Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya

Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .

Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance

Rate : M

Setting : AU (Alternate Universe)

Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.

Pair : Semua Pair Canon

Selasa, 23 Agustus 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya. . . .

Naruto menoleh dan mendapati raut muka serius dari Sakura.

"Aku bicara tentang istrimu, tenang Hinata-chan."

Ekspresi Naruto sedikit berubah, "Kenapa memangnya?"

"Kau tahu sendiri kan, aku sudah cukup lama tidak bertemu Hinata-chan sejak kalian pergi dari Konoha. Sudah hampir lima bulan kita berpisah. Aku merasakan jelas, Hinata-chan yang sekarang sangat berbeda dengan dulu."

"..."

Sakura melanjutkan ucapannya, "Saat permaian yang kemarin, Hinata-chan tak segan sedikitpun membunuh, menembak musuh tepat di kepala dengan senapannya tanpa perasaan, bahkan tertawa senang setelah melakukan itu. Aku akui kemarin itu hanya sebatas permaian, tapi tetap saja..., membunuh orang lain. Aku memang tak tahu apa yang telah dilakukan istrimu di dunia nyata, tapi aku melihat sangat jelas perubahan pribadi Hinata-chan. Aku tahu betul istrimu itu wanita yang sangat lembut dan penyayang pada semua makhluk hidup, bahkan dia tidak tega melukai lawan bertarungnya walau musuh sekalipun. Sangat tidak mungkin dia menjadi seperti sekarang ini tanpa ada sebabnya."

Naruto berhenti berjalan lalu menatap Sakura intens, kedua tangannya dia daratkan di bahu Sakura. Si gadis musim semi pun balas menatap Naruto. "Kau tak perlu memberitahu sedetail itu karena sifat dasarku yang kurang peka, tapi untuk hal ini aku lebih tahu darimu, Sakura-chan."

"Yah, hanya saja karena kau selalu bersamanya, kupikir kau tidak menyadari perubahan itu. Biasanya kan suami istri yang selalu bersama tidak menyadari kalau mereka sudah tua bahkan punya cucu saking bahagianya hidup mereka, apalagi hal lain. Jadi apa saja yang terjadi selama kalian pergi dari Konoha hingga Hinata-chan menjadi seperti ini?"

Naruto tersenyum tipis, "Terima kasih untuk perhatianmu pada kami, Sakura-chan. Tapi kami bisa mengatasinya sendiri."

Sakura berusaha membalas senyum Naruto, "Baiklah kalau kau tidak mau memberitahukan semuanya padaku, tapi aku hanya ingin mengingatkanmu. Saat ini, pikiranmu dan pikiran Hinata berjalan di jalur yang berbeda. Hubungan kalian mungkin sudah berada di ujung tanduk."

.

To The End of The World

By Si Hitam

Caution: Chapter kali ini terjadi perubahan genre menjadi action military. Yang memainkan game FPS macam Counter Strike atau Point Blank mungkin akan kenal sebagian senjata besar yang muncul dalam chapter ini. Sisanya, silahkan baca sambil googling jika menemukan peralatan atau senjata-senjata yang belum anda kenal sebelumnya demi mempertajam imajinasi dan lebih menikmati action scene di chapter ini. Terima kasih.

Chapter 51. The Death Game Part 3.

-At Another World, 2027 Masehi-

. . . . . . .

Hari eksekusi, malam hari. New York in Virtual World. Sebuah Quest-Map khusus dengan desain kota metropolitan. Ada sebuah Bank yang didalam berangkasnya tersimpan item langka. Permainan dilakukan oleh sekelompok perampok yang mengincar item langka didalam bank yang dijaga oleh sekelompok polisi keamanan.

Tim perampok yang dipimpin Sona mulai beraksi. Pemilihan waktu malam hari tentu dengan pertimbangan khusus. Mengambil sudut pandang mereka, aksi menegangkan akan segera dimulai.

Dari balik huru-hara glamournya kehidupan malam Kota New York, sebuah kilatan cahaya terpantul dari lensa kacamata diantara kerlip keramaian lalu lalang penjalan kaki. Sona, saat ini memakai baju kerja wanita karir dengan atasan kemeja coklat dengan bawahan rok sepan hitam ketat. Dia sedang berjalan kaki, sekali lagi dia menjadi pengkomando dalam permainan. "Samakan waktu jam tangan kalian, sekarang 08.57 pm. Team A, sudah di posisi?" ucapnya dengan suara pelan.

"Yes, Madam."

"Team B, perhatikan waktu. Maju pada menit ketiga setelah serangan dimulai."

"Ok."

Semua anggota tim terhubung lewat saluran komunikasi radio interkom. Sona membagi tim menjadi dua kelompok kecil. Kedua kelompok membaur dengan seluruh NPC penduduk kota. Inilah salah satu keuntungan yang diberikan sistem pada tim penantang atau perampok. Jumlah personel tim, wajah dan avatar, serta spesifikasi senjata mereka tidak diberitahukan kepada tim polisi keamanan, sehingga mereka bisa lebih leluasa dalam mengeksplor taktik dan strategi.

Memanfaatkan situasi Bank yang ternyata buka 24 jam, Sona menerapkan strategi gerilya dengan menjadikan semua anggota party sebagai Stealth Player yang aktif maju ke garis pertahan musuh.

Setelah melewati pintu kaca otomatis, Sona duduk anggun menunggu di kursi ruang utama Bank lantai satu. Dia berhasil menginfiltrasi kedalam wilayah musuh. Tampak jelas di matanya, beberapa NPC yang bertindak sebagai teller Bank sedang bekerja, puluhan nasabah Bank yang melakukan transaksi, serta beberapa tubuh kekar laki-laki yang diyakini sebagai player polisi keamanan Bank alias musuh.

Ini keutungan lain, Sona bisa dengan mudah mengidentifikasi lawannya karena sistem membuat keharusan bagi setiap player tim polisi keamanan Bank memakai seragam sebagaimana seharusnya polisi keamanan di dunia nyata.

Sona mengetuk-ngetukkan jari-jemari tangannya yang berada di paha. Tidak ada yang mengenalinya, pakaian yang ia gunakan persis sama dengan pakaian kerja para NPC. Bibirnya mengulas senyum tipis sambil melihat gerakan detik jam tangan menuju angka 12. Delapan detik menuju jam sembilan.

Moment saat jarum jam tangan Sona membentuk sudut Siku,

KABOOMMMMM...

Terdengar ledakan keras dari samping kanan bangunan Bank. Kaca depan bangunan pecah berkeping-keping karena getaran kuat, belingnya berhamburan kemana-mana.

Sepuluh detik kemudian,

KABOOMMMM. . . .

Ledakan yang sama kuatnya terdengar dari sebelah kiri Bank.

Seluruh pengunjung Bank panik. Semua NPC dari nasabah, teller, OB, bahkan pejalan kaki yang berlalu lalang disekitar TKP pun langsung bergerak tak beraturan. Sistem GGO sangat handal dalam membuat simulasi, bahkan NPC pun diciptakan mampu merespon setiap kejadian meniru keadaan didunia nyata.

Sona ikut membaur dengan para NPC yang dilanda kepanikan.

Permainan sesungguhnya pun,,,,,,,,,,,,,, dimulai.

Satu hari yang lalu, saat quest sudah memasuki hari kedua. Bertempat di sebuah kamar hotel di Kota New York Virtual, kamar yang terbilang luas untuk kelas VIP, ada sepuluh orang berkumpul.

Gadis berkacamata berambut hitam pendek memulai pengarahan setelah dia menciptakan hologram 3D dari miniatur bangunan bank yang akan mereka rampok.

"Dengarkan baik-baik! Pertama aku mulai dulu dengan arsitektur dan desain interior bangunan bank yang akan kita rampok besok. Bangunan bank terletak di pusat kota di sisi jalan utama. Ada pagar yang membatasinya, antara pagar dengan bangunan utama terpisah oleh taman selebar 75 meter. Bangunan terdiri dari tiga lantai, lantai pertama tempat transaksi nasabah, lantai kedua adalah tempat kerja para akuntan dan pusat kearsipan lalu di lantai ketiga ada ruang pusat komando polisi keamanan. Berangkas yang akan kita bobol terletak di bawah tanah yang pintunya hanya bisa dibuka dengan sandi tertentu. Semua area bangunan diawasi dengan sejumlah CCTV disetiap sudut yang tersambung ke ruang pengawas dan pusat komando mereka. Interior bangunan bergaya khas ala benteng kekaisaran Romawi, minim furniture dengan banyak sekali dinding yang melengkung. Kita bisa lihat sendiri dari luar kalau secara keseluruhan arsitektur bangunan bank berbentuk bundar."

Sasuke cepat mengerti, "Lalu strategi seperti apa yang kita gunakan?"

"Tim-tim sebelum kita yang mencoba quest ini hampir semuanya gagal di awal, kesulitannya adalah masuk kedalam bangunan. Polisi keamanan diuntungkan dengan persenjataan lengkap dengan jumlah amunisi yang banyak, jumlah personel mereka juga banyak sehingga jika terjadi baku tembak normal tentu tim sehebat apapun tidak akan pernah bisa menembusnya."

"Ugh, tim yang sangat hebat saja mustahil, bagaimana dengan kita?" Bikou mengatakannya dengan nada mencibir.

"Dengarkan aku dulu sampai selesai!" kata Sona tegas, dia kapten tim saat ini, semua anak buah harus mendengarkan perkataannya. " Party kita kubagi menjadi dua yaitu Tim A sebagai attacker frontliner dan Tim B yang menusuk belakang pertahanan musuh."

"Pembagiannya?" tanya Arthur singkat.

"Naruto, Sasuke, Sakura, Vali, Arthur, dan Kuroka di tim A. Hinata, Bikou, dan Le Fay masuk tim B."

"Eh? Kau sendiri?" Naruto bingung karena Sona tak masuk tim manapun.

"Aku infiltrator yang masuk ke bank sendirian lebih dulu dan memberikan instruksi pada kalian dari dalam sana?"

"Hah? tap..."

"Percaya padaku, aku sudah memikirkan caranya." Sona memotong protesan Naruto.

"B-bbaiklah."

"CCTV yang terhubung ke pusat komando terpasang sampai ke pagar. Untuk mengatasi yang di pagar ini, kita sebisa mungkin membaur dengan warga NPC yang seringkali berlalu lalang disekitar Bank. Pakai saja cara klasik seperti menyamar sebagai penjual hotdog keliling atau apapun yang penting kita bisa mendekat ke pintu gerbang dan membawa senjata tanpa diketahui oleh polisi yang berada di ruang pengawas CCTV mereka."

"Bagaimana kalau ada polisi disekitar gerbang yang mengenali kita?" tanya Kuroka.

"Tak akan ada, yang digerbang hanyalah NPC satpam, mereka tak melawan. Aku sudah meneliti bagaimana strategi yang digunakan pasukan polisi keamanan pada permainan ini sebelumnya, mereka fokus berjaga didalam Bank. Semua pasukan berada didalam, membiarkan garis terluar menjadi lemah, tapi langsung membuat hujan peluru tanpa ampun ketika tim perampok mencoba masuk lewat pintu karena mereka diuntungkan dengan jumlah amunisi yang sangat banyak. Itu strategi mereka dan terbukti berhasil lima permainan berturut-turut."

"Ini terlalu sulit untuk kita." ungkap Sakura.

"Memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Aku akan masuk duluan kedalam, menyamar sebagai NPC nasabah bank. Langkah pertama, kalian akan mengambil posisi sedekat mungkin dengan pagar sebagai Stealth Player dengan membaur bersama NPC warga sekitar. Hinata-san, tembakan pertama kau yang ambil dengan sniper rifle milikmu, tembak empat buah kamera CCTV yang terpasang dibagian atas tiang lampu taman, tembak sekalian dengan lampunya juga. Segera setelah hancur, tim A sebagai attacker langsung masuk lewat pintu gerbang, bagi menjadi dua, sebagian kekanan dan sebagian lagi kekiri. Tempati posisi ditengah taman yang gelap, lemparkan bom HE granat sedekat mungkin ke bangunan bagian kanan dan kiri. Jangan bersamaan tapi berikan jeda waktu sepuluh detik. Setelah meledak, Tim A tetap disana, jangan masuk dulu karena akan sangat berbahaya, biarkan saja polisi yang keluar. Jika polisi menyambut dengan tembakan, bersembunyi saja dibalik patung-patung batu hiasan taman."

Akibat ledakan High Explosive (HE) Granade yang baru saja menghancurkan sebagian bangunan, polisi keamanan Bank langsung bergerak ke dekat pintu masuk dan sekitar jendela kaca yang pecah. Mereka tampaknya sudah diberitahu pengawas yang mengamati layar CCTV bahwa lawan sudah masuk sampai ke taman.

Dordordordor...

Ratatatatatata...

Cutcutcutcutcut...

Bupbupbupbupbup...

Tepat seperti perkiraan Sona, polisi keamanan langsung menghujani taman dengan peluru secara asal-asalan. Setiap polisi keamanan menggunakan senjata api yang berbeda-beda sehingga efek suara yang dihasilkan bercampur menjadi tidak jelas.

Ada alasan kenapa Sona membagi dua tim A kekiri dan kekanan. Yang pasti untuk mengurangi konsentrasi hujan peluru yang dilakukan polisi sampai setengahnya sehingga tim lebih aman dari resiko kematian. Melempar HE granat juga diberi jeda sepuluh detik untuk membingungkan polisi dimana posisi pasti mereka. Jika dilempar bersamaan maka polisi langsung membagi dua pasukan, dan jika diberi jeda waktu lama maka semua polisi pasti akan menuju posisi yang kedua melempar granat, sehingga posisi kedua sangat tidak aman. Dengan trik ini, paling tidak bisa memperlambat datangnya hujan peluru selama satu menit, tentu saja waktu semenit ini sangat berharga.

Sona kini duduk menunduk dengan memeluk lutut di balik meja teller bank, dia mengikuti perilaku para NPC yang melakukan simulasi seperti sandera ketika bank diserang, gadis iblis ini membaur dengan baik. Dari posisinya, dia dapat melihat ada delapan polisi keamanan menjaga bagian depan bank sebelah kanan, ada juga delapan disebelah kiri. Mereka semua memegang senjata berbeda-beda dengan banyak persediaan amunisi, membuat hujan peluru untuk Tim A yang disebelah kanan dan kiri.

Meskipun begitu mulut Sona tetap bersuara, pelan namun cukup untuk didengar oleh anggota timnya yang sedang bertempur lewat saluran interkom.

"Tim A, balas sesekali tembakan polisi jika bisa. Biarkan mereka tahu kalau kalian masih hidup supaya mereka tetap membuat hujan peluru."

"Roger/Affirmative/Laksanakan!"

Ke taman sebelah kanan yang tampak gelap.

Nampak Naruto menggerutu, "Bagaimana bisa balas menembak kalau kondisinya begini?"

"Diamlah Dobe!"

"Sassukey-kyuuuuun, aku takuuuut."

"Hn, aku bersamamu."

"Kyaaaaaaaa..." Sakura memekik girang.

Sempat-sempatnya tim 7 yang terkenal paling hebat di Konoha bercanda saat situasi genting begini.

"Kalian menjijikkan!" cibir Naruto.

"Huh, bilang saja kau iri karena Hinata-chan tidak ada disini. Bwueee..." balas Sakura sengit sambil memeletkan lidah.

"Tch."

Naruto tak ingin mempedulikan ejekan Sakura. Dia menaikkan kepalanya, menengok dari balik tugu batu yang ia sandari untuk melihat musuh.

Ctaarr...

"Awwww..."

Naruto merintih kesakitan, menunduk lagi menyembunyikan tubuhnya. Untung saja bukan peluru tapi pecahan batu yang mengenai dahinya, jika tidak pasti sudah mati.

"Kurang ajar!" setelah menyumpah serapah, Naruto tiarap lalu membidikkan senjata utama, Primary Weapon, pada sekumpulan musuh yang berada di dalam bangunan bank lewat sisi samping tugu batu.

Krieg 552, itu nama senjatanya. Senjata ini diciptakan khusus untuk teroris atau perampok oleh sistem GGO. Meski harganya lumayan mahal, tapi bagus digunakan untuk pertempuran jarak menengah dengan akurasi lumayan tinggi dan dilengkapi scope untuk membidik.

"Rasakan!"

Bupbupbupbupbup...

Naruto sudah mulai menembak. Memang senjata ini adalah senjata otomatis yang bisa menembakkan peluru beruntun dengan sekali tarikan pelatuk, tapi Naruto melepas pelatuk lalu menembak lagi setiap 4 atau 5 peluru. Untuk mengurangi getaran agar tidak kehilangan akurasi tentunya.

Beberapa polisi yang berada didalam bangunan berhasil kena, meski tidak mati karena polisi memakai kevlar dan senjata yang digunakan Naruto penetrasi dan damagenya hanya kelas menegah saja.

Kakakakakakaka...

Sasuke juga ikut menembak, menembak diantara celah dua patung. Dia menggunakan senjata dari kelas yang sama dengan Naruto. SG553, lebih tinggi power dan akurasi dibanding Krieg 552, namun kecepatan tembak lebih lambat dan bobotnya lebih berat.

Sasuke berhasil melukai beberapa polisi.

Setelah menerima balasan, hujan peluru melemah. Tentu saja karena polisi tidak akan bisa lagi sembarangan menembak dengan posisi berdiri menantang kalau tak mau menerima balasan peluru. Polisi lebih hati-hati dengan bersembunyi dibalik tiang atau dinding sambil terus berusaha menembak.

Hal yang sama juga terjadi pada Tim Vali. Ada Vali, Arthur dan Kuroka disebelah kiri bangunan bank.

Ratatatatatatata. . . . . . .

Sesuai perintah Sona, Vali sebisa mungkin membalas tembakan polisi keamanan. Menggunakan Machinegun FN Minimi M249 Para, dia sukses menakut-nakuti polisi keamanan. Susah untuk menargetkan musuh pada jarak yang cukup jauh dengan senjata ini, namun hujan peluru yang dibuatnya tetap saja membuat musuh ketakutan dan bersembunyi.

Ratatatatatatata. . . . . .

Vali terus saja menembak,

Dsingg,, ctarr...

Barusan beberapa peluru nyasar ketempat Vali, untung saja hanya mengenai patung-patung batu taman yang ada disekitarnya.

Meski magazine Minimi ini bisa menampung 100 peluru, tapi dengan kecepatan tembak tinggi, amunisi akan cepat habis. Vali menunduk, mereload amunisinya. Salah satu kelemahan Minimi adalah reload yang cukup lama.

Ctarctarctar...

Nampaknya polisi keamanan bank tahu Vali sedang mereload, mereka menggunakan kesempatan itu untuk memberondong taman dengan hujan peluru sekali lagi, mengakibatkan patung batu taman semakin rusak dan berlubang. Tampak beberapa polisi berdiri menantang di dekat jendela kaca bangunan bagian kiri bank yang telah hancur oleh ledakan granat.

Kakakakakaka...

Dari titik lain, masih di sebelah kiri tak jauh dari Vali, Arthur mengambil kesempatan menembak. Primary weapon yang ia pakai sama seperti Sasuke, SG553. Dia Berhasil melukai beberapa polisi yang fokus menembaki posisi Vali.

Bupbupbupbup...

Dari arah lainnya lagi, Kuroka juga ikut menembak. Senjatanya sama seperti Naruto, Krieg 552. Meski belum dapat membunuh satupun, dia juga berhasil membuat musuhnya terluka.

Meski tak berhasil membunuh satupun, aksi Arthur dan Kuroka sukses menekan polisi sehingga frekuensi hujan peluru kearah mereka berkurang. Assault Rifle Krieg 552 dan SG553 memang pilihan yang sangat tepat digunakan untuk baku tembak pada situasi seperti ini. Sedangkan Vali masih sibuk mereload.

Para Polisi keamanan Bank pun tampaknya menggunakan senjata yang tepat. Berdasarkan suaranya, dapat dikenali bahwa mereka menggunakan AUG Bullpup dan Maverick M4A1 Carbine. Senjata Assault Rifle yang umum digunakan oleh polisi untuk baku tembak jarak menengah.

DORRRRR . . . . .

"Uggghh, hampir saja aku mati."

Kuroka menarik dan membuang nafas panjang, dia berhenti menembak, posisinya sudah kelihatan sniper tim polisi. Untung saja tadi ia cepat menyadari garis prediksi bullet line berwarna merah yang menuju kepalanya dan langsung berguling-guling ke balik air mancur taman, jika tidak dia pasti akan mati.

Bunyi tembakan yang sangat nyaring tadi, yang suaranya seperti guntur, berasal dari polisi sniper yang menggunakan AWP Magnum Sniper.

Selang beberapa detik kemudian,

DORRRRR . . . . .

bunyi yang sama terdengar lagi, Arthur terpaksa menyembunyikan tubuhnya dibalik tugu batu. Si sniper musuh yang menggunakan AWP berhasil dengan mudah menemukan posisi mereka.

Saat ini, Tim Vali tidak bisa membalas tembakan lagi. Posisi yang sangat sulit.

DORRRRR . . . . .

Lagi, bunyi guntur terdengar. Kali ini berasal dari sebelah kanan bank, tempat dimana Tim 7 dari Konoha berada.

Tim A, baik yang sebelah kanan dan kiri sedang dalam situasi gawat.

Beralih ke tempat lain yang masih di area bank, bagian belakang bangunan. Tim B yang terdiri dari Hinata, Le Fay, dan Bikou mengambil titik ini, tugas mereka adalah masuk kedalam bank dan menuju ruang pusat komando polisi untuk melumpuhkan jalur komunikasi serta merusak formasi musuh. Memanfaatkan kesempatan saat tim A sebagai attacker sibuk memancing polisi keluar, mereka mengambil jalan memutar dari gerbang menuju bagian belakang bank.

Meski bagian depan bank sedang terjadi pertempuran besar-besaran, polisi keamanan bank tidak serta merta mengosongkan pengamanan pintu belakang. Dari tempat Hinata berdiri, diantara semak-semak yang jaraknya sekitar 80 meter dari pintu belakang, dapat dia lihat ada tiga orang polisi yang berjaga. Ketiga polisi itu tampak sangat waspada pada lingkungan sekitar dengan senjata lengkap yang siap ditembakkan kapanpun. Mendekati dan menyerang mereka secara langsung akan sangat berbahaya karena bagian halaman belakang adalah padang rumput kosong yang tidak ada tempat berlindung saat baku tembak.

Ditangan Hinata ada Dragunov SVD (Snaiperskaya Vintovka Dragunova), sebuah sniper rifle ringan semi-automatic buatan rusia untuk jarak menengah dibawah 1 km. Saat ini dia tidak bisa menggunakan CheyTac Intervention M200 seperti pada game sebelumnya karena senjata itu terlalu berat untuk dibawa berjalan dan dikhususkan untuk jarak jauh hingga lebih dari 2 km. Untuk game ini, dimana Hinata harus maju kegaris depan, sniper rifle ringan untuk meningkatkan mobilitas adalah pilihan mutlak.

Hinata yang sedang tiarap di antara semak mengatur tinggi bipodnya, lalu mengkalibrasi ulang scope setelah sebelumnya dia gunakan untuk memembak kamera CCTV dari jarak 500 meter.

Setelah siap, Hinata menarik pelatuknya.

Ciiuuu...

Bruukkkk...

Headshot, salah satu polisi langsung ambruk ditempat. Sebelum tewas, polisi itu tampak panik, mungkin karena telah melihat garis merah DSA bullet line yang diciptakan sistem GGO padanya. Namun sebelum sempat menjauh, kepalanya lebih dahulu ditembus peluru.

Hinata punya trik kecil untuk mengatasi bullet line. Garis merah itu hanya akan muncul ketika tubuh avatar player dibidik oleh senapan. Saat hendak menembak, Hinata membidik benda pada jarak tertentu dari target, kemudian tepat sebelum menarik pelatuk, arah bidikan digeser ke kepala target, sehingga jeda waktu antara munculnya bullet line dan datangnya peluru sangat singkat. Akibatnya si terget tidak punya waktu untuk menghindar. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan cara sniper pada umumnya, dimana sniper harus fokus dan tenang saat membidik titik kecil pada target. Tapi dengan sedikit keterampilan tangan, serta nilai agility yang sangat tinggi, Hinata mampu melakukannya.

Ke pos belakang bank, dua polisi tersisa langsung bergerak begitu temannya jatuh tersungkur. Kedua polisi ini adalah pengguna SMG atau Submachinegun yaitu ES C90. Senjata ringan ini memudahkan penggunanya berlari, buktinya saja kedua polisi dengan cepat sudah sampai di pepohonan dan semak.

Mereka berdua sudah tahu kalau yang menembak jatuh teman mereka adalah seorang sniper. Sniper yang akan menembak pasti memilih posisi di tempat dengan sudut pandang luas dan minim benda-benda pengganggu. Walau keduanya tak melihat bullet line, tapi tetap bisa mencari dimana posisi sniper dengan cepat.

Mereka meninggalkan pos demi keunggulan senjatanya karena jelas-jelas sniper lemah terhadap pertarungan jarak dekat.

Saat sudah sampai disemak-semak, mereka melihat adanya laras senapan Dragunov yang mencuat keluar dari dedaunan. Mereka Membidik, dan...

Cutcutcutcutcutcutcut...

Selama satu menit kedua polisi menembaki tepat ke arah semak dimana senapan dragunov kelihatan. Setelah selesai dan yakin telah menghabisi sniper, dua polisi itu mendekat untuk mengecek.

Nihil, tak ada apa-apa disana. Hanya ada senapan tanpa orangnya. Tiba-tiba kedua polisi dikejutkan oleh teriakan dari atas dahan pohon,

"Oryaaaaa...!"

Sambil berteriak, Bikou mengarahkan moncong AK47 yang dia pegang pada kedua polisi yang ada dibawahnya.

Dordordordordordordor...

Frekuensi serta power tembakan yang tinggi dari AK47 sukses membunuh satu anggota polisi. Akurasi tak jadi masalah karena Bikou menembaknya dari jarak dekat. Satu polisi lagi, yang telah kehilangan setengah HealthPointnya bersembunyi dibalik sebuah pohon.

Bikou melompat dari dahan dan mengganti magazinenya, 30 butir peluru sudah dia habiskan untuk tembakan tadi.

Sungguh naas, kedua polisi ini tertipu akal licik Hinata.

Si wanita berambut indigo memang sengaja meninggalkan senapannya di tempat tadi karena ia yakin sisa dua polisi pengguna SMG yang menjaga pos belakang pasti maju untuk melakukan pertempuran jarak dekat dengannya. Saat memegang sniper rifle, dia memang lemah terhadap pertarungan jarak dekat dan semua player GGO tahu itu, namun kelelamahan jika dimanfaatkan dengan baik akan menjadi sebuah keberuntungan.

Sisa satu polisi yang bersembunyi nampaknya tak bernasib baik.

Ckkreekk...

Itu suara pengaman senjata yang dilepaskan, dengan jari telunjuk dipelatuk, Le Fay siap menembakkan shotgun Leone YG1265 Auto tepat dikepala sang polisi.

"Byebye..."

Doorrrr...

Polisi itu pun tewas setelah terkena headshot dari jarak nol. Kepalanya pecah bersamaan dengan hembusan pecahan proyektil peluru shotgun. Salahnya sendiri karena tidak becus memilih tempat sembunyi, dia malah mengantarkan nyawa.

Le Fay memang penuh keberuntungan, hawa keberadaannya sulit dirasakan dan pemilihan posisinya selalu bagus.

Tiga polisi telah tewas. Masih ada dua puluh tujuh lagi. Sesuai pengamatan yang dilakukan pada hari pertama, polisi keamanan mencapai jumlah maksimal yang ditetapkan sistem untuk map ini yaitu tiga puluh orang.

Suara Sona dari interkom terdengar di earphone masing-masing anggota.

"16 polisi masih sibuk dengan tim A di depan. Tim B, masuk lewat pintu belakang! Ambil koridor sebelah kiri, naik menggunakan tangga darurat menuju lantai tiga. Pintu ketiga sebelah kiri adalah ruang komando. Hati-hati, kalian bisa saja bertemu polisi didalam. Move! Move! Move!"

Aksi Sona terbilang sangat nekat, sendirian tanpa senjata apapun di jantung pertahanan musuh seperti menantang nyawa. Tapi posisinya terbayar mahal dengan mudahnya dia mengakses informasi dan formasi musuh. Semoga saja penyamarannya sebagai NPC nasabah bank tidak ketahuan.

Mengikuti instruksi Sona, Tim B kini sudah dilantai 3, tepat di depan pintu ruang komando. Selama menuju tempat ini, mereka tak bertemu satupun polisi, padahal tempat yang dilalui dipasangi banyak CCTV.

Bikou disisi kanan pintu, sedangkan Hinata dan Le Fay disisi kiri.

Hinata yang memimpin tim B. Dia membuat kode dengan jari tangan,

3

2

1

Brakkkk...

Pintu didobrak oleh Bikou, disambung oleh Le Fay yang melemparkan Smoke Grenade kedalamnya.

Dordorodordorodordordorrrrr...

Serentetan tembakan langsung terdengar bersama dentingan ratusan selongsong peluru yang jatuh ke lantai.

Pintu langsung di hujani dengan peluru hingga satu menit lamanya.

Tim B masih belum masuk, masih di luar ruangan. Mereka tahu kalau polisi yang berada di dalam ruang komando pasti telah menyadari kedatangan mereka lewat kamera pengawas CCTV, menunggu dan bersiap dengan senjata full ammo yang sudah dilepas pengamannya. Makanya setelah pintu terbuka dan bom asap dilempar, mereka tak langsung masuk seperti adegan-adegan yang biasa terjadi di film action. Itu hanya akan mengantarkan nyawa. Untung saja dinding ruangan tebal sehingga tak ada peluru yang tembus.

Saat asap mulai menipis dan suara tembakan dari dalam berhenti, Le Fay beraksi lagi. Dari sisi pintu, dia melemparkan satu Flash Bang kedalam. Hinata, Bikou, dan Le Fay menutup telinga dan membalikkan badan kearah lain. Satu detik kemudian,

FLAAAASSSSSHHHHH . . . . .

Seisi ruangan komando ditelan cahaya yang sangat menyilaukan, bersamaan pula suara memekakkan hingga intensitas 180 dB. Dengan begini, indra penglihatan dan pendengaran polisi yang ada didalam akan mati selama 5 sampai 7 detik. Mereka tidak akan pernah menyangka tertipu trik ini, mereka pasti mengira telah berhasil membunuh semua penyerang.

Memanfaatkan momen itulah, tim B masuk kedalam ruangan. Bikou bergerak lurus ke tengah ruangan setelah melewati pintu, sementara Le Fay dan Hinata mengambil jalur sisi kanan dan kiri.

Dordordordordordordor...

Bikou dengan tangan masih memegang AK47 magazine full ammo, langsung memberondong polisi dengan serbuan peluru. Satu polisi yang masih buta berhasil dibunuh oleh Bikou.

Le Fay dari arah kiri melihat ada satu polisi yang sudah sadar dan sedang membidik Bikou. Dia tidak akan tidak memberikan teman seperjuangannya terluka sedikitpun.

Dorrr... Dorrr... Dorrr...

Le Fay menembakkan tiga peluru beruntun dari shotgun automatic miliknya. Tubuhnya kecil sedangkan Leone YG1265 Auto yang ia gunakan cukup berat untuknya. Berbekal pengetahuan tentang recoil senjatanya yang mengarah keatas, dia membidik kaki musuh. Seperti perkiraan, tembakan ketiga pasti akan mengenai kepala. Dia menggunakan shotgun automatic karena permainan kali ini mengharuskan semua anggota tim untuk melakukan CQC (Close Quarter Combat) atau pertarungan jarak dekat antar tim. Senjata yang digunakannya ini tentu lebih baik daripada shotgun Leone 12 Gauge Super yang ia gunakan pada quest sebelumnya karena senjata itu perlu kokang setiap satu kali menembak, sedangkan Leone YG1265 tak perlu kokang karena punya magazine berisi 7 butir peluru didalamnya.

Le Fay langsung menunduk setelah menembak, bersembunyi dibalik meja.

Sedangkan disisi kanan, Hinata bisa melihat polisi terakhir yang ada didalam ruang komando. Hanya ada tiga polisi diruangan ini.

DORR...

Berbekal Nighthawk .50 pabrikan Israel atau yang lebih dikenal dengan nama Desert Eagle, Hinata kembali mendapatkan headshot. Dengan power yang sangat besar untuk ukuran sebuah handgun, musuh pun langsung tewas.

Hinata saat ini bisa bergerak cepat karena primary weapon Dragunov miliknya dia tinggalkan di semak. Saat ini dia tidak perlu senjata itu lagi, jadi pengurangan MSPD atau move speed penalty tak berlaku lagi padanya karena berat senjata utama sudah dihilangkan. Nilai luar biasa dari statistik Agility Hinata merupakan nilai mutlak kemampuan menembak, bukan hanya skill menembak jitu jarak jauh saja, tapi juga termasuk menembak jarak dekat. Hanya menggunakan handgun atau pistol, dia mampu menembak kepala dari target yang bergerak hingga jarak 35 meter. Prinsip Hinata adalah, One Hit One Kill.

Karena power tembakan Desert Eagle tinggi, maka jeda setiap tembakan atau attack speed menjadi rendah. Akan rugi besar jika digunakan untuk CQC, tapi itu tak berlaku bagi Hinata yang selalu mendapatkan headshot pada setiap peluru yang ia gunakan.

Hinata bicara lewat saluran interkom, "Tim B kepada Sona, Sector Clear!"

"Kerja Bagus." terdengar suara feminim yang menyahut dari seberang sana.

Ruang pusat komando dan pengawas CCTV milik tim polisi keamanan bank sudah direbut oleh tim perampok. Sebenarnya strategi ini agak aneh, sedikit berbeda dengan yang dilakukan sekelompok teroris atau perampok pada umumnya. Biasanya didunia nyata, ruang komando markas musuh diserang pertama kali dengan serangan kejutan yang tak diketahui atau bahkan diserang oleh hacker, tapi opsi hacker belum tersedia dalam sistem permainan GGO. Cara ini efektif untuk merusak formasi dan jalur komunikasi sehingga attacker akan lebih mudah menembus barikade musuh.

Sona yang membuat strategi ini berpikir dengan cara yang berbeda dari orang kebanyakan. Jika yang di serang oleh timnya adalah markas atau tempat yang dalam kondisi biasa, sewajarnya ruang pengawas CCTV dan komando diserang lebih dahulu, baru kemudian attacker maju. Namun bank dalam quest ini dijaga dengan status siaga penuh oleh tim polisi selama tiga hari permainan, sebab mereka tahu pasti akan diserang, tinggal menunggu waktunya saja lagi. Pastinya ruangan tersebut akan dijaga sangat ketat. Oleh karena itu, Sona memerintahkan Tim A sebagai attacker menyerang duluan didepan agar para polisi terfokus kesana, atau bahkan tidak menutup kemungkinan sebagian penjaga ruang komando akan dipindah ke garis depan untuk melawan Tim A. Hal ini membuat pertahanan di pusat komando sedikit melemah. Mereka pasti akan menyangka kalau pusat komando tidak akan diserang lagi karena sudah ada serangan frontal dari depan, tak menduga kalau mereka tetap ditargetkan, sehingga team B lebih mudah merebut ruang itu.

Sona bersuara lagi lewat saluran komunikasi, "Kalian cari server radio di ruangan itu, hancurkan!"

BAAANGGGG...

"Sudah beres." ucap Bikou. Dia baru saja menginjak alat berbentuk persegi yang tersembunyi dibawah meja hingga hancur.

Tim Sona menggunakan saluran interkom yang tersambung kesemua anggota untuk saling berkomunikasi, mirip konsep topologi jaringan mesh. Namun yang digunakan polisi keamanan berbeda, anggota polisi jauh lebih banyak sehingga perlu semacam server yang mengatur jalur komunikasi untuk mengurangi noise. Karena itulah, hanya dengan menghancurkan server di ruang komando, maka saluran komunikasi polisi akan lumpuh total.

"Le Fay kepada Sona-sama." suara imut khas anak-anak menyapa indra pendengaran semua anggota tim. Lumayan lah, loli macam Le Fay pasti efektif untuk mengurangi tekanan yang dialami anggota tim walau hanya sekedar suaranya saja. Dia nampaknya hanya iseng ikutan bersuara. "Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"

"Tim B, segera turun ke lantai bawah tanah! Aku akan menunggu kalian didepan pintu ruang berangkas."

Tim B pun langsung meninggalkan ruang komando.

Sementara Sona yang masih ada di lantai satu tepat di belakang meja teller, kini telah mengganti pakaiannya dengan seragam pegawai bank lengkap dengan nametage. Dia berjalan dengan menarik seorang NPC yang memakai nametag 'Manager' bersamanya. Tujuannya adalah ruang berangkas di lantai bawah tanah. Hal ini lumrah, jika ada kasus perampokan dan sedang terjadi adu tembak dengan polisi, biasanya ada pegawai bank yang diam-diam mencek kondisi berangkas. Tujuannya untuk mengganti sandi keamanan agar berangkas lebih sulit dibobol. Penyamaran yang bagus, Sona.

Pasukan polisi keamanan sudah kehilangan pemimpin, orangnya pasti salah satu diantara tiga orang yang dilumpuhkan oleh Tim B. Sekarang attacker Tim A sudah bisa menyerang masuk ke garis pertahahan polisi. Tak ada lagi yang mengintai dari kamera pengawas CCTV dan mengkoordinir para polisi.

Sambil berjalan, Sona memberi intruksi kepada anggota, "Tim A, saatnya kalian beraksi, Goooo!"

"Diterima/Oke/Roger/Affirmative/Siap/Laksanakan!"

Perintah Sona disahut oleh semua anggota Tim A.

Ke sebelah kiri bangunan,

"Kalian siap?" tanya Vali.

"Tentu saja."

"Kapanpun."

Arthur dan Kuroka menjawab bergiliran. Mereka berdua membuang primary weapon-nya, Krieg 552 dan SG553. Kedua benda itu hanya akan memberi MSPD penalty atau pengurangan angka statistik move speed pada avatar player karena berat senjata. Lagipula semua pelurunya sudah habis untuk baku tembak sejak tadi. Bagi tim Sona sebagai perampok, diberi batasan oleh sistem GGO dalam jumlah amunisi yang bisa dibawa yakni satu set yang terdiri dari satu magazine terpasang dan dua maganize cadangan.

Hanya Vali yang masih menggunakan primary weapon-nya, Minimi M249 dengan magazine terakhir berisi 100 butir peluru.

Vali memberi kode jari,

3

2

1

Kuroka melempar 3 smoke granade sekaligus.

Claaaassssssshhh...

Segera setelah ledakan, Arthur mengaktifkan Light Saber, lalu melompat dan maju, bergerak lurus menuju barikade polisi didalam asap putih tebal yang membumbung.

Nampak terlihat, Light Saber yang berpendar ungu bersinar dari dalam kabut.

Cutcutcutcutcutcutcut...

Dordordordordordor...

Semua polisi membuat respon yang sama, menembaki cahaya yang berpendar. Mereka merasa bahwa orang yang maju menyerang sangat lah bodoh. Buat apa melempar bom asap kalau nyatanya malah membawa senjata yang bercahaya dan memberitahu posisi? Walaupun tidak melihat orangnya, namun asal fokus menembak ke arah cahaya ungu itu, pasti akan kena.

Namun perkiraan mereka semua meleset. Arthur yang punya skill hebat menggunakan pedang, ditambah catatan statistik Attack Speed dan Move Speed yang tinggi, mampu menangkis semua peluru yang tertuju padanya.

DOORRRR...

Suara guntur terdengar lagi, namun peluru dari AWP Magnum Sniper berkaliber besar bahkan juga mampu dibelah oleh tebasan Light Saber. Tentu saja karena Light Saber adalah senjata mahal jarak dekat dengan daya hancur terkuat yang ada dalam sistem game GGO.

Bersamaan dengan Arthur, dibelakangnya dalam satu garis lurus, Vali dan Kuroka menyusul. Posisi mereka berdua aman karena setiap peluru sudah di tangkis atau ditebas lebih dulu oleh Arthur. Meski begitu, Vali tidak diam saja. Dia berlari sambil menembakkan semua sisa amunisi Minimi di tangannya kesisi kiri Arthur. Kuroka pun sama, memberondongkan pelurunya kesisi kanan. Wanita kucing ini menggunakan pistol ringan yang sama seperti permaian sebelumnya yaitu TEC-9, pistol semi-automatic yang mampu menembakkan peluru beruntun seperti SMG. Ada dua pistol, masing-masing disetiap tangannya.

"Nyawhahahahaaa~~~ . . . . ." Kuroka nampak tertawa, anggap saja sebagai pelampiasan stressnya selama permainan menegangkan mempertaruhkan nyawa ini berlangsung.

Apa yang dilakukan Vali dan Kuroka, berhasil mengurangi beban Arthur di posisi paling depan. Beberapa polisi sudah terluka, sebagian bersembunyi untuk mereload amunisi.

Posisi Tim Vali berjarak 15 meter lagi dari barikade polisi, Vali mengulas seringaian, setelah membuang Minimi yang memperlambat gerakannya, saatnya dia menuntaskan hasrat bertarungnya.

Berpindah ke sebelah kanan bank pada waktu yang bersamaan.

Bupbupbupbup...Bupbupbupbup...

Kakakakakakakakakakakaka...

Naruto dan Sasuke masih menembakkan rifle masing-masing.

Para polisi tampak tenang, tak ada lagi hujan peluru seperti tadi. Mereka semua tahu kalau amunisi milik tim perampok terbatas sampai 3 magazine saja, jadi lebih memilih menunggu dan bersembunyi dibalik tembok dan tiang bangunan. Sesuai perhitungan, sebentar lagi para perampok akan kehabisan amunisi.

Benar saja, tembakan dari Naruto dan Sasuke benar-benar berhenti saat magazine terakhir mereka kosong. Karena sudah tak berguna, primary weapon itu dibuang begitu saja.

Kini saatnya pasukan polisi keamanan bank membalas.

Saat para polisi menatap ke arah taman yang gelap, mereka yang sudah siap dengan senjata terisi ammo penuh, dikejutkan oleh seorang gadis berambut pink sebahu, berdiri menantang dengan senyum lebar.

Shiiiinnngggg..

Deru suara desingan mekanik itu berasal dari putaran senjata tipe gatling enam laras yang dipegang oleh sang gadis. Itu Minigun M134, senjata yang sama yang digunakan oleh tim polisi konvoi saat game yang ia mainkan sebelumnya, namun ini versi yang bisa ditenteng dengan kedua tangan. Tangak kiri Sakura memegang handle bagian tengah sedangkan tangan kanannya memegang bagian belakang sekaligus menarik pelatuk. Sakura memang spesialis pemain yang khusus menggunakan senjata berat untuk menembus pertahanan musuh setebal apapun, itulah kelebihannya berkat statistik strength yang sangat tinggi.

Polisi keamanan tidak sempat menembak karena kejutan tak terduga itu, pantas saja hanya dua orang yang menembak, sedangkan satu sisanya yaitu si gadis berambut pink sengaja menunggu untuk kesempatan ini.

"Shannarooouuuuuuu...!"

DOORDRTRTRTRTRTRTRTRTRTR . . . . . .

Sekarang balasan untuk pasukan polisi, kini hujan peluru untuk mereka dari Minugun M134 yang mampu memuntahkan sampai 6000 peluru permenit.

Semua polisi sibuk berlindung, ada yang dibalik dinding dan tiang beton bangunan bank.

Sakura menyisir dari arah kanan ke kiri dengan Minigunnya. Karena posisi tangannya memegang senjata, hanya satu arah gerakan ini saja yang bisa ia lakukan. Dan ia juga tidak bisa menembak sambil bergerak karena saking beratnya Minigun M134, hampir 40 kg. Belum lagi tambahan ransel khusus berisi amunisi kaliber 7,26 mm dipunggungnya yang beratnya sekitar angka itu pula.

Hampir semua anggota polisi terluka, bahkan satu sudah tewas karena dengan bodohnya bersembunyi dibalik dinding beton yang tidak tebal. Kendaraan lapis baja saja bisa ditembus Minigun, apalagi kalau cuma dinding beton tipis.

Sakura berhenti menembak 45 detik kemudian, total 4500 butir peluru yang mengisi ranselnya sudah habis. Segera saja dia buang Minigun itu beserta ransel amunisinya.

Saatnya maju menghabisi musuh.

Sasuke paling depan, ia tidak menggunakan secondary weapon tapi menggunakan malee. Sepasang katana atau sistem GGO lebih mengenalnya dengan nama Dual Wakizashi.

Trannnkkk, TangTeng. . . . .

Dengan kecepatan tinggi, Sasuke menyerbu ke garis depan sembari menangkis dan membelah setiap peluru yang tertuju padanya. Rupanya ada polisi yang sudah berhasil bangkit setelah dihujani peluru Minigun Sakura.

Jangan lupa, ini hanyalah dunia virtual, bukan dunia nyata. Tangan Sasuke normal, ia memiliki kedua tangannya kembali seperti avatar player normal pada umumnya. Makanya pada game kemarin, ia mampu menyetir mobil sport dengan skill mumpuni. Tak mungkin kan ada pengendara mobil yang menyetir hanya dengan satu tangan?

Dibelakangnya, dalam satu garis lurus ada Naruto dan Sakura. Formasi yang sama seperti yang digunakan Tim Vali. Masing-masing primary weapon sudah dibuang untuk menghilangkan Move Speed Penalty akibat berat senjata itu.

Kini mereka bertiga hanya berjarak 15 meter dari posisi para polisi.

Satu hari yang lalu, saat pengarahan strategi merampok bank.

Tampak Bikou masih tak bisa menerima strategi yang dibuat Sona untuk masuk ke jantung pertahanan musuh. Masuk kedalam bank yang mana ada 30 polisi keamanan dengan senjata lengkap dan amunisi berlimpah sementara tim mereka hanya 1o orang dengan amunisi terbatas, mustahil kan?. "Ak-aku masih tidak mengerti. Bagaimana mungkin kita bisa menang dengan cara ini?"

Sona menatap tajam tepat ke kedua bola mata keturunan generasi keempat Sun Wukong, "Bikou-san..."

"Aap-apa, Megane?" Bikou nampak risih dipandangi seperti itu.

"Kalian lupa dengan jati diri kalian sendiri hah?" Sona kini memandang semua anggota tim.

"Maksudmu?" Sakura pun seperti Bikou, sama-sama belum mengerti maksud Sona.

"Kalian semua petarung kan? Tak ada yang perlu ditakutkan."

"Hei, Sona. Coba jelaskan lebih detail, kami mana bisa mengerti kalau kau mengatakannya seperti itu."

Sona membuang nafas, pada orang yang disukai meski sudah beristri, dia tidak bisa bersikap keras seperti itu pada Naruto. "Ekhkhem, kalian tahu, hampir semua player GGO ahli tembak-menembak dengan berbagai macam tipe-tipe senjata, tapi mereka lemah dengan pertarungan yang melibatkan kontak fisik. Yah, karena memang baru 2 tahun ini saja GGO memberlakukan pertarungan fisik antar player.

"Hn, lalu?" Sasuke mendengus penasaran.

"Masuki barisan pertahanan mereka, serang dari jarak nol, maka kalian pasti menang."

Semua anggota terdiam, tak disangka Sona benar-benar tahu jati diri mereka, lebih tahu daripada diri mereka sendiri.

Kembali ke situasi saat ini,

Slice...

Slice...

Satu orang polisi langsung tewas setelah perut dan dadanya di tebas oleh Sasuke dengan kedua wakizashinya, badan polisi itu penggal tiga.

"Chaaa..."

Duuaaaggg...

Satu polisi tewas lagi karena tinju super tangan kiri Sakura yang mengenai rahangnya. Benar-benar, statistik strength gadis ini sangat gila hingga satu tinjunya saja sanggup membuat damage yang menghabiskan Healthpoint seorang player.

Crruuccckkk...

Sakura dengan senyum lebar, sekali lagi membunuh satu polisi dengan mengoyak bagian perut. Dia menggunakan Dragon Claw yang dipasang di tangan kanannya. Andai saja cakar besi itu ada sepasang untuk tangan kanan dan kiri, maka Sakura akan sangat mirip dengan tokoh hero fiksi bernama Wolverine.

Sedangkan Naruto, bergerak dibelakang salah satu polisi...

Blesshh...

...sambil mengiris belakang leher si polisi dengan sebuah bayonet ditangan kanan. Bayonet, sebuah pisau khusus militer dengan desain futuristik. Naruto menggunakannya semudah menggunakan kunai.

Jbebbb...

Satu lagi polisi yang diserang Naruto, orang itu mendapat tusukan bayonet dibelakang kepala, membuatnya tewas seketika.

Polisi yang terkena irisan bayonet dibelakang lehernya ternyata masih hidup. Dia berusaha mengangkat Maverick M4A1 Carbine, mengarahkannya pada Naruto. Namun sebelum sempat menarik pelatuk,

Dooorrrr..

Naruto dapat headshot, meski agilitynya rendah, tapi jika menembak dari jarak dua meter, itu sangat mungkin terjadi. Ternyata tidak sia-sia ia membawa secondary weapon, handgun yang sering digunakan oleh player pemula, Glock 18 atau nama lainnya 9x19mm Sidearms.

Polisi itupun mati seketika.

Slice...Slice...

Berbekal teknik dua pedang Nitoryu, Sasuke menumbangkan satu lagi polisi keamanan.

Sisa satu polisi terakhir ternyata bersembunyi dari diantara puing dinding beton yang hancur oleh Minigun Sakura. Dia pengguna AWP Magnum Sniper yang membuat suara guntur berkali-kali tadi.

"Sasuke-kun, AWAAAAAASSS!"

Sakura berteriak memperingatkan, saat Sasuke berbalik, pandangan matanya jadi merah karena bullet line dari Magnum Sniper yang dibidikkan tepat kekepalanya.

Staabbbb,,,,,

Bullet Line merah itu hilang seketika, peluru tak jadi bersarang dikepala Sasuke. Yang ada ialah sebilah bayonet menancap di kepala si sniper.

Naruto pelakunya, melempar bayonet semudah melempar kunai. Untung saja kali ini lemparan bayonetnya tepat mengenai sasaran.

Selesai!. Delapan polisi yang menjaga bagian depan sebelah kanan sudah habis dibantai Tim 7. Sakura dapat tiga, satu dengan Minigun sebelumnya dan dua lagi barusan. Sasuke dapat dua, sedangkan Naruto dapat tiga.

"Terima kasih, Dobe!"

"Che, tumben kau berterima kasih padaku, Teme!"

"Hn, sudah baik aku mau berterima kasih padamu."

"Sombong sekali kau! Kalau bukan aku yang menolongmu, badanmu didunia nyata pasti sudah terbujur kaku dan mendingin."

Sakura tak mau memikirkan kedua orang terdekatnya yang lagi-lagi mulai bertengkar hanya karena hal sepele.

"Uhmm, Sakura kepada Sona. Sector Clear."

"Kuroka pada Sona. Sector Clear, Nyaaaannnn~~~."

Hoooooo, rupanya Tim Vali juga sudah selesai.

Memang benar, setelah beralih ke sebelah kiri, suasana tenang tak ada lagi suara tembakan. Tampak dua tubuh avatar polisi terbelah, hasil karya seni Arthur dengan Light Saber-nya. Dua orang polisi dengan tubuh menjadi sarang peluru dari pistol automatic TEC-9 milik Kuroka. Empat sisanya dengan kepala berlubang akibat tusukan Seal Knife yang digunakan Vali. Sang Hakuryukou menggunakan malee yang sama seperti Naruto, sebuah pisau militer.

Vali berdiri setelah mencabut Seal Knife miliknya dari kepala polisi yang terakhir ia bunuh.

Pyar...

Pyar...Pyar...Pyar...Pyar...Pyar...

Semua avatar polisi keamanan pun pecah berkeping-keping seperti kaca. Itulah yang terjadi pada avatar yang mati setelah tertembak dalam permainan GGO.

Sampai saat ini, sudah 22 polisi yang dikonfirmasi tewas. Sedangkan anggota tim Sona, meski masih hidup, namun juga menerima banyak luka. Yang paling parah adalah Arthur, dia sudah kehilangan 60% Healthpoint akibat menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng berjalan didalam asap tadi.

Benar apa kata Sona, polisi keamanan yang menjaga bank terdiri dari gamer-gamer profesional yang ahli strategi dan skill menembak, namun nyatanya lemah jika dihadapkan pertarungan fisik. Sona benar-benar jenius, dia mampu menganalisis kemampuan lawan dan anggota timnya sampai sedetail ini dan membuat strategi terbaik.

Lewat saluran komunikasi, Sona menyuarakan instruksi selanjutnya untuk Tim A, "Kalian masih ingat denah bangunan ini kan? Ambil jalur yang sudah kutentukan kemarin, bergerak secepat yang kalian bisa menuju lantai bawah tanah. Aku sudah berada di lantai bawah tanah dan memecahkan sandinya, berangkas akan kubuka 5 menit lagi, dan pintunya akan tertutup kembali setelah satu menit. Bergeraklah secepat yang kalian bisa tapi tetap hati-hati, mengerti!"

"Ha'i...!"

Setelah menyahut instruksi Sona, Tim A yang terdiri dari Tim Vali dan Tim 7 Konoha masuk bersamaan melewati pintu depan, mereka berenam bergegas turun melalui tangga.

Untuk saat ini, mereka bisa bergerak lebih leluasa didalam bank. Ruang komando polisi sudah dilumpuhkan, jadi tidak ada yang mengawasi lewat kamera CCTV. Meski begitu, mereka tetap hati-hati. Masih ada beberapa polisi lagi didalam bank.

Sasuke masih siaga dengan kedua Wakizashi di tangannya. Padahal di pinggangnya tersarung sebuah pistol, namun tampaknya dia enggan menggunakan itu. Kapan lagi ia bisa menggunakan teknik dua pedang, kan didunia nyata tangannya cuma satu?

Sedangkan yang lainnya, ada Sakura memegang handgun Baretta di tangan kiri dan cakar besi Dragon Claw di tangan kanan. Arthur memakai FN Five seveN ditangan kiri dan Light Saber ditangan kanan. Naruto dan Vali sama, sama-sama menggunakan sebuah pistol standar Glock 18 dan sebilah pisau militer. Berbeda dengan Kuroka, dia menggunakan dua pistol TEC-9 sekaligus, mungkin hanya dia belum kehabisan amunisinya.

"Halooo, Le Fay pada semuanya." Suara imut Le Fay terdengar lagi di saluran interkom, "Terakhir kulihat di ruang komando polisi tadi, ada enam polisi yang sedang menuju ke lantai bawah tanah. Yang sampai disana duluan hati-hati!. Dua sisanya aku tidak melihat."

Sama seperti Tim A, Tim B yang terdiri dari Hinata, Le Fay, dan Bikou juga sedang menuju bawah tanah setelah melumpuhkan ruang komando.

Peringatan dari Le Fay tentu sangat penting, jelas tim manapun yang ada sampai disana lebih dulu akan disambut dengan muntahan peluru. Apalagi untuk Sona yang sudah dibawah sana, jika sampai penyamarannya sebagai pegawai bank diketahui, maka tidak hanya Sona yang mati, tapi semua rencana juga akan gagal total.

Beralih pada Tim B yang ternyata masih di lantai 3, mereka harus melewati koridor panjang karena tangga khusus untuk turun ke lantai bawah tanah letaknya bersebrangan dengan tangga darurat yang mereka gunakan untuk naik tadi.

Bikou berjalan didepan, diikuti Hinata dan Le Fay. Mereka berjalan dengan hati-hati agar seminimal mungkin menimbulkan suara hentakan kaki. Masih ada dua polisi yang tak diketahui keberadaannya.

Bangunan bank didesain seperti arsitektur bangunan Romawi. Koridor yang dilewati Tim B melengkung ke arah kiri, menyulitkan untuk melihat musuh yang ada didepan. Ditambah lagi tak ada benda atau furniture apapun untuk berlindung dan semua pintu dikoridor terkunci, jadi mereka harus ekstra hati-hati, jangan sampai bertemu polisi dari arah depan.

BupBupBupBupBup...

CutCutCuCtuCut...

Yang dikawatirkan benar-benar terjadi. Tim B dikejutkan oleh suara tembakan peluru. Mereka bertiga merapatkan badan kedinding sebelah kiri, memanfaatkan lengkungan koridor untuk berlindung. Tampak jelas terlihat goresan peluru yang mengenai dinding sebelah kanan.

Bikou memasang magazine terakhir ke AK47. Le Fay juga, mengisi ulang shotgunnya, semua peluru yang ia miliki sudah habis. Gadis cilik ini karena tidak bisa membawa banyak beban dan lambat, maka dia membatasi jumlah amunisi yang dibawa agar tidak ketinggalan oleh yang lain saat bergerak.

Moment ketika tembakan polisi behenti sejenak, Bikou bergeser kekanan lorong lalu menembakkan AK47-nya.

DorDorDorDorDorDorDorDorDorDor...

Nihil. Bikou belum berhasil melukai musuh hingga tembakannya berhenti dan 30 butir pelurunya habis. Terpaksa dia kembali ke dinding sebelah kiri untuk berlindung, mengganti dengan secondary weapon CZ75-Auto Pistol. Bikou lebih suka dengan senjata otomatis yang mampu menembakkan peluru secara beruntun, agar menutupi kelemahannya dalam hal akurasi.

Tanpa memberi musuh untuk membalas, Le Fay mengambil resiko bergerak ke dinding sebelah kanan, dan

Dorrr... Dorrr... Dorrr... Dorrr... Dorrr... Dorrr... Dorrr...

Tembakan beruntun dari shotgun memaksa polisi berlindung kembali dibalik lengkungan dinding koridor. Meski aman dari tembakan langsung, tetap saja kedua polisi itu menerima damage dari pecahan proyektil peluru shotgun yang dipantulkan dinding, walau damage-nya kecil.

Leone YG1265 Auto Shotgun yang dipakai Le Fay hanya mampu menampung 7 butir peluru, maka dari itu setelah suara tembakan yang ketujuh, kedua polisi yang telah selesai mereload ammo langsung merapat kedinding kanan dan membalas tembakan.

BupBupBupBupBup...

CutCutCuCtuCut...

Rentetan peluru yang dimuntahkan dari SMG ES C90 dan KM UMP45 milik kedua polisi memaksa tim yang diisi oleh Bikou, Hinata, dan Le Fay menempel ketat ke dinding kiri koridor. Bahkan terpaksa mundur karena merasakan kalau kedua polisi perlahan bergerak maju ke arah mereka.

Le Fay sudah mengganti senjatanya, hanya tersisa R8 Revolver di tangannya. Shotgun tadi sudah dibuang jauh-jauh karena tak ada peluru lagi. Senjata api sekunder Le Fay ini tak memakai magazine, tapi revolver yang mampu diisi hingga 8 peluru dalam satu putaran. Hanya handgun ini yang cocok untuknya, power dan akurasinya bagus untuk tembakan tunggal, mirip seperti Desert Eagle yang digunakan Hinata.

Bikou, Hinata, dan Le Fay terus bergerak mundur sambil tetap menempel didinding. Mereka menunggu polisi mereload senjata lalu membalas.

Tiba-tiba Hinata bersuara, "Tak ada gunanya, kalian hanya akan membuang peluru kalau menembak seperti tadi."

"Kalau begitu kita harus bagaimana, Hinata-neesama?" tanya Le Fay.

Bikou menoleh ke arah Hinata, seakan meminta jawaban.

Hinata tidak menjawab namun malah memejamkan matanya. Dia berkonsentrasi penuh pada indra pendengarannya untuk memperhitungkan posisi polisi dibalik lengkungan dinding koridor.

Moment ketika suara tembakan dari polisi berhenti, dalam gerakan slow motion, Hinata bergerak ke tengah koridor sambil memutar badan, kedua lengan yang masing-masing memegang Desert Eagle ia ayunkan lembut namun cepat, hingga ketika sampai pada titik tertentu,

DORR...

DORR...

Dua peluru dilepaskan Hinata secara beruntun dari pistol di tangan kanan dan kiri.

Peluru bergerak meninggalkan jejak angin yang terbelah. Jika di amati seksama, peluru yang keluar ini sangat berbeda dengan peluru pada umumnya. Body peluru memiliki ulir-ulir melengkung yang membuat peluru berputar cepat saat melaju.

Tembakan barusan adalah tembakan khusus, peluru itu tidak memiliki jalur lurus namun melengkung. Lengkungan jalur peluru mengikuti lengkungan koridor. Kedua butir peluru masih nampak bergerak perlahan dalam slow motion, hingga akhirnya menemukan targetnya. Wajah dua orang polisi yang tertutup masker, namun jelas sekali nampak dari tatapan mata yang melotot bahwa mereka sangat terkejut karena baru pertama kali melihat bullet line yang melengkung.

Jrassshhhh...Jrasssshhh...

Tak sempat bereaksi apapun, kedua polisi ambruk dengan lubang yang cukup lebar dikepala akibat power dan kekuatan penetrasi yang sangat tinggi dari Desert Eagle atau pistol dengan nama lain Nighthawk. Hinata dapat headshot lagi untuk kesekian kalinya.

Le Fay terdiam, tak menyangka ada yang bisa menembak dan membuat pelurunya berbelok seperti itu. Begitupula dengan Bikou. Secara hukum fisika, belum ada teori dan logika yang membenarkan hal ini.

Karena penasaran Le Fay menanyakannya, "Hinata-neesama, Bba-bagaimana kau bisa menembak seperti itu?"

Le Fay bahkan tak lancar bertanya karena masih shock akan aksi Hinata.

Si gadis bersurai indigo dengan style poni rata itu tersenyum tipis lalu menjawab, "Hanya suatu Unique Skill yang dengan sebuah keberuntungan bisa kumiliki."

Jawaban singkat Hinata tak memuaskan rasa penasaran Le Fay maupun Bikou.

Apa yang dikatakan Hinata benar adanya. Teknik membelokkan peluru tadi adalah sebuah Unique Skill yang dibuat oleh sistem GGO hanya untuk player terpilih. Syaratnya adalah harus memiliki statistic agility atau akurasi menembak yang sangat tinggi, selain itu juga harus memiliki jam terbang lama dalam game GGO.

Untuk syarat pertama, Hinata memenuhinya karena memang dia memiliki agility yang tinggi. Namun ia berbuat curang untuk syarat kedua. Hinata hanya dua bulan berada di GGO, padahal player lainnya sudah bertahun-tahun. Paling lama 3,5 tahun semenjak pertama kali GGO Launching ke publik. Hinata mengunduh Unique Skill itu sekaligus amunisi spesialnya dari pusat sistem GGO dengan bantuan akses dari Yui, sebuah program AI dengan nama resmi Matrix Transporter Space-Time Module Program, Purwarupa 1.

Biarkanlah Hinata berbuat curang dan licik, kepribadiannya saat ini memang tidak sama lagi seperti dulu semenjak badai masalah menimpa hidupnya dan hidup suaminya.

Masalah tim B sudah beres, mereka lansung menuju lantai bawah tanah lewat tangga khusus.

Beberapa saat telah berlalu. Di lantai bawah tanah, Tim A yang terdiri dari enam orang sedang bertarung sengit dengan enam polisi.

Kakakakakaka...

BupBupBupBup...

Dordordordordor...

Rentetan peluru terus berdatangan dari para polisi yang menempati posisi bagus. Mereka lebih dulu disini jadi bisa memilih titik yang menguntungkan.

Sedangkan Tim penyerang hanya bisa bersembunyi dibalik box-box barang yang berserakan disana. Itupun tidak sepenuhnya bisa bersembunyi karena posisi mereka benar-benar tak diuntungkan.

Yang paling buruk adalah, ternyata ada hal diluar dugaan dimana para polisi keamanan yang ada diruangan itu berhasil memecahkan sandi sebuah codebox, sejenis item atau hadiah dari Map bagi mereka yang menemukan dan membukanya untuk memanggil sepuluh NPC polisi keamanan. Polisi keamanan yang sama dengan NPC untuk quest ini pertama kali. Skill bertarung para NPC itu juga cukup tinggi dan dibekali banyak amunisi. Sayangnya tim polisi lah yang menemukan codebox itu, kalau saja tim perampok, mungkin tim perampok sudah menang dari tadi.

Jadi, tim perampok pada kenyataannya sedang bertempur dengan 16 polisi di ruangan yang sempit berukuran 55x45 meter dalam posisi yang tak menguntungkan untuk baku tembak. Benar-benar diluar dugaan, sungguh sial nasib Naruto dan kawan-kawan. Memang makhluk bisa membuat rencana, tapi Yang Maha Kuasa jua lah yang menentukan.

Sesekali Naruto maupun yang lain membalas tembakan, namun itu tak cukup efektif karena hanya menggunakan pistol. Arthur maupun Sasuke juga tidak bisa maju dengan pedang masing-masing, HealthPoint mereka sudah turun sampai tersisa 35%, akan sangat beresiko jika mereka melakukan hal gila seperti diluar tadi untuk melawan 16 polisi dengan senjata api full ammo.

Lebih berbahaya lagi, di tengah kedua kubu yang sedang melakukan baku tembak, ada Sona berdiri dengan tenang, tak ada gemetar sedikitpun. Dia berdiri bersama seorang NPC yang menjabat manager bank tepat didepan pintu berangkas yang masih tertutup. Tak bergerak secenti pun. Untung saja para polisi tidak menyadari kalau Sona yang bersama manager bank bukan NPC melainkan seorang player, jika tidak Sona sudah tewas ditembak dari tadi.

Naruto dan yang lain masih bertahan, mereka benar-benar dirugikan dengan kejutan diluar dugaan ini. Tak disangka mereka dikeroyok habis-habisan sekarang. Kalau sampai peluru di pistol masing-masing habis, tamat lah sudah. Bertarung dengan fisik seperti tadi dan menusuk ke pertahanan musuh sangat tidak mungkin, sebelum sempat bergerak maju ke posisi musuh untuk melawan dengan pisau dan pedang, mereka pasti sudah keburu dihujani peluru. Lalu juga tak ada sisa bom asap atau flashbang lagi yang bisa digunakan sebagai umpan.

Benar-benar buruk.

Ini situasi terburuk bagi Naruto dan yang lain selama permainan.

Karena fokus pada tembak menembak, tak satupun yang menyadari kalau pintu berangkas sudah terbuka bersamaan dengan munculnya suara 'Access Guaranted' yang berasal dari Security System yang melindungi berangkas.

Akibat suara itu, semua polisi langsung mengalihkan bidikan senjata ke arah pintu berangkas.

Ternyata diamnya Sona memang disengaja, bukan menunggu aman tapi menunggu waktu yang telah ia tetapkan sendiri dari awal. Pintu berangkas akan terbuka setelah melewati dua lapis kode keamanan. Yang pertama sudah ia pecahkan sebelum para polisi masuk ke lantai bawah tanah. Sedangkan yang kedua adalah dengan pengenalan sidik jari.

Ketika waktunya tiba, dia menggunakan telapak tangan NPC manager bank dan ditempelkan ke scanner sidik jari.

Pintu berangkas perlahan terbuka. Para Polisi tak menyangka kalau sejak awal bank sudah disusupi perampok sehingga dengan gampangnya formasi mereka di tembus, bahkan ruang komando dan saluran kumonikasi lumpuh total. Sekarang mereka tak akan membiarkan tim perampok mengambil item yang ada didalam berangkas, dengan cara apapun.

Ratatatatatatata...

Kakakakakakaka...

Hujan peluru tertuju pada Sona.

Meski mendapat luka parah dan menyisakan 15% Healthpoint, Sona berhasil masuk setelah menggunakan tubuh NPC manager bank sebagai tameng hidup.

Hujan peluru dari para polisi berhenti sejenak.

Tersisa enam orang dari tim perampok, mereka hendak masuk kedalam berangkas namun tidak bisa. Jika mereka kesana, hanya akan jadi sasaran empuk untuk ditembaki polisi.

Namun bantuan datang.

Bikou muncul dari balik pintu di sudut lain lantai bawah tanah, diikuti oleh Hinata dan Le Fay.

Memanfaatkan situasi saat terjadi kekosongan baku tembak, Le Fay melempar sebuah Flashbang atau bom cahaya ke tengah-tengah ruang bawah tanah. Tampaknya hanya dia yang punya flashbang untuk pengalihan, itu yang terakhir dan satu-satunya.

Semua orang, termasuk polisi keamanan dan NPC polisi tambahan menutup mata agar tidak buta.

1,5 detik kemudian, reflek tanpa perintah atau instruksi apapun, Naruto dengan mata tertutup karena sudah menghafal jalur langsung berlari dari posisinya menuju pintu berangkas yang masih terbuka. Dia yang pertama berlari tanpa menunggu yang lain.

Namun terjadi sesuatu diluar dugaan.

Flashbangnya tidak meledak. Padahal benda itu berlabel akan meledak 1,5 detik setelah pemicunya dilepas.

Benda itu rusak.

Naruto tanpa pertahanan dan perlindungan.

Dasar Baka Dobe, bodoh. Si pirang ini mengantar nyawa.

Enam orang polisi yang sadar kalau Flashbang tidak meledak, seketika membidikkan rifle masing-masing ke arah Naruto. Si pirang di ambang kematian.

"Tak akan kubiarkan!"

Hinata berteriak seraya mengayunkan Desert Eagle di tangan kanannya.

DORR...

Menggunakan visualiasi slow motion, hasilnya sama seperti sebelumnya. Berkat Unique Skill yang mampu membelokkan peluru, Hinata membuat bullet line yang melengkung menuju kepala polisi terdekat.

Peluru dengan ulir-ulir indah seperti karya seni pandai besi yang menghiasi bodinya, bergerak dinamis sepanjang jalur lengkung.

Jrassshhh...

Kepala si polisi berlubang.

Setelah menembus kepala polisi tadi, peluru masih bergerak seperti baru keluar dari moncongnya, power handgun Desert Eagle yang digunakan Hinata memang gila. Bullet line baru yang melengkung tercipta dari lubang kepala polisi tadi ke kepala polisi didekatnya.

Jrasssshhh...

Satu polisi lagi mati dengan kepala berlubang.

Peluru tembus dan terus melaju dalam jalur lengkung.

Jrasssshhh...

Jrasssshhh...

Jrasssshhh...

Jrasssshhh...

Empat polisi lainnya secara beruntun tewas setelah menerima Headshot.

Ini tembakan paling gila dan spektakuler sepanjang sejarah GGO semenjak awal game ini launching. Satu tembakan pistol, membunuh enam polisi sekaligus dengan tembakan berbelok.

Naruto aman hingga berhasil masuk kedalam ruang berangkas. Karena berlari dengan mata tertutup, dia tidak menyadari kalau nyawanya baru saja diselamatkan oleh istrinya sendiri.

Tiba-tiba,

BAAAAAAAANNNGGGG . . . . . .

Ah, ternyata Flashbang yang dilempar Le Fay bukannya rusak, tapi delay. Tidak ada yang tahu ada masalah apa pada benda itu?

Ledakan cahaya dan suara menggetarkan seisi lantai bawah tanah. Segera setelah ledakan, semua anggota tim perampok berlarian menuju pintu berangkas.

Mereka berlarian memanfaatkan jeda waktu 5,7 detik dimana selama selang waktu itu indra penglihatan dan pendengaran polisi kemanan tak berfungsi akibat ledakan flashbang.

Semuanya berhasil masuk kedalam ruang berangkas. Berangkas bawah tanah bank ini punya ukuran 8x8 meter, cukup luas untuk sebuah ruang penyimpanan. Sona yang sejak tadi menunggu bertanya, "Semuanya sudah lengkap?"

Jeda sejenak untuk menghitung anggota, lalu

srudukkkkkk.

"Kyaaaaaaa..."

Bikou yang paling terakhir masuk dan berdiri didekat pintu berangkas berteriak panik, "Le Fay masih di luar!"

Benar saja, gadis kecil itu rupanya tersandung dan jatuh tak jauh dari pintu. Larinya lambat, makanya dia paling belakang.

Hanya ada sisa waktu sekitar 1,5 detik sampai efek flashbang pada para polisi hilang. Belum lagi pintu berangkas yang hanya terbuka selama satu menit sekarang sudah mulai menutup karena waktu habis.

Le Fay tak mungkin sempat jika berlari sendiri. Diluar sana beberapa saat lagi akan ada hujan peluru.

"Naruto-kun!"

Suara Hinata menyentak ketika Naruto hendak keluar dari berangkas. Tangannya menahan pergelangan tangan suaminya agar tidak keluar. Mustahil untuk saat ini menolong Le Fay. Sejak awal ini adalah permainan berbahaya, dan semuanya tahu kalau resikonya adalah kematian. Hinata tak peduli dengan orang lain, siapapun itu. Dia hanya peduli pada keselamatan suaminya.

Bukannya menurut, Naruto malah melepas paksa tangan Hinata. Dia melewati pintu berangkas sambil berkata pada Bikou, "Tolong tahan pintunya sebentar!"

Bikou mengerti dan mengangguk, "Kuharap kau tidak mengecewakanku."

Keturunan Sun Wukong itu berkata pada sebilah tongkat. Itu adalah senjata tipe malee yang ia bawa. Kalau biasanya para awak militer menggunakan pisau, tapi yang digunakan Bikou adalah sebilah tongkat. Namanya Ruyi Stick. Bikou berharap benda ini sehebat tongkat emas Ruyi Jingu Bang asli miliknya yang ada didunia nyata. Tongkat inilah yang digunakan Bikou untuk menahan engsel pintu berangkas.

Naruto berlari secepat yang ia bisa kearah Le Fay yang masih merintih kesakitan di lantai. Setelah mendapatkannya, dia menggendong si gadis kecil berambut pirang itu didepan dan kembali ke ruang berangkas.

Ratatatatatatata . . . . .

Kakakakakakaka . . . . .

"Arrrgghhh!"

Naruto berteriak kesakitan saat punggungnya menjadi sarang beberapa peluru. Sistem GGO menerapkan adanya sensasi rasa sakit pada setiap player, hal ini untuk meningkatkan realitas permainan. Jika tertembak dan belum mati, setiap pemain akan merasakan sakitnya. Termasuk Naruto saat ini yang terkena tembakan peluru di punggung. Meski begitu, ada sistem Pein Absorber atau pengurangan sensasi rasa sakit dari aslinya. Untuk GGO, Pein Absorbernya diatur pada skala 8 dari 10, skala dimana sensasi sakit akibat terpotong tangan di dunia GGO sama rasanya dengan kulit teriris di dunia nyata.

Tapi bagi Naruto yang punggungnya menjadi sarang peluru, tetap saja sensasi rasa sakitnya sangat terasa hingga membuatnya berteriak. Dia berlari tertatih menuju pintu berangkas sambil menyembunyikan tubuh kecil Le Fay didepan agar tidak terluka.

Di dalam berangkas, Hinata yang sangat panik tak mampu memikirkan apa-apa. Tak mungkin Naruto bisa selamat jika tak melakukan sesuatu.

DORR...

DORR...

DORR...

DORR...

Hinata melepas empat tembakan beruntun dari sepasang Desert Eagle-nya bersamaan dengan gerakan ayunan tangan. Peluru melewati celah pintu berangkas yang terbuka sedikit, lalu berbelok.

Jrassshhh...Jrassshhh...Jrassshhh...Jrassshhh...

Empat polisi diluar berangkas entah itu yang mana atau siapa, player maupun NPC, tewas setelah kena headshot.

Dengan begini, Naruto sedikit lebih aman meski masih ada banyak polisi yang menembak.

Naruto hampir mencapai pintu berangkas yang sedikit lagi menutup sempurna. Tongkat Ruyi Stic yang Bikou gunakan untuk menahan engselnya sudah bengkok dan hampir patah.

Flassssshhhh...

BAAAAAANGGG. . . . .

Naruto berhasil masuk kedalam berangkas dan membawa Le Fay dengan selamat. Tubuhnya sedikit terpental akibat bom cahaya yang meledak diluar. Pintu berangkas pun kini tertutup sempurna. Semua anggota Tim Perampok aman dari hujan peluru.

Diluar ruang berangkas masih terdengar keributan, artinya masih ada beberapa polisi keamanan dengan senjata lengkap, memutus akses jalan keluar dari tim perampok.

Seharusnya tidak boleh semua anggota tim perampok masuk kedalam berangkas, cukup satu atau dua orang untuk mengambil item yang di incar, sisanya mengamankan rute pelarian, lalu diluar ada yang menunggu dengan helikopter. Namun itu tidak diperlukan oleh tim Sona karena,

"Mission Completed."

Suara dari Sona selaku pemimpin menandakan berakhirnya quest yang harus mereka selesaikan.

Ya, misi benar-benar sudah selesai.

Sudah selesai.

Tak perlu rute pelarian.

Ada alasan kenapa Tim Sona mengambil waktu malam hari pada hari ini. Seperti yang sudah Hinata settingkan pada Cube, hari ini adalah hari terakhir mereka di dunia Virtual. Mereka yakin berhasil dan mempertaruhkan segalanya dalam quest ini. Jangka waktu mereka didunia Virtual adalah dua bulan. Lalu tepat 15 menit lagi waktu itu akan habis dan Cube akan melakukan Log Out secara paksa untuk mengembalikan kesadaran mereka semua ke tubuh asli yang baru tertidur enam jam di dunia nyata, DxD Universe.

Namun bukannya suasana suka cita setelah kemenangan, tapi suasana suram ditambah kehengingan lah yang menyeruak didalam ruang berangkas berukuran 8x8 meter ini.

Kejadian tadi membuat mental semua anggota tim tertekan. Hampir saja satu anggota tewas, ah tidak, tapi dua orang, Le Fay dan Naruto.

Saat ini Naruto bersandar di dinding berangkas, Healthpoinnya tinggal 1%. Satu peluru lagi walau hanya menggores kulit saja, Naruto akan benar-benar tewas.

"Hikssss, Naruto-niisama..." ada Le Fay yang belum mau melepas pelukannya dari Naruto. Tentu saja gadis kecil ini mengalami trauma mental hebat. Hanya karena kecerobohan dirinya, tersandung saat berlari, nyawanya hampir melayang.

Bukan itu saja, Le Fay lebih tertekan karena dirinya hampir saja menyebabkan orang yang rela mengorbankan diri untuk menyelamatkannya tewas.

"Maafkan aku, Naruto-niisama. Hikkksss,,, ma-maafkan akuuu..."

Naruto mengelus pucuk kepala Le Fay yang menempel di dadanya. "Sudahlah, tak apa-apa kok."

"Ta-tapi hiksss, karena kecerobohanku kau hampir saja c-celaka." isakan Le Fay semakin tersedu-sedu.

"Yang penting kan kita berdua selamat. Lupakan yang tadi yaa, Le Fay-chan."

Le Fay mengangguk dalam dekapan Naruto.

"Anooo," Sakura mendekat, jongkok di sebelah kiri Naruto. "Le Fay-chan, bisakan kau lepaskan pelukanmu."

Le Fay menggeleng cepat.

"Bukan apa-apa, hanya saja pelukanmu terlalu erat. Naruto bisa benar-benar mati kalau kau terus memeluknya seperti itu."

Sakura memperingatkan bukan tanpa alasan. Dari yang ia lihat, statistik HealthPoint Naruto kini hanya tersisa 0,85%. Turun perlahan karena pelukan erat Le Fay ternyata mampu memberikan sedikit damage pada avatar Naruto.

Akhirnya Le Fay mau melepas pelukannya, meski begitu dia tidak mau menjauh dari Naruto.

Naruto mendongak, balas menatap kedua bola mata hijau milik Sakura yang ternyata sejak tadi menatapnya intens. Tatapan Sakura yang seolah berkata, 'Sudah kuduga kejadiannya akan seperti ini. Aku sudah memperingatkanmu kan?'.

Mengerti akan hal itu, Naruto melirikkan ekor matanya ke sudut ruangan. Disana ada Hinata yang baru saja mengeluarkan gadis kecil berambut hitam panjang sepaha yang merupakan program AI dengan codename Yui. Mereka berdua sedang sibuk dengan loker di dinding berangkas. Ya, dinding dalam berangkas ini tersusun dari banyak loker, dan di salah satunya tersimpan item yang mereka butuhkan, sebuah konsol untuk menghubungkan akses antara Matrix ke Cardinal System.

Naruto hendak memanggil nama istrinya, namun lidahnya serasa kelu hanya untuk mengucapkan satu kata. Nampak disana Hinata sibuk dengan tugasnya, ah tidak, tapi dia tampak seperti menghindari Naruto.

Inilah yang membuat suasana party beranggota sepuluh orang ini menjadi hening, tak ada suara dan tak ada candaan. Berbeda jauh dengan sebelum-sebelumnya ketika Naruto membuat candaan tak bermutu, atau Kuroka dan Bikou yang berisiknya minta ampun, serta Le Fay yang selalu bertingkah manja pada siapapun.

Semua orang sudah tahu hubungan Naruto dan Hinata, sepasang suami istri. Dan saat ini dua orang itu sedang bertengkar. Inilah yang memberikan impresi bagi yang lainnya agar hati-hati bertindak, memaksa mereka untuk diam, jika salah sedikit saja bisa-bisa masalah semakin runyam. Makanya mereka semua tak ada yang berani buka suara.

Terlebih bagi Le Fay, dia semakin merasa bersalah saat ini. Kecerobohannya tak hanya membahayakan nyawa sosok yang ia kagumi dan sayangi, tapi juga menciptakan masalah lain.

Meski Sakura yang paling tahu keadaan, tapi dia tak bisa memikirkan hal apapun untuk membereskan hal ini. Ingin membantu, tapi ini diluar urusannya. Dia tak bisa seenaknya mencampuri urusan rumah tangga orang meski itu adalah sahabatnya sendiri.

Masalah ini tidak sesimpel kelihatannya. Bukan hanya tentang aksi penyelamatan Le Fay yang sangat berbahaya, tapi berkaitan pula dengan masalah besar lainnya. Hanya Naruto dan Hinata saja yang tahu semuanya.

Naruto maupun Hinata, bukannya tak ingin menyelesaikan masalah mereka sekarang. Naruto merasa bersalah pada Hinata, begitupula sebaliknya. Tapi saat ini diam adalah pilihan terbaik. Mendinginkan kepala dan menunggu pikiran kembali jernih untuk memikirkan solusinya, yang pasti harus dimulai dengan kata maaf.

Lima belas menit kemudian,

"Ekhhem..."

Hinata berdehem pelan agar perhatian semua orang tertuju padanya. Dia sudah selesai membereskan sisa tugasnya, Yui berikut dengan konsolnya sudah disimpan dalam dimensi khusus didalam Cube. Tiga artefak yang dibutuhkan sudah terkumpul, sisa satu lagi yaitu [666] Trihexa.

"Sepuluh detik lagi kita akan Log Out, bersiaplah untuk transfer." ucap Hinata memperingatkan.

Setiap kali berpindah ke universe lain dengan Cube, pasti akan timbul efek samping. Minimal mual dan sakit kepala karena perbedaan kecepatan arus waktu setiap universe.

Avatar dari kesepuluh orang yang ada didalam berangkas bersinar terang. Saat cahaya memudar, yang tersisa hanyalah kekosongan. Mereka sudah pulang ke DxD Universe.

TBC...

.

Note : Penting dan pertama, dibawah note ini ada omake. Baca kalau tidak mau ketinggalah hal yang penting.

Kemudian,, ahheeemmmm. Heheee. Bagi yang kelamaan nunggu update chapter 51, sorry ya. Ada hal yang membuatku tidak bisa menulis untuk sementara. Aku ga perlu kemukakan alasan detailnya kan?

Untuk chapter ini, semua urusan di GGO sudah selesai. Tak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, tapi kalau koreksi misalnya ada yang salah, sebutkan saja. Kalau membayangkan suasananya, yah sangat mirip lah dengan suasana game tipe FPS seperti Counter Strike atau Point Blank. Yang berbeda itu, Unique Skill milik Hinata. Kurasa pasti sudah banyak yang tahu dari mana asal konsep tembakan peluru berbelok itu, hihiiii...

Yang meninggalkan bekas dari chapter ini untuk cerita kedepannya cuma tentang masalah NaruHina. Konflik internal mereka semakin nyata, bahkan sudah kelihatan orang lain, terutama oleh Sakura yang tahu banyak tentang perubahan kepribadian Hinata.

Niatku sih mau nambahin tentang scene konflik awal di Rumania tempat asal bangsa vampire pada chapter ini, cuma kalau kuteruskan akan makin lama updatenya. Jadi kucukupkan sampai disini saja dulu.

Okeh, itu aja deh.

Ulasan Review:

Untuk yang kemarin membayangkan film Fast Forius, Need For Speed, atau film action semacamnya, kalian tidak salah kok. Aku berimajinasi dengan mengambil materi dan mengembangkannya dari film itu. Ada bagian yang mirip, ada juga hal baru, menyesuaikan setting lingkungan Full Dive GGO.

Ada yang nanya, apa kepikiran buat bikin FF khusus bertema militer. Aku jawab, entah lah, tak ada yang tahu apa yang ada di masa depan. Hahaaa.

Kalau kangen DxD Universe, chap depan deh, pasti. Masalah disana akan semakin rumit.

Ada yang nyinggung Yuigahama Yui dari anime Oregairu. Bukan kok. Untuk Program AI dengan codename Yui di Arc ini, aku mengambil karakter dari SAO yang bernama Yui juga.

Kemudian aku sangat berterima kasih untuk Pak Tegar atas koreksinya. Kayaknya aku yang salah baca nama Tank buatan USA saat cari referensi. Heheee. Lalu untuk kelemahannya, aku ambil kelemahan umum Tank yaitu bagian kubah turret. Ga taunya kalau untuk Tank M1 Abrams punya kelemahan spesifik di bagian turbin gas belakang. Sekali lagi makasih Pak.

Terakhir aku mau bilang, FF ini hanya menyisakan 3 arc lagi, tapi Arc panjang. Konflik di Rumania, Rating Game, lalu yang terakhir Armageddon. Mungkin beberapa bulan lagi akan tamat, sekitar 15 sampai 20 chapter lagi. Semoga eksekusi endingnya bagus. Kuharap kalian juga mau aktif memberitahu bagian-bagian atau scene yang terlupakan sejak chapter awal sehingga bisa diselesaikan di bagian akhir cerita.

Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.

Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.

.

...

Omake . . . .

Selama menunggu waktu 15 menit sebelum Log Out dari GGO, tiba-tiba ada hal tak terduga.

Ting tong ting tong.

Suara notifikasi berbunyi dan layar hologram kotak menu dari avatar Naruto menyala. Layar itu tepat muncul pada jarak 30 cm dari wajah Naruto.

Itu sebuah panggilan Video Call. Naruto langsung menekan tombol hijau berbentuk bulat.

Muncul gambar wajah seorang pria paruh baya disana. Dari pakaiannya, itu adalah seragam pasukan keamanan yang menjaga bank, musuh yang baru saja mereka lawan. Tampak kalau pria itu membuat panggilan sembunyi-sembunyi.

Naruto berusaha memasang wajah sesantai mungkin.

"Yooo, What's up Bro?"

Wajah si pria paruh baya diseberang sana langsung tertekuk kesal, tampak kurang suka dengan sapaan Naruto.

"Hallaaaaaah, ente kagak usah sok inggris gitu juga keles."

Bisa dipastikan player yang menghubungi Naruto adalah gamer asal Indonesia.

"Oh yayayaaa. Jadi ada apaan nih, Pak?" tanya Naruto, mencoba mengimbangi gaya lawan bicaranya.

"Pake nanya lagi? Sisa uang ane yang separuhnya lagi mana? Kan janjinya kemarin bakal ente kasih kalau tim ente berhasil masuk kedalam berangkas."

"Ahahaaaa,,, Oke oke. Sabar dikit napa Pak."

Naruto menscroll layar kotak menu utama Avatarnya, mengklik beberapa kali hingga muncul kotak menu transfer uang In-game. Tertulis mata uang In-game yang senilai dengan mata uang dunia nyata, 690 ribu dollar USA. Naruto mengklik tombol 'Confirm' lalu muncul notifikasi 'Transfer Succces'.

"Sippp, udah masuk vroh. Terima kasih."

"Sama-sama Pak."

"Lain kali kalau ada urusan ginian, hubungin ane lagi ya pak."

"Wokeh, no problem." kata Naruto.

Sementara itu, semua anggota tim berkedip-kedip tak percaya akan apa maksud dari semua ini?

"Naruto-san?"

Seruan Sona penuh akan tuntutan jawaban, begitu pula tatapan mata dari anggota yang lainnya.

Naruto nyengir lebar, "Aku dan dia hanya sedikit yaaaa... You Know lah. Urusan antar lelaki. Eheheheee."

Sasuke langsung mengerti, "Jadi ini sebenarnya alasanmu kemarin meminjam semua uang In-game milikku, Dobe?"

"Hu'um, untuk jaga-jaga kalau ada hal diluar rencana, jadi aku menyuap salah satu anggota polisi keamanan yang kutemui pada hari kedua kita di quest ini. Dia melakukan tugasnya dengan baik disaat-saat terakhir tadi. Dia lah yang melempar Flashbang saat aku berusaha menyelamatkan Le Fay-chan untuk mengecoh teman-temannya."

Ckckck,,,, jadi ini maksud Naruto yang dinamakan urusan antar lelaki. Benar-benar keterlaluan, hubungan antar lelaki memang menjijikkan.

Pantas pula Naruto mudah menyuap player polisi itu, latar belakangnya orang Indonesia. Salah satu negara dengan catatan kriminal penggelapan uang dan kuropsi terburuk sedunia serta budaya suap yang sudah menjadi tradisi.

Jari telunjuk Naruto bergerak menuju tanda silang berwarna merah untuk mengakhiri panggilan,

"Hoihoihoiiiii, jangan ditutup dulu!"

Naruto tidak jadi memutus sambungan video call, "Ada apalagi sih pak?"

"Ane punya tawaran bagus nih buat ente." katanya dengan sebelah mata berkedip-kedip sambil menbuat senyum nista dan menjijikkan.

"Eh, tawaran?" Naruto membuat eskpresi seolah-olah tertarik, padahal dia tidak butuh karena sebentar lagi akan meninggalkan dunia Virtual GGO untuk selama-lamanya.

"Ane punya banyak koleksi, ente mau kagak?"

"Koleksi apaan Pak?"

"Lah, ente pura-pura kagak ngerti. Jangan sok berlagak polos deh."

"Gua emang ga ngerti, dodol. Jadi koleksi apaan emangnya?" ucapan berbebelit-belit dari lawan bicara mulai membuat Naruto kesal.

"JAV."

"Ha?" Naruto menganga, rahangnya menggantung.

"Mulai dari artis pro lama yang udah pengalaman sampai yang muda-muda belia, yang kakek-kakek bangkotan juga ada. Kualitas FullHD semua. Mau? Ane kasih murah nih."

Muka Naruto memerah, dia tak ingin obrolan ini berlanjut dan didengar oleh teman-teman yang lain, terutama Hinata.

"PALALU PE'A! GUA GA BUTUH!" Naruto berteriak kesal.

"Meh, ane kagak percaya ente ga suka barang ginian. Kagak usah muna deh." kata polisi itu dengan nada sinis.

"Gua ga butuh itu, gua punya yang nyata. Gua udah punya bini, Bego!"

"HUANJEEEEEERRRRRRRRRR...! Vangsatttt, ane kagak percaya!" Si player polisi bertetiak histeris.

"Terserah elu, dasar jones mesum keparat!"

Laki-laki yang bicara via video call dengan Naruto menangis alay, "Hiksss, ente bukan sohib ane, ente pengkhianat. Sesama jones dilarang mendahului vroh."

"Berisik, gua bukan jones!"

Cklikkkk...

Naruto memutus sambungan video call, bisa muntah kalau lama-lama melihat wajah menjijikkan player yang tadi.

Ini nih, ciri khas lain player Indonesia, negara target pasar indrustri pornografi paling menjanjikan sedunia.

Masih dengan ekspresi jengkel karena tingkah pria paruh baya tadi, Naruto menatap semua anggota tim bergiliran. "Aku masih waras, orang tadi saja yang sudah gila."

Semuanya memasang wajah takut-takut, Naruto yang sedang jengkel bisa sangat merepotkan.

"Ah tidak kok, kami tidak mengatakan kau tidak waras, Naruto-san. Iya kan, iya kan, iya kan?" Kuroka menatap yang lain bergiliran, meminta mereka agar mengangguk.

"Ekhhem..."

Hinata berdehem agar perhatian semua orang tertuju padanya.

...

.