Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Senin, 25 Juli 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

"Persiapan sudah selesai!"

Hinata berseru, atensi semua orang tertuju padanya. Dia mengkonfirmasi nama-nama yang ikut dalam perjalanan ini. Dirinya sendiri, Naruto, Sasuke, Sakura, Sona, Vali, Bikou, Arthur, Kuroka dan Le Fay. Sepuluh orang.

Kesepuluh orang itu berkumpul mendekat pada Hinata, sedangkan Ophis mundur ke sisi ruangan, Tsubaki membawa Fenrir yang sudah jinak bersamanya di dekat Ophis.

"Ada hal penting yang harus ku katakan. Walaupun belum kesana, tapi aku sudah memiliki beberapa informasi tentang universe yang kita tuju. Arus waktu disana sangat berbeda dengan disini, banyak hal yang mungkin diluar dugaan. Sisanya akan kujelaskan setelah sampai di tempat tujuan."

Sembilan orang mengangguk akan ucapan Hinata. Ini petualangan, resiko sudah pasti ada.

Hinata mengaktifkan sistem trasnporter antar universe pada Cube. Cahaya menyilaukan keluar dari sana, menyelimuti kesepuluh orang

Ketika cahaya memudar, yang tersisa adalah tubuh-tubuh tertidur. Ya, sepuluh orang yang seharusnya berangkat, malah terbaring di lantai ruangan.

Tsubaki sama sekali tak mengerti, yang bisa ia pikirkan sekarang hanyalah dia harus mengurus tubuh-tubuh itu.

Sedangkan Ophis, "Kuharap tidak ada hal buruk dengan mereka."

.

To The End of The World

By Si Hitam

Chapter 49. The Death Game Part 1.

-At Another World, 2027 Masehi-

Link Start

Welcome to Gun Gale Online (GGO)

Pada sebuah altar, bukan altar gereja namun bangunan berbentuk kubah kecil dengan lantai berbentuk lingkaran, sepuluh sosok tubuh manusia terbentuk dari dari serpihan cahaya yang muncul dari ketiadaan.

Kesepuluh orang itu mengerjap-ngerjapkan mata masing-masing layaknya orang yang baru bangun tidur. Melihat kesekeliling, mereka dibuat takjub, heran, terkejut, sekaligus bingung. Yang tertangkap oleh mata adalah pemandangan cuaca suram dari sebuah kota yang didominasi bangunan-bangunan tinggi berbahan beton dan baja yang hampir semuanya diberi cat hitam, putih, dan abu-abu. Ada juga warna-warni lain namun hanya terbatas pada layar-layar yang menampilkan berbagai macam gambar, layar-layar melayang seperti sebuah hologram.

Salah satu dari sepuluh orang tadi, seorang gadis berambut pirang panjang dengan model twintail, wajahnya imut, manis, dan cantik dengan tiga goresan tanda lahir dimasing-masing pipinya. Tubuh dengan lekukan artistik dari gadis itu tampak sangat ideal dan bernilai estetis tinggi, badannya tinggi semampai. Dia memakai seragam sekolah SMA. Iris blue sapphirenya menatap ke arah gadis berambut indigo panjang yang datang bersamanya,

"Dunia macam apa ini, Hinata?" tanya si gadis pirang dengan suara feminim.

"Errr..." si gadis bernama Hinata belum ingin menjawab, "Nna-naruto-kun?"

"Ya, aku. Kenapa?"

"Dobe!"

Suara panggilan yang tertuju untuk gadis bernama Naruto-kun tadi berasal dari perempuan berambut hitam panjang yang memasang ekspresi dingin. Wajah cantiknya memberi kesan sangat dewasa, elegan, anggun, dan tampak seperti wanita-wanita berpengalaman, aaahhh..., maksudnya tante-tante atau janda yang sering jadi target fantasi bocah-bocah mesum kelebihan hormon.

"Eh? Si-siapa kau?" Naruto menunjuk wajah perempuan yang memanggil dirinya dengan sebutan Dobe.

"Dobe!"

Naruto menyadari panggilan itu, "Te... Kau Teme kan?"

"Hn."

"Teme... Heiiii, ngapain kau makai henge jadi perempuan di sini?"

Gadis yang dipanggil Teme itu menunjuk sebauh cermin yang ada di tiang altar tempat mereka muncul. "Ngaca dulu dong! Kau sendiri apa?"

Mengikuti arah telunjuk Si Teme, Si Dobe mendapati dirinya di cermin sebagai sosok perempuan. Ekspresi yang dikeluarkannya sangat jauh dari ekspektasi orang-orang, dia memekik girang, "Whoaaaaaaa,,,, aku imut banget, ini lebih hebat dari dari sexy no jutsu yang biasanya. Aahhh,,, bagaimana yaa tubuh telanjangku yang ini?, aku ingin lihat. Sebaiknya aku buka pakaianku dulu."

"Lakukan itu dan kau kubunuh!"

Ancaman mengerikan keluar dari gadis berambut pink sebahu. Wajahnya merah karena menahan amarah.

"Aa-,,,,,,,,,"

Gadis pirang imut seksi itupun bungkam karena takut.

"Ekhhkhemmm..." suara deheman feminim itu keluar dari seorang gadis dewasa berambut putih perak yang umurnya ditaksir sekitar 22 tahun, "Bisa langsung mulai petualangan kita di sini? Aku ingin segera menemukan lawan yang bisa kuajak bertarung."

Semua orang menatap ke arah gadis yang baru bicara itu.

Gadis lain berambut hitam dengan iris mata kuning yang memakai kimono seksi memandang takjub, "Vali-sama?"

"Kamu, Vali-sama kan?" sambung gadis cilik berambut pirang dengan pakaian ala penyihir.

"Iya, kalian lupa denganku ha?"

"Kyaaaaaa... Vali-sama kawaiiiiiiiii..."

Dua gadis tadi memekik girang dan langsung memeluk erat Vali.

Vali hendak berontak, namun apa daya, ternyata tenaga wanita jadi sangat luar biasa jika sudah berurusan dengan sesuatu yang mereka anggap imut.

Adapun gadis berambut hitam pendek berkacamata membuang nafas panjang, dia ingat ucapan Hinata sebelum kesini tadi kalau punya beberapa informasi tentang universe yang mereka datangi ini, "Nee, Hinata-san? Bagaimana sekarang?"

"Ummmm, sebaiknya kita cari tempat yang sepi. Ada banyak hal yang harus kita bahas, Sona-san."

"Aku setuju." Gadis bernama Sona itu berseru pada yang lainnya yang masih ribut, "Ayo, kita harus pergi dari sini. Lihat sekeliling, orang-orang sejak tadi terus memandangi kita, seperti predator yang menatap mangsanya."

Mereka bersepuluh pun tanpa banyak bicara langsung pergi dari altar tempat mereka datang. Namun si gadis pirang panjang masih diam, ekspresi shock terlihat jelas di wajah imutnya.

"Tunggu!" Naruto dalam wujud perempuan kelihatan sangat panik. "Kurama! Kuramaaaaa, Hat-san, Son! Minna... Hoiii... Kalian mendengarku?"

"Kenapa kau Naruto?" tanya Sakura setelah berbalik badan. Dia tak mengerti apa keanehan yang terjadi pada sahabat pirangnya.

"Aku kehilangan kontak dengan semua bijuu dalam tubuhku?"

"Eh? Yang benar?" Sakura terkejut.

"Aku juga. Chakraku tak terasa dan sharinganku tidak bisa kuaktifkan." giliran Sasuke berwujud wanita dewasa yang bicara, ekspresi wajahnya tak kalah terkejut dengan Naruto.

"Kekuatan sihirku hilang." sambung Sona.

"Pedang Collbrande tak bisa kupanggil dari inventoriku."

"Hinata-neesama?" Le Fay si gadis kecil memasang wajah menuntut jawaban.

"Kita cari tempat dulu, akan kujelaskan apa yang ku tahu."

.

.

.

Sebuah bangunan kosong yang cukup gelap seharusnya akan sangat sepi, namun kini cukup berisik dengan keberadaan sepuluh orang yang berkumpul disana.

Mereka adalah tim penjelajah universe terdiri dari sepuluh orang yang datang untuk mencari sebuah artefak penting.

Ada tiga orang gadis yang memakai seragam sekolah Kuoh Gakuen yaitu Sona, Hinata, dan Naruto yang sekarang berwujud perempuan. Sasuke si wanita idaman para milflovers yang memakai mantel atau jubah hitam, dan Sakura yang memakai seragam ninjanya seperti biasa. Semua anggota Tim Vali masih dengan setelan pakaian masing-masing seperti biasa, kecuali vali yang menjadi perempuan, dia mengenakan minihotpants, serta atasan kaos ketat berkerah lebar yang memperlihatkan belahan dadanya, mungkin ini efek dia yang selalu menampilkan dadanya saat masih berwujud laki-laki.

Kesimpulannya, hanya ada dua laki-laki normal dalam tim ini yaitu Arthur dan Bikou.

"Hinata, kau sudah tahu sesuatu tentang hilangnya kekuatan yang kita semua miliki kan?"

"Kumulai dari mana ya?" Hinata tampak bingung menjawab pertanyaan suaminya, namun setelah berpikir sebentar dia tahu harus mengatakan apa. Menghirup nafas panjang, lalu mengeluarkan sebuah pernyataan, "Cardinal System, satu-satunya makhluk lima dimensi di alam semesta ini, esensi yang keberadaannya ada untuk mengatur seluruh sistem raksasa multiuniverse."

Le Fay angkat bicara, "Aku tidak terlalu banyak tahu dengan Cardinal System, tapi dari perkataanmu sedikit banyak aku sudah mengerti garis besarnya dan mampu membayangkannya."

Semua anggota Tim Vali hanyalah sebagai partner berpetualang, mereka belum tahu tentang masalah yang sedang terjadi pada Cardinal System dan keruntuhannya yang menjadi akhir dunia.

"Lalu apa hubungan Cardinal System dengan dunia tempat kita berada sekarang ini dan kekuatan kita yang hilang?" tanya Le Fay.

"Singkat kata, sistem dunia yang kita datangi ini dibentuk dan dikendalikan oleh replika versi kecil dari Cardinal System. Mesin, programming, dan grafik serta semua yang ada disini sangat identik dengan segala hal yang membentuk dunia nyata. Karena itulah, dunia yang kita pijak sekarang bisa dianggap bukanlah dunia nyata, melainkan dunia maya."

"Eh? Maksudmu? Tapi kenapa bisa begitu, Hinata?" giliran Sakura yang bertanya.

"Coba kalian saling berpegangan tangan!"

Setiap orang yang ada disana menuruti perintah Hinata, berpegangan tangan dengan orang di dekatnya.

"Naruto-kun?"

Mengerti hal itu, Naruto langsung memegang tangan Hinata.

"Kalian merasakan ada yang berbeda kan?"

"Hmmm... Aku merasa ada yang kurang saat memegang tanganmu. Tapi aku tidak tahu apa, ttebayou." Naruto menjawab pertanyaan Hinata.

"Jumlah data. Ada perbedaan jumlah data saat kita berpegangan tangan di sini dan dunia nyata kita berasal. Setiap kita merasakan sesuatu, ada sejumlah data yang masuk ke otak kita. Itu tergantung dari seberapa besar penggunaan panca indra untuk menangkap sinyal data yang datang. Semakin banyak yang kita rasakan, semakin besar jumlah data yang otak tangkap, maka akan semakin nyata sesuatu itu. Jadi maya dan nyata itu sifatnya relatif, tidak ada acuan pasti."

"Langsung saja ke intinya, kita yang sekarang disini sebenarnya apa?" Kuroka tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Yang ada disini hanyalah kesadaran kita saja, seperti sedang bermimpi, sedangkan tubuh kita ada di ruang OSIS. Kuharap Tsubaki-san mengurus tubuh kita dengan baik."

"Souka. Jadi ini sebabnya kekuatan kita lenyap." ucap Bikou.

Arthur mengangguk setuju dengan ucapan Bikou.

"Tepat. Kekuatan, chakra, sihir, senjutsu, atau jenis kekuatan spiritual lainnya adalah bentuk nyata yang ada bersama tubuh, sedangkan kesadaran layaknya sebuah roh yang tak bisa melakukan apa-apa jika tanpa tubuh. Para manusia yang kita lihat saat kita datang tadi, mereka semua juga hanya sebatas kesadaran, tubuh mereka ada di tempat lain entah dimana."

"Aku masih tak terlalu mengerti Hinata," kata Naruto yang terlihat frustasi. Dia yang paling susah mengerti kalau sudah berhadapan dengan teori. "Kesimpulannya saja, kita disini mengikuti hukum dan aturan dunia maya ini, begitu kan?"

"Ya, kesimpulan yang sangat tepat, Naruto-kun."

"Fiuuuuh,,,, tumben otakmu benar, Naruto."

"Sakura-chan, bisakah kah tidak mengejekku sehari saja?"

"Kenyataanya memang begitu kan?" balas Sakura tak peduli.

"Aarrrgggg..." Naruto atau sekarang lebih enak kalau disebut Naruko memijit pelipisnya. Atensinya teralihkan pada Sona yang sejak tadi diam saja, diam tanpa bersuara sepatah kata pun sambil membaca sebuah buku. "Anooo,,, ettoooo, Sona-san."

"Ah, gomen." Sona sedikit tersentak karena panggilan Naruto yang tiba-tiba merusak konsentrasinya.

"Biasanya kalau urusan teori yang bikin pusing ini, kau selalu di depan kan? Tapi kenapa kau sejak tadi diam saja? Kita disini mengikuti hukum dan aturan dunia ini, jadi apa kau sudah memikirkan sesuatu tentang itu?" tanya Naruto.

Sona menghela nafas sejenak, lalu dia tersenyum, "Ini sebenarnya dunia yang menyenangkan."

"Haaaah? Kenapa bicaramu tidak nyambung?" Naruto merespon ucapan Sona dengan ekspresi kesal, dirinya makin frustasi karena jawaban Sona membuatnya makin bingung.

"Heheheee..." Sona tertawa pelan.

Naruto tak mengerti kenapa Sona jadi aneh begitu. Seharusnya tadi Tsubaki ikut saja kesini, supaya ada yang menenangkan Sona.

"Sudahlah, jangan bingung begitu. Aku sudah mengerti banyak hal?"

Naruto dibuat terkejut karena ucapan serius Sona barusan, "Heee? Massa? Kau tidak melakukan apapun sejak tadi, hanya membaca buku saja. Tapi heiii, kau dapat buku itu darimana?" Naruto membaca tulisan besar di sampul buku yang dibaca Sona, "Gui-de-bo-ok,,,,,,, buku apa pula itu?"

Sona tak menjawab pertanyaan Naruto maupun kebingungan delapan orang lainnya. Dia malah menyuruh mereka melakukan sesuatu, "Coba kalian geserkan jari telunjuk tangan kanan di depan tubuh kalian, seolah sedang membuat garis pada kaca."

Sona mengatakan itu sambil memberi contoh. Sembilan orang lainnya mengikuti apa yang dilakukan Sona, lalu dibuat heran dengan munculnya sebuah layar hologram.

"Itu kotak menu, kalian bisa mengakses beberapa hal dari Cardinal System versi kecil yang mengatur dunia ini dengan menggunakan kotak menu itu." kata Sona, menjawab rasa penasaran yang tercetak diwajah Naruto dan lainnya. "Di menu Help, kalian bisa mengambil Guidebook sama sepertiku, ada banyak informasi cuma-cuma tentang dunia ini didalam buku itu."

"Ettoooo, sepertinya itu bahasa yang tak ku mengerti. Bisakah kau saja yang menjelaskannya?" pinta Naruto setelah dia membuka buku yang tiba-tiba muncul di depannya.

"Ah, baiklah. Seperti yang kita tahu, ada jutaan milyar jumlah universe yang membangun sistem raksasa multiuniverse, dan suatu kebetulan kalau sistem dan peradaban serta bahasa universe ini sangat identik dengan dunia kita berasal. Makanya ada bahasa inggris disini."

"Emmmm, singkatnya saja?" alis Le Fay tertaut tanda tak sabar, dia ingin inti jawaban bukan materi kuliah.

"Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa saat ini kita berada di dunia manusia masa depan?" Sona malah bertanya balik.

"Masa depan?" Lima dari sembilan orang membeo berjamaah.

"Mungkin kalau disebut masa depan bukan hal yang tepat. Lebih spesifiknya, sekarang kita berada di dunia buatan yang diciptakan oleh teknologi manusia masa depan."

"Manusia menciptakan dunia buatan? Heeeiii, mana mungkin.!" Bikou berteriak protes. "Manusia bukan tuhan yang bisa menciptakan dunia dan seisinya."

"Dengarkan aku, biar kujelaskan dengan detail. Manusia adalah makhluk paling serakah, makhluk yang tidak akan pernah puas dengan apa yang diberikan untuknya. Dengan pengetahuan yang dimiliki, manusia terus berkembang untuk mewujudkan impiannya dan memenuhi nafsunya yang tidak pernah habis. Seperti yang kita tahu, manusia adalah makhluk lemah tapi punya imajinasi akan kekuatan. Dengan pengetahuan, mereka membuat teknologi dimana mereka bisa mewujudkan impian mereka yang tak mungkin terwujud di dunia nyata. Contoh simpel, iblis memiliki sihir sedangkan manusia tidak. Lalu manusia yang tahu cerita tentang kekuatan sihir, akhirnya dengan menggunakan semua pengetahuan yang dimiliki, mereka menciptakan dunia buatan dimana manusia bisa menggunakan sihir seperti iblis."

"Aku paham tentang perasaan itu." kata Arthur, "Lalu bagaimana caranya manusia di dunia ini menciptakan dunianya sendiri?"

"Para manusia dari dunia kita berasal baru saja memulai teknologi ini, Tenologi yang disebut Full Dive. Tapi ternyata manusia di dunia ini sudah mewujudkannya. Makanya aku mengatakan kalau kita berada di masa depan."

"Full Dive?" Sakura yang paling gaptek karena lama terkurung di Konoha sama sekali tak mengerti.

"Teknologi Lingkungan Full Dive, sebuah teknologi untuk menciptakan lingkungan virtual dalam skala dunia lalu membawa kesadaran dari seorang manusia di dunia nyata ke dalamnya. Hal ini persis seperti kita menciptakan mimpi yang kita inginkan saat tidur. Dalam lingkungan Full Dive, kita memiliki tubuh virtual yang disebut avatar yang bisa digerakkan sesuka hati dan merasakan semua objek dalam dunia virtual. Dengan teknologi Full Dive inilah, manusia menciptakan dunia impiannya sendiri dan melakukan apapun di dalamnya yang tak mungkin bisa mereka lakukan di dunia nyata."

"Sona-san. A-"

"Aku tahu apa yang hendak kau tanyakan, Hinata-san." Sona mengambil nafas panjang, menatap ke arah Hinata lalu mulai menjelaskan lagi, "Seperti yang kau katakan tadi, ini dunia maya, yang artinya di universe yang kita datangi ini pasti ada dunia nyatanya, tempat para manusia menjalani kehidupan normal sebagai makhluk hidup. Bagaimana cara manusia di dunia nyata masuk ke dunia maya ini? Caranya dengan menggunakan alat yang disebut AmuSphere, versi terbaru dari Nerve Gear. Itu adalah piranti keras yang dipasang di kepala seseorang, lalu menidurkan dan membawa kesadarannya kemari. Kemudian yang kau sebut tadi bahwa dunia ini adalah versi kecil dari Cardinal System?, itu tepat sekali karena program itulah yang membangun lingkungan Full Dive dunia maya atau dunia virtual ini. Dan mungkin kebetulan, namanya persis sama. Manusia yang menciptakan dunia virtual menyebut program ini dengan nama Cardinal. Kayaba Akihiko, dialah manusia pertama yang menciptakan lingkungan Full Dive. Aku mengetahui semua itu dari biografi dihalaman belakang Guidebook yang baru saja kubaca."

Hinata menerima penjelasan Sona dengan mudah, "Kalau aku boleh membuat hipotesis, ada kemungkinan bahwa orang bernama Kayaba Akihiko secara tidak sadar telah berinteraksi secara langsung dengan Cardinal System yang mengatur seluruh universe. Entah bagaimana caranya, Cardinal System memberikan formula algoritma dasar dunia virtual Full Dive, sehingga Kayaba Akihiko berhasil menciptakan dunia virtual ini tanpa tahu bahwa dunia yang diciptakannya menyimpan sebuah artefak yang kita cari."

"Aku setuju." kata Sona.

Pembicaraan menjadi dua arah karena tampaknya hanya Sona dan Hinata saja yang paling mengerti.

"Lalu seperti apa artefak yang kita cari di dunia ini, Hinata-san?" tanya Sona.

"Yuuki Nagato mengatakan kalau yang kita cari adalah sebuah paket program berisi formula algoritma untuk menjalankan fungsi Matrix."

"Pantas saja kalau kita tersesat ke dunia virtual begini, ternyata yang kita cari bukan benda melainkan paket program. Benda bernama Cube itu benar-benar luar biasa, sampai sanggup membawa kita ke dunia maya."

Matrix adalah benda yang menjadi tujuan Naruto dan Hinata untuk mencegah kiamat. Benda yang merupakan hasil penggabungan dari empat artefak yaitu One Piece Treasure, mutiara Hogyoku, lalu paket program berisi suatu formula algoritma, dan yang terakhir makhluk hidup bernama Trihexa [666].

"Nah Sona-san, kau kan sudah tahu banyak tentang dunia ini? Karena kita tak bisa menggunakan kekuatan, misi jadi lebih sulit. Dan kita mengikuti hukum dunia ini, jadi bisa terangkan lebih spesifik agar kita lebih mudah membuat rencana." pinta Hinata.

"Ini dunia game."

Pernyataan singkat Sona sukses membuat Naruto dan lainnya yang semula diam jadi terkejut.

"Begitulah, bagi manusia di dunia nyata, dunia yang kita pijak ini tidak lebih dari sekedar permainan. Makanya di awal tadi aku mengatakan kalau sebenarnya ini dunia yang menyenangkan."

"Ossshu,,,, kurasa aku berpikir sama denganmu, Megane." Bikou berkata dengan nada senang. "Karena sebenarnya aku suka bermain game. Jadi game seperti apa yang akan kita mainkan disini?"

"MMORPG atau Massively Multiplayer Online Role Playing Game, game dimana kita sebagai player memainkan sebuah tokoh karakter atau avatar dan berinteraksi secara online dengan pemain-pemain lainnya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, salah satu contohnya menyelesaikan misi. Tidak seperti game lain yang harus menatap layar monitor, game ini menggunakan teknologi Full Dive sehingga membawa kesadaran player ke dalam game, istilahnya adalah Virtual Reality Massively Multiplayer Online Role Playing Game atau VRMMORPG."

Wajah Bikou tertekuk, "Huuufft, bakal sulit nih. Mana pernah aku bermain game seperti itu. Aku hanya pernah bermain Pacman atau Mario Bross saja."

"Pffttt,,,," Kuroka menahan tawanya untuk tidak mengejek Bikou, "Monyet rabies, kau itu hidup tahun berapa sih? Game begituan dimainkan."

"Tutup mulutmu, Kucing Garong!"

"Nee, Sona-san. Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu?" tanya Naruto tanpa mengiraukan ribut-ribut Bikou dan Kuroka.

"Emmm, jawabannya mudah. Saat senggang, aku diam-diam sering menatap layar laptop dan memainkan game MMORPG buatan manusia di kamarku. Makanya aku tahu banyak tentang dunia game virtual dan teknologinya, walau yaah harus kuakui kalau game VRMMORPG di dunia ini jauh lebih canggih dari dunia kita berasal."

Kesembilan orang lainnya terdiam. Pantas Sona terlihat senang. Bisa dibayangkan kalau seorang maniak game tiba-tiba masuk kedalam game itu sendiri? Seperti itulah yang dirasakan Sona saat ini.

"Nah, apa kalian masih ingat sebelum kita membuka mata kita di tempat ini, ada pesan selamat datang?" Sona bertanya sambil menatap orang-orang didepannya satu persatu.

"Ah ya. Katanya selamat datang di Gun Gale Online." Le Fay yang menjawab.

"Itu lah nama game yang akan kita mainkan. Game bergenre Action Military, permainan dengan senapan dan senjata-senjata yang sering digunakan tentara."

"Kalau ini adalah game dengan senapan, akan tidak adil kalau kita menggunakan kekuatan iblis. Maka dari itu kekuatan kita ditiadakan, hanya berbekal avatar tubuh manusia untuk memainkan peran dalam game ini, begitu kan?." baru pertama kali ini Vali ikut bersuara dalam diskusi. "Hmmmm,,,,, tapi kurasa ini akan tetap menarik bagiku. Walaupun tak menggunakan kekuatan iblis, tapi disini aku bisa menunjukkan hasil latihan militer yang pernah kujalani saat masih di Grigori, Khukhukhuuu. . . . ." Vali menyeringai iblis.

"Wah, bagus kalau ada yang punya skill dalam game genre ini. Siapa lagi selain Vali-san?" tanya Sona.

Semuanya menggeleng.

"Haaaahhh,,,,,, bagaimana mau menyelesaikan misi mencari artefak kalau hampir semua orang tidak memiliki keahlian di bidang militer?." keluh Sona.

"Kau juga, Sona-san?" Kuroka heran, "Tadi katanya kau sering bermain game, tapi kenapa tidak bisa?"

"Aku hanya memainkan game bergenre Fantasy saja seperti DragoNest, DOTA atau Ragnarok Online, bukan yang beginian. Lagipula game ini belum tersentuh oleh teknologi manusia di dunia asal kita."

"Nee Kaichou-sama, ada satu hal yang menggangguku sejak tadi. Kalau ini dunia game seharusnya kita mendaftar dulu kan?" tanya Le Fay dengan wajah yang dibuat imut.

"Aku tidak tahu pasti, mungkin karena kemampuan Cube lah yang melemparkan kita kesini tanpa hal semacam itu. Kita disini seperti sebuah bug atau mungkin virus yang masuk ke server tanpa akun dan ID, hal ini mungkin juga bisa menjelaskan kenapa bisa terjadi perubahan gender pada Naruto-san, Sasuke-san, dan Vali-san. Berharap saja kalau Game Master atau GM tidak mengetahuinya."

"Huufffttt... Aku tidak terlalu mengerti tentang dunia macam ini." keluh Sakura. "Jadi? Kita harus bagaimana sekarang. Apa yang bisa kita lakukan saat kita hanya sebatas manusia biasa yang tak punya skill sedangkan hampir semua manusia yang ada disini adalah orang-orang yang ahli dengan game ini, begitu kan?"

Sakura itu cukup cerdas, walau tak tahu banyak tentang dunia game, tapi umumnya suatu game akan dikerubungi oleh manusia yang punya ketertarikan besar dan keahlian dalam memainkan game itu. Meski mungkin beberapa orang hanya untuk mengisi waktu luang.

"Mau tidak mau kita harus belajar. Tapi tak masalah, mati di dunia ini hanya akan mengembalikan kesadaran ke tubuh asli, kita bisa saja memulai ulang permainan kalau kalah, istilahnya respawn. Begitulah sistem permainannya." kata Sona santai.

"Anooo..." Hinata menyela, "Kurasa ada hal buruk yang harus kukatakan. Kalau manusia universe ini yang bermain, mungkin akan seperti yang Sona-san katakan, mati lalu bisa mulai ulang, respawn. Tapi kita datang dari universe jauh, kesadaran kita di sini dan tubuh kita disana terputus. Jika kita mati disini, maka berakhirlah sudah."

"Ini tidak mungkin kan?" Sona tampak paling terkejut.

Hinata menggeleng, "Menang begitu adanya. Cara kerja Cube membawa kita ke sini berbeda dengan AmuSphere ataupun Nerve Gear."

Sona menggeram, "Gh, Sial...! Ini benar-benar buruk."

"Buruk, buruk kenapa.?" tanya Sasuke.

"Dalam dunia game, kalau kita ingin sesuatu maka satu-satunya cara untuk mendapatkannya hanyalah dengan memenangkan permainan. Kemungkinan besar untuk mendapatkan artefak yang kita cari di sini juga harus melewati sebuah permainan, misi, atau pertandingan tertentu. Akibatnya apa yang kita lakukan disini jadi sangat beresiko, taruhannya nyawa."

Naruto tak takut dengan apa yang dipikirkan Sona, "Semua hal ada memang ada resikonya kan? Kenapa harus takut."

"Aku tidak takut, Naruto-san. Aku hanya berpikir realistis, dunia ini bukan keahlian kita. Kalau misalnya kita bermain melawan NPC atau Non-Player Character, itu akan lebih mudah karena NPC hanyalah karakter buatan sistem yang bertindak dengan pola tertentu berdasarkan algoritma yang ditanamkan padanya. Kita bisa menang dengan mudah kalau tahu pola serangannya. Tapi bagaimana kalau harus melawan musuh player manusia?"

"Kenapa dengan player manusia?" giliran Kuroka bertanya, "Dari tadi kau terus saja memicu kami untuk bertanya kenapa?"

Sona menghela nafas panjang, lalu menjawab pertanyaan tadi, "Kalian harusnya tahu kalau manusia itu makhluk dengan potensi paling mengerikan. Hakikatnya, dunia game ini diciptakan agar manusia bisa saling membunuh, sesuatu yang tak mungkin bisa dilakukan di dunia nyata karena adanya hukum. Di sini, membunuh bisa dilakukan sesuka hati karena hanya membunuh karakter game saja, tidak membunuh manusia aslinya. Jika begitu, pastilah manusia tak akan segan-segan menodongkan senjata dan menarik pelatuk, apapun akan dilakukan agar bisa membunuh, melakukannya dengan sepenuh hati tanpa takut mati dan mendapat hukuman sebab bagi mereka semua itu hanyalah sebatas game. Ditambah lagi akan akal dan kejeniusan manusia itu tak bisa ditebak. Kesimpulannya, ini misi yang sangat beresiko bagi kita, kalian mengerti kan?"

Glekk...

Tentu saja mengerti. Nyawa masing-masing dari kesepuluh orang ini cuma satu, bahkan itu nyawa asli bukan nyawa game yang bisa hidup lagi. Melawan para Gamer Pro tak takut mati sedangkan mereka tidak lebih dari amatiran newbie yang bahkan baru tahu tentang game. Bisa dianggap kalau ini lebih sulit dibanding melawan seratus dewa yang memiliki kekuatan tak terbatas. Kemudian misi di sini harus diselesaikan dalam waktu cepat, kiamat tidak bisa menunggu. Menurut hitungan waktu DxD Universe, kiamat tejadi 10 minggu lagi.

"Ada satu lagi yang makin memperburuk keadaan kita."

Ucapan Hinata menarik atensi semua anggota tim.

"Maaf kalau aku tidak memberitahu dari awal, sebenarnya kita tidak bisa pulang. Disini aku tidak memiliki chakra untuk mengaktifkan fungsi transporter pada Cube."

"Apa?" Naruto shock. Kalau tidak bisa pulang, bagaimana dengan misi besar mencegah kiamat di DxD Universe.

"Ah begini, bukan tidak bisa pulang, tapi maksudku kita akan dipulangkan secara otomatis setelah jangka waktu tertentu, dan itupun kalau misinya berhasil. Instruksi itu sudah kutanam di dalam Cube sebelum kita berangkat kesini."

"Haaaaaaaahhhh." Sona membuang nafas berat, "Jadi tidak ada pilihan lain bagi kita selain menyelesaikan misi di sini tanpa pernah mati agar bisa pulang dengan selamat."

Hinata mengangguk. "Tapi kurasa masih ada hal baik untuk kita. Sebenarnya arus waktu Universe yang kita datangi ini dan DxD Universe berbeda kecepatannya. Tubuh kita yang tertidur disana satu jam sama dengan kita bermimpi disini sepuluh hari. Aku sudah mensetting perjalanan kita selama enam jam, artinya kita punya waktu dua bulan."

Naruto memandang kearah Hinata, seakan bertanya kenapa merencanakan sampai seperti itu?.

"Awalnya aku hanya ingin menikmati waktu bersantai dengan tenang di universe ini tanpa kehilangan banyak waktu untuk misi di dunia sana, Naruto-kun."

Naruto paham kondisi istrinya. Hinata mungkin depresi, misi mencegah kiamat membuatnya sangat tertekan, membuat dia membutuhkan liburan untuk merefresh otaknya. Tentu tak salah kalau seorang istri menginginkan quality time yang lama tanpa beban bersama suami. Tapi nyatanya, disini pun tidak bisa tenang, Hinata tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.

Naruto tersenyum, "Baiklah, kita manfaatkan waktu yang kita miliki di sini untuk belajar menggunakan senapan dan menjadi gamer profesional di dunia ini. Kalian semua bisa kan?"

Pertanyaan Naruto yang keluar dari mulutnya bersini tekad pantang menyerah dan semangat juang tinggi. Hal kecil ini saja sudah cukup untuk mengembalikan mental semua orang, mereka optimis berhasil menyelesaikan misi ini dan pulang dengan selamat.

Sona bisa bernafas lega, "Party kita sudah terbentuk, la-..."

"Party?" kalimat Sona dipotong oleh Arthur. "Kita mau pesta apaan di sini?" tanyanya dengan wajah belo'on.

"Adduhhh..." Sona menepuk jidatnya sendiri. "Dasar cupu, maksudku tim untuk menyelesaikan misi sudah terbentuk."

Arthur bungkam, masa iya dirinya disebut cupu?, tapi baginya yang tidak tahu tentang game memang lebih baik diam.

Sona menatap Hinata, "Jadi Quest apa yang harus kita selesaikan untuk mendapatkan artefak berisi paket program yang kita cari."

"Kalau itu aku kurang tahu, tapi dia pasti bisa menjawabnya."

Setelah mengatakan itu, Hinata mengeluarkan item Cube yang tersimpan di inventory avatarnya. Mengutak-atik sususan piecenya sebentar, lalu muncul lah sesosok gadis mungil berkacamata dengan rambut pendek bewarna abu-abu sedikit keunguan. Gadis itu memakai seragam sailor putih dengan bawahan rok biru pendek dibalut blazer coklat. Sebenarnya dia hanya bisa muncul dalam dimensi inti Cube, tapi karena ini adalah dunia virtual, dia bisa muncul sesukanya.

Setelah memandang sejenak pada semua anggota party, gadis itu bersuara, "Perkenalkan, aku Yuuki Nagato, program AI yang disematkan ke dalam inti Cube. Untuk mendapatkan artefak ketiga, pertama kalian harus mencari saudaraku di dalam dunia copy'an Cardinal System yang kita pijak ini."

"Eh?"

Semua orang melongo. Sejak kapan Yuuki Nagato punya saudara?

"Dia bertindak sebagai NPC pemberi quest dalam game ini. Quest khusus yang hanya ada untuk Party khusus kalian."

"Oh..."

Hanya ada 'oh' saja yang keluar. Kalau misi pencarian orang, bagi para ninja dan iblis yang ada di sini sudah terbiasa melakukannya.

Mengesampingkan sejenak informasi dari Yuuki Nagato. Pencarian bisa dilakukan nanti sebab ada hal lebih penting yang harus dilakukan sekarang.

"Nah, sekarang yang perlu kita lakukan adalah menaikkan statistik karakter game kita, belajar survive di game ini, hunting harta, menyelesaikan quest kecil dan ikut event-event tertentu untuk mengumpulkan modal uang. Waktu yang kita punya pasti cukup, instingku sebagai gamer mengatakan kalau quest untuk mendapatkan artefak yang kita cari pasti quest berbahaya yang mungkin diikuti oleh party gamer pro." ungkap Sona.

Sona sudah seperti pemimpin party, wajar karena hanya dia yang paling mengetahui seluk belum game.

"Yosh, kalau begitu sebaiknya kita berpisah saja untuk menaikkan statistik kita, lalu berkumpul di sini satu bulan lagi untuk menyelesaikan quest itu, ttebayou."

Semua orang mengangguk setuju.

"Aku akan pergi berdua dengan dengan Hinata." kata Naruto lagi.

Sontak hal ini membuat perasaan Hinata menghangat, keinginannya untuk bersantai memang tidak terkabul, tapi kalau bisa berdua saja dengan sang suami, itu jauh lebih baik. Walau mirisnya, saat ini sang suami dalam wujud perempuan imut, manis, dan cantik. Hal ini membuat Hinata tidak bisa melakukan 'hal begituan' untuk menuntaskan hasrat dan kebutuhan batinnya pada Naruto. Kecuali avatar Naruto yang berwujud perempuan dalam game ini dalam masih punya 'itu' sebagai lelaki. Kalaupun tidak, bermain sebagai lesbi mungkin akan menarik, pikir Hinata nista.

Sempat-sempatnya otak gadis keturunan Hyuga ini korslet di saat genting seperti ini.

"Cih,,,, dasar licik kau Naruto!" Sakura mendengus, tentu saja itu hanya akal-akalan Naruto agar bisa bersama Hinata tanpa terganggu keberadaan orang lain. Matanya ia alihkan pada Sasuke.

"Hn..."

Sakura menganggap dengusan Sasuke sebagai tanda setuju. Yah, sama seperi Hinata, dia juga miris karena tidak bisa kencan dengan Sasuke dalam keadaan normal. Sasuke saat ini lebih pantas jika di sebut ibunya, hot mama.

"Aku bersama Nii-sama saja." kata Le Fay dengan riang, dan langsung saja dia mendapat elusan lembut dan hangat di kepalanya dari sang kakak, Arthur.

"Oeeeey, kucing garong. Kau sebaiknya ikut aku, mulut berisikmu itu hanya akan membuat orang lain kesal."

"Cuih, dasar monyet rabies. Sesukamu lah!"

"Kalau begitu aku pergi sendiri saja."

Perkataan Sona sukses menarik perhatian Naruto, sebagai lelaki yang selalu melindungi perempuan, hatinya tidak bisa membiarkan itu terjadi. "Sona-san, kau jangan pergi sendiri. Game ini beresiko, sekali mati maka kau mati sungguhan. Apalagi orang-orang di dunia game ini tidak segan-segan membunuh karena memang tujuan mereka disini untuk membunuh."

Sebenarnya Sona ingin ikut Naruto, tapi tak mungkin kan ia jadi obat nyamuk diantara pasangan yang sudah menikah? Ditambah lagi tadi Naruto sudah mengatakan dengan jelas kalau pria yang kini berwujud perempuan itu hanya ingin berdua dengan Hinata, 'berdua' saja, yang artinya dia tidak menerima orang ketiga.

Naruto menatap gadis berambut perak yang berpakaian minim, "Vali, bisakah kau yang menjaga Sona-san?"

Vali diam saja, dia tak menjawab apapun. Anggap saja dia setuju, lagipula tidak ada pilihan lain, hanya dirinya dan Sona yang tersisa.

"Pokoknya jaga Sona-san, awas kau kalau dia sampai kenapa-kenapa.!" ucap Naruto dengan nada mengancam.

Vali memalingkan wajah.

Sona, dalam hatinya ada secercah rasa senang, bahagia, dan perasaan positif lainnya. Naruto menaruh perhatian padanya, Naruto mengkhawatirkannya, Naruto tidak ingin kalau sampai dirinya kenapa-kenapa. Sona merasa ini saja sudah lebih dari cukup untuk sekarang.

Meski tampaknya Sona harus puasa bicara selama sebulan penuh sampai mereka berkumpul lagi. Bersama Vali, Hell yeeaaahh...? Iblis keturunan Lucifer ini punya kepribadian yang buruk, sebelas dua belas dengan dirinya sendiri, pendiam, perfeksionis dan irit bicara. Lalu fakta kalau dulu Vali pernah mencoba membunuh Sona, membuat interaksi normal antara mereka berdua terasa hampir mustahil terjadi.

Terakhir, sebelum mereka semua berpisah dalam kelompok dua orang, Yuuki Nagato kembali masuk ke dalam Cube.

.

.

.

Enam minggu kemudian. Berlokasi disebuah kota tak berpenghuni, sedang ada event bergengsi antara dua tim yang berlomba untuk menyelesaikan suatu quest. Tim pemenangnya akan mendapat hadiah uang yang sangat banyak, tentu saja banyak gamer pro yang ikut karena Gun Gale Online menyediakan sistem RMT atau Real Money Trading yaitu sistem yang membolehkan pertukaran mata uang In-Game dengan mata uang dunia nyata. Jika dikoversikan, maka hadiah dari dari event ini setara dengan 25 juta Yen mata uang Jepang atau sekitar 2,9 milyar rupiah. Tak ada gamer pro pemburu uang yang tak tertarik dengan event menggiurkan ini.

Ada dua tim yang beradu, masing-masing tim beranggota sepuluh orang. Tim pertama adalah tim lama yang terdiri dari para gamer pro senior yang sudah menekuni game ini tiga tahun lamanya, sedangkan tim kedua adalah tim amatir yang sedang naik daun.

Bagi tim pertama, tentu mereka akan bertarung serius, demi jumlah uang yang sangat menggiurkan. Namun bagi tim kedua bukan uang yang dicari, namun item yang diperebutkan dalam perlombaan ini.

Mekanisme lomba sangat simpel, hanya tugas pengawalan proses pemindahan barang atau item. Kedua tim diundi dan hasilnya, tim pro mendapat tugas sebagai polisi yang mengamankan pemindahan item lalu tim amatir yang diisi oleh Naruto dan kawan-kawan bertindak sebagai tim perampok.

Pemindahan item dilakukan dengan sebuah truk kontainer yang dikemudikan oleh seorang NPC. Tim polisi bertugas sebagai iring-iringan yang mengawal pemindahan item dari bangunan A disebelah timur kota ke bangunan B disebelah barat yang terpisah jarak sejauh 8 kilometer.

Dalam permainan ini, setiap tim dibebaskan menggunakan semua sumber daya yang mereka punya. Slot senjata, amunisi, serta alat apapun tidak dibatasi penggunaannya. Tentu ini lebih menguntungkan tim pro yang punya banyak modal. Tapi itulah yang namanya permainan, keadilan tidak ada, yang ada hanyalah kerja keras, kejeniusan dan keberuntungan.

Waktu dibatasi 45 menit. Tim pemenang adalah tim yang berhasil mempertahankan item sampai akhir pertandingan. Jadi sebenarnya item sampai ke tempat tujuan atau tidak bukan masalah, asal item itu ada di tanganmu maka timmu lah pemenangnya.

Namun GM (Game Master) yang menyelenggarakan event memberikan hadiah double jika tim polisi berhasil mengawal item dari bangunan A sampai ke B dengan selamat, dan hadiah empat kali lipat untuk tim perampok jika dalam waktu kurang dari 30 menit berhasil mengambil item dari kawalan dan membunuh semua anggota tim polisi. Jadi jika tim perampok menang besar, maka akan lebih untung karena hadiah lebih banyak. Entah apa tujuan GM, yang jelas hal ini membuat hawa pertandingan makin panas.

Mengambil sudut pandang dari tim perampok, tim ini di pimpin oleh karakter perempuan manis berkacamata yang bernama Sona Sitri.

Bertempat di atap sebuah bangunan pencakar langit di suatu sudut kota, Sona Sitri dengan teropong binokuler tak lepas dari matanya sedang mengamati jalan utama kota.

"Target di konfirmasi. Mereka mengambil rute yang telah kita perkirakan."

Sona tidak bicara sendiri, ada saluran komunikasi interkom yang terpasang di telinganya.

"Sebuah truk kontainer melaju dengan kecepatan sedang. Di depannya ada sebuah mobil polisi, lalu dua lagi mobil yang sama persis di belakangnya. Kemungkinan besar tidak semua anggota polisi ikut dalam iring-iringan itu, beberapa pasti bersiap untuk menyerang balik dari suatu tempat. Aku tak bisa mendapatkan banyak informasi. Mereka tim pro, menyembunyikan tipe senjata dan formasi jadi hal utama, dan mereka melakukannya dengan baik. Apa semua sudah di posisi?."

"Yes." terdengar sahutan dari anggota lain di saluran intercom.

"Hinata-san, status?"

Sona tidak sendiri di atap, ada seorang gadis berambut indigo panjang yang sedang tiarap di sebelah kirinya. Mata gadis itu tidak lepas dari scope rifle yang dipegangnya, nafasnya tampak sangat tenang. Ini hal penting untuk seorang sniper.

Sebuah senapan runduk tipe Bolt-Action, CheyTac Intervention M200, itulah senjata yang digunakan Hinata. Senapan rifle seberat 14 kg dengan panjang laras 29 inchi. Jarak tembak efektif senjata ini mencapai 2300 meter, dan akurasinya pasti bertambah sesuai keahlian penggunanya. Dilengkapi Magazin berisi 7 butir peluru .408 Cheyenne Tactical yang mempunyai penetrasi kuat pada target.

Walaupun tim amatir, tapi bukan berarti Naruto dan kawan-kawan tak memiliki modal untuk membeli senjata-senjata canggih. Selama enam minggu, mereka tidak hanya berlatih saja, tapi juga mengumpulkan uang dengan hunting, menyelesaikan quest atau bermain judi di casino.

Hinata melaporkan hasil pengamatannya, "Target belum merubah arah dan kecepatan. Jarak dari sini 2800 meter, dari tim penyergap kita 400 meter."

"Hinata-san, kau yakin dengan jarak sejauh itu?"

Sona tampak meragukan posisi ini, memangnya ada seorang newbie yang mampu menjadi sniper kelas atas dan menembak dari jarak sejauh itu hanya dengan waktu enam minggu? Dia tidak bisa mengira latihan apa yang dilakukan Hinata. Mungkin kemampuan sebagai penembak jitu berhubungan dengan kelihaiannya menggunakan Byakugan.

"Tidak masalah. Aku bisa melakukannya." jawab Hinata, jari telunjuk tangan kanannya yang ada didekat pelatuk dia lemaskan sebelum mulai menembak.

"Baiklah, tembakan pertama dimulai darimu."

"Siap."

"Hitungan mundur, empat, tiga, dua, satu ..."

Dor...

Amunisi pertama dimuntahkan. Dalam gerakan slow motion, peluru bergerak dengan meninggalkan jejak angin yang terbelah. Bergerak melewati pagar kawat atap bangunan, melewati sebuah lubang kecil di papan iklan reklame, masuk ke jendela rumah lantai dua lalu tembus di jendela satunya, menginggalkan hembusan angin diantara dedaunan, hingga mencapai kaca kanan truk kontainer, tepat disisi kemudi.

Pyyaaarr...

Kaca pecah, NPC yang mengemudikan truk dipastikan tewas.

Truk kontainer seharusnya berhenti, namun itu tidak terjadi. Truk tetap melaju dijalanan, bahkan makin kencang.

Tembakan pertama sniper yang sangat berharga terbuang percuma.

Ya, sangat berharga karena dalam Game GGO, hanya tembakan pertama dari sniper dalam sebuah pertarungan yang tidak memiliki garis prediksi DSA atau Deffensive System Assist berupa Bullet Line berwarna merah yang dapat dirasakan oleh lawan.

Kerugian besar bagi tim Naruto.

Tampaknya tim musuh benar-benar kumpulan gamer professional. Pertarungan sengit yang sebenarnya,,,,,,,,,,,,,,,, dimulai.

.

.

.

TBC...

.

Note : Jumpa lagi, kali ini bisa up satu minggu walau harus malam, ga sore kek biasanya. Konsekuensinya, chapter ini hanya sekitaran 6k+ word saja. Heheeee... Tak apa lah, lagipula aku pusing nulis banyak kata karena ingin fokus sebentar di FF satunya yang tinggal satu chapter lagi bakal tamat dan kesibukan juga nambah setelah lebaran.

Lalu, tentang pemilihan universe ketiga. Banyak kontroversi nih, ada yang nanya alasan detailnya apa?

Begini, dari sekian banyak saran anime yang diusulkan, lebih setengah animenya ga aku kenal, belum nonton, mana mungkin kan aku menggunakannya kalau aku sendiri ga tahu? Kemudian yang menyarankan, hanya sebatas request anime ini itu saja, harapanku ada yang memberi ide tentang misinya dan pemilihan timeline. Hingga akhirnya dengan memikirkan masak-masak, GGO kupilih sebagai setting universe ketiga.

Lalu alasan memilih GGO? Pertama konsepnya nyambung dengan konsep sistem multiuniverse, kedua GGO itu bersetting AU sehingga aku tidak perlu repot membandingkan kekuatan spiritual dari anime Naruto, DxD, dan lainnya. Itu hanya akan menimbulkan kontroversi seperti saat di dunia bajak laut kemarin berkaitan dengan haki, senjutsu, chakra, buah iblis, dll. Aku ga mau mengulang kejadian yang sama. Di GGO, Naruto dkk hanya sebatas avatar seperti player lain yang bertarung dengan senapan. Ini cukup adil kan?

Actionnya akan lebih banyak ke strategi, beberapa orang mungkin akan merasa bosan tapi aku menyukainya. Aku menulis apa yang kusukai. Aku juga mau belajar dan menjajal kemampuan menulis genre action military, memperluas skill saja. Bagiku akan membosankan kalau terus-terusan nulis genre fantasy yang berhubungan dengan chakra dan sihir. Jadi ini seperti selingan. Eheheheee,,, kuharap pengertian kalian akan keegoisanku.

Lalu aku juga mau bilang kalau dalam arc ini, aku tidak memunculkan karakter dari SAO. Jadi tidak ada Kirito dan kawan-kawannya. Ada maksud dibalik itu. Eheheee, tapi tetap ada kemungkinan aku minjam chara SAO, satu chara saja mungkin.

Ulasan Review:

Mengenai chara baru Alucard, mana mungkin kan dia datang begitu saja ke Konoha lalu menawarkan persekutuan. Tentu ada hal yang melatarbelakanginya.

The Truth Seeking Armor untuk Naruto. Emmmmm,,, ninja Konoha lain juga punya kejutan, tenang saja. Ga adil kalau cuma Naruto saja yang terus berkembang. Terus untuk jutsu baru, menyusul aja nanti. Armor tempur ini sudah cukup untuk sekarang.

The Truth Seeking Armor kemungkinan besar akan jadi mode andalah Naruto, terutama kalau pertarungan Hand to Hand Combat, pertarungan anti-personal akan sangat tepat jika Naruto memakai mode ini. Kalau pertarungan antarmonster baru deh ngeluarin bentuk mode bijuu.

The Truth Seeking Armor tidak hanya meniru bentuk Armor Vali. Sudah disebutkan kalau godoudama sifatnya fleksibel, bisa dibentuk seperti apapun. Jadi kalau mau, Naruto bisa saja mengubah-ubah bentuk armornya.

Michael tidak 'jatuh', padahal jahat? Di chapter 32 ada kuceritakan. Tentang dia sebagai Arcangel yang punya kuasa untuk mengutak-atik sistem buatan The God of Bible.

Kemudian untuk Sasuke, sorry, aku beneran miss disitu. Timbul kontradiksi dimana Sasuke melaksanakan misi ke Rumania, sedangkan Sasuke juga ikut dalam tim penjelajah Universe ke dunia virtual. Makasih untuk yang sudah ngingetin. Dan untuk membuatnya tetap logic tanpa merubah chapter kemarin, pada chapter ini aku membuat perbedaan arus waktu antara DxD Universe dengan dunia virtual GGO. Dengan begini, Sasuke hanya pergi enam jam, jadi misinya ke Rumania tak terlalu terganggu.

Untuk yang menyinggung masalah pasangan, maaf ya itu tak bisa diganggu gugat. Pemilihan pasangan juga demi pokok cerita, apalagi masalah internal NaruHina yang menjadi konflik utama nanti. Apalagi ini sudah lewat separuh, mustahil diganti kan?

Kalau masalah Konoha yang sebentar lagi diserang dan sedang ditinggal dua pahlawannya. Hohooooo, tenang aja pokoknya. Ada kejutan disana. Mungkin invasi pertama kali terhadap Konoha kutulis setelah arc di GGO selesai. Tunggu saja.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

...

.