Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Jum'at, 27 Juni 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Cao Cao menatap Naruto tajam, "Tapi sebelum itu, tidak ada salahnya kalau aku melakukan pertarungan terakhirku disini."

"Kau ingin melawanku?" ucap Naruto sambil menunjuk wajahnya sendiri.

"Siapa lagi kalau bukan kau." jawab Cao Cao, ekspresi diwajahnya kental akan haus pertarungan. Dia seperti bukan dirinya yang biasanya selalu penuh perhitungan dan persiapan matang.

Naruto mengeluarkan dua buah kunai hiraishin, dia pegang disetiap tangannya. Dia sudah siap bertarung. Cao Cao memutar-mutar tombaknya, tanda ia juga sudah siap.

"Hoooiii,,," tiba-tiba Bikou berteriak, "Aku tidak bermaksud menganggu, tapi pasti menarik kalau aku ikut, iya kan?" katanya lalu melirik Heracles.

Heracles yang ditatap Bikou mengerti kalau pertarungan mereka yang tadi belum selesai, dan harus diselesaikan saat ini juga, disini.

"Ayo...!" Heracles berjalan menjauh, Bikou mengikutinya.

Arthur melompat pergi tanpa bicara sepatah kata pun. Siegfried paham dan langsung mengikuti langkah Arthur.

"Sepertinya tidak ada pilihan lain." Jeanne yang kekuatannya sudah kembali, berkata dengan nada pasrah.

"Kau mau melawanku atau Le Fay, Nyaaann~~~?"

Jeanne menatap Kuroka dan Le Fay bergantian, "Melawan kalian berdua sekaligus pasti menyenangkan."

Sebelum Kuroka dan Le Fay pergi ke tempat lain, mereka berdua ijin dahulu pada Vali yang sudah bisa duduk.

"Pergilah!" kata Vali lebih dulu sebelum Kuroka atau Le Fay mengeluarkan suaranya.

Setelah mengangguk, Kuroka dan Le Fay benar-benar pergi. Tersisa Vali sendiri.

"Vali-san." Hinata menyapa. Dia masih berdiri didekat Ophis tak berpindah secentipun sejak tadi. "Kau tidak perlu iri." Hinata paham kalau Vali pasti merasa tidak nyaman, apalagi dia yang seorang maniak bertarung tidak bisa apa-apa dan hanya menonton. "Tunggulah sebentar lagi, jatahmu akan datang sendirinya."

Vali menyeringai, "Aku tahu...!"

Sepertinya mereka berdua bisa merasakan, masih ada satu orang yang bersembunyi di dalam tempat ini, seseorang yang kekuatannya tidak main-main.

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 45. The Downfall of Hero Faction, Part 4.

-Dimensi Buatan Replika Venesia-

Kaboom... Boom...

Suara ledakan menggema di sepanjang komplek apartemen yang ada di sebelah timur kota Venesia. Bangunan-bangunan di tempat ini sebagian sudah runtuh akibat ledakan mahadahsyat dari pertarungan Kurama melawan Samael. Yang tersisa adalah gang-gang sempit di antara bangunan yang tak seberapa tinggi dengan banyak sekali puing-puing beton yang menumpuk.

Kabommm...

Lagi, suara ledakan itu terdengar.

Heracles dengan tubuh seperti raksasa setinggi 3 meter terlihat berkali-kali menghantamkan tinjunya pada Bikou, namun tak ada satupun yang kena.

Bikou pun tampaknya hanya bisa menghindar. Keahliannya dalam teknik bela diri khas China, Kungfu, menjadikan badannya memiliki kelenturan tinggi sehingga dengan mudah menghindari tinju-tinju dari Heracles. Namun dia hanya membalas sesekali dengan menggunakan tongkat emas Ruyi Jingu Bang, sepertinya dia tengah memikirkan satu serangan yang mampu memberi critical hit untuk menjatuhkan Heracles dalam satu kali serang.

Kabomm...

Tembok bangunan yang mengapit gang kecil itu meledak setelah terkena pukulan Heracles yang gagal mengenai Bikou. Sacred Gearnya, Variant Detonation, mampu membuat objek yang menjadi sasaran tinju meledak dan berubah menjadi debu, seolah dia memegang bom di tangannya ketika menyerang.

"Ayolaaah, kau tidak akan bisa menang kalau hanya main petasan tangan seperti itu." sambil menghindar, Bikou masih sempat mengejek Heracles.

"Heh, aku tidak mau mendengar ocehan dari monyet yang tak punya jalan hidup dan bisanya hanya bermain sepertimu. Heyaaaa..."

Heracles menutup jarak dengan Bikou, melayangkan tinju dengan tangan kanannya.

Bikou melompat mundur sebelum tinju itu sampai ke wajahnya. Dengan beberapa kali berputar salto di udara, dia berhasil mengambil jarak lagi dengan Heracles berkat lompatan akrobatik khas beladiri kungfu.

Heracles maju lagi tanpa menunggu Bikou mendarat di tanah, memotong jaraknya dengan Bikou, dan kini seringaian lebar tercipta di bibirnya karena di belakang Bikou adalah jalan buntu. Ada tembok yang lumayan tinggi menjadi akhir dari gang yang cukup sempit ini, dia yakin Bikou tak akan mampu melompatinya.

"Kali ini aku pasti mengenaimu, kupastikan wajahmu meledak."

Bikou baru saja mendarat setelah melompat, dan kini Heracles sudah ada di depannya. Menyadari di belakang ada tembok tinggi yang artinya adalah jalan buntu, Bikou mengangkat tongkat saktinya ke atas kepala dengan posisi horizontal.

Stab...

Bikou menancapkan salah satu ujung tongkatnya di tembok sebelah kanan yang mengapit gang tempat dia bertarung. Saat tinju dari Heracles hendak mengenainya, dia memutar tubuhnya menggunakan tongkat yang menancap kokoh sebagai poros,

Jdduaaakkkk...

Setelah satu putaran dan posisinya dibelakang Heracles, Bikou melayangkan tendangan tumit dan mengenai belakang leher anggota Hero Faction itu.

Dhuuaarrrr...

Karena tendangan Bikou, Heracles terdorong ke depan dan tinjunya yang gagal menganai target mendarat di tembok ujung gang, membuat gang itu tidak lagi buntu.

Asap dan debu hasil ledakan menutup tubuh Heracles, Bikou pun kini menapak lagi di tanah, menunggu musuhnya keluar.

Tak disangka, ternyata Heracles melompat dari balik asap, lalu terjun bebas sambil mengacungkan tinjunya ke bawah. Sasarannya adalah pijakan kaki Bikou.

Braaakkkk...

Jalan gang yang aslinya terbuat dari beton itu hancur berkeping-keping, bongkahannya berhamburan kemana-mana, namun Bikou selamat dari itu. Dia melompat sebelum pijakannya hancur, di udara posisinya sejajar dengan kepala Heracles yang memiliki tubuh besar. Kedua kakinya terbuka sangat lebar, diluruskan ke samping, dan kedua tangannya yang memegang tongkat diayunkan ke bawah.

Jduaakkk...

Lagi, Heracles kena pukulan dari tongkat emas Ruyi Jingu Bang. Kali ini yang menjadi sasaran adalah kepalanya. Akibat hantaman tongkat itu, tubuh Heracles agak oleng, dia tidak bisa berdiri tegap seperti sebelumnya lagi.

"Sialan!" Heracles menggeram marah, "Balance Break!"

Seluruh tubuh Heracles memancarkan cahaya. Cahaya perlahan membentuk objek tebal di lengan, kaki, dan punggung. Usai cahaya memudar, seluruh tubuh Heracles ditutupi oleh sejumlah tonjolan, tonjolan itu adalah,,, misil.

"Inilah Balance Breakerku, Mighty Comet Detonation"

Heracles mengunci target.

Bikou menyadari itu, ini buruk, jaraknya dengan Heracles terlampau dekat, tidak mungkin baginya menghindari misil-misil itu.

Heracles bersiap untuk menembak, dan,,,,

Shuuutttt...

,,,,menembakkan misilnya satu persatu.

Kaboom!

Karena mustahil menghindar, Bikou hanya bisa memukul misil itu dengan tongkatnya sebelum mengenai dirinya.

shuuttt...shuuttt...shuuttt...shuuttt...

Ada lagi, kali ini misilnya datang beruntun.

Kabommm! kabommm! Kabommm! kabommm!

Dengan mulus, Bikou berhasil membelokkan arah keempat misil yang menargetkannya. Berkat keahlian beladiri kungfu dalam menggunakan tongkat, membuatnya dengan mudah mengincar bagian depan misil lalu memukulnya sehingga arah misil berbelok kesamping, mendarat di puing-puing bangunan, sehingga meledak disana.

Misil-misil selanjutnya masih berdatangan, Bikou menangkis semuanya sambil bergerak mundur, menjaga jarak dari Heracles untuk mengantisipasi kalau saja Heracles menembakkan semua misil sekaligus, karena kalau begitu akan sangat sulit baginya menangkis misil-misil itu.

Ternyata belum seberapa menjauh dari Heracles, apa yang dipikirkan Bikou terjadi juga.

"Rasakan iniiii...!"

Heracles berteriak sambil meluncurkan semua misil yang ada di permukaan tubuhnya.

Misil-misil itu bergerak menyebar dari tubuh Heracles, namun pada akhirnya, targetnya tetaplah Bikou.

Mendapat serangan dari segala arah, Bikou tidak bisa lari lagi. Dia pasrah.

KABOOOMMMM...

Ledakan dahsyat tercipta di udara, angin kencang menyapu seluruh area.

Ketika sisa-sisa ledakan itu lenyap tersapu angin, tak terlihat lagi tubuh Bikou di sana, seolah ledakan itu melenyapkan Bikou tanpa menyisakan daging dan tulang belulang.

Heracles tersenyum senang lalu bergumam sendiri, "Kheh, monyet lemah. Kau yang sekarang hanya mencemarkan nama hebat generasi sebelummu."

Tiba-tiba ada sesuatu yang melayang di depan wajah Heracles. Dia menangkapnya, keningnya bertaut, "Rambut...?"

Ya, ada sehelai rambut berwarna hitam kecoklatan di telapak tangannya, benda itu lah yang tadi melayang tersapu angin hingga sampai ke depan wajahnya.

"Rambut? Jangan-jangan?!"

Heracles tiba-tiba menjadi panik,

Stabbb...

Kepanikannya terjawab ketika dia melihat ujung bilah tongkat emas Ruyi Jingu Bang melewati bawah kedua kakinya dari belakang. Artinya Bikou masih hidup, yang dia tembak dengan misil tadi hanyalah tiruan. Tipuan klasik yang sering digunakan oleh para youkai monyet.

Sebelum sempat menoleh kebelakang, Heracles lebih dulu mendengar teriakan Bikou.

"Rasakan iniii...! Hukuman derita seribu tahuuuunn... Orraaaaa..."

Jduak, brakkk... Jduak, brakkk...

Jduak, brakkk... Jduak, brakkk...

Jduak, brakkk... Jduak, brakkk...

Bikou mengayunkan tongkatnya ke atas dan ke bawah kuat-kuat berulang-ulang, menghantam sesuatu di selangkangan Heracles dan permukaan tanah tanpa henti.

"Aaaarrrhhh... Kurang ajar kau...!"

Heracles berteriak sambil kesakitan, wajahnya memerah, dia benar-benar marah. Apa yang dilakukan Bikou sama artinya menginjak-injak harga diri dan masa depannya.

"Heeyyyaaa...!"

Mengabaikan rasa sakit di selangkangan dengan wajah kecut seasam jeruk lemon, Heracles berbalik lalu untuk melayangkan satu tinju berkekuatan penuh ke wajah Bikou.

Swwoossshhh...

Tinju Heracles hanya mengenai angin.

Bikou yang punya kelenturan tubuh tinggi karena latihan kungfu yang lama ia jalani sejak kecil, menghindari pukulan Heracles dengan margin tipis, memiringkan sedikit kepalanya ke samping. Sambil menarik tongkatnya, dia memutar tubuhnya 360 dejarat disertai ayunan tongkat Ruyi Jingu Bang.

Baaangggg...

Ayunan tongkat emas yang begitu keras itu berhenti setelah menghantam kepala Heracles, tepat mengenai telinga kiri keturunan pahlawan putra Zeus itu.

"Aarrhh..."

Heracles lagi-lagi mengerang kesakitan, tadi selangkangannya, sekarang telinga dan kepalanya. Dia tidak bisa lagi berdiri dengan benar, keseimbangannya turun drastis akibat pukulan di telinga tadi.

Organ dalam telinga tidak hanya berfungsi sebagai indra pendengaran, namun juga terdapat semacam serabut saraf yang mengendalikan keseimbangan tubuh. Jika bagian itu terkena getaran kuat, maka tubuh tidak akan bisa berdiri dengan benar.

"Sialan kau...!" Heracles mengumpat setelah jatuh terlutut.

"Mwahahahaaaa..." Bikou menanggapinya dengan tawa mengejek.

Rupanya Bikou tau bagaiamana cara menyerang Heracles. Jika pukulan maupun ayunan tongkat ia arahkan langsung ke badan Heracles, itu tak akan ada arti apa-apa. Heracles pasti akan tertawa menerimanya, karena itu hanya membuatnya mengalami luka kecil, tidak akan ada luka parah sebab tubuh Heracles benar-benar keras.

Maka dari itulah, sejak awal Bikou hanya membalas serangan Heracles sesekali saja. Bikou mengincar titik-titik vital pada tubuh Heracles seperti pucuk kepala, belakang leher, selangkangan, dan telinga. Titik vital yang walaupun tidak bisa dilukai karena semua bagian tubuh Heracles keras, tapi tetap saja titik-titik vital itu memiliki jaringan reseptor saraf yang lebih banyak dari bagian lain sehingga jika dipukul akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.

"Nah, ini serangan terakhirku." Bikou bicara dengan senyum meremehkan sambil menatap Heracles yang berdiri dengan lutut.

Stabb...

Salah satu ujung tongkat Ruyi Jingu Bang dia tancapkan di belakangnya, tepat bertumpu pada sebuah pondasi kokoh dari sisa bangunan yang telah roboh.

"Sebenarnya aku mengincar ini dari awal kita bertarung," kata Bikou.

Sementara ujung lain dari tongkat saktinya di arahkan tepat ke perut Heracles.

Bikou berteriak, "Memanjanglah, Ruyi Jingu Baaaaaaaaaanggggg...!"

Merespon teriakan itu, tongkat sakti milik Bikou memanjang, Bikou sendiri berjongkok di atas tongkatnya yang memajang.

Staaabbb...

"Aaarrrkhhh..." lagi-lagi Heracles mengerang kesakitan.

Tongkat sakti Ruyi Jingu Bang menghantam perut Heracles, sementara Bikou yang duduk di dekat ujung tongkat yang mengenai Heracles tertawa senang. Tongkat sakti terus memanjang, membuat Heracles terseret ke belakang.

Heracles yang terseret mundur, berusaha mengirim sebuah tinju ke arah Bikou,

Brruuuaaakkkk.

Tinju itu gagal dilayangkan karena punggung Heracles lebih dulu menghantam sebuah bangunan. Bangunan itu hancur setelah tubuh Heracles berhasil menembusnya.

Bruuuaaakkk...

Lagi, bangunan lain yang awalnya masih tegak berdiri, akhirnya roboh seperti bangunan sebelumnya yang di hantam tubuh Heracles.

Braaakkkk..

Dhhuarrrr..

Dhhuarrrr..

Dhhuarrrr..

Dhhuarrrr..

Dhhuarrrr..

Sudah berpuluh-puluh bangunan hancur dan berlubang dindingnya karena tubuh Heracles. Tongkat Ruyi Jingu Bang terus memanjang tanpa henti, bahkan kini panjangnya sudah lebih dari satu kilometer.

BRRAAAAKKKKK...

Tubuh Heracles terhenti setelah menabrak dinding penghalang dimensi buatan yang dibuat Ophis. Dinding ini tidak hancur karena Ophis lah yang membuatnya, Ophis sang Ketidakbatasan.

Tapi hasilnya, Heracles sudah tak berdaya lagi. Tubuhnya memang keras, namun kalau menerima hantaman keras dari berlapis-lapis beton lalu penghalang dimensi buatan Ophis, tubuhnya juga akan kelebihan beban, membuatnya tak bisa bergerak lagi.

Tongkat Ruyi Jingu Bang kembali memendek, ujung yang awalnya di tumpukan pada dasar pondasi bangunan seolah ditarik.

Heracles jatuh terkapar, sementara Bikou berdiri tanpa luka.

"Hohoooo,,,, selesai. Sekarang urusanku tidak ada lagi, jadi sebaiknya aku kembali. Pfffuuiiiiiiiiittt..."

Siulan keras dibuat oleh Bikou, tidak lama kemudian datang sebuah awan emas. Bikou menaikinya, menjadikannya seperti sebuah kendaraan.

"Ayo berangkat, awan Jindou Yun!."

...

Awalnya tempat ini adalah sebuah bangunan gereja dengan arsitektur yang sangat indah dan mempunyai sebuah menara lonceng yang terlihat mirip dengan menara lonceng Gereja St. Mark's Bassilica yang ada di dekat Piazza san Marco. Gereja ini namanya adalah Gereja San Giorgio Maggiore, terletak di Pulau San Giorgio Maggiore, sebuah pulau kecil di sebelah selatan gugusan pulau utama Kota Air Venesia.

Gereja indah ini mudah dikenali hanya dengan sekali lihat, bagian depannya terbuat dari marmer putih yang dibangun dengan gaya arsitektur Renaissance klasik. Namun itu hanya pada awalnya karena saat ini, di Kota Venesia replika ini, gereja itu hanya menyisakan puing-puingnya saja yang rata dengan tanah akibat dampak dari ledakan jutsu yang ditembakkan Kurama untuk membunuh Samael.

Ada tiga orang perempuan disana. Le Fay dan Kuroka yang berdiri dalam posisi siaga, dan satunya lagi seorang wanita yang berdiri di atas sesosok naga yang terbentuk dari ribuan pedang, dia adalah Jeanne.

Jeanne adalah seorang ahli seni berpedang, pewaris kehendak dan semangat dari pahlawan Jeanne d'Arc. Sosok naga yang terbentuk dari ribuan pedang itu adalah Balance Breaker Stake Victim Dragon, dari Sacred Gear Blade Blacksmith. Dengan Sacred Gear ini, dia bisa menciptakan pedang suci sesuka hati dari semua macam atribut.

Kuroka mengarahkan telapak tanganya ke arah Jeanne, telapak tangan itu bersinar seiring munculnya sebuah lingkaran sihir berukuran kecil. Dari lingkaran sihir itu, sebuah bola api ditembakkan langsung pada Jeanne yang berdiri di atas naga seribu pedang buatannya.

Splasshhh...

Hanya dengan satu tebasan rapier yang dia pegang, Jeanne membelah bola api kuroka menjadi dua.

"Lumayan juga nyaaannn..." puji Kuroka.

"Ufufufuuu... Seranganmu yang terlalu lemah, Neko-chan." balas Jeanne dengan nada angkuh.

"Nee,,, Onee-sama keturunan pahlawan. Apa kau sadar siapa yang kau lawan hah?" tanya Le Fay.

Jeanne masih berdiri angkuh, sifat arogan yang sangat kental tampak dari wajahnya. "Aku tahu. Semua anggota Tim Vali adalah penjahat, buronan kelas S. Kalau aku yang biasa maka tidak mungkin menang apalagi menghadapi dua orang sekaligus, jadi aku akan menggunakan ini."

Wanita berambut blonde itu mengeluarkan sesuatu yang nampak seperti pistol. Ada jarum di ujung pistol. Itu alat suntik.

" Nyawwwhahahaaa... Kau mau main dokter-dokteran, nyaaaannn~~~?"

Tanpa menghiraukan pertanyaan Kuroka, Jeanne menancapkan pucuk jarum ke lehernya, lalu menekan pelatuk. Cairan dari dalam suntikan masuk ke pembuluh darah Jeanne yang ada di leher.

"Ini adalah sesuatu yang disempurnakan berkat bantuan Maou lama, Shalba Beelzebub. Sebut saja obat doping, lebih tepatnya doping yang dikhususkan untuk Sacred Gear."

"Jadi artinya kau akan meningkatkan kekuatan Sacred Gearmu dengan itu?" tanya Le Fay.

Reaksi yang tiba-tiba tampak dari tubuh Jeanne menjadi jawaban pertanyaan Le Fay. Tubuh Jeanne memperlihatkan detakan besar. Tekanan kekuatan yang muncul dari tubuh Jeanne meningkat dan pembuluh darah mulai muncul di wajahnya.

Hanya dengan melihatnya saja, Kuroka dan LeFay menyadari kalau Jeanne sedang melakukan peningkatan paksa kekuatannya.

"Ini bagus. Kekuatanku meningkat setelah disuntik dengan doping ini, doping yang kami namai Chaos Drive, nama yang dibuat dari penggabungan 'Balance Breaker' dan 'Juggernaut Drive'. Walaupun kalian buronan kelas S, tapi dengan ini aku pasti bisa mengalahkan kalian."

BRAAAAAAAKKKKK...

Terdengar suara dentuman yang cukup keras, tapi bukan berasal dari tempat ini. Atensi tiga perempuan yang ada disana sedikit teralihkan, sampai Jeanne membuka mulutnya dan berbicara sarkastik.

"Heracles-kun, dia pasti sudah kalah. Dasar gumpalan otot bodoh, tak berguna!."

"Loh, kenapa kau mengejek temanmu sendiri?"

Jeanne menjawab rasa penasaran Le Fay, "Itu salahnya, dia yang hanya berpikir dengan otot terlalu teguh memegang idealisme dan harga diri sebagai keturunan pahlawan, membuatnya tak mau menggunakan Chaos Drive."

"Kau kan juga keturunan pahlawan nyaaannn~~~~?"

"Aku tipe orang realistis, apapun akan ku lakukan asal tujuanku tercapai."

Setelah Jeanne mengatakan itu, bilah-bilah pedang dalam jumlah banyak mulai bermunculan di tanah. Itu semua Pedang Suci. Sacred Gear Jeanne adalah Blade Blacksmith. Kemampuan untuk membuat Pedang Suci jenis apapun. Menggunakan itu, dia mencapai Balance Breaker untuk menciptakan Naga, Stake Victim Dragon.

Kuroka dan Le Fay menduga kalau Jeanne akan membuat satu lagi naga seribu pedang, namun dugaan mereka salah. Stake Victim Dragon yang sudah ada merontokkan satu persatu pedang-pedang yang membentuk tubuhnya. Semuanya rontok, lalu bersama pedang-pedang lain yang muncul di tanah bergabung untuk menutupi tubuh Jeanne.

Jeanne mulai tertutupi oleh ribuan Pedang Suci. Apa yang sekarang ada di hadapan Kuroka dan Le Fay adalah seekor ular besar. Bukan, tapi tubuh atas Jeanne tumbuh dari tempat dimana kepala ular seharusnya berada. Bagian bawah tubuhnya berubah menjadi ular raksasa, Jeanne kelihatan seperti monster yang disebut Lamia, namun versi Pedang Suci dari itu.

"Ugghhh... Kau kelihatannya tambah merepotkan nyaaaann~~~."

Le Fay menyambung ucapan Kuroka, "Serangan, pertahanan, dan kecepatanmu pasti meningkat jauh melebihi saat kau menggunakan Naga. Iya kan?"

"Ufufufu, aku tak begitu suka penampilan ini, namun sangat benar kalau aku menjadi lebih kuat dan lebih cepat dari sebelumnya. Nah, sekarang ayo mulai pertarungan kita yang sesungguhnya. Tarian seribu pedaaaang!"

Jeanne menciptakan tak terhitung Pedang Suci di tanah untuk menghancurkan pijakan Kuroka dan Le Fay.

Merespon hal itu, Le Fay dan Kuroka melompat lalu membuat lingkaran sihir sebagai pijakan di udara. Mereka berdiri disana. Selama mereka berdua berada di udara, hamparan ribuan pedang suci di tanah bukan masalah.

Le Fay menatap Kuroka, mengisyaratkan sesuatu. Kuroka menanggapi dengan anggukan, sepertinya mereka sudah memiliki rencana.

Sliceee...

"Happpp..."

Le Fay dan Kuroka membuat jarak dan memisahkan diri, mereka menghindari satu bilah energi yang dihasilkan dari ayunan pedang Jeanne.

"Untung saja tidak kena, dasar Onee-sama tak sabaran." kata Le Fay pada Jeanne. Dia dan Kuroka tahu apa itu, serangan gabungan energi sihir dan energi fisik. Perisai sihir tak akan berguna untuk menahannya.

Beberapa sabetan energi dari serangan Jeane terus berdatangan, Kuroka menghindarinya dengan lincah di udara, dia membuat banyak pijakan dari lingkaran sihir untuk tempatnya melompat.

"Mengalokasikan banyak energi sihir untuk pertahanan akan melemahkan seranganku. Senjutsu dan Youjutsu lebih baik ku simpan agar bisa digunakan di saat yang tepat." Kuroka bicara setelah sabetan-sabetan pedang yang datang dari Jeanne berhenti. Anggota Hero Faction itu sadar kalau yang dia lakukan sia-sia karena Kuroka dengan mudah menghindari serangannya.

Le Fay menyahut ucapan Kuroka, "Serangan lemah tak akan bisa menggores tubuhnya yang dilapisi pedang-pedang suci. Baiklah, kalau begitu aku mulai dengan ini...!"

Le Fay yang berada di udara mengarahkan telapak tangannya pada Jeanne, dari situ dilepaskan tembakan energi sihir. Bukan cuma satu tapi ada banyak, seperti proyektil peluru machine gun yang kesemuanya di arahkan ke sekitar tubuh Jeanne.

Tidak ada yang mengenai Jeanne. Akibat dari tembakan sihir itu, ribuan pedang yang tumbuh di tanah hancur, asap tebal tercipta sehingga menutupi pandangan.

"Sekarang giliranku...!"

Memanfaatkan bidang pandang yang tertutup asap, Kuroka sudah ada di belakang Jeanne.

Kuroka menebaskan sesuatu menuju leher Jeanne yang tak terlindungi oleh pedang suci. Sesuatu itu adalah bilah kawat baja yang digunakan untuk membuat rangka bangunan yang dia ambil dari puing-puing reruntuhan. Kawat baja lurus sepanjang 1 meter itu di lapisi energi senjutsu yang dimaterialiasi membentuk bilah pedang tajam yang transparan, sehingga kawat yang dipegang Kuroka kini mirip sebuah Long-Sword Double Blade. Serangan dari pedang ini pasti mematikan kalau lawannya adalah orang biasa.

"Heyyaaaa...!"

Trankkkk...

Jeanne berbalik dan memblok serangan Kuroka. Asapnya sudah sedikit menipis, sehingga dia bisa melihat Kuroka karena jaraknya yang dekat. Dia yang dalam mode ini, ia tentu memiliki refleks dan kecepatan yang jauh di atas Kuroka. Jadi serangan tadi bukan masalah untuknya.

"Kau pikir kau bisa melukaiku dengan itu huh?"

Kuroka melompat mundur, beruntung pijakan tanah sudah kembali normal karena pedang-pedang suci yang dikeluarkan Jeanne di tanah sudah dibersihkan oleh serangan sihir Le Fay.

"Che,,,, aku masih belum selesai nyaaannn~~~~..."

Kuroka mengalokasikan hampir semua senjutsunya untuk serangan fisik, dengan ini pasti bisa melukai Jeanne jika sampai terkena tubuhnya langsung.

"Haaaaaaaa..."

Seiring teriakan itu, adu pedang terjadi antara Jeanne dan Kuroka. Dentuman suara logam yang beradu terdengar memekikkan telinga.

Clashh,,, clang!clang!...

Tebasan pedang dari Kuroka berhasil ditahan oleh Jeanne dengan rapier ditangannya lalu memberikan serangan balik dengan tusukan tajam.

Kuroka walaupun telah meningkatkan kecepatannya dengan mengalokasikan banyak senjutsu untuk fisik tapi tetap belum bisa menandingi kecepatan Jeanne. Wajar karena aslinya Kuroka bukan petarung pedang, dia adalah ahli dalam hal sihir karena dia mengkonsumi dua bidak Bishop dari majikan yang pernah ia bunuh.

Meski begitu, pedang yang dibuat Kuroka dengan energi senjutsu yang padat mampu memberikan kerusakan pada pedang Jeanne. Sudah beberapa kali Jeanne mengganti pedang sucinya.

Clang...!Clang...!Clang...!

Serangan cepat dari Jeanne berhasil menekan Kuroka sehingga terpaksa perlahan mundur. Jeanne terus menebaskan pedangnya, sementara Kuroka hanya bisa menahannya dengan satu-satunya pedang yang ia punya.

Jeanne semakin maju, bagian bawah tubuhnya yang seperti ular melangkahi sebuah simbol yang bersinar.

Kabommm...

Tubuh Jeanne menjadi oleng karena ledakan dari simbol sihir yang dia langkahi.

Itu simbol sihir buatan Le Fay, rupanya selama asap yang tercipta dari serangan pertamanya, dia membuat beberapa jebakan.

Sementara tubuh Jeanne oleng, Kuroka melesat mau lalu menebaskan pedangnya secara horizontal.

Swwuussshhh...

Jeanne berhasil menarik mundur tubuhnya sehingga terhindar dari serangan Kuroka.

"Cih,,, kalian berdua membuatku muak." Jeanne mulai kesal, "Baiklah, pertama-tama aku akan melenyapkanmu lebih dulu, Neko keparat...!"

Jeanne melesat dengan sangat cepat, dalam sekejap dia sudah berada di depan Kuroka, lalu menebaskan pedangnya secara vertikal dari atas.

Traaanngggkkk...

Kuroka menahan serangan itu dengan pedangnya,

Traannggkkk...

Sekali lagi Jeanne mengayunkan Pedang Suci miliknya.

Serangan kali ini membuat pegangan Kuroka pada pedangnya mengendur, keseimbangan tubuh Kuroka pun tampak goyang.

"Yang ini kau tak akan selamat..!"

Memanfaatkan moment itu, menggunakan kedua tangan sekaligus untuk menghasilkan ayunan pedang yang kuat, Jeanne menebaskan pedangnya secara horizontal dari sebelah kiri. Sasarannya adalah pinggang kanan Kuroka.

Kuroka tidak sempat mengayunkan pedang buatannya untuk memblok serangan Jeanne, jadi,,,,,

"Maksimalkan pertahanan fisik...!"

Mengucapkan itu, Kuroka mengalihkan semua senjutsu yang ia punya dan dikonsentrasikan ke area terbatas yang menjadi sasaran serangan Jeanne. Kuroka adalah master senjutsu, jadi dia bisa dengan mudah mengatur aliran dan depo senjutsu ditubuhnya sesuka hati.

Baammmm...

Pedang Jeanne mendarat di pinggang Kuroka.

Kuroka terseret ke samping, namun berkat senjutsu ia berhasil melindungi diri dari luka fisik. Cara ini cukup mirip dengan cara Sairaorg Bael dari keluarga iblis Great King yang melapisi seluruh tubuhnya dengan touki atau senjutsu murni untuk memaksimalkan pertahanan fisik. Kuroka bisa melakukan itu, walaupun tidak sebaik dan sekuat Sairaog karena ia tidak pernah melatih tubuhnya secara ekstrim.

Saat badan Kuroka berhenti terseret, dia memegang pedang Jeanne dengan tangan kanan agar wanita berambut blonde itu tidak bisa menjauh, membuat lawannya berada dalam jarak serangnya.

"Kheh,,,, rasakan serangan balasanku ini...!"

Kuroka membuka telapak tangan kirinya, langsung dihadapkan ke wajah Jeanne. Telapak tangan itu bersinar,

Flaaaaaaassshh...

Tidak ada ledakan atau serangan penghancur semacamnya. Setelah cahaya itu memudar, Jeanne tampak sedang linglung.

Serangan barusan adalah serangan Kuroka untuk menciptakan ilusi sesaat. Teknik dasar dari penggunanan Youjutsu yang biasa dilakukan oleh para youkai, termasuk Kuroka yang tergolong Youkai Nekomata.

Kuroka mundur, menjauh dari Jeanne yang masih linglung. Dia melayang di udara, berdiri diatas pijakan yang dibuat dari lingkaran sihir, persis di dekat Le Fay.

Kuroka memegang bagian pinggangnya yang terkena serangan Jeanne tadi. Walaupun bisa dia tahan, tapi tetap saja dia merasakan sakit. Dia berkata pada Le Fay, "Ugghhh,,,,, itteeeiii... Bertarung jarak dekat dengan pengguna pedang memang tidak bagus untukku. Tapi Le Fay, omong-omong persiapanmu sudah selesai kan?"

"Yah, terima kasih sudah mengulur waktu untukku, Kuroka-sama."

Asap hasil serangan pertama Le Fay benar-benar pudar tersapu angin.

Dan yang tampak sekarang adalah, puluhan lingkaran sihir berukuran besar bersusun diudara. Lingkaran sihir itu tersusun membentuk kubah setengah bola yang mengurung Jeanne yang belum juga sadar dari ilusi ciptaan Kuroka. Lingkaran sihir itu, terdiri dari sihir semua atribut. Cahaya, angin, api, petir, air, tanah, dan lain-lainnya. Formula-formula yang tampak pada lingkaran sihir itu pun bermacam-macam, ada rumus sihir norse, sihir hitam, sihir putih, sihir peri, sihir iblis, dan lain-lainnya. Waktu yang cukup lama diberikan oleh Kuroka, membuat Le Fay sanggup menyiapkan serangan sihir mematikan skala besar.

"Bagaimana kalau ku tambahkan?" kata Kuroka.

Memanfaatkan waktu dimana Jeanne masih belum sadar, Kuroka menambahkan lingkaran sihir lagi. Dia pengkonsumsi bidak Bishop, jadi sihir adalah spesialiasinya. Puluhan lingkaran sihir dari berbagai atribut dia ciptakan, membentuk kubah setangah bola, melapisi lingkaran sihir milik Le Fay.

Saat bertarung jarak dekat, sihir tidak terlalu berguna sehingga Kuroka masih memiliki banyak energi sihir saat ini. Dengan dua lapis serangan sihir skala besar ini, yang terkena serangan itu pasti mati, kalaupun bisa bertahan, minimal luka parah yang harus diterima.

"Pengisian energi selesai. Ayo kita lakukan bersama, Le Fay-chan!"

"Oke..."

"FIRE...!"

Kuroka dan Le Fay berteriak bersamaan. Dengan itu, dimulai dari cahaya menyilaukan, semua lingkaran sihir yang mengurung Jeanne memuntahkan amunisinya.

KAAABOOOMMMM...

Ledakan dahsyat, ledakan yang membuat seluruh pulau bekas reruntuhan Geraja San Giorgio Maggiore tempat mereka bertarung ditenggelamkan ke dasar laut.

Air laut pun segera mengisi cekungan yang tercipta dari ledakan itu.

"Ayo kembali, Le Fay-chan. Jangan biarkan Vali-sama menunggu kita terlalu lama."

"Ummu'."

...

Tempat ini dinamakan Pulau Murano, pusat kerajinan gelas dan barang-barang antik di Italia, khususnya Venesia. Gelas, piring, lampu, kaca hias dan perabotan rumah tangga lainnya yang semuanya terbuat dari kaca yang diukir indah ada di sini, banyak toko-toko yang menjualnya.

Namun sekarang jangan berharap untuk bisa melihat itu. Dampak dari pertarungan Kurama dan Samael juga sampai ke pulau ini. Bersama reruntuhan puing-puing bangunan, tersebar banyak sekali beling dan pecahan-pecahan kaca warna warni. Menjadikan tempat ini seperti padang yang berkilau karena beling-beling itu memantulkan cahaya.

Ada dua orang pria yang berada ditempat itu, keduanya tampak akan bertarung. Mereka adalah sepasang rival yang dahulu pernah bernaung dalam kelompok yang sama, namun saat ini mereka berada dikelompok yang berlawanan. Yang pertama adalah pemuda berambut pirang dengan pakaian jas bussinesman, ekpresi tenang terpahat di wajahnya. Berbeda dengan yang satunya, pemuda berambut putih ini kelihatan serius, seperti memikirkan rencana atau menganalisis sesuatu.

"Hei.." pemuda berambut pirang bicara. Dia adalah Arthur Pendragon, kakak laki-laki dari Le Fay yang juga tergabung dalam kelompok yang sama dengannya. Mereka berdua adalah keturunan dari pasangan King Arthur yang terkenal dan penyihir Morgana Le Fay. Pemuda ini dikenal sebagai pengguna pedang suci terkuat saat ini, Pedang Suci Raja Collbrande atau Caliburn.

"Lebih baik kita batalkan saja pertarungan ini, lagipula sudah ketahuan siapa pemenangnya. Walaupun kau menggunakan Balance Breaker Chaos Edge Ashura Ravage dan menggunakan keenam pedangmu, kau tetap bukan tandinganku."

"Ya, aku akui itu, Arthur. Tapi saat ini berbeda. Kita akan benar-benar menuntaskan urusan kita disini, pengkhianat."

Siegfried sudah dalam mode balance breaker, ada empat lengan tambahan yang tumbuh. Lengan itu bersisik, seperti lengan naga pada umumnya. Bagi Siegfried si mantan exorcist gereja ini, Arthur adalah sosok yang ia kejar dan ingin dia kalahkan. Walaupun dia memegang Pedang Iblis Gram, pedang iblis terkuat yang pernah ada ditambah lagi empat pedang iblis lainnya dan satu pedang cahaya, namun itu masih belum cukup.

Siegfried melanjutkan ucapannya lagi setelah dia mengambil sesuatu dari sakunya dan menunjukkan benda itu, "Aku akan mengalahkanmu dengan ini."

Benda itu adalah alat suntik. Siegfried menyuntikkan isinya ke lehernya sendiri.

"...?" Arthur tampaknya tidak tahu apa itu.

"Chaos Drive. Ini semacam doping."

"Maksudmu, kau ingin meningkatkan kekuatan sacred gearmu dengan itu?"

Siegfried mengangguk oleh pertanyaan Arthur, lalu berkata, "Apa hasil yang akan terjadi jika kita menyuntik diri kita dengan darah Maou sejati yang merupakan musuh bebuyutan Tuhan dalam Injil yang menciptakan Sacred Gear? Itulah tema dari penelitian kami. Dengan sejumlah pengorbanan dan banyak data yang terkumpul, kami mampu menggabungkan Sacred Gear dengan kekuatan Iblis."

Siegfried mengambil Pedang Iblis Gram dari sarung di pinggangnya. Dia menatap pedang itu, "Aku dipilih oleh pedang ini namun aku juga dikutuk olehnya. Arthur Pendragon, kau bisa memahami apa maksud ucapanku kan?"

Seperti kata-kata Siegfried, Arthur menjawab dengan anggukan tanda bahwa ia paham maksud ucapan itu.

Apa alasan Siegfried dikutuk oleh Pedang Iblis Gram?

Sesuai yang dikatakan legenda, Pedang Kaisar Iblis Gram memiliki ketajaman luar biasa. Dia menutupi dirinya dengan aura ofensif yang sangat besar, begitu tajamnya hingga dapat memotong apa saja. Anggap saja Gram adalah versi Pedang Iblis dari Durandal. Ciri yang lain adalah "Pembunuh Naga". Pedang ini telah membunuh satu dari lima Dragon-King, Gigantis Dragon Fafnir, meski Fafnir kemudian dibangkitkan oleh para Dewa Norse. Dengan kata lain Pedang Iblis Gram memiliki dua ciri, yaitu ketajamannya mampu memotong apa saja dan juga Pembunuh Naga. Itulah Pedang Iblis Gram. Sederhananya ia adalah gabungan ciri Durandal dan Ascalon. Kalau memasukkan ciri ini dan juga pemiliknya, Siegfried, hal itu menjadi ironi.

Sacred Gear Siegfried adalah Sub-Species dari Twice Critical. Balance Breakernya yaitu Chaos Edge Ashura Ravage juga Sub Species. Sacred Gear itu adalah Sacred Gear tipe Naga, dan sesuai dengan namanya, maka itu memiliki ciri ciri Naga. Siegfried tak akan punya masalah menggunakan Gram kalau itu adalah Twice Critical dalam kondisi biasa. Namun lain ceritanya kalau itu adalah Balance Breaker yang meroket kemampuannya. Makin besar Siegfried meningkatkan kemampuannya, makin banyak lengan yang ia tumbuhkan, maka makin buruk hubungannya dengan Gram. Makin besar Siegfried melepaskan kemampuan sejatinya, makin berbahaya efek yang diberikan pada tubuhnya karena kemampuan pembunuh naga dari Gram yang akan melukai Siegfried sendiri.

Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan Hyudou Issei. Sekiryutei bisa menyimpan Ascalon dalam slot gauntletnya tanpa mengalami masalah apa-apa karena bantuan dari Surga sehingga Sacred Gearnya menjadi perkecualian. Biarpun Sacred Gear Siegfried adalah Sub Species, tapi bukan perkecualian.

Siegfrieg dipilih oleh Pedang Iblis Terkuat, namun kemampuannya tak diberkahi oleh Pedang itu. Ironis, anggap saja ini adalah permainan curang dari takdir. Dia adalah pria yang dites oleh sistem Sacred Gear yang diciptakan oleh The God of Bible.

Siegfried kemudian mulai memutar-mutar Gram.

"Dalam kondisi Balance Breaker, Gram adalah Pedang Iblis bagus dengan keseimbangan baik kalau aku benar-benar mematikan aura ofensifnya. Tapi kalau aku lakukan itu, aku takkan mampu melepaskan potensi penuhnya. Aku akan mendapat luka fatal oleh pedangku sendiri kalau aku berada dalam kondisi Balance Breaker. Pedang ini sama sekali tak peduli dengan tubuh majikannya."

Siegfried bisa memakai Gram, namun saat tak berada dalam Balance Breaker. Ada dua pilihan baginya yaitu 'Lima Pedang Iblis termasuk Gram yang ditekan kekuatannya, satu Pedang Cahaya, dengan Twice Critical Balance Breaker' atau 'Tiga Pedang Iblis termasuk Gram dengan kekuatan penuhnya pada kondisi dasar Twice Critical'.

"Kau pasti memikirkan ada dua pilihan, iya kan Arthur?. Tapi aku memilih pilihan yang ketiga."

"Apa?" Arthur tidak mengerti.

Hening sesaat, hingga tubuh Siegfried bergejolak. Doping Chaos Drive tadi sudah mulai bereaksi. Tubuhnya mulai bereaksi dengan cepat dan mulai berubah bentuk. Keempat lengan yang tumbuh dari punggung Sriegfried menjadi lebih padat. Dia mengambil semua pedang yang tersarung. Jari tangannya mulai remuk dan bergabung dengan pedang yang dipegangnya. Siegfried sendiri mulai berubah bentuk. Ekspresinya menjadi keras dan beberapa pembuluh darah muncul di wajahnya. Ototnya mulai bergerak seolah ia adalah makhluk berbeda, dan seragam Hero Faction yang ia kenakan mulai sobek-sobek.

Kini yang tampak adalah seekor monster yang memiliki empat lengan raksasa yang nyaris bisa menyentuh tanah. Dia tak lagi kelihatan seperti Ashura yang memiliki enam lengan. Tapi dia sekarang nampak bagai monster laba-laba. Aura serta tekanan luarnya tidak normal. Sambil mengejankan wajahnya, dia menyeringai. Dengan bentuk ini, dia dapat memaksimalkan penggunaan dan potensi semua pedangnya serta kekuatan penuh dari sacred gearnya.

"Bagaimana Arthur? Kau mengerti kan?"

Arthur masih tetap tenang, "Aku sudah menganalisamu, biarpun sekarang kau menjadi seperti ini, kau tetap tidak akan bisa mengalahkanku, Siegfried."

"Tch..." Siegfried mendecih, sudah tidak perlu bicara lagi, lebih baik langsung bertarung. "Nothung!, Tyrfing!"

ZUOOOON...

Mengayunkan Pedang Iblis secara vertikal, tebasan besar tercipta di udara. Itu melesat cepat menuju Arthur.

Arthur menghindar ke samping, namun belum sempat bernafas gelombang serangan selanjutnya datang. Kawah besar tercipta di bekas pijakannya. Dia kini dia telah melompat ke udara.

Nothung, pedang Iblis yang terspesialisasi dalam ketajaman. Dan Tyrfing, pedang Iblis yang terspesialisasi dalam kekuatan penghancur.

"Bagaimana dengan yang selanjutnya? Balmung!"

Dia menikamkan pedang iblis yang tertutupi dengan aura seperti bor, diarahkan lurus pada Arthur. Putaran angin mematikan yang tercipta dari pedang itu menyerbu ke arah Arthur sambil menggilas udara disekitarnya.

"Collbrande...!"

Arthur mensummon pedangnya. Dia masih di udara, jadi tidak ada tumpuan untuk menghindar. Dengan Pedang Suci Raja Collbrande, hanya sekali tebas, putaran angin dari Siegfried terbelah.

tap...

Arthur kini mendarat lagi di tanah.

"Haaaaaa! Dainslef!"

Sekali lagi, Siegfried mengayunkan Pedang Iblisnya ke permukaan tanah, lalu dalam sekejap pilar es tumbuh dari dalam tanah berulang-ulang, merengsek menyerbu ke arah Arthur.

Koleksi Pedang Iblis Siegfried sungguh berbahaya. Semuanya memiliki efek hanya dengan mengayunkannya saja.

Arthur menancapkan pedangnya ke tanah di depannya.

Crraaasssshhh...

Pilar-pilar es itu berhenti tumbuh tepat sebelum sampai di posisi Arthur berdiri.

Melihat serangannya tidak membuahkan hasil, Siegfried maju.

Arthur juga melangkah maju. Bukan hanya untuk menyerang, tapi juga untuk menghindari serangan. Tempat dia berdiri sebelumnya tercipta deru angin, pilar es, dan retakan di tanah. Itu adalah serangan kombinasi dari tiga Pedang Iblis yang baru saja dikirim Siegfried.

Gelombang serangan datang lagi, itu adalah tebasan dari Pedang Iblis Gram. Arthur berhasil menghindarinya, namun bekas jalur tebasan itu menciptakan parit besar di tanah. Kekuatan itu sama dengan Durandal, namun karena Srigfried mampu menggunakannya tanpa mengisi ulang energinya, maka Gram bisa dianggap lebih berbahaya daripada Durandal.

"Haaaaaa..."

Clang...!

Percikan api tercipta dari pedang yang saling beradu. Serangan pedang Collbrande yang di ayunkan oleh Arthur secara vertikal di tahan oleh dua pedang iblis yang disilangkan Siegfried.

Pada moment ini, Siegfried menggunakan dua pedang iblis lainnya, menebas dari arah kiri dan kanan.

Swwuussshh...

Serangan itu berhasil dihindari Arthur. Dia melompat lalu menggunakan pedangnya yang ditahan Siegfried sebagai tumpuan. Arthur melompat ke belakang Siegfried.

Setelah mendapat pijakan, Arthur langsung menggunakannya sebagai tolakan, dia menyerang dengan tusukan lurus menuju belakang Siegfried.

Siegfried memutar tubuhnya cepat, dua pedang iblis dia gunakan sekaligus untuk menebas tusukan pedang Arthur ke samping.

Arah serangan Arthur berubah. Pada kesempatan ini, Siegfried menggunakan Pedang Iblis Gram untuk membuat tebasan horisontal ke perut Arthur.

Traankkkk...

Arthur dengan cepat memutar arah pedangnya, menahan serangan Siegfried sebelum mengenai tubuhnya.

Pada kondisi ini, kekuatan, kecepatan, responsibilitas, maupun skill antara Athur dan Siegfried yang memakai doping ada pada level yang sama.

Siegfried lebih diuntungkan karena punya enam lengan yang masing-masing memegang satu pedang. Selain itu, setiap pedang Siegfried juga memiliki kemampuan yang berbeda-beda, dan akan lebih menyusahkan bagi Arthur kalau kekuatan dan serangan dari pedang-pedang itu dikombinasi.

Pertarungan pedang diantara Arthur dan Siegfried terus berlanjut hinga cukup lama. Keduanya saling menyerang dengan kecepatan tinggi hingga hanya menyisakan bayangan, tubuh mereka hampir tidak bisa dilihat lagi.

Arthur menyerang bertubi-tubu dengan Pedang Suci Raja Collbrande, namun setiap serangan berhasil diblokir oleh semua pedang Sriegfried. Lengan naganya yang menjadi lebih besar seharusnya menjadi target yang lebih mudah bagi Arthur, namun meskipun begitu kecepatan dari setiap lengan itu tidak bisa diremehkan.

Claasshhh!Clang!Clang!Traaannkkk...!

Arthur kali ini menyerang dari udara. Pedang yang ia ayunkan dengan kuat berkali-kali selalu berhasil di tahan oleh Sriegfried. Karena usaha ini sia-sia, dia melompat mundur. Mengambil jarak yang cukup jauh dari Sriegfried.

Tap...

Ketika Arthur baru saja mendarat, ternyata gelombang serangan langsung datang. Yang ini adalah tebasan energi yang membentuk bilah yang sangat tajam. Itu berasal dari Pedang Iblis Gram. Dengan Ayunan yang penuh tenaga dan melepaskan banyak energi sihir, tebasan ini pasti sanggup membelah puluhan bangunan beton yang ada dalam jalur serangannya.

Arthur tak sempat menghindar,

Splassshhhh...

Serangan itu ditahan Arthur dengan pedangnya yang ia posisikan horisontal. Dia terseret mundur. Tak ingin lebih lama menahannya, Arthur mengayunkan pedangnya ke samping sehingga gelombang serangan dari Siegfreid berbelok.

"Sudah cukup!" kata Arthur tegas lalu berdiri tegap.

Siegfried menyerngit heran, "Apa maksudmu hah?"

"Sudah kukatakan kan sebelum kita bertarung tadi?, apapapun yang kau perbuat dengan tubuhmu, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku."

"Tch. Jangan meremehkanku!"

Arthur tak mempedulikan kekesalan Siegfried. Muncul aura kuning emas yang berkilau mengelilingi tubuhnya. Aura yang sama juga menyelimuti Pedang Suci Raja Collbrande yang dipegangnya, bahkan lebih pekat dan menyilaukan.

Hawa berat jelas dirasakan oleh Siegfried.

"Ini serangan penutup, Noble Phantasm."

"Ha?" Siegfried tampak sangat terkejut mendengar itu.

Noble Phantasm adalah serangan terkuat yang dimiliki oleh pengguna item legendaris, apalagi ini adalah pedang terhebat yang pernah ada, Holy King Sword Collbrande atau Caliburn. Siegfried cukup tahu tentang itu dan bagaimana mengerikannya walau ia sendiri belum pernah melihat langsung dengan mata kepalanya.

Arthur mengangkat pedangnya ke atas, dia arahkan ke langit. Aura emas yang menyelimuti bilah pedang itu semakin menyilaukan. Tidak berselang lama, pilar cahaya berwarna kuning emas tercipta dari pedang itu, menjulang tinggi ke langit.

"Bahaya...!" Siegfried berteriak panik.

Siegfried menebaskan keenam pedang yang ia miliki, dari sana dihempaskan gelombang serangan terkuat yang ia punya. Semua kemampuan masing-masing pedang dilepaskan menuju Arthur.

Excalibur...!

Setelah meneriakkan nama Noble Phantasmnya, Arthur mengayunkan pedang miliknya ke bawah. Pilar cahaya itu ia jatuhkan pada Siegfried. Semua gelombang serangan dari Siegfried lenyap tertelan serangan Noble Phantasm.

Siegfried tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saat serangan terkuat Arthur mencapai tubuhnya, dia meggunakan semua pedang yang ia punya sebagai tameng untuk menahan Noble Phantasm.

"Haaaaaaaa...!"

Arthur berteriak keras, melepaskan lebih banyak lagi aura suci dari Pedang Suci Raja Collbrande.

Siegfreid tertutup cahaya terang, semua gelombang serangan Arthur menenggelamkan tubuhnya.

Serangan Arthur terus melaju, menyeret Siegfried sambil meninggalkan parit raksasa di tanah.

Setelah gelombang serangan berhenti, tidak tampak apapun lagi. Entah bagaimana nasib Siegfried, hidup ataukah mati? Yang jelas serangan tadi pasti membuatnya merasakan yang namanya berada di ambang kematian, baik itu dilewati ataupun tidak.

...

"Aku mulai duluan,,,,!"

Naruto berteriak setelah melempar lurus salah satu kunai Hiraishin yang dipegangnya,

Kunai itu melaju kencang, targetnya adalah kepala si pengguna tombak suci True Longinus.

Cao Cao walau hanya manusia biasa, tapi dia punya fisik yang jauh diatas manusia lainnya. Kecepatan dan refleksnya sangat bagus.

Tanpa melepaskan pandangannya pada Naruto, Cao Cao berhasil menghindari kunai yang menuju kepalanya. Margin tipis, kunai itu lewat dan meninggalkan hembusan angin disekitar telinga kirinya.

Moment saat kunai baru saja melewati kepala Cao Cao, Naruto yang berada cukup jauh tiba-tiba hilang dari pandangan mata. Cao Cao terkejut, namun belum sempat dia menoleh kearah lain, dia sudah lebih dulu merasakan sakit di pipi kirinya.

Sebuah tendangan keras menghantam wajah Cao Cao. Kuatnya tendangan itu membuat Cao Cao terpental, hingga terseret di tanah.

tap...

Naruto menapak di tanah setelah puas dengan serangannya. "Itu serangan pembuka dari ku."

Taktik sederhana dari Naruto, menggunakan kunai Hiraishin sebagai media teleportasi. Dia sengaja melempar kunainya kearah Cao Cao untuk memperoleh jarak sedekat mungkin saat menyerang. Serangan yang tak akan bisa dihindari berkat kecepatan Hiraishin yang tak tertandingi.

Cao Cao berdiri lagi, dia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, "Tidak buruk. Selanjutnya aku pasti akan hati-hati dengan senjata yang kau gunakan."

Cao Cao memutar-mutar Tombak Suci True Longinus dengan tangan kanannya, dan,,,

Stabb...

Menghentakkan bagian bawah tombak ke tanah, berdiri dengan satu kaki sedangkan kaki lain ditekuk dengan tumit diluruskan. Tangan yang tidak memegang tombak diposisikan didepan dada dengan telapak tangan terbuka.

Naruto yang melihat gaya berdiri itu menyadari sesuatu. Dari yang ia lihat, sepertinya ada kemiripan dengan teknik beladiri khas klan istrinya, teknik pukulan halus Taijutsu Hyuga.

"Hei Cao Cao." Naruto tampak ingin berbicara dulu.

"Apa?"

"Dari informasi yang ku dapat, kau disebut-sebut sebagai manusia terkuat yang pernah ada, yang paling kuat diantara semua manusia." Informasi bagi seorang ninja itu mutlak sangat penting.

"Lalu?"

"Saat pertarungan dengan Sekiryutei di Kyoto dan Hakuryuukou barusan, aku melihatmu mengalahkan mereka dengan serangan minimal. Kau tampaknya selalu mengobservasi lawanmu dengan sangat hati-hati dan meneliti kelemahan mereka. Kau sepertinya juga sangat mendalami ciri khas senjatamu. Memiliki Balance Breaker Sub-Spesies yang dikembangkan dengan penelitian dan terus diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan bentuk terkuat. Pertahananmu memang lemah karena kau hanya 'manusia' dan kekuatan sihirmu pun tidak besar, namun kau menutupi semua itu dengan sangat baik berkat kejeniusan dan teknik-teknikmu. Kau terspesialiasi dalam menyerang titik lemah lawan sehingga kau di nobatkan orang-orang sebagai petarung tipe taktik-teknik tertinggi. Dan yang pasti, serangan kejutan seperti yang ku lakukan tadi pasti tidak akan berefek lagi padamu untuk yang kedua kalinya."

Cao Cao tertawa sinis, dia tampaknya bisa mencerna maksud ucapan Naruto.

"Loh, kenapa kau tertawa?"

"Kurasa cara berpikir kita tidak jauh berbeda. Aku paham, informasi tentang statistik bertarungku tadi walaupun kau ucapkan sebagai pujian, tapi maksud tersembunyi dibalik itu adalah kau mencoba memprovokasiku, iya kan?"

"Che.." Ekspresi Naruto berubah masam, akal muslihatnya ketahuan. Cao Cao memang benar-benar jenius, jika saja makhluk yang hanya mengandalkan otot yang diajak bicara begitu, pasti sudah dimakan mentah-mentah.

Cao Cao berdiri dengan posisi santai. "Katakan apa maumu.! Kau pasti sudah menyadari kalau kau yang sekarang tidak mungkin menang melawanku. Tapi aku melihat bahwa kau bukan orang yang akan menarik kata-katamu kembali, jadi kau tidak mungkin akan meminta bantuan partner monstermu. Apa yang kau inginkan?"

Sudah kepalang tanggung, ketahuan kalau hanya ingin mengulur waktu, jadi sekalian saja mengaku, "Ahh, eheheheeee... Bisakah kau tunggu sebentar, beberapa menit saja. Please..."

"Lakukan sesukamu."

Setelah persetujuan Cao Cao, Naruto duduk bersila mengambil posisi bertapa.

Beberapa menit kemudian terjadi perubahan pada kelopak matanya. Rupanya Naruto hanya ingin menggunakan Sennin Mode sehingga menggunakan akal muslihat seperti tadi. Dia berdiri lagi, lalu membuat kuda-kuda bertarung, tetap dengan satu kunai hiraishin di masing-masing tangannya.

Cao Cao mengaktifkan Balance Breakernya, Polar Night Longinus Chakra Valdine, sebuah cincin cahaya dan tujuh buah bola cahaya seukuran bola bowling melayang di belakang Cao Cao. Dia lalu mengambil posisi seperti tadi, "Tampaknya statistik pertarunganmu meningkat, aku dapat merasakannya dari aura yang terpancar dari tubuhmu. Saat bertapa tadi kau menyerap senjutsu kan? Kau pasti menyadari kuda-kuda bertarungku sehingga kau terpaksa menggunakan cara itu?"

"Ya, posisimu sekarang menunjukkan kau memiliki gaya beladiri unik dan mungkin berbahaya bagiku. Mirip dengan Taijutsu Hyuga, tapi pasti punya gaya berbeda. Iya kan?"

"Aku tidak tahu apa itu Taijutsu Hyuga. Tapi ku beritahu sesuatu padamu. Aku pernah belajar kungfu di Perguruan Shaolin walaupun tidak lama. Aku memang jarang menggunakannya untuk bertarung karena fokus pada ciri khas tombakku. Tapi mendengar analisamu barusan, itu artinya dalam kondisimu sekarang kau punya kemampuan mengantisipasi gaya bertarung kungfuku dan kau mengoptimalkan teknik beladirimu dengan menyerap senjutsu, iya kan? Meski begitu, untuk melawanmu aku tetap harus memakai kungfu karena kalau tidak aku akan sangat dirugikan jika tidak memakai teknik beladiri."

Naruto kagum karena analisa Cao Cao sangat tepat. Saat melihat kuda-kuda Cao Cao dengan tombak tadi, Naruto langsung menyadari bahwa itu adalah berasal dari gaya beladiri khas, teknik yang mengandung seni didalamnya, dan yang pasti akan berbahaya kalau dilawan dengan ceroboh. Maka dari itu, Naruto menggunakan Sennin Mode agar mendapatkan kemampuan sensor pendeteksi dini serangan dan bahaya serta mengoptimalkan gaya bertarung Taijutsu Kawazu Kumite yang pernah ia pelajari di Myoubukazan. Kekuatan, kecepatan, jangkauan serang, dan responsibilitas meningkat pesat dalam masa Sennin Mode. Dengan begini, Naruto bisa mengimbangi Cao Cao dalam hal teknik dan gaya beladiri atau taijutsu.

Tidak salah kalau Cao Cao memiliki predikat sebagai jenius yang ditakuti. Otaknya mampu menganalisa banyak hal hanya dengan melihat sedikit kejadian. Pastinya pertarungan ini akan jadi sangat menarik sebab Naruto juga menggunakan otaknya untuk bertarung. Naruto memang bodoh dan idiot dalam hampir segala hal, tapi dalam pertarungan dia dijuluki jenius oleh semua orang di dunia asalnya.

Cao Cao memasang kuda-kuda yang sangat rendah namun kokoh, bagian belakang tombaknya ia pegang erat dengan tangan kanan sedangkan bagian tengah dipegang dengan tangan kiri, pegangan yang longgar agar memudahkan gerakan menusuk. Ujung mata tombak di arahkan tepat pada Naruto.

Naruto pun sama, setelah memantapkan kuda-kuda, dia menyilangkan kedua tangan yang masing-masing memegang erat sebilah kunai. Kunai khusus bercabang tiga yang dilengkapi dengan tanda segel, yaitu Kunai Hiraishin yang sering digunakan ayahnya.

Fuuu...

Kedua melangkah maju dengan cepat.

Cao Cao melakukan tusukan dengan tombaknya, targetnya adalah kepala Naruto.

Naruto dalam mode sage atau Sennin Mode bisa merasakan arah datangnya serangan. Dia menangkis serangan itu dengan menggunakan salah satu kunai untuk menggeser arah tombak ke samping kirinya.

Cao Cao tidak melawan tangkisan Naruto, dia melanjutkan arah tangkisan itu lalu mengayunkan bilah tombak membentuk garis lingkaran melewati atas kepala Naruto hingga bagian tajamnya kini ada di sebelah kanan leher Naruto. Sasarannya adalah leher.

Traannkkk...

Kunai Naruto di tangan yang lain memblok bilah tajam tombak Cao Cao.

Namun Cao Cao belum berhenti dengan serangannya. Dia menarik sedikit tombaknya hingga terlepas dari blokiran kunai Naruto. Lalu sekejap ia tusukkan lagi, kali ini mengarah tepat ke batang tenggorokan Naruto. Serangan cepat dan mematikan dari jarak yang amat dekat. Jika terkena serangan ini, Naruto bisa dipastikan tewas.

Zzzsshhtt...

Satu centi sebelum ujung tajam tombak True Longinus merobek batang tenggorokannya, Naruto lebih dulu menghilang.

"Ugghhh, hampir saja. Untung dalam mode sage ini refleksku bagus." kata Naruto, dia muncul di dekat sebilah kunai Hiraishin yang ditinggalkan di posisi awal dia memasang kuda-kuda.

Cao Cao menyeringai, "Kena kau...!"

Rupanya ada sebuah bola cahaya milik Cao Cao, salah satu dari Seven Treasure, melayang tepat dibelakang Naruto.

Itu bola Atsusa Ratana. Cao Cao menggunakan itu untuk memindahkan dirinya sendiri ke belakang Naruto, dan,,,

Slice...

Clang...!

Sebilah kunai menahan bilah tajam dari tombak True Longinus.

Respon cepat Naruto menyelamatkannya dari sayatan tombak Cao Cao yang menargetkan lehernya dari belakang.

Cao Cao melihat Naruto menjatuhkan satu buah kunai hiraishin lainnya sebelum melangkah maju tadi. Dia mengerti bahwa Naruto melakukan itu sebagai antisipasi untuk keadaan darurat karena ia masih ingat dengan jelas kalau kunai bisa digunakan sebagai media teleportasi. Terbukti perkiraannya tepat, sehingga empat langkah beruntun serangnnya membuat Naruto terpojok. Namun bukan berarti Cao Cao berhasil, dari serangan terakhir ini dia mengerti satu hal.

Cao Cao melompat, mengambil posisi aman dari jangkauan serang Naruto, "Kau tidak hanya punya reflek bagus, tapi kau juga mampu merasakan arah datangnya serangan tanpa melihat. Aku benar kan?"

Naruto berdiri lagi, menghadap Cao Cao. Memang dalam mode sage, dia bisa merasakan arah serangan dan bahaya walaupun tanpa melihatnya. Naruto melemaskan tubuhnya setelah mendapat serangan mematikan yang membuatnya tegang tadi, "Aku tidak bisa bilang tidak untuk pertanyaanmu, Cao Cao."

Cao Cao memutar-mutar tombaknya lalu menancapkannya ke tanah, dengan hanya gerakan jari, tiga bola cahaya Seven Treasure bergerak mendekati Naruto.

Melihat itu, Naruto bicara, "Aku tidak tahu semua kemampuan dari bola-bolamu, tapi yang pasti aku harus menghindari semuanya."

Selama berada di dalam replika Kota Venesia ini, Naruto sudah melihat tiga dari tujuh kempuan bola itu. Pertama yang digunakan untuk mengalahkan Vali yaitu Mala Ratana, kemampuan untuk memindahkan serangan. Kedua saat Cao Cao mencoba menyerang Hinata, itu adalah Itsutei Ratana yang mampu menghilangkan kemampuan unik dari perempuan, tapi bola ini bukan masalah bagi Naruto, jelas tak akan berefek padanya yang bergender laki-laki tulen. Lalu yang ketiga barusan tadi, Atsusa Ratana, berguna sebagai media untuk memindahkan objek atau orang.

Tapi hal buruknya adalah, ketujuh bola cahaya memiliki bentuk dan ukuran yang sama, jadi sulit bagi Naruto untuk mengetahui mana yang digunakan Cao Cao dan akan lebih sulit lagi kalau Cao Cao memakai lebih dari satu bola dalam satu serangan kombinasi. Maka dari itu lah, Naruto harus menghidari semua bola-bola itu.

Salah satu dari tiga bola cahaya yang mendekat ke arah Naruto, berubah bentuk, mengambil bentuk semacam senjata. Bentuk yang diambil menyerupai sebilah pedang besar, lebih tepatnya golok yang sering dipakai oleh pendekar kungfu China saat bertarung. Itu adalah bola Chatsuka Ratana, mampu mengambil bentuk senjata apapun yang diinginkan Cao Cao untuk diterbangkan menyerang target.

Mengantisipasi itu, Naruto mengeratkan pegangan pada kunai di kedua tangannya, bersiap untuk menangkis serangan Cao Cao sekaligus memberikan serangan balik.

Golok yang dibentuk dari bola cahaya Seven Treasure, melesat dari arah depan Naruto.

Trankkk...

Naruto bisa menangkisnya dengan salah satu kunai hiraishin yang ia pegang, tapi

Pyaarrr...

Kunai yang digunakan Naruto untuk menahan golok itu pecah berkeping-keping, sementara golok masih terus melaju ke arah dadanya.

Trank...

Pyaaarrr...

Kunai kedua yang digunakan Naruto untuk menahan golok itu juga hancur.

Chatsuka Ratana, ternyata selain mampu berubah bentuk menjadi senjata, dia juga punya sifat untuk menghancurkan senjata orang lain.

Naruto jadi panik, dia tidak punya apa-apa lagi untuk menahan golok itu, sedangkan senjata tidak berguna untuk menangkisnya. Jarak sudah terlalu dekat sehingga tidak memungkinkan untuk menghindar, dan tidak ada kunai hiraishin yang ia lemparkan ke tempat lain sehingga membuatnya tidak bisa melarikan diri.

Ini posisi kritis bagi Naruto, dalam moment ini sage mode tidak akan berarti banyak.

Belum cukup sampai disitu, tiba-tiba Cao Cao muncul dari atas, mungkin menggunakan bola cahaya lain yaitu Atsusa Ratana untuk memindahkan diri sendiri yang tadi dia gerakkan bersamaan dengan bola Chatsuka Ratana. Cao Cao menukik tajam ke bawah dengan ujung tombak True Longinus yang di arahkan ke kepala Naruto.

Serangan Cao Cao dari dua arah ini malah memburuk keadaan Naruto.

Tapi, Naruto malah menyeringai. Dia bisa memanfaatkan situasi ini.

Greepp...

Sedikit mundur dengan margin tipis, kepala dan tubuh Naruto berhasil menghindari tusukan tombak Cao Cao dari atas. Lalu dengan sigap dia menangkap tombak True Longinus itu, menggunakan batang tombaknya untuk menahan golok yang bergerak dari arah depan.

Prannkkkk...

Golok yang berasal dari bola Chatsuka Ratana bertemu dengan tombak True Longinus. Hasilnya, golok itu yang hancur, lalu serpihannya kembali menyusun diri membentuk bola cahaya seperti awal.

Naruto mundur, mengambil jarak aman dari Cao Cao. Dia sudah dua kali kena serangan kritis dari pengguna tombak pembantai tuhan, dan hampir mati. Kalau yang ketiga terkena lagi, Naruto merasa dirinya akan benar-benar mati. Cao Cao adalah petarung yang pandai menganalisis kemampuan lawannya, serangan pertama yang gagal dia jadikan sebagai pelajaran untuk membuat serangan kedua menjadi lebih mematikan. Jadi jika serangan kedua gagal lagi, maka serangan yang ketiga akan menjadi amat sangat mematikan. Begitula Cao Cao, pertarung jenius berbakat yang mampu menjatuhkan banyak makhluk supranatural walau ia sendiri hanyalah 'manusia biasa' yang lemah fisik dan sihir.

Cao Cao menapak di tanah, semua bola Seven Treasure sudah kembali melayang dibelakang punggungnya. Dia memutar tombaknya dengan satu tangan kanan didepan, perlahan sambil tetap diputar dia ayunkan ke belakakang melewati punggung lalu ke depan lagi, dan sekejap dia sudah memasang kuda-kuda rendah dan kokoh dengan tombaknya yang teracung ke depan. Gaya kuda-kuda ini sangat dipengaruhi oleh ajaran Perguruan Kungfu Shaolin.

Sambil menatap Naruto dengan tajam, Cao Cao bicara, "Kau adalah jenius pertarungan yang pertama ku hadapi sampai sesengit ini. Bahkan mendapatkan ide menggunakan tombak True Longinus untuk menahan serangan Sub Spesies Balance Breaker Polar Night Longinus Chakra Valdine dari True Longinus itu sendiri."

Naruto juga bersiap dengan kuda-kudanya dengan gaya khas taijutsu Kawazu Kumite dari Myoubukazan, "Yah, aku hanya berpikir, kemampuan dari bola yang mampu menghancurkan senjata apapun, apakah bisa digunakan untuk menghancurkan True Longinus itu sendiri yang aslinya adalah senjata berupa tombak?. Jawabannya ada dua pilihan, Tombak True Longinus akan hancur atau golok dari bola cahaya itu yang akan hancur. Yang jelas yang manapun jawabannya, aku diuntungkan. Tapi faktanya, ternyata kemampuan balance breaker hanya mampu menghancurkan senjata lawan, tapi tidak pada sacred gear itu sendiri."

"Hn, bagaimana dengan ini?"

Cao Cao menjentikkan jarinya, sebagai responnya salah satu bola cahaya Seven Treasure bergerak ke depan Cao Cao.

"Bersinarlah, Kahabatei Ratana!"

Flaassssshhhh...

Setelah mengatakan itu, bola bersinar makin terang, lalu sesaat kemudian kembali meredup. Ketika pandangan menjadi jelas, tampak ada banyak sekali benda-benda humanoid yang berdiri berjejer di depan Cao Cao. Semua benda itu mirip Cao Cao, bisa bergerak layaknya sebaris pasukan. Itulah kemampuan dari Kahabatei Ratana, menciptakan tiruan tubuh pemiliknya.

"Pffttt..." Naruto malah kegirangan, dia seperti menahan tawa.

"Kau kira aku bercanda?" Cao Cao heran dengan Naruto ketika melihat teknik yang baru saja ia perlihatkan.

"Kau salah memilih teknik, Cao Cao. Coba lihat ini!"

Setelah mengatakan itu, Naruto membentuk segel tangan dengan menyilangkan jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kiri dan tangan kanan.

Tajuu: Kagebunshin no Jutsu.

BooopfttBooopfttBooopfttBooopfttBooopftt

BooopfttBooopfttBooopfttBooopfttBooopftt

BooopfttBooopfttBooopfttBooopfttBooopftt

Cao Cao terdiam, ternyata Naruto juga mampu menciptakan tiruan seperti dirinya. Bahkan sangat mirip sehingga sangat susah dibedakan dengan aslinya.

Naruto mengepalkan tinju tangan kanan lalu ia angkat ke atas,

"Ayooo minnaa,,,,,, serbuuuuuuuu!"

"Hoorryyaaaaaa..."

Para bunshin itu menanggapi teriakan semangat dari Naruto

Pasukan Cao Cao maju tanpa di komando, sedangkan Cao Cao yang baru sadar dari keterkejutan langsung berhadapan dengan Naruto asli yang menerjang ke arahnya.

"Kau benar-benar orang yang mengejutkan ya."

"Kheheheheee, begitulah. Senang bertarung denganmu." balas Naruto.

"Yah, aku juga sama. Baru kali ini aku merasa menikmati pertarunganku, benar-benar pertarungan yang hanya berpikir untuk bertarung, terlepas dari tujuan, tuntutan, dendam, atau misi apapun yang melatarbelakanginya."

Mereka berdua bicara sambil beradu skill beladiri.

Cao Cao yang kental dengan teknik kungfu perguruan Shaolin, menyerang dengan memberikan tusukan-tusukan tajam dan cepat dengan tombaknya. Beberapa kali menggunakan gerakan tipuan.

Naruto menangkis semua serangan Cao Cao menggunakan Kunai Hiraishin di tangannya. Dia punya banyak stok senjata ini di kantong senjata miliknya, jadi hancur satu atau dua tidak masalah. Gerakan tipuan pun bisa ia kenali berkat kemampuan sensor Sennin Mode.

Sesekali Cao Cao merendahkan badan lalu memberikan serangan dengan kakinya, melayangkan sapuan untuk meruntuhkan kuda-kuda Naruto. Namun Naruto dengan sigap melompat untuk mengindari serangan itu.

Naruto juga memberikan serangan balik, satu dua tiga empat lima kali dia melayangkan sayatan tajam dengan kunainya, namun tak bisa mengenai tubuh Cao Cao. Pemuda keturunan China itu seringkali memutar gagang tombak, menggunakan bagian bawah atau atas tombak untuk menangkis dan mengecoh serangan Naruto.

"Haaaaaaaa..."

Sambil berteriak, Cao Cao mengirimkan tusukan tombak, kali ini mengarah pada kaki Naruto. Sekali lagi berusaha menggoyahkan kuda-kuda sehingga saat lawannya dalam keadaan tidak seimbang, dia bisa melayangkan sebuah serangan jitu yang tak bisa dihindari maupun ditangkis.

"Hap..."

Naruto terpaksa mengangkat kakinya yang menjadi target incaran Cao Cao. Keseimbangannya menjadi sedikit goyah, ia tahu point ini seringkali menjadi incaran Cao Cao, jadi,,,,,

Tap...

Sebelum Cao Cao menarik lagi tombaknya, Naruto lebih dulu menginjak tombak itu hingga menempel di tanah.

Naruto yang berhasil menahan tombak True Longinus membuat cengiran lebar di bibirnya lalu berkata, "Cao Cao, kau sadar tidak kalau teknik peniru tubuh milikmu benar-benar payah. Lihat saja ke sekelingmu!"

Benar saja, hampir semua pasukan tiruan Cao Cao sudah habis dibabat oleh bunshin-bunshin Naruto. Sedangkan bunshin Naruto, hanya sedikit yang menghilang.

Naruto berkata lagi, "Teknik penggandaan diri tubuhmu itu banyak kekurangannya, kau tahu?

"Huh?" alis Cao Cao bertaut.

"Tiruanmu hanya bisa bergerak saja, tapi sama sekali tidak mencerminkan teknikmu dan dirimu pada mereka. Sedangkan tiruanku bisa bergerak, bertarung, dan bahkan bisa berpikir sendiri, jadi jauh lebih unggul."

Cao Cao menanggapinya dengan kekehan, "Kheh, kau pikir aku tidak menyadari kelemahan tiruanmu hah? Jumlah energi yang terpancar dari tubuhmu berkurang signifikan setelah membuat tiruan-tiruan itu. Artinya kau perlu energi yang banyak untuk membentuk mereka lalu membagikan sebagian energimu agar mereka bisa bertarung. Selain itu, walau hanya beberapa saja tapi saat ada tiruanmu yang lenyap, aku melihat ekspresi di wajahmu sedikit berubah. Aku yakin itu adalah efek samping dari teknikmu, pengalaman serta beban fisik dan beban mental yang diterima oleh tiruanmu akan dikirim kepada dirimu yang asli saat mereka menghilang, membuat kau cepat kelelahan. Aku tidak salah kan?"

Pernyataan Cao Cao membuat Naruto bungkam. Namun sesaat kemudian kedua orang ini tersenyum senang. Pengalaman bertarung seperti ini tak akan pernah mereka lupakan, karena mereka berdua sama-sama menikmati pertarungan ini.

Cao Cao dengan kuat menarik tombaknya, sehingga berhasil terlepas dari injakan Naruto. Dia melompat sambil menggerakkan jari tangannya.

Salah satu bola cahaya Seven Treasure merespon lalu bergerak ke bawah telapak kaki Cao Cao. Menggunakan itu, Cao Cao melayang semakin tinggi di udara.

"Hatsutei Ratana, kemampuan dari bola ini membuatku bisa terbang." Cao Cao bicara dari udara, "Lalu ini?"

Cao Cao mengirim salah satu bola Seven Treasure ke arah Naruto dan bunshin-bunshinnya.

Melihat itu, Naruto merasakan bahaya besar akan datang padanya.

"Hancurkan semua! Balinayaka Ratana, HAAAAAAA!"

KAABOOOMMMM...

Benar saja, bola itu menciptakan getaran yang sangat kuat pada udara di sekitarnya, sekejap kemudian gelombang kejut penghancur seperti yang selalu terjadi pada ledakan bom pun tercipta, merambat ke segala arah dengan cepat dan menghancurkan apapun yang dilaluinya. Itu adalah kemampuan Seven Treasure yang berfokus pada kekuatan penghancur. Efek dari gelombang kejutnya sama dengan gelombang kejut yang dihasilkan dari ledakan satu drum bom TNT.

Setelah ledakan selesai, semua bunshin Naruto lenyap tanpa sisa. Lantai beton Piazza san Marco yang awalnya datar, kini retak dimana-mana, bahkan sejauh radius 15 meter dari pusat ledakan Balinayaka Ratana, terbentuk kawah dalam.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas.

"Rasakan ini...!"

Senpou: Rasengan

Dengan sebuah bola biru yang berputar cepat di tangan, Naruto meluncur ke bawah, tepat ke arah Cao Cao yang melayang di udara.

Sebelum ledakan besar dari Balinayaka Ratana, Naruto asli lebih dulu melempar sebilah kunai Hiraishin lurus ke langit. Menjadikannya media teleportasi untuk menghindari. Lalu menyerang balik dari atas dengan rasengan.

Cao Cao yang menyadari itu, menggunakan salah satu bola Seven Treasure untuk memblok serangan Naruto.

Tepat ketika rasengan Naruto hampir mengenai bola itu, sebuah pusaran dimensi ruang tercipta didepan bola. Rasengan itu di serap habis.

Naruto tahu kemampuan itu, Mala Ratana yang berguna untuk memindahkan serangannya. Dia langsung melompat menjauh, mencegah dirinya kalau-kalau serangannya sendiri yang telah diserap Cao Cao akan muncul dan di arahkan padanya dari belakang. Tapi sensor Sennin Mode tidak merasakan adanya bahaya yang mengincar dirinya, matanya celingak-celinguk mencari kemana Cao Cao akan mengirim rasengan tadi.

Saat naruto sudah mencapai tanah, matanya melotot karena menangkap bahwa rasengannya muncul di dekat istrinya, tepat di depan perut Hinata.

Hinata diam, tak ada respon apapun atau perubahan ekspresi dari wajahnya walau dia sudah mengetahui sebuah bola rasengan akan membor perutnya hingga berlubang.

Baaaaannnnggggggg...

Rasengan itu meledak, menelan Hinata dalam ledakan besar hingga menciptakan asap putih pekat.

Naruto marah, dia melotot pada Cao Cao yang melayang di udara.

"Apa-apaan kau hah? Melibatkan orang lain dalam pertarungan kita.!"

Cao Cao menjawab bentakan Naruto padanya, "Hanya sedikit bermain dengan emosi saja, agar pertarungan kita semakin menarik. Aku yakin gadis itu orang yang sangat berharga bagimu kan?"

"Sialan kau!" Naruto mengumpat kasar.

Dengan emosi meledak, Naruto mengambil satu kunai Hiraihin dari kantong senjata di pinggangnya. Lalu melemparkannya lurus ke arah Cao Cao.

"Teknik yang sama tidak akan berguna padaku untuk yang kedua kali."

"Begitu kah?" Naruto mencibir. Kemudian dia membuat serangkaian segel tangan.

Tajuu: Kunai Kagebunshin no Jutsu

Setelah merapal nama jutsunya, kunai hiraishin yang awalnya hanya ada satu, tiba-tiba menjadi sangat banyak. Jumlahnya ribuan, dan semuanya di arahkan pada Cao Cao.

Cao Cao melotot, dengan ini Naruto bisa muncul tiba-tiba dari mana saja tanpa bisa ia duga lalu melayangkan serangan mematikan ke tubuhnya. Tidak mungkin baginya menghancurkan kunai-kunai itu satu persatu dengan Chatsuka Ratana, pasti tidak sempat. Balinayaka Ratana baru saja ia gunakan, jadi perlu isi ulang tenaga untuk membuat gelombang serangan penghancur lagi. Atsusa Ratana juga tidak bisa digunakan untuk menghindar dengan menteleport diri sendiri sebab semua bola Seven Treasure juga menjadi target incaran kunai Naruto, tidak ada jalan menghindar. Kahabatei Ratana yang mampu menciptakan tiruan dirinya membentuk pasukan untuk pertahanan juga tidak cukup. Jumlah kunai hiraishin yang dilempar naruto terlalu banyak, Cao Cao tidak bisa membuat tiruan dirinya dengan Kahabatei Ratana sebanyak itu.

Tak ada pilihan lain bagi Cao Cao selain ini. Dia mengarahkan ujung tombaknya pada asal datangnya serbuan kunai Naruto. Bilah tajam dari tombak True Longinus terbuka, menampakkan bilah baru yang terbentuk dari cahaya yang memancarkan aura suci yang sangat kuat. Cahaya itu menjadi semakin terang, ini pasti akan menjadi serangan yang sangat berbahaya.

"Bersinarlah, tombak yang memusnahkan tuhan!"

KAAAAAAAA.

.

.

.

TBC...

.

Note : Yoo, ketemu lagi. Sorry ngaret dari jadwal up biasa. Tapi ngeri eh, sejak jum'at aku ngerasa kayak banci taman yang dikejar satpol PP. Di FB, PM, apalagi review, ditagih update-an. Padahal biasanya kan damai-damai aja.

Okeh, membahas sedikit chapter ini.

Haracles Vs Bikou, aaahh jutsu hukuman derita seribu tahun keluar tuh, mwahahahahaaaa. Jeanne Vs Kuroka & Le Fay, jelas saja kerjasama akan lebih diuntungkan. Sriegfried Vs Arthur, sejak awal sudah ketahuan jelas perbedaan level kedua orang ini. Yaa memang begitulah, jika di LN DxD Tim Gremory harus susah payah melawan Hero Faction, maka di FF ini anggota Tim Vali bisa dengan mudah menghabisi anggota Hero Faction. Perbedaan level kekuatan mereka memang berbeda jauh sejak awal. Pengecualian untuk Cao Cao, orang yang satu ini memang kelewat jenius dalam bertarung, Vali di buat keok.

Pokoknya, di chapter ini aku kupas habis statistik Power & Ability dari anggota tim Vali dan kelompok Hero Faction, menyesuaikan literatur asli, walau untuk Athur ada tambahan Noble Phantasm.

Kemudian Cao Cao Vs Naruto, dari segi Power dan Speed, anggap saja imbang. Cao Cao itu walaupun manusia biasa, tapi dia manusia super. Naruto juga manusia, tapi dia menggunakan Sennin Mode/Sage Mode. Yang membedakan hanyalah teknik dan taktik. Kehebatan dalam memaksimalkan Skill yang dimiliki, itu menjadi penentu kemenangan. Tapi Cao Cao vs Naruto, lanjutin di chap selanjutnya saja. Sampai disini udah kebanyakan word.

Ulasan Review:

Kombo NaruSasu, tunggu pas di klimaks ya.

Samael mati, alasan awalnya memang karena keinginan Ophis. Selain itu ada kemarin ku tuliskan kalau makhluk itu terindikasi digunakan untuk tujuan tidak baik oleh Hades dan komplotannya. Informasi diperoleh dari informan Tim Naruto, siapa lagi kalau bukan Sasuke?. Dan satu lagi, Ophis termasuk point kunci dalam rencana besar Tim Naruto sampai ke Perang Armageddon. Jadi musuh alami Ophis harus dilenyapkan untuk mengantisipasi gangguan terhadap rencana mereka. Ini sudah cukup logic kan?

Ada yang usul Cao Cao CS gabung Tim Naru atau Konoha. Uummm, itu urusan nanti. Pokoknya di Arc ini mereka akan benar-benar jatuh eksistensinya.

Ditanya lagi kenapa cuma Konoha yang nyasar ke dunia supranatural? Kenapa desa lain ga ikut. Pokoknya tenang aja, Konoha udah cukup kok. Tentang Guru Gai, ada kejutan dari dia. Nantikan saja.

Orang yang menjadi lawan Vali muncul chapter depan aja.

Pencarian Artefak ketiga ke universe lain, setelah selesai arc ini ya. Ini juga lagi dibikin konsepnya. Baru setelah itu Arc selanjutnya tentang Konoha.

Update chapter selanjutnya, kemungkinan besar Jum'at sehabis lebaran saja. Jadi jum'at ini aku libur dulu ya.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya, dan,,,,,,,

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

BAGI YANG BERAGAMA ISLAM

...

.