedanya dengan kiamat, dan opsi ketiga hanya akan menyakitkan banyak orang. Tidak mustahil kalau Sasuke menjadi orang pertama yang paling bersikeras menghalangi misi ini? Yang tersisa hanyalah opsi keempat, yaitu menikmati sisa waktu yang tinggal sebentar sebelum kiamat tiba dengan sebaik-baiknya.
Tapi sekali lagi, Naruto dan Hinata adalah dua manusia yang sanggup mengorbankan apapun untuk semua orang. Jadilah, opsi ketiga menjadi pilihan terbaik saat ini, menurut pemikiran mereka berdua.
Cerita hidup Naruto dan Hinata didalam takdir ini, bukan tentang menjadi pahlawan, bukan pula untuk menciptakan perdamaian. Cerita ini berkisah tentang betapa berartinya sebuah pengorbanan.
Rambut Hinata sudah selesai diurus, Naruto duduk di tepi kasur, merapikan bantal, berbaring, menarik selimut. "Terima kasih atas pengertianmu Hime, dan aku juga minta maaf. Karena hal ini, aku jadi laki-laki terburuk. Membuat penantianmu padaku selama bertahun-tahun, hanya terbalas dalam waktu singkat." Naruto pun memejamkan mata, "Oyasuminasai, Hime" kata-kata itu menjadi kata terakhir sebelum Naruto pergi ke alam mimpi malam itu.
Hinata tidak menjawab, dia sudah selesai memakai piyama tidur, masih duduk menatap pantulan dirinya dicermin meja rias. Hinata tersenyum miris meratapi takdirnya. Aahhh bukan, tapi lebih tepat dikatakan kalau meratapi takdir tidak adil yang selalu menghampiri hidup suaminya.
Keinginan Naruto adalah menyelamatkan semua orang, yang baik maupun yang jahat, Naruto tidak pernah pilih kasih. Tapi Hinata berbeda. Bolehkan ia egois kali ini? Bukan hanya sekali, dia pernah bertindak egois dan menentang perintah Naruto untuk menjauh saat pertarungan melawan Pein. Tapi sekali lagi Hinata ingin egois.
Hinata melakukan misi terakhir ini bukan untuk orang lain, tapi hanya untuk Naruto saja. Seperti sumpahnya sendiri yang dia ikrarkan dihatinya saat pesta pernikahannya dengan Naruto, baginya hidup bersama Naruto adalah impian terbesarnya, tapi kebahagian Naruto jauh lebih penting dan itu adalah tujuan hidupnya.
Hinata ingin menjadi makhluk lima dimensi sendirian. Membiarkan Naruto tetap hidup. Naruto tidak pernah merasakan kebahagiaan untuk waktu lama, sejak lahir hingga perang, Naruto selalu ada di posisi yang penuh penderitaan. Karena itulah, Hinata akan melakukan apapun untuk satu orang yang teramat sangat dicintainya.
Saat ini, Hinata telah menemukan suatu cara untuk menjadi Administrator tunggal. Dengan begitu, dia bisa mengembalikan semuanya seperti keinginan suaminya, dengan Naruto tetap ada didunia itu, tanpa harus terperangkap di Awal Penciptaan, Beginning of Creation.
Jika Hinata berhasil menjadi Administrator yang mengendalikan Cardinal System, ia punya kuasa untuk mengubah memori semua makhluk hidup, namun tidak bisa menciptakan dua makhluk hidup dengan takdir yang sama karena hal itu hanya akan menimbulkan paradoks waktu yang mengacaukan arus waktu global dan menciptakan Bug baru yang berbahaya bagi Cardinal System.
Tidak apa-apa meninggalkan Naruto hidup di dunia tanpa 'Hinata' dan tidak perlu menciptakan 'Hinata' pengganti, karena di dunia itu tidak ada hal apapun yang berkaitan dengan 'Hinata' karena Hinata telah menjadi makhluk lima dimensi. Naruto tidak akan sedikitpun tahu, ingat, ataupun punya ikatan dengan 'Hinata', jadi Naruto tidak akan merasakan sakit. Naruto akan memiliki takdir lain menjalani alur waktu yang seharusnya tanpa adanya kiamat. Biarlah ia yang menanggung semua beban sendirian, mati dan menjadi makhluk lima dimensi, asal Naruto bisa tetap hidup dan menemukan kebahagian.
Hinata pernah berkata ketika penyerangan Pein, 'Aku tidak takut mati, jika itu bisa menyelamatkanmu. Karena aku mencintaimu.' Dan dia membuktikan ucapannya itu dengan pilihan yang sekarang dia ambil. Mati lalu menjadi makhluk lima dimensi sendirian, asal Naruto bisa tetap hidup dan menemukan kebahagiaan tanpa dipenjarakan rasa sakit akibat hilangnya ikatan dengan dirinya. Saat misi ini selesai, Naruto tidak akan sedikitpun ingat dan punya ikatan dengan Hinata.
Tidak hanya Naruto saja, tapi tidak akan ada seorangpun yang dirugikan dengan keputusan Hinata ini, karena tidak ada satupun yang tahu tentang 'Hinata'.
Begitulah isi hati Hinata yang sebenarnya. Disadari atau tidak, yang jelas kepribadian dan sifat lain Hinata muncul sejak dia memiliki kekuatan baru. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Tidak seperti Sharingan yang merupakan mata kutukan kebencian yang seringkali membawa pada dendam dan kesombongan pada pemiliknya, mata The True Tenseigan adalah mata suci, evolusi dari mata putih Byakugan. Mata itu sendiri mungkin tidak salah, tapi kejadian-kejadian yang menimpa Hinata selama inilah yang sedikit demi sedikit mengubah cara pandangnya pada semua hal yang terjadi disekitarnya.
.
.
.
TBC...
.
Note : Huuuhh, selesai chapter 42. Wordnya paling banyak nih, Hihiiiii...
Pertama dulu, tidak ada harem di fic ini. Kan sudah ku kasih warning dari awal.
Tim Naruto sudah lengkap 7 orang, tidak ada tambahan anggota lagi. Pun sudah punya rencana besar, rencana yang di akhiri dengan 'Armageddon'. Itu adalah perang mengerikan di akhir jaman. Kalau kalian mau tahu lebih banyak, cari saja referensi tentang armageddon, kalian akan punya bayangan sendiri tentang perang itu. To The End of The World, inilah akhir jaman. Namanya seperti salah satu judul film barat tentang jatuhnya meteor raksasa. Tapi menurut berbagai sumber, jatuhnya meteor itu hanya salah satu hal kecil yang terjadi selama Armageddon. Nah, nanti di fic ini kita juga akan menjatuhkan meteor juga, satu atau dua meteor tak masalah, atau sepuluh pun boleh, atau seratus mungkin,,,?
Berbicara tentang Armageddon, didunia kita sebenarnya semakin dekat dengan itu kan? Ini akhir jaman, sebentar lagi kiamat. Untuk saudaraku sesama muslim, tengok saja saudara kita di Aleppo-Suriah, Jalur Gaza-Palestina, dan tempat-tempat konflik lainnya. Ada perang disana, dan itu hanyalah awal mula dari perang akhir jaman. Marilah kita sama-sama berdo'a untuk keselamatan mereka di sana. Amiin...
Lanjut lagi, informasi yang diberikan Ophis pada Naruto dan Hinata. Hmmm,,, itu akan berujung konflik. Muncul di arc depan, bercerita tentang jatuhnya salah satu fraksi/golongan. Tebak aja fraksi mana! Gampang kok. Setelah Arc itu selesai, baru kita berkunjung ke universe ketiga.
Ada juga scene tentang Hinata dan Serafall. Mereka berbicara berdua tuh, hihiiiii. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas efeknya akan besar dimasa depan nanti.
Ulasan review :
Kalian jangan gampang termakan tipuan. Itu saja. Terutama tentang harem dan godaan iblis. Ahahahaaa. Sona benar-benar kasihan, chapter ini menjadi chapter ratapan Sona, juga gadis iblis lainnya.
Kemudian yang ku sebutkan kemarin, kejanggalan saat Naruto menjelaskan opsi ketiga di chapter 40, terjawab di chapter ini. Naruto menyimpan rahasia besar dan dia tidak ingin memberitahukan semua rahasianya pada Sasuke, Sona dan lainnya.
Inti cerita fic ini pun sudah ketahuan. Bukan cerita tentang kepahlawanan atau perdamaian, apalagi balas dendam. Kurasa tema itu sudah cukup banyak dipakai. Kita menceritakan tentang pengorbanan disini. Pengorbanan NaruHina untuk semua orang, dan pengorbanan Hinata untuk Naruto.
Dan huhuuuuu... TwT. . . melihat akhir chap ini, apakah fic ini akan berujung tragedy dan diakhir Sad Ending. Ahahaaa,,,, pikir aja sendiri!. Yang jelas, konflik internal NaruHina kita stop sampai sini. Semua rahasia Hinata sudah habis kubahas, tentang dia yang ingin menjadi makhluk lima dimensi sendirian. Pokoknya kita fokus ke konflik global saja dulu, konflik internal NaruHina kita ungkit lagi di akhir cerita, tentang bagaimana Naruto menyikapi rencana dan perbuatan Hinata. Naruto sudah mulai merasakan keanehan dari Hinata, dan dia pasti tidak akan diam saja.
Kita bahas tentang chara Hinata di fic ini ya. Sejak sepak terjangnya di chapter 38, Hinata bikin heboh. Ada banyak tafsiran yang muncul di kolom review tentang bagaimana pengkarakteran Hinata di fic ini. Ada yang bilang Hinata jadi jahat, antagonis, dark, mengerikan, penjahat super dengan pemikiran licik. Hinata seperti Madara ingin jadi tuhan, mirip Kaguya, dan dia munafik. Itu semua tidak benar. Karakter luar Hinata di fic mungkin seperti yang disebutkan, tapi apa yang mendasarinya sangat jauh dari kata-kata itu.
Katanya Hinata egois, iya benar sekali. Tengok kembali golden moment NaruHina saat invasi Pein. Dasar pemikiran Hinata di fic ini dalam membuat keputusan sama persis dengan tindakannya saat ikut pertempuran Naruto Vs Pein. Hinata tahu dirinya tidak mungkin menang melawan Pein, tapi dia tetap maju, menentang perintah Naruto, berani mati asal Naruto selamat. Sama seperti didalam fic ini. Kesepakatan misi NaruHina adalah mereka berdua mengorbankan diri menjadi makhluk lima dimensi, artinya Naruto dan Hinata mati bersama. Itu yang tidak Hinata inginkan, ia ingin Naruto tetap hidup. Alasan Hinata simpel, karena dia mencintai Naruto.
Baca aja lagi akhir chapter ini dengan seksama, aku tulis semuanya dengan jelas, dan kalian pasti bisa membuat kesimpulan. Kesimpulannya apa? Kesimpulannya adalah Hinata di fic ini masih sama dengan karakter Hinata buatan Masashi Kishimoto. Hinata yang akan mengorbankan apapun, bahkan nyawanya kalau itu untuk keselamatan Naruto. Pada akhirnya, apa rencana Hinata menjadi makhluk lima dimensi masih bisa disalahkan? Apa logika dan perasaan Hinata disini masih bisa sebut hal bodoh dan konyol? Apa keputusan yang di ambil Hinata bisa didebat jika seandainya kalian berada diposisi Hinata?
Itu pemikiranku, dan kutuangkan dalam fic ini. Tapi aku tidak memaksa kalian untuk sependapat. Kalian boleh menilai Hinata sebebas kalian. Tidak ada yang perlu diperdebatkan, yang penting kita sama-sama menikmati fic ini. Okeeyyy...
Dan untuk saran universe selanjutnya, masih terbuka lebar loh. Sampai saat ini aku belum bikin keputusan final akan dibawa jalan-jalan ke animemanga apa.
Terakhir nih. Sepertinya aku harus rehat dulu, (*kalau ga mau disebut hiatus). Tidak lama, dua atau tiga minggu saja. Alasannya begini, sejak beberapa chapter lalu, sudah beberapa kali ada yang menyebutkan kalau kualitas Fic ini menurun. Tidak hanya Fic ku yang ini saja, tapi yang lain juga. Dan aku jujur, sebenarnya aku pun merasa kalau hasil tulisanku semakin buruk.
Tapi jangan khawatir, aku bukannya tidak ada ide atau kehilangan alur, sampai sekarang cerita ini tidak lepas dari draft awal yang sudah ku buat. Tapi aku ingin rehat sejenak sembari fokus meninjau ulang Fic TTEOTW ini, menemukan dimana yang kurang dan salah. Aku juga minta bantuan pada kalian semua untuk memberikan koreksi tentang kesalahan FF ini. Pokoknya sampaikan saja apa kejanggalan yang kalian temukan, jangan ragu...!
Yang bilang kalau beberapa chapter terakhir ini memburuk, harus tanggung jawab loh. :v . . . . Jangan cuma bilang memburuk saja, sebutkan dimana kekurangan dan salahnya, agar aku tidak bingung dan bisa memperbaikinya.
Jadi mohon kerjasamanya, aku yakin interaksi Author Vs Reader/Reviewer seperti itu lah yang ideal. Bukan flame dan bukan pula author yang sombong dan keras kepala, tapi kerjasama. Semoga Fic bisa semakin baik kedepannya.
...
...
...
.
