Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Serta karakter-karakter lainnya yang saya pinjam dari pemiliknya
Summary : Masalah bermunculan. Penghalang selalu ada. Perjuangan berat sekali lagi harus ia tempuh. Tidak sama seperti sebelumnya, kali ini dia bukan berjuang untuk perdamaian tapi berjuang untuk bertahan hidup. Apakah memang masih ada cara untuk mempertahankan kelangsungan semua makhluk hidup dari takdir Hari Akhir? Tidak hanya untuk manusia saja, tapi untuk setiap makhluk yang bernyawa. Naruto, sang pahlawanlah yang akan memperjuangkannya. Perjuangan berat di DxD Universe. . . .
Genre : Sci-fi, Adventure, Fantasy, & Little bit Romance
Rate : M
Setting : AU (Alternate Universe)
Warning : Multiple Crossover, typo, OOC, Gaje, dll.
Pair : Semua Pair Canon
Senin, 29 Agustus 2016
Happy reading . . . . .
Sebelumnya. . . .
Semua orang sudah tahu hubungan Naruto dan Hinata, sepasang suami istri. Dan saat ini dua orang itu sedang bertengkar. Inilah yang memberikan impresi bagi yang lainnya agar hati-hati bertindak, memaksa mereka untuk diam, jika salah sedikit saja bisa-bisa masalah semakin runyam. Makanya mereka semua tak ada yang berani buka suara.
Terlebih bagi Le Fay, dia semakin merasa bersalah saat ini. Kecerobohannya tak hanya membahayakan nyawa sosok yang ia kagumi dan sayangi, tapi juga menciptakan masalah lain.
Meski Sakura yang paling tahu keadaan, tapi dia tak bisa memikirkan hal apapun untuk membereskan hal ini. Ingin membantu, tapi ini diluar urusannya. Dia tak bisa seenaknya mencampuri urusan rumah tangga orang meski itu adalah sahabatnya sendiri.
Masalah ini tidak sesimpel kelihatannya. Bukan hanya tentang aksi penyelamatan Le Fay yang sangat berbahaya, tapi berkaitan pula dengan masalah besar lainnya. Hanya Naruto dan Hinata saja yang tahu semuanya.
Naruto maupun Hinata, bukannya tak ingin menyelesaikan masalah mereka sekarang. Naruto merasa bersalah pada Hinata, begitupula sebaliknya. Tapi saat ini diam adalah pilihan terbaik. Mendinginkan kepala dan menunggu pikiran kembali jernih untuk memikirkan solusinya, yang pasti harus dimulai dengan kata maaf.
.
To The End of The World
Author By Si Hitam
Beta Reader By Papan Ouija (Trio Nica)
Chapter 53. Pesan untuk Sang Putra Bintang Fajar.
-Kuoh Gakuen-
Malam hari di ruang Klub Penelitian Ilmu Ghaib yang diketuai oleh Rias Gremory, akan ada pertemuan penting. Ada tamu yang bertandang dari jauh ke Kuoh Gakuen. Mereka adalah utusan bangsa Vampire dari Rumania.
Sudah ada banyak orang yang berkumpul di sana. Kelompok Gremory lengkap ditambah Irina, Dewan OSIS yang terdiri dari Ketua OSIS itu sendiri Sona Sitri didampingi wakilnya Tsubaki Shinra dan beberapa budak lain, ada Saji, Ruruko, Naruto, dan Hinata. Ada juga Azazel, dan seorang suster.
Seorang suster yang memakai kerudung khas biarawati. Wajahnya cantik, tampak seperti dia berasal dari Eropa Utara dan tubuhnya sangat ideal untuk ukuran seorang aktris kelas dunia, berumur 20 tahunan, dan dia punya senyum manis yang menciptakan suasana lembut.
Suster itu melihat ke semua orang dalam ruangan lalu memperkenalkan diri, "Namaku Griselda Quarta. Aku staff pengawas dari Surga di daerah ini. Kuberharap aku bisa akrab dengan kalian semua."
Azazel berjabat tangan dengan Griselda, "Oh, Aku sudah dengar tentangmu. Ratu dari salah satu Seraph Surga, Gabriel. Kau Suster Griselda, satu-satunya exorcist wanita yang menjadi top 5."
"Terima kasih pujian Anda. Setelah namaku dikenal oleh Gubernur Malaikat Jatuh, Aku merasa terhormat."
Griselda Quarta adalah seorang Malaikat renkarnasi yang terlahir kembali sebagai seorang Brave Saint. Brave Saint sendiri singkatnya adalah teknik yang sama dengan Evil Piece dari para Iblis untuk mereinkarnasi manusia atau makhluk lain menjadi rasnya. Dengan Brave Saint inilah Ras Malaikat menambah pilar-pilar kekuatannya.
Dia adalah Ratu dari salah satu Seraph Surga yaitu Gabriel, yang termasuk Empat Seraph Besar. Jika Irina adalah As dari Sang Archangel Michael, maka Griselda menjadi As dari Gabriel. Sebut saja dia Ratu Hati.
Sesi perkenalan sudah selesai. Sembari menunggu tamu Vampire, nampak dalam ruangan klub ini masih ada hal yang tak sedap dirasa.
Katakan kalau tamu Vampire datang untuk menemui dan berbicara dengan Aliansi Tiga Fraksi dalam urusan diplomatik. Azazel ada sebagai perwakilan Malaikat Jatuh, kemudian Griselda perwakilan dari pihak Malaikat serta Sona dan Rias yang merupakan adik dari dua Maou saat ini sebagai perwakilan dari pihak Iblis.
Kejanggalan bukan berasal dari persatuan itu, namun dua orang tambahan yang dibawa oleh Sona. Naruto dan Hinata, mereka berdua berdiri mengucilkan diri menjauh dari yang lain ke sudut ruangan.
Kedua budak cadangan ini mendapat panggilan telepon mendadak dari Sona setelah adanya khabar bahwa ada Vampire dari Rumania yang bertamu ke Kuoh. Sona dan Hinata sudah mengetahui informasi keberadaan Longinus yang bernama Sepiroth Graal atau disebut sebagai relik cawan suci Holy Grail. Tentu saja ini sangat penting untuk mereka sebagai sebuah tim yang bergerak demi mencegah keruntuhan Cardinal System. Tim yang mencari Trihexa [666], eksistensi yang disebut-sebut sebagai binatang pengkiamat, untuk mencegah kiamat itu sendiri, memerlukan kemampuan dari Sacred Gear Longinus Sephiroth Graal agar bisa menemukan letak pasti tempat Trihexa tersegel.
Baru dua hari mereka pulang dari Dunia Virtual GGO dan sekarang sudah dihadapkan masalah penting. Tak apa, karena memang pekerjaan ini harus disegerakan sebab keruntuhan Cardinal System hanya tinggal menghitung minggu, tepat 12 minggu lagi. Jika semua artefak belum terkumpul dan Matrix belum bisa diaktifkan, seluruh semesta universe benar-benar akan lenyap dari ruang dan waktu.
Mengucilkan diri adalah suatu hal yang agak aneh bagi Naruto, sebab semua orang sudah tahu kalau selain sangat dekat dengan iblis kelompok Sitri, dia juga lumayan dekat dengan iblis-iblis dari Kelompok Gremory. Koneko sangat suka menempel pada Naruto, Akeno yang suka menggodanya, dan Xenovia yang suka cari-cari perhatian dengan cara menantang bertarung.
Tapi saat ini sangat berbeda. Ekspresi Naruto seakan membuat impresi bagi iblis-iblis muda untuk menjauh darinya. Hanya melihat wajah Naruto saja, maka kau seolah mendengarnya berbicara 'Aku sedang kesal, menjauh dariku!'. Benar-benar bukan Naruto sekali, beda dengan kesehariannya yang dikenal hangat dan ramah.
Hinata masih seperti biasa, sosok wanita anggun dan elegan, sopan dalam bertindak dan bertutur kata.
Tapi itu terlalu menjadi masalah. Sebenarnya yang menjadi masalah utamanya adalah Naruto dan Hinata berdiri pada jarak yang berjauhan. Sangat tidak wajar mengingat mereka adalah suami istri yang biasanya selalu mesra dan harmonis serta tak pernah bertengkar. Selain Griselda, semua orang dalam ruangan ini sudah tahu akan hal itu. Sudah bukan rahasia lagi kalau mereka sudah menikah.
Namun melihat raut muka Sona yang seakan berkata, 'Hal biasa, pertengkaran pengantin baru. Kalau kalian tak ingin mendapat masalah, lebih baik tak usah dipikirkan. Paling sebentar lagi mereka juga akan baikan dengan sendirinya'. Dan semua orang di sana paham maksud Sona. Jadinya tak ada satupun yang mengungkit hal ini, bahkan oleh Issei yang paling penasaran dan tak bisa menahan diri kalau menyangkut urusan perempuan berdada besar.
Lain dengan Suster Griselda, dia sejak tadi menatap intens ke arah Naruto yang berdiri di dekat jendela dan sedang menengok keluar menatap kerlip bintang di langit malam.
"Naruto-san." Griselda memanggil nama itu dengan nada lembut.
"Iya. Maaf, ada apa Anda memanggil saya, Griselda-san?"
Naruto segera memalingkan wajahnya, menatap orang yang baru saja memanggilnya. Dia membuat ekspresi formal kepada orang penting yang punya kedudukan tinggi. Memang begitulah, posisinya hanyalah sebagai budak iblis yang mengkonsumsi bidak pion di sini, dan itupun bidak pion cadangan. Posisinya rendah, terendah dalam strata keluarga iblis, tak punya hak bicara sedikitpun kalau tak dipersilahkan.
Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut Griselda.
Karena ditatap intens cukup lama, Naruto memberanikan diri berkata lagi, "Griselda-san, apa ada sesuatu pada diriku yang membuatmu tak nyaman."
Griselda menyudahi lamunannya, "Tidak, tidak. Bukan apa-apa, hanya saja perawakan dan wajahmu tidak mencirikan orang Jepang pada umumnya, padahal katanya kau Ninja dari pedalaman, iya kan?"
"Ah, benar. Aku ninja, tapi kalau kenapa penampilanku seperti ini aku juga tidak tahu. Memang sudah sejak lahir."
"Tak masalah, malah kau yang seperti ini kelihatan sangat gagah dan tampan."
Griselda tersenyum lembut saat mengatakan pujian itu.
Issei, pria gila dada perempuan langsung cemberut. Bukan marah, hanya saja dia iri. Batinnya mengutuk semua pria tampan. Bahkan Kiba yang teman baiknya saja dia kutuk, apalagi Naruto. Inilah sifatnya, bukan masalah besar sih, tetap saja itu tak mengurangi fakta kalau Issei adalah orang baik yang peduli pada teman-teman yang berharga baginya.
Berbeda dengan Issei, semua orang yang lainnya sangat menyayangkan hal tadi. Pujian Griselda malah memperburuk keadaan.
"Ekhhemmm."
Suara deheman itu berasal dari wanita berambut indigo berponi rata.
"Kurasa bukan hal yang pantas bagi seorang reinkarnasi Malaikat terhormat mengatakan pujian tadi kepada seorang pria beristri dengan tatapan mata bermakna tak jelas."
Nah kan, benar. Baru dipikirkan, Hinata sudah bereaksi. Wajar kan? Mana ada seorang perempuan yang suka suaminya diperlakukan seperti itu oleh wanita lain.
Oke, sekarang serius. Itu tadi hanyalah yang nampak dari luar, yang dirasa oleh mereka yang masih polos dan belum tahu serta belum berpengalaman dengan yang namanya perang pikiran.
Sebut saja yang barusan adalah akting atau drama untuk menyembunyikan apa yang dipikirkan masing-masing. Memang benar kalau Naruto dan Hinata belum baikan, tapi masalah itu bisa dikesampingkan duhulu.
Azazel sebenarnya sudah cukup lama menaruh curiga dengan sepasang ninja yang menjadi budak cadangan Sona Sitri, semenjak insiden penyerangan Dewa Jahat Loki yang berhasil dihabisi. Sebaik apapun Naruto dan Hinata bersikap dalam keseharian di hadapan para iblis, bahkan dimata-matai oleh suruhan Azazel 24 jam penuh selama seminggu dengan hasil nol, tetap saja Azazel tidak buta akan hal tidak wajar dari dua orang itu.
Azazel mengerti benar kalau kedua budak cadangan Sona bukanlah orang sembarangan setelah dia mengamati bagaimana sikap, pengambilan keputusan, cara bertindak, serta ketahanan mental Naruto dan Hinata saat dihadapkan pada situasi sulit antara hidup dan mati ketika Loki, tiga Fenrir, serta lima Raja Naga Midgardsorm produksi massal memojokkan tim yang ia buat.
- Flashback Chapter 29 -
Suatu ruangan khusus yang ditempati oleh tiga orang, satu gadis muda dan dua pria paruh baya. Ruangan yang memiliki layar hologram untuk menampilkan seluruh kejadian pertarungan di tempat bekas pertambangan. Ini kursi VIP.
Pria paruh baya dengan poni pirang bersuara pertama kali setelah pertarungan usai, Azazel, "Selama ini yang menarik perhatianku hanyalah Sacred Gear, apalagi Boosted Gear milik Issei, si perwujudan dari kemungkinan tak terbatas. Tapi ternyata berubah, aku sekarang sepertinya mulai sedikit tertarik dengan dua peerage cadanganmu, Sona. Siapa sebenarnya mereka berdua?" tanyanya pada si gadis berkacamata.
Azazel tidak sedetikpun melepaskan fokusnya pada semua kejadian di pertarungan melawan Loki. Rias Gremory yang mampu melenyapkan satu anak Fenrir tanpa sisa padahal itu suatu hal yang tak akan mungkin bisa dilakukan Rias Gremory pada kondisi normal, dan adanya anomali dimensi ruang yang tidak diketahui penyebab dan penjelasan teoritisnya.
Azazel sangat mengetahui semua data kekuatan dan kemampuan orang-orang yang bertarung melawan Loki dan Fenrir kecuali data Naruto dan Hinata. Jadi pria paruh baya ini yakin kalau dua hal tersebut pastilah ada sangkut dengan keikutsertaan dua peerage cadangan Sona dalam pertarungan. Inilah hal yang mendasari ketertarikan Azazel pada Naruto dan Hinata.
Ya, Azazel tertarik karena dia ditarik oleh kecurigaan.
Lagipula, Azazel sudah mengkonfirmasi pada Maou Ajuka Beelzebub tentang Evil Piece bidak Pion Extra yang digunakan Sona untuk membuat kontrak budak cadangan. Memang Maou berambut hijau itu mengatakan kalau dialah yang membuat Evil Piece itu dan membagikannya pada beberapa iblis berdarah murni, namun selama masa percobaan tak ada satupun yang berhasil. Tapi nyatanya Sona mengatakan kalau dia berhasil tanpa membuat laporan apapun kepada orang berkepentingan. Bukankah hal ini sangat mencurigakan bagi si ilmuan jenius Azazel?
Lain lagi dengan Griselda. Dia termasuk Exorcist Top kelas atas. Dia punya kemampuan menganalisis keadaan di sekitarnya sampai sekecil apapun. Tatapan yang ia tujukan pada Naruto bukanlah tatapan suka apalagi memuja, itu hanyalah ekspresi yang sebenarnya mengandung tatapan curiga. Walaupun samar, sebagai malaikat reinkarnasi ia bisa merasakan kalau ada yang aneh dengan aura iblis dari tubuh Naruto maupun Hinata.
Naruto maupun Hinata mengerti kalau mereka dicurigai, sudah lumrah bagi Ninja yang bergerak sembunyi-sembunyi untuk bisa membaca sikap dan gestur tubuh aneh sekecil apapun dari lawan. Jadinya sebisa mungkin mereka bertindak normal. Meski mudah membohongi para iblis-iblis muda, namun untuk Azazel yang sudah lama hidup dan banyak makan asam garam, tentu saja itu sangat sulit.
Sona yang saat ini mendedikasikan hidupnya untuk membantu Naruto mencegah keruntuhan Cardinal System, tentu tak mungkin terbuka dan selalu berterus terang seperti dulu lagi pada siapapun. Sebagai iblis muda jenius, dia mampu menangkap kecurigaan Azazel dan Griselda.
Sebenarnya saat Sona mengatakan kalau akan ada Azazel dalam pertemuan, Naruto menolak untuk hadir karena ia tidak ingin menambah kecurigaan Sang Gubernur Malaikat Jatuh. Tapi Sona tetap bersikeras, kemampuan spesial Naruto yang mampu menangkap maksud hati orang lain sangat diperlukan, dan targetnya adalah tamu yang akan datang, Vampire dari Rumania yang berhubungan dengan relik Holy Grail, sesuatu yang berkaitan erat dengan rencana tim mereka saat ini untuk membangkitkan Trihexa.
Meski saling melempar rasa curiga dan kehati-hatian, namun kedua kubu ini memainkan perannya dengan sangat bagus seperti dalam lakon drama. Menyembunyikan isi pikiran mereka dan fokus pada pertemuan.
Malam semakin gelap. Semua orang di dalam ruangan kini merasakan hawa dingin abnormal.
Rias berdiri dan bersuara, "Sepertinya tamu kita sudah tiba."
Mengerti akan hal itu, Kiba berdiri dan meninggalkan ruang klub setelah membungkuk pada semua orang.
Vampire berdarah murni adalah makhluk yang tak bisa masuk ke dalam suatu ruangan jika tak diundang. Tak tampak di cermin, dan tak memiliki bayangan. Untuk alasan itulah, Kiba keluar untuk menjemput tamu mereka.
Semua orang menunggu, yang mana orang-orang kelas boss duduk sedangkan para budak bawahan berdiri.
Ada ketukan dari pintu.
Kiba berucap sopan, "Aku membawa para tamu."
Kiba membuka pintu lalu masuk dan membawa tamu ke tempat yang telah disediakan dengan gaya layaknya seorang pelayan.
Tamu ada tiga orang, dua nampak seperti pengawal. Utusan utama berdiri di tengah.
Dia adalah seorang gadis bak boneka yang mengenakan gaun khas putri abad pertengahan Eropa. Gadis itu sungguh cantik, seperti boneka mahakarya seniman ahli. Mata, hidung, dan mulutnya pun terlihat seperti boneka-boneka dari Barat di mana dia tidak tampak seperti manusia, dan kecantikannya tampak seperti dibuat oleh seseorang. Rambutnya pirang panjang bergelombang, dan itu malah membuatnya makin tampak seperti boneka bahkan lebih dari boneka itu sendiri. Dan warna kulitnya putih bersih, bersinar ketika tertimpa cahaya. Iris matanya sangat merah.
Sang gadis, tamu dari Vampire ini menyapa Rias dan dan semua orang yang lebih dulu ada dalam ruangan dengan sopan.
"Bagaimana kabar kalian, perwakilan dari Tiga Kekuatan Besar. Saya merasa terhormat menjumpai dua saudari kecil dari Maou dan Gubernur Malaikat Jatuh."
Dipersilahkan oleh Rias, gadis itu duduk tepat di kursi yang telah disediakan.
Dia memperkenalkan dirinya sebelum duduk.
"Saya Elmenhilde Galnstein. Silakan panggil saya Elmen."
Azazel meletakkan tangannya di dagunya.
"Galnstein. Jika aku benar, itu marga keluarga yang termasuk dalam salah satu dari dua Faksi besar Vampire. Keluarga yang berada pada peringkat tertinggi di antara Faksi Carmilla. Aku senang karena sudah lama aku tidak bertemu seorang Vampire bangsawan dengan darah murni."
Vampire adalah penduduk kegelapan yang telah ada sejak zaman kuno. Mereka punya pembagian strata sosial seperti Iblis, dari kelas paling bawah hingga yang paling tinggi. Iblis adalah penduduk Dunia Bawah, Underworld, sedangkan Vampire hidup dalam kegelapan dunia manusia. Keduanya mungkin tampak sama, tapi pandangan mereka dan budayanya berbeda banyak.
Iblis dan Vampire terus hidup dengan memangsa atau memanfaatkan manusia selagi tidak saling menyerang. Meski buruannya sama, tapi Iblis dan Vampire sudah menjauhkan diri dari satu sama lain agar tidak terjadi bentrokan perebutan wilayah dan mangsa.
Iblis sudah memutuskan berhenti berperang dan menyetujui pembentukan aliansi dari Tiga Kekuatan Besar, tapi Vampire bahkan tidak pernah mencoba duduk untuk bernegosiasi sampai saat ini. Karena mereka masih berselisih paham dengan Surga dan prajurit excorcist dari Gereja. Semua orang tahu kalau Exorcist adalah musuh alami para Vampire.
Rupanya, ada sebuah insiden yang membelah dunia Vampire. Itu terjadi beberapa ratus tahun yang lalu. Insiden yang melahirkan Faksi Tepes dan Faksi Carmilla. Faksi Tepes punya pemimpin laki-laki berdiri di atas wanita, dan Faksi Carmilla punya pemimpin wanita berdiri di atas laki-laki.
Itu terjadi karena perbedaan prinsip. Mereka sudah berdebat dalam waktu yang sangat lama antara memilih leluhur perempuan yang sesungguhnya dan leluhur laki-laki yang sesungguhnya akhirnya dibagi menjadi dua kelompok dalam beberapa ratus tahun yang lalu.
Dia lah Elmenhilde Galnstein, Vampire dari Fraksi Carmilla yang punya prinsip wanita berdiri di atas.
Setelah Akeno menyuguhkan teh pada Elmenhilde, Rias pertama kali buka suara untuk memulai agenda pertemuan.
"Elmenhilde-san, aku merasa tak enak menanyakan hal ini dari awal, tapi aku tetap akan bertanya padamu. Bisakah kau ceritakan alasanmu menemui kami? Apa alasan bagi Faksi Carmilla yang telah menghindari kontak dengan dunia luar, tiba-tiba keluar di depan Gremory, Sitri, dan Gubernur Azazel?"
Elmenhilde menutup matanya, dan membukanya kembali setelah menganggukan kepala.
"Saya ingin meminjam Gasper Vladi."
Sangat to the point. Ini sungguh kejutan besar, terutama untuk kelompok Gremory yang merupakan kelompok tempat Gasper bernaung.
Azazel bertanya pada Elmenhilde.
"Jawaban langsung atas pertanyaan langsung. Maaf, tapi aku ingin kau menjelaskannya pada kami perlahan. Apa yang sebenarnya terjadi di dunia Vampire?"
Elmenhilde pun mulai bercerita.
"Ada sebuah peristiwa terjadi di dunia kami yang menyebabkan rasa nilai-nilai sebagai Bangsa Vampire runtuh. Anda mungkin sudah tahu itu karena informasi sudah bocor keluar, tapi setengahnya lagi muncul sebagai akibat Faksi Tepes yang mempunyai Longinus."
Ini berita baru yang cukup mengejutkan untuk orang-orang di dalam sana, kecuali bagi Azazel yang terlibat langsung dalam rencana membangun Imperium of Bible. Wilayah Vampire termasuk dalam wilayah yang akan mereka taklukkan dan informasi tentang ini sudah mereka miliki.
Pengecualian bagi Sona, ia mendapat bocoran informasi ini dari kakaknya, Serafall Leviathan dengan sebuah tipuan kecil.
Dan Longinus itu muncul di pihak Tepes, tentu menjadi ancaman untuk Faksi Carmilla.
Azazel bertanya sambil menyipitkan matanya, bukannya tidak tahu, tapi hanya ingin memastikan, sebuah cara untuk tetap terlihat formal dalam pertemuan.
"Jadi Longinus apa yang dimiliki sisi Tepes?"
"Sephiroth Graal"
Di antara 13 total Longinus, dua di antaranya yaitu Boosted Gear dan Regulus Nemea dimiliki Ras Iblis, Issei sang Sekiryutei dan Sairaorg Bael. Ras Malaikat punya Longinus terkuat kedua Zenith Tempes di tangan Sang Joker Dulio Gesualdo. Kemudian Malaikat Jatuh punya Canis Lycaon di tangan Slash Dog, anak asuh Azazel.
Dalam asosiasi penyihir dibawah pimpinan Mephistopheles yang punya hubungan baik dengan Fraksi Iblis, ada Absolute Demise. Lalu kelompok penyihir sesat yang jalannya bertentangan dengan Aliansi Tiga Fraksi, tergabung dalam Khaos Brigade, mempunyai Incinerate Anthem.
Selain itu ada Divine Dividing yang dimiliki Vali.
Ada lagi tiga jenis lainnya yang masuk empat besar yakni True Longinus, Annihilation Maker, dan Dimension Lost dari Faksi Pahlawan Khaos Brigade. Namun keberadaanya tak diketahui setelah kegagalan mereka dalam operasi penyelamatan Ophis.
Sisanya tiga, dan satu baru diumumkan ke publik sekarang, Sephiroth Graal.
Dua sisanya, Innovate Clear dan Telos Karma masih misteri.
Sephiroth Graal termasuk relik suci bersama True Longinus dan Incinerat Anthem. Sephiroth Graal sering disebut sebagai relik Holy Grail atau Cawan Suci. True Longinus sebagai Holy Spear atau Tombak Suci dan Incinerate Anthem sebagai Holy Cross atau Salib Suci.
Azazel menjelaskan pada iblis-iblis muda, "Cawan suci adalah relik yang digunakan dalam Perjamuan Terakhir, satu dari yang menerima darah Jesus. Holy Grail punya banyak legenda. Tapi itu salah satu yang merupakan Sacred Gear tapi bukanlah Holy Grail yang normal. Itu adalah Longinus, karya yang bisa membalik pokok kehidupan," Azazel menatap Elmenhilde dan bertanya, "Apa yang sebenarnya Vampire yang merupakan makhluk abadi cari dengan menggunakan relik itu?"
Elmenhilde membuat ekspresi serius dan menjawab, "Tubuh yang benar-benar tidak akan mati walaupun jika hati mereka dipaku, walaupun salib suci diletakkan di depan mereka, walaupun jika mereka tidak tidur di peti mati, walaupun jika mereka berjalan di bawah sinar matahari. Lebih tepatnya, Faksi Tepes ingin mendapatkan tubuh yang sulit untuk dihancurkan. Namun sepertinya kekuatan Holy Grail masih belum lengkap.
Faksi Tepes berusaha menjadi sesuatu yang tanpa kelemahan. Mereka sudah meninggalkan kebanggaan mereka sebagai Vampire. Bukan hanya itu, mereka juga menyerang pihak kami, pihak yang berdiri dalam Faksi Carmilla. Sudah ada korban. Kami tidak akan memaafkan tindakan mereka. Kami berencana untuk mengeksekusi mereka sebagai sesama Vampire."
Mata Elmenhilde menggelap dan penuh dengan kebencian saat mengatakan kalimat yang terakhir. Sepertinya dia benar-benar murka akan Faksi Tepes yang menolak cara hidup Vampire yang sudah ada sejak zaman dahulu.
"Jadi Faksi Carmilla tidak suka cara dan prinsip Faksi Tepes yang sekarang. Apalagi Tepes mulai menyerang, iya kan?"
Elmenhilde mengangguk untuk menjawab pertanyaan Azazel.
"Ya, itu benar. Dan tujuan kami adalah—"
Elmenhilde kemudian memindahkan tatapannya pada Gasper. Mata merah dan mata merah bertemu satu sama lain.
"Untuk menghentikan Tepes yang menyebabkan keributan dengan meminjam kekuatan Gasper Vladi yang berdiri di sana."
Kelompok Gremory tak akan pernah suka akan hal ini, teman mereka dimanfaatkan untuk sesuatu yang berbahaya.
Rias berusaha bertanya dengan tenang.
"Bukankah Gasper adalah Vampire dari keluarga Vladi, keluarga yang ikut dalam Faksi Tepes?"
Rias mengatakan itu dalam perilaku elegan, tapi anggota kelompok Gremory jelas tahu kalau Rias semakin marah tentang hal ini.
Elmenhilde datang untuk meminjam Gasper, salah satu budak yang Rias sayangi. Untuk dibawa perang tanpa ada jaminan kembali. Pikiran waras Rias tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Gasper hanyalah Vampire buangan yang tak dianggap dalam keluarga Vladi karena berdarah campuran. Tak masalah kalau dia masuk ke Faksi Carmilla."
Hal ini tentu saja membuat Rias makin murka. Gasper juga tampak semakin takut, dia punya trauma mental hebat akan masa lalunya, apalagi berkaitan dengan darah campuran yang mengalir dalam nadinya.
Elmenhilde meneruskan ucapannya dengan senyum bermakna tak mengenakkan, "Kami mendengar kalau kekuatan tersembunyi Gasper telah bangun."
Ini jadi kejutan lainnya lagi hari ini, padahal informasi ini adalah informasi rahasia yang merupakan hasil dari program latihan yang dikembangkan Institut Grigori. Tak disangka kalau informasi ini bocor ke luar pihak Aliansi.
Elmenhilde meneruskan ucapannya lagi, "Kami berencana untuk menyelesaikan sengketa antara Vampire dengan menggunakan kekuatan Vampire saja. Untuk alasan itu, kami ingin meminjam kekuatan Gasper Vladi."
Faksi Carmilla ingin menghentikan sengketa dari Vampire menggunakan kekuatan Gasper. Memang mereka sedang mengalami kesulitan, tapi itu tak ada hubungannya sedikitpun dengan kelompok Gremory. Gasper sebelumnya dari Keluarga Vladi, tapi sekarang dia bagian dari Gremory setelah ditendang keluar dari rumahnya, dan tak ada satupun yang ingin Gasper terlibat dalam konflik antara Vampire dan kembali mengingat traumanya.
Rias mencari-cari cara untuk menolak, "Kekuatan apa memangnya itu? Apa kau tahu?"
Tatapan semua orang terkumpul pada Elmenhilde.
"Ada saat-saat yang sangat langka ketika mereka yang lahir dari jenis kami dilahirkan dengan kemampuan untuk melampaui Vampire normal. Kami kebanyakan melihatnya dari keturunan Setengah Vampire di era ini. Gasper Vladi juga jadi salah satu dari mereka. Kami yang berasal dari Carmilla tidak memiliki informasi yang cukup untuk menyelidiki tentang hal itu. Tapi mungkin ada informasi yang bisa menjadi petunjuk dalam sisi Tepes. Sekarang, tentang Holy Grail yang merupakan masalah. Tentu saja pemiliknya dari orang yang dibenci, setengah Vampire juga, namanya Valerie. Dia lahir dari keluarga Tepes, Valerie Tepes."
Mendengar nama itu, wajah Gasper bereaksi di mana dia tampak seperti akan menangis.
"Valerie...? Bo-Bohong! Valerie tidak lahir dengan Sacred Gear seperti aku!"
Valerie adalah orang yang sangat penting bagi Gasper. Dialah yang membuat Gasper bisa kabur dari rumahnya, menyelamatkan diri hingga ditemukan oleh Rias Gremory.
"Mungkin saja saat itu tak ada, tapi yang namanya Sacred Gear biasanya kekuatannya akan terbangun jika diaktifkan dengan pemicu tertentu. Dan nyatanya, Holy Grail dimiliki oleh Valerie Tepes."
Suster Griselda yang diam sekarang bicara.
"Jenis kalian membenci keturunan campuran kan? Tapi bukankah itu tindakan egois? Vampire awalnya mengambil manusia, menggunakan dan memangsa mereka sebagai kesenangan mereka, lalu membuat mereka punya anak berdarah campuran Vampire."
Meskipun Griselda mengatakan itu dengan cara yang lembut, kata-katanya mengandung begitu banyak kebencian di dalamnya. Dia mengatakan itu tanpa melanggar senyumnya. Inilah yang menjadi dasar kuat kenapa Exorcist Gereja ditugaskan untuk melenyapkan vampire pengganggu yang menyerang manusia.
Elmenhilde menempatkan tangan ke mulutnya, dan tersenyum.
"Saya minta maaf soal itu. Tapi memburu manusia adalah hakikat jenis kami sebagai Vampire. Saya pikir Iblis dan Malaikat sama saja, untuk mencapai tujuan tertentu dengan mengabulkan keinginan manusia, dan menginginkan kepercayaan manusia. Bukankah kita makhluk yang aneh, kelemahan yang hanya dapat hidup dengan menggunakan manusia sebagai sumber hidup kita."
Tepat, perkataan ini merasuk ke dalam sanubari Naruto dan Hinata yang sejak tadi tak bicara karena memang mereka tak punya hak bicara. Itulah hakikat makhluk supranatural, semuanya sama. Mereka memanfaatkan manusia untuk meneruskan kehidupannya, memaksa manusia untuk percaya akan eksistensinya, lalu membuat kerugian pada manusia itu sendiri. Tak ada hal baik dari yang namanya makhluk supranatural, meskipun itu ras muliat seperti malaikat bahkan sosok agung seorang dewa sekalipun. Semuanya merugikan manusia. Inilah fakta yang pernah diberitahukan Sasuke beberapa hari lalu, dasar yang menjadi alasan mengapa Konoha bersiap untuk perang melawan makhluk supranatural.
"Baiklah. Kau mendapatkan Gasper!"
Ucapan singkat Azazel sukses membuat semua orang memasang ekspresi tak percaya. Padahal sejak tadi Rias berusaha keras menolak, tapi dengan mudahnya Azazel menyetujuinya.
Sona, Naruto, dan Hinata, ketiganya sudah menduga akan seperti ini. Mana mungkin Azazel akan membuang peluang di mana Aliansi bisa punya jalan untuk menancapkan cakar dan taringnya di tanah Rumania, demi membawa Imperium of Bible sampai kesana.
Tanpa sempat Rias menyuarakan protes, Elmenhilde lebih dahulu bicara.
"Jawaban yang bagus. Saya sudah menyiapkan sebuah dokumen."
Elmenhilde memberikan dokumen kepada Azazel.
Azazel yang menerima dokumen, mendesah setelah melihat dokumen.
"Konferensi perjanjian kerjasama dengan Faksi Carmilla. Bagus sekali."
"Sensei!"
Issei, Rias, dan kelompok Gremory berteriak melayangkan protes keras.
"Kalian diamlah!"
Benar-benar diam, tak ada yang berani angkat bicara lagi saat Azazel memasang wajah seriusnya. "Begini, sejak awal ini adalah urusan diplomatik yang memang menjadi pekerjaan orang dewasa. Lagipula akan kujelaskan situasinya. Kita sebagai Aliansi yang menjujung kedamaian, tak mungkin bisa menolak tawaran ini. Menolak hanya akan mencoreng nama kita. Rias, kalau kau menolak, maka nama kakakmu sebagai salah satu Yondai Maou akan rusak. Kau tidak ingin itu kan?"
Rias tak punya argumen untuk membantah pernyataan Azazel.
Tak ada suara lagi, sudah diputuskan bahwa Gasper akan dikirim ke Rumania untuk menyelesaikan masalah internal Bangsa Vampire.
Pertemuan selesai dengan hasil tak terduga setelah surat perjanjian ditandatangani oleh Azazel. Dia adalah perwakilan Aliansi Tiga Fraksi dalam pertemuan ini, dan sudah mendapat izin penuh untuk membuat keputusan dari petinggi-petinggi lainnya.
Sebelum menyerahkan surat perjanjian ke tangan Elmenhilde, Azazel berkata, "Keselamatan Gasper sangat penting untuk kami, maka dari itu akan ada dari kami yang ke sana bersamanya. Terlebih sebagai utusan, aku ingin berbicara dahulu dengan Ratu Carmilla sebelum meminjamkan Gasper."
"Tentu saja, Ratu Carmilla tentu senang Anda berkunjung ke sana, Tuan Gubernur Malaikat Jatuh."
Setelah menerima surat itu kembali, Elmenhilde dan pengawalnya pergi meninggalkan ruang klub Penelitian Ilmu Ghaib, hilang seolah lenyap bersama kegelapan.
.
.
.
Apartemen tempat tinggal Sona dengan apartemen Naruto dan Hinata letaknya satu blok, hanya berbeda bangunan saja. Bangunannya pun bersebelahan. Mereka tetangga, jadi sangat wajar kalau saat ini mereka bertiga pulang bersama. Malam sudah sangat larut, meski begitu mereka bertiga pulang berjalan kaki tidak dengan lingkaran sihir teleportasi karena ada sesuatu yang harus dibicarakan.
Sona angkat bicara, membahas topik pertemuan tadi.
"Bagaimana menurutmu Naruto-san, gadis vampire bangsawan berdarah murni tadi, Nona Elmenhilde Galnstein?"
"Pfftt, tunggu sebentar Sona-san. Aku mau ketawa dulu."
Dan benar saja, setelah itu Naruto tertawa keras. Untung jalanan sepi, jika tidak dia pasti disangka gila.
Hinata menambahkan, "Aku sependapat dengan Naruto-kun. Gadis Vampire tadi memang licik, kurang ajar dan memandang rendah orang lain, namun dia masih polos. Meski aku tak mengaktifkan Byakugan, tapi mataku sensitif dan bisa melihat detak jantung gadis itu. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Mungkin karena baru pertama kali dia berurusan diplomatik dengan dunia luar. Kita semua kan tahu kalau Vampire menutup diri dari golongan manapun sejak lama."
Sona mengerti ucapan Hinata, "Pengamatan yang bagus, tak salah aku mengikutsertakan kalian. Aku memang berpikir ke sana, tapi tak sampai sejauh itu."
Mereka bertiga berjalan dengan tenang. Sebentar lagi sampai di apartemen karena jaraknya tak terlalu jauh dari Akademi Kuoh.
Naruto yang sudah berhenti tertawa ikut dalam obrolan. "Ekhem. Gadis tadi sangat lucu, meski auranya terasa kelam khas makhluk supranatural jahat tapi aku tak benar-benar merasakan niat jahat dari dalam hatinya. Dia ingin menunjukkan dirinya sebagai pemeran antagonis yang hebat, namun gagal. Hahahaaaa."
"Tak kusangka kalau kau sampai berpendapat begitu tentang Elmenhilde, Naruto-san."
"Memang begitu kenyataannya kan?"
"Naruto-kun benar. Kita bisa menganggap kalau dia jujur, hanya mengikuti perintah atasannya dan bertindak demi kepentingan kaumnya meski harus bersikap egois."
"Yayayaya, kesampingkan itu. Bagaimana menurut kalian berdua tentang Griselda dan Azazel?" tanya Sona.
Hinata mengusap-ngusapkan kedua telapak tangannya. Rasa dingin udara malam kota Kuoh di musim gugur serasa menusuk kulit. Seragam Kuoh yang ia gunakan terlalu mengekspos kulitnya.
Ada uap air tipis yang keluar dari mulut Hinata ketika dia mulai bicara, "Griselda Quarta kah? Menurutku dia tak terlalu berbahaya, hanya orang yang sangat taat pada pemimpinnya dan Surga. Tapi tetap saja, kejeniusan dan pengalamannya sebagai prajurit gereja harus diwaspadai."
Naruto menyambung ucapan istrinya, "Kalau Pak Tua mesum itu, kurasa dia menyimpan rencana buruk lagi kali ini, aku bisa merasakan niat itu dari hatinya. Entah apa yang dia rencanakan."
"Tepat sekali." kata Sona. "Apa yang dia lakukan pasti tak jauh dari rencana Aliansi Tiga Fraksi membangun Imperium of Bible."
"Aku setuju denganmu, Sona-san," ungkap Hinata. "Kalian tahu, aku mengamati dan memperhatikan setiap detail sekecil apapun yang terjadi selama pertemuan tadi berlangsung. Ada poin penting yang kutangkap mengindikasikan adanya kepentingan politik sepihak di dalamnya."
"Gh," Naruto membuang muka cemberut. Sudah jelas kalau pembicaraan ini akan mengarah pada sesuatu yang ia benci, pemikiran-pemikiran rumit yang membuat kepalanya pusing.
Hinata melanjutkan, "Elmenhilde menempuh cara yang salah dalam berdiplomasi. Seharusnya ajakan perjanjian kerja sama lebih dahulu dibicarakan olehnya baru bicara tentang Longinus dan pertikaian. Kita bisa tahu bahwa dari dokumen yang dia bawa, jelas mereka menggunakan alasan perdamaian sebagai kartu truf untuk mendapatkan apa yang Elmenhilde dan para vampire diinginkan. Seperti kata Azazel, Aliansi tidak mungkin menolak tawaran itu kalau tidak mau nama Aliansi sebagai pengusung perdamaian rusak di mata dunia. Jadi bisa disimpulkan kalau Elmenhilde dan ras Vampire tak akan ikut dalam persekutuan perdamaian yang kecuali Aliansi membantunya, dalam hal tadi adalah dengan meminjamkan Gasper. Seolah para Vampire itu tahu kelemahan Aliansi. Mereka datang untuk meminta paksa Gasper dengan menggunakan negosiasi perdamaian sebagai perisai."
Itulah hasil pemikiran Hinata. Dia jenius dan punya kompetensi untuk bicara tentang politik serta pandai dalam urusan diplomasi. Wajar saja, dia adalah putri sulung Klan Hyuga, klan nomor satu di Konoha. Tentu dia sudah diajari tentang hal ini semenjak kecil.
"Aku setuju denganmu, Hinata-san." pungkas Sona. Sona jenius dan dia pewaris tahta keluarga Sitri, jadi lumrah kalau dia mengerti tentang politik dan berdiplomasi.
Sona melanjutkan ucapannya, "Azazel, dia bertindak gegabah tadi. Jika saja dia membiarkan Elmenhilde mengeluarkan kartu trufnya, maka niatnya tak akan terbaca. Tapi dia malah langsung menerima tawaran dari para Vampire lebih dahulu. Azazel pasti merasa khawatir kalau Rias terus bersikeras dan menolak memberikan Gasper yang pada akhirnya menghalangi rencananya. Padahal jika saja Elmenhilde mengeluarkan kartu trufnya, Rias dan peeragenya pasti tak bisa menolak kan? Itu saja cukup mengindikasikan kalau Azazel memang benar-benar ingin masuk ke wilayah Vampire bagaimanapun caranya. Apalagi saat dia berkata ingin berbicara lebih dahulu dengan Ratu Carmilla."
"Che," Naruto mendengus, "Azazel dan Elmenhilde memang licik, tapi menurutku kalian berdua lebih licik lagi, membiarkan hal itu terjadi walau sudah tahu situasinya."
Tak ada yang menanggapi gerutuan Naruto. Yang ada malah Sona maupun Hinata terkikik pelan. Biarlah dikata licik, tak apa, lagian mereka melakukan ini untuk semua orang juga kan?
Tiga anak muda ini terus melanjutkan perjalanan dalam keheningan.
Hinata dan Sona benar-benar serasi saat bertukar pikiran. Ah andai saja mereka bisa serasi menjadi istri dari laki-laki yang sama, tentu dunia lebih akan damai. Namun itu hanya dalam mimpi, mustahil bisa terjadi.
Beberapa saat kemudian setelah keasyikan membahas Imperium of Bible, hati Hinata terketuk untuk bertanya, "Maaf sebelumnya, Sona-san. Apa kau tidak masalah dengan keadaan ini?"
"Maksudnya?"
Naruto yang mengerti maksud pertanyaan istrinya menambahkan, "Kau tahu kan kalau kami berdua berasal dari Konoha, kubu yang berlawanan dengan rasmu? Apa tak apa kalau kau meninggalkan keluarga dan teman-temanmu? Untuk menjalankan rencana besar kita, tak menutup kemungkinan suatu saat nanti kau akan bertarung melawan keluarga atau sahabatmu sendiri."
Sona diam beberapa saat sebelum menjawab. Kesampingkan sedikit tentang rasa ketertarikannya pada Naruto, Sona memang tulus ingin membantu. Lagipula Sona sebenarnya tak punya pilihan lain selain ikut serta untuk mencegah kiamat dan runtuhnya Cardinal System. Jika misi Naruto dan Hinata gagal, maka tidak ada masa depan untuknya, dan untuk semua orang. Seburuk-buruknya Sona sebagai iblis, tapi ia masih punya impian, dia ingin membangun sekolah rating game untuk para iblis tanpa adanya diskriminasi strata sosial. Karena punya impian di masa depan inilah, Sona tidak bisa membiarkan dunia ini berakhir begitu saja, impiannya tidak akan pernah menjadi kenyataan kalau misi yang diemban Naruto dan Hinata gagal. Sona berjanji, akan menggunakan semua yang ia miliki, otak dan kecerdasan, kedudukan sebagai pewaris tahta Keluarga Sitri, teman sesama iblis atau apapun itu, akan ia manfaatkan untuk membantu Naruto dan Hinata.
Sampai akhirnya Sona membuka mulutnya, "Aku sudah siap akan hal itu."
Maksunya Sona sudah menerima resiko apapun yang akan ia dapat semenjak memustuskan untuk bergabung dengan Naruto, bahkan jika harus membuang keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Tak ingin membahas hal itu terlalu jauh, Naruto mengganti topik pembicaraan. "Ano Sona-san. Jadi apa rencanamu setelah pertemuan tadi?"
"Tentu saja kita akan ke sana, ke Rumania." jawab Sona singkat.
"Eh? Tapi bagaimana caranya?" Hinata belum tahu rencana macam apa yang sudah bertengger manis kepala Sona. "Kita tak punya urusan apapun di sana kan? Yang berkepentingan hanya Kelompok Gremory saja karena mereka menginginkan Gasper."
"Sasuke-san baru saja mengirimiku informasi. Khaos Brigade terindikasi membuat pergerakan di Rumania."
"Tch, Si Teme itu. Kenapa dia tak memberitahuku dulu?" Naruto menggerutu sebal.
Hinata tak ambil pusing, toh Sona adalah otak rencana, jadi wajar kalau Sasuke memberikan informasi penting langsung ke Sona.
"Lalu di Kuoh juga akan ada kejutan besok pagi. Kita bisa memanfaatkan kejutan ini." lanjut Sona lagi
Hinata mengerti kalau kedua hal ini yang akan menjadi penghubung agar kelompoknya bisa ikut serta dalam kehebohan di Rumania. Tapi ia masih penasaran dengan apa yang dikatakan Sona. "Kejutan apa?"
Sona berhenti berjalan, begitu pula dengan Naruto dan Hinata.
"Kalian berdua bersiap saja besok pagi. Sudah sampai, kita berpisah di sini."
Ya, mereka bertiga telah sampai di depan gedung apartemen Naruto dan Hinata sedangkan gedung apartemen Sona ada di sebelahnya yang terpaut jarak beberapa langkah lagi.
Sona berjalan meninggalkan Naruto dan Hinata, tapi sebelum jauh dia berbalik dan sedikit berteriak. "Aku tidak ingin munafik, jujur ada rasa senang di hatiku ketika melihat hubungan kalian merenggang seperti sekarang ini. Tapi tetap saja aku akan lebih senang kalau kalian berdua cepat berbaikan."
Sona langsung melanjutkan perjalanannya tanpa menunggu jawaban. Yah, ini hal sensitif tentang perasaan. Sebisa mungkin harus dihindari demi tuntutan profesionalisme misi, tapi tetap saja yang namanya perempuan tidak segampang itu mampu menyingkirkan hal-hal mengenai perasaan dan hatinya.
Karena ucapan Sona, Naruto dan Hinata kembali diingatkan kalau mereka masih bertengkar sampai sekarang. Suasana pasangan suami-istri ini kembali suram. Seperti kata Sona, harus secepat mungkin berbaikan agar tidak mengganggu misi mencegah kiamat.
.
.
.
Besok harinya, tak lama setelah Rias, Azazel, dan Kiba pergi lebih dahulu ke Rumania untuk berbicara, Kuoh Gakuen diserang oleh sekelompok orang.
Para penyerang itu menculik Ravel, Koneko, dan Gasper. Masalahnya berkaitan dengan pengumpulan data untuk produksi Air Mata Phoenix palsu. Ravel yang merupakan keturunan berdarah murni dari Keluarga Iblis Phoenix dijadikan objek percobaan meski itu tidak melukainya sedikitpun.
Pelaku penyerangan Kuoh Gakuen adalah sekumpulan penyihir jahat. Kini Issei dan budak-budak Gremory yang lain dibantu oleh Dewan OSIS berhasil memukul mundur para penyihir serta mendapatkan Ravel, Koneko, dan Gasper kembali.
Sona sebagai ketua OSIS lah yang memimpin kelompok gabungan Sitri dan Gremory. Tanpa kesulitan berarti, dia mampu menganalisis kemampuan tempur setiap budak Rias, terlebih budaknya sendiri, lalu membuat strategi terbaik dengan usaha minimal menjadi point kunci keberhasilan.
Meski begitu, tetap saja ada hal tak terduga yang kemunculannya sangat tak diharapkan. Baru saja mereka ditransfer ke suatu tempat yang hanya ada hamparan putih tanpa batas, sebuah sistem dimensi ruang yang prinsipnya sama persis dengan ruang yang diciptakan khusus sebagai arena bertarung Rating Game.
Di tempat itulah muncul seseorang bertudung, setelah pembicaraan singkat dengan Sona, dia mengakui kalau dirinya bagian dari Khaos Brigade.
Dan baru diketahui kalau masalah Air Mata Phoenix dan penculikan Ravel hanyalah alasan sampingan. Ada alasan utama kenapa Kuoh diserang, yaitu untuk suatu percobaan. Simulasi percobaan pertarungan antar naga.
Si Pria bertudung memuculkan sebuah lingkaran sihir. Tidak, lebih tepat kalau itu dikatakan sebagai ritual pembukaan Gerbang Naga.
Gerbang Naga memiliki warna berbeda-beda untuk setiap Naga yang dipanggil. Warna Gerbang Naga yang ini adalah hijau, tapi bukan Yu Long. Warnanya hijaunya yang terasa sangat kelam.
Guoooooooooooooooooooooooo!
Suara gemuruh mengguncang seisi dimensi ruang putih tempat mereka semua berada sekarang.
Apa yang muncul adalah monster raksasa yang berdiri dengan dua kaki. Lengan dan kaki tebal. Cakar tajam, taring, dan tanduk. Menyebarkan sayapnya yang sangat besar, dan punya ekor yang kokoh dan panjang.
Mungkin lebih tepat disebut kalau itu adalah raksasa yang punya ciri Naga. Yang hampir mendekati bentuk manusia. Tapi punya sayap, ekor, dan kepalanya benar-benar Naga.
"Naga legendaris, Naga Jahat Grendel."
Pria yang mengenakan jubah bertudung mengatakan itu, dan Naga raksasa dengan taring tajam membuka rahangnya. Matanya bersinar dalam warna perak cerah dan tajam dan diisi dengan hawa permusuhan dan niat membunuh.
"Guhahahaha. Sudah lama tidak melalui Gerbang Naga! Jadi, siapa lawanku? Dia ada di sini, kan? Orang dengan kekuatanya gila yang aku cintai!"
Grendel berkata seakan-akan dialah yang terkuat. Dia Naga Jahat brutal yang hidup hanya untuk bertarung. Sombong adalah sifat dasarnya. Dia mempunyai kebanggaan yang teramat tinggi pada dirinya dan kekuatannya sendiri.
Sebenarnya ada banyak Naga Jahat yang sudah punah. Diceritakan ada naga jahat bernama Naga Gerhana Apophis, Naga Seribu Kultus Iblis Azi Dahaka, dan Naga Lingkaran Sabit Crom Cruach. Tiga Naga jahat ini adalah yang terkuat di antara Naga Jahat. Vritra sang Raja Prison Dragon dalam Sacred Gear Saji juga termasuk Naga Jahat, tapi jika dibandingkan dengan naga-naga tadi, Vritra tak ada apa-apapnya. Meskipun begitu, Merah dan Putih atau Ddraig dan Albion dalam kondisi terbaik masih lebih unggul dari ketiganya.
Adalagi Níðhǫggr dari mitologi Norse. Kemudian Yamata no Orochi, ular berkepala delapan dari cerita rakyat Jepang. Ladon yang melindungi buah legendaris. Lalu Grendel dan masih beberapa lagi dari berbagai mitologi.
Mereka semua naga jahat yang membawa petaka, walau semuanya sudah punah. Namun hal mengejutkan terjadi, Grendel muncul di zaman ini, padahal dia telah dibunuh oleh Beowufl yang asli dalam cerita.
Pria bertudung itu mengatakan sesuatu pada Issei, "Ayo Sekiryutei, gunakan armormu. Kudengar Grigori melatihmu dengan sangat baik hingga mendapatkan bentuk baru. Aku ingin melihatnya, dan memang ini lah tujuan utama kami, percobaan pertarungan antara kau dengan Grendel. Sekiryutei yang memiliki kekuatan baru adalah lawan yang pantas untuk salah satu proyek kami."
Issei tak bisa untuk tak membuat ekspresi terkejut. Termasuk teman seklubnya. Padahal hal ini seharusnya disimpan untuk Rating Game beberapa minggu lagi, namun ternyata informasinya sudah bocor.
Sona lumayan terkejut, dia baru tahu hal ini. Tapi otaknya berpikir cepat, sekalian saja dimanfaatkan untuk melihat sejauh mana perkembangan kekuatan budak milik rivalnya.
"Lakukan saja, Issei-kun. Kita tak mungkin bisa keluar dari sini hidup-hidup tanpa kekuatanmu. Lakukan ini untuk Rias."
Issei tidak langsung menuruti perintah Sona. Padahal sebelumnya dia selalu mengikuti apa kata Sona saat melawan para penyihir jahat tanpa membantah. Tapi dia sudah berjanji pada Rias untuk tak memperlihatkannya pada orang lain. Terlebih dia lagi pada Sona dan Tim Sitri. Tim yang pasti akan menjadi saingannya saat Rating Game nanti.
Namun Issei tak punya pilihan lain. Dia lebih menginginkan keselamatan orang-orang di sekitarnya daripada menyembunyikan rahasia. Dia masih punya nurani walau sekarang dia adalah iblis.
Issei mulai melafalkan mantra.
"Aku, yang hendak dibangkitkan, adalah Sekiryuutei yang telah membuang prinsip-prinsip dominasi! Aku akan menempuh jalan yang benar dengan memiliki "Ketidakbatasan" dan "Impian". Aku akan menjadi Raja dari Naga Merah! Akan kutunjukkan masa depan pada kalian yang bersinar dalam Cahaya Krimson-sejati!"
Cardinal Crimson Full Drive!
Aura berwarna merah krimson menyelubungi tubuh Issei. Armor yang terbentuk tampak lebih futuristik dan lebih tebal daripada armor Balance Breaker biasa. Warnanyapun lebih gelap. Bukan warna merah biasa, ini adalah warna merah krimson yang mirip dengan warna rambut Rias.
Ini adalah promosi Issei menjadi bidak Ratu, bentuk True Queen. Jauh lebih tinggi levelnya daripada Promosi Illegal Move Triaina.
Melihat perubahan Issei, Grendel tertawa, "Krimson? Apa-apan itu? Menarik! Itu benar-benar menarik, DDRAAAAAAAIIIIGG! kau jelas lebih kuat daripada sebelumnya! Ayo, kita mulai pertarungan kita satu lawan satu. Yang lain tak usah mengganggu."
HAAAAAAAAAA...
Grendel melompat ke depan, cepat, rasanya seperti dia tidak memiliki tubuh yang besar sama sekali.
"Grendel adalah salah satu yang tersulit di antara para naga punah. Serangan setengah hati nggak akan bekerja padanya, Patner."
Suara Ddraig dalam gauntlet memperingatkan Issei.
"Tapi di sisi lain, kita nggak bisa menggunakan Dragon Blaster atau Crimson Blaster disini."
Kedua serangan itu dalam mode Cardinal Crimson Full Drive mempunyai daya rusak luar biasa. Tapi Issei tak bisa menggunakannya disini karena dia tidak tahu seberapa kuat dimensi ruang ini dibangun. Kalau dia menembak mereka tanpa berpikir, bidang ini mungkin akan hancur.
"Aku majuuuuuuu! Ddraig-chaaaan!"
Saat Grendel mengeluarkan teriakan itu, perutnya membesar. Dia menghembuskan bola-bola api besar yang sangat panas. Inilah serangan khas naga.
Issei berhasil menghindarinya dengan kecepatan dewa saat ada dalam mode ini.
Tapi Grendel yang sudah pindah ke tempat lain, Grendel rupanya tak kalah cepat dari Issei. Bola api tadi hanya gertakan. Serangan sebenarnya adalah ini.
Buaaaggg...
Issei terpental kebawah setelah menerima serangan tinju raksasa pada seluruh tubuhnya. Tubuh Issei terperosok kedalam tanah. Ya, tanah. Dimensi ruang ini serba putih namun bagian bawahnya punya tekstur yang sangat mirip dengan tanah biasa.
"Guhha!"
Issei sampai batuk darah akibat rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Guhahahahaha! Gepenglah!"
BRRAAAKKKK...
Sebuah kaki raksasa, kaki Grendel menghujam ke dalam tanah hingga menimbulkan goncangan hebat.
Issei berhasil menghindar tepatsebelum tergencet. Segera setelah memperbaiki posisi, dia terbang lurus ke atas dengan kecepatan super.
[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost!]
Giliran Grendel yang kena. Tendangan Issei bersarang di rahangnya.
Meski begitu, Grendel tak menerima luka berarti. Bahkan tak ada sedikitpun tanda-tanda dia akan roboh.
Seterusnya, pertarungan gila-gilaan dengan aduk fisik terus berlanjut. Kekuatan mode True Queen Cardinal Crimson Full Drive milik Issei mampu bertarung imbang dengan Naga Jahat yang kekuatannya melebihi seekor Raja Naga. Jual beli tinju dan tendangan terus datang silih berganti. Sesekali Grendel menambakkan bola api yang berbalas Dragon Shot dari Issei.
Bosan dengan pertarungan yang seperti itu-itu saja, Issei menggunakan lebih banyak otaknya daripada otot.
Dia punya Ascalon di slot gauntlet tangan kirinya, itu adalah pedang pembunuh naga. Pasti punya efek buruk pada Grendel. Cara ini efektif untuk menggantikan kerugiannya di mana dia belum bisa menggunakan kekuatan penuh True Queen di tempat ini karena keterbatasan kontruski dimensi ruang.
Memanfaatkan momen di mana banyak bola api dari Grendel dan tembakan Dragon Shot yang berhamburan. Issei mengambil kesempatan kecil untuk menyerang dari titik buta sang Naga Jahat.
Setelah mengumpulkan aura Ddraig kedalam Ascalon, Issei membuat pedang itu memiliki kekuatn penghancur yang semakin tinggi. Lalu semuanya dialirkan ke tangan kanan dan digandakan kekuatannya menjadi sebuah kekuatan tinju mahadahsyat.
[BoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoostBoost!]
Issei mengarahkan tangan kanannya yang sudah dilapisi kekuatan pembunuh naga Ascalon yang telah digandakan pada perut Grendel.
Solid Impact Booster!
DOGON!
Suara rendah timbul dari pukulan berat Issei. Pukulan yang menciptakan suara hantaman yang menggema memenuhi seisi dimensi ruang buatan.
Grendel yang menerima pukulan langsung terbatuk darah biru dari mulutnya saat jatuh di tanah. Seluruh bidang bergetar oleh dampak jatuhnya tubuh raksasa Sang Naga Jahat. Serangan Issei benar-benar berefek brutal pada Grendel karena bercampur kekuatan pembunuh naga Ascalon di dalamnya.
Dengan ini seharusnya Grendel sudah jatuh, namun,
Grendel mulai berdiri tegak kembali.
Setelah mengambil napas, dia meludahkan darah di tanah, lalu menggerakkan lehernya selagi membuat suara bising.
Grendel memberikan senyum jahat pada semua orang yang terkejut.
"Itu Sakit! Sungguh sakit yang mencapai maaaxxx! Tapi, itu adalah pukulan yang bagus! Guhahahahaha! Menarik, itu pasti menarik! Nyeri ini membuatku sadar kalau aku masih hidup! Hal yang sesungguhnya akan mulai dari sini! Baiklah! Mari bertarung sampai mati, Ddraig. Bertarung sampai mati! Kau dan aku! Mari kita bertarung sampai salah satu dari kita mati hingga tubuh hancur! DDRAAAAAAAAAAAIIIIIGG!"
"Tidak, Grendel. Tolong berhenti. Tampaknya percobaan telah sukses. Kita bisa dapat penyelidikan lebih bagus kalau saja Kiba Yuuto juga di sini, tapi ini sudah cukup."
Pria yang mengenakan jubah menghentikan Grendel.
Grendel lalu membuat teriakan ketidakpuasan.
"Jangan menghentikanku! Ini baru dimulai! Aku akan membantai mereka semua! Hal yang sebenanya di mulai saat kedua belah pihak tegang sampai maksimum! Biarkan aku melawan mereka! Aku akan memakan penyesalan kalau tak menyelesaikannya disini! Kali ini aku akhirnya akan makan, dimakan, hancur, rusak, dan membunuh!"
Pria yang mengenakan jubah lalu berkata pada Grendel dengan kata-kata dingin, "Apa kau ingin kembali jadi mayat? Kau masih dalam tahap penyetelan. Jika kau berlebihan, kau akan benar-benar kembali menjadi mayat,"
Grendel membuat suara dengan lidahnya saat dia mendengar itu, dan dia menempatkan tinjunya ke bawah.
Dhuarrrr...
"Cih, sialan, mau gimana lagi. Baiklah, karena kau membawanya sampai sebegitunya. Yah, aku hanya punya pilihan untuk berhenti."
Mata Sona memicing mendengar kata mayat. Ada sesuatu yang lain yang masih disembunyikan pria bertudung ini, tentu saja hal yang lebih besar karena apa yang terjadi saat ini. Seperti yang orang itu katakan, ini hanyalah sebuah percobaan, artinya masih ada hal yang jauh lebih besar.
Sesaat kemudian, pria mengenakan jubah melepas tudungnya.
Orang yang muncul adalah seorang pemuda dengan rambut puih perak. Wajahnya tampak familiar di mata Issei dan yang lain.
Pria berambut perak itu kemudian mengatakan.
"Aku Lucifuge, Euclid Lucifuge. Sampai jumpa di pertemuan kita yang selanjutnya."
Setelah memperkenalkan diri, tanpa menunggu izin, pria itupun pergi. Menghilang dalam lingkaran sihir teleportasi bersama Grendel.
"Ternyata adik dari Grayfia-san masih hidup. Ini informasi penting."
Sona mengatakan itu, yang tentu saja membuat keterkejutan terutama bagi budak-budak Gremory. Hanya Sona yang sudah menjadi sahabat Rias sejak kecil yang tahu tentang masalah Keluarga Gremory di masa lalu. Masalah antara Sirzech Gremory, Grayfia istrinya, dan Euclid adik iparnya.
Kemudian dimensi ruang di mana mereka berada mulai runtuh seolah-olah sudah memenuhi tugasnya.
Ruangan runtuh seolah-olah bagian dalam teka-teki telah hilang. Visualisasi kaleidoskop yang merupakan sifat dari kesenjangan dimensi sekarang terlihat. Tempat ini tidak akan bertahan lebih lama lagi.
"Sepertinya tempat ini akan runtuh! Ayo kita segera pulang dengan lingkaran sihir teleportasi!"
Di bawah komando Sona, Akeno mengaktifkan lingkaran sihir yang akan membawa semua orang kembali ke Kuoh Gakuen. Semua orang berkumpul di tengah lingkaran sihir.
Namun ada yang tidak biasa.
Sona berpisah dari yang lain. Ketika semua orang sudah pulang, dia pergi dengan lingkaran sihir miliknya sendirian, seraya mengulas sebuah senyum misterius.
.
.
.
Di tempat lain yang terkurung oleh sebuah Kekkai berwarna biru, berlatar lahan kosong bekas hutan yang pohon-pohonnya ditebang untuk pembangungan proye, nampak kemunculan lingkaran sihir berwarna biru milik keluarga Sitri. Sona muncul dari dalam sana.
Pewaris selanjutnya keluarga Sitri itu mengulas senyum manis pada orang yang kini berlutut tak jauh dari posisinya.
"Apa maksudnya semua ini hah? Kurang ajar kau!"
Orang itu, pria berambut putih perak memandang dengan sorotan mata tajam penuh amaran pada Sona.
"Selamat datang di duniaku, Euclid-san."
"Gh. Kau akan mati setelah ini, awas saja!"
Sona tak sedikitpun takut akan ancaman itu, "Harusnya kau sadar posisimu saat ini."
Ya, saat ini. Sekarang Euclid berada dalam posisi di mana dia tak bisa apa-apa. Padahal beberapa menit sebelumnya di dimensi serba putih, dia adalah orang yang berkuasa akan jalannya pertarungan.
Saat masih di dimensi putih buatan, sebelum Euclid dan Grendel pergi dengan lingkaran sihir, Sona lebih dulu beraksi dan membuat perangkap. Dia mencampur dan mengatur ulang rumus lingkaran sihir teleportasi Euclid dengan sihirnya sendiri, sehingga koordinat tujuannya berubah. Memang sulit namun bisa Sona lakukan.
Dengan cara itulah, Euclid bersama Grendel tanpa sadar tak tahunya dibawa ke tempat ini. Tempat yang dikurung oleh sebuah kekkai berwarna biru yang disiapkan oleh Sona lebih dahulu.
Grendel sedang tak bisa bergerak. Dia dijerat dan dibenamkan kedalam tanah oleh sebuah tangan chakra berwarna jingga. Ada beberapa helaian ekor yang membelit tubuhnya juga. Naruto dengan Mode Bijuu yang melakukannya. Naga jahat itu benar-benar tak bisa apa-apa dihadapan pewaris kekuatan Rikudou Sennin, terlebih lagi ia baru saja dihajar oleh Issei sampai bebak belur.
Sedangkan Euclid, dia berdiri dengan lutut dan badan dipaksa membungkuk. Ada Hinata dibelakangnya yang mengunci tangak kirinya. Di punggungnya juga menempel telapak tangan kanan Hinata, Euclid tahu kalau dia bergerak sedikit saja, dia bisa mati karena Hinata sedang menggenggam jantungnya. Menggenggam jantung dalam artian sebenarnya.
Ini adalah situasi yang sama yang pernah Hinata lakukan pada Serafall saat di dimensi replika Kyoto.
Euclid tak pernah menyangka dia akan dibuat sampai seperti ini. Kini dia sadar kalau apa yang dia perbuat di Kuoh sudah diketahui oleh Sang Nona Sitri. Rencananya sudah bocor dan kini dialah yang sedang dimanfaatkan.
"Baiklah, aku menyerah." Euclid mengendorkan kewaspadaannya, badannya juga relaks, tak tegang seperti tadi. Lagipula berpikir dan berusaha seperti apapun, tak akan ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk lepas dari situasi yang sangat merugikannya ini. "Katakan apa maumu!"
"Hinata-san, lepaskan saja dia. Biar lebih enak bicaranya."
Zwiifft...
Hinata sudah ada di sisi Sona. Sampai saat ini, kekuatan The True Tenseigan mutlak belum ada mampu yang mengalahkan.
Grendel masih dijinakkan oleh Naruto. Naga jahat itu selalu bersikap seenaknya sendiri, tak mungkin bisa diam dan diajak bicara.
Euclid sudah berdiri kembali, menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor karena dipaksa sujud tadi. "Jadi apa yang harus kulakukan untukmu sebagai imbalan kebebasanku?"
Sona melempar sebuah benda pada Euclid, suatu chip memori kecil. "Berikan itu pada bossmu, pemimpin tertinggi Khaos Brigade saat ini. Itu saja yang harus kau lakukan."
Pria berambut putih itu menangkap benda yang dilemparkan Sona. Iris matanya melebar, tak disangka kalau identias pemimpin mereka sudah bocor keluar.
"Tak usah terkejut. Itu hanya pesan untuknya. Dia pasti tertarik. Katakan padanya juga bahwa aku bergerak sendiri atas keinginanku, terpisah dengan kepentingan Aliansi Tiga Fraksi, tanpa ditunggangi pihak manapun."
Euclid mengerti kalau urusannya dengan gadis bernama Sona sudah selesai. Dia dipaksa berada di sini hanya untuk mengantarkan sebuah pesan. Tapi tetap saja, ia tak habis pikir dengan gadis ini, benar-benar tak terduga. "Siapa kau sebenarnya?"
"Emmm, hanya seorang gadis iblis muda biasa," jawab Sona singkat, meski itu menimbulkan banyak pertanyaan di otak Euclid.
Euclid membuka Gerbang Naga. Grendel dipulangkan paksa setelah dilepaskan oleh Naruto. Dia sendiri membuat lingkaran sihir teleportasi untuk pulang, tapi sebelum benar-benar hilang, dia sempat mengatakan sesuatu, "Aku bertaruh kalian sudah tahu rencana kami, iya kan?."
"Oh, tentang rencana kalian menghidupkan para Naga Jahat? Tentu saja aku tahu, kau tadi mengatakan bahwa Grendel hanya percobaan, artinya masih ada Naga Jahat Punah yang ingin kalian hidupkan juga kan?"
"Che." Euclid mendengus, itu memang benar, tapi masih ada lagi. "Lebih dari itu, kalian menginginkan Sang Apocaypse Beast, Binatang Pengkiamat, benar dugaanku?"
Sona, Naruto, mapun Hinata tak terkejut akan ucapan Ecuclid. Ini sesuai dengan yang direncanakan. Lagipula daripada berebut, lebih baik bekerja sama kan?
Sona mengangguk pelan sambil tersenyum. Sekarang dia jarang menunjukkan wajah datar minim ekspresi, apalagi jika sudah berkaitan dengan rencana besar untuk mencegah kiamat.
Euclid melihat anggukan Sona. Dia tak menyangka kalau apa yang organisasinya lakukan, diketahui sampai sejauh ini. Hingga akhirnya, Euclid bersama Grendel benar-benar hilang dari tempat itu.
.
.
.
Gelapnya malam sudah sangat terasa sejak beberapa jam lalu, Naruto sedang duduk di atas kasurnya, di kamar apartemen. Dia sendirian, namun ada hal yang sedang dia lakukan.
"Huufftt, selesai. Sekarang proses terakhir, pengisian."
Naruto mengatakan itu setelah dia meletakkan kuas yang baru saja ia pakai guna menulis aksara-aksara segel rumit pada sebuah gulungan berukuran sedang. Sebagai master fuinjutsu, tentu karya-karyanya di bidang ini cukup banyak, sangat berguna, dan tentu saja hebat. Naruto melakukan ini untuk suatu keperluan.
Setelah meletakkan telapak tangan di atas lembar gulungan yang terbuka, tepat di atas gambar aksara, Naruto berkonsentrasi untuk mengalirkan chakranya ke dalam fuin itu. Tangan kanan Naruto bersinar yang menandakan ada luapan energi chakra yang sedang dialirkan.
Sudah lima menit, proses pengisian masih berlangsung. Tak ada tanda-tanda kelelahan pada Naruto, toh dia melakukan hal ini dalam keadaan santai, tak ada yang mendesaknya.
Ckreekkk...
Ada seseorang yang baru saja masuk melewati pintu apartemen. Itu Hinata, istri Naruto. Sadar Hinata sudah pulang, Naruto menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka dan ia melihat Hinata lewat membawa banyak barang belanjaan. Tampaknya Hinata langsung menuju dapur untuk meletakkan barang belanjaannya, sebagian ke kulkas untuk menyimpan bahan makanan, dan ke tempat lain untuk barang-barang lainnya.
Hinata sudah masuk ke kamar. Dia melihat Naruto yang sibuk sendiri dengan apa yang dilakukannya.
Hinata meletakkan sebuah kantong plastik kecil berwarna putih di atas nakas. "Anata, kau sedang membuat apa?" tanyanya pada Naruto.
Tak mungkin kan diam-diaman dalam waktu lama hanya karena pertengkaran kemarin? Mereka sudah dewasa, bukan anak-anak lagi, dan tahu bagaimana caranya jika menghadapi masalah.
Naruto menjawab tanpa menoleh, dia masih sibuk berkonsentrasi walau masih bisa menanggapi pertanyaan istrinya. "Aku sedang membuat sesuatu untuk Gaara. Pasti akan berguna untuk misinya."
"Loh, kita kan tidak berniat pulang ke Konoha sampai misi kita selesai?"
"Tenang saja. Kalau aku tidak salah ingat, Si Teme besok akan ke sekolah. Dia mau memberikan file penting pada Sona-san. Jadi aku bisa menitipkan gulungan ini padanya untuk diberikan pada Gaara."
"Oh."
Setelah tanggapan singkat dari Hinata, tak ada obrolan lagi. Hinata melepas mantel selutut yang ia kenakan, melepas ikatan rambut, menyisir rambutnya sebentar, lalu mengambil handuk. Dia tadi keluar apartemen saat malam, dan kebetulan sore tadi hujan.
Naruto sudah menyelesaikan hasil karyanya, kertas perkamen itu ia gulung lalu diikat kemudian diletakkan di nakas agar besok tidak lupa menyerahkannya pada Sasuke.
Masih duduk di kasur, karena tak ada hal yang dikerjakan ia membuat basa-basi, "Kenapa lama, Hime? Katanya kau belanja di minimarket depan komplek saja?"
Hinata yang hendak ke kamar mandi menghentikan langkah kakinya, ia balas menatap suaminya, "Hmm, aku ke tempat lain sekalian. Ada yang harus kubeli juga."
"Kalau lama, harusnya kau mengajakku."
"Maaf, aku baru ingat apa yang mau kubeli saat baru keluar dari minimarket. Daripada pulang dulu untuk mengajakmu, lebih baik aku sekalian saja, tempatnya tidak terlalu jauh kok."
"Um, ya sudah. Tidak apa-apa. Hanya saja tadi aku bosan sendirian tahu."
"Bosan? Tapi barusan kau mengerjakan sesuatu kan?" tanya Hinata. Iya, baru saja ia melihat suaminya membuat sebuah karya, jadi mana mungkin bosan kalau ada yang dilakukan, apalagi sampai berkonsentrasi begitu.
"Oh itu tadi? Ehheeeee, aku baru ingat tadi jadi baru saja kukerjakan. Kalau ingat, pasti sudah sejak kau pergi belanja aku membuatnya."
Hening, pasangan suami ini istri hening tak ada suara lagi, hingga
Hinata menutup mulut menggunakan punggung tangan untuk menahan tawanya agar tidak keluar, dimanapun berada, dia memang selalu bersikap anggun.
Naruto, tertawa kecil lalu berkata, "Ternyata kita memang benar-benar jodoh ya. Walaupun tidak bersama, tapi yang kita lakukan selalu sama, sama-sama tidak ingat."
"Ah iya. Ufuuu..."
Mungkin bagi orang lain ini hanyalah hal biasa, tapi bagi pasangan suami istri yang sedang bertengkar, hal seperti ini penting untuk mendinginkan suasana.
Benar, untuk menyelesaikan suatu masalah memang harus menunggu saat kepala dingin, pikiran kembali jernih, dan emosi yang benar-benar stabil tanpa ada amarah. Naruto menunduk sebentar sembari mengambil nafas. Mendongak kembali demi menatap tepat ke kedua bola mata Hinata dengan ekspresi serius.
Hinata menghentikan tawa kecilnya, mengerti kalau saat ini suaminya ingin perhatian penuh darinya, ingin didengarkan setiap apa yang dikatakannya.
"Maaf."
Satu kata itu meluncur mulus dari bibir Naruto.
Hinata, mengangguk. Dia sebenarnya juga ingin mengatakan hal yang sama. "Aku juga minta maaf."
"Iya. Sekali lagi maafkan aku, harusnya saat itu aku tidak melepas pengangan tanganmu secara paksa. Aku tahu saat itu kau sangat mengkhawatirkanku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Aku juga bersalah. Seharusnya saat itu aku mempercayaimu, bukannya malah menahanmu. Aku seperti lupa kalau suamiku adalah sosok yang selalu siap bertindak demi menolong teman walaupun resikonya tinggi."
Tak ada gerakan bibir lagi, yang terdengar hanyalah suara getaran sayap jangkrik dari luar apartemen. Kuoh adalah kota asri, jadi hewan malam seperti jangkrik masih banyak ditemui.
Sekali lagi, Naruto dan Hinata adalah pasangan suami istri yang sah. Mereka paham satu sama lain, tak ingin menyakiti, dan selalu mementingkan pasangannya dibanding apapun bahkan jika itu diri sendiri. Meskipun hanya saling meminta maaf dan mengakui kesalahan masing-masing tanpa bicara panjang lebar, tapi hati mereka seolah memiliki jalur komunikasinya sendiri yang pada akhirnya selalu menghubungkan mereka dalam ikatan yang kuat, yang tak pernah melemah apapun badai masalah yang datang menghadang.
Anggap saja saat ini Naruto dan Hinata sudah baikan. Mereka benar-benar baikan, saling memahami dan memaaafkan.
"Aku mandi dulu ya, Anata." Hinata bersuara pertama kali, tak ingin suasana tadi berlangsung lama, yang penting masalah mereka sudah selesai, tak perlu lagi dipikirkan.
"Iya."
Setelah mendapat ijin, Hinata masuk ke kamar mandi, kamar mandi yang terletak di pojok kamar tidur mereka.
Krriiieet...
Hinata menutup pintu kamar mandi pelan agar tidak menimbulkan suara keras.
Naruto merebahkan dirinya di kasur hingga beberapa saat kemudian,
"Anata." Hinata sedikit berteriak dalam kamar mandi, "Bisakah kau ambilkan kantok plastik di atas nakas?"
"Kantong plastik putih kecil yang ini kah?"
"Iyaaaa, yang itu."
Naruto mengambilnya, karena penasaran dia melihat isinya. "Tunggu sebentar ya?"
"Iyaaa."
Beberapa saat kemudian, Naruto sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Tok tok...
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, tangan putih mulus Hinata keluar dari balik pintu.
Mengerti isyarat itu, Naruto langsung meletakkan kantok plastik di tangan istrinya.
Pintu kamar mandi kembali tertutup setelah Hinata menarik tangannya kedalam.
Aneh, mereka kan suami istri, tinggal berdua. Kenapa pula harus malu? Ah tapi pemalu itu memang sifat dasarnya Hinata.
"Ada apa sih tadi, mengambilkan ini saja sampai menyuruhku menunggu?" gerutu Hinata didalam kamar mandi.
"Hahaaaa, tadi pantatku gatal, makanya aku menggaruk-garuknya dulu."
"Mouuu,,, kau jorok Anata. Hentikan kebiasaanmu itu."
"Aku akan berhenti kalau kau yang menggarukkannya."
"Isshh, Anata no ecchi.!"
"Kau juga, meski luarnya pemalu, ternyata kemesumanmu tak terduga."
"Diaaammm!" Hinata mana tahan diejek dan digoda seperti itu.
Dasar pasangan suami istri ini, sama-sama mesum kok saling ejek mesum. Tak sadar diri kah? Kurama bahkan mengatai suami istri ini adalah manusia paling mesum yang pernah ia temui, maniak kalau istilah singkatnya.
Naruto kembali ke kasur, duduk bersandar di sisi kasur sambil membaca buku. Yaa, untuk kali ini saja, demi menunggu Hinata mandi, dia rela membaca buku palajaran sekolah, meski mandinya Hinata tak pernah lama.
Setelah 15 menit, barulah Hinata keluar dari kamar mandi.
Naruto mengerlingkan mata untuk menatap sang istri yang berjalan ke arahnya. Whooaaaaaa,,, meski ini sudah sering terjadi, tetap saja ini terlalu fantastis untuk dilewatkan. Tak ada pasang mata pria manapun yang sanggup mengalihkan pandangan dari Hinata yang masih basah sehabis mandi yang tubuhnya hanya dibalut selembar handuk, yang sebenarnya tak mampu menutupi bagian yang harus ditutupi. Bagian dada terlalu menyembul keluar dan bagian paha terekspos terlalu banyak.
"Anata." bibir Hinata yang merekah basah terbuka, seakan siap untuk dikecup dan dilumat, "Aku mengerti, tapi kumohon tunggu aku mengeringkan rambutku dulu ya." pinta Hinata dengan sebelah mata mengedip genit.
"Hn." Naruto mendengus ala Si Teme. Apaan coba tadi? Okeh, itulah jiwa nakal Hinata. Jika itu keluar, selalu saja Naruto yang digoda. Meminta menunggu, tapi gestur tubuh istrinya meminta untuk diterkam saat itu juga. Naruto itu laki-laki, dan ia tak suka dibeginikan oleh istrinya sendiri.
Apalagi itu, hanya untuk duduk di atas kursi didepan meja rias saja, sempat-sempatnya Hinata menggoyangkan pinggul dengan erotis. Naruto harus ekstra sabar kalau istrinya dalam mode nakal ini.
Ngiiiinggggg...
Nah kan? Belum cukup yang tadi, Hinata saat ini sengaja mengarahkan angin dari hairdryer yang menerpa rambutnya tepat ke posisi dimana Naruto berada. Aroma memabukkan dari shampo Hinata menguar-nguar, membuat hidung Naruto kembang kempis.
Jelas sekali Naruto terlihat sangat kesal, wajahnya seasam jeruk lemon. Dalam hati, ia akan membalas godaan istrinya yang imut ini, sudah bermacam-macam gaya dan rencana yang terpikirkan di otak bejatnya.
Sedangkan Hinata, tertawa kecil sejak tadi. Aaaahh, memang menyenangkan jika berhasil menggoda Naruto. Ia mana mau selalu digoda suaminya, sesekali ingin membalas.
Aksi Hinata makin nekat, saat ini saja dia mengangkat kedua tangan, satu memegang hairdyer dan satunya lagi memegang sisir. Tidak melakukan apa-apa, hanya peregangan kecil. Ini sukses membuat dadanya membusung, dan akibatnya selembar handuk yang ia kenakan sedikit melonggar. Bagian atas sedikit turun sehingga semakin menampakkan buah dadanya. Berlenggak lenggok sedikit, daaannnn...
"Shiiitttt, aku tak tahan lagi..."
brakkkk...
Pyaarrrr...
Pergerakan Naruto terlalu cepat, Hinata tak sempat melawan dan ia pun sebenarnya tak ingin melawan.
Kini Hinata terkungkung bersandar pada cermin, sementara pantatnya didudukkan di atas meja riasnya. Syukur handuknya masih utuh, meski sisir dan hairdryer sudah jatuh terlempar ke lantai. Biar saja rusak, siapa peduli?
"Okeh Hime, kau yang mulai jadi kau harus rasakan akibatnya ya." kata Naruto sambil menyeringai. Lidahnya bergerak keluar, membasahi bibirnya sendiri sebagai persiapan serangan selanjutnya. Kedua tangannya ia gunakan untuk mengunci kedua tangan Hinata, menempelkannya ketat di cermin, tepat diatas puncak surai indigo istrinya.
Apa yang dilakukan Naruto, sukses membuat Hinata merona. Bukan malu seperti biasa, hanya saja pemandangan aksi hot dan seksi dari Naruto terlalu berat untuk diterima akal sehat, pasti karena libidonya ikut andil saat menangkap setiap detail gerakan yang dibuat suaminya.
Bibir Hinata terbuka sedikit, mengisyaratkan kalau ia sudah sangat menginginkannya.
Tak membuang kesempatan, Naruto segera menyerang bibir mungil nan tipis milik istrinya. Bagian favoritnya adalah bibir bawah. Melumat dan menghisap daging kenyal itu tanpa ampun.
Hinata tak mungkin diam saja, jika Naruto melumat bibir bawahnya, maka ia akan membalas dengan kecupan liar pada bibir atas suaminya.
Ini masih lumatan kering, lidah belum bermain dan saliva tak bertukar.
Beberapa menit cukup untuk bagian bibir, wajah Naruto turun ke leher Hinata.
Kepala Hinata mendongak, hembusan nafas hangat sang suami menyerang reseptor-reseptor syaraf di bagian leher, menyampaikan impulsnya ke otak yang pastinya direspon menjadi sebuah desahan.
Naruto tak menghentikan aksinya, ini baru permulaan. Sengaja ia mengembuskan nafas hangat di titik-titik sensitif, merangsang semua reseptor untuk menaikkan birahi Hinata agar mendesah lagi, lagi, dan lagi. Tak lupa pula ia mengendus, menghirup dalam-dalam setiap senti permukaan kulit Hinata yang selalu saja mengeluarkan aroma memabukkan.
Naruto mengerti, istrinya ini tak akan suka lama-lama di meja rias, apalagi lebar meja tidak cukup untuk menampung seluruh pantat Hinata. Pasti pegal jika menopang tubuh dalam posisi ini, apalagi ketika titik-titik libidonya diserang. Tanpa berkata apapun, ia memindahkan tubuh istrinya, mengangkatnya lalu menghempaskannya pelan di kasur.
Hinata tidak mengaduh walau punggungnya dihempas, toh kasur milik mereka sangat empuk. Batinnya berterima kasih pada Sona yang memberikan apartemen ini beserta semua fasilitasnya.
Barang sedetik pun Naruto tak akan menghentikan permainannya. Ini adalah balasan karena sudah menggodanya tadi. Dia berniat tidak akan berhenti membuat istrinya mendesah erotis semalaman suntuk.
Naruto membebaskan kedua tangan Hinata, tak menguncinya seperti tadi agar Hinata bisa melampiaskan luapan kenikmatan yang ia berikan pada apapun disekitarnya, bahkan jika ingin menjambak surai pirangnya, itu tak masalah dan sudah biasa.
Telapak tangan kiri Naruto yang besar menangkup kepala Hinata, tak membiarkan target sedikipun bergerak. Bibirnya sekali lagi melumat bibir istrinya, kali ini lebih jauh, lebih dalam, dan lebih kuat. Mengikutsertakan lidah untuk meramaikan permainan. Lidah Naruto lah yang menyerang, mencari dan merangsang titik-titik pembangkit birahi Hinata. Ya, Naruto tahu kalau ada banyak titik sensitif didalam mulut istrinya, ada yang dibawah lidah, disebelah kiri lidah, dan disekitar langit-langit.
Hinata pasrah dalam permainan sang suami, ia membiarkan lidahnya sendiri dipilin dan dibelit seperti ular oleh lidah Naruto, bahkan tak melawan barang sedikitpun ketika lidahnya ditarik keluar lalu dihisap kuat. Sensasinya benar-benar luar biasa saat Naruto dengan sangat kuat mempermainkan lidahnya.
Kecupan-kecupan basah, bertukar liur, dan saling menyesap betapa manisnya keintiman tak henti-hentinya terjadi sejak tadi.
Cukup sampai disitu, kini lidah Naruto menjelajah ke area lain. Dagu, leher, hingga belakang telinga Hinata tak luput dari kecupan-kecupan basah yang meninggalkan bercah kemerahan.
Tangan kanan Naruto yang berbalut perban, sudah semenjak tadi mengelus-ngelus paha kiri Hinata. Bahkan naik, menelusup diantara belitan handuk untuk menyerang lebih dalam.
Hinata sangat menikmatinya, mendongak dengan mulut terbuka dan mata terpejam. Desahan yang keluar seirama dengan gerak tangannya mencengkram sprei dan surai pirang suaminya.
Kenikmatan itu semakin bertambah Hinata rasakan manakala kecupan Naruto telah turun. Gelenyar memabukkan, badan yang menggelinjang, dan desahan yang semakin panjang dan kencang adalah respon balik alamiah atas perlakuan sang suami pada tubuhnya. Naruto merasa di atas awan setelah berhasil membuat istrinya seperti ini.
Lalu berhenti sejenak. Hinata membuka matanya kembali hanya untuk mendapati seringaian dibibir Naruto yang semakin melebar. Dia melihat gerak mata suaminya yang bergantian menatap matanya dan handuknya. Hinata mengangguk begitu saja, toh ia memang sudah sangat menginginkannya. Bahkan lebih dari itu pun boleh, karena dia juga ingin.
Setelah mendapat ijin itu, kepala Naruto bergerak ke bawah, rahangnya terbuka dan kedua giginya menggigit ujung handuk, lalu menariknya, menyibakkannya kesebalah kanan. Sisanya dibereskan oleh tangan kiri hingga handuk menunjukkan apa yang tersembunyi sejak tadi.
Naruto sudah sering melihatnya, menurut orang lain mungkin Naruto akan terbiasa, tapi nyatanya bagi Naruto ini tak akan pernah menjadi biasa. Tubuh jujur dan polos istrinya selalu luar biasa, sangat sangat luar biasa dimatanya dan ia tak akan pernah bosan untuk menatapnya.
"Anata, ayooo..." pinta Hinata manja, ia merasa sudah kelamaan menunggu suaminya menatap tubuhnya dari tadi, ia ingin tubuhnya disentuh, tak cukup kalau ditatap saja.
"Ck, Hime yang nakal selalu tak sabaran."
Setelah mengatakan itu, puncak dada Hinata yang tegak membusung menjadi target pertama Naruto untuk dihisap. Tak cukup itu, ia juga memilin dan mengigitnya pelan.
"Aaaahhhhhhhnn." kedua tangan Hinata yang bebas mencengkeram kuat sprei kasur, sangat kuat sebagai bukti bahwa serangan suaminya begitu kuat menggoncangkan jiwanya.
Meski Hinata minta ampun, Naruto tak berniat berhenti. Tapi nyatanya Hinata tak minta pengampunan, malah gerakan tubuh istrinya saat ini mengisyaratkan meminta lebih. Naruto sadar itu, ia tahu apa yang istrinya inginkan dan ia juga tahu apa yang harus ia lakukan. Kecupan-kecupan bibir Naruto menjelajahi area lebih luas lagi, setiap inchi perut mulus dan langsing Hinata tak terlewatkan oleh kecupan basah, menyisakan jejak air liur dan ruam-ruam merah tipis. Hingga akhirnya sampailah bibir Naruto pada keindahan surga dunia.
Hinata menggelinjang makin hebat, kedua kakinya terbuka lebar, dan semua jari-jemari kakinya bergetar kuat. Ia sungguh sangat menikmatinya, menikmati setiap detik-detik intim yang diberikan Naruto padanya, hanya untuknya.
Beberapa waktu telah terlewat, Naruto mengangkat kepalanya. Dia melihat wajah Hinata yang menampakkan raut tidak suka. Wajar kalau Hinata tak suka ketika apa yang menjadi kenikmatannya berhenti begitu saja. Namun dalam sekejap berubah menjadi seringaian nakal.
Happp...
Nah kan?
Seringaian di bibir Hinata pasti akan selalu berakhir seperti ini. Seringaian yang artinya Hinata juga ingin mendominasi. Buktinya sekarang Naruto lah yang dipaksa merebahkan punggung besarnya di kasur sedangkan Hinata duduk tepat di perutnya.
Naruto dapat melihat jelas setiap lekukan indah tubuh polos istrinya dari posisi ini.
"Lakukan saja sesukamu, Hime."
"Memang itu yang kuinginkan."
Hinata membungkuk, dan
Chuuuuuuuuu...
Yah, ini balasan untuk yang tadi. Bibir Hinata lah yang kini berkuasa atas bibir Naruto. Balasan yang jauh lebih sensual, lebih hebat, dan lebih menggairahkan dari ciuman basah nan panas Naruto tadi. Jangan heran, Hinata ahlinya untuk hal ini dan Naruto mengetahui itu.
Jiwa Hinata yang penuh gelora birahi tak sedikitpun membiarkan hasratnya tak tertuntaskan. Ia juga tahu dimana letak titik-titik pembangkit gairah suaminya, setiap kecupan tak melewatkan satupun titik itu. Lumatan dan hisapan mulut Hinata memang tidak sekuat Naruto, namun lidah Hinata terlampau hebat bermain dan menari, seakan lidah itu punya jiwa sendiri yang tahu betul apa yang harus dilakukan.
Kini Naruto lah yang tak kuasa menahan suara rintihan kenikmatan. Meski badannya tak menggelinjang, tapi setiap sendi dan tulangnya serasa bergetar luar biasa, seakan jika Hinata terus melakukan ini, Naruto yakin tubuhnya akan remuk dan hancur.
Untung saja Hinata berhenti, bibirnya semakin basah dan itu jelas menunjukkan bahwa dia belum terpuaskan.
"Selalu saja seperti ini." kata-kata Hinata menyiratkan nada-nada kekecewaan.
"Haaaaaaaaaaahh..." Naruto membuang nafas panjang, semua udara yang sejak tadi tertahan di paru-parunya telah dikeluarkan. "Iya iyaaa, maafkan aku, Hime."
"Ahaaaaaa. Tak perlu minta maaf, Anata." tawa kecil nan tulus keluar dari bibir Hinata. "Kau selalu perkasa dengan kekuatanmu dan aku selalu punya cara dengan permaianku. Jadi, kita impas kan?"
Rupanya sindiran tadi hanya bercanda. Sebagai pasangan, sudah seharusnya saling melengkapi kan?
"Hu'um, sekarang kita gant-..."
Naruto tak mampu melanjutkan ucapannya karena merasakan tubuhnya tak bisa bergerak.
Benar saja, kedua tangannya terikat lalu ujung talinya terlilit di salah satu sudut ranjang. Kedua kakinya pun sama. Semua anggota gerak Naruto tak bisa di gerakkan sedikitpun, bahkan hanya untuk menaikkan punggungnya sedikit saja tak mampu. Entah jebakan dan cara apa yang digunakan Hinata, tahu-tahu tanpa disadari Naruto, semuanya sudah jadi begini.
"Apa katamu tadi, Anata?" Hinata tersenyum polos.
Namun senyuman itu terlihat mengerikan di mata Naruto, "Hime, ak-akuu ingin kita gantian, j-jadi bisa tidak kau lepaskan aku?"
"Haaa? Suaramu tak kedengaran." Hinata berpura-pura menulikan pendengarannya.
Kalau sudah begini, Naruto pasrah saja. Percuma meminta pengampunan. Ia lupa kalau hari ini adalah hari dimana jiwa sadistic Hinata keluar.
Asal tahu saja, Hinata punya sedikit jiwa yang berlebihan. Maksudnya ada kepribadian-kepribadian tertentu dalam diri Hinata yang kadang-kadang keluar. Dia bisa sangat pemalu, penakut, kadang suka bercanda, serius, keibuan, membunuh, sedikit gila, bahkan pribadi-pribadi lainnya yang akan muncul dalam keadaan seperti ini, maksudnya jika sudah berurusan dengan ranjang. Ada siklusnya selama periode waktu tertentu, dan untuk yang hari ini adalah jiwa Hinata yang kurang Naruto sukai karena terlalu berlebihan. Naruto baru mengetahui semua itu setelah tiga bulan menikah dengan Hinata.
Lihat saja Hinata sekarang.
"Hime, mau kau pakai untuk apa kunai di tangamu?"
Benar, Hinata sedang memegang kunai tajam di tangan kanannya sekarang. Dia sedang mengulas senyum sadis.
"Yah, habisnya aku tidak punya alat yang khusus untuk hal ini, mau beli tapi tak tahu dimana penjualnya, jadi aku gunakan alat alternatif saja." Hinata mengatakannya dengan tenang, bahkan cenderung tampak riang.
"Eh tapi, it-ittuu bahaya loh. Itu kan kunai beracun?"
"Nah, disitulah letak hal menyenangkannya, Anata. Sesuatu akan lebih menyenangkan dilakukan jika semakin beresiko."
Naruto masih berbaju lengkap. Celana pendek dengan kaos oblong. Hinata menurunkan posisi duduknya dari perut Naruto. Dengan kunai tadi, ia mengangkat ujung bawah baju suaminya.
"Tak usah dengan itu, aku bisa melepas bajuku sendiri. Kumohon."
Pemandangan wajah memelas Naruto bak seekor kucing yang dipojokkan seekor singa tak membuat Hinata luluh, malah gairahnya semakin bangkit. Padahal dalam keadaan biasa, ia tak pernah bisa menahan diri dan menolak keinginan suaminya jika sudah seperti itu.
"Ara araaaa, mana mungkin, Anata. Baju kaos tak akan bisa dilepas kalau kedua tangangmu terikat."
"Bagaimana kalau kau lepas dulu ikatannya. Berikan aku kesempatan membuka bajuku, lalu kau boleh mengikatku lagi." tawar Naruto.
"Idih, males banget." bibir Hinata mengerucut saat menyuarakan penolakan.
Sreeeetttt...
Baju kaos Naruto sudah robek keatas sampai setengahnya. Kunai itu mulus meluncur memotong kain tipis yang melekat ditubuh Naruto. Namun,
"Berhenti, Hime!"
Naruto tak akan membiarkan kunai itu naik lebih ke atas lagi. Iya, dibagian perut memang agak longgar, tapi bagian dada sesak karena semua orang tahu kalau dadanya kekar. Kunai punya dua sisi tajam, artinya saat satu sisi tajam memotong kain kaos, maka satu sisi tajamnya lagi akan bergesekan dengan permukaan kulit. Jika luka, maka racun akan masuk lewat situ.
"Enggak mauuuu..." Hinata menggeleng kuat sambil mengeluarkan suara manja. "Kan tadi sudah kukatakan, semakin beresiko, semakin mengasyikkan permainannya."
Okeh, Naruto mungkin bisa percaya kalau Hinata bisa memotong kaosnya di bagian dada tanpa melukainya, tapi dia tetap takut jika hal itu dilakukan.
Naruto mencari akal agar Hinata membatalkan niatnya, "Hime, walaupun kau berhasil melakukannya tanpa menyayat kulitku, tapi pasti akan tersisa jejak racun disana. Kau kan suka menjilat-jilat dadaku? Kau bisa tertelan racun kalau tetap melakukan ini."
Alasan Naruto sangat masuk akal. Dalam hal menjilat, Hinata sangat suka dan tak satupun bagian tubuh Naruto yang luput dari sapuan lidahnya. Tapi,
"Hmmm, tak masalah. Aku mengganti racun di kunai ini dengan racun bisa ular. Bisa ular memang sangat mematikan kalau masuk langsung ke aliran darah lewat luka, tapi tak akan menjadi masalah kalau tertelan lewat mulut."
Jawaban Hinata lebih masuk akal lagi, rupanya wanita ini sudah mempersiapkan semuanya untuk malam ini. Bisa ular sudah terbukti tak berbahaya meskipun kau meminumnya meski satu gelas, itu hanya terasa seperti kau meminum segelas susu tinggi protein.
Pasrah, Naruto memejamkan mata. Dia merasakan moment seperti seribu tahun lamanya saat Hinata perlahan terus menaikkan kunai. Sisi tajam bagian atas dengan lancar merobek kaos Naruto, sedangkan bagian bawah walau tak menimbulkan luka karena Hinata melakukannya sangat ahli, tapi sensasinya, terasa dingin, menakutkan, dan nikmat disaat bersamaan. Naruto tak mampu menahan rintihannya tatkala seluruh ruang otaknya diserang secara gila-gilaan.
Srreettt...
Habis sudah, kaos Naruto terpotong dari bagian bawah hingga kerah leher.
Kini Hinata sesukanya mengekspos dada dan perut suaminya. Inilah kesukaannya, saat kuku jari telunjuknya bergerak dan menari-nari liar di dada hingga perut Naruto. Kuku itu sedikit tajam karena sudah panjang, setiap goresan yang ia ciptakan menciptakan jejak-jejak kemerahan. Tak tangung-tanggun, Hinata menggunakan dada bidang suaminya sebagai kanvas lukisan. Setelah beberapa saat, ia tersenyum puas karena keberhasilannya melukis skesta dua wajah yang sedang berciuman panas. Itu wajahnya sendiri dan wajah Naruto. Masih kurang, perlu sedikit sentuhan lagi dari kuku dan jari Hinata. Kini di perut sixpack Naruto ada bekas kemerahan yang jika dilihat seksama akan terbaca tulisan, "Naruto Love Hinata, Forever."
Aahhhh,,,, jiwa alay Hinata sedikit mengintervensi. Biasanya kan orang yang melakukan ini adalah perempuan galau dalam hubungan LDR dan menuliskannya di pasir pantai lalu melihatnya terhapus disapu ombak sambil menangis karena tersiksa rindu.
Naruto, jangan ditanya. Selama Hinata melukis, matanya merem melek tak karuan. Nikmat bercampur derita, sisi masokisnya sebagai pria mulai terbangun setelah distimulasi oleh jiwa sadistic Hinata. Pasangan ini bener-benar klop, sekali lagi diingatkan kalau mereka saling melengkapi.
"Lanjutkan lagi, Hime."
Benar kan? Sisi masokis Naruto bangun.
Naruto meminta dengan nada lemah, ekpresi wajahnya benar-benar kasihan seperti pelaku kejahatan yang sedang dieksekusi.
"Tidak, tidak, tidaaaakkk." Hinata dengan tegas menolak. "Lebih baik kau menciumku saja."
Naruto mengangguk lemah, ia memang masih ingin merasakan betapa manisnya bibir Hinata. Namun ketika kepalanya hendak bangun demi menggapai tubuh istrinya, gerakannya terhenti. Ia lupa kalau badannya sedang terikat.
"Ayooo..." Hinata tersenyum mengejek saat mengatakannya. Dia sangat suka saat-saat seperti ini.
Karena tidak bisa naik, maka Naruto membuka mulutnya. Ia membuat isyarat agar Hinata membungkukkan badan.
Tapi,,,,
"Aku malas membungkuk, Anata." Hinata dengan tegas menolak. "Bagaimana kalau pakai ini saja."
Hinata menunjukkan sebuah ikat pinggang kulit bermerk. Ya, itu ikat pinggang yang selalu Naruto kenakan saat ke sekolah, Kuoh Gakuen.
Tanpa minta ijin, Hinata memasang ikat pinggang itu di leher Naruto. Dan menariknya kuat,
Chuuuu...
Ciuman panas mereka kembali terjadi. Sama seperti sebelumnya, Hinata masih mendominasi dalam permainan bibir dan lidah. Puas dengan itu dan merasa ia butuh oksigen secepatnya, Hinata mengendorkan tarikannya, membiarkan kepala suaminya jatuh kembali ke kasur.
Tampak Naruto hampir saja mati, dia kini berusaha keras mengais-ngais oksigen hanya untuk melanjutkan hidup. Wajar saja, tadi saat berciuman panas, ia tidak sempat menpersiapkan paru-parunya, dan saat merasa kehabisan nafas ditengah-tengah ciuman, ia juga tidak bisa menarik nafas karena lehernya dicekik ikat pinggang. Ia juga tak bisa memberi isyarat pada Hinata untuk memberikannya kesempatan bernafas karena tubuhnya terikat.
Hinata tersenyum puas, tapi ia masih belum terpuaskan.
"Nah, sekarang hisap dadaku!"
Lagi, Hinata menarik ikat pinggang yang membelit leher suaminya. Memaksa sang suami agar bermain dengan bagian tubuh yang sangat ia banggakan.
Meski dalam kondisi seperti itu, lidah dan bibir Naruto masih bisa bermain. Hinata mendongakkan kepala dengan mata terpejam untuk meresapi semua kenikmatan yang memenuhi suluruh ruang pikirannya.
Cukup lama seperti itu, hingga
"Oppsss,,, maaf kalau aku membuatmu hampir mati lagi, Anata."
Kepala Naruto yang tak berdaya sudah kembali jatuh di kasur. Hinata melongarkan ikat pinggang itu agar suaminya bisa lancar bernafas.
Naruto seperti hilang akal dalam ketidakberdayaannya.
Namun permainan masih belum selesai, masih ada lagi.
Saat Naruto mendapatkan kembali kesadarannya, kini ia dikejutkan dengan sebuah gunting tajam di tangan kanan Hinata.
"Hime...?"
"Appah?"
Naruto tak bisa menjawab karena ketakutan. Ya ketakutan, tangan kiri Hinata menarik keatas bagian celananya yang sudah sejak tadi menggelembung sesak akibat sesuatu yang melesak ingin di lepaskan, lalu gunting yang menyilang membentuk huruf X diarahkan ketempat itu, bagian terburuknya adalah Hinata melakukan itu sambil tersenyum manis. Jika Naruto tak melakukan apa-apa, ia pasti akan kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya.
Slappp...
Sudah terpotong.
Terpotong...
Terpotooooonngg.
Terpotong dan putussssss...
Bahkan Naruto tak sempat menutup mata agar tak melihat siksaan itu. Nafasnya tertahan.
"Anataaaa..."
Suara lembut Hinata mengembalikan Naruto kekesadaran. Ia bersyukur, ternyata yang terpotong hanya kain celana saja. Tercipta lubang cukup besar hasil potongan yang membebaskan apa yang sejak tadi terkurung, benda itu berdiri tegak menantang, membuat wajah Hinata merona.
Hinata tak memberikan kesempatan pada suaminya untuk bicara, "Aku mau makaaannn, aaaaaaaaaaaa"
Mulut terbuka Hinata menuju santapannya. Sesuatu yang memang menjadi santapan kegemarannya.
Naruto menutup mata, ia ingin fokus merasakan serangan ini karena permainan yang dilakukan istrinya pasti akan membuatnya mabuk bak meminum arak dari sungai-sungai surga.
Namun harapan Naruto tak menjadi kenyataan. Ketika ia membuka mata, punggung Hinata sudah tegak kembali.
Hinata membuat ekspresi imut dengan kepala dimiringkan dan satu telunjuk ia letakkan di pipi. "Ahaaaaaaa, aku punya ide yang lebih menarik."
"Eh, apa?" Naruto bingung, sejak kapan istrinya punya hal yang lebih menarik dan meninggalkan santapannya yang sudah siap santap?
Hinata langsung bangkit dari kasur tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Ia berjalan keluar kamar.
Naruto menatapnya lucu, yaa teramat lucu dan menyenangkan. Istrinya berkeliaran di dalam apartemen tanpa busana.
grasakgrusukkk...
Entah apa yang dicari Hinata, ia berlarian didalam rumah masih tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya. Pemandangan ini membuat Naruto sedikit melupakan kondisinya sekarang yang sedang terikat.
Tak lama kemudian.
Ngiiiiiiiiiiinnnngggg...
Suara deru mesin terdengar bersamaan saat Hinata kembali ke kamar dengan wajah riang.
Naruto melongo, matanya tak berkedip ketika tahu benda apa yang ada ditangan istrinya.
Itu vacum cleaner, penyedot debu yang bisa ditenteng dengan tangan.
Otak Naruto tak mampu memikirkan apa-apa, "Buat apa benda itu, Hime?"
"Massa Naruto-kun tak bisa menebak sih?"
Hinata bertanya balik sambil melepaskan bagian ujung dari vacum cleaner. Bagian pipa dari alat penyedot debu itu kini terbuka.
Naruto paham sekarang, istrinya sudah gila, benar-benar gila. Iya yakin kegilaan Hinata pasti tanpa segan menggunakan alat pengisap kuat itu pada tubuhnya.
"Ufufufufuuuuuu..."
Hinata tertawa sadis dengan tatapan mata mengarah pada sesuatu.
Naruto mengikuti kemana arah pandangan istirnya yang sedang menenteng vacum cleaner. Pandangan itu mengarah pada sesuatu yang berdiri tegak, ya, tegak dan ia sangat kenal sesuatu itu karena itu miliknya sejak lahir.
Hinata gilaaaaaaa...
Pipa vacum cleaner yang diamenternya kurang lebih 5 centi itu pas untuk menghisap sesuatu. Naruto tahu merk vacum cleaner itu, ia melihatnya di TV, bahkan iklannya sering muncul. Kekuatan hisapan vacum cleaner itu katanya mampu mengangkat dua bola bowling sekaligus yang masing-masing beratnya 14 kg.
Jika vacum cleaner itu digunakan untuk menghisap apa yang sejak tadi dilihat Hinata, maka,
Tidak, tidaaakkk, TIDAAAAAAAAAAAKKKKKKKK...
Teriakan Naruto bak longlongan serigala di tengah malam. Kawanan burung-burung yang sedang tidur pun terbangun dan terbang tak tentu arah, bahkan rombongan kelelawar yang melintas mencari makan berpencar tak karuan.
.
.
.
Sementara itu, di tempat lain jauh dari pusat kota Kuoh.
"Persiapan sudah selesai, Ares-sama."
Seseorang yang berpakaian seperti prajurit bawahan undur diri setelah mengatakan itu.
Dia yang disebut Ares-sama, laki-laki gagah rupawan dengan pakaian kebesaran yang menunjukkan tingginya derajat yang ia miliki. Ares sang Dewa Perang dari Gunung Olympus. Salah satu Dewa dari kelas Excelsior, terkuat diantara yang kuat. Dewa jahat yang terkenal licik dalam jajaran Dewa-Dewa Yunani. Kini dia bersama 300 orang prajuritnya, prajurit Legenda Manusia Super yang disebut Pasukan Sparta, akan menggempur suatu eksistensi baru.
"Tak perlu kau meminta pun, aku dengan senang hati melakukannya karena sudah lama aku tak merasakan betapa nikmatnya irama perang. Sesuai permintaanmu Sakra-dono, Konoha akan kuhabis malam ini!. Phuhahahahahaaaaaa..."
.
.
.
TBC...
.
Note : Uwaaahhh, ane kasih chapter lumayan panjang nih. Walau sebenarnya yang bikin panjang itu bagian adegan ekhhemnya. Mwahahahahaaa. Ah sorry, otak ane lagi korslet dan yah jadinya jangkauan serang nulis melebar lagi, milf dan loli udah, lalu itu disini sedikit ke arah BDSM.
Aku ucapin makasih nih, buat Trio Nica (Oreo Nica, Aria Nica, & Eroi Nica) atas bantuannya. Chapter ini di beta-in sama mereka.
Untuk chapter ini, bagian awal dimulai dengan permasalahan yang berujung ke Rumania. Euclid dan Grendel ternyata hanya untuk percobaan dan Sona memanfaatkan hal itu untuk misi Tim mereka. Lalu bagaimana Konoha bertahan dari serangan Ares yang Dewa perang Olympus dan 300 pasukan sparta yang gagah perkasa?
Ulasan Review:
Banyak yang skip chapter kemarin katanya, juga ada yang kurang suka. Mwahahaaa. Be a positif aja, artinya kalian masih mengingat plotnya. Dengan itu, kuanggap kalau kalian benar-benar ngikutin FF ini sejak awal. Yang setuju chapter kemarin juga ada, jadi apa yang kutulis ga sia-sia. Aku senang untuk dua hal itu.
Bentuk One Piece yang dipakai untuk komponen Matrix ada kudeskripsikan di chapter 8 dan 40 kalau tak salah ingat. Bukan canon One Piece ya, tapi cuma untuk FF ini saja.
Ophis kan ga mesum, mana mungkin pake cara yang sama seperti Kaguya dengan Oerike no Jutsu.
Ada yang ngarep Ophis saja yang jadi makhluk lima dimensi. Bisa kok, ada kemungkinan untuk itu. Hinata hanya sebagai pemegang Cube saja, sedangkan untuk mencegah kiamat siapapun bisa. Sebagai tokoh utama, makanya Naruto banyak terlibat, bahkan minta bantuan temannya dan membentuk sebuah tim.
Ternyata asih ada yang bilang misi Naruto dan Hinata untuk perdamaian. Enggak lah, itu urusan lain. Lebih penting dahulu mencegah keruntuhan Cardinal System agar tidak kiamat.
Yang membahas pertarungan 9 bijuu melawan Yamamoto di Bleach Universe, disitu 9 bijuu kalah kan? Lalu apa Yamamoto lebih kuat? Lebih kuat dari Juubi? Enggak begitu lah, aku ga bikin perbandingan mana yang lebih kuat. Di pertarungan itu, 9 bijuu tugasnya hanya mengulur waktu dan Yamamoto pun sudah diberitahu oleh Urahara tentang hal itu. Jadi anggap saja itu adalah permainan, bukan pertarungan.
Pertanyaan lainnya terjawab seiring cerita dan review lainnya ku balas lewat PM. Yang mendo'akan aku selalu sehat, Arigatou Gozaimashe. Semoga kalian juga senantiasa sehat wal afiat.
Terakhir, mohon bantuan kalian baik itu kritik atau saran di kolom review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus lagi kedepannya.
...
.
