Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Jum'at, 17 Juni 2016
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . .
"Aaahhh~~~~, Lupakan itu dulu!. Sekarang bisa kah kau urus Naga Putih yang disana. Dia orang baik."
Naruto menoleh pada orang yang dimaksud Ophis. Vali tampak tergeletak tak berdaya. Walaupun masih sadar, tapi iblis keturunan generasi keempat dari Satan Lucifer Sejati ini kelihatannya tidak bisa bergerak lagi.
Naruto mendekati Vali yang sedang terbaring dipangku oleh Kuroka. Dia terkekeh kecil melihat kondisi pria itu, bukan bermaksud meremehkan namun miris melihat seorang maniak bertarung jadi sekarat seperti ini. "Hei, kita bertemu lagi?"
Tak mendapatkan respon apapun dari Vali karena pria itu sibuk mengerang kesakitan. Rintihannya pelan namun terdengar sangat berat menandakan bahwa dia sangat tersiksa.
"Orang yang dulu kau coba bunuh, kini akan menolongmu. Kau tenang saja, aku tak akan meminta balasan apapun kok." Naruto mengatakannya dengan santai, dia menganggap bahwa serangan tiba-tiba yang dilakukan Vali padanya saat baru tiba di Kouh pertama kali hanya insiden kecil yang tak perlu dipermasalahkan lagi.
Kuroka bertanya, "Memangnya kau bisa melakukan apa untuk Vali-sama, Naruto-san?"
"Kutukan Samael yah, sesuatu yang bahkan membuat Sang Ketidakbatasan Dewi Naga Ophis harus bekerja sama denganku. Emmm,,,,, kukira aku bisa melakukan sesuatu dengan aliran energi murni senjutsu rikudou untuk menarik kutukan Samael, dan mungkin fuin tertentu untuk mengamankan racunnya."
.
To The End of The World
By Si Hitam
Chapter 45. The Downfall of Hero Faction, Part 3.
-Dimensi Buatan Replika Venesia-
Kuroka bertanya, "Memangnya kau bisa melakukan apa untuk Vali-sama, Naruto-san?"
"Kutukan Samael yah, sesuatu yang bahkan membuat Sang Ketidakbatasan Dewi Naga Ophis harus bekerja sama denganku. Emmm,,,,, kukira aku bisa melakukan sesuatu dengan aliran energi murni senjutsu rikudou untuk menarik kutukan Samael, dan mungkin fuin tertentu untuk mengamankan racunnya."
"Hah?"
Naruto tidak merespon kebingungan Kuroka. Dia mengalirkan chakra senjutsu rikudou murni ke tangan kanannya. Tangan kanan itu pun bercahaya terang.
Naruto meletakkan tangan kanannya di perut Vali, mengalirkan senjutsu kedalam tubuh iblis keturunan Lucifer itu. Cukup lama berada disana sehingga perlahan warna kehitaman yang menyebar diseluruh tubuh Vali berkumpul menjadi satu di daerah perut. Setelah semuanya terkumpul, Naruto menggeser tangannya perlahan ke dada, leher hingga sampai ke mulut Vali.
GOUGH...
Benda padat hitam seukuran kelereng dimuntahkan Vali. Naruto menangkapnya dengan tangan kanan, namun benda hitam pekat itu tidak bersentuhan langsung dengan telapak tangan Naruto, seperti melayang karena dikelilingi energi senjutsu rikudou yang memancarkan aura kuning.
Itu racun Samael. Racun yang masuk ke tubuh Vali saat blok hitam Samael mengurungnya. Racun yang membuat semua naga dan pemilik kekuatan naga tak bisa apa-apa.
Menggunakan tangan kiri, Naruto mengambil sebuah gulungan kecil disaku celananya. Gulungan itu ia letakkan di tanah dan dibuka, ada lukisan-lukisan aksara rumit disana. Benda hitam racun Samael dia letakkan tepat dibagian tengah yang berupa lingkaran. Perlahan benda hitam masuk kedalam kertas gulungan, terserap hingga lenyap semuanya. Setelah selesai, Naruto menggulung dan menyimpan kembali gulungan itu.
Naruto kemudian tersenyum simpul, "Aku sudah mengeluarkan semua racun kutukan Samael dengan Senjutsu. Nah Vali, sekarang tubuhmu pasti terasa lebih baik."
Kuroka bertanya antusias, "Apa Vali-sama akan sembuh?"
Masih dengan senyuman, Naruto menoleh pada Kuroka lalu menjawab, "Ya. Bosmu ini seseorang dengan kekuatan iblis yang sangat besar. Tubuhnya pasti akan pulih sendirinya dengan cepat."
"Aahhh, emmmm anoo-"
"Aku tidak akan berterima kasih padamu sebelum kita menyelesaikan urusan kita." kata Vali memotong ucapan Kuroka. Walaupun dia tampak kesakitan, tapi dia masih bisa bicara.
Naruto menoleh lagi pada Vali yang masih terbaring dipangku Kuroka, terkekeh pelan, "Kheh,,,,,, itu bisa kita urus nanti, setelah urusan dengan si pemakai tombak yang di sana itu selesai."
"Kenapa kau mau membantu kami? padahal kita tidak akrab." tanya Kuroka.
"Yah, Ophis temanku. Karena kalian teman Ophis, jadi kalian juga ku anggap temanku. Ditambah lagi sekarang kita punya musuh yang sama, komplotan Cao Cao. Kata orang, musuh dari musuhmu adalah temanmu."
"Anooo, Naruto-san. A-apapun alasannya, tapiiiii,,,,, ummm A-arigatou." Kuroka yang biasanya nakal dan berisik, entah kenapa jadi merona dan malu-malu.
"Douitta, Kuroka-san."
"Nii-chan, bo-boleh aku memanggilmu begitu?" gadis mungil berambut pirang tiba-tiba bertanya sambil mencolek bahu Naruto. Rupa gadis itu terlihat seperti keturuan orang Eropa, dia menggunakan topi dan jubah penyihir.
"Emmmm," Naruto memasang pose berpikir, "Sesukamu saja lah, aaaa..."
Naruto sepertinya belum tahu nama gadis kecil ini. Saat berurusan dengan Loki, gadis kecil ini tidak ikut walaupun dia juga anggota tim Vali. Tapi sebaliknya, gadis kecil ini tampaknya sudah tahu banyak tentang Naruto.
"Aku Le Fay."
"Ya, Le Fay-chan. Kau boleh memanggilku begitu."
Hal ini tentu saja membuat seorang pemuda berambut pirang panjang dengan setelan jas cemberut, siapa lagi kalau bukan Arthur yang punya kecenderungan sister-complex.
"Jadi, kenapa Naruto-niichan dan Hinata-neechan bisa ada disini?"
Walaupun Le Fay bertanya dengan gaya anak kecil, tapi ini mewakili rasa penasaran dan keterkejutan semua anggota Tim Vali.
"Ada sesuatu yang di inginkan Ophis saat ini. Sebagai temannya, aku membantunya di sini."
"Ophis-sama?" Kuroka dan yang lainnya mengernyit heran, setahu mereka keinginan Ophis hanya berkaitan dengan Great Red, jadi mereka tidak bisa mengira-ngira apa yang di inginkan Ophis saat ini. "Memangnya apa yang di inginkan Ophis-sama?" kata Kuroka lagi.
"Kalau itu, tak perlu ku jelaskan. Kalian cukup lihat dan nikmati saja, ini urusan Ophis dan maaf kalau rencana kami memanfaatkan kalian semua sampai seperti ini." jawab Naruto.
"Ap-?"
Bener apa yang semua orang di Tim Vali duga, mereka semua yang disini termasuk Cao Cao dan Hades dipermainkan oleh Ophis.
"Anata...!" Hinata memanggil, dia berdiri didekat Ophis yang tidak terlalu jauh dari tempat Vali terbaring. "Waktu kita tidak banyak, Samael akan kembali ke Cocytus dengan sendirinya. Mereka memang bisa memanggil makhluk itu kesini tapi dengan batas waktu tertentu."
"Iya, Hime. Aku mengerti."
Naruto berjalan menuju istrinya.
Sementara itu, Kuroka yang baru saja mendengar bagaimana dua orang tadi saling panggil, langsung terkejut, shock dengan mata membulat. Dia lalu menundukkan kepala, aura suram menguar-nguar dari tubuhnya.
tuk...
Kepala Kuroka ditimpuk pelan oleh Bikou dengan tongkatnya,
"Makanya, jadi kucing itu jangan nakal. Jadi kucing biasa saja, jangan jadi kucing garong.!"
"Berisik kau, monyet rabieeeeeeesss!." Kuroka berteriak marah dan menyingkirkan tongkat Ruyi Jingu Bang dari kepalanya dengan keras.
Vali masih menunggu tubuhnya pulih. Dia ditemani anggota timnya. Sedangkan Naruto, Hinata, dan Ophis kini kembali ke urusan yang menjadi alasan mereka ada disini.
Naruto, Hinata, dan Ophis berdiri membelakangi Procuratie Vechie yang merupakan gedung dua lantai. Lantai atas adalah gedung lama bekas tempat tinggal sekaligus kantor para prokurator dari jaman Republik Venice, sedangkan lantai bawahnya adalah toko-toko dan restoran. Procoratie Vechie terletak di sisi utara alun-alun Piazza San Marco. Semua anggota Tim Vali juga ada disisi ini. Sedangkan Cao Cao dan komplotannya, disebelah selatan membelakangi bangunan Procuratie Nuove yang merupakan gedung perluasan dari Procuratie Vechie. Sama-sama dua lantai, dengan lantai bawah berupa toko-toko dan restoran sedangkan lantai atasnya adalah Museum Correr.
Cao Cao sangat terkejut oleh serangan tiba-tiba dari orang yang tidak ia duga tadi, apalagi melihat Vali yang dengan mudahnya diobati dari racun kutukan Samael. Tapi tampaknya dia sudah kembali mendapatkan ketenangannya.
Cao Cao mengacungkan tombaknya ke arah Naruto dan Hinata, "Siapapun kalian berdua, tapi bagaimana bisa kalian ada disini? Sejak kapan?"
"Kalau cara kami kesini tidak perlu ku jawab. Pokoknya kami disini sudah cukup lama." sahut Naruto.
Faktanya, sesuai rencana yang sudah dibuat bersama Ophis, dua ninja dari Konoha ini sudah ada di replika Venesia ini sejak awal Tim Vali terperangkap. Sebenarnya, Ophis sendiri lah yang membuat Tim Vali bisa masuk ke perangkap yang dibuat Cao Cao. Naruto dan Hinata masuk ke Venesia buatan ini dengan perpindahan menggunakan Cube. Saat Ophis melempar kunai Hiraishin, itu menjadi tanda waktunya Naruto dan Hinata untuk beraksi.
Sebelum sampai di Venesia, Tim Vali sudah berkeliling dunia membawa kabur Ophis, mereka terus di uber-uber Cao Cao dan Hades. Mulai dari Jepang, ke Phuket di Thailand, lalu ke Mumbay di India, Dubai di UAE, hingga sampai ke Alexandria di Mesir. Semua tempat yang mereka rasa aman dipilih secara acak, yang penting terus bergerak, tidak boleh terlalu lama menetap disuatu tempat agar tidak tertangkap.
Hal ini lalu di manfaatkan Ophis. Saat Vali dan tim kebingungan mencari tempat sembunyi, dia bergumam bahwa tempat paling aman bersembunyi adalah di teritori musuh, yang tak akan disangka. Dan jadilah, Tim Vali memilih Venesia, kota air yang terletak di Negara Italia. Kota ini terletak tidak terlalu jauh dari Vatican, pusat dari teritori kekuasaan Gereja dan Fraksi Malaikat. Tim Vali termasuk daftar teratas buronan Gereja karena pengkhianat Pendragon yang mencuri Pecahan Ketujuh Excalibur Ruler dan Ultimate Holy Sword Caliburn ada di tim ini. Pasti tidak akan ada yang menyangka kalau Vali menyembunyikan Ophis di Venesia. Apalagi Hero Faction dan Hades yang ingin menangkap Ophis memiliki hubungan yang kurang baik dengan pihak Fraksi Malaikat.
Ophis yang cerdas dan licik, malah membocorkan rencana ini pada informan Hero Faction. Diatur sedemikian rupa sehingga seolah informan itulah yang menemukan Ophis sehingga tidak dicurigai. Dan sesuai prediksi, Cao Cao lebih dulu ke Venesia untuk menyiapkan perangkap, menjebak Ophis dan Tim Vali. Dan berakhirlah kejadiannya seperti sekarang. Naruto dan Hinata pun bisa ada di Venesia buatan ini karena rencana itu pula.
Masih dengan mengacungkan tombak, Cao Cao bertanya, "Apa rencana kalian sebenarnya hah? Apa hubungannya dengan Samael?"
Cao Cao tadi mendengar jelas ucapan Hinata bahwa keberadaan dua orang tak diundang ini berhubungan dengan Samael.
Karena tak ada jawaban dari Naruto maupun Hinata, Cao Cao mengarahkan tatapannya pada Ophis. "Diluar dugaan, ternyata kau punya hasrat selain dengan Great Red. Tapi apapun yang terjadi, eksperimen ku sudah selesai. Kekuatanmu sudah banyak kami ambil, jadi kami hanya tinggal pulang saja."
"Hinata, kita mulai saja rencananya. Kita tak punya waktu meladeni ocehan mereka, jangan sampai mereka kabur."
Mengangguk sekali, Hinata berjalan maju beberapa langkah, "Ha'i, Naruto-kun."
Hinata mengatifkan doujutsunya, bukan Byakugan, tapi The True Tenseigan. Iris mata Hinata menghitam, dibagian itu muncul ratusan bintik-bintik kecil putih berkilau seperti bintang yang bersusun membentuk pola spiral layaknya galaksi bimasakti. Iris mata Hinata menjadi seindah langit malam hari yang cerah. Tidak ada pembuluh darah maupun pembuluh saraf yang menonjol disekitar matanya. Langkah pertama adalah menyerang point kunci komplotan Hero Faction. Ya, point kunci dalam eksperimen mereka.
Cao Cao tidak tahu apapun tentang Hinata, tapi otak dan insting kewaspadaannya segera mengerti situasi. Cao Cao dengan cepat langsung mengkomando. Dia berteriak pada anak buahnya, "Wanita itu pasti sangat berbahaya!, bentuk formasi!, lindungi Georg...!"
Formasi empat penjuru, Cao Cao paling depan membelakangi Georg. Semantara itu Sriegfried dan Jeanne berada di sebelah kiri dan kanan Georg. Heracles paling belakang.
Hinata menyeringai tipis, "Sia-sia...".
Tangan kanan Hinata terangkat, ada aura tipis berwarna biru yang keluar dari telapak tangannya. Dia membuat kuda-kuda bertarung, lalu,,
Jyuken
"Haaaaaaap..."
Hinata memukulkan telapak tangannya cukup keras ke depan, pukulan telapak tangan dari seni beladiri khas Hyuga.
Cao Cao dan anak buahnya tampak kebingungan, karena ternyata Hinata tidak maju menyerang tapi hanya memukul udara didepannya.
Hinata berdiri lagi dengan normal, melepas kuda-kudanya.
Suasana hening, namun keheningan itu tak berlangsung lama, karna.
Gouughh...
Georg yang ada paling tengah jatuh bertumpu dengan lutut, tangannya mencengkram perutnya sendiri.
"Ohhookk..."
Ada banyak darah segar yang keluar dari mulut Georg, tanda bahwa organ dalam tubuhnya rusak parah.
Cao Cao berbalik badan karena mendengar suara muntah darah dari Georg. Dia langsung mengerti, wanita bernama Hinata punya kemampuan untuk mengirim serangan maupun pukulan ke titik lain yang dia mau. Apapun yang mendasari teknik itu, yang pasti bagi Cao Cao teknik ini memiliki hasil yang mirip dengan bola Mala Ratana, salah satu kemampuan 'Seven Treasure' miliknya.
"Cih.!" Cao Cao mendengus lalu berbalik lagi, menghadap Hinata. "Teknik mu berbahaya, jadi... Balance Break!"
Cao Cao mengakitfkan Balance Breaker Polar Night Longinus Chakravartine. Ada cincin cahaya serta tujuh buah bola cahaya yang melayang dibelakang Cao Cao.
Dengan satu gerakan jari,
Fuuu...
salah satu dari bola cahaya Cao Cao bergerak cepat ke depan.
Saat bola itu berada di dekat Hinata, Cao Cao berteriak, "Meledaklah!"
Bereaksi dengan ucapan Cao Cao, bola itu bersinar terang hingga menyelimuti seluruh tubuh Hinata.
Cao Cao tertawa senang, ""Itsutei Ratana, mampu menyegel kekuatan unik yang wanita miliki secara sementara. Ini juga memerlukan level kekuatan tertentu atau kau takkan bisa menembusnya. Dengan ini, kau kalah."
Tidak perlu waktu lama, cahaya itu memudar. Tapi yang tampak ditempat itu bukanlah Hinata, namun,,,
"Jeanne...!" Sriegfried memekik, bahkan Cao Cao sangat terkejut.
Tampaknya Jeanne pun tidak mengerti apa yang terjadi, yang jelas dia merasakan kalau kekuatannya hilang saat ini.
Cao Cao memalingkan kepala kebelakang, dan semakin terkejut ketika melihat sebilah senjata tajam bertengger manis di leher Georg yang jatuh terlutut, siap menggorok batang leher pemuda itu, membuatnya bisa mati kapanpun.
"Kau! Tidak mungkin..."
"Kau hebat Cao Cao-san, bisa mengerti teknik milikku hanya dengan sekali lihat." kata Hinata memuji, "Namun teknik perpindahanku punya kecepatan yang tak bisa dicapai olehmu, jadi aku yang menang. Makanya aku bisa ada di sini."
Saat menyerang dengan pukulan Jyuken, Hinata langsung mengirim pukulan itu tepat ke bagian ulu hati Georg dengan kemampuan kedua The True Tenseigan, manipulasi jarak. Geord adalah manusia, jadi pukulan itu pasti berakibat fatal untuknya. Apalagi Georg adalah penyihir, dan manusia yang terspesialiasi dalam bidang sihir rata-rata punya fisik yang lemah karena jarang melakukan latihan fisik.
Sesaat sebelum bola Istutei Ratana meledak, Hinata menggunakan kemampuan yang sama. Dia bergerak sedikit lalu memotong jarak gerakannya dengan kemampuan itu, membuat dirinya berpindah ke tengah-tengah formasi yang dibuat untuk melindungi Georg, sekalian mendorong anak buah Cao Cao yang bernama Jeanne, lalu memindahkannya dengan cara yang sama seperti tadi, sehingga Jeanne menggantikan posisinya dan menerima serangan dari Cao Cao.
Cao Cao mengarahkan tombaknya pada Hinata, begitu pula Sriegfreid dengan tiga pedang iblisnya. Jarak mereka terlalu dekat, walau begitu Hinata tidak menunjukkan wajah takut karena ancaman Cao Cao dan Sriegfried. Kunai tajam yang ia pegang, siap memotong batang tenggorokan Georg kapanpun ia mau. Cao Cao pasti tidak akan membiarkan anak buahnya yang memiliki Sacred Longinus yang sangat berharga ini terbunuh, jadi Hinata bisa tenang karena dia lah yang sebenarnya dalam posisi mengancam.
Seringaian Hinata semakin lebar, senyumnya persis seperti seorang psikopat, "Hanya satu permintaanku, bisakah kalian lepaskan kendali Samael sepenuhnya di sini?. Bebaskan dia dari siksa Neraka."
"Apa? Jangan bercanda,,,,!." Cao Cao berteriak marah, "Membebaskan Samael sama artinya membebaskan singa di kandang rusa. Kau tidak akan tahu sebesar apa masalah yang akan timbul jika perwujudan niat jahat The God of Bible lepas dari kekang Neraka."
"Kami ingin membebaskan dia dari siksaan yang selama ini dia derita dan Ophis ingin makhluk menjijikan itu mati."
"Ha?. Kalian gila..!"
"Bebaskan Samael atau orang ini mati!" Hinata kembali mengancam, kunai yang dipegangnya sudah mengiris kulit leher Georg hingga mengeluarkan darah.
"Samael tidak bisa dilepaskan. Uhhuukkkk,,,," Georg bicara sambil terbatuk darah. "Samael aslinya masih di Cocytus, kami hanya bisa memanggil sebagian dari tubuh dan kekuatannya kesini."
"Tidak berguna." Mendengar apa kata Georg yang dirasa tidak ada kebohongan, Hinata merasa apa yang ia lakukan sia-sia.
Hinata melepaskan Georg, kunai yang ia pegang dia masukkan kembali ke tas kecil tempat senjatanya.
Baaagg...
Menggunakan telapak tangannya untuk memukul punggung Georg tepat di area sekitar jantung, Hinata sukses membuat pengguna Sacred Gear Dimension Lost itu pingsan seketika.
Hinata bergerak sedikit, dan dia sudah berada disamping Naruto. Kemampuan kedua The True Tenseigan, manipulasi jarak, sangat beguna untuk berpindah secepat kilat tanpa bisa dikejar selama masih dalam ruang lingkup area jelajah, yaitu dalam radius tidak lebih dari 10 km.
Teknik ini sudah tentu membuat Cao Cao dan komplotannya tidak berkutik. Mereka ahli dalam hal teknik, pertarungan melawan iblis ataupun makhluk supranatural lain yang kekuatannya yang jauh lebih besar bisa mereka menangi karena unggul dalam segi teknik dan taktik. Tapi setelah dihadapkan pada teknik bertarung Hinata untuk pertama kali, mereka sepertinya harus membuat persiapan matang agar bisa melawan. Jika dalam keadaan tiba-tiba seperti ini, mereka sangat dirugikan.
Hal paling buruk bagi komplotan Hero Faction saat ini adalah, mereka tidak bisa kabur kemana-mana lagi. Harusnya mereka langsung pulang karena eksperimen sudah selesai. Namun Georg yang merupakan satu-satunya pembuat jalan untuk mereka pulang sudah tak berdaya. Pilihan satu-satunya untuk mereka adalah melawan.
"Tidak bisa ya, Hinata?" tanya Naruto pada istrinya yang berdiri disampingnya.
"Hu'um. Sepertinya kita harus melakukannya sendiri."
"Ya sudah." Naruto berjalan maju tiga langkah, tatapannya fokus pada Samael yang semakin menghilang ditelan lingkaran sihir raksasa buatan Georg. Hanya menyisakan kepala dan badannya saja. Sepertinya batas waktu pemanggilan Samael hampir habis. Sekarang gilirannya. "Aku akan gunakan ini...!"
Shinggg...
Dari perut dan dada Naruto, muncul rantai emas dengan pendulum tajam diujungnya. Sebanyak 7 buah rantai bergerak cepat kearah Samael. Satu rantai melilit leher si Naga-Malaikat jatuh itu, satu lagi melilit bagian dada Samael. Sisa lima rantai lain masuk menembus ke dalam lingkaran sihir.
Itu adalah teknik turun temurun yang dimiliki oleh ninja keturunan Klan Uzumaki. Kushina, ibu Naruto bisa melakukan itu bahkan sanggup digunakan untuk menangkap Kyubi. Karin yang merupakan Uzumaki terakhir selain Naruto juga bisa melakukannya, bahkan mampu mengancurkan patung Buddha 1000 tangan, Shinsuusenju, yang dikeluarkan oleh Madara palsu saat perang dunia shinobi keempat. Dan sekarang, setelah Naruto mempelajari bermacam-macam teknik fuinjutsu sehingga bisa mendapatkan gelar master fuinjutsu, dia juga bisa mengembangkan bakatnya itu.
Walaupun awalnya rantai yang bisa dibuat Naruto kecil, pendek, dan tidak terlalu kuat karena dia bukan keturunan Uzumaki murni, tapi setelah dilatihnya selama 4 bulan saat dunia shinobi masih belum kiamat, Naruto berhasil membuat rantai penyegel yang ia miliki sama kuatnya dengan milik Kushina dan Karin, bahkan mungkin bisa lebih kuat jika dia menggunakan senjutsu rikudou untuk meningkatkan kekuatannya. Dan itu pasti cukup untuk menangkap Samael, menariknya dari tali kekang Neraka.
"Tarik...!"
Sesuai ucapan Naruto, rantai itu semakin kencang. Menarik Samael perlahan keluar dari lingkaran sihir. Leher Samael tercekik karena kuatnya tarikan rantai itu, badannya juga ditarik keluar. Semakin banyak tubuh Samael yang keluar dari lingkaran sihir raksasa buatan Georg. Dua rantai lain dari tubuh Naruto melilit kedua tangan Samael, sedangkan sisanya menarik ekor Samael dan kedua sayapnya.
"Oooooo..."
Raungan kesakitan Samael menggema sepanjang alun-alun Piazza San Marco karena belitan rantai emas dari Naruto.
Cao Cao jadi panik, dia lah yang membawa Samael kesini, tapi itu dia lakukan dengan penuh perhitungan. Dia tidak berniat membebaskan Samael sepenuhnya dari segel Neraka, dia hanya ingin menggunakan Samael untuk mencuri kekuatan Ophis. Dan sekarang, melihat apa yang laki-laki berambut pirang cepak itu lakukan, Cao Cao sadar kalau keinginan mereka untuk membebaskan Samael tidak main-main. Walaupun tidak tahu apa-apa, tapi dia melihat jelas kalau rantai-rantai emas itu perlahan tapi pasti mulai membebaskan Samael dari belenggu kekang Neraka.
"Hei...! Kalian berhenti!, Kau akan merusak keseimbangan dunia jika melepas makhluk itu. Dimensi ruang buatan ini tak bisa menahannya. Jangan bertindak gila, bodoh..!"
Naruto tidak sedikitpun mengindahkan teriakan kepanikan Cao Cao.
"Oooooo..."
Lagi, Samael mengerang kesakitan. Teriakan pilu dari campuran berbagai emosi negatif keluar nyaring dari mulutnya yang punya sederet gigi-gigi tajam.
"HAAAAAAAAAAAAA..."
Naruto berteriak, menggunakan rantainya dia menarik Samael lebih kuat. Banyak pasak-pasak dan alat pengekang di tubuh Samael terlepas. Bahkan makhluk itu perlahan mulai terpisah dari salib, media tempat dia dihukum.
"Tidakkkk...!" Cao Cao berteriak lagi, tidak terbayang olehnya melihat Samael yang sedikit lagi bebas.
"OOOOOOOOOOOOOOOO..."
Momen saat Samael lepas dari sepenuhnya dari belenggu yang menyiksanya, raungan kencang mengguncang seluruh kota Venesia, raungan keras itu bahkan mulai membuat kerekatan pada dimensi buatan yang diciptakan Georg dengan Balance Breaker Dimension Create. Rantai-rantai emas milik Naruto telah kembali ke tubuh pemiliknya.
Wujud asli Samael, sosok memilukan yang bagian atasnya adalah malaikat jatuh mengerikan dan bagian bawahnya berupa tubuh naga. Tinggi asli makhluk ini lebih dari 30 meter. Semua orang menahan nafas berat, aura kekuatan sesungguhnya yang dipancarkan oleh Samael yang lepas sepenuhnya terasa sangat mengintimindasi. Kekuatan dari makhluk legendaris, eksistensi yang merupakan realisasi dari niat jahat The God of Bible, Sang Dragon Eater yang sanggup membantai semua naga.
Hawa mengintimidasi yang sangat berat dari Samael tidak hanya dirasakan oleh Vali yang notabene adalah pemilik kekuatan naga, tapi juga anggota Timnya, Cao Cao, semua komplotan Hero Faction serta pasukannya. Ophis yang kekuatannya tinggal seperempat pun tampak sedikit kepayahan walau hanya untuk berdiri. Hinata juga merasakan kalau tubuhnya tidak nyaman.
"Naruto-kun...!"
Naruto tampak masih berdiri diam. Dia seperti orang melamun.
"Naruto-kun, kau tunggu apa lagi?"
Naruto tersadar, "Ah iya, maaf." dia lalu tersenyum girang. Naruto mulai bermonolog sendiri, "Saatnya beraksi, tunjukan dirimu, buat semua makhluk merasakan kedigjayaanmu. Ikuse, KURRAMAAAAAA...!"
Tubuh Naruto bersinar kuning, sangat terang. Aura berwarna kuning itu dengan cepat berpisah dari tubuh Naruto. Aura yang sangat banyak itu kemudian membentuk sosok tubuh yang tingginya menyamai Samael, membentuk sesosok tubuh yang sangat terkenal diseluruh penjuru dunia, makhluk legendaris dari mitologi Jepang.
GRROOOAAAARRRR...
Sosok raksasa berwarna kuning keemasan itu mengaum kencang. Dia, monster rubah berekor sembilan yang melegenda telah bangkit. Kurama, yang tubuhnya hanya berwujud chakra berwarna kuning, dengan sembilan ekor melambai dibelakangnya. Dia langsung melaju, melesat, menerjang kearah Samael yang juga melaju kearahnya. Pertarungan dua monster sejati untuk menentukan siapa yang lebih digjaya.
Kurama yang unggul dalam berlari karena punya empat kaki, menggunakan kepalanya untuk menyeruduk Samael. Naga-Malaikat Jatuh itu tak bisa mengelak, terpaksa merelakan tubuhnya terlempar puluhan meter. Semua bangunan yang ada dalam jalur Samael roboh, rata dengan tanah.
Naruto, masih berdiri di lantai alun-alun Piazza San Marco, didekatnya ada Ophis dan Hinata. Dia masih dalam mode normal, melepaskan Kurama secara penuh dari tubuhnya tidak akan membuatnya mati karena sekarang dia bukan hanya Jinchuriki bijuu ekor sembilan, tapi jinchuriki dari sembilan ekor bijuu. Masih ada delapan bijuu lain yang mendiami tubuhnya.
GRROOOAAAARRRR...
Sekali lagi, Kurama mengaum kencang, menunjukkan dominasinya sebagai yang terkuat.
Dan tentu saja, semua makhluk supranatural yang ada disana terkejut. Mereka tidak menyangka akan melihat Kyubi ditempat ini.
Cao Cao segera menyadari sesuatu, "Kyubi itu bukan Yasaka. Makhluk itu tidak pernah ada dimanapun sebelum ini."
Cao Cao tentu bisa mengenali Yasaka dalam wujud aslinya. Dia pernah bereksperimen dengan monster rubah betina itu. Dibanding Yasaka, kyubi yang sekarang melawan Samael tampak lebih maskulin, berbeda dengan wujud asli Yasaka yang terkesan feminim. Lebih dari itu, Cao Cao bisa merasakan kalau level kekuatan Kyubi yang ini berbeda dengan Kyubi Yasaka.
"Kekuatan ini..." Albion yang tersegel dalam Sacred Gear Divine Dividing pada tubuh Vali bersuara dengan nada bergetar, "Kekuatan yang sama levelnya dengan Naga Langit sebelum di segel tuhan kedalam Sacred Gear."
Pernyataan Albion diiyakan oleh orang yang mendengarnya. Seperti kata Cao Cao, Kyubi yang ini memancarkan aura kekuatan yang lebih besar dari Kyubi Yasaka. Jika kekuatan sejati Yasaka selevel dengan Dragon King, Lima Raja Naga, maka sesuai pernyataan Albion, Kyubi Kurama setara dengan Heavenly Dragon, Ddraig atau Albion sebelum kekuatannya disegel kedalam Sacred Gear.
Jeanne sudah kembali ke tempat komplotannya, tampaknya efek sementara dari Itsutei Ratana yang menghilangkan kekuatannya sudah tidak ada lagi. Dia bertanya pada Cao Cao, "Bagaimana rencana kita sekarang? Apa kita akan melawan dua orang itu?"
"Aku belum memikirkannya, sekarang sebaiknya kau urus Georg dulu. Kita tidak akan bisa apa-apa kalau Georg masih pingsan."
Georg lah yang mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan sihir di kelompok Hero Faction. Tanpa Georg, Cao Cao dan yang lainnya tidak bisa keluar dari dimensi ruang buatan ini.
"Lagipula kita tidak bisa kabur begitu saja. Hades-dono dan Sakra-sama bisa mengamuk pada kita kalau kita meninggalkan Samael disini."
Sementara itu, senyum maniak tercipta di bibir Vali, "Naruto, seberapa kuat kau sebenarnya? Apapun yang terjadi setelah ini, kita pasti akan bertarung dan aku akan mengalahkanmu."
Naruto masih sibuk menonton aksi Kurama, begitupula Hinata. Ophis yang mendengar keinginan Vali menjawab, "Kalian harus tahu, ada delapan monster lain lagi yang tersimpan di tubuh Naruto. Aku saja, untuk mengalahkan dia dan semua monsternya, terpaksa harus menunjukkan wujud sejatiku -True Form-."
Fakta baru bahwa Ophis pernah bertarung dengan Naruto tidak membuat Vali takut, dia malah senang. Memaksa Ophis Sang Ketidakbatasan menunjukkan wujud sejatinya agar bisa menang, maka Naruto dan sembilan monster yang tersegel didalamnya bisa dikatakan melampaui Kedua Naga Langit dalam hal kekuatan murni. Saat ini bagi Vali, Naruto adalah penghalang baru untuk menunjukkan dominasinya dari jalur putih. Tapi melihat kondisi sekarang, sepertinya Vali harus menunggu dulu, menunggu tubuhnya pulih akibat racun kutukan Samael.
Menghiraukan keterkejutan semua orang akan kemunculannya, Kurama meneruskan pergulatannya dengan Samael.
Samael berdiri diatas ekornya, dia tidak akan diam saja diserang. Dari kedua tangan Samael, tercipta banyak sulur-sulur hitam seperti tentakel. Semuanya bergerak cepat ke arah Kurama.
Kurama tak sempat menghindar, tubuhnya dibelit oleh puluhan tentakel dari Samael. Rontaan Kurama menandakan belitan tentakel itu semakin kuat. Monster berekor sembilan ini menggunakan kedua lengannya, memegang erat tentakel-tentakel Samel, menariknya hingga,,,,,,
batss...
,,,, putus.
Setelah bebas, sebagai balasan, Kurama memanjangkan lengannya hingga menjangkau Samael. Menangkap ekor makhluk kutukan itu, lalu memutarnya di udara dan melemparkannya jauh menyeberangi Grand Canal hingga tepental ratusan meter.
Kurama tak menunggu Samael bangkit, dia langsung mengejar tubuh Samael yang baru saja ia lempar. Berlari kencang, menyeberangi Grand Canal yang sangat lebar hanya dalam sekali lompatan.
Saat Kurama sampai diseberang, dia tidak menemukan keberadaan Samael.
Tiba-tiba dari arah samping, si monster pemakan naga menyergap Kurama. Badannya yang seperti ular memudahkannya melakukan gerakan dari sela-sela bangunan sehingga tak terlihat.
Tubuh Kurama kini dililit Samael, dia tak ubahnya seperti anak kambing yang dililit oleh ular anaconda.
Kretak,,,kretakk...
Tubuh Kurama berbunyi seolah tulang-tulangnya mulai remuk akibat belitan yang sangat kuat dari ekor Samael.
Memanfaatkan Kurama yang tak bisa bergerak, kedua tangan Samael mendorong si monster rubah hingga jatuh. Kurama tidak bisa bergerak dibawah kuncian Samael. Naga-Malaikat Jatuh itu membuka mulutnya yang berhias deretan gigi-gigi tajam. Dia berniat mengigit Kurama.
Seluruh bagian tubuh Samael mengandung racun kutukan. Kutukan yang tidak hanya mempengaruhi naga, tapi juga berefek serius pada sesuatu selain naga. Seluruh darah Samael mengandung racun kutukan, air liurnya, serta daging dan tulangnya. Tentu saja akan berbahaya kalau sampai Kurama tergigit walaupun bukan naga.
Beruntung Kurama berhasil membebaskan tangannya dari belitan ekor Samael. Sebelum tergigit, dia lebih dulu menahan leher Samael dengan satu tangan,
Duuaaggg...
dan tangan lainnya meninju wajah Samael dengan keras.
Merasa belum cukup, Kurama membalikkan posisi. Kini Kurama yang berada di atas walaupun masih dililit kuat oleh ekor Samael.
Duaaagggg.
Lagi, Kurama melayangkan tinju terbaiknya ke wajah Samael...
"Oooooooooooo..."
Samael mengerang setelah menerima pukulan itu,
DUAAGGG... DUAAGGG... DUAAGGG...
DUAAGGG... DUAAGGG... DUAAGGG...
Kurama masih memukuli kepala Samael, hingga akhirnya belitan ekor si pemakan naga itu pada tubuh Kurama mengendur.
DUUUAAAAGGGG...
Sekali lagi Kurama memberikan tinju terkuatnya, sebelum akhirnya dia puas. Kurama melangkah mundur setelah terlepas dari belitan ekor Samael.
"Tch,,,,," Kurama mendecih sombong lalu berkata, "Sekarang kau tahu kan siapa aku. Aku bukan naga, jadi semengerikan apapun julukanmu, aku tidak akan kalah."
"OOOOOOOO..."
Samael meraung lagi, dia masih bisa bangkit. Mulut Samael terbuka, dari dalam sana tercipta bola hitam seperti gelembung, bola itu pasti mengandung racun kutukan dengan kadar sangat tinggi. Kalau terkena, pasti akibatnya fatal.
Syuuuu...
Bola gelembung itu ditembakkan pada Kurama.
Tahu bahwa itu berbahaya, Kurama bergerak kesamping untuk menghindarinya.
Bola gelembung hitam itu mengenai sebuah bangunan Gereja. Gelembung itu pecah, cairannya memercik kemana-mana. Semua material padat yang terkena cairan yang berisi racun kutukan Samael lenyap tanpa meninggalkan bekas apa-apa. Bangunan Gereja hanya tinggal lantainya saja, bangunan-bangunan lain disekitarnya yang juga terkena percikan cairan itu berlobang. Serangan Samael ini membuat benda padat dan materi lainnya meleleh, seolah itu adalah air yang disiramkan pada tumpukan debu.
Samael membuka sayapnya lebar-lebar, dia mengepakkannya dengan kuat, membuat dia dalam sekejap berhasil mengudara. Dia terbang cepat, sambil menembakkan gelembung-gelembung racun kearah Kurama.
Kurama berlari zig-zag dan melompat diatas bangunan-bangunan untuk menghindari serangan Samael dari udara. Dia tidak diuntungkan disini karena tidak bisa terbang. Terpikir dikepalanya, seharusnya dia membiarkan Chomei si bijuu ekor tujuh saja yang bertarung karena bisa terbang.
Bullpp...Bullpp...Bullpp...Bullpp...
Bullpp...Bullpp...Bullpp...Bullpp...
Samael terus menembakkan serangannya dari udara, sementara Kurama berhasil mengindarinya dengan berlari cepat di tanah. Setiap gelembung serangan dari Samael yang jatuh di tanah, selalu meninggalkan lubang bekas materi dan benda-benda padat yang meleleh. Sebagian serangan yang jatuh di air, membuat airnya berubah menjadi hitam karena tercampur racun kutukan Samael.
Kurama berhenti berlari, dia menatap ke arah Samael yang ada di udara, didepan mulutnya tercipta bola kecil berwarna hitam yang berasal dari gabungan gelembung biru dan merah. Kurama memasukkan bola itu kemulutnya, membuat pipinya menggelembung.
Renzoku Bijuudama
Lima buah bom bijuu Kurama tembakkan sekaligus ke udara.
Samael ternyata cukup cepat bermanuver diudara, menghindari semua bom biju yang ditembakkan padanya.
BLLAARRRR...
Semua bom bijuu meledak saat mencapai tepi batas langit dari dimensi ruang buatan yang diciptakan Georg. Dimensi ruang buatan replika Venesia tampak semakin tidak stabil, mungkin akan runtuh, lubang hitam menganga dibekas ledakan bom bijuu, membuka langsung dimensi ini dengan Celah Dimensi.
Craaapppp...
Moment sesaat setelah ledakan besar terjadi, perhatian monster pemakan naga dan orang-orang teralihkan, dan ini dimanfaatkan Kurama untuk melompat tinggi ke udara. Dia berhasil menangkap Samael, dan menjatuhkan si pemakan naga itu ke permukaan tanah.
Samael meronta hendak melepaskan diri, namun,
Duuaaagggg...
Kurama meninju kepala Samael, membuat monster itu berhenti meronta. Dia membalikkan tubuh Samael hingga tiarap, menginjak badannya agar tidak bergerak, sementara kedua tangannya memegang sayang Samael.
Craaaacckkkkk...
"OOOOOOOOOOOOOOOO..."
Suara tulang punggung yang retak terdengar bersamaan dengan teriakan kesakitan dari Samael karena kedua sayapnya ditarik oleh Kurama.
Baattsss...
Sayap Samael tercabut dari badannya, menyisakan badan dan ekor rampingnya. Kini monster kutukan itu tidak akan bisa terbang lagi.
Samael meraung-raung kesakitan, dia bahkan tampak lebih tersiksa daripada saat masih terkekang dalam salib belenggu Neraka.
"Hei makhluk menjijikkan, sebaiknya kau berterima kasih padaku karena sebentar lagi, aku akan membebaskanmu dari siksaan Neraka dan kutukan yang diberikan The God of Bible padamu."
Setelah mengatakan itu, Kurama memegang kuat ekor Samael, mengangkatnya dan memutarnya diudara beberapa kali lalu melemparkannya jauh ke langit.
Tubuh Samael meluncur tinggi, sementara itu dipermukaan tanah Kurama membuka mulutnya lebar-lebar. Ada banyak sekali partikel-partikel kecil berwarna merah dan biru berkumpul menjadi satu di depan mulut Kurama. Bola hitam pekat raksasa yang ukurannya bahkan lebih besar dari badan Kurama sendiri tercipta. Masih belum cukup, perlahan muncul tambahan beberapa buah cincin putih yang berlapis-lapis dan mengelilingi bola itu. Cincin yang berputar cepat sehingga menciptakan suara dengungan yang menyakitkan telinga.
Bijuu: Cho Oodama Dai Rasenringu
Kurama membidik Samael yang masih meluncur di langit. Bola hitam pemusnah ditembakkan, melesat terbang menuju targetnya.
"Sekarang kau bebas, selamat jalan Samael. Senang bertarung denganmu." Kurama berucap sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada lawan bertarungnya.
Tepat saat bola itu mengenai Samael,
Flasssssshhh...
cahaya yang sangat menyilaukan tercipta. Seluruh langit Venesia tertutupi cahaya putih. Semua orang tidak ada yang tidak menutup mata. Tidak lama kemudian disusul dengan,,,,
KABOOOOOOOMMMM...
,,,,suara ledakan dahsyat beserta gelombang kejut ledakan yang meruntuhkan semua bangunan di kota Venesia buatan.
Pasukan Grime Reaper dan hewan-hewan Anti-Monster yang dibawa Cao Cao mati semuanya tanpa sisa. Para manusia pengguna balance breaker hanya tersisa beberapa saja yang masih sanggup bertahan.
Cao Cao menggunakan tombak suci miliknya untuk membuat tameng yang melindungi dirinya dan anggota inti timnya.
Naruto, Hinata serta semua anggota Tim Vali tidak ada yang terluka berkat Ophis yang menggunakan sisa kekuatannya untuk membuat barrier pelindung.
Efek ledakan mahadahsyat itu bisa tercipta dari bijuudama yang dikembangkan Kurama menjadi varian baru. Kurama selain dikenal sebagai bijuu paling kuat dibanding lainnya, dia juga bijuu paling cerdas. Terbukti dari banyaknya taktik yang ia sumbangkan pada Naruto saat Perang Dunia Shinobi Keempat melawan Madara. Kakashi pun pernah menganggap Kurama sebagai kapten tim saat mereka melawan Juubi yang baru saja bangkit. Jadi bukan hal yang tidak mungkin kalau Kurama membuat serangan pemusnah yang semengerikan itu.
Setelah efek ledakan usai, Venesia hanya menyisakan semua reruntuhan yang rata dengan tanah, kanal-kanal saluran air yang menjadi jalur transportasi mengering, dan langit Venesia bersih dari awan dan lainnya, terpapar langsung dengan celah dimensi.
Dimensi ruang buatan yang diciptakan oleh Georg dengan Balance Breaker Dimension Create dari sacred gearnya benar-benar hampir hancur akibat ledakan tadi.
Dan,,,,,,, hawa keberadaan Samael yang mengintimidasi naga tidak terasa sedikitpun lagi.
Di udara, berhamburan ular-ular hitam kecil berwarna hitam yang sangat banyak. Ular-ular itu berasal dari pecahan tubuh Samael. Aslinya bukan bagian tubuh si pemakan naga, tapi itu bentuk termeterialisasi dari kekuatan Ophis yang dicurinya. Semua ular-ular itu jatuh dan menghujani Ophis, semuanya diserap oleh Sang Dewi Naga Ketidakbatasan. Saat semua ular-ular itu habis, kekuatan penuh Ophis pun kini kembali seperti semula.
Keheningan masih belum pecah, tidak ada yang menyangka kalau Samael akan benar-benar dilenyapkan. Samael yang keberadaannya sudah ada sejak ribuan tahun semenjak The God of Bible masih hidup, menutup usia tepat pada hari ini.
Kurama berjalan perlahan setelah menyelesaikan tugasnya, lalu berhenti tidak jauh dari Naruto dan yang lain.
Naruto meletakkan tangan di kening, memberi tanda hormat pada Kurama, "Nice Job, Kuu-chan...!"
"Kheh..." disahut Kurama dengan kekehan sebal. Dia mana terima diberi nama panggilan menjijikan seperti itu.
Prakk...
"Brengsek...!" Cao Cao berteriak murka setelah dia menghantamkan tombaknya ke tanah. Atensi semua orang teralih padanya. "Kalian berdua menghancurkan rencanaku, dan kau sudah menghancurkan keseimbangan dunia. Apa mau kalian hah?"
Selain marah karena rencananya berantakan, Cao Cao tidak habis pikir dengan apa yang terjadi sekarang. Keberadaan Samael sangat penting untuk menjaga keseimbangan dunia. Para Naga dikenal sebagai makhluk terhormat yang senang bertarung tanpa mempedulikan sekitar, mereka adalah eksistensi yang diberkati dengan kekuatan dahsyat, setiap pertarungan yang mereka buat selalu meninggalkan kerusakan besar dimana-mana. Samael ada sebagai penyeimbang, dia bertindak sebagai predator para naga, dia digunakan oleh semua orang jika suatu saat naga menginvasi seluruh dunia. Intinya kompisisi eksistensi makhluk-makhluk di dunia ini sudah tepat, lingkaran antara predator-mangsa saling terhubung. Tapi karena lenyapnya Samael, bukan tidak mungkin para naga akan menunjukkan dominasinya.
Naruto membuang nafas panjang, "Baiklah, sekarang akan kujawab pertanyaanmu, Cao Cao. Ini semua adalah keinginan Ophis, permintaan yang dia tujukan padaku."
Tidak ada yang menyangka kalau ternyata Ophis memiliki hasrat kepada selain Great Red. Ophis ingin Samael mati.
Ophis bicara setelah dia lebih banyak diam dari tadi, sekarang kekuatan penuhnya telah kembali, jadi tidak ada yang perlu dia khawatirkan. "Wajar kan kalau aku ingin musuh alami ku mati?"
Semua orang paham, siapa yang tidak ingin musuh alaminya dilenyapkan, termasuk Ophis. Dengan kematian Samael, sekarang tidak adalagi yang perlu Ophis takutkan. Sebagai Sang Ketidakbatasan, Uroboros Dragon, dia bisa berbuat apapaun yang dia mau tanpa ada ancaman dari siapapun.
Cao Cao menunjuk Naruto dengan tombaknya, "Kau pasti mengerti akibat perbuatanmu kan?"
Sebenarnya selama ini, sampai sebelum Ophis turun dari kursi kepemimpinan Khaos Brigade, Dewi Naga itu tidak bisa berbuat semaunya. Semua pemimpin dari golongan supranatural yang berlawanan dengan Khaos Brigade, mulai dari Tiga Fraksi, serta berbagai reliji dan mitologi, hingga golongan-golongan minor lain dari seluruh dunia telah sepakat akan menggunakan Samael jika sampai Ophis turun langsung. Tapi kenyataan bahwa Ophis hanya bertindak sebagai 'Pemilik Nama' yang menjadi nilai jual organisasi teroris itu, membuat semua pemimpin dari golongan-golongan itu menahan diri untuk tidak melepas Samael dari kekangnya didalam Neraka. Dan tanggung jawab untuk menyimpan dan menjaga Samael diberikan kepada Hades yang menjadi penguasa Neraka. Itulah Fakta yang selama ini disembunyikan oleh semua petinggi dan orang penting dari berbagai golongan.
Selain itu, keberadaan Samael juga berguna sebagai pencegah kemunculan para Naga Jahat dari berbagai mitologi, mencegah kekacauan dunia dari makhluk-makhluk beringas itu. Para Naga tidak akan berani sembarangan menginvasi berbagai tempat di dunia kalau tidak ingin berurusan dengan Samael yang menjadi musuh alami mereka. Hal inilah yang pada awalnya membuat Naruto enggan mengikuti keinginan Ophis. Namun saat Ophis berjanji bahwa ia yang akan mengurus semua naga, dia yang akan memimpin semua naga ke jalan yang benar sebagai Naga terkuat didunia selain Great Red. Karena itulah tidak ada pilihan lain bagi Naruto selain mengiyakan.
Hinata menjawab pertanyaan Cao Cao, "Ya kami mengerti dan kami sadar betul dengan tindakan kami. Informan kami memberitahukan kalau Sakra dan Hades terindikasi memiliki niat jahat untuk menggunakan Samael dengan tujuan tidak baik. Karena itulah, kami memutuskan bahwa saat ini Samael layak dilenyapkan."
Fakta ini membuat semua orang bungkam. Tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Walau tidak ada satupun yang tahu apa sebenarnya yang ada dipikiran dewa gundul dan tengkorak itu.
Akhirnya Cao Cao menyadari kesalahannya, "Jadi aku dimanfaatkan oleh kalian untuk membawa Samael ke sini, agar kalian tanpa perlu susah payah mengeluarkan Samael dari Cocytus untuk dibunuh, iya kan?"
"Hu'um." Hinata mengangguk. "Kurang lebih begitu, kami hanya memanfaatkan situasi yang kebetulan tepat dengan keinginan kami. Itu saja."
"Informan?, Kami?" Cao Cao menyadari sesuatu dari kata-kata yang baru saja diucapkan Hinata. "Maksudnya kalian bergerak dalam tim? kalian bagian dari sebuah kelompok?"
"Kau boleh menganggapnya begitu. Aku, Naruto-kun, dan Ophis adalah bagian dari tim itu."
Cao Cao tertawa, ia meratapi kebodohannya. Baru pertama kali ini dia dimanfaatkan oleh orang lain dalam rencana hebat yang ia pikirkan dengan susah payah. Apalagi sekarang kenyataan bahwa setelah turun jabatan dari kursi pemimpin Khaos Brigade, Ophis menjadi bagian dari kelompok rahasia.
"Ahahahaaaa..." Cao Cao tertawa lagi seperti orang gila. "Jadi ini kah akhirku? Tidak ada pilihan kabur. Kalau aku pulang, Si Dewa Gundul dan Tengkorak sialan itu pasti akan memenggal leherku..."
Hubungan antara Cao Cao dengan Sakra dan Hades didasari oleh kerjasama saling menguntungkan. Artinya jika Cao Cao tidak berguna lagi, maka kedua dewa itu tidak akan ragu untuk melempar Cao Cao dan kelompoknya ke jurang terdalam Neraka.
Cao Cao menatap Naruto tajam, "Tapi sebelum itu, tidak ada salahnya kalau aku melakukan pertarungan terakhirku disini."
"Kau ingin melawanku?" ucap Naruto sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"Siapa lagi kalau bukan kau." jawab Cao Cao, ekspresi diwajahnya kental akan haus pertarungan. Dia seperti bukan dirinya yang biasanya selalu penuh perhitungan dan persiapan matang.
"Sebenarnya urusanku disini sudah selesai." Ophis menyela dan bicara, "Tapi kurasa akan menarik menjadi penonton, dan kalian butuh ini kan?"
Ophis mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Dari ujung jari itu, muncul sinar biru kehitaman seperti laser, ditembakkan ke atas hingga saat mencapai ketinggian tertentu, sinar itu menghambur lalu berubah menjadi semacam kekkai atau barrier yang berbentuk bola. Bola itu mengurung sisa-sisa daratan Kota Venesia yang dibuat oleh Georg, mencegahnya dari kehancuran perlahan akibat terkikis kondisi ekstrim dari Celah Dimensi.
Melihat dari warna dan aura kekuatan kekkai itu, sepertinya jauh lebih kuat daripada yang dibuat Georg dengan Dimension Create. Dengan begini, pertarungan seperti apapun pasti bisa di tampung tanpa merusak dimensi ruangnya. Selain itu Ophis membuat kekkai ini juga untuk mencegah orang dari luar tahu apa yang terjadi didalam, dia tidak ingin ada orang tak diundang yang kemari, terutama jika itu makhluk-makhluk superrior dan orang-orang kuat lainnya. Urusannya akan jadi panjang kalau itu sampai terjadi. Menyembunyikan tempat ini menjadi keharusan. Apalagi Venesia berada di Negara Italia. Walapun berada dalam celah dimensi, tapi koordinatnya cukup dekat dengan Venesia asli. Artinya tidak jauh dari Vatican yang merupakan pusat teritori Gereja dan Fraksi Malaikat.
Cao Cao tidak terkejut lagi sekarang. Dia sudah bersiap apapun hasilnya nanti.
"Hooaaaamm..." Kurama tampak menguap, "Kau perlu bantuanku, Gaki?"
"Kurasa tidak perlu, Kurama."
"Hei, kau meremehkanku?" Cao Cao tidak terima, Naruto dan Kurama satu paket. Ia merasa direndahkan kalau hanya Naruto yang jadi lawannya. "Kau pernah memaksa Ophis menunjukkan wujud sejati -True Form-. Walaupun sepertinya akan mustahil bagiku untuk mengalahkanmu,,,,," Cao Cao pernah mengatakan kalau ia tidak mungkin mengalahkan Ophis, melihat hal tadi, dia juga berpikir kalau tidak mungkin mengalahkan Naruto, ",,,,,tapi aku tak terima direndahkan."
Naruto tersenyum simpul, "Aku tidak pernah merendahkan siapapun lawanku karena aku bisa merasakan keinginan bertarung dari orang yang ku lawan. Hanya saja kau manusia, aku manusia, jadi supaya adil aku akan bertarung hanya sebagai manusia. Kau dikenal sebagai pertarung tipe taktik-teknik terkuat, jadi aku akan melawanmu dengan cara yang sama."
Naruto mengeluarkan dua buah kunai hiraishin, dia pegang disetiap tangannya. Dia sudah siap bertarung.
Cao Cao memutar-mutar tombaknya, tanda ia juga sudah siap. Penawaran dari Naruto cukup menarik, jadi dia tidak perlu protes. Dia ingin tahu apa ada orang yang lebih hebat darinya dalam segi teknik dan taktik.
"Hoooiii,,," tiba-tiba Bikou berteriak, "Aku tidak bermaksud menganggu, tapi pasti menarik kalau aku ikut, iya kan?" katanya lalu melirik Heracles.
Heracles yang ditatap Bikou mengerti kalau pertarungan mereka yang tadi belum selesai, dan harus diselesaikan saat ini juga, disini.
"Ayo...!" Heracles berjalan menjauh, Bikou mengikutinya.
Arthur melompat pergi tanpa bicara sepatah kata pun. Sriegfried paham dan langsung mengikuti langkah Arthur.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain." Jeanne yang kekuatannya sudah kembali, berkata dengan nada pasrah.
"Kau mau melawanku atau Le Fay, Nyaaann~~~?"
"Maaf Georg, kau ku tinggal disini sebentar." Jeanne merebahkan tubuh Georg yang masih belum sadarkan diri di tanah. Dia menatap Kuroka dan Le Fay, "Melawan kalian berdua sekaligus pasti menyenangkan."
Sebelum Kuroka dan Le Fay pergi ke tempat lain, mereka berdua ijin dahulu pada Vali yang sudah bisa duduk.
"Pergilah!" kata Vali lebih dulu sebelum Kuroka atau Le Fay mengeluarkan suaranya.
Setelah mengangguk, Kuroka dan Le Fay benar-benar pergi. Tersisa Vali sendiri.
"Vali-san." Hinata menyapa. Dia masih berdiri didekat Ophis tak berpindah secentipun sejak tadi. "Kau tidak perlu iri." Hinata paham kalau Vali pasti merasa tidak nyaman, apalagi dia yang seorang maniak bertarung tidak bisa apa-apa dan hanya menonton. "Tunggulah sebentar lagi, jatahmu akan datang sendirinya."
Vali menyeringai, "Aku tahu...!"
Sepertinya mereka berdua bisa merasakan, masih ada satu orang yang bersembunyi di dalam tempat ini, seseorang yang kekuatannya tidak main-main.
Kembali pada Naruto dan Cao Cao.
"Aku mulai duluan,,,,!"
Naruto berteriak setelah melempar lurus salah satu kunai Hiraihin yang dipegangnya,
Kunai itu melaju kencang, targetnya adalah kepala si pengguna tombak suci True Longinus.
Cao Cao walau hanya manusia biasa, tapi dia punya fisik yang jauh diatas manusia lainnya. Kecepatan dan refleksnya sangat bagus.
Tanpa melepaskan pandangannya pada Naruto, Cao Cao berhasil menghindari kunai yang menuju kepalanya. Margin tipis, kunai itu lewat dan meninggalkan hembusan angin disekitar telinga kirinya.
Moment saat kunai baru saja melewati kepala Cao Cao, Naruto yang berada cukup jauh tiba-tiba hilang dari pandangan mata. Cao Cao terkejut, namun belum sempat dia menoleh kearah lain, dia sudah lebih dulu merasakan sakit dipipi kirinya.
Sebuah tendangan keras menghantam wajah Cao Cao. Kuatnya tendangan itu membuat Cao Cao terpantal, hingga terseret di tanah.
tap...
Naruto menapak ditanah setelah puas dengan serangannya. "Itu serangan pembuka dari ku."
Taktik sederhana dari Naruto, menggunakan kunai Hiraishin sebagai media teleportasi. Dia sengaja melempar kunainya kearah Cao Cao untuk memperoleh jarak sedekat mungkin saat menyerang. Serangan yang tak akan bisa dihindari berkat kecepatan Hiraishin yang tak tertandingi.
Cao Cao berdiri lagi, dia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, "Tidak buruk. Selanjutnya aku pasti akan hati-hati dengan senjata yang kau gunakan."
.
.
.
TBC...
.
Note : Yoo, ketemu lagi. Heheee.
Chapter ini, yaaa gini. Heheee. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, kurasa semua sudah jelas termasuk alasan kenapa Samael dan Hero Faction harus dihabisi. Tapi yaaa, kalau mau main tebak-tebakan, tebak aja siapa lawan yang akan jadi jatah Vali? atau konspirasi Sakra/Indra dan Hades (Hindu-Buddha dan Olympus)?
Ulasan Review:
Konoha tidak terlibat disini, yang datang kan anggota Tim Naruto? bukan atas nama Konoha.
Yang Fight, Hinata udah, Kurama juga, Ophis ga maju. Sisanya udah di bagi tuh. Khusus Naruto Vs Cao Cao, basic fightnya taktik dan teknik, tidak ada hancur-hancuran.
Yang nyariin Konoha, muncul lagi setelah arc ini selesai. Rencananya ke Rumania.
Oh, dulu aku pernah nyebutin klo FF ini bakal sampai angka 50 chapter. Tapi sampai disini progressnya baru sekitar 65% - 70%. Ya ini karena ada tambahan konflik baru yang kumasukkan dan ku tata ulang lagi draftnya. Perkiraanku akan tamat di angka 60 - 70 chapter. Fix, aku ga niat nambahin isinya lagi.
Terus katanya aku disarankan punya Beta Reader untuk masalah typo? Ada yang berkenan?
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya, dan,,,,,,,
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
BAGI YANG BERAGAMA ISLAM
...
.
Omake...
Ini adalah padang yang sangat damai, tenang, dan luas. Ya, ini di dalam alam pikiran Naruto, tempat tinggal kesadaran sembilan bijuu. Harusnya segala kenyamanan ada di sini, tapi tidak untuk sekarang.
Sekarang tampak berisik, ada Naruto yang sedang duduk bersimpuh memohon pada partnernya, Kurama.
"Ayolah, kumohon Kurama. Keluar ya, tolong hadapi mahkluk menjijikkan itu."
Kurama menopang dagu dengan kaki depannya, dia sedang memejamkan mata, ingin tidur.
"Tidak."
"Kuramaaaa..." Naruto memelas.
"Tidak."
"Kuu-chaaaannn~~~."
Sudut perempatan siku-siku muncul di jidat Kurama.
"Kuu-"
Blaarrrr...
Belum sempat selesai memohon, Naruto sudah diberondong satu bom bijuu.
"Nee, Kurama. Bagaimana kalau begini, kita pakai asas demokrasi."
"Terserahmu saja lah." Kurama tampak tak terlalu peduli ocehan Naruto yang kini berdiri di kepalanya.
Naruto menatap kesekeliling, mencari bijuu-bijuu lain yang mendiami tubuhnya. Lalu berteriak, "Minna,,, siapa yang setuju kalau Kurama yang melawan Samael. Angkat tangan kalian!"
krik krik krik
krik krik krik
krik krik krik
Kurama membuka mata sedikit, dan yang ia dapati, kekesalannya memuncak.
