Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Kamis, 4 Agustus 2016

Happy reading . . . . .

.

To The End of The World

By Si Hitam

Caution: Chapter kali ini terjadi perubahan besar-besaran genre menjadi action military. Yang memainkan game FPS macam Counter Strike atau Point Blank mungkin akan kenal sebagian senjata besar yang muncul dalam chapter ini. Sisanya, silahkan baca sambil googling jika menemukan peralatan atau senjata-senjata yang belum anda kenal sebelumnya demi mempertajam imajinasi dan lebih menikmati action scene di chapter ini. Terima kasih.

Chapter 50. The Death Game Part 2.

-At Another World, 2027 Masehi-

Saat ini sedang berlangsung permainan Polisi-Perampok 10 Vs 10. Tim Polisi melakukan tugas pengawalan item yang diantar dengan truk kontainer, sedangkan tim perampok harus merebut item dari kawalan.

Mengambil sudut pandang dari tim perampok, tim yang di pimpin oleh karakter perempuan manis berkacamata bernama Sona Sitri.

Bertempat di atap sebuah bangunan pencakar langit di suatu sudut kota, Sona Sitri dengan teropong binokuler tak lepas dari matanya sedang mengamati jalan utama kota.

"Enemy spotted, target dikonfirmasi. Mereka mengambil rute yang telah kita perkirakan."

Sona tidak bicara sendiri, ada saluran komunikasi radio interkom yang terpasang di telinganya.

"Sebuah truk kontainer melaju dengan kecepatan sedang. Di depannya ada satu mobil polisi, lalu dua lagi mobil polisi yang sama persis di belakangnya. Kemungkinan besar tidak semua anggota polisi ikut dalam iring-iringan, beberapa pasti bersiap untuk menyerang balik dari suatu tempat. Aku tak bisa mendapatkan banyak informasi. Mereka tim pro, menyembunyikan tipe senjata dan formasi jadi hal utama dan mereka melakukannya dengan baik. Apa semua sudah di posisi?"

"Yes, I'm in position." terdengar banyak sahutan sekaligus dari anggota lain di saluran intercom.

"Hinata-san, status?"

Sona tidak sendiri di atap, ada seorang gadis berambut indigo panjang yang sedang tiarap di sebelah kirinya. Mata gadis itu tidak lepas dari scope rifle yang dipegangnya, nafasnya tampak sangat tenang dan detak jantungnya pun sangat stabil. Ini hal penting untuk seorang sniper.

Senapan runduk tipe Bolt-Action, CheyTac Intervention M200, itulah senjata yang digunakan Hinata. Senapan rifle seberat 14 kg dengan panjang laras 29 inchi. Jarak tembak efektif senjata ini mencapai 2300 meter, dan akurasinya pasti bertambah sesuai keahlian penggunanya. Dilengkapi Magazin berisi 7 butir peluru .408 Cheyenne Tactical yang mempunyai penetrasi kuat pada target.

Walaupun tim amatir, tapi bukan berarti Naruto dan kawan-kawan tak memiliki modal untuk membeli senjata-senjata canggih. Selama enam minggu, mereka tidak hanya berlatih saja, tapi juga mengumpulkan uang dengan hunting, menyelesaikan quest atau bermain judi di casino.

Hinata melaporkan hasil pengamatannya, "Target belum merubah arah dan kecepatan. Jarak dari sini 2800 meter, dari tim penyergap kita 400 meter."

"Kau yakin dengan jarak sejauh itu?"

Sona tampak meragukan posisi ini, memangnya ada seorang newbie yang mampu menjadi sniper kelas top dan menembak dari jarak sejauh itu hanya dalam waktu enam minggu? Dia tidak bisa mengira latihan apa yang dilakukan Hinata. Mungkin kemampuan sebagai penembak jitu berhubungan dengan kelihaiannya menggunakan Byakugan.

"Tidak masalah. Aku bisa melakukannya." jawab Hinata, jari telunjuk tangan kanannya yang ada didekat pelatuk dia lemaskan sebelum mulai menembak.

"Baiklah, tembakan pertama dimulai darimu."

"Roger."

"Hitungan mundur, empat, tiga, dua, satu ..."

Dor...

Amunisi pertama dimuntahkan. Dalam gerakan slow motion, peluru bergerak dengan meninggalkan jejak angin yang terbelah. Bergerak melewati pagar kawat atap bangunan, melewati sebuah lubang kecil di papan iklan reklame, masuk ke jendela rumah lantai dua lalu tembus di jendela satunya, meninggalkan hembusan angin diantara dedaunan, hingga mencapai kaca kanan truk kontainer, tepat disisi kemudi.

Pyyaaarr...

Kaca pecah, NPC yang mengemudikan truk dipastikan tewas.

Truk kontainer seharusnya berhenti, namun itu tidak terjadi. Truk tetap melaju di jalanan, bahkan makin kencang.

Tembakan pertama sniper yang sangat berharga terbuang percuma.

Ya, sangat berharga karena dalam Game GGO, hanya tembakan pertama dari sniper dalam sebuah pertarungan yang tidak memiliki garis prediksi DSA atau Deffensive System Assist berupa Bullet Line berwarna merah yang dapat dirasakan oleh lawan.

Kerugian besar bagi tim Naruto.

Tampaknya tim musuh benar-benar kumpulan gamer professional. Pertarungan sengit yang sebenarnya dimulai.

Jelas sekali kalau ada seorang anggota polisi yang menggantikan posisi NPC untuk mengemudikan truk. Satu musuh telah teridentifikasi posisinya.

"Switch to plan B, Go! Go! Go!"

Sona mengkomando lewat saluran interkom.

Iring-iringan truk kontainer melewati sebuah perempatan, melaju lurus. Tim polisi mengambil rute jalan utama kota selebar 15 meter yang membentang lurus antara titik A dan titik B.

Kemungkinan besar, tim polisi telah bersiap dengan pertempuran sengit, fokus untuk membunuh semua tim perampok alias tim yang dikomando oleh Sona. Pilihan ini diambil karena tim polisi menginginkan hadiah double, jika hanya fokus pada pengawalan, ada kemungkinan walaupun menang tapi item yang harus dikawal tidak akan sampai ke titik B sebelum batas waktu habis. Konsekuensi dari pilihan ini adalah, hadiah double atau tidak sama sekali. Pilihan berani dan beresiko yang memang wajar diambil oleh sekumpulan gamer pro.

Sona sudah memperkirakan hal ini, karena itulah ia mempersiapkan antisipasi mutlak sebab nyawa semua anggota tim menjadi taruhan, mati di game ini sama artinya mati sungguhan bagi semua anggota Tim Sona. Jelas saja kan? Kalau tim polisi fokus membantai mereka, maka permainan akan jauh lebih beresiko.

Beberapa saat setelah truk kontainer melewati perempatan, dua mobil yang datang dari arah kiri dan kanan jalan utama, berbelok mengikuti dan melaju dibelakang iring-iringan truk.

Sebuah Mitsubishi Lancer Evolution X berwarna biru tua yang dikemudikan oleh Sasuke versi perempuan dewasa. Dia tidak sendiri, tapi bersama Bikuo. Pasangan yang aneh. Sedangkan satu lagi adalah sportcar Lamborghini Gallardo LP560-4 kap terbuka berwarna jingga. Mobil ini dikendarai oleh Naruto versi gadis remaja imut dengan Kuroka sebagai Navigatornya. Kuroka tampak senang saat ini.

Kedua mobil sport itu tampak sedikit berbeda dengan desain asli dari pabriknya, ada kemungkinan dimodifikasi dengan tambahan fungsi khusus dalam strategi perampokan item dari tim polisi. Yang pasti, bagian mesin mendapat modifikasi besar-besaran. Hanya dengan mendengar deru suara mesin dan knalpotnya saja sudah ketahuan. Naruto menambahkan sepasang turbo pada Lamborghini Gallardo miliknya untuk memperoleh akselerasi yang lebih kuat. Sedangkan Mitsubishi Lancer Evo X milik Sasuke diganti mesinnya menjadi 2.2 liter empat silinder dengan 7.285 turbocharger, membuat mobil ini punya kecepatan maksimal lebih tinggi dari hypercar Bugatti Veyron settingan pabrik.

Jangan heran kalau Naruto maupun Sasuke bisa menyetir di dunia game ini. Itu memang skill yang harus dipelajari demi misi yang mereka jalani. Selama enam minggu mereka melatih semua kemampuan militer termasuk keterampilan mengemudi. Drive Skill mereka berdua cukup tinggi dan Strength statistic requirement untuk mobil sport yang dikendarai saat ini pun sudah dipenuhi, jadi pasangan pahlawan hari ini akan unjuk kemampuan di jalanan.

Menyadari kedatangan dua mobil asing dari arah belakang, tim polisi mengubah formasi. Dua mobil polisi yang melaju dibelakang truk membuat posisi sejajar berdampingan untuk mencegah mobil perampok mendekati truk.

Truk masih melaju dengan kecepatan seperti awal dipandu oleh mobil polisi yang berada didepan.

Ketiga mobil polisi memiliki tipe sama yaitu Dodge Charger, mobil polisi besutan pabrik asal Amerika.

Ini memang dunia game, namun semua perlengkapan dan senjata didasarkan pada produk aslinya yang telah dikenal luas di dunia nyata.

Kedua tim tampaknya tak segan-segan mengeluarkan uang banyak untuk membeli perlengkapan, terbukti dengan jenis mobil yang mereka gunakan. Pada event ini, pihak GM tidak memberikan fasilitas dan senjata apapun, namun kedua tim diperbolehkan menggunakan semua modal untuk membeli perlengkapan dan senjata, serta membawa semuanya kedalam permainan.

Baik Mitsubishi Lancer Evo X maupun Lamborghini Gallardo memiliki mesin yang lebih tangguh dari mobil polisi karena telah dimodif, dengan cepat mereka mendekati iring-iringan.

Setengah badan Bikou keluar dari jendela mobil sebelah kanan lalu membidikkan senapan standar,

"Orra orra oryaaaaaaaaaaaa...!"

Doorrrddrdrdrdrdrr...

Sambil berteriak, Bikou menembaki mobil polisi didepannya dengan Automatic Assault Rifle AK-47, senjata yang umum didunakan oleh para penjahat. Akurasinya memang tidak terlalu bagus dan statistik Agility Bikou juga tidak terlalu tinggi, namun bukan ketepatan yang dibutuhkan tapi daya hancur serangan, sesuai tipe senjata ini. Dari jarak yang cukup dekat, Bikou membuat kerusakan cukup banyak pada mobil didepannya.

Bunyi desingan peluru yang mengenai mobil polisi menggema memekikkan telinga, hampir semuanya dipantulkan karena mobil Dodge Charger ternyata memiliki body tahan peluru.

doorddrdrdrdr. . . . .

"Nyawhahahahahaaaa~~~"

Kuroka yang menumpang di mobil Naruto juga ikut menembak, berdiri di kursi mobil samping kemudi yang memang dimodif dengan kap terbuka.

Pyaarr...

Kaca belakang kedua mobil polisi pecah. Senjata yang digunakan Kuroka berbeda dari Bikou, wanita kucing ini menggunakan semi-automatic pistol TEC-DC9. Senjatanya cukup ringan, sesuai untuk Kuroka yang statistic Strength-nya rendah, namun dengan kecepatan putaran yang lumayan tinggi serta menggunakan amunisi khusus dengan penetrasi kuat, hasilnya cukup memecah kaca mobil anti peluru.

"Sasuke pada pusat komando! Ada empat orang player, masing-masing dua di mobil belakang iring-iringan." kata si wanita dewasa setelah ia melihat isi mobil polisi yang kaca belakangnya telah hancur.

Empat pemain lawan berhasil lagi diidentifiaksi posisinya. Ini penting untuk tim Sona karena mereka tidak boleh kehilangan satu anggota pun, jadi jika mengetahui semua posisi musuh, maka kemungkinan terbunuhnya anggota dari serangan mendadak bisa diminimalisir.

"Jenis senjata?" Sona bertanya.

"Hnnnn..." Sasuke menyipit untuk melihat senjata macam apa yang sedang dikeluarkan oleh lawan dibalik kaca belakang salah satu mobil polisi yang pecah.

cut cut cut cut . . . . .

Dsinngg...

Sebelum melanjutkan ucapannya, mobil Sasuke keburu ditembaki.

"Dari suaranya, itu seperti Assault Rifle Bullpup. Sasuke-san mundur, jaga jarak aman!"

Sasuke mengikuti instruksi Sona, tentu saja Bikou sudah duduk kembali dikursi samping kemudi. Walaupun mobil yang dikendarainya anti-peluru, tapi jika terlalu dekat, bisa-bisa bagian penting dari mobilnya habis dibabat senapan itu, Rifle tentu punya akurasi yang cukup baik untuk baku tembak jarak menengah, apalagi Bullpup yang digunakan musuh punya scope untuk meningkatkan akurasi.

Tapi,

"Bodoh, dasar Dobe!"

Sasuke memberengut ketika Naruto malah menantang bahaya, menginjak pedal gas Lamborghini yang dikendarainya lalu mengaktifkan turbo hingga melaju sangat kencang dan mendekati mobil yang menembakinya tadi.

Kuroka tampak ketakutan, dia merunduk di balik dashboard mobil karena tidak berani melihat hujan peluru yang mengenai kaca depan mobil.

Nampaknya Naruto punya keyakinan kuat dengan daya tahan mobil yang dikendarainya.

Dashhh. . . .

Ckiitttt...

Tanpa ragu, Naruto menabrak bemper mobil polisi yang terus menembakinya. Akibatnya mobil polisi itu berputar dijalan dan sebagai sentuhan akhir,,,

Brakkkk...

Sasuke menabrak sisi kiri mobil yang sedang berputar, menyebabkan mobil itu terpental udara lalu jatuh dan,

Kabooommmm...

Satu mobil polisi dan dua pemain berhasil dieliminasi.

Muncul notifikasi di langit, sistem game GGO memberitahukan jumlah dan nama pemain yang telah gugur. Tak disangka, tim pro lebih dulu kehilangan pemain. Hal ini menimbulkan decak kagum dari penonton untuk tim amatir yang sedang naik daun. Begitulah, pertandingan ini disiarkan oleh sistem game ke semua penjuru tempat berkumpulnya player dari seluruh dunia sebab event yang sedang berlangsung merupakan event bergengsi dengan hadiah besar dan tentu lebih menarik karena salah satu pesertanya adalah tim gamer profesional.

Itulah hasil dari tindakan nekat Naruto.

Inginnya melakukan cara yang sama sekali lagi, namun Naruto terpaksa dibuat terkejut ketika melihat satu mobil yang tersisa, yang dalam jarak beberapa meter dari mobilnya, mengeluarkan laras gatling. Senapan enam laras itu mulai berputar seiring suara desingan mekanik, lalu

Drrrrrttttt. . . . . . .

Ckiitttt...

Naruto menginjak rem untuk mengindari hujan peluru. Itu minigun M134, senjata buatan Amerika, amunisi kaliber besar yang ditembakkan dengan kecepatan putaran hingga 6000 rpm mampu menembus kendaraan lapis baja sekalipun. Kalau sampai kena, maka Naruto dan Kuroka pasti tamat.

Meski sudah melambat, mobil Naruto masih belum aman dari hujan peluru. Polisi masih menembakkan minigunnya tanpa jeda sementara mobil polisi tempat player itu tetap mengiring dibelakang truk kontainer.

Dengan cara ini, tim polisi berhasil menjauhkan tim perampok dari kontainer.

Namun itu hanya sesaat karena tiba-tiba mobil polisi yang menembak dengan minigun tadi melaju tak tentu arah, lalu,

Brakkk...

Menabrak salah satu bangunan, dan

KABOOMMMM

Mobil itu meledak setelah mengalami kerusakan berat.

Notifikasi baru, empat polisi 'Death'.

"Headshot."

Terdengar suara lembut Hinata dari saluran interkom, walaupun lembut namun suara itu berkesan bahwa orang yang mengucapkanya sedang sangat senang.

Rupanya, Hinata yang mengambil tugas sebagai sniper tunggal dalam tim berhasil menembak pengemudi mobil polisi yang tadi. Tentu saja, kemampuan Hinata sebagai sniper dengan nilai Agility yang luar biasa mampu melakukan itu.

Saat ini, mobil Mitsubishi Lancer Evo X dan Lamborghini Gallardo melaju aman dibelakang truk kontainer.

Berpindah ke atap gedung pencakar langit.

"Hinata-san, bisakah kau melakukan sesuatu pada truk itu agar kita lebih mudah melakukan rencana selanjutnya?" pinta Sona. Dia dan Hinata masih di posisi awal.

"Akan kucoba." jawab Hinata setelah selesai mengkokang sniper rifle miliknya, selongsong peluru kosong lepas dan terganti dengan peluru baru dari magazine.

Hinata memfokuskan konsentrasinya untuk membidik dari scope senapan.

Doorr...

Satu amunisi ditembakkan, lalu,

Ctakk...

Hinata terkejut, "Ap-."

"Kenapa?" tanya Sona heran.

"Ada notifikasi Immortal Object saat peluruku mengenai ban truk."

"Aku mengerti. Truk kontainer itu berasal dari sistem game ini, bukan milik player jadi tidak bisa dirusak."

"Lalu, bagimana sekarang?"

"Kita tunggu saja mereka menyelesaikan tugasnya."

Kembali kejalanan, mobil yang dikendarai Naruto berusaha menyalib truk dari sisi kanan, sedangkan Sasuke dari sisi kiri.

Lamborghini dan Lancer Evo kini sejajar dengan bagian belakang kontainer.

Tiba-tiba terdengar seruan dari Sona lewat interkom.

"Mundur sekarang! Truk itu dimodifikasi oleh tim lawan, aku sudah melihat bentuk awal truk sebelum game dimulai. Bagian depan memang asli, tapi bagian belakang hanya tambahan. Aku tidak tahu apa, bisa jadi berbahaya."

Sona mengatakan itu bersadarkan bukti kalau bagian belakang kontainer bisa ditembak Hinata, bukan immortal object atau objek abadi, yang artinya bagian belakang adalah modifikasi. Menang kalau diamati jelas, kontainer lebih panjang dari seharusnya. Bagian belakang kontainer seperti mengalami tambahan muatan.

Baru saja Sona mengakses aturan permaian, dan ternyata memang tim polisi diberikan hak untuk memodifikasi truk kontainer dengan modal sendiri.

Tepat seperti kata Sona, kontainer bagian belakang membuka sisi-sisinya.

Hal ini membuat Naruto, Sasuke, Kuroka, maupun Bikou shock berat sebab ada lima buah laras gatling Minigun M134 berbaris di tiap sisi kontainer belakang. Tampaknya semua senjata itu dioperasikan secara otomatis lewat komputer.

"Team, fall back!" Sona mengkomando keras lewat saluran interkom.

"WAAAAAAA..."

Naruto satu-satunya yang berteriak ketakutan.

Dorrrdrdrdrdrdrdr. . . . . .

Ckiitttt...

Untungnya keempat orang itu masih selamat, mobil mereka mundur sampai tepat dibelakang truk sehingga aman dari jangkauan tembak Minigun.

Namun belum sepenuhnya aman karena,

"Sial, kemana mobil polisi yang didepan?"

Itu suara kebingungan dari Sona yang tampak frustasi di atap gedung. Mungkin karena terlalu fokus dengan truk, dia kehilangan jejak mobil polisi yang bertugas memandu truk.

"Mobilnya sekarang dibelakang mereka."

Hinata melihat lebih dulu mobil polisi itu dari balik scope senapannya, tapi tidak sendiri, ada dua mobil polisi lain. Mobil polisi Ford Interceptor yang juga keluaran Amerika. Dari awal tim polisi selalu menggunakan produk keluaran Amerika, kemungkinan anggota tim ini semuanya adalah warga negara USA.

Ketiga mobil itu melaju sejajar, dan yang paling buruk.

"Gawat. Kalian berempat terkepung."

Suara panik Sona yang terdengar dari saluran interkom tentu membuat Naruto dan tiga orang lainnya yang bertindak sebagai Frontliner ikutan panik.

Situasi genting, rupanya sejak awal mobil belakang sebagai umpan. Kini dibelakang Naruto dan Sasuke ada tiga buah mobil yang melaju sejajar sehingga tidak mungkin mundur, diperparah lagi ketiga mobil itu telah dimodifikasi yang mana sisi kiri dan kanan mobil dipasangi Minigun, sama seperti minigun sebelumnya dan dikendalikan oleh komputer. Dalam posisi ini, keempat anggota tim perampok menjadi sasaran empuk. Melaju kedepan juga tidak mungkin, sebab menyalib truk berarti harus melewati sebaris minigun otomatis disetiap sisi kontainer.

"Need Backup! Need Backup! Need Backup!" Kuroka berteriak minta bantuan.

"Chaaa..."

Itu teriakan Sakura. Separuh badannya tampak dari pintu atap mobil Hummer H2 yang dikemudikan oleh Vali berpenampilan perempuan yang dalam masa produktif siap nikah. Hummer ini melaju pada jarak 75 meter dibelakang mobil polisi.

Sakura tidak dengan tangan kosong, dia memanggul satu buah RPG-7V di bahunya. Rocket Propelled Granade atau granat berpeluncur roket buatan Rusia ini bahkan mampu meledakkan sebuah tank.

"Fire...!" teriak Sakura sambil menarik pelatuk.

Ciuuuu...

Kaboommmm...

Mobil polisi meledak tanpa ampun.

Kembali muncul notifikasi dilangit, '5 police is death'.

Sakura kembali masuk kedalam mobil setelah menembak. Sayangnya, RPG yang Sakura tembakkan hanya mengenai satu mobil polisi saja, Dodge Charger yang berada ditengah. Sedangkan Ford Interceptor sempat membanting setir kesamping untuk menghindari ledakan.

Truk kontainer terus melaju kencang, sementara dibelakangnya masih terjadi baku tembak.

Naruto dan lainnya yang dalam posisi terjepit masih belum aman karena dua mobil Ford Interceptor masih membidikkan Minigun pada mereka.

Vali mengambil tindakan cepat, dengan kecepatan penuh dia menabrak satu mobil polisi, membuat mobil itu terangkat setelah melewati bagian atas Hummer, lalu berputar di udara, jatuh, dan

Kabooommmmm...

Satu pemain tim polisi kembali gugur.

Khusus Hummer H2 yang dikendarai Vali, dibuat rangka tambahan dibagian luar body mobil hingga menyerupai kepala atau moncong tikus. Bagian depan yang lancipnya menukik kebawah dan hampir menyentuh aspal jalan, ditambah dengan daya dorong yang luar biasa dari mesin Supercharged 7,0 liter bertenaga 700 hp, tak mengherankan kalau sekali Vali menabrak, satu mobil lain mampu diterbangkannya.

Kabooommmm...

Mobil yang tersisa tak luput dari keberingasan Vali. Wanita siap nikah ini tertawa senang, menurutnya tak buruk juga bertarung dengan mengadu Drive Skill dan kehebatan mobil modifikasi.

7 polisi sudah tewas.

Baru sebentar dimulai, polisi sudah kehilangan hampir semua anggotanya. Mungkinkah ini sengaja atau memang player yang bermain sebagai polisi terkejut dengan perlawanan tim perampok, atau Naruto dan kawan-kawan yang terlalu hebat?

Kini keempat starter serangan tim perampok sudah aman. Sebagai Frontliner, mereka berenam menjalankan tugas dengan sangat baik.

"Naruto, Sasuke-kun, minggirlah sedikit!" Sakura berseru lewat interkom sambil dia membidikkan satu lagi RPG yang ada dibahunya.

Ciiuuuuu...

Blaarrrr...

Bagian belakang truk kontainer yang membawa sepuluh minigun otomatis langsung hancur. Hanya bagian yang modifikasi saja yang hancur sedangkan bagian asli dari truk masih dalam kondisi baik karena sistem game menjadikan itu sebagai immortal object atau benda abadi.

Bahaya dari Minigun yang dioperasikan musuh lewat komputer sudah dieliminasi.

Mobil Naruto dan lainnya mendekat pada truk, tapi sejenak kemudian,

Dhuuaarrrr...

Sebuah peluru berjenis rudal meluncur di atas Hummer milik Vali lalu melubangi tembok dan meledakkan bangunan yang tak jauh didepan mereka.

Di belakang, ada lagi persenjataan buatan Amerika. Ternyata dari pertigaan yang baru saja dilewati, ada sebuah Tank Abrahams M1 melaju dengan kecepatan 67,7 km/jam. Meski lebih lamban dari kecepatan mereka berenam, namun jalan utama ini lurus sehingga Tank itu bisa dengan mudah membidikkan armament atau moncong meriamnya. Tak tangung-tanggun, amunisi yang di gunakan Tank ini berjenis rudal dengan daya ledak tinggi.

"Sasuke-kun, Naruto, kalian teruskan sesuai rencana!" Sakura membuat keputusan tiba-tiba, "Vali-san, hentikan mobilnya. Kita akan menghabisi senjata keparat itu."

"Kupercayakan padamu, Sakura" sahut Naruto dari saluran komunikasi tim.

"Hn." suara ini pasti sudah dapat ditebak pemiliknya.

Ckiittt...

Dengan sedikit gaya drift, Hummer H2 yang dikendari Vali telah berbalik arah. Sakura memanggul saju jenis senjata berat dibahu kanannya. Memang karena nilai Strength dari avatarnya terbilang paling tinggi dalam anggota tim, maka dia selalu menggunakan senjata berat. Beda halnya dengan Hinata yang memiliki nilai statistik Agility mencengangkan sehingga dia menjadi sniper andalan satu-satunya.

"Ayooo,,, kita adu lebih hebat mana dua produk Amerika ini."

Sesuai kata Sakura, untuk melawan Tank buatan Amerika milik musuh, dia menghadapinya dengan Roket panggul Anti-Tank Javelin ATGM M47 Dragon. Roket kendali dengan hulu ledak ganda seberat 8,4 kg ini pasti mampu menargetkan dan menghancurkan kubah Tank, bagian terlemah dari kendaraan yang disebut-sebut sebagai monster darat.

Tank Abrahams milik musuh pun sudah mengunci target moncong armamentnya.

"Shannarouuuu...!"

[skip...]

"Kau sudah siap?"

Sasuke bertanya pada Bikou yang kini berdiri di bagian depan mobil yang sedang ia kemudikan.

Bikou bersiap untuk melompat ke kontainer, tugasnya adalah membuka pintu kontainer untuk mendapatkan akses ke item yang diperebutkan.

Terdengar suara Sona yang berbicara lewat saluran komunikasi, "Kalian berempat bisa melakukannya dengan aman. Aku sudah membaca profil tim lawan kita, kuprediksikan kalau player yang mengemudikan truk tidak akan bertindak brutal. Sisa dua anggota tim lawan kemungkinan sengaja membiarkan kita mengambil item dengan mudah untuk fokus pada serangan balik. Mengerti?"

"Yes, Madam."

"Go!"

"Roger/Affrimative..." Naruto dan Sasuke menyahut bersamaan.

Dunkkk...

Bikou berhasil melompat ke badan kontainer yang dibawa truk melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Statistik Speed yang avatarnya miliki cukup untuk melakukan aksi tadi. Dengan cekatan dia berhasil membuka pintu kontainer.

Duukk...

Bikou melompat ke mobil Mitsubishi Lancer Evo X biru tua, lalu duduk lagi tepat disamping Sasuke setelah menyelesaikan tugasnya. Meski mobil dalam keadaan melaju kencang, dia bisa melakukannya dengan mudah bekat kelincahannya dan skill akrobatik yang ia miliki sejak kecil.

Tampak jelas ada sebuah benda besar didalam kontainer. Lebih mirip berangkas uang berbentuk kubus dengan panjang sisi 1,6 meter.

"Siap, Teme?" tanya naruto dari mobilnya, dia melaju tepat disamping Sasuke.

Hanya dengan mengaktifkan intruski terentu di keyboard yang terpasang pada dashboard, bagian belakang mobil yaitu kap bagasi terbuka dan mengeluarkan sebuah pelontar harpoon. Senjata yang umum digunakan oleh kapal pemburu ikan paus. Harpoon itu terikat dengan tali baja yang tergulung didalam bagasi mobil.

Ternyata inilah hasil modifikasi mobil Mitsubishi Lancer Evo X dan Lamborghini Gallardo, fungsi tambahan yang dibuat khusus untuk misi perampokan permainan ini. Memang ini sebatas permainan dalam GGO, tapi program modifikasi peralatan diijinkan sesuai keinginan pemain, hampir sama dengan yang ada di dunia nyata. GGO yang sekarang memang sengaja dibuat se-'real' mungkin.

"Lakukan bersamaan, Dobe!" perintah Sasuke setelah harpoon itu dibidikkan.

"Tembak...!"

Clashhh...

Bersamaan dengan intruksi Naruto, kedua harpoon melesat menuju berangkas berisi item didalam kontainer yang harus mereka rampok. Harpoon melesat cukup kuat sehingga melubangi dinding berangkas dari luar. Kait-kait yang terdapat pada ujung harpoon membuat senjata ini mengikat kuat berangkas.

Segera setelah target didapatkan, Naruto dan Sasuke menginjak pedal rem.

Ckitttt...

Bagian belakang mobil tertarik kuat, membuat kedua mobil itu berputar 180 derajat, bahkan terseret karena tarikan truk kontainer. Tapi tidak terlalu jauh karena berangkas yang mereka ambil perlahan tertarik keluar dari kontainer sementara truk terus melaju kedepan.

dashhh...

Berangkas pun terjatuh di aspal,

"Target berhasil direbut. Mission clear." ucap Naruto, menunggu instruksi selanjutnya.

"Waktu baru 20 menit berjalan. Sesuai rencana, selanjutnya kita main kucing-kucingan dengan polisi. Bawa berangkas itu berkeliling kota sampai batas waktu habis." seru Sona. Suaranya terdengar tegas dari saluran komunikasi.

Sona bertindak sempurna sebagai pemimpin tim yang mengatur strategi. Posisi ini sangat bersesuaian dengan statistik avatarnya yang memiliki nilai Intelligence paling tinggi dalam tim. Wajar karena dalam kehidupan nyata, dia adalah iblis berdarah murni yang menempati posisi King dalam Evil Piece.

"Affirmative/Siap laksanakan." Sasuke dan Naruto menjawab bersamaan.

Brummmm...

Akhirnya, berankas baja itupun diseret-seret mengelilingi jalanan kota oleh dua mobil sport. Tanpa ada tujuan, yang penting tidak tertangkap polisi karena pilihan bersembunyi bukanlah pilihan yang bagus.

Ke bangku penonton diluar Map game, ada yang di cafe atau di bar yang menyediakan layar hologram yang menyiarkan pertandingan secara Live. Nampak mereka semua memberikan applause-nya untuk tim pendatang baru. Sampai saat ini, tim polisi yang diisi oleh kelompok gamer pro telah kehilangan tujuh anggotanya, sedangkan tim perampok masih lengkap. Selain itu item yang diperebutkan sekarang berada di tangan perampok. Sebuah keunggulan untuk tim Sona.

Beralih ke pusat komando tim perampok. Si Wanita berkacamata masih berdiri tenang di atas atap bangunan. Teropong binokuler yang ia gunakan tidak lepas dari tangannya untuk mengamati jalannya permaianan dari titik ia berdiri.

Suasana tampak lengang, tak ada lagi konfrontasi. Sepertinya tim polisi sedang menahan diri. Mereka belum bergerak agar posisi mereka tak terdeteksi. Mungkin mereka melakukan hal ini untuk mengulur waktu agar tim perampok yang dipimpin Sona tidak membawa pulang hadian empat kali lipat. Ternyata tim lawan benar-benar perhitungan. Walaupun berpeluang kalah, tapi tidak membiarkan musuhnya memang besar.

Namun itu tidak masalah bagi Sona. Tim mereka tidak mencari uang disini, mereka memerlukan artefak atau item yang ada didalam berangkas.

Sudah sepuluh menit Sona mengamati dua mobil sport yang dikemudikan Naruto dan Sasuke mengelilingi kota sambil menyeret berangkas baja. Jalanan aspal yang semula bagus dan mulus, kini lumayan rusak akibat bergesekan dengan berangkas baja.

"Aneh." Sona bergumam pelan.

"Aneh kenapa, Sona-san?" ternyata Hinata mendengar gumaman Sona. Dia sejak awal dalam posisi siap menembak.

"Ini sudah lebih 30 menit. Artinya jatah hadiah empat kali lipat untuk tim kita sudah hangus. Sisa waktu kurang dari 15 menit, aku tak bisa menduga apa yang lawan kita rencanakan dalam sisa waktu sempit ini."

"Oh. Maaf, aku tak bisa membantumu berpikir, Sona-san."

"Tak apa."

Tiba-tiba Hinata kelihatan panik,

Ctanggg...

Dalam gerakan slow motion, sebuah proyektil lewat tepat didekat kepala Hinata setelah menghantam kawan tipis pembatas atap, lalu

Bangg...

peluru pun akhirnya bersarang di tandon berisi penuh air yang memang berada di atap. Tandon itu mengeluarkan air yang lumayan deras dari lubang hasil tembakan tadi.

Beruntung Hinata sigap, jika tidak nyawanya bisa saja melayang. Sesaat sebelum tembakan datang, dia melihat adanya bullet line berwarna merah yang menang sengaja dibuat oleh sistem GGO sebagai Deffensive System Assist. Hinata dapat melihatnya karena yang barusan bukan tembakan pertama sniper. Dia sendiri lah yang lebih dulu mengambil jatah itu pada awal permainan. Cukup dengan sedikit memiringkan kepala, Hinata berhasil menghindari tembakan yang tertuju padanya.

"Hinata-san, posisi musuh?"

Sona berpikir cepat. Dia tahu cepat atau lambat posisinya dan Hinata pasti akan diketahui. Hinata telah beberapa kali menembakkan senapannya pada target yang berbeda-beda. Jika seperti itu, dengan mengamati sudut datang peluru Hinata lalu dihitung dengan persamaan matematik berdasarkan jarak dua target yang ditembak, maka posisi Hinata bisa ditentukan dengan akurat oleh musuh, begitupula dengan dirinya sebagai pengkomando dan pengatur strategi.

Selain sebagai pemimpin, Sona juga berperan sebagai asisten sniper. Sniper tidak diperbolehkan bertugas sendirian karena akan sangat berbahaya jika sampai ada lawan yang tiba-tiba mendekat tanpa disadari. Senapan yang di gunakan Hinata tidak mendukung baku tembak jarak dekat, ditambah lagi statistik Strength dan Health Point yang rendah membuat Hinata sangat dirugikan dalam bertempur jarak dekat. Jadi mutlak Hinata butuh backup yang selalu standby didekatnya.

"1400 meter arah jam 2, lantai 3 mall pusat kota." jawab Hinata ringkas.

"Kau sudah dengar kan?, Lakukan tugasmu!" Sona bicara lewat interkom, jadi semua anggota tim pasti mendengar.

"Affirmative." sahut suara serak seorang pria. Hanya ada dua pria normal dalam Tim Sona, Bikou sedang berada dimobil Sasuke, jadi orang yang mendapat tugas ini tidak lain adalah Arthur.

"Le Fay!" seru Sona lagi.

"Ha'i haiiiiiiiii, Le Fay-chan yang imut di sini." kali ini suara manis seorang anak baru remaja yang menyeruak di saluran interkom.

Dia memang masih anak-anak, tapi entah kenapa dari suaranya, dialah yang paling tenang. Mungkin saja karena ini pengalaman pertamanya berpetualang tanpa sihir sehingga membuat hatinya sangat senang.

"Fokuslah pada posisimu, lakukan seperti rencana awal."

"Roger, Kaichou-sama."

"Fyuuhh..." Sona membuang nafas.

"Relakslah sedikit, kau terlalu serius Sona-san. Jangan sampai kau salah mengambil keputusan karena terlalu tegang."

"Iya, aku tahu Hinata-san. Hanya saja menjadi pemimpin, artinya aku tidak hanya memegang nyawaku saja tapi juga nyawa orang lain, hidupku saat ini tidak hanya untuk diriku sendiri saja tapi juga untuk orang dalam tanggung jawabku."

"..."

Hinata terdiam, kata-kata ini mengingatkannya pada mendiang kakak sepupunya, nasehat yang diberikan Neji kepada suaminya pada saat perang dunia shinobi keempat. Sesuatu yang sangat patut dipuji ketika ada seorang iblis yang mampu mengatakan hal seperti itu dari dalam lubuk hatinya serta memegang teguh kata-kata itu dalam hidupnya.

Tak ingin memikirkan itu lebih jauh karena konsentrasi tidak boleh lepas selama permainan, Hinata mendeteksi ada benda melaju terbang di udara pada ketinggian rendah. Benda itu berwarna putih, panjangnya tidak lebih dari tiga meter, bentuknya seperti sebuah pewasat aeromodelling.

"Apa itu, Sona-san? Benda yang terbang di arah jam 11 menuju kita"

Sona mencari benda yang dimaksud Hinata lewat teropongnya. Seketika wajah Sona mengeras, "Astaga! Lawan kita benar-benar tak segan mengeluarkan uang banyak. Itu drone UAV pesawat tanpa awak buatan Amerika, General Atomic MQ-9 Reaper yang ditujukan untuk operasi memburu-membunuh. Walaupun dalam ukuran lebih kecil, tetap saja benda mahal itu sangat berbahaya."

"Etto... Sona-san" Hinata nampak ragu untuk mengucapkan sesuatu yang ia lihat. "Bb-benda sudah itu menembakkan sesuatu ke arah kita."

MQ-9 Reaper dibekali dengan amunisi AGM-114 Hellfire yaitu rudal kendali air-to-surface yang mampu mengejar dan meledakkan target. Karena pewawat pemburu tanpa awak ini dibuat dalam versi kecil, maka rudalnya juga dalam versi mini, meski begitu daya ledaknya tetap saja cukup untuk menghancurkan sebuah bus sampai berkeping-keping.

"Benda itu bisa menembakkan rudal, tapi tak masalah karena..."

Ciwciwciwciwciwciwciw. . . . .

Kabommmm...

Sebelum rudal mencapai bangunan tempat Sona dan Hinata berada, rudal itu lebih dulu disasar oleh ratusan proyektil peluru yang ditembakkan dari pemukaan tanah hingga hancur sebelum mencapai target.

"... Aku sudah menyiapkan pertahanan anti-rudal CIWS untuk tempat ini meski menghabiskan hampir semua uang In-game yang kukumpulkan selama enam minggu hasil bermain judi di casino."

Sebenarnya peralatan anti-rudal CIWS bukan keharusan, malah buang-buang uang karena umumnya hanya digunakan oleh kapal perang di lautan. Tapi ternyata insting Sona tepat. Permainan ini membolehkan pemain membawa senjata apa saja, jadi untuk jaga-jaga kalau musuh membawa rudal, maka Sona menyiapkan perangkat anti-rudal.

Senjata yang dibeli Sona menggunakan teknologi Closed-in Weapon System (CIWS) yang diberi nama Phalanx. Senjata ini berupa meriam gatling otomatis enam laras terpasang didasar bergerak yang bisa berputar 360 derajat kesegala arah dan bekerja dengan menembakkan amunisinya oleh perintah komputer ketika ada rudal atau pesawat musuh yang mendekat dan terdeteksi oleh radar dalam area jangkauannya. Armamen meriamnya adalah M61 Vulcan 6-Barreled Gatling Canon yang menembakkan proyektil kaliber 20 mm dengan kecepatan tembak 4500 kali permenit.

Untuk permainan ini, Sona menginstal peralatan pertahanan itu di permukaan tanah. Ada dua perangkat yang diletakkan 50 meter di samping kiri dan kanan bangunan. Jangkauan maksimal anti-rudal Phalanx CIWS mencapai jarak 850 meter, sehingga tempat Sona dan Hinata berada aman dari serbuan rudal.

"Oh, souka." Hinata bisa bernafas lega. "Hei lihat, Drone UAV itu sudah menjauh dari kita."

"Apa?" Sona malah jadi panik. "Tch sialan. Phalanx CIWS yang kubeli tidak bisa menghancurkan benda itu kalau diluar jangkauan. Ini buruk."

"Eh?"

"Benda itu pasti akan mengejar Naruto-san dan yang lain di jalanan."

...

"Nee, Teme. Sampai kapan sih kita menyerat benda berat dibelakang kita?"

"Sampai kita disuruh berhenti, Dobe."

Naruto dan Sasuke melajukan mobil masing-masing bersebelahan di jalanan, Lamborgini Naruto disebelah kanan sedangkan Mitsubishi Lancer Evo Sasuke disebelah kiri. Beberapa kali berbelok diperempatan dan itu membuat berangkas baja yang mereka seret menghantam pembatas jalan atau bangunan, tapi mobil sport mereka masih sanggup menariknya.

"Gh, mesin mobilku bisa cepat rusak kalau lama-lama seperti ini. Kan sayang, mahal loh aku membelinya, belum lagi untuk memodif. Hampir semua uang In-game yang kukumpulkan selama kita disini habis hanya untuk membeli mobil Lamborghini Gallardo kesayanganku ini."

"Bisakah kau diam, Dobe.! Mobil ini tidak bisa kita bawa pulang ke dunia kita tahu, jadi tidak usah mengkhawatirkan itu."

"Ahh~~~, kau tidak mengerti perasaanku, Teme. Bagaimana kerasnya usahaku hunting dan menyelesaikan quest selama enam minggu hanya agar aku bisa membeli mobil sport mewah ini."

"Hn." Sasuke mendengus kesal dari balik setir mobilnya, "Kau pikir aku tidak ha? Mitsubishi Lancer Evo X ini juga mahal tahu, mengoprek mesinnya pun perlu uang tidak sedikit."

"Mbeh, tetap saja Lamborghini milikku lebih mahal." Naruto bersungut kesal.

Karena pertengkaran tak jelas itu, Bikou yang duduk disamping Sasuke versi perempuan dewasa hanya bisa tersenyum masam. Beda lagi dengan Kuroka yang duduk bersama Naruto di mobil Lamborghini, dia tampak senang, jarang-jarang dia bisa sedekat ini dengan Naruto, walau saat ini Naruto-nya versi perempuan, tapi tak apa karena kehangatan yang dipancarkan Naruto tak berubah sedikitpun. Berterima kasih lah pada Sona yang telah membagi formasi tim menjadi seperti ini.

"Naruto-san, Sasuke-san, hati-hati! Ada senjata musuh yang mengejar kalian sekarang."

Itu suara Sona yang terdengar lewat saluran interkom.

"Ck, kau terlambat memberitahu kami, Megane." Tampaknya Sasuke sudah melihat senjata yang dimaksud Sona dari balik kaca spionnya. "Dobe! AWAS..."

Merespon peringatan Sasuke, Naruto membanting setir ke kiri.

KABOMMMM...

Untung sesaat sebelum rudal mengenainya, Naruto berhasil menghindar kesamping sehingga rudal malah meledakkan minibus yang terparkir dipinggir jalan. Meski karena tindakannya, mobil Sasuke tergencet hingga bergesekan dengan pembatas jalan.

Wajah Sasuke memerah karena marah, "Awas kau, Dobe. Kau harus membayar ini nanti!"

Rupanya si hotmama Sasuke juga sangat sayang dengan mobilnya.

"Kau lebih sayang dengan mobil daripada sahabatmu sendiri hah?"

"Berisik!"

Sepasang rival ini masih sempat-sempatnya ribut saat melaju kecang dijalanan sambil menyeret berangkas baja, buruknya lagi mereka sedang diburu oleh sebuah Drone UAV pemusnah.

Naruto tak lagi menghiraukan Sasuke, "Sona-san!" panggilnya lewat saluran interkom. "Apa ada cara menghadapi pesawat mainan yang memburu kami?"

"Tak ada. Kalian tak punya senjata memadai untuk melawannya, kecuali kalian kembali ke point awal, ke tempatku berada sekarang. Tempat ini terlindungi dari misil dengan perangkat Phalanx CIWS, jadi kita bisa aman." jawab Sona dari seberang sana.

"Tch. Benda itu, punya berapa peluru?" giliran Sasuke bertanya.

"Drone UAV MQ-9 Reaper versi kecil di game ini kalau tidak salah mampu menampung maksimal 10 rudal mini AGM-114 Hellfire. Benda itu baru menembak dua kali, masih ada sisa 8 buah misil lagi."

"Apa? Tidak mungkin mengikuti instruksimu, jarak dari sini ke tempatmu sangat jauh. Sebelum kami sampai ke point awal, kami pasti sudah keburu diledakkan."

Naruto menyambung ucapan Sasuke, "Dan kalaupun kita berhasil berkumpul kembali, malah kita akan jadi sasaran empuk musuh untuk dihabisi sekaligus, kita belum boleh berkumpul. Aku punya ide."

"Kau jangan nekat, Dobe!"

"TEMEEE, INJAK REM!"

Mengikuti peringatan keras Naruto, mobil Sasuke berhenti sebelum perempatan dan terhindar dari rudal. Rudalnya meluncur tepat di atas atap mobilnya lalu meledak setelah menghantam toko burger.

Masih ada sisa 7 rudal lagi.

Brrakkk...

"Ck, sialan!"

Sasuke memberengut marah, berangkas baja yang mereka seret menghantam bemper mobilnya. Semakin rusaklah mobil kesayangan Sasuke.

Syuutttt...

Drone UAV meluncur cepat di atas jalanan melewati mobil Naruto dan Sasuke. Setelah beberapa ratus meter, drone itu berbalik arah 180 derajat.

"Kanan.!"

Bruummmm...

Sesuai intruksi Naruto, mereka berdua berbelok ke kanan diperempatan. Melaju dengan kecepatan penuh.

Tak berapa lama, Drone UAV penghancur buatan Amerika kembali mengejar mereka.

"Dobe, apa rencanamu?"

Naruto tak menjawab, sambil mengemudikan mobilnya dia melihat bangunan-bangunan disekitar.

"Dobe...!"

"Kita berpisah di sini."

Clashh...

Itu suara putusnya tali baja yang menghubungkan mobil Naruto dengan berangkas baja. Akibat hal ini, tarikan mobil Sasuke menjadi semakin berat sehingga kecepatannya sedikit berkurang.

"Naruto-san, kau mau meninggalkan sahabatmu sendirian dalam bahaya?"

Kuroka tidak mengerti tindakan gadis bernama Naruto di sebelahnya. Apa Naruto mau kabur sendirian?

"Wooiiii, aku belum mau mati." Bikou berteriak protes. Dia ikut mobil Sasuke yang masih menarik berangkas baja. Tentu saja mereka berdua menjadi target empuk rudal drone UAV karena item yang diperebutkan dalam permainan ini ada pada mereka.

"Teme, 100 detik. Kau harus bertahan dalam waktu 100 detik dan lewati lagi jalan ini."

Setelah mengatakan itu, Naruto banting setir kekiri, berbelok di perempatan. Sedangkan Sasuke melaju lurus.

Syuuuttttt...

Kabommmm...

Untung saja, Sasuke sempat menghindar saat moment kritis. Rudal mini AGM-114 Hellfire melewati sisi kiri mobilnya dengan margin tipis lalu menghantam vending machine di ujung jalan dan membuat mesin penjual minuman otomatis itu hancur lebur karena kuatnya ledakan rudal.

Ckitttt

Brummm...

Sasuke berbelok ke kanan ketika sampai dipertigaan. Drobe UAV MQ-9 Reaper langsung mengikutinya, jelas saja karena dia yang membawa berangkas berisi item.

"Fyuuuhh... Yokatta."

Bikou bisa sedikit lega, hampir saja dia mati konyol tadi.

Blammm...

Karena berbelok secara tiba-tiba, berangkas baja yang ditarik oleh mobil Sasuke menghantam tiang lampu jalan hingga akhirnya terseret lagi di jalanan. Benar-benar, Mitsubishi Lancer Evo X punya tenaga luar biasa setelah mesinnya dioprek, berangkas baja yang beratnya hampir setengah ton saja mampu diseret-seret begitu.

"Masih ada enam tembakan rudal lagi, aku tidak tahu apa bisa selamat dari itu." kata Sasuke dengan mata fokus ke jalanan.

"Sasuke-san, sebenarnya selain rudal, drone penghancur itu juga punya senjata lain."

Sasuke tak terkejut lagi dengan suara Sona yang terdengar di earphone interkom yang terpasang di telinga kirinya. Pikirannya sekarang adalah bagaimana cara agar drone terus mengikuti mobilnya dan tentu saja ia harus selamat dari rudal maupun senjata lain yang terpasang di drone itu sampai Naruto melakukan sesuatu.

'Awas saja kau, Dobe. Kau akan membayar ini jika selesai karena menjadikanku sebagai umpan.'

Sasuke ambil belok kanan lagi di perempatan. Dia memutar arah kembali ke jalan sebelumnya. Dari kaca spion, dia melihat kalau ada sebuah gatling enam laras yang muncul di bagian bawah perut drone UAV, sama seperti minigun yang digunakan tim lawan sebelumnya.

"Tch..." Sasuke mendengus sebal.

Dcingdcingdcingdcing...

Hujan peluru menyasar dari belakang, aspal berlubang karena itu. Ketika hujan peluru mengenai berangkas yang ditarik mobil Sasuke, muncul notifikasi 'immortal object' yang artinya berangkas tidak bisa dihancurkan. Drone terus melaju hingga amunisi minigun yang dihamburkannya mengenai bemper mobil Sasuke.

Banting setir ke kiri hingga menyetuh pembatas jalan sambil menurunkan kecepatan dengan tiba-tiba. Dengan cara itu Sasuke selamat. Drone yang terbang dengan kecepatan tinggi kini telah lewat di sebelah kanannya.

Setelah itu, Sasuke ambil belok kanan lagi, 800 meter diperempatan berikutnya dia akan kembali ke jalan awal yang diminta Naruto. Meski ia tidak tahu cara apa yang akan digunakan Si Pirang Dobe padahal mereka tidak punya senjata apapun yang bisa digunakan untuk menjatuhkan drone.

Kini drone yang mengejar Sasuke kembali terlihat dibelakang mobilnya.

Dordrdrdrdrdrd. . . . . . .

Sambil mendekati mobil Sasuke, drone UAV penghancur kembali memuntahkan amunisi Minigunnya.

Syiiuuuu...

Satu rudal lagi ditembakkan dari ketinggian rendah.

Sasuke dan Bikou seperti tak henti-hentinya dikejar dewa kematian.

Kabommm. . . . . .

Rudal menghantam berangkas baja, meledak, namun tak mengakibatkan berangkas lecet sedikitpun karena benda itu adalah objek abadi dalam game ini. Keberuntungan bagi dua orang dalam mobil itu. Mungkin saja karena player yang mengoperasikan drone dari jarak jauh kali ini salah mengunci target sehingga mereka selamat.

Ctankkk...

Muncul percikan api bersamaan dengan suara tadi. Asalnya tepat dibagian belakang drone, tempat dimana jet pendorong drone berada. Akibat hal ini drone menjadi oleng, salah satu mesinnya di sebelah kanan telah mati. Namun segera kembali normal, tampaknya operator drone mematikan satu mesin pendorong disebelah kiri demi mendapatkan keseimbangan. Drone ini memiliki empat mesin pendorong, masing-masing dua di setiap sisi sayap belakangnya.

Meski telah seimbang, namun kecepatan terbang drone turun drastis hingga kisaran 180 km/jam karena hanya menggunakan dua mesin jet pendorong saja. Padahal awalnya drone UAV mini ini mampu terbang hingga kecepatan maksimal 640 km/jam, membuat benda itu sangat mudah mengejar sportcar milik Naruto dan Sasuke.

"Fiuuhhh..." terdengar suara hembusan nafas Hinata.

Karena interkom terhubung kesemua anggota tim, jadi semua orang dapat mendengarnya.

"Berhasilkah Hinata?"

"Hu'um. Dengan begini kau bisa melakukannya lebih mudah, Naruto-kun."

Yang lain tak bisa berkomentar apa-apa, sungguh nilai statistik Agility Hinata sebagai sniper terlampau mengerikan, sebuah prestasi besar saat dia sanggup menembak dengan tepat sebuah drone yang melaju dengan kecepatan ratusan kilometer perjam dari jarak sekian ribu meter.

Hinata memang sengaja menembak bagian mesin drone, sesuai permintaan suaminya. Lagipula dengan pelurunya, walaupun ditembakkan ke badan drone tapi itu belum cukup untuk membuatnya jatuh.

"Naruto-kun, hati-hati!"

"Ya, aku pasti kembali dengan selamat."

Fokus kembali ke jalanan. Sasuke kembali ke jalan awal dimana dia pertama kali dikejar drone. Walau kecepatan drone menurun drastis, tapi tetap saja masih sangat berbahaya. Masih ada sisa lima buah rudal dan Minigun dengan amunisi yang entah berapa lagi. Bagian paling buruknya adalah ia sekarang melajukan mobilnya di jalanan lurus yang sangat panjang dengan kecepatan yang tidak bisa maksimal karena menarik berangkas baja, menjadikan jalanan ini sebagai tempat terburuk karena jika drone itu menembakkan semua sisa rudal sekaligus, dia tidak mungkin mengelak.

Sasuke melajukan mobilnya sekencang yang ia bisa, sedangkan dibelakangnya, hujan peluru minigun tak henti-henti mengejarnya. Terlambat sedikit saja, dia dan Bikou pasti tewas.

Pada momen ini juga, empat buah rudal keluar dibawah pangkal sayap drone, tempat slot senjata mesin pemburu itu berada. Bagian belakang rudal mulai menyala tanda bahwa rudal itu siap diluncurkan.

Kemudia saat melewati sebuah bangunan showroom mobil tiga lantai yang dindingnya terbuat dari kaca, tiba-tiba kaca itu pecah

Pyarrr...

Dalam gerakan slow motion, sebuah mobil sport berwarna jingga, Lamborghini Gallardo meluncur di udara melintas di atas jalan. Meluncur seakan-akan dia punya sayap untuk terbang.

Dibawahnya, mobil Mitsubishi Lancer Evo X milik Sasuke yang melaju kencang sambil menyeret berangkas baja telah lewat, dan

KABBOOOMMMM. . . . . .

Karena tak sempat mengelak, drone UAV yang terbang membuntuti mobil Sasuke menabrak mobil Lamborghini yang meluncur di udara, hingga keduanya meledak dan hancur berkeping-keping. Ditambah empat buah rudal aktif yang baru akan dilepaskan, terciptalah ledakan besar hingga membuat semua kaca bangunan dalam radius 500 meter pecah.

Didepan bangunan showroom mobil, tepat dibawah dinding kaca yang pecah, seorang gadis berambut pirang yang di ikat twintail berdiri dengan tertatih. Tampaknya dia mengalami cedera kecil dikakinya akibat melompat dari dalam mobil yang ia terbangkan dari lantai 3.

"Uggghhh..." Gadis itu merintih kecil.

Gadis lain berambut hitam dengan iris mata kuning segera menghampirinya, "Bagaimana keadaanmu, Naruto-san?"

"Tak masalah. Tapi mobil kesayanganku sudah hancur, hueeee..."

Kuroka tak bisa berkomentar. Ternyata bagi Naruto, mobil tadi terlalu berharga untuk dikorbankan kalau hanya untuk ditabrakkan pada drone yang bisa saja menghabisi seluruh anggota tim.

Yah, begitulah rencana Naruto. Sendirian dididalam mobil, dia menunggu moment yang tepat di lantai 3 showroom tepat di sisi jalan yang telah ditentukan, Kuroka disuruhnya menunggu diluar. Kemudian saat melihat dari balik kaca dinding showroom adanya drone UAV yang melambat akibat tembakan Hinata terbang di atas jalanan mengekori mobil Sasuke, langsung saja dia melarikan mobilnya dengan kecepatan penuh ditambah kekuatan turbo, panjang lintasan 65 meter dilantai 3 showroom cukup untuk landasan. Lalu melompat saat mobilnya sudah terbang di udara dan membiarkan mobil itu ditabrak oleh drone.

...

Bangunan mall kota, seorang pria berambut pirang panjang mengendap dengan hati-hati. Dia, Arthur Pendragon dengan hanya berbekal sebuah handgun FN-57 atau Five-seveN di tangan kiri berniat meringkus sniper musuh yang telah menembakkan satu proyektil ke Hinata dan Sona.

Seperti yang dikatakan Hinata, lokasi sniper ada dilantai tiga dan Arthur sedang berada di sana sekarang. Dihadapannya adalah pintu ruangan manager Mall, ruangan yang arahnya persis menghadap ke bangunan yang dijadikan markas oleh Sona.

Dengan hati-hati, Arthur memutar kenop pintu.

Kriieeeet...

Pintu mengeluarkan suara deritan kecil, saat Arthur telah sepenuhnya masuk ke dalam, matanya sontak melebar karena didalam ruangan yang tidak terlalu luas ini, sang sniper yang seharusnya dia bekuk telah menunggunya di samping jendela dengan Submachine Gun ES C90 yang siap ditembakkan.

Pantas saja, Hinata tidak bisa balas menembak orang ini karena dia bersembunyi dibalik jendela sehingga tidak terlihat di scope senapan Hinata.

Tak ada mundur atau lari, Athur mengambil sebuah Light Saber atau senjata dengan nama resmi Photon Sword yang tergantung di pinggangnya. Setelah menekan tombol on, silinder itupun mengeluarkan bilah cahaya sepanjang 1,2 meter yang berfungsi sebagai bilah pedang.

Sambil tersenyum, avatar polisi bertubuh gempal itu tanpa peringatan langsung menembaki Arthur secara membabi buta.

Dordordordordordor . . . . . . .

Menghadapi serbuan peluru dari jarak dekat, Arthur malah maju menerjang sang polisi. Walau ada puluhan peluru yang dimuntahkan setiap detik, namun dengan kelihaiannya menggunakan pedang ditangan kanan, serta ditunjang catatan statistik Speed dan kecepatan respon otaknya yang sangat tinggi, Arthur mampu menangkis semua peluruh di dalam jalur Bullet Line yang terarah ke tubuhnya. Meski beberapa peluru sempat menggores paha dan pinggangnya, namun bagian vital tetap terlindungi. Hingga saat jarak nol, Arthur menodongkan pistol Five-seveN di tangan kirinya tepat di dahi si polisi.

Dor...

Tanpa sempat terkejut untuk sekedar mengagumi ketangkasan Arthur, tamatlah riwayat sang polisi.

Arthur membuang nafas panjang, selama bergerak di tengah serbuan peluru, dia bahkan tidak bernafas sedikitpun. Nilai Healthpoint-nya berkurang 60% akibat beberapa peluru yang mengenai badannya.

Muncul notifikasi di langit, menandakan bahwa satu anggota tim polisi kembali tewas.

...

Seorang polisi berkacamata, tampak seperti seorang ahli bom, sedang berlari-lari kecil dengan banyak bahan peledak di ranselnya.

Dia bukan mau melakukan aksi bom bunuh diri, tapi dia melakukan serangan diam-diam. Targetnya adalah ruang basement yang difungsikan sebagai tempat parkir. Sebagai ahli bom, dia tentu tahu dimana titik-titik kritis sebuah bangunan yang jika diledakkan, maka sanggup membuat bangunan langsung runtuh seakan ditelan bumi. Bangunan yang ia incar adalah bangunan yang dijadikan markas oleh Sona sekaligus posisi Hinata melakukan aksi sebagai sniper.

Saat ini dia sedang fokus memasang satu bom C4 pada salah satu tiang utama yang tertanam di pondasi bangunan. Saking fokusnya sehingga dia tidak menyadari...

Cklekkkkk . . . .

... kalau sebuah moncong laras senjata telah menempel di belakang kepalanya. Ditodongkan oleh seorang gadis kecil imut.

"Phuhiiiiii,,,, Le-Fay yang imut akan menjadi malaikat kematianmu hari ini." si gadis kecil mengatakan hal itu tanpa ragu, dengan senyum manis seperti seorang psikopat dia siap menarik pelatuk Shotgun Leone 12 Gauge Super. Tak apalah membunuh karena ini hanya sebuah game walaupun untuk dirinya sendiri menjadi game kematian.

Si polisi ahli bom merasa tak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun bukan berarti ia menyerah. Hanya dia dan playmaker timnya saja yang tersisa, jadi paling tidak harus membunuh perampok satu saja agar timnya yang disebut-sebut sebagai gamer pro tidak dipermalukan.

Tangan kiri si polisi bergerak ke pinggang untuk mengambil pistol, namun.

DORRRR...

Kepalanya keburuh pecah berhamburan sebelum dia sempat melakukan apa-apa. Itulah efek tembakan shotgun dari jarak dekat. Proyektil shotgun berbeda dengan senjata lain, dia akan pecah menjadi proyektil-proyektil kecil yang meremukkan targetnya. Apalagi tadi Le Fay menembak dari jarak nol.

"Mwahahahaaaaaa... Aku dapat satu." kata Le Fay senang. Mana mungkin dia memberikan kesempatan bagi lawannya untuk melawan balik.

Memang ini lah tugas Le Fay. Tugasnya adalah menjadi Stealth Player atau pemain siluman untuk melindungi markas dan membunuh siapapun yang mendekat. Skillnya ini di dukung dengan jubah ala penyihir yang dia gunakan. Jubah yang ia beli dari toko senjata. Jubah ini tidak memiliki fungsi seperti kevlar untuk melindingi tubuh, tapi punya fungsi untuk menyamarkan pemakainya sehingga jadi tampak seperti pemain siluman.

Posisi Le Fay di bawah area sekitar markas sudah ditentukan sejak awal oleh Sona. Tentu saja karena Sona sudah memperkirakan kalau sampai posisinya ketahuan musuh, maka pasti akan ada musuh yang datang ke tempat ini.

...

Selang beberapa menit, Mitsubishi Lancer Evolution X hampir tak berbentuk yang dikemudikan Sasuke sampai di depan bangunan markas tim perampok dengan membawa berangkas baja. Naruto dan Kuroka juga ada didalam mobil itu.

Vali dan Sakura telah ada lebih dulu disana. Tentu saja setelah berhasil membereskan satu tank musuh dengan senjata berat milik Sakura. Hanya Hummer H2 milik Vali yang masih bagus, sedangkan Lamborghini Naruto sudah tak ada lagi karena hancur berkeping-keping.

Arthur dan Le Fay juga sudah ada disana, bahkan Sona dan Hinata telah turun dari atap.

Mereka bersepuluh berkumpul di depan bangunan yang di jadikan markas.

"Apa kita sudah menang?" Kuroka mengeluarkan suaranya lebih dulu.

"Belum, masih ada satu orang lagi."

Sona menjawab setelah mengarahkan telunjuknya ke langit. Ada tulisan bahwa sembilan polisi telah tewas, sedangkan permainan ini adalah permainan tim 10 Vs 10, artinya ada satu polisi lagi yang masih hidup. Waktu pun belum selesai, masih ada 2 menit lagi sebelum permainan dihentikan oleh sistem.

Naruto dan Sasuke menghabisi dua polisi sebagai permulaan, lalu Hinata dapat dua saat tembakannya mengenai pengemudi mobil yang membawa minigun. Sakura dapat satu berkat RPG-7V miliknya, dan Vali menambrak dua buah mobil Ford Interceptor hingga hancur, dua mobil ini masing-masing dikendarai satu polisi tanpa pendamping atau navigator. Tank yang dihancurkan Sakura ternyata dikendalikan oleh seseorang dari jauh, entah bagaimana caranya mereka memodif benda itu padahal hampir semua Tank yang ada di dunia perlu manusia berada didalam untuk mengendarainya. Lalu sisanya dua orang lagi dihabisi oleh Arthur dan Le Fay.

"Bagaimana sekarang, apa kita harus berpencar dari mencari satu polisi yang tersisa.?" tanya Naruto.

"Dia pasti playmaker yang mengatur strategi, mengendalikan Tank dan Drone dari suatu tempat." kata Sasuke menyambung ucapan Naruto.

"Tidak perlu." Bikou menyanggah dengan ekspresi santai.

"Hah?"

Sembilan orang lainnya mengernyit heran karena Bikou seenaknya saja memutuskan sesuatu tanpa berpikir panjang.

"Tuh...!" Bikou menunjuk ke ujung jalan dari tempat mereka berdiri.

Semuanya terkaget karena truk kontainer pembawa item sedang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Dalam kepanikan, semua orang berlarian ke segala arah untuk mencari tempat aman dari jalur tabrakan truk.

Namun, Bikou malah berdiri tenang sambil menyeringai menatap langit lalu berteriak,

"I'm The Real MVP."

Klik...

Bikou menekan tombol merah dari alat kecil yang dipegangnya.

KABOOOOMMMMMMM...

Truk kontainer meledak, ledakannya cukup kuat untuk menghaburkan seluruh badan truk tanpa sisa. Api menjalar kemana-mana, bahkan asap hitam membumbung tinggi ke udara. Truk itu meledak pada jarak 100 meter dari posisi Bikou.

Player kesepuluh dari tim polisi mati bersama dengan ledakan truk kontainer.

Muncul hologram notifikasi dilangit, "Congratulation, You Win" yang tertuju untuk tim perampok.

Bikou mengulas senyum kemenangan, tanpa menunggu ditanya dia berkata dengan nada pongah pada semua anggota tim, "Saat aku berhasil membuka pintu belakang kontainer, aku menyadari kalau hanya bagian luar kontainer saja yang dijadikan immortal object oleh penyelenggara game sedangkan bagian dalamnya tetap bisa dihancurkan. Aku tidak terlalu memikirkannya, jadi ku tinggalkan saja satu bom C4 di dalam sana. Kemudian aku merasa kalau pengemudi truk yang menggantikan NPC seperti membuat dirinya terlupakan dalam permainan, itulah yang mebuatku yakin bahwa dia polisi yang bertindak sebagai pemimpin, mengendalikan Tank dan Drone UAV. Jadi dia pasti akan kembali pada kita, dan aku menunggu saat-saat terakhir tadi untuk menekan detonator bomnya. Lalu Voillaaaaa, aku membuat Last Attack. Hahahahahaaaa. . . . Aku pintar kan?"

Krikkrikkrik...Krikkrikkrik...Krikkrikkrik...

Rupanya tak ada satupun yang menghiraukan ucapan sombong Bikou. Mereka semua tampak sibuk dengan berangkas baja yang tampak sangat sulit dibuka.

"Dih, kalian semua tak tahu terima kasih." Bikou bersungut kesal, persis seperti monyet yang tertipu oleh pisang mainan.

.

.

.

-3 jam kemudian-

Ini adalah kota awal, pusat dari dunia game GGO tempat semua player berada jika sedang tidak ada quest atau hunting. Sebuah bangunan apartemen, di lantai 26, ada sepuluh orang berkumpul. Tim Sona yang baru saja memenangkan permaian polisi-perampok, menang telak dengan menghabisi seluruh polisi tanpa kehilangan satu anggota pun walau tidak mendapatkan hadiah empat kali lipat karena game diselesaikan lebih dari 30 menit.

Kamar apartemen ini disewa oleh Arthur dan Le Fay. Disewa untuk dua bulan sampai misi di dunia virtual selesai. Hanya mereka berdua yang memikirkan tempat tinggal, sedangkan anggota Party lain malah membeli barang-barang mahal seperti sportcar mewah atau senjata-senjata yang jarang terpakai walau pada akhirnya berguna juga pada permainan sebelumnya.

Naruto si gadis imut berambut pirang twintail duduk di pojok ruangan, pundung tanpa gairah hidup.

Sona yang prihatin mendekati sosok yang sebenarnya seorang pria. "Emmm, Naruto-san." kata Sona setelah ia menepuk pelan pundak Naruto.

"Hiks..." Naruto menunduk dan menangis tersedu-sedu.

Sona membatin, 'Apa-apaan ini? Pemuda yang kusukai ternyata tak lebih dari anak cengeng.'

"Sudahlah, Naruto-san. Relakan saja mobilmu." kata Sona lembut.

"Hiks,,, tidak. Mobil itu sangat berharga tahu, aku susah payah mengumpulkan uang untuk membelinya."

Oh, masih tentang mobil ternyata.

"Begini saja deh. Kalau kita berhasil pulang ke dunia nyata dengan selamat, aku akan membelikan mobil Lamborghini baru untukmu. Ada Lambhorgini Aventador yang jauh lebih canggih daripada milikmu disini."

"Eh, benarkah?" Naruto mendongak, tatapan penuh harap ia tujukan pada Sona.

"Hu'um, aku sungguh-sungguh." Sona tak asal berjanji, dia pewaris keluarga iblis kaya raya, tak sulit kalau hanya membeli sportcar mewah.

"Whoooaaa,,," Naruto menggenggam kedua tangan Sona, mengakibatkan gadis berkacamata itu tersipu malu. "Yei, arigatou Sona-san."

Sona tersenyum senang akan hal itu.

"Ekhhem..." ada seseorang berdehem didekat Naruto dan Sona.

Sona tak mendengar karena hatinya sedang berbungan-bunga, sedangkan Naruto asik membayangkan mobil mewah barunya nanti.

"Ekhkhheeemmmmm..." dia berdehem lagi, kali ini lebih lama. Rupanya si wanita dewasa, Sasuke Uchiha.

"Etto..." Sona segera sadar, dahinya mengkerut karena hal barusan.

"Hn. Aku juga ingin."

"Eh? Ingin apa?"

Sasuke memalingkan muka, seumur-umur memohon pada orang lain adalah hal paling memalukan dalam hidupnya. Itulah tipikal keturunan Uchiha.

"Errr..." Sasuke tampak sangat berat mengatakan keinginan hatinya.

Sona mengerti, Sasuke juga ingin dibelikan mobil di dunia nyata nanti, mobil persis sama dengan Mitsubishi Lancer Evolution X di dunia virtual ini, tentu sekalian dengan modifikasinya menjadi mobil balap.

Dasar... Kedua pemuda pahlawan dunia shinobi ini benar-benar memalukan.

Kembali fokus, mereka bersepuluh sedang ada di ruang tengah. Sebuah benda metal berwarna perak berbentuk bangun oktahedral terletak atas meja. Itu lah item yang diperebutkan dalam permainan polisi-perampok, mereka mendapatkannya bersama dengan hadiah yang menjadi hak mereka.

Saatnya melakukan hal penting,

"Kumulai sekarang."

Ucapan singkat Hinata barusan sukses membuat suasana jadi tegang, hawa berat menyelimuti seisi ruangan. Mereka semua menahan nafas, kecuali...

"Bisa santai sedikit?" pinta Naruto dengan ekspresi heran, "Tidak akan ada hal buruk, aku sudah beberapa kali mengalami hal seperti ini."

Memang bagi Naruto yang berpetualang sejak awal bersama Hinata, hal seperti ini bukan apa-apa, tapi lain halnya dengan delapan orang lainnya yang baru pertama kali mengalaminya.

Hinata mengeluarkan cube berwarna hitam metalik dari telapak tangannya. Kemudian dengan menyusun ulang sususan piece di setiap sisi, Cube pun bercahaya lalu terciptalah sesosok tubuh dari cahaya itu. Sosok perempuan manis yang memakai seragam sailor putih dengan bawahan rok biru. Gadis bertubuh mungil itu memakai kacamata dengan rambut pendek berwarna putih abu-abu sedikit keunguan.

Gadis itu mulai mengulas senyum di bibirnya dan mulai bicara, "Selamat, kalian telah menyelesaikan Quest dari Cardinal System di dunia virtual ini."

"Ahh, arigatou."

Hanya Sona yang membalas ucapan selamat dari Yuki Nagato. Mungkin dia saja yang memperlakukan gadis mungil ini sebagai makhluk hidup, bukan hanya sebagai program AI.

Tanpa menunggu waktu lama, Yuki Nagato mengambil item berbentuk oktahedral, kemudian tampak ada cahaya yang mengalir dari tangannya ke benda itu, persis seperti aliran bilangan-bilangan biner pada saat transfer data.

Sesaat kemudian, item dari dunia game virtual itupun bercahaya lalu membentuk sesosok tubuh. Seorang gadis mungil yang tampak lebih muda dari Le Fay, rambutnya hitam tergerai hingga paha dengan iris mata berwarna coklat. Dia memakai longdress sepaha tanpa lengan berwarna putih.

Gadis yang baru muncul itu nyengir gaje dan, " Yohalooo..." dengan riangnya dia menyapa semua orang.

Krikkrikkrik...

Krikkrikkrik...

Dari semua anggota party, tak ada satupun yang tahu harus bersikap seperti apa. Yang muncul ini kan hanya sebatas program AI. Seharusnya, sikapnya tak beda jauh dari si muka datar tanpa ekspresi, Yuki Nagato.

"Etto,,,, Halo juga." hanya Naruto yang balas menyapa, "Errrrr..." tapi ia belum tahu siapa nama si gadis berambut hitam panjang ini.

"Kyaaaaaaa..."

Tak ada yang tak melotot tatkala gadis yang menjadi pusat perhatian memekik girang.

"Kawaiiii..."

Lebih mengejutkan lagi saat dia menerjang dan memeluk erat Naruto, Naruto dalam versi perempuan.

"Siapa namamu, manis?" tanyanya dengan nada genit.

Apa-apaan lagi sekarang? Ada program AI yang menderita kelainan mental dan seksual, padahal tubuhnya masih seperti anak kecil.

"Ett..."

Huffthuffthufft

Si gadis kecil mengendus-ngendus bau badan Naruto.

"Ah tidak. Siapa namamu tampan?" tanyanya lagi dengan seulas seringaian di bibir.

"He?" Naruto melongo, jadi gadis kecil program AI yang berhasil mereka dapatkan hari ini mengenali gender aslinya. "Nna-Naruto." kata Naruto tergagap. Bukan malu, tapi tak tahu lagi harus merespon bagaimana.

chiittt...

"Hyaaaannnnn..."

Sambil tetap memeluk, si gadis virtual mencolek dan menekan puncak dada Naruto versi perempuan, membuat si empunya mendesah hebat kegelian. Lalu tiba-tiba Naruto berubah ke wujud asli sebagai laki-laki.

"Nah kan, begini lebih baik."

Whoooaaa. Hal yang mengejutkan. Ternyata program AI bisa melakukan apapun yang dia mau didalam dunia game virtual, walau caranya terbilang sedikit ekstrim.

Segera saja Sasuke dan Vali versi perempuan maju ke depan, dia menatap si gadis virtual dengan tatapan memohon. Mereka rela dipencet dadanya asal kembali jadi laki-laki.

"Siapa kalian?"

"Ak-..."

"Kalau kalian memintaku mengembalikan gender kalian, aku tidak mau. Kalian tidak menarik."

What the F***.

Ketika yang lain menertawakan nasib memilukan Sasuke dan Vali, beda halnya dengan Hinata.

Wanita keturunan Bangsawan Hyuga ini malah menyeringai senang, lebih mirip seringaian mesum. Suaminya kembali seperti semula, jadi bisa melakukan hal 'begini-begitu' sepuasnya. Dia sadar melakukannya di dunia virtual ini rasanya tidak akan sehebat di dunia nyata, tapi tetap saja kan nafkah batiniah itu harus di penuhi. Hinata mana tahan dua bulan hanya tidur dihangatkan selimut tanpa tambahan kehangatan belaian tangan kekar sang suami. Meski saat ini rasanya hanya seperti mimpi, tapi tak apa lah. Saat masih remaja sebelum menikah, dirinya sendiri sering memimpikan melakukan hal 'begituan' dengan Naruto. Begitulah kira-kira isi pikiran mesum Hinata.

"Ekhkhem..." Sona berdehem keras. Ini bukan saatnya main-main. "To the point saja, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"

Pertanyaan tegas Sona ditujukan kepada si gadis Virtual.

"Okay. Karena kesadaranku telah di bangunkan oleh kakakku, jadi aku sudah tahu kondisinya sekarang."

Yang dimaksud olehnya adalah tentang keruntuhan sistem multiuniverse yang membawa kiamat pada seluruh semesta. Tentu saja dia menyadarinya karena eksistensinya memang sengaja diciptakan Cardinal System hanya untuk tujuan itu.

Meski Tim Vali masih belum tahu seluruhnya, mereka tetap bersabar menunggu Naruto yang memberitahu secara sukarela. Hubungan mereka sebagai partner hanya dilandaskan rasa hormat sebagai teman, itu saja sudah cukup.

"Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri lebih dahulu. Matrix Transporter Space-Time Module Program, Purwarupa 1. Sebuah Program Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) dengan codename: Yui. Tugasku adalah menjalankan instruksi untuk membawa pengguna Matrix menuju awal mula penciptaan, The Beginning of Creation. Avatarku ini pernah digunakan sebelumnya oleh seseorang, tapi dia hanyalah tiruan rupa fisikku dengan isi program berbeda. Aku di ciptakan khusus untuk tugas yang telah ditetapkan Cardinal System. Aku yang sekarang memiliki ID untuk menghubungkan akses antara Matrix dengan Cardinal System, tapi untuk melakukan itu, aku memerlukan sebuah konsol."

"Intinya kalian harus melakukan sebuah Quest lagi." sambung Yuki Nagato.

Yui tersenyum senang, "Konsol yang kubutuhkan tersimpan rapi dalam Bank di salah satu Map dalam game virtual ini."

.

.

.

Sembilan hari telah berlalu semenjak permainan anak-anak Perampok Vs Polisi. Sepuluh avatar sedang menuju ke altar khusus sebagai titik untuk mentransfer tubuh mereka ke Map permainan baru. Mereka adalah sebuah party khusus yang datang dari dunia lain untuk misi penting.

Dua orang dari sepuluh berjalan pelan paling belakang. Satu diantaranya adalah pemuda berbadan tegap dengan kulit tan kecoklatan bernama Naruto, sedangkan satunya lagi perempuan berambut pink sebahu, Haruno Sakura.

Naruto tampak berjalan tenang, hingga suara gadis di sebelahnya menarik atensinya.

"Neee, Naruto. Apa kau tidak merasakan sesuatu?"

"Maksudmu?" Naruto menoleh dan mendapati raut muka serius dari Sakura.

"Aku bicara tentang istrimu, tenang Hinata-chan."

Ekspresi Naruto sedikit berubah, "Kenapa memangnya? Katakan saja semuanya padaku."

"Kau tahu sendiri kan, aku sudah cukup lama tidak bertemu Hinata-chan sejak kalian pergi dari Konoha. Sudah hampir lima bulan kita berpisah. Aku merasakan jelas Hinata-chan yang sekarang sangat berbeda dengan dulu."

"..."

Sakura melanjutkan ucapannya, "Saat permaian yang kemarin, Hinata-chan tak segan sedikitpun membunuh, menembak musuh tepat di kepala dengan senapannya tanpa perasaan, bahkan tertawa senang setelah melakukan itu. Aku akui kemarin itu hanya sebatas permaian, tapi tetap saja..., membunuh orang lain. Aku memang tak tahu apa yang telah dilakukan istrimu di dunia nyata, tapi aku melihat sangat jelas perubahan pribadi Hinata-chan. Aku tahu betul istrimu itu wanita yang sangat lembut dan penyayang pada semua makhluk hidup, bahkan dia tidak tega melukai lawan bertarungnya walau musuh sekalipun. Sangat tidak mungkin dia menjadi seperti sekarang ini tanpa ada sebabnya."

Naruto berhenti berjalan lalu menatap Sakura intens, kedua tangannya dia daratkan di bahu Sakura. Si gadis musim semi pun balas menatap Naruto. "Kau tak perlu memberitahu sedetail itu karena sifat dasarku yang kurang peka, tapi untuk hal ini aku lebih tahu darimu, Sakura-chan."

"Yah, hanya saja karena kau selalu bersamanya, kupikir kau tidak menyadari perubahan itu. Biasanya kan suami istri yang selalu bersama tidak menyadari kalau mereka sudah tua bahkan punya cucu saking bahagianya hidup mereka, apalagi hal lain. Jadi apa saja yang terjadi selama kalian pergi dari Konoha hingga Hinata-chan menjadi seperti ini?"

Naruto tersenyum tipis, "Terima kasih untuk perhatianmu pada kami, Sakura-chan. Tapi kami bisa mengatasinya sendiri."

Sakura berusaha membalas senyum Naruto, "Baiklah kalau kau tidak mau memberitahukan semuanya padaku, tapi aku hanya ingin mengingatkanmu. Saat ini, pikiranmu dan pikiran Hinata berjalan di jalur yang berbeda. Hubungan kalian mungkin sudah berada di ujung tanduk."

Naruto tidak membantah. Dia dan Sakura terdiam beberapa saat hingga,

"Hoooiiii. Naruto-san, Sakura-san. Ayo cepat kemari, pertandingan akan segera di mulai nyaaannnnn~~~."

Teriakan cempreng Kuroka menarik Naruto dan Sakura ke kenyataan. Ada hal yang harus mereka hadapi saat ini.

Segera setelah sepuluh orang berkumpul di altar, semuanya pun langsung ditransfer oleh sistem menuju Map permainan yang baru.

. . . . . .

Berlokasi di sebuah kota padat penduduk, New York, di tempat inilah permainan dilangsungkan.

Kesepuluh anggota tim telah tiba di tempat, mereka baru saja sampai setelah perjalanan singkat. Selama di transfer, mereka diberitahu beberapa hal tentang permaian yang harus mereka selesaikan.

Bibir Naruto mengkerucut, "Apa tidak ada permaian lain selain merampok ha?"

"Errrr..." Tak ada yang tahu bagaimana menanggapi ocehan Naruto, bahkan jika itu istrinya sendiri. Hinata malah sibuk menertawakan tingkah lucu suaminya.

"Tch, aku ini orang baik, tapi massa disuruh melakukan kejahatan sih?"

Lagi Naruto menggerutu.

"Game sialan! Mencoreng nama baikku saja." Bahkan Naruto sudah mengeluarkan sumpah serapahnya.

"Sudahlah Naruto-kun, mengeluh tidak akan membuat permainan ini selesai." Hinata tersenyum sambil mengelus-elus pelan bahu Naruto, berusaha menenangkan emosi suaminya.

"Mwuuuu,,,, peluk." pinta Naruto yang tiba-tiba berubah jadi manja.

Hinata dengan senang hati melakukannya. Tapi,

"Hn. Kau menjijikkan, Dobe."

Ada saja yang berkomentar.

"Kau mau aku peluk juga, Sasuke-kun?" tanya Sakura manja. "Ayo sini." ajaknya dengan merentangkan tangan siap memberikan pelukan.

"Hn."

Anggap saja itu tanda setuju.

Vali, dirundung kekesalan. Bukan cemburu atau apa, hanya saja dia tidak rela dengan kenyataan bahawa kekuatannya saat ini sebagai hybrid keturunan iblis legendaris dan manusia pemilik kekuatan Kaisar Naga Putih masih dibawah dua pria aneh yang bertingkah menjijikkan itu. Satu seperti anak manja, satunya lagi tsundere irit bicara.

Satu hal yang harus di ingat, wujud Sasuke dan Vali sudah kembali seperti semula. Mereka mendapatkan avatar sesuai dengan tubuh dan gender asli. Ini berkat usaha keras mereka membujuk Yui. Berhasil, walau mereka seharian penuh harus merelakan diri menjadi budak program AI yang bertingkah sok tuan putri. Tentu saja sebagai sentuhan akhir sebelum menjadi laki-laki, dada mereka dipencet oleh Yui hingga membuat mereka merem melek mendesah keenakan.

Bikou, Arthur, Kuroka, dan Le Fay sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Yang jelas ini baru pertama kali mereka ke New York. Walaupun bukan New York sungguhan.

Sona, tampak dia saja yang normal. Gadis berkacamata ini memijit keningnya, pusing meratapi takdirnya, memimpin orang-orang tak waras yang anehnya diberkahi kemampuan luar biasa dengan tanggung jawab besar.

"Hoi, kalian semua dengarkan aku!"

Mau tak mau sembilan anggota party nurut seperti anjing pada tuannya.

"Aku sudah mengerti betul seluk beluk permainan kali ini. Misi kita adalah merampok Bank. Ini adalah event bulanan dan pelaksanaannya selama tiga hari penuh. Kota ini didesain sangat mirip dengan aslinya, lengkap dengan warga kota yang semuanya adalah NPC beserta aktifitas harian mereka. Bank memiliki sistem keamanan canggih terkomputerisasi, dan di jaga oleh satu pasukan elit militer. Pasukan itulah sebenarnya lawan kita. Mereka adalah player top dari berbagai negara."

Anggota party mendengarkan dengan seksama.

"Sesuai aturan, sistem game memberi batasan pada senjata yang boleh kita bawa. Primary Weapon dengan satu set amunisi, Secondary Weapon, Malee, tambahan beberapa granat serta perlengkapan khusus lainnya, dan kevlar rompi anti-peluru. Karena senjata dan amunisi kita disini terbatas sedangkan musuh adalah pasukan elit militer terorganisir dengan persenjataan lengkap, kita tidak bisa bermain sembarangan. Kita punya waktu tiga hari disini, hari pertama untuk mengumpulkan informasi tentang seluk beluk seluruh kota terutama Bank dan sistem kemananannya, hari kedua tahap perencanaan dan persiapan, lalu hari ketiga eksekusi. Ingat, tidak ada yang boleh gugur dalam permainan ini. Kita hanya punya satu nyawa dan kehilangann nyawa disini sama artinya kita mati di dunia nyata."

"Siap, Komandan!"

Permainan yang ada di MAP ini sebenarnya tidak rumit. Sistem menyediakan satu Quest-Map khusus dengan desain kota metropolitan. Ada sebuah Bank yang didalam berangkasnya tersimpan item langka. Mulanya bank dijaga oleh sekelompok NPC AI yang diciptakan oleh sistem. Permainan dilakukan oleh sekelompok tim yang terdiri maksimal 15 orang yang bertugas merampok Bank. Setelah setengah tahun, baru lah ada tim yang berhasil menyelesaikan Quest itu.

Kemudian sejak saat itu terjadi perubahah besar pada Quest-nya. Bank tidak lagi dijaga oleh NPC AI, tapi oleh tim pemenang yang berhasil merampok item langka dari Bank tersebut. Event quest dilakukan setiap satu bulan sekali, dan selalu ada tim penantang yang menjadi perampok. Mereka berjuang keras untuk mengambil item dari berangkas lalu menggantikan tim tuan rumah sebagai penjaga keamanan Bank.

Quest ini menjadi salah satu quest paling diincar karena jika berhasil menjadi pemenang dan menjaga Bank, maka akan mendapatkan hadiah fantastis serta gaji bulanan yang sangat besar dari sistem. Uang yang sangat banyak dan adanya sistem RMT atau Real Money Trading dalam GGO membuat tak satupun player yang tak tergiur. Setiap bulan ada banyak tim yang mendaftar untuk event ini, kemudian diselenggarakan lah babak kualifikasi untuk menentukan tim mana yang berhak maju.

Saat bertugas, tim keamanan diberikan hak untuk menyewa jasa player di luar party untuk membantu mengamankan Bank. Maksimal jumlah player yang menjaga Bank totalnya 30 orang. Tim keamanan ini pun diberikan hak lebih banyak oleh sistem dalam pengadaan senjata dan amunisi. Memang tim kemanan Bank lebih diuntungkan, tapi inilah bagian menariknya untuk tim penantang, mereka diharuskan membuat stategi sebaik-baiknya.

Tim keamanan Bank saat ini, sudah 9 bulan menjadi tuan rumah, tak pernah sekalipun kalah dalam sembilan pertandingan berturut-turut. Bahkan catatan statistik tim mereka sangat bagus, kerugian paling besar selama tim itu bertugas hanyalah kehilangan 4 orang anggota. Sisanya Clear, setiap tim penantang mereka habisi tanpa perlawanan sengit.

Dan mereka lah tembok raksasa yang harus diruntuhkan Tim Sona. Bagaimanapun caranya...

. . . . . . .

Hari eksekusi, malam hari. New York in Virtual Word.

Tim yang dipimpin Sona mulai beraksi. Pemilihan waktu malam hari tentu dengan pertimbangan khusus. Mengambil sudut pandang mereka, aksi menegangkan akan segera dimulai.

Dari balik huru-hara glamournya kehidupan malam Kota New York, sebuah kilatan cahaya terpantul dari lensa kacamata diantara kerlip keramaian lalu lalang penjalan kaki. Sona, yang saat ini memakai baju kerja wanita karir dengan atasan kemeja coklat dengan bawahan rok sepan hitam ketat. Dia sedang berjalan kaki, sekali lagi dia menjadi pengkomando dalam permainan. "Samakan waktu jam tangan kalian, sekarang 08.57 pm. Team A, sudah di posisi?" ucapnya dengan suara pelan.

"Yes, Madam."

"Team B, perhatikan waktu. Maju pada menit ketiga setelah serangan dimulai."

"Ok."

Semua anggota tim terhubung lewat saluran komunikasi radio interkom. Sona membagi tim menjadi dua kelompok kecil. Kedua kelompok membaur dengan seluruh NPC penduduk kota. Inilah salah satu keuntungan yang diberikan sistem pada tim penantang. Jumlah personel tim, wajah dan avatar, serta spesifikasi senjata mereka tidak diberitahukan kepada tim kemanan, sehingga mereka bisa lebih leluasa dalam mengeksplor taktik dan strategi.

Memanfaatkan situasi Bank yang ternyata buka 24 jam, Sona menerapkan strategi gerilya dengan menjadikan semua anggota party sebagai Stealth Player yang aktif maju ke garis pertahan musuh.

Setelah melewati pintu kaca otomatis, Sona duduk anggun menunggu di kursi ruang utama Bank, dia berhasil menginfiltrasi kedalam jantung wilayah musuh. Tampak jelas di matanya, beberapa NPC yang bertindak sebagai teller Bank sedang bekerja, puluhan nasabah Bank yang melakukan transaksi, serta beberapa tubuh kekar laki-laki yang di yakini sebagai player penjaga keamanan Bank alias musuh.

Ini keutungan lain, Sona bisa mudah mengidentifikasi lawannya karena sistem memberikan keharusan bagi tim player keamanan Bank memakai seragam sebagaimana seharusnya pasukan keamanan di dunia nyata.

Sona mengetuk-ngetukkan jari-jemari tangannya yang berada di paha. Tidak ada yang mengenalinya, pakaian yang ia gunakan persis sama dengan pakaian kerja para NPC. Bibirnya mengulas senyum tipis sambil melihat gerakan detik jam tangan menuju angka 12. Delapan detik menuju jam sembilan.

Moment saat jarum jam tangan Sona membentuk sudut Siku,

KABOOMMMMM...

Terdengar ledakan keras dari samping kiri bangunan Bank. Kaca depan bangunan pecah berkeping-keping karena getaran kuat, belingnya berhamburan kemana-mana.

Sepuluh detik kemudian,

KABOOMMMM. . . .

Ledakan yang sama kuatnya terdengar dari sebelah kanan Bank.

Seluruh pengunjung Bank tampak panik, semua NPC dari nasabah, teller, OB, bahkan pejalan kaki yang berlalu lalang disekitar TKP langsung bergerak tak beraturan. Sistem GGO sangat handal dalam membuat simulasi, bahkan NPC pun diciptakan mampu merespon setiap kejadian meniru keadaan didunia nyata.

Sona ikut membaur dengan para NPC yang dilanda kepanikan.

Permainan sesungguhnya pun,,,,,,,,,,,,,, dimulai.

.

.

.

TBC...

.

Note : Yoshh, lumayan eh jumlah wordnya. Sesuai juga ngaret updatenya. Hahahaaaaa... Aku umumin, satu FF Multichapter yang update bersamaan sudah tamat, jadi kemungkinan besar jadwal up FF ini bisa kembali normal karena fokusku ga terbagi lagi.

Materi chapter ini kukumpulkan dari berbagai sumber, jika ada kesalahan mohon koreksinya. Dan yang kurang paham, berarti harus lebih rajin lagi membaca. Pengetahuan itu luas. Hahahaaa.

Chapter ini aku mengeksplor banyak peralatan tempur militer yang mungkin digunakan dalam sebuah tim tanpa batasan. Jadi jangan terkejut dengan munculnya Tank, Drone UAV, bahkan peralatan kapal perang anti-rudal CIWS.

Chapter depan masih bermain di GGO, tapi sekalian pulang ke DxD Universe dan kita akan langsung berlabuh ke Rumania, negri para Vampire.

Kalau ada reader yang senang materi adu strategi, ya bagus, sesuai dengan chapter ini. Tapi untuk reader yang kurang suka, saya rekomen baca pertarungan all-out dua ninja superior dalam pertandingan final Jounin Exam, Uzumaki Vs Uchiha. Ada tuh di chapter 49-50 FF My Cute Sister di akun ini. Chapter 50 aku menyajikan pertempuran dua monster, The True Angel Susano'o Vs Ninetails Fox Goddess Bijuu Mode. Yang suka baca pertempuran all-out, langsung meluncur kesana ya. Sebagai ganti chapter ini yang sedikit menguras otak, sekalian promosi FF baru tamat. Hahaaaaa.

Ulasan Review:

Kita masuk di GGO yah bukan game genre fantasy, jadi ga ada levelling avatar pemain. Asal punya skill ditambah memenuhi syarat statisik minimum untuk memegang senjata, maka sudah bisa bermain. GGO di FF ini aku buat se-'Real' mungkin dengan materi asli dari dunia nyata.

Latihan Tim Naruto sengaja aku skip, tapi saat permainan aku munculkan hasil latihan mereka. Contohnya Drive Skill Naruto dan Sasuke, Agility Hinata sampai menjadi Sniper, lalu bakat Intelligence Sona menjadi pemimpin operasi.

Yang nanya kenapa Naruto, Sasuke, Vali jadi perempuan. Ga ada maksud khusus kok, iseng aja, biar ga terlalu serius. Walaupun mungkin agak susah ngebayangin genderbender mereka.

Dalam GGO, ga ada special item kayak di game fantasy. Semua senjata didapat dengan membeli, bagi yang punya uang tentunya. Bisa juga dengan merakit, tapi setelah membeli bahan-bahannya.

Tentang GM (Game Master) GGO, aku buat tidak menyadari kedatangan Naru dkk. Anggap saja itu hasil kerja Yuki Nagato, Program AI dari Cube yang meretas database system game.

Untuk masalah di DxD Universe, tenang aja. Ga bakal kemana-mana kok, malahan udah mengkerucut, seperti yang kusebut di akhir chapter 48. Arc ini anggap saja filler.

Yang membahas bagaimana Naruto dan Hinata mau 'begini-begitu' dalam dunia Virtual, bayangin masing-masing aja ya. Aku lempar imajinasinya sebebas dan semau kalian, dan aku tidak bertanggung jawab untuk itu.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

...

.